Anda di halaman 1dari 7

Kawasan Berikat : Keuntungan

dan Kendala yang Dihadapi


May 2nd, 2011 | Tags: kawasan berikat, keuntungan dan kelebihan Kawasan Berikat, mengenai
kawasan berikat, pengajuan kawasan berikat | Category: Kepabeanan & Pajak

Kali kesempatan ini saya akan mensharing beberapa keuntungan dan kekurangan dari fasilitas
yang diberikan oleh Pemerintah berupa fasilitas Kawasan Berikat atau dulu lebih dikenal dengan
EPTE (Entrepot Tujuan Ekspor). Dari berbagai literatur dan sumber saya coba sampaikan

Secara garis besar Kawasan Berikat merupakan bagian dari fasilitas yang diberikan dalam
lingkup Tempat Penimbunan Berikat.

PENGERTIAN KAWASAN BERIKAT

Kawasan Berikat dalah : Suatu bangunan, tempat atau kawasan dengan batas-batas tertentu
yang di dalamnya dilakukan usaha industri pengolahan barang dan bahan, kegiatan rancang
bangun, perekayasaan, penyortiran, pemeriksaan awal, pemeriksaan akhir, dan pengepakan atas
barang dan bahan asal impor atau barang dan bahan dari dalam daerah pabean Indonesia
lainnya (DPIL) Saat ini : TLDDP (Tempat Lain Dalam Daerah Pabean) , yang hasilnya terutama
untuk tujuan ekspor.

Penyelenggara Kawasan Berikat (PKB) adalah perseroan terbatas, koperasi yang berbentuk
badan hukum atau yayasan yang memiliki, menguasai, mengelola dan menyediakan sarana dan
prasarana guna keperluan pihak lain di KB yang diselenggarakannya berdasarkan persetujuan
untuk menyelenggarakan KB.

Pengusaha Di Kawasan Berikat (PDKB) adalah perseroan terbatas atau koperasi yang melakukan
kegiatan usaha industri di KB.

Perusahaan yang berhak mendapatkan fasilitas KB :

PMDN, PMA, NON PMA/PMDN yang berbentuk PT, KOPERASI

Memiliki lahan yang berlokasi di kawasan industri

Mempunyai NPWP

DASAR HUKUM

Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1996 tentang Penimbunan Berikat jo. Peraturan
pemerintah No. 43 Tahun 1997 tentang penyempurnaan PP No. 33/1996;

Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 291/KMK.05/1997 tanggal 26


Juni 1997 sebagaimana diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik
Indonesia Nomor : 349/KMK.01/1999 tanggal 24 Juni 1999;

Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai No. KEP-63/BC/1997 tanggal 25 Juli 1997;

Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor SE-10/BC/1997 tanggal 18 Maret
1998.
BENTUK FASILITAS

1. Penangguhan Bea Masuk, Tidak Dipungut PPN, PPnBM dan PPh Pasal 22 Impor atas :

o Impor barang modal/peralatan perkantoran yang semata-mata dipakai PKB/PKB


merangkap PDKB;

o Impor barang modal dan peralatan pabrik yang berhubungan langsung dengan
kegiatan produksi PDKB;

o Impor barang/bahan untuk diolah di PDKB;

o Pembebasan cukai atas pemasukan dari DPIL untuk diolah lebih lanjut;

2. Pembebasan bea masuk dan cukai serta tidak dipungut PPN, PPnBM dan PPh pasal 22
Impor atas pengeluaran yang ditujukan kepada pihak yang memperoleh fasilitas
pembebasan;

3. Tidak dipungut PPN dan PPnBM atas :

o Pemasukan BKP dari DPIL untuk diolah lebih lanjut;

o Pengiriman barang hasil produksi PDKB ke PDKB lain untuk diolah lebih lanjut;

o Pengeluaran barang/bahan ke perusahaan industri di DPIL/PDKB lain dalam rangka

4. subkontrak;

o Penyerahan kembali BKP hasil subkontrak oleh PKP di DPIL/PDKB lain kepada
PDKB asal;

o Peminjaman mesin/peralatan pabrik dalam rangka subkontrak kepada


perusahaan industri di DPIL/PDKB lain dan pengembaliannya ke PDKB asal.

5. Penyerahan barang hasil olahan produsen pengguna fasilitas Bapeksta Keuangan dari
DPIL untuk diolah lebih lanjut oleh PDKB diberikan perlakuan perpajakan yang sama
dengan perlakuan terhadap barang yang diekspor;

6. Barang modal berupa mesin asal impor apabila telah melampaui jangka waktu dua tahun
sejak pengimporannya atau sejak menjadi aset perusahaan dapat dipindahtangankan
dengan tanpa kewajiban membayar bea masuk yang terutang;

7. PDKB yang termasuk dalam Daftar Putih dapat mempertaruhkan jaminan berupa SSB
kepada KPBC yang bersangkutan untuk pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari
PDKB yang dipersyaratkan untuk mempertaruhkan jaminan;

8. PDKB dapat mensubkontrakkan sebagian kegiatan pengolahannya kecuali pekerjaan


pemeriksaan awal, pemeriksaan akhir, penyortiran dan pengepakan kepada perusahaan
industri di DPIL atau PDKB lainnya;

9. Mesin/peralatan pabrik yang akan dipergunakan untuk menyelesaikan pekerjaaan


subkontrak dapat dipinjamkan oleh PDKB kepada PDKB lainnya atau sukkontrak di DPIL
untuk jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan dan dapat diperpanjang untuk
paling lama dua kali 12 (dua belas) bulan;

10. Pengeluaran barang jadi berupa komponen (barang yang akan digabung dengan barang
lain dalam perakitan untuk menghasilkan barang berderajat lebih tinggi dan sifat
hakikinya berbeda dari produk semula) ke DPIL diperkenankan hingga sebesar 100 %
dan untuk barang jadi lainnya sebesar 50 % dari nilai realisasi ekspor atau pengeluaran
ke PDKB lainnya yang telah dilakukan.

FASILITAS TERKAIT KEGIATAN SUB KONTRAK

1. Pengeluaran barang/bahan ke perusahaan industri di DPIL / PDKB lainnya dalam rangka


Sub Kontrak, tidak dipungut PPN dan PPnBM

2. Penyerahan kembali Barang Kena Pajak hasil Sub Kontrak oleh Pengusaha Kena Pajak di
DPIL / PDKB lainnya kepada PDKB asal tidak dipungut PPN dan PPnBM

3. Peminjaman mesin/peralatan pabrik dalam rangka SubKontrak kepada Perusahaan


Industri di DPIL/PDKB lainnya dan pengembalian pinjaman ke PDKB asal tidak dipungut
PPN dan PPnBM

FASILITAS ATAU KEMUDAHAN LAINNYA

1. Impor ;

o Pemasukan langsung dari pelabuhan bongkar ke KB;

o Tidak diberlakukan ketentuan tataniaga impor;

o Tidak diberlakukan pemeriksaan fisik

2. Ekspor:

o Tidak dilakukan pemeriksaan fisik

o Persetujuan muat di KB

3. Pengeluaran barang dari KB ke KB lainnya dianggap sebagai realisasi ekspor

4. Dalam KB bisa didirikan Gudang Berikat

5. Penjualan ke DPIL (Daerah Pabean Indonesia Lainnya):

o 50 % untuk komponen atau barang yang akan digunakan untuk produksi barang
yang menghasilkan barang yang derajatnya lebih tinggi

o 25 % untuk yang lainnya dari nilai realisasi ekspor dan atau pengeluaran ke KB
lainnya

KEUNTUNGAN DAN PERMASALAHAN DALAM KAWASAN BERIKAT


Manfaat / Keuntungan Kawasan Berikat Kesiapan (Kawasan Berikat

1. Efisiensi waktu dengan tidak dilakukannya 1. Segala proses & kegiatan baik keluar masu
pemeriksaan fisik di Tempat Penimbunan diawasi langsung oleh pihak petugas Bea C
Sementara (Pelabuhan) pada saat melakukan proses yang ditunjuk dengan mewajibkan penyert
Customs Clearace (Tanpa dilakukan proses jalur dokumen dan kelengkapan dokumen pendu
merah atau pun jalur kuning). lainnya

2. Efisiensi waktu dengan pengajuan BC.23 yang 2. Wajib melaporkan jumlah dokumen dan ni
dilakukan sebelum kapal/pesawat tiba. (transaksi) atas pemasukan dan pengeluara
dari dan ke perusahaan yang meiliki fasilit
3. Efisiensi waktu dan biaya dengan prosedur Truck Kawasan Berikat tersebut dalam kurun wa
Lossing.
o Bulanan (setiap awal bulan) setelah
4. Efisiensi waktu dan fasilitas perpajakan dan berjalan
kepabeanan, sehingga PDKB dapat menikmati
harga kompetitif di pasar global. o 3 Bulanan atas pelapoan bahan bak
setengah jadi dan barang jadi (4A,
5. Cash Flow perusahaan lebih terjamin. Dikarenakan C)
tidak mengganggu proses cash out terkait
pembayaran pajak dalam rangka import dan Bea 3. Cukup memakan waktu dalam proses Cust
masuk dan cukai pada saat melakukan import. Clearance karena atas pemasukan dan peng
setiap barang harus melalui persetujuan pe
6. Production Schedule lebih terjamin. Cukai baik yang berada di Kawasan Itu sen
di Kantor Pelayanan masing-masing wilay
7. Membantu usaha pemerintah dalam rangka
mengembangkan program keterkaitan antara
perusahaan besar, menengah dan kecil melalui
kegiatan pola sub-kontrak.

KEMUDAHAN EKSPOR

1. Pelayanan dokumen ekspor diberikan oleh petugas BC di KB termasuk pemberian


persetujuan muat sehingga barang ekspor milik PDKB di pelabuhan muat dapat
langsung dimuat di atas kapal/pesawat.

2. Barang ekspor dari KB dimungkinkan untuk konsolidasi dengan barang ekspor lainnya
sehingga dapat menghemat biaya ekspor.
3. Dengan diberikannya fasilitas perpajakan, PDKB tidak perlu mengurus proses restitusi
pajak karena pemasukan barang ke KB tidak dipungut PPN, PPnBM dan PPh Pasal 22
Impor.

4. Pengiriman barang hasil olahan PDKB ke PDKB lainya dapat digabungkan dengan
jumlah realisasi ekspor untuk dasar perhitungan penjualan hasil olahan ke DPIL.

SYARAT-SYARAT FISIK

1. Perusahaan berstatus PMDN, PMA, Non PMA/PMDN yang berbentuk PT, Koperasi atau
Yayasan.

2. Memiliki/menguasai kawasan yang berlokasi di kawasan industri atau kawasan peruntuk-


kan industri yang ditetapkan Pemda TK. II

3. Lokasi kawasan dapat langsung dimasuki dari jalan umum dan dapat dilalui oleh
kendaran pengangkut barang, tidak berhubungan langsung dengan bangunan lain dan
mempunyai fasilitas sistem hanya satu pintu utama untuk pemasukan dan pengeluaran
barang ke/dari KB.

4. Kawasan memiliki pagar keliling yang merupakan batas pemisah yang jelas dengan
kawasan lainnya.

5. PDKB harus memiliki secara terpisah tempat pengolahan, penimbunan bahan baku,
barang jadi, dan bahan sisa serta barang rusak/busuk.

6. Menyediakan ruangan yang memadai bagi petugas Bea dan Cukai dalam melakukan
pekerjaan dan pos penjagaan di pintu utama

7. Memasang papan nama yang dapat dibaca dan tampak jelas di depan perusahaan

BAGAIMANA MEMPEROLEH PERSETUJUAN

A. persetujuan sebagai KB atau PKB merangkap PDKB diberikan oleh Menkeu RI.
Pengusaha cukup mengajukan permohonan dengan menggunakan contoh seperti
lampirkan I Kep Menkeu No.291/KMK.05/1997 tanggal 26 Juni 1997 dan
melampirkan :

1. Copy Surat Persetujuan Usaha Industri, Amdal, dan persetujuan lainya yang diperlukan
dari instansi teknis terkait.

2. Copy Akte Pendirian PT, Koperasi atau Yayasan yang disahkan pejabat berwenang.

3. Copy bukti kepemilikan atau penguasaan bangunan/ tempat/ kawasan yang memiliki
batas-batas (pagar pemisah) yang jelas/ SK domisili.

4. Copy NPWP, penetapan PKP dan SPT Tahunan PPh WP Badan tahun terakhir.

5. Peta, denah lokasi/tempat yang akan dijadikan KB yang telah diijinkan oleh Pemda.

6. Denah, site-plan lokasi/tempat yang akan diusahakan sendiri sebagai PDKB.

7. Daftar isian seperti Lampiran IA Skep Dirjen Bea dan Cukai No.Kep-63/BC/1997 tanggal
25 Juli1997.
8. Berita Acara Pemeriksaan Lokasi KB yang dibuat oleh Kepala Kantor Pelayanan yang
mengawasi KB (bagi pengusaha yang telah memiliki bangunan fisik).

B. Persetujuan sebagai PDKB diberikan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai.
Pengusaha dalam waktu 14 hari sebelum memulai kegiatan agar mengajukan
permohonan melalui PKB dengan menggunakan contoh seperti lampiran II Kep
Menkeu No.291/KMK.05/1997 tanggal 26 Juni 1997 dan melampirkan :

1. Copy bukti kepemilikan/penguasaan perusahaan industri di KB dilampiri surat


rekomendasi dari PKB.

2. Copy Persetujuan Usaha Industri dan persetujuan lainnya yang diperlukan dari instansi
teknis terkait.

3. Copy Akte Pendirian PT, Koperasi atau Yayasan yang disahkan pejabat berwenang.

4. Copy NPWP, Penetapan PKP dan SPT Tahunan PPh WP Badan tahun terakhir.

5. Denah, site-plan lokasi/tempat yang akan diusahakan sebagai PDKB.

6. Saldo bahan baku, bahan dalam proses, barang jadi, barang modal dan peralatan
pabrik.

7. Foto/Brosur/Katalog/Contoh barang jadi hasil olahan yang akan diproduksi di PDKB.

Untuk detail rincian persyaratan dalam mengajukan persetujuan tersebut dapat dilihat
download disini . Berikut flow proses pengajuan menjadi Pengusaha Kawasan Berikat /
Perusahaan Dalam Kawasan Berika.