Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada saya dan Kita semua, sehingga saya
dapat menyelesaikan buku tentang kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.

Buku ini telah saya susun dengan usaha yang maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan buku ini.
Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan buku ini.

Terlepas dari semua itu, Saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
saya dapat memperbaiki kesalahan yang ada dalam pembuatan buku ini agar dapat
lebih baik lagi kedepannya.

Akhir kata saya berharap semoga buku ini dapat memberikan manfaat maupun
inpirasi terhadap pembaca.

Bengkulu, April 2017


Penulis,

Hendra Putra

DAFTAR ISI
BAB I
A. Pengertian Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan konseling berasal dari dua kata yaitu bimbingan dan konseling.
Bimbingan merupakan terjemahan dari guidance yang didalamnya terkandung
beberapa makna. Bimbingan dan Konseling adalah proses interaksi antara konselor
dengan konseli baik secara langsung maupun tidak langsung dalam rangka untuk
membantu konseli agar dapat mengembangkan potensi dirinya atau pun memecahkan
permasalahan yang dialaminya.Sertzer & Stone (1966:3) menemukakan bahwa
guidance berasal kata guide yang mempunyai arti to direct, pilot, manager, or steer
(menunjukkan, menentukan, mengatur, ataumengemudikan).Prayitno dan Erman
Amti (2004:99) mengemukakan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan
yang dilakukan oleh orang yang ahli atau piawai kepada seorang atau beberapa
orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa sehingga orang yang
dibimbing dapat mengembangkan potensi dirinya sendiri dan mandiri dengan
memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan
berdasarkan norma-norma yang berlaku.Sementara, Winkel (2005:27)
mendefenisikan bimbingan:

1. Suatu usaha untuk melengkapi seseorang dengan pengetahuan, pengalaman


dan informasi tentang dirinya sendiri.
2. Suatu cara untuk memberikan bantuan kepada seseorang untuk memahami dan
mempergunakan secara efisien dan efektif segala kesempatan yang dimiliki
untuk perkembangan pribadinya.
3. Sejenis pelayanan kepada orang-orang agar mereka dapat menentukan pilihan,
menetapkan tujuan dengan tepat akurat dan menyusun rencana yang realistis,
agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan memuaskan diri dalam lingkungan
dimana mereka hidup.
4. Suatu proses pemberian bantuan kepada seseorang dalam hal memahami diri
sendiri, menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan,
memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan gambaran dirinya
dan tuntutan lingkungan.

I. Djumhur dan Moh. Surya, (1975:15) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu
proses pemberian pertolongan yang terus menerus dan sistematis kepada
seseorang dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, sehingga tercapai
kemampuan untuk bisa memahami dirinya (self understanding), kemampuan untuk
menerima dirinya (self acceptance), kemampuan untuk mengarahkan atau
membimbing dirinya (self direction) dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya
(self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam mencapai
penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah dan masyarakat.

Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah


dikemukakan bahwa:Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta
didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan
masa depan.
Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami atau dimengerti bahwa bimbingan
pada prinsipnya adalah proses pemberian bantuan atau pertolongan yang dilakukan
oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu dalam hal
memahami diri sendiri, menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan
lingkungan, memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep
dirinya dan tuntutan lingkungan. Sedangkan konseling menurut Prayitno dan Erman
Amti (2004:105) adalah proses pemberian bantuan atau pertolongan yang
dilaksanakan dengan cara wawancara konseling oleh seorang konselor kepada
seseorang yang sedang mengalami sesuatu masalah yang bermuara pada
teratasinya masalah yang dihadapi klien. Sejalan dengan itu, Winkel (2005:34)
mendefinisikan konseling sebagai serangkaian kegiatan paling utama dari bimbingan
dalam usaha menolong konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan sehingga
klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau
masalah khusus. Berdasarkan pengertian konseling di atas dapat dipahami bahwa
konseling adalah usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan
agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan
atau masalah khusus. Dengan kata lain, teratasinya masalah yang dihadapi oleh
konseli/klien.

B. TUJUAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Secara umum, tujuan pelayanan bimbingan dan konseling yaitu berupaya menolong
klien sehingga klien dapat:

1. merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta


kehidupan-nya di masa depan.
2. mengembangkan seluruh kemampuan dan kekuatan yang dimilikinya secara
optimal.

3. menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat


dan lingkungan kerjanya.

4. mengatasi halangan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian


terhadap pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, mereka wajib mendapatkan kesempatan


untuk:

1. mengenal dan memahami kemampuan, kekuatan, dan tugas-tugas perkem-


bangannya,

2. mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya,

3. mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana


pencapaian tujuan tersebut,

4. memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri,

5. menggunakan potensinya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga


tempat bekerja dan masyarakat,

6. menyesuaikan diri dengan kondisi dan tuntutan dari lingkungannya; serta

7. mengembangkan segala kemampuan dan kekuatan yang dimilikinya secara


optimal,

Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk menolong klien agar
dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial,
belajar (akademik), dan karir.

1. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial


konseli adalah:

a. Memiliki komitmen yang kuat dalam melaksanakan nilai-nilai keimanan dan


ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi,
keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja,
maupun masyarakat pada umumnya.

b. Memiliki sikap menghargai terhadap umat beragama lain, dengan saling


menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.

c. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara


yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah),
serta dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama
yang dianut.

d. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik
yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun
psikis.

e. Memiliki sikap positif atau menghormati terhadap diri sendiri dan orang lain.

f. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat.

g. Bersikap menghormati terhadap orang lain, menghargai orang lain, tidak


melecehkan martabat atau harga dirinya.

h. Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen


terhadap tugas atau kewajibannya.

i. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial, yang ditampakkan dalam bentuk


hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama
manusia.
j. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik baik bersifat internal
(dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain

k. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.

2. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik


(belajar) adalah :

a. Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami
berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang
dialaminya.

b. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan


membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua
pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.

c. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.

d. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan


membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan
mempersiapkan diri menghadapi ujian.

e. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan,


seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri
dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi
tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih
luas.

f. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.

3. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah

a. Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait


dengan pekerjaan.
b. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang
menunjang kematangan kompetensi karir.

c. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam
bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi
dirinya, dan sesuai dengan norma agama.

d. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran)


dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang
menjadi cita-cita karirnya masa depan.

e. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara


mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut,
lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.

f. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang


kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai
dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.

g. Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir. Apabila


seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa
harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan
karir keguruan tersebut.

h. Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau


kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat
yang dimiliki. Oleh karena itu, maka setiap orang perlu memahami
kemampuan dan minatnya, dalam bidang pekerjaan apa dia mampu, dan
apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut.

i. Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.

C. FUNGSI Bimbingan dan Konseling

1.Fungsi Pemahaman
Fungsi pemahaman yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu
klien agar memiliki pemahaman tentang dirinya (klien) beserta permasalahannya
oleh klien sendiri dan oleh pihak- pihak yang akan membantu klien, serta
pemahaman tentang lingkungan klien oleh klien.

a. Pemahaman tentang klien


Pemahaman tentang klien merupakan titik tolak upaya pemberian bantuan
terhadap klien. Sebelum seorang konselor memberikan bantuannya kepada klien,
maka mereka perlu terlebih dahulu memahami individu yang akan di bantu itu. Tidak
hanya sekedar mengenal, namun harus memahami pemahaman yang menyangkut
latar belakang pribadi klien, kekuatan dan kelemahannya, serta kondisi
lingkungannya. Tanpa adanya pemahaman terlebih dahulu maka konselor tidak
dapat bergerak lebih jauh dalam pemberian bimbingan
Masih banyak dijumpai individu-individu yang tidak memahami kekuatan dan
kelemahan diri sendiri, serta potensi yang dapat dikembangkan pada dirinya.
Akibatnya individu-individu tersebut tidak berusaha secara optimal mengembangkan
potensi dan tidak derusaha memperkecil kelemehannya. Sehingga mereka
berkembang seadanya.
Pemahaman terhadap diri kllien juga perlu bagi pihak-pihak yang berkepentingan
dengan perkembangan dan kebahagiaan hidup klien. Mereka itu antara lain adalah
seorang konselor. Pemahaman konselor terhadap si klien dipergunakan oleh
konselor baik untuk langsung membantu klien dalam pelayanan bimbingan dan
konseling, maupun sebagai bahan acuan utama dalam rangka kerjasama dengan
pihak-pihak lain dalam membantu klien dalam mengatasi masalahnya.

b. Pemahaman tentang masalah klien


Pemahaman terhadap masalah klien terutama menyangkut jenis masalahnya,
intensitanya, sangkut-pautnya, sebabnya, dan kemungkinan perkembangannya.
Klien amat perlu memahami masalah yang dialaminya, sebab dengan dapat
memahami masalahnya itu ia memiliki dasar bagi upaya yang akan ditempuhnya
untuk mengatasi masalah tersebut. Pemahaman masalah oleh individu sendiri
adalah modal dasar bagi pemecahan masalah tersebut. Apabila pemahaman
masalah klien oleh klien sendiri telah tercapai, agaknya pelayanan bimbingan dan
konseling telah berhasil menjalankan fungsi pemahaman dengan baik.

c. Pemahaman Tentang Lingkungan yang Lebih Luas


Lingkungan dapat diartikan sebagai kondisi disekitar kita yang secara langsung
mempengaruhi individu tersebut (keadaan sosio ekonomi dan sosio emosional
keluarga, hubungan antar tetangga, dan teman sebayanya). Termasuk dalam
lingkungan yang lebih luas adalah berbagai informasi yang diperlukan oleh individu
(informasi pendidikan bagi para siswa, informasi promosi dan jabatan bagi para
karyawan). Pemahaman tentang hal-hal seperti itu akan semakin terasa manfaatnya
apabila dikaitkan dengan permasalahan yang dialami oleh klien.
2. Fungsi Pencegahan
Pencegahan merupakan upaya mempengarui dengan cara yang positif dan
bijaksana lingkungan yang dapat menimbulkan kesulitan atau kerugian sebelum
kesulitan dan kerugian itu benar-benar terjadi (Horner & McElhaney, 1993).
Berkenaan dengan upaya pencegahan, George Albee (dalam Horner &
McElhaney, 1993) mengemukakan rumus sebsgsi berikut :
KM =
Keterangan :
KM = Kondisi bermasalah
O = Faktor Organik
S = Stres
1 = Kemampuan memecahkan masalah
2 = Penilaian Positif terhadap diri sendiri (self-esteem)
3 = dukungan kelompok
Aplikasi rumus tersebut terhadap upaya pencegahan adalah :
1 Mencegah adalah menghindari timbulnya atau meningkatnya kondisi bermasalah
pada diri klien
2 Mencegah adalah mempunyai dan menurunkan factor organic dan stress
3 Mencegah adalah meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, penilaian
positif terhadap diri sendiri, dan dukungan kelompok.
b. Upaya pencegahan
Sejak lama telah timbul dua sikap yang berbeda terhadap upaya
pencegahan,khususnya dalam bidang kesehatan mental, yaitu
sikap skeptik dan optimistik (Hornet & McElhaney, 1973). Mereka yang bersikap
skeptik meskipun menerima konsep pencegahan sebagai sesuatu yang bagus,
namun meragukan apakah upaya pencegahan memang dapat dilakukan karena
menurut mereka gangguan emosional itu tidak dapat dicegah. Sebaliknya, mereka
yang bersikap optimistik menganggap bahwa upaya pencegahan itu sangat penting
dan pelaksanaannya mesti diusahakan. Dalam sikap ini sangat menekankan
pengaruh hubungan timbal balik antara lingkungan dan individu terhadap individu
yang bersangkutan. Dalam hal ini diberi contoh bahaya atau penderitaan yang akan
timbul bila kecanduan alkohol,bila melakukan hubungan seks sembarangan (untuk
menangkal AIDS)
Upaya yang perlu dilakukan oleh konselor adalah :
1. Mendorong perbaikan lingkungan yang kalau diberikan berdampak negatif terhadap
individu yang bersangkutan.
2. Mendorong perbaikan kondisi diri pribadi klien.
3. Meningkatkan kemampuan individu untuk hal-hal yang diperlukan dan
mempengarui perkembangan dan kehidupannya.
4. Mendorong individu untuk tidak melakukan sesuatu yang akan memberikan risiko
yang besar, dan melakukan sesuatu yang akan memberikan manfaat.
5. Menggalang dukungan kelompok tarhadap individu yang bersangkutan.
Secara operasional konselor perlu menampilkan kegiatan dalam rangka
pelaksanaan fungsi pencegahan.Secara garis besar program-program tersebut
dikembangkan, disusun dan diselenggarakan melalui tahap-tahap :
1. Identifikasi permasalahan yang mungkin timbul
2. Mengidentifikasi dan menganalisis sumber-sumber penyebab timbulnya msalah-
masalah
3. Mengidentifikasi pihak-pihak yang dapat mencegah permasalahan tersebut
4. Menyusun rencana program pencegahan
5. Pelaksanaan dan monitoring
6. Evaluasi dan laporan
Program-program yang disusun dan dilaksanakan melalui tahap-tahap
tersebut biasanya merupakan program-program resmi (sekolah, kantor, atau
lembaga kerja lainnya). Sedangkan upaya pencegahan secara tidak resmi dapat
direncanakan dan langsung diselengarakan dalam rangka pelayanan pelayanan
bimbingan dan konseling terhadap klien tersebut.

3. Fungsi pengentasan

Fungsi pengentasan merupakan upaya pengentasan yang dilakukan untuk


mengatasi permasalahan melalui bimbingan dan konseling. Proses pengentasan
masalah melalui pelayanan bimbingan dan konseling disejajarkan dengan
penyembuhan penyakit melalui pelayanan dokter.
Proses pengentasan penyakit melalui pelayanan dokter menekankan pada
penggunaan obat-obat yang menurut keyakinan dokter cukup manjur. Obat-obat itu
merupakan unsur-unsur fisik dari luar pasien. Sedangkan pengentasan masalah
melalui pelayanan konselor tidak menggunakan unsur-unsur fisik dari luar klien
melainkan dari kekuatan-kekuatan dalam diri klien.
a. Langkah-langkah pengentasan masalah
Upaya pengentasan masalah pada dasarnya dilakukan secara perorangan,
sebab setiap masalah individu adalah unik. Dengan demikian penanganannya pun
harus unik disesuaikan terhadap kondisi masing-masing masalah.
b. Pengentasan masalah berdasarkan diagnosis
Istilah medis Diagnosis berarti proses penentuan jenis penyakit dengan
meneliti gejala-gejalanya. Pengertian diagnosis menurut Bordin dikenal sebagai
diagnosis pengklasifikasian. Dalam upaya diagnosis itu masalah-masalah
diklasifikasi, dilihat sebab-sebabnya, dan dilihat cara pengentasannya.
Pengklasifikasian masalah yang dilakukan Bordin itu birasakan sulit,karena
unsur-unsur masalah yang satu saling terkait satu sama lain, dan lebih penting lagi
setiap masalah klien adalah unik. Pengklasifikasian masalah cenderung
menyamaratakan masalah klien yang satu dengan yang lainnya.
Perkembangan lebih lanjut model diagnosis yang dapat diterima dalam
pelayanan bimbingan dan konseling adalah model diagnosis pemahaman, yaitu
yang mengupayakan pemahaman terhadap seluk beluk masalah klien, termasuk di
dalamnya perkembangan dan sebab-sebab timbulnya masalah. Ada tiga dimensi
diagnosis, yaitu :
Diagnosis mental/psikologis
Mengarah kepada pemahaman kondisi mental/psikologis klien, seperti:
kemampuan-kemampuan dasarnya, bakat dan kecenderungan minat-minatnya,
keinginan dan harapan-harapannyasikap dan kebiasaan, tempramen dan
kematangan emosionalnya
Diagnosis sosio-emosianal
Mengacu pada hubungan klien dengan orang-orang yang amat besar
pengaruhnya terhadap klien, seperti: orag tua, guru, teman sebaya, suami/istri,
mertua, pejabat yang menjadi atasan langsung, suasana hubungan antar klien
dengan orang-orang penting itu, serta dengan lingkungan sosial pada umumnya.
Diagnosi instrumental
Berkenaan dengan kondisi/prasyarat yang diperlukan terlebih
dahulumsebelum individu mampu melakukan atau mencapai sesuatu. Diagnosis
instrumental meliputi aspek-aspek : fisik klien (misal;kesehatan), fisik lingkungan
(misal;keadaan sandang, pangan, papan), sarana,kegiatan (misal;buku-buku
pelajaran, alat-alat kantor), dan pemahaman situasi(misal;untuk bertindak lebih
disiplin).
c. Pengentasan masalah berdasarkan teori konseling
Beberapa teori konseling :Ego-counseling menurut Erickson yang didasarkan
pada tahap perkembangan psikososial, behavioristik oleh B.F Skinner yang
didasarkan pada pemikiran tingkah laku.
Tujuan teori-teori tersebut tidak lain adalah mengentaskan masalah yang diderits
oleh klien dengan cara yang paling cepat, cermat, dan tepat. Untuk semuanya itu
konselor dituntut menguasai dengan sebaik-baiknya teori dan praktek bimbingan
dan konseling.

4. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan

Apabila bicara tentang pemeliharaan, maka pemeliharaan yang baik


bukanlah sekedar mempertahankan agar hal-hal yang dimaksudkan tetap utuh, tidak
rusak dan tetap dalam keadaan semula, melainkan juga mengusahakan agar hal-hal
tersebut bertambah baik, kalau dapat lebih indah,menyenangkan, dan memiliki nilai-
nilai tambah daripada waktu-waktu sebelumnya. Oleh karena itu fungsi
pemeliharaan dan fungsi pengembangan tidak dapat dipisahkan.
Fungsi pemeliharaan dan pengembangan dalam suatu pengembangan atau
program bimbingan dan konseling sebenarnya terkait langsung dengan ketiga fungsi
yang lain (pemahaman, pencegahan, dan pengentasan) bahkan sering kali untuk
dapat terpelihara dan terkembangnya aspek-aspek tertentu pada diri klien perlu
dipersyarati dengan keberhasilan ketiga fungsi sebelumnya. Dalam menjalankan
fungsi pemeliharaan dan pengembangan itu konselor tidak dapat berjalan
sendiri,melainkan perlu bekerja sama dengan pihak-pihak lain.
Misalnya, penyediaan meja/kursi dan ruangan kelas yang memenuhi
standart kesehatan dan perkembangan anak-anak di sekolah, sekaligus menjadi
wahana fungsi pemahaman (pemahaman pihak-pihak tertentu tentang pentingnya
meja /kursi pemahaman seperti itu perlu dibangkitkan oleh konselor), fungsi
pencegahan (tercegahnya anak-anak dari pertumbuhan atau perkembangan yang
tidak diinginkan),fungsi pengentasan (terentaskannya berbagai masalah yang timbul
akibat sarana pendidikan yang tidak standar sebelumnya).
Memperhatikan kaitan antara keempat fungsi bimbingan dan konseling,
fungsi pemeliharaan dan pengembangan tampaknya bersifat lebih umum dan dapat
terkait pada ketiga fungsi lainnya. Dengan demikian, sewaktu konselor menjalankan
fungsi pemahaman, pencegahan/pengentasan, ia perlu menyadari bahwa pelayanan
yang diberikannya itu sebenarnya juga mengemban fungsi pemeliharaan dan
pengembangan. Pemeliharaan dan pengembangan dengan segenap potensi
individu dalam keempat dimensi kemanusiaan.

5. Fungsi Advokasi

Fungsi advokasi yanitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan


menghasilkan teradvokasi atau pembelaan terhadap peserta didik dalam rangka
upaya pengembangan seluruh potensi secara optimal. Fungsi-fungsi tersebut
diwujudkan melalui diselenggarakannya berbagai jenis ayanan dan kegiatan
bimbingan dan di dalam masing-masing fungsi tersebut. Setiap layanan dan
kegiatan bimbingan konseling yang dilaksanakan harus secara langsung mengacu
kepada satu atau lebih fungsi-fungsi tersebut agar hasil-hasil yang hendak
dicapainya jelas dapat diidentifikasi dan dievaluasi[22].
Fungsi advokasi memberikan pembelaan kepada konseli atau sekelompok
konseli agar konseli mendapakan semangat dan bangkit daam sebuah harapan
sehingga permasalahan yang terjadi tidak menjadikan konseli terpuruk danakan
mendapatkan masalahyang baru. Bentuk pembelaan bukan berarti membenarkan
apa yang dilakukannya itu benar tetapi memberikan pemahaman/pengarahan
terhadap permasalahan yang dihadapi oleh konseli, sebagai guru yang melayani
setiap permasalahan yang dihadapi oleh konseli harus memberikan pembelaan agar
mendapatkan kenyamanan itu maka dengan mudah menyelesaikan masalah yang
ada.

D.Ruang Lingkup Bimbingan Konseling

RUANG LINGKUP BIMBINGAN KONSELING

Ruang Lingkup berarti persekitaran, sekitar yang ada dalam lingkungan.

A. Ruang Lingkup dari segi Pelayanan:


1) Pelayanan Bimbingan Konseling di Sekolah;
i. Keterkaitan antara bidang pelayanan bimbingan konseling dan bidang-
bidang lain.
Terdapat tiga bidang pelayanan pendidikan yaitu;
- Bidang kurikulum dan pengajaran meliputi semua bentuk pengembangan
dan kurikulum dan pelaksanaan pengajaran yaitu keterampilan, sikap dan
kemampuan berkomunikasi peserta didik.
- Bidang administrasi dan kepimpinan, yaitu bentuk-bentuk kegiatan
perencanaan, pembiayaan, prasaraan dan saran fisik, dan pengawasan.
- Bidang kesiswaan, yaitu bidang yang meliputi berbagai fungsi dan kegiatan
yang mengacu kepada pelayanan kesiswaan secara individual.
ii. Tanggung Jawab Konselor Sekolah
Dalam melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawab, konselor menjadi
pelayan bagi pencapaian tujuan pendidikan secara menyeluruh.
2) Pelayanan Bimbingan Dan Konseling di Luar Sekolah
i. Bimbingan dan Konseling Keluarga
Mutu kehidupan di dalam masyarakat sebagian besar ditentukan oleh
mutu keluarga. Pelayanan Bimbingan Konseling keluarga bertujuan
menangani permasalahan dalam sesebuah keluarga seperti penceraian
dan sebagainya.
ii. Bimbingan dan Konseling dalam Lingkungan Yang Lebih Luas
Permasalahan masyarakat juga berlaku di lingkungan perusahaan,
industri, kantor-kantor dan lembaga kerja lainnya serta organisasi
masyarakat seperti panti jompo, rumah yatim piatu dan lain-lain yang tidak
terlepas dari masalah dan memerlukan jasa bimbingan konseling.
B. Ruang Lingkup dari segi Fungsi: Memberi kemudahan dalam tindakan konseling
(pada konselor)
Fungsi Bimbingan Konseling:
1. Fungsi pemahaman
Dalam fungsi pemahaman. Terdapat beberapa hal yang perlu kita pahami,
yaitu:

Pemahaman tentang masalah klien. Dalam pengenalan, bukan saja hanya


mengenal diri klien, melainkan lebih dari itu, yaitu pemahaman yang menyangkut
latar belakang pribadi klien, kekuatan dan kelemahannya, serta kondisi
lingkungan klien.

Pemahaman tentang masalah klien

Pemahanman tentang lingkungan yang Lebih Luas. Lingkungan klien ada


dua, ada sempit dan luas. Lingkungan sempit yaitu kondisi sekitar individu yang
secara langsung mempengaruhi individu, contohnya rumah tempat tinggal,
kondisi sosio ekonomi dan sosio emosional keluatga, dan lain-lain. Sedangkan
lingkungan yang lebih luas adalah lingkungan yang memberikan informasi
kepada individu, seperti informasi pendidikan dan jabatan bagi siswa, informasi
promosi dan pendidikan tempat lanjut bagi para karyawan, dan lain-lain.

2. Fungsi pencegahan
Fungsi pencegahan ini berfungsi agar klien tidak memasuki ketegangan
ataupun gangguan tingkat lanjut dari hidupnya agar tidak memasuki hal-hal yang
berbahaya tingkat lanjut, yang mana perlu pengobatan yang rumit pula.

3. Fungsi pengentasan
Dalam bimbingan dan konseling, konselor bukan ditugaskan untuk mengental
dengan menggunakan unsur-unsur fisik yang berada di luar diri klien, tapi
konselor mengentas dengan menggunakan kekuatan-kekuatan yang berada di
dalam diri klien sendiri.

4. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan


Fungsi pemeliharaan berarti memelihara segala yang baik yang ada pada diri
individu, baik hal yang merupakan pembawaan, maupun dari hasil penembangan
yang telah dicapai selama ini. Dalam bimbingan dan konseling, funsi
pemeliharaan dan pengembang dilaksanakan melalui berbagai
peraturan,kegiatan dan program.

C. Ruang Lingkup dari segi Sasaran:


1) Perorangan / individual;
Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yang membantu
peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan
kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai dengan karakteristik
kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik.
2) Kelompok
Bimbingan dan konseling kelompok mengarahkan layanan kepada
sekelompok individu. Dengan satu kali kegiatan, layanan kelompok itu
memberikan manfaat atau jasa kepada sejumlah orang.
D. Ruang Lingkup dari segi :
1) BK Pendidikan: Siswa, prestasi, pergaulan dll.
Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yang
membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam
rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri.
2) Bimbingan Konseling Karir: Pekerja, motivasi, dll
Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik
dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih dan mengambil
keputusan karir.
E. Ruang Lingkup dari segi Sosial Budaya:
Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu
peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan
hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya, anggota keluarga,
dan warga lingkungan sosial yang lebih luas.
BAB II

A. Pengertian Aplikasi intrumentasi

Aplikasi instrumentasi adalah kegiatan yang menggunakan instrumen untuk


mengungkapkan kondisi sesuatu, yang mana bertujuan untuk memperoleh data
hasil pengukuran terhadap kondisi tertentu klien. (Prayitno, 1999 : 315)

Secara umum, aplikasi instrumentasi dapat diartikan sebagai alat yang


digunakan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang diri klien baik individu
atau kelompok dengan menggunakan instrumen tes ataupun non tes.

Instrumen tes adalah alat ukur yang mempunyai standar yang obyektif
sehingga dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul digunakan untuk
mengukur dan membandingkan keadaan psikis.

Sedangkan non tes adalah alat yang digunakan untuk melihat gambaran
tentang keadaan responden sehingga apa adanya menekankan apakah kondisi itu
mutunya tinggi atau rendah, benar atau salah.

B. Tujuan Aplikasi Instrumentasi

Tujuan umum aolikasi intrumentasi adalah diperolehnya data hasil


pengukuran terhadap keadaan tertentu klien.

Data ini kemudian digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk


penyelenggaraan layanan konseling dan menjadi isi dari layanan yang dimaksudkan.
Dengan menggunakan data tersebut, penyelenggaraan layanan konseling terhadap
klien akan lebih efektif dan efisisen.

C. Fungsi Aplikasi Instrumentasi

Kegiatan aplikasi instrumentasi mempunyai 3 fungsi yaitu :


a. Fungsi Pemahaman.
Fungsi pemahaman adalah salah satu fungsi bimbingan konseling yang
bertugas untuk melakukan pemahaman tentang diri klien beserta permasalahannya
oleh klien itu sendiri dan oleh pihak-pihak yang akan membantu klien, serta
pemahaman tentang lingkungan klien oleh klien itu sendiri.
Jadi, data yang dihasilkan dari kegiatan aplikasi instrumentasi dapat
digunakan untuk memahami kondisi klient, seperti potensi dasar, bakat dan minat,
kondisi diri dan lingkungan, masalah yang dihadapi dan lain sebagainya.
b. Fungsi Pencegahan.
Fungsi pencegahan adalah fungsi yang berupaya mempengaruhi dengan
cara yang positif dan bijaksana untuk mencegah klien mendapatkan kesulitan yang
menimbulkan kerugian bagi diri klien.
Aplikasi instrumentasi yang dilaksanakan dapat membantu konselor untuk
menempatkan klien pada lingkungan yang positif dan membantu konselor
mengubah lingkungan negative menjadi lingkungan yang positif sehingga dapat
mencegah klien mendapatkan masalah yang menimbulkan kesulitan dan kerugian di
dalam kehidupannya.
c. Fungsi Pengentasan.
Fungsi pengentasan adalah fungsi dalam bimbingan konseling yang berupaya
membantu klien untuk keluar dari permasalahan yang dihadapinya melalui
serangkaian proses konseling yang dilakukan oleh konselor.
Jadi, dengan adanya kegiatan aplikasi instrumentasi yang dilakukan oleh
konselor seorang klien akan mudah menemukan jalan keluar dari permasalahan
yang sedang dihadapinya.

E. PENDEKATAN DAN TEKNIK


1. Penyiapan Instrumen dan Responden

Matching antara instrument dan responden harus benar-benar tepat, artinya


instrument yang dimaksudkan benar-benar cocok digunakan untuk
mengungkapkan apa yang ada pada diri responden, untuk itu konselor harus
perlu :

a. Memperlajari manual instrument


b. Mengidentifikasi karakteristik responden
c. Melihat kesesuaian antara instrument dan responden sehingga tidak terjadi
mismatch.
d. Menyiapkan diri untuk mampu menyeleggarakan pengadministrasian
instrument
e. Menyiapkan aspek teknik dan admnistrasi.

2. Pengadministrasian Instrumen

Pengadministrasian instrument pada dasarnya dilaksanakan sesuai petunjuk


yang dikemukakan didalam manual. Untuk keperluan pelayanan konseling
dalam arti luas, pengadministrasian instrument diawali oleh penjelasan apa,
mengapa, bagaimana dan apa instrument yang dimaksudkan itu diaplikasikan
kepada responden, dalam hal ini konselor harus :

Pokok isi, bentuk, tujuan dan kegunaan instrument bagi responden


Bagaimana menjawab atau bekerja dengan instrument itu, termasuk
alokasi waktu yang disediakan ?
Bagaimana jawaban responden di olah ?
Bagaimana hasil pengolahan itu disampaikan kepada responden ?
Bagaimana hasil tersebut digunakan dan apa yang perlu atau diharapkan
dilakukan oleh responden ?

Apa yang disampaikan konselor dapat disertai dengan Tanya jawab agar
responden benar-benar dapat dijalani proses aplikasi instrument dengan
sebaik-baiknya, hal ini perlu diupayakan terutama untuk menjamin tingginya
realiabilitas hasil instrumentasi.

3. Pengolahan dan Pemakaian Jawaban Responden

Sesuai dengan apa yang dikemukakan didalam manual instrument,


pengolahan jawaban responden dapat diolah dengan cara manual atau dengan
menggunakan program computer, perhitungan statistic seringkali
diperlukan,pengolahan secara manual dilakukan dengan memeriksa dan
menghitung jawaban responden satu persatu dengan tangan. Sedangkan
pengolahan dengan menggunakan progam computer dilakukan dengan
memasukkan jawaban responden kedalam program computer yang dimaksud,
kedua cara pengolahan itu akhirnya menghasilkan skor atau data dalam bentuk
lain yang menggambarkan perolehan responden dari aplikasi instrument
dimaksud, data ini dapat disusun dalam kemasan individual atau pun
kelompok.

Data hasil instrument tersebut kemudian ditafsirkan dengan menggunakan


criteria atau pun norma yang biasanya terdapat didalam manual instrument ,
hasil yang sudah bermakna ini sudah siap digunakan dalam rangka program
pelayanan konseling.

4. Penyampaian Hasil Instrumen

Menyampaikan hasil instrument memerlukan ppencermatan tersendiri, asas


kerahasiaan harus benar-benar diterapkan, hasil aplikasi minstrumentasi tidak
boleh diumumkan secara terbuka dan tidak boleh pula dijadikan ppembicaraan
umum, apalagi kalau didalamnya tersebut nama . hasil instrument dapat
dijadikan topic bahasan terbuka , misalnya diasjikan dan didiskusikkan didalam
kelas, namun tidak satu nama pun disebut dan tidak satu data pun dikaitkan
dengan pribadi tertentu, apalagi kalau konotasinya negative.

Bagi konselor yang memiliki hak panggil terhadap individu yang menjadi
responden dan data hasil instrument dapat dijadikan pertimbangan untuk
memanggil individu tersebut dalam rangka pelayanan konseling. Patut
ditekankan bahwa mereka yang dipanggil bukanlah hanya individu yang
memperoleh skor rendah atau diindikasikan bermasalah, mereka yang
memperoleh skor menengah dan tinggi pun perlu mendapat perhatian dan
kesempatan untuk dipanggil. Meskipun responden tertentu tidak
memperlihatkan tanda-tanda bermasalah, mereka perlu dipanggil dan
berkesempatan untuk bertemu konselor. Pelayanan konseling yang dapat
diperoleh dari konselor bagi mereka yang tidak bermasalah dapat berupa
dorongan dan penguatan, perluasan wawasan dan aspirasi, penajaman sikap,
pengembangan rencana kegiatan dan masa depandan sebagainya.

5. Penggunaan Hasil Instrumentasi

Hasil instrument dapat digunakan dalam seluruh spectrum kegiatan pelayanan


konseling, dari perencanaan sampai dengan penilaian dan
pengembangannya.
a. Perencanaan Program Konseling

Perencanaan program pelayanan konseling hendaknya disusun berdasarkan data


yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi, disekolah misalnya program-program
tahunan dan semesteran didasarkan pada data tentang variasi masalah siswa, hasil
ulangan dan ujian, bakat dan minat serta kecenderungan siswa dan lain-lain.

Semua data itu dipakai dalam merencanakan isi program secara menyeluruh untuk
tiap kelas, mengacu kepada kebutuhan siswa baik perorangan maupun kelompok.
Program untuk berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling
direncanakan berdasarkan data hasil itu.

b. Penetapan Peserta Layanan

Beradasarkan data hasil instrumentasi, konselor menetapkan individu yang perlu


mendapat layanan konseling tertentu, baik untuk layanan dengan format klasikal,
kelompok maupun individual, kegiatan dengan format lapangan dan politik bagi
calon klien dapatdirencanakan oleh konselor berdasarkan hasil instrument.

Untuk konselor yang memiliki hak panggil penggunaan hasil instrument dapat
dilaksanakan secara langsung kepada individu (calon) klien yang dimaksud, untuk
konselor yang tidak memilik hak panggil penggunaan hasil instrument mungkin
diawali dengan upaya politik yang secara tidak langsung untuk memperoleh akses
terhadap individu yang dimaksudkan, misalnya terlebih dahulu konselor
menghubungi kepala sekolah, wali kelas, atau guru ( untuk para siswa disekolah )
menghubungi pimpinan lembaga ( untuk para karyawan ) dan lain-lain, dalam hal ini
asas kerahasiaan tetap harus dijaga.

c. Hasil Instrumentasi Sebagai Isi Layanan

Hasil instrumentasi baik sebagian atau seluruhnya, secara langsung atau pun tidak
langsung dapat dijadikan isi layanan yang hendak dilaksanakan atau sedang
dilaksanakan terhadap klien, hasil pengungkapan masalah, sosiogram, data tentang
intelegensi, bakat, minat dan sebagainya, dapat menjadi isi semua layanan
konseling tergantung relavansinya. Konselor harus dengan cermat melihat relavansi
itu dan menggunakannya secara tepat dengan penerapan asas kerahasiaan
sebagaimana mestinya.

d. Hasil Instrumentasi dan Tindak Lanjut

Hasil evaluasi khususnya hasil evaluasi ( laiseg, laijapen dan laijapan ) dapat
digunakan sebagai pertimbangan bagi upaya tindak lanjut pelayanan terhadap klien,
kecernatan konselor terhadap kesesuaian antara hasil evaluasi dan upaya tindak
lanjutnya Sangat diperlukan.

e. Hasil Instrumentasi dan Upaya Pengembangan

Kaidah research and development ( R & D ) antara lain menyatakan bahwa upaya
pengembangan harus didisasarkan pada data yang keakuratannya dan
keandalannya terjamin, dalam hal ini data hasil instrumentasi dengan tingkat
validitas dan reabilitas yang tinggi dapat secara tepat menunjang pengembangan
program-program pelayanan konseling, baik untuk jangka tertentu ( misalnya satu
atau dua tahun ) maupun jangka yang lebih panjang ( misalnya lima tahun ).
Sebagai bahan pertimbangan untuk pengembangan data yang dimaksudkan itu
sebaiknya bukan data tunggal malainkan data gabungan yang diperoleh melalui
aplikasi berbagai instrument, untuk berbagai kelompok responden dalam jangka
waktu yang relative memadai. Dengan data gabungan seperti itu akan tampak arah
pokok atau pun benang merah yang perlu dijadikan arah dan garis besar
pengembangan yang dimaksudkan.