Anda di halaman 1dari 22

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM

PAPAN KOMPOSIT EDAN (EKONOMIS DAN NYAMAN) ANTI-RAYAP


DARI ECENG GONDOK DAERAH LAMONGAN

BIDANG KEGIATAN
PKM KARSA CIPTA

Diusulkan oleh :
Ahmad Akhson Mukhlisin 140521602042/2014
Bagus Ginanjar 160523610880/2016
Citra Amelia Rahma 160523610850/2016
Dania Rizki Fitriana 160523610819/2016
Dwi Maratus Sholikhah 160523610808/2016

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


MALANG
2016

i
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL..........................................................................................i
PENGESAHAN KARSA PKM KARSA CIPTA ................................................. ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... 2
1.3 Tujuan ............................................................................................................. 2
1.4 Manfaat ........................................................................................................... 2
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pemanfaatan Serat Eceng Gondok .................................................................. 3
2.2 Papan Komposit .............................................................................................. 4
2.3 Metode Pelapisan Papan Serat Komposit dengan Bahan Anti-rayap ............. 5
BAB III METODE PELAKSANAAN
3.1 Surfei Bahan Baku .......................................................................................... 8
3.2 Penyempurnaan Pembuatan Produk ................................................................ 8
3.3 Tahap-tahap Pembuatan Produk ..................................................................... 8
BAB IV BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
4.1 Anggaran Biaya ............................................................................................... 11
4.2 Jadwal Pelaksanaan Program .......................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 12
LAMPIRAN

iii
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagaimana kita ketahui eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh
yang sangat tinggi, sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat
merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui
salurana air ke badan air lainnya. Oleh sebab itu dibutuhkan berbagai cara
untuk menanggulanginya. Diantaranya memanfaatkan eceng gondok sebagai
bahan kerajinan, kompos serta dapat digunakan sebagai bahan papan komposit
sebagai dinding, almari, dan langit-langit rumah.
Eceng gondok ini memiliki kandungan serat yang uletdan cukup besar,
menjadi bahan baku yang melimpah, murah dan mudah didapat, serta tidak
beracun. Selain itu, peningkatan eceng gondok akan mempengarui perairan
dan merugikan masyarakat. Tingkat pemanfaatan yang belum sebanding
dengan tingkat pertumbuhannya yakni mencapai 1,9% per hari. Tingkat
perkembangbiakannya, dimana 10 tanaman ini dapat menjadi 600.000
tanaman dalam waktu 8 bulan.
Eceng gondok memiliki kadar air sebesar 90% berat dengan tingkat
reduksi berat dari 10 kg basah menjadi 1 kg kering. Dalam keadaan kering
eceng gondok mengandung protein kasar 13,03%, serat kasar 20,6%, leak
1,1%, abu 23,8%, dan sisanya berupa vortex yang mengandung polisakarida
dan mineral-mineral.
Pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan papan komposit ini, dapat
membangkitkan nilai ekonomis bagi masyarakat sekitar Lamongan dan
sekelilingnya. Potensi yang cukup besar dimana belum terdapatnya pabrik
atau Home Industry yang secara khusus mengolah serat tanaman eceng
gondok ini menjadi papan komposit. Salah satu penyebab utama banjir di
kawasan kelurahan Blimbang, Ngluluk, dan Modo adalah mendangkalnya
aliran sungai Bengawan Solo yang membelah Lamongan (Tribunnews, 2016).
Salah satu dampak pendangkalan sungai adalah merebaknya populasi tanaman
eceng gondok yang sangat besar. Besar kemungkinan, tanaman-tanaman
eceng gondok yang mati akan tenggelam dan mengakibatkan sungai menjadi
dangkal. Dengan menjadikan eceng gondok sebagai bahan papan komposit
diharapkan dapat mengurangi kerugian pemda Lamongan yang diakibatkan
oleh pendangkalan sungai. Serta tidak mengganggu aktivitas masyarakat di
sungai dalam mencari nafkah.
Pemanfaatan hasil alam yang ada di daerah Lamongan juga bisa
dimanfaatkan secara optimal. Yakni dengan mengoptimalkan bahan alam yang
berada di Lamongan. Salah satunya dengan menggunakan lapisan anti-rayap
dari bahan singkong. Singkong adalah bahan alam yang sangat mudah
ditemukan disetiap daerah. Dengan mudah bisa diaplikasikan pada papan serat
komposit ini yakni hanya merendamnya pada ekstrak singkong.

1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah ini adlaah
pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan papan serat komposit yang dapat
dirumuskan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa yang menyebabkan eceng gondok dapat dijadikan bahan papan serat
komposit?
2. Bagaimana proses pengolahan eceng gondok menjadi papan serat
komposit yang tahan rayap?
3. Apa saja kelebihan dan kekurangan papan serat komposit dari eceng
gondok?

1.3 Tujuan
Tujuan penulis dalam membuat proposal ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui sebab eceng gondok dapat dijadikan bahan papan serat
komposit.
2. Mengetahui proses pengolahan eceng gondok menjadi papan serat
komposit yang tahan rayap.
3. Mengetahui kelebihan dan kekurangan papan serat komposit dari eceng
gondok.

1.4 Manfaat
Manfaat yang penulis dapat dari membuat proposal ini adalah:
1. Membuka ranah berpikir mahasiswa dalam mebuat produk kreativitas
mahasiswa yang berguna di masyarakat sebagai bentuk penerapan tri
dharma perguruan tinggi.
Manfaat lain yang didapat dari pembuatan proposal ini bagi
masyarakat sekitar Lamongan adalah:
1. Memanfaatkan kelebihan populasi eceng gondok yang ada di sungai-
sungai daerah Lamongan.
2. Menjadikan eceng gondok tanaman bernilai ekonomis.
3. Mengubah opini masyarakat tetang eceng gondok sebagai tanaman parasit
perairan atau gulma menjadi tanaman yang berguna.
Manfaat yang dapat dirasakan oleh Pemda Lamongan adalah:
1. Menciptakan solusi yang akurat sebagai bentuk perlindungan sungai dari
pendangkalan.
2. Meringankan APBD daerah Lamongan sebab kerugian yang diakibatkan
oleh banjir.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pemanfaatan Eceng Gondok


Eceng Gondok merupakan jenis tumbuhan air yang memiliki laju
pertumbuhan tinggi sehingga dianggap sebagai gulma yang dapat
mengganggu ekosistem perairan. Makin banyaknya populasi eceng gondok
akan menyebabkan berkurangnya jumlah keanekaragaman hewan air,
terjadinya pendangkalan, menurunnya kualitas air karena berkurangnya
oksigen akibat menurunnya intensitas cahaya matahari yang masuk ke badan
air, meningkatnya vektor penyakit, gangguan irigasi, transportasi, dan
berkurangnya nilai estetika pada perairan. Meskipun eceng gondok
merupakan tumbuhan yang cepat berkembang biak, akan tetapi memiliki
struktur lignoselulosa yang dapat dikonversi menjadi gula reduksi dan
berpotensi menjadi bioetanol. Bioetanol merupakan biofuel ramah lingkungan
dengan kandungan 35 % oksigen yang mampu menyebabkan proses
pembakaran lebih sempurna.

Gambar 1.Eceng Gondok disungai Gambar 2. Eceng Gondok dari


jarak dekat

Tanaman tersebut mampu menyerap nitrogen, fosfat,zat organik,


uranium, dan mercirium, dua zat tersebut adalah dua zat yang sangat
berbahaya bila mencemari perairan. Eceng gondok memiliki banyak serat
dan mengandung sellulosa sehingga dapat digunakan sebagai bahan material
papan komposit

Karakteristik serat eceng gondok


Massa Jenis (gr/cm3) 0,25

Sifat putih (whiteness) (%) 22,2

Kehalusan (fineness) () 35

Kekuatan tarik (tensile strength) (Mpa) 18-33

3
2.2 Papan Komposit
Papan komposit adalah papan pembuatan yang bahan bakunya
dapat berupa dari beberapa bahan, misalnya berupa potongan kayu solid
utuh, partikel, maupun serat. Papan komposit memiliki keunggulan yaitu
dapat menghasilkan ukuran papan yang lebih lebar dan panjang sesuai
dengan yang diperlukan dan bahan bakunya dapat menggunakan semua
tanaman yang mengandung lignin dan selulosa.
Produk-produk papan komposit adalah papan lamina, papan
partikel, dan papan serat.
A. Papan lamina
Papan lamina adalah papan yang dibuat dari potongan kayu utuh
yang digabungkan dengan perekat dan diberi tekanan tinggi untuk
menguatkan ikatan antar papan. Papan ini dapat menghasilkan ukuran
papan yang lebar dan panjang sesuai dengan yang dibutuhkan karena
penyambungan dilakukan sepanjang yang dibutuhkan. Papan ini dapat
digunakan untuk pembuatan lemari, meja, kursi, lantai, dan berbagai
macam furniture lainnya.
B. Papan Partikel
Papan partikel adalah papan yang dibuat dari partiken kayu yang
digabungkan dengan menggunakan perekat dan diberi tekanan dingin
dan panas untuk mengikat antar partikel. Tekanan dingin berfungsi
untuk memberikan waktu perekat masuk kedalam pori-pori papan
partikel sedangkan tekanan panas berfungsi untuk mematangkan
perekat yang terdapat dalam pori-pori setelah papan partikel melalui
proses tekanan dingin sehingga ikatan antar partikel menjadi lebih
kompak dan kuat.
C. Papan Serat
Papan serat adalah papn yang dibuat oleh serat berbagai macam
tanaman yang digabungkan dengan menggunakan perekat dengan
tekanan dingin dan panas. Pembuatan papan ini memerlukan keahlian
khusus karena pembuatannya yang tidak mudah (skala industri). Hal
yang perlu diperhatikan dalam pembuatan papan serat adalah kadar air
serat, berat jenis bahan baku, keseragaman ukuran serat, dan
kebersihan serat.
Eceng gondok mempunyai serat yang banyak dan hampir belum
optimal dalam pemanfaatannya. Serat eceng gondok tergolong kuat dan
tahan lama. Karena sifatnya yang lentur tapi kuat. Serat eceng gondok
adalah bahan yang pas untuk pembuatan papan serat. Tentu kenapa penulis
memilih papan serat komposit, karena bahan dasar pembuatan papan serat
komposit adalah serat tumbuh-tumbuhan maupun serat buatan.

4
Sedangkan hasil manfaat melimpah yang terkandung di dalam
eceng gondok adalah seratnya. Oleh karena itu, selain karena bahan
dasarnya serat pembuatan papan serat komposit juga dinilai adalah
sesuatu yang obyektif.
Memanfaatkan gulma yang melimpah tanpa merusaknya tetapi mengolah
kembali dan diambil seratnya untuk dijadikan papan serat komposit.

2.3 Metode Pelapisan Papan Serat Komposit dengan Bahan Anti-rayap


Singkong (Manihot esculenta) merupakan umbi akar yang asalnya
dari Amerika Tengah dan Selatan. Umbi jenis ini disebarkan oleh penjajah
dari Portugis dan Belanda sebagai bahan cadangan makanan saat terjadi
gagal panen ataupun sebagai bahan makanan pokok pribumi saat itu.
Singkong sendiri sangat tahan terhadap penyakit, mudah tumbuh, dan
tidak memerlukan banyak air. Bermacam-macam kelebihan ini
menjadikan singkong tetap eksis di kalangan masyarakat untuk tetap di
budidaya baik besar-besaran ataupun hanya ditanam di pekarangan rumah.
Singkong juga merupakan sumber karbohidarat ketiga setelah beras dan
jagung bagi orang-orang tropis.
Singkong banyak ditemukan di daerah tropis, tetapi dapat pula
tumbuh dan beradaptasi dengan baik di daerah sub-tropis. Tanaman
singkong tidak begitu menuntut iklim yang spesifik untuk
pertumbuhannya. Rata-rata tanaman singkong dapat tumbuh dengan baik
pada iklim dan curah hujan 1500-2500 mm/thn. Tanaman singkong
membutuhkan 10 jam/hari untuk pertumbuhannya, terutama pada
perkembangan ubi dan kesuburan daunnya. Tanaman ini dapat tumbuh
pada ketinggian 2000 meter dari permukaan air laut atau di sub-tropis
dengan suhu rata-rata 16 C.
Umbi singkong berbentuk mirip tabung yang panjang, padat, dan
berwarna putih serta tertutup dengan kulit yang tebal. Kulit singkong
berwarna coklat, tebal, dan kasar, namun dapat terkelupas dengan mudah.
Varietas komersial dari umbi ini dapat memiliki ketebalan hingga 10 cm
dan panjang hingga 30 cm. Di dalam umbi singkong terdapat buluh akar
yang tepat berada di tengah-tengah. Kandungan gizi umbi singkong
didominasi oleh karbohidrat, namun terdapat pula kalsium (50 mg/100 g),
fosfor (40 mg/100 g), dan vitamin C (25 mg/ 100 g). Meskipun begitu
singkong miskin protein dan zat gizi lainya. Daun singkong merupakan
sumber protein yang baik (kaya lisin) akan tetapi miskin metionin dan
mungkin triptofan.
Selain dari luar, senyawa kimia berbahaya juga dapat dihasilkan
secara alamiah oleh bahan pangan itu sendiri.

5
Bahan baku pangan, seperti tomat, cabai, wortel, dan lain-lain apabila
menyimpannya terlalu lama atau memang dalam keadaan yang sudah
terlalu tua atau sudah bertunas biasanya menghasilkan zat toksin yang
dinamakan solanin. solanin adalah senyawa glikoalkalaoid yang beracun,
yang dapat mengakibatkan gejala-gejala diare, mual, muntah, kram perut,
sakit kepala, dan pusing. dalam kasus yang lebih parah akan menyebabkan
halusinasi, kelumpuhan, demam, sakit kuning, pupil melebar, hipotermia,
keracunan, bahkan kematian.
Umbi dan daun singkong tidak boleh dikonsumsi secara mentah.
Hal ini dikarenakan singkong mengandung dua glukosida sianogenik yaitu
linamarin dan lotaustralin. Kedua zat tersebut diuraikan oleh linamarase
(enzim dalam singkong) sehingga mampu membebaskan hidrogen sianida
(HCN). Jika sianida sampai dikonsumsi dalam jumlah berlebihan maka
dapat mengakibatkan sindrom keracunan akut sianida, ataxia (gangguan
keseimbangan), gondok, dan bahkan terkait dengan radang pankreas
kronis. Bahkan di dalam daun singkong sendiri terdapat kandungan asam
sianida sebesar 149,4 ppm, padahal ambang batas tubuh apabila
kemasukan asam sianida hanya sebesar 20 ppm. Kesimpulannya, singkong
harus dimasak dahulu sebelum dikonsumsi untuk mencegah timbulnya
keracunan.
Secara umum, singkong dibagi menjadi dua, yaitu singkong jenis
manis dan pahit. Dua varietas ini memiliki rasa yang berbeda dikarena
perbedaan kandungan glukosida sianogenik secara signifikan. Varietas
manis atau tidak pahit hanya memproduksi maksimal 20 mg sianida (CN)
per kilogram umbi, sedangkan varietas pahit memproduksi 50 kali lebih
banyak CN dari varietas manis, itu artinya dalam varietas pahit terdapat
1000 mg sianida per kilogram umbi. Singkong yang tumbuh saat
kekeringan memiliki kandungan racun yang lebih banyak. Satu dosis yang
berisi 25 mg glukosida sianogenik dari singkong, yang berisi 40 mg racun
sianida dapat membunuh seekor sapi dewasa.
Cara mmenanam singkong agar menghasilkan banyak racun
sianida adalah dengan menanamnya secara terbalik dari mata tunasnya.
Para petani selalu mewaspadai stek-stek batang singkong yang akan
ditanamnya. Karena jika menanamnya secara terbalik dari mata tunasnya
maka akan menghasilkan singkong yang pahit, dalam artian mengandung
banyak sianida. Selain itu, apabila singkong ditanam bertahun-tahun maka
akan menghasilkan singkong yang beracun, yang di dalamnya terkandung
asam sianida.

6
Singkong yang tumbuh bertahun-tahun biasanya oleh petani sering
digunakan sebagai biopestisida alami. Bahkan, para peternak kambing pun
seringkali tidak memberikan pakan dari daun singkong yang sudah
tumbuh bertahun-tahun ini, alasannya karena pahit dan bisa saja
membunuh kambingnya.
Penjelasan alamiahnya adalah, tumbuhan singkong yang sudah
bertahun-tahun tumbuh akan menjadikan singkong tersebut mempunyai
kandungan sianida yang sangat tinggi. Sedangkan sianida adalah racun
alami yang bisa membunuh hewan maupun manusia. Oleh karena itu,
penggunaan singkong sebagai bahan dasar pelapis papan serat komposit
dirasa akan membuat papan tersebut tahan terhadap serangan insektisida.
Cara pengolahannya adalah dengan memilih singkong yang sudah
tumbuh bertahun-tahun kemudian mengekstraknya dengan cara
menggilingnya atau menghaluskannya. Lalu bahan papan serat komposit
tadi, yakni eceng gondok yang telah diambil seratnya direndam dalam
cairan ekstrak singkong.

7
BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1 Survei bahan baku
Dalam pembuatan papan komposit EDAN pertama yang dilakukan
adalah mensurvei alat dan bahan yang digunakan. Hal ini dilakukan untuk
memastikan bahan yang kami gunakan memenuhi syarat kualitas yang baik,
sekaligus memastikan ketersediaan bahan dan kisaran harga di pasaran. Alat
dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan papan komposit EDAN
(Ekonomis dan Nyaman) sebagai berikut
Alat-alat yang digunakan untuk membuat papan sebagaimana berikut:
1. Cetakan papan
2. Celurit
3. Kotak rendaman
4. Alat press
5. Amplas
6. Kuas
Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat papan sebagaimana
berikut:
1. Eceng Gondok
2. Resin 108
3. Asam Borat
4. Singkong
5. Plamir
3.2 Penyempurnaan Pembuatan Produk
Penyempurnaan pembuatan produk dilakukan apabila hasil dari
meninjau bahan baku yang tersedia dipasar tidak sesuai untuk pembuatan
produk. Namun apabila bahan baku sesuai dengan yang direncanakan dalam
pembuatan produk, maka langkah selanjutnya adalah proses pembuatan
produk.

3.3 Tahap-tahap pembuatan produk


Tahapan-tahapan dalam pembuatan produk papan serat komposit dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Pengambilan
Eceng gondok yang menjadi gulma biota air diambil untuk diolah
2. Pembersihan
Eceng gondok yang baru diambil dari perairan sangatlah penuh
dengan lumpur dan kotoran air lainnya, sehingga perlu untuk dibersihkan
dari kotoran tersebut agar tidak mempengaruhi kualitas eceng gondok
untuk bahan material papan komposit dan menghilangkan bau tidak
sedapnya.

8
Cara membersihkan eceng gondok ini cukup disemprot dengan air
bersih dan dirontokkan kotorannya dengan dibanting-banting.
Pembersihan dapat dilakukan dilokasi pengumpulan eceng gondok agar
tidak mengotori angkutan yang akan membawanya ketempat produksi.
3. Pengeringan
Apabila sedang musim kemarau maka pengeringan bisa berjalan
dengan lancar dan waktunya cukup singkat. Hal ini Berbeda ketika
musim hujan yang pengeringannya berjalan sangat lama dan tidak
mudah.Pada beberapa industri kecil pembuatan kerajinan dari eceng
gondok juga dilakukan pengeringan dengan cara diasap atau diletakkan
dalam ruangan pengering. Tetapi cara ini tetap kurang efektif dan kurang
disukai karena kualitas eceng gondok akan menurun dibanding dengan
proses pengeringan alami.
4. Pemilihan
Sebelum dilakukan pemilahan batang eceng gondok sebaiknya
dilakukan pemisahan antara daun dan batang menggunakan pisau .
Kemudian, eceng gondok mulai dipilah-pilah. Pemilahan dilakukan
untuk memilah-milah batang dengan ukuran variasi 10 cm, 20 cm atau 30
cm. Kemudian diambilah lembaran serat dari batang tersebut sebagai
bahan untuk papan komposit dengan teknik hand lay-up.
5. Pengawetan
Pengawetan dilakukan dengan menggunakan komposisi 30 gram
asam borat ( dipasaran disebut borax atau bleng) yang dilarutankan pada
1 liter air. Setelah asam borat terlarut selam kurang lebih 2-3 jam, diperas
dan dan dijemur hingga kering,dan bahan eceng gondok siap digunakan.

9
Eceng gondok diambil dari
PENGAMBILAN
sungai

Eceng gondok yang


PEMBERSIHAN didapatkan,kemudian dibuang
bagian yang tidak digunakan dan
dicucuri air

PENGERINGAN Eceng gondok dikeringkan


dibawah sinar matahari kurang
lebih selama 3 hari

PEMILIHAN Eceng gondok dipisahkan


berdasarkan panjang batang

PENGAWETAN Eceng gondok direndam dalam


asam borat ang dilarutkan 2-3 jam

PENGOLAHAN Eceng gondok siap diolah


menjadi papan komposit

Gambar 3. Diagram Pengolahan Papan Komposit

10
BAB IV

BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

4.1 Rencana Anggaran Biaya

Tabel 1.2 Rencana Anggaran Biaya


No Keterangan Jumlah Biaya
1 Peralatan Penunjang Rp. 4.000.000,-
2 Biaya Bahan Rp. 3.750.000,-
3 Perjalanan Rp. 2.000.000,-
4 Lain-lain Rp. 2.250.000,-
Rp. 12.000.000,-

4.2 JadwalKegiatan
Tabel 1.3 JadwalKegiatan
Alokasi Waktu
No Kegiatan Bulan I Bulan II Bulan III Bulan IV
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Surfey Bahan Baku
Konsultasi dosen
Pembimbing
I
Survei dan pembelian
bahan
Persiapan penelitian
Penyempurnaan Desain
Perencanaan Desain
II
Produk
Evaluasi Umum
Pembuatan Produk
III PembuatanProduk
PencatatanHasil
Uji Coba Produk
IV Pengujian Produk
Pencatatan
V Seminar Produk

11
Daftar pustaka

Kurnia, Arif Rahmat. 2014.Singkong.dalam http://healthydiet.web.id


Mateu, A. Macia dkk. 2016. "Mechanical Properties of Boards Made in
Biocomposites Reinforced With Wood and Posidonia Oceanica Fibers".
dipublikasikan Elsevier Ltd. San Vicente del Raspeig.
Mitra Agrobisnis dan Industri. 2014.Teknik Budidaya Singkong, dalam
http://www.agrotekno.net
Polprasert, C dkk. 1994. "Production of Feed and Fertilizer from Water Hyacinth
Plants in The Tropics". Artikel Jurnal. Bangkok: Asian Institute of
Technology.
Soetrisno, Uken S. dan Suryana Purawisastra. 1992. "Pengaruh Pengukusan
Terhadap Kandungan Asam Sianida dalam Beberapa Bahan Makanan".
dipublikasikan dalam http//:www.Slideshare.com
Suyono, Inggrid Suryani dkk. 2010. Pengantar Keamanan Pangan untuk
Industri Pangan. dalam https://books.google.co.id
Wibisono, R. 2016. "Ini 5 Daerah Rawan Banjir Bengawan Solo Versi BPBD
Jatim". dalam http://www.madiunpos.com.
Zhengchun, D. dkk. 2016. "Composite Structures". Jurnal. Shanghai: Shanghai
Jiaotong Universit

12
1.
14
15
3

16
4

17