Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN

KULTUR BIJI

Disusun oleh :
1 Neny Andriyani (14304241022)
2 Theopile Niyonsaba (14304249903)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu komoditi pertanian yang termasuk
ke dalam tanaman biji-bijian keluarga rumput-rumputan (Graminae). Diklasifikasikan
kedalam divisi Angiospermae, kelas Monocotyledoneae, ordo Poales, famili Poaceae,
dan Genus Zea (Wikipedia, 2007). Jagung merupakan salah satu sumber pangan dunia
selain gandum dan padi. Jagung dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat, pakan
ternak, dapat diambil minyaknya, serta dapat dijadikan sebagai bahan baku berbagai
macam industri. Jagung yang telah direkayasa genetika juga dapat digunakan untuk
bahan farmasi (Azra, 2012)
Kultur jaringan sering disebut juga perbanyakan tanaman secara in vitro, yaitu
budidaya tanaman yang dilaksanakan dalam botol-botol dengan media khusus dan alat-
alat yang serba steril. Sistem perbanyakan tanaman dengan kultur jaringan ini dapat
menghasilkan tanaman baru dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang singkat.
Tanaman baru yang dihasilkkan mempunyai sifat-sifat biologis yang sama dengan sifat
induknya. Sistem budidaya jaringan juga memiliki keuntungan lain yaitu penghematan
tenaga, waktu, tempat dan biaya. Oleh karena itu pada praktikum kali ini praktikan
akan mempelajari cara menumbuhkan biji pada medium yang mengandung unsur hara.
B. Tujuan
Mengetahui cara menumbuhkan biji pada medium yang mengandung unsur hara.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Biji jagung
Menurut Rukmana (1997), klasifikasi tanaman jagung (Zea mays L.) adalah
sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Familia : Poaceae (Graminae)
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L.
Tanaman jagung dapat tumbuh pada ketinggian 50-1800 m dpl. Tetapi
ketinggian optimal adalah 50 600 m dpl. Untuk berproduksi secara optimal
memerlukan tanah yang gembur, subur dan kaya akan unsur hara, aerasi dan drainase
baik, kaya akan bahan organik dengan keasaman tanah (pH) antara 5,6 7,5 (Redaksi
Ciptawidiya Swara, 2008). Jagung menghendaki tanah yang subur untuk dapat
berproduksi dengan baik. Hal ini dikarenakan tanaman jagung membutuhkan unsur
hara terutama nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K) dalam jumlah yang banyak.
Oleh karena pada umumnya tanah di Indonesia miskin hara dan rendah bahan
organiknya, maka penambahan pupuk N, P dan K serta pupuk organik (kompos
maupun pupuk kandang) sangat diperlukan (Murni dan Arif, 2008).
Secara umum biji jagung terdiri dari endosperma, lembaga, perikarp, dan
tipcap (tudung pangkal biji). Bagian utama yaitu endosperma yang merupakan bagian
terbesar dari biji jagung dengan hampir seluruh bagiannya terdiri dari karbohidrat baik
pada bagian lunak (fluory endosperm) maupun pada bagian yang keras (horny
endosperm). Pati pada endosperm tersusun dari senyawa anhidroglukosa yang terdiri
dari dua molekul utama yaitu amilosa dan amilopektin. Gambar menunjukkan
bagian-bagian dari biji jagung gambar menunjukkan bagian terluar biji jagung adalah
kulit biji atau 6 perikarp. Bagian terbesar dari biji jagung adalah adalah Endosperma
yang berhubungan langsung dengan Lembaga. Lembaga pada Gambar, tersusun atas
skutelum, koleoptil, pumula daun, meristem apikal tajuk, meristem apikal akar, dan
koleoriza, selain itu juga terdapat lapisan pati yang aleuron.
Kulit (perikarp) merupakan pelindung biji jagung terhadap pengaruh dari luar
yaitu suhu, kelembaban dan benturan. Perikarp adalah suatu lapisan penutup biji yang
terdiri dari berlapis-lapis sel yang menutup biji. Sebagai bahan pangan, bagian
terpenting dari biji jagung yaitu endosperm. Lapisan pertama dari endosperm yaitu
lapisan eleuron, merupakan pembatas antara endosperm dengan kulit (perkarp).
Sebagian besar endosperm terdiri dari granula-granula pati. Pada lapisan tengah atau
pusat terdapat granula-granula pati lunak dengan ukuran 10 30 um, sedangkan pada
bagian luar atau pinggir mengandung granula-granula pati keras dengan ukuran yang
lebih kecil yaitu 1 10 um. (Sutrisno Koeswara 2009:8)
Lembaga terletak pada bagian biji yang paling tengah. lembaga tersusun atas
dua bagian penting yaitu skutelum dan poros embrio. Skutelum merupakan 90% dari
lembaga yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan zat-zat gizi makanan selama
perkecambahan biji. Selama perkecambahan biji poros embrio akan berkembang
menjadi tunas. Tudung pangkal biji merupakan bekas tempat melekatnya biji jagung.
Struktur tip cap menyerupai bunga karang (spongy) dan dinding selnya mudah
menyerap air (Sutrisno Koeswara 2009:8).
B. Perkecambahan Biji Jagung
Antara tahap pertumbuhan dan jumlah daun yang berkembang dapat berbeda.
Pertumbuhan jagung dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap yaitu (1) fase
perkecambahan, saat proses imbibisi air yang ditandai dengan pembengkakan biji
sampai dengan sebelum munculnya daun pertama; (2) fase pertumbuhan vegetatif,
yaitu fase mulai munculnya daun pertama yang terbuka sempurna sampai tasseling
dan sebelum keluarnya bunga betina (silking), fase ini diidentifiksi dengan jumlah
daun yang terbentuk; dan (3) fase reproduktif, yaitu fase pertumbuhan setelah silking
sampai masak fisiologis. Perkecambahan benih jagung terjadi ketika radikula muncul
dari kulit biji. Benih jagung akan berkecambah jika kadar air benih pada saat di dalam
tanah meningkat >30% (McWilliams et al. 1999).
Proses perkecambahan benih jagung, mula-mula benih menyerap air melalui
proses imbibisi dan benih membengkak yang diikuti oleh kenaikan aktivitas enzim
dan respirasi yang tinggi. Perubahan awal sebagian besar adalah katabolisme pati,
lemak, dan protein yang tersimpan dihidrolisis menjadi zat-zat yang mobil, gula,
asam-asam lemak, dan asam amino yang dapat diangkut ke bagian embrio yang
tumbuh aktif. Pada awal perkecambahan, koleoriza memanjang menembus pericarp,
kemudian radikel menembus koleoriza. Setelah radikelmuncul, kemudian empat akar
seminal lateral juga muncul. Pada waktu yang sama atau sesaat kemudian plumule
tertutupi oleh koleoptil. Koleoptil terdorong ke atas oleh pemanjangan mesokotil,
yang mendorong koleoptil ke permukaan tanah. Mesokotil berperan penting dalam
pemunculan kecambah ke atas tanah. Ketika ujung koleoptil muncul ke luar
permukaan tanah, pemanjangan mesokotil terhenti dan plumul muncul dari koleoptil
dan menembus permukaan tanah (Anonim, 2016:1)
C. Kultur Jaringan
Menurut Suryowinoto (1991), kultur jaringan dalam bahasa asing disebut
sebagai tissue culture, weefsel cultuus atau gewebe kultur. Kultur adalah budidaya dan
jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama.
Maka, kultur jaringan berarti membudidayakan sesuatu jaringan tanaman menjadi
tanaman kecil yang mempunyai sifat seperti induknya (Hendaryono dan Wijayani,
1994).
Manfaat utama dari aplikasi teknik kultur jaringan tanaman adalah
perbanyakan klon atau perbanyakan massal dari tanaman yang sifat genetiknya identik
satu sama lain. Menurut Zulkarnain (2009), teknik kultur jaringan pun bermanfaat
dalam beberapa hal khusus yaitu:
1. Perbanyakan klon secara massal, pada prinsipnya, dengan teknik kultur jaringan
setiap sel dapat diinduksi untuk beregenerasi menjadi individu tanaman lengkap
dengan sifat genetik yang identik satu sama lain. Pada kultur organ, pucuk-pucuk
in vitro dapat disubkultur untuk penggandaan lebih lanjut sehingga dalam waktu
singkat akan dihasilkan individu tanaman dalam jumlah besar.
2. Keseragaman genetik, prosedur kultur jaringan bersifat vegetatif maka rekombinasi
acak dari karakter yang terjadi pada perbanyakan seksual (melalui biji) dapat
dihindarkan. Oleh karena itu tanaman yang dihasilkan secara genetik akan identik
dengan induknya.
3. Kondisi aseptik, proses kultur in vitro menghendaki kondisi aseptik. Pada
giliranya, kultur jaringan tanaman dapat menyediakan bebas patogen dalam jumlah
besar. Walaupun demikian, tidak dianggap aseptik karena organisme patogen,
terutama partikel virus mungkin saja terdapat dalam jaringan, tetapi tidak
memperlihatkan gejala apapun di dalam kultur yang sehat dan hanya muncul pada
tahap-tahap lanjut. Namun, melalui teknik kultur jaringan kita dapat
meregenerasikan tanaman bebas virus, yakni melalui kultur meristem.
Teknik kultur jaringan akan berhasil dengan baik apabila syarat-syarat yang
diperlukan terpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi pemilihan eksplan,
penggunaan medium yang cocok, keadaan yang aseptik dan pengaturan udara yang
baik. Meskipun pada prinsipnya semua jenis sel dapat ditumbuhkan, tetapi
sebaiknya dipilih bagian tanaman yang masih muda dan mudah tumbuh yaitu
bagian meristemnya misalnya daun muda, ujung akar, ujung batang, keping biji
dan sebagainya. Apabila menggunakan embrio atau bagian-bagian biji yang lain
sebagai eksplan, yang perlu diperhatikan adalah kemasakan embrio, waktu
imbibisi, temperatur dan dormansi (Hendaryono dan Wijayani, 1994).
BAB III
METODE
A. Alat
1. Laminar air flow (LAF)
2. Pinset steril
3. Petridish steril
4. Burnsen
5. Korek api
6. Botol jamp
7. Kanebo
8. Glove
9. Botol media
B. Bahan
1. Biji jagung
2. Media MS
3. Media Agar
4. Alkohol 70%
5. Detergen
6. Klorox
7. Akuades
8. Fungisida
C. Metode
1. Sterilisasi
Biji dibersihkan dengan detergen sebanyak 50 ml, bilas 3 kali
menggunkan aquades steril. Biji direndam pada klorox 10 % atau 5 ml klorox
ditambah air hingga volumenya 50 ml, kocok rendaman biji jagung selama 10
menit. Sterilisasi selanjutnya dilakukan di Laminar air flow. Biji rendam dengan
fungisida 50ml, kocok selama 30 ml. Bilas menggunakan alkohol 70% . bilas
menggunakan akuades steril.
2. Penanaman Eksplan
Laminar air flow sebelum digunakan di sinari dengan sinar UV, setelah
akan digunakan di matikan, laf dilap menggunakan kanebo yang direndam
alkohol 70%. Blower dinyalakan. Alat alat yang akan digunakan bekerja dalam
laf (skalpel steril, petridish, media Ag 0 dan Ms 0, botol jamp, pinset, burnsen
dsb) disterilkan dengan kanebo yang direndam alkohol 70%. Masukan alat-alat
tersebut kedalam laf segera setelah di sterilisasi. Biji yang telah di sterilisasi di
pindah kedalam media MS0 dan Ag0 secara aseptis.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

Hari/ Kelompo Ag0 Ms0


tangga k Jumlah Jumlah Tinggi Jumlah Jumlah Tinggi
l akar Daun (cm) akar Daun (cm)
1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2
Kamis, 1 - - - - - - - - - - - -
6 April 2 - - - - - - - - - - - -
2017 3 - - - - - - - - - - - -
4 - - - - - - - - - - - -
5 - - - - - - - - - - - -
6 - - - - - - - - - - - -
7 - - - - - - - - - - - -
8 - - - - - - - 1 - - - -
Senin, 1 - - - - - - - - - - - -
10 2 - - - - - - - - - - - -
April 3 - - - - - - - 1 - - - -
2017 4 - - - - - - - - - - - -
5 - - - - - - 5 1 1 - 4, 0,5
6
6 - - - - - - - - - - - -
7 - - - - - - 3 3 1 1 2, 1,0
0
8 - - - - - - - - - - - -
Selasa, 1 2 1 - - 0, - 7 1 1 - 3, -
11 6 0
April 2 - - - - - - - - - - - -
2017 3 - 4 - 1 - 3, 1 3 - 1 - 5,8
4
4 - - - - - - 5 1 1 - 4, 0,5
6
5 - - - - - - - - - - - -
6 - - - - - - 3 3 1 1 2, 1
2
7 - 3 - - - 1, - - - - - -
5
8 - 5 - - - 2, - 3 - 1 - 1,3
5

B. Pembahasan
Praktikum kultur jaringan kali ini berjudul kultur biji yang bertujuan untuk
mengetahui cara menumbuhkan biji pada medium yang mengandung unsur hara,
Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti
protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ, serta menumbuhkannya dalam
kondisi aseptik. Sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan
bergenerasi menjadi tanaman lengkap kembali. Eksplan kultur biji pada praktikum ini
adalah biji jagun yang ditumbuhkan pada dua jenis media pertumbuhan yaitu
Murashige & Skoog (MS) dan media Agar Kosong.
Langkah yang dilakukan pada praktikum kultur biji ini adalah memilih biji
yang akan ditanam dengan merendamnya pada air, biji yang dipilih adalah biji yang
tenggelam dengan asumsi biji yang tenggelam adalah biji yang memiliki berat jenis
lebih tinggi dari air, serta struktur biji nya masih utuh, endosperm, kotiledon, embriyo
masih ada dalam biji.
Langkah selanjutnya adalah sterilisasi. Praktikan wajib menggunakan jas lab,
sarung tangan (glove), masker, dan dalam keadaan steril dengan membasuh tangan
dan sarung tangan menggunakan alkohol 70% serta jas lab disemprot dengan alkohol
70%. Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko kontaminasi dari praktikan, terutama
saat bekerja pada LAF.
Prosedur sterilisasi biji adalah sebagai berikut biji dibersihkan dengan
detergen sebanyak 50 ml, bilas 3 kali menggunkan aquades steril, langkah ini berguna
untuk memecah koloni kontaminan agar lebih peka terhadap bahan pensteril, serta
melarutkan kotoran yang berupa lemak dan minyak yang menempel dipermukaan biji.
Selanjutnya biji direndam pada klorox 10 % atau 5 ml klorox ditambah air hingga
volumenya 50 ml, kocok rendaman biji jagung selama 10 menit. Chlorox digunakan
dalam sterilisasi permukaan berfungsi sebagai desinfektan.
Sterilisasi selanjutnya dilakukan di Laminar air flow, Laminar air flow
sebelum digunakan di sinari dengan sinar UV, setelah akan digunakan di
matikan,meja dan dinding LAF dilap menggunakan kanebo yang direndam alkohol
70%. Blower dinyalakan. Alat alat yang akan digunakan bekerja dalam laf (skalpel
steril, petridish, media Ag 0 dan Ms 0, botol jamp, pinset, burnsen dsb) disterilkan
dengan kanebo yang direndam alkohol 70%. Masukan alat-alat tersebut kedalam LAF
segera setelah di sterilisasi. Biji rendam dengan fungisida 50 ml, kocok selama 30
menit fungisida berfungsi sebagai anti fungi. Biji dibilas menggunakan alkohol 70%
bilas menggunakan akuades steril untuk menghilngkan bahan-bahan yang digunakan
untuk sterilisasi.
Langkah kedua adalah penanaman, biji jagung dipindah ke media MS0 dan
Ag0 secara aseptis. Selama penanaman burnsen dinyalakan untuk menambah tingkat
sterilitas. Biji diletakan pada cawan petri steril yang ditutup. Pinset direndam dalam
alkohol 70%, tiap akan digunakan piset dibakar terlebih dahulu, lubang botol media
juga dipanaskan, pemindahan biji kedalam botol media dilakukan didekat api. Setiap
botol media ditanami dua biji. Setelah kedua biji ditanam dalam media media ditutup
kembali menggunakan plastik, kemudian di lapisi dengan plastik warp.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan selama 7 hari, biji dari
kelompok 2 tidak berkecambah baik yang ditanam pada media Ag 0 maupun MS0.
Biji yang di tanam di dalam media MS0 mengalami kontaminasi, sedangkan pada
media agar kosong tidak tumbuh. Terkontaminasinya media MS0 dimungkinkan
terjadi saat penanaman eksplan kedalam botol kultur, sering terjadi hal-hal yang tidak
disadari saat penanaman seperti siku menempel pada meja laf sehingga ada bakteri
atau spora jamur yang menyebar pada laf, penanganan untuk media yang
terkontaminasi adalah dengan mengeluarkan dari lab kultur dan merebus media
beserta wadahnya. Selebihnya praktikan sudah mengupayakan proses strilisasi dan
penanaman secara aseptis agar tidak terjadi kontaminasi.
Eksplan yang ditanam pada media agar kosong tidak tumbuh berberapa faktor
yang menyebabkan tidak tumbunya eksplana pada agar kosong antara lain karena
faktor biji, media yang tidak mengandung mikronutrien dan makro nutrien pada
media agar kosong sehingga biji tidak tumbuh secara optimal.
Berdasarkan hasil praktikum menggunakan data kelas pertumbuhan eksplan
lebih cepat dan lebih banyak pada media MS kosong, yaitu jumlah biji yang
berkecambah sebanyak 22 biji dan mulai terlihat perkecambahan pada hari ke 2. Hal
ini dikarenakan kandungan makro nutrien dan mikro nutrien pada media MS 0 antara
lain NH4.NO3, KNO3, CaCl2.4H2O, MgSO4.4H2O, KH2.PO4, Myo- inositol, Sukrose,
Iron stok , Mikronutrien, Vitamin stok, Bubuk agar, akuades, dalam jumlah yang
sesuai akan membantu proses perkecambahan.
Pertumbuhan eksplan dalam media agar kosong lebih lambat dari pada
pertumbuhan di medium MS 0 yaitu teramati pada hari ke 8 sudah ada 10 eksplan
yang tumbuh. Meskipun pada media agar kosong tidak mengandung mikro nutrien
namun pada biji jagung sudah memiliki sumber energi untuk perkecmbahan yang
tersimpan pada endosperma sehingga.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Proses penanaman eksplan biji jagung diawali dengan sterilisasi biji kemudian
penanaman eksplan pada medium agar kosong dan MS kosong
2. Perkecambahan biji jagung lebih efektif pada medium pertumbuhan MS kosong

Daftar pustaka
Anonim. 2016. Fase perkecamabahan jagung. http://bp4k.blitarkab.go.id/wp-
content/uploads/2016/09/Fase-Pertumbuhan-tanaman-jagung2.pdf
Hendaryono, D. P. S dan Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan dan Petunjuk Perbanyakan
Tanaman Secara Vegetatif Modern. Yogyakarta: Kanisius.
Murni ,A.M dan R.W. Arief., 2008. Teknologi Budidaya Jagung. Balai Besar Pengkajian
dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Rahmat Rukmana. 1997. Usaha Tani Jagung. Penerbit Kanisius. Jogjakarta
Sutrisno Koeswara. 2009. Strategi Pengembangan dan Riset Jagung untuk diversifikasi
pangan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Suryowinoto. 1996. Pemuliaan Tanaman Secara In vitro. Yogyakarta: Kanisius.
Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman; Solusi Perbanyakan Tanaman Budi Daya.
Jakarta: Bumi Aksara.
Lampiran

Penanaman eksplan Penanaman eksplan

Hari ke 8 kelompok 8 Hari ke 8

Hari ke 8 belum tumbuh Hari ke 8 radikula