Anda di halaman 1dari 9

LO1.

Memahami dan mempelajari susunan sirkulasi kapiler


1.1 Mekanisme sirkulasi kapiler

LO2. Memahami dan mempelajari albumin


2.1 Defenisi albumin
2.2 Fungsi albumin dalam tubuh
2.3 Kadar albumin
2.4 Mekanisme albumin dalam tubuh
2.5 Gangguan kelebihan dan kekurangan albumin

LO3. Memahami dan mempelajari tekanan hidrostatik dan tekanan koloid osmotik
3.1 Defenisi
3.2 Perbedaan
3.3 Mekanisme

LO4. Memahami dan mempelajari Edema dan Asites


4.1 Defenisi
4.2 Jenis-jenis
4.3 Penyebab
4.4 Mekanisme
4.5 Manifestasi klinik
4.6 Penatalaksanaan
4.7 Komplikasi

1.1 Mekanisme sirkulasi kapiler


Pertukaran antara darah dan jaringan sekitar melewati dinding kapiler berlangsung melalui
dua cara:
(1) Difusi pasif menuruni gradien konsentrasi, mekanisme utama untuk pertukaran tiap-
tiap zat terlarut
(2) Bulk flow, suatu proses yang mengisi fungsi berbeda dalam menentukan distribusi
volume CES antara kompartemen vaskular dan cairan interstisium.
(fisiologi sherwood)

2.1 Defenisi albumin


Albumin (69 kDa) adalah protein utama dalam plasma manusia (3,4-4,7 g/dL dan membentuk
sekitar 60% protein plasma total. Sekitar 40% albumin terdapat dalam plasma, dan 60%
sisanya terdapat di ruang ekstrasel

(biokimia herper)

2.2 Fungsi albumin dalam tubuh


1. albumin merupakan 50% dari kandungan protein plasma dan menjaga 75-80% tekanan
onkotik koloid plasma.
2. albumin membawa berbagai substansi, termasuk bilirubin, asam lemak, logam, ion,
hormon, dan obat.
3. perubahan kadar albumin mempengaruhi fungsi platelet

2.3 Kadar albumin


Rentang nilai normal albumin serum adakah antara 3,4-4,5 g/dl, dengan kandungan total
dalam tubuh sebanyak 300-500 g.
Sumber : lib.ui.ac.id/file?file=digital/122734-S09023fk-Status%20albumin-Literatur.pdf
kadar albumin pdf

2.4 Mekanisme albumin dalam tubuh


Hati menghasilkan sekitar 12 g albumin per hari, yaitu sekitar 25% dari semua sintesis
protein oleh hati dan separuh jumlah protein yang di sekresikannya. Albumin mula-mula
dibentuk sebagai suatu praprotein. Peptida sinyalnya dikeluarkan sewaktu protein ini masuk
ke dalam sisterna retikulum endoplasma kasar, dan heksapeptida di terminal amino yang
terbentuk kemudian diputuskan ketika protein ini menempuh jalur sekretorik. Sintesa
albumin berkurang pada beragam penyakit hati, terutama penyakit hati. Plasma pasien
dengan penyakit hati sering memperlihatkan penurunan rasio albumin terhadap globulin
(penurunan rasio albumin-globulin). Pembentukan albumin mengalami penurunan relatif dini
pada kondisi-kondisi malnutrisi protein, misalnya kwasiorkor. Albumin manusia matur terdiri
dari satu rantai polipeptida dengan 585 asam amino dan mengandung 17 ikatan disulfida.
Dengan menggunakan protease, albumin dapat dibagi menjadi tiga domain yang memiliki
fungsi yang berbeda-beda. Albumin berbentuk elips yang berarti bahwa albumin tidak
meningkatkan viskositas plasma sebanyak peningkatan yang dilakukan oleh molekul panjang
seperti fibrinogen. Karena massa molekulnya yang relatif rendah (sekitar 68 kDa) dan
konsentrasinya yang tinggi, albumin diperkirakan menentukan sekitar 75-80% tekanan
osmotik plasma manusia. Fungsi penting lain albumin adalah kemampuannya mengikat
berbagai ligan. Ligan-ligan tersebut mencakup asam lemak bebas (free fatty acid, FFA),
kalsium, hormon steroid tertentu, bilirubin, dan sebagian triptofan plasma. Selain itu, albumin
juga berperan penting dalam mengangkut tembaga di tubuh manusia.

(biokimia herper)

2.5 Gangguan kelebihan dan kekurangan albumin


Akibat Kelebihan Albumin

1. Gangguan Pernapasan

Pada kasus utama ibu hamil, akibat kelebihan albumin dalam tubuh maka hal ini dapat
meningkatkan potensi terjadinya gangguan pernapasan pada ibu hamil yang umumnya justru
akan mengganggu serta membatasi perkembangan janin selama kehamilan tersebut.

2. Meningkatkan Risiko Leukimia

Konsumsi bahan pangan dengan kandungan albumin secara berlebih dan terus-menerus dapat
mengakibatkan produksi sel darah putih secara berlebih pula. Oleh karena itu, dalam
beberapa kasus keberadaan albumin tubuh yang berlebih ini justru menimbulkan gejala
leukimia. Leukimia merupakan keadaan dimana terjadi produksi sel darah putih berlebihan
yang memiliki tingkat keganasan luar biasa yang justru bertujuan untuk menyerang berbagai
organ tubuh yang seharusnya dilindungi oleh sistem kekebalan tubuh.

3. Iritasi Kulit

Kandungan albumin tubuh yang berlebihan dapat mengakibatkan pemblokiran terhadap kadar
vitamin A dalam tubuh. Hal ini secara otomatis akan mengakibatkan gangguan pada kulit.
Pada umumnya keberadaan vitamin A dalam tubuh sangat berguna untuk menjaga kesehatan
kulit dari berbagai ancaman zat asing, dimana fungsi utama dari kulit itu sendiri yaitu sebagai
tameng terluar pertahanan tubuh dari segala zat asing di luar tubuh. Jika vitamin A ini terus
dieliminasi dan keberadaannya dikalahkan oleh albumin berlebih maka berbagai gejala iritasi
kulit pun akan mulai bermunculan.

4. Mengganggu Kinerja Ginjal

Albumin sendiri beredar secara luas dalam darah dan urine. Organ yang tak pernah terlepas
dari aktivitas keduanya adalah ginjal yang berfungsi menyaring darah dan mengubahnya
menjadi urine sebagai zat cair buangan. Akan tetapi, jika kandungan albumin berlebih ini
senantiasa ditemukan dalam ginjal maka kondisi ginjal pun akan semakin mengalami
penurunan. Hal ini dikarenakan ginjal harus lebih bekerja keras jika dibandingkan dalam
keadaan normal.

5. Nyeri Persendian

Kelebihan albumin dalam tubuh pun akan berpengaruh pada keadaan persendian yang mana
akan berdampak pada munculnya gejala nyeri yang dapat menggangu aktifitas keseharian
penderita yang umumnya berjalan normal.

Akibat Kekurangan Albumin

1. Bengkak

Ketidakseimbangan jumlah albumin tubuh dalam jumlah normal dapat mengakibatkan


gangguan, antara lain munculnya pembengkakan pada beberapa daerah tubuh tertentu. Hal ini
disebabkan karena terganggunya sistem osmosis tubuh yang menyebabkan cairan terus
merembes memasuki jaringan dan pada akhirnya akan menumpuk dan mengakibatkan
timbulnya bengkak.

2. Gangguan Tekanan Darah

Sistem peredaran darah tak dapat terlepas begitu saja dengan sistem hidrasi atau cairan dalam
tubuh. Saat terjadi ketidakseimbangan cairan dalam tubuh maka hal ini berdampak langsung
pada sistem peredaran darah yang sangat berpengaruh terhadap tekanan darah dalam tubuh.

3.1 Defenisi
1. Tekanan darah kapiler (Pc) adalah tekanan cairan atau hidrostatik yang dihasilkan oleh
darah pada bagian dalam dinding kapiler. Tekanan ini cenderung mendorong cairan keluar
dari kapiler ke dalam cairan interstisium. Ketika hingga di kapiler, tekanandarah telah turun
secara bermakna akibat gesekan darah dengan pembuluh arteriol beresistensi tinggi di hulu.

2. Tekanan osmotik koloid plasma (P) atau tekanan onkotik, juga dikenal sebagai tekanan
onkotik, adalah gaya yang disebabkan oleh dispersi koloidal protein-protein plasma; tekanan
ini mendorong perpindahan cairan kedalam kapiler. Karena protein plasma tetap berada di
dalam plasma dan tidak masuk ke cairan interstisium, terbentuklah perbedaan konsentrasi
protein antara plasma dan cairan interstisium. Karenanya, juga terjadi perbedaan konsentrasi
air antara kedua bagian ini. Plasma memiliki konsentrasi protein yang lebih tinggi dan
konsentrasi air yang lebih rendah daripada cairan interstisum. Perbedaan ini menimbulkan
efek osmotik yang cenderung memindahkan air dari daerah dengan konsentrasi tinggi di
cairan interstisium ke daerah dengan konsentrasi air rendah (atau konsentrasi protein tinggi)
di plasma.

3. Tekanan hidrostatik cairan interstisium (PIF) adalah tekanan cairan yang terjadi pada bagian
luar dinding kapiler oleh cairan interstisium. Tekanan ini cenderung mendorong cairan masuk
ke dalama kapiler. Karena sulitnya mengukur tekanan hidrostatik cairan interstisium, nilai
tekanan ini yang sebenarnya masih diperdebatkan.

4. Tekanan osmotik koloid cairan interstisium (IF) adalah gaya lain yang secara normal tidak
berperan signifikan dalam bulk flow. Sebagian kecil protein plasma yang bocor menembus
dinding kapiler ke dalam cairan interstisium normalnya di kembalikan ke darah melalui
sistem limfe. Karena itu, konsentrasi protein di cairan intertisium sangat rendah, dan tekanan
osmotik koloid cairan interstisium mendekatin nol. Namun, jika protein plasma secara
patologis bocor ke dalam cairan intertisium, protein yang bocor tersebut menimbulkan efek
osmotik yang cenderung mendorong perpindahan cairan keluar kapiler dan masuk ke cairan
interstisium.
(fisiologi sherwood)
3.2 Perbedaan
Dua tekanan yang cenderung mendorong cairan keluar kapiler adalah tekanan darah kapiler
dan tekanan osmotik koloid cairan interstisium. Sedangkan, dua tekanan yang cenderung
mendorong cairan ke dalam kapiler adalah tekanan osmotik koloid plasma dan tekanan
hidrostatik cairan interstisium.
(fisiologi sherwood)

3.3 Mekanisme
Pergerakan cairan antara kapiler dan jaringan tubuh terutama ditentukan oleh tekanan
hidrostatik dan osmotik koloid (tekanan onkotik) yang terutama berasal dari protein darah.
Tekanan onkotik relatif stabil, berkisar 25 mmHg. Filtrasi cairan di awal kapiler disebabkan
oleh tekanan hidrostatik yang melebihi tekanan onkotik. Pada kapiler bagian proksimal (dekat
arteriol) tekanan hidrostatik 40 mmHg. Air didorong dari plasma ke dalam cairan interstisium
dengan tekanan 15 mmHg, sehingga terjadi filtrasi cairan secara terus-menerus dari kapiler
ke interstisium.
Pada bagian distal kapiler tekanan hidrostatik turun menjadi 10 mmHg. Sebagian
besar air dari cairan interstisium ditarik kembali ke dalam plasma dengan tekanan 15 mmHg.
Sebagian besar cairan yang difiltrasi di kapiler bagian proksimal kembali ke darah di kapiler
bagian distal karena tarikan tekanan onkotik. Cairan yang tertinggal, disalurkan melalui
saluran limfe. Sisa air yang ditampung melalui sistem limfatik dibawa kembali ke sistem
vena.
(gangguan keseimbangan air-elektrolit dan asam-basa UI)
4.1 Defenisi
Edema : Edema merupakan suatu keadaan dengan akumulasi cairan di jaringan interstisium
secara berlebih akibat penambahan volume yang melebihi kapasitas penyerapan pembuluh
limfe. Akumulasi cairan di jaringan interstisium dapat dideteksi secara klinis sebagai suatu
pembengkakan. Pembengkakan akibat akumulasi cairan ini disertai atau tanpa terjadi
penurunan volume intravaskular (sirkulasi).
Asites : Penimbunan cairan serosa (mirip serum) di rongga peritoneum. Rongga peritoneum
mencakuprongga abdomen dan daerah panggul sampai ke perumahan di bawah diafragma,
tidak termasuk ginjal. Rongga ini dilapisi oleh suatu membran tipis yang disebut peritoneum.

4.2 Jenis-jenis
Edema :
Berdasarkan Peletakannya :
1. Edema Lokalisata / local ad
Disebabkan oleh kerusakan kapiler, konstriksi srikulasi (vena regional) atau sumbatan
drainase limfatik.
2. Edema generalisata ( umum )
Disebabkan oleh penurunan tekanan osmotik koloid pada hipoproteinemia.
Jenis edema berdasarkan penekanan pada kulit :
1. Edema pitting adalah mengacu pada perpindahan (menyingkirnya) air interstisial oleh
tekanan dari pada kulit yang meninggalkan cekungan. Setelah tekanan dilepas
memerlukan beberapa menit bagi cekungan ini untuk kembali pada keadaan semula.
Edema pitting sering terlihat pada sisi dependen,seperti sokrum pada individu yang
tirah baring,begitu juga dengan tekanan hidrostatik grafitasi meningkatkan akumulasi
cairan di tungkai dan kaki pada individu yang berdiri.
2. Edema Non pitting adalah terlihat pada area lipatan kulit yang longgar,seperti
periorbital pada wajah. Edema non pitting apabila ditekan, bagian yg ditekan itu akan
segera kembali ke bentuk semula.

Jenis edema berdasarkan tempatnya :


1. Hydrothorax ( plural effution ) : edema berada di rongga dada
2. Hydropericardium : edema pada pericardium
3. Hydroperitoneum ( ascites ) : edema pada rongga perut
4. Anasarka : edema umum di seluruh jaringan subkutan

Asites :
1. Asites eksudatif: memiliki kandungan protein tinggi dan terjadi pada peradangan atau
proses keganasan.
2. Asites transudatif: terjadi pada sirosis akibat hipertensi portal dan perubahan bersihan
natrium ginjal. Konstriksi perkardium dan sindrom nefrotik juga bias menyebabkan asites
transudatif.

4.3 Penyebab
Edema :
a. Edema yang disebabkan gagal jantung
Penyebab edema palig sering dan paling serius adalah gagal jantung. Pada gagal jantung,
jantung gagal memompa darah secara normal dari vena kedalam arteri; hal ini meningkatkan
tekanan vena dan tekanan kapiler, yang menyebabkan peningkatan filtrasi kapiler. Tekanan
arteri cenderung turun, menyebabkan penurunan ekskresi garam dan air oleh ginjal,yang
meningkatkan volume darah dan lebih lanjut meningkatkan tekanan hidrostatik kapiler
sehingga edema makin bertambah.
b. Edema yang disebabkan oleh penurunan ekskresi garam dan air oleh ginjal
Sebagian besar natrium klorida yang ditambahkan kedalam darah tetap berada di
kompartemen ekstrasel, dan hanya sejumlah kecil saja yang memasuki sel. Pada penyakit
ginjal yang menurunkan ekskresi natrium klorida dan air dalam urin,sejumlah besar natrium
klorida dan air akan ditambahkan kecairan ekstrasel.
Efek utama kejadian ini ialah menyebabkan :
(1) peningkatan volume cairan interstisial yang besar (edema ekstrasel ) ,
(2) hipertensi akibat peningkatan volume darah
c. Edema yang disebabkan oleh penurunan protein plasma
Penurunan konsentrasi protein plasma akibat kegagalan untuk menghasilkan protein dalam
jumlah yang cukup maupun karena kebocoran protein dari plasma,akan menimbulkan
penurunan tekanan osmotic koloid plasma. Mengakibatkan peningkatan filtrasi kapiler
diselurruh tubuh dan edema ekstrasel
(fisiologi guyton)
Asites
Asites dapat disebabkan oleh banyak penyakit. Pada dasarnya penimbunan cairan di rongga
peritoneum dapat terjadi melalui 2 mekanisme dasar yakni transudasi dan eksudasi. Asites
yang ada hubungannya dengan sirosis hati dan hipertensi porta adalah salah satu contoh
penimbunan cairan di rongga peritoneum yang terjadi melalui mekanisme transudasi.
(IPD jilid 2)

4.4 Mekanisme
Edema
1. Adanya kongesti
Pada kondisi vena yang terbendung (kongesti), terjadi peningkatan tekanan hidrostatik intra
vaskula (tekanan yang mendorong darah mengalir di dalam vaskula oleh kerja pompa
jantung) menimbulkan perembesan cairan plasma ke dalam ruang interstitium. Cairan plasma
ini akan mengisi pada sela-sela jaringan ikat longgar dan rongga badan (terjadi edema).
2. Obstruksi limfatik
Apabila terjadi gangguan aliran limfe pada suatu daerah (obstruksi/penyumbatan), maka
cairan tubuh yang berasal dari plasma darah dan hasil metabolisme yang masuk ke dalam
saluran limfe akan tertimbun (limfedema). Limfedema ini sering terjadi akibat mastek-tomi
radikal untuk mengeluarkan tumor ganas pada payudara atau akibat tumor ganas
menginfiltrasi kelenjar dan saluran limfe. Selain itu, saluran dan kelenjar inguinal yang
meradang akibat infestasi filaria dapat juga menyebabkan edema pada scrotum dan tungkai
(penyakit filariasis atau kaki gajah/elephantiasis).
3. Permeabilitas kapiler yang bertambah
Endotel kapiler merupakan suatu membran semi permeabel yang dapat dilalui oleh air dan
elektrolit secara bebas, sedangkan protein plasma hanya dapat melaluinya sedikit atau
terbatas. Tekanan osmotic darah lebih besar dari pada limfe.Daya permeabilitas ini
bergantung kepada substansi yang mengikat sel-sel endotel tersebut. Pada
keadaan tertentu, misalnya akibat pengaruh toksin yang bekerja terhadap endotel,
permeabilitas kapiler dapat bertambah. Akibatnya ialah protein plasma keluar kapiler,
sehingga tekanan osmotic koloid darah menurun dan sebaliknya tekanan osmotic cairan
interstitium bertambah. Hal ini mengakibatkan makin banyak cairan yang meninggalkan
kapiler dan menimbulkan edema. Bertambahnya permeabilitas kapiler dapat terjadi pada
kondisi infeksi berat dan reaksi anafilaktik.
4. Hipoproteinemia
Menurunnya jumlah protein darah (hipoproteinemia) menimbulkan rendahnya daya ikat air
protein plasma yang tersisa, sehingga cairan plasma merembes keluar vaskula sebagai cairan
edema. Kondisi hipoproteinemia dapat diakibatkan kehilangan darah secara kronis oleh
cacing Haemonchus contortus yang menghisap darah di dalam mukosa lambung kelenjar
(abomasum) dan akibat kerusakan pada ginjal yang menimbulkan gejala albuminuria
(proteinuria, protein darah albumin keluar bersama urin) berkepanjangan. Hipoproteinemia
ini biasanya mengakibatkan edema umum.
5. Tekanan osmotic koloid
Tekanan osmotic koloid dalam jaringan biasanya hanya kecil sekali, sehingga tidak dapat
melawan tekanan osmotic yang terdapat dalam darah. Tetapi pada keadaan tertentu jumlah
protein dalam jaringan dapat meninggi, misalnya jika permeabilitas kapiler bertambah.
Dalam hal ini maka tekanan osmotic jaringan dapat menyebabkan edema.Filtrasi cairan
plasma juga mendapat perlawanan dari tekanan jaringan (tissue tension). Tekanan ini
berbeda-beda pada berbagai jaringan. Pada jaringan subcutis yang renggang seperti kelopak
mata, tekanan sangat rendah, oleh karena itu pada tempat tersebut mudah timbul edema.
6. Retensi natrium dan air
Retensi natrium terjadi bila eksresi natrium dalam kemih lebih kecil dari pada yang masuk
(intake). Karena konsentrasi natrium meninggi maka akan terjadi hipertoni. Hipertoni
menyebabkan air ditahan, sehingga jumlah cairan ekstraseluler dan ekstravaskuler (cairan
interstitium) bertambah. Akibatnya terjadi edema.Retensi natrium dan air dapat diakibatkan
oleh factor hormonal (penigkatan aldosteron pada cirrhosis hepatis dan sindrom nefrotik dan
pada penderita yang mendapat pengobatan dengan ACTH, testosteron, progesteron atau
estrogen)

Asites
Mekanisme:
1.Teori under filling:
Asites volume cairan plasma turun (hipertensi porta dan hipoalbuminemia) Hipertensi porta
meningkatkan tekanan hidrostatik venosa + hipoalbuminemia transudasi volume cairan
intravaskular menurun
2.Teorio verfilling:
Asitesekspansi cairan plasma akibat reabsorpsi air oleh ginjal peningkatan aktifitashormon
anti-diuretik (ADH) & penurunan aktifitas hormon natriuretik penurunan fungsihati.
3.Teori periferal vasodilatation
Faktor pathogenesis hipertensi porta yang sering disebut sebagai faktor local gangguan fungsi
ginjal yang sering disebut faktor sistematik

4.5 Manifestasi klinik


Edema
Gejala dan Tanda
1. Distensi vena jugularis, Peningkatan tekanan vena sentral
2. Peningkatan tekanan darah, Denyut nadi penuh,kuat
3. Melambatnya waktu pengosongan vena-vena tangan
4. Edema perifer dan periorbita
5. Asites, Efusi pleura, Edema paru akut ( dispnea,takipnea,ronki basah di seluruh lapangan
paru )
6. Penambahan berat badan secara cepat : penambahan 2% = kelebihan ringan, penambahna
5% = kelebihan sedang, penambahan 8% = kelebihan berat
7. Hasil laboratorium : penurunan hematokrit, protein serum rendah, natrium serum normal,
natrium urine rendah ( <10 mEq/24 jam)

Asites
1.Kehilangan selera/nafsu makan (anorexia).
2.Merasa mudah kenyang atau enek (Jw.) (early satiety).
3.Mual (nausea).
4.Nafas pendek/sesak (shortness of breath).
5.Nyeri perut (abdominal pain).
6.Nyeri ulu hati atau sensasi terbakar/nyeri di dada,
pyrosis (heartburn).
7.Pembengkakan kaki (leg swelling).
8.Peningkatan berat badan (weight gain).
9.Sesak nafas saat berbaring (orthopnea).
10.Ukuran perut membesar (increased abdominal girth).
4.6 Penatalaksanaan
Edema
1. Tirah baring
Tirah baring dapat memperbaiki efektifitas diuretika pada pasien yang berhubungan dengan
hipertensi porta yang bisa menyebabkan aldosterone menurun.
2. Diet rendah natrium : <500mg/hari
3. Stocking suportif dan elevasi kaki
4. Restriksi cairan : <1500ml/hari
5. Pengobatan pada penyakit yang mendasar
Menyembuhkan penyakit yang mendasari seperti asites peritonitis tuberculosis.
6. Hindari factor yang memperburuk penyakit dasar

Asites
Pengobatan asites
1. Diuretik untuk membantu menghilangkan cairan; biasanya, spironolactone (aldactone)
yang diberikan 1-3 mg/kg/24 jam digunakan pada awalnya, dan kemudian furosemide
(Lasix) yang diberikan 1-2mg/kg/24 jam akan ditambahkan.
2. Antibiotik, jika infeksi berkembang
3. Diet, diet randah garam ringan sampai sedang dapat membantu diuresis, garam dalam
makanan (tidak lebih dari 1.500 mg / hari natrium)
4. Hindari minum alcohol
5. Paracentesis : pengambilan cairan untuk mengurangi asites.
6. Transjugular intrahepatic portosystemic shunt (TIPS), yang membantu mengubah darah
ke seluruh hati
7. Tirah Baring, dapat memperbaiki efektifitas diuretika, pada pasien transudate yang
berhubungan dengan hipertensi porta.
8. Pengobatan terhadap penyakit mendasari
4.7 Komplikasi
Edema

Asites
Beberapa komplikasi asites dapat dihubungkan dengan ukurannya. Akumulasi cairan dapat
menyebabkan kesulitan bernapas dengan menekan diafragma dan pembentukan efusi pleura.
Infeksi lain adalah komplikasi serius dari ascites. Pada pasien dengan ascites berhubungan
dengan hipertensi portal, bakteri dari usus spontan dapat menginvasi cairan peritoneal (asites)
dan menyebabkan infeksi. Hal ini disebut peritonitis bakteri spontan atau SBP. Antibodi
jarang terjadi di ascites dan, karenanya, respon imun dalam cairan asites sangat terbatas.
Diagnosis dari SBP dibuat dengan melakukan paracentesis dan menganalisa cairan untuk
jumlah sel darah putih atau bukti pertumbuhan bakteri.
sindrom Hepatorenal adalah jarang, tetapi serius dan berpotensi mematikan (tingkat
kelangsungan hidup rata-rata berkisar antara 2 minggu sampai sekitar 3 bulan) komplikasi
ascites berhubungan dengan sirosis hati menyebabkan kegagalan ginjal progresif. Mekanisme
yang tepat dari sindrom ini tidak cukup dikenal, tetapi dapat hasil dari pergeseran dalam
cairan, gangguan aliran darah ke ginjal, terlalu sering menggunakan diuretik, dan administrasi
kontras atau obat yang dapat membahayakan