Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Remaja sebagai calon penerus bangsa, aset bangsa. Tahap perkembangan


yang rawan. Masalah yang paling banyak ditemukan : kehamilan,
penyalahgunaan obat dan alkohol, kecelakaan, bunuh diri, penyakit karena
hubungan sex ( Lancaster, 1996). Di Indonesia, masalah remaja : penyalahgunaan
obat dan alkohol, kehamilan, perilaku kekerasan dan malnutrisi.
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin
canggih membawa dampak pada semua kehidupan, terutama pada generasi
penerus bangsa khususnya pada remaja. Salah satunya dampak negative banyak
para pelajar di kalangan remaja sudah merokok, berkendaraan dengan kecepatan
tinggi, percobaan bunuh diri, minum-minuman dan penggunaan zat yang merusak
kesehatan.
Dampak yang terjadi pada remaja itu merupakan masalah yang komplek,
ditandai oleh dorongan penggunaan yang tidak terkendali untuk terus menerus
digunakan, walaupun mengalami dampak yang negative dan menimbulkan
gangguan fungsi sehari-hari baik dirumah, sekolah maupun di masyarakat.

1.2 Tujuan Penulisan


a. Tujuan Umum
Agar mahasiswa / mahasiswi STIKES Faletehan memperoleh informasi
dan gambaran tentang Asuhan Keperawatan Komunitas Pada Remaja.
b. Tujuan Khusus
a. Mampu menjelaskan konsep teori tentang remaja.
b. Mampu melaksanakan pengkajian pada remaja dengan masalah yang
ada.
c. Mampu menentukan diagnosa keperawatan pada komunitas remaja.
d. Mampu membuat rencana tindakan asuhan keperawatan komunitas
pada remaja.
e. Mampu menerapkan rencana keperawatan pada asuhan keperawatan
komunitas pada remaja

1
f. Mampu meyimpulkan hasil pelaksanaan asuhan keperawatan
komunitas pada remaja yang bermasalah.

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 KONSEP REMAJA

2
2.1.1 Pengertian

Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-


kanak ke dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO (2007) adalah 12
sampai 24 tahun. Namun, jika pada usia remaja seseorang sudah
menikah, maka ia tergolong dalam dewasa dan bukan lagi remaja.
Sebaliknya, jika usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih tergantung
pada orang tua (tidak mandiri), maka tetap dimasukkan ke dalam
kelompok remaja.

Remaja merupakan tahapan seseorang dimana ia berada di antara


fase anak dan dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, perilaku,
kognitif, biologis , dan emosi. Untuk mendeskripsikan remaja dari
waktu ke waktu memang berubah sesuai perkembangan zaman.
Ditinjau dari segi pubertas, 100 tahun terakhir usia remaja putri
mendapatkan haid pertama semakin berkurang dari 17,5 tahun menjadi
12 tahun, demikian pula remaja pria. Kebanyakan orang
menggolongkan remaja dari usia 12-24 tahun dan beberapa literatur
yang menyebutkan 15-24 tahun. Hal yang terpenting aadalah seseorang
mengalami perubahan pesat dalam hidupnya di berbagai aspek.

2.1.2 Perkembangan Remaja

A. Perkembangan Kognitif Remaja


1. Abstrak (teoritis)
menghubungkan ide,pemikiran atau konsep pengertian guna
menganalisa dan memecahkan masalah. Contoh pemecahan
masalah abstrak ; aljabar.
2. Idealistik
Berfikir secara ideal mengenai diri sendiri, orang lain maupun
masalah social kemasyarakatan yang ditemui dalam hidupnya.
3. Logika
Berfikir seperti seorang ilmuwan, membuat suatu perencanaan
untukmemecahkan suatu masalah. Kemudianmerekamenguji
cara pemcahan secara runtut, tratur dan sistematis.

3
B. PerkembanganPsikososialRemaja
Tugas Perkembangan (MenurutHavighurst)
1) Menyesuaikandiridenganperubahanfisiologis- psikologis
2) Belajarbersosialisasisebagai seorang laki-laki maupun
wanita
3) Memperoleh kebebasan secara emosional dari orang tua
dan orang dewasa lain
4) Remaja bertugas untuk menjadi warga negara yang
bertanggung jawab
5) Memperolehkemandirian dan kepastian secara ekonomis

C. Perkembangan Identitas Diri


1) Konsep diri 6) Tanggung jawab
2) Evaluasi diri 7) Komitmen
3) Harga diri 8) Ketekunan
4) Efikasi diri 9) Kemandirian
5) Kepercayaan diri

4
10)
2.1.3 Masalah Kesehatan Pada Remaja
1)Masalah Emosional dan Bunuh Diri
11) Masa remaja adalah masa pertumbuhan yang cepat
dan banyak perubahan . Pengaruh hormonal dapat menyebabkan
remaja menjadi emosional dan terduga di kali ( SAMHSA , 2003).
Pengaruh teman sebaya meningkat , dan tekanan teman sebaya dapat
mempengaruhi perilaku . Remaja menguji aturan keluarga dan
umumnya mencari identitas dan individualitas mereka sendiri
terpisah dari keluarga . Kebanyakan orang tua dan remaja naik dari
periode ini dengan cinta dan pengertian dan tidak ada efek negatif
jangka panjang . Untuk beberapa anak , namun, kurangnya nyata
atau dirasakan dari dukungan emosional dapat menyebabkan
masalah temporer atau masalah emosional permanen . Penelitian
longitudinal sampai akhir masa kanak-kanak ke remaja
mengungkapkan bahwa praktik pengasuhan yang keras di masa kecil
dan penolakan orangtua pada masa remaja menyebabkan rasa malu
dan rasa bersalah yang berkaitan dengan depresi dan kenakalan
( Stuewig & McCloskey , 2005). Juga , perbedaan gender dalam
jenis dan lintasan masalah emosional dan perilaku telah dicatat ,
dengan lebih banyak perempuan mengembangkan remaja - onset
depresi dan laki-laki setan - strating masalah perilaku lebih pada usia
lebih dini onset ( Zahn - Waxler , Shirtcliff , & Marceau 2008 ) .
masalah-masalah emosional dapat mempengaruhi banyak aspek
kehidupan seorang remaja : misalnya , penyesuaian psikososial yang
positif telah dikaitkan dengan pelanggaran lalu lintas sedikit pada
remaja ( Bingham , Shope , & Raghunathan , 2006) .
12) Bunuh diri merupakan penyebab utama kemtian
ketiga pada adolesens usia antara 15 dan 24 tahun (Hawton, 1990);
kecelakaan dan pembunuhan merupakan penyebab utama. Depresi
dan isolasi social biasanya mendahului usaha diri, tetapi bunuh diri
mungkin juga sebagai akibat dari kombinasi beberapa factor.
2) Kekerasan
13) Penangkapan untuk kejahatan pemuda kekerasan
memuncak pada dekade antara tahun 1983 dan 1993 ( Surgeon
General Amerika Serikat , 2002) . Survei menunjukkan bahwa
antara 15 % dan 40 % remaja mengakui telah melakukan
pelanggaran kekerasan yang serius pada usia 17 , dan kekerasan
pemuda serius adalah bagian dari konstelasi perilaku
pengambilan risiko yang juga mencakup seks dewasa sebelum
waktunya , obat-obatan , dan senjata ( Surgeon General Amerika
Serikat , 2002) . Geng sering dikaitkan dengan kekerasan remaja .
14) Namun, proporsi sekolah melaporkan aktivitas geng
telah menurun ( Surgeon General Amerika Serikat , 2002) , dan
jumlah keseluruhan geng dan anggota geng mengalami
penurunan sejak tahun 1996 ( Egley & Ritz , 2006; National
Youth Violence Prevention Cen - ter [ NYVPRC ] , 2008) .
Kekerasan di sekolah telah dikaitkan dengan intimidasi ( Nansel ,
Overpeck , Haynie , Ruan , & Scheidt , 2003) dan lingkungan
sekolah . Pengaruh budaya dan lingkungan terhadap remaja
termasuk kekerasan yang anak-anak dan remaja yang terkena .
15) Peningkatan perilaku agresif di kalangan anak-anak
dan remaja telah dikaitkan dengan kekerasan di lingkungan ,
rumah ( suami-istri dan pelecehan anak ) , dan masyarakat , serta
apa yang anak-anak lihat di televisi dan film . . Kekerasan adalah
satu ancaman yang meningkat untuk remaja . Siswa sekolah
menengah dilaporkan untuk berjuang lebih dan pengalaman
intimidasi lebih dari anak-anak usia sekolah dasar atau sekolah
tinggi siswa ( Juvonen , Le , Kaganoff , Agustinus , & Constant ,
2004) .Bullying dapat menyebabkan depresi , kecemasan sosial ,
antar - nalizing dan gejala psikosomatik , kesepian , dan kinerja
sekolah yang buruk ( Arseneault et al , 2008; . Wigfield , Lutz ,&
Wagner , 2005). Anak-anak atau remaja dengan kecemasan atau
depresi juga mengalami peningkatan risiko menjadi korban
bullying ( Fekkes , Pijpers , Fredriks , Vogels , & Verloove - Van -
horick , 2006) .
16) Persentase remaja muda yang tidak merasa aman di
sekolah meningkat secara dramatis : Dalam Survey Perilaku
Risiko Pemuda terbaru , 18,5 % remaja dilaporkan membawa
senjata ke sekolah selama sebulan terakhir , dan lebih dari 35,9 %
terlibat dalam perkelahian fisik pada tahun lalu ( CDC , 2006a ) .
17)
3) Penyalahgunaan Zat
18) Penyalahgunaan zat merupakan kenyataan masalah
utama bagi mereka yang bekerja dengan adolesens. Adolesens
dapat menyakini bahwa zat yang merubah alam persaan
menciptakan perasaan sejahtera atau membuktika tingkat
penampilan. Semua adolesensberada pada risiko penggunaan zat
untuk eksperimental atau kebiasaan atau berasal dari keluarga
yang tidak stabil lebih berisiko terhadap penggunaan kronik dan
ketergantungan fisik. Beberapa adolesens percaya bahwa
penggunaan zat membuat mereka lebih matur.
19) Survei Perilaku Risiko Pemuda terbaru menemukan
bahwa 20,2 % siswa SMA telah menggunakan ganja pada bulan
lalu , dan 54,8 % dari 12 siswa kelas merokok ganja secara teratur
, 3,4 % dari siswa SMA telah menggunakan kokain pada suatu
waktu . Lebih dari 43 % melaporkan bahwa mereka saat minum
alkohol ( CDC , 2006a ) . Survei Perilaku Risiko Pemuda terbaru
menemukan bahwa 20,2 % siswa SMA telah menggunakan ganja
pada bulan lalu , dan 54,8 % dari 12 siswa kelas merokok ganja
secara teratur , 3,4 % dari siswa SMA telah menggunakan kokain
pada suatu waktu . Lebih dari 43 % melaporkan bahwa mereka
saat minum alkohol ( CDC , 2006a ) .
20)
4) Seksualitas Remaja dan Kehamilan
21) Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas
bertanggung jawab atas munculnya dorongan seksual. Pemuasan
dorongan seksual masih dipersulit dengan banyaknya tabu sosial,
sekaligus juga kekurangan pengetahuan yang benar tentang
seksulitas. Namun, sejak 1960-an aktivitas seksual telah
meningkat diantara remaja; studi akhir menunjukkan bahwa
hampir 50% remaja dibawah usia 15 tahun dan 75% remaja
dibawah usia 19 tahun telah melakukan hubungan seksual.
Terlepas dari keterlibatan mereka dalam aktivitas seksual,
beberapa remaja tidak tertarik pada, atau tidak tahu tentang,
metode Keluarga Berencana atau gejala-gejala penyakit menular
seksual (PMS). Akibatnya, angka kelahiran tidak sah dan
timbulnya penyakit menular seksual kian meningkat.
22) Selain perubahan fisik, remaja juga mengalami perubahan
emosional dan psikososial. Tugas psikososial remaja adalah untuk
tumbuh dari orang yang bergantung menjadi orang yang tidak
bergantung, yang identitasnya memungkinkan orang tersebut
untuk berhubungan dengan orang lain dalam gaya dewasa.
Perubahan emosional menimbulkan problem emosional yang
bervariasi antara remaja yang satu dengan remaja yang lain.
Perubahan emosional tersebut tercermin dalam sikap dan tingkah
laku. Sedangkan, perkembangan kepribadian pada masa ini
dipengaruhi tidak saja oleh orang tua dan lingkungan keluarga,
tetapi juga oleh lingkungan sekolah maupun teman-teman
pergaulan di luar sekolah.
23)
5) Penyakit Menular
24) Penyakit menular seksual dialami sekitar 10 juta orang per
tahun di bawah usia 25 tahun. Tingkat insiden tertinggi
mengharuskan adolesens yang aktif seksual dilakukan skrining
terhadap PMS, meskipun mereka tidak menunjukan gejala.
Kehamilan remaja merupakan kejadian umum di Amerika
Serikat; 1 dari setiap 10 wanita dibawah usia 20 tahun mengalami
kehamilan, dan banyak yang memilih untuk memelihara bayinya
sendiri. Kehamilan tidak memiliki risiko fisik pada ibu yang
masih remaja kecuali mereka dibawah usia 16 tahun atau tidak
menerima perawatan prenatal.
25)
6) Kecelakaan
26) Kecelakaan tetap merupakan penyebab utama kematian
pada adolesens (sekitar 70%). Kecelakaan kendaraan bermotor,
yang merupakan penyebab umum terbanyak, mengakibatkan
hamper setengah kematian pada usia 16 sampai 19 tahun
(Edelmen da Mandel, 1994). Kecelakaan ini sering dikaitkan
dengan intoksikasi alcohol atau penyalahgunaan obat.

27)

2.2 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS


28)
2.2.1 Pengkajian
29) Pengkajian merupakan upaya pengumpulan data secara
lengkap dan sistematis terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisa
sehingga masalah kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat baik
individu, keluarga atau kelompok yang menyangkut permasalahan pada
fisiologis, psikologis, social ekonomi, maupun spiritual dapat ditentukan.
Dalam tahap pengkajian ada lima kegiatan yaitu : pengumpulan data,
pengolahan data, analisa data, perumusan atau penentuan masalah
kesehatan masyarakat dan prioritas masalah.
30) Kegiatan pengkajian yang dilakukan dalam pengumpulan
data meliputi :
a) Data Inti, meliputi : riwayat atau sejarah perkembangan
komunitas, data demografi, vital statistic, status kesehatan
komunitas
b) Data lingkungan fisik, meliputi : pemukiman, sanitasi,
fasilitas, batas-batas wilayah, dan kondisi geografis
c) Pelayanan kesehatan dan social, meliputi : pelayanan
kesehatan, fasilitas social (pasar, toko, dan swalayan)
d) Ekonomi, meliputi : jenis pekerjaan, jumlah penghasilan rata-
rata tiap bulan, jumlah pengeluaran rata-rata tiap bulan,
jumlah pekerja dibawah umur, ibu rumah tangga dan lanjut
usia.
e) Keamanan dan transportasi
f) Politik dan keamanan, meliputi : system pengorganisasian,
struktur organisasi, kelompok organisasi dalam komunitas,
peran serta kelompok organisasi dalam kesehatan
g) Sistem komunikasi, meliputi : sarana untuk komunikasi, jenis
alat komunikasi yang digunakan dalam komunitas, cara
penyebaran informasi
h) Pendidikan, meliputi : tingkat pendidikan komunitas, fasilitas
pendidikan yang tersedia, dan jenis bahasa yang digunakan
i) Rekreasi, meliputi : kebiasaan rekreasi dan fasilitas tempat
rekreasi
31)
2.2.2 Analisa Data
32) Analisa data adalah kemampuan untuk mengkaitkan data
dan menghubungkan data dengan kemampuan kognitif yang dimiliki
sehingga dapat diketahui tentang kesenjangan atau masalah yang
dihadapi oleh masyarakat. Tujuan analisa data;
a) Menetapkan kebutuhan komunitas
b) Menetapkan kekuatan
c) Mengidentifikasi pola respon komunitas
d) Mengidentifikasi kecenderungan penggunaan pelayanan
kesehatan.
33)
2.2.3 Prioritas Masalah
34) Dalam menentukan prioritas masalah kesehatan masyarakat
dan keperawatan yang perlu pertimbangan berbagai faktor sebagai
kriteria penapisan, diantaranya:
a) Sesuai dengan perawat komunitas
b) Jumlah yang berisiko
c) Besarnya resiko
d) Kemungkinan untuk pendidikan kesehatan
e) Minat masyarakat
f) Kemungkinan untuk diatasi
g) Sesuai dengan program pemerintah
h) Sumber daya tempat
i) Sumber daya waktu
j) Sumber daya dana
k) Sumber daya peralatan
l) Sumber daya orang
35) Masalah yang ditemukan dinilai dengan menggunakan
skala pembobotan, yaitu : 1 = sangat rendah, 2 = rendah, 3 = cukup,
4 = tinggi, 5 = sangat tinggi. Kemudian masalah kesehatan
diprioritaskan berdasarkan jumlah keseluruhan scoring tertinggi.
36)
2.2.4 Diagnosa Keperawatan
37) Untuk menentukan masalah kesehatan pada masyarakat
dapatlah dirumuskan diagnosa keperawatan komunitas yang terdiri dari :
a) Masalah (Problem)
38) Yaitu kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan
normal yang terjadi.
b) Penyebab (Etiologi)
39) Yang meliputi perilaku individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat, lingkungan fisik dan biologis,
psikologis dan sosial serta interaksi perilaku dengan
lingkungan.
c) Tanda dan Gejala (Sign and Sympton)
40) Yaitu informasi yang perlu untuk merumuskan
diagnosa serta serangkaian petunjuk timbulnya masalah.
41) Diagnosa keperawatan NANDA untuk
meningkatkan kesehatan yang bisa ditegakkan pada
adolesens, yaitu :
1. Risiko cedera yang berhubungan dengan:
a. Pilihan gaya hidup
b. Penggunaan alcohol, rokok dan obat
c. Partisipasi dalam kompetisi atletik, atau aktivitas
rekreasi
d. Aktivitas seksual
2. Risiko infeksi yang berhubungan dengan:
a. Aktivitas seksual
b. Malnutrisi
c. Kerusakan imunitas
3. Perubahan pemeliharaan kesehatan yang berhubungan
dengan:
a. Kurangnya nutrisi yang adekuat untuk mendukung
pertumbuhan
b. Melewati waktu makan; ikut mode makanan
c. Makan makanan siap saji, menggunakan makanan
yang mudah atau mesin penjual akanan
d. Kemiskinan
e. Efek penggunaan alcohol atau obat
4. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan:
a. Tidak berpengalaman dengan peralatan rekreasional
yang tidak dikenal
b. Kurang informasi tentang kurikulum sekolah
5. Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan:
a. Perasaan negative tentang tubuh
b. Perubahan maturasional yang berkaitan dengan
laju pertumbuhan adolesens
42)
2.2.5 Intervensi (Perencanaan) Keperawatan
43) Perencanaan asuhan keperawatan komunitas disusun
berdasarkan diagnosa keperawatan komunitas yang telah ditentukan
dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan pasien. Jadi perencanaan
keperawatan meliputi: perumusan tujuan, rencana tindakan keperawatan
yang akan dilaksanakan dan kriteria hasil untuk mencapai tujuan.
44) Masalah kesehatan adolesens
45) Intervensi promosi kesehatan
1) Cedera tidak disengaja
a) Anjurkan adolesens untuk mengikuti program pendidikan
mengemudi dan menggunakan sabuk keselamatan
b) Informasikan adolesens tentang risiko yang berkaitan dengan
minum dan berkendaraan; penggunaan obat
c) Tingkatkan penggunaan helm oleh adolesens yang
menggunakan kendaraan bermotor
d) Yakinkan adolesens mendapatkan orientasi yang tepat untuk
penggunaan semua alat olahraga
2) Penggunaan zat
46) Periksa penggunaan zat, seperti alcohol, rokok dan obat-
obatan serta informasikan risiko penggunaannya
3) Bunuh diri
a) Berikan informasi tentang bunuh diri
b) Ajarkan metode untuk bertemu dengan sebaya yang mencoba
bunuh diri
4) Penyakit menular seksual
a) Berikan adolesens informasi mengenai penyakit, bentuk
penularan, dan gejala yang berhubungan
b) Dorong pantangan terhadap aktivitas seksual; atau bila aktif
seksual, tentang penggunaan kondom
c) Berikan informasi akurat tentang konsekuensi aktivitas seksual
47)
2.2.6 Implementasi Keperawatan
48) Merupakan tahap realisasi dari rencana asuhan keperawatan
komunitas yang telah disusun. Prinsip dalam pelaksanaan implementasi
keperawatan, yaitu :
a) Berdasarkan respon masyarakat.
b) Disesuaikan dengan sumber daya yang tersedia di masyarakat.
c) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara diri
sendiri serta lingkungannya.
d) Bekerja sama dengan profesi lain.
e) Menekankan pada aspek peningkatan kesehatan masyarakat dan
pencegahan penyakit.
f) Memperhatikan perubahan lingkungan masyarakat.
g) Melibatkan partisipasi dan peran serta masyarakat dalam
pelaksanaan implementasi keperawatan.
49)
2.2.7 Evaluasi Keperawatan
50) Evaluasi memuat keberhasilan proses dan kerhasialn
tindakan keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan
membandingkan antara proses dengan pedoman atau rencana proses
tersebut.
51)
52)
53)
54)
55)
56)
57) BAB III
58) TINJAUAN KASUS
59)
60)
61) Asuhan Keperawatan Komunitas pada Remaja di Kelurahan A
A. PENGKAJIAN
1. Data Inti
a) Sejarah
62) Sebagian besar remaja di Kelurahan A sudah lama
tinggal di Bengkulu karena orang tua dan keluarga besarnya
bertempat tinggal di sana. Sehingga komunitas remaja sebagian
besar dilahirkan disina dan bersekolah di Bengkulu. Mereka juga
tidak tahu siapa yang pertama kali tinggal di kota ini. Mereka hanya
tahu kalau puyang dan kakeknya juga tinggal disini. Saat pengkajian
para remaja biasanya masih tinggal bersama orang tuanya dan
biasanya penghasilan orang tuanya tersebut dari kota itu sendiri.
b) Demografi
63) Kelurahan A dengan 5 RT dan 2 RW mempunyai
jumlah penduduk 1050 jiwa (220KK). Dimana RW tersebut terdiri
dari RW 01 dan 02, terdiri 5 RT yaitu: RT 01, RT02, RT03, RT 04,
RT 05 dimana pada RT 05. Batas wilayah yang dijadikan target
pengkajian, sebelah utara dibatasi oleh RW 02, sebelah selatan
dibatasi oleh perkebunan, di sebelah timur dibatasi oleh komplek
perumahan dan di sebelah barat dibatasi oleh RW 01. Kelurahan
memilki berbagai fasilitas umum yang terdiri dari sebuah masjid,
sebuah taman kanak-kanak, sebuah balai RW dan dua lokasi
pemakaman umum. Fasilitas pelayanan kesehatan yang dimilki ada
puskesmas harapan warga.
64)
65) Berdasarkan table diatas, umur 13-20 tahun yaitu umur remaja
sebanyak laki-laki 91 orang dan perempuan sebanyak 85 orang, menurut
WHO batasan umur remaja adalah 12-24 tahun di interval umur 6-12
tahun ada 2 orang yang berumur 12 tahun, pada interval 21-35 tahun ada
12 orang yang termasuk dalam batasan umur menurut WHO. Jadi jumlah
remaja di kelurahan A adalah 190 orang, dengan persentase 18,09% dari
jumlah penduduk di kelurahan A.
1) Etnisitas
66) Kelompok budaya yaitu: bangsa Jawa, Batak, Padang, dll.
2) Nilai dan Keyakinan
67) Nilai yang mereka anut adalah kebersamaan dan keyakinan
yang mereka anut yang terdiri dari agama Islam, Kristen. Tapi
kenyataan dari menganut agama Islam terlihat dari banyaknya
bangunan masjid.
2. Data Lingkungan Fisik
68) Di lingkungan Kelurahan A banyak terdapat perumahan
dengan tipe permanen dengan persentase 82%, semi permanen13%, tidak
permanen 5%. Sebagian besar status kepemilikan rumah di kelurahan A
milik sendiri. Belum terdapatnya lokasi untuk wadah perkumpulan
remaja seperti karang taruna di Kelurahan A. Biasanya remaja berkumpul
di persimpangan dekat RW 02 untuk dijadikan lokasi pertemuan kebut-
kebutan.
3. Pelayanan Kesehatan dan Sosial
69) Sarana kesehatan yang paling terdekat adalah puskesmas,
sebagian besar orang tua biasanya membawa remaja de puskesmas jika
remaja sakit, jika ada keadaan yang darurat barulah dibawa ke rumah
sakit. Tempat pelayanan kesehatan yang lainnya adalah dokter praktek
umum, bidan, balai pengobatan
4. Ekonomi
70) Di Kelurahan kebanyakan orang tua dari remaja
berekonomi menengah ke atas, sehingga tidak ada kendala untuk
memenuhi keinginan remaja seperti membelikan kendaraan bermotor.
Sebagian besar remaja masih bergantung dengan orang tua mereka dalam
pemenuhan kebutuhan, sebagiannya lagi remaja tidak ada kegiatan atau
penganguran.
5. Keamanan dan Transportasi
71) Kendaraan di Kelurahan A sangat mudah dan banyak,
sehingga para remaja bisa menggunakan fasilitas kendaraan umum
tersebut. Tetapi kebanyakan dari mereka tidak bisa memanfaatkan
kendaraan tersebut, 50% remaja mengisi waktu untuk kebut-kebutan
dijalan raya. Hampir seluruh remaja memiliki kendaraan dengan
persentase 89%.
6. Politik dan Pemerintah
72) Di Kelurahan A para remaja banyak tidak mengikuti dan
tidak berperan serta dalam kelompok organisasi di komunitas mereka. Di
kelurahan A tidak terdapat wadah perkumpulan seperti karang taruna.
7. Sistem komunikasi
73) Sebagian besar remaja kalau ada masalah memberitahukan
masalahnya kepada teman sebaya yang dekat dengannya, ada juga yang
hanya diam saja, dan mengalihkan masalahnya dengan kegiatan yang
tidak bermanfaat seperti kebut-kebutan.
8. Pendidikan
74) Para remaja mendapatkan ilmu pengetahuan yang pasti
tetapi harus mendapatkan ilmu yang berhubungan dengan kesehatan,
karena remaja rentan terhadap resiko kematian akibat kendaraan
bermotor dengan kecepatan yang tinggi, remaja juga memiliki rasa ingin
tahu yang besar sehingga ingin mencoba hal-hal yang baru, pengetahuan
tentang dampak buruk dari merokok dan zat-zat yang berbahaya harus
diberitahuakan kepada kelompok remaja ini.
9. Rekreasi
75) Di Kelurahan A biasanya remaja lebih memilih rekreasi
dengan duduk di warung sambil merokok dengan persentase 70%,
minum-minuman dengan persentase 15%.
10. Pemeriksaan fisik remaja
76)
77) ANALISA DATA
78) MASALAH KESEHATAN
79) DIAGNOSA KEPERAWATAN
80)
81)
82) Hasil Quisioner :
50% remaja menggunakan sebagian waktu untuk kebut-kebutan dijalan
raya.
Hampir seluruh remaja mempunyai kendaraan bermotor 89%
83) Hasil Wawancara :
84) Beberapa remaja mengatakan bahwa umumnya mereka mengisi
waktu luang di luar rumah, seperti: kebut-kebutan di jalan raya.
85) Hasil Observasi
86) Tidak ditemukannya wadah perkumpulan remaja (Karang
Taruna) di kelurahan A
Resiko cedera pada remaja di kelurahan A
Resiko cedera pada remaja di kelurahan A berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan remaja tentang bahaya kebut-kebutan dijalan raya
87)
88) Hasil Quisioner :
89) Kebiasaan remaja; merokok 70% , minum beralkohol 15%,
narkoba 10% dan prilaku seksual 5% menyimpang.
90) Hasil Wawancara :
91) Beberapa remaja mengatakan bahwa mereka jarang melakukan
olahraga
Hasil Observasi
92) Tidak adanya kegiatan olahraga dan tidak terdapat sarana
olahraga di kelurahan A.
93)
Perubahan pemeliharaan kesehatan
Perubahan pemeliharaan kesehatan pada remaja di kelurahan A
berhubungan dengan kurangnya pengetahuan remaja tentang efek bahaya
merokok, alkohol dan narkoba
B. PENAMPISAN MASALAH
94) Diagnosa keperawatan
95) Kriteria penapisan
96) Tersedia Sumber
97) Sesuai dengan peran
98) perawat komunitas
99) Jumlah yang beresiko
100) Besarnya resiko
101) Kemungkinan untuk pendidikan kesehatan
102) Minat masyarakat
103) Keingnan masyarakat
104) Sesuai dengan program pemerintah
105) Sumber daya tempat
106) Sumber daya waktu
107) Sumber daya dana
108) Sumber daya peralatan
109) Sumber daya orang (perawat)
110)
1. Perubahan pemeliharaan kesehatan pada remaja di kelurahan A
berhubungan dengan kurangnya pengetahuan remaja tentang efek bahaya
merokok, alkohol dan narkoba. Dengan skore 57.
2. Resiko terjadinya peningkatan angka kematian pada remaja di kelurahan
A berhubungan dengan kurangnya pengetahuan remaja tentang bahaya
kebut-kebutan di jalan raya. Dengan skore 50.
111)
112) RENPRA

113) Diagnosa 114) Tujua 115) Interve


n nsi
1. Resiko cedera pada remaja 119) Setela 1. Melakukan penyuluhan di
di kelurahan A b/d h balai desa kelurahan A
dilakukan dengan tema bahaya
kurangnya pengetahuan
tindakan kebut-kebutan dan
remaja tentang bahaya keperawat peraturan lalu lintas.
kebut-kebutan dijalan raya an 120)
diharapka 2. Bekerja sama dengan
116) Data pihak kepolisian tentang
n resiko
subjektif: demonstrasi tertib
cedra pada
Beberapa remaja berlalulintas
remaja
mengatakan bahwa 121)
dapat
3. Membentuk organisasi
umumnya mereka dikurangi
karang taruna, dengan
dengan
mengisi waktu luang di kader remaja yang sudah
kriteria :
dilatih untuk menyalurkan
luar rumah, seperti: 1. Remaja dapat
hobi atau mengisi waktu
kebut-kebutan di jalan memahami bahaya
luang
kebut-kebutan di 122)
raya.
jalan raya
117) Data 2. Remaja
Objektif memanfaatkan
waktu luang dengan
50% remaja
belajar bersama atau
menggunakan sebagian kegiatan yang lebih
waktu untuk kebut- bermanfaat.
3. Remaja mempunyai
kebutan dijalan raya. wadah perkumpulan
Hampir seluruh remaja (karang taruna)
mempunyai kendaraan untuk menyalurkan
bermotor 89% hobi atau sharing.
Tidak ditemukannya
wadah perkumpulan
remaja (Karang Taruna)
di kelurahan A
118)
2. Perubahan pemeliharaan 126) Setela 1. Melakukan
kesehatan pada remaja di h penyuluhan di balai
dilakukan desa kelurahan A
kelurahan A b/d kurangnya
tindakan dengan tema bahaya
pengetahuan remaja tentang keperawat merokok pentingnya
efek bahaya merokok, an berolahraga
diharapka 128)
alkohol dan narkoba 2. Membentuk
n remaja
123) Data dapat organisasi karang
Subjektif memelihar taruna, dengan kader
Beberapa remaja a remaja yang sudah
mengatakan bahwa kesehatan dilatih
mereka jarang 129)
remaja
3. Memotivasi remaja
melakukan olahraga dikurangi
untuk memelihara
124) dengan
kesehatan mereka
125) Data kriteria :
dengan berolahraga
Objektif 1. Remaja dapat
dan mengurangi
Kebiasaan remaja; memahami bahaya
kebiasaan buruk.
merokok alkohol 130)
merokok 70% , minum
dan narkoba 4. Bekerja sama dengan
beralkohol 15%, narkoba 2. Remaja dapat lintas sektoral untuk
10% dan prilaku seksual menerapkan prilaku penyediaan saran
hidup sehat bebas olahraga bagi remaja
5% menyimpang.
Tidak adanya kegiatan dari rokok alkohol kelurahan A
dan narkoba 131)
olahraga dan tidak
3. Remaja
terdapat sarana olahraga
memanfaatkan
di kelurahan
waktu luang dengan
belajar bersama atau
kegiatan yang lebih
bermanfaat.
4. Remaja mempunyai
wadah perkumpulan
(karang taruna)
untuk menyalurkan
hobi atau sharing.
5. Remaja dapat
memelihara
kesehatan mereka
dengan berolahraga
dan mengurangi
kebiasaan buruk
mereka.
127)
132) 133) 134)
135)

136)

137)
138)
139)
140)
141)
142)
143)
144)
145)
146)
147)
148)
149)
150) BAB IV
151) PENUTUP
152)
153)
4.1 Kesimpulan
154)Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak
menjadi masa yang yang menyenangkan, meski bukan berarti tanpa
masalah. Banyak proses yang harus dilalui seseorang dimasa transisi
kanak-kanak menjadi dewasa ini. Tantangan yang dihadapi orangtua dan
petugas kesehatan dalam menangani problematika remaja pun akan
semakin kompleks. Namun ada penyelesaian masalah untuk membentuk
manusia-manusia kreatif dengan karakter yang kuat, salah satunya dengan
melakukan asuhan keperawatan komunitas pada kelompok remaja.
155)Asuhan keperawatan komunitas bertujuan untuk meningkatkan
kesehatan pada masyarakat khususnya remaja. Remaja dengan jiwa yang
masih labil masih perlu bimbingan melalui penyuluhan agar resiko
peningkatan angka kematian dan perubahan pemeliharaan kesehatan pada
remaja kelurahan A teratasi.
156)
4.2 Saran
157) Kesehatan merupakan hal yang paling penting dan utama
demi masa depan nantinya agar cita-cita dapat tercapai, diharapkan
dengan adanya penyuluhan remaja menjadi manusia yang kreatif dan
berrkarakter yang kuat dan remaja dapat meningkatkan pemeliharaan
kesehatan.
158) Makalah ini bisa digunakan sebagai tambahan bahan untuk
menambah wawasan mengenai asuhan keperawatan komunitas khususnya
remaja diharapkan para pembaca dapat menyempurnakan makalah ini
lebih baik lagi.
159)
160)
161)
162) DAFTAR PUSTAKA
163)
164) Allender,JudithAnn.
Communityhealthnursing:promotingandprotectingthepublicshealth/JudithA.Alle
nder,Cherie
165) Rector,KristineD.Warner.7thed.
166) Anderson, Elizabeth T, dkk. 2007. Buku Ajar Keperawatan
Komunitas Teori Dan Praktik. Edisi III. Jakarta: EGC.
167)
168) Efendi, Ferry., Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan
Komunitas Teori Dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.
169)
170) CommunityHealthNursing:PromotingandProtectingthePublic'sHealth...
http://search.barnesandnoble.com/Community-Health-Nursing/Judith-A-...
171)
172) Tim Pengajar Keperawatan Komunitas Program Studi
Keperawatan Persahabatan Poltekkes DepKes Jakarta III. 2008.
Keperawatan Komunitas; Upaya memandirikan Masyarakat
Untuk hidup sehat. Jakarta: Trans info Media.
173)
174)
175)