Anda di halaman 1dari 28

1

TEORI PEMBERLAKUAN HUKUM ISLAM DI

INDONESIA

Makalah Kelompok Revisi

Dipersentasekan dalam Forum Seminar Kelas pada Mata Kuliah


Hukum Islam di Indonesia Konsentrasi Hukum Islam
Program Doktor (S3) Pascasarjana
UIN Alauddin Makassar

Oleh:

1. Akrama Hatta : 80100315


: 054
2. Mahmud Hadi
80100315
Riyanto
056

Dosen Pemandu:

Prof. Dr. Sabri Samin, M.Ag.


Dr. Kurniati, M.H.I.
2

PASCASARJANA
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2016
I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Islam masuk ke Indonesia pada abad-abad pertama hijriah

telah membawa sistem nilai-nilai baru berupa akidah dan syariat.

Ketika itu kondisi masyarakat Indonesia telah tertata lengkap

dengan sistem yang berlaku berupa peraturan-peraturan adat

masyarakat setempat.

Nilai-nilai Islam itu diresapi dengan penuh kedamaian dan

tidak bertentangan dengan nilai-nilai akidah dan syariat Islam,

sesuai dengan hakikat dakwah Islmiyyah. Pertemuan kedua sistem

nilai itu (adat dan Islam) berlaku dengan wajar, tanpa adanya

konflik antara kedua sistem nilai tersebut.

Makalah sederhana ini akan membahastujuh teori berlakunya

hukum Islam di Indonesia. Ketujuh teori itu ialah:

1. Teori Kredo atau Syahadat.

2. Teori Receptio In Complexu.

3. Teori Receptie.

4. Teori Receptie Exit.

5. Teori Receptiea Contrario

6. Interdependensi
3

7. Sinkritisme

Berdasarkan uraian singkat diatas, maka pokok masalah

dalam makalah ini adalah bagaimanakah teori pemberlakuan

hukum Islam di Indonesia? Yang akan di bahas dalam sub masalah

sebagai berikut.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan dasar pemikiran

menurut pokok masalah yaitu: Bagaimana teori pemberlakuan

hukum islam di Indonesia? Maka dirumuskan satu sub masalah se-

bagai berikut:

1. Bagaimanakah teori pemberlakuan hukum Islam di Indonesia?


4

II
PEMBAHASAN

Teori-teori pemberlakuan hukum Islam di Indonesia

sebagaimana yang telah disebutkan pada pendahuluan di atas,

adalah sebagai berikut:

A. Teori Kredo atau Syahadat


Teori kredo atau syahadat di sini ialah teori yang

mengharuskan pelaksanaan hukum Islam oleh mereka yang telah

mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai konsekuensi logis dari

pengucapan kredonya. Teori ini dirumuskan dari al-Qur'an. Ayat-

ayat yang dimaksud antara lain :QS al-Ftiah/ 1: 5; QS al-Baqarah/

2: 179; QS li Imrn/ 3: 7; QS al-Nis/4: 13-14, 49, 59, 63,69, dan

105; QS al-Midah/ 5: 44, 45, 47, 48, 49, dan 50; QS al-Nr/ 24: 51-

52.

Misalnya dalam QS al-Nr/24: 51-52.






Terjemahnya:
Sesungguhnya jawaban orang- orang mukmin, bila mereka
dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum
(mengadili) diantara mereka ia ucapkan, kami mendengar
dan kami patuh.Dan mereka itulah orang-orang yang
beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah Swt. dan
Rasul-Nya dan takut kepada Allah Swt. dan bertakwa kepada-
5

Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat


kemenangan.1

Teori kredo atau syahadat ini sesungguhnya kelanjutan dari

prinsip Tauhid dalam filsafat hukum Islam. Prinsip Tauhid

menghendaki setiap orang yang menyatakan dirinya beriman

kepada ke-Maha Esa-an Allah swt., maka ia harus tunduk kepada

apa yang diperintahkan oleh Allah swt.. Dalam hal ini taat kepada

perintah Allah Swt. dalam al-Qur'an sebagaimana ayat-ayatnya

telah disebutkan di atas, dan sekaligus pula taat kepada Rasul dan

sunah-nya.

Teori kredo ini sama dengan teori otoritas hukum yang

dijelaskan oleh H. A. R. Gibb.2 Gibb menyatakan bahwa orang Islam

yang telah menerima Islam sebagai agamanya berarti ia telah

menerima otoritas hukum Islam atas dirinya.

Teori Gibb ini sama dengan apa yang telah diungkapkan oleh

Imam mazhab, seperti al-Syfi dan Abanfah ketika mereka

menjelaskan teori mereka tentang politik hukum internasional Islam

(Fiqh Siysah Dauliyyah) dan hukum pidana Islam (Fiqh Jinyah).

Mereka mengenal teori teritorialitas dan non teritorialitas,

teritorialitas dari Abanfah menyatakan bahwa seorang muslim

terikat untuk melaksanakan hukum Islam sepanjang ia berada di

1Kementrian Agama RI., Al-Qurn dan Terjemahan (Semerang: PT. Karya


Toha Putra, 2013), h. 356.

2The Modern Trends in Islam, The University of Chicago Press, Chicago


Illionis, 1950. Th.
6

wilayah hukum dimana hukum Islam diberlakukan. Sementara teori

non teritorialitas dari al-Syfimenyatakan bahwa seorang muslim

selamanya terikat untuk melaksanakan hukum Islam dimanapun ia

berada, baik diwilayah hukum dimana hukum Islam diberlakukan,

maupun di wilayah hukum di mana hukum Islam tidak diberlakukan.

Sebagaimana diketahui bahwa mayoritas umat Islam

Indonesia adalah penganut mazhab Syfisehingga berlakunya teori

syahadat ini tidak dapat disangsikan lagi. Teori kredo atau Syahadat

ini berlaku di Indonesia sejak kedatangannya hingga kemudian lahir

teori Receptio in Complexu di zaman Belanda.3

B. Teori ReceptioIn Complexu


Perkembangan dan diakuinya hukum Islam sebagai hukum

positif Hukum Islam lahir di Indonesia sejak datangnya Islam ke

Indonesia jauh sebelum pemerintah Hindia Belanda datang ke

Indonesia.4 Hingga saat ini masih terdapat perbedaan

pendapat terkait kapan datangnya Islam ke Indonesia. Ada

pendapat yang menyatakan bahwa Islam datang ke Indonesia pada

abad ke-7 M, hal ini didasarkan pada adanya pedagang-pedagang

muslim asal Arab, Persia dan India yang sudah sampai ke kepulauan

3Juhaya S. Praja, Filsafat Hukum Islam (Cet. II; Bandung: LPPM Universitas
Islam Bandung, 1995), h. 133-134.

4Sirajuddin, Legislasi Hukum Islam di Indonesia (Cet. I;Yogyakarta:


Pustaka Pelajar, 2008), h. 69.
7

Nusantara. Pendapat lain menyatakan bahwa Islam masuk ke

Indonesia pada Abad ke-13 Masehi, hal ini ditandai oleh telah

adanya masyarakat muslim di Samudra Pasai, Perlak dan

Palembang. Sementara di Jawa terdapat makam Fatimah Binti

Maimun di Leran, Gresik yang berangkay tahun 475 H atau 1082 M,

dan makam-makam di Tralaya yang berasal dari abad ke-13. Hal ini

merupakan bukti perkembangan komunitas Islam termasuk di pusat

kekuasaan Hindu Jawa ketika itu yakni Majapahit.5

Melalui ahli hukumnya Van Den Berg, lahirlah teori receptio in

complexu yang menyatakan bahwa syariat Islam secara

keseluruhan berlaku bagi pemeluk-pemeluknya. Sehingga

berdasarkan pada teori ini, maka pemerintah Hindia Belanda pada

tahun 1882 M mendirikan peradilan agama yang ditujukan kepada

warga masyarakat yang memeluk agama Islam. Daerah jajahan

Belanda yaitu Indonesia dengan ibu kotanya Batavia dalam hal

kekuasaan administrasi pemerintahan dan peradilan, termasuk

peradilan agama sepenuhnya ditangan Residen. Residen dengan

aparat kepolisiannya berkuasa penuh menyelesaikan perkara

pidana maupun perdata yang terjadi.6

5Abdul Ghofur Anshori dan Yulkarnain Harahab, Hukum Islam Dinamika


dan Perkembanganya di Indonesia (Cet. I; Yogyakarta: Kreasi Total Media,
2008), h. 88-89.

6Saidus Syahar, Asas-Asas Hukum Islam (Bandung: Alumni, 1996), h. 105-


106.
8

Pada masa pemerintahan Van Den Berg hukum Islam benar-

benar diakui berlaku sebagai hukum positif bagi masyarakat yang

beragama Islam sebagaimana telah disebutkan dalam Pasal 75 ayat

3 Regeerings Reglement yang menyebutkan bahwa apabila terjadi

sengketa perdata antara orang-orang Indonesia yang beragama

Islam, oleh hakim Indonesia haruslah diperlakukan Hukum Islam

gonsdientig wetten dan kebiasaan mereka. Selanjutnya pemerintah

Hindia Belanda pada tahun 1882 M mendirikan pengadilan agama

yang kemudian diiringi dengan terbentuknya pengadilan tinggi

agama (mahkamah syariyyah). Munculnya teori receptio in

complexu ini menjadikan hukum Islam diakui dan berlaku sebagai

hukum positif pada masa pemerintahan Hindia Belanda walaupun

pada dasarnya hukum Islam telah ada berlaku dalam kehidupan

masyarakat Indonesia jauh sebelum pemerintah Hindia Belanda tiba

di Indonesia.

Teori receptio in complexu menyatakan bahwa bagi orang

Islam berlaku penuh hukum Islam sebab dia telah memeluk agama

Islam walaupun dalam pelaksanaannya terdapat penyimpangan-

penyimpangan. Teori ini berlaku di Indonesia ketika teori ini

diperkenalkan oleh Lodewijk Willem Christian Van Den Berg (1845-

1927 M). Ia dikenal sebagai Orang yang menemukan dan

memperlihatkan berlakunya hukum Islam di Indonesia walaupun

sebelumnya telah banyak penulis yang membicarakannya. Hukum

kewarisan dan hukum perkawinan Islam diusulkan oleh L. W. C. Van


9

Den Berg agar dijalankan oleh hakim-hakim Belanda dengan

bantuan para penghulu kadi Islam.7

L. W. C. Van Den Berg mengonsepsikan Stbl. 1882 no. 152

yang berisi ketentuan bahwa bagi rakyat pribumi atau rakyat

jajahan berlaku hukum agamanya yang berada didalam lingkungan

hidupnya. Hukum Islam berlaku bagi masyarakat yang menganut

agama Islam. Oleh karena itu, sesuai dengan konsepnya dalam Stbl.

Itulah ia dikenal sebagai pencetus teori receptio in complexu

sebagaimana dijelaskan di atas.

Teori receptio in complexu ini telah diberlakukan pula dizaman

VOC sebagaimana terbukti telah dibuatnya berbagai kumpulan

hukum untuk pedoman pejabat dalam menyelesaikan urusan-

urusan hukum rakyat pribumi yang tinggal didalam wilayah

kekuasaan VOC yang kemudian dikenal sebagai Nederlandsch Indie.

Kumpulan hukum tersebut ialah:

1. Compedium Preijer yang merupakan kitab hukum kumpulan

hukum perkawinan dan kewarisan Islam oleh pengadilan VOC

(Resolutie der Indische Regering tanggal 25Mei 1760 M).

2. Cirbonch Rechtboek yang dibuat atas usul Residen Cirebon

(Mr. P. C. Hoselaar, 1757-1765 M).

7Ichtijanto, Pengembangan Teori Berlakunya Hukum Islam di Indonesia


dalam Juhaya, Hukum Islam di Indonesia Perkembangan dan
Pembentukan (Bandung: Rosda, 1991), h. 117.
10

3. Compedium der Voomaamste Javaansche Wetten

Nauwkeuring Getroken uithet Mohammedaansche Wetboek

Mogharaer yang dibuat untuk Landraad Semarang (1750 M).

4. Compedium Inlandsche Wetten bij de Hoven van Bone en Goa

yang disahkan VOC untuk diberlakukan di daerah Makassar

(Sulawesi Selatan).8

C. Teori Receptie
Teori Receptie menyatakan bahwa bagi rakyat pribumi pada

dasarnya berlaku hukum adat. Hukum Islam berlaku bagi rakyat

pribumi kalau norma hukum Islam itu telah diterima oleh

masyarakat sebagai hukum adat.

Teori receptie dikemukakan oleh Christian Snoock Hurgronye

dan dikembangkan oleh Van Vollenhoven dan Ter Haar. Teori ini

dijadikan alat oleh Snouck Hurgronye agar orang-orang pribumi

jangan sampai kuat memegang ajaran Islam dan hukum Islam,

dikhawatirkan mereka akan sulit menerima, dan dipengaruhi

dengan mudah oleh budaya barat. Ia pun khawatir hembusan

Panislamisme yang ditiupkan oleh Jamluddn al-Afgn

berpengaruh di Indonesia.

Teori receptie ini amat berpengaruh bagi perkembangan

hukum Islam di Indonesia serta berkaitan erat dengan pemenggalan

wilayah Indonesia kedalam sembilan belas wilayah hukum adat

Pasal 134 IS yang sering disebut sebagai pasal receptie

8 Juhaya S. Praja, Filsafat Hukum Islam, h. 134-135.


11

menyatakan bahwa bagi orang-orang pribumi, kalau hukum mereka

menghendaki, diberlakukan hukum Islam selama hukum itu telah

diterima oleh masyarakat hukum adat.

Upaya pemerintah Hindia Belanda dalam rangka

melumpuhkan hukum Islam dengan bertopeng di belakang teori

receptie tersebut tercermin dalam beberapa peraturan perundang-

undangan dan berbagai peraturan dibawah ini:

1. Sfbl 1915: 732 yang diberlakukan sejak Januari 1919 M sama

sekali tidak memasukkan unsur-unsur Fikih Jinyat, seperti

udd dan qi dalam lapangan hukum pidana. Hukum

pidana yang berlaku sepenuhnya mengambil alih Wetboek

van Straftecht dari Nederland.

2. Pemerintah Hindia Belanda berusaha menghancurkan hukum

Islam tentang ketatanegaraan dan politik dengan cara

melarang pengajian yang menyangkut hukum tata negara

dan penguraian al-Qur'an serta hadis yang berkenaan dengan

politik dan kenegaraan.

3. Bidang Fikih Mumalah pula dipersempit dengan membatasi

pada hukum perkawinan dan kewarisan disertai usaha agar

hukum kewarisan tidak dijelaskan kaum muslimin.

Upaya ini dilakukan melalui langkah-langkah sistematis

berikut ini:

1. Menanggalkan wewenang rad (majelis) Agama di Jawa dan

Kalimantan Selatan untuk mengadili masalah waris.


12

2. Memberi wewenang memeriksa masalah waris kepada

Landraad.

3. Melarang menyelesaikan dengan hukum Islam jika

ditempatnya perkara tidak diketahui bagaimana bunyi hukum

adat.

Teori receptie berlaku hingga tiba zaman kemerdekaan

Indonesia, tercatat pada 17 Agustus 1945L. W. C. Van Den Berg,

seorang sarjana Belanda, bahwa pada awal-awal masa penjajahan

Belanda, bagi orang-orang Indonesia yang beragama Islam berlaku

motto receptio in complexuyang berarti orang-orang Muslim

Indonesia menerima dan memperlakukan syariat secara

keseluruhan. Pada masa-masa itu (sampai 1 April 1937 M),

Pengadilan Agama mempunyai kompetensi yang luas, yakni seluruh

hukum sipil bagi perkara-perkara yang diajukan, diputus menurut

hukum Islam.9

Penjajahan Belanda atas Indonesia pada mulanya bermotifkan

perdagangan, karena tertarik pada rempah-rempah dan hasil bumi

lainnya yang sangat laris di pasaran Eropa waktu itu. Untuk

mendapatkan monopoli perdagangan, Belanda memerlukan

kekuasaan atas Indonesia yang direbutnya dengan segala

kepandaian diplomasi dan kekuatan senjata yang akhirnya

9Ahmad Zaini Noeh, Peradilan Agama Islam Di Indonesia (Jakarta:


Intermas, 1980), h. 25-26.
13

menjadikan Indonesia sebagai koloni Belanda selama lebih kurang

300 tahun.10

Politik hukum pun disesuaikan dengan kebutuhan

kolonialisme, yakni hukum direncanakan untuk diunifikasikan,

disatukan. Itu berarti, hukum yang berlaku dinegeri Belanda,

diberlakukan juga di Indonesia. Pada waktu itu timbul konflik-konflik

hukum, karena ada di antara sarjana hukum Belanda yang tidak

menyetujui unifikasi hukum dalam arti seperti diterangkan di atas.

Para sarjana hukum Belanda yang menolak unifikasi itu dipelopori

oleh C. Van Vollenhoven dengan bukunya De ontdekkmg van het

adatrecht (Penemuan Hukum Adat).

Menurut Van Vollenhoven, hukum yang berlaku di masyarakat

Indonesia bukan hukum Islam, melainkan hukum adat, yakni hukum

yang berakar pada kesadaran hukum masyarakat sejak dulu, dan

hukum yang telah berhasil membuat masyarakat Indonesia sebagai

masyarakat yang damai dan tertib. Dengan demikian, teori receptio

in complexu dari Van Den Berg diganti dengan teori resepsi.Menurut

teori (resepsi) ini, hukum-hukum Islam yang berlaku di masyarakat

karena telah diterima (diresepsi) oleh hukum adat.Mulailah konflik

tiga sistem hukum Islam, adat dan Barat (Belanda) yang berlanjut

sampai sekarang.

Awal dari konflik tiga sistem hukum itu adalah rencana

pemerintah Belanda, untuk memberlakukan hukum sipil Belanda

10Juhaya S. Praja, Filsafat Hukum Islam, h. 135-136.


14

bagi penduduk asli Indonesia, sebagaimana di bidang hukum pidana

telah berhasil mereka lakukan. Sarjana hukum yang mempelopori

perlawanan adalah C. Van Vollenhoven dan Snouck Hurgronje.

Perlawanan kelompok ini terhadap gagasan unifikasi hukum

pemerintah Belanda adalah babak yang paling ramai dan menarik

dalam sejarah hukum di Indonesia. Karena dari pertentangan kedua

visi hukum itu kita dapat menyaring motif-motif politik dari kedua

belah pihak.

Kelompok hukum adat berpendapat, kalau hukum Barat

(Belanda) dipaksakan berlaku bagi pribumi Indonesia, maka yang

akan mengambil keuntungan adalah hukum Islam. Hal ini

disebabkan hukum sipil barat (Belanda) tumbuh dan berkembang

dari asas-asas moral dan etika agama Kristen. Pendapat ini adalah

pendapat para sarjana hukum Belanda sendiri, antara lain Von L.J.V.

Apeldoom dalam bukunya Inleiding tot de Studie van het

Nederlandse recht.

Menurut Van Vollenhoven dan kawan-kawannya ada hukum

adat, maka hukum Islam hanya diperlakukan kalau telah diserap

oleh hukum adat (teori resepsi). Hukum Islam di Indonesia dianggap

bukan hukum yang mandiri, melainkan harus dikaitkan dengan

hukum adat.11

11Muhammad Daud Ali, Hukum Islam Dan Masalahnya di Indonesia,


dalam Mimbar Hukum No.31 Tahun VIII (Jakarta: Yayasan al-Hikmah,
1997), h. 8.
15

Namun setelah Snouck Hurgronje berada di Indonesia dengan

tugas penelitian terhadap suku Aceh dan Islam di Jawa, ia kemudian

mengkritik teori Van Den Berg tersebut dan mengemukakan

pendapat dan buah pikirannya yang berbeda yaitu yang ia sebut

dengan theorie receptie artinya bahwa hukum yang mengatur tertib

masyarakat di Indonesia adalah hukum adat asli, sedang hukum

agama (Islam) hanya berlaku pada sebahagian kecil yang telah

diterima, meresap dan sesuai dengan hukum adat.

Pasal 124 ayat (2) IS tahun 1929 M menyebutkan: Dalam hal

terjadi perkara perdata antara sesama orang Islam akan

diselesaikan oleh hakim agama Islam apabila hukum adat mereka

menghendakinya dan sejauh itu tidak ditentukan lain dalam satu

ordonansi.

Setelah Thomas Stanford Raffles menjabat sebagai gubernur

selama 5 tahun (1811-1816 M), pihak Belanda berusaha keras

mencengkeram kuku-kuku kekuasaannya di wilayah ini. Namun hal

itu menemui kesulitan akibat adanya perbedaan agama antara

penjajah dengan rakyat jajahannya, khususnya umat Islam yang

mengenal konsep dr al-Islm dan dr al-arb.12

Itulah sebabnya pemerintah Belanda selalu mengupayakan

segala cara untuk menyelesaikan masalah tersebut. Cara-cara yang

dilakukan pemerintah Belanda antara lain dengan:

1. Menyebarkan agama Kristen kepada rakyat pribumi;


12Muhammad Ikhsan, Hukum Islam Di Indonesia: Dulu Dan Sekarang,
www.abulmiqdad.multiply.com/journal/item/13, (6 Maret 2016).
16

2. Membatasi keberlakuan hukum Islam hanya kepada aspek-

aspek batiniah (spritual) saja.13

Lemahnya posisi hukum Islam ini terus terjadi hingga

menjelang berakhirnya kekuasaan Hindia Belanda di wilayah

Indonesia pada tahun 1942 M.

Kalau berbicara tentang konflik hukum sipil dengan hukum

Islam (syariat),maka di Indonesia hukum sipil itu berarti gabungan

antara hukum sipil barat (Belanda) dengan hukum adat. Sementara

konflik antara tiga sistem hukum ini masih dalam proses berlanjut,

maka mungkin untuk mudahnya para sarjana hukum Indonesia

berunsur tiga, yaitu hukum Islam, adat, dan barat. Dan tiga unsur

inilah hukum nasional diramu, yang sampai sekarang masih dalam

proses penyelesaiannya.14

Sejak zaman VOC. Belanda telah mengakui hukum Islam di

Indonesia. Dengan adanya Regerings reglemen, mulai tahun 1855

Belanda mempertegas pengakuannya terhadap hukum Islam di

Indonesia.

Kemudian atas rekomendasi Snouck Hurgronje, pemerintah

Belanda memberlakukan teori Receptie, yang menegaskan bahwa

Hukum Islam hanya bisa diperlakukan untuk orang Indonesia bila ia

13Ramly Hutabarat, Kedudukan Hukum Islam dalam Konstitusi-konstitusi


Indonesia dan Peranannya dalam Pembinaan Hukum Nasional (Jakarta:
Pusat Studi Hukum Tata Negara Universitas Indonesia, 2005), h. 67-68.

14Bustanul Arifin, Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia Akar Sejarah,


Hambatan Dan Prospeknya (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), h. 35-37.
17

telah di terima oleh hukum adat. Istilah adat recht digunakan

pertama kali oleh Snouck Hurgronje pada tahun 1893 M dalam

bukunya De Atjehers untuk menunjukkan hukum yang

mengendalikan kehidupan masyarakat Aceh; yaitu adat yang

mempunyai konsekuensi hukum. Istilah ini kemudian dipungut oleh

Van Vallenhoven dan sarjana-sarjana Belanda yang lain untuk

menunjukkan hubungan hukum dalam masyarakat Indonesia. Jelas

sekali bahwa hukum adat ini merupakan rekayasa Belanda.

Diberbagai negara di dunia Islam, seperti di India, Malaysia dan

Filipina, memang terdapat berbagai adat istiadat lokal, tetapi tidak

ditemukan hukum adat seperti yang diperkenalkan Belanda di

Indonesia. Teori receptie ini disebut oleh Hazairin sebagai teori iblis.

Bagaimanapun juga, agama adalah suatu yang menentukan

dalam sejarah Indonesia, dan karena itu Ketuhanan Yang Maha Esa

dicantumkan oleh pendiri Republik Indonesia sebagai sila pertama

falsafah negara, dan ini adalah disamping adat-istiadat (juga

dipengaruhi oleh pandangan hidup dan agama bangsa Indonesia),

yang memainkan peran dalam membentuk pengertian dan citra

hukum bangsa Indonesia sepanjang sejarah.

Hukum di Indonesia dapat dilihat dari beberapa hal:

1. Hukum yang berasal dari adat istiadat dan norma-norma

masyarakat yang diterima secara turun-temurun yang

berlangsung sejak lama sekali dan melekat dalam kesadaran

masyarakat.
18

2. Hukum yang berasal dari ajaran agama. Dari zaman dahulu

sudah dicatat dalam sejarah sejumlah orang yang mengklaim

menerima pesan Ilahi atau hikmah (wisdom) untuk

disampaikan kepada masyarakat. Pesan ini berupa aturan

yang harus ditaati bila manusia ingin selamat dalam

hidupnya. Dalam tradisi agama samawi, sejak manusia

pertama diciptakan Tuhan dimuka bumi, manusia telah diberi

petunjuk untuk menempuh kehidupan ini, baik menyangkut

hubungan dengan Tuhan, dengan sesama manusia, atau

dengan lingkungan alam. Para penerima pesan Tuhan ini, baik

sebagai Nabi atau sebagai failusuf, mempunyai pengikut dan

umat yang menjalankan aturan dan hukum yang dipesankan

terhadap mereka. Pesan tersebut kemudian menjadi norma

agama sebagai aturan hukum yang mewarnai sikap individu

dalam kehidupan masyarakat sebagian atau porsi terbesar

dari norma tersebut kemudian menjadi adat dan tradisi turun-

temurun.Norma hukum yang berasal dari agama, adat-

istiadat dan teradisi turun temurun ini adalah cita-cita hukum

(rechtside) bangsa Indonesia yang menjadi dasar hukum

abstrak. Menurut Bustanul Arifin, mengutip teori Padmo

Wahyono, cita-cita hukum tersebut memerlukan norma

hukum antara (tussen norm, general norm)sebagai law in

books.
19

3. Hukum sebagai keseluruhan aturan kehidupan bersama, yang

berasal dari legislator resmi yang disertai dengan sanksi

tertentu dalam hal terjadinya pelanggaran dan dilaksanakan

oleh negara. Ia adalah norma hukum kongkrit berupa pasal-

pasal yang memuat hasrat bangsa Indonesia untuk

membangun negara yang bersifat demokratis dan

menyelenggarakan keadilan sosial dan perikemanusiaan.

Ketiga aturan hukum di atas terdapat dalam budaya hukum

Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17

Agustus 1945. Membicarakan budaya hukum Indonesia, seorang

tidak dapat melepaskan diri dari ketiga bentuk aturan hukum yang

dibicarakan di atas, dan dengan proklamasi kemerdekaan pada

tanggal 17 Agustus 1945 tersebut, konstruksi hukum Indonesia

secara konstitusional berada diatas norma dasar UUD 1945

termasuk pada tingkat tradisional seperti ditentukan dalam Aturan

Peralihan UUD 1945. memperhatikan ini, hukum Indonesia yang

lahir setelah 18 Agustus 1945 mempunyai empat bentuk dasar.

Pertama adalah produk legislasi kolonial, kedua adalah hukum adat,

ketiga adalah hukum Islam dan keempat adalah produk legislasi

nasional.

Sebelum pemberlakuan hukum kolonial, hukum yang telah

berlaku di wilayah Nusantara adalah hukum adat dan hukum Islam.

Lalu dengan berkembangnya agama Islam, hukum Islam, sebagai

hukum yang berhubungan dengan keyakinan agama mendapat


20

tempat tersendiri dalam kerajaan-kerajaan Islam Nusantara.

Kemudian pasal 134 ayat (2) Konstitusi Hindia Belanda (Indische

Staatsregling) berdasarkan teori receptiehanya bersedia mengakui

hukum Islam bila ia telah menjadi adat. Terlepas dari teori ini,

hukum Islam dalam kenyataan sejarah telah menyatu dengan

budaya hukum bangsa Indonesia. Dalam beberapa suku bangsa,

antara hukum adat dan hukum Islam bahkan merupakan suatu

kesatuan yang integral. Sejarawan Taufik Abdullah melihat bahwa

kesatuan yang integral ini bahkan hampir merata di seluruh

Indonesia. Bagaimanapun, setelah proklamasi kemerdekaan

Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, syarat dan dasar

berlakunya Hukum Islam dan Hukum agama-agama yang lain

adalah pasal 29 ayat (1) dan (2) UUD 1945 yang berbunyi:15
(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, (2)
Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk
memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut
agamanya dan kepercayaannya itu.
Pasal 29 ayat (1) UUD 1945 menurut seorang praktisi hukum
pada dasarnya mengandung tiga muatan makna:
1. Negara tidak boleh membuat peraturan perundang-undangan
atau melakukan kebijakan- kebijakan yang bertentangan
dengan dasar keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Negara berkewajiban membuat peraturan-peraturan
perundang-undangan atau melakukan kebijakan-kebijakan
bagi pclaksanaan wujud rasa kcimanan kepada Tuhan
YangMahaEsa.
3. Negara berkewajiban membuat peraturan-peraturan
perundang-undangan yang melarang siapapun melakukan
pelecehan terhadap ajaran agama.

15Pasal 29 Ayat 1 dan 2 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun


1945.
21

Kata beribadat sebagai kelanjutan dari jaminan negara bagi

tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dalam pasal 29 ayat (2)

adalah dengan pengertian menjalankan syariat (hukum)

agama.Negara berkewajiban menjalankan syariat agama Islam

sebagai hukum dunia untuk ummat Islam, syariat agama Kristen

untuk ummat Kristen dan seterusnya sesuai syariat agama yang

dianut oleh bangsa Indonesia bila agama tersebut mempunyai

syariat agama untuk penganutnya.16

D. Teori Receptie Exit

Hazairin berpendapat, menurutnya setelah Indonesia

merdeka, tepatnya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan

Undang-Undang Dasar 1945 dijadikan undang-undang Negara

Republik Indonesia, semua peraturan perundang-undangan Hindia

Belanda yang berdasarkan teori receptie tidak berlaku lagi, alasan

yang dikemukakan Hazairin menyatakan bahwa teori Receptie itu

harus exit alias keluar dari tata hukum Indonesia Merdeka. Teori

Receptie bertentangan dengan al-Qur'an dan aunah.17

Secara tegas UUD 1945 menyatakan bahwa Negara

berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan Negara menjamin

kebebasan penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan

16Rifyal Kabah, Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Universitas Yarsi,


1999), h. 73-78.

17Hazairin, Tujuh Serangkai Tentang Hukum (Jakarta: Tinta Mas Indonesia,


1974), h. 55.
22

untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya

itu.Demikian dinyatakan dalam pasal 29 ayat (1) dan (2).

E. Teori Receptie A Contrario


Teori receptie exit yang diperkenalkan oleh Hazairin

dikembangkan oleh Sayuti Thalibdengan memperkenalkan teori

receptio a contrario.

Menurut teori receptie a contrario yang secara harfiah berarti

melawan dari teori receptie menyatakan bahwa hukum adat berlaku

bagi orang Islam kalau hukum adat itu tidak bertentangan dengan

agama Islam. Dengan demikian, dalam teori receptie a contrario,

hukum adat itu baru berlaku kalau tidak bertentangan dengan

hukum Islam. Bukti berlakunya teori ini diungkapkan Sayuti Thalib

dalam bab sembilan yang menjelaskan bahwa hukum perkawinan

Islam berlaku penuh dan hukum kewarisan Islam berlaku tetap

dengan beberapa penyimpangan. Sementara pada bab kesepuluh

menjelaskan hasil penelitian pelaksanaan hukum perkawinan dan

kewarisan yang tiba pada kesimpulan:18

1. Bagi orang Islam berlaku hukum Islam.

2. Hal tersebut sesuai dengan keyakinan dan cita-cita hukum,

cita-cita batin dan moralnya.

3. Hukum adat berlaku bagi orang Islam kalau tidak

bertentangan dengan agama Islam dan hukum Islam.

18Sayuti Thalib, Receptie a Contrario: Hubungan Hukum Adat dengan


Hukum Islam (Cet. III; Jakarta: Bina Angkasa, 1982), h. 15-70.
23

Kalau teori receptie mendahulukan berlakunya hukum adat

dari pada hukum Islam, maka teori receptie a contrario sebaliknya.

Dalam teori receptie, hukum Islam tidak dapat diberlakukan jika

bertentangan dengan hukum adat. Teori receptie a contrario

mendahulukan berlakunya hukum Islam dari pada hukum adat,

karena hukum adat baru dapat dilaksanakan jika tidak bertentangan

dengan hukum Islam.

Teori receptie a contrario dapat berlaku juga bagi hukum

agama selain agama Islam, yaitu agama yang diakui oleh peraturan

perundang-undangan Indonesia.19

F. Teori Interdependensi

Teori ini sebenarnya tidak secara langsung berkaitan dengan

pembahasan mengenai teori-teori relasi hukum adat dan hukum

Islam di Indonesia, tetapi antara hukum Islam dan hukum Barat, itu

pun secara umum. Penulis berpendapat bahwa setiap sistem hukum

tidak berdiri sendiri, tidak terkecuali hukum Islam. Ia sebelum dalam

bentuknya yang mutakhir, pasti berinteraksi dengan sistem-sistem

sosial yang lain. Interaksi ini berjalan ratusan tahun atau bahkan

ribuan tahun, dan selama itu pula kesemuanya saling pengaruh-

mempengaruhi. Terjadi proses saling mengisi satu sama lain, saling

konvergensi dan akhirnya pada suatu titik tertentu, ada sebagian

19Juhaya S. Praja,Filsafat Hukum Islam, h. 134-135.


24

yang dapat dikenali wujud aslinya, tetapi sebagian lainnya sulit

dilacak aslinya.

Fenomena di atas wajar terjadi. Dalam hal ini, penulis melihat

terjadinya pengaruh timbal balik antara hukum Islam dan hukum

Barat, contoh lain dikemukakan oleh Mahmassani tentang wesel

dan cek. Cek ini memang masuk dalam daftar istilah yang berasal

bahasa Arab yang ditulis oleh Montgomery Watt yaitu berasal dari

kata shakk yang berarti persetujuan tertulis. Kondisi sebaliknya juga

terjadi terhadap hukum Islam. Banyak negara yang mayoritas

penduduknya beragama Islam memodifikasi konsep hukum Islam

dan memberlakukan sistem gado-gado melalui sebuah proses

yang cukup rumit. Disamping itu eklektisisme juga terjadi antara

hukum Islam dan hukum adat. Adanya peraturan tentang harta

gono-gini adalah salah satu buktinya. Berangkat dari analisis ini,

maka penulis melihat bahwa pada masa kini hubungan antara

hukum adat, hukum Islam, dan hukum Barat bukan dalam suasana

konflik, tetapi mengarah pada proses saling koreksi dan mengisi

serta melengkapi. Dengan kata lain ketiga sistem hukum ini saling

bergantung (interdependensi) satu sama lain.

G. Teori Sinkretisme

Teori sinkretisme dikemukakan oleh Hooker setelah

sebelumnya melakukan penelitian di beberapa daerah di Indonesia.


25

Menurut Hooker, kenyataan membuktikan bahwa tidak ada satu pun

sistem hukum, baik hukum adat maupun hukum Islam yang saling

menyisihkan. Keduanya berlaku dan mempunyai daya ikat

sederajat, yang pada akhirnya membentuk suatu pola khas dalam

kesadaran hukum masyarakat.Namun, kesaamaan derajat

berlakunya dua sistem hukum ini tidak selamanya berjalan dalam

alur yang searah. Pada saat tertentu, dimungkinkan terjadinya

konflik seperti digambarkan dalam konflik hukum adat dengan

hukum Islam di Minangkabau atau konflik antara santri dan

abangan di Jawa.20 Dengan demikian menurut Hooker, daya

berlakunya suatu sistem hukum baik hukum adat maupun hukum

Islam, tidak disebabkan oleh meresepsinya sistem hukum tersebut

pada sistem hukum yang lain, tetapi hendaknya disebabkan oleh

adanya kesadaran hukum masyarakat yang sungguh-sungguh

menghendaki bahwa sistem hukum itulah yang berlaku. Dengan

anggapan ini, akan tampak bahwa antara sistem hukum Adat

dengan sistem hukum Islam mempunyai daya berlaku sejajar dalam

suatu masyarakat tertentu. Daya berlaku sejajar tersebut tidak

muncul begitu saja, tetapi melalui sebuah proses yang amat

panjang. Kondisi ini bisa terjadi karena sifat akomodatif Islam

terhadap budaya lokal. Sikap akomodatif Islam itu mengakibatkan

terjadinya hubungan erat antara nilai-nilai Islam dengan hukum

adat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Eratnya hubungan


20M.B. Hooker, Adat Low in Modern Indonesia (Oxford: Oxford University
Prees, 1978), h. 36.
26

tersebut menghasilkan suatu sikap rukun, saling memberi dan

menerima dalam bentuk tatanan baru, yaitu sinkretisme.


27

III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan

bahwa sebelum kedatangan penjajahan Belanda, hukum Islam

merupakan hukum positif di kerajaan-kerajaan Islam, yang berdiri

dipersada Indonesia. Keberadaan hukum Islam tersebut pada

mulanya mendapat pengakuan dari penguasa Belanda sesuai teori

Receptio In Complexu, tetapi kemudian hanya diakui bila sudah

ditcrima dalam hukum adat melalui teori Receptie. Sedangkan

dalam alam Indonesia merdeka, hukum Islam adalah bagian dari

Hukum Nasional Indonesia, sebagai pelaksanaan sila pertama

Pancasila dan pasal 29 ayat (I) dan (2) Undang-Undang Dasar 1945

melalui jalur ini ketentuan Hukum Islam yang memerlukan

kekuasaan negara untuk pelaksanaannya mendapat jaminan

konstitusional.

B. Implikasi Penelitian
Jadikanlah makalah ini sebagai pedoman yang bersifat untuk menambah wa-

wasan pengetahuan, dan jadikan acuan pemahaman yang lebih dalam sebagai wadah

untuk menampung ilmu.


28

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad Daud. Hukum Islam Dan Masalahnya di Indonesia


dalam Mimbar Hukum No.31 Tahun VIII, Jakarta: Yayasan al-
Hikmah, 1997.

Anshori, Ghofur, Abdul dan Harahab, Yulkarnain. Hukum Islam


Dinamika dan Perkembanganya di Indonesia. Cet. I;
Yogyakarta: Kreasi Total Media, 2008.

Arifin, Bustanul. Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia Akar


Sejarah, Hambatan Dan Prospeknya. Jakarta: Gema Insani
Press, 1996.

Depag R.I Al-Quran dan Terjemahan. Yayasan Penyelenggara


Penerjemah/ Pentafsir Al-Quran, Jakarta, 1992.

Hazairin. Tujuh Serangkai Tentang Hukum. Jakarta: Tinta Mas


Indonesia, 1974.

Hutabarat, Ramly. Kedudukan Hukum Islam dalam Konstitusi-


konstitusi Indonesia dan Peranannya dalam Pembinaan
Hukum Nasional. Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara
Universitas Indonesia, 2005.

Ikhsan,Muhammad. Hukum Islam Di Indonesia: Dulu dan Sekarang,


www.abulmiqdad.multiply.com/journal/item/13.6 Maret 2016.

Kabah Rifyal. Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Universitas Yarsi,


1999.

Noeh Ahmad, Zaini. Peradilan Agama Islam Di Indonesia. Jakarta: PT.


Intermas, 1980.

S. Praja, Juhaya. Filsafat Hukum Islam. Bandung: LPPM Universitas


Islam Bandung, 1995.

Sirajuddin. Legislasi Hukum Islam di Indonesia. Cet. I;Yogyakarta:


Pustaka Pelajar, 2008.

Syahar, Saidus. Asas-Asas Hukum Islam. Bandung: Alumni, 1996.

Thalib, Sayuti. Receptie a Contrario: Hubungan Hukum Adat dengan


Hukum Islam. Cet. III; Jakarta: Bina Angkasa, 1982.

UUD 1945.