Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN

PRAKTIKUM IV

POLA PENYEBARAN DALAM SUATU KOMUNITAS

OLEH:

NAMA : HARDIYANTI

STAMBUK : FIDI 15 023

KELOMPOK : III (TIGA)

ASISTEN PEMBIMBING : IRMAN, S.Si


JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2017

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kurva spesies area dalam ekologi adalah grafik yang menggambarkan

hubungan antara jumlah jenis dengan ukuran kuadrat. Grafik itu biasanya

menunjukkan pola pertambahan jumlah jenis yang relatif tajam pada ukuran

kuadrat kecil sampai pada suatu titik tertentu dan sesudah itu semakin

mendatar seiring dengan peningkatan ukuran kuadrat. Kurva spesies area ini
dapat digunakan untuk menentukan luas kuadrat tunggal minimum yang

mewakili suatu komunitas tumbuhan dari segi jenis penyusun. Dalam sampling

ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara

peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan.

Suatu populasi memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh individu-

individu yang membangun populasi tesebut. Kekhasan dasar suatu populasi

yang menarik bagi seorang ekolog adalah ukuran dan rapatannya. Jumlah

individu dalam populasi mencirikan ukurannya dan jumlah individu populasi

dalam suatu daerah atau satuan volume adalah rapatannya.

Kurva spesies area atau luas area minimum adalah suatu langkah awal

yang dilakukan untuk menganalisis suatu vegetasi yang menggunakan petak

contoh (kuadrat). Luas area minimum digunakan untuk memperoleh luasan

petak contoh suatu tipe vegetasi pada suatu habitat tertentu. Luas area tempat

pengambilan contoh komunitas tumbuhan sangat bervariasi tergantung dari

bentuk atau struktur vegetasi tersebut. Berdasarkan uraian sebelumnya, maka

dilakukan praktikum Kurva Spesies Area.

B. Rumusan Masalah

Permasalahan pada praktikum ini adalah bagaimana kurva spesies

tumbuhan pada kawasan hutan dengan vegetasi yang berbeda ?


C. Tujuan Praktikum

Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah untuk menentukan

kurva spesies tumbuhan pada kawasan hutan dengan vegetasi yang berbeda.
D. Manfaat Praktikum
Manfaat yang diperoleh pada praktikum ini adalah dapat menentukan

kurva spesies tumbuhan pada kawasan hutan dengan vegetasi yang berbeda.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Luas minimum atau kurva spesies area merupakan langkah awal yang

digunakan untuk menganalisis suatu vegetasi yang menggunakan petak contoh

(kuadrat). Luas minimum digunakan untuk memperoleh luasan petak contoh

(sampling area) yang dianggap representatif dengan suatu tipe vegetasi pada suatu

habitat tertentu yang sedang dipelajari. Luas petak contoh mempunyai hubungan

erat dengan keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut. Makin tinggi

keanekaragaman jenis yang terdapat pada areal tersebut, maka makin luas petak

contoh yang digunakan (Hidayat, 2014).

Vegetasi atau komunitas tumbuhan diberi nama atau digolongkan

berdasarkan spesies dan bentuk hidup tumbuhan yang dominan. Misalnya, suatu

komunitas vegetasi padang rumput, vegetasi pantai pasir, vegetasi kebun dan

vegetasi hutan bakau. Unit penyusun vegetasi adalah populasi, sedangkan unit

penyusun populasi adalah spesies atau semua individu yang sejenis yang berada di

tempat pengamatan yang dilakukan. Oleh karena itu, analisis vegetasi tumbuhan

dilakukan dengan cara mengamati individu dalam menyusun populasi, sehingga

dapat menggambarkan vegetasi berdasarkan karakteristik suatu populasi tersebut

(Rohman dkk., 2001).

Analisis kurva area jenis dilakukan untuk menentukan apakah jenis yang

tercatat pada petak berukuran 1x1m telah mewakili jumlah jenis di areal

penelitian. Data jenis- jenis dari setiap anak petak secara sistematik ditambah
untuk menghitung rata-rata jenis/kurva area seluas 1x1m. Luas area minimum

suatu plot akan terhenti apabila dalam plot tersebut tidak terjadi penambahan

spesies atau dapat terjadi penambahan tetapi kurang dari 10% (Samsoedin, 2009).

Terbentuknya pola keanekaragaman dan struktur spesies vegetasi hutan

merupakan proses yang dinamis, erat hubungannya dengan kondisi lingkungan,

baik biotik maupun abiotik. Tumbuhan bawah adalah tumbuhan yang terdapat di

bawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, yang meliputi rerumputan,

herba dan semak belukar. Tumbuhan bawah menempati stratum dengan lapisan

perdu, semak dan lapisan tumbuhan penutup tanah pada stratum yang lebih tinggi

(Soerianegara dan Indrawan 2008 dalam Hilwan, 2013).

III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu danTempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 16 April 2017,

pukul 08.00-10.00 WITA. Bertempat di Kawasan Hutan, Universitas Halu

Oleo.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini tercantum pada Tabel 1.

Tabel 1. Alat-alat praktikum serta fungsinya

No Nama Alat Jumla Kegunaan


. h
1. Patok kayu 6 Untuk membatasi plot
2. Alat tulis 1 Untuk mencatat hasil pengamatan
3. Tali raffia 3 Untuk menghitung jarak plot
4. Meteran 2 Untuk mengukut luas plot
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah vegetasi tanaman

tumbuhan sebagai objek pengamatan.


C. Prosedur kerja
Prosedur kerja pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Menentukan lokasi pengamatan.
2. Membuat plot ukuran 1x1, 1x2, 2x2, 2x4 dan seterusnya.
3. Mencatat jenis tumbuhan pada setiap penambahan plot.
4. Melakukan perhitungan jumlah spesies tumbuhan.
5. Melakukan pemberhentian pembuatan plot apabila tidak terjadi

penambahan spesies atau kurang dari 10%.


6. Membuat kurva spesies area.
D. Analisis Data

Depan Fakultas Farmasi


penambahan jenis
Luas Area Minimum = jumlah jenis

2
= 6 x 100 %

= 33,3% ,dst.

Belakang fakultas MIPA


penambahan jenis
Luas Area Minimum = jumlah jenis

1
= 6 x 100 %

= 16,6% ,dst
B. Pembahasan

Kurva spesies area atau luas area minimum adalah langkah awal yang

digunakan untuk menganalisis suatu vegetasi. Penentuan kurva spesies area

menggunakan petak contoh (kuadrat). Metode kuadrat merupakan metode

dalam penentuan luas area minimum dengan pembuatan plot dengan ukuran

tertentu, dalam bentuk persegi atau bentuk tertentu lainnya. Penggunaan

metode ini tergantung pada bentuk vegetasinya.

Metode kuadrat dibuat dengan cara membuat suatu plot ukuran 1x1 m

dan mencatat semua jenis tumbuhan yang berada dalam plot. Kemudian plot

diperluas menjadi 2 kali semula yaitu 1x2 m dan mencatat kembali jenis

tumbuhan yang terdapat dalam plot tersebut hingga plot berikutnya sampai

tidak ditemukan lagi penambahan jenis tumbuhan sebesar 10%.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada hutan biologi

depan fakultas farmasi menunjukan terdapat 6 jenis tumbuhan pada ukuran

plot 1x1 cm, 8 jenis pada plot 1x2m, 10 jenis pada plot 2x2m, 12 jenis pada

plot 2x3m, 14 jenis pada plot 4x4m. setiap plot terjadi penambahan spesies

yag bervariasi, tetapi pada plot 4x4 tejadi penambahan jumlah spesies yang
kurang dari 10% sehingga luas area terhenti. Sedangkan pengamatan kurva

spesies area yang dilakukan di belakang fakultas MIPA bahwa pada plot 1

terdapat 6 jenis tumbuhan dengan pertambahan jenis 4 spesies pada plot 1x2,

2 spesies pada plot 2x2, namun penambahan spesies terhenti pada plot

berukuran 2x4.
Pengamatan pada kurva spesies areanya menunjukkan bahwa

persentase pada kurva terlihat bahwa persentasenya naik turun. Hal ini

menunjukkan bahwa dalam suatu area terdapat beragam jenis tumbuhan

sebagai objek pengamatannya selain itu dipengaruhi oleh ukuran kawasan.

Banyak tidaknya spesies yang ditemukan pada suatu area ditentukan oleh

beberapa faktor yaitu faktor abiotik misalnya suhu, cahaya, air, angin dan lain-

lain, serta faktor biotik misalnya manusia, hewan maupun tumbuhan lain yang

juga berkompetisi untuk hidup dan berkembang dengan baik.

V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan pada praktikum ini adalah spesies tumbuhan yang terdapat

pada petak contoh dengan metode kuadrat yang dibuat harus dapat mewakili

keseluruhan spesies yang ada pada suatu habitat tersebut. Semakin luas petak

contohnya, maka semakin banyak spesies yang terdapat petak.


B. Saran
Saran saya pada praktikum ini adalah agar asisten selalu sabar dalam

membimbing kami.

DAFTAR PUSTAKA

Djufri, 2012, Analisis Vegetasi pada Savana Tanpa Tegakan Akasia (Acacia
Nilotica) di Taman Nasional Baluran Jawa Timur, Jurnal Ilmiah
Pendidikan Biologi, Biologi Edukasi, IV(2): 105

Hidayat, S., 2014, Kondisi Vegetasi di Hutan Lindung Sesaot Kabupaten Lombok
Barat Nusa Tenggara Barat sebagai Informasi Dasar Pengelolaan
Kawasan, Jurnal Vegetasi, III(2): 6

Hilwan, I., Mulyana, D., dan Pananjung, W., G., 2013, Keanekaraaman Jenis
Tumbuhan Bawah pada Tegakan Sengon Buto (Enterolobium
Cyclocarpum Griseb.) dan Trembesi (Samanea Saman Merr.) di Lahan
Pasca Tambang Batubara Pt Kitadin, Embalut, Kutai Kartanagara,
Kalimantan Timur, Jurnal Sil Vikultur tropika, IV(1): 6

Lianah, Anggoro, S., Rya, H., dan Izzati, M., 2013, Perbandingan Analisis
Vegetasi Lingkungan Alami Tetrastigma Glabratum di Hutan Lindung
Gunung Prau Sebelum dan Sesudah Eksploitasi, Jurnal Pengelolaan
Sumber Daya Alam dan Lingkungan, I(2): 204

Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha, 2001, Petunjuk Praktikum Ekologi


Tumbuhan, JICA, Malang.

Samsoedin, S., 2009, Dinamika Keanekaragaman Jenis Pohon pada Hutan


Produksi Bekas Tebangan di Kalimantan Timur, Jurnal Penelitian Hutan
dan Konservasi Alam, VI(1): 71-72