Anda di halaman 1dari 116

MODUL 2

BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Penanganan material secara manual seperti pengangkutan proses produksi yang
menggunakan tenaga manusia masih banyak digunakan di sebagian perusahaan di
indonesia. Selain mudah untuk dilakukan, pengangkutan material secara manual juga
tidak mengeluarkan biaya penanganan yang terlalu tinggi. Namun terkadang
perusahaan lupa untuk memperhatikan akibat dari pengangkutan material secara
manual tersebut bagi kenyamanan dan kesehatan pekerja atau operator. Pada saat
melakukan pekerjaan para pekerja sering merasakan keluhan pada bagian-bagian
tertentu. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan pekerja dalam melakukan
aktivitasnya. Tingginya tingkat cedera akibat aktivitas pengangkatan dan pemindahan
beban akan berdampak buruk bagi perusahaan yaitu berupa penurunan produktivitas
kerja perusahaan melalui beban biaya pengobatan yang besar.
Tubuh manusia dirancang untuk melakukan aktivitas serhari-hari, adanya masa
otot yang bobotnya lebih dari separuh tubuh memungkinkan manusia untuk dapat
menggerakkan tubuh dan melakukan kerja. Dari sudut pandang ergonomi, setiap
beban kerja yang diterima oleh seseorang harus sesuai dan seimbang terhadap
kemampuan fisik, koknitif, maupun keterbatasan manusia menerima beban tersebut.
Biomekanika adalah ilmu yang menggunakan hukum-hukum fisika dan konsep- konsep
mekanika untuk mendeskripsikan gerakan dan gaya pada berbagai macam bagian
tubuh ketika melakukan aktivitas. Faktor ini sangat berhubungan dengan pekerjaan
yang bersifat material handling, seperti pengangkatan dan pemindahan secara
manual, atau pekerjaan lain yang dominan menggunakan otot tubuh. Meskipun
kemajuan teknologi telah banyak membantu aktivitas manusia, namun tetap saja ada
beberapa pekerjaan manual yang tidak dapat dihilangkan dengan pertimbangan biaya
maupun kemudahan. Pekerjaan ini membutuhkan usaha fisik sedang hingga besar
dalam durasi waktu kerja tertentu.
Biomekanika merupakan studi tentang karakteristik - karakteristik tubuh manusia
dalam istilah mekanik. Biomekanika dioperasikan pada tubuh manusia baik saat tubuh
dalam keadaan statis ataupun dalam keadaan dinamis. Contoh dari penerapan ilmu
biomekanika adalah untuk menjelaskan efek getaran dan dampak yang timbul akibat
kerja, menyelidiki karakteristik kolom tulang belakang, menguji penggunaan alat
prosthetic, dan lain-lain.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 45


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

1.2Tujuan Praktikum
1.2.1 Tujuan Umum
Tujuan praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Mampu menganalisa postur kerja dengan menggunakan metode RULA, REBA, dan
OWAS,
2. Menggunakan konsep RULA, REBA, dan OWAS dalam mendeteksi postur kerja atau
faktor resiko dalam suatu pekerjaan,
3. Mampu melakukan pengukuran kerja fisik dan memanfaatkannya dalam
perancangan metode kerja berdasarkan prinsip-prinsip biomekanika,
4. Mengetahui besar beban kerja pada saat mengangkat beban kerja secara manual,
5. Mampu memahami keterbatasan manusia terhadap beban kerja yang dibebankan
pada anggota tubuh manusia,
6. Mengetahui alat-alat yang digunakan dalam pengukuran kerja fisik berdasarkan
prinsip-prinsip biomekanika.

1.2.2 Tujuan Khusus


Tujuan khusus dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Mampu menaksir skor dan menganalisa postur kerja dengan metode RULA, REBA,
dan OWAS,
2. Mampu menganalisa tingkat kecelakaan yang mungkin terjadi yang diakibatkan
oleh postur kerja tertentu,
3. Mampu mengaplikasikan metode RWL (Recommended Weight Limit) dan LI (Lifting
Index) dalam menghitung beban kerja pada saat mengangkat beban kerja secara
manual,
4. Mampu menganalisa perbaikan system kerja, merancang gerakan pemindahan
benda kerja yang ergonomis, melakukan perbaikan dalam postur kerja, dan
memberikan rekomendasi metode kerja yang lebih baik dari metode yang sudah
ada.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 46


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Biomekanika


Biomekanika adalah ilmu yang menggunakan hukum-hukum fisika dan konsep-
konsep mekanika untuk mendeskripsikan gerakan dan gaya pada berbagai macam
bagian tubuh ketika melakukan aktivitas. Biomekanika merupakan salah satu dari
empat bidang penelitian informasi hasil ergonomi. Yaitu penelitian tentang kekuatan
fisik manusia yang mencakup kekuatan atau daya fisik manusia ketika bekerja dan
mempelajari bagaimana cara kerja serta peralatan harus dirancang agar sesuai
dengan kemampuan fisik manusia ketika melakukan aktivitas kerja tersebut. Dalam
biomekanik ini banyak disiplin ilmu yang mendasari dan berkaitan untuk dapat
menopang perkembangan biomekanik. Disiplin ilmu ini tidak terlepas dari
kompleksnya masalah yang ditangani oleh biomekanik ini. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat bagan (Gambar 2.1) di bawah ini:

Gambar 2.1 Diagram Ilmu Biomekanika


Sumber: Contini dan Drill, 1966

Faktor ini sangat berhubungan dengan pekerjaan yang bersifat material handling,
seperti pengangkatan dan pemindahan secara manual, atau pekerjaan lain yang

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 47


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

dominant menggunakan otot tubuh. Meskipun kemajuan teknologi telah banyak


membantu aktivitas manusia, namun tetap saja ada beberapa pekerjaan manual yang
tidak dapat dihilangkan dengan pertimbangan biaya maupun kemudahan. Pekerjaan
ini membutuhkan usaha fisik sedang hingga besar dalam durasi waktu kerja tertentu,
misalnya penanganan atau pemindahan material secara manual. Usaha fisik ini
banyak mengakibatkan kecelakaan kerja ataupun low back pain, yang menjadi isu
besar di negara-negara industri belakangan ini. Biomekanika merupakan studi tentang
karakteristik-karakteristik tubuh manusia dalam istilah mekanik. Biomekanika
dioperasikan pada tubuh manusia baik saat tubuh dalam keadaan statis ataupun
dalam keadaan dinamis. Contoh dari penerapan ilmu biomekanika adalah untuk
menjelaskan efek getaran dan dampak yang timbul akibat kerja, menyelidiki
karakteristik kolom tulang belakang, menguji penggunaan alat prosthetic, dll.

2.2 Konsep Biomekanika


Biomekanika diklasifikasikan menjadi dua, yaitu general biomechanics dan
occupational biomechanics.

2.2.1 General Biomechanic


Adalah bagian dari Biomekanika yang berbicara mengenai hukumhukum dan
konsepkonsep dasar yang mempengaruhi tubuh organik manusia baik dalam posisi
diam maupun bergerak general biomechanics dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Biostatics adalah bagian dari biomekanika umum yang hanya menganalisis tubuh
pada posisi diam atau bergerak pada garis lurus dengan kecepatan seragam
(uniform).
2. Biodinamic adalah bagian dari biomekanik umum yang berkaitan dengan
gambaran gerakangerakan tubuh tanpa mempertimbangkan gaya yang terjadi
(kinematik) dan gerakan yang disebabkan gaya yang bekerja dalam tubuh
(kinetik) (Tayyari, 1997).

2.2.2 Occupational Biomechanic


Didefinisikan sebagai bagian dari biomekanik terapan yang mempelajari interaksi
fisik antara pekerja dengan mesin, material dan peralatan dengan tujuan untuk
meminimumkan keluhan pada sistem kerangka otot agar produktifitas kerja dapat
meningkat. Setelah melihat klasifikasi diatas maka dalam praktikum kita ini dapat kita
kategorikan dalam Biomekanik Occupational Biomechanic. Untuk lebih jelasnya disini
akan kita bahas tentang anatomi tubuh yang menjadi dasar perhitungan dan

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 48


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

penganalisaan biomekanik. Dalam biomekanik ini banyak melibatkan bagian bagian


tubuh yang berkolaborasi untuk menghasilkan gerak yang akan dilakukan oleh organ
tubuh yakni kolaborasi antara tulang, jaringan penghubung (Connective Tissue) dan
otot.

2.3 Prinsip-prinsip Biomekanika


Dasar dari prinsip kerja Biomekanika adalah Hukum Newton yang terdiri dari:
1. Hukum I Newton
Bunyi Hukum I Newton: Selama jumlah gaya yang bekerja pada sebuah benda
sama dengan nol (F = 0) maka benda akan berada dalam keadaan diam atau
bergerak secara lurus beraturan (Kecepatannya konstan).
Konsep dari hukum ini dikenal dengan kelembaman (Inersia) yaitu sifat suatu
benda untuk cenderung mempertahankan kedudukannya. Benda yang diam
cenderung untuk diam dan benda yang bergerak cenderung untuk terus bergerak.
Contoh: ketika tubuh dalam keadaan istirahat semua otot dan organ lain juga dalam
keadaan relaks. Maka ketika kita akan menggerakkannya harus dimulai dari perlahan
lahan (perlu pemanasan). Jika secara tiba-tiba digerakkan maka kemungkinan akan
mengakibatkan cedera pada organ tersebut.
2. Hukum II Newton
Jika sebuah benda diberikan gaya maka benda tersebut akan bergerak dan
mengalami Percepatan. Percepatan gerak sebuah benda berbanding lurus dengan
besarnya gaya yang bekerja dan berbanding terbalik dengan besar masanya.
F = m.a
F = gaya (newton)
m = massa (kilogram)
a = percepatan (meter/sekon2)
Konsep berat sama dengan gaya grafitasi berat merupakan hasil kali antara masa
dengan percepatan grafitasi (w = mg). Contoh: Gaya otot yang diperlukan akan lebih
besar ketika mengangkat beban yang berat dibandingkan dengan ketika mengangkat
beban yang ringan, ketika mendorong sebuah sebuah kereta pasien atau kursi dorong
gaya yang diperlukan lebih besar ketika mendorong pasien yang berbadan besar
dibandingkan dengan ketika mendorong pasien yang bertubuh kecil.
3. Hukum III Newton

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 49


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Jika sebuah benda melakukan gaya pada benda lain maka benda tersebut akan
mendapatkan balasan gaya yang besarnya sama tetapi arahnya berlawanan. Hukum
ini dikenal dengan hukum
aksi dan reaksi. Contoh: ketika telapak kaki menginjak tanah dan mendorong kearah
belakang maka tanah akan membalas dengan memberikan gaya yang besarnya
dengan arah kedepan sehingga badan akan terdorong maju.
Prinsip-prinsip biomekanika dalam pengangkatan beban:
1. Sesuaikan berat dengan kemapanan pekerja dengan mempertimbangkan
frekuensi pemindahan.
2. Manfaatkan dua atau lebih pekerja untuk memindahkan barang yang berat.
3. Ubahlah aktivitas jika mungkin sehingga lebih mudah, ringan dan tidak berbahaya.
4. Minimasi jarak horizontal gerakan antara tempat mulai dan berakhir pada
pemindahan barang.
5. Material terletak tidak lebih tinggi dari bahu.
6. Kurangi frekuensi pemindahan.
7. Berikan waktu istirahat.
8. Berlakukan rotasi kerja terhadap pekerjaan yang sedikit membutuhkan tenaga.
9. Rancang kontainer agar mempunyai pegangan yang dapat dipegang dekat dengan
tubuh.
10.Benda yang berat ditempatkan setinggi lutut agar dalam pemindahan tidak
menimbulkan cidera punggung.
Dalam biomekanika, banyak melibatkan bagian-bagian tubuh yang berkolaborasi
untuk menghasilkan gerak yang akan dilakukan oleh organ tubuh.

2.4 Manual Material Handling


Meskipun telah banyak mesin yang digunakan pada berbagai industri untuk
mengerjakan tugas pemindahan, namun jarang terjadi otomasi sempurna di dalam
industri. Disamping pula adanya pertimbangan ekonomis seperti tingginya harga
mesin otomasi atau juga situasi praktis yang hanya memerlukan peralatan sederhana.
Sebagai konsekuensinya adalah melakukan kegiatan manual di berbagai tempat kerja.
Bentuk kegiatan manual yang dominan dalam industri adalah Manual Material
Handling (MMH).
Definisi Manual Material Handling (MMH) adalah suatu kegiatan transportasi yang
dilakukan oleh satu pekerja atau lebih dengan melakukan kegiatan pengangkatan,
penurunan, mendorong, menarik, mengangkut, dan memindahkan barang. Selama ini
pengertian MMH hanya sebatas pada kegiatan lifting dan lowering yang melihat aspek
kekuatan vertikal. Padahal kegiatan MMH tidak terbatas pada kegiatan tersebut diatas,

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 50


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

masih ada kegiatan pushing. Kegiatan MMH yang sering dilakukan oleh pekerja di
dalam industri antara lain:
1. Kegiatan pengangkatan benda (Lifting Task)
2. Kegiatan pengantaran benda (Carrying Task)
3. Kegiatan mendorong benda (Pushing Task)
4. Kegiatan menarik benda (Pulling Task)
Pemilihan manusia sebagai tenaga kerja dalam melakukan kegiatan penanganan
material bukanlah tanpa sebab. Penanganan material secara manual memiliki
beberapa keuntungan sebagai berikut:
1. Fleksibel dalam gerakan sehingga memberikan kemudahan pemindahan beban
pada ruang terbatas dan pekerjaan yang tidak beraturan.
2. Untuk beban ringan akan lebih murah bila dibandingkan menggunakan mesin.
Tidak semua material dapat dipindahkan dengan alat.
Beberapa parameter yang harus diperhatikan dalam manual material handling
adalah sebagai berikut:
1. Beban yang harus diangkat
2. Perbandingan antara berat beban dan orangnya
3. Jarak horizontal dari beban terhadap orangnya
4. Ukuran beban yang akan diangkat (beban yang berdimensi besar akan
mempunyai jarak CG (Center of Gravity) yang lebih jauh dari tubuh dan bisa
mengganggu jarak pandangnya).

2.5 Faktor Resiko dan Bahaya Resiko


Dalam pemidahan material secara manual terdapat faktor resiko dan bahaya
resiko, yaitu sebagai berikut:

2.5.1 Faktor Resiko


Beberapa faktor yang berpengaruh dalam pemindahan material adalah sebagai
berikut:
1. Berat beban yang harus diangkat dan perbandingannya terhadap berat badan
operator.
2. Jarak horizontal dan beban relatif terhadap operator.
3. Ukuran beban yang harus diangkat (beban yang berukuran besar) akan memiliki
pusat massa (center of gravity) yang letaknya jauh dari badan operator, hal
tersebut akan menghalangi pandangan operator.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 51


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

4. Ketinggian beban yang harus diangkat dan jarak perpindahan beban (mengangkat
beban dari permukaan lantai akan relatif lebih sulit daripada mengangkat beban
dari ketinggian permukaan pinggang).
5. Beban puntir (twisting load) pada badan operator selama aktivitas angkat beban.
6. Prediksi terhadap berat beban yang diangkat. Hal ini adalah untuk mengantisipasi
beban yang lebih berat dari yang diperkirakan.
7. Stabilitas beban yang diangkat.
8. Kemudahan untuk dijangkau pekerja.
9. Berbagai macam rintangan yang menghalangi ataupun keterbatasan postur tubuh
yang berada pada suatu tempat kerja.
10.Kondisi kerja yang meliputi: pencahayaan, tempetatur, kebisingan dan kelicinan
lantai.
11.Frekuensi angkat yaitu banyaknya aktivitas angkat.
12.Metode angkat yang benar (tidak boleh mengangkat beban secara tiba-tiba).
13.Tidak terkoordinasinya kelompok kerja (lifting team).
14.Diangkatnya suatu beban dalam suatu periode. Hal ini adalah sama dengan
membawa beban pada jarak tertentu dan memberi beban pada vertebral disc (VD)
dan intervertebral disc (ID) pada vertebral colomn di daerah punggung.
2.5.2 Bahaya Resiko
Faktor resiko terpenting dari pengabaian faktor ergonomi dalam tempat kerja
adalah MSDs (Muscoloskeletal Disorders). MSDs ini memungkinkan timbul dalam
waktu yang cukup lama (adanya kumulatif resiko). Adapun faktor-faktor komulatif
yang menyebabkan resiko tersebut, yaitu:
1. Repetitive Motion
Melakukan gerakan yang sama berulang-ulang. Resiko yang timbul bergantung
dari berapa kali aktivitas tersebut dilakukan, kecepatan dalam gerakan / perpindahan,
dan banyaknya otot yang terlibat dalam kerja tersebut.
Gerakan yang berulang-ulang ini akan menimbulkan ketegangan pada syaraf dan
otot yang berakumulatif. Dampak resiko ini akan semakin meningkat jika dilakukan
denga postur yang kaku dan penggunaan usaha yang terlalu besar.
2. Awkward Postures
Sikap tubuh sangat menentukan sekali pada tekanan yang diterima otot pada saat
aktivitas dilakukan. Awkward postures meliputi repetitif reaching, twisting, bending,
kneeling, squatting, working overhead dengan tangan atau lengan, dan menahan
benda dengan posisi tetap. Sebagai contoh terdapat tekanan yang berlebih pada

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 52


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

bagian low back dalam aktivitas mengangkat benda, yang ditunjukkan pada gambar
berikut.

Gambar 2.2 Awkward Postures


Sumber : Anonim, 2007, http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/tmi/2007/jiunkpe-ns-s1-2007-
25403095-9066-welding_line-chapter2.pdf.

3. Contact Stresses
Tekanan pada bagian tubuh karena sisi tepi atau ujung dari benda yang berkontak
langsung. Hal ini dapat menghambat fungsi kerja syaraf maupun aliran darah.
Contohnya: kontak yang berulang-ulang dengan sisi yang keras atau tajam pada
meja secara kontinu.

Gambar 2.3 Contact Stresses


Sumber : Anonim, 2007, http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/tmi/2007/jiunkpe-ns-s1-2007-
25403095-9066-welding_line-chapter2.pdf.
4. Vibration
Getaran ini terjadi ketika spesifik bagian dari tubuh atau seluruh tubuh kontak
dengan benda yang bergetar seperti penggunaan power handtool dan pengoperasian
forklift mengangkat beban.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 53


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Gambar 2.4 Hand-Arm Vibration


Sumber : Anonim, 2007, http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/tmi/2007/jiunkpe-ns-s1-2007-
25403095-9066-welding_line-chapter2.pdf.

Gambar 2.5 Whole Body Vibration


Sumber : Anonim, 2007,http://digilib.petra.ac.id/jiun kpe/s1/tmi/2007/jiunkpe-ns-s1-2007-
25403095-9066-welding_line-chapter2.pdf.

5. Forcefull Exertions (termasuk lifting, pushing, pulling)


Force adalah jumlah usaha fisik yang digunakan untuk melakukan pekerjaan
seperti mengangkat benda berat. Jumlah tenaga bergantung pada tipe pegangan yang
digunakan, berat objek, durasi aktivitas, postur tubuh, dan jenis aktivitasnya.

Gambar 2.6 Lifting Bulky Loads


Sumber : Anonim, 2007, http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/tmi/2007/jiunkpe-ns-s1-2007-
25403095-9066-welding_line-chapter2.pdf.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 54


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

6. Duration
Durasi menunjukkan jumlah waktu yang digunakan dalam melakukan pekerjaan.
Semakin lama durasi dalam melakukan pekerjaan yang sama, maka akan semakin
tinggi resiko yang diterima dan semakin lama juga waktu yang diperlukan untuk
pemulihan tenaga pekerja.
7. Kondisi lain, seperti:
a. Temperatur dingin atau panas
b. Jam istirahat untuk pemulihan
c. Dan lain-lain

2.6 Sistem Musculoskeletal


Pekerjaan penanganan material secara manual (Manual Material Handling) yang
terdiri dari mengangkat, menurunkan, mendorong, menarik dan membawa merupakan
sumber utama komplain karyawan di industri (Ayoub & Dempsey, 1999).Aktivitas
manual material handling (MMH) yang tidak tepat dapat menimbulkan kerugian
bahkan kecelakaan pada karyawan. Akibat yang ditimbulkan dari aktivitas MMH yang
tidak benar salah satunya adalah keluhan muskoloskeletal. Keluhan muskoloskeletal
adalah keluhan pada bagian-bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai
dari keluhan yang sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban
statis secara berulang dalam jangka waktu yang lama akan dapat menyebabkan
keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen dan tendon. Keluhan inilah yang
biasanya disebut sebagai muskoloskeletal disorder (MSDs) atau cedera pada sistem
muskuloskeletal (Grandjean, 1993).
Tingginya tingkat cidera atau kecelakaan kerja selain merugikan secara langsung
yaitu sakit yang diderita oleh pekerja, kecelakaan tersebut juga akan berdampak
buruk terhadap kinerja perusahaan yaitu berupa penurunan produktivitas perusahaan,
baik melalui beban biaya pengobatan yang cukup tinggi dan juga ketidakhadiran
pekerja serta penurunan dalam kualitas kerja.

2.6.1 Sistem Tulang dan Rangka


Tulang adalah alat untuk meredam dan mendistribusikan gaya/tegangan yang ada
padanya. Tulang yang besar dan panjang berfungsi untuk memberikan perbandingan
terhadap beban yang terjadi pada tulang tersebut. Kolaborasi antar tulang dapat
menghasilkan gerakan yang dilakukan oleh organ tubuh. Tulang adalah alat untuk

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 55


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

meredam dan mendistribusikan gaya/tegangan yang ada padanya. Tulang yang besar
dan panjang berfungsi untuk memberikan perbandingan terhadap beban yang terjadi
pada tulang tersebut. Dalam aplikasinya, biomekanik selalu berhubungan dengan
kerangka manusia.

Gambar 2.7 Pandangan depan dan belakang dari sistem tulang manusia
Sumber : Nurmianto, (2005:11)

Tulang juga selalu terikat dengan otot, dan jaringan penghubung (Connective
Tissue) yakni ligamen,cartilage dan Tendon. Fungsi otot disini untuk menjaga posisi
tubuh agar tetap sikap sempurna.

Untuk dapat memenuhi desain atau perancangan produk baru maka diperlukan
suatu peralatan yang sesuai dengan kebutuhan manusia, sehingga dibutuhkan
pengetahuan mengenai kerangka pada manusia, Hal ini dilakukan agar diketahui
karakter kerangka manusia dan sistem otot yang menyertainya. Karakteristik otot
terutama berkaitan dengan dimensi dan kapasitasnya.

Rangka-rangka yang ada pada manusia sebenarnya merupakan suatu hubungan


atau garis-garis pada sistem pergerakan tubuh manusia ( link ), dimana pada rangka
ini akan menempel otot-otot yang bekerja secara sinergis dan antagonis. Rangka pada
manusia terdiri dari tulang-tulang yang bersatu membentuk sebuah sistem
pergerakan yang dikendalikan oleh otot. Rangka ini berfungsi sebagai alat untuk
meredam dan mendistribusi gaya atau tegangan yang ada.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 56


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

2.6.2 Sistem Otot


Membahas masalah otot striatik yaitu otot sadar. Otot terbentuk atas visber
(fibre), dengan ukuran panjang dari 10-40 mm dan berdiameter 0,01 - 0,1 mm dan
sumber energi otot berasal dari pemecahan senyawa kaya energi melalui proses aerob
maupun anaerob.
1. Anaerobic
Yaitu proses perubahan ATP menjadi ADP dan energi tanpa bantuan oksigen.
Glikogen yang terdapat dalam otot terpecah menjadi energi, dan membentuk asam
laktat. Dalam proses ini asam laktat akan memberikan indikasi adanya kelelahan otot
secara lokal, karena kurangnya jumlah oksigen yang disebabkan oleh kurangnya
jumlah suplai darah yang dipompa dari jantung. Misalnya jika ada gerakan yang
sifatnya tiba-tiba (mendadak), lari jarak dekat (sprint), dan lain sebagainya. Sebab lain
adalah karena pencegahan kebutuhan aliran darah yang mengandung oksigen dengan
adanya beban otot statis. Ataupun karena aliran darah yang tidak cukup mensuplai
oksigen dan glikogen akan melepaskan asam laktat.
2. Aerobic
Yaitu proses perubahan ATP menjadi ADP dan enegi dengan bantuan oksigen yang
cukup. Asam laktat yang dihasilkan oleh kontraksi otot dioksidasi dengan cepat
menjadi CO2 dan H2O dalam kondisi aerobic. Sehingga beban pekerjaan yang tidak
terlalu melelahkan akan dapat berlangsung cukup lama. Di samping itu aliran darah
yang cukup akan mensuplai lemak, karbohidrat dan oksigen ke dalam otot. Akibat dari
kondisi kerja yang terlalu lama akan menyebabkan kadar glikogen dalam darah akan
menurun drastis di bawah norma, dan kebalikannya kadar asam laktat akan
meningkat, dan jika sudah demikian maka cara terbaik adalah menghentikan
pekerjaan, kemudian istirahat dan makan makanan yang bergizi untuk membentuk
kadar gula dalam darah.
Hal tersebut di atas adalah merupakan proses kontraksi otot yang telah
disederhanakan analisa pembangkit energinya, dan sekaligus menandakan arti
pentingnya aliran darah untuk otot.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 57


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Gambar 2.8 Struktur Otot Manusia


Sumber: Nurmianto, 2005:14

2.6.3 Sistem Persendian


Persendian (artikulasi) merupakan hubungan antartulang sehingga tulang dapat
digerakkan. Beberapa komponen penunjang sendi adalah sebagai berikut:
1. Kapsula sendi adalah lapisan berserabut yang melapisi sendi. Di bagian dalamnya
terdapat rongga.
2. Ligamen (ligamentum) adalah jaringan pengikat yang mengikat luar ujung tulang
yang saling membentuk persendian. Ligamentum juga berfungsi mencegah
dislokasi.
3. Tulang rawan hialin (kartilago hialin) adalah jaringan tulang rawan yang menutupi
kedua ujung tulang. Berguna untuk menjaga benturan.
4. Cairan sinovial adalah cairan pelumas pada kapsula sendi.
Ada berbagai macam tipe persendian, yaitu:
1. Sinartrosis
Sinartrosis adalah persendian yang tidak memperbolehkan pergerakan. Dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Sinartrosis sinfibrosis
Sinartrosis yang tulangnya dihubungkan jaringan ikat fibrosa. Contoh:
persendian tulang tengkorak.
b. Sinartrosis sinkondrosis
Sinartrosis yang dihubungkan oleh tulang rawan. Contoh: hubungan
antarsegmen pada tulang belakang.
2. Diartrosis

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 58


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Diartrosis adalah persendian yang memungkinkan terjadinya gerakan. Dapat


dikelompokkan menjadi:
a. Sendi peluru
Persendian yang memungkinkan pergerakan ke segala arah. Contoh:
hubungan tulang lengan atas dengan tulang belikat.
b. Sendi pelana
Persendian yang memungkinkan beberapa gerakan rotasi, namun tidak ke
segala arah. Contoh: hubungan tulang telapak tangan dan jari tangan.
c. Sendi putar
Persendian yang memungkinkan gerakan berputar (rotasi). Contoh:
hubungan tulang tengkorak dengan tulang belakang I (atlas).
d. Sendi luncur
Persendian yang memungkinkan gerak rotasi pada satu bidang datar.
Contoh: hubungan tulang pergerlangan kaki.
e. Sendi engsel
Persendian yang memungkinkan gerakan satu arah. Contoh: sendi siku
antara tulang lengan atas dan tulang hasta.
3. Amfiartosis
Persendian yang dihubungkan oleh jaringan tulang rawan sehingga
memungkinkan terjadinya sedikit gerakan.
a. Sindesmosis
Tulang dihubungkan oleh jaringan ikat serabut dan ligamen.
Contoh:persendian antara fibula dan tibia.
b. Simfisis
Tulang dihubungkan oleh jaringan tulang rawan yang berbentuk seperi
cakram. Contoh: hubungan antara ruas-ruas tulang belakang.

2.6.4 Keluhan Terhadap Sistem Muskuloskeletal


Pekerjaan penanganan material secara manual (Manual Material Handling) yang
terdiri dari mengangkat, menurunkan, mendorong, menarik dan membawa merupakan
sumber utama komplain karyawan di industri (Ayoub & Dempsey, 1999).Aktivitas
manual material handling (MMH) yang tidak tepat dapat menimbulkan kerugian
bahkan kecelakaan pada karyawan. Akibat yang ditimbulkan dari aktivitas MMH yang
tidak benar salah satunya adalah keluhan muskoloskeletal. Keluhan muskoloskeletal
adalah keluhan pada bagian-bagian otot

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 59


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan sampai
sangat sakit.
Apabila otot menerima beban statis secara berulang dalam jangka waktu yang
lama akan dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen dan
tendon. Keluhan inilah yang biasanya disebut sebagai muskoloskeletal disorder
(MSDs) atau cedera pada sistem muskuloskeletal (Grandjean, 1993). Tingginya tingkat
cidera atau kecelakaan kerja selain merugikan secara langsung yaitu sakit yang
diderita oleh pekerja, kecelakaan tersebut juga akan berdampak buruk terhadap
kinerja perusahaan yaitu berupa penurunan produktivitas perusahaan, baik melalui
beban biaya pengobatan yang cukup tinggi dan juga ketidakhadiran pekerja serta
penurunan dalam kualitas kerja.
Ada tiga keluhan utama yang sering dikeluhkan penderita yang mengalami
gangguan muskuloskeletal, yaitu:
1. Perubahan bentuk (Deformitas)
a. Bengkak
Pada umumnya terjadi karena radang, tumor, pasca trauma, dan lain-lain
b. Bengkok, misalnya:
1) Varus, yaitu kelainan tulang bengkok keluar
2) Valgus, yaitu kelainan tulang bengkok ke dalam seperti kaki X
3) Genu varum, yaitu kaki seperti O
c. Pendek
Kelainan tulang yang dapat dibandingkan dengan kontralateral yang
normal
2. Gangguan Fungsi (Disfungsi), yaitu penurunan/hilangnya fungsi
a. Afungsi (tidak bisa digerakkan sama sekali)
b. Kaku (stiffness)
c. Cacat (disability)
d. Gerakan tak stabil (instability)
3. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Riwayat trauma sebelumnya
b. Riwayat infeksi tulang dan sendi seperti osteomielitis/arthritis
c. Riwayat pembengkakan/tumor yang diderita
d. Riwayat kelainan kongenital muskuloskeletal seperti CTEV
e. Riwayat penyakit penyakit diturunkan seperti skoliosis, dan lain-lain

2.7 Cidera
Cidera kerja adalah kecelakaan yang terjadi di tempat dan saat bekerja. Menurut
Bird and Germain (1990), cidera kerja adalah kejadian tidak diharapkan yang
mengakibatkan kesakitan (cidera dan korban jiwa) pada pekerja/orang.
Dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 3 tahun 1998 tentang Tata Cara
Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan, kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 60


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan
atau harta benda. Tempat kerja merupakan ruangan atau lapangan tertutup atau
terbuka, bergerak atau di mana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki
tenaga kerja untuk keperluan usaha dan di mana terdapat sumber cahaya.

2.7.1 Faktor Resiko Cidera


Faktor resiko diasosiasikan dengan jumlah tugas yang dapat menyebabkan cidera
muskuloskeletal. Faktor resiko digunakan untuk menganalisa tugas manual (manual
task). Manual task atau manual material handling memiliki interaksi yang kompleks
antara pekerja dan lingkungan kerja. Cara penggolongan faktor resiko cidera di
berbagai negara tidak sama. Namun ada kesamaan umum, faktor resiko kemudian
dikategorikan menjadi tiga bagian yaitu :
1. Tekanan langsung kepada tubuh.
Hal ini meliputi faktor seperti tingkat tekanan pada muscular, postur/sikap
kerja, pengulangan pekerjaan, getaran peralatan dan lama waktu kerja.
2. Kontribusi faktor resiko yang secara langsung mempengaruhi tuntutan kerja.
Hal ini meliputi layout area kerja, penggunaan alat, penangan beban. Jika
komponen ini di desain ulang pengaruh dari tekanan dapat dikurangi.
3. Memodifikasi faktor resiko dapat memberi masukan pada perubahan sikap kerja
sehingga akibat dari faktor resiko dapat dikurangi.
Cidera akibat kerja terjadi tanpa disangka-sangka dalam waktu sekejap mata.
Benneth (1991) mengemukakan bahwa di dalam setiap kejadian cidera kerja, empat
faktor bergerak dalam satu kesatuan berantai.
1. Faktor Manusia
a. Umur
Usia muda relatif mudah terkena kecelakaan kerja dibandingkan dengan
usia lanjut yang mungkin dikarenakan sikap ceroboh dan tergesa-gesa.
Pengkajian usia dan cidera akibat kerja menunjukkan angka kecelakaan yang
pada umumnya lebih rendah dengan bertambahnya usia, tetapi tingkat
keparahan cidera dan penyembuhannya lebih serius. Angka kejadian cidera
lebih tinggi pada pekerja muda yaitu kurang dari 24 tahun (<24 tahun)
dibandingkan pada pekerja lanjut usia (WHO, 1993).
b. Jenis kelamin
Tingkat cidera akibat kerja pada perempuan akan lebih tinggi daripada
laki-laki. Perbedaan kekuatan fisik antara perempuan dengan kekuatan fisik

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 61


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

laki-laki adalah 65%. Secara umum, kapasitas kerja perempuan rata-rata


sekitar 30 % lebih rendah daripada laki-laki. Tugas yang berkaitan dengan
gerak berpindah dengan gerak berpindah, laki-laki mempunyai waktu reaksi
lebih cepat daripada perempuan, baik pergerakan tangan, kaki, dan lengan.

c. Koordinasi otot
Koordinasi otot berpengaruh terhadap keselamatan pekerja. Diperkirakan
kekakuan dan reaksi yang lambat berperan dalam terjadinya cidera kerja.
d. Kecenderungan cidera
Konsep populer dalam penyebab cidera adalah accident prone theory.
Teori ini didasarkan pada pengamatan bahwa ada pekerja yang lebih besar
mengalami cidera dibandingkan pekerja lainnya. Hal ini disebabkan karena ciri-
ciri yang ada dalam pribadi yang bersangkutan.
e. Pengalaman kerja
Semakin banyak pengalaman kerja dari seseorang, maka semakin kecil
kemungkinan terjadinya cidera akibat kerja. Pengalaman untuk kewaspadaan
terhadap cidera kerja bertambah baik sesuai dengan usia, masa kerja atau
lamanya bekerja di tempat yang bersangkutan.
f. Tingkat pendidikan
Pendidikan formal dan pendidikan non-formal akan mempengaruhi
peningkatan pengetahuan pekerja dalam menerima informasi dan perubahan,
baik secara langsung maupun tidak langsung. Tuntutan pekerjaan atau job
requirements pada seorang pekerja adalah:
1) Pengetahuan (pengetahuan dasar dan spesifik tentang pekerjaan)
2) Fungsional (keterampilan dasar dan spesifik dalam mengerjakan suatu
pekerjaan)
3) Afektif (kemampuan dasar dan spesifikasi dalam suatu pekerjaan)
g. Kelelahan
Kelelahan dapat menimbulkan kecelakaan kerja pada suatu industri.
Kelelahan merupakan suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup lagi
untuk melakukan aktivitasnya. Kelelahan ini ditandai dengan adanya
penurunan fungsi-fungsi kesadaran otak dan perubahan pada organ di luar
kesadaran. Kelelahan disebabkan oleh beberapa hal, antara lain kurang
istirahat, terlalu lama bekerja, pekerjaan rutin tanpa variasi, lingkungan kerja
yang buruk, serta adanya konflik. (Silalahi, 1991).

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 62


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

2. Faktor lingkungan
Lokasi/tempat kerja adalah tempat dilakukannya pekerjaan bagi suatu usah,
dimana terdapat tenaga kerja yang bekerja, dan kemungkinan adanya bahaya
kerja di tempat itu (Silalahi, 1991). Desain dari lokasi kerja yang tidak ergonomis
dapat menimbulkan cidera kerja. Tempat kerja yang baik apabila lingkungan kerja
aman dan sehat.
3. Faktor bahaya
4. Faktor peralatan dan perlengkapan
Proses produksi adalah bagian dari perencanaan produksi. Langkah penting
dalam perencanaan adalah memilih peralatan dan perlengkapan yang efektif
sesuai dengan apa yang diproduksinya. Pada dasarnya peralatan/perlengkapan
mempunyai bagian-bagian kritis yang dapat menimbulkan keadaan bahaya, yaitu :
a. Bagian fungsional
b. Bagian operasional
Bagian mesin yang berbahaya harus ditiadakan dengan jalan mengubah
konstruksi, memberi alat perlindungan. Peralatan dan perlengkapan yang dominan
menyebabkan kecelakaan kerja, antara lain :
a. Peralatan/perlengkapan yang menimbulkan kebisingan
b. Peralatan/perlengkapan dengan penerangan yang tidak efektif
c. Peralatan/perlengkapan dengan temperatur tinggi ataupun terlalu rendah
d. Peralatan/perlengkapan yang mengandung bahan-bahan kimia berbahaya
e. Peralatan/perlengkapan dengan efek radiasi yang tinggi
f. Peralatan/perlengkapan yang tidak dilengkapi dengan pelindung, dll.
Sumber cidera kerja merupakan asal dari timbulnya kecelakaan, bisa berawal
dari jenis peralatan/perlengkapannya, berawal dari faktor human error, dimana
sumber dari kecelakaan merambat ke tempat-tempat lain, sehingga menimbulkan
kecelakaan kerja.

2.7.2 Macam Cidera


Secara umum, terdapat tiga macam cidera dalam dunia kerja, yaitu sakit pada
tulang belakang bagian bawah, sakit pada tulang belakang bagian atas, dan sakit
pada tangan dan pergelangan tangan.
1. Sakit pada Tulang Belakang Bagian Bawah
Sebanyak 90% orang akan merasakan sakit tulang belakang pada beberapa
titik di dalam kehidupannya. Mereka merasakan sakit tulang belakang pada bagian
bawah untuk kedua kalinya sebagai alasan utama untuk melakukan perawatan

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 63


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

medis. Sakit tulang belakang bagian bawah ini mewabah di Negara besar seperti
Amerika Serikat. Hal itu sudah diperkirakan dan insiden timbulnya Lower Back
Pain (LBP) per tahun adalah 5% dari populasi.
Sekitar 70% dan 90% dari orang orang mengalami peristiwa kambuhnya rasa
nyeri, dan sepertiga pasien mengalami nyeri yang persisten, rekuren, dan
intermitten dari rasa
nyeri yang pertama. Kesulitan menyembuhkan jaringan tertentu (seperti
spondylolisthesis), proses degeneratif yang berkelanjutan, dan banyak pasien
yang tidak memperkecil faktor resiko potensial. Semua ini dapat berperan dalam
memperparah terjadinya LBP.
Hal ini yang terpisah tetapi dengan sakit tulang belakang bagian bawah adalah
cidera tulang belakang. Ini biasanya secara akut, peristiwa mendadak sakit tulang
belakang atau penyakit pegal pada pinggang berhubungan dengan suatu
peristiwa yang spesifik. Cidera seperti itu pada umumnya tidak dianggap sebagai
MSDs yang dihubungkan dengan gerakan berulang. Meskipun demikian, ada juga
cidera seperti itu yang menyebabkan rasa sakit apabila melakukan gerakan
berulang tertentu. Perawatan dari sakit tulang belakang bagian bawah in harus
dibedakan untuk masing-masing pasien. Karena penyebab timbulnya rasa sakit
pada tiap-tiap pasien itu berbeda-beda. Sementara ada bukti ilmiah yang
mendukung intervensi spesifik, seperti koreksi postur tubuh, posisi tubuh pasien,
latihan umum, dan teknik-teknik fisioterapi spesifik yang mungkin akan sangat
bermanfaat.
2. Sakit pada Tulang Belakang Bagian Atas
Beberapa individu melaporkan adanya rasa sakit pada tulang belakang bagian
atas
dan tengah. Tulang thorax (thoracic spine) dirancang untuk mendukung organ
penting didalamnya dan sangat kuat. Jarang sekali mengalami gejala-gejala
degeneratif karena pergerakannya kecil dan sangat stabil. Tentu saja trauma atau
cidera dari ketegangan bisa menyebabkan rasa nyeri. Meski struktur - struktur dari
tulang belakang jarang cidera, tetapi beberapa kondisi-kondisi seperti osteoporosis
dapat mempengaruhi kondisi spesifik seperti tekanan yang mematahkan. Tulang
thorax sering dilibatkan dalam skoliosis yang idiopatik atau kebongkokan. Hal ini
kemudian dapat berkembang menjadi kondisi yang menyakitkan, meski sumber
dan penyebab yang tepat sering belum jelas. Mungkin hal tersebut merupakan
penyebab yang sering timbul pada bagian pertengahan tulang belakang, tetapi
sekali lagi sangatlah sulit untuk dapat mendiagnosa dengan tepat nyeri otot dari
otot-otot postural dan otot-otot tulang belikat. Kontribusi dari postur yang

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 64


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

abnormal, postur statis, kekuatan dan daya tahan yang lemah dan menyeluruh
mempengaruhi keadaan individu dan perlu untuk diperhitungkan. Beberapa usaha
rehabilitasi harus melibatkan otot-otot yang besar, termasuk peregangan, latihan-
latihan penguatan, aktivitas fungsional, dan perhatian pada postur tubuh.
3. Sakit pada Tangan dan Pergelangan Tangan
MSDs dari tangan dan pergelangan tangan dapat terjadi dalam bermacam-
macam bentuk seperti, kelainan trauma kumulatif, cidera karena ketegangan,
trauma mikro karena pekerjaan berulang, sindrom penggunaan berlebih, sindrom
terowongan karpus (carpal tunnel syndrome) dan kelainan karena tekanan yang
berulang. Hal dominan yang menjadi penyebab kelainan gerakan berulang adalah
gerakan-gerakan pembelokan dan perluasan dari pergelangan tangan dan jari-jari.
Secara kronis gerakan berulang tersebut terutama pada posisi pinch menjadi
penyebab terbanyak. Hal umum lain yang menyokong faktor-faktor terjadinya
cidera pada tangan dan pergelangan tangan termasuk gerakan-gerakan di mana
pergelangan tangan itu menyimpang dari posisi netral menjadi posisi yang
abnormal ataupun tidak biasa; bekerja untuk periode waktu yang lama tanpa
istirahat atau pertukaran otot-otot tangan dan lengan bawah; tekanan mekanik
pada persarafan dari genggaman pada tepi tajam dari instrument, pekerjaan yang
membutuhkan kekuatan berlebih dan memperluas penggunaan dari instrumen-
instrumen yang bergetar seperti Dental handpieces.

2.7.3 Upaya Mencegah Cidera


Adapun upaya mencegah cidera antara lain :
1. sediakan kalori secukupnya untuk input tubuh
2. bekerja menggunakan metode kerja yang baik
3. memperhatikan kemampuan tubuh.
4. memperhatikan waktu kerja yang teratur
5. mengatur lingkungan fisik sebaik-baiknya

2.8 Kelelahan
Dalam biomekanik kita akan berurusan dengan salah satu kejadian yang
dinamakan kelelahan. Kelelahan ini tidak lepas dari biomekanik karena dalam
aplikasinya biomekanik melihat orang secara mekanik, tetapi kodrat kemanusiaan
pada manusia tidak dapat dikesampingkan sehingga manusia/pekerja mempunyai
keterbatasan yaitu salah satunya keadaan yang dinamakan lelah. Kelelahan adalah
proses menurunnya efisiensi performansi kerja dan berkurangnya kekuatan atau
ketahanan fisik tubuh manusia untuk melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan.
Dalam bahasan lain, kelelahan didefinisikan sebagai suatu pola yang timbul pada
suatu keadaan yang secara umum terjadi pada setiap individu yang telah tidak

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 65


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

sanggup lagi untuk melakukan aktivitasnya. Ada beberapa macam kelelahan yang
diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti:
1. Lelah otot, yang diindikasikan dengan munculnya gejala kesakitan ketika otot
harus menerima beban berlebihan.
2. Lelah visual, yaitu lelah yang diakibatkan ketegangan yang terjadi pada organ
visual (mata) yang terkonsentrasi secara terus menerus pada suatu objek.
3. Lelah mental, yaitu kelelahan yang datang melalui kerja mental seperti berfikir
sering juga disebut sebagai lelah otak.
4. Lelah monotonis, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh aktivitas kerja yang
bersifat rutin, monoton, ataupun lingkungan kerja yang menjemukan.
Sedangkan kelelahan yang disebabkan oleh sejumlah faktor yang berlangsung
secara terus menerus dan terakumulasi, akan menyebabkan apa yang disebut dengan
lelah kronis. Di mana gejala-gejala yang tampak jelas akibat lelah kronis dapat
dicirikan seperti:
1. Meningkatnya emosi dan rasa jengkel sehingga orang menjadi kurang toleran atau
asosial terhadap orang lain.
2. Munculnya sikap apatis terhadap pekerjaan.
3. Depresi yang berat.
2.8.1. Proses Terjadinya Kelelahan
Kelelahan terjadi karena terkumpulnya produk-produk sisa dalam otot dan
peredaran darah, dimana produk-produk sisa ini bersifat membatasi kelangsungan
aktivitas otot dan mempengaruhi serat-serat syaraf dan sistem syaraf pusat sehingga
orang menjadi lambat bekerja. Makanan yang mengandung glikogen mengalir dalam
tubuh melalui peredaran darah. Setiap kontraksi dari otot selalu diikuti oleh kimia
(oksidasi glukosa) yang merubah glikogen menjadi tenaga, panas dan asam laktat
(produk sisa).
Pada dasarnya kelelahan timbul karena terakumulasinya produk sisa dalam otot
dan tidak seimbangnya antara kerja dan proses pemulihan. Secara lebih jelas terdapat
3 penyebab timbulnya kelelahan fisik, yaitu:
1. Oksidase glukosa dalam otot menimbulkan CO2 ,saerolactic, phosphati dan
sebagainya, dimana zat-zat tersebut terikat dalam darah yang kemudian
dikeluarkan waktu bernafas. Kelelahan terjadi apabila pembentukan zat-zat
tersebut tidak seimbang dengan proses pengeluaran, sehingga timbul
penimbunan dalam jaringan otot yang mengganggu kegiatan otot selanjutnya.
2. Karbohidrat didapat dari makanan dirubah jadi glukosa dan disimpan dihati dalam
bentuk glukogen. Setiap cm2 darah normal akan membawa 1 mm glukosa, berarti
setiap sirkulasi darah hanya membawa 0,1% dari sejumlah glikogen yang ada

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 66


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

dalam hati karena bekerja persediaan glikogen akan menipis dan kelelahan akan
timbul apabila konsentrasi glikogen dalam hati tinggal 0,7%.
3. Dalam keadaan normal jumlah udara yang masuk dalam pernafasan kira-kira 4
Lt/menit, sedangkan dalam keadaan kerja keras dibutuhkan udara kira-kira 15
Lt/menit. Ini berarti pada suatu tingkat kerja tertentu akan dijumpai suatu keadaan
dimana jumlah oksigen yang masuk melalui pernafasan lebih kecil dari tingkat
kebutuhan. Jika hal ini terjadi
maka kelelahan yang timbul dikarenakan reaksi oksidasi dalam tubuh yaitu untuk
mengurangi asam laktat menjadi air dan karbon dioksida agar dikeluarkan dari
tubuh, menjadi tidak seimbang dengan pembentukan asam laktat itu sendiri
(asam laktat terakumulasi dalam otot dalam peredaran darah).

2.8.2 Gejala-gejala Terjadinya Kelelahan


Secara pasti datangnya kelelahan yang menimpa pada diri seseorang akan sulit
untuk diidentifikasikan secara jelas. Mengukur lingkungan kelelahan seseorang
bukanlah pekerjaan yang mudah. Prestasi ataupun performansi kerja yang bisa
mengevaluasi tingkatan kelelahan. Kelelahan dapat kita lihat melalui indikasi-indikasi
(gejala-gejala) sebagai berikut:

1. Perhatian pekerja yang menurun.


2. Perasaan berat dikepala, menjadi lelah seluruh badan, kaki terasa berat menguap,
pikiran merasa kacau, mata merasa berat, kaku dan canggung dalam gerakan
tidak seimbang dalam berdiri terasa berbaring.
3. Merasa susah berpikir, menjadi gugup tidak dapat konsentrasi tidak dapat
mempunyai perhatian terhadap sesuatu, cenderung lupa, kurang kepercayaan,
cemas terhadap sesuatu tidak dapat mengontrol sikap, dan tidak tekun dalam
pekerjaan.
4. Sakit kekakuan bahu nyeri di pinggang pernafasan merasa tertekan suara serat,
haus, terasa pening , spasme dari kelopak mata, tremor pada anggota badan
merasa kurang sehat badan.

2.8.3 Upaya Mengurangi Kelelahan


Problematika kelelahan akhirnya membawa manajemen untuk selalu berupaya
mencari jalan keluar. Karena apabila kelelahan tidak segera ditangani secara serius

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 67


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

akan menghambat produktivitas kerja dan bisa menyebabkan kecelakaan kerja.


Adapun upaya-upaya untuk mengurangi kelelahan adalah sebagai berikut:
1. Sediakan kalori secukupnya sebagai input untuk tubuh.
2. Bekerja menggunakan metode kerja yang baik. Misalkan bekerja dengan
menggunakan prinsip ekonomi gerakan.
3. Memperhatikan kemampuan tubuh, artinya mengeluarkan tenaga tidak melebihi
pemasukannya dengan memperhatikan batasan- batasannya.
4. Memperhatikan waktu kerja yang teratur. Berarti harus dilakukan pengaturan
terhadap jam kerja, waktu istirahat, dan sarana-sarananya. Masa libur dan
rekreasi.
5. Mengatur lingkungan fisik sebaik-baiknya, seperti temperatur, kelembaban,
sirkulasi udara, pencahayaan kebisingan getaran, bau/wangi-wangian, dll.
6. Berusaha untuk mengurangi monotoni warna dan dekorasi ruangan kerja,
menyediakan musik, menyediakan waktu-waktu olah raga, dll.

2.8.4 Penyebab Kelelahan


Kelelahan yang terjadi dapat disebabkan berbagai hal, penyebab kelelahan secara
garis besar adalah:
1. Penyakit tertentu
Adanya penyakit tertentu seperti flu, anemia, diabetes mellitus, gangguan
tidur atau gangguan kelenjar tiroid dapat menyebabkan seseorang mengalami
kelelahan.
2. Psikologis
Seperti depresi, kecemasan, stres dan kesedihan

3. Gaya Hidup
Seperti kurang tidur, terlalu banyak tidur, konsumsi alkohol, diet yang salah,
kurang olahraga dan kurang nutrisi.
4. Kondisi Kerja
Misalnya: kerja shift, suasana tempat kerja yang buruk, workaholic (kecanduan
kerja), suhu maupun penyinaran ruang kerja, kebisingan, beban kerja, juga
pekerjaan yang monoton.

2.9 Metode-metode Analisis Postur Kerja

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 68


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Untuk mengetahui baik tidaknya postur kerja dapat dianalisis dengan


menggunakan metode-metode analisis postur kerja, yaitu Rapid Upper Limb
Assessment (RULA), Rapid Entire Body Assessment (REBA), dan Metode Analitik.

2.9.2 Metode RULA


Rapid Upper Limb Assessment (RULA) adalah sebuah metode untuk menilai
postur, gaya dan gerakan suatu aktivitas kerja yang berkaitan dengan penggunaan
anggota tubuh bagian atas (upper limb). Metode ini dikembangkan untuk menyelidiki
resiko kelainan yang akan dialami oleh seorang pekerja dalam melakukan aktivitas
kerja yang memanfaatkan anggota tubuh bagian atas (upper limb).
Metode ini menggunakan diagram postur tubuh dan tiga tabel penilaian untuk
memberikan evaluasi terhadap faktor resiko yang akan dialami oleh pekerja. Faktor-
faktor resiko yang diselidiki dalam metode ini adalah yang telah dideskripsikan oleh
McPhee sebagai faktor beban eksternal (external load factors), yaitu :
1. Jumlah gerakan
2. Kerja otot statis
3. Gaya/kekuatan
4. Penentuan postur kerja oleh peralatan
5. Waktu kerja tanpa istirahat
Setiap individu pekerja pasti mempunyai perbedaan-perbedaan, yaitu postur kerja,
kecepatan gerakan, akurasi gerakan, frekuensi dan lamanya delay, umur dan
pengalaman, dan faktor sosial. Oleh sebab itu, RULA didesain untuk membahas
faktor-faktor resiko di atas terutama pada 4 faktor eksternal pertama. Adapun tujuan
dari metode ini adalah sebagai berikut:
1. Sebagai metode yang dapat dengan cepat mengurangi resiko cidera pada pekerja,
khususnya yang berkaitan dengan tubuh bagian atas.
2. Mengidentifikasi bagian tubuh yang mengalami kelelahan dan kemungkinan
terbesar mengalami cidera.
3. Memberikan hasil analisis dan perbaikan.
Prosedur dalam pengembangan metode RULA meliputi tiga tahap, yaitu:
1. Pengembangan metode untuk merekam postur kerja
Untuk menghasilkan sebuah metode kerja yang cepat untuk digunakan, tubuh
dibagi dalam segmen-segmen yang membentuk dua kelompok atau grup yaitu
grup A dan B. Grup A meliputi bagian lengan atas dan bawah, serta pergelangan
tangan. Sementara grup B meliputi leher, punggung, dan kaki. Hal ini untuk
memastikan bahwa
seluruh postur tubuh terekam, sehingga segala kejanggalan atau batasan postur
oleh kaki, punggung atau leher yang mungkin saja mempengaruhi postur anggota
tubuh bagian atas dapat tercakup dalam penilaian.
a. Grup A
1) Lengan bagian atas

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 69


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Jangkauan gerakan untuk lengan bagian atas (upper arm) dinilai dan
diberi skor berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh Tichauer, Chaffin,
Herberts et al, Schuldt et al, dan Harms-Ringdahl & Schuldt. Skornya
sebagai berikut :
a) 1 untuk ekstensi 20 dan fleksi 20
b) 2 untuk ekstensi lebih dari 20 atau fleksi antara 20-45
c) 3 untuk fleksi antara 45-90
d) 4 untuk fleksi lebih dari 90
Jika bahu terangkat, skor dari postur di atas ditambahkan 1. Jika
lengan bagian atas abduksi maka skor postur juga ditambahkan 1.
Sedangkan bila operator bersandar atau berat lengan disangga atau diberi
penyangga, skor postur di atas dikurangkan 1.

Gambar 2.9 Standar RULA untuk postur lengan bagian atas


Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

2) Lengan bagian bawah


Jangkauan untuk lengan bagian bawah (lower arm) dikembangkan
berdasarkan penelitian Grandjean dan Tichauer. Skornya sebagai berikut :
a) 1 untuk fleksi 60-100
b) 2 untuk fleksi kurang dari 60 atau lebih dari 100
Jika lengan bagian bawah bekerja melewati garis tengah (midline)
tubuh atau berada di luar sisi tubuh, maka skor postur di atas ditambahkan
1.

Gambar 2.10 Standar RULA untuk postur lengan bagian bawah


Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

3) Pergelangan tangan

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 70


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Panduan untuk pergelangan tangan (wrist) yang diterbitkan oleh


Health and Safety Executive digunakan untuk menghasilkan skor postur
berikut:
a) 1 jika pada posisi netral
b) 2 untuk fleksi dan ekstensi 0-15
c) 3 untuk fleksi dan ekstensi lebih dari 15
Jika pergelangan tangan dalam gerakan ulnar maupun radial, maka
skor postur ditambahkan 1.

Gambar 2.11 Standar RULA untuk postur pergelangan tangan


Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

Pronasi dan supinasi pergelangan tangan ditentukan menyertai postur


netral berdasarkan Tichauer. Skornya sebagai berikut :
a) 1 jika pergelangan tangan berputar dalam jangkauan tengah
b) 2 jika pergelangan tangan berputar dekat atau pada akhir jangkauan
b. Grup B
1) Leher
Jangkauan postur untuk leher (neck) didasarkan pada studi yang
dilakukan oleh Chaffin dan Kilbom et al. Skor dan jangkauannya sebagai
berikut:
a) 1 untuk fleksi 0-10
b) 2 untuk fleksi 10-20
c) 3 untuk fleksi lebih dari 20
d) 4 bila dalam posisi ekstensi
Jika leher berputar, skor postur ditambahkan 1. Jika leher bergerak ke
samping, skor postur ditambahkan 1.

Gambar 2.12 Standar RULA untuk postur leher


Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

2) Punggung
Jangkauan gerakan punggung (trunk) dikembangkan dari Drury,
Grandjean dan Grandjean et al.
Skor posturnya sebagai berikut :

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 71


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

a) 1 jika duduk dan tersangga baik dengan sudut antara pinggul dan
punggung 90 atau lebih
b) 2 untuk fleksi 0-20
c) 3 untuk fleksi 20-60
d) 4 untuk fleksi lebih dari 60
Jika punggung memuntir, maka skor postur ditambahkan 1. Jika
punggung melentur ke samping, maka skor postur ditambahkan 1.

Gambar 2.13 Standar RULA untuk postur punggung


Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

3) Kaki
Skor postur kaki (legs) ditentukan sebagai berikut :
a) 1 jika kaki dan telapak kaki tersangga dengan baik ketika duduk
dengan berat yang seimbang.
b) 1 jika berdiri dengan berat tubuh terdistribusi secara merata pada
kedua kaki, dengan ruang untuk mengganti posisi.
c) 2 jika kaki dan telapak kaki tidak tersangga atau berat tidak merata
seimbang.
2. Pengembangan sistem skor untuk pengelompokan bagian tubuh.
Sebuah skor tunggal dibutuhkan dari Grup A dan B yang dapat mewakili tingkat
pembebanan postur dari sistem muskuloskeletal kaitannya dengan kombinasi postur
bagian tubuh.Rekaman video yang dihasilkan dari postur Grup A yang meliputi lengan
atas, lengan bawah, pergelangan tangan dan putaran pergelangan tangan diamati dan
ditentukan skor untuk masing-masing postur. Kemudian skor tersebut dimasukkan
dalam tabel A untuk memperoleh skor A.
Tabel 2.1 Skor Postur Grup A (Tabel A)

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 72


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-
fisiologi.pdf.
Rekaman video yang dihasilkan dari postur Grup B yaitu leher, punggung dan kaki
diamati dan ditentukan skor untuk masing-masing postur. Kemudian skor tersebut
dimasukkan ke dalam tabel B untuk memperoleh skor B.
Tabel 2.2 Skor Postur Grup B (Tabel B)

Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005
-fisiologi.pdf.
Sistem penilaian dilanjutkan dengan melibatkan otot (mucle) dan tenaga (force)
yang digunakan. Skor yang melibatkan penggunaan otot dikembangkan berdasarkan
penelitian Drury, yaitu tambahkan (+) 1 jika postur statis (dipertahankan dalam
waktu 1 menit) atau penggunaan postur tersebut berulang lebih dari 4 kali dalam 1
menit.
Skor untuk penggunaan tenaga (beban) dikembangkan berdasarkan penelitian
Putz-Anderson dan Stevenson dan Baida, yaitu sebagai berikut:
a. Jika pembebanan sesekali atau tenaga kurang dari 2 Kg dan ditahan maka
skor tidak ditambah.
b. Tambahkan (+) 1 jika beban sesekali antara 2 10 Kg.
c. Tambahkan (+) 2 jika beban 2 10 Kg bersifat statis atau berulang-ulang atau
beban sesekali namun lebih dari 10 Kg.
d. Tambahkan (+) 3 jika beban (tenaga) lebih dari 10 Kg dialami secara statis
atau berulang dan atau jika pembebanan seberapapun besarnya dialami
dengan sentakan cepat.
Skor penggunaan otot (muscle) dan skor tenaga (force) pada Grup tubuh bagian A
dan B diukur dan dicatat dalam kotak-kotak yang tersedia kemudian ditambahkan
dengan skor yang berasal dari tabel A dan B seperti pada lembar skor berikut :

Gambar 2.14 Diagram penilaian RULA


Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 73


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Hasil penjumlahan skor penggunaan otot (muscle) dan tenaga (force) dengan Skor
Postur A menghasilkan Skor C. Sedangkan penjumlahan dengan Skor Postur B
menghasilkan Skor D.
3. Pengembangan Grand Score dan Action List
Tahap ini bertujuan untuk menggabungkan Skor C dan Skor D menjadi suatu
grand score tunggal yang dapat memberikan panduan terhadap prioritas
penyelidikan / investigasi berikutnya. Tiap kemungkinan kombinasi Skor C dan Skor D
telah diberikan peringkat, yang disebut grand score dari 1-7 berdasarkan estimasi
resiko cidera yang berkaitan dengan
pembebanan musculoskeletal.

Gambar 2.15 Grand Score (Tabel C)


Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

Berdasarkan grand score dari Tabel C, tindakan yang akan dilakukan dapat
dibedakan menjadi 4 action level berikut :
a. Action Level 1
Skor 1 atau 2 menunjukkan bahwa postur dapat diterima selama tidak
dijaga atau berulang untuk waktu yang lama.
b. Action Level 2
Skor 3 atau 4 menunjukkan bahwa penyelidikan lebih jauh dibutuhkan dan
mungkin saja perubahan diperlukan.
c. Action Level 3
Skor 5 atau 6 menunjukkan bahwa penyelidikan dan perubahan
dibutuhkan segera.
d. Action Level 4
Skor 7 menunjukkan bahwa penyelidikan dan perubahan dibutuhkan
sesegera mungkin (mendesak).

Tabel 2.3 Action Level


Action
Nilai Tingkat kepentingan Perbaikan
Level

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 74


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

- Tidak Perlu Perbaikan


1 1 atau 2 - Diperlukan perbaikan
2 3 atau 4 - Implementasi dari perbaikan
- Dilakukan perbaikan
3 5 atau 6 - Implementasi dan perbaikan
dilaksanakan secepatnya
- Dilakukan perbaikan
4 7 - Implementasi dan perbaikan
mendesak untuk dilaksanakan
Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

Aplikasi Metode RULA adalah sebagai berikut:


1. Alat untuk melakukan analisis awal yang mampu menentukan seberapa jauh risiko
pekerja untuk terpengaruh oleh faktor-faktor penyebab cedera,yaitu:
a. Postur
b. Kontraksi otot statis
c. Gerakan repetitive
d. Gaya
2. Menentukan prioritas pekerjaan berdasarkan faktor risiko cedera. Hal ini dilakukan
dengan membandingkan nilai tugas-tugas yang berbeda yang dievaluasi
menggunakan RULA.
3. Menemukan tindakan yang paling efektif untuk pekerjaan yang memiliki risiko
relatif tinggi. Analisis dapat menentukan kontribusi tiap faktor terhadap suatu
pekerjaan secara keseluruhan dengan cara melalui nilai tiap faktor risiko.
4. Menemukan sejauh mana penngaruh suatu modifikasi atas pekerjaan. Perbaikan
secara kuantitatif dapat diukur dengan cara membandingkan penilaian sebelum
dan sesudah modifikasi diterapkan.

Gambar 2.16 RULA Employee Assesment Worksheet


Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 75


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

2.9.3 Metode REBA


Sebuah metode dalam bidang ergonomi yang digunakan secara cepat untuk
menilai postur leher, punggung, lengan, pergelangan tangan dan kaki seorang pekerja
luka-luka yang dialami di tempat kerja dikenal sebagai Musculos Keletal Disorder
(MSDS). MSDS juga didefinisikan sebagai gangguan dan penyakit pada otot yang telah
terbukti atau dihipotesa yang disebabkan dengan pekerjaan.
REBA merupakan suatu metode penelitian untuk penilaian tubuh dengan cepat
secara keseluruhan. Metode ini tidak membutuhkan peralatan spesial dalam penilaian
postur punggung, leher, kaki, dan lengan tangan dan pergelangan tangan. Setiap
pergerakan diberi dengan skor yang telah ditetapkan.
REBA dikembangkan sebagai suatu metode untuk menilai postur kerja yang
merupakan faktor resiko (risk factor). Metode ini didesain untuk menilai pekerja dan
mengetahui Muscules keletal yangg kemungkinan dapat menimbulkan gangguan pada
anggota tubuh.
Dalam usaha untuk penilaian 4 (empat) faktor beban eksternal, jumlah gerakan,
kerja otot statis, tenaga/ kekuatan, dan postur, REBA dikembangkan untuk:
1. Memberikan sebuah metode penyaringan suatu populasi kerja yang beresiko
menyebabkan gangguan pada anggota tubuh,
2. Mengidentifikasi usaha otot yang berhubungan dengan postur kerja,
penggunaan tenaga dan kerja yang berulang-ulang yang dapat menimbulkan
kelelahan (fatigue) otot,
3. Memberikan hasil yang dapat digabungkan dengan sebuah metode penilaian
ergonomi, yaitu epidemiologi, fisik, mental, lingkungan dan faktor organisasi.
Untuk melakukan penilaian postur dan pergerakan kerja dengan menggunakan
metode REBA melalui tahapantahapan sebagai berikut (Hignett dan McAtamney,
2000) :
1. Untuk mendapatkan gambaran sikap (postur) pekerja dari leher, punggung,
lengan, pergelangan tangan hingga kaki secara terperinci dilakukan dengan
merekam atau memotret postur tubuh pekerja. Hal ini dilakukan supaya peneliti
mendapatkan data postur tubuh secara detail (valid), sehingga dari hasil rekaman
dan hasil foto bisa didapatkan data akurat untuk tahap perhitungan serta analisis
selanjutnya.
2. Penentuan sudutsudut dari bagian tubuh pekerja. Setelah didapatkan hasil
rekaman dan foto postur tubuh dari pekerja dilakukan perhitungan besar sudut
dari masing masing segmen tubuh yang meliputi punggung (batang tubuh),

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 76


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

leher, lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan dan kaki. Pada metode
REBA segmen segmen tubuh tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu grup A
dan B. Grup A meliputi punggung (batang tubuh), leher dan kaki. Sementara grup
B meliputi lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan. Dari data sudut
segmen tubuh pada masingmasing grup dapat diketahui skornya, kemudian
dengan skor tersebut digunakan untuk melihat tabel A untuk grup A dan tabel B
untuk grup B agar diperoleh skor untuk masingmasing tabel.
Berikut merupakan tabel A dan tabel B untuk skoring pada metode REBA :
Tabel 2.4 Tabel A pada Metode REBA

Sumber: Nur W,2009,http://nur-w.blogspot.com/2009/05/rapid-entire-body-


assessment-reba.html.

Tabel 2.5 Tabel B pada Metode REBA

Sumber: Nur W,2009,http://nur-w.blogspot.com/2009/05/rapid-entire-body-


assessment-reba.html.
Tabel 2.6 Tabel C pada Metode REBA

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 77


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Sumber: Nur W,2009,http://nur-w.blogspot.com/2009/05/rapid-entire-


body-assessment-reba.html.

Tabel 2.7 Level Resiko dan Tindakan

Sumber: Nur W,2009,http://nur-w.blogspot.com/2009/05/rapid-entire-body-assessment-


reba.html.

Langkah-langkah yang diperlukan dalam menerapkan metode REBA, antara lain:


1. Mengambil data gambar posisi tubuh ketika bekerja.
2. Menentukan bagian-bagian tubuh yang akan diamati, antara lain batang
tubuh, pergelangan tangan, leher, kaki, lengan atas, dan lengan bawah.
3. Penentuan nilai untuk masing-masing postur tubuh dan penentuan activity
score.
4. Penjumlahan nilai dari masing-masing kategori untuk memperoleh nilai
REBA.
5. Penentuan level resiko dan pengambilan keputusan untuk perbaikan.
6. Membuat desain metode, fasilitas dan lingkungan kerja.
7. Implementasi dan evaluasi desain metode, fasilitas, dan lingkungan kerja.
8. Penilaian ulang dengan menggunakan metode REBA untuk desain baru yang
telah diimplementasikan.
9. Evaluasi perbandingan nilai REBA untuk kondisi sebelum dan setelah
implementasi desain perbaikan.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 78


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Keuntungan dari metode REBA, antara lain:

1. Metode ini dapat menganalisa pekerjaan berdasarkan posisi tubuh dengan


cepat.

2. Menganalisa faktor-faktor resiko yang ada dalam melakukan pekerjaan.

3. Metode ini cukup peka untuk menganalisa pekerjaan dan beban kerja
berdasarkan posisi tubuh ketika bekerja.

4. Teknik penilaian membagi tubuh kedalam bagian-bagian tertentu yang


kemudian diberi kode-kode secara individual berdasarkan bidang-bidang
geraknya untuk kemudian diberikan nilai.

Gambar 2.17 REBA Employee Assesment Worksheet


Sumber : Anonim,2005,http://www.google.co.id/its.ac.id/16624005-fisiologi.pdf.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 79


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

2.9.4 Metode OWAS


Ovako Work Posture Analysis System (OWAS) dimulai pada tahun tujuh puluhan di
perusahaan Ovako Oy Finlandia (sekarang Fundia Wire). Metode ini dikembangkan oleh
Karhu dan kawan-kawannya di Laboratorium Kesehatan Buruh Finlandia (Institute of
Occupational Health). Lembaga ini mengkaji tentang pengaruh sikap kerja terhadap
gangguan kesehatan seperti sakit pada punggung, leher, bahu, kaki, lengan, dan
rematik. Penelitian tersebut memfokuskan hubungan antara postur kerja dengan berat
beban.
Metode ini sesuai dengan penelitian tentang sikap kerja yang mencakup
pergerakan tubuh secara keseluruhan (Darmawan dan Hermawati, 2004). Metode
OWAS juga sesuai dengan penelitian yang mengidentifikasi sikap kerja dinamis yang
berbahaya ketika para pekerja sedang melakukan pekerjaan (Coutney Dkk, 1998).
Sehingga dapat dikatakan bahwa metode OWAS ini berguna untuk memperbaiki
kondisi pekerja dalam bekerja , sehingga perfomance kerja dapat ditingkatkan terus .
Hasil yang diperoleh dari metode OWAS digunakan untuk merancang metode
perbaikan kerja guna meningkatkan produktifitas. Metode ini dapat diterapkan pada
suatu area :
1. Pembangunan stasiun kerja atau sebuah metode kerja, untuk mengurangi beban
gangguan otot (musculoskeletal) agar lebih nyaman dan lebih produktif.
2. Pengukuran ergonomi untuk beban postur
3. Pelayanan kesehatan yang mengalami sakit dalam suatu pekerjaan
Prosedur OWAS dilakukan dengan melakukan observasi untuk mengambil data
postur, beban, fase kerja untuk kemudian dibuat kode berdasarkan data tersebut.
Evaluasi penilaian didasarkan pada skor dari tingkat bahaya postur kerja yang ada dan
selanjutnya dihubungkan dengan kategori tindakan yang harus diambil.
Metode ini mengkodekan sikap (postur) kerja pada bagian punggung (belakang),
tangan, kaki, dan berat beban. Setiap postur tubuh tersebut terdiri dari 4 postur
bagian belakang, 3 postur lengan, 7 postur kaki, sedangkan berat beban yang
dikerjakan juga dilakukan penilaian mengandung 3 skala poin.
Klasifikasi sikap dan kriteria OWAS tersebut digambarkan seperti gambar di bawah
ini:
1. Bagian Belakang (Back)

Membungkuk : Penilaian sikap kerja diklasifikasikan membungkuk jika terjadi


sudut yang terbentuk pada punggung minimal sebesar 20 o atau lebih. Begitu pula
sebaliknya jika perubahan sudut kurang dari 20 o, maka dinilai tidak membungkuk.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 80


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Adapun posisi leher dan kaki tidak termasuk dalam penilaian batang tubuh
(punggung).Berikut ini gambar postur tubuh bagian belakang :

Gambar 2.18 Postur tubuh bagian belakang (Back)

Sumber: Alexander San Lohat, 2009, http://gurumuda.com/bse/metode-analisa-postur-kerja-


owas.

Tabel 2.8 Skor Postur Tubuh Bagian Belakang

Pergerakan Skor

Lurus atau tegak 1

Bungkuk ke depan 2

Miring ke samping 3

Bungkuk ke depan dan miring ke


4
samping

Sumber : Alexander San Lohat, 2009, http://gurumuda.com/bse/metode-


analisa

-postur-kerja-owas.

2. Bagian Lengan (Arms)

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 81


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Yang dimaksud sebagai lengan adalah dari lengan atas sampai tangan.
Penilaian

terhadap posisi lengan yang perlu diperhatikan adalah posisi tangan.

Gambar 2.19 Postur tubuh bagian lengan

Sumber : Alexander San Lohat, 2009, http://gurumuda.com/bse/metode-analisa-postur-kerja-


owas.

Tabel 2.9 Skor Postur Tubuh Bagian Lengan

Pergerakan Skor

Kedua tangan di bawah bahu 1

Satu tangan pada atau di atas bahu 2`

Kedua tangan pada atau di atas 3


bahu

Sumber : Alexander San Lohat, 2009 http://gurumuda.com/bse/metode-


analisa-postur-kerja-owas.

3. Bagian Kaki (Legs)

Berikut sikap :

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 82


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

a. Duduk, pada sikap ini adalah duduk dikursi dan semacamnya.

b. Berdiri bertumpu pada kedua kaki lurus adalah kedua kaki dalam posisi lurus
atau tidak bengkok dimana beban tubuh menumpu kedua kaki.

c. Berdiri bertumpu pada satu kaki lurus adalah beban tubuh bertumpu pada satu
kaki yang lurus (menggunakan saru pusat gravitasi lurus), dan satu kaki yang
lain dalam keadaan menggantung (tidak menyentuh lantai). Dalam hal ini kaki
yang menggantung untuk menyeimbangkan tubuh dan bila jari kaki yang
menyentuh lantai termasuk sikap ini.

d. Berdiri bertumpu pada kedua kaki dengan lutut ditekuk Pada sikap ini adalah
keadaan poatur setengah duduk yang yelah umum diketahui yaitu keadaan
lutut ditekuk dan beban tubuh bertumpu pada kedua kaki.

e. Berdiri bertumpu pada satu kaki dengan lutut ditekuk Pada sikap ini dalam
keadaan ini berat tubuh bertumpu pada satu kaki dengan lutut ditekuk
(menggunakan pusat gravitasi pada satu kaki dengan lutut ditekuk).

f. Berlutut pada satu atau kedua lutut, pada sikap ini dalam keadaan satu atau
kedua lutut menempel pada lantai.

g. Berjalan, pada sikap ini adalah gerakan kaki yang dilakukan termasuk gerakan
ke depan, belakang, menyamping, dan naik turun tangga.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 83


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Gambar 2.20 Postur tubuh bagian kaki

Sumber : Alexander San Lohat, 2009http://gurumuda.com/bse/metode-analisa-postur-kerja-


owas.

Tabel 2.10 Skor Postur Tubuh Bagian Kaki

Pergerakan Skor

Duduk 1

Berdiri dengan kedua kaki lurus 2

Berdiri dengan bertumpu pada satu kaki 3


lurus

Berdiri atau jongkok dengan kedua lutut 4

Berdiri atau jongkok dengan satu lutut 5

Berlutut pada satu atau dua lutut 6

Berjalan atau bergerak 7

Sumber : Alexander San Lohat, 2009 http://gurumuda.com/bse/metode-analisa-


postur-kerja-owas.

4. Beban (Load)

Dalam hal ini yang membedakan adalah berat beban yang diterima dalam
satuan kilogram (Kg). Berat beban yang diangkat lebih kecil atau sama dengan 10
kg lebih besar dari 10 Kg dan lebih kecil atau sama dengan 20 Kg, lebih besar dari
20 Kg.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 84


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Tabel 2.11 Skor Berat Beban (Load)

Beban Skor

<10 kg (kurang dari 10 kilogram) 1

<20 kg (lebih dari 10 kilogram dan kurang dari 20 2


kilogram)

>20 kg (lebih dari 20 kilogram) 3

Sumber : Alexander San Lohat, 2009http://gurumuda.com/bse/metode-analisa-postur-


kerja-owas.

Hasil dari analisa sikap kerja OWAS terdiri dari empat level skala sikap kerja yang
berbahaya bagi para pekerja. Berikut ini merupakan kategori tindakan kerja OWAS
secara keseluruhan, berdasarkan kombinasi klasifikasi sikap dari punggung, lengan,
kaki, dan beban berat :

a. Kategori 1 : Pada sikap ini tidak menimbulkan masalah pada sistem


musculoskeletal dan tidak diperlukan perbaikan.

b. Kategori 2 : Pada sikap ini berbahaya pada sistem musculoskeletal (sikap kerja
mengakibatkan pengaruh ketegangan yang signifikan) dan perlu dilakukan
perbaikan di masa yang akan datang.

c. Kategori 3 : Pada sikap ini berbahaya bagi sistem musculoskeletal (sikap kerja
mengakibatkan pengaruh ketegangan yang sangat signifikan) dan perlu perbaikan
sesegera mungkin.

d. Kategori 4 : Pada sikap ini berbahaya bagi sistem musculoskeletal (sikap ini
mengakibatkan resiko yang jelas) dan perlu perbaikan secara langsung atau saat
itu juga. Berikut merupakan contoh tabel untuk menganalisa pergerakan :

Tabel 2.12 Kategori Tindakan Kerja OWAS

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 85


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Sumber : Alexander San Lohat, 2009 http://gurumuda.com/bse/metode-analisa-


postur-kerja-owas.

Tabel di atas menjelaskan mengenai klasifikasi postur-postur kerja ke dalam


kategori tindakan. Sebagai contoh postur kerja dengan kode 2352, maka postur kerja
ini merupakan postur kerja dengan kategori tindakan dengan derajat perbaikan level
4, yaitu pada sikap ini berbahaya bagi sistem musculoskeletal (sikap kerja ini
mengakibatkan resiko yang jelas). Perlu perbaikan secara langsung/saat ini.

2.9.5 Metode Analitik


2.9.5.1 Action Limit (AL) dan Maximum Permissible Limit (MPL)
Rekomendasi NIOSH didasarkan pada perbaikan atas persamaan NIOSH yang
dikeluarkan pada tahun 1981. Persamaan terdahulu dibagi menjadi dua level batas
pembebanan :
1. Action Limit (AL), yaitu yang memuat batas pembebanan untuk sebagian besar
individu.
AL = 90(6/H)(1-01/V-30)(0,7+D)(1-F/Fmax)
(2-1)

Sumber: www.pdf-search.com/bgfniosh087.pdf.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 86


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

2. Maximum Permissible Limit (MPL), yaitu yang memuat batas pembebanan


maksimum dimana di atas limit tersebut makin banyak individu akan mengalami
kecelakaan.
MPL = 3AL (2-2)

Sumber: www.pdf-search.com/bgfniosh087.pdf.

Berikut ini adalah tabel mengenai kriteria pembebanan:


Tabel 2.13 Kriteria Pembebanan oleh NIOSH
Tinjauan Kriteria Desain Nilai Batas
Biomekanik Gaya Tekan Cakram 3,4 kN (770 lbs)
a Max.
Fisiologis Energi Ekspenditure 2.2 4.7 kcal/min
Max.
Psikofisikal Berat max. yang dapat Diterima 75% pekerja
diterima wanita dan 99% pekerja
pria

Sumber: www.pdf-search.com/bgfniosh087.pdf.

Persamaan NIOSH yang terbaru yang dikeluarkan pada tahun 1991 menggunakan
metode Recommended Weight Limit (RWL)

2.9.5.2 Recommended Weight Limit (RWL) dan Lifting Index (LI)


RWL merupakan persamaan pembebasan yang direkomendasikan oleh NIOSH
(National Institude Ochupational Safety and Health) pada tahun 1991 di Amerika
Serikat. RWL adalah batas beban yang dapat dipindahkan oleh pekerja industri dalam
jangka waktu tertentu (tidak lebih dari 8 jam) tanpa menimbulkan resiko terjadinya
cedera tulang belakang.
Persamaan NIOSH berlaku pada keadaan (Waters, et al: 1994):
1. Beban yang diberikan adalah beban statis, tidak ada penambahan, ataupun
pengurangan beban di tengah-tengah pekerjaan.
2. Beban diangkat dengan kedua tangan.
3. Pengangkatan atau penurunan beban dilakukan dalam jangka waktu maximal 8
jam.
4. Pengangkatan atau penurunan beban tidak boleh dilakukan saat duduk / berlutut.
5. Tempat kerja tidak sempit.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 87


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Persamaan untuk menentukan beban yang direkomendasikan untuk diangkat


seorang pekerja dalam kondisi tertentu menurut NIOSH adalah sebagai berikut
(Waters, et al: 1994):
RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM (2-3)

Sumber: www.pdf-search.com/bgfniosh087.pdf.

Keterangan:
LC : (Lifting Constanta) konstanta pembebanan = 23 kg
HM : (Horizontal Multiplier) faktor pengali horizontal = 25/H
VM : (Vertical Multiplier) faktor pengali vertical = 1-0,003[V-75]
DM : (Distance Multiplier) faktor pengali perpindahan = 0,82+4,5/D
AM : (Asymmetric Multiplier) faktor pengali asimetrik = 1-0,0032A(0)
FM : (Frequency Multiplier) faktor pengali frekuensi
CM : (Coupling Multiplier) faktor pengali kompling (handle)
Catatan:
H : Jarak horizontal posisi tangan yang memegang beban dengan titik pusat tubuh
V : Jarak vertikal posisi tangan yang memegang beban terhadap lantai
D : Jarak perpindahan secara vertical antara tempat asal sanpai tujuan
A : Sudut simetri putaran yang dibentuk antara tangan dan kaki
Berikut ini adalah penjelasan dari persamaan NIOSH:
1. Horizontal Multiplier (HM)
HM didapat dari nilai H (horizontal location) yaitu jarak antara tangan dengan
titik tengah pergelangan kaki bagian dalam kaki. Bahwa semakin besar jarak
horizontal beban terhadap tulang belakang, maka semakin besar pula gaya tekan
terhadap lempeng (disc) dan menurunkan batas maksimum beban yang
diperbolehkan diangkat. Tegangan pada tulang belakang selama pengangkatan
beban secara umum meningkat secara proporsional dengan jarak horizontal
antara beban dengan tulang belakang.
HM = 25/H (2-4)

Sumber: www.pdf-search.com/rwl-451ab.pdf.

a. Jika H > 63 cm, HM = 0


b. Jika H < 25 cm, HM = 1
2. Vertical Multiplier (VM)
VM didapat dari nilai V (vertical location) yaitu jarak antara tinggi vertical
dengan lantai. Komite NIOSH 1991 merekomendasikan bahwa faktor vertikal

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 88


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

memberikan penurunan sebesar 22.5% terhadap nilai beban yang boleh diangkat
diatas 75 cm dari lantai adalah berdasarkan data empiris dari studi psikofisik,
bahwa maksimum beban yang boleh diangkat (MAWL) oleh pekerja akan menurun
sejalan dengan peningkatan vertikal yang lebih tinggi dari 75 cm dari lantai.
VM = 1-0,003[V-75] (2-5)

www.pdf-search.com/rwl-451ab.pdf .

a. Jika V > 175 cm, VM = 0


b. Jika V = 0 cm, VM = 0,78

c. Untuk pengangkatan dengan ketinggian awal di atas 69 cm


VM = 1 0,0132 [V - 69] (2-6)

www.pdf-search.com/rwl-451ab.pdf.

d. Untuk pengangkatan dengan ketinggian awal di bawah 69 cm


VM = 1 0,0145 [69 - V] (2-7)

www.pdf-search.com/rwl-451ab.pdf.

3. Distance Multiplier (DM)


DM didapat dari nilai D (vertical traple distance) yaitu jarak vertikal antara titik
awal beban sebelum diangkat ke titik tujuan beban diletakkan. Dari hasil studi
psikofisik oleh Aquilano (1980) dan khalil (1985) memperkirakan terjadinya
penurunan 15 % terhadap MAWL ketika total jarak perpindahan mendekati
maksimum (beban diangkat dari lantai ke bahu).
DM = 0,82+4,5/D (2-8)

www.pdf-search.com/rwl-451ab.pdf.

a. Jika D > 175 cm, DM = 0


b. Jika D < 25 cm, DM = 1
4. Asymmetric Multiplier (AM)
AM didapat dari nilai A (Asymmetric) yaitu sudut yang dibentuk tubuh saat
memindahkan beban. Pengangkatan asimetri akan ditemukan pada kondisi
sebagai berikut :
a. Posisi origin dan destination membentuk sudut antara keduanya.
b. Pengangkatan dilakukan untuk mempertahankan keseimbangan tubuh karena
adanya rintangan pada tempat kerja atau permukaan lantai kerja yang tidak
teratur.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 89


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

c. Gerakan mengangkat memotong posisi tubuh, misalnya saat membelokkan


beban dari satu lokasi kelokasi yang lainnya.
d. Standar produktivitas diperlukan dalam mereduksi waktu pengangkatan.
Secara umum pengangkatan dengan asimetri ini harus dihindari, jika tidak
maka nilai RWL akan lebih dari pada pengangkatan dengan posisi pengangkatan
secara asimetri.
AM = 1-0,0032A(0) (2-9)

Sumber: www.pdf-search.com/rwl-451ab.pdf.

a. Jika A > 1350, AM = 0


b. Jika A = 00, AM = 0
c. Jika 00 A 300 , AM = 1 (0,005A)
d. Jika 300 < A 600 , AM = 1 (0,031A)

e. Jika A > 600 , AM = 1 (0,025A)


Keterangan : A = Sudut asimetri yang dibentuk
Sudut asimetri adalah sudut yang menunjukan sejauh mana benda
dipindahkan dari depan (bidang mid sagital) tubuh pekerja ke tujuan. Sudut
asimetri terbentuk antara garis asimetri dengan garis sagital yang diproyeksikan
pada bidang atas.

5. Untuk Frequency Multiplier (FM)


Untuk Frekuensi Pengali ditentukan dengan menggunakan tabel FM dibawah ini
dengan mengetahui frekuensi angkatan tiap menitnya dan juga nilai V dalam inchi.
a. Durasi pendek : 1 jam atau kurang
b. Durasi sedang : antara 1-2 jam
c. Durasi panjang : antara 2-8 jam

Tabel 2.14 Frequency Multipliers


Frekuensi
1 jam 2 jam 8 jam
Lifts/min
V V V
V< V<
V < 75
75 75
75 75 75
0,2 1,00 1,00 0,95 0,95 0,85 0,85
0,5 0,97 0,97 0,92 0,92 0,81 0,81
1 0,94 0,94 0,88 0,88 0,75 0,75
2 0,91 0,91 0,84 0,84 0,65 0,65
3 0,88 0,88 0,79 0,79 0,55 0,55
4 0,84 0,84 0,72 0,72 0,45 0,45
5 0,80 0,80 0,60 0,60 0,35 0,35
6 0,75 0,75 0,50 0,50 0,27 0,27
7 0,70 0,70 0,42 0,42 0,22 0,22
8 0,60 0,60 0,35 0,35 0,18 0,18
9 0,52 0,52 0,30 0,30 0,00 0,15

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 90


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

10 0,45 0,45 0,26 0,26 0,00 0,13


11 0,41 0,41 0,00 0,23 0,00 0,00
12 0,37 0,37 0,00 0,21 0,00 0,00
13 0,00 0,34 0,00 0,00 0,00 0,00
14 0,00 0,31 0,00 0,00 0,00 0,00

Sumber : Tarwaka, (2004:126)

Keterangan:
V pada tabel diatas diganti dari 75 menjadi 69 untuk orang Indonesia
6. Coupling Multiplier (CM) adalah:
Untuk Faktor Pengali kopling (handle) dapat ditentukan pada tabel berikut.
Tabel 2.15 Coupling Multiplier
V < 75 atau 69 V > 75 atau 69
(Ind) cm (Ind) cm
Coupling Coupling Multiplier
Good 1,00 1,00
Fair 0,95 1,00
Poor 0,9 0,9

Sumber : Tarwaka, (2004:127)

a. Kriteria Good, adalah :


1) Kontainer atau Box merupakan design optimal, pegangan bahannya tidak
licin.
2) Benda yang didalamnya tidak mudah tumpah.
3) Tangan dapat dengan nyaman meraih box tersebut.
b. Kriteria Fair, adalah :
1) Kontainer atau Box tidak mempunyai pegangan.
2) Tangan tidak dapat meraih dengan mudah.
c. Kriteria Poor, adalah :
1) Box tidak mempunyai Handle/pegangan.
2) Sulit dipegang (licin, tajam, dll).
3) Berisi barang yang tidak stabil (pecah, jatuh, tumpah, dll).
4) Memerlukan sarung tangan untuk mengangkatnya.
7. Load Constanta (LC)
LC adalah berat maksimum yang direkomendasikan untuk pengangkatan
beban satandar dalam kondisi optimal (posisi sagital pengangkatan dengan
frekuensi yang tidak terlalu sering, kopling baik, jarak pemindahan = 25 cm, dan
lain sebagainya). Pemilihan konstanta beban berdasarkan pada kriteria psikofisik
dan biomekanika. Mengestimasi bahwa pengangkatan beban ekivalen dengan
konstanta beban dalam kondisi ideal ( dimana semua faktor pengali sama dengan
1.0 ) dan dapat diterima oleh 75 % pekerja wanita dan 90 % pekerja pria dan gaya

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 91


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

tekan terhadap ruas-ruas tulang belakang kurang dari 3.4 kN. Pada persamaan
yang telah direvisi, konstanta beban reduksi dri 40 kg menjadi 23 kg. Reduksi ini
dilakukan karena bertambahnya jarak minimum horizontal dari 15 cm pada
persamaan 1991. Konstanta beban direvisi ini 17 kg lebih kecil nilainya dari
persamaan 1981, namun dengan direvisinya pula jarak minimum horizontal
menjadi 25 cm maka reduksi konstanta beban menjadi hanya 1 kg.
Setelah nilai RWL diketahui, selanjutnya perhitungan Lifting Index, untuk
mengetahui index pengangkatan yang tidak mengandung resiko cidera tulang
belakang. Lifting indeks merupakan perbandingan antara berat beban (load target
dengan RWL). Lifting index (Li) merupakan nilai relatif dari tingkat tegangan fisik
dalam suatu kegiatan pengangkatan manual nilai estimasi tingkat tegangan fisik
tersebut dinyatakan sebagai hasil bagi antara nilai beban angkatan dengan nilai RWL,
dengan persamaan:
LI = L/ RWL (2-10)

Sumber: www.pdf-search.com/rwl-451ab.pdf.

Dimana:
LI : Lifting Index
L : Berat Beban
RWL : Recommended Weight Limit
Interpretasi dari nilai LI:
1. LI dapat digunakan untuk memprioritaskan perancangan ulang secara ergonomis
dengan cara mengurutkan pekerjaan berdasarkan besaran LI dan dapat digunakan
untuk mengestimasi besaran relatif dari tekanan fisik suatu tugas.
2. Tugas-tugas dengan nilai LI > 1.0 mengakibatkan peningkatan risiko cidera
punggung bawah (akibat pengangkatan) pada sebagian pekerja.
3. RWL dapat digunakan untuk merekomendasikan berat beban yang akan membuat
pekerjaan menjadi lebih aman.
Semua elemen kerja yang telah terhitung LI-nya, diklasifikasi dalam tiga bagian,
yaitu:
1. LI < 1 : Low Stressful Task. Pekerja relatif aman
2. LI 1 : Moderate Stressful Task. Mempunyai resiko nyeri pinggang (low back

pain)
3. LI 3 : High Stressful Task. Mempunyai resiko cidera pinggang (low back injury)

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 92


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Dimana resiko yang tinggi harus menjadi prioritas utama terlebih dahulu untuk
secepatnya dilakukan perbaikan.

2.10 Perbaikan Ergonomi


Untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pekerjaan serta meningkatkan nilai-
nilai tertentu yang diinginkan dari pekerjaan tersebut diperlukan suatu usaha
perubahan dari sistem kerja yang lama dengan pertimbangan ergonomik yang biasa
disebut dengan perbaikan ergonomi.

2.10.1 Beberapa Pendekatan untuk Mengurangi Resiko


Kebutuhan untuk mengangkat secara manual (tanpa alat) haruslah benar-benar
diteliti secara ergonomis. Penelitian ini akan mengakibatkan adanya standarisasi
dalam aktivitas angkat manusia.
Standar kemampuan angkat tersebut tidak hanya meliputi arah beban, akan tetapi
berisi pula tentang ketinggian dan jarak operator terhadap beban yang diangkat.
Akhirnya, pelatihan dalam mengangkat beban dan metode angkat terbaik haruslah
diimplementasikan.
Pendekatan ergonomi akan ditekankan pada penelitian kemampuan dan
keterbatasan manusia-baik secara fisik maupun mental psikologisnya dan interaksinya
dalam sistem manusia mesin yang integral. Secara sistematis pendekatan ergonomis
akan memanfaatkan informasi tersebut untuk tujuan rancang bangun, sehingga akan
dapat tercipta produk sistem atau lingkungan kerja yang lebih sesuai dengan manusia.
Mc Cormicks dan Sanders (1987) membagi ergonomi ke dalam tiga pendekatan
1. Fokus Utama
Fokus utama ergonomi adalah mempertimbangkan manusia dalam
perancangan benda kerja, prosedur kerja, dan lingkungan kerja. Fokus ergonomi
adalah interaksi manusia dengan produk, peralatan, fasilitas, lingkungan dan
prosedur dari pekerjaan dan kehidupan sehari-harinya. Ergonomi lebih ditekankan
pada faktor manusianya dibandingkan ilmu teknik yang lebih menekankan pada
faktor-faktor nonteknis.

2. Tujuan
Ergonomi mempunyai dua tujuan utama yaitu meningkatkan efektifitas dan
efisiensi pekerjaan dan aktifitas-aktifitas lainnya serta meningkatkan nilai-nilai

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 93


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

tertentu yang diinginkan dari pekerjaan tersebut, termasuk memperbaiki


keamanan, mengurangi kelelahan dan stres, meningkatkan kenyamanan,
penerimaan pengguna yang besar dan memperbaiki kualitas hidup.
3. Pendekatan Utama
Pendekatan utama mencakup aplikasi sistematik dari informasi yang relevan
tentang kemampuan, keterbatasan, karakteristik, perilaku dan motivasi manusia
terhadap desain produk dan prosedur yang digunakan serta lingkungan tempat
menggunakannya.

2.10.2 Penyelesaian untuk Pemindahan Material secara Teknis


Beberapa penyelesaian secara teknis untuk pemindahan material secara manual
adalah sebagai berikut:
1. Pindahkan beban yang berat dari mesin ke mesin yang telah dirancang dengan
menggunakan ban berjalan (roller).
2. Gunakan meja yang dapat digerakkan naik turun untuk menjada agar bagian
permukaan dari meja dapat langsung dipakai untuk memasukkan lembaran logam
ataupun benda kerja lainnya ke dalam mesin.
3. Tempatkan benda kerja yang besar pada permukaan yang lebih tinggi dan
turunkan dengan bantuan gaya gravitasi.
4. Berikan peralatan yang dapat mengangkat, misalnya: pada ujung belakang truk
untuk memudahkan pengangkatan material, dengan demikian tidak diperlukan
lagi alat angkat (crane).
5. Rancanglah overhead monorail dan hoist diutamakan yang menggunakan power
(tenaga) baik untuk gerakan vertikal maupun horizontal.
6. Rancanglah hoist atau fork-truck yang dikeling pada permukaan lantai,
diutamakan yang menggunakan power.
7. Desainlah kotak (tempat benda kerja) dengan disertai handle yang ergonomis
sehingga mudah pada waktu diangkat.
8. Aturlah peralatan fasilitas sehingga semakin memudahkan metodologi angkat
benda pada ketinggian permukaan pinggang.
9. Berilah tanda atau angka pada beban sesuai dengan beratnya.
10.Siapkan trolley dan pengungkit (lever) untuk mengangkat ujung dari drum
(dengan volume 200 liter).
11.Bebaskan area kerja dari gerakan dan peralatan material yang mengganggu jalur
akses dari operator.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 94


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

12.Hindarkan lantai kerja dari sesuatu yang dapat menghambat jalan atau membuat
jalan licin sehingga akan membahayakan operator pada saat memindahkan
material.
13.Buatlah suatu ruang kerja yang cukup untuk gerakan dinamis bebas operator.
14.Tempatkan semua material sedekat mungkin dengan operator.

2.10.3 Batasan Beban yang Boleh Diangkat


Terdapat 4 batasan dari beban yang boleh diangkat, yaitu:

2.10.3.1 Batasan Legal (Legal Limitation)


Batasan angkat ini dipakai sebagai batasan angkat secara internasional. Adapun
variabelnya adalah sebagai berikut:
1. Pria di bawah usia 16 tahun, maksimum angkat adalah 14 kg.
2. Pria usia di antara 16-18 tahun, maksimum angkat adalah 18 kg.
3. Pria usia lebih dari 18 tahun, tidak ada batasan angkat.
4. Wanita di antara usia 16-18 tahun tahun, maksimum angkat adalah 11 kg.
5. Pria di bawah usia 16 tahun, maksimum angkat adalah 16 kg.
Batasan angkat ini dapat membantu untuk mengurangi rasa nyeri, ngilu pada
tulang belakan bagi para wanita. Batasan angkat ini akan mengurangi
ketidaknyamanan kerja pada tulang belakang, terutama bagi operator untuk pekerjaan
berat.
Terdapat rekomendasi lain yang telah dibuat oleh Komisi Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (the Health and Safety Commission) di Inggris tahun 1982.
Selanjutnya pada bulan Desember 1986, the National Occupational Health and
Safety Commision (Worksafe Australia) mengeluarkan lembaran kerja (a Discussion
Paper and Draft Code of Practice) untuk pemindahan material yang aman.
Kemudian pada bulan Agustus 1988, Departemen Buruh di Negara bagian Victoria
(Australia) mengeluarkan peraturan dan lembar kerja untuk metodologi Pemindahan
Material. Lembar kerja ini benar-benar bermanfaat untuk meningkatkan keselamatan
pada Pemindahan Material Secara Manual.
Didalamnya terdapat tiga bagian, yaitu :
1. Identifikasi Resiko
2. Metodologi Evaluasi Resiko
3. Pengendalian Resiko

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 95


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Adapun pada bagian Evaluasi Resiko berisikan beberapa petunjuk antara lain:
1. Aktivitas kerja dengan posisi duduk, tidak direkomendasikan untuk mengangkat
atau membawa suatu objek yang melebihi dari 4,5 Kg.
2. Jika objek yang diangkat lebih dari batas 16 20 kilogram maka diharuskan lebih
berhati-hati dalam evaluasi resikonya. Selain itu, juga dibutuhkan sistem
pengendalian atau pengukuran yang sesuai.
3. Pekerja yang sudah angkat lanjut tidak boleh membawa atau mengangkat,
menurunkan atau menaikkan beban yang lebih dari 55 kilogram tanpa bantuan
peralatan apapun. Hal
ini dapat dipermudah dengan cara mengadakan pelatihan (training) untuk
penerapan metodelogi cara angkut yang benar.
4. Resiko beratnya beban yang dipindahkan jika dihubungkan dengan faktor resiko
pada soal jongkok. Ketinggian objek pada awal dari aktivitas angkat, jarak
ketinggian objek (vertikal), jarak horizontal antara beban dan operator serta
frekuensi angkat (jumlah aktivitas angkat). Hal-hal tersebut diatas dapat dievaluasi
dengan menggunakan prosedur perhitungan yang telah dikodekan.
Prosedur ini memberikan nilai ekuivalen yang disebut dengan Action Limit
(batasan tindakan) yang dikeluarkan oleh NIOSH (National Institute of Occupational
Safety and Health) Amerika Serikat yaitu institusi nasional untuk keselamatan dan
kesehatan kerja. Jika beban yang harus diangkat melebihi batas ini maka
pengembalian resiko harus segera diimplementasikan.

2.10.3.2 Batasan Biomekanika


Nilai dari analisa Biomekanika adalah rentang postur atau posisi aktivitas kerja,
ukuran beban dan manusia yang dievaluasi. Sedangkan kriteria keselamatan adalah
berdasar pada beban tekan (compression load) pada intervebral disk antara lumbar
nomor lima dan sacrum nomor satu (L5/S1).
Kebanyakan penyakit-penyakit tulang belakang adalah hernia pada intervertebral
disk, yaitu keluarnya inti intervertebral (pulpy nucleus) yang disebabkan oleh rusaknya
lapisan pembungkus intervertebral disk.
Adams and Hulton (1981) juga telah menguji tekan pada tulang belakang (spines)
dengan berbagai variabel gerak fleksi (flexion).
Mereka dalam penelitiannya menemukan bahwa :

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 96


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

1. Hernia dapat terjadi jika tulang belakang berada pada posisi hiperfleksi
(hyperflexion).
2. Gerakan fleksi yang sedikit dapat meningkatkan kekuatan, akan tetapi sebaliknya
hiperfleksi akan menurunkan kekuatannya.
Batasan gaya angkat maksimum yang diijinkan (the maximum permissible limit)
yang direkomendasikan oleh NIOSH (1981) adalah berdasarkan gaya tekan sebesar
6500 newton pada L5/S1. Namun hanya 25% pria dan 1% wanita yang diperkirakan
mampu melewati batasan gaya angkat ini. Batasan gaya angkat normal (the action
limit) yang direkomendasikan ole NIOSH dan berdasarkan gaya tekan sebesar 3500
newton pada L5/S1. Ada 99% pria dan 75% wanita yang mampu mengangkat beban
batas ini. Batasan ini amatlah bervariasi dan bergantung pada berat badan dan jarak
horizontal antara beban dan pekerja.

2.10.3.3 Batasan Fisiologi


Metode pendekatan ini dengan mempertimbangkan rata-rata beban metabolisme
dari aktivitas angkat yang berulang (repetitive lifting). Sebagaimana juga dapat
ditentukan dari jumlah konsumsi oksigen. Hal ini haruslah benar-benar diperhatikan
terutama dalam rangka untuk menentukan batasan angkat. Kelelahan kerja yang
terjadi akibat dari aktivitas yang berulang-ulang (repetitive lifting) akan meningkatkan
resiko rasa nyeri pada tulang belakang (back injuries). Repetitive lifting dapat
menyebabkan Cumulative Trauma Injuries atau Repetitive Strain Injuries (Stevenson,
1987).
Ada beberapa bukti bahwa semakin banyak jumlah material yang diangkat dalam
sehari oleh seseorang, akan lebih cepat mengurangi ketebalan intervertebral disc
(elemen di antara segmen tulang belakang). Fenomena ini menggambarkan bahwa
pengukuran yang akurat terhadap tinggi tenaga kerja dapat digunakan untuk
mengevaluasi beban kerja (Corlett,1987).
Metode lain secara fisiologi adalah dengan cara pengukuran langsung terhadap
tekanan yang ada di dalam perut atau IAP (Intra Abdominal Pressure) selama aktivitas
angkat. Dari sini pula dikeluarkan beberapa batasan gaya terhadap kerja manual yang
mengakibatkan factor jarak beban relative terhadap operatornya.
Teknik Pill-Tekanan (Pressure Pill) dapat digunakan pula sebagai pembanding
antara beberapa metode angkat. Sebuah contoh disini adalah pada perbandingan
antara dua metode untuk mengangkat pasien dirumah sakit, yaitu:
1. Metode Angkat Orthodox

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 97


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

2. Metode Angkat Bahu (Shoulder lift)


Pada kenyataannya, metode yang kedua telah dipakai secara internasional selama
bertahun-tahun. Metodanya ditunjukkan pada gambar 2. Yaitu perbedaan besarnya
tekanan sebagai fungsi waktu. Pada gambar tersebut dibedakan antara Angkat
Orthodox dan Angkat Bahu, yang mana metoda angkat bahu menghasilkan tekanan
dalam perut atau IAP yang
lebih rendah. Hal itu didapat karena pada metode orthodox, tenaga para medis
menggunakan dua tangan sekaligus dalam mengangkat pasien. Sedangkan pada
metoda angkat bahu hanya menggunakan satu tangan, dan tangan yang lain
ditumpukkan terhadap tempat tidur pasien.

2.10.3.4 Batasan Psiko-Fisik


Metode ini berdasarkan pada sejumlah eksperimen yang berupaya untuk
mendapatkan berat pada berbagai keadaan dan ketinggian bebean yang berbeda-
beda.
Ada 3 macam kategori posisi angkat yang didapatkan :
1. Dari permukaan lantai ke ketinggian genggaman tangn (knuckle height).
2. Dari ketinggian genggaman tangan (knuckle height) ke ketinggian bahu (shoukder
height).
3. Dari ketinggian bahu (shoulder height) ke maksimum jangkauan tangan vertikal
(vertical arm reach).

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 98


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Diagram Alir Praktikum


Dalam praktikum Perancangan Kerja dan Ergonomi pada modul APK dan
Biomekanika ini, terdapat tiga macam praktikum yang dilakukan, yaitu Analisis Postur
Kerja, Biomekanika I, dan Biomekanika II. Berikut merupakan diagram alir praktikum :

3.1.1 Diagram Alir Praktikum Analisis Postur Kerja


Berikut merupakan diagram alir praktikum Analisis Postur Kerja:

START

Identifikasi masalah dan penentuan objek penelitian

Studi pustaka

Pengambilan data

Pengolahan data

RULA REBA OWAS

Analisis

A
A

Perbaikan postur kerja

RULA REBA OWAS

Kesimpulan
LABORATORIUM dan saranKERJA DAN ERGONOMI 99
PERANCANGAN
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

END
MODUL 2

Gambar 3.1 Diagram Alir Praktikum Analisis Postur Kerja


Sumber: Pengolahan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 100


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

3.1.2 Diagram Alir Praktikum Biomekanika I

Berikut merupakan diagram alir praktikum Biomekanika I:

START

Identifikasi masalah dan penentuan objek penelitian

Studi pustaka

Pengambilan data

Pengolahan data

RWL LI

Analisis

Perbaikan postur kerja

RWL LI

Kesimpulan dan saran

END
Gambar 3.2 Diagram Alir Praktikum Biomekanika I
Sumber: Pengolahan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 101


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

3.1.2 Diagram Alir Praktikum Biomekanika II


Berikut merupakan diagram alir praktikum Biomekanika II:

START

Identifikasi masalah dan penentuan objek penelitian

Studi pustaka

Pengambilan data

Pengolahan data

Hand Grip Strength Pull Back Strength

Analisis

Kesimpulan dan saran

END

Gambar 3.3 Diagram Alir Praktikum Biomekanika II


Sumber: Data yang diolah

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 102


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

3.2 Peralatan Praktikum


3.2.1 Peralatan Praktikum Analisis Postur Kerja
Peralatan praktikum yang digunakan, yaitu:
1. Lembar pengamatan RULA
2. Lembar pengamatan REBA
3. Lembar pengamatan OWAS
4. Alat ukur (penggaris dan meteran)
5. Alat tulis
6. Kamera atau handcam

3.2.2 Peralatan Praktikum Biomekanika I


Peralatan praktikum yang digunakan, yaitu:
1. Lembar pengamatan RWL
2. Alat ukur
3. Alat sudut ukur
4. Alat ukur berat
5. Alat tulis
6. Kamera atau handycam

3.2.3 Peralatan Praktikum Biomekanika II


Peralatan praktikum yang digunakan, yaitu:
1. Lembar pengamatan kekuatan genggam
2. Lembar pengamatan kekuatan tarik
3. Digital Hand Grip Dynamoneter
4. Digital Pull Back Dynamometer
5. Kursi
6. Alat ukur (penggaris atau meteran)
7. Alat tulis

3.3 Prosedur Pelaksanaan Praktikum


3.3.1 Prosedur Pelaksanaan Praktikum Analisis Postur Kerja
Prosedur pelaksanaan praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Mempersiapkan peralatan yang diperlukan berupa lembar pengamatan RULA,
REBA, dan OWAS serta alat tulis.
2. Tiap kelompok mengobservasi pekerjaan yang ada di lapangan.
3. Merekam aktivitas pekerja.
4. Melaksanakan pengamatan terhadap objek melalui video.
5. Mencatat hasil pengamatan dalam lembar pengamatan RULA, REBA, dan OWAS.
6. Melakukan perhitungan RULA, REBA, dan OWAS.
7. Membuat laporan praktikum, analisis data, serta perbaikan sistem kerja.

3.3.2 Prosedur Pelaksanaan Praktikum Biomekanika I


Prosedur pelaksanaan praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Mempersiapkan peralatan yang diperlukan berupa lembar pengamatan RWL dan LI
serta alat tulis.
2. Tiap kelompok mengobservasi pekerjaan yang ada di lapangan.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 103


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

3. Merekam aktivitas pekerja.


4. Melaksanakan pengamatan terhadap objek melalui video.
5. Mencatat hasil pengamatan dalam lembar pengamatan RWL dan LI.
6. Melakukan perhitungan RWL dan LI di awal dan akhir pengangkatan.
7. Membuat laporan praktikum, analisis data, serta perbaikan sistem kerja.

3.3.3 Prosedur Pelaksanaan Praktikum Biomekanika II


Untuk Hand Grip Test, prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
1. Mempersiapkan peralatan yang diperlukan dan lembar pengamatan serta alat
tulis.
2. Masing-masing anggota kelompok melakukan pengukuran kekuatan genggam
dengan digital hand grip dynamometer. Pengukuran dilakukan dalam 3 posisi
tubuh yang berbeda dan 3 variasi ukuran diameter genggam dengan replikasi
sebanyak 3 kali per kombinasi posisi.
3. Mencatat hasil pengukuran dalam lembar pengamatan.

Sedangkan untuk Back Strength Test, prosedur pelaksanaannya adalah sebagai


berikut:
1. Mempersiapkan peralatan yang diperlukan dan lembar pengamatan serta alat
tulis.
2. Masing-masing anggota kelompok melakukan pengukuran kekuatan tarikan
dengan digital pull back strength dynamometer. Pengukuran dilakukan dalam 3
posisi tubuh yang berbeda dan dengan replikasi sebanyak 3 kali per posisi.
3. Mencatat hasil pengukuran dalam lembar pengamatan.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 104


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pengumpulan Data


Pengambilan data ini dilakukan dengan cara merekam aktivitas pekerja dengan
menggunakan kamera digital. Beban yang dibawa oleh pekerja adalah 1 karung
semen atau sebesar 50 kilogram. Data yang dikumpulkan berupa data Hand Grip
Strength dan Pull Back Strength. Selain itu, dikumpulkan pula data postur kerja
pengangkatan satu karung semen untuk menganalisis RWL LI, RULA, REBA, dan
OWAS.

Gambar 4.1 Satu Karung Semen 50kg


Sumber: www.semengresik.com

4.1.1 Pengumpulan Data APK


Pengumpulan data analisis postur kerja berupa gambar dari aktivitas pekerja yang
sedang mengangkat semen. Data ini digunakan untuk melakukan analisis postur kerja
dengan menggunakan metode RULA, REBA, dan OWAS.

100
00

200

200

Gambar 4.2 Pengangkatan Semen

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 105


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Sumber: Pengambilan Data


4.1.2 Pengumpulan Data Biomekanika I
Pengumpulan data biomekanika I berupa gambar dari aktivitas pekerja saat akan
mengangkat dan meletakkan semen. Data ini digunakan untuk melakukan analisis
biomekanika dengan menggunakan metode RWL dan LI.
a. RWL Origin

Gambar 4.3 Postur Tubuh Pekerja saat Mengangkat Semen


Sumber: Pengambilan Data

Tabel 4.1 Variabel Perhitungan RWL Origin


Variabel Nilai
Jarak horisontal ( H ) 26 cm
Jarak Vertical ( V ) 0 cm
Jarak Perpindahan 26 cm
(D)
Sudut Asimetri ( A ) 00
Frekuensi 4 kali/menit
Durasi <1 jam
Pegangan Fair (cukup)
Sumber: pengolahan data

b. RWL Destinaton

Gambar 4.4 Postur Tubuh Pekerja saat Meletakkan Semen


Sumber: Pengambilan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 106


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Tabel 4.2 Variabel Perhitungan RWL Desstination


Variabel Nilai
Jarak horisontal ( H ) 35 cm
Jarak Vertical ( V ) 25 cm
Jarak Perpindahan 10 cm
(D)
Sudut Asimetri ( A ) 00
Frekuensi 4 kali/menit
Durasi <1 jam
Pegangan Fair (cukup)
Sumber: pengolahan data

4.1.3 Pengumpulan Data Biomekanika II


Terdapat dua macam data pada pengumpulan data biomekanika II, yaitu data
hand grip strength dan data pull back strength dari putra maupun putri.

4.1.3.1 Pengumpulan Data Kekuatan Genggam


Di bawah ini adalah data pengamatan putra dengan menggunakan Hand Grip
Strength dengan variasi posisi tubuh dan diameter hand grip.

1. Data Kekuatan Genggam Putra


Tabel 4.3 Data Pengamatan Putra dengan Menggunakan Hand Grip Strength Posisi 1
POSISI 1
N
NAMA D1 D2 D3
O
1 2 3 1 2 3 1 2 3
16, 27, 24, 36, 35, 26, 25,
1 Hafidz 8 26 6 5 6 1 2 4 26
32, 33, 33, 36, 33, 34, 35, 34,
2 Afif 5 3 2 35 8 5 3 7 5
Sumber: pengolahan data
Tabel 4.4 Data Pengamatan Putra dengan Menggunakan Hand Grip Strength Posisi 2
POSISI 2
N
NAMA D1 D2 D3
O
1 2 3 1 2 3 1 2 3
27, 25, 27, 34, 33, 34, 22, 23, 21,
1 Hafidz 4 8 4 1 6 3 7 4 8
33, 31, 33, 34, 32, 31, 32, 30, 30,
2 Afif 4 7 7 1 6 9 3 5 2
Sumber: pengolahan data
Tabel 4.5 Data Pengamatan Putra dengan Menggunakan Hand Grip Strength Posisi 3
POSISI 3
N
NAMA D1 D2 D3
O
1 2 3 1 2 3 1 2 3
27, 27, 28, 35, 36, 34, 28, 26, 30,
1 Hafidz 3 3 3 3 4 1 3 6 5
31, 29, 30, 31, 29, 32, 26, 25, 26,
2 Afif 9 4 5 4 7 7 9 5 6

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 107


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Sumber: pengolahan data


Tabel 4.6 Data Pengamatan Putra dengan Menggunakan Hand Grip Strength Posisi 4
POSISI 4
N
NAMA D1 D2 D3
O
1 2 3 1 2 3 1 2 3
27, 25, 28, 35, 28, 34, 27, 27, 26,
1 Hafidz 0 6 2 2 7 1 8 8 6
24, 27, 29, 28, 28, 28, 28, 25,
2 Afif 30 2 7 9 9 9 7 9 3
Sumber: pengolahan data

2. Data Kekuatan Genggam Putri


Tabel 4.7 Data Pengamatan Putri dengan Menggunakan Hand Grip Strength Posisi 1
POSISI 1
N
NAMA D1 D2 D3
O
1 2 3 1 2 3 1 2 3
13, 11, 10, 20, 19, 16, 15, 17, 18,
1 Della 8 6 4 1 1 9 9 2 1
18, 21, 24, 23, 21, 21, 21, 20,
2 Inggrid 7 3 20 9 2 8 6 5 7
Sumber: pengolahan data

Tabel 4.8 Data Pengamatan Putri dengan Menggunakan Hand Grip Strength Posisi 2
POSISI 2
N
NAMA D1 D2 D3
O
1 2 3 1 2 3 1 2 3
8,7 10, 7,8 17, 17, 15, 15, 16 14,
1 Della 3 6 5 4 4 9
21, 17, 21, 21, 18, 18, 18,
2 Inggrid 1 19 9 3 22 1 2 2 6
Sumber: pengolahan data

Tabel 4.9 Data Pengamatan Putri dengan Menggunakan Hand Grip Strength Posisi 3
POSISI 3
N
NAMA D1 D2 D3
O
1 2 3 1 2 3 1 2 3
12, 12, 9,6 20, 18, 17, 18, 17, 14,
1 Della 3 2 2 2 4 4 3 6
20, 18, 22, 21, 22, 20, 19, 18,
2 Inggrid 7 20 8 3 6 3 3 7 1
Sumber: pengolahan data

Tabel 4.10 Data Pengamatan Putri dengan Menggunakan Hand Grip Strength Posisi 4
POSISI 4
N
NAMA D1 D2 D3
O
1 2 3 1 2 3 1 2 3
10 10, 8 17, 17, 16, 15, 13, 15
1 Della 9 3 9 8 6 4
19, 19, 18, 20, 18, 18, 17, 17,
2 Inggrid 4 20 6 9 5 8 4 2 4

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 108


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

Sumber: pengolahan data

4.1.3.2 Pengumpulan Data Pullback


Di bawah ini adalah data hasil pengamatan putra dengan menggunakan Pull Back
Strength dengan variasi sudut punggung.
1. Data Pullback Putra
Tabel 4.11 Data Pengamatan Putra dengan Menggunakan Pull Back Strength
POSISI 1 POSISI 2 POSISI 3 POSISI 4 POSISI 5 POSISI 6
NO Nama
1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
10 10
1 Hafidz 25 23 24 81 90 97 81 96 31 29 28 92 97 61 61 65
1 1
2 Afif 28 20 20 53 67 68 67 77 80 37 37 37 64 80 71 46 46 48
Sumber: pengolahan data
2. Data Pullback Putri
Tabel 4.12 Data Pengamatan Putri dengan Menggunakan Pull Back Strength
N Nam POSISI 1 POSISI 2 POSISI 3 POSISI 4 POSISI 5 POSISI 6
O a 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
1 1 1 2 2 2 2 2 3 1 1 1 2 2 2 1 1 1
1 Della
4 1 0 4 6 7 5 9 3 2 2 3 6 9 8 5 7 4
Inggri 1 1 1 2 3 3 4 4 4 1 1 1 3 3 3 2 2 2
2
d 4 4 4 6 3 0 2 3 7 9 7 8 5 8 8 0 1 0
Sumber: pengolahan data

4.2 Pengolahan dan Analisis Data


Pengolahan dan analisis yang dilakukan ialah pengolahan analisis postur kerja,
biomekanika I, dan biomekanika II.

4.2.1 Pengolahan dan Analisis Data APK


Pengolahan analisis postur kerja pada kegiatan pengangkatan galon air mineral
dilakukan dengan tiga metode, yaitu metode RULA, REBA, dan OWAS.

4.2.1.1 Pengolahan dan Analisis Data Menggunakan Metode RULA


Dalam pengolahan data menggunakan metode RULA, bagian tubuh yang menjadi
fokus pengamatan tubuh bagian atas yang meliputi adalah lengan bagian atas (upper
arm), lengan bagian bawah (lower arm), pergelangan tangan, leher, badan (tubuh
bagian atas), kaki serta beban yang dibawa. Postur bagian-bagian tubuh tersebut
kemudian diukur untuk mengetahui sudut-sudut yang terbentuk. Pengukuran sudut
tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 109


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MODUL 2

100
00

200

200

Gambar 4.5 Pengangkatan Semen


Sumber: Pengambilan Data

Pada gambar di atas, dapat dilihat bahwa postur leher membentuk sudut 100,
lengan bagian atas membentuk sudut 20 0, lengan bagian bawah membentuk sudut
200, dan badan pekerja membentuk posisi tegak atau 0 0.
Hasil pengukuran sudut postur-postur tubuh tersebut selanjutnya dikodekan dalam
lembar pengamatan RULA seperti di bawah ini:

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 110


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Gambar 4.6 Lembar Pengamatan RULA
Sumber: Pengolahan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 111


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Dari lembar pengamatan RULA tersebut didapatkan hasil bahwa postur kerja
dalam aktivitas pengangkatan batu bata tersebut bernilai 7 (tujuh) sehingga
postur kerja ini masuk dalam kategori 4 yaitu postur kerja menunjukkan bahwa
penyelidikan dan perubahan dibutuhkan sesegera mungkin.
Pada postur kerja ini, posisi yang mungkin menimbulkan cedera adalah
postur lengan. Postur ini dapat mengakibatkan ketegangan pada otot
lengan karena berat beban menumpu ke lengan. Pekerja harus sesegera
mungkin melakukan perubahan postur kerja karena apabila hal ini
dibiarkan maka kemungkinan besar akan terjadi cedera pada lengan akibat
menegang karena benda yang diangkat terlalu berat.

4.2.1.2 Pengolahan dan Analisis Data Menggunakan Metode REBA


Dalam pengolahan data menggunakan metode REBA, bagian tubuh yang
menjadi fokus pengamatan adalah lengan bagian atas (upper arm), lengan
bagian bawah (lower arm), pergelangan tangan, leher, badan (tubuh bagian
atas), kaki, beban yang dibawa, serta faktor coupling. Pada metode REBA,
kenyamanan genggaman pekerja dalam membawa beban turut diperhitungkan
sebagai bahan pertimbangan apakah postur tubuh tersebut baik atau tidak.
Postur bagian-bagian tubuh tersebut kemudian diukur untuk mengetahui
sudut-sudut yang terbentuk, hal ini sama dengan yang dilakukan pada
pengolahan dan analisi data sebelumnya yaitu menggunakan metode RULA.
Pengukuran sudut tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

100
00

200

1200

Gambar 4.7 Pengangkatan Semen


Sumber: Pengambilan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 112


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Pada gambar di atas, dapat dilihat bahwa postur leher membentuk sudut 100,
lengan bagian atas membentuk sudut 20 0, lengan bagian bawah membentuk
sudut 600, dan badan pekerja membentuk posisi tegak atau 0 0.
Hasil pengukuran sudut postur-postur tubuh tersebut selanjutnya dikodekan
dalam lembar pengamatan REBA seperti di bawah ini:

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 113


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Gambar 4.8 Lembar Pengamatan RULA
Sumber: Pengolahan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 114


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Dari lembar pengamatan REBA di atas, dapat kita lihat bahwa postur tubuh
pekerja saat mengangkat batu bata memiliki nilai 5. Hal ini berarti bahwa postur
tubuh tersebut masuk dalam kategori 3 yang berarti cukup beresiko
menimbulkan cedera dan perlu untuk diperbaiki sesegera mungkin.
Pada postur ini, letak ketidaknyamanan berada pada sudut yang dibentuk
oleh pergelangan tangan. Apabila sudut yang terbentuk terlalu besar, maka
penekukan tulang-tulang persendian akan menyebabkan ketegangan otot apabila
menggunakan postur ini dalam waktu yang cukup lama atau berulang-ulang.
Selain itu, posisi yang juga dapat menimbulkan cedera adalah posisi
tumpuan pada kaki. Pekerja mengangkat beban dengan hanya bertumpu ke satu
kaki. Posisi ini dapat menyebabkan terjadinya cedera pada pinggul.

4.2.1.3 Pengolahan dan Analisis Data Menggunakan Metode OWAS


Analisis data menggunakan metode yang dikembangkan oleh perusahaan
Ovako Oy Finlandia ini memfokuskan permasalahan postur tubuh pekerja dengan
jumlah beban yang dikerjakan (dibawa).
Bagian tubuh yang diamati adalah tulang punggung, lengan, dan kaki. Postur-
postur tubuh pekerja hasil dari pengamatan selanjutnya dikodekan sesuai dengan
kode-kode dalam metode OWAS dan selanjutnya diisikan pada tabel OWAS
seperti berikut ini :
Tabel 4.13 Tabel OWAS

Sumber: Pengolahan Data

Dari tabel OWAS di atas, dapat dilihat bahwa nilai postur tubuh pekerja yang
diamati adalah 1. Hal ini berarti postur tubuh tersebut merupakan postur tubuh
yang baik dan tidak menimbulkan resiko cedera bagi pekerja.

4.2.2 Pengolahan dan Analisis Data Biomekanika I

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 115


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Pada biomekanika I, terdapat dua jenis pengolahan data, yaitu pengolahan
RWL dan LI origin dan pengolahan RWL dan LI destination.

4.2.2.1 Pengolahan dan Analisis Data Menggunakan RWL dan LI


(Origin)
Pengolahan RWL dan LI origin menggunakan data dari kegiatan pekerja saat
mengambil satu karung semen.
Tabel 4.14 Perhitungan RWL Origin
Variabel Nilai
Jarak horisontal ( H ) 26 cm
Jarak Vertical ( V ) 0 cm
Jarak Perpindahan 26 cm
(D)
Sudut Asimetri ( A ) 00
Frekuensi 4 kali/menit
Durasi <1 jam
Pegangan Poor (buruk)
Sumber: pengolahan data

1. Load Constant (LC) = 23 kg


2. Horizontal Multiplier (HM)
HM = 25/H
HM = 25 : 26
= 0,96 cm
3. Vertical Multiplier (VM)
VM = 1 0,003 [V - 69]
= 1 0,003 [0- 69]
= 1 0,003 ( 69 )
= 0,793 cm
4. Distance Multiplier (DM)
DM = 0,82 + ( 4,5/D )
= 0,82 + ( 4,5/26 )
= 0,993 cm
5. Asymmetric Multiplier (AM)
AM = 1 (0,0032 x A)
= 1 (0,0032 x 0)
=1
6. Frequency Multiplier (FM)
f = 60/15 = 4
Dari tabel dapat diketahui FM=0,84
7. Coupling Multiplier (CM)
Kriteria Kopling dikatakan poor karena semen tidak mempunyai pegangan
sehingga tangan tidak dapat meraihnya dengan mudah, maka dari tabel
dapat diketahui nilai CM = 1
8. RWL
RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 116


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
= 23 x 0,96 x 0,793 x 0,993 x 1 x 0,84 x 1
= 14,60kg
9. Lifting Index
Beban / Load Weight (L) = 50 kg
LI = L/ RWL
= 50 / 14,60
= 3,42
LI = 3,42 LI 3
Lifting Index pada pengangkatan awal adalah sebesar 3,42; sehingga
termasuk kategori High Stressful Task yaitu pekerja mempunyai resiko
cedera pinggang.

4.2.2.2 Pengolahan RWL dan LI Destination


Pengolahan RWL dan LI destination menggunakan data dari kegiatan pekerja
saat meletakkan satu karung semen.
Tabel 4.15 Variabel Perhitungan RWL Destination
Variabel Nilai
Jarak horisontal ( H ) 35 cm
Jarak Vertical ( V ) 25 cm
Jarak Perpindahan 10 cm
(D)
Sudut Asimetri ( A ) 00
Frekuensi 4 kali/menit
Durasi <1 jam
Pegangan Poor (buruk)
Sumber: pengolahan data

1. Load Constant (LC) = 23 kg


2. Horizontal Multiplier (HM)
HM = 25/H
HM = 25 : 35
= 0,714 cm
3. Vertical Multiplier (VM)
VM = 1 0,003 [V - 69]
= 1 0,003 [25- 69]
= 1 0,003 (44)
= 0,868 cm
4. Distance Multiplier (DM)
DM = 0,82+ ( 4,5/D )
= 0,82+ ( 4,5/10 )
= 1,27 cm
5. Asymmetric Multiplier (AM)
AM = 1 (0,0032 x A)
= 1 (0,0032 x 0)

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 117


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
=1
6. Frequency Multiplier (FM)
f = 60/15 = 4
Dari tabel dapat diketahui FM = 0,84
7. Coupling Multiplier (CM)
Kriteria Kopling dikatakan Poor karena semen tidak mempunyai pegangan
sehingga tangan tidak dapat meraihnya dengan mudah, maka dari tabel
dapat diketahui nilai CM = 1
8. RWL
RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM
= 23 x 0,714 x 0,868 x 1,27x 1 x 0,84 x 1
= 15,20kg
9. Lifting Index
Beban / Load Weight (L) = 50 kg
LI = L/ RWL
= 50 / 15,20
= 3,288
LI = 3,288 LI 3
Lifting Index pada pengangkatan awal adalah sebesar 3,288; sehingga
termasuk kategori High Stressful Task yaitu pekerja mempunyai resiko cedera
pinggang. Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan untuk memperkecil resiko
cedera pinggang yang akan terjadi. Hal lain yang harus diperhatikan adalah
posisi tubuh pekerja saat meletakkan semen, yaitu pekerja meletakkan beban
(semen) dengan cara membungkukkan tubuh. Hal ini dapat meningkatkan resiko
cedera. Jika pekerja terbiasa (berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama)
membungkukkan tubuh saat meletakkan beban, maka hal tersebut dapat
menimbulkan cedera pinggang.

4.2.3 Pengolahan dan Analisis Data Biomekanika II


Hubungan antara diameter genggam dengan kekuatan genggam dapat
dijabarkan dengan tabel dan grafik, sebagai berikut:

4.2.3.1 Pengolahan dan Analisis Data Kekuatan Genggam


Berikut adalah table dan grafik hasil pengolahan dari kekuatan genggam
1. Grafik dan table hubungan antara diameter genggam pada masing-masing
posisi dengan kekuatan genggam pada putra.

Tabel 4.16 Perhitungan Kekuatan Genggam Putra


Nama Operator Replikasi Posisi 1 Posisi 2

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 118


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
D1 D2 D3 D1 D2 D3
1 16.8 24.5 26.2 27.4 34.1 22.7
Hafidz Akbar 2 26 36.6 25.4 25.8 33.6 23.4
3 27.6 35.1 26 27.4 34.3 21.8
1 32.5 35 34.3 33.4 34.1 32.3
Afif Fahmi 2 33.3 36.8 35.7 31.7 32.6 30.5
3 33.2 33.5 34.5 33.7 31.9 30.2
rata-rata 28.23 33.58 30.35 29.9 33.43 26.82
Sumber: Pengolahan Data

Tabel 4.17 Perhitungan Kekuatan Genggam Putra


Posisi 3 Posisi 4
Nama Operator Replikasi
D1 D2 D3 D1 D2 D3
1 27.3 35.3 28.3 27 35.2 27.8
Hafidz Akbar 2 27.3 36.4 26.6 25.6 28.7 27.8
3 28.3 34.1 30.5 28.2 34.1 26.6
1 31.9 31.4 26.9 30 29.9 28.7
Afif Fahmi 2 29.4 29.7 25.5 24.2 28.9 28.9
3 30.5 32.7 26.6 27.7 28.9 25.3
rata-rata 29.12 33.27 27.4 27.17 30.95 27.57
Sumber : Pengolahan Data

Dari table di atas dapat dibuat menjadi grafik berikut :

Grafik kekuatan Genggam Putra


40

35

30

25

Kekuatan Tarik 20
15

10

0
1 2 3

Gambar 4.9 Grafik Kekuatan Genggam Putra


Sumber : Pengolahan Data

Pada grafik tersebut, dapat dilihat nilai rata-rata tertinggi pada D2 (5,5 cm)-
posisi 1 (tubuh berdiri tegak, tangan terjulur ke bawah) dengan rata-rata sebesar
33,58. Nilai rata-rata terendah adalah pada D3 (4 cm)-posisi 2 (tubuh berdiri
tegak, tangan ke depan pada jangkauan maksimum) dengan nilai rata-rata
sebesar 26,82.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 119


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2. Grafik dan tabel hubungan antara diameter genggam pada masing-masing
posisi dengan kekuatan genggam pada putri.
Tabel 4.18 Perhitungan Kekuatan Genggam Putri
Nama Rep Posisi 1 Posisi 2 Posisi 3 Posisi 4
Operat lika
D1 D2 D3 D1 D2 D3 D1 D2 D3 D1 D2 D3
or si
13. 20. 15. 27. 15. 12. 20. 18. 17. 15.
1
8 1 9 8.7 6 4 3 2 4 10 3 6
Della 11. 19. 17. 10. 17. 12. 18. 17. 10. 17. 13.
2
Ginza 6 1 2 3 5 16 2 2 3 9 9 4
10. 16. 18. 15. 14. 17. 14. 16.
3
4 9 1 7.8 4 9 9.6 4 6 8 8 15
18. 24. 21. 21. 21. 18. 20. 22. 20. 19. 18. 18.
1
7 9 6 1 3 2 7 3 3 4 9 4
21. 23. 21. 18. 21. 19. 20. 17.
Inggrit 2
3 2 5 19 22 2 20 6 7 20 5 2
21. 20. 17. 21. 18. 18. 22. 18. 19. 18. 17.
3
20 8 7 9 1 6 8 3 1 6 8 4
rata
- 15. 19. 14. 20. 16. 15. 20. 18. 14. 18. 16.
rata 967 21 167 133 817 883 6 333 067 65 367 167
Sumber : Pengolahan Data
Dari table di atas kemudian dapat dibuat grafik sebagai berikut :

Grafik Kekuatan Genggam Putri


25

20

15
Kekuatan Tarik
10

0
D1 D2 D3

Gambar 4.10 Grafik Kekuatan Genggam Putri


Sumber : Pengolahan Data

Pada grafik tersebut, dapat dilihat nilai rata-rata tertinggi pada D2 (5,5 cm)-
posisi 1 (tubuh berdiri tegak, tangan terjulur ke bawah) dengan rata-rata sebesar
21. Nilai rata-rata terendah adalah pada D1 (7 cm)-posisi 2 (tubuh duduk dengan
badan tegak, tangan ke depan pada jangkauan maksimum) dengan nilai rata-rata
sebesar 14,133.
3. Grafik Perbandingan Kekuatan Genggam Putra-Putri pada Posisi 1

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 120


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Grafik Kekuatan Genggam Putra -Putri pada Posisi 1
40
35
30
25

Axis Title 20
15
10
5
0
D1 D2 D3

Gambar 4.11 Grafik Perbandingan Kekuatan Genggam Posisi 1


Sumber : Pengolahan Data

Dari grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa kekuatan genggam antara


putra dan putri tidak sama, tetapi rata-rata kekuatan genggam terendah dan
tertinggi keduanya sama. Yakni, pada rata-rata tertinggi ialah pada D2 dimana
nilainya untuk putra adalah 33,583 dan untuk putri adalah 21, sedangkan nilai
terendah untuk putra 28,233 dan untuk putrid adalah 15,967.

4. Grafik Kekuatan Genggam Putra-Putri pada Posisi 2

Grafik Kekuatan Genggam Putra-Putri pada Posisi 2


40
35
30
25
Kekuatan Tarik 20
15
10
5
0
D1 D2 D3

Gambar 4.12 Grafik Perbandingan Kekuatan Genggam Posisi 2


Sumber : Pengolahan Data

Dari grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa kekuatan genggam dengan


rata-rata tertinggi ialah pada D2 dimana nilainya untuk putra adalah 33,433 dan
untuk putri adalah 20,817 sedangkan nilai terendah untuk putra pada D3 dengan
nilai 26,817 dan untuk putrid adalah 16,883.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 121


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
5. Grafik Kekuatan Genggam Putra-Putri pada Posisi 3

Grafik Kekuatan Genggam Putra-Putri pada Posisi 3


35
30
25
20
Kekuatan Tarik 15
10
5
0
D1 D2 D3

Gambar 4.13 Grafik Perbandingan Kekuatan Genggam Posisi 3


Sumber : Pengolahan Data

Dari grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa kekuatan genggam dengan


rata-rata tertinggi ialah pada D2 dimana nilainya untuk putra adalah 33,267 dan
untuk putri adalah 20,333 sedangkan nilai terendah untuk putra pada D3 dengan
nilai 27,4 dan untuk putri pada D1 dengan nilai 15,6.

6. Grafik Kekuatan Genggam Putra-Putri pada Posisi 4

Kekuatan Genggam Putra-Putri pada Posisi 4


35
30
25
20
Kekuatan Tarik 15

10
5
0
D1 D2 D3

Gambar 4.14 Grafik Perbandingan Kekuatan Genggam Posisi 4


Sumber : Pengolahan Data

Dari grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa kekuatan genggam dengan


rata-rata tertinggi ialah pada D2 dimana nilainya untuk putra adalah 30,95 dan

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 122


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
untuk putri adalah 18,367 sedangkan nilai terendah untuk putra pada D1 dengan
nilai 27,117 dan untuk putrid pada D1 dengan nilai 14,65.

4.2.3.2 Pengolahan dan Analisis Data Pullback


Pengolahan data pull back yaitu dengan menganalisis perhitungan sudut
pada bagian tubuh, perhitungan gaya dan momen yang ada dalam masing-
masing posisi antara kekuatan genggam putra dan putri.

4.2.3.2.1 Perhitungan Sudut


Perhitungan sudut untuk masing-masing putra mapun putri dapat dilihat pada
gambar berikut :

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 123


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 124
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Gambar 4.15 Enam Posisi PullBack Putra dan Putri
Sumber: Pengolahan Data

Tabel 4.19 Rekap Sudut Putra


Posisi
Nama Bagian Tubuh
1 2 3 4 5 6
Lengan Bawah 0o 0o 90o 70o 90o 0o
Hafidz Lengan Atas 17o 0o 30o 0o 25o 0o
Punggung 0o 37o 55o 90o 75o 25o
Lengan Bawah 0o 0o 0o 40o 0o 78o
Gayuh Lengan Atas 0o 0o 0o 81o 0o 71o
Punggung 0o 48o 34o 90o 13o 90o
Sumber : Pengolahan Data

Tabel 4.20 Rekap sudut Putri


Posisi
Nama Bagian Tubuh
1 2 3 4 5 6
Lengan Bawah 0o 0o 50o 15o 90o 0o
Della Lengan Atas 0o 0o 0o 0o 30o 0o
Punggung 0o 45o 30o 65o 55o 30o
Lengan Bawah 0o 0o 0o 43o 0o 90o
Inggrit Lengan Atas 0o 0o 0o 70o 0o 51o
Punggung 0o 49o 38o 90o 16o 90o
Sumber : Pengolahan Data

4.2.3.2.2 Perhitungan Momen untuk Masing-masing Posisi


4.2.3.2.2.1 Perhitungan Momen Putra
1. Posisi 1
Lengan Bawah
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fa = Wa g
=(24 : 2) 10
=120 N
Fab = (Wab) g
=(2,3% 63,6) 10
=14,628 N

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 125


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Fy = 0
Fa + Fab Fb = 0
Fb = Fa + Fab
Fb = 120 + 14,628
= 134,628 N
Da = 26,5% tinggi responden
= 26,5% 1.85
=0.49 m
Dab = 41% Da
=41%0.49
=0.2
M =0
Fa Da x + Fab Dab x Mb =0
Mb = (120 0.49 x + 14,628 0.2
= 61,276

Lengan atas
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fbc = (Wbc) g
=(2,8% 63,6) 10
=17,808 N
Fy = 0
Fb - Fbc Fc = 0
Fc = Fb - Fbc
=134,628 17,808
= 116,82 N
Db = 17.4% x 1.85
= 0,3219
Dbc = 48% x 0,3219
= 0,155

M =0
Mc = Mb x cos 17 Mbc x cos 17
Mc = (61,276 x 0,3219 x 0,96) (17,808 x 0.155 x 0.96)
= 21,59 Nm

Punggung
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fcd = (Wcd) g
=(58,4% 63,6) 10
=371,42 N
Fy = 0
2Fc + Fcd -Fd = 0
Fd = 2Fc + Fcd
=(2 116,82) + 371,42
= 605,06 N
Dc = 28,8% tinggi responden
= 28,8% 1.85
=0,533
Dcd = 46% Dc
=46%0.533

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 126


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
=0,245 m
M =0
Md = 2Fc cos Dc + Fcd cos Dcd
= (2x116,82x0.99x0,533) + (371,42x1x0,245 )
= 124,53 + 90,998
= 215,528

Posisi 2
Lengan bawah
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fa = Wa g
=(89,33:2) 10
=446,65
Fab = (Wab) g
=(2,3% 63,6) 10 =17,808 N
Fy = 0
Fa + Fab Fb = 0
Fb = Fa + Fab
Fb = 446,65 + 17,808
=464,458 N
Da = 26,5% tinggi responden
= 26,5% 1.85
=0.49 m
Dab = 41% Da
=41%0.49
=0,2
M =0
Fa Da x cos 90 + Fab Dab x cos 90 Mb=0
Mb = (446,65 0,49 x 0) + (17,808 0,2 x 0)
=0

Lengan atas
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fbc = (Wbc) g
=(2,8% 63,6) 10 =17,808 N
Fy = 0
Fb - Fbc Fc = 0

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 127


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Fc = Fb - Fbc
=464,458 17,808
= 446,65 N
Db = 17.4% x 1.85
= 0.533
Dbc = 48% x 0.533
= 0.245
M =0
M =0
Mc + FbcDbcx cos 25 - FbDb cos 25=0
Mc=(464,458 0.533x 0.906) (17,8080.245x 0.906)
=224,459+3,954 = 228,413 Nm

Punggung
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fcd = (Wcd) g
=(58,4% 63,6) 10
=371,42 N
Fy = 0
2Fc + Fcd -Fd = 0
Fd = 2Fc + Fcd
=(2 446,65) + 371,42
= 1264,72 N
Dc = 28,8% tinggi responden
= 28,8% 1.85
=0.533
Dcd = 46% Dc
=46%0.533
=0.245 m
M =0
Md = 2Fc cos 30 Dc + Fcd cos 30 Dcd
=2x446,65X0.866x0.533 + 371,42x0.866x0,245
=491,132 Nm

2. Posisi 3

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 128


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Lengan bawah
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fa = Wa g
= (92,67:2) 10
=463,35
Fab = (Wab) g
=(2,3% 63,6) 10
=17,808 N
Fy = 0
Fa + Fab Fb = 0
Fb = Fa + Fab
Fb = 463,35 + 17,808
=481,158 N
Da = 26,5% tinggi responden
= 26,5% 1.85
=0.49 m
Dab = 41% Da
=41%0.49
=0.2
M =0
Fa Da x cos 90 + Fab Dab x cos 80 Mb =0
Mb = 463,35 0.49 x 0 + 17.808 0.2 x 0
=0

Lengan atas
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fbc = (Wbc) g
=(2,8% 63,6) 10
=17,808N
Fy = 0
Fb - Fbc Fc = 0
Fc = Fb - Fbc
=481,158 - 17,808
= 463,35 N
Db = 17.4% x 1.85

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 129


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
= 0.533
Dbc = 48% x 0.533
= 0.245
M =0
Mc + FbcDbcx cos 30 - FbDb cos 26=0
Mc=(481,1580.533x 0.866) (17,8080,245 x 0.866)
=225,87 Nm

Punggung
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fcd = (Wcd) g
=(58,4% 63,6) 10
=371,42 N
Fy = 0
2Fc + Fcd -Fd = 0
Fd = 2Fc + Fcd
=(2463,65) + 371,42
= 1298,72 N
Dc = 28,8% tinggi responden
= 28,8% 1.85
=0.533
Dcd = 46% Dc
=46%0.533
=0.245 m
M =0
Md = 2Fc cos 55 Dc + Fcd cos 55 Dcd
= 2x463,635x0.574x0.533 + 371,42x0,574x0.245
= 335,924 Nm

3. Posisi 4
Lengan bawah
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fa = Wa g
=29.33 10
=146,65

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 130


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Fab = (Wab) g
=(2,3% 63,6) 10
=17,808 N
Fy = 0
Fa + Fab Fb = 0
Fb = Fa + Fab
Fb = (146,65) + 17,808
= 164,458 N
Da = 26,5% tinggi responden
= 26,5% 1.85
=0.49 m
Dab = 41% Da
=41%0.49
=0.2
M =0
Fa Da x cos 70 + Fab Dab x cos 70 Mb =0
Mb = 146,65 0.49 x 0.342 + 17,808 0.2 x 0.342
= 25,794 Nm

Lengan atas
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fbc = (Wbc) g
=(2,8% 63,6) 10
=17,808 N
Fy = 0
Fb - Fbc Fc = 0
Fc = Fb - Fbc
=164,458 - 17,808 =146.65 N
Db = 17.4% x 1.85
= 0.321
Dbc = 48% x 0.321
= 0,155
M =0
Mc + FbcDbc - FbDb=0
Mc=(164,458 0,321) (17,8080,155)
=55,551 Nm

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 131


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Punggung
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fcd = (Wcd) g
=(58,4% 63,6) 10
= 371,42 N
Fy = 0
2Fc + Fcd -Fd = 0
Fd = 2Fc + Fcd
=(2 146.65) + 371,42
= 664,72 N
Dc = 28,8% tinggi responden
= 28,8% 1.85 =0.533
Dcd = 46% Dc
=46%0.533
=0.245 m
M =0
Md = 2Fc cos 90 Dc + Fcd cos 90 Dcd
= 2x146.65x0 + 371,42x0.245 x 0
=0

4. Posisi 5
Lengan Atas
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fa = Wa g
= (96,67:2) 10
=483,35 N
Fab = Wab g
=2,3% 63,6 10
=14,628
Fy = 0
Fa + Fab Fb = 0
Fb = Fa + Fab
Fb = 483,35 + 14,628
= 497,978 N

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 132


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Da = 26,5% 1,85 = 0,49
Dab = 41% 0,49 = 0,2
M =0
(Fa Da) + (Fab Dab) Mb=0
Mb = (483,35 0,49 x cos 90) + (14,628 0,2 x cos 90)
= 0 Nm

Lengan atas
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fbc = Wbc g
=2,8% 63,6 10 =17,808

Fy = 0
Fbc+Fc-Fb=0
Fc = Fb - Fbc
=497,978 17,808= 139.41 N
Db = 17,4% tinggi responden
= 17,4% 1,85
= 0,322 m
Dbc = 48% Db
=48%0,322
=0,155 m
M =0
Mc + (FbcDbc x cos25) (FbDbxcos 25)=0
Mc =(497,9780,322x0.906) (17,8080,134 x0.906)
=147,438 Nm

Punggung
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fcd = Wcd g
=58,4% 63,6 10
=371,42 N
Fy = 0
2Fc + Fcd -Fd = 0

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 133


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Fd = 2Fc + Fcd
=(2139,41 ) + 371,42
= 650,24 N
Dc = 28,8% tinggi responden
= 28,8% 1,85
=0.533 m
Dcd = 46% Db
=46%0,455
=0,245 m
M =0
Md = (2Fc cos 7 Dc) + (Fcd cos 75 Dcd)
= (2x139,410.259x0,533)+(371,42x0.2590,245)
= 62,059 Nm

5. Posisi 6
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fa = Wa g
= (62,33:2) 10
= 311,65 N
Fab = Wab g
=2,3% 63,6 10
=14,628
Fy = 0
Fa + Fab Fb = 0
Fb = Fa + Fab
Fb = 311,65 + 14,628
= 326,278 N
Da = 26,5% 1,85 = 0,49
Dab = 41% 0,426 = 0,2
M =0
(Fa cos 0Da) + (Fab cos0 Dab) Mb=0
Mb = (311,65 1 0,49) + (14,628 1 0,2)
= 155,634 Nm

Lengan atas
Fx = 0

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 134


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fbc = Wbc g
=2,8% 63,6 10
=17,808
Fy = 0
Fbc+Fc-Fb=0
Fc = Fb - Fbc
=326,278 17,808 = 308,47 N
Db = 17,4% tinggi responden
= 17,4% 1,85
=0.322 m
Dbc = 48% Db
=48%0,322
=0,155 m
M =0
Mc + Fbc cos Dbc Fb cos Db=0
Mc=( 326,278 1 0,322) - (17,808 10,155)
= 289,995 Nm

Punggung
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fcd = Wcd g
=58,4% 63,6 10
=371,424 N
Fy = 0
2Fc + Fcd -Fd = 0
Fd = 2Fc + Fcd
=(2 308,47) + 371,42
=988,36 N
Dc = 28,8% tinggi responden
= 28,8% 1,85
=0.533 m
Dcd = 46% Db
=46%0,533
=0,245 m
M =0

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 135


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Md = (2Fc cos25 Dc) + (Fcd cos25 Dcd)
= (308,47 1 0.464) +(371,42 1 0,245)
= 324,128 Nm

4.2.3.2.2.2 Perhitungan Momen Putri


1. Posisi 1
Lengan bawah
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fa = Wa g
= (11,67:2) 10
= 58,35
Fab = Wab g
=2,3% 46,3 10 =10,65 N
Fy = 0
Fa + Fab Fb = 0
Fb = Fa + Fab
Fb = 58,35 + 10,65
= 69 N
Da = 26,5% tinggi responden
= 26,5% 1,52
= 0,4 m
Dab = 41% Da
=41%0,4
=0.164 m
M =0
Fa Da + Fab Dab Mb =0
Mb = (58,35 0,4) + (10,65 0,164)
= 25,087 Nm

Lengan atas
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fbc = Wbc g
=2,8% 46,3 10
=12,964
Fy = 0
Fc + Fbc Fb = 0

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 136


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Fc = Fb - Fbc
= 69 12,964
= 56,036 N
Db = 17,4% tinggi responden
= 17,4% 1,52 = 0.26 m
Dbc = 48% Db
=48%0,26 = 0,108 m
M =0
Mc + Fbc Dbc FbDb =0
Mc = Mb - Mbc
Mc = (69 x 0.26) (12,964 x 0.108 )
= 19,34 Nm

Punggung
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fcd = Wcd g
=58,4% 46,3 10
=270,39
Fy = 0
2Fc + Fcd -Fd = 0
Fd = 2Fc + Fcd
=(256,036) + 270,39
=382,462
Dc = 28,8% tinggi responden
= 28,8% 1,52
=0.438 m
Dcd = 46% Db
=46%0,438
=0,201 m
M =0
2Fc Dc + Fcd Dcd Md =0
Md = (2x56,0360.438) + (270,390,201)
= 103,436

2. Posisi 2
Lengan bawah

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 137


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fa = Wa g
=(25,67:2) 10
=128,35
Fab = Wab g
=2,3% 46,3 10
=12,964
Fy = 0
Fa + Fab Fb = 0
Fb = Fa + Fab
Fb = 128,35+10,65
=117,7
Da = 26,5% 1,52 = 0,4
Dab = 41% 0,426 = 0,164
M =0
Fa Da x cos 90 + Fab Dab x cos 90 Mb=0
Mb = (128,35 0,4 x 0) + (10,65 0,164 x 0)
=0

Lengan atas
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fbc = Wbc g
=2,8% 46,3 10
=12.964
Fy = 0
Fc+Fbc-Fb=0
Fc = Fb - Fbc
= 117,7-12,964
= 104,736
Db = 17,4% tinggi responden
= 17,4% 1,52
= 0,264
Dbc = 48% Db
=48%0,264
=0,127

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 138


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
M =0
Mc + FbcDbcx cos 30 - FbDb cos 30=0
Mc=(117,70,127 x 0.866) (12,9640,127 x 0.866)
=14,37

Punggung
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fcd = Wcd g
=58,4% 46,3 10 =270,39 N
Fy = 0
2Fc + Fcd -Fd = 0
Fd = 2Fc + Fcd
=(2 x 104,736) + 270,39
= 479,862 N
Dc = 28,8% tinggi responden
= 28,8% 1.52
=0,438 m
Dcd = 46% Dc
=46%0.438
=0.2 m
M =0
Md =(2Fc cos a Dc) + (Fcd cos a Dcd)
= ((2 x 104,736) 0.71 0.0438) +(270,39 0.71 0.438)
= 90,60 Nm

3. Posisi 3
Lengan bawah
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fa = Wa g
=(29:2) 10
=145 N
Fab = Wab g
=2,3% 46,3 10
=10,65
Fy = 0

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 139


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Fa + Fab Fb = 0
Fb = Fa + Fab
Fb = 145 +10,65
=155.65 N
Da = 26,5% 1,52 = 0,4
Dab = 41% 0,4 = 0,165
M =0
Fa Da x cos 50 + Fab Dab x cos 50 Mb=0
Mb = (145 0.4 x 0.64) + ( 10,65 0.165 x 0.4)
=37,82 Nm

Lengan atas
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fbc = Wbc g
=2,8% 46,3 10
=12,964
Fy = 0
Fbc+Fc-Fb=0
Fc = Fb - Fbc
=155.65 12,964 = 142,686
Db = 17,4% tinggi responden
= 17,4% 1,52
=0.26 m
Dbc = 48% Db
=48%0,26
=0,127 m
M =0
Mc + FbcDbc - FbDb = 0
Mc + (12,964 0.127) - (155,65 0.26)
Mc = 38,82 Nm

Punggung
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 140


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Fcd = Wcd g
=58,4% 46,3 10
=270,39 N
Fy = 0
2Fc + Fcd -Fd = 0
Fd = 2Fc + Fcd
=(2 142,686) + 270,39
= 556,126
Dc = 28,8% tinggi responden
= 28,8% 1,52
=0.44 m
Dcd = 46% Db
=46%0,44 = 0,2 m
M =0
Md = 2Fc cos 47 Dc + Fcd cos 47 Dcd
= ( 2 142,686 x 0.87 0.44) +(270,39 0.87 0.2)
= 156,288 Nm

4. Posisi 4
Lengan bawah
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fa = Wa g
=(12,33:2) 10
= 61,65 N
Fab = Wab g
=2,3% 46,3 10
=10,65
Fy = 0
Fa + Fab Fb = 0
Fb = Fa + Fab
Fb = 61,65 + 10,65
=72,3
Da = 26,5% 1,52 = 0,4
Dab = 41% 0,426 = 0,165
M = 0
Fa cos 15 Da + Fab cos 15 Dab Mb=0

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 141


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Mb = (61,65 x 0.97 x 0.4 ) + (10,65 x 0.97 x 0.165)
= 25,62 Nm

Lengan atas
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fbc = Wbc g
=2,8% 46,3 10
=12,964
Fy = 0
Fbc+Fc-Fb=0
Fc = Fb Fbc
= 72,3 + 12,964
= 85,264 N
Db = 17,4% tinggi responden
= 17,4% 1,52
= 0.26 m
Dbc = 48% Db
=48%0,26
=0,127 m
M =0
Mc + Fbc Dbc Fb Db=0
Mc = (12,964 0,26) - ( 72,3 0,127)
= 30,95 Nm

Punggung
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fcd = Wcd g
=58,4% 46,3 10
=270,39 N
Fy = 0
2Fc + Fcd -Fd = 0
Fd = 2Fc + Fcd
=(2 x 85,264) +270,39
=440,19 N
Dc = 28,8% tinggi responden

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 142


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
= 28,8% 1,52
=0.44 m
Dcd = 46% Db
= 46%0,44
= 0,2 m
M =0
Md = (2Fc cos 65 Dc) + (Fcd cos 65 Dcd)
= (2 x 85,264 x 0,42 x 0.44) +(270,39 0,42 x 0,2)
= 54,226 Nm

5. Posisi 5
Lengan bawah
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fa = Wa g
=(27,67 : 2) 10
=138,35 N
Fab = Wab g
=2,3% 46,3 10
=10,65
Fy = 0
Fa + Fab Fb = 0
Fb = Fa + Fab
Fb = 138,35 + 10,65
=149
Da = 26,5% 1,52 = 0,44
Dab = 41% 0,426 = 0,165
M =0
(Fa Da) + (Fab Dab) Mb=0
Mb = (138,35 0,44 x cos 90) + (10,65 0,165 x cos 90)
=0

Lengan atas
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fbc = Wbc g
=2,8% 46.3 10

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 143


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
=12,964
Fy = 0
Fbc+Fc-Fb=0
Fc = Fb - Fbc
=149 12,964= 136,036
Db = 17,4% tinggi responden
= 17,4% 1,52
=0.26 m
Dbc = 48% Db
=48%0,26
=0,127 m

M =0
Mc + (FbcDbc x cos 30) (FbDb x cos 30)=0
Mc = (149 0,26 x 0.87) (12,964 0,127 x 0.87)
= 35,136 Nm

Punggung
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fcd = Wcd g
=58,4% 46,3 10
=270,39 N
Fy = 0
2Fc + Fcd -Fd = 0
Fd = 2Fc + Fcd
=(2136,036 ) + 270,39
= 542,462 N
Dc = 28,8% tinggi responden
= 28,8% 1,52
= 0,44 m
Dcd = 46% Db
=46%0,44
=0,2 m
M =0
Md = (2Fc cos 55 Dc) + (Fcd cos 55 Dcd)

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 144


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
= (272,072 0,57 0,44) +(270,39 x 0.57 0,2)
= 99,06 Nm

6. Posisi 6
Lengan bawah
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fa = Wa g
=(15,33 : 2) 10
=76.65 N
Fab = Wab g
=2,3% 46,3 10
=10,65
Fy = 0
Fa + Fab Fb = 0
Fb = Fa + Fab
Fb = 76,65 + 10,65
=87,3
Da = 26,5% 1,52 = 0,4
Dab = 41% 0,4 = 0,165
M =0
(Fa Da) + (Fab Dab) Mb=0
Mb = (76,65 0,4) + (10,65 x 0,165)
= 32,42 Nm

Lengan atas
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fbc = Wbc g
= 2,8% 46,3 10
= 12,964
Fy = 0
Fbc+Fc-Fb=0
Fc = Fb - Fbc
= 87,3 12,964 = 74,336
Db = 17,4% tinggi responden
= 17,4% 1,52 =0.26 m

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 145


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Dbc = 48% Db
=48%0,26 =0,127 m
M =0
Mc + Fbc cos Dbc Fb cos Db=0
Mc =(87,3 1 0,26) - (12,964 1 0,127)
= 24,34 Nm

Punggung
Fx = 0
Karena tidak ada gaya yang bekerja pada sumbu x, maka Fx = 0
Fcd = Wcd g
=58,4% 46,3 10 =270,39 N
Fy = 0
2Fc + Fcd -Fd = 0
Fd = 2Fc + Fcd
=(2 74,336) + 270,39
= 419,062
Dc = 28,8% tinggi responden
= 28,8% 1,52
=0.44 m
Dcd = 46% Db
=46%0,44
=0,2 m
M =0
Md = (2Fc cos 30 Dc) + (Fcd cos 0 Dcd)
= (148,672 0,87 0.44) +(270,39 1 0,2)
= 110,99 Nm

Tabel 4.21 Hasil Perhitungan Panjang Dan Berat Tubuh Praktikan Putra
Prosentase Panjang Prosentase Berat Prosentase Pusat
N Segmen (dari tinggi Segmen (dari berat Massa (dari
Segmen Tubuh
o badan) badan) panjang segmen)
Hafidz Gayuh Hafidz Gayuh Hafidz Gayuh
1 Lengan Bawah 0,49 0,466 14,628 14,26 0,2 0,191
2 Lengan Atas 0,32 0,306 17,808 17,36 0,155 0,147
3 Punggung 0,53 0,507 371,42 362,08 0,245 0,233
Sumber: Pengolahan Data

Tabel 4.22 Hasil Perhitungan Panjang Dan Berat Tubuh Praktikan Putri
Prosentase Panjang Prosentase Berat Prosentase Pusat
N Segmen Segmen (dari tinggi Segmen (dari berat Massa (dari
o Tubuh badan) badan) panjang segmen)
Della Inggrid Della Inggrid Della Inggrid

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 146


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Lengan
1 Bawah 0,4 0,427 10,65 13,34 0,165 0,175
2 Lengan Atas 0,26 0,28 12,964 16,24 0,127 0,135
3 Punggung 0,44 0,463 270,39 338,72 0,2 0,214
Sumber: Pengolahan Data

Setelah menghitung berat dan panjang segmen tubuh, maka dilakukan


perhitungan gaya dan momen pada masing-masing segmen dan pada masing-
masing posisi. Rekap data gaya dan momen masing-masing posisi dapat dilihat
pada Tabel 4.23 dan Tabel 4.24 berikut :

Tabel 4.23 Rekap Data Gaya dan Momen pada Praktikan Putra
Nama Posisi 1 Posisi 2 Posisi 3
Operat
Fb Mb Fc Mc Fb Mb Fc Mc Fb Mb Fc Mc
or
134,6 61,2 116,8 21, 464,4 446,6 228,4 481,1 463,3 225,8
Hafidz 3 8 2 59 6
0,00
5 1 6
0,00
5 7
127,2 55,4 109,9 36, 327,2 148,7 309,9 387,2 176,6 369,9 116,1
Gayuh 6 3 0 46 6 1 0
97,77
6 9 0 6
Sumber: Pengolahan Data

Tabel 4.24 Rekap Data Gaya dan Momen pada Praktikan Putra
Nama Posisi 4 Posisi 5 Posisi 6
Operato
Fb Mb Fc Mc Fb Mb Fc Mc Fb Mb Fc Mc
r
164,4 25,7 146,6 55,5 497,9 139,4 147,4 326,2 155,6 308,4 290,0
Hafidz 6 9 5 5 8
0,00
1 4 8 3 7 0
199,2 68,1 181,9 372,2 169,7 354,9 111,5 247,2 229,9
Gayuh 6 8 0
9,13
6 0 0 6 6
23,06
0
23,80

Sumber: Pengolahan Data

Tabel 4.25 Rekap Data Gaya dan Momen pada Praktikan Putri
Nama Posisi 1 Posisi 2 Posisi 3
Operat
Fb Mb Fc Mc Fb Mb Fc Mc Fb Mb Fc Mc
or
69,0 25,0 56,0 19,3 117,7 104,3 19,3 155,6 37,8 142,6 38,8
Della 0,00
0 9 4 4 0 8 4 5 2 9 2
83,3 32,2 67,1 21,1 161,3 65,4 145,1 43,0 233,3 96,2 217,1 63,2
Inggrid
4 0 0 8 4 8 0 6 4 0 0 5
Sumber: Pengolahan Data

Tabel 4.26 Rekap Data Gaya dan Momen pada Praktikan Putri
Nama Posisi 4 Posisi 5 Posisi 6
Operator Fb Mb Fc Mc Fb Mb Fc Mc Fb Mb Fc Mc
25,6 85,2 30,9 149,0 136,0 35,1 32,4 74,3 24,3
Della 72,30
2 6 5 0
0,00
4 4
87,30
2 4 4
103,3 29,7 87,1 198,3 81,2 182,1 53,4 114,8 98,6 18,8
Inggrid 4 8 0
9,16
4 6 0 3 4
0,00
0 8
Sumber: Pengolahan Data

Rekap data gaya momen pada segmen punggung praktikan putra adalah sebagai
berikut:

Tabel 4.28 Rekap Data Gaya Momen pada Segmen Punggung Praktikan Putra
Nama Posisi 1 Posisi 2 Posisi 3 Posisi 4 Posisi 5 Posisi 6
Operato
Fd Md Fd Md Fd Md Fd Md Fd Md Fd Md
r

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 147


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
605,0 215,5 1264, 491,1 1298, 335,9 664,7 0,0 650,2 988,3 324,1
Hafidz 6 3 72 3 72 2 2 0 4
62,06
6 3
581,8 195,8 981,8 266,6 1101, 380,8 725,8 0,0 1071, 432,6 821,8
Gayuh 8 4 8 6 88 5 8 0 88 6 8
0,00
Rata- 593,4 205,6 1123, 378,8 1200, 358,3 695,3 0,0 861,0 247,3 905,1 162,0
rata 7 8 30 9 30 9 0 0 6 6 2 6
FD/MD 2,89 2,96 3,35 0,00 3,48 5,58
Sumber : Pengolahan Data
Dapat dilihat pada tabel di atas, bahwa nilai Fd terbesar dimiliki oleh posisi 3,
dilanjutkan dengan posisi 2, 6, 5, 4, dan 1. Sedangkan Md terkecil dimiliki oleh
posisi 4 dan Fd/Md terbesar adalah pada posisi 6. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa posisi terbaik berdasarkan penelitian yang kami lakukan adalah pada
posisi 6.
Sedangkan rekap data gaya momen pada segmen punggung praktikan putri
adalah sebagai berikut:

Tabel 4.8 Rekap Data Gaya Momen pada Segmen Punggung Praktikan Putri
Nama Posisi 1 Posisi 2 Posisi 3 Posisi 4 Posisi 5 Posisi 6
Operator Fd Md Fd Md Fd Md Fd Md Fd Md Fd Md
382,4 103,4 479,8 556,1 156,2 440,1 54,2 542,4 419,0 110,9
Della 6 4 6
90,60
3 9 9 3 6
99,06
6 9
472,9 134,4 628,9 135,6 772,9 215,5 512,9 702,9 231,7 535,9
Inggrid 2 7 2 7 2 8 2
0,00
2 2 2
0,00
Rata- 427,6 118,9 554,3 113,1 664,5 185,9 476,5 27,1 622,6 165,3 477,4
55,50
rata 9 5 9 3 2 3 6 1 9 9 9
FD/MD 3,60 4,90 3,57 17,58 3,77 8,60

Dapat dilihat pada tabel di atas, bahwa nilai Fd terbesar dimiliki oleh posisi 3,
dilanjutkan dengan posisi 5, 2, 6, 4, dan 1. Sedangkan Md terkecil dimiliki oleh
posisi 4 dan Fd/Md terbesar adalah pada posisi 5. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa posisi terbaik berdasarkan penelitian yang kami lakukan adalah pada
posisi 6.

4.3 Perbaikan Ergonomi


4.3.1 Perbaikan Analisis Postur Kerja
Pada pengolahan dan analisis postur kerja kami dapatkan data bahwa
postur kerja yang dilakukan oleh para pekerja saat ini kurang baik sehingga
dapat mengakibatkan terjadinya resiko cedera lengan dan pinggang. Oleh karena
itu, kami berupaya melakukan beberapa perbaikan untuk memperkecil resiko
cedera yang akan terjadi.

4.3.1.1 Perbaikan Analisis Postur Kerja dengan Metode RULA


Dari analisis dengan metode RULA, kita dapat menarik kesimpulan bahwa
postur kerja tersebut memerlukan penyelidikan dan perubahan sesegera
mungkin. Maka, kami merancang postur kerja yang dapat mengatasi masalah-

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 148


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
masalah yang dapat timbul apabila tetap menggunakan posisi sebelumnya
seperti cedera lengan. Berikut merupakan postur kerja yang kami rancang untuk
melakukan perbaikan:

100

00

200

100

Gambar 4.16 Perbaikan Postur Tubuh 1


sumber: Pengolahan Data

Dari gambar di atas dilihat bahwa perbaikan yang kami lakukan adalah
dengan menggubah sudut yang terbentuk pada lengan, yaitu dari sudut sebesar
200 menjadi 100. Hal ini dilakukan agar penekukan lengan tidak terlalu lebar
sehingga dapat mencegah terjadinya cedera pada otot lengan. Selain itu, beban
yang sebelumnya adalah satu karung semen dengan berat 50 kilogram, kami
perbaiki dengan cara mengurangi beban yang dibawa menjadi 1/5 karung semen
atau setara dengan 10 kilogram.
Selanjutnya, desain perbaikan postur tubuh yang kami rancang ini harus
dianalisis menggunakan metode RULA seperti analisis yang dilakukan pada
postur kerja sebelumnya. Berikut merupakan hasil pengkodean sudut-sudut pada
postur tubuh dalam lembar pengamatan RULA:

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 149


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 150
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Gambar 4.17 Lembar Pengamatan RULA
Sumber: Pengolahan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 151


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Dari lembar pengamatan tersebut didapatkan nilai sebesar 3, sehingga
postur perbaikan yang dirancang ini masuk dalam kategori 2, yaitu postur kerja
yang menunjukkan bahwa penyelidikan lebih lanjut dibutuhkan dan mungkin saja
perubahan diperlukan. Postur tubuh yang baru ini memiliki level atau kategori
yang lebih baik dari postur sebelumnya. Sehingga diharapkan dengan
penggunaan postur tubuh yang baru ini, pekerja dapat lebih nyaman dan
keselamatan kerja dapat ditingkatkan.

4.3.1.2 Perbaikan Analisis Postur Kerja dengan Metode REBA


Dari analisis dengan metode REBA, kita dapat menarik kesimpulan bahwa
postur kerja tersebut cukup beresiko menimbulkan cedera dan perlu untuk
diperbaiki sesegera mungkin. Maka, kami merancang postur kerja yang dapat
mengatasi masalah-masalah yang dapat timbul apabila tetap menggunakan
posisi sebelumnya seperti cedera lengan dan pinggul. Berikut merupakan postur
kerja yang kami rancang untuk melakukan perbaikan:

100

00

200

900

Gambar 4.18 Perbaikan Postur Tubuh 2


Sumber: Pengolahan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 152


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Dari gambar di atas, dapat dilihat bahwa perubahan yang kami
lakukan adalah dengan mengubah sudut yang dibentuk oleh pergelangan
tangan dari 1200 arah ke bagian tubuh atas menjadi 900. Rancangan postur
tubuh tersebut kemudian dianalisis lagi seperti analisis yang dilakukan
pada postur tubuh sebelumnya. Berikut merupakan lembar pengamatan
REBA yang telah diisi dengan kode postur tubuh:

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 153


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Gambar 4.19 Lembar Pengamatan REBA
Sumber: Pengolahan Data

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 154


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Dapat dilihat bahwa nilai postur tubuh yang telah diperbaiki adalah 3. Hal ini
berarti postur tubuh yang baru masuk dalam kategori 2 yaitu postur tubuh
dengan resiko kecil, perubahan mungkin diperlukan. Postur tubuh yang baru ini
memiliki level atau kategori yang lebih baik dari postur sebelumnya. Sehingga
diharapkan dengan penggunaan postur tubuh yang baru ini, pekerja dapat lebih
nyaman dan keselamatan kerja dapat ditingkatkan.

4.3.1.3 Perbaikan Analisis Postur Kerja dengan Metode OWAS


Analisa data menggunakan metode OWAS menunjukkan bahwa postur tubuh
pekerja telah memenuhi kategori 1 atau baik. Sehingga tidak lagi perlu
melakukan perbaikan-perbaikan postur tubuh. Perbedaan kategori yang
dihasilkan oleh ketiga metode tidak menjadi sebuah masalah karena ketiganya
memiliki titik fokus yang berbeda-beda. Pada metode RULA, bagian tubuh atas
merupakan fokus utama yang diteliti, sedangkan pada metode REBA yang
diamati adalah postur tubuh secara keseluruhan, dan pada OWAS penelitian
dititik beratkan pada hubungan antar postur tubuh dengan jumlah beban.

4.3.2 Perbaikan Biomekanika I


Pada biomekanika I, terdapat dua jenis pengolahan data, yaitu pengolahan
RWL dan LI origin dan pengolahan RWL dan LI destination.
4.3.2.1 Perbaikan Biomekanika I RWL dan LI (Origin)
Pengolahan RWL dan LI origin menggunakan data dari kegiatan pekerja saat
mengambil 1/5 karung semen.
Tabel 4.29 Perhitungan RWL Origin
Variabel Nilai
Jarak horisontal ( H ) 26 cm
Jarak Vertical ( V ) 0 cm
Jarak Perpindahan 26 cm
(D)
Sudut Asimetri ( A ) 00
Frekuensi 4 kali/menit
Durasi <1 jam
Pegangan poor (buruk)
Sumber: pengolahan data

1. Load Constant (LC) = 23 kg


2. Horizontal Multiplier (HM)
HM = 25/H
HM = 25 : 26
= 0,96 cm
3. Vertical Multiplier (VM)
VM = 1 0,003 [V - 69]
= 1 0,003 [0- 69]

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 155


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
= 1 0,003 ( 69 ) = 0,793 cm
4. Distance Multiplier (DM)
DM = 0,82 + ( 4,5/D )
= 0,82 + ( 4,5/26 )
= 0,993 cm
5. Asymmetric Multiplier (AM)
AM = 1 (0,0032 x A)
= 1 (0,0032 x 0)
=1
6. Frequency Multiplier (FM)
f = 60/15 = 4
Dari tabel dapat diketahui FM=0,84
7. Coupling Multiplier (CM)
Kriteria Kopling dikatakan poor karena semen tidak mempunyai pegangan
sehingga tangan tidak dapat meraihnya dengan mudah, maka dari tabel dapat
diketahui nilai CM = 1
8. RWL
RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM
= 23 x 0,96 x 0,793 x 0,993x 1 x 0,84 x 1
= 14,6kg
9. Lifting Index
Beban / Load Weight (L) = 10 kg
LI = L/ RWL
= 10 / 14,6
= 0,684
LI = 0,684 LI < 1
Lifting Index pada pengangkatan awal adalah sebesar 0,684; sehingga
termasuk kategori Low Stressful Task yaitu pekerja relatif aman. Pada
Biomekanika I ini, kami memberikan perubahan pada berat beban yang dibawa
oleh pekerja yaitu dari satu karung semen seberat 50kg menjadi 1/5 karung
semen atau seberat 10kg. Hal ini kami lakukan guna menghindari terjadinya
resiko cedera pinggang.

4.3.2.2 Perbaikan Biomekanika I RWL dan LI Destination


Pengolahan RWL dan LI destination menggunakan data dari kegiatan pekerja
saat meletakkan 1/5 karung semen.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 156


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Tabel 4.30 Variabel Perhitungan RWL Destination
Variabel Nilai
Jarak horisontal ( H ) 35 cm
Jarak Vertical ( V ) 25 cm
Jarak Perpindahan 10 cm
(D)
Sudut Asimetri ( A ) 00
Frekuensi 4 kali/menit
Durasi <1 jam
Pegangan poor (buruk)
Sumber: pengolahan data

1. Load Constant (LC) = 23 kg


2. Horizontal Multiplier (HM)
HM = 25/H
HM = 25 : 35
= 0,714 cm
3. Vertical Multiplier (VM)
VM = 1 0,003 [V - 69]
= 1 0,003 [25- 69]
= 1 0,003 (44)
= 0,868 cm
4. Distance Multiplier (DM)
DM = 0,82+ ( 4,5/D )
= 0,82+ ( 4,5/10 )
= 1,27 cm
5. Asymmetric Multiplier (AM)
AM = 1 (0,0032 x A)
= 1 (0,0032 x 0)
=1
6. Frequency Multiplier (FM)
f = 60/15 = 4
Dari tabel dapat diketahui FM = 0,84
7. Coupling Multiplier (CM)
Kriteria Kopling dikatakan poor karena semen tidak mempunyai pegangan
sehingga tangan tidak dapat meraihnya dengan mudah, maka dari tabel dapat
diketahui nilai CM = 1
8. RWL
RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM
= 23 x 0,714 x 0,868 x 1,27 x 1 x 0,84 x 1
= 15,20kg

9. Lifting Index

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 157


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Beban / Load Weight (L) = 10 kg
LI = L/ RWL
= 10 / 15,20
= 0,657
LI = 0,657 LI < 1
Lifting Index pada pengangkatan awal adalah sebesar 0,657; sehingga
termasuk kategori Low Stressful Task yaitu pekerja relatif aman. Pada
Biomekanika I ini, kami memberikan perubahan pada berat beban yang dibawa
oleh pekerja yaitu dari satu karung semen seberat 50kg menjadi 1/5 karung
semen atau seberat 10kg. Hal ini kami lakukan guna menghindari terjadinya
resiko cedera pinggang.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 158


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum analisis postur kerja dan biomekanika ini antara
lain:
1. Untuk mengetahui postur kerja yang baik dapat dianalisis dengan
menggunakan metode Rapid Upper Limb Assessment (RULA), Rapid Entire
Body Assessment (REBA) dan Ovako Work Posture Analysis System (OWAS).
2. Untuk menganalisis ukuran beban yang diangkat dapat digunakan metode
Recommended Weight Limit (RWL).
3. Berdasarkan data analisis postur kerja dapat disimpulkan bahwa perlu
diadakan perbaikan postur kerja karena diperoleh final score pada RULA dan
REBA yang dapat mengakibatkan cedera otot lengan dan pinggang.
Sedangkan pada OWAS tidak perlu dilakukan perbaikan karena final score
sudah menunjukkan postur tubuh yang baik dan tidak menimbulkan resiko
cedera bagi pekerja.
4. Berdasarkan analisis biomekanika I dapat disimpulkan bahwa pada posisi
origin dan destination perlu perbaikan, karena diperoleh nilai LI yang lebih
dari 3 yaitu 3,42 dan 3,28 sehingga dapat menimbulkan cidera.
5. Berdasarkan analisis Biomekanika II : Hand Grip Strength dapat disimpulkan
bahwa pada posisi kedua yaitu sikap duduk dengan tangan terulur ke depan
lebih memiliki kekuatan yang lebih besar daripada posisi pertama, kedua, dan
ketiga terutama pada diameter 2.
6. Pada analisis Biomekanika II : Pull Back Strength dapat disimpulkan bahwa
pada saat posisi berdiri tegak adalah pada saat seseorang menghasilkan
kekuatan terbesar.
7. Berdasarkan kedua metode pengukuran Biomekanika II dapat disimpulkan
bahwa jenis kelamin dan tinggi maupun berat badan mempengaruhi
kekuatan tarik dan genggam.
8. Berdasarkan perbaikan ergonomi yang dilakukan pada perbaikan postur kerja
dengan RULA maka diperoleh final score yang menunjukkan kategori 2, yaitu
postur kerja yang menunjukkan bahwa penyelidikan lebih lanjut dibutuhkan
dan mungkin saja perubahan diperlukan. Sedangkan pada perbaikan postur
kerja dengan REBA maka diperoleh final score yang menunjukkan kategori 2
yaitu postur tubuh dengan resiko kecil, perubahan mungkin diperlukan. Nilai
ini lebih baik dibandingkan dengan analisis sebelumnya, sehingga dapat
meminimalkan tingkat terjadinya cedera.
9. Berdasarkan perbaikan ergonomi yang dilakukan pada analisis biomekanika I
dapat disimpulkan bahwa pada posisi origin dan destination sudah
menunjukkan kondisi yang baik, karena diperoleh nilai LI yang kurang dari 1

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 159


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
yaitu 0,68 dan 0,65 sehingga termasuk kategori Low Stressful Task yaitu
pekerja relatif aman. Kami melakukan perbaikan dengan memberikan
perubahan pada berat beban yang dibawa oleh pekerja yaitu dari satu karung
semen seberat 50kg menjadi 1/5 karung semen atau seberat 10kg.
5.2 Saran
Saran pada praktikum analisis postur kerja dan biomekanika ini antara lain:
1. Dalam penggunaan Digital Hand Grip Dynamometer dan Digital Pull Back
Dynamometer sebaiknya sudah mempelajari cara menggunakannya.
2. Pada analisis RULA, REBA, dan OWAS sebaiknya membaca worksheet terlebih
dulu sehingga dapat mengetahui dan mengambil gambar pada posisi yang
tepat dan dapat menganalisis dengan mudah.
3. Sebelum pengambilan data dengan video, sebaiknya praktikan lebih
memahami lagi analisis RULA, REBA dan OWAS serta Biomekanika I sehingga
tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan video.

LABORATORIUM PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI 160


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA