Anda di halaman 1dari 12

Kelompok Hizbut Tahrir dan Khilafah, Sorotan Ilmiah Tentang Selubung Sesat

Suatu Gerakan
Selasa, 05-September-2006, Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi Lc.

Apa Itu Hizbut Tahrir?


Hizbut Tahrir (untuk selanjutnya disebut HT) telah memproklamirkan diri
sebagai kelompok politik (parpol), bukan kelompok yang berdasarkan
kerohanian semata, bukan lembaga ilmiah, bukan lembaga pendidikan
(akademis) dan bukan pula lembaga sosial (Mengenal HT, hal. 1). Atas dasar
itulah, maka seluruh aktivitas yang dilakukan HT bersifat politik, baik dalam
mendidik dan membina umat, dalam aspek pergolakan pemikiran dan dalam
perjuangan politik. (Mengenal HT, hal. 16)
Adapun aktivitas dakwah kepada tauhid dan akhlak mulia, sangatlah mereka
abaikan. Bahkan dengan terang-terangan mereka nyatakan: Demikian pula,
dakwah kepada akhlak mulia tidak dapat menghasilkan kebangkitan,
dakwah kepada akhlak mulia bukan dakwah (yang dapat) menyelesaikan
problematika utama kaum muslimin, yaitu menegakkan sistem
khilafah.(Strategi Dakwah HT, hal. 40-41). Padahal dakwah kepada tauhid
dan akhlak mulia merupakan misi utama para nabi dan rasul.
Allah k menegaskan:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): Beribadahlah hanya kepada Allah dan jauhilah segala
sesembahan selain-Nya. (An-Nahl: 36)
Rasulullah n juga menegaskan:

Aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak yang bagus. (HR. Al-
Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Ahmad, dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh
Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 45)

Tujuan dan Latar Belakang


Mewujudkan kembali Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi, merupakan
tujuan utama yang melatarbelakangi berdirinya HT dan segala aktivitasnya.
Yang dimaksud khilafah adalah kepemimpinan umat dalam suatu Daulah
Islam yang universal di muka bumi ini, dengan dipimpin seorang pemimpin
tunggal (khalifah) yang dibaiat oleh umat. (Lihat Mengenal HT, hal. 2, 54 )
Para pembaca, tahukah anda apa yang melandasi HT untuk mewujudkan
Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi? Landasannya adalah bahwa
semua negeri kaum muslimin dewasa ini tanpa kecuali termasuk kategori
Darul Kufur (negeri kafir), sekalipun penduduknya kaum muslimin. Karena
dalam kamus HT, yang dimaksud Darul Islam adalah daerah yang di
dalamnya diterapkan sistem hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan
termasuk dalam urusan pemerintahan, dan keamanannya berada di tangan
kaum muslimin, sekalipun mayoritas penduduknya bukan muslim.
Sedangkan Darul Kufur adalah daerah yang di dalamnya diterapkan sistem
hukum kufur dalam seluruh aspek kehidupan, atau keamanannya bukan di
tangan kaum muslimin, sekalipun seluruh penduduknya adalah muslim.
(Lihat Mengenal HT, hal. 79)
Padahal tolok ukur suatu negeri adalah keadaan penduduknya, bukan sistem
hukum yang diterapkan dan bukan pula sistem keamanan yang
mendominasi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: Keberadaan suatu
bumi (negeri) sebagai Darul Kufur, Darul Iman, atau Darul Fasiqin, bukanlah
sifat yang kontinu (terus-menerus/langgeng) bagi negeri tersebut, namun hal
itu sesuai dengan keadaan penduduknya. Setiap negeri yang penduduknya
adalah orang-orang mukmin lagi bertakwa maka ketika itu ia sebagai negeri
wali-wali Allah. Setiap negeri yang penduduknya orang-orang kafir maka
ketika itu ia sebagai Darul Kufur, dan setiap negeri yang penduduknya orang-
orang fasiq maka ketika itu ia sebagai Darul Fusuq. Jika penduduknya tidak
seperti yang kami sebutkan dan berganti dengan selain mereka, maka ia
disesuaikan dengan keadaan penduduknya tersebut. (Majmu Fatawa,
18/282)
Para pembaca, mengapa menurut HT harus satu khilafah? Jawabannya
adalah, karena seluruh sistem pemerintahan yang ada dewasa ini tidak sah
dan bukan sistem Islam. Baik itu sistem kerajaan, republik presidentil
(dipimpin presiden) ataupun republik parlementer (dipimpin perdana
menteri). Sehingga merupakan suatu kewajiban menjadikan Daulah Islam
hanya satu negara (khilafah), bukan negara serikat yang terdiri dari banyak
negara bagian. (Lihat Mengenal HT, hal. 49-55)
Ahlus Sunnah Wal Jamaah berkeyakinan bahwa pada asalnya Daulah Islam
hanya satu negara (khilafah) dan satu khalifah. Namun, jika tidak
memungkinkan maka tidak mengapa berbilangnya kekuasaan dan pimpinan.

Al-Allamah Ibnul Azraq Al-Maliki, Qadhi Al-Quds (di masanya) berkata:


Sesungguhnya persyaratan bahwa kaum muslimin (di dunia ini) harus
dipimpin oleh seorang pemimpin semata, bukanlah suatu keharusan bila
memang tidak memungkinkan. (Muamalatul Hukkam, hal. 37)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: Para imam dari setiap
madzhab bersepakat bahwa seseorang yang berhasil menguasai sebuah
negeri atau beberapa negeri maka posisinya seperti imam (khalifah) dalam
segala hal. Kalaulah tidak demikian maka (urusan) dunia ini tidak akan
tegak, karena kaum muslimin sejak kurun waktu yang lama sebelum Al-
Imam Ahmad sampai hari ini, tidak berada di bawah kepemimpinan seorang
pemimpin semata. (Muamalatul Hukkam, hal. 34)
Al-Imam Asy-Syaukani berkata: Adapun setelah tersebarnya Islam dan
semakin luas wilayahnya serta perbatasan-perbatasannya berjauhan, maka
dimaklumilah bahwa kekuasaan di masing-masing daerah itu di bawah
seorang imam atau penguasa yang menguasainya, demikian pula halnya
daerah yang lain. Perintah dan larangan sebagian penguasapun tidak
berlaku pada daerah kekuasaan penguasa yang lainnya. Oleh karenanya
(dalam kondisi seperti itu -pen) tidak mengapa berbilangnya pimpinan dan
penguasa bagi kaum muslimin (di daerah kekuasaan masing-masing -pen).
Dan wajib bagi penduduk negeri yang terlaksana padanya perintah dan
larangan (aturan -pen) pimpinan tersebut untuk menaatinya. (As-Sailul
Jarrar, 4/512)
Demikian pula yang dijelaskan Al-Imam Ash-Shanani, sebagaimana dalam
Subulus Salam (3/347), cet. Darul Hadits.

Kapan HT Didirikan?
Kelompok sempalan ini didirikan di kota Al-Quds (Yerusalem) pada tahun
1372 H (1953 M) oleh seorang alumnus Universitas Al-Azhar Kairo (Mesir)
yang berakidah Maturidiyyah1 dalam masalah asma` dan sifat Allah, dan
berpandangan Mutazilah dalam sekian permasalahan agama. Dia adalah
Taqiyuddin An-Nabhani, warga Palestina yang dilahirkan di Ijzim Qadha Haifa
pada tahun 1909. Markas tertua mereka berada di Yordania, Syiria dan
Lebanon (Lihat Mengenal HT, hal. 22, Al-Mausuah Al-Muyassarah, hal. 135,
dan Membongkar Selubung Hizbut Tahrir (1) hal. 2, Asy-Syaikh Abdurrahman
Ad-Dimasyqi). Bila demikian akidah dan pandangan keagamaan pendirinya,
lalu bagaimana keadaan HT itu sendiri?! Wallahul mustaan.

Landasan Berpikir Hizbut Tahrir


Landasan berpikir HT adalah Al Quran dan As Sunnah, namun dengan
pemahaman kelompok sesat Mutazilah bukan dengan pemahaman
Rasulullah n dan para shahabatnya. Mengedepankan akal dalam memahami
agama dan menolak hadits ahad dalam masalah akidah merupakan ciri khas
keagamaan mereka. Oleh karena itu tidaklah berlebihan bila ahli hadits
zaman ini, Asy-Syaikh Al-Albani t, menjuluki mereka dengan Al-Mutazilah Al-
Judud (Mutazilah Gaya Baru).
Padahal jauh-jauh hari, shahabat Ali bin Abi Thalib z telah berkata: Kalaulah
agama ini tolok ukurnya adalah akal, niscaya bagian bawah khuf lebih pantas
untuk diusap daripada bagian atasnya.2 (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya
no. 162, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)
Demikian pula menolak hadits ahad dalam masalah akidah, berarti telah
menolak sekian banyak akidah Islam yang telah ditetapkan oleh ulama kaum
muslimin. Di antaranya adalah: Keistimewaan Nabi Muhammad n atas para
nabi, syafaat Rasulullah n untuk umat manusia dan untuk para pelaku dosa
besar dari umatnya di hari kiamat, adanya siksa kubur, adanya jembatan
(ash-shirath), telaga dan timbangan amal di hari kiamat, munculnya Dajjal,
munculnya Al-Imam Mahdi, turunnya Nabi Isa q di akhir zaman, dan lain
sebagainya.
Adapun dalam masalah fiqih, akal dan rasiolah yang menjadi landasan. Maka
dari itu HT mempunyai sekian banyak fatwa nyeleneh. Di antaranya adalah:
boleh mencium wanita non muslim, boleh melihat gambar porno, boleh
berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, boleh bagi wanita
menjadi anggota dewan syura mereka, boleh mengeluarkan jizyah (upeti)
untuk negeri kafir, dan lain sebagainya. (Al-Mausuah Al-Muyassarah, hal.
139-140)

Langkah Operasional untuk Meraih Khilafah


Bagi HT, khilafah adalah segala-galanya. Untuk meraih khilafah tersebut, HT
menetapkan tiga langkah operasional berikut ini:
1. Mendirikan Partai Politik
Dengan merujuk Surat Ali Imran ayat 104, HT berkeyakinan wajibnya
mendirikan partai politik. Untuk mendirikannya maka harus ditempuh
tahapan pembinaan dan pengkaderan (Marhalah At-Tatsqif) (Lihat Mengenal
HT hal. 3). Pada tahapan ini perhatian HT tidaklah dipusatkan kepada
pembinaan tauhid dan akhlak mulia. Akan tetapi mereka memusatkannya
kepada pembinaan kerangka Hizb (partai), memperbanyak pendukung dan
pengikut, serta membina para pengikutnya dalam halaqah-halaqah dengan
tsaqafah (materi pembinaan) Hizb secara intensif, hingga akhirnya berhasil
membentuk partai. (Lihat Mengenal HT hal. 22, 23)
Adapun pendalilan mereka dengan Surat Ali Imran ayat 104 tentang
wajibnya mendirikan partai politik, maka merupakan pendalilan yang jauh
dari kebenaran. Adakah di antara para shahabat Rasulullah n, para tabiin,
para tabiut tabiin dan para imam setelah mereka yang berpendapat
demikian?! Kalaulah itu benar, pasti mereka telah mengatakannya dan saling
berlomba untuk mendirikan parpol! Namun kenyataannya mereka tidak
seperti itu. Apakah HT lebih mengerti tentang ayat tersebut dari mereka?!
Cukup menunjukkan batilnya pendalilan ini adalah bahwa parpol terbangun
di atas asas demokrasi, yang amat bertolak belakang dengan Islam.
Bagaimana ayat ini dipakai untuk melegitimasi sesuatu yang bertolak
belakang dengan makna yang dikandung ayat? Wallahu alam.
2. Berinteraksi dengan Umat (Masyarakat)
Berinteraksi dengan umat (Tafaul Maal Ummah) merupakan tahapan yang
harus ditempuh setelah berdirinya partai politik dan berhasil dalam tahapan
pembinaan dan pengkaderan. Pada tahapan ini, sasaran interaksinya ada
empat:
- Pertama: Pengikut Hizb, dengan mengadakan pembinaan intensif agar
mampu mengemban dakwah, mengarungi medan kehidupan dengan
pergolakan pemikiran dan perjuangan politik (Lihat Mengenal HT, hal. 24).
Pembinaan intensif di sini tidak lain adalah doktrin ashabiyyah (fanatisme)
dan loyalitas terhadap HT.
-Kedua: Masyarakat, dengan mengadakan pembinaan kolektif/umum yang
disampaikan kepada umat Islam secara umum, berupa ide-ide dan hukum-
hukum Islam yang diadopsi oleh Hizb. Dan menyerang sekuat-kuatnya
seluruh bentuk interaksi antar anggota masyarakat, tak luput pula interaksi
antara masyarakat dengan penguasanya. Taqiyuddin An-Nabhani berkata:
Oleh karena itu, menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung
antar sesama anggota masyarakat dalam rangka mempengaruhi masyarakat
tidaklah cukup, kecuali dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang
berlangsung antara penguasa dengan rakyatnya dan harus digoyang dengan
kekuatan penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh
keberanian. (Lihat Mengenal HT, hal. 24, Terjun ke Masyarakat, hal. 7)
Betapa ironisnya, Rasulullah n memerintahkan kita agar menjadi masyarakat
yang bersaudara dan taat kepada penguasa, sementara HT justru
sebaliknya. Mereka memecah belah umat dan memporakporandakan
kekuatannya. Lebih parah lagi, bila hal itu dijadikan tolok ukur keberhasilan
suatu gerakan sebagaimana yang dinyatakan pendiri mereka: Keberhasilan
gerakan diukur dengan kemampuannya untuk membangkitkan rasa
ketidakpuasan (kemarahan) rakyat, dan kemampuannya untuk mendorong
mereka menampakkan kemarahannya itu setiap kali mereka melihat
penguasa atau rezim yang ada menyinggung ideologi, atau mempermainkan
ideologi itu sesuai dengan kepentingan dan hawa nafsu penguasa.
(Pembentukan Partai Politik Islam, hal. 35-36)
- Ketiga: Negara-negara kafir imperialis yang menguasai dan mendominasi
negeri-negeri Islam, dengan berjuang menghadapi segala bentuk makar
mereka (Lihat Mengenal HT, hal. 25).
Demikianlah yang mereka munculkan. Namun kenyataannya, di dalam upaya
penggulingan para penguasa kaum muslimin, tak segan-segan mereka
meminta bantuan kepada orang-orang kafir dan meminta perlindungan dari
negara-negara kafir. (Lihat Membongkar Selubung Hizbut Tahrir (1) hal. 5)
- Keempat: Para penguasa di negeri-negeri Arab dan negeri-negeri Islam
lainnya, dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung
antara penguasa dengan rakyatnya dan harus digoyang dengan kekuatan
penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh keberanian.
Menentang mereka, mengungkapkan pengkhianatan, dan persekongkolan
mereka terhadap umat, melancarkan kritik, kontrol, dan koreksi terhadap
mereka serta berusaha menggantinya apabila hak-hak umat dilanggar atau
tidak menjalankan kewajibannya terhadap umat, yaitu bila melalaikan salah
satu urusan umat, atau mereka menyalahi hukum-hukum islam. (Terjun Ke
Masyarakat, hal. 7, Mengenal HT, hal. 16,17).
Para pembaca, inilah hakikat manhaj Khawarij yang diperingatkan Rasulullah
n. Tidakkah diketahui bahwa Rasulullah n menjuluki mereka dengan
Sejahat-jahat makhluk dan Anjing-anjing penduduk neraka! Semakin
parah lagi di saat mereka tambah berkomentar: Bahkan inilah bagian
terpenting dalam aktivitas amar maruf nahi munkar. (Mengenal HT, hal. 3)
Tidakkah mereka merenungkan sabda Rasulullah n: Akan ada sepeninggalku
para penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan
tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut
orang-orang yang berhati setan dalam bentuk manusia. Hudzaifah berkata:
Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya? Rasulullah bersabda (artinya):
Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut! Walaupun
dicambuk punggungmu dan dirampas hartamu maka (tetap) dengarkanlah
(perintahnya) dan taatilah (dia). (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-
Yaman a, 3/1476, no. 1847)?!
Demikian pula, tidakkah mereka renungkan sabda Rasulullah n:
Barangsiapa ingin menasehati penguasa tentang suatu perkara, maka
janganlah secara terang-terangan. Sampaikanlah kepadanya secara pribadi,
jika ia menerima nasehat tersebut maka itulah yang diharapkan. Namun jika
tidak menerimanya maka berarti ia telah menunaikan kewajibannya
(nasehatnya). (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Ashim, dari shahabat Iyadh bin
Ghunmin z, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah, hadits
no. 1096)?!
Namun sangat disayangkan, HT tetap menunjukkan sikap kepala batunya,
sebagaimana yang mereka nyatakan: Sikap HT dalam menentang para
penguasa adalah menyampaikan pendapatnya secara terang-terangan,
menyerang dan menentang. Tidak dengan cara nifaq (berpura-pura),
menjilat, bermanis muka dengan mereka, simpang siur ataupun berbelok-
belok, dan tidak pula dengan cara mengutamakan jalan yang lebih selamat.
Hizb juga berjuang secara politik tanpa melihat lagi hasil yang akan dicapai
dan tidak terpengaruh oleh kondisi yang ada. (Mengenal HT, hal. 26-27)
Mereka gembar-gemborkan slogan Jihad yang paling utama adalah
mengucapkan kata-kata haq di hadapan penguasa yang zalim. Namun
sayang sekali mereka tidak bisa memahaminya dengan baik. Buktinya,
mereka mencerca para penguasa di mimbar-mimbar dan tulisan-tulisan.
Padahal kandungan kata-kata tersebut adalah menyampaikan nasehat di
hadapan sang penguasa, bukan di mimbar-mimbar dan lain sebagainya.
Tidakkah mereka mengamalkan wasiat Rasulullah n yang diriwayatkan
shahabat Iyadh bin Ghunmin di atas?! Dan jangan terkecoh dengan ucapan
mereka, Meskipun demikian, Hizb telah membatasi aktivitasnya dalam
aspek politik tanpa menempuh cara-cara kekerasan (perjuangan bersenjata)
dalam menentang para penguasa maupun orang-orang yang menghalangi
dakwahnya. (Mengenal HT, hal. 28). Karena mereka pun akan menempuh
cara tersebut pada tahapannya (tahapan akhir).
3. Pengambilalihan Kekuasaan (Istilaamul Hukmi)
Tahapan ini merupakan puncak dan tujuan akhir dari segala aktivitas HT.
Dengan tegasnya Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan: Hanya saja setiap
orang maupun syabab (pemuda) Hizb harus mengetahui, bahwasanya Hizb
bertujuan untuk mengambil alih kekuasaan secara praktis dari tangan
seluruh kelompok yang berkuasa, bukan dari tangan para penguasa yang
ada sekarang saja. Hizb bertujuan untuk mengambil kekuasaan yang ada
dalam negara dengan menyerang seluruh bentuk interaksi penguasa dengan
umat, kemudian dijadikannya kekuasaan tadi sebagai Daulah Islamiyyah.
(Terjun ke Masyarakat, hal. 22-23)
Dalam tahapan ini, ada dua cara yang harus ditempuh:
1) Apabila negara itu termasuk kategori Darul Islam, di mana sistem hukum
Islam ditegakkan, tetapi penguasanya menerapkan hukum-hukum kufur,
maka caranya adalah melawan penguasa tersebut dengan mengangkat
senjata.
2) Apabila negara itu termasuk kategori Darul Kufur, di mana sistem hukum
Islam tidak diterapkan, maka caranya adalah dengan Thalabun Nushrah
(meminta bantuan) kepada mereka yang memiliki kemampuan (kekuatan).
(Lihat Strategi Dakwah HT, hal. 38, 39, 72)
Subhanallah! Lagi-lagi prinsip Khawarij si Sejahat-jahat makhluk dan
Anjing-anjing penduduk neraka yang mereka tempuh. Wahai HT, ambillah
pelajaran dari perkataan Al-Imam Ibnul Qayyim t berikut ini: Bahwasanya
Nabi n mensyariatkan kepada umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran
agar terwujud melalui pengingkaran tersebut suatu kebaikan (maruf) yang
dicintai Allah k dan Rasul-Nya. Jika ingkarul mungkar mengakibatkan
terjadinya kemungkaran yang lebih besar darinya dan lebih dibenci oleh
Allah k dan Rasul-Nya, maka tidak boleh dilakukan walaupun Allah k
membenci kemungkaran tersebut dan pelakunya. Hal ini seperti
pengingkaran terhadap para raja dan penguasa dengan cara memberontak,
sungguh yang demikian itu adalah sumber segala kejahatan dan fitnah
hingga akhir masa Dan barangsiapa merenungkan apa yang terjadi pada
(umat) Islam dalam berbagai fitnah yang besar maupun yang kecil, niscaya
akan melihat bahwa penyebabnya adalah mengabaikan prinsip ini dan tidak
sabar atas kemungkaran, sehingga berusaha untuk menghilangkannya
namun akhirnya justru muncul kemungkaran yang lebih besar darinya.
(Ilamul Muwaqqiin, 3/6)
Mungkin HT berdalih bahwa semua penguasa itu kafir, karena menerapkan
hukum selain hukum Allah. Kita katakan bahwa tidaklah semua yang
berhukum dengan selain hukum Allah itu kafir. Sebagaimana yang dijelaskan
oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t: Barangsiapa berhukum dengan selain
hukum Allah, maka tidak keluar dari empat keadaan:
1. Seseorang yang mengatakan: Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia
lebih utama dari syariat Islam, maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.
2. Seseorang yang mengatakan: Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia
sama/sederajat dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya
dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam, maka dia kafir dengan
kekafiran yang besar.
3. Seseorang yang mengatakan: Aku berhukum dengan hukum ini dan
berhukum dengan syariat Islam lebih utama, akan tetapi boleh-boleh saja
untuk berhukum dengan selain hukum Allah, maka ia kafir dengan kekafiran
yang besar.
4. Seseorang yang mengatakan: Aku berhukum dengan hukum ini, namun
dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah tidak
diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwasanya berhukum dengan syariat
Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan selainnya, tetapi dia
seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini), atau dia kerjakan
karena perintah dari atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran yang kecil,
yang tidak mengeluarkannya dari keislaman, dan teranggap sebagai dosa
besar. (At-Tahdzir Minattasarru Fittakfir, Muhammad Al-Uraini hal. 21-22)
Demikian pula, kalaulah sang penguasa itu terbukti melakukan kekufuran,
maka yang harus ditempuh terlebih dahulu adalah penegakan hujjah dan
nasehat kepadanya, bukan pemberontakan.
Adapun dalih mereka dengan hadits Auf bin Malik z:




:
!

.
:

Lalu dikatakan kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah! Bolehkah kami


memerangi mereka dengan pedang (membe-rontak)? Beliau bersabda:
Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian!
(HR. Muslim, 3/1481, no. 1855)
bahwa mendirikan shalat di tengah-tengah kalian adalah kinayah dari
menegakkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, sehingga menurut
HT walaupun seorang penguasa mendirikan shalat namun dinilai belum
menegakkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, maka dianggap kafir
dan boleh untuk digulingkan! Ini adalah pemahaman sesat dan
menyesatkan.
Para pembaca, tahukah anda dari mana tawil semacam itu? Masih ingatkah
dengan landasan berpikir mereka? Ya, ta`wil itu tidak lain dari akal mereka
semata Bukan dari bimbingan para ulama. Wallahul mustaan.
Akhir kata, demikianlah gambaran ringkas tentang HT dan selubung
sesatnya tentang khilafah. Semoga menjadi titian jalan untuk meraih
petunjuk Ilahi. Amin.
1 Menolak sifat-sifat Allah k dengan ta`wil, kecuali beberapa sifat saja. (ed)
2 Lanjutan riwayat tersebut: Dan sungguh aku telah melihat Nabi n
mengusap pungggung khufnya. (ed)

http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=287