Anda di halaman 1dari 31

1

"Ijtihad itu Tidak Dapat Dibatalkan dengan


Ijtihad"

A. Makna Kaidah

Kaidah tersebut maknanya, bahwa ijtihad yang tercapai

syarat-syaratnya, apabila berhubungan dengan suatu hukum

atau keputusan maka tetap berlaku (ijtihad itu) dan tidak

dibatalkan dengan keberadaan ijtihad lain yang baru karena

penguatan. Sayut}i> berkata karena itu pengamalan ijtihad yang

kedua pada suatu hal dan tidak membatalkan yang telah berlalu

sesuai kesepakatan para imam.

Apabila seorang hakim (qadi) berijtihad dalam masalah

keagamaan, kemudian diajukan kepadanya masalah yang serupa

maka hukum (keputusan) pada masalah baru tersebut sesuai

dengan pandangan yang lain. Ijtihad yang pertama tidak


dibatalkan dengan ijtihad yang kedua. Dengan demikan kalau

seorang mujtahid memutuskan pada suatu masalah sesuai

dengan ijtihadnya kemudian mujtahid yang lain memutuskan

pada masalah tersebut maka ijtihad kedua mujtahid tersebut

berbeda. Hukum yang dipegangi oleh ijtihad yang pertama tidak

rusak karena ijtihad tidak batal dengan ijtihad yang lain.

Maksud dari ijtihad yang tidak batal dengan keberadaan

yang lainnya ada;ah ijtihad yang telah berlalu hukumnya. Qadi

memutuskan dengan ijtihad yang pertama kemudian merubah

hukum dikemudian hari dengan perubahan ijtihad pula.


2

A<midi> berkata mengenai sebab tidak rusaknya ijtihad

dengan ijtihad yang lain, bahwasanya seandainya rusaknya

keputusan seorang hakim itu boleh apakah dengan berubahnya

ijtihadnya atau dengan keputusan hakim yang lain, maka

memungkinkan rusaknya hukum dengan memberikan kerusakan

yang lainnya tanpa ada ujungnya, keharusan dari hal itu

berbedanya keputusan dan tidak terpercayanya keputusan

seorang hakim, dan itu merupakan berbedanya kemaslahatan

yang dibuat oleh hakim.

Ulama sepakat bahwasanya sekiranya seorang qadi

memutuskan dengan ijtihadnya kemudian ia merubah keputusan

tersebut dengan ijtihad yang lain maka ijtihad yang pertama

tidak batal sekalipun yang ijtihad yang kedua lebih kuat dari

yang pertama dengan demikian apabila ia memperbaharui

keputusannya maka ia tidak mengamalkan kecuali dengan ijtihad

yang kedua. Contohnya, seorang mujtahid berijtihad dalam

masalah arah kiblat kemudian ia ragu dengan dalil yang

dipakainya, kemudian mendatangkan dalil yang lain maka ia

tawaqquf (pending) untuk mengambil pada masa yang akan

datang, dan tidak rusak yang lalu sesua kesepakatan para imam.

Sesuai denga yang terdahulu, sekiranya mujtahid

memutuskan dalam sebuah keputusan lalu ia mengangkat

keputusan tersebut sesuai ijtihadnya, kemudian mujtahid yang

lain memutuskan pada masalah tersebut lalu ia mengangkatnya

dalam masalah tersebut maka tidak boleh bagi mujtahid yang


3

kedua membatalkan keputusan yang lain apabila keduana

berbeda pandangan.

Demikian juga, dua orang yang berperkara mendatangi

hakim lalu ia berkata di antara kami ada sebuah perkara tentang

hal ini lalu kami melimpahkan kepada qadi si anu (fula>n) tetapi

kami menginginkan keputusan dari awal kepadamu (hakim lain)

maka tidak boleh bagi hakim kedua menerima tuntutannya, akan

tetapi yang berlaku adalah keputusan yang terdahulu sesuai

mazahb yang dipilih yang sahih.

B. Dalil Kaidah

Dalil menunjukkan bahwa ijtihad tidak batal dengan ijtihad

yang lain, karena ijtihad merupakan hasil dari dugaan (z}anni>)

terhadap ketepatan sasaran dengan masih memungkinkan

terjadi kesalahan. Setiap ijtihad bisa jadi benar bisa juga salah.

Dengan demikian bahwa ijtihad yang kedua tidak lebih kuat dari

ijtihad yang pertama, karena ijtihad yang pertama merupakan

dugaan dan yang kedua juga dugaan (z}anni>), bukan

penguatan salah satu dari kedua dugaan terhadap yang lain.

Inilah yang kemudian ditetapkan dan diputuskan oleh ijmak

sahabat sebagaimana yang tertuang dalam a>s\a>r dan

pendapat-pendapat yang diambil dari mereka. Di antaranya,

Umar ra. menetapkan dalam sebuah keputusan bahwa tidak

bolehnya bersyerikat antara saudara-saudara laki-laki kandung

dengan saudara-saudara seibu pada sepertiga kemudian ia

menggabungkan mereka pada kasus seorang perempuan wafat

dan meninggalkan suaminya, ibu, saudara seibu, saudara


4

kandung, lalu Umar menggabungkan saudara seibu dan saudara

kandung pada sepertiga, kemudian seorang laki-laki berkata

kepada Umar: Sesungguhnya kamu tidak menggabungkan

mereka suatu waktu begini dan begitu, kemudian Umar berkata

begitulah yang kami putuskan pada saat ini. Kemudian

berlakulah hal itu dengan istilah umariyah (amarain).

Umar memutuskan juga pada kasus kakek dengan

keputusan yang berbeda dalam tenggang waktu yang berbeda.

Diriwayatkan dari Ibn Si>ri>n berkata bahwa saya memutuskan

dalam kasus kakek keputusan-keputusan berbeda saya tidak

mengurangi haknya.

Pada kasus-kasus tersebut terdapat dalil bahwa setiap

ketetapan (hukum) yang berlalu dengan ijtihad tidak batal

dengan ijtihad yang serupa. Nas-nas dan keputusan-keputusan

yang di nukil tersebut merupakan petunjuk yang

mengindikasikan bahwa kaidah dasar ketika hendak mengambil

ketetapan di antara dua hal dalam Islam. Dari hal itu fukaha dan

ulama usul sepakat tentang kekuatan kaidah tersebut.

Adapun kasus-kasus berikut maka wajib bagi mujtahid dan

mufti untuk memulai kembali memberikan keputusan (hukum),

kemdian mengamalkan dengan ijtihad yang baru. Zarkasyi>

berkata bahwa pembatalan yang dapat dicegah hanyalah pada

hukum-hukum yang terdahulu, dan perubahan hukum pada masa

yang akan datang karena tidak adanya penguatan. Makna

tersebut sesuai dengan perkataan Imam Sayu>t}i> dalam kitab

al-asyba>h wa al-naz}a>ir bahwa ijtihad tidak batal dengan


5

ijtihad yang lain pada waktu yang lalu, tetapi hukum berubah

pada masa yang akan datang karena tidak adanya penguatan

(tarji>h}).

C. Furu> Kaidah

Kaidah tersebut dianggap oleh fukaha dan ulama usul

merupakan kaidah kulli> (universal) dengan perkataan mereka

bahwa tidak batal ijtiha dengan ijtihad yang lain. Mereka

menganggap hal itu sebagai sebuah dasar dan mereka

membentuk banyak aplikasi (cabang) yang muncul dari kaidah.

Cabang tersebut semuanya menguatkan bahwa ijtihad tidak

batal dengan ijtihad yang serupa, karena syarat pembatalan

adalah bersatunya peristiwa hukum dan terdapat perbedaan

dugaan yang tidak dapat disatukan maka ijtihad tidak batal

dengan ijtihad yang lain.

Di antara cabang itu sebagai berikut:

1. Kalau terjadi perubahan ijtihad dalam masalah aah kiblat

maka yang diamalkan yang kedua, tidak ada qada>hingga

sekiranya ia salat empat rakaat karena ia menghadap empat

arah dengan sebuah ijtihad maka ia tidak boleh mengqada,

karena ijtihad pada dua hal tidak membatalkan sebelumnya.

Tirmiz\i>, Ah}mad dan T{abra>ni> mentakhrij dari hadis A<mir

bin Rabi>ah dengan lafal: Kami bersama Nabi saw. pada suatu

malam gelap gulita tidak tampak mana kiblat dan seorang laki-

laki di antara kami salat sesuai keinginannya, ketika kami bangun

kami menceritakan kepada Nabi saw. lalu turun ayat

faainama> tuwallu> fas\amma wajhulla>h. Dalam sebuah


6

riwayat Ja>bir dengan lafal Kami salat pada malam yang gelap

dan kiblat samar-samar bagi kami, ketika kami berlalu kami

menyadari bahwa kami salat bukan arah kiblat lalu kami

menceritakan kepada Rasulullah saw. lalu bersabda: Sungguh

kalian berlaku baik, dan tidak memerintahkan untuk mengulang.

2. Kalau seseorang berijtihad lalu ia ragu terhadap kesucian dua

bejana lalu ia menggunakannya dan meninggalkan yang lain

kemudian ia merubah dugaannya pada ijtihad yang lain maka ia

tidak boleh mengamalkan yang kedua, tetapi ia bertayammum,

karena yang pertama dibentuk dengan dugaan dan yang kedua

dibentuk dengan dugaan juga, tidak ada penguatan di antara

keduanya terhadap yang lain maka ia wajib bertayammum dan

meninggalkan dua bejana tersebut.

3. Kalau qadi memutuskan dengan menolak kesaksian orag fasik,

kemudian orang fasik tersebut bertaubat dan mengulang

kesaksian pada kasus yang sama maka tidak diterima sesuai

dengan kesepakatan, karena penerimaan kesaksian setelah

taubat menjamin pembatalan ijtihad dengan ijtihad yang lain.

Keputusan hukum dengan kefasikannya adalah ijtihad dan

penerimaan kesaksiannya setelah bertaubat adalah ijtihad yang

lain, dan sesuai kaidah ijtihad tidak batal dengan ijtihad yang

lain.

4. Pengakuan nasab dengan qiya>fah (mengetahui dengan

firasatnya). Qa>if adalah orang yang mengetahui nasab sesuai

dengan firasatnya dan penglihatannya kepada organ anak yang

lahir, kalau sekiranya qa>if tersebut menganggap anak dengan


7

salah seorang yang mengguggat dengan tidak mengetahui di

sisinya, kemudia ia merubah ijtihadnya dan menganggap anak

itu dengan penggugat yang lain maka hal itu tidqk diterima,

karena yang pertama merupakan ijtihad dan yang kedua ijtihad

juga, yang pertama bukan lebih kuat dari yang kedua.

Qiya>fahmerupakan salah satu dalil agama untuk menentukan

nasab ketika terjadi pengakuan. Aisyah ra. berkata Rasulullah

saw. mendukhulku suatu waktu yang dirahasiakan.

Pengamalan dengan qiya>fah dikhususkan pada suatu waktu

yang lampau, adapun pada masa sekarang yang tampak ada

keterbukaan maka qiya>fah merupakan pekerjaan orang-orang

ahli yang dapat memutuskan pengakuan keturunan anak kepada

bapaknya.

5. Kalau seorang suami mengkhuluk istrinya tiga kali kemudian ia

menikahinya untuk keempat kalinya tanpa adanya muh}allil

karena dengan keyakinannya bahwa khuluk adalah fasakh

kemudian ia merubah ijtihadnya maka ia tetap dalam pernikahan

kepada istrinya. Hukum yang pertama tidak batal dengan ijtihad

yang kedua, kalau seorang qadi menetapkan kemudian ada qadi

yang lain yang berpadangan lain, maka keputusan hakim yang

lain tersebut tidak berhubungan karena dasar pada sebuah

keputusan yaitu sejak mujtahid memutuskan pada suatu kasus

dan qadi yang lain tidak boleh menolak karena ijtihad yang

kedua sama dengan ijtihad yang pertama. Ijtihad yang pertama

kuat karena bersambungnya keputusan dan ijtihad yang kedua

tidak membatalkannya. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab


8

ketika dihadapkan dengan suatu kasus ia meminta kepada Zaid

bin S|a>bit, kemudian Umar bertemu salah seorang yang

berkasus lalu orang itu berkata sesungguhnya Zaid memutuskan

kepadaku begini, lalu Umar berkata kalau saya dalam posisinya

maka saya akan memutuskan kepadamu begini, lalu orang itu

berkata apa yang menghalagimu maka putuskanlah untukku, lalu

Umar berkata sekiranya ada nas maka pasti saya memutuskan,

tetapi di sini adalah sebuah pendapat dan pendapat itu saling

berkaitan.

Apabila seorang hakim menetapkan bahwa tidak boleh

membatalkan pada masalah yang dapat menimbulkan ijtihad

karena ada maslahat, kalau batalnya hukum itu boleh maka

dengan merubah ijtihadnya atau dengan ketetapan hakim yang

lain.

Yang hanya memungkinkan untuk membatalakannya

adalah apabila menyalahi dalil qat}i>dari nas, ijmak, qiya>s

jali> atau selainya.

Terdapat beberapa contoh, di antaranya:

a. Kalau qadi menetapakan atau hakim memutuskan sahnya

pernikahan yang hilang suaminya setelah empat tahun dan masa

iddah tidak batal hukumnya aka tetapi dihubungkan, karena

merupakan tempat berijtihad pada kasus tersebut. Imam Malik,

Imam Ahmad dan sebuah pendapat Imam Syafii yang qadi>m

beranggapan bahwa istri menahan diri empat tahun dan itu

merupakan periode kehamilan, kemudian istri mengalami iddah

wafat empat bulan sepuluh hari dan halal setelah pernikahan


9

yang mana berbeda pendapat Abu Hanifah dan Imam Syafii

pada pendapatnya yang jadi>d.

b. Kalau qadi menetapkan sahnya pernikahan tanpa wali maka

memadai dan hukumnya tidak batal. Karena ijtihad tidak batal

dengan ijtihad oleh karena masalah tersebut berbeda. Abu

Hanifah mengatakan bahwa pernikahan perempuan yang berakal

sah dengan kerelaannya tanpa wali, berbeda dengan Imam

Syafii, Ahmad dan Malik dalam riwayat Asyhab dan Abu Yu>suf

dan sungguh berbeda anggapan dengan Abu Hanifah karena

kasus tersebut adalah tempat untuk melakukan ijtihad, bahwa

perempuan berkuasa terhadap haknya yaitu dari keluarganya

karena perempuan tersebut berakal dan mumayyizah (dapat

membedakan baik dan buruk). Dengan demikian, boleh baginya

melakukan transaksi terhadap hartanya, tetapi baginya hak

untuk memilih tentang pernikahannya, hanya saja wali meminta

dalam pernikahan.

c. Kalau qadi menetapkan sahnya pernikahan tanpa ada saksi

maka memadai dan ketetapannya tidak batal karena masalah

tersebut berbeda oleh karena ijtihad tidak batal dengan ijtihad

yang lain. Imam Malik mensyaratkan pengumuman (ila>n) pada

pernikahan dan tidak memadai dengan kesaksian dan sungguh

hal itu berbeda karena kedudukannya adalah kedudukan

penyamaan dalil, pengaggapan pernikahan dengan seluruh

transaksi tercapai tanpa adanya syarat kesaksian.

d. Kalau qadi menetapkan batalnya khiya>r al-majlis maka

memadai dan ketetapannya tidak batal seperti besarnya


10

masalah-masalah yang diperselisihkan. Abu Hanifah beserta

sahabatnya, Malik beserta sahabatnya kecuali Ibn H{abi>b

berpendapat tidak adanya khiya>r al-majlis, berbeda dengan

Syafii, Ahmad dan Ibn H{abi>b yang menganggap bahwa Abu

Hanifah dan Malik menyalahi khabar yang terdapat dalam

khabar a>h}ad yang menyalahi kias (qiya>s) karena merupakan

akad yang penggantian maka adanya khiya>r al-majlis memiliki

pengaruh seperti setiap akad transaksi misalnya nikah, khuluk,

gadai, dan damai dari pembunuhan sengaja.

e. Kalau qadi menetapkan kesaksian suami terhadap istrinya

atau kesaksian istri terhadap suaminya maka memadai dan

tidak batal ketetapannya karena merupakan masalah khilafiyah.

Imam Syafii berpendapat diterimanya kesaksian kedua suami

istri. Adapun pandangan yang diungkapkan oleh Syafii bahwa

hasil di antara keduanya adalah akad yang terjadi tanpa

disangka-sangka dan tidak terhalangi untuk menerima kesaksian,

seperti kalau penagih bersaksi terhadap orang yang berhutang

padanya, seperti kalau pemberi sewa bersaksi bagi penyewa

maka kesaksian diterima.

f. Kalau qadi menetapkan pembunuhan orang tua terhadap

anaknya maka tidak memadai dan ketetapannya tidak batal

karena merupakan masalah ijtihadiyah yang diperselisihkan.

Malik dan Ibn al-Munz\ir dari kalangan Syafiiyah berpendapat

pembunuhan orang tua terhadap anaknya merupakan

kepemilikan. Orang yang berbeda menganggap bahwa al-

Quraan dan sunah mewajibkan kisas karena keduanya (orang


11

tua dan anak) adalah muslim yang merdeka yang dapat dikisas

maka wajib dibunuh salah satu dari keduanya seperti

pembunuhan terhadap orang lain.

Al-Rafii> dan Ibn al-Rufah dari kalangan Syafiiyah

berpendapat bahwa bisa batal dan tidak memadai, karena

menyalahi nas yang s{arih{ yang jauh dari penakwilan, tetapi

Imam Nawawi dalam kitab al-raud{ah memberikan kesahihan

dan al-Ru>ya>ni> bahwa tidak batal seperti masalah-masalah

yang diperselisihkan.

g. Kalau qadi menetapkan pelarangan kisas pada pembunuhan

dengan alat berat dan batu besar maka mayoritas ulama

mengatakan, dan al-Rafii> serta Ibn al-Rufah memastikan

bahwa batal dan tidak memadai karena menyalahi teks yang

sarih lagi sahih, dan karena menyalahai al-qiya>s al-jali> dan

tanggungan jiwa dari pembunuhan dengan alat berat. Ijtihad

batal apabila menyalahi nas, ijmak, al-qiya>s al-jali>atau kaidah-

kaidah universal (kulliyah).

Sebagian yang lain berpendapat bahwa tidak batal karena

merupakan masalah ijtihadiyah karena dalam pembunuhan

tersebut serupa dengan kesengajaan (syibh al-amd) demikian

yang dikatakan oleh al-Ru>ya>ni> dan al-Nawawi>.

h. Kalau qadi menetapkan dibunuhnya seorang muslim karena

membunuh kafir z\immi>, maka mayoritas ulama berpandangan

bahwa batal dan tidak memadai, dipastikan oleh al-Rafii> dan

Ibn al-Rufah serta dikuatkan oleh al-Sayu>t}i> karena

menyalahi nas sahih lagi sarih yang jauh dari takwil.


12

Sebagian yang lain berpendapat bahwa tidak batal karena

merupakan masalah ijtihadiyah yang diperselisihkan. Abu

Hanifah menyatakan bahwa seorang muslim dibunuh (dikisas)

karena membunuh kafir z\immi> maka dianggap kebalikannya

karena ijmak bahwa tangan pencuri dipotong apabila mencuri

harta kafir z\immi>, maka apabila haramnya harta z\immi>

dicuri seperti haramnya mencuri harta orang Islam maka haram

darahnya seperti haram darahnya orang Islam.

Pendapat pertama yang mengatakan batal itulah pendapat

yang terkuat (arjah}) karena keberadaan nas sahih lagi sarih

yang jauh dari takwil yang menetapkan demikian. Al-Bukha>ri<

meriwayatkan dari Abu Hanifah berkata: Saya berkata kepada

Ali: Apakah kalian memiliki sesuatu dari wahyu yang tidak

terdapat dalam al-Quran? Ia berkata: Tidak. Kemudian berkata:

Ketahuilah tidak dibunuh orang Islam karena membunuh kafir.

Dan dari Ali ra. berkata: Rasulullah saw bersabda Tidak

dibunuh orang Islam karena membunuh kafir dan tidak memiliki

tanggungan dalam tanggungannya. Dalam sebuah riwayat

Tidak dibunuh orang beriman karena membunuh kafir.

Al-Isnawi> berkata: Sesungguhnya pembatalan yang tercegah

hanya yang terdapat pada hukum-hukum yang lampau dan kami

tidak menentangnya, tetapi kami mengganti hukum karena tidak

adanya penguatan sekarang seperti mujtahid dalam masalah

kiblat dan selainnya jika dugaannya itu memiliki dalil lalu ia

mengambilnya kemudian menemukan dalil yang lain maka


13

terjadi proses tawaqquf (pending hukum) pada masa yang akan

datang dan tidak batal hukum yang terdahulu.

D. Pengecualian dari Furu>

Kaidah tersebut memiliki furu> (cabang) penegcualian yang

menyalahi kaidah. Terdapat hukum yang bukan hukum dari

kaidah tersebut dan membatalkan ijtihad dengan ijtihad yang

lain. Kami menyebutkan cabang yang paling penting sebagai

berikut:

1. Apabila mujtahid berijtihad lalu berpendapat bahwa khuluk itu

adalah fasakh, lalu menikahi perempuan yang ia khuluk tiga kali

kemudian ia merubah ijtihadnya lalu ia menganggap khuluk itu

adalah talak maka ia wajib menceraikannya dan tidak halal untuk

mendatanginya yang sebelumnya boleh dengan ijtihad yang

pertama agar dapat menyentuhnya dan terjadi senggama

haram yang ia anggap, kecuali jika hakim memutuskan sahnya

pernikahan tidak wajib menceraikannya. Apabila ia merubah

ijtihadnya yang harus menceraikannya dari perubahan hukum

seorang hakim dengan dalam masalah ijtihadiyah, maka itu

merupakan dasar keputusan hakim yang sudah memadai secara

tersembunyi. Akan tetapi kami mengatakan: Sudah memadai

secara jelas, maka tidak harus menceraikannya karena batalnya

keputusan hakim pada mujtahi, karena hal itu pengambilan

hukum pada kekhususan dirinya dan penolakan pembatalan

karena keputusan hakim dalam masalah ijtihadiyah. Faidah yang

terdapat adalah bahwa wajib perceraian sama adanya dengan


14

hakim memutuskan tidak terjadinya perceraian karena keyakinan

mujtahid, demikian yang dipilih oleh al-Qa>d}i> dan Abu Yu>suf.

2. Al-H{ima> (penjagaan) maknanya adalah perlindungan (al-

manu). Dengan demikian, Imam menjaga tanah secara khusus

karena adanya manfaat yang ia lihat seperti membangun sekolah

atau rumah sakit ataupun selain keduanya dari kemaslahatan

yang umum, maka bolehnya pembatalan penjagaan itu dan

mengembalikannya seperti semula jika tampak maslahat dalam

pembatalan setelah munculnya pada saat penjagaan.

Makna batalnya ijtihad dengan ijtihad yang lain, maka gambaran

tersebut merupakan pengecualian sebagai bentuk terhadapat

pendapat itu dan merupakan pendapat yang paling sah (al-

as}ah}).

Kebalikan al-as}ah} tidak batal apa yang dijaga oleh imam

karena ijtihad tidak batal dengan ijtihad yang lain, dan karena

perubahan yang dihasilkan adalah kerena kemaslahatan. Jika

maslahat berubah maka hukumnya berubah, karena maslahat

seperti ilat (illah) bagi hukum yaitu berkisar ada atau tidak

adanya.

Adapun yang dilindungi oleh Rasulullah saw. tidak batal.

Rasulullah saw. melindungi tanah baqi>(kuburan yang ada di

Madinah) maka perlindungan tetap berlaku sampai hari kiamat

karena sesuai dengan nas dan tidak ada ijtihad ketika ada nas.

3. Kalau kalangan Hanafi memutuskan untuk kalangan Syafiiyah

dengan syufah, maka halal baginya atau tidak? Kalangan

Syafiiyah berselisih dalam hal itu, sebagian berpendapat bahwa


15

tidak halal sebagai bentuk bahwa keputusan hakim sudah

memadai secara jelas bagi kalangan Syafiiyah dan jumhur,

kalaupun ia mengambil keputusan itu maka pengambil sesuatu

tidak memiliki hak. Sebagian berpendapat bahwa halal sebagai

bentuk keyakinan qadi, karena hal itu merupakan tempat ijtihad

dan ijtihad bagi qadi bukan bagi dirinya, itulah yang pendapat

tersahih (as}ah}) menurut al-Bagawi> dan selainnya.

4. Sebahagian ulama mengecualikan dari kaidah tersebut:

batalnya pembagian apabila muncul penipuan orang yang keji,

maka terjadi ijtihad itu dengan ijtihad yang lain, maka

bagaimana mungkin ijtihad batal dengan yang serupanya? Ibn

Nujaim berkata: Batalnya karena tidak tercapai syaratnya dari

permulaan yaitu keadilan. Tampak dari awal tidak sah yaitu

seperti kalau muncul kesalahan qadi karena tidak tercapai

syaratnya yaitu batal keputusannya. Kalau seseorang membagi

dengan pembagian yang rata kemudian terdapat bukti kekeliruan

pembagi maka batal karena pembagi membagi dengan

ijtihadnya. Batalnya pembagian adalah masalah karena

merupakan ijtihad batal dengan ijtihad yang lain, dan yang

terjadi tidak ada masalah karena batalnya pembagian yang

pertama karena tidak tercapai syaratnya pada pembagi atau

karena pembatalan merupakan penyebab tidak adanya syarat

yang dianggap dalam pembagian.

5. Di antara masalah yang dikecualikan: Apabila imam melihat

sesuatu kemudia meninggak atau pensiun maka bagi yang

kedua merubahnya karena merupaka hal yang penting, sekalipun


16

Imam al-Haramain melarang pengecualian ini kemudian berkata:

Hal ini bukan merupakan batalnya ijtihad dengan ijtihad yang

lain, tetapi hanya merubah kemaslahatan, hukum itu berkisar

dengan kemaslahatan ada atau tidaknya, maka apabila imam

kedua melihatnya wajib mengikutinya.

6. Apabila seseorang membangun rumah atau mobil lalu berkata:

rumah ini atau mobil ini senilai 100.000 misalnya kemudian

muncul yang dapat menambah atau mengurangi dan

menjelaskan bahwa nilai sebenarnya berbeda dengan apa yang

dibuatnya maka batal pembangunan yang pertama, ini serupa

batalnya ijtihad dengan nas bukan dengan ijtihad yang lain. Ini

bukan merupakan batalnya ijtihad dengan ijtihad yang lain,

tetapi hanya batalnya ijtihad karena menyalahi nas.

7. Dua orang saling berselisih pada sebuah rumah, salah

seorang di luar rumah dan yang kedua dalam rumah. Orang yang

di luar memiliki bukti yang menggugat bahwa rumah itu adalah

miliknya, dan seseorang yang ada di dalam rumah itu

merampasnya, lalu ia mengangkat kasus tersebut kepada qadi

lalu qadi tersebut menetapkan sesuai dengan buktinya.

Kemudian orang yang ada dalam rumah memiliki bukti yang

disaksikan bahwa rumah itu adalah warisan bapaknya atau ia

telah membelinya lalu qadi menetapkan sesuai bukti dan

memegangnya. Maka yang paling sah bahwa ijtihadnya yang

pertama adalah salah. Tampak jelas bukti orang kedua yang

memegang buktinya itulah yang terkuat, keadilan qadi pada

kasus tersebut tidak dinamakan pembatalan tetapi hanya


17

memberikan bukti yang salah pada kasus tersebut, maka ia

harus memberikan keputusan bagi orang yang kuat dalilnya

sesuai bukti yang ada di tangannya maka dinamakan keadilan

dari kesalahan, maka pada bentuk ini bukan pengecualian.

Jelaslah dari segala bentuk gambaran tersebut bahwa

boleh membatalkan keputusan qadi apabila menyalahi nas, ijmak

ataupun qiya>s jali>. Penjelasan sebagai berikut:

Pertama: menyalahi al-Quran misalnya: keputusan dengan satu

saksi dan sumpah maka keputusan itu menyalahi, karena Firman

Allah swt. Tentang saksi yakni laki-laki dua orang dan saksi

perempuan:

firman-Nya adalah mujmal tafsirannya dengan

dua jenis: dua laki-laki atau satu laki-laki ditambah dua

perempuan. Mujmalapabila ditafsirkan maka sebagai bukti bagi

seluruh yang mencakup lafalnya. Maka saksi dan sumpah

merupakan bukti tambahan bagi nas dengan adanya khabar

yaitu yang menempati posisi nasakh maka tidak boleh

mengamalkan. Sebagian ulama membatalkan pengamalan di

antaranya Abu hanifah beserta sahabatnya, al-S|auri> dan

selainnya.

Kedua: Menyalahi Sunah, contohnya: Keputusan halal wanita

tertalak tiga kali, bagi yang pertama sebelum didukhul oleh yang

kedua, maka itu menyalahi sunnah seperti yang diriwayatkan

dari Aisyah ra. berkata: Seorang suami menalak istrinya tiga kali,

kemudian laki-laki lain menikahinya lalu menalaknya sebelum

mendukhulnya, kemudian suaminya yang pertama untuk


18

menikahinya, lalu ia bertanya kepada Rasulullah saw. tentang hal

itu, kemudian Rasulullah saw. bersabda tida boleh, hingga orang

lain merasakan manisnya seperti suaminya yang pertama.

Ketiga: Menyalahi ijmak, misalnya: Apabila qadi menetapkan sah

nikah mutah. Keputusan itu menyalahi ijmak karena sahabat

sepakat batalnya nikah mutah.

Keempat: Pembatalan hukum ijtihadi dengan hukum ijtihadi yang

lain yang serupa apabila hukum yang pertama tidak memiliki

dalil atau menyalahi syarat tawaqquf, karna syaratnya seperti

nas syari maka tidak boleh menyalahi kecuali pada waktu

darurat.

A. Makna Kaidah
Ijtihad tidak dituntut pada masalah yang terdapat nas,

karena kebolehan ijtihad disyaratkan tidak adanya nas yang

qati>al-s\ubu>t al-dala>lah. Apabila terdapat nas maka ijtihad

dilarang. Yang dimaksud dengan nas di sini adalah al-Quran dan

sunah.

Tidak semua hukum agama merupakan lapangan ijtihad,

tetapi ada yang boleh ijtihad ada yang tidak diperbolehkan

ijtihad. Ada dua macam, pertama yang dibolehkan ijtihad, kedua

tidak dibolehkan ijtihad. Adapun yang tidak diperkenankan ijtihad

adalah hukum-hukum yang dinamakan al-qat}i>. Artinya tidak

ada tempat bagi akal untuk mengetahui kecuali hukum yang

dikandungnya saja maka wajib untuk mengikuti hukum yang


19

terkandung dalam nas. Itu adalah hal yang statis tidak berubah

dan tidak akan berganti sekalipun berubahnya waktu dan tempat

seperti wajibnya salat, puasa ramadan, zakat, haji, disyaratkan

kerelaan dalam jual beli, kewarisan nenek seperenam,

terhalangnya kewarisan cucu laki-laki dari anak laki-laki dengan

adanya anak laki-laki serta batalnya pernikahan wanita muslim

dengan laki-laki bukan muslim. Segala bentuk hukum tersebut

tidak ada tempat untuk berijtihad karena hukum yang qat}i>

tidak akan terbentuk mengerahkan segaka kemampuan. Tidak

boleh bagi siapapun untuk berpendapat dengan ijtihadnya jika

hukum itu statis yang tidak dapat perubahan dan penggantian

sekalipun berubahnya waktu dan ruang. Seperti keharaman zina,

pembunuhan, minum khamar, percaya kepada segala agama

karena darurat, maka dalam kondisi tersebut tidak ada tempat

untuk berijtihad. Wajib bagi setiap muslim untuk mengamalkan

karena hukum-hukum tersebut adalah qat}i> yang sampai

kepada kita dengan cara al-tawa>tur al-qat}i> serta dinukil

sejak zaman kenabian sampai sekarang.

Adapun yang dibolehkan berijtihad yaitu hukum-hukum

yang dinamakan z}anni> yaitu yang tidak tetap dengan dalil

yang mutawatir yang masih memungkinkan penakwilan. Kadang-

kadang berubah dan berganti waktu ke waktu yang lain, ruang ke

ruang yang lain. Al-Gaza>li> membatasi hukum yang

diijtihadkan adalah segala hukum agama yang tidak memiliki

dalil qat}}i>. Lapangan ijtihad luas untuk mengeluarkan

(istinba>t}) hukum pada kasus-kasu baru. Pembahasan tentang


20

hukumnya dengan dalil-dalil akal dari sumber yang mengikuti

seperti qiyas yang merupakan warna warni ijtihad menurut

jumhur pada kondisi tidak ditemukan nas. Syafii berkata: Ijtihad

adalah qiyas. Seperti juga istih}sa>n, al-maslah}at al-mursalah,

al-urf, al-istis}h}a>b dan selainnya dari dalil yang

diperselisihkan.

Definisi Ijtihad

Ijtihad diambil dari kata al-juhd yaitu menurut bahasa

bermakna mengerahkan segala kemampuan untuk mencari

sesuatu, hasilnya adalah pembebanan dan kesulitan.

Menurut ulama usul bahwa ijtihad memiliki beberapa

pengertian yang paling kuat adalah pengertian yang

diungkapkan oleh al-Baid}awi> yaitu mengerahkan kemampuan

untuk mengetahui hukum-hukum agama. Mengetahui hukum

itulah hasilnya, bisa dengan cara dugaan atau kepastian.

Dipahami dari definisi tersebut bahwa seorang ahli hukum tidak

disifati sebagai mujtahid selama tidak mengerahkan kemampuan

dan kekuatannya untuk mengeluarkan hukum agama dari dalil

karena ketidakmampuannya untuk mengerahkan yang lebih dari

itu. Apabila mujtahi mengerahkan kemampuannya untuk mencari

hukum karena kondisi dirinya seperti tua maka itu adalah ijtihad

yang sempurna.

Wajib Ijtihad

Ijtihad wajib bagi setiap orang yang memiliki syarat-syarat

untuk berijtihad. Dewasa ini, ijtihad menjadi tuntutan agama

untuk mengeluarkan hukum bagi semua masalah masalah dan


21

kasus-kasus baru yang ditemukan hukum Allah swt., bisa dengan

dirinya atau selainnya. Apabila ia tidak melakukan maka berdosa

dan tidak gugur dosanya kecuali setelah melakukan ijtihad.

Ulama berdalil mengenai wajibnya ijtihad dari al-Quran,

sunah dan analisis akal.


Adapun dari al-Quran firman Allah swt.
Terjemahnya :
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah
Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika
kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka
kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah
dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu)
dan lebih baik akibatnya.
Terjemahnya:
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang
keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya.
dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil
Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin
mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari
mereka (Rasul dan ulil Amri) kalau tidaklah karena karunia
dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut
syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).

Maksud dari kembali kepada Allah dan Rasulullah hanya

kembali kepada hukum Allah yang terdapat dalam al-Quran dan

sunah. Hal tersebut tidak diketahui kecuali dengan mencari dan

menganalisa hingga istinba>t} hukum itu tercapai dengan cara

yang baik. Pengetahuan tentang sumber hukum dan ilat-ilatnya

serta ijtihad, itulah cara yang wajib.

Adapun dari sunah, terdapat banyak hadis di antaranya

diriwayatkan dari Amr bin al-A<<<<s} bahwa ia mendengar

Rasulullah saw. bersabda: Apabila seorang hakim memutuskan

dan berijtihad kemudian ia benar maka baginya dua pahala,

apabila ia memutuskan dan berijtihad lalu salah maka baginya


22

satu pahala. Dari S|auba>n berkata: Rasulullah saw. bersabda:

Tidak dihilangkan golongan dari umatku yang menampakkan

kebenaran, tidak membuat mereka binasa hingga datang

perintah Allah dan mereka bersikap demikian. Maksud golongan

adalah para mujtahid dalam bidang hukum dan akidah agama

Islam. Maksuda perintah Allah yaitu syariat dan agama-Nya.

Rasulullah saw. memberitakan bahwa proses kebenaran tetap

berlangsung hingga mendekati akhir dunia dan terjadinya

kiamat. Yang dimaksud dengan ijtihad dalam bidang akidah

adalah menampakkan kebenaran dan agama.

Nabi saw. menetapkan banyak ijtihad dari para sahabat ra.

dalam memahami nas-nas atau maksud dari nas tersebut serta

yang tidak ada nasnya.

Adapun dalil dari analisa akal yaitu bahwa Allah swt.

mengakhiri kerasulan dan syariat-syariat dengan syariat yang

dibawa oleh Muhammad saw. yang menjadikan kerasulannya

tetap bagi setiap waktu dan ruang. Nas-nas agama terbatas,

tidak menyebut kasus-kasus manusia yang tidak ditemukan atau

urusan hamba yang terbaru maka wajib mengetahui terhadap

hukum-hukum yang terbaru dengan cara ijtihad dengan

mengiyaskannya demi mencapai kemaslahatan yang dijadikan

tujuan oleh agama. Tanpa hal tersebut syariat menjadi beku dan

tidak berkembang. Maka tidak menjadi salih bagi segala waktu

dan ruang.

Macam Ijtihad

Ijtihad ada dua macam:


23

Pertama: Ijtihad dalam memahami nas-nas untuk diamalkannya,

ini wajib bagi setiap mujtahid. Secara khusus apabila nas itu

umum, mujmal ataupun mut}laq. Kalau umum dikhususkan,

mujmal dirinci dan mut}laq dimukayyadkan.

Kedua: Ijtihad dengan cara qiyas atau rakyu (bi al-ray). Ini tidak

boleh disandarkan kecuali setelah kita temukan hukum masalah

yang dicari dengan suatu pengetahuan dari al-Quran, sunah dan

ijmak. Atau seperti yang diungkapkan oleh Ibn al-Qayyim:

Sesuatu yang dilihat oleh hati setelah berfikir dan mencari

pengetahuan yang benar yang bertentangan dengan hawa nafsu.

Ijtihad dengan rakyu (bi al-ray) terjadi ketika tidak ada

nas, dan bentuk penjelasannya sebagai berikut:\

Pertama, hukum-hukum praktis yang disandarkan kepada

nas-nas z}anni>al-wuru>d. Ini merupakan lapangan ijtihad

dalam batas pembahasan dan cara sampainya kepada kita serta

tingkat periwayatnya adil, kuat, terpercaya dan kejujuran. Oleh

karena itu, kemampuan mujathid berbeda sesuai dengan dalil.

Abu Hanifah memberikan syarat pada hadis harus masyhur

di tangan orang terpercaya, serta tidak periwayat tidak

mengamalkan yang kebalikan dari apa yang diriwayatkannya.

Tidak menjadi bencana umum (umu>m al-balwa>). Kadang-

kadang ia meninggalkan qiyas karena darurat atau mengambil

dasar yang umum atau qiyas yang paling kuat dan itu dinamakan

istih}sa>n.

Kedua, hukum praktis yang disandarkan pada nas-nas

z}anni> al-dila>lah.
24

Ini merupakan lapangan ijtihad dalam batas memahami

nas-nas dan tidak keluar dari kisarannya. Ijtihad tersebut

membahas untuk mengetahui makna yang dikandung oleh nas

dari segi penafsirannya, penakwilannya, kekuatan dila>lahnya

terhadap makna, keselamatannya dari pertentangan ataupun

bertentangan yang berpengaruh terhadap nasakh, taqyi>d,

takhs}i>s, nas yang kuat, serata yang masuk dan tidak

masuknya dalam hal-hal yang parsial (juziya>t)

Ketiga, hukum-hukum yang menunjukkan nas-nas pada

dasarnya tidak secara qat}i> dan tidak secara z}anni> serta

tidak meyakini ijmak para mujtahid pada suatu masa.

Lapangan ijtihad di sini luas untuk mengeluarkan hukum-

hukum pada kasus-kasus baru. Lapangan ijtihad yaitu mencari

hukumnya dengan dalil akal dari sumber yang diikutinya yaitu

nas Tuhan seperti qiyas yang merupakan ragam bentuk ijtihad

menurut jumhur dalam keadaan ada nas hingga Imam Syafii

mengatakan bahwa ijtihad adalah qiyas, atau seperti istih}sa>n,

al-mas}lah}at al-mursalah, al-urf, al-istis}h}a>b dan

semacamnya dari dalil yang diperselisihkan.

Imam al-Sya>t}ibi> mengatakan tidak tetap bagi agama

sebuah kaidah yang dibutuhkan dalam kebutuhan primer

(d}aru>riya>t), sekunder (h}a>jiya>t) dan penyempurna

(takmi>liya>t) kecuali dijelaskan dalam bentuk penjelasan.

Betul, tetap dipakai hal-hal yang parsial dalam hal universal yang

diwakilkan kepada analisa mujtahid. Kaidah ijtihad juga statis

dalam al-Quran dan sunah, maka harus diamalkan dan tidak


25

meninggalkan lebih jauh. Apabila statis dalam syariat maka

menjadi lapangan berijtihad. Tidak ditemukan untuk berijtihad

kecuali yang tidak ada nasnya.

Keempat, ijtihad pada maqa>s}id al-syari>ah. Imam al-

Sya>t}ibi> berkata tentang itu bahwa mujtahid hanya

meluaskan lapangan ijtihadnya dengan memberikan ilat-ilat.

Kalau tidak mendatangkan pelaksanaan hukum yang sesuai

dengan kemaslahatan kecuali dengan nas dan ijmak. Nas-nas

apabila diambil kezahirannya dan harfiyahnya saja maka sempit.

Apabila diambil dengan ilat-ilatnya dan tujuan-tujuannya maka

sesuai yang dapat membuka bab qiyas, hukum tetap dalam

merealisasikan maksud-maksud Tuhan dalam mendatangkan

kemaslahatan dan menolak kemudarata.

Ringkasan dari hal tersebut adalah bahwa ijtihad bi al-ray

terjadi ketika tidak ada nas yang statis secara qat}i s\ubu>t

dala>lah. Rinciannya: Bisa dengan fukaha mengeluarkan hukum

yang terbaru dari kaidah umum yang datang dari al-Quran dan

sunah. Bisa juga dengan mengqiyaskan masalah baru yang tidak

ditemukan nas pada hukum-hukum cabang yang lain. Bisa pula

dengan mujtahid menanggung roh syariat, maksudnya yang

umum dan asas perundang-undangan syariat Islam yaitu

kemudahan, menghilangkan kesulitan, menyedikitkan

pembebanan dan menegakkan keadilan.

Syarat Ijtihad

Dalam lapangan ijtihad, istinba>t hukum agama dari

sumbernya yang asli dituntut bagi orang yang mendalaminya.


26

Hal tersebut memiliki syarat seperti yang disebutkan oleh fukaha

sebagai berikut:

1. Mahir (ahli) dalam mengetahui dalil-dalil syariat yaitu al-

Quran, sunah, ijmak dan qiyas serta yang serupa dari dalil yang

lain seperti al-mas}lah}at al-mursalah, al-istih}sa>n, khabar

wa>h}id, qaul al-s}ah}abi>, al-urf serta mengetahui yang

disyaratkan pada dalil dari segi bentuk dala>lahnya.

2. Mengetahui ulum al-Quran, hadis, na>sikh mansu>kh,

ilmu nahwu, bahasa dan ilmu saraf, perbedaan dan kesepakatan

ulama.

3. Mengetahui ilmu fikih dan menguasai pokok

permasalahan dan cabng-cabangnya.

4. Hukum-hukum agama dalam akalnya. Tidak disyaratkan

ia sebagai penghapal seluruh hukum tetapi cukup menghapal

hukum yang umum dari sebagiannya ketika dibutuhkan.

5. Mempertahtikan cara pengkiyasan dan pemaknaan.

Menyempurnakan pada takhrij dan istinba>t} hukum, ahli dalam

menyamakan yang tidak ada nasnya sesuai dengan yang

dijadikan nas oleh para imam mujtahid.

Barang siapa yang memiliki sifat-sifat tersebut maka ia

mampu untuk meng-istinba>t} hukum dari sumbernya dan

menjadi mujtahid dalam agama. Pelaksanaanya merupaka fardu

kifayah.

Hukum yang bersifat ijtihadi merupakan hukum yang

bersifat z}anni> bisa salah dan benar. Tidak ada sifat yang

seharusnya (ilza>m) kecuali bagi mujtahid dan bagi yang rela


27

pengucapannya yaitu menyalahi perbedaan pendapat

disekitarnya. Perbedaan antara fukaha merupakan hal yang

alami dalam menyelesaikan hukum-hukum masalah ijtihadiyah.

Oleh karena itu, Rasulullah saw. melatih para sahabat untuk

berijtihad dan istinba>t} hukum yang tidak ada nasnya secara

statis untuk menjadikan syariat Islam memberikan penerangan

yang abadi dan salih untuk memberikan kemaslahatan hamba.

Mujtahid berpegang dalam ber-istinba>t} hukum agar sah

ijtihadnya harus memiliki hal sebagai berikut:

1. Mengetahui dalil-dalil al-samiyah(al-Quran dan sunah)

yang penakwilannya kepada al-Quran, sunah, ijmak serta

sumber yang diperselisihkan ulama.

2. Penguatan dari petunjuk lafal dalam bahasa Arab dan

dalam penggunaan balagah. Petunjuk lafal (dala>lah) tersebut

dengan mant}u>q, mafhu>m, maqu>l, qiyas serta jenis

istidla>l yang diperselisihkan oleh para imam.

3. Mampu untuk menimbang antara dalil serta memilih

yang paling rajih dan yang kuat.

Mengetahui dalil-dalil al-samiyah, penguatan dari dala>lah

kebahasaan dan mampu menimbang dan mentarjih antara dalil

merupakan unsur-unsur yang harus dimiliki oleh mujtahid untuk

membentuk pentingnya ijtihad dan istinba>t}, memberikan

hukum terhadup kasus dalam hidup. Dalil-dalil al-samiyah,

metode penguatan dari makna serta penguatan di antaranya

adalah sesuatu yang dibahas oleh ilmu usul dan ijtihad.


28

Seharusnya bagi fakih dan orang berilmu apabila ingin

menjadi mujtahid dari pengetahuan tentang al-Quran misalnya

qiraatnya dan na>sikh mansu>knya, mengetahui sunah dan

mustalahatnya, tingkatannya, posisinya dari al-Quran, harus

mengetahui ilmu usul dan bahasa, pendapat fukaha, sebab

perbedaan fukaha, metode istidla>l dari dalil al-samiyah (al-

Quran dan sunah) dan aqliyah (qiyas dan lain-lain) serta

maqa>s}id al-syari>ah.

Ibn al-Qayyim menyebutkan bahwa Imam Syafii ra. berkata

dalam riwayat al-Khat}i>b dalam kitabnya al-faqi>h wa al-

mutafaqqih: Tidak halal bagi seseorang untuk memfatwakan

pada agama Allah kecuali seorang yang bijaksana/menguasai

(a>rif) al-Quran, menguasai hadis Rasulullah saw, mengetahui

hadis seperti ia mengetahui al-Quran, menguasai syair dan

sesuatu yang dibutuhkan demi sunah dan al-Quran. Penggunaan

hal tersebut dengan kesadaran dan setelahnya terhadap

perbedaan para ahli. Apabila dengan begitu maka boleh baginya

berbicara dan memberi fatwa dalam masalah halal dan haram.

Apabila tidak memiliki sifat demikian tidak boleh baginya

memberikan fatwa, maka tidak sah terhadap kondisi begitu

untuk berijtihad dan fatwa selama tidak ada seluruh syarat-

syarat ijtihad. Tidak menjadi syarat menguasai fikih atau beribu-

ribu pada masalah fikih, atau menghapal kumpulan hadis-hadis

lalu dianggap sebagai mujtahid.


Furu> Kaidah
29

Di antara cabang kaidah tersebut: bahwa hakim kalau

menetapkan tidak sah rujuknya istri dalam talam raji> tanpa

keridaannya tidak memadai keputusan itu karena bertentangan

dengan firman Allah swt. dalam al-Baqarah 228.

Kalau hakim menetapkan halal wanita yang tertalak tiga

dengan hanya akad nikah yang kedua maka tidak memadai

hukumnya karena hadis bertentangan dengannya.

KESIMPULAN

Suatu kasus yang telah ditetapkan hukumnya melalui

ijtihad (dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam


30

berijtihad) dan hukum tersebut telah diamalkan, tidak bisa

dibatalkan oleh ijitihad lain (baru) yang berbeda hukumnya dari

ijtihad pertama. Baik oleh mujtahid yang sama atau mujtahid

yang lain. Hal ini dikarenakan akan munculnya suatu hukum

yang tidak stabil dan tidak akan ada keputusan hukum pada

masalah yang terjadi andai dibolehkan membatalkan hasil ijtihad

yang telah dilakukan para mujtahid.

Selain itu, konsep tarjih tidak berlaku disini, sebab hasil

ijtihad pertama maupun kedua adalah sama kedudukannya, tidak

ada yang lebih tinggi, kerena keduanya berisifat dzonni. Untuk

itu, seorang mujtahid yang melakukan ijtihad pada satu

permasalahan, kemudian ia berijtihad lagi dengan simpulan

keputusan hukum yang berbeda dari yang pertama, maka ijtihad

tersebut tidak membatalkan pada ijtihad yan pertama, sekalipun

yang kedua lebih kuat argumennya, namun begitu, hanya ijithad

yang kedua yang harus di amalkan. Demikian juga mujtahid yang

lain, ia tidak bisa membatalkan hasil ijtihad mujtahid lain, sebab

ia harus menghormati hasil ijtihad yang dilakukan para mujtahid

lain.

Ada empat hal yang perlu diperhatikan, pertama, ijtihad

antara kasus lama yang telah di amalkan hukumnya dengan

kasus baru yang serupa (tidak satu kasus), maka hasil ijtihad
31

tidak bisa membatalkan hasil ijtihad sebelumnya, baik oleh satu

mujtahid maupun dua mujtahid (berbeda). Kedua, ijtihad kepada

satu permasalahan oleh beberapa mujtahid (tidak satu mujtahid),

maka para mujtahid berpegang teguh pada hasil ijtihadnya

sendiri, mereka harus menghormati ijtihad yang lain dan tidak

bisa saling membatalkan ijtihad yang dilakukan oleh para

mujtahid. Diantara sikap menghormatinya, tidak mengabulkan

permintaan seseorang untuk melakukan ijithad pada kasus yang

menimpanya, dimana kasus itu telah diputuskan hukumnya oleh

mujtahid lain yang juga diminta orang tersebut (sa`il) untuk

menjawab permasalahnnya. Ketiga, ijtihad pada satu kasus oleh

satu mujtahid untuk memperbaharui hasil keputusannya, maka

mujtahid tersebut harus berpegang pada hukum hasil ijtihad

yang kedua. Dan keempat, ijtihad yang dilakukan tidak

bertentangan dengan nash-nash syar`i.