Anda di halaman 1dari 2

Apatisme

Wabah apatisme kian menjalar pada kehidupan mahasiswa pada era ini.
Definisi dari apatisme sendiri adalah interpretasi sebuah paham sikap acuh
tak acuh, tidak peduli, kalau kata gaulnya masa bodoh. Kali ini konsen kita
apatisme mahasiswa, dimana sebuah paham tersebut ditunjukkan dengan
ketidakpekaannya terhadap lingkungan yang terjadi disekitarnya. Rasa
empati yang hakikatnya telah diberikan kepada jati diri manusia, seakan
telah pudar dari sosok siswa yang di Maha-kan. Bahkan menimbulkan sebuah
skeptisan baru apa tentang substansi Mahasiswa itu sendiri.

Telah kita ketahui bersama bahwa mahasiswa memiliki peran dalam


menjalankan fungsinya yakni, agent of change, social control, iron stock
serta moral force. Namun hari ini keempat peran tersebut terkikis serta
terdegradasi dari yang seharusnya. Banyak anggapan bahwa mahasiswa
sejatinya hanya menuntut akademik semata sehingga muncullah kalimat
sing penting IP gede, lulus, oleh kerjo. Memang benar IP, kelulusan adalah
tuntutan berkuliah, namun setidaknya kita paham masalah-malasah yang
terjadi disekitar, dimana sebagian masalah tersebut sebenarnya
mengeksploitasi kita secara langsung maupun tak langsung.

Realita tersebut cukup menkhawatirkan kita, semua mahasiswa sebagai


pemuda yang akan akan memegang kendali atas roda negeri ini, mau jadi
apa negeri ini?
Mari kita renungkan sejenak diri kita masing-masing, manusia adalah
makhluk social, dimana kita tak bisa terlepas dari manusia lainnya dan
lingkungan sekitar. Kepekaan hati nurani yang telah diciptakan oleh system
tuhan menjadi pertanggungjawaban kita untuk bersosial. Bukankah
permasalahan disekitar adalah adalah tanggung jawab kita? Untuk itu, mari
selaku manusia dan mahasiswa menghindari dan mengobati wabah
apatisme tersebut, sebagai pertanggungjawaban kita sebagai makhluk
berakal serta pertanggungjawaban atas system ciptaan hati nurani dari
tuhan. Pekalah terhadap isu permasalahan bersama yang telah
mengeksploitasi kita, serta sadarlah bahwa kita pemuda mahasiswa adalah
eksistensi yang nyata sebagai garda utama rakyat dan lingkungan sekitar,
serta penentu negeri ini kelak.

Dibalik deskripsi dari aplikasi yang dangkal, sains kritis dalam setiap disiplin
mempertanyakan beberpa topik seperti tanggungjawab, minat-minat, dan
ideology. Daripada berfokus pada proses akademik murni atau masalah-
masalah teoritis, alangkah baik jika ilmu social diberlakukan untuk
menyelesaikan masalah social dengan memihak pada yang paling
menderita, secara kritis menganalisis siapa yang bertanggungjawab atas
masalah tersebut dan siapa yan berpeluang untuk menyelesaikan masalah-
masalah social yang mendera

Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya
terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja
dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita sederhana, maka lebih baik
pendidikan itu tidak diberikan samas sekala Tan Malaka
#TolakApatisme
#HidupMahasiswa

Kementerian Sosial-Politik
BEM FIA 2016