Anda di halaman 1dari 14

TUGAS MAKALAH ENDOKRIN

Melanocyt Stimulating Hormone (MSH)

Oleh :

Carles Tambunan

(163112620120027)

JURUSAN S1 BIOLOGI MEDIK

FAKULTAS BIOLOGI

UNIVERSITAS NASIONAL JAKARTA

2016
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam hal ini sistem endokrin merupakan suatu sistem yang dapat menjaga
berlangsungnnya integrasi kegiatan organ tubuh. Hormon yang dihasilkan oleh sistem
endokrin ini memegang peranan yang sangat penting. Di dalam tubuh manusia terdapat
tujuh kelenjar endokrin yang penting, yaitu hipotalamus, hipofisis, tiroid, paratiroid,
kelenjar andrenal, pankreas, dan kelenjar gonad (ovarium atau testis).

Kelenjar Hipofisis (pituitary) disebut juga master of gland atau kelenjar pengendali
karena menghasilkan bermacam-macam hormon yang mengatur kegiatan kelenjar
lainnya. Kelenjar ini berbentuk bulat dan berukuran kecil, dengan diameter 1,3 cm.
Pembebasan hormon Adenohipofisis dikontrol oleh hipotalamus. Sel sel neurosekresi di
hipotalamus mensekresi hormone pembebas dan hormone penghambat ke dalam jaringan
kapiler yang terletak di batang pituitary.

Darah yang mengandung hormone tersebut mengalir melalui pembuluh pembuluh


portal pendek kedalam jaringan kapiler kedua di dalam pituitary anterior. Sebagai respon
terhadap hormone pembebas spesifik, sel sel endokrin di pituitary anterior
mensekresikan hormone tertentu ke dalam sirkulasi. Hipofisis dibagi menjadi hipofisis
bagian anterior, bagian tengah (pars intermedia), dan bagian posterior. Kelenjar ini
menghasilkan hormon perangsang melanosit atau melanosit stimulating hormone (MSH).
MSH merupakan hormone yang jarang diketahui oleh banyak orang dan alur kerja masih
belum diketahui begitu jelas. Oleh karena itu penulis akan membahas tentang hormone
MSH yang dibentuk di hipofisis intermedia.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Pars intermedus merupakan bagian tengah dari kelenjar hipofisis yang bersifat unik
karena bagian ini akan mengalami kemunduran ( rudimenter ) selama masa pertumbuhan
dan belum secara jelas diketahui fungsinya. Pars intermedus mengeluarkan hormon
melanocyte stimulating hormone (MSH) atau melanotropin atau intermedian. dalam
kelenjar pituitari. MSH dihasilkan melalui pembelahan protein prokursor yang disebut
Proopimelanocortin (POMC).

Hasil pembelahan ini menghasilkan tiga fragmen, salah satunya yaitu hormon
adrenokortikotropik (ACTH). dikenal secara kolektif sebagai MSH, juga dikenal sebagai
melanotropins atau intermedins, adalah golongan dari hormon peptida dan neuropeptida
yang terdiri dari -melanosit-stimulating hormone (-MSH), -melanosit-stimulating
hormone (-MSH ), dan -melanosit-stimulating hormone (-MSH) yang diproduksi oleh
sel-sel di lobus menengah dari kelenjar pituitary. Selain itu, Sekresi MSH juga dirangsang
oleh faktor pengatur yang disebut faktor perangsang pelepasan hormon melanosit dan
dihambat oleh faktor inhibisi hormon melanosit (MIF).

Pada akhir bulan kedua kehamilan terjadi peningkatan kadar MSH yang signifikan
karena pembesaran pada lobus hipofisis (Cunningham, 2006). Melanocyte stimulating
hormone (MSH) akan menyebabkan melanosit yang banyak terdapat di antara epidermis
dan dermis kulit membentuk pigmen hitam melanin dan menyebarkannya di sel-sel
epidermis.

Peningkatan MSH akan menyebabkan kulit lebih gelap pada manusia juga. MSH
meningkatkan pada manusia selama kehamilan . Ini, bersama dengan peningkatan
estrogen menyebabkan peningkatan pigmentasi pada wanita hamil. Penyakit Cushing
karena kelebihan hormon adrenokortikotropik (ACTH) dapat juga menyebabkan
hiperpigmentasi, seperti acanthosis nigricans di ketiak . Kebanyakan orang dengan utama
penyakit Addison telah gelap ( hiperpigmentasi ) dari kulit, termasuk daerah yang tidak
terkena sinar matahari; situs karakteristik yang lipatan kulit (misalnya tangan), puting, dan
bagian dalam pipi (mukosa bukal), bekas luka baru menjadi hiperpigmentasi, sedangkan
yang lebih tua tidak gelap. Hal ini terjadi karena MSH dan ACTH berbagi molekul yang
sama prekursor, proopiomelanocortin (POMC).

MSH terdiri dari sub unit alfa dan sub untui beta, beta MHS lebih menentukan
khasiat hormon tersebut. Pada manusia, pars intermedus sangat rudimeter sehingga pada
orang dewasa tidak ada bukti bahwa MSH dihasilkan oleh bagian ini. Beta MSH memiliki
struktur kimia yang mirip dengan ACTH (adrenocortico tropic hormon), sehingga ACTH
memiliki khasiat seperti MSH.

2.2 Fungsi

Melanocyte Stimulating Hormon (MSH), merangsang melanosit, yaitu sel-sel yang


mengandung pigmen. Hormon melanotropin berfungsi mempengaruhi warna kulit
individu. Selain itu hormone MSH dapat menyebabkan menggelapnya warna puting susu
dan daerah sekitarnya. Pigmentasi kecoklatan pada wajah, pada bagian dalam dan garis
dari pusar ke baeah (linea nigra). Pada manusia, MSH dihasilkan secara lokal ketika kulit
terpapar sinar matahari. Pada manusia yang sedang hamil akan mengalami peningkatan
MSH yang membuat kulit mereka lebih gelap. Hal ini dipengaruhi oleh adanya
peningkatan estrogen (peningkatan pigmentasi pada wanita hamil). Selain itu kelebihan
ACTH juga dapat mengakibatkan hiperpigmentasi, seperti pada ketiak, lipatan kulit,
putting, dan bagian dalam pipi (mukosa bukal). Hal ini terjadi karena MSH dan ACTH
berbagi molekul perkursor yang sama, Proopiomelanocortin (POMC).

Fungsi MSH adalah bersamaan dengan Adrenocorticotropic hormon (ACTH)


terlibat dalam pembentukan kulit serta mengontrol kadar melanin pada kulit, sedangkan
melatonin berfungsi untuk mengaktifkan melanosit. Melanin yang bertanggung jawab
untuk memproduksi pigmen warna di beberapa bagian tubuh seperti mata, kulit, dan
rambut. Melanin dihasilkan oleh melanosit pada lapisan bawah epidermis. Melanosit di
bagian epidermis terdalam juga berfungsi menutup luka dan mengembalikan integritas
kulit sel sel, serta memproduksi melanin, pigmen gelap kulit. Oleh sebab itu, umumnya
orang berkulit lebih gelap mempunyai lebih banyak melanosit aktif. Melanin yang
dihasilkan merupakan pigmen cokelat, hitam atau kuning-cokelat.Tindakan MSH di otak
memiliki efek pada nafsu makan dan gairah seksual.

Berbagai tingkat MSH bukanlah penyebab utama dari variasi ras di warna kulit .
Namun, dalam banyak orang berkepala merah, tidak ada variasi dalam hormon mereka
reseptor , menyebabkan mereka tidak menanggapi MSH dalam darah. Melanin bekerja
tanpa adanya sinar matahari oleh karena itu hanya dapat bekerja secara optimal malam
hari. Sehingga saat tidur, kita dianjurkan untuk mematikan lampu supaya saat pagi hari
lebih terlihat segar dan tidak gampang stress.

Melanin Stimulating Hormon (MSH) merangsang melanogenesis melalui interaksi


dengan reseptor membran untuk menstimulasi aktivitas adenyl cyclase (c-AMP) dan juga
meningkatkan pembentukan tirosinase, melanin dan penyebaran melanin. Hipermelanosis
yang difus berhubungan dengan insufisiensi korteks adrenal. Peningkatan MSH dan
ACTH yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitari akan terjadi bila kortisol mengalami
defisiensi sebagai akibat dari kegagalan mekanisme inhibisi umpan balik

Dalam beberapa hewan (seperti cakar-toed katak Xenopus laevis ) produksi MSH
meningkat ketika hewan tersebut di lokasi yang gelap. Hal ini menyebabkan pigmen akan
tersebar di sel-sel pigmen di kulit katak, membuatnya menjadi lebih gelap, dan lebih sulit
untuk predator untuk spot. Sel-sel pigmen yang disebut melanophores dan karena itu,
dalam amfibi, hormon yang sering disebut hormon melanophore-merangsang.

Pada beberapa hewan (misal pada katak) produksi MSH meningkat ketika hewan
tersebut berada dalam wilayah yang kurang cahaya (gelap), hal ini menyebabkan pigmen
yang tersebar di sel-sel pigmen dikulit katak yang mengakibatkan menjadi lebih gelap.
Sel-sel pigmen tersebut disebut melanophores, sedangkan dalam ampibi hormon yang ada
dalam ampibi disebut hormone melanophores.

2.3 Struktur kimiawi

Bentuk-bentuk yang berbeda dari MSH termasuk kelompok yang disebut


melanocortins . Kelompok ini mencakup ACTH, -MSH, -MSH, dan -MSH; peptida ini
semua produk pembelahan prekursor besar peptida disebut proopiomelanocortin (POMC).
a-MSH adalah melanocortin paling penting untuk pigmentasi.

Bentuk-bentuk yang berbeda dari MSH memiliki berikut asam amino urutan :

a-MSH: Ac-Ser-Tyr-Ser-Met-Glu-Nya-Phe-Arg-Trp-Gly-Lys-Pro-Val
-MSH Ala-Glu-Lys-Lys-Asp-Glu-Gly-Pro-Tyr-Arg-Met-Glu-Nya-Phe-Arg-
(manusia): Trp-Gly-Ser-Pro-Pro-Lys-Asp
beta-MSH Asp-Glu-Gly-Pro-Tyr-Lys-Met-Glu-Nya-Phe-Arg-Trp-Gly-Ser-Pro-Pro-
(porcine): Lys-asp
gamma-MSH: Tyr-Val-Met-Gly-Nya-Phe-Arg-Trp-Asp-Arg-Phe-Gly

2.4 Mekanisme

Basofil lebih besar dibanding asidofil, punya granula tercat PAS positif. Salah satu
tercat secara imunokimia dengan tirotropin dan disebut tirotrop. Yang lain tercat dengan
FSH (follicle stimulating hormone) dan LH (luteinizing hormone). Mereka disebut
gonadotrop. Basofil yang terbanyak secara imunositokimia tercat dengan
proopiomelanokortin (POMC) yang merupakan prekursor dan adrenokortikotropin
(ACTH), melanocyte-stimulating hormone -endorfin, dan -lipotropik hormon (-LPH).
Sel-sel ini disebut sel POMC.
Molekul prekursor umum POMC, dipecah menjadi ACTH dan -LPH yang berberat
molekul tinggi. ACTH yang berberat molekul tinggi kemudian dipecah suatu N-terminal
dan ACTH normal. Dalam pars intermedia, ACTH normal dipecah menjadi -MSH dan
Corticotropin-like peptide (ClIP). Bagian -LPH menghasilkan -LPH dan -endorfin di
pars intermedia.

Masuk dalam kelompok yang disebut dengan melanocortins. Kelompok ini meliputi
beberapa senyawa lain, yaitu ACTH (Adrenocorticotropic Hormone), alpha melanosit
stimulating hormone (a MSH), beta melanosit stimulating hormone (b MSH), gama
melanosit stimulating hormone (g MSH). Semua peptide tersebut merupakan hasil produk
dari pembelahan precursor peptide besar yang disebut dengan POMC
(proopiomelanocortin). Untuk senyawa alpha melanosit stimulating hormone adalah
melanocortin yang paling penting untuk pigmentasi.

2.5 Dampak/Patofisiologi

MSH merupakan salah satu faktor hormon yang menyebabkan terjadinya Melasma.
Hormon yang dikenal dapat meningkatkan melanogenesis antara lain : Melanin Stimulating
Hormone (MSH), ACTH, lipotropin, estrogen, dan progesteron.

Melanin Stimulating Hormon (MSH) merangsang melanogenesis melalui interaksi


dengan reseptor membran untuk menstimulasi aktivitas adenyl cyclase (c-AMP) dan juga
meningkatkan pembentukan tirosinase, melanin dan penyebaran melanin. Hipermelanosis
yang difus berhubungan dengan insufisiensi korteks adrenal. Peningkatan MSH dan ACTH
yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitari akan terjadi bila kortisol mengalami defisiensi sebagai
akibat dari kegagalan mekanisme inhibisi umpan balik. MSH (Melanocyte Stimulating
Hormon), dan ACTH ( Adrenocorticotropic hormon ) merupakan faktor penting timbulnya
melasma, meskipun kadarnya tak selalu meninggi pada penderita melasma.
Gambar 2. Mekanisme hiperpigmentasi oleh radiasi UV

Gambar diatas menjelaskan bagaimana radiasi sinar UV dapat memicu terjadinya


ROS. ROS memicu keluarnya Nitrite Oxide (NO), Protein Kinase, Melanocyte
Stimulating Hormone (MSH) yang dapat merangsang terjadinya proses
melanogenesis.Melanogenesis dapat memicu terbentuknya melanin oleh melanosit.

Radiasi sinar UV menyebabkan pigmentasi oleh beberapa cara yaitu meningkatkan


kerja enzim melanogenik, kerusakan DNA yang akan menstimulasi melanogenesis,
meningkatkan transfer melanosom menuju keratinosit dan meningkatkan aktifitas
dendritik sel melanosit (Kindred et al., 2010).

MSH mengandung rangkaian 7 asam amino yang identik dengan gugusan asam amino
4-10 dalam MSH dan ACTH. Sehingga ACTH juga mempunyai banyak aktivitas yang sama
dengan MSH, termasuk menyebabkan hipermelanosis walaupun mekanisme kerja nya belum
jelas.

Berdasarkan usia kehamilan, yaitu trimester ketiga, dimana terjadi peningkatan


kadar estrogen, progesteron, MSH, dan ACTH yang signifikan dan terkait dengan
kejadian melasma. Pada akhir bulan kedua kehamilan terjadi peningkatan kadar MSH
yang signifikan karena pembesaran pada lobus hipofisis (Cunningham, 2006). Melanocyte
stimulating hormone (MSH) akan menyebabkan melanosit yang banyak terdapat di antara
epidermis dan dermis kulit membentuk pigmen hitam melanin dan menyebarkannya di
sel-sel epidermis (Guyton and Hall, 2007).

Hormon lain yang berperan dan kadarnya meninggi pada kehamilan adalah MSH
(Beta Melanocyte Stimulating Hormone). MSH mengandung rangkaian 7 asam amino
yang identik dengan gugusan asam amino 4-10 dalam MSH dan ACTH. Sehingga
ACTH juga mempunyai banyak aktivitas yang sama dengan MSH, termasuk
menyebabkan hipermelanosis.

Gambaran klinis kasus melisma yaitu bercak hipermelanosis yang sering ditemukan,
ditandai sering muncul di daerah terpapar sinar matahari di wajah, terutama ditemukan
pada seseorang dengan tipe kulit fitzpatrick IV, V, VI. Wanita lebih sering terkena
terutama usia produktif. Gambaran klinis berupa bercak ireguler di wajah, berwarna
coklat muda sampai coklat tua dengan batas tegas dan biasanya simetris. Terdapat 3
macam pola distribusi melasma yaitu sentrofasial, (63% : dahi, hidung, dagu, di atas
bibir), malar (21% : hidung dan pipi), dan mandibular (16% : ramus mandibula). Dengan
pemeriksaan lampu Wood melasma diklasifikasikan sebagai tipe epidermal, dermal dan
campuran, tetapi sebagian besar pasien melasma memiliki distribusi melanin di epidermis
bagian basal dan dermis (Lapeere et al., 2008).
Prevalensi melasma lebih banyak pada wanita dan individu dengan tipe kulit IV sampai
VI, terutama pada orang Asia Timur, Asia Tenggara, dan Hispanik, namun juga dapat
mengenai semua ras dan warna kulit (Shweta et al, 2011; Schwartz et al, 2010). Menurut
Prakoeswa (2002), tipe kulit orang Indonesia secara umum termasuk dalam tipe IV-V dalam
klasifikasi Fitzpatricks skin phototype, sehingga berisiko terkena melasma. Pada beberapa
penelitian di dunia, kasus melasma ditemukan pada 50-70% wanita hamil (Ortonne et al,
2009), sering digambarkan sebagai chloasma atau the mask of pregnancy. Menurut Nkwo
(2011), peningkatan usia kehamilan secara signifikan berkaitan dengan peningkatan rasio
prevalensi melasma.

2.6 Pencegahan

1) Meminimalisir paparan sinar UV

Lokasi geografis sering menempatkan pasien dalam risiko untuk terpapar UV saat
kegiatan sehari-hari. Penderita diharuskan menghindari pajanan langsung sinar
ultraviolet terutama antara pukul 09.00-15.00. Menggunakan pakaian dan topi yang
melindungi dari sinar matahari dan menggunakan sunblock yang mengandung SPF ( Sun
protection Factor) 30 atau lebih yang melindungi dari UVA dan UVB saat melakukan
kegiatan di luar yang terpapar sinar matahari. Ulangi pemakaian setiap 2-3 jam.2,6

2) Meminimalisir efek hormonal

Baik pil oral kontrasepsi dan Hormone Replacing Therapy mempunyai peran dalam
perkembangan melasma. Sebagai tambahannya, riwayat medikasi diperlukan untuk
mengidentifikasi substansi-substansi yang memiliki hormone-like activity seperti
suplemen-suplemen antiaging dan krim pharmacy-compounded yang digunakan untuk
mengurangi gejala-gejala dari menopause.

2.7 Pengobatan

Melanogenesis pada kulit manusia dipengaruhi oleh banyak hal dari faktor internal
maupun eksternal. Faktor eksternal yang paling sering terjadi adalah paparan sinar UV,
penuaan dan obat, sedangkan faktor internal adalah faktor hormon dan inflamasi

Pengobatan melasma memiliki respon yang cukup lama dan pada mereka yang
mendapatkan hasil yang baik dari pengobatan, pigmentasi mungkin muncul kembali pada
paparan sinar matahari musim panas dan atau karena faktor hormonal, kontrol yang teratur
serta kerjasama yang baik antara penderita dan dokter yang menanganinya akan mengurangi
nilai kekambuhan

Prinsip pengobatan melasma adalah menghambat melanogenesis, dapat dilakukan


dengan beberapa cara yaitu Mengurangi jumlah sinar UV yang mengenai kulit, Mengurangi
aktivitas enzim tirosinase, Mengurangi aktivitas melanosit seperti hidroquinon - asam azaleat
dan Menggunakan antioksidan reaktif seperti asam askorbat
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Melanosit Stimulating Hormone atau biasa disebut dengan MSH merupakan suatu
hormon kelas peptida yang dihasilkan atau diproduksi oleh hipofisis intermedia dalam
kelenjar pituitari. MSH dihasilkan melalui pembelahan protein prokursor yang disebut
Proopimelanocortin (POMC).

MSH adalah mempengaruhi warna kulit dari setiap individu dengan merangsang
produksi dan pelepasan melanin (melanogonesis) oleh sel-sel melanosit dalam kulit dan
rambut. Sinyal dari MSH yang berada dalam otak akan mempengaruhi peningkatan dan
penurunan nafsu makan dan gairah seksual dari makhluk hidup. Pada manusia yang
sedang hamil akan mengalami peningkatan MSH yang membuat kulit mereka lebih gelap.

Melanocyte Stimulating Hormone (MSH) yang akan mengakibatkan terjadinya


perubahan pada kulit terutama deposit pigmen dan hiperpigmentasi. Salah satunya adalah
striae gravidarum yang merupakan lesi memanjang berwarna merah yang pigmentasinya
menghilang di akhir persalinan. Melasma atau topeng kehamilan karena menimbulkan
pigmentasi kulit muka terutama di sekitar pipi. Melasma berkaitan dengan perubahan
hormonal karena muncul pada sebagian besar ibu pada masa hamil. Bila setelah
persalinan hilang, maka kemungkinan terbesar penyebabnya adalah perubahan hormon
salah satunya adalah hormone Melanocyte Stimulating Hormone (MSH).

3.2 Saran

Saran yang dapat penulis berikan diantaranya adalah perlu ditindak lanjuti dan diteliti
kembali untuk masalah hormone MSH. Bagaimana proses terbentuknya dan apa saja
dampak negative yang ditimbulkan selain penyakit melasma.
DAFTRA PUSTAKA

Abdel Malek ZA, Todorovic A, Koikov LN, McNulty JC, et al. Melanoma prevention
strategy based on using tetra-peptide -MSH analogs that protect human
melanocytes from UV-induced DNA damage and cytotoxicity. (Diunduh tanggal
11 Maret 2017). Available from: URL: http://www.fasebj.org/cgi/reprint /
20/9/1561

Bednarek MA, MacNeil T, Tang R, Fong TM, Cabello A, Maroto M, et al. Analog of -
Melanocyte Stimulating Hormone with High Agonist Potency and Selec-tivity at
Human Melanocortin 1 Receptor 1b: The Role of Trp9 in Molecular Recognition.
(Diunduh tanggal 11 Maret 2017). Available from: URL: http://www3.inter-
science.wiley.com/cgi-

Bermann, K. 2012. Melasma,Chloasma, Mask of Pregnancy, Pregnancy Mask. PubMed


Health., (Diunduh tanggal 11 Maret 2017). Available from: URL:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0001839/

Febrianti T, Sudharmono A, Rata IGAK, Bernadette I. Epidemiologi melasma di poliklinik


departemen ilmu kesehatan kulit dan kelamin RS. Dr. Cipto mangunkusumo
Jakarta tahun 2004. Perdoski [Internet]. 2004 (Diunduh tanggal 11 Maret 2017)..
Tersedia di: perdoski.org/index.php/public/information/mdvi-detail-content/86.

Guyton AC, Hall JE., 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Montemarano AD, Elston DM, editor. Melasma. (Diunduh tanggal 11 Maret 2017).
Tersedia di: emedicine.medscape.com/article/106840-overview.

Lu D, Willard D, Patel IR, Kadwell S, Overton L, Kost T, et al. Agouti Protein is an


Antagonist of the Melanocyte-Stimulating-Hormone receptor. (Diunduh tanggal 11
Maret 2017).]. Available from: URL:
http://www.nature.com/nature/journal/v371/n6500/pdf/371799a0.pdf

Rizqiyana,Annisaa. 2012. Hubungan Antara Kehamilan Trimester Iii Dengan Terjadinya


Melasma Di Rsud Salatiga. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Surakarta. . (Diunduh tanggal 11 Maret 2017).

Yani MS. Hubungan faktor-faktor resiko terhadap kejadian melasma pada pekerja wanita
penyapu jalan di kota Medan tahun 2008 [thesis]. Medan: Universitas Sumatera
Utara; 2008.