Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sampai saat ini minyak masih merupakan salah satu hal yang terpenting bagi
kehidupan manusia, sekitar 54 % dari total energi yang ada di dunia. Secara umum,
tujuan dan kebijakan energi nasional adalah memanfaatkan sumber daya energi
seefisien mungkin untuk tujuan pembangunan nasional dan lebih specifik untuk
memperbaiki kwalitas hidup rakyat. Minyak merupakan salah satu energi yang non
renewable. Khusus di Indonesia, yang mempunyai sumber minyak yang cukup
banyak, maka minyak bumi tidak hanya sebagai sumber energi rakyat Indonesia,
namun juga sebagai sumber devisa negara. Bahan Bakar Minyak (BBM) adalah
sebagian produk hasil proses pengilangan dari bahan baku minyak bumi / crude oil,
dalam hal ini BBM terdiri dari avgas, avtur, premium (gasoline), minyak tanah
(kerosene), solar (automotive diesel oil / ADO), minyak diesel ( industrial diesel oil /
IDO) dan minyak bakar (fuel oil). Tinggi rendahnya spesifikasi produk dan sedikit
banyaknya jenis produk yang dikehendaki mengakibatkan derajat kompleksitas dalam
proses pengilangan. Sifat industri perminyakan adalah integral menyangkut kegiatan
upstream (minyak mentah) dan downstream (hasil kilang) antara lain BBM, seperti
rantai yang panjang untuk sampai kepada konsumen/rakyat.
Sejalan dengan apa yang telah tercantum pada UUD'45 pasal 33, ayat 2 dan 3
yg berbunyi : "Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai
hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara" dan "Bumi dan air dan kekayaan alam
yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dapat dipergunakan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat", maka sebagai penjabarannya pemerintah secara
administrasi menetapkan harga energi nasional. BBM terkait langsung dengan hajat
hidup orang banyak dan dipergunakan untuk sebesar- besarnya kemakmuran rakyat.
Penentuan harga BBM menjadi sangat penting, karena BBM adalah salah satu faktor
penggerak perekonomian dalam pembangunan negara dan merupakan biaya utama
(cost Leader). Pengaruh harga BBM dapat berdampak ke sektor lain seperti perubahan
biaya transportasi, perubahan ini mempengaruhi upah pekerja, karena upah pekerja
naik sehingga mempengaruhi biaya produksi dst, oleh karenanya maka perubahan
harga BBM dapat dikatakan sebagai efek berantai (multiplier effects). Sehingga
2

penentuan harga BBM haruslah berhati-hati karena dapat berpengaruh langsung


terhadap kehidupan sosial masyarakat. dan dapat mngganggu ketahanan nasional.
Harga BBM ditetapkan dengan mempertimbangkan harga minyak internasional dan
situasi perkembangan perekonomian dalam negeri. Pertimbangan utama harga
domestik adalah kebutuhan dan kemampuan daya beli masyarakat. Dalam penentuan
harga BBM dalam negeri, yang menjadi pertanyaan penting ialah ukuran dan sifat
dari unsur unsur yang mempengaruhi harga termasuk unsur pajak yang timbul dari
setiap penyimpangan naik atau turun antara pengenaan harga actual dan harga
ekonomis pada saat itu. Harus dibedakan antara tingkat harga BBM dengan struktur
harga BBM, karena tingkat harga merupakan suatu faktor penting terutama dalam
dampak makro ekonomi dari harga energi. Sedangkan struktur harga adalah faktor
utama dari keputusan pemilihan jenis bahan bakar.
Beberapa jenis harga BBM di Indonesia masih disubsidi oleh pemerintah.
Subsidi tidak boleh berlaku untuk selamanya karena menggambarkan perdagangan
1
yang semu, maka bagaimana untuk mencapai harga yang seimbang (balance price)
yang dapat terjangkau oleh daya beli masyarakat dan juga diusahakan mendekati atau
sama dengan harga BBM regional/international, agar dalam menghadapi pasaran
global terjadi fairness.
Peranan pemerintah sangat tinggi, karena pemerintah bertanggung jawab
secara langsung melalui Pertamina untuk ketersediannya BBM. Kondisi saat ini hasil
pengilangan dalam negeri hanya mampu mencukupi 75-80% dari kebutuhan dalam
negeri, sehingga masih perlu mengimpor ( kurang lebih 50 ribu Bph ) dari kilang
Singapura yg dinilai efisien, oleh karenanya pemerintah menjadi penentu dalam
memutuskan harga setiap jenis BBM dengan pertimbangan faktor politik dan sosial.
Dalam penentuan harga BBM tersebut di mulai dari kegiatan pengadaan crude
oil ( dari hasil dalam negeri/import), transportasi crude oil sampai ke kilang, proses
pengilangan, distribusi hasil kilang (dalam hal ini BBM) sampai ke konsumen, yg
kesemuanya menyangkut masalah biaya. Biaya yang dipakai sebagai patokan
penentuan harga BBM, tidaklah cukup hanya berdasarkan pada keadaan dalam
negeri, namun juga dipengaruhi oleh faktor luar antara lain : keputusan OPEC yang
menyangkut pasaran minyak dunia sehingga mengakibatkan harga minyak mentah
fluktuatif. Hal ini dapat langsung mengakibatkan harga BBM juga fluktuatif
mengingat minyak mentah merupakan bahan dasar utama BBM.(Kartiyoso Sayogyo).

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah proposal yaitu :
3

1. Bagaimana model AHP/ANP dalam menentukan harga BBM?


2. Apa saja methology untuk menentukan harga BBM?
3. Apa saja masalah penentuan harga BBM?
4. Bagimana kriteria-kriteria yang mempengaruhi harga BBM?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan proposal tugas akhir ini adalah :
1. Mengetahui model AHP/ANP pada penentuan harga BBM.
2. Mengetahui methology untuk menentukan harga BBM
3. Mengetahui masalah penentuan harga BBM.
4. Mengetahui kriteria-kriteria yang mempengaruhi harga BBM.

1.4 Sistematika Penulisan


Penulisan ini sesuai sistematika penulisan sebagai berikut :
Bab I ( Pendahuluan )
Menjelaskan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan dan

sistematika penulisan.
Bab II ( Teori Dasar )
Berisi teori dasar penulisan.
Bab III ( Kriteria-kriteria yang mempengaruhi harga BBM )
Berisi pembahasan dari kriteria-kriteria apa saja yang mempengaruhi harga

BBM .
Bab IV ( Pembahasan )
Berisi pembahasan dari hasil penelitian sesuai dengan tujuan penulisan.
Bab V ( Kesimpulan dan Saran )
Berisi kesimpulan dari hasil penelitian dan sejumlah saran yang ditujukan bagi

penulis dan pembaca .

BAB II

TEORI DASAR

2.1 Permasalahan Penentuan Harga BBM

Mengingat parameter yang sangat banyak dan kompleks, maka perlu suatu
proses penentuan harga BBM yang sistematis. Parameter-parameter penentu tersebut
memiliki dimensi yg berbeda antara lain ada yang dapat terukur dan tidak dapat
terukur, ada yg dapat saling terkait dan mendukung satu dengan yang lain, namun
mungkin juga dapat terkandung konflik antara satu parameter dengan yang lain.Untuk
menyelesaikan permasalahan tersebut, akan dicoba dengan pendekatan multi kriteria
yaitu dengan model Analitic Hierarchy Process (AHP) / Analytic Network Process
4

(ANP) untuk diterapkan pada penentuan harga BBM di Indonesia. Karena jenis
BBM cukup banyak, maka untuk analisa akan diuji cobakan satu jenis saja yang
dianggap cukup komplek yaitu premium, sehingga metode yang dihasilkan disini
diharapkan dapat digunakan oleh jenis BBM yang lainnya.(Purnomo Y)

2.2 Hasil yang akan dicapai dengan Penggunaan Model AHP

Yang ingin dicapai pada penggunaan model AHP/ANP dalam menentukan


harga BBM adalah :

1. Menentukan kelompok alternatif berdasarkan harga pokok produksi,


ketentuan pemerintah yang mempertimbangkan daya beli masyarakat umum dan
harga internasional (MOP).
2. Mendapatkan ranking tertinggi dari hasil perhitungan dengan menggunakan
perbandingan berpasangan bobot dari criteria dan subcriteria dari faktor-faktor
yang dipertimbangkan untuk harga BBM. Juga untuk dapat mengukur
konsistensi menyeluruh dari berbagai pertimbangan melalui rasio konsistensi
sesuai dengan suatu kriteria yang logis. Untuk dapat lebih menjamin akurasi dan
validitasnya dari hasil perhitungan.
3. Menentukan alternative yang akan dipilih berdasarkan kepada bobot yang
dominan.
4. Agar mendapathan hasil analisa yang lebih menyeluruh dari ketiga nomor
diatas dapat dilanjutkan dengan analisa Benefit, Cost, Opportunity, Risk (BCOR)
dari criteria yang berhubungan setiap perbandingan alternatif. Kemudian juga
4
untuk mengetahui kelayakan interpretasi hasil dilanjutkan dengan dilakukan
analisa sensitivitas untuk setiap alternatif. Dari analisa-analisa tersebut dapat
menentukan harga BBM sebagai pilihan terbaik dan dialokasikan sebagai
keputusan dari sebanyak alternatif yang ada.yang terbaik dari beberapa alternatif
yang diprioritaskan. Akhirnya diharapkan dapat memberikan cakrawala kajian
bagi para pengambil keputusan secara hierarchis dan network dengan penetapan
prioritas.

2.3 Alternative-alternative Pilihan


5

Dalam menentukan alternatif-alternatif pilihan harga produk BBM di


Indonesia, dengan memperhatikan inward looking dan outward looking. Ha-hal yang
perlu diperhatikan antara lain, pertumbuhan ekonomi dan perdagangan internasional,
tuntutan dunia usaha untuk meningkatkan daya saingnya dengan memenuhi standard
internasional, kemampuan daya beli masyarakat, perkembangan kebijakan
perekonomian nasional antara lain perubahan struktur pasar, pergeseran sistem
monopolistik ke oligopoli, pergeseran konsentrasi ekonomi penyebaran ke
wilayah/daerah dengan adanya undang-undang otonomi daerah, hak kedaulatan
konsumen untuk mendapatkan pilihan produk yang beragam sesuai kebutuhan dan
faktor-faktor lain yang mempengaruhi perubahan lingkungan usaha. Dengan
memperhatikan faktor-faktor diatas, maka harga produk BBM yang perlu diperhatikan
adalah harga internasional dan harga pokok penjualan dalam negeri. Sedangkan harga
yang dicari adalah harga yang memenuhi kriteria internasional dan nasional.

Dengan analisa AHP ini akan diusulkan 3 (tiga) alternative yang meliputi :

1. Harga Pokok Penjualan ( HPP)/ At Cost Selling Price [19,20] Untuk


penentuan harga BBM di Indonesia dengan mencari at cost selling price dalam
RP/lt terlebih dulu. Dalam konsep ekonomi mikro, perhitungan tersebut
merupakan average cost petro fuel product. At Cost selling price dihitung dari
pengurangan pendapatan dari penjualan BBM dalam negeri dikurangi biaya
dibagi dengan besarnya volume BBM. Yg dimaksud biaya disini adalah biaya
pengadaan minyak mentah dan produknya ditambah biaya operasi.
2. Harga Internasional / Border Price [19,20] Mengacu pada penetapan harga
kilang Singapura yg diasumsikan pada harga kompetitif dan mendekati harga yg
effisien. Harga acuan tsb menggunakan posted price yg dipublikasikan secara
rutin. Harga acuan tsb diitambah dengan komponen biaya seperti transportasi,
pajak, subsidi dsb, menjadi harga jual di Indonesia (landed price).
3. Harga yang Fair (Balance Price) Harga yg ditetapkan oleh pemerintah dan
diberlakukan untuk konsumsi nasional, dengan memperhatikan kepentingan
sosial, ekonomi, politik dan lingkungan serta mengikuti pasar
internasional/regional.

Saat ini penentuan harga BBM dengan kedua model [19,20], sehingga
mempunyai harga kisaran atau harga minimum (landed price) dan harga maximum
(ceiling price). sesuai dengan Keputusan Presiden no.9/2002 bahwa harga pasar =
Mid Oil Platt's Singapura (MOPS) + 5%
6

BAB III

KRITERIA-KRITERIA YANG MEMPENGARUHI HARGA BBM

3.1 Minyak Mentah (Crude Oil) di Indonesia


Minyak mentah yang ada di Indonesia adalah digunakan untuk kebutuhan
dalam negeri, dan juga dieksport sebagai salah satu sumber devisa negara. Dalam
kaitannya dengan penentuan harga BBM, minyak mentah merupakan komponen biaya
terbesar karena merupakan bahan dasar.(Purnomo Yusgiantoro)
3.1.1 Faktor Ekonomi
Dalam prinsip ekonomi, pembentukan harga akan ditentukan oleh
kondisi keseimbangan antara demand and supplay pasar. Sifat industri
perminyakan adalah integral menyangkut kegiatan downstream dan upstream,
yang memiliki keterkaitan yang erat antara keduanya, hal ini mengakibatkan
saling terkaitnya pertimbangan dalam penetapan Harga Pokok Jual (Cost of
Goods Sold) dari kegiatan upstream (Crude oil) dan downstream (hasil
kilang). Jumlah penawaran minyak mentah tidak hanya dipengaruhi oleh
7

besarnya tingkat produksi negara negara produsen semata, tetapi yang lebih
dominan adalah besarnya kapasitas stock negara- negara konsumen.

3.1.2 Faktor Non-Ekonomi


Faktor politik internasional dan keputusan OPEC (Organizationof
Petroleum Exporting Countries), mempengaruhi harga minyak internasional.
Kondisi Pasaran Minyak Mentah Pasaran minyak mentah dalam kondisi Buyer
market, harga hasil-hasil kilang akan mengikuti harga minyak mentah. Pasaran
minyak mentah dalam kondisi Seller Market, harga hasil hasil kilang akan
menentukan harga minyak mentah. Kondisi yang unik pada pasaran minyak
mentah, bahwa penawaran akan tergantung pada kebijaksanaan Security Stock
negara-negara konsumen, dan tingkat produksi minyak mentah negara-negara
produsen. Ini disebabkan karena keterbatasan kapasitas penyimpanan stock di
negara-negara produsen. Oleh karenanya perubahan kebijaksanaan stock di
negara negara konsumen akan ikut berperan dalam penentuan harga minyak
mentah di pasaran internasional.
3.1.3 Model Harga Minyak Mentah
Pada kenyatannya harga minyak mentah Indonesia berfluktuasi sesuai dengan
harga pasar minyak mentah dunia. Hingga saat ini Indonesia/pemerintah.
7
mengenal 3 model penetapan harga minyak di pasar Internasional , yaitu :
1. Government Sale Price (GSP) Harga GSP berpedoman pada harga Arabian
Light Crude /ALC (OPEC Benchmark), dan model ini digunakan sejak
1968 -1986 pada saat harga dalam kondisi seller market berdasarkan cara
pre determined.
2. Agreed Selling Price (ASP) Model ini hanya digunakan pada saat harga
minyak dunia jatuh sejak awal 1986 hingga awal 1987, dan setelah harga
kembali relatif membaik maka model GSP segera digunakan kembali.
3. Indonesian Crude Price (ICP) Model ini mulai digunakan thn 1989.
Perhitungan ICP didasarkan pada harga basket minyak mentah dunia
(Minas, Tapis, Oman, Dubai, dan Gippsland) yang dipublikasikan oleh
APPI (Asian Petroleum Price Index), RIM dan PLATT'S, RIM dan
PLATT'S adalah rata-rata harga minyak mentah indonesia yg
dipublikasikan RIM dan PLATT'S pada bulan berjalan dengan periode
penerbitan satu hari sesudah tanggal penerbitan publikasi APPI terakhir
pada bulan sebelumnya sampai dengan tanggal penerbitan publikasi APPI
terakhir pd bulan berjalan. Perhitungan harga minyak mentah berdasarkan
formula tertentu, untuk jangka waktu tertentu. Penggunaan tiga publikasi
8

APPI,RIM dan PLATT's sebagai Base Price Formula yg diterapkan selama


periode tertentu dan akan dievaluasi setiap periode tertentu ( untuk
menentukan berapa persentasi masing-masing publikasi ) , misalnya 6
bulan untuk jangka waktu penetapan harga dan 3 bulan untuk evaluasi
besarnya bobot persentasi.(Purnomo Y)

Saat ini terdapat delapan jenis minyak mentah Indonesia yg dipublikasikan


dalam APPI yaitu : Minas (SLC), Arjuna, Arun Kondensat, Attaka, Cinta,
Duri, Widuri dan Belida. Sebagai contoh perhitungan yg berlaku 1/10/1999 s/d
31/03/2000, dengan formula sebagai berikut :
Formula ICP = (20%APPI+40%RIM+40%PLATT'S)

Untuk jenis-jenis minyak mentah yg tidak dipublikasikan dalam APPI,


ditetapkan berdasarkan formula
ICP= harga Minas- US$ 0.20

3.1.4 Harga Minyak Mentah untuk Kebutuhan Domestic


Ada 3 macam harga, yaitu:
- Pembelian dengan harga Indonesian Crude Price ( ICP ).
- Pembelian dengan Domestic Market Obligation (DMO), dimana untuk lima
tahun pertama dari lapangan minyak berproduksi harganya = ICP,
selanjutnya harganya 10% ICP.
- Pembelian dengan harga import dari Timur Tengah (ALC, BLC dan ILC)

3.2 Refinering
Refinering adalah proses pengilangan crude oil menjadi produk kilang.
Beberapa produk kilang dikategorikan sebagai berikut :
A. Bahan Bakar Minyak yang lebih dikenal sebagai BBM terdiri dari avgas,
avtur, premium, kerosene, solar diesel dan minyak bakar. Sampai saat ini
jumlah dan jangkauan penjualan sangat luas bagi kepentingan konsumen
sehingga mendapatkan jaminan oleh pemerintah untuk ketersediannya dan
harganya ditetapkan oleh pemerintah.
B. Bahan bakar lainnya, antara lain adalah bensin super TT, premix, LPG,
BBG, yg kesemuanya juga dikendalikan oleh pemerintah. Bahan bakar
kelompok ini sebenarnya masuk dalam kategori BBM, namun kerena yg
popular mengenai jenis BBM adalah yg tertera pada kelompok a, maka hal
tersebut menjadi terbakukan bahwa yg termasuk dalam BBM adalah hanya
tujuh macam jenis tersebut.
C. Bukan Bahan Bakar ( non BBM) seperti : pelumas, berbagai macam
Solvent (minarex, minasol), aspal, lilin, petroleum coke, produk-produk
petrokimia. petrofuel yg dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan industri.
9

Hasil produk tersebut sangat tergantung dari jenis crude oil dan proses
pengilangan. Sampai saat ini fasilitas operasi kilang minyak di Indonesia ada 9
(Tabel 1) yang meliputi, lokasi, asal sumber minyak mentah, jenis proses yang dapat
dilakukan serta perkiraan biaya proses. Dari hasil kilang kilang yang ada tersebut
belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga perlu dicari kriteria
kriteria yang lain. Usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat dilakukan antara
lain dengan meningkatkan jumlah produk hasil kilang, meningkatkan spesifikasi hasil
kilang misalnya dari reguler premium menjadi super TT atau dengan cara menambah
jumlah kilang.

3.3 Hasil Produksi Kilang ( Petroleum Product)

Hasil produk kilang yang ada di Indonesia saat ini belum mampu memenuhi
kebutuhan BBM dalam negeri. Usaha untuk memenuhi kebutuhan dapat diusahakan
dengan mengimport BBM sebagai salah satu kriteriannya.

3.4 Biaya-biaya
Biaya biaya yang terkait pada penentuan harga BBM :
3.4.1 Biaya pengadaan minyak mentah dan produknya
Biaya pengadaan BBM, hal ini menyangkut dari mulai pembelian
crude oil dalam negeri dan import, import BBM, perubahan persediaan dan
nilai non BBM. Masing-masing tersebut dijabarkan sebagai berikut.
1. Pengadaan minyak mentah adalah : Pembelian crude oil dalam
negeri. Untuk kebutuhan dalam negeri jenisnya di sesuaikan dengan
kemampuan kilang dan hasil produk kilang yang diinginkan. Saat ini
minyak mentah dalam negeri tidak sepenuhnya dapat memenuhi
kebutuhan BBM yang diperlukan .
2. Minyak mentah import adalah untuk memenuhi kebutuhan kilang
dalam negeri dan untuk meningkatkan hasil kilang berupa BBM, maka
Indonesia masih mengimpor crude oil dari Arab saudi (ALC), Iran
(ILC), Australia (Jabiru dan Harriet) dan dari Malaysia (Tapis), dengan
harga internasional.
3. BBM Import adalah untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri,
10

beberapa jenis BBM tertentu masih harus diimpor antara lain minyak
solar/automotive diesel oil, minyak diesel/industrial Diesel Oil dan
minyak bakar/fuel oil.
4. Pembelian BBM adalah pembelian BBM yg diperhitungkan dari
biaya pokok BBM dalam nilai dollar US.
5. Surplus Product adalah nilai lebih BBM adalah BBM yang tersedia
baik hasil dari kilang maupun import, ternyata melebihi dari
permintaan (supplay lebih besar dari demand), hal ini akan
menimbulkan banyak faktor dan menambah biaya, mengingat harus
memerlukan tempat tambahan untuk menimbun over product tadi.
Sebagai contoh misalnya jumlah yang diimport ternyata melebihi
kebutuhan yang diperkirakan sebelumnya, hal ini menimbulkan adanya
tambahan biaya antara lain tambahan waktu sewa tanker, biaya
berlabuh dsb.

3.4.2 Biaya Operasional


1. Biaya Pengolahan Biaya pengolahan adalah biaya yang diperlukan
untuk mengolah crude oil di kilang minyak menjadi BBM.
2. Biaya Transporsi & Distribusi : Kegiatan transportasi disini
menyangkut kegiatan transportasi crude oil dari tempat produksi dari
lapangan minyak dalam negeri dan juga dari pembelian crude oil dari
luar negeri sampai dengan tempat pengilangan yang terdapat di 9
sembilan lokasi pengilangan. Kegiatan distribusi adalah suatu kegiatan
yang mendistribusikan hasil produk kilang sampai ke lokasi (Depot)
yang telah ditentukan untuk konsumen seluruh pelosok nusantara.
Biaya distribusi yg menyangkut biaya anngkutan BBM mulai dari
kilang sampai dengan depot/konsumen. Dalam menghitung biaya
distribusi disini harus digunakan metode yang sesuai, yang dapat
diartikan bahwa harga yang paling efisien untuk volume, jarak, &
kondisi yang ada, karena dapat melalui saluran pipa, angkutan kapal dll
didasarkan biaya yang diperlukan dari kilang sampai dengan
konsumen. Untuk Indonesia yang negara kepulauan maka bila
menganut pada aturan diatas maka harga distribusi perjenis BBM
adalah akan berbeda disetiap tempat
Usaha Migas di Indonesia adalah sangat unik, mengingat Indonesia
adalah negara kepulauan yg terdiri +_ 17000 pulau dengan garis pantai
11

yg terpanjang diseluruh dunia. Aspek transportasi laut menjadi sangat


penting untuk usaha Migas yg dapat dibagi dalam dua aspek
pengelolaan yaitu: Perencanaan dan pengendalian transportasi laut dan
pelaksanaan kegiatan perkapalannya. Memiliki armada 153 tanker
berbagai jenis dan ukuran, melayani 150 pelabuhan serta
mengangkut berbagai komoditi Migas 76 juta ton per tahun.
Dalam usaha ini dibatasi pada aspek transportasinya sekalipun kita tau
bahwa perkapalan tidak hanya sebagai sarana transportasi namun
beberapa juga digunakan sebagai depo/peninmbun, mengingat adanya
beberapa factor antara lain tanki penimbun yg ada tidak mencukupi
dan karena lokasi pemakai BBM di pulau pulau di laut shingga
didistribusikan melalui kapal-kapal kecil yang merapat ke kapal besar.
Sedangkan biaya yang dimaksud disini adalah biaya angkutan laut
minyak mentah dari sumber ke kilang dan biaya pembelian BBM
sampai depot serta pendistribusiannya. Biaya transportasi laut per bbl
dari kilang ke konsumer adalah sangat bervariasi mengingat jarak yang
berbeda. Dalam masalah ini harganya diambil rata-ratanya, dan
dimasukkan dalam biaya operasi, mengingat harga BBM di Indonesia
untuk jenis yang sama diberlakukan harga yang sama.
3. Biaya Lain-lain Adalah biaya yang dikeluarkan untuk keperluan
umum dan administrasi termasuk untuk pemasaran BBM, Biaya
Bunga untuk penyimpanan asset asset yang penting serta biaya
Penyusutan. Selain biaya biaya tersebut diatas seharusnya masih
dihitung biaya - biaya yang mempengaruhi harga BBM.

3.4.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga BBM


1. Pengaruh Luar Negeri
Hasil putusan OPEC akan mempengaruhi harga minyak dunia, sehingga
naik turunnya harga crude oil akan berpengaruh langsung terhadap harga
BBM.. Mengingat sekitar 70% dari harga BBM adalah komponen biaya
penyediaan crude oil, maka harga crude oil yg fluktuatif berdampak
menjadi tinggi rendahnya harga BBM..
2. Pengaruh Dalam Negeri
a. Keadaan Geografi Negara Indonesia sebagai negara kepulauan dengan
12

letak geografi yg membentang dari barat (Sabang) sampai ke Timur


(Merauke), dengan ada atau tidaknya sumber minyak atau depo
pengilangan di suatu daerah, namun saat ini pemerintah
memberlakukan harga jual yang sama untuk jenis BBM yang sama
serta konsumen yang sama. Kalau perhitungan hanya dari faktor
ekonomi, maka hal ini tidak mungkin.
b. Pengaruh Fiskal Akuntansi perpajakan pada industri perminyakan
adalah tidak berbeda dengan jenis industri lainnya. Pajak untuk
kegiatan eksplorasi, eksploitasi/produksi, proses pengilangan,
transportasi, distribusi serta penjualan; meliputi pajak penghasilan
(badan usaha, gaji pegawai , bunga deviden dan royalty, bunga deviden
dan royalty dari obyek luar negeri, pajak pertambahan nilai serta pajak
bumi dan bangunan). Peraturan perpajakan yang menyangkut kegiatan
tersebut di Indonesia kurang lebih ada 30 jenis PP, sehingga dalam
penelitian ini tidak dibahas secara rinci. Perlu diketahui bahwa masing-
masing kegiatan ada Peraturan Pemerintah mengenai jenis pajaknya,
sehingga harga minyak mentah, harga BBM hasil kilang sudah
diperhitungkan faktor pajaknya. Faktor pajak tersebut dimasukkan
sebagai biaya. Pajak juga dapat dimasukkan sebagai faktor politik
kebijakan pemerintah, hal ini diperlukan untuk menjaga kestabilan
ketehanan nasional dan keseimbangan harga internasional.
c. Pengaruh Politik dan sosial Penetapan harga BBM yang tidak tepat
dapat menimbulkan beberapa masalah. Khususnya untuk negara
Indonesia yang selama ini mendapatkan subsidi, maka untuk
menghindari gejolak yang dapat mengakibatkan kestabilan politik,
sangat diperlukan kehati-hatian dalam menentukan harga tiap jenis
BBM. Penetapan struktur harga dari tiap jenis BBM yang terjadi
sekarang ini adalah tidak sama, sekalipun harga pokoknya sama.
Disinilah peran pemerintah sangat besar melalui Kepres (Keputusan
Presiden), dengan mempertimbangkan faktor sosial yang ada di
masyarakat.
d. Pengaruh Gross National Product (GNP) GNP mempunyai arti bahwa
: Pengukuran jumlah hasil (output) akhir (final) dari barang maupun
jasa yang dihasilkan oleh perekonomian suatu negara yang
13

dilakukan/diusahakan baik oleh penduduk (warga negara) maupun


diusahakan oleh bukan penduduk (orang asing), tanpa memperhatikan
apakah di dalamnya termasuk tagihan/milik dalam negeri atau milik
luar negeri (asing). Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), GNP
dibedakan menurut pengertian produksi, pendapatan dan pengeluaran
dalam jangka waktu tertentu (satu tahun). BPS dalam menghitung
agregat-agregat pendapatan seluruh komponen GNP atas dasar harga
yang berlaku dan atas dasar harga konstan suatu tahun dasar.
Mengingat harga minyak yang fluktuatif maka untuk perhitungan GNP
lebih cocok bila menggunakan dasar harga yang berlaku.
e. Harga BBM regional/internasional Harga BBM regional/internasional
perlu menjadi pertimbangan dalam penentuan harga BBM, karena
apabila harganya lebih tinggi dari harga domestic dapat terjadi black
market (penyelundupan), disamping itu juga adanya perdagangan yang
tidak fair dalam perdagangan dunia terutama pada industri domestik
yang mempunyai orientasi eksport. Bila harga domestik BBM sama
dengan harga non domestic BBM juga dapat menimbulkan beban bagi
masyarakat, karena GNP untuk Indonesia adalah termasuk rendah,
sehingga perlu diperhitungkan tingkat kewajarannya.
f. Pengaruh Lingkungan Untuk mendukung terlaksanaannya
pembangunan yg berkelanjutan (sustainable development) sesuai
dengan Agenda 21 Indonesia (Gun Adji), maka pada struktur biaya
produksi harus dimasukkan komponen biaya yg berhubungan dengan
isu lingkungan. Maksudnya adalah untuk tujuan konservasi sumber
daya energi agar terus terjamin keberadaannya. Dalam praktek yang
selama ini, unsur biaya adalah baru digunakan untuk kegiatan minyak
dalam penaggulangan dampak negatif terhadap lingkungan dan
pencegahannya, sesuai dengan analisa dampak lingkungan yang
dipersyaratkan. Pada industri perminyakan bahwa minyak adalah
termasuk energi yg tidak dapat terbarukan (non renewable), sehingga
perlu menambahkan premi pengurasan (depletion allowence). Secara
specific premi pengurasan adalah komponen biaya untuk mengukur
pertambahan biaya produksi sumber daya energi yang tidak terbarukan
dan menggambarkan satu unit energi yg digunakan saat ini dan tidak
14

akan tersedia lagi dimasa yg akan datang. Kekurangan ini perlu diganti
dengan sumber energi lain yg biasanya mempunyai nilai yg lebih
tinggi. Hasil pengilangan tahap lanjut telah menghasilkan BBM bebas
polusi Super TT, dengan biaya produksi yang lebih tinggi. BBM tanpa
timbal tersebut lebih mahal dan Indonesiia memang belum dapat
memberikan harga yang lebih murah dari premium. Sehingga
masyarakat sesuai kemampuannya masih cenderung memilih membeli
premium, sekalipun pemerintah memiliki komitmen mendorong dan
menjalankan "Program Langit Biru".

Dari faktor-faktor yang memepengaruhi harga BBM, ada beberapa


yang sulit dinilai secara tangible. Oleh karena model AHP memerlukan data
tangible maka faktor-faktor yang sulit dihitung, misalnya seperti pengaruh
sosial, politik , dampak lingkungan dalam menjaga ekosistem dinilai
berdasarkan angka relatif atau skalar
15

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Model AHP ( Analytic Hierarchy Process )


The Analitic Hierarchy Process (AHP), telah dikembangkan oleh Thomas
Saaty sejak awal tahun 1970 an di Pittsburg University Amerika Serikat. AHP adalah
suatu teori umum tentang pengukuran dan merupakan model yang luwes dimana
dapat memberikan kesempatan bagi perorangan atau kelompok untuk membangun
gagasan gagasan dan mendefinisikan persoalan dengan cara membuat asumsi mereka
masing-masing untuk memperoleh pemecahan yang diinginkan. Proses ini bergantung
pada imajinasi, pengalaman dan pengetahuan untuk menyusun hierarchy suatu
masalah, juga pada logika, intuisi, dan pengalaman untuk memberi pertimbangan.
AHP adalah suatu model pendekatan untuk memecahkan masalah dalam satu
kerangka yang logis dan terpadu. Pendekatan yg dimaksud tersebut adalah gabungan
dari pendekatn deduktif yg memfokuskan pada bagian-bagian dan pendekatan sistem
yg memusatkan pada pendekatan bekerjanya sistem secara keseluruhan. AHP adalah
suatu kerangka yang memungkinkan kita untuk memikirkan masalah komplek
menjadi sederhana. Dua pendekatan mendasar untuk memecahkan masalah ;
Pendekatan deduktif yaitu memfokuskan pada bagian bagian dan pendekatan sistem
yaitu memfokuskan pada pendekatan bekerjanya sistem secara keseluruhan. AHP
adalah suatu model yang menggabungkan kedua pendekatan dalam suatu kerangka
yang logis dan terpadu. Model ini luwes dengan memasukkan pertimbangan,
imaginasi, pengalaman dalam menyusun hierarchy.
Beberapa prinsip dasar yang harus dipahami dalam menyelesaikan persoalan
dengan AHP, antara lain yaitu : decomposition, comparative judment, synthesis of
priority, dan logical consistensy
1. Decomposition ( memecah persoalan menjadi unsur unsur yang terpisah-pisah).
Setelah persoalan didefinisikan /digambarkan, maka persoalan yang utuh perlu
dilakukan pemecahan menjadi unsur unsur . Bila ingin mendapatkan hasil yang
akurat pemecahan dilakukan sampai tidak bisa dilakukan pemecahan lebih lanjut,
sehingga didapatkan beberapa tingkatan dari persoalan tadi. Proses analisa ini
dinamakan hirarki ( hierarchy). Yang kita sebut menyusun secara hierarchy yaitu
memecah persoalan menjadi unsur unsur yang terpisah-pisah. Dalam menyusun
16

hierarchy bergantung pada jenis keputusan yang dibuat, bila dikelompokkan ada
dua yaitu : Terdapat dua jenis hierarchy :
Hierarchy Lengkap ; Semua elemen dalam satu tingkat memiliki setiap sifat
yang ada pada tingkat berikutnya yang lebih tinggi.
Hierarchy Tidak Lengkap ; Beberapa elemen dalam satu tingkat tidak
memiliki sifat yang sama.
2. Comparative Judgement
Membuat penilaian dengan membuat skala yang luwes untuk menentukan
16
peringkat eleme-elemen menurut relatif pentingnya. Ini merupakan inti dari AHP,
karena ia akan berpengaruh terhadap prioritas elemen elemen.
Penetapan prioritas :
Menetapkan elemen dalam suatu persoalan keputusan adalah dengan membuat
perbandingan berpasang, yaitu elemen elemen dibandingkan berpasangan
terhadap suatu kriteria yang ditentukan yaitu dengan matrik. Adapun puncak
hierarchy adalah tujuan.
Dalam menyusun skala banding, kita menggunakan patokan tabel sbb : (Saaty, T )

Jika elemen i memiliki salah satu angka diatas ketika dibandingkan elemen j,
maka j memiliki nilai kebalikannya ketika dibanding elemen i.
Dalam penilaian kepentingan relatif dua elemen berlaku aksioma reciprocal
artinya jika elemen idinilai 3 kali lebih penting dibanding j, maka elemen j harus sama
dengan 1/3 kali pentingnya dibanding i. Disamping itu, perbandingan dua elemen
yang sama akan menghasilkan angka 1, artinya, sama penting. Dua elemen yang
berlainan dapat saja dinilai sama penting. Jika terdapat n elemen, maka akan
17

diperoleh matriks perbandingan berpasang ( pairwise comparison) berukuran nxn.


Banyaknya penilaian yang diperlukan dalam menyusun matriks ini adalah n(n-1)/2
karena matriksnya reciprocal dan elemen lelemen diagonal sama dengan 1.

3. Synthesis of Priority
Dari setiap matriks perbandingan berpasang kemudian dicari eigenvectornya
untuk mendapatkan local priority. Karena matrik-matrik perbandingan berpasang
ada disetiap tingkat, maka untuk mendapatkan global priority harus dilakukan
sintesa diantara local priority. Prosedur melakukan sintesa berbeda menurut
bentuk hirarki.
4. .Logical Consistency (konsistensi logis)
Yaitu menjamin bahwa semua elemen dikelompokkan secara logis dan
diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan suatu kriteria yang logis.
Konsistensi yang sempurna adalah jika semua hubungan elemen saling
bersesuaian secara benar. Arti konsistensi :
a. Pemikiran atau objek yang serupa dikelompokkan menurut keseragaman dan
relevansinya. Misalnya : anggur dan kelereng, relevansinya adalah bulat.
b. Intensitas relasi antar gagasan atau antar obyek yang didasarkan pada suatu
kriteria tertentu, saling membenarkan secara logis .Misalnya : kemanisan
madu 5x kemanisan gula pasir. Kemanisan gula pasir 2x kemanisan gula jawa.
Jadi kemanisan madu 10x kemanisan gula jawa
AHP akan mengukur konsistensi secara menyeluruh dari berbagai
pertimbangan melalui suatu ratio konsistensi. Nilai Consistensi Ratio (CR) harus
lebih kecil atau = 10 %. CR kecil berarti nilai konsistensi tinggi.

4.2 Model ANP ( Analytic Network Process )


Secara umum banyak orang melakukan pengambilan keputusan hanya
didasarkan pada suatu struktur hirarki yang sederhana yaitu goal, criteria dan
alternative. Namun untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek, menurut Saaty
dengan menggunakan model AHP saja masih banyak faktor-faktor yang ternyata tidak
dapat mendukung dalam pengambilan keputusan. Saaty & Roozan telah
mengembangkan ANP. ANP adalah salah satu teori umum yang dapat digunakan
untuk menyelesaikan masalah yang sangat komplek, terutama digunakan untuk
18

pengambilan keputusan yang diselaikan dengan suatu metodologi yang mana faktor-
faktor / kriteria-kriteria yang mempengaruhi mempunyai struktur keterikatan dan
imbal balik (dependence and feedback). Dapat dikatakan bahwa model ANP adalah
terdiri dari beberapa kluster AHP yang dapat terdiri dari berbagai macam hirarki [33
hal. 90, dapat berbentuk Suparchy, Intarchy, Sinarchy dan Hiernet ] dan mempunyai
hubungan serta imbal balik satu dengan yang lainnya, baik antar kluster AHP (outer
dependence) atau di dalam kluster AHP itu sendiri (inner dependence). Secara umum
network nya suatu sistem yang terdiri dari beberapa sub sistem, dan dari sub sistem
dapat terdiri dari beberapa komponen, dalam komponen dapat terdiri dari beberapa
elemen. Besar-kecilnya network serta panjang-pendeknya hirarki sangat tergantung
dari besar-kecilnya suatu permasalahan.
Prinsip dasar penyelesaian adalah dengan pendekatan menggunakan model
AHP dimulai dari elemen yang terkecil. Dengan kompleknya dasar pengambilan
keputusan maka matriks menjadi sangat besar. Untuk menyelesaikannya sekarang
sudah dapat langsung dengan software "Super Decision Model".

4.3 METODOLOGY
Langkah awal yang terpenting dalam membuat suatu model dengan
menggunakan model Analitic Hierarchy Process" untuk menentukan harga BBM di
Indonesia dengan alternatif harga pokok penjualan, harga international/regional, dan
harga yang sesuai memenuhi criteria banyak aspek. Adapun metodologi yang
dilakukan antara lain :
1. Studi pustaka sangat berguna terutama dalam penggunaan teori-teori, sebagai
sumber informasi sampai sejauh mana bahasan yang telah ada yang berkaitan
dengan masalah tersebut.
2. Mengidentifikasi Variable Untuk menentukan variabel yang dianggap faktor-
faktor
dominan dalam mencapai tujuan, adalah biaya-biaya, crude oil, pengilangan, hasil
produk, yang masing-masing saling berhubungan.
3. Membuat Model Model dibuat berdasarkan variabel-variabel yang telah dijelaskan
yang diimplementasikan pada model Analitic Hierarchy Process dengan menuju
ke satu tujuan seperti yang telah ditetapkan diatas. Agar dapat mencapai hasil
yang baik (relevan dan valid) maka perlu diberi batasan-batasan tertentu terlihat
pada gambar 1 & 2. Dari kluster-kluster AHP dibuat model ANP terlihat pada
gambar 3. Kemudian dibuat pula network dari BCOR nya .
19

4. Teknik Pengumpulan Data : Data terdiri dari data primer dan sekunder. Data
sekunder diambil dari data yang sudah ada. Sedangkan data primer dari hasil
jawaban quesioner. Quesioner merupakan salah satu alat untuk mengumpulkan
informasi/data. Oleh karenanya pertanyaan-pertanyaan yang disusun berdasarkan
variabel yang telah ditetapkan sebelumnya dan dapat bersifat tertulis atau lisan
/wawancara. Informasi atau data yang diperoleh dari jawaban quesioner dapat
diolah secara kwantitatif. Cara penilaian dari jawaban quesioner adalah
menggunakan skala Saaty maupun skala Linkert. Bentuk penilaian dengan skala
Linkert adalah dengan pemberian skor untuk setiap jawaban, yang boleh
dikatakan termasuk pada skala interval. Bila jawaban sangat memuaskan diberi
skor 5, memuaskan diberi skor 4, bila jawaban biasa saja diberi skor 3, tidak
memuaskan diberi skor 2 dan sangat tidak memuaskan diberi skor 1, dengan
asumsi bahwa jarak antar skala sama.. Keuntungan dari skala ini adalah cara
pembuatan dan pengolahannya yang sederhana serta tidak menyita waktu terlalu
lama untuk menjawab quesioner. Hanya saja disini tidak ada jawaban yang mutlak
dari obyek yang diteliti, namun diharapkan data yang diperoleh relevan dengan
penelitian ini dan mempunyai validitas. Adapun yang menjawab pertanyaan
tersebut adalah stakeholder yaitu wakil dari pejabat pemerintah yang terkait
bidangnya (Pertamina, Direktorat Migas) yang menghitung harga (secara
ekonomi), wakil pemakai/wakil rakyat (komisi DPR yang membidangi sebagai
wakil suara rakyat) dan pemerintah yang memutuskan (dengan pertimbangan
faktor ekonomi dan non ekonomi).

Sebagai contoh pendekatan AHP untuk menentukan harga BBM akan diuji
coba bahan bakar Premium di Indonesia.
a. Mengenal pasti beberapa pilihan dalam penentuan harga bahan bakar
premium.
b. Mengenal pasti opini dan persepsi kebijakan harga dari setiap alternatip
pilihan
c. Menentukan bobot atau dari setiap pilihan dengan mempertimbangkan
faktor struktur pasar dan daerah.
d. Menganalisa setiap pilihan. e. Memilih harga bahan bakar premium yang
terbaik.
20

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Hasil analisa AHP sangat dipengaruhi dari hasil jawaban quesioner, oleh karena
itu responden harus orang yang tau persis dan mempunyai wawasan tentang
permasalahannya. Adanya data sekunder dapat memberikan gambaran kepada
responden tentang kelakuan masalah yang dihadapi secara kwantitatif, disamping
itu responden juga harus dapat menghayati maksud dan tujuan analisa.
21

2. Analisa model AHP dapat dibuat sederhana atau akan dianalisa sampai elemen
yang terkecil, sangat tergantung dari kebutuhan kita dan setiap analisa akan
didapat ratingnya.
3. Karena data yang dianalisa adalah angka relatif, maka faktor-faktor yang
mempengaruhi yang tidak dapat dihitung (intangible), terlebih dulu dibuat skalar
sehingga menjadi tangible. Penentuan harga BBM mempunyai faktor-faktor
yang sangat banyak dan komplek, antara lain misalnya untuk kasus premium
saja melibatkan banyak sekali faktor. Sebagai contoh diatas adalah bila
menganut harga internasional. Hasilnya akan berbeda misalnya kita akan
menganut pada harga pokok penjualan. Dari gambar 3 yaitu model ANP ternyata
matrik nya dapat lebih dari 30 x 30. Oleh karena itu disini belum dapat
disimpulkan bagaimana keputusan yang terbaik karena semua faktor belum
dihitung. Begitu pula analisa BCOR dan analisa sensitivity nya belum dapat
digambarkan.
4. Dalam kesempatan ini lebih ditekankan pada penyelesaian konsep, karena
bilamana konsep secara menyeluruh sudah benar maka untuk penyelesaian
permasalahan yang dihadapi akan lebih mudah. Terlebih sekarang sudah ada
softwarenya sehingga baik analisa AHP dengan pendekatan software " Expert
Choice " maupun analisa model ANP dengan pendekatan software " Supermatrixs
Decisions "
5. Konsep ini masih terus disempurnakan dan dapat dikembangkan serta digunakan
untuk hal- hal lain yang sesuai, sehingga dapat dilanjutkan untuk penelitian-
penelitian yang lain. Diharapkan konsep dapat memberikan sumbang saran pada
dunia perminyakan.
22

5.2 Saran
1. Diharapkan kritikan yang membangun untuk penulis agar kedepannya dapat

menyajikan materi yang lebih baik dan lengkap serta dapat membantu tugas-tugas

bagi pembaca.
2. Semoga kedepannya mata kuliah metode penulisan ilmiah ini lebih tersusun, baik

dari segi materi maupun waktu.


22