Anda di halaman 1dari 13

Profil Perusahaan

A. DASAR PENDIRIAN

Aktivitas kedirgantaraan di Indonesia dimulai tahun 1946 dengan dibentuknya Biro Rencana
dan Konstruksi Pesawat di lingkungan Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara di
Madiun, yang kemudian dipusatkan di Andir, Bandung. Tahun 1953, kegiatan tersebut
mendapat wadah baru dengan nama Seksi Percobaan yang pada tahun 1957 berubah menjadi
Sub Depot Penyelidikan, Percobaan dan Pembuatan Pesawat Terbang. Tahun 1960, Sub
Depot ini ditingkatkan menjadi Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP) yang
kemudian berubah menjadi Komando Pelaksanaan Industri Pesawat Terbang (KOPELAPIP)
yang pada tahun 1966 digabung dengan PN Industri Pesawat Terbang Berdikari menjadi
Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR).

Pada tahun 1975, PT Pertamina membentuk Divisi Advanced Technology dan Teknologi
Penerbangan (ATTP) yang bertujuan menyiapkan infrastruktur bagi industri kedirgantaraan di
Indonesia. Berdasarkan Akta Notaris No. 15, tanggal 24 April 1976, didirikan PT Industri
Pesawat Terbang Nurtanio, dipimpin oleh Prof. Dr. Ing. B.J.Habibie. Perusahaan ini
merupakan penggabungan antara LIPNUR dan ATTP. Kemudian pada bulan April 1986,
melalui Keputusan Presiden (KEPRES) N0. 15/1986 dan Rapat Umum Pemegang Saham
Perusahaan, nama perusahaan diganti menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara
(IPTN) dan tanggal 24 Agustus 2000, nama perusahaan secara resmi diubah oleh Presiden
Republik Indonesia saat itu menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Pada tahun 1998, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1998 tentang
Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia Untuk Pendirian Perusahaan Perseroan
(Persero) Di Bidang Industri, saham negara pada PT IPTN (Persero) dialihkan menjadi
penyertaan pada PT Bahana Pakarya Industri Strategis (Persero) (PT BPIS), dengan demikian
status PT IPTN berubah menjadi anak perusahaan PT BPIS.

Kemudian pada tahun 2002, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2002
tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia Ke Dalam Modal Saham PT
Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, PT Pindad, PT Dahana, PT Krakatau Steel, PT
Barata Indonesia, PT Boma Bisma Indra, PT In dustri Kereta Api, PT Industri
Telekomunikasi Indonesia Dan PT LEN Industri Dan Pembubaran Perusahaan Perseroan
(Persero) PT Bahana Pakarya Industri Strategis, PT DI berubah menjadi badan hukum
persero.

B. VISI, MISI, DAN TUJUAN

Visi PT DI adalah menjadi perusahaan kelas dunia dalam industri berbasis pada penguasaan
teknologi tinggi dan mampu bersaing dalam pasar global dengan mengandalkan keunggulan
biaya.

Misi PT DI adalah sebagai pusat keunggulan di bidang industri dirgantara terutama dalam
rekayasa, rancang bangun, manufaktur, produksi dan pemeliharaan untuk kepentingan
komersial dan militer dan juga aplikasi di luar industri dirgantara. Menjalankan usaha dengan
selalu berorientasi pada aspek bisnis dan komersial dan dapat menghasilkan produk jasa yang
memiliki keunggulan biaya.

PT DI didirikan dengan tujuan untuk melakukan usaha di bidang perhubungan, komunikasi,


pertahanan dan keamanan dalam bentuk industri dan perdagangan produk dan jasa serta
optimalisasi pemanfaatan sumber daya Perseroan untuk menghasilkan barang dan/atau jasa
yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat untuk mendapatkan/mengejar keuntungan guna
meningkatkan nilai Perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.

Kegiatan usaha utama adalah memproduksi, memasarkan, menjual dan mendistribusikan


hasil produksi industri kedirgantaraan dan pertahanan & keamanan berupa pesawat terbang
dan helikopter, komponen pesawat terbang, pemeliharaan dan modifikasi pesawat terbang,
sistem persenjataan dan jasa teknologi.

D. STRUKTUR USAHA

Usaha Induk

Kegiatan usaha perusahaan (Induk) untuk menunjang visi, misi, dan tujuan perusahaan
tergambar dalam Portofolio Bisnis/Produk saat ini sebagai berikut:

1. Aircraft Integration, yaitu unit yang memproduksi pesawat terbang dan helikopter:

Pesawat Terbang NC 212-200 dan C 212-400

Helikopter NBELL-412

Helikopter NAS-332

Pesawat terbang CN235 dan CN295

2. Aerostructure, yaitu unit yang memproduksi tooling and airframe component pesawat
terbang untuk pabrik pesawat:

Airbus A320/321/330/340/350/380

Boeing : komponen B747-8/777/787

Eurocopter : komponen MK2, EC725

EADS: komponen CN235, C295, C212-400

3. Aircraft Services, yaitu unit yang melakukan MORA (Maintenance, Overhaul, Repair,
Alteration) bagi pesawat terbang:

Produksi PTDI: CN235, NBELL412, NBO-105, NC-212-100/200, NAS332

Non produksi PTDI seperti B737-200/300/400/500, A320, F100, F27

Distributor suku cadang pesawat terbang (customer logistic support)


4. Technology & Development, yaitu melakukan Engineering Design, IT System, and
Weapon System untuk:

Pesawat terbang produk PT DI

Desain untuk Alteration Aircraft Service

Desain Customization untuk Aircraft Integration

Torpedo SUT dan Roket 2,75 FFAR

Bisnis utama PT DI adalah memproduksi pesawat terbang dan helikopter yang dihasilkan
oleh Direktorat Aircraft Integration (AI) yang didukung oleh tiga direktorat usaha lainnya.
Direktorat Teknologi dan Pengembangan (DT) bertanggungjawab dalam mengembangkan
produk perusahaan, Direktorat Aerostructure (AE) membuat komponen produk PT DI
maupun komponen pesanan dan Direktorat Aircraft Services (AS) melakukan perawatan
purna jual terhadap pesawat produksi PT DI maupun pesawat lainnya.

Anak Perusahaan

PTDI memiliki beberapa anak perusahaan dan perusahaan patungan yang berada di Indonesia
dan di luar negeri:

1. Anak Perusahaan:

1. PT Nusantara Turbin dan Propulsi (PT NTP) di Bandung, 99,99% sahamnya dimiliki
oleh PT DI. Bidang usaha bergerak di bidang maintenance & overhaul serta
pembuatan part & Aeroengine component maupun non-aeroengine termasuk berbagai
jenis turbine.

2. IPTN North America, Inc (INA) di Seattle Amerika Serikat, 100% saham dimiliki
oleh PT DI. Bidang usaha mendukung kegiatan industri dan perdagangan di Indonesia
dengan memberikan jasa pemasaran dan memasok berbagai produk & jasa
engineering yang dibutuhkan bagi customer Indonesia dan Amerika.

2. Perusahaan Patungan:

1. PT GE Technology Indonesia (PT GETI) di Bandung, 10% sahamnya dimiliki PT DI,


10% dimiliki PT PAL Indonesia (Persero), dan 80% dimiliki GE Pacific. Bidang
usaha bergerak di bidang industri alat-alat kedokteran dan jasa konsultasi manajemen
di bidang peralatan kedokteran, engineering, industri, dan permesinan.

2. PT GE Nusantara Turbin Services (PT GENTS) di Bandung, 41,40% sahamnya


dimiliki PT DI, 40,20% dimiliki PT GETI, dan 18,40% dimiliki GE Pacific. Bidang
usaha bergerak di bidang service & repair GE dan non-GE combustion turbine,
component dan spare parts.

KONDISI DAN KINERJA PERUSAHAAN TAHUN 2006 - 2010

1. INDUSTRI SECARA UMUM


Tercatat 102 pesawat C212-200 dibangun dan diserahkan oleh PT DI kepada berbagai
pengguna, dimana 79 pesawat diantaranya masih terbang. PT DI masih memiliki 6 ariframe
C212-200. Saat ini, pemasaran C212-200 oleh PT DI lebih difokuskan pada pasar domestik
yakni pada 3 angkatan dan Polri serta terbatas pada upaya untuk menghabiskan stok yang
tersisa. Sejak tahun 2006, PT DI menjadi single sources untuk komponen NC212-400. 2 set
komponen telah dikirimkan ke fasilitas perakitan di Seville-Spanyol pada tahun 2010 dan 3
set dikirimkan pada tahun 2011. PT DI bertanggungjawab untuk menjual dan mengirimkan
C212-400 di wilayah ASEAN.

Sebanyak 256 pesawat CN-235 telah diserahkan sejak diluncurkan tahun 1983, 59diantaranya
dibuat dan diserahkan oleh PT DI. CN-235 merupakan co-design dan co-product dengan
porsi 50-50 bersama Airbus Military (dahulu CASA). Saat ini, CN235 sebagian besar
dipergunakan untuk military transport dengan pangsa pasar sekitar 50%. Adapun disegmen
lainnya CN235 bersaing ketat dengan Bombardier (DHC8), Saab (Saab340) dan Embraer
(Emb120). Menurut estimasi Bombardier, dalam 20 tahun ke depan jumlah permintaan
pesawat untuk kelas 20-59 diperkirakan hanya 200 unit, dimana 100 diantaranya untuk
pesawat bermesin jet dan 100 sisanya untuk pesawat turboprop.

PT DI memiliki potensi untuk penguatan kerjasama industri (industrial cooperation) dengan


Eurocopter dan Bell Helicopter Textron untuk meningkatkan produski dan penjualan
helikopter kelas light dan/atau intermediate. Selama periode 1976-2005, PT DI telah berhasil
menjual BO105 sebanyak 122 unit. Saat ini, permintaan pasar untuk BO105 cenderung
menurun, karena banyaknya produk baru yang lebih canggih dan efisien. Termasuk
permintaan helikopter jenis Bell412 dan AS332 yang relatif kecil. Namun demikian menurut
proyeksi dari Roll Royce, produk helikopter kelas light twin (sekelas BO105) dan
intermediate (sekelas Bell412 dan AS332) masih cukup menjanjikan dengan perkiraan
permintaan (light twin) dalam 10 tahun ke depan mencapai 4.400 unit. Untuk kebutuhan
domestik, PT DI memperkirakan ada potensi permintaan dari TNI/Polri sekitar 8 unit per
tahun untuk light twin, 5 untuk kelas medium, dan 2 untuk heavy transport.

PT DI merupakan pabrik pesawat terbang yang fokus pada fasilitas perakitan (final assembly)
dan filosofi disain, menjadikan peluang PT DI dalam mengembangkan bisnis pesawat
terbang. Portofolio bisnis Aerostructure terdiri dari Airframecomponent dan tooling untuk
berbagai jenis pesawat.

Dalam industri aerostructure, bisnis aerostructure harus bersaing dengan 3.109 leading
supplier di seluruh dunia. Bisnis aerostructure sangat bergantung pada jumlah permintaan
pesawat terbang yang oleh Alenia Aeronautica diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan
rata-rata 2% per tahun. Saat ini, PT DI telah menjadi supplier untuk tier 4 sampai tier 2.

Jasa perawatan pesawat terbang terus tumbuh seiring bertumbuhnya jumlah pesawat terbang
yang beroperasi. Namun hal tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas dan
kemampuan jasa perawatan pesawat terbang domestik khususnya PT DI, sehingga 70%
pangsa pasar diserap oleh perusahaan MRO di luar negeri. Rendahnya penyerapan tersebut
juga terkait dengan adanya persyaratan sertifikasi EASA dan/atau FAA bagi MRO provider.

1. KONDISI PERUSAHAAN TAHUN 2006 -2010


Secara umum kinerja perusahaan tahun 2006-2011 berfluktuasi. Kinerja binis berfluktuasi
dengan pencapaian perolehan kontrak baru rata-rata Rp1,10 triliun dan penjualan rata-rata
Rp760 miliar. Kinerja keuangan belum menunjukkan perbaikan, realisasi laba/bersih induk
tahun 2006-2011 secara akumulasi masih rugi. Likuiditas perusahaan/saldo kas akhir sangat
kritis. Total aset perusahaan tahun 2006-2010 terus mengalami penurunan dan ekuitas negatif.
Hal ini disebabkan oleh kondisi bisnis yang belum membaik, akumulasi kerugian perusahaan
yang besar. Dengan kinerja bisnis dan keuangan tersebut, tingkat kesehatan perusahaan tahun
2006-2011 masih berkisar antara tidak sehat dan kurang sehat (CCC-BBB). Jumlah SDM
(Karyawan tetap dan kontrak), mengalami sedikit peningkatan dari 3.869 orang pada tahun
2006 menjadi 4.174 pada tahun 2011.

Permasalahan utama yang dihadapi perusahaan adalah belum mampu memenuhi komitmen
on time delivery pesawat terbang dan ketidakseimbangan utilisasi fasilitas produksi
(manufacturing dan assembly). Selain itu, penjualan pesawat terbang dibawah kapasitas
terpasang (6 unit/tahun) dan demografi SDM yang tidak proporsional.

Terhadap permasalahan yang ada, strategis perusahaan di tahun 2012 2016 adalah
melakukan revitalisasi fasilitas produksi dan optimalisasi serta utilisasi kapasitas sehingga
terdapat peningkatan produktifitas dan produk yang kompetitif. Strategi perusahaan meliputi
upgrading dan penggantian permesinan di Aerostucture, peningkatan dan perbaikan proses
produksi pesawat terbang, peniangkatan kemampuan dan kapasitas Aicraft Services, update
software dan fasilitas laboratorium, productimprovement dari CN-235 dan kerjasama
pengembangan produk baru (pesawat baru) dengan lembaga Pemerintah, serta
penyempurnaan sistem informasi perusahaan terintegrasi.

Pada pertengahan tahun 2012, perusahaan mendapatkan PMN sebesar Rp1,00 triliun
(Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2012). PMN tersebut akan dialokasikan untuk modal
kerja dan penguatan Regenerasi & Dekomposisi SDM sebesar Rp293 miliar (modal
kerja/pembelian material dan komponen pesawat terbang serta komponen untuk follow on
support yang long lead time untuk memenuhi delivery tepat waktu dan/atau komponen
pesawat terbang dan helikopter sebesar Rp206 miliar dan untuk penguatan regenarasi &
dekomposisi SDM sebesar Rp87 miliar).

Selain itu, dana PMN juga dialokasikan untuk investasi fasilitas produksi berupa
pengembangan fasilitas produksi, peniangkatan kemampuan dan kapasitas, update software,
product improvement dan penyempurnaan sistem informasi perusahaan sebesar Rp707 miliar.

KINERJA PERUSAHAAN

1. ASPEK OPERASIONAL

Dalam 5 (lima) tahun terakhir perusahaan tidak mampu menyelesaikan program terkontrak
sesuai dengan jadwal, hal ini disebabkan karena:

1. Tidak tersedianya modal kerja yang cukup dan tepat waktu

2. Permesinan dan fasilitas produksi yang sudah tua

3. Sistem informasi yang belum terintegrasi


4. Demographi SDM yang tidak proporsional serta tidak tersedianya SDM yang cukup
untuk menyelesaikan program yang ada.

Portofolio produk PT DI terbatas pada 2 platform pesawat (angkut ringan dan menengah)
serta 2 model helikopter menengah dan juga belum ada pengembangan produk baru maupun
peningkatan produk sejak tahun 1999.

Tidak memiliki Green Flyable Aircraft sehingga akan sulit memenuhi permintaan pasar untuk
penyerahan pesawat dalam waktu singkat. Dalam proses pembuatan pesawat, selalu ada
proses re-design atas permintaan customer sehingga durasi penyelesaian pesawat menjadi
lama (24-30 bulan).

Kapasitas fasilitas produksi yang terbatas bahkan berkurang 60% akibat rusaknya hangar
pasca kecelakaan pesawat, membatasi ACS untuk meningkatkan penjualan. Dengan
terbatasnya sertifikasi (non produk PT DI) yang terbatas dan kesulitan pendanaan untuk
investasi, customer based ACS menjadi sedikit.

Kapasitas
Kelompok Mesin Jumlah
(Jam)

1. Machining 137 296.498

2. Metal Forming 30 167.851

3. Sub Assy & Welding 13 27.975

4. Bonding Composite 19 49.368

5. Surface Treatment 28 59.242

6. Pre Cutting 12 19.747

TOTAL 239 620.682

Mayoritas fasilitas produksi PT DI, terutama permesinan, rata-rata telah berumur > 20 tahun
sehingga produktifitasnya lebih rendah dibandingkan dengan teknologi terkini. Efisiensi
permesinan tercatat di kisaran 50%-80%. Fasilitas mesin yang sudah tua menyebabkan
produktivitas lebih rendah karena terdapat kapasitas produksi yang hilang akibat unplanned
downtime.
Utilisasi mesin untuk mengerjakan kontrak yang ada saat ini (backlog contract), termasuk
eksternal dan internal, sudah mencapai lebih dari 100% dengan menggunakan sistem kerja 2
shift. Kapasitas fasilitas produksi terbatas, terutama AE dan AS, dimana hampir seluruhnya
telah dialokasikan untuk mengerjakan backlog kontrak. Pemanfaatan sumberdaya yang belum
optimal, terutama AI dan DT, dimana terdapat kelebihan kapasitas yang belum dimanfaatkan
secara optimal.

2. ASPEK PEMASARAN

Pada akhir tahun 2008 Persero berhasil mendapat kontrak 4 (empat) unit CN235 dengan
KCG Korea Selatan senilai USD93,92 Juta dan akhir tahun 2009 mendapatkan kontrak 3
(tiga) unit CN235 dengan TNI-AL senilai USD80,00 Juta. Kontrak ini tidak dapat
diselesaikan sesuai dengan jadwal karena Persero kesulitan mendapatkan pinjaman modal
kerja tunai untuk kegiatan operasional dan pembelian material dan hanya berhasil
mendapatkan non cash loan. Hal ini berdampak pada tertundanya proses produksi dan
delivery.

Delivery dalam 5 tahun terakhir

Delivery
Customer
Jenis Pesawat Total Produk
Eksternal
T07 T08 T09 T10 T11

A-
1. CN 235 59 - 1 - - 3 SPIRIT IOFLE
380

2. NC 212 102 - - 1 - - A-
320 Pylon, D-Nose,
Leading edge
A- skin
3. NBO 105 121 1 - 1 - -
321

A- Fixed Leading
4. NBELL412 32 1 - - - 1
350 edge

CN-
5. NAS 332 33 - 1 - 1 - CASA Component
235

TOTAL 2 2 2 1 4 C- Component
212-4

A-
CTRM FLELP
380

B- Stiffener &
SMEA
777 Others

A- Beam & Nut


320 Strip

A-
Component
330

BOMBARDIER GX Slat skin

B-
KOREA WBX-Chord
777

EC
Tail Boom,
EUROCOPTER MK-
Long Fuselage
II

Selain dari perolehan kontrak penjualan pesawat tersebut di atas diperoleh juga kontrak
penjualan berupa modifikasi pesawat CN235 (AD Trade) senilai USD13,22 juta, perawatan
pesawat, penjualan roket dan jasa engeenering. Pada akhir tahun 2010 Persero mendapatkan
kontrak penjualan 1 (satu) unit Helikopter Super Puma NAS 332 dari TNI AU senilai
Rp179,33 Miliar, 1 (satu) unit Helikopter Bell 412 dari PUSPENERBAD senilai Rp99,87
miliar dan kontrak penjualan lainnya. Penurunan perolehan kontrak dimaksud dikarenakan
posisi ekuitas dan likuiditas perusahaan sangat rendah sehingga perusahaan hanya fokus
terhadap penyelesaian program yang sudah terkontrak.

Pada tahun 2011, Persero mendapatkan kontrak penjualan senilai Rp1,44 triliun yang terdiri 2
(dua) unit Super Puma NAS 332, 7 (tujuh) unit Bell 412, 1 (satu) unit C-212-400 dan kontrak
perawatan serta komponen pesawat terbang. Untuk dapat menyelesaikan kontrak-kontrak
yang telah diperoleh, Persero masih memerlukan modal kerja dari perbankan nasional.

3. ASPEK SUMBER DAYA MANUSIA


Komposisi Pegawai

18-25 26-30 31-35 36-40 41-45 46-49 >50

AE 523 157 40 41 140 335 493

AI 85 29 7 27 105 197 381

AS 17 19 9 14 79 89 152

KA 19 12 16 15 46 94 172

DTP 23 16 14 73 276 250 238

DU 7 5 3 3 14 27 73

Total 674 238 89 173 660 992 1509

Jumlah SDM cukup besar dengan komposisi yang tidak berimbang dimana 35% dengan usia
> 50 tahun. Dalam 5 tahun mendatang karyawan dengan golongan usia > 50 tahun (1509
orang) akan pensiun yang sebagian besar merupakan key personel yang memiliki pengalaman
pengembangan dan pembuatan pesawat secara utuh. Untuk Divisi Teknologi dan
Pengembangan, 27% karyawan tetap akan memasuki masa pensiun, dimana 2/3 adalah
dengan kompetensi engineering. Juga tidak adanya program pengembangan produk baru
sejak 1999 mengakibatkan utilisasi SDM rendah.

Generation gap karena proses regenerasi yang belum optimal. Usaha-usaha rekruitmen untuk
menjaring tenaga-tenaga muda yang potensial sudah dicoba dilakukan, tetapi para karyawan
tersebut umumnya tidak bertahan lama.

D. RENCANA BISNIS

Dalam menghadapi permasalahan tersebut di atas perusahaan telah mengajukan program


Restrukturisasi dan Revitalisasi (RR) kepada Menteri BUMN selaku kuasa Pemegang
Saham Persero. Menteri BUMN melalui surat nomor: S-642/MBU/2010 tanggal 21 Oktober
2010 telah menugaskan PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) (PT PPA) untuk membantu
PT DI dalam mendanai proyek-proyek terkontrak dan melakukan kajian dan penyusunan
Business Plan RR PT DI secara menyeluruh.
Persero bersama dengan PT PPA telah menyusun Strategi Program RR melalui tiga tahap
penyelesaian yakni tahap pertama Emergency Plan tahun 2011, tahap kedua Restrukturisasi
dan Stabilisasi tahun 2012 2014 dan tahap ketiga Pengembangan tahun 2015 ke atas.PT DI
atas persetujuan dari Menteri BUMN melakukan RR dengan bantuan dan dukungan dari PT
PPA.

Strategi PT DI 2011 s.d. 2015

2011 2012-2014 2015-dst

Emergency Plan Restrukturisasi & Stabilisasi Pengembangan

KEY STRATEGY KEY STRATEGY KEY STRATEGY

Mendukung
pemenuhan
kebutuhan alutsista
Restrukturisasi Melanjutkan
nasional
Keuangan restrukturisasi keuangan
Improve quick cash
business

Memasarkan dan
memproduksi
Mendukung pemenuhan produk baru pesawat
kebutuhan alutsista terbang
nasional
Penyelesaian
kontrak pesawat

Memiliki partner
strategis industri
Mengembangkan produk
pesawat terbang
& pemasaran
terkemuka yang
CN235/produk lainnya
tetap
melalui aliansi strategis
dengan AM
Program efisiensi
biaya operasi

Melaksanakan kerjasama Memiliki MRO


industri dengan dengan standar
internasional
Perusahaan Pesawat
Terbang Terkemuka Penjualan aset non
produktif

Meningkatkan daya saing


produk (delivery tepat
waktu dan biaya)

Penyelesaian
Peningkatan kehandalan
permasalahan
sistem informasi (ERP)
hukum

Restrukturisasi usaha &


regenrasi SDM

Kerjasama pengembangan
produk baru program
pesawat terbang yang
dibiayai lembaga/institusi
Pemerintah

Pada tahap emergency plan di tahun 2011, PT DI telah mendapatkan pinjaman dari dana
Restrukturisasi dan Revitalisasi PT PPA sebesar Rp675 miliar untuk menutupi proyeksi
defisit cash flow(modal kerja)di akhir tahun 2011. Selain itu pula dalam hal restrukturisasi
keuangan, PT DI telah mendapatkan PMN non cash sebesar Rp1.188 miliar dan penetapan
PMS sebesar Rp1.769 miliar. Pemberian PMN non cash tersebut telah dapat meningkatkan
kinerja PT DI dan dapat memberikan leverage pada PT DI dihadapan lembaga
keuangan/perbankan dalam mendapatkan pinjaman modal kerja.

Direktur Utama
Berikut adalah daftar Direktur Utama IPTN/Dirgantara Indonesia:
B.J. Habibie (1976- berhenti ketika mulai menjabat Wapres)

Paramayuda (sbg care taker s/d ditetapkan DirUt baru)

Jusman Syafii Djamal (2000-2002)

Edwin Sudarmo (2002-2005)

Muhammad Nuril Fuad (2005-2007) - bukan Direktur Utama tapi Direktur Umum.

Budi Santoso (2007-sekarang)

SIUP PT DIRGANTARA INDONESIA

Nama Perusahaan : DIRGANTARA INDONESIA, PT


N.P.W.P : 09.423.096.8-428.000
Status Usaha : BUMN
Alamat : Jl. pajajaran NO 154
Desa/Kelurahan : husein
Kecamatan : cicendo
Kota/Kab : Kota Bandung
Provinsi : Jawa Barat
Negara : Indonesia
Kode Pos : 40174
No. Telpon : 085779020255
No Fax : 6222602576
Anggota Asosiasi : None
Kategori Perusahaan :