Anda di halaman 1dari 9

M.

Romi Hanafi

160523610908

8) Pembagian bid'ah menjadi dua yakni bid'ah hasanah


(baik) dan bid'ah dhalalah (sesat) merupakan perspektif yang disepakati oleh
Sahabat, dan para ulama salaf seperti Imam Syafi'i, Nawawi, Imam Suyuti,
dan lain-lain. Hanya kaum Neo Khawarij Wahabi Salafi yang tidak mau
mengakui pendapat ini.

Dalam pengertian yang umum, bid'ah adalah segala sesuatu perilaku yang
tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad. Pengertian yang khusus adalah segala
bentuk ibadah yang tidak disyariatkan oleh Rasulullah. Hukum bid'ah adalah
haram. Namun bid'ah yang haram itu adalah bid'ah dalam soal ibadah
sebagaima dikatakan dalam kaidah fikih bahwa "hukum asal dari ibadah
adalah haram". Adapun bid'ah yang bukan ibadah hukumnya boleh karena
dalam kaidah fiqih dikatakan "hukum asal dari segala sesuatu (muamalah,
adat, non-ibadah) adalah boleh." Inti perbedaan yang sering terjadi antara
Wahabi dengan non-Wahabi terutama NU adalah apakah melakukan sesuatu
yang baru -- seperti tahlil, maulid Nabi, dll -- termasuk ibadah atau
muamalah
DALIL BI'DAH HASANAH

- Hadits riwayat Muslim





Artinya: Barang siapa yang melakukan perbuatan yang baik maka dia akan mendapat pahala dan
pahala orang yang melakukan itu setelahnya tanpa kurang sedikitpun. Barangsiapa yang
melakukan perbuatan buruk maka ia akan mendapat dosa dan dosa orang yang menirunya tanpa
kurang sedikitpun.

- Hadits riwayat Muslim




Artinya: Barangsiapa yang mengajak kepada hidayah (kebaikan) maka ia akan mendapat pahala
seperti pahala yang mengikutinya tanpa kurang sedikitpun. Barang siapa yang mengajak pada
kesesatan maka ia akan mendapat dosa seperti dosa yang mengikutinya tanpa berkurang
sedikitpun.

- Hadits riwayat Muslim



Artinya: Barangsiapa menunjukkan pada kebaikan maka pahalnya sama dengan yang
melakukannya,

- Perkataan Umar bin Khattab dalam soal shalat taraweh berjamaah


:
Artinya: Perkataan Umar bin Khattab dalam shalat tarawih yang dilakukan secara berjamaah
(atas inisiatif Umar): "Sebaik-baik bid'ah adalah ini."

DALIL BID'AH DHALALAH

- Hadits riwayat Bukhari & Muslim (muttafaq alaih)



Artinya: Barangsiapa membuat hal baru dalam perkaraku maka ia tertolak.

- Hadits riwayat Bukhari & Muslim


Artinya: Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak berasal dari kami maka ia
tertolak.

- Hadits riwayat Tirmidzi & Nasa'i (muttafaq alaih)






Artinya: Jauhkan dari memperbarui perkara. Karena seburuk-buruk perkara adalah membuat hal
baru (inovasi). Setiap perkara baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat.
P endapat Imam Syafi': Bid'ah hasanah dan dhalalah (sesat)
Menurut Imam Syafi'i (767 - 820 M /150 - 204 H), seperti dikutip oleh Imam Baihaqi dalam
Isnad-nya, bid'ah ada dua macam yaitu bid'ah hasanah (baik) dan bid'ah dhalalah (sesat). Imam
Syafi'i berkata (dikutip dari Imam Nawawi, Tahdzibul Asma wal Lughat, 277):

:
:
:
) (
Artinya: Perkara baru itu ada dua macam. Pertama, yang berlawanan dengan Quran, Sunnah,
atsar (perilaku Sahabat) dan ijmak ulama, ini disebut bid'ah sesat (dhalalah). Kedua, Bid'ah
hasanah adalah suatu hal baru yang baik yang tidak bertentangan dengan prinsip Quran, hadits,
atsar Sahabat, ijmak ulama. Ini bid'ah yang tidak tercela. Umar bin Khattab berkata dalam soal
shalat sunnah tarawih bulan Ramadhan: sebaik-baik bid'ah adalah ini. Yakni, bahwa shalat
tarawih itu adalah hal baru yang tidak ada pada zaman Nabi.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan lahirnya bidah ditengah-tengah


umat. Di antaranya :

1. Anggapan baik (ihtisan).

Faktor anggapan baik ini merupakan penyebab yang paling banyak dijadikan alasan mengapa
mereka (ahli bidah) melakukan amalan-amalan yang tidak ada tuntunannya.

Kita perhatikan jawaban sekelompok orang yang membuat halaqoh dzikir yang tidak sesuai
tuntutan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian ditegur oleh Sahabat Ibnu Masud
radhiyallahu anhu. Dan mereka menjawab dengan alasan :

Demi Allah, wahai Abu Abdurrahman (Ibnu Masud), kami tidaklah menginginkan selain
kebaikan.

Perhatikan ucapan mereka !, alasan mereka membuat perkara baru dalam urusan agama (bidah)
alasannya adalah anggapan baik (ihtisan).

Ibnu Masud menjawab perkataan mereka :

Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya. (HR. Ad
Darimi).
Padahal menganggap baik bidah, sama artinya telah menuduh Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam menghianati risalah. Sebagaimana yang dikatakan Imam Malik rahimahullah.

Imam Malik berkata :

Siapa yang membuat bidah dalam agama, dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik,
berarti dia telah menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhianati risalah. (Al
Itishom 1/64-65).

Ahli bidah tidak faham, bahwa syarat diterimanya ibadah selain baik juga harus sesuai tuntunan
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (Ash-Shawab).

2. Berdalil dengan hadits dhaif bahkan palsu

Tidak sedikit amalan-amalan bidah dibangun diatas hadits-hadits dhaif bahkan palsu.

Berikut ini diantaranya :

Mengusap tengkuk ketika wudhu

Diantara hadits dhaif yang sering digunakan

Mengusap leher adalah pengaman dari dengki, iri hati, benci.

Juga hadits yang berbunyi,

Siapa yang berwudhu dan mengusap lehernya, ia tidak akan dibelenggu dengan (rantai)
belenggu hari kiamat.

Berkata Imam An-Nawawy : Tidak ada sama sekali (hadits) yang shahih dari Nabi shallallahu
alaihi wasallam dalamnya (yakni dalam masalah mengusap leher/tengkuk).

Berkata Ibnul Qayyim : Tidak ada satu hadits pun yang shahih dari Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam tentang mengusap leher. (Zadul Maad 1/195).

Baca Al-Majmu 1/488 dan Nailul Authar 1/206-207.

Berdoa setiap mencuci anggota wudhu


Ada sebagian umat Islam yang membaca doa setiap kali membasuh anggota wudhu.

Ketika kumur-kumur membaca doa,

Ya Allah berilah saya minum dari telaga Nabi-Mu satu gelas yang saya tidak akan haus selama-
lamanya.

Membasuh wajah membaca doa,

Ya Allah, putihkanlah wajahku pada hari wajah-wajah menjadi hitam.

Mencuci tangan membaca doa,

Ya Allah, berikanlah kitabku di tangan kananku dan janganlah engkau berikan di tangan kiriku.

Begitu pula ketika membasuh kepala, telinga dan kaki ada doa-doa nya yang di baca.

Doa-doa tersebut tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Imam Besar ulama Syafiiyah, Imam An-Nawawy menegaskan, bahwa doa ini tidak ada asalnya
dan tidak pernah disebutkan oleh orang-orang terdahulu di kalangan Syafiiyah.

Imam An-Nawawi berkata :

Maka, dengan ini, tidak diragukan bahwa doa ini termasuk bidah sesat dalam wudhu yang
harus ditinggalkan. (Lihat Al-Majmu 1: 487-489).

3. Salah kaprah memahami nash / ayat

Faktor lainnya adalah salah memahami nash. Banyak hadits-hadits sohih, namun mengamalkan
hadits sohih tersebut dengan membuat cara-cara atau model-model baru dalam ibadah yang tidak
dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga Shalafus Shaalih. Hal ini pun sebab
terbanyak lahirnya bidah.

Sebagai contoh diantaranya, tentang keutamaan malam nishfu syaban. Keutamaan malam
nishfu syaban banyak diriwayatkan oleh para Sahabat. Sebagaimana diriwayatkan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Allah Taala menampakkan kepada hamba-Nya pada malam nishfu syaban, maka Dia
mengampuni bagi seluruh hambaNya, kecuali orang yang musyrik atau pendengki.

(Diriwayatkan oleh banyak sahabat nabi dan satu sama lain saling menguatkan. yakni oleh
Muadz bin Jabal, Abu Tsalabah Al Khusyani, Abdullah bin Amr, Auf bin Malik, dan Aisyah.
Lihat kitab As Silsilah Ash Shahihah, 3/135, No. 1144. Darul Maarif. Juga kitab Shahih Al Jami
Ash Shaghir wa Ziyadatuhu, 2/785. Al Maktab Al Islami).

Hadits ini menunjukkan keutamaan malam nishfu syaban (malam ke 15 di bulan Syaban),
yakni saat itu Allah mengampuni semua makhluk kecuali yang menyekutukanNya dan para
pendengki.

Tentunya saat itu waktu yang sangat baik untuk banyak beristighfar dan ibadah lainnya. Tetapi
hadits ini sama sekali tidak menerangkan cara-cara tertentu dalam bentuk ibadah.

Tidak disebutkan di hadits tersebut perintah membaca yasin sebanyak tiga kali dengan tujuan
tertentu, atau shalat tertentu dengan fadhilah tertentu, lalu sambil membawa air, juga tidak ada
perintahnya semua amalan itu dilakukan bada maghrib sebagaimana yang dilakukan sebagian
umat Islam saat ini.

Didalam kitab al Mausuah al Fiqhiyah juz II hal 254 disebutkan bahwa jumhur ulama
memakruhkan berkumpul untuk menghidupkan malam nisfu syaban. Dan mereka menegaskan
bahwa berkumpul untuk itu adalah sautu perbuatan bidah menurut para imam yang
melarangnya, yaitu Atho bin Abi Robah dan Ibnu Malikah.

Apabila sengaja berkumpul saja di malam nishfu syaban para Ulama memakruhkannya.
Bagaimana pula apabila di malam nishfu syaban sengaja membuat perkara-perkara baru dalam
agama (bidah) ?

Keutamaan malam nishfu syaban memang shahih, tetapi amalan-amalan khusus malam nishfu
syaban tidak ada tuntunannya. Jadi apabila ada sebagian orang yang melakukan amalan-amalan
tertentu dengan cara-cara tertentu di malam nisfu syaban ini adalah bidah.

4. Mengikuti hawa nafsu

Penyebab lainnya yang menjadikan bidah muncul dan semarak ditengah-tengah umat adalah di
dorong hawa nafsu.

Mereka beranggapan, Islam akan lebih baik bisa diterima umat, apabila ada inovasi dan kreasi-
kreasi tertentu yang membuat umat bergairah dalam beragama.
Ketika dikatakan bahwa hal itu tidak dibenarkan oleh syariat, tidak ada dasarnya, mereka
menolak dengan keras. Mereka lebih mengikuti perasaan dan logikanya, dibanding dalil dari Al-
Quran dan As-Sunnah.

Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

: :

Ada tiga hal yang membinasakan. Lalu Beliau bersabda: Tiga hal yang membinasakan adalah
syahwat yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan seorang yang kagum dengan dirinya
sendiri . .. (Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 1802).

Menurut saya selama bidah Hasanah itu membawa kabaikan dan tidak bertentangan denga
syariat islam, menurut saya tidar ada yang harus dipermaslahkan

3) Pertama, menghargai pendapat orang lain


Hal yang terpenting dalam menyikapi perbedaan pendapat terhadap masalah ijtihadiyah adalah
bagaimana seseorang bertindak lebih dewasa untuk dapat menghargai pendapat orang lain,
sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para Imam Mazhab. Diriwayatkan bahwa Imam
Syafii rahimahullah ketika menziarahi kuburan Abu Hanifah di Kofah, beliau melakukan shalat
shubuh tanpa qunut yang dipandang berseberangan dengan pendapatnya. Selesai shalat para
jamaah yang berada bersamanya saat itu bertanya kenapa beliau meninggalkan qunut sementara
menurut mazhabnya qunut shubuh adalah sunat muakkad. Dengan penuh rasa kedewasaan beliau
menjawab: saya sengaja meninggalkan qunut sebagai penghormatan dan penghargaan kepada
pemilik kuburan ini yang berpendapat bahwa qunut shubuh tidak disunatkan.

Demikian juga, Imam Ahmad bin Hambal pernah berfatwa agar imam hendaknya membaca
basmalah dengan suara keras bila memimpin shalat di Madinah. Fatwa ini bertentangan dengan
mazhabnya sendiri yang menyatakan bahwa bacaan basmalah dalam shalat harus dikecilkan.
Tapi fatwa tersebut dikeluarkan Imam Ahmad demi menghormati paham ulama-ulama di
Madinah, waktu itu, yang memandang sebaliknya. Sebab, menurut ulama-ulama Madinah itu,
mengeraskan bacaan basmalah dalam shalat jihar itu lebih utama.

Kedua, tidak mengklaim bahwa pendapatnyalah yang benar

Menarik untuk disimak bahwa mulai dari generasi para sahabat sampai dengan ulama mujtahid,
mereka sangat berhati-hati dan tidak mau ijtihadnya disebut hukum Allah atau syariat Allah.
Namun mereka mengatakan, Ini adalah pendapatku, jika benar ia berasal dari Allah, jika salah
maka ia berasal dari saya dan dari setan, Allah dan Rasul-Nya berlepas diri darinya (pendapat
saya).
Demikian juga Imam Syafii rahimahullah berkata: jika hadits-hadits yang menjadi peganganku
dalam berijtihad shahih maka inilah pendapat mazhabku. Dalam kesempatan lain beliau pun
tidak mau mengklaim bahwa pendapatnyalah yang paling benar dan tidak pernah salah seraya
berkata: Pendapatku adalah benar tapi masih ada kemungkinan salah, sementara pendapat orang
lain adalah salah tapi masih ada kemungkinan benar.

Ketiga, hindari sifat dengki, sombong dan meremehkan orang lain

Ketiga sifat ini dapat menutup hati dari menerima kebenaran dari orang lain. Setiap melihat
orang lain beramal atau beribadah berbeda dengan tata cara kita beribadah maka akan selalu
dikatakan mereka tidak punya ilmu, kita tidak perlu ikut-ikutan dan terpengaruh dengan orang-
orang bodoh beribadah seperti mereka. Sikap yang kita tampilkan itu terkesan seolah-olah hanya
kitalah yang paling benar, paling alim, paling cerdas dan paling paham segala-galanya sehingga
kita akan menutup diri untuk belajar dan berguru kepada orang-orang yang berbeda pendapat
dengan kita. Sampai-sampai tidak mau mendengarkan pendapat kecuali hanya dari orang-orang
tertentu saja dan telah dikultus.

5) 5. Hubungan Antara Agama dengan Kebudayaan


Seperti halnya kebudayaan, agama sangat menekankan makna dan signifikasi sebuah
tindakan. Karena itu sesungguhnya terdapat hubungan yang sangat erat antara kebudayaan dan
agama bahkan sulit dipahami kalau perkembangan sebuah kebudayaan dilepaskan dari pengaruh
agama. Sesunguhnya tidak ada satupun kebudayaan yang seluruhnya didasarkan pada agama.
Untuk sebagian kebudayaan juga terus ditantang oleh ilmu pengetahuan, moralita, serta
pemikiran kritis.
Meskipun tidak dapat disamakan, agama dan kebudayaan dapat saling mempengaruhi.
Agama mempengaruhi sistem kepercayaan serta praktik-praktik kehidupan. Sebaliknya
kebudayaan pun dapat mempengaruhi agama, khususnya dalam hal bagaimana agama
diinterprestasikan atau bagaimana ritual-ritualnya harus dipraktikkan. Tidak ada agama yang
bebas budaya dan apa yang disebut Sang Illahi tidak akan mendapatkan makna manusiawi yang
tegas tanpa mediasi budaya, dalam masyarakat Indonesia saling mempengarui antara agama dan
kebudayaan sangat terasa. Praktik inkulturasi dalam upacara keagamaan hampir umum dalam
semua agama.
Agama yang digerakkan budaya timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang
diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup
pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif. Budaya agama
tersebut akan terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam
kondisi objektif dari kehidupan penganutnya.
Hubungan kebudayaan dan agama tidak saling merusak, kuduanya justru saling
mendukung dan mempengruhi. Ada paradigma yang mengatakan bahwa Manusia yang
beragma pasti berbudaya tetapi manusia yang berbudaya belum tentu beragama.
Jadi agama dan kebudayaan sebenarnya tidak pernah bertentangan karena kebudayaan
bukanlah sesuatu yang mati, tapi berkembang terus mengikuti perkembangan jaman. Demikian
pula agama, selalu bisa berkembang di berbagai kebudayaan dan peradaban dunia.