Anda di halaman 1dari 9

F.6.

Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM)


Upaya Pengobatan Dasar
Puskesmas Kaliwiro, Wonosobo
Februari 2016 - Mei 2016
Dermatitis Kontak Alergi

dr. Khuriyatun Nahdifah


Latar Belakang Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis)
sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor
endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik
(eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi) dan keluhan
gatal. Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan
mungkin hanya beberapa (oligomorfik). Dermatitis cenderung residif
dan menjadi kronis.
Dermatitis kontak ialah dermatitis yang disebabkan oleh
bahan atau substansi yang menempel pada kulit. Dikenal dua macam
jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan (DKI) dan
dermatitis kontak alergik (DKA), keduanya dapat bersifat akut
maupun kronik. Dermatitis iritan merupakan reaksi peradangan kulit
nonimunologik, sehingga kerusakan kulit terjadi langsung tanpa
didahului proses sensitisasi. Sebaliknya, dermatitis kontak alergik
terjadi pada seseorang yang telah mengalami sensitisasi terhadap
suatu alergen.
Bila dibandingkan dengan DKI, jumlah penderita DKA lebih
sedikit, karena hanya mengenai orang yang keadaan kulitnya sangat
peka (hipersensitif). Diramalkan bahwa jumlah DKA maupun DKI
makin bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah produk yang
mengandung bahan kimia yang dipakai oleh masyarakat. Namun
informasi mengenai prevalensi dan insidensi DKA di masyarakat
sangat sedikit, sehingga berapa angka yang mendekati kebenaran
belum didapat .
Dahulu diperkirakan bahwa kejadian DKI akibat kerja
sebanyak 80% dan DKA 20%, tetapi data baru dari Inggris dan
Amerika Serikat menunjukkan bahwa dermatitis kontak akibat alergi
ternyata cukup tinggi yaitu berkisar antara 50 dan 60 persen.
Sedangkan dari satu penelitian ditemukan frekuensi DKA bukan
akibat kerja tiga kali lebih sering dari pada DKA akibat kerja). Usia
tidak mempengaruhi timbulnya sensitisasi, tetapi umumnya DKA
jarang ditemui pada anak-anak. Prevalensi pada wanita dua kali lipat
dibandingkan pada laki-laki. Bangsa kaukasian lebih sering terkena
DKA dari pada ras bangsa lain.
Penyebab DKA adalah bahan kimia sederhana dengan berat
molekul umumnya rendah (<1000 dalton), merupakan allergen yang
belum diproses, disebut hapten, bersifat lipofilik, sangat reaktif,
dapat menembus stratum korneum sehingga mencapai sel epidermis
dibawahnya. Berbagai faktor berpengaruh dalam timbulnya DKA,
misalnya potensi sensitisasi alergen, dosis perunit area, luas daerah
yang terkena, lama pajanan, oklusi, suhu dan kelembaban
lingkungan, vehikulum, dan pH. Juga faktor individu, misalnya
keadaan kulit pada lokasi kontak (keadaan stratum korneum,
ketebalan epidermis), status imunologik (misalnya sedang menderita
sakit, terpajan sinar matahari) .
Pentingnya deteksi dan penanganan dini pada penyakit DKA
bertujuan untuk menghindari komplikasi kronisnya. Apabila terjadi
bersamaan dengan dermatitis yang disebabkan oleh faktor endogen
(dermatitis atopik, dermatitis numularis, atau psoriasis) atau terpajan
oleh alergen yang tidak mungkin dihindari(misalnya berhubungan
dengan pekerjaan tertentu atau yang terdapat pada lingkungan
penderita) dapat menyebabkan prognosis menjadi kurang baik. Oleh
karena itu penting untuk diketahui apa dan bagaiman DKA sehingga
dapat menurunkan morbiditas dan memperbaiki prognosis DKA.
A. DEFINISI
Dermatitis kontak alergi (DKA) adalah suatu dermatitis
(peradangan kulit) yang timbul setelah kontak dengan alergen
melalui proses sensitisasi. Menurut National Occupational Health
and Safety Commision (2006) DKA adalah dermatitis yang
disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap bahan-
bahan kimia yang kontak dengan kulit dan dapat mengaktivasi
reaksi alergi.
B. ETIOLOGI
Penyebab dermatitis kontak alergi adalah alergen, paling
sering berupa bahan kimia dengan berat molekul kurang dari 500-
1000 Da, yang juga disebut bahan kimia sederhana. Dermatitis
yang timbul dipengaruhi oleh potensi sensitisasi alergen, derajat
pajanan, dan luasnya penetrasi di kulit.
Berbagai faktor berpengaruh dalam timbulnya dermatitis
kontak alergi. Misalnya antara lain:
a. Faktor eksternal
1. Potensi sensitisasi alergen
2. Dosis per unit area
3. Luas daerah yang terkena
4. Lama pajanan
5. Oklusi
6. Suhu dan kelembaban lingkungan
7. Vehikulum
8. pH
b. Faktor internal
1. Keadaan kulit pada lokasi kontak
Contohnya ialah ketebalan epidermis dan keadaan stratum
korneum.
2. Status imunologik
Misal orang tersebut sedang menderita sakit, atau terpajan
sinar matahari.
3. Genetik
Faktor predisposisi genetik berperan kecil, meskipun
misalnya mutasi null pada kompleks gen fillagrin lebih
berperan karena alergi nik.
4. Status higinitas dan gizi.

C. MANIFESTASI KLINIS
Penderita umumnya mengeluh gatal. Kelainan kulit bergantung
pada keparahan dermatitis dan lokalisasinya. Pada yang akut dimulai
dengan bercak eritematosa yang berbatas jelas kemudian diikuti
edema, papulovesikel, vesikel atau bula. Vesikel atau bula dapat
pecah menimbulkan erosi dan eksudasi (basah). DKA akut di tempat
tertentu, misalnya kelopak mata, penis, skrotum, eritema dan edema
lebih dominan daripada vesikel.
D. PENEGAKAN DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Dari anamnesis dapat ditanyakan mengenai kontaktan yang
dicurigai didasarkan kelainan kulit, selain itu ditanyakan pula
riwayat pekerjaan, hobi, obat topikal yang pernah digunakan,
obat sistemik, kosmetika, bahan-bahan yang diketahui
menimbulkan alergi, penyakit kulit yang pernah dialami, riwayat
atopi, baik dari yang bersangkutan maupun keluarganya.
2. Pemeriksaan Fisik
Penampilan klinis DKA dapat bervariasi tergantung pada lokasi
dan durasi. Pada kebanyakan kasus, erupsi akut ditandai dengan
makula dan papula eritema, vesikel, atau bula, tergantung pada
intensitas dari respon alergi. Namun, dalam DKA akut di daerah
tertentu dari tubuh, seperti kelopak mata, penis, dan skrotum,
eritema dan edema biasanya mendominasi dibandingkan vesikel.
Batas-batas dermatitis umumnya tidak tegas. DKA pada wajah
dapat mengakibatkan pembengkakan periorbital yang
menyerupai angioedema. Pada fase subakut, vesikel kurang
menonjol, dan pengerasan kulit, skala, dan likhenifikasi dini bisa
saja terjadi. Pada DKA kronis hampir semua kulit muncul
skaling, likhenifikasi, dermatitis yang pecah-pecah (membentuk
fisura), dengan atau tanpa papulovesikelisasi yang
menyertainya.

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Uji Tempel
Tempat untuk melakukan uji tempel biasanya di punggung.
Bahan yang secara rutin dan dibiarkan menempel di kulit,
misalnya kosmetik, pelembab, bila dipakai untuk uji tempel,
dapat langsung digunakan apa adanya. Bila menggunakan bahan
yang secara rutin dipakai dengan air untuk membilasnya,
misalnya sampo, pasta gigi, harus diencerkan terlebih dahulu.
Bahan yang tidak larut dalam air diencerkan atau dilarutkan
dalam vaselin atau minyak mineral. Produk yang diketahui
bersifat iritan, misalnya deterjen, hanya boleh diuji bila diduga
keras penyebab alergi. Apabila pakaian, sepatu, atau sarung
tangan yang dicurigai penyebab alergi, maka uji tempel
dilakukan dengan potongan kecil bahan tersebut yang direndam
dalam air garam yang tidak dibubuhi bahan pengawet, atau air,
dan ditempelkan di kulit dengan memakai Finn chamber,
dibiarkan sekurang-kurangnya 48 jam.
2. Pemeriksaan Histopalogi
Pemeriksaan histopatologi pada dermatitis kontak dapat
ditemukan gambaran sebagai berikut :
a. Epidermis: Hiperkeratosis, serum sering terjebak dalam
stratum korneum, hiperplastik, akantosis yang luas serta
spongiosis, yang kadang vesikuler. Manifestasi dini
ditandai dengan penonjol dari jembatan antar sel di lapisan
spinosus kemudian ada epidermotropism dari limfosit
yang muncul normal.
b. Dermis: Limfosit perivesikuler, eosinofil: bervariasi,
muncul awal dan karena sebab alergi serta edema

Gambar 1. Histopatologik dermatitis kontak alergi

A. Diagnosis Banding
1. Dermatitis Kontak Iritan (DKI)
Berbeda dengan DKA, pada DKI tidak terdapat sensitasi dari
pajanan atau iritan. Gambaran lesi pada DKI tergantung pada
sifat iritan. DKI diklasifikasikan menjadi beberapa kategori
berdasarkan penyebab dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya. DKI akut lebih mudah diketahui karenea
munculnya lebih cepat sehingga penderita masih ingat apa yang
menjadi penyebabnya. DKI kronis timbulnya lambat dan
mempunyai variasi gambaran klinis yang luas sehingga sulit
dibedakan dengan DKA.
2. Dermatitis Atopi
Dermatitis Atopi merupakan keadaan radang kulit
kronis dan residif, disertai dengan gatal yang umumnya
sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak.
Sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE
dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga
penderita.

Permasalahan Pada hari Senin tanggal 12 Februari 2016 terdapat kasus seorang pasien
dengan identitas berikut di BP Puskesmas Kaliwiro
Nama : Ny. R
Umur : 48 TH
JK : Perempuan
Alamat : Tracap 2/5 Kaliwiro
Pekerjaan : Tani
Pendidikan : SD
Agama : Islam

A. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Gatal di leher
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Puskesmas Kaliwiro pada tanggal 12 Februari
2016 dengan keluhan gatal di leher. Awalnya pasien merasakan
gatal sejak menggunakan kalung perak satu bulan yang lalu.
Gatal di leher dirasakan kambuh- kambuhan terutama saat pasien
menggunakan kalung. Gatal dileher semakin lama semakin berat
sehingga cukup mengganggu kegiatan sehari- hari pasien. Selain
gatal dileher pasien juga mengeluhkan leher menjadi merah,
semakin lama semakin hitam, kaku dan kering. Untuk
mengurangi rasa gatalnya pasien menggaruk lehernya dan
menjadi perih. Selain itu pasien juga mengoleskan bedak salicyl.
Pasien pernah mencoba untuk tidak menggunakan kalung dan
rasa gatalnya berkurang. Karena dirasa keluhanya membaik,
pasien kembali menggunakan kalungnya dan rasa gatalnya
kambuh kembali. Sehingga pasien memutuskan untuk periksa ke
puskesmas.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat keluhan yang sama disangkal
Riwayat alergi disangkal

4. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat keluhan yang sama disangkal
Riwayat alergi disangkal
5. Riwayat pengobatan
Pasien tidak pernah mendapatkan pengobatan sebelumnya.
6. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien bekerja sebagai petani. Kesan ekonomi menengah
kebawah. Pasien mendapatkan jaminan kesehatan untuk
pengobatan.
7. Riwayat Gizi
Setiap hari pasien makan tiga kali dengan menu yang cukup.
Nasi, sayur dan lauk pauk.
B. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum: baik
Kesadaran: compos mentis
Vital Sign:
Tekanan darah : 120/80mmHg
Nadi : 84x/ menit
Suhu : Kesan afebris
Pernafasan : 20x/ menit

Kepala: konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), edema (-/-),


ptosis (-/-)
Leher: kelenjar getah bening tidak teraba, massa (-)
Thoraks:
Jantung: S1 > S2 reguler, bising (-)
Paru: pengembangan paru simetris, suara dasar vesikuler,
suara tambahan (-)
Abdomen:
Supel, timpani, BU (+) dbn, nyeri tekan (-)
Hepar: kesan ukuran dbn, tidak teraba massa
Lien: kesan ukuran dbn
Ekstrimitas: edema (-), akral dingin (-)
Status dermatologis:
Regio Colli / leher
UKK : makula eritema dan makula hiperpigmentasi ditutupi skuama
halus

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan

Perencanaan dan Terapi yang diberika pada pasien dengan dermatitis ontak alergi
Pemilihan ini meliputi
Intervensi Yang pertama pemberian terapi simptomatis, dapat diberikan
antihistamin yaitu Chlorpheniramine Maleat (CTM) sebanyak 3-
4 mg/dosis, sehari 2-3 kali untuk dewasa dan 0,09 mg/dosis,
sehari 3 kali untuk anak anak untuk menghilangkan rasa gatal.
Dapat juga diberikan Kortikosteroid yaitu prednison sebanyak 5
mg, sehari 3 kali. Jika terdapat infeksi sekunder diberikan
antibiotika (amoksisilin atau eritromisin) dengan dosis
3x500mg/hari, selama 5 hingga 7 hari. Untuk terapi topikal dapat
diberikan krim desoksimetason 0,25%, 2 kali sehari.

Pelaksanaan Pasien diterapi menggunakan obat-obatan yang tersedia di puskesmas yaitu:


R/ CTM 4mg NO. XV
S 3 dd 1 tab pc
R/ Prednison 5mg NO.XV
S 3 dd 1tab pc
R/ Betamethasone Zalf NO.I
S 2 ue
Memberi edukasi mengenai kegiatan yang berisiko untuk terkena dermatitis
kontak alergi.
A. Menghindari substansi allergen.
B. Mengganti semua pakaian yang terkena allergen.
C. Mencuci bagian yang terpapar secepat mungkin dengan sabun, jika tidak
ada sabun bilas dengan air.
D. Menghindari air bekas cucian atau bilasan kulit yang terpapar allergen.
E. Bersihkan pakaian yang terkena alergen secara terpisah dengan pakaian
Monitoring dan Monitor dan evaluasi dilakukan pada saat pasien datang ke puskesmas,
Evaluasi
meliputi perkembangan terapi
Komentar /saran pendamping :
Wonosobo, Februari 2016
Peserta, Pendamping,

(dr. Khuriyatun Nadhifah) (dr. Dewanti Retnaningtyas)