Anda di halaman 1dari 9

Dividen Kas

Dividen kas adalah dividen yang diberikan oleh perusahaan kepada para pemegang sahamnya

dalam bentuk uang tunai (cash). Menurut Sandjaja dan Barlian (2002) dividen kas adalah sumber dari

aliran kas untuk pemegang saham dan memberikan informasi tentang kinerja perusahaan saat ini dan

akan datang. Biasanya sebuah korporasi harus memenuhi tiga kondisi terlebih dahulu agar dapat

membayar dividen tunai yaitu laba ditahan yang mencukupi, kas memadai dan tindakan formil dari

dewan komisaris.

Pembayaran dividen tunai kepada pemegang saham perusahaan diputuskan oleh dewan direksi

perusahaan. Direksi umumnya mengadakan pertemuan yang membahas tentang dividen setiap kuartal

atau setengah tahun dimana mereka mengevaluasi posisi keuangan periode lalu dan menentukan

posisi yang akan datang dalam pembagian. Menentukan jumlah dividen yang harus dibayar,

menentukan tanggal-tanggal yang berkaitan dengan pembayaran dividen. Biasanya investor lebih

tertarik dengan dividen yang berupa tunai daripada dividen saham. Hal ini dikarenakan para investor

beranggapan dividen yang diterima dalam bentuk kas lebih menggambarkan seberapa besar return

dari modal yang mereka tanamkan dan memberikan kepuasan tersendiri.

Bagi para investor, dividen merupakan hasil yang diperoleh dari saham yang dimiliki, selain

capital gain yang didapat apabila harga jual saham lebih tinggi dibandingkan harga belinya. Dividen

tersebut didapat dari perusahaan sebagai kontribusi yang dihasilkan dari operasi perusahaan

Return On Asset

Return On Asset merupakan salah satu ukuran profitabilitas, yang juga merupakan ukuran

efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva tetap yang

digunakan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva tetap yang digunakan untuk

operasi. Menurut Ang (1997) menyatakan bahwa Return on Asset adalah tingkat keuntungan bersih

yang berhasil diperoleh perusahaan dalam menjalankan operasionalnya.


Return on Asset diukur dari laba bersih setelah pajak terhadap total asetnya yang

mencerminkan kemampuan perusahan dalam penggunaan investasi yang digunakan untuk operasi

perusahaan dalam rangka menghasilkan profitabilitas perusahaan. Semakin besar ROA menunjukkan

kinerja perusahaan yang semakin baik karena tingkat kembalian investasi (return) yang semakin besar.

Perusahaan yang mempunyai aliran kas atau profitabilitas yang baik bisa membayar dividen

atau meningkatkan dividen. Hal yang sebaliknya akan terjadi jika aliran kas tidak baik. Alasan lain

pembayaran dividen adalah untuk menghindari akuisisi oleh perusahaan lain. Perusahaan yang

mempunyai kas yang berlebihan seringkali menjadi target dalam akuisisi. Untuk menghindari akuisisi,

perusahaan tersebut bisa membayarkan dividen, dan sekaligus juga membuat senang pemegang saham

(Hanafi, 2004).

Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba pada masa

mendatang dan merupakan indikator dari keberhasilan operasi perusahaan. Perusahaan yang

mempunyai profitabilitas yang tinggi akan menarik minat investor menanamkan modalnya dengan

harapan mendapatkan keuntungan yang tinggi pula.

Karena itu, dividen diambil dari keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan, maka

keuntungan tersebut akan mempengaruhi besarnya dividen. Semakin besar keuntungan yang

diperoleh, maka akan semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk membayar dividen (Sudarsi,

2002).

Current Ratio

Salah satu cara untuk mengukur likuiditas adalah current ratio yang merupakan kemampuan

perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya (current liability) melalui sejumlah aktiva yang

dimiliki perusahaan. Semakin tinggi current ratio menunjukkan kemampuan kas perusahaan untuk

memenuhi (membayar) kewajiban jangka pendeknya (Brigham dan Houston, Universitas Sumatera

Utara 2001). Dengan semakin meningkatnya current ratio juga dapat meningkatkan keyakinan para

investor, bahwa perusahaan dapat membayar dividen yang diharapkan oleh investor.
Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk melunasi seluruh kewajiban jangka pendek

ataupun mendanai kegiatan operasional perusahaan. Semakin tinggi tingkat likuiditas suatu

perusahaan semakin tinggi pula kemampuan perusahaan tersebut melakukan pembagian dividen tunai.

Sebaliknya, semakin rendah likuiditas perusahaan semakin kecil kemampuan perusahaan untuk

memberikan dividen tunai.

Debt to Total Asset

Debt to total assets merupakan rasio antara total hutang (total debts) baik hutang jangka pendek

(current liability) dan hutang jangka panjang (long term debt) terhadap total aktiva (total assets) baik

aktiva lancar (current assets) maupun aktiva tetap (fixed assets) dan aktiva lainnya (other assets).

Rasio ini menunjukkan besarnya hutang yang digunakan untuk membiayai aktiva yang

digunakan oleh perusahaan dalam rangka menjalankan aktivitas operasionalnya. Semakin besar rasio

DTA menunjukkan semakin besar tingkat ketergantungan perusahaan terhadap pihak kreditur dan

semakin besar pula beban biaya hutang (biaya bunga) yang harus dibayar oleh perusahaan. Dengan

semakin meningkatnya rasio DTA maka hal tersebut berdampak terhadap profitabilitas yang diperoleh

perusahaan, karena sebagian digunakan untuk membayar bunga pinjaman. Dengan biaya bunga yang

semakin besar, maka Universitas Sumatera Utara profitabilitas semakin berkurang (karena sebagian

digunakan untuk membayar bunga), maka hak para pemegang saham (dividen) juga semakin

berkurang (menurun). Menurut Parthington (dalam Sunarto dan Andi Kartika, 2003) yang

menunjukkan bahwa tingkat hutang yang tinggi akan mempengaruhi pembayaran dividen yang

semakin rendah.

Investment Opportunity Set

Dalam signalling theory dinyatakan bahwa peningkatan dividen merupakan sinyal positif

tentang pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang, karena meningkatnya dividen diartikan

sebagai adanya keuntungan yang akan diperoleh sebagai hasil yang diperoleh dari keputusan investasi

(Haruman, 2008). Oleh karena itu, adanya kesempatan investasi yang memberikan keuntungan tinggi

bagi perusahaan tidak selalu diartikan dividen yang dibayarkan akan kecil atau tidak dibayarkan,
tetapi dapat diartikan adanya prospek yang menjanjikan di masa yang akan datang untuk dapat

membayar dividen yang lebih tinggi.

Investasi di masa depan mempengaruhi besarnya nilai perusahaan. Menurut Myers (dalam

Hanafi, 2004) nilai perusahaan merupakan gabungan dari aktiva dengan investasi di masa depan.

Kesempatan investasi yang tinggi di masa depan, bisa dihubungkan dengan tingkat pertumbuhan yang

tinggi. Jika tingkat pertumbuhan perusahaan tinggi maka perusahaan akan membagikan dividen yang

kecil. Hal ini dikarenakan laba yang didapatkan perusahaan akan digunakan sebagai dana internal

untuk keperluan investasi.

Size Perusahaan

Menurut Zulkifli (dalam Purba, 2011) ukuran untuk menentukan firm size adalah dengan log

natural dari total aktiva. Ukuran perusahaan (firm size) mencerminkan bahwa perusahaan yang mapan

dan besar akan memiliki akses yang lebih mudah ke pasar modal, dibandingkan dengan perusahaan

yang masih baru ataupun perusahaan yang kecil. Perusahaan yang masih baru ataupun perusahaan

yang kecil karena keterbatasan aksesnya ke pasar modal sehingga kemampuannya untuk mendapatkan

modal dan memperoleh pinjaman dari pasar modal juga terbatas. Oleh karena itu, maka mereka

cenderung untuk menahan labanya guna membiayai operasinya dan ini berarti dividen yang akan

diterima oleh pemegang saham akan semakin kecil. Semakin besar ukuran perusahaan (firm size)

maka dividen yang dibagikan juga akan semakin besar, begitu juga sebaliknya. Dengan demikian

ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap dividen.

Suatu perusahaan besar yang sudah mapan akan memiliki akses yang mudah menuju pasar

modal, sementara perusahaan yang baru dan yang masih kecil akan mengalami banyak kesulitan

untuk memiliki akses ke pasar modal. Karena kemudahan akses ke pasar modal cukup berarti untuk

fleksibilitas dan kemampuannya untuk memperoleh dana yang lebih besar, sehingga perusahaan

mampu memiliki rasio pembayaran dividen yang lebih tinggi daripada perusahaan kecil
Growth Aset

adalah aktiva yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan Semakin besar aset maka

diharapkan semakin besar hasil operasional dihasilkan oleh suatu perusahaan. Peningkatan aset yang

diikuti peningkatan hasil operasi akan semakin menambah kepercayaan pihak luar terhadap

perusahaan. Meningkatnya kepercayaan pihak kreditur terhadap perusahaan, maka proporsi hutang

semakin besar dari modal sendiri. Ini didasarkan pada keyakinan kreditur atas dana yang ditanamkan

ke dalam perusahaan dijamin oleh besarnya aset yang dimiliki perusahan (Ang, 1997).

Semakin tinggi tingkat pertumbuhan perusahaan, akan semakin besar tingkat kebutuhan dana

untuk membiayai ekspansi. Semakin besar kebutuhan dana di masa yang akan datang, akan semakin

memungkinkan perusahaan menahan keuntungan dan tidak membayarkannya sebagai dividen. Oleh

karenanya, potensi pertumbuhan perusahaan menjadi faktor penting yang menentukan kebijakan

dividen (Andriyani, 2008)

Debt to Equity Ratio (DER)

Debt to equity ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat leverage

(penggunaan utang) terhadap total shareholders equity yang dimiliki perusahaan (Ang, 1997). Faktor

ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya yang ditunjukkan

oleh beberapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang.

Menurut Brigham (dalam Suherli&Harahap, 2004) semakin besar leverage perusahan maka

cenderung untuk membayar dividennya lebih rendah dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan

pada pendanaan secara eksternal. Sehingga semakin besar proporsi hutang yang digunakan untuk

struktur modal suatu perusahaan, maka akan semakin besar pula jumlah kewajibannya yang akan

mempengaruhi besar kecilnya dividen yang akan dibagikan.

Hutang pada gilirannya akan mempengaruhi besar kecilnya laba bersih yang tersedia bagi para

pemegang saham termasuk dividen yang akan diterima, karena kewajiban tersebut lebih diprioritaskan
dari pada pembagian dividen. Jika beban hutang semakin tinggi, maka kemampuan perusahaan untuk

membagi dividen akan semakin rendah.

Kebijakan debt dapat dipengaruhi oleh karakteristik-karakteristik perusahaan yang akan

mempengaruhi kurva permintaan dari debt yang ditawarkan kepada perusahaan atau permintaan

perusahaan akan debt (Ang,1997). Perusahaan-perusahaan yang profitable memiliki lebih banyak

earnings yang tersedia untuk investasi dan karenanya, akan cenderung membangun equitas mereka

relatif terhadap debt. Oleh karena itu, semakin rendah DER akan semakin tinggi kemampuan

perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya (Ang, 1997). Semakin besar proporsi hutang yang

digunakan untuk struktur modal suatu perusahaan, maka akan semakin besar pula jumlah

kewajibannya (Ang, 1997). Peningkatan hutang pada gilirannya akan mempengaruhi besar kecilnya

laba bersih yang tersedia bagi para pemegang saham termasuk dividen yang akan diterima, karena

kewajiban tersebut lebih diprioritaskan daripada pembagian dividen. Jika beban hutang semakin

tinggi, maka kemampuan perusahaan untuk membagi dividen akan semakin rendah, sehingga DER

mempunyai pengaruh negatif dengan dividen. Rasio ini menunjukkan besarnya hutang yang

digunakan untuk membiayai aktiva yang digunakan oleh perusahaan dalam rangka menjalankan

aktivitas operasionalnya. Semakin besar rasio hutang menunjukkan semakin besar tingkat

ketergantungan perusahaan terhadap pihak eksternal (kreditur) dan semakin besar pula beban biaya

hutang (biaya bunga) yang harus dibayar oleh perusahaan.

2.11 Review Penelitian Terdahulu Peneliti melakukan review terhadap beberapa penelitian

sebelumnya untuk dijadikan sebagai pedoman untuk melakukan penelitian ini. Penelitian Suharli

(2007) dengan judul penelitian Pengaruh Profitability dan Investment Opportunity Set terhadap

Kebijakan Dividen Tunai dengan Likuiditas sebagai Variabel Penguat (Studi pada Perusahaan yang

terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2002-2003), dengan kesimpulan likuiditas dapat digunakan

sebagai variabel penguat (variabel moderator) karena mempunyai pengaruh yang signifikan dalam

mempengaruhi profitabilitas dan kesempatan investasi, tetapi secara parsial hanya variabel

profitabilitas yang dapat mempengaruhi kebijakan jumlah pembagian dividen perusahaan. Penelitian

oleh Vianita dan Izzati Amperaningrum (2012) dengan judul penelitian Analisis Faktor yang
Mempengaruhi Dividen Kas Pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek

Indonesia. Hasil penelitian diperoleh bahwa secara parsial, variabel independen yang berpengaruh

signifikan ter-hadap dividen kas adalah ROA, EPS, DPR, sedangkan cash ratio, current ratio tidak

berpengaruh signifikan terhadap dividen kas. Universitas Sumatera Utara Penelitian oleh Andriyani

(2008) dengan judul Analisis Pengaruh Cash Ratio, Debt to Equity Ratio, Investment Opportunity

Set dan Profitability terhadap Kebijakan-Kebijakan Dividen (Studi Empiris pada perusahaan

Automotive di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2004-2006), kesimpulan secara parsial variabel

independen cash ratio, IOS, ROA berpengaruh signifikan positif terhadap variabel DPR, sedangkan

DER tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel DPR. Penelitian oleh Purba (2011) dengan judul

Pengaruh Laba Akuntansi, Laba Tunai, Ukuran Perusahaan Dan Umur Perusahaan Terhadap Dividen

Kas Pada Perusahaan Infrastructure, Utility, and Transportation dan Real Estate and Property yang

Terdaftar Di BEI. Penelitian menunjukkan laba akuntansi berpengaruh signifikan terhadap dividen

kas. Sedangkan laba tunai, ukuran perusahaan, dan umur perusahaan memiliki pengaruh tidak

signifikan terhadap dividen kas secara parsial, dan secara simultan laba akuntansi, laba tunai, ukuran

perusahaan dan umur perusahaan berpengaruh signifikan terhadap dividen kas. Selanjutnya

melakukan penelitian terhadap Yiadom dan Samuel Kwaku Agyei (2011) yang berjudul

Determinants of Dividend Policy of Banks in Ghana. Hasil penelitian ROA, leverage, changes in

dividend, collateral capacity berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen.

Sedangkan growth dan age tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Penelitian yang

dilakukan oleh Susilowati (2005) yang berjudul Pengaruh Informasi Laporan Keuangan terhadap

Pendapatan Dividen Tunai (Studi Kasus Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEJ periode

1999-2003). Universitas Sumatera Utara Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini secara parsial

hanya variabel EPS yang berpengaruh secara signifikan terhadap dividen tunai, sedangkan variabel

ROE, CR, DTA dan DER tidak berpengaruh secara signifikan terhadap dividen tunai. Penelitian yang

dilakukan oleh Lubis (2009) yang berjudul Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dividen Kas

pada Perusahaan Manufaktur Jenis Consumer Goods yang Go Public di Bursa Efek Jakarta, memiliki

kesimpulan bahwa secara parsial hanya variabel Cash Ratio, Current Ratio dan DER yang

berpengaruh secara signifikan terhadap dividen tunai, sedangkan variabel ROI, DTA, EPS tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap dividen tunai. Penelitian yang terakhir dilakukan oleh

Hashemi dan Fatemeh Zahra Kashani Zadeh (2012) yang berjudul The Impact of Financial Leverage

Operating Cash Flow and Size of Comapany on the Dividend Policy (Case Study of Iran),

Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini secara parsial hanya variabel operating cash flow, size of

company yang berpengaruh secara signifikan terhadap dividend policy dan variabel financial leverage

tidak berpengaruh secara signifikan terhadap dividend policy. Universitas Sumatera Utara Tabel 2.1

Review Penelitian Terdahulu (Theoretical Mapping) No Nama Peneliti & Tahun Judul Penelitian

Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1 Michell Suharli (2007) Pengaruh Profitability dan Investment

Opportunity Set terhadap Kebijakan Dividen Tunai dengan Likuiditas sebagai Variabel Penguat (Studi

pada Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2002-2003) Variabel independen:

Profitability, Investment Opportunity Set, Likuiditas Variabel dependen: Kebijakan Dividen Tunai

Likuiditas dapat digunakan sebagai variabel penguat (variabel moderator) karena mempunyai

pengaruh yang signifikan dalam mempengaruhi profitabilitas dan kesempatan investtasi, tetapi secara

parsial hanya variabel profitabilitas yang dapat mempengaruhi kebijakan jumlah pembagian dividen

perusahaan. 2 Engela Vianita dan Izzati Amperanin grum (2012) Analisis Faktor yang Mempengaruhi

Dividen Kas Pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Variabel independen: ROA, EPS, Cash Ratio, Current Ratio, DPR Variabel dependen: Dividen Kas

Secara parsial, variabel independen yang berpengaruh signifikan terhadap dividen kas adalah ROA,

EPS, DPR. Sedangkan cash ratio, current ratio tidak signifikan terhadap dividen kas. 3 Maria

Andriyani (2008) Analisis Pengaruh Cash Ratio, Debt To Equity Ratio, Investment Opportunity Set

dan Profitability terhadap Kebijakan Dividen (Studi Empiris pada perusahaan Automotive di Bursa

Efek Indonesia Periode Tahun 2004-2006) Variabel independen: Cash Ratio, DER, IOS, ROA.

Variabel dependen: Kebijkaan Dividen Secara parsial variabel independen cash ratio, IOS, ROA

berpengaruh signifikan positif terhadap variabel kebijakan dividen, sedangkan debt to equity ratio

tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel kebijakan dividen Universitas Sumatera Utara 4

Fransiska Purba (2012) Pengaruh Laba Akuntansi, Laba Tunai, Ukuran Per-usahaan Dan Umur

Perusahaan Ter-hadap Dividen Kas Pada Perusahaan Infrastructure, Utility, And Trans-portation Dan

Real Estate And Pro-perty Yang Ter-daftar Di BEI Variabel independen: Laba Akuntansi, Laba Tunai,
Ukuran Perusahaan Dan Umur Perusahaan Variabel dependen: Dividen kas Penelitian menunjukkan

bahwa laba akuntansi berpengaruh signifikan terhadap dividen kas. Laba tunai, ukuran perusahaan,

dan umur perusahaan memiliki pengaruh tidak signifikan terhadap dividen kas secara parsial, secara

simultan laba akuntansi, laba tunai, ukuran perusahaan dan umur perusahaan berpengaruh signifikan

terhadap dividen kas. 5 Edward MarfoYiadom dan Samuel Kwaku Agyei (2011) Determinants of

Dividend Policy of Banks in Ghana Variabel independen: ROA, leverage, changes in dividend,

collateral capacity, growth, age. Variabel dependen: Kebijakan dividen ROA, leverage, changes in

dividend, collateral capacity berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen.

Sedangkan growth dan age tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen 6 Tri Susilowati

(2005) Pengaruh Informasi Laporan Keuangan terhadap Pendapatan Dividen Tunai (Studi Kasus Pada

Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEJ periode 1999-2003) Variabel independen: ROI, ROE,

Current Ratio, DTA, DER, EPS Variabel dependen: Dividen tunai Kesimpulan yang didapat dari

penelitian ini secara parsial hanya variabel EPS yang berpengaruh secara signifikan terhadap dividen

tunai, sedangkan variabel ROE, CR, DTA dan DER tidak berpengaruh secara signifikan terhadap

dividen tunai. Universitas Sumatera Utara 7 Yeti Meliany Lubis (2009) Analisis Faktorfaktor yang

Mempengaruhi Dividen Kas pada Perusahaan Manufaktur Jenis Consumer Goods yang Go Public di

Bursa Efek Jakarta Variabel independen: ROI, Cash Ratio, Current Ratio, DTA, EPS, DER, DPR

Variabel dependen: Dividen Tunai Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini secara parsial hanya

variabel Cash Ratio, Current Ratio dan DER yang berpengaruh secara signifikan terhadap dividen

tunai, sedangkan variabel ROI, DTA, EPS tidak berpengaruh secara signifikan terhadap dividen tunai.

8 Seyed Abbas Hashemi dan Fatemeh Zahra Kashani Zadeh (2012) The Impact of Financial Leverage

Operating Cash Flow and Size of Comapany on the Dividend Policy (Case Study of Iran) Variabel

independen: Financial Leverage, Operating Cash Flow, Size of Company Variabel dependen:

Dividend Policy Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini secara parsial hanya variabel operating

cash flow, size of company yang berpengaruh secara signifikan terhadap dividend policy dan variabel

financial leverage tidak berpengaruh secara signifikan terhadap dividend policy. Universitas Sumatera

Utar