Anda di halaman 1dari 13

OBSERVASI PADA ANAK DOWN SYNDROME

DI SDLB NEGERI 2 INDRAMAYU

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok


Mata Kuliah Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus

Disusun Oleh Kelompok :


YULYANAH NIM 141641467
RUSTINIH NIM 141641463
NURHAYATI NIM 141641462

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH CIREBON
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Down syndrome adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan
fisik dan mental pada anak yang disebabkan adanya abnormalitas
perkembangan kromosom. Down syndrome dinamai sesuai nama dokter
berkebangsaan Inggris bernama Langdon Down, yang pertama kali
menemukan tanda-tanda klinisnya pada tahun 1866. Pada tahun 1959 seorang
ahli genetika Perancis Jerome Lejeune dan para koleganya, mengidentifikasi
basis genetiknya.
Manusia secara normal memiliki 46 kromosom, sejumlah 23 diturunkan
oleh ayah dan 23 lainnya diturunkan oleh ibu. Para individu yang mengalami
down syndrome hampir selalu memiliki 47 kromosom, bukan 46. Ketika
terjadi pematangan telur, 2 kromosom pada pasangan kromosom 21, yaitu
kromosom terkecil gagal membelah diri. Jika telur bertemu dengan sperma,
akan terdapat kromosom 21 yang istilah teknisnya adalah trisomi 21. Down
syndrome bukanlah suatu penyakit maka tidak menular, karena sudah terjadi
sejak dalam kandungan.
Bayi yang mengalami down syndrome jarang dilahirkan oleh ibu yang
berusia di bawah 30 tahun, tetapi risiko akan bertambah setelah ibu mencapai
usia di atas 30 tahun. Pada usia 40 tahun, kemungkinannya sedikit di atas 1
dari 100 bayi, dan pada usia 50 tahun, hampir 1 dari 10 bayi. Risiko terjadinya
down syndrome juga lebih tinggi pada ibu yang berusia di bawah 18 tahun.
Masalah ini penting, karena seringkali terjadi di berbagai belahan dunia,
sebagaimana menurut catatan Indonesia Center for Biodiversity dan
Biotechnology (ICBB) Bogor, di Indonesia terdapat lebih dari 300 ribu anak
pengidap down syndrome. Sedangkan angka kejadian penderita down
syndrome di seluruh dunia diperkirakan mencapai 8 juta jiwa. Angka kejadian
kelainan down syndrome mencapai 1 dalam 1000 kelahiran. Di Amerika
Serikat, setiap tahun lahir 3000 sampai 5000 anak dengan kelainan ini.
Sedangkan di Indonesia prevalensinya lebih dari 300 ribu jiwa. Dalam
beberapa kasus, terlihat bahwa umur wanita terbukti berpengaruh besar
terhadap munculnya down syndrome pada bayi yang dilahirkannya.
Kemungkinan wanita berumur 30 tahun melahirkan bayi dengan down
syndrome adalah 1:1000. Sedangkan jika usia kelahiran adalah 35 tahun,
kemungkinannya adalah 1:400. Hal ini menunjukkan angka kemungkinan
munculnya down syndrome makin tinggi sesuai usia ibu saat melahirkan.
Pengetahuan tentang anak sudah lama dikenal. Pada zaman Romawi dan
Yunani sudah ada para ahli yang memperhatikan pendidikan anak walaupun
pada saat itu anak belum dipandang sebagai bentuk manusia tersendiri.
Penelitian terhadap anak dan buku-buku mengenai perkembangan jiwa anak
pada zaman dahulu masih sangat minim bahkan belum ada. Namun kemudian
studi sistematis tentang perkembangan anak mengalami perkembangan yang
cukup signifikan pada awal abad ke-20. Penelitian-penelitian yang dilakukan
pada zaman ini bersifat deskriptif dan dititikberatkan pada ciri-ciri khas yang
terdapat secara umum, golongan-golongan umur, serta masa-masa
perkembangan tertentu. Seperti yang telah dipaparkan di atas bahwa
perkembangan anak bersifat diskriptif sesuai dengan golongan umurnya,
namun ada kondisi dimana anak memerlukan perhatian khusus. Pendidikan
adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi SDM. Upaya
peningkatan mutu pendidikan menjadi bagian terpadu dari upaya peningkatan
kualitas manusia, baik aspek kemampuan, kepribadian, maupun tanggung
jawab sebagai warga masyarakat bahkan untuk anak berkebutuhan khusus.
Pendidikan inklusi memiliki fungsi untuk memfasilitasi anak berkebutuhan
khusus dalam ikut serta mengenyam pendidikan berdasarkan UUD 45 pasal
31 ayat 1 yang berisi Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan
pengajaran. Tujuan dari pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus
untuk mengoptimalkan kemampuan fisik, psikis, dan emosional dalam proses
pembelajaran agar kelak dapat ikut berperan serta dalam kehidupan
bermasyarakat seperti anak normal lainnya.
Dilatarbelakangi pemaparan di atas, penyusun pun melakukan sebuah
observasi terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, dan penyusun
memfokuskan kepada anak penderita Down Syndrome.
2. Tujuan Observasi
Tujuan dibuatnya laporan ini selain sebagai tugas individu pada mata
kuliah Dasar-dasar anak Berkemampuan Khusus juga agar pembaca
mengetahui tentang apa saja karakteristik anak Down Syndrome dan
bagaimana proses belajar-mengajar anak penderita Down Syndrome beserta
maslah-masalah yang muncul pada dirinya.
BAB II
HASIL PENGAMATAN

2.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


a. Waktu Observasi
Observasi dilaksanakan pada hari Senin, 18 Januari 2016, Pukul 09.00
10.30 WIB
b. Tempat Pelaksanaan Observasi
Observasi ini dilakasanakan di SDLB Negeri 2 Indramayu
Jl. D. I. Panjaitan No. 22/D Lemah Mekar - Kabupaten Indramayu

2.2. Metodelogi pengamatan


Observasi ini dilakukan secara berkelompok. Adapun kelompok kami
terdiri dari 3 orang mahasiswa saja. Semua anggota kelompok memasuki
kelas yang ada di SLB tersebut, dan kelompok saya berada di SLB C yang
berjumlah 9 orang setiap kelasnya yaitu tempat anak-anak penderita
gangguan Tunagrahita. Dalam Observasi ini dilakukan dua tahap metode
wawancara yaitu wawancara anak penderita Dwon Syndrome dan
wawancara wali kelas.

2.3. Profil Anak


Adapun profil anak penderita Down syndrome yang saya amati sebagai
berikut :
Nama : K
Umur : 9 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tinggi badan : 120 cm
Jenis kelainan : Down syndrome
Kelas : kelas 4 SD
Alamat : Jalan Desa Pagirikan Kec. Pasekan Kab.Indramayu

2.4. Hasil Pengamatan


Tabel 1.1 Hasil Pengamatan Diri K
Seperti ciri-ciri anak Down Syndrome pada umumnya.
Fisik Mata K sipit, hidungnya datar, lidahnya kecil, lehernya
pendek, telapak tangan segi 4 dan lebih senang
mengenggam kedua tangannya.
K masih bisa melihat tulisan-tulisan di apan tulis namun
Penglihatan jika tulisan itu kecil dia mengalami kesulitan untuk
melihat. Pandangannya tidak fokus ke satu arah terlalu
lama, ia lebih sering melihat ke segala arah.
Pendengara Pendengaran K masih berfungsi dengan baik.
n
K mengalami keterlambatan dalam berpikir. Ia juga
memiliki daya ingat yang kurang, sehingga guru K harus
memberi pelajaran yang sama berulang-ulang. Saat
berbicara dengan K harus dengan suara keras dan
Intelektual terkadang perlu diulang agar dia memahami apa yang kita
bicarakan. Namun K bisa mengenal huruf dengan baik,
hanya saja tidak dapat mengeja kata-kata tanpa bantuan
orang lain. Belum terlihat bakat yang menonjol dari diri K .
Debil (IQ 50-69).
Tidak terlalu jelas dalam mengucapkan kata-kata, seperti
Bahasa anak balita yang baru belajar berbicara. K jarang berbicara
jika tidak di pancing.
Baik, terkadang tidak stabil. Saat bertemu dengan orang
Sosial yang baru K lihat, ia sedikit pemalu saat di dekati. Namun
Emosional lama-lama ia mulai bisa terbiasa dengan orang tersebut dan
mau ketika diajak bermain bersama. Dia juga senang
bermain bersama teman-temannya.
Perilaku K tidak terlihat agresif atau pun nakal seperti
anak pada umunya, dia terlihat pendiam dan lebih sering
bergerak daripada berbicara. K hanya patuh dengan guru
yang dia suka saja, jika dengan orang tua, pengasuh, dan
guru yang lain dia tidak pernah mau patuh. Saat sang guru
mengatakan jangan atau kerjakan tugasnya K pun
patuh dan mengerjakan apa yang Ibu guru perintahkan.
Perilaku Senang bermain air, ketika ia pergi ke wc dan bermain air,
terkadang K jadi lupa akan kelasnya dan terus bermain.
Dan pada saat seperti itu hanya guru yang dia sukalah yang
bisa menghentikannya dan membawanya kembali ke kelas.
K juga mengerti ketika sang guru sedang memarahinya
sehingga dia pun bisa diam dan tidak mengulangi
kenakalannya itu.

Ada satu tingkah laku yang diluar dugaan saya saat mengamati K, saat saya
dan teman-teman sedang asik berbicara dengan guru K, K mengeluarkan
mie goreng yang ia sembunyikan di laci meja belajarnya dan memakannya
diam-diam. Hal ini membuktikan bahwa anak-anak penderita Down
syndrome seperti K memang gemar mengemil. K awalnya tidak bersekolah
di SLB, awalnya Ibu K menyekolahkan ia di SD tempat Ibunya bekerja.
Namun di sana K tidak bisa berkembang dengan baik, keadaannya malah
bertambah parah dan menjadi Temper Tantrum karena di sekolah normal tidak
ada yang bisa memahaminya. Karena masih menjadi murid baru pihak
sekolah belum mengetahui bakat apa yang menonjol dari diri K .
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Pengertian Anak Down Syndrome


Sindrom down (bahasa Inggris: Down Syndrome) merupakan kelainan
kromosom yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang cukup
khas. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan
mental anak ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John Longdon
Down. Karena ciri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relative
pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongolia
maka sering juga dikenal dengan Mongoloid. Pada tahun 1970an para ahli
dari Amerika dan Eropa merevisi nama dari kelainan yang terjadi pada anak
tersebut dengan merujuk penemu pertama kali syndrome ini dengan istilah
sindrom down dan hingga kini penyakit ini dikenal dengan istilah yang sama.
Down syndrome merupakan kelainan kromosom yakni terbentuknya
kromosom 21 (trisomy 21), Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan
sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.

3.2. Karakteristik Anak Down Syndrome


Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan diketahui beberapa
karakteristik anak penderita Down Syndrome. Penderita Down Syndrome
memiliki ciri-ciri bertubuh pendek (sekitar 120cm), wajah berbentuk bulat
(anak dengan 1000 wajah, karena rata-rata anak penderita Down Syndrome ini
memiliki wajah yang sama), kelopak mata atas mempunyai lipatan, mata
sipit, bibir tebal, hidung lebar dan datar, telinga kecil dan menjorok, telapak
tangan lebar, jari berukuran pendek dan gemuk, ujung jari-jari halus, gigi
kecil dan jarang (pada beberapa anak, giginya rusak), pada beberapa anak air
liur sering menetes, gemar mengemil, bicaranya tidak jelas (bahkan pada
beberapa anak, tidak dapat berbicara), mempunyai kelainan jantung, lemah
mental, dan IQ rendah (anak-anak penderita Down Syndrome yang
bersekolah di tempat observasi dilakukan hanya anak-anak imbisil (IQ 25-49)
dan debil (IQ 50-69). Untuk anak idiot (IQ 24), pihak sekolah tidak
menerima).

3.3. Penyebab Gangguan Down Syndrome


Anak dengan Sindrom Down mempunyai jumlah kromosom 21 yang
berlebih ( 3 kromosom ) di dalam tubuhnya yang kemudian disebut trisomi
21. Adanya kelebihan kromosom menyebabkan perubahan dalam proses
normal yang mengatur embriogenesis. Materi genetik yang berlebih tersebut
terletak pada bagian lengan bawah dari kromosom 21 dan interaksinya
dengan fungsi gen lainnya menghasilkan suatu perubahan homeostasis yang
memungkinkan terjadinya penyimpangan perkembangan fisik ( kelainan
tulang ), SSP ( penglihatan, pendengaran ) dan kecerdasan yang terbatas. Pada
kebanyakan kasus karena kelebihan kromosom (47 kromosom, normal 46,
dan kadang-kadang kelebihan kromosom tersebut berada ditempat yang tidak
normal). Faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya kelainan kromosom
a. Genetik
Karena menurut hasil penelitian epidemiologi mengatakan adanya
peningkatan resiko berulang bila dalam keluarga terdapat anak dengan
syndrom down.
b. Radiasi
Ada sebagian besar penelitian bahwa sekitar 30 % ibu yang melahirkan
ank dengan syndrom down pernah mengalami radiasi di daerah sebelum
terjadi konsepsi.
c. Infeksi Dan Kelainan Kehamilan
d. Autoimun dan Kelainan Endokrin Pada ibu
Terutama autoimun tiroid atau penyakit yang dikaitkan dengan tiroid.
e. Umur Ibu
Apabila umur ibu diatas 35 tahun diperkirakan terdapat perubahan
hormonal yang dapat menyebabkan non dijunction pada kromosom.
Perubahan endokrin seperti meningkatnya sekresi androgen, menurunnya
kadar hidroepiandrosteron, menurunnya konsentrasi estradiolsistemik,
perubahan konsentrasi reseptor hormon danpeningkatan kadar LH dan
FSH secara tiba-tiba sebelum dan selam menopause. Selain itu kelainan
kehamilan juga berpengaruh.
f. Umur Ayah
Selain itu ada faktor lain seperti gangguan intragametik, organisasi
nukleolus, bahan kimia dan frekuensi koitus.
Ibu hamil setelah lewat umur (lebih dari 40 th) kemungkinan
melahirkan bayi dengan Down syndrome. Infeksi virus atau keadaan yang
mempengaruhi susteim daya tahan tubuh selama ibu hamil. 44 % syndrom
down hidup sampai 60 tahun dan hanya 14 % hidup sampai 68 tahun.
Tingginya angka kejadian penyakit jantung bawaan pada penderita ini yang
mengakibatkan 80 % kematian. Meningkatnya resiko terkena leukimia pada
syndrom down adalah 15 kali dari populasi normal. Penyakit Alzheimer yang
lebih dini akan menurunkan harapan hidup setelah umur 44 tahun. Anak
syndrom down akan mengalami beberapa hal berikut :
1. Gangguan tiroid
2. Gangguan pendengaran akibat infeksi telinga berulang dan otitis serosa
3. Gangguan penglihatan karena adanya perubahan pada lensa dan kornea 4.
Usia 30 tahun menderita demensia (hilang ingatan, penurunan kecerdasan
danperubahan kepribadian)

3.4. Cara Belajar Anak Penderita Down Syndrome


Menurut informasi yang penyusun peroleh dari wawancara dengan Ibu
guru K , kondisi emosional anak-anak penderita Down Syndrome itu sangat
mudah berubah dan sulit ditebak. Terkadang anak-anak penderita Down
Syndrome tampak begitu menyayangi gurunya, mereka mengelus lembut
wajah gurunya, namun tidak lama setelah itu, mereka langsung menampar
gurunya. Ibu guru kembali memberikan informasi bahwa cara mengajar di
kelas anak penderita Down Syndrome itu sangat berbeda dari mengajar di
kelas anak-anak berkebutuhan khusus apalagi anak-anak normal. Selain
karena kondisi emosional anak-anak penderita Down Syndrome ini sangat
labil, mereka juga memiliki IQ yang rendah. Di karnakan IQ mereka yang
rendah itulah anak-anak penderita Down Syndrome cepat sekali lupa dengan
pelajaran yang telah mereka pelajari, terkadang pelajaran yang di
sampaikan pun harus di ulang-ulang agar mereka bisa memahami. Saat
menjelaskan Ibu guru K harus menggunakan nada yang tinggi juga mimik
mulut yang tegas agar K mengerti apa yang diperintahkan ibu gurunya.
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Anak penderita Down Syndrome disebut juga mongolisme.
Penderita Down Syndrome memiliki ciri-ciri bertubuh pendek (sekitar
120cm), wajah berbentuk bulat, kelopak mata atas mempunyai lipatan,
mata sipit, bibir tebal, hidung lebar dan datar, telinga kecil dan menjorok,
telapak tangan lebar, jari berukuran pendek dan gemuk, ujung jari-jari
halus, gigi kecil dan jarang (pada beberapa anak, giginya rusak), air liur
sering menetes, bicaranya tidak jelas (bahkan pada beberapa anak, tidak
dapat berbicara), mempunyai kelainan jantung, lemah mental, dan IQ
rendah.
Kondisi emosional anak-anak penderita Down Syndrome itu sangat
mudah berubah (labil) dan sulit ditebak.
Guru harus memiliki inovasi dan kreativitas setiap harinya untuk menarik
perhatian dari murid-murid penderita Down Syndrome.
Salah satu tantangan terberat bagi para guru yaitu memahami apa
keinginan muridnya.
Sebagian besar kegiatan fisik mudah dilatih pada anak penderita Down
Syndrome, sebab umumnya kegiatan fisik tidak membutuhkan aktivitas
mental.