Anda di halaman 1dari 21

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 3 TAHUN 1966


TENTANG
KESEHATAN JIWA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Presiden Republik Indonesia,

Menimbang: bahwa perlu ditetapkan Undang-undang tentang Kesehatan Jiwa.

Mengingat:

a) Pasal 2 Undang-undang tentang Pokok-pokok Kesehatan Undang-undang Tahun 1960


No.9Lembaran Negara Tahun 1960 No. 131).

b) Pasal 5 ayat (1) dan pasal 20 ayat (1) Undang-undang Dasar 1945

Dengan persetujuan

Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong;

MEMUTUSKAN:

I. Mencabut: Het Reglement op het Krankzinnigenwezen (Stbl. 1897 No. 54 dengan segala perubahan
dan tambahan tambahannya).

II. Menetapkan:

UNDANG-UNDANG TENTANG KESEHATAN JIWA.

BAB I

KETENTUAN UMUM.

Pasal 1

Yang dimaksudkan dalam Undang-undang ini dengan:

(1) Kesehatan Jiwa adalah keadaan jiwa yang sehat menurut ilmu Kedokteran sebagai unsur daripada
kesehatan yang dimaksudkan dalam pasal 2 Undang-undang Pokok-pokok Kesehatan (Undang-
undang Tahun 1960 No. 9 Lembaran Negara Tahun 1960 No. 131).

(2) Penyakit jiwa adalah sesuatu perubahan pada fungsi jiwa, yang menyebabkan adanya gangguan pada
kesehatan jiwa, seperti yang dimaksudkan dalam sub (a).

Pasal 2

(1) Usaha-usaha dalam bidang kesehatan jiwa, perawatan, pengobatan penderita dan penyaluran bekas
penderita penyakit jiwa (selanjutnya disebut: sipenderita) yang dimaksudkan dalam Bab II pasal 3, Bab
III pasal 4 dan Bab V Pasal 10 dilakukan oleh Pemerintah dan/atau badan swasta.

(2) Dalam usaha-usaha seperti dimaksudkan dalam ayat (1) Pemerintah perlu mengikutsertakan
masyarakat.

BAB II
PEMELIHARAAN KESEHATAN JIWA.
Pasal 3.

Dalam bidang kesehatan jiwa usaha-usaha Pemerintah meliputi:


a. Memelihara kesehatan jiwa dalam pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.
b. Menggunakan keseimbangan jiwa dengan menyesuaikan penempatan tenaga selaras dengan bakat
dan kemampuannya.
c. Perbaikan tempat kerja dan suasana kerja dalam perusahaan dan sebagainya sesuai dengan ilmu
kesehatan jiwa.
d. Mempertinggi taraf kesehatan jiwa seseorang dalam hubungannya dengan keluarga dan masyarakat.
e. Usaha-usaha lain yang dianggap perlu oleh Menteri Kesehatan.

BAB III.
PERAWATAN DAN PENGOBATAN PENDERITA PENYAKIT JIWA.

Pasal 4.

(1) Perawatan, pengobatan dan tempat perawatan penderita penyakit jiwa (selanjutnya disebut perawatan
diatur oleh Menteri Kesehatan).

(2) Menteri Kesehatan mengatur, membimbing, membantu dan mengawasi usaha-usaha swasta, sesuai
dengan Pasal 14 Undang-undang Pokok Kesehatan.

Pasal 5.

(1) Untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan pada suatu tempat perawatan harus ada permohonan
dan salah seorang yang tersebut di bawah ini:
a. Sipenderita, jika ia sudah dewasa.
b. Suami/isteri atau seorang anggota keluarga yang sudah dewasa.
c. Wali dan/atau yang dapat dianggap sebagai sipenderita.
d. Kepala Polisi/Kepala Pamongpraja di tempat tinggal atau di daerah dimana sipenderita ada.
e. Hakim Pengadilan Negeri, bilamana dalam suatu perkara timbul persangkaan, bahwa yang
bersangkutan adalah penderita penyakit jiwa.

(2) Petugas-petugas yang dimaksudkan dalam ayat (1) sub d mengajukan permohonan:
a. jika tidak ada orang seperti yang dimaksudkan dalam ayat (1) sub b dan c.
b. jika sipenderita dalam keadaan terlantar.
c. demi kepentingan ketertiban dan keamanan umum.

Pasal 6

(1) Perawatan dan pengobatan atas permohonan tersebut dalam pasal 5 ayat (1) sub a, b dan c,
diselenggarakan setelah diadakan pemeriksaan oleh dokter, yang menetapkan adanya penderita-
penderita penyakit jiwa dan sipenderita perlu dirawat.

(2) Dalam waktu selambat-lambatnya 3 x 24 jam, petugas yang tersebut dalam pasal 5 ayat (1) sub d wajib
mengusahakan keterangan dari dokter bahwa yang bersangkutan memang menderita penyakit jiwa.

Pasal 7

Jika ada keraguan apakah seseorang menderita penyakit jiwa atau tidak, Menteri Kesehatan dapat
menunjuk ahli-ahli untuk menetapkannya.

Pasal 8

(1) Seorang dalam perkara pidana, seperti yang dimaksudkan dalam Pasal 5 ayat (1) sub e, dapat dirawat
untuk diobservasi selama-lamanya 3 bulan.

Waktu itu dapat diperpanjang, jika dokter yang memeriksanya menganggap perlu.
(2) Jika orang yang dimaksudkan dalam ayat (1) ternyata menderita penyakit jiwa, ia segera mendapat
perawatan, jika tidak, ia diserahkan kembali kepada Hakim Pengadilan Negeri yang dimaksud dalam
ayat (1).

(3) Dokter tersebut dalam ayat (1) harus memberikan laporan tertulis dalam waktu 14 hari terhitung mulai
tanggal dimasukkannya sipenderita ke dalam tempat perawatan kepada Hakim Pengadilan Negeri yang
bersangkutan.

BAB IV.
HARTA-BENDA MILIK PENDERITA.

Pasal 9.

(1) Hakim Pengadilan Negeri setempat menetapkan, bahwa sipenderita tidak mampu mengelola sendiri
harta-benda yang ada padanya miliknya dan/atau yang diserahkan kepadanya.

(2) Hakim yang dimaksudkan dalam ayat (1) menetapkan siapa yang berhak mengelola dan/atau
mengurus harta-benda sipenderita tersebut dalam ayat (1).

(3) Penetapan Hakim yang dimaksudkan dalam ayat (1) dapat dikeluarkan atas permohonan mereka yang
disebut dalam Pasal 5 ayat (1) sub a, b, c dan d.

BAB V.

PENAMPUNGAN BEKAS PENDERITA PENYAKIT JIWA

Pasal 10

Pemerintah melakukan usaha-usaha untuk:


a. Melaksanakan penyaluran dalam masyarakat bagi penderita yang telah selesai mendapat perawatan.
b. Membangkitkan dan membantu kegiatan-kegiatan dalam masyarakat yang mempunyai tujuan untuk
merehabilitasikan dan membimbing penderita.

BAB VI.
PENGAWASAN

Pasal 11

(1) Pengawasan pemeliharaan kesehatan jiwa, perawatan dan pengobatan serta penampungan penderita
yang dimaksudkan dalam Bab II Pasal 3 Bab III Pasal 5, 6, 7 dan Bab V Pasal 10 dilakukan oleh Menteri
Kesehatan.

(2) Usaha-usaha dalam bidang kesehatan jiwa, berdasarkan lain daripada kesehatan jiwa menurut ilmu
kedokteran seperti yang dimaksudkan dalam pasal 1 sub a, diawasi oleh Menteri Kesehatan.

BAB VII.
KETENTUAN PENUTUP.

Pasal 12

Pelaksanaan Undang-undang ini dan hal-hal lain yang tidak/ belum ditetapkan dalam Undang-undang ini,
dapat diatur dengan Peraturan Pemerintah dan peraturan Menteri Kesehatan.

Pasal 13
Undang-undang ini dapat disebut "Undang-undang tentang Kesehatan Jiwa 1966."

Pasal 14

Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkannya.

Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta
pada tanggal 11 Juni 1966

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


SUKARNO.

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 11 Juni 1966.

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1966 NOMOR 23

PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG No. 3,TAHUN 1966
TENTANG
KESEHATAN JIWA.

PENJELASAN UMUM.
Undang-undang Kesehatan Jiwa ini adalah pelaksanaan dari pada Undang-undang Pokok Kesehatan
(Undang-undang Tahun 1960 No. 9 Lembaran Negara Tahun 1960 No. 131). Dengan Undang-undang ini
diatur kesehatan jiwa sebagaimana ditetapkan dalam Pasal I Undang-undang Pokok Kesehatan; disitu
dikatakan, bahwa "kesehatan" meliputi kesehatan badan, rohani (mental) dan sosial. Materi Undang-undang
ini yalah: kesehatan jiwa dan penyakit jiwa.
Dalam Undang-undang ini diatur kesehatan jiwa menurut ilmu kedokteran: Undang-undang ini tidak
melangkah kebidang jiwa menurut ilmu pendidikan, dan sebagainya.

Hingga sekarang hanya ada peraturan mengenai penderita penyakit jiwa yaitu: "Het Reglement op het
Krankzinnigenwezen" (Stbl. 1897 No. 54 dan seterusnya). Dengan Undang- undang ini Reglement tersebut
dibatalkan. Dan materi perawatan/pengobatan penderita penyakit jiwa, yang ada dalam Reglement tersebut
disesuaikan dengan jiwa Undang-undang Pokok Kesehatan.

PENJELASAN PASAL DEMI PASAL.

Pasal 1.

a. Kesehatan Jiwa (mental health) menurut faham ilmu kedokteran pada waktu sekarang adalah satu kondisi
yang memungkinkan perkembangan physik, intelektuil dan emosionil yang optimal dari seseorang dan
perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang-orang lain. Makna kesehatan jiwa mempunyai
sifat-sifat yang harmonis (serasi) dan memperhatikan semua segi-segi dalam penghidupan manusia dan
dalam hubungannya dengan manusia lain.
b. Gangguan dalam perkembangan itu seperti tersebut dalam sub a, yang menjelma sebagai perubahan
dalam fungsi jiwa seseorang itu, merupakan penyakit jiwa.

Pasal 2.

Pasal ini menegaskan, bahwa usaha-usaha kuratif maupun preventif demi kepentingan penderita penyakit
jiwa adalah tugas pemerintah.
Sekalipun demikian pintu terbuka bagi swasta untuk bekerja dilapangan pemeliharaan kesehatan jiwa,
perawatan dan pengobatan penderita dan penampungan bekas penderita penyakit jiwa. Pemerintah (i.c.
Menteri Kesehatan) menetapkan peraturan-peraturan khusus mengenai usaha swasta tersebut, serta
memberikan bimbingan dan bantuan sesuai dengan Pasal 14 ayat (I ) dari Undang-undang tentang Pokok-
pokok Kesehatan.

Dalam usaha untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (lihat pasal 1 Undang-undang
Pokok Kesehatan Undang-undang Tahun 1960 No. 9), tiap warga negara perlu aktif ikut serta dalam usaha-
usaha kesehatan. Prinsip ini dinyatakan juga (dikonkritisir) dalam bidang kesehatan jiwa (umpama
masyarakat diikut-sertakan dalam usaha pendidikan mengenai pemeliharaan kesehatan jiwa).

Pasal 3.

a. Yang dimaksudkan dengan masa pendidikan adalah masa anak-anak semasa bayi, semasa sekolah dan
lain sebagainya.
b. Cukup jelas.
c. Cukup jelas.
d. Ketenteraman hidup baik sprituil maupun materiil dalam lingkungan keluarganya maupun dalam
hubungan dengan masyarakat, mempengaruhi kesehatan jiwa seseorang. Se- bagai anggota dari keluarga
dan masyarakat, tiap-tiap orang mempunyai peranan dan pengaruh dalam kesejahteraan keluarga dan
masyarakatnya.
e. Kini sedang dalam taraf penyelidikan sampai dimana usaha demi kesehatan jiwa yang dilakukan dengan
tambahan pengetahuan-pengetahuan Timur dapat dipergunakan dengan tambahan pengetahuan menurut
ilmu kedokteran.

Pasal 4.

Menteri Kesehatan menetapkan peraturan-peraturan mengenai perawatan/pengobatan dan tempat


perawatan penderita penyakit jiwa.

Usaha-usaha dari badan-badan swasta untuk mendirikan sebuah tempat perawatan harus ada ijin dari
Menteri Kesehatan seperti yang dimaksud dalam pasal 14 ayat (1) dari Undang-undang tentang Pokok-
pokok Kesehatan.

Pasal 5.

Yang dianggap sebagai wali umpamanya komandan suatu pasukan, pemimpin asrama, dan lain-lain orang
yang menurut ketentuan hukum dapat bertindak sebagai wali.

Pasal 6.

Jika seseorang penderita diharuskan dirawat disebuah tempat perawatan, maka dilihat dari sudut hukum
hak kemerdekaan (kebebasan) bergerak sipenderita dibatasi. Perbuatan demikian adalah suatu perbuatan
pidana, kecuali jika pembatasan kebebasan bergerak itu berdasarkan sesuatu Undang-undang.

Maka oleh sebab itu seorang penderita hanya dapat dirawat jika ada keterangan dokter (laporan
Polisi/Kepala Pamong-Praja dan Hakim Pengadilan Negeri).

Berdasarkan Undang-undang ini dokter yang menempatkan seorang penderita dalam sebuah tempat
perawatan, sehingga ia membatasi hak kebebasan bergerak sipenderita, tidak melakukan suatu perbuatan
pidana.

Seorang dokter yang, mengharuskan seorang penderita di- rawat disebuah Rumah Sakit Jiwa dengan
menyalah gunakan kedudukan atau keahliannya dapat dihukum menurut Kitab Undang-undang Hukum
Pidana (pasal 333 dan seterusnya).

Untuk menetapkan apakah seorang penderita penyakit jiwa harus dirawat dan diobati disebuah tempat
perawatan, harus ada surat keterangan dokter: keterangan dokter itu menerangkan hasil pemeriksaan dan
pendapatnya perihal sipenderita. Menurut pasal 11 Menteri Kesehatan melakukan pengawasan terhadap
penyelenggaraan pelaksanaan Undang-undang ini. untuk memperlindungi kepentingan sipenderita, Menteri
Kesehatan mengawasi juga hasil pemeriksaan dan pendapat dokter tersebut.

Demi ketertiban, keamanan dan perikemanusiaan, petugas yang tersebut dalam pasal 5 ayat (1) sub d
berkewajiban dan bertanggung jawab atas terlaksananya perawatan dan pengobatan penderita.

Pasal 7.

Mengingat ketentuan dalam pasal 1, dokter yang dimaksud dalam pasal 6 menyatakan, bahwa seseorang
adalah penderita penyakit jiwa dan oleh karenanya ia perlu dirawat disuatu tempat perawatan.

Untuk menghindarkan keragu-raguan atas kebenaran pernyataan dokter tersebut diatas, Menteri Kesehatan
dapat mendengar pendapat para ahli dalam hal itu.

Pasal 8.

1. Jika disesuatu perkara pidana terdapat seseorang yang memberikan kesan tidak berpikir sehat, sehingga
pada hakim timbul dugaan bahwa ia seorang penderita penyakit jiwa maka Hakim tersebut dapat meminta
pendapat seorang dokter. Orang itu dikirimkan kepada seorang dokter,dokter tersebut selekas- lekasnya
memberikan pendapatnya tentang sipenderita. Berhubung dengan sifatnya penyakit jiwa, ada kalanya
sipenderita harus diobservasi, dan observasi ini meminta waktu, yang ditetapkan selama-lamanya 3 bulan.

2 dan 3. Cukup jelas.

Pasal 9.

1. Jika ternyata bahwa seseorang penderita penyakit jiwa tak dapat dipertanggungjawabkan menguasai
harta bendanya, karena ia merusak, membahayakan keadaan disekitarnya dan lain-lain, maka harta benda
penderita dilindungi oleh hukum; dengan pasal ini perlindungan hak milik sipenderita diserahkan kepada
Hakim

Hakim pengadilan Negeri seyogyanya minta pertimbangan kepada instansi-instansi setempat seperti
peradilan Agama atau badan-badan lain yang dianggap perlu oleh Hakim Pengadilan Negeri dalam hal
pengelolaan harta-benda dengan pengetahuan/persetujuan ahli waris yang bersangkutan.

2 dan 3. Cukup jelas. -

Pasal 10.

Usaha-usaha lebih lanjut dari Pemerintah bagi penderita yang telah mendapat perawatan dan pengobatan
meliputi penyaluran, penempatan, rehabilitasi dan bimbingan bekas penderita dalam masyarakat.

Usaha swasta dalam hal ini memerlukan bantuan dari Pemerintah. Penyelenggaraan ketentuan ini
memerlukan juga kerjasama antara pelbagai instansi-instansi Pemerintah.

Pasal 11.

1. Pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan dalam beraneka usaha demi kepentingan kesehatan jiwa, perawatan-
pengobatan penyakit jiwa dan penampungan bagi penderita yang termasuk dalam pasal ini diawasi oleh
Menteri Kesehatan.

Pemusatan pengawasan pada Menteri Kesehatan ini melekat pada pertanggungan jawabnya untuk
memelihara dan mempertinggi derajat kesehatan rakyat dan Negara.

2. Lihat penjelasan Pasal 3 sub e.

Pasal 12 s/d 14.


Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2805

KESEHATAN JIWA Leave a comment


BAB 1
KONSEP DASAR KESEHATAN JIWA
A. Pengertian Kesehatan Jiwa
1. A mind that grows and adjust, is in control and is free of stress. (Kondisi jiwa seseorang
yang terus tumbuh berkembang dan mempertahankan keselarasan, dalam pengendalian diri
serta terbebas dari stress yang serius). (Rosdahl, Textbook of Basic Nursing, 1999: 58)
2. Sikap yang positif terhadap diri sendiri, tumbuh, berkembang, memiliki aktualisasi diri,
keutuhan, kebebasan diri, memiliki persepsi sesuai kenyataan dan kecakapan dalam
beradaptasi dengan lingkungan. (Stuart & Laraia, Principle and Practice Psychiatric Nursing,
1998) (Yahoda)
3. Fisik, intelektual, emosional secara optimal dari seseorang dan perkembangan ini berjalan
selaras dengan orang lain. (UU Kesehatan Jiwa No. 3 Tahun 1996)
B. Kriteria Sehat Jiwa Menurut Yahoda
1. Sikap positif terhadap diri sendiri
2. Tumbuh kembang dan aktualisasi diri
3. Integrasi (keseimbangan/keutuhan)
4. Otonomi
5. Persefsi realitas
6. Environmental mastery (Kecakapan dalam adaptasi dengan lingkungan)
C. Rentang Sehat Jiwa
1. Dinamis bukan titik statis
2. Rentang dimulai dari sehat optimal mati
3. Ada tahap-tahap
4. Adanya variasi tiap individu
5. Menggambarkan kemampuan adaptasi
6. Berfungsi secara efektif sehat
D. Pengertian Keperawatan Kesehatan Jiwa
Keperawatan adalah ilmu dan kiat yang merupakan perpaduan dan integrasi dari area teori-
teori yang berbeda: ilmu-ilmu sosial, seperti psikologi dan sosiologi, ilmu-ilmu dasar seperti
Anatomi, fisiologi, mikrobiologi, dan biokimia serta ilmu media tentang diagnose dan
pengobatan terhadap penyakit.
Menurut Stuart Sundeen
Keperawatan mental adalah proses interpersonal dalam meningkatkan dan mempertahankan
perilaku yang berpengaruh pada fungsi integrasi.
E. Prinsip-Prinsip Keperawatan Kesehatan Jiwa
1. Peran dan fungsi keperawatan jiwa
2. Hubungan yang terapeutik antara perawat dengan klien
3. Konsep model keperawatan jiwa
4. Model stress dan adaptasi dalam keperawatan jiwa
5. Keadaan-keadaan biologis dalam keperawatan jiwa
6. Keadaan-keadaan psikologis dalam keperawatan jiwa
7. Keadaan-keadaan sosial budaya dalam keperawatan jiwa
8. Keadaan-keadaan lingkungan dalam keperawatan jiwa
9. Keadaan-keadaan legal etika dalam keperawatan jiwa
10. Penatalaksanaan proses keperawatan: dengan standar-standar keperawatan
11. Aktualisasi peran keperawatan jiwa: melalui penampilan standar-standar profesional
BAB 2
TREND CURRENT ISSUE DAN KECENDERUNGAN
DALAM KEPERAWATAN JIWA
Trend atau current issue dalam keperawatan jiwa adalah masalah-masalah yang sedang
hangat dibicarakan dan dianggap penting. Masalah-masalah tersebut dapat dianggap ancaman
atau tantangan yang akan berdampak besar pada keperawatan jiwa baik dalam tatanan
regional maupun global. Ada beberapa trend penting yang menjadi perhatian dalam
Keperawatan Jiwa di antaranya adalah masalah berikut :
- Kesehatan jiwa dimulai masa konsepsi
- Trend peningkatan masalah kesehatan jiwa
- Kecenderungan dalam penyebab gangguan jiwa
- Kecenderungan situasi di era globalisasi
- Globalisasi dan perubahan orientasi sehat
- Kecenderungan penyakit jiwa
- Meningkatnya post traumatik sindrom
- Meningkatnya masalah psikososial
- Trend bunuh diri pada anak
- Masalah AIDS dan Napza
- Pattern of parenting
- Presfektif life span history
- Kekerasan
- Masalah ekonomi dan kemiskinan
a. Kesehatan jiwa dimulai masa konsepsi
Dahulu bila berbicara masalah kesehatan jiwa biasanya dimulai pada saat onset terjadinya
sampai klien mengalami gejala-gejala.
b. Trend peningkatan masalah kesehatan jiwa
Masalah jiwa akan meningkat di era globalisasi.
c. Kecenderungan Faktor Penyebab Gangguan Jiwa
Terjadinya perang, konflik, dan lilitan krisis ekonomi berkepanjangan merupakan salah satu
pemicu yang memunculkan stress, depresi, dan berbagai gangguan kesehatan jiwa pada
manusia.
d. Kecenderungan situasi di Era Globalisasi
Era globalisasi adalah suatu era dimana tidak ada lagi pembatas antar Negara-negara
khususnya di bidang informasi, ekonomi, dan politik.
e. Globalisasi dan Perubahan Orientasi Sehat
Globalisasi atau era pasar bebas disadari atau tidak telah berdampak pada pelayanan
kesehatan.
f. Kecenderungan Penyakit
1. Meningkatnya post traumatic syndrome disorder
2. Meningkatnya masalah psikososial
3. Trend bunuh diri pada anak dan remaja
4. Masalah Napza dan HIV/AIDS
g. Trend dalam pelayanan keperawatan mental psikiatri
1. Sekilas tentang Sejarah
2. Trend pelayanan keperawatan mental psikiatri di Era Globalisasi
h. Issue Seputar Pelayanan Keperawatan Mental Psikiatri
1. Pelayanan keperawatan mental psikiatri yang ada kurang bisa dipertanggung jawabkan
secara ilmiah hal ini karena masih kurangnya hasil-hasil riset keperawatan tentang
keperawatan jiwa klinik.
2. Perawat psikiatri yang ada kurang siap menghadapi pasar bebas karena pendidikan yang
rendah dan belum adanya licence untuk praktek yang bias diakui secara internasional.
3. Pembedaan peran perawat jiwa berdasarkan pendidikan dan pengalaman seringkali tidak
jelas dalam Position Description, job responsibility dan system reward di dalam pelayanan
keperawatan dimana mereka bekerja (Stuart Sudeen, 1998).
4. Menjadi perawat psikiatri bukanlah pilihan bagi peserta didik (mahasiswa keperawatan)
i. Bagaimana profesi keperawatan mental psikiatri di Indonesia menghadapinya?
a. Sehubungan dengan trend masalah kesehatan utama dan pelayanan kesehatan jiwa secara
global, maka fokus pelayanan keperawatan jiwa sudah saatnya berbasis pada komunitas
(community based care) yang member penekanan pada preventif dan promotif.
b. Sehubungan dengan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat, perlu
peningkatan dalam bidang ilmu pengetahuan dengan cara mengembangkan institusi
pendidikan yang telah ada dan mengadakan program spesialisasi keperawatan jiwa.
c. Dalam rangka menjaga mutu pelayanan yang diberikan dan untuk melindungi konsumen,
sudah saatnya ada licence bagi perawat yang bekerja di pelayanan.
d. Sehubungan dengan adanya perbedaan latar belakang budaya kita dengan narasumber,
yang dalam hal ini kita masih mengacu pada Negara-negara Barat terutama Amerika, maka
perlu untuk menyaring konsep-konsep keperawatan mental psikiatri yang didapatkan dari luar.
BAB 3
KONSEP STRESS DAN ADAPTASI
A. Konsep Dasar Stress
1. Pengertian stress
Stress merupakan istilah yang berasal dari bahasa latin stingere yang berarti keras
(stricus). Istilah ini mengalami perubahan seiring dengan perkembangan penelaahan yang
berlanjut dari waktu ke waktu dari straise, stresce, dan stress.
2. Model stress berdasarkan stimulus
3. Model stress berdasarkan respon
4. Model stress berdasarkan transaksional
B. Psikofisiologi Stress
Menurut Selye (1982) stress merupakan tanggapan non spesifik terhadap setiap tuntutan yang
diberikan pada suatu organisme dan digambarkan sebagai GAS.
1. Penyebab stress dan stressor psikososial
Jenis stressor psikososial dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Perkawinan
b. Problem orangtua
c. Hubungan interpersonal (Antarpribadi)
d. Pekerjaan
e. Lingkungan hidup
f. Keuangan
g. Hokum
h. Perkembangan
i. Penyakit fisik atau cidera
j. Faktor keluarga
k. Lain-lain
2. Tahapan stress
a. Stress tingkat I
b. Stress tingkat II
c. Stress tingkat III
d. Stress tingkat IV
e. Stress tingkat V
f. Stress tingkat VI
BAB 4
FAKTOR PENYEBAB DAN PROSES TERJADINYA
GANGGUAN JIWA
A. Skizofrenia sebagai bentuk gangguan jiwa
Skizofrenia merupakan bahasan yang menarik perhatian pada konferensi tahunan The
American Psychiatric Association/APA di Miami, Florida, Amerika Serikat, Mei 1995 lalu.
B. Faktor Penyebab Skizofrenia
Penyebab skizofrenia menurut penelitian mutakhir antara lain :
1. Faktor genetik
2. Virus
3. Auto antibody
4. Malnutrisi
C. Penyebab Umum Gangguan Jiwa
Sumber penyebab gangguan jiwa dipengaruhi oleh factor-faktor pada ketiga unsur itu yang
terus menerus saling mempengaruhi, yaitu :
1. Faktor-faktor somatik (somatogenik) atau organobiologis
2. Faktor faktor psikologik (psikogenik) atau psikoedukatif
3. Faktor-faktor sosio-budaya (sosiogenik) atau sosiokultural
- Faktor keturunan
- Faktor konstitusi
- Cacat kongenital
- Perkembangan psikologik yang salah
- Deprivasi dini
- Pola keluarga yang petagonik
- Masa remaja
- Faktor sosiologik dalam perkembangan yang salah
- Genetika
- Neurobiological
- Biokimiawi tubuh
- Neurobehavioral
- Stress
- Penyalahgunaan obat-obatan
- Psikodinamik
- Sebab biologik
- Sebab psikologik
- Sebab sosio kultural
D. Proses Perjalanan Penyakit
Gejala mulai timbul biasanya pada masa remaja atau dewasa awal sampai dengan umur
pertengahan dengan melalui beberapa fase antara lain :
1) Fase Promodal;
- Berlangsung antara 6 bulan sampai 1 tahun
- Gangguan dapat berupa self care, gangguan dalam akademik, gangguan dalam pekerjaan,
gangguan fungsi sosial, gangguan perilaku, disertai kelainan neurokimiawi.
2) Fase Residual;
- Klien mengalami minimal 2 gejala: gangguan afek dan gangguan peran, serangan biasanya
berulang.
BAB 5
TANDA GEJALA GANGGUAN JIWA
A. Gangguan Kognisi
Kognisi adalah suatu proses mental yang dengannya seseorang individu menyadari dan
mempertahankan hubungan dengan lingkungannya baik lingkungan dalam maupun lingkungan
luarnya (fungsi mengenal).
Proses kognisi meliputi :
- Sensasi dan persepsi
- Perhatian
- Ingatan
- Asosiasi
- Pertimbangan
- Pikiran
- Kesadaran
B. Gangguan Perhatian
Perhatian adalah pemusatan dan konsentrasi energi menilai dalam suatu proses kognitif yang
timbul dari luar akibat suatu rangsang.
C. Gangguan Ingatan
Ingatan (kenangan, memori) adalah kesanggupan untuk mencatat, menyimpan, memproduksi
isi dan tanda-tanda kesadaran.
D. Gangguan Asosiasi
Asosiasi adalah proses mental yang dengannya suatu perasaan, kesan atau gambaran ingatan
cenderung untuk menimbulkan kesan atau gambaran ingatan respon/konsep lain, yang
memang sebelumnya berkaitan dengannya.
E. Gangguan Pertimbangan
Pertimbangan (penilaian) adalah suatu proses mental untuk membandingkan/ menilai
beberapa pilihan dalam suatu kerangka kerja dengan memberikan nilai-nilai untuk
memutuskan maksud dan tujuan dari suatu aktivitas.
F. Gangguan Pikiran
Pikiran umum adalah meletakkan hubungan antara berbagai bagian dari pengetahuan
seseorang.
G. Gangguan Kesadaran
Kesadaran adalah kemampuan seseorang untuk mengadakan hubungan dengan lingkungan
serta dirinya melalui pancaindera dan mengadakan pembatasan terhadap lingkungan serta
dirinya sendiri.
H. Gangguan Kemauan
Kemauan adalah suatu proses dimana keinginan-keinginan dipertimbangkan untuk kemudian
diputuskan untuk dilaksanakan sampai mencapai tujuan.
I. Gangguan Emosi dan Afek
Emosi aalah suatu pengalaman yang sadar dan memberikan pengaruh pada aktivitas tubuh
dan menghasilkan sensasi organis dan kinetis. Afek adalah kehidupan perasaan atau nada
perasaan emosional seseorang, menyenangkan atau tidak, yang menyertai suatu pikiran, biasa
berlangsung lama dan jarang disertai komponen fisiologik.
J. Gangguan Psikomotor
Psikomotor adalah gerakan badan yang dipengaruhi oleh keadaan jiwa.

PENGERTIAN SEHAT
Istilah sehat dalam kehidupan sehari-hari sering dipakai untuk menyatakan bahwa sesuatu
dapat bekerja secara normal. Bahkan benda mati pun seperti kendaraan bermotor atau mesin,
jika dapat berfungsi secara normal, maka seringkali oleh pemiliknya dikatakan bahwa
kendaraannya dalam kondisi sehat. Kebanyakan orang mengatakan sehat jika
badannya merasa segar dan nyaman. Bahkan seorang dokterpun akan menyatakan pasiennya
sehat manakala menurut hasil pemeriksaan yang dilakukannya mendapatkan seluruh tubuh
pasien berfungsi secara normal. Namun demikian, pengertian sehat yang sebenarnya tidaklah
demikian. Pengertian sehat menurut UU Pokok Kesehatan No. 9 tahun 1960, Bab I
Pasal 2 adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial,
serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan. Pengertian sehat
tersebut sejalan dengan pengertian sehat menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun
1975 sebagai berikut: Sehat adalah suatu kondisi yang terbebas dari segala jenis penyakit,
baik fisik, mental, dan sosial.

Batasan kesehatan tersebut di atas sekarang telah diperbaharui bila batasan kesehatan yang
terdahulu itu hanya mencakup tiga dimensi atau aspek, yakni: fisik, mental, dan sosial, maka
dalam Undang- Undang N0. 23 Tahun 1992, kesehatan mencakup 4 aspek, yakni: fisik
(badan), mental (jiwa), sosial, dan ekonomi. Batasan kesehatan tersebut diilhami oleh batasan
kesehatan menurut WHO yang paling baru. Pengertian kesehatan saat ini memang lebih luas
dan dinamis, dibandingkan dengan batasan sebelumnya. Hal ini berarti
bahwa kesehatan seseorang tidak hanya diukur dari aspek fisik, mental, dan sosial saja, tetapi
juga diukur dari produktivitasnya dalam arti mempunyai pekerjaan atau menghasilkan sesuatu
secara ekonomi.

Bagi yang belum memasuki dunia kerja, anak dan remaja, atau bagi yang sudah tidak bekerja
(pensiun) atau usia lanjut, berlaku arti produktif secara sosial. Misalnya produktif secara
sosial-ekonomi bagi siswa sekolah ataumahasiswa adalah mencapai prestasi yang baik, sedang
produktif secara sosial-ekonomi bagi usia lanjut atau para pensiunan adalah mempunyai
kegiatan sosial dan keagamaan yang bermanfat, bukan saja bagi dirinya, tetapi juga
bagi orang lain atau masyarakat.

Keempat dimensi kesehatan tersebut saling mempengaruhi dalam mewujudkan


tingkat kesehatan seseorang, kelompok atau masyarakat.

Itulah sebabnya, maka kesehatan bersifat menyeluruh mengandung keempat aspek.


Perwujudan dari masing-masing aspek tersebut dalam kesehatan seseorang antara lain
sebagai berikut:

1. Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak
adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi
normal atau tidak mengalami gangguan.

2. Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual.

Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.

Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya,


misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.

Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian,
kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha
Kuasa (Allah SWT dalam agama Islam). Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik
keagamaan seseorang.

Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah
dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.

3. Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain
atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status
sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.

4. Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti
mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya
sendiri atau keluarganya secara finansial. Bagi mereka yang belum dewasa (siswa atau
mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan sendirinya batasan ini tidak berlaku. Oleh
sebab itu, bagi kelompok tersebut, yang berlaku adalah produktif secara sosial, yakni
mempunyai kegiatan yang berguna bagi kehidupan mereka nanti, misalnya berprestasi bagi
siswa atau mahasiswa, dan kegiatan sosial, keagamaan, atau pelayanan kemasyarakatan
lainnya bagi usia lanjut.

MENGETAHUI KONSEP DASAR


KESEHATAN & KEPERAWATAN JIWA
April 20th, 2010 No Comments Tak Berkategori

KONSEP DASAR KESEHATAN & KEPERAWATAN JIWA


____________________________________________
____________________________

1.1 PENGERTIAN
Kesehatan Jiwa adalah Perasaan Sehat dan Bahagia serta mampu mengatasi tantangan
hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta mempunyai sikap positif
terhadap diri sendiri dan orang lain.
:
Kesehatan jiwa meliputi
Bagaimana perasaan anda terhadap diri sendiri
Bagaimana perasaan anda terhadap orang lain
Bagaimana kemampuan anda mengatasi persoalan hidup anda Sehari - hari.

Beberapa pengertian manusia:

Individu yang holistik: terdiri dari jasmani dan rohani.


Terdiri dari komponen jasmani, akal, jiwa dan qalbu (ruh)
Struktur jiwa manusia terdiri dari id (insting-prinsip kepuasan), ego (kesadaran realitas-
prinsip realitas), super ego/ moralitas-prinsip moralitas (Teori Freud)

______________________________________________________________
__

1. 5 PRINSIP-PRINSIP KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

Roles and functions of psychiatric nurse : competent care (Peran dan fungsi keperawatan
jiwa : yang kompeten).
Therapeutic Nurse patient relationship (hubungan yang terapeutik antara perawat dengan
klien).
Conceptual models of psychiatric nursing (konsep model keperawatan jiwa).
Stress adaptation model of psychiatric nursing (model stress dan adaptasi dalam
keperawatan jiwa).
Biological context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan biologis dalam
keperawatan jiwa).
Psychological context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan psikologis dalam
keperawatan jiwa).
Sociocultural context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan sosial budaya dalam
keperawatan jiwa).
Environmental context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan lingkungan dalam
keperawatan jiwa).
Legal ethical context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan legal etika dalam
keperawatan jiwa).
Implementing the nursing process : standards of care (penatalaksanaan proses
keperawatan : dengan standar- standar perawatan).
Actualizing the Psychiatric Nursing Role : Professional Performance Standards (aktualisasi
peran keperawatan jiwa: melalui penampilan standar-standar professional).

______________________________________________________________
____________________

1.6 PERKEMBANGAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA


Menangani klien yang memiliki masalah sikap, perasaan dan konflik

Pencegahan primer

Penanganan multidisiplin

Spesialisasi keperawatan jiwa

DULU :
Pasien Gangguan Jiwa dianggap sampah, memalukan dipasung

SEKARANG :
- Meningkatkan Iptek
- Pengetahuan masyarakat tentang gangguan jiwa meningkat
- Perlu pemahaman tentang human right
- Penting meningkatkan mutu pelayanan dan perlindungan konsumen.
______________________________________________________________
________

1.7 KONSEPTUAL MODEL KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

Tabel 1
Model View of behavioral deviation
Therapeutic process Roles of a patient & therapist

Psychoanalytical

(freud, Erickson)
Ego tidak mampu mengontrol ansietas, konflik tidak selesai

Asosiasi bebas & analisa mimpi

Transferen untuk memperbaiki traumatic masa lalu


Klien: mengungkapkan semua pikiran & mimpi
Terapist : menginterpretasi pikiran dan mimpi pasien

Interpersonal

(Sullivan, peplau)
Ansietas timbul & dialami secara interpersonal, basic fear is fear of rejection

Build feeling security

Trusting relationship & interpersonal satisfaction


Patient: share anxieties

Therapist : use empathy & relationship

Social

(caplan,szasz)
Social & environmental factors create stress, which cause anxiety &symptom

Environment manipulation & social support


Pasien: menyampaikan masalah menggunakan sumber yang ada di masyarakat

Terapist: menggali system social klien

Existensial

(Ellis, Rogers)
Individu gagal menemukan dan menerima diri sendiri

Experience in relationship, conducted in group

Encouraged to accept self & control behavior


Klien: berperan serta dalam pengalaman yang berarti untuk mempelajari diri

Terapist: memperluas kesadaran diri klien

Supportive Therapy

(Wermon,Rockland)
Faktor biopsikososial & respon maladaptive saat ini

Menguatkan respon koping adaptif


Klien: terlibat dalam identifikasi coping

Terapist: hubungan yang hangta dan empatik


Medical

(Meyer,Kreaplin)
Combination from physiological, genetic, environmental & social

Pemeriksaan diagnostic, terapi somatic, farmakologik & teknik interpersonal


Klien: menjalani prosedur diagnostic & terapi jangka panjang

Terapist : Therapy, Repport effects,Diagnose illness, Therapeutic Approach

Berdasarkan konseptual model keperawatan diatas, maka dapat dikelompokkan ke dalam


6 model yaitu:

1. Psycoanalytical (Freud, Erickson)

Model ini menjelaskan bahwa gangguan jiwa dapt terjadi pada seseorang apabila ego(akal)
tidak berfungsi dalam mengontrol id (kehendak nafsu atau insting). Ketidakmampuan
seseorang dalam menggunakan akalnya (ego) untuk mematuhi tata tertib, peraturan,
norma, agama(super ego/das uber ich), akan mendorong terjadinya penyimpangan
perilaku (deviation of Behavioral).

Faktor penyebab lain gangguan jiwa dalam teori ini adalah adanya konflik intrapsikis
terutama pada masa anak-anak. Misalnya ketidakpuasan pada masa oral dimana anak
tidak mendapatkan air susu secara sempurna, tidak adanya stimulus untuk belajar
berkata- kata, dilarang dengan kekerasan untuk memasukkan benda pada mulutnya pada
fase oral dan sebagainya. Hal ini akan menyebabkan traumatic yang membekas pada masa
dewasa.

Proses terapi pada model ini adalah menggunakan metode asosiasi bebas dan analisa
mimpi, transferen untuk memperbaiki traumatic masa lalu. Misalnya klien dibuat dalam
keadaan ngantuk yang sangat. Dalam keadaan tidak berdaya pengalaman alam bawah
sadarnya digali dengamn pertanyaan-pertanyaan untuk menggali traumatic masa lalu. Hal
ini lebih dikenal dengan metode hypnotic yang memerlukan keahlian dan latihan yang
khusus.

Dengan cara demikian, klien akan mengungkapkan semua pikiran dan mimpinya,
sedangkan therapist berupaya untuk menginterpretasi pikiran dan mimpi pasien.

Peran perawat adalah berupaya melakukan assessment atau pengkajian mengenai


keadaan-keadaan traumatic atau stressor yang dianggap bermakna pada masa lalu
misalnya ( pernah disiksa orang tua, pernah disodomi, diperlakukan secar kasar,
diterlantarkan, diasuh dengan kekerasan, diperkosa pada masa anak), dengan
menggunakan pendekatan komunikasi terapeutik setelah terjalin trust (saling percaya).
2. Interpersonal ( Sullivan, peplau)

Menurut konsep model ini, kelainan jiwa seseorang bias muncul akibat adanya ancaman.
Ancaman tersebut menimbulkan kecemasan (Anxiety). Ansietas timbul dan alami
seseorang akibat adanya konflik saat berhubungan dengan orang lain (interpersonal).
Menurut konsep ini perasaan takut seseorang didasari adnya ketakutan ditolak atau tidak
diterima oleh orang sekitarnya.

Proses terapi menurut konsep ini adalh Build Feeling Security (berupaya membangun rasa
aman pada klien), Trusting Relationship and interpersonal Satisfaction (menjalin
hubungan yang saling percaya) dan membina kepuasan dalam bergaul dengan orang lain
sehingga klien merasa berharga dan dihormati.

Peran perawat dalam terapi adalah share anxieties (berupaya melakukan sharing
mengenai apa-apa yang dirasakan klien, apa yang biasa dicemaskan oleh klien saat
berhubungan dengan orang lain), therapist use empathy and relationship ( perawat
berupaya bersikap empati dan turut merasakan apa-apa yang dirasakan oleh klien).
Perawat memberiakan respon verbal yang mendorong rasa aman klien dalam
berhubungan dengan orang lain.

3. Social ( Caplan, Szasz)

Menurut konsep ini seseorang akan mengalami gangguan jiwa atau penyimpangan
perilaku apabila banyaknya factor social dan factor lingkungan yang akan memicu
munculnya stress pada seseorang ( social and environmental factors create stress, which
cause anxiety and symptom).

Prinsip proses terapi yang sangat penting dalam konsep model ini adalah environment
manipulation and social support ( pentingnya modifikasi lingkungan dan adanya
dukungan sosial)

Peran perawat dalam memberikan terapi menurut model ini adalah pasien harus
menyampaikan masalah menggunakan sumber yang ada di masyarakat melibatkan teman
sejawat, atasan, keluarga atau suami-istri. Sedangkan therapist berupaya : menggali
system sosial klien seperti suasana dirumah, di kantor, di sekolah, di masyarakat atau
tempat kerja.

4. Existensial ( Ellis, Rogers)

Menurut teori model ekistensial gangguan perilaku atau gangguan jiwa terjadi bila
individu gagal menemukan jati dirinya dan tujuan hidupnya. Individu tidak memiliki
kebanggan akan dirinya. Membenci diri sendiri dan mengalami gangguan dalam Bodi-
image-nya
Prinsip dalam proses terapinya adalah : mengupayakan individu agar berpengalaman
bergaul dengan orang lain, memahami riwayat hidup orang lain yang dianggap sukses atau
dapat dianggap sebagai panutan(experience in relationship), memperluas kesadaran diri
dengan cara introspeksi (self assessment), bergaul dengan kelompok sosial dan
kemanusiaan (conducted in group), mendorong untuk menerima jatidirinya sendiri dan
menerima kritik atau feedback tentang perilakunya dari orang lain (encouraged to accept
self and control behavior).

Prinsip keperawatannya adalah : klien dianjurkan untuk berperan serta dalam


memperoleh pengalaman yang berarti untuk memperlajari dirinya dan mendapatkan feed
back dari orang lain, misalnya melalui terapi aktivitas kelompok. Terapist berupaya untuk
memperluas kesadaran diri klien melalui feed back, kritik, saran atau reward &
punishment.

5. Supportive Therapy ( Wermon, Rockland)

Penyebab gangguan jiwa dalam konsep ini adalah: factor biopsikososial dan respo
maladaptive saat ini. Aspek biologisnya menjadi masalah seperti: sering sakit maag,
migraine, batuk-batuk. Aspek psikologisnya mengalami banyak keluhan seperti : mudah
cemas, kurang percaya diri, perasaan bersalah, ragu-ragu, pemarah. Aspek sosialnya
memiliki masalah seperti : susah bergaul, menarik diri,tidak disukai, bermusuhan, tidak
mampu mendapatkan pekerjaan, dan sebagainya. Semua hal tersebut terakumulasi
menjadi penyebab gangguan jiwa. Fenomena tersebut muncul akibat ketidakmamupan
dalam beradaptasi pada masalah-masalah yang muncul saat ini dan tidak ada kaitannya
dengan masa lalu.

Prinsip proses terapinya adalah menguatkan respon copinh adaptif, individu diupayakan
mengenal telebih dahulu kekuatan-kekuatan apa yang ada pada dirinya; kekuatan mana
yang dapat dipakai alternative pemecahan masalahnya.

Perawat harus membantu individu dalam melakukan identifikasi coping yang dimiliki dan
yang biasa digunakan klien. Terapist berupaya menjalin hubungan yang hangat dan
empatik dengan klien untuk menyiapkan coping klien yang adaptif.

6. Medica ( Meyer, Kraeplin)

Menurut konsep ini gangguan jiwa cenderung muncul akibat multifactor yang kompleks
meliputi: aspek fisik, genetic, lingkungan dan factor sosial. Sehingga focus
penatalaksanaannya harus lengkap melalui pemeriksaan diagnostic, terapi somatic,
farmakologik dan teknik interpersonal. Perawat berperan dalam berkolaborasi dengan tim
medis dalam melakukan prosedur diagnostic dan terapi jangka panjang, therapist
berperan dalam pemberian terapi, laporan mengenai dampak terapi, menentukan
diagnose, dan menentukan jenis pendekatan terapi yang digunakan.

______________________________________________________________
___

1.8 PERAN PERAWAT KESEHATAN JIWA


Pengkajian yg mempertimbangkan budaya
Merancang dan mengimplementasikan rencana tindakan
Berperan serta dlm pengelolaan kasus
Meningkatkan dan memelihara kesehatan mental, mengatasi pengaruh penyakit mental -
penyuluhan dan konseling
Mengelola dan mengkoordinasikan sistem pelayanan yang mengintegrasikan kebutuhan
pasien, keluarga staf dan pembuat kebijakan
Memberikan pedoman pelayana kesehatan
___________________________________________

1.9 ASUHAN YANG KOMPETEN BAGI PERAWAT JIWA ( COMPETENT OF CARING )

Pengkajian biopsikososial yang peka terhadap budaya.


Merancang dan implementasi rencana tindakan untuk klien dan keluarga.
Peran serta dalam pengelolaan kasus: mengorganisasikan, mengkaji, negosiasi, koordinasi
pelayanan bagi individu dan keluarga.
Memberikan pedoman pelayanan bagi individu, keluarga, kelompok, untuk menggunakan
sumber yang tersedia di komunitas kesehatan mental, termasuk pelayanan terkait,
teknologi dan sistem sosial yang paling tepat.
Meningkatkan dan memelihara kesehatanmental serta mengatasi pengaruh penyakit
mental melalui penyuluhan dan konseling.
Memberikan askep pada penyakit fisik yang mengalami masalah psikologis dan penyakit
jiwa dengan masalah fisik.
Mengelola dan mengkoordinasi sistem pelayanan yang mengintegrasikan kebutuhan klien,
keluarga, staf, dan pembuat kebijakan.