Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

BAYI BARU LAHIR


RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

DISUSUN OLEH :

CATUR PRASETYAWAN
SN14007

PROFESI NERS
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2014/2015

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN BAYI BARU LAHIR

A. Definisi Bayi Baru Lahir


Masa neonatal masa sejak lahir sampai dengan 4 minggu (28 hari)
sesudah kelahiran. Bayi adalah anak yang belum lama lahir. Bayi baru lahir
adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat
badan lahir 2.500-4000 gram. Bayi adalah individu baru yang lahir di dunia.
Dalam keadaannya yang terbatas, maka individu baru ini sangatlah
membutuhkan perawatan dari orang lain (Straight, 2006).
Menurut Saifuddin, (2002) Bayi baru lahir adalah bayi yang baru lahir
selama satu jam pertama kelahiran (Saifuddin, 2002).
Bayi baru lahir (neonatus) adalah bayi usia 0 28 hari., selama
periode ini bayi harus menyesuaikan diri dengan lingkungan ekstra uteri. Bayi
harus berupaya agar fungsi-fungsi tubuhnya menjadi efektif sebagai individu
yang unik. Respirasi, pencernaan dan kebutuhan untuk regulasi harus bisa
dilakukan sendiri. Pada masa ini, organ bayi mengalami penyesuaian dengan
keadaan di luar kandungan, ini diperlukan untuk kehidupan selanjutnya
(Manuaba, 2007).
B. Adaptasi Fisiologi Bayi Baru Lahir
Segera setelah bayi baru lahir, BBL harus diadaptasi dari keadaan yang
sangat tergantung menjadi mandiri secara fisiologis. Banyak perubahan yang
dialmi oleh bayi baru lahir yang semula berada dalam lingkungan interna ke
lingkungan eksterna yang dingin dimana segala kebutuhannya memerlukan
orang lain untuk memenuhi kebutuhannya.
Periode adaptasi terhadap kehidupan diluar rahim disebut periode
transisi. Periode ini berlangsung selama 1 buan atau lebih setelah kelahiran
untuk beberapa system tubuh. Transisi yang paling cepat terjadi adalah pada
system pernapasan dan sirkulasi, system termoregulasi, dan dalam
kemampuan mengambil serta menggunakan glukosa.
(Rahayu, 2009).
C. Adaptasi Pernapasan
Selama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas
melalui plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru paru.
1. Perkembangan paru-paru
Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx yang
bercabnga dan kemudian bercabang kembali membentuk struktur
percabangan bronkus proses ini terus berlanjit sampai sekitar usia 8 tahun,
sampai jumlah bronkus dan alveolusnakan sepenuhnya berkembang,
walaupun janin memperlihatkan adanya gerakan napas sepanjang
trimester II dan III. Paru-paru yang tidak matang akan mengurangi
kelangsungan hidup BBL sebelum usia 24 minggu. Hal ini disebabkan
karena keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan sistem kapiler
paru-paru dan tidak tercukupinya jumlah surfaktan.
2. Awal adanya napas
Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi adalah :
a) Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar
rahim yang merangsang pusat pernafasan di otak.
b) Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru -
paru selama persalinan, yang merangsang masuknya udara ke dalam
paru - paru secara mekanis. Interaksi antara system pernapasan,
kardiovaskuler dan susunan saraf pusat menimbulkan pernapasan
yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan
untuk kehidupan.
3. Penimbunan karbondioksida (CO2)
Setelah bayi lahir, kadar CO2 meningkat dalam darah dan akan
merangsang pernafasan. Berurangnya O2 akan mengurangi gerakan
pernafasan janin, tetapi sebaliknya kenaikan CO2 akan menambah
frekuensi dan tingkat gerakan pernapasan janin.
4. Perubahan suhu
Keadaan dingin akan merangsang pernapasan.
(Straight, 2006).
Proses Pernafasan Pertama Paru Pada Bayi Baru Lahir

Proses mekanis (penekanan dari Hentakan Rangsangan


thorak pada saat melalui vagina) balik kimiawi
vena thermal,
Kehilangan mekanikal,
cairan Tekanan negative sensori
Penggerakan
intra thorax
pernafasan pertama
Masuknya udara

Permulaan penurunan tekanan Peningkatan PaO2 alveolus


permukaan alveolus
Pembukaan pembuluh darah paru
Peningkatan volume
pembuluh darah paru-paru
Peningkatan aliran darah ke
dalam paru
Peningkatan sirkulasi limfe

Peningkatan oksigenasi yang


adekuat (Straight, 2006).
D. Adaptasi Kardiovasculer
Setelah lahir darah BBL harus melewati paru untuk mengambil oksigen
dan mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke
jaringan.Untuk membuat sirkulasi yang baik, kehidupan diluar rahim harus
terjadi 2 perubahan besar :
1. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung
2. Perubahan duktus arteriousus antara paru-paru dan aorta.
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh
sistem pembuluh. Oksigen menyebabkan sistem pembuluh mengubah tekanan
dengan cara mengurangi atau meningkatkan resistensinya, sehingga
mengubah aliran darah. Dua peristiwa yang merubah tekanan dalam system
pembuluh darah yaitu :
a. Pada saat tali pusat dipotong resistensi pembuluh sistemik meningkat dan
tekanan atrium kanan menurun, tekanan atrium menurun karena
berkurangnya aliran darah ke atrium kanan tersebut. Hal ini menyebabkan
penurunan volume dan tekanan atrium kanan itu sendiri. Kedua kejadian
ini membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit mengalir ke paru-
paru untuk menjalani proses oksigenasi ulang.
b. Pernafasan pertama menurunkan resistensi pada pembuluh darah paru-
paru dan meningkatkan tekanan pada atrium kanan oksigen pada
pernafasan ini menimbulkan relaksasi dan terbukanya system pembuluh
darah paru. Peningkatan sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan
peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kanan dengan
peningkatan tekanan atrium kanan ini dan penurunan pada atrium kiri,
foramen kanan ini dan penusuran pada atrium kiri, foramen ovali secara
fungsional akan menutup.
Vena umbilikus, duktus venosus dan arteri hipogastrika dari tali pusat
menutup secara fungsional dalam beberapa menit setelah lahir dan setelah tali
pusat diklem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung 2-3 bulan.
Proses Penutupan Foramen Ovale Pada Sistem Kardiovaskuler
(Straight, 2006).
Tali pusat diklem

Lepasnya darah plasenta (turunnya sirkulasi darah)

Tertutupnya ductus Pertama kali Meningkatnya system resistensi


venosus bernafas

Darah ke hati dan


Paru-paru Tekanan dari Perubahan
system portal
berkembang atrium kanan sirkulasi darah
berkurang
dibandingkan
atrium kiri
Meningkatnya
tingkat sirkulasi
Paru-paru oksigen dalam
mengeluarkan sirkulasi
Menurunnya resistensi cairan pulmonary
vaskuler pulmonary

Tertutupnya
Meningkatnya tekanan ductus ateriosus
di atrium kiri

Tertutupnya foramen
ovale
Lingkungan yang
dingin

(Straight, 2006).

E. Perubahan Termoregulasi dan Metabolik


1. Termoregulasi
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga akan
mengalami stress dengan adanya perubahan lingkungan dari dalam rahim
ibu ke lingkungan luar yang suhunya lebih tinggi. Suhu dingin ini
menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit, pada lingkungan yang
dingin , pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha
utama seorang bayi untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya.
Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil penggunaan
lemak coklat untuk produksi panas. Timbunan lemak coklat terdapat di
seluruh tubuh dan mampu meningkatkan panas tubuh sampai 100%.
Untuk membakar lemak coklat, sering bayi harus menggunakan glukosa
guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas.
Lemak coklat tidak dapat diproduksi ulang oleh seorang BBL. Cadangan
lemak coklat ini akan habis dalam waktu singkat dengan adanya stress
dingin. Semakin lama usia kehamilan semakin banyak persediaan lemak
coklat bayi.
Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai mengalami
hipoglikemia, hipoksia dan asidosis.Sehingga upaya pncegahan
kehilangan panas merupakan prioritas utama dan bidan berkewajiban
untuk meminimalkan kehilangan panas pada BBL.
2. Metabolisme
Otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu untuk menjalankan
fungsinya. Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat
lahir seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya
sendiri. Pada setiap bayi baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu
cepat (1 sampai 2 jam).
Koreksi penurunan kadar gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :
a. melalui penggunaan ASI
b. melaui penggunaan cadangan glikogen
c. melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak.
BBL yang tidak mampu mencerna makanan dengan jumlah yang
cukup, akan membuat glukosa dari glikogen (glikogenisasi).Hal ini hanya
terjadi jika bayi mempunyai persediaan glikogen yang cukup.Bayi yang
sehat akan menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen terutama di hati,
selama bulan-bulan terakhir dalam rahim. Bayi yang mengalami
hipotermia, pada saat lahir yang mengakibatkan hipoksia akan
menggunakan cadangan glikogen dalam jam-jam pertama kelahiran.
Keseimbangan glukosa tidak sepenuhnya tercapai dalam 3-4 jam pertama
kelahiran pada bayi cukup bulan. Jika semua persediaan glikogen
digunakan pada jam pertama, maka otak dalam keadaan berisiko. Bayi
yang lahir kurang bulan (prematur), lewat bulan (post matur), bayi yang
mengalami hambatan pertumbuhan dalam rahim dan stres janin merpakan
risiko utama, karena simpanan energi berkurang (digunakan sebelum
lahir).
Gejala hipoglikemi dapat tidak jelas dan tidak khas, meliputi;
kejang-kejang halus, sianosis,, apneu, tangis lemah, letargi, lunglai dan
menolak makanan. Hipoglikemi juga dapat tanpa gejala pada awalnya.
Akibat jangka panjang hipoglikemi adalah kerusakan yang meluas di
seluruh di sel-sel otak.
(Saifudin, 2002).
F. Adaptasi Neurologis
Sistem neurologi pada saat lahir belum matang walaupun fungsi
fisiologinya sudah canggih dan kemampuan perilaku neonatus membuktikan
keutuhan sistem neurologi. Otak hanya 25% dari ukuran orang dewasa dan
myelinisasi dari serabut-serabut saraf belum sempurna. Bayi baru lahir
menampillkan banyak reflex yang primitif. Refleks ini tidak muncul begitu
sistim saraf berkembang. Tremor yang sementara, sering terkejut, dan
kegiatan motor yang tidak terkoordinir dapat diamati. Refleks-refleks
proteksi, menyusui, dan sosial ada dan menimbulkan perilaku neonatus yang
berulang-ulang sangat memberikan kesempatan untuk hidup (Manuaba,
2007).
G. Adaptasi Gastrointestinal
Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan.
Reflek gumoh dan reflek batuk yang matang sudah terbentuk baik pada saat
lair. Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna
makanan (selain susu) masih terbatas. Hubungan antara esofagus bawah dan
lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan gumoh pada bayi
baru lahir dan neonatus, kapasitas lambung masih terbatas kurang dari 30 cc
untuk bayi baru lahir cukup bulan. Kapasitas lambung ini akan bertambah
secara lambat bersamaan dengan tumbuhnya bayi baru lahir. Pengaturan
makanan yang sering oleh bayi sendiri penting contohnya memberi ASI on
demand
(Straight, 2006).
H. Adaptasi Sistem Imun
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga
menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem
imunitas yang matang akan memberikan kekebalan alami maupun yang di
dapat. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahana tubuh yang mencegah
atau meminimalkan infeksi. Berikut beberapa contoh kekebalan alami:
a. perlindungan oleh kulit membran mukosa
b. fungsi saringan saluran napas
c. pembentukan koloni mikroba oleh klit dan usus
d. perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung
Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel yaitu oleh sel darah
yang membantu BBL membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada BBL se-
sel darah ini masih belum matang, artinya BBL tersebut belum mampu
melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien.
Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. BBL dengan
kekebalan pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi
antibodi keseluruhan terhadap antigen asing masih belum dapat dilakukan
sampai awal kehidupa anak. Salah satu tugas utama selama masa bayi dan
balita adalah pembentukan sistem kekebalan tubuh.
Defisiensi kekebalan alami bayi menyebabkan bayi rentan sekali
terjadi infeksi dan reaksi bayi terhadap infeksi masih lemah. Oleh karena itu,
pencegahan terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan
menyusui ASI dini terutama kolostrum) dan deteksi dini serta pengobatan dini
infeksi menjadi sangat penting.
(Straight, 2006).

I. Kebutuhan Nutrisi Bayi Baru Lahir


Bayi yang baru lahir sebenarnya tidak memerlukan banyak macam
makanan yang bernutrisi untuk bayi karena sebenarnya sudah tersedia di
dalam air susu ibu. ASI memang dirancang untuk melengkapi kebutuhan
nutrisi bayi, terutama bayi yang baru lahir, dimana kandungan gizi di dalam
ASI sarat dan sesuai dengan kebutuhan tumbuh dan kembang bayi. Dalam
ASI sendiri terdapat vitamin dan mineral yang di butuhkan dan dengan porsi
yang juga disesuaikan dengan usia sang bayi dan semuanya tersedia secara
otomatis. ASI pada khususnya saat usia bayi 3-5 hari mengandung sarat
kolostrum yang mengandung antibodi dan nutrisi lainnya yang di butuhkan
oleh bayi. Memang ada anggapan kuno bahwa kolostrum memiliki warna
kekuningan ini merupakan cairan ASI yang kotor, namun sebenarnya
kolostrum inilah yang sangat bagus bagi bayi (Handerson 2006).

J. Asuhan Keperawatan pada Bayi Baru Lahir


Rahayu dan Dedeh 2009, menjelaskan konsep asuhan keperawatan pada bayi
baru lahir sebagai berikut :
1. Pengkajian Bayi Baru Lahir
Penampilan umum
a. BB 2500-4000 gram, akan berkurang 3-5 hari, tetapi tidak boleh >
10 %, biasanya akan naik kembali setelah hari ke 8-12.
b. PB 46-56 cm.
c. Suhu 36,5-37,5 0C.
Kepala
a. Ukur : lingkar kepala
b. Periksa adanya caput atau cepal hematom, molding, fontanel anterior
dan posterior.
c. Periksa bentuk telinga.
d. Simetris tidaknya wajah.
e. Periksa mata : bentuk, letak, ukuran, pupil, reflek cahaya, adanya
perdarahan.
f. Periksa mulut : bibir, palatum, lidah, gigi.
g. Periksa hidung : septum, simetris atau tidak.
h. Periksa leher : Ukuran simetris/tidak, Gerakan baik/kurang baik,
Pergerakan otot.
Kulit
a. Vernix caseosa
b. Lanugo terutama diwajah, bahu (lebih banyak pada premature)
c. Warna kulit (biasanya bayi akan mengalami akrosianosis, lalu badan
akan semakin merah jika bayi menangis), adanya bintik-bintik,
deskuamasi, kering.
d. Pembesaran payudara.
e. Bercak meconium pada kulit, tali pusat, kuku jari.
f. Cairan amnion, bau.
g. Cari adanya jaundice dengan menekan kulit, maka warna kuning
akan lebih jelas.
Dada
a. Diameter anteroposteriorhampir sama dengan diameter transversa
(diameter diukur sedikit diatas putting), lebih pendek daripada
abdomen.
b. Pembesaran payudara, witchs milk.
c. Palpasi/auskultasi PMI, frekuensi, kualitas HR (120-160 x/menit)
dan murmur.
d. Karakteristik respirasi, cracles, ronchi, suara nafas tiap-tiap sisi dada,
frekuensi 30-60 x/menit (dad dan perut bergerak bersama, hitung 1
menit penuh), periode apnea.
Abdomen
a. Bentuk : simetris/tidak
b. Bising usus : ada/ tidak
c. Kelainan : cekung/cembung
d. Tali Pusat, pembuluh darah, perdarahan, kelainan tali pusat.
Neurologik
a. Tonus otot.
b. Reflek : moro reflek, tonik neck reflek, palmar graps reflek, walking
reflek, rooting reflek, sucking reflek.
Kelamin
a. Bayi perempuan , labia mayora/minora, sekresi vaginal, kelainan,
Anus.
b. Bayi laki-laki, scrotum, testis, penis, kelainan.
Punggung
Adanya benjolan atau defek yang lain ( bayi harus ditengkurapkan )
Ektremitas
a. Kelengkapan jari, adanya sindaktili dan polidaktili.
b. Bentuk ekstremitas, bandingkan panjang kedua kaki, tinggi lutut, dan
gerakannya dengan menekuk kedua paha kekanan kiri abdomen.
2. Penilaian APGAR Score

APGAR Pemeriksaan 0 1 2
Appearance Inspeksi Biru/pucat Badan merah, Semua merah
(warna kulit) seluruh tubuh ekstremitas
biru
Pulse (denyut Auskultasi Tidak < 100 x/menit > 100 x/menit
jantung) jantung terdengar
Grimace Menghisap Tidak ada Menyeringai Menangis
(reflek atau rangsang respon keras
iritabily) lain
Activity Inspeksi Lemah Fleksi Gerak aktif
(tonus otot) ekstremitas
Respiration Inspeksi Tidak ada Menangis Gerakan
(pernafasan) gerakan lemah atau pernafasan
pernafasan merintih kuat/ menangis
kuat
Total score : 0-3 : asfiksia berat
4-6 : asfiksia sedang
7-10 : asfiksia ringan
(Karyuni dkk, 2008).
3. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan mukus dalam
jumlah berlebih.
b. Risiko tinggi hipotermi berhubungan dengan perubahan suhu
lingungan.
c. Resiko infeksi berhubungan dengan imunitas tidak adekuat
(imaturitas sistem imun)

4. Intervensi
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan mukus yang
berlebih
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
NOC NIC
Tujuan : Pasien menunjukkan 1. Manejemen jalan nafas
bersihan jalan nafas efektif Posisikan pasien pada
Kriteria Hasil: ventilasi yang maksimal
Frekuensi pernafasan dalam Identifikasi kebutuhan pasien
batas normal 30 40x/menit akan jalan nafas yang
Irama nafas teratur potensial
Ekspansi dada simetris Lakukan terapi fisik dada
Pengeluaran sputum pada jalan jika dibutuhkan
nafas Pindahkan skresi dengan
Bersuara secara adekuat suntion
Tidak didapatkan penggunaan Auskultasi suara nafas,catat
otot bantu pernafasan area peningkatan / penuruna
Tidak ada suara nafas ventilasi dan menunjukkan
tambahan (ronchi) sumber suara
Tidak ada retraksi dada Bantu suction endo thraceal /
naso thraceal jika dibutuhkan
Berikan nebulizer jika
dibutuhkan
Bantu dengan humidifikasi
udara / oksigen
Atur intke cairan untuk
mengoptimalkan
keseimbangan cairan
Posisikan pada elevasi jika
dispneu
Monitor status respirasi dan
oksigenasi
2. Monitor Pernafasan
Monitor frekuensi, ritme,
kedalaman dan keluaran
pernafasan
Catat pergerakan dada,
kesimetrisan, penggunaan
otot tambahan, dan retraksi
supraventrikuler dan
interkosta
Monitor suara nafas seperti
ngorok
Monitor pola nafas :
bradipnea, takipnea,
hiperventilasi, Kussmaul,
Cheynestokes, Apneustik,
Biot, Ataksik
Palpasi kesamaan ekspansi
paru
Perkusi thorak anterior dan
posterior
Monitor kelelahan otot
diagfragma
Auskultasi suara nafas, catat
area yang terjadi penurunan
ventilasi dan adanya suara
nafas tambahan
Tentukan perlunya suksion
dengan mengauskultasi suara
nafas
Monitor sekresi pernafasan
3. Monitor tanda vital
Monitior dan laporkan tanda
dan gejala hipotermi
Monitor frekuensi dan
kualitas nadi
Monitor nadi, frekuensi dan
irama
Monitor RR dan ritmenya
Monitor suara paru
Monitor puls oksimetri
Monitor pola pernafasan
abnormal
Monitor warna kuluit
temperatur dan kelembaban
Monitor sianosis pusat dan
perifer

b. Risiko tinggi hipotermi berhubungan dengan perubahan suhu


lingkungan
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
NOC NIC
Tujuan : Suhu tubuh dalam 1. Regulasi suhu
rentang normal (36 37,5C) Pantau suhu tubuh tiap 2 jam
Kriteria Hasil: Jaga hangat pada tubuh bayi
Suhu tubuh dalam rentang (bedong, berikan selimut
normal (36 37,5C) tebal)
Nadi dalam rentang normal Tempatkan bayi pada
(120 -130x/menit) inkubator penghangat sesuai
Pernapasan dalam rentang kebutuhan
normal (30 40x/menit) Gunakan penutup kepala
Tidak menggigil untuk mencegah kehilangan
Tidak ada kebiruan atau panas
sianosis pada ujung Berikan pakaian yang
ekstremitas. hangat, kering, selimut
penghangat, alat-alat
pemanas mekanis, suhu
ruangan yang disesuaikan.
2. Monitoring tanda vital
Monitor nadi, suhu, RR tiap
3 jam
Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit bayi
Monitor frekuensi dan
kualitas nadi
Monitor pola nafas, kaji
adanya retraksi dada
Monitor adanya sianosis

Identifikasi perubahan dari
vital sign
3. Perawatan hipotermi
Hindarkan bayi dari
lingkungan yang dingin dan
pertahankan kehangatan
Segera ganti pakaian yang
basah
Monitor tanda yang
berhubungan dengan
hipotermi (kelemahan,
konfusi, apatis, suara
bergetar, dan perubahan
warna kulit)
Berikan penghangat
ekstrenal (air hangat dalam
botol, kantong penghangat)
Kolaborasi : pemberian
cairan intravena yang
dihangatkan dengan suhu 37-
40C
c. Resiko infeksi berhubungan dengan imunitas tidak adekuat
(imaturitas sistem imun)
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
NOC NIC
Tujuan : Pasien menunjukkan 1. Pmberian imunisasi
resiko infeksi terkendali Ajarkan pada orangtua
Kriteria Hasil: jadwal pemberian imunisasi
Terbebas dari tanda atau untuk bayi, rute pemberian
gejala infeksi obat, alasan, manfaat, reaksi
Memantau faktor resiko dan efek samping
lingkungan dan perilaku Berikan vitamin K setelah
seseorang bayi lahir
Menghindari pajanan Berikan HB0 pada hari
terhadap ancaman kesehatan kelahiran
Kluarga mampu 2. Pengendalian infeksi
mengubah gaya hidup untuk Ajarkan kepada
mengurangi resiko keluarga dan pengunjung
Suhu tubuh bayi dalam untuk mencuci tangan
sewaktu masuk dan
rentang normal (36 37,5C) meninggalkan ruangan
Batasi jumlah
pengunjung, bila diperlukan
Tempatkan bayi pada
box untuk mengurangi
jangkauan pengunjung
Bersihkan lingkungan
sekitar tempat bayi berada
Kolaborasi medis :
pemberian antibiotik jika
diperlukan.
3. Perlindungan terhadap
infeksi :
Monitor tanda dan
gejala infeksi
Pertahankan tehnik
aseptik pada bayi
Pertahankan intake cairan
yang adekuat
Tingkatkan intake
nutrisi melalui ASI
Pantau hasil
laboratorium (Hb,
leukosit,albumin, protein
serum)
Monitor vital sign
Ajarkan keluarga cara
menghindari infeksi
Kolaborasi: pemberian
antibiotik

4. Evaluasi
a. Bersihan Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
mukus dalam jumlah berlebih.
Jalan nafas efektif
Tidak ada bunyi tambahan saat inspirasi dan ekspirasi
Frekuensi dan irama nafas pada bayi normal (30-40x/menit)
Sputum dapat keluar
b. Risiko tinggi hipotermi berhubungan dengan perubahan suhu
lingungan.
Kehangatan bayi terjaga dengan baik
Ibu mampu menjaga kehangatan pada bayinya
Suhu tubuh dalam batas normal 36-37,5C
Tidak ada tanda-tanda hipotermi (sianosis, menggigil, suara
bergetar, akral dan kulit dingin).
c. Resiko infeksi berhubungan dengan imunitas tidak adekuat
(imaturitas sistem imun).
Tidak ada tanda-tanda terjadinya infeksi, seperti peningkatan
suhu tubuh
Suhu tubuh dalam batas normal 36-37,5C
Ibu dan keluarganya mampu menjaga kebersihan lingkungan
terutama kebersihan bayinya
Ibu dan keluarga mengetahui pentingnya imunisasi pada bayi
dan masa anak-anak nantinya.

DAFTAR PUSTAKA

Handerson, C 2006, Buku ajar konsep kebidanan. Jakarta : EGC

Karyuni, dkk. 2008. Buku Saku Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir Panduan
untuk Dokter, Perawat & Bidan. ECG. Jakarta

Rahayu, Dedeh S. 2009. Asuhan Keperawatan Anak dan neonatus. Salemba


Medika. Jakarta

Saifudin, Abdul Bahri. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan


Maternal Neonatal. Jakarta : JHPIEGO.

Straight, Barbara R, 2006. Keperawatan Ibu dan Bayi Baru Lahir. Jakarta : EGC
Manuaba, Ida Bagus Gde, 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGC