Anda di halaman 1dari 16

SARI PUSTAKA

MANAJEMEN ANGINA PEKTORIS STABIL

Disusun Oleh:
Fajar E. A. Adesta
1406560750

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS INDONESIA
JAKARTA
2016
PENDAHULUAN

Angina pektoris adalah kondisi klinik yang ditandai dengan rasa tidak
nyaman atau nyeri di dada akibat iskemia miokardium. Secara klinik bentuk
angina dibedakan atas dua bentuk, yaitu angina stabil dan tidak stabil. 1 Angina
pectoris dikatakan stabil apabila angina tersebut tidak mengalami perburukan
gejala selama lebih dari beberapa minggu. Pada kebanyakan penderita dengan
angina stabil kronik, dapat ditemukan adanya stenosis aterosklerosis bermakna
pada 50% arteri koroner kiri dan 70% pada 1 atau lebih arteri koroner.2 Perlu
diingat bahwa lesi yang lebih kecil kerap kali lebih mudah mengalami ruptur,
trombosis dan oklusi dibanding lesi yang lebih luas.3
Prevalensi terjadinya angina pada studi populasi, meningkat pada setiap
tingkatan usia dan perbedaan jenis kelamin. Terdapat data 5-7% pada wanita usia
45-67 tahun dan 10-12% pada wanita usia 65-84 tahun mengalami angina pectoris
stabil. Pada pria ditemukan 4-7% pada usia 45-64 tahun, dan 12-14% pada usia
65-84 tahun.1
Tujuan utama pada tata laksana angina pektoris stabil ini adalah untuk
mencegah kematian dan terjadinya serangan jantung (infark). Selain itu,
pengobatan APS bertujuan untuk menurunkan angka kejadian trombolitik yang
tiba-tiba dan disfungsi ventrikel. Perubahan gaya hidup dan intervensi
farmakologis juga bertujuan untuk menurunkan progresi plak, menstabilkan plak
dengan cara menurunkan inflamasi dan menjaga fungsi endotel dan mencegah
thrombosis jika terjadi disfungsi endotel dan rupture plak.1 Bila ada 2 cara terapi
yang sama efektif mengontrol angina maka yang dipilih adalah terapi yang
terbukti lebih efektif mengurangi serangan jantung dan mencegah kematian.

2
SARI PUSTAKA

2.1 Angina Pectoris Stabil (APS)


Angina pectoris adalah rasa nyeri pada daerah dada yang timbul akibat
iskemia miokardium.2 Angina pectoris stabil umumnya ditandai dengan episode
yang reversibel dari tidak tercukupinya kebutuhan/ supplai okeigen akibat iskemik
atau hipoksia, yang biasanya dipicu oleh aktifitas fisik, emosi, atau stres lainnya
tapi dapat juga terjadi secara spontan. Episode seperti iskemia / hipoksia
umumnya berkaitan dengan rasa ketidaknyamanan di dada sementara (angina
pectoris).2
Secara klinis beratnya angina pectoris menggambarkan beratnya iskemik
otot jantung sehingga terdapat gradasi beratnya nyeri dada yang dibuat oleh
Canadian Cardiovascular Society (CCS) sebagai sistem penilaian untuk
angina stabil yang mengukur ambang batas dari gejala terkait dengan aktifitas
fisik, yang terdiri dari :2,3

Kelas CCS Pengertian


I Nyeri dada timbul pada aktivitas berat
II Nyeri dada timbul apabila melakukan aktivitas yang lebih
berat dari biasanya
III Aktivitas sehari-hari terbatas. Nyeri dada timbul apabila
berjalan 1-2 blok, naik tangga satu lantai dengan kecepatan
terbatas
IV Nyeri timbul saat istirahat.

Presentasi klinis yang bervariasi dari Angina pectoris stabil terkait dengan
perbedaan mekanisme yang mendasarinya meliputi: (i) obstruksi-plak arteri
epikardial; (ii) spasme fokal atau difus dari arteri-yang berplak atau arteri normal;
(iii) disfungsi mikrovaskuler dan (iv) disfungsi ventrikel kiri disebabkan oleh
nekrosis miokard akut sebelumnya dan / atau hibernasi (iskemik cardiomyopathy).
Namun, plak koroner stabil dengan dengan atau tanpa revaskularisasi sebelumnya
dapat juga asimptomatik.2

3
2.2 Patofisiologi
Penyebab paling sering dari angina pectoris stabil adalah aterosklerotik
pada arteri koronaria. Sumbatan aterosklerotik yang mencapai 50% dapat
mencetuskan iskemik karena pembuluh darah koroner jantung sudah tidak mampu
memenuhi metabolisme otot jantung selama latihan atau ketika mengalami stres
emosional. Secara angiografik, penyempitan pembuluh darah yang dianggap
signifikan adalah yang melebihi 70% walau penilaian klinis tetap menjadi utama
dalam menentukan terapi.1
Iskemia dan hipoksia miokardium pada angina pectoris stabil disebabkan
oleh ketidakseimbangan sementara antara suplai oksigen dan konsumsi oksigen,
biasanya dipicu oleh aktifitas fisik, emosi, atau stres lainnya dan dapat berulang.
Namun dapat juga terjadi secara spontan. 2 Iskemik miokardium dan hipoksia pada
angina pectoris stabil, terjadi keadaan sebagai berikut:2,1
1 Peningkatan konsentrasi H + dan K + pada darah vena yang berada di
daerah iskemik.
2 Gangguan ventrikel dan diikuti disfungsi sistolik dan diastolik dengan
abnormalitas gerakan dinding regional
3 Perubahan Segmen ST-T
4 Nyeri dada iskemik (angina).
Urutan ini menjelaskan mengapa teknik pencitraan berdasarkan perfusi,
metabolisme ataupun pergerakan dinding lebih sensitif daripada EKG atau gejala
klinis dalam mendeteksi iskemia. Angina disebabkan oleh pelepasan hasil
metabolit iskemia (adenosine) yang merangsang akhiran saraf, akan tetapi angina
bisa saja tidak dirasakan walaupun terjadi iskemia berat, seperti contohnya
gangguan transmisi nyeri menuju korteks. Beratnya lesi pembuluh darah koroner
dapat dinilai dengan menggunakan Coronary Flow Reserve (CFR) dan tekanan
dalam arteri koroner.2

2.3 Diagnosis
Penegakan diagnosis APS meliputi penilaian klinis, termasuk
mengidentifikasi dislipidemia, hiperglikemia atau faktor risiko biokimia lainnya
dan penilaian jantung spesifik. Tujuanya adalah untuk mengkonfirmasi diagnosis
iskemia pada pasien dengan dugaan APS, mengidentifikasi atau mengeksklusi

4
kondisi atau faktor pencetus, membantu dalam stratifikasi risiko yang terkait
dengan penyakit dan mengevaluasi efektivitas pengobatan. Dalam prakteknya,
penilaian diagnostik dan prognostik dilakukan secara bersamaan, bukan secara
terpisah, dan banyak dari pemerksaan yang digunakan untuk diagnosis juga
memberikan informasi prognostik.2
Karakteristik yang penting dari rasa ketidaknyamanan di daerah dada yang
terkait dengan iskemia miokard (angina pectoris) dapat dibagi menjadi empat
kategori berdasarkan pada lokasi, kualitas, durasi dan keterkaitan dengan aktifitas
fisik dan faktor yang memicu atau menguranginya. Rasa ketidaknyamanan
disebabkan miokard iskemia biasanya berupa nyeri retrosternal yang lokasi
terseringnya di dada, substernal atau sedikit ke kiri, dengan penjalaran ke leher,
rahang, bahu kiri sampai lengan dan jari-jari bagian ulnar, punggung/pundak kiri.
Ketidaknyamanan sering digambarkan sebagai tekanan, sesak atau berat; kadang-
kadang seperti tercekik, konstriksi atau terbakar.1,2
Kualitas nyeri biasanya merupakan nyeri yang tumpul seperti rasa
tertindih/berat di dada, rasa desakan yang kuat dari dalam atau bawah diafragma
dan biasanya dalam keadaan berat disertai dengan keringat dingin dan sesak nafas.
Gejala klasik dari angina bisa juga terlihat setelah makan dalam porsi yang banyak
atau muncul pertama kali di pagi hari.1
Selain itu, durasi ketidaknyamanan ini singkat- tidak lebih dari 10 menit
pada sebagian besar kasus dan bahkan lebih sering kurang dari satu menit, tapi
nyeri dada yang berlangsung dalam hitungan detik tidak mungkin karena angina.
Karakteristik penting lainnya adalah nyeri dipicu oleh aktifitas fisik dan stress
emosional, serta hilang dengan istirahat atau dengan pemberian nitrogliserin. 1
Gejala klasik muncul atau lebih parah dengan peningkatan aktivitas-seperti
berjalan miring atau melawan angin atau cuaca dingin -dan cepat menghilang
dalam beberapa menit ketika faktor-faktor penyebab hilang. Eksaserbasi gejala
setelah makan berat atau setelah bangun di pagi adalah gambaran klasik angina.2
Pada angina pectoris stabil, nyeri dada dapat berangsur turun kuantitas dan
intensitasnya dengan atau tanpa pengobatan, kemudian menetap. Bahkan pada
sebagian pasien, nyeri dada dapat berkurang terus sampai asimptomatik, walaupun
iskemik tetap ada, misalnya terlihat pada pemeriksaan EKG istirahat, keadaan ini

5
disebut sebagai silent ischemia. Sedangkan pada pasien lainnya yang EKG
istirahatnya normal, iskemik baru terlihat pada uji latihan (EKG latihan).1
Selain itu, pada anamnesis harus dicari mengenai faktor risiko baik pada
pasien ataupun keluarganya seperti kebiasaan makan/kolesterol, Diabetes Melitus,
Hipertensi, meroko, penyakit vaskuler lainnya seperti stroke dan penyakit vaskuler
perifer, obesitas, kurang olah raga, dan lain-lain.1
Pemeriksaan fisik pasien dengan (diduga) angina pectoris penting untuk
menilai adanya anemia, hipertensi, penyakit katup jantung, kardiomiopati
obstruktif hipertrofik dan aritmia. Hal ini juga dianjurkan untuk menilai Indeks
massa tubuh (BMI) dan mencari bukti penyakit vaskular non-koroner yang
mungkin asimtomatik [termasuk palpasi denyut perifer dan auskultasi aretri
karotis dan femoralis serta penilaian terhadap Ankle Brachial Indeks (ABI)] dan
tanda-tanda lainnya dari komorbiditas seperti penyakit tiroid, penyakit ginjal atau
diabetes. Namun, tidak ada tanda-tanda spesifik pada angina pektoris. Selama atau
segera setelah episode iskemia miokard, suara jantung ketiga atau keempat dapat
didengar dan insufisiensi mitral juga dapat terlihat selama iskemia. Tanda-tanda
tersebut, bagaimanapun, sulit dipahami dan tidak spesifik.2
Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada waktu nyeri dada dapat
menemukan adanya aritmia, gallop bahkan murmur, spilt S2 paradoksal, ronkhi
basah di bagian basal paru yang menghilang lagi pada waktu nyeri sudah berhenti.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan terutama untuk mencari factor risiko lainnya,
seperti pemeriksaan profil lipid, gula darah, dan penanda inflamasi akut apabila
nyeri dada cukup berat dan lama seperti enzim Creatinine kinase (CK) / creatinine
kinasemuscle brain (CKMB), C-reactive protein (CRP)/ high sensitive (hs)CRP,
dan troponin.1
Untuk memastikan adanya iskemia miokardium sebagai penyebab nyeri
dada, maka diperlukan pemeriksaan sebagai berikut:1
a EKG waktu istirahat. Depresi segmen ST-T 1 mm atau lebih merupakan
pertanda iskemia yang spesifik, sedangkan perubahan-perubahan yang
lainnya seperti takiardia, BBB, block fasikuler, dan lain-lain, apalagi yang
normal kembali setelah nyeri hilang sesuai dengan iskemik.
b Foto Toraks. Dapat digunakan untuk melihat kelainan seperti kalsifikasi
koronor atau katup jantung, serta pasien nyeri dada karena kelainan paru.

6
c EKG waktu aktivitas/latihan. Pemeriksaan ini direkomendasikan kepada
pasien dengan abnormalitas saat istirahat yang perlu dievaluasi lagi, pasien
yang dicurigai adanya kelainan EKG seperti BBB dan depresi ST ringan,
serta pada pasien angina vasopspastik. Kontraindikasi pemeriksaan ini adalah
infark miokardium akut (IMA) kurang dari 2 hari, aritmia berat dengan
hemodinamik terganggu, gagal jantung simptomatik, emboli paru dan infark
paru, pericarditis dan miokarditis akut, dan diseksi aorta. Kontraindikasi
relative adalah stenosis left main (LM), stenosis aorta sedang atau obstuksi
outflow lainnya, elektrolit abnormal, HT dengan sistolik 200 mmHg dan
diastolic > 100 mmHg, bradi atau takiaritmia, kardiomiopati hipertrofik, UAP
(kecuali yang berisiko rendah dan sudah bebas nyeri), dan gangguan fisik
yang menyulitkan tes ini.
d Ekokardiografi. Pemeriksaan ini direkomendasikan pada pasien yang
dicurigai mengalami gangguan katup dan hipertrofi kardiomiopati, pasien
yang dicurigai gagal jantung, ifark miokardium, pasien dengan gelombang
LBBB, gelombang Q dan LVH. Pemeriksaan ini sangat bermanfaat pada
pasien dengan murmur sistolik untuk melihat ada tidaknya stenosis aorta yang
signifikan atau kardiomiopati hipertrofik, menetukan luasnya iskemik bila
dilakukan saat nyeri dada.
Pemeriksaan angiografi koroner diperlukan pada pasien yang tetap pada
angina pectoris stabil kelas III-IV meskipun telah diterapi atau pasien, pasien yang
pulih dari serangan aritmia ventrikel yang berat sampai cardiac arrest yang telah
berhasil diatasi, atau pada pasien lain yang berisiko tinggi tanpa
mempertimbangkan beratnya angina. Keterbatasan angiografi koroner adalah
tidak dapat menentukan perubahan fungsi miokardium berdasarkan stenosis
koroner yang ada dan tidak sensitive menentukan adanya thrombus, serta tidak
dapat menunjukan plak sclerosis yang akan menyebabkan berkembangnya
menjadi UAP.1

2.3 Tata Laksana


Ada dua tujuan dalam pengobatan APS, yaitu untuk menghilangkan atau
mengurangi gejala (angina) dan mencegah kejadian kardiovaskuler.

7
- Mengurangi keluhan angina : pemberian nitrogliserin mampu menghilangkan
gejala angina dengan cepat saat onset atau sebagai pencegahan. Selain nitrat,
obat-obatan anti iskemik juga berperan dalam mengurangi atau bahkan
menghilangkan keluhan angina dalam jangka panjang. Dari segi non
farmakologis, perubahan gaya hidup dan olah raga secara teratur juga dapat
membantu mengurangi keluhan angina.
- Untuk mencegah kejadian kardiovaskuler: Upaya untuk mencegah infark
miokard dan kematian berfokus terutama pada pengurangan insidensi
trombotik akut dan terjadinya disfungsi ventrikel. Tujuan-tujuan ini dicapai
dengan intervensi farmakologis atau modifikasi gaya hidup meliputi (i)
menurunkan progresifitas plak; (ii) stabilisasi plak dengan mengurangi
inflamasi dan (iii) mencegah trombosis, jika terjadi ruptur plak atau erosi. Pada
pasien dengan lesi koroner yang luas dimana pembuluh darah tersebut
mendarahi sebagian besar miokardium sebaiknya dilakukan terapi kombinasi
antara terapi medikamentosa dan tindakan revaskularisasi.1,2

2.3.1 Perubahan Gaya hidup dan pengendalian faktor risiko


Modifikasi gaya hidup dan pengendalikan faktor risiko meliputi:2
Berhenti merokok
Diet sehat. Pengaturan diet yang sehat akan menurunkan risiko terjadinya
infark miokard. Energi dari asupan makanan yang dikonsumsi biasanya
disesuaikan dan ditargetkan dengan body mass index (BMI) < 25 kg / m2.
Rekomendasi saat ini adalah pola makan Mediternian yang banyak
mengandung minyak zaitun (extra-virgin olive oil) atau kacang dapat
menurunkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler terutama untuk pasien
yang berisiko tanpa penyerta penyakit kardiovaskular.
Aktivitas fisik. Olah raga secara teratur berkaitan dengan penurunan
morbiditas dan mortalitas pada pasien dengan APS. Pasien dengan riwayat
MI akut sebelumnya, CABG, intervensi koroner perkutan (PCI), angina
pectoris stabil atau gagal jantung kronis stabil harus menjalani latihan
aerobik 3 kali seminggu selama 30 menit per sesi. Pasien CAD yang tidak

8
dilakukan revaskularisasi, pelatihan olahraga dapat membantu mengurangi
gejala dan meningkatkan prognosis.
Aktivitas seksual. Aktivitas seksual dapat memicu iskemia, dapat digunakan
nitrogliserin pada saat melakukan hubungan seksual dan hindari pemberian
Sidenafil bersamaan dengan nitrat.1s
Kontrol berat badan. Penurunan berat badan disarakan bagi pasien
overweight dan obesitas. Hal ini dapat membantu mencapai target tekanan
darah, dislipidemia, dan metabolisme glukosa.
Kontrol lemak. Dislipidemia dikelola sesuai dengan pedoman lipid dengan
intervesi farmakologi dan perubahan gaya hidup. Pada pasien APS, target
pengobatan adalah LDL-C di bawah 1,8 mmol / L (<70 mg / dL) atau
penurunan LDL-C >50% jika tidak dapat mencapai level target. Pada
sebagian besar pasien, pengurangan LDL dapat dicapai dengan pemberian
statin monoterapi. Meskipun peningkatan kadar trigliserida dan kolesterol
HDL rendah (HDL-C) berhubungan dengan peningkatan risiko CVD, belum
ada bukti uji klinis yang cukup untuk menentukan target pengobatan. Pasien
yang menjalani PCI untuk APS, dosis tinggi atorvastatin telah terbukti
mengurangi frekuensi peri-prosedural MI. Sehingga pemberian statin
intensitas tinggi sebelum PCI dapat dipertimbangkan.
Hipertensi. Peningkatan tekanan darah merupakan faktor risiko utama untuk
CAD serta gagal jantung, penyakit serebrovaskular dan gagal ginjal. Ada
bukti yang cukup yang merekomendasikan penurunan tekanan darah sistolik
sampai <140 mmHg dan diastolik <90 mmHg pada Pasien CAD dengan
hipertensi. Berdasarkan data saat ini, rekomendasi untuk menurunkan
tekanan darah sistolik/diastolik pada range 130-139 / 80-85 mmHg. target
tekanan darah pada pasien diabetes direkomendasikan <140/85 mmHg.
Diabetes dan kelainan lainnya. Diabetes mellitus merupakan faktor risiko
kuat untuk komplikasi kardiovaskular, peningkatan risiko penyakit koroner
dan harus dikelola dengan cermat, dengan kontrol yang baik dari
hemoglobin terglikasi (HbA1c) <7% (53 mmol / mol) umumnya dan, 6,5%
-6,9% (48-52 mmol / mol) secara individual. Kontrol glukosa tergantung
pada karakteristik pasien yang meliputi usia, adanya komplikasi dan

9
lamanya diabetes. Seperti penyakit lainnya, direkomendasikan juga
mengendalikan faktor risiko yang meliputi kontrol berat badan, olahraga dan
terapi statin dengan target LDL-C 1,8 mmol / L ( <70 mg / dL) pada pasien
diabetes dengan CAD. Tujuan terapi tekanan darah pada pasien diabetes,
yaitu di bawah 130 mmHg, namun tidak didukung oleh bukti-bukti klinis
dan m sulit untuk dicapai pada sebagian besar pasien. Oleh karena itu, target
tekanan darah pada pasien CAD dan diabetes adalah menjadi <140/85
mmHg. Angiotensin converting enzyme (ACE) inhibitor atau renin-
angiotensin receptor blocker harus selalu disertakan karena memeliki efek
protektif terhadap ginjal.

2.3.2 Intervensi Farmakologi


Intervensi farmakologi pada APS meliputi:
1. Obat Anti Iskemik:2
a. Nitrat. Nitrat dapat mengurangi gejala angina dengan mekanisme
vasodilatasi pembuluh darah arteri koroner dan vena, melalui komponen
aktif Nitrid Oxide (NO) dan mengurangi preload. Nitrat terbagi menjadi 2,
yaitu nitrat kerja jangka pendek dan jangka panjang. Nitrat yang bekerja
jangka pendek digunakan untuk serangan angina akut sedangkan nitrat
jangka panjang digunakan untuk profilaksis atau pencegahan.
- Nitrat kerja pendek contohnya adalah Isosorbid dinitrat (ISDN). Obat
ini diberikan secara sublingual dengan dosis 5 mg untuk menghilangkan
keluhan angina. Onset terjadi dalam 3-4 menit dan dapat diulang setiap
5 menit sebanyak 3x.
- Nitrat kerja panjang. Tidak seperti nitrat kerja pendek, nitrat kerja
panjang masih belum ada pembuktian secara klinis untuk efektivitasnya
terutama bila digunakan sebagai lini pertama. Apabila digunakan terus
menerus tanpa jeda (bebas nitrat) selama minimal 8 jam maka efek anti
angina jauh menurun. Selain itu, dapat menyebabkan turunnya fungsi
endotel, terjadi resistensi NO, dan toleransi nitrat. Contoh preparat yang
ada saat ini adalah isosorbid dinitrat, mononitrat, transdermal
nitrogliserin patches.
b. -blocker. -blocker bekerja sebagai anti angina dengan cara menurunkan
detak jantung, kontraktilitas, konduksi atrioventrikular (AV) dan aktivitas

10
ektopik. Pada angina yang dipicu oleh aktivitas pemberian -blocker
sangat membantu. Biasanya -blocker dikombinasi dengan golongan
dihidropiridin untuk meningkatkan efektivitasnya. Namun dengan
pengecualian verapamil ataupun diltiazem karena berisiko terjadinya AV
Block atau bradikardi. Dari berbagai penelitian sebelumnya, secara umum
-blocker menurunkan risiko kematian dan angka kejadian infark miokard
pada pasien-pasien dengan gagal jantung atau riwayat infark miokard.
Akan tetapi, penggunaan -blocker sebagai anti angina pada APS belum
ada pembuktian melalui suatu percobaan klinis yang membandingkan
dengan placebo.
c. Calcium channel blockers. Bekerja dengan cara vasodilatasi dan
menurunkan resistensi pembuluh darah perifer. Secara farmakologi, obat
ini mencegah terbukanya L-channel pada otot polos pembuluh darah dan
miokardium. Calcium channel blockers dibagi menjadi 2, yaitu
dihidropiridin dan non-dihidropiridin. Perbedaan terletak pada tingginya
selektifitas golongan dihidropiridin.
- Dihidropiridin terdiri dari nifedipine kerja panjang dan amlodipin.
Pada penelitian dikatakan bahwa Nifedipine kerja panjang terbukti
aman dan menurunkan keperluan untuk intervensi kardiovaskuler atau
Corangiografi. Namun dihidropiridin seringkali menyebabkan edema
pada tungkai sehingga harus hati-hati apabila digunakan pada pasien
dengan stenosis aorta berat, cardiomiopati obstruktif, dan gagal
jantung.
- Non dihidropiridin, contohnya adalah verapamil dan diltiazem. Secara
umum dapat mengurangi hampir pada semua angina dengan berbagai
penyebab, mulai dari angina yang dipicu aktivitas, spasme ataupun
pada angina tidak stabil. Namun yang perlu diketahui, golongan obat
ini tidak boleh diberikan bersamaan dengan golongan beta blocker
karena tingginya risiko AV block atau bradikardi.
d. Ivabradine. Obat ini bekerja dengan menurunkan denyut jantung dengan
cara menginhibisi nodus sinus sehingga menurunkan kebutuhan oksigen
dari miokardium tanpa memberikan efek terhadap inotropik dan tekanan

11
darah. Pada beberapa penelitian dikatakan terdapat efek yang signifikan
pada pasien dengan denyut jantung 70 x/menit. Ivabradine merupakan
obat yang efektif sebagai anti angina, dapat digunakan tunggal atau
dikombinasikan dengan beta bloker.1
e. Nicorandil. Obat ini merupakan turunan dari nitrat (nicotinamide) yang
dapat digunakan sebagai pencegahan dan pengobatan jangka panjang dari
angina. Namun obat ini belum tersedia secara umum dan belum diakui di
beberapa negara. Efek samping yang pernah dilaporkan adalah ulserasi di
mulut, usus, dan perianal.1
f. Trimetazidin. Obat ini adalah anti iskemik modular metabolik. Saat ini
penggunaannya masih dievaluasi oleh berbagai Badan Pengawas Obat Dan
Makanan (BPOM) di berbagai negara. Efek samping yang diketahui adalah
dapat meningkatkan kadar gula darah dan HbA1C pada pasien Diabetes.1
g. Ranolazin. Obat ini adalah inhibitor selektif terhadap sodium, digunakan
terutama pada pasien APS yang tidak berespon terhadap pemberian beta
bloker ataupun calcium channel blocker. Namun pada beberapa penelitian
hasilnya masih kontradiktif.
h. Alopurinol. Obat ini merupakan xantin oksidase inhibitor yang menurunkan
asam urat pada pasien gout ternyata memiliki efek lain sebagai anti angina.
Alopurinol dapat menurunkan stress oksidatif pada pembuluh darah yang
bermanfaat bagi pasien gagal jantung.
i. Molsidomine. Obat ini merupakan donor NO langsung yang berfungsi
sebagai anti iskemik, efek yang ditimbulkan menyerupai isosorbid dinitrat.
Dosis yang biasa digunakan sebesar dosis tunggal 16 mg/hari atau 2x 8
mg/hari.
2. Pencegahan kejadian kardiovaskuler
a. Aspirin. Dosisnya 75 mg/hari (75 mg- 100 mg/hari). Penggunaan aspirin
mencegah terjadinya trombosis arteri, berperan sebagai COX-1 inhibitor.
b. Pemakaian obat-obatan untuk menurunkan LDL pada pasien dengan LDL
>130 mg/dl (target <100 mg/dl)

2.3.4 Reperfusi Miokardium


Keadaan-keadaan yang memerlukan reperfusi miokardium pada angina
pektoris stabil:1

12
- CABG pada stenosis LM
- CABG pada lesi 3 pembuluh terutama bila ada disfungsi LV
- CABG pada pasien lesi 2 pembuluh dan proksimal LAD dan disfungsi LV
atau terdapat iskemia pada tes noninvasif.
- PCI pada pasien dengan lesi 2 pembuluh dan proksimal LAD yang
anatomis baik untuk PCI, apalagi bila LV normal dan tidak diobati untuk
DM
- PCI atau CABG pada pasien dengan lesi 1 atau 2 pembuluh, tanpa
proksimal LAD yang bermakna, tapi terdapat viable miokardium yang
cukup luas atau pada tes nonivasif termasuk risiko tinggi.
- CABG pada pasien dengan lesi 1-2 pembuluh tanpa LAD, yang pulih dari
aritmia ventrikel yang berat/cardiac arrest
- PCI atau CABG pada pasien yang sebelumnya sudah reperfusi PCI tapi
mengalami restenosis, sedangkan terdapat miokardium viable luas atau
pada tes noninvasif termasuk high risk
- PCI atau CABG pada pasien yang tidak berhasil baik dengan terapi
konservatif, sedangkan reperfusi dapat dikerjakan dengan risiko cukup
baik.
- Reperfusi transmiokardial secara operatif dengan menggunakan laser.

2.4 Penatalaksanaan Lanjutan


Dari anamnesis yang perlu dievaluasi lebih lanjut adalah mengenai
keluhan angina apakah bertambah atau tetap stabil, apakah timbul tanda disfungsi
LV yang baru, apakah terapi dapat ditoleransi dengan baik, kontrol faktor risiko,
serta adanya komorbid baru yang memerlukan terapi tapi mengganggu stabilitas
angina nya.1
Pemeriksaan fisik harus dilakukan dengan hati-hati mengenai adanya tanda
gagal jantung, aritmia, perubahan pada pembuluh darah tepi lain, perubahan pada
jantung, dan lain-lain. Pemeriksaan laboratorium terutama ditujukan pada faktor
risiko, seperti gula darah dan glikolisat Hb pada DM, profil lipid, fungsi ginjal,
dan lain-lain.

13
14
PENUTUP

Pasien dengan Angina pectoris stabil sering ditemukan pada praktek


sehari-sehari akibat pola hidup yang tidak sehat termasuk didalamnya konsumsi
makanan cepat saji dan kurang nya olah raga. Namun di Indonesia belum
tersedianya pedoman yang jelas mengenai diagnosa dan tatalaksana pasien dengan
angina pektoris stabil. Selama ini, tata laksana yang dilakukan adalah berdasarkan
hasil pengalaman klinis atau pun pedoman dari perhimpunan kardiolog di negara
lain sehingga pasien angina pektoris stabil tidak terkontrol dengan baik dan
berkembang menjadi sindroma koroner akut termasuk didalamnya agina pectoris
tidak stabil, NSTEMI, dan STEMI.
Pencegahan terhadap faktor risiko terjadinya angina pekrotis lebih penting
dilakukan dan sebaiknya dimulai pada usia muda seperti mencegah obesitas, diet
rendah lemak, olah raga yang teratur dan tidak merokok. Dibutuhkan pemahaman
yang komprehensif dalam pendekatan diagnosa dan penatalaksanaan angina
pektoris stabil sehingga dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien
dengan penyakit kardiovaskuler.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Ginanjar E, Rachman AM. Angina Pektoris Stabil. In: Setiati S, Alwi I, Sudoyo
AW, K MS, Setiyohadi Ba, Syam AF, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
VI. Jakara: Interna Publishing; 2014. p. 143648.
2. Force T, Gilles M, Chairperson M, Sechtem U, Germany C, Germany SA, et al.
2013 ESC guidelines on the management of stable coronary artery disease. Eur
Heart J [Internet]. 2013;34(38):29493003. Available from:
http://eurheartj.oxfordjournals.org/lookup/doi/10.1093/eurheartj/eht296
3. Fihn SD, Gardin JM, Abrams J, Berra K, Blankenship JC, Dallas AP, et al.
Guideline for the Diagnosis and Management of Patients With Stable Ischemic
Heart Disease. Circulation [Internet]. 2012;126(25):e354471. Available from:
http://circ.ahajournals.org/cgi/doi/10.1161/CIR.0b013e318277d6a0

16