Anda di halaman 1dari 73

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin kompleks dan banyak macamnya, maka
masalah-masalah itupun muncul dan semakin kompleks. Perkembangan zaman tersebut menuntut
kita untuk berkompetensi dan dalam memenuhi segala kebutuhan hidup. Hanya orang-orang yang
tangguh, disiplin, dan tekunlah yang dapat bersaing dalam kehidupan yang sedemikian.
Ilmu matematika memberi sumbangan yang cukup besar dalam membentuk manusia unggul,
karena salah satu kriteria manusia unggul adalah manusia yang dapat menggunakan nalarnya
untuk kemajuan umatnya. Kita yakin bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang mampu
membawa manfaat bagi manusia lainnya untuk kehidupan selanjutnya.
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kemajuan teknologi sekarang ini, yang merubah dunia semakin
canggih dan praktis dalam segala kehidupan adalah sumbangan ilmu matematika.
Dalam menghadapi kehidupan ini kita sering dihadapkan kepada suatu permasalahan, sehingga
kita dituntut untuk menyelesaikannya. Untuk itu regenerasi penerus kita harus dapat
menyelesaikannya sebagai bekal dalam kehidupan dimasa yang akan datang.
Untuk keterampilan dalam menyelesaikan masalah dibutuhkan berbagai kemampuan yang ada
pada diri kita, sebagai hasil dari belajar, yaitu sebagai dari pengetahuan, sikap dan psikomotor.
Berbagai pengetahuan dimaksud adalah: ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan
evaluasi. Dengan demikian tidaklah mudah menyelesaikan suatu masalah, karena melibatkan
berbagai kemampuan nalar atau berfikir kita dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Tingkat
rendah adalah ingatan, pemahaman dan penerapan, sedangkan tingkat tinggi adalah analisis,
sintesis, dan evaluasi.

Dalam memahami masalah matematika, biasanya kita bertanya kepada diri kita sendiri dengan
sejumlah pertanyaan yang membantu kita untuk dapat menyeleksi informasi yang ada.

B. Rumusan Masalah

Berpijak dari latar belakang diatas, maka yang akan menjadi rumusan masalah pada penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut: Bagaimana cara menyelesaikan segala materi pembelajaan
Matematika agar lbih dapat mudah di pahami.

C. Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah Untuk Memenuhi salah Satu Tugas Matematika serta
wawasan dan ilmu kami tentang materi pembelajaran Kelas XI SMK.

D. Metode dan Prosedur

Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini yaitu dengn mengumpulkan
informasi dari berbagai buku dan browsing di internet.

1
BAB II

STATISTIKA

Ukuran Penyebaran Data


Ukuran ini meliputi rentang data, rentang antar kuartil/ jangkauan kuartil, simpangan kuartil,
simpangan rata-rata, simpangan baku dan ragam/ varian
a. Rentang data, adalah selisih antara data tertinggi dan data terendah
Dirumuskan :

b. Rentang antar Kuartil, adalah selisih antara kuartil atas dan kuartil bawah
Dirumuskan :

c. Simpangan Kuartil, adalah setengah dari nilai rentang kuartil

Dirumuskan :

Selanjutnya, nilai simpangan kuartil ini dipakai untuk menentukan langkah, pagar dalam dan
pagar luar

Pagar dalam dan pagar luar dipakai untuk menentukan data pencilan, yakni data yang secara
kualitas dianggap buruk
d. Simpangan Rata-Rata, dipakai untuk menentukan tingkat penyimpangan data terhadap
rata-rata sehingga semakin besar nilai simpangan rata-rata, semakin data itu menyebar (heterogen)

2
e. Ragam (Varians) dan Simpangan baku (Standard deviasi), juga dipakai untuk
menentukan tingkat penyimpangan data terhadap rata-rata sehingga semakin besar nilai ukuran
ini, maka semakin data itu menyebar (heterogen)

Statistika adalah cabang dari matematika yang mempelajari cara mengumpulkan data,
menyusun data, menyajikan data, mengolah dan menganalisis data, menarik kesimpulan, dan
menafsirkan parameter.
Kegiatan Statistika meliputi:
1. Mengumpulkan data
2. Menyusun data
3. Menyajikan data
4. Mengolah dan Menganalisis data
5. Menarik kesimpulan
6. Menafsirkan

A. Pengertian Datum dan Data


Di Kelas IX Anda telah mempelajari pengertian datum dan data. Agar tidak lupa pelajari
uraian berikut.
Misalkan, hasil pengukuran berat badan 5 murid adalah 43 kg, 46 kg, 44 kg, 55 kg, dan 60
kg. Adapun tingkat kesehatan dari kelima murid itu adalah baik, baik, baik, buruk, dan buruk.
Data pengukuran berat badan, yaitu 43 kg, 46 kg, 44 kg, 55 kg, dan 60 kg disebut fakta dalam
bentuk angka. Adapun hasil pemeriksaan kesehatan, yaitu baik dan buruk disebut fakta dalam
bentuk kategori. Selanjutnya, fakta tunggal dinamakan datum. Adapun kumpulan datum
dinamakan data.

B. Pengertian Populasi dan Sampel


Misal, seorang peneliti ingin meneliti tinggi badan rata-rata siswa SMA di Kabupaten
Tegal. Kemudian, ia kumpulkan data tentang tinggi badan seluruh siswa SMA di Kabupaten
Tegal. Data tinggi badan seluruh siswa SMA di Kabupaten Tegal disebut populasi. Namun, karena
ada beberapa kendala seperti keterbatasan waktu, dan biaya, maka data tinggi badan seluruh siswa
SMA di Kabupaten Tegal akan sulit diperoleh. Untuk mengatasinya, dilakukan pengambilan
tinggi badan dari beberapa siswa SMA di Kabupaten Tegal yang dapat mewakili keseluruhan
3
siswa SMA di Kabupaten Tegal. Data tersebut dinamakan data dengan nilai perkiraan, sedangkan
sebagian siswa SMA yang dijadikan objek penelitian disebut sampel. Agar diperoleh hasil yang
berlaku secara umum maka dalam pengambilan sampel, diusahakan agar sampel dapat mewakili
populasi.

C. Pengumpulan Data
Menurut sifatnya, data dibagi menjadi 2 golongan, yaitu sebagai berikut.
1. Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan. Data kuantitatif terbagi atas
dua bagian, yaitu data cacahan dan data ukuran.
a. Data cacahan (data diskrit) adalah data yang diperoleh dengan cara membilang. Misalnya,
data tentang banyak anak dalam keluarga.
b. Data ukuran (data kontinu) adalah data yang diperoleh dengan cara mengukur. Misalnya,
data tentang ukuran tinggi badan murid.
2. Data kualitatif adalah data yang bukan berbentuk bilangan. Data kualitatif berupa ciri, sifat,
atau gambaran dari kualitas objek. Sebagai contoh, data mengenai kualitas pelayanan, yaitu
baik, sedang, dan kurang. untuk mengumpulkan data, antara lain adalah melakukan
wawancara, mengisi lembar pertanyaan (questionery), melakukan pengamatan (observasi),
atau menggunakan data yang sudah ada, misalnya rataan hitung nilai rapor.

D. Penyajian Data dalam Bentuk Diagram


1. Diagram Garis
Penyajian data statistik dengan menggunakan diagram berbentuk garis lurus disebut diagram garis
lurus atau diagram garis. Diagram garis biasanya digunakan untuk menyajikan data statistik yang
diperoleh berdasarkan pengamatan dari waktu ke waktu secara berurutan.
2. Diagram Batang
Diagram batang umumnya digunakan untuk menggambarkan perkembangan nilai suatu objek
penelitian dalam kurun waktu tertentu. Diagram batang menunjukkan keterangan-keterangan
dengan batang-batang tegak atau mendatar dan sama lebar dengan batang-batang terpisah
3. Diagram Lingkaran
Diagram lingkaran adalah penyajian data statistik dengan menggunakan gambar yang berbentuk
lingkaran. Bagian-bagian dari daerah lingkaran menunjukkan bagian-bagian atau persen dari
keseluruhan. Untuk membuat diagram lingkaran, terlebih dahulu ditentukan besarnya persentase
tiap objek terhadap keseluruhan data dan besarnya sudut pusat sektor lingkaran.

E. Penyajian Data dalm Bentuk Tabel Distribusi Histrogram, Poligon, dan Ogif
1. Distribusi Frekuensi Tunggal
Data tunggal seringkali dinyatakan dalam bentuk daftar bilangan, namun kadangkala dinyatakan
dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Tabel distribusi frekuensi tunggal merupakan cara untuk
menyusun data yang relatif sedikit.
2. Distribusi Frekuensi Kelompok
Data yang berukuran besar (n > 30) lebih tepat disajikan dalam tabel distribusi frekuensi
kelompok, yaitu cara penyajian data yang datanya disusun dalam kelas-kelas tertentu. Langkah-
langkah penyusunan tabel distribusi frekuensi adalah sebagai berikut.
Langkah ke-1 menentukan Jangkauan (J) = Xmax - Xmin
Langkah ke-2 menentukan banyak interval (K) dengan rumus "Sturgess" yaitu: K= 1 + 3,3
log n dengan n adalah banyak data. Banyak kelas harus merupakan bilangan bulat positif
hasil pembulatan ke bawah.
Langkah ke-3 menentukan panjang interval kelas (I) dengan menggunakan rumus:

4
J
I =
K
Langkah ke-4 menentukan batas-batas kelas. Data terkecil harus merupakan batas bawah
interval kelas pertama atau data terbesar adalah batas atas interval kelas terakhir.
Langkah ke-5 memasukkan data ke dalam kelas-kelas yang sesuai dan menentukan nilai
frekuensi setiap kelas dengan sistem turus
3. Histogram
Dari suatu data yang diperoleh dapat disusun dalam tabel distribusi frekuensi dan disajikan dalam
bentuk diagram yang disebut histogram. Jika pada diagram batang, gambar batang-batangnya
terpisah maka pada histogram gambar batang-batangnya berimpit.
4. Poligon
Apabila pada titik-titik tengah dari histogram dihubungkan dengan garis dan batang-batangnya
dihapus, maka akan diperoleh poligon frekuensi. Berdasarkan contoh di atas dapat dibuat poligon
frekuensinya seperti gambar berikut ini.
5. Distribusi Frekuensi Kumulatif
Daftar distribusi kumulatif ada dua macam, yaitu sebagai berikut.
a. Daftar distribusi kumulatif kurang dari (menggunakan tepi atas).
b. Daftar distribusi kumulatif lebih dari (menggunakan tepi bawah).
6. Ogive (Ogif)
Grafik yang menunjukkan frekuensi kumulatif kurang dari atau frekuensi kumulatif lebih dari
disebut poligon kumulatif. Poligon kumulatif dibuat mulus, yang hasilnya disebut ogif. Ada dua
macam ogif, yaitu sebagai berikut.
a. Ogif frekuensi kumulatif kurang dari disebut ogif positif.
b. Ogif frekuensi kumulatif lebih dari disebut ogif negatif.
Ukuran Pemusatan Data
1. Rata-Rata
2. Median

1) Median untuk data tunggal


Median adalah suatu nilai tengah yang telah diurutkan. Median dilambangkan Me. Untuk
menentukan nilai Median data tunggal dapat dilakukan dengan cara:
a. Mengurutkan data kemudian dicari nilai tengah,
b. Jika banyaknya data besar, setelah data diurutkan, digunakan rumus:
Untuk n ganjil : Me = X1/2(n + 1)
Xn/2 + Xn/2 +1
Untuk n genap: Me =
2
Keterangan:
xn/2 = data pada urutan ke-n/2 setelah diurutkan.
Contoh:
Tentukan median dari data: 2, 5, 4, 5, 6, 7, 5, 9, 8, 4, 6, 7, 8
Jawab:
Data diurutkan menjadi: 2, 4, 4, 5, 5, 5, 6, 6, 7, 7, 8, 8, 9
Median = data ke-(13 + 1)/2 = data ke-7
Jadi mediannya = 6
2) Median untuk data kelompok
Jika data yang tersedia merupakan data kelompok, artinya data itu dikelompokkan ke dalam
interval-interval kelas yang sama panjang. Untuk mengetahui nilai mediannya dapat
ditentukan dengan rumus berikut ini.
Keterangan:
Kelas median adalah kelas yang terdapat data X1/2 n
L = tepi bawah kelas median

5
c = lebar kelas
n = banyaknya data
F = frekuensi kumulatif kurang dari sebelum kelas median
f = frekuensi kelas median

Modus
Modus ialah nilai yang paling sering muncul atau nilai yang mempunyai frekuensi tertinggi. Jika
suatu data hanya mempunyai satu modus disebut unimodal dan bila memiliki dua modus disebut
bimodal, sedangkan jika memiliki modus lebih dari dua disebut multimodal. Modus
dilambangkan dengan Mo.
1. Modus Data Tunggal
Modus dari data tunggal adalah data yang sering muncul atau data dengan frekuensi tertinggi.
Contoh:
Tentukan modus dari data di bawah ini.
2, 1, 4, 1, 1, 5, 7, 8, 9, 5, 5, 10
Jawab:
Data yang sering muncul adalah 1 dan 5. Jadi modusnya adalah 1 dan 5.
2. Modus Data Kelompok
Modus data kelompok dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan:
L = tepi bawah kelas modus
c = lebar kelas
d1 = selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sebelumnya
d2 = selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sesudahnya

Ukuran Letak Data


Kuartil (Q)
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, bahwa median membagi data yang telah diurutkan
menjadi dua bagian yang sama banyak. Adapun kuartil adalah membagi data yang telah diurutkan
menjadi empat bagian yang sama banyak.
1. Kuartil data tunggal
Urutkan data dari yang kecil ke yang besar, kemudian tentukan kuartil dengan rumus sebagai
berikut:

Contoh:
Tentukan Q1, Q2, dan Q3 dari data : 3, 4, 7, 8, 7, 4, 8, 4, 6, 9, 10, 8, 3, 7, 12.
Jawab:
Langkah 1: urutkan data dari kecil ke besar sehingga diperoleh
3, 3, 4, 4, 4, 6, 7, 7, 7, 8, 8, 8, 9, 10, 12.
1(15+1)
Langkah 2: Letak data Q1= = 4
4
Jadi Q1 terletak pada data ke-empat yaitu 4
2(15+1)
Langkah 3: Letak data Q2= = 8
4
Jadi Q2 terletak pada data ke-delapan yaitu 7
3(15+1)
Langkah 4: Letak data Q1= = 12
4
Jadi Q3 terletak pada data ke-duabelas yaitu 8

6
2. Kuartil data kelompok
Nilai kuartil dirumuskan sebagai berikut.
Keterangan:
Qi = kuartil ke-i (1, 2, atau 3)
L = tepi bawah kelas kuartil ke-i
n = banyaknya data
F = frekuensi kumulatif kelas sebelum kelas kuartil
c = lebar kelas
f = frekuensi kelas kuartil

Ukuran Penyebaran Data


Ukuran pemusatan yaitu mean, median dan modus, merupakan informasi yang memberikan
penjelasan kecenderungan data sebagai wakil dari beberapa data yang ada. Adapun ukuran
penyebaran data memberikan gambaran seberapa besar data menyebar dari titik-titik pemusatan.
1. Jangkauan (Range)
Ukuran penyebaran yang paling sederhana (kasar) adalah jangkauan (range) atau rentangan
nilai, yaitu selisih antara data terbesar dan data terkecil.
a. Range data tunggal
Untuk range data tunggal dirumuskan dengan:
R = xmaks xmin
Contoh :
Tentukan range dari data-data di bawah ini.
6, 7, 3, 4, 8, 3, 7, 6, 10, 15, 20
Jawab:
Dari data di atas diperoleh xmaks = 20 dan xmin = 3
Jadi, R = xmaks xmin
= 20 3 = 17
2. Range data kelompok
Untuk data kelompok, nilai tertinggi diambil dari nilai tengah kelas tertinggi dan nilai
terendah diambil dari nilai kelas yang terendah.

Simpangan Rata-Rata (Deviasi Rata-Rata)


Simpangan rata-rata suatu data adalah nilai rata-rata dari selisih setiap data dengan nilai rataan
hitung.
1. Simpangan rata-rata data tunggal
Simpangan rata-rata data tunggal dirumuskan sebagai berikut.

2. Simpangan Rata-Rata (Deviasi Rata-Rata)


Simpangan rata-rata suatu data adalah nilai rata-rata dari selisih setiap data dengan nilai rataan
hitung.
a. Simpangan rata-rata data tunggal
Simpangan rata-rata data tunggal dirumuskan sebagai berikut.

b. Simpangan rata-rata data kelompok


Simpangan rata-rata data kelompok dirumuskan:

3. Simpangan Baku (Deviasi Standar) dan Ragam

7
Sebelum membahas simpangan baku atau deviasi standar, perhatikan contoh berikut. Kamu tentu
tahu bahwa setiap orang memakai sepatu yang berbeda ukurannya. Ada yang berukuran 30, 32,
33, ... , 39, 40, dan 41. Perbedaan ini dimanfaatkan oleh ahli-ahli statistika untuk melihat
penyebaran data dalam suatu populasi. Perbedaan ukuran sepatu biasanya berhubungan dengan
tinggi badan manusia. Seorang ahli matematika Jerman, Karl Ganss mempelajari penyebaran dari
berbagai macam data. Ia menemukan istilah deviasi standar untuk menjelaskan penyebaran yang
terjadi. Saat ini, ilmuwan menggunakan deviasi standar atau simpangan baku untuk mengestimasi
akurasi pengukuran. Deviasi standar adalah akar dari jumlah kuadrat deviasi dibagi banyaknya
data.
Simpangan baku dan ragam data tunggal
Simpangan baku/deviasi standar data tunggal dirumuskan sebagai berikut.

Ragam dan Simpangan baku data kelompok Ragam ( ) dan Simpangan baku (s) data
kelompok
Dirumuskan sebagai berikut.

Contoh
Tentukan jangkauan(range) dari data-data di bawah ini.
6, 7, 3, 4, 8, 3, 7, 6, 10, 15, 20
Penyelesaian :
Dari data di atas diperoleh xmaks=20 dan xmin=3
*). Menentukan jangkauannya :
R=xmaksxmin=203=17
Jadi, jangkauan data tersebut adalah 17.
Contoh
Tentukan range dari tabel berikut ini.

Penyelesaian :
*). Nilai tengah kelas terendah :
xmin=3+52=4
*). Nilai tengah kelas tertinggi :
xmaks=18+202=19
*). Menentukan jangkauannya :
R=xmaksxmin=194=15
Jadi, jangkauan data tersebut adalah 15.
Contoh :
Diketahui data: 7, 6, 8, 7, 6, 10, 5. Tentukan simpangan rata-ratanya.
Penyelesaian :
*). Menentukan rata-ratanya,
x=7+6+8+7+6+10+57=497=7
*). Menentukan simpangan rata-ratanya :
SR=1ni=1n|xix|=17i=17|xi7|=17(|77|+|67|+|87|+|77|+|67|+|107|+|57|)=17(|0|

8
+|1|+|1|+|0|+|1|+|3|+|2|)=17(0+1+1+0+1+3+2)=17(8)=87
Jadi, simpangan rata-ratanya adalah 8
7
Contoh :
Tentukan simpangan rata-rata pada tabel berikut ini.

Penyelesaian :
*). Melengkapkan isi tabel

*). Menentukan rata-rata :


x=i=1nfi.xii=1nfi=630040=157,5
*). Menentukan simpangan rata-ratanya :
SR=i=1nfi.|xix|i=1nfi=26040=5,15.
Jadi, simpangan rata-ratanya adalah 5,15.

Dari 40 siswa kelas XI IPA diperoleh nilai yang mewakili adalah 7, 9, 6, 3, dan 5. Tentukan
simpangan baku dari data tersebut.
Penyelesaian :
*). Menentukan rata-rata :
x=7+9+6+3+55=305=6
*). Melengkapkan tabel

*). Menentukan simpangan baku


s=i=15(xix)2n1=2051=5=2,24
Jadi, simpangan bakunya adalah 2,24.

9
Contoh :
Hasil tes Matematika 30 siswa kelas XI IPA seperti ditunjukkan pada tabel di bawah.

Berdasarkan data tersebut, tentukan simpangan bakunya.


Penyelesaian :
*).Melengkapkan isi tabel

*). Menentukan rata-ratanya :


x=i=1nfi.xii=1nfi=49030=16,33
*). Menentukan simpangan bakunya
s=i=15fi.(xix)2n=836,730=27,89=5,28
Jadi, simpangan bakunya adalah 5,28.
Contoh :
Pak Murtono seorang pengusaha. Bidang usaha yang ia jalani adalah penerbitan, tekstil, dan
angkutan. Dalam 5 bulan terakhir, ia mencatat keuntungan bersih ketiga bidang usahanya.
Hasilnya tampak pada Tabel berikut

Jika Pak Murtono berpendapat bahwa bidang usaha yang akan dipertahankan hanya dua bidang
usaha dengan kriteria bidang usaha dengan keuntungan bersih yang stabil, tentukanlah bidang
usaha yang sebaiknya tidak dilanjutkan.
Penyelesaian :
*). Menghitung rataan, simpangan baku, dan koefisien keragaman dari setiap bidang usaha.
i). Bidang usaha penerbitan
10
xSKK=60+116+100+132+725=96=i=15(xix)2n1
=(6096)2+(11696)2+(10096)2+(13296)2+(7296)251
=35844=29,93=Sx=29,9396=0,31

ii). Bidang usaha tekstil


xSKK=156=40,69=Sx=40,69156=0,26

ii). Bidang usaha angkutan


xSKK=161,6=100,58=Sx=100,58161,6=0,62
Jadi, sebaiknya Pak Murtono tidak melanjutkan usaha angkutan karena keuntungannya tidak stabil
(nilai KK paling besar).

Contoh :
Hasil tes matematika dari 20 siswa tercatat sebagai berikut.
70, 68, 71, 68, 66, 73, 65, 74, 65, 64, 78, 79, 61, 81, 60, 97, 44, 64, 83, 56.
Jika ada data pencilan, tentukan datum tersebut.
Penyelesaian :
*). Data setelah diurutkan menjadi :
44, 56, 60, 61, 64, 64, 65, 65, 66, 68, 68, 70, 71, 73, 74, 78, 79, 81, 83, 97
ada 20 datum (n=20) .
*). Menentukan nilai kuartil data, jangkauan antarkuartil, langkah, pagar dalam(PD) dan pagar
luar(PL).
Q1Q1Q2Q2Q3Q3JKLPDPL=X14(n+1)=X14(20+1)=X5,25=x5+0,25(x6x5)=64+0,25(6464)=
64+0=64=X24(n+1)=X24(20+1)=X10,5=x10+0,5(x11x10)=68+0,5(6868)=68+0=68=X34(n+
1)=X34(20+1)=X15,75=x15+0,75(x16x15)=74+0,75(7874)=74+3=77=Q3Q1=7764=13=32
(JK)=32.(13)=19,5=Q1L=6419,5=44,5=Q3+L=77+19,5=96,5
Jadi, ada dua pencilan dalam data ini, yaitu 44 dan 97 karena datum 44 nilainya kurang dari PD
dan datum 97 nilainya lebih besar dari PL.

Contoh Soal :
1. Tentukan jangkauan dari data berikut.
a. 26, 40, 18, 25, 16, 45, 30

Jawab:
a. Urutkan data terlebih dahulu.
16, 18, 25, 26, 30, 40, 45
Datum terkecil Datum terbesar
J = datum terbesar datum terkecil
= 45 16 = 29
Jadi, jangkauan data tersebut adalah 29.

11
Tentukan nilai quarti dari data berikut ini :
1,6,9,3,5,8,10

Jawab :
kita urutkan data terlebih dahulu menjadi 1,3,5,6,8,9,10

Tentukan Q1 dari tabil di bawah :

12
Jawab :
Untuk Q1, maka i = 1
n = Jumlah seluruh frekuensi = 80
Letak Q1 = (1/4)n = (1/4)80 = 20
sehingga letak Q1 pada interval ke-3, yaitu 40 - 44, maka :
Tb1 = 40 - 0,5 = 39,5
f1 = 13
F1 = 8 + 10 = 18
c = 35 - 30 = 5

BAB III

PELUANG

A. KAIDAH PENCACAHAN
1. Aturan Pengisian Tempat
Andi diundang menghadiri acara ulang tahun temannya. Andi mempunyai tiga buah baju dua buah
celana.
Baju : Merah, Kuning, Ungu
Celana : Hitam, Biru
Ada berapa cara Andi dapat mamasang-masangkan baju dan celananya?
Penyelesaian:
Banyaknya pasangan celana dan baju yang dapat dipakai Andi ada 6 yaitu:
{(hitam, kuning), (hitam, merah), (hitam, ungu),(biru, kuning), (biru, merah), (biru, ungu)}
2. Faktorial
Definisi:
n! = 1 2 3 (n 2) (n 1) n atau
n! = n (n 1) (n 2) 3 2 1
1! = 1 dan 0! = 1
Untuk lebih memahami tentang faktorial, perhatikan contoh berikut.
1. 6! = 6 5 4 3 2 1 = 720
2. 3! 2 ! = 3 2 1 2 1 = 6 2 = 12
7! 7654321
3. = = 7 6 5 = 210
4! 4321
3. Permutasi
Dari 5 orang calon pengurus akan dipilih 3 orang untuk menempati posisi sebagai ketua,
sekretaris, dan bendahara. Ada berapa banyak cara memilih pengurus ?
Penyelesaian:
Untuk menjawab hal tersebut marilah kita gambarkan 3 tempat kosong yang akan diisi dari 5
calon pengurus yang tersedia.

13
5 x 4 x 3
Kotak (a) dapat diisi dengan 5 calon karena calonnya ada 5
Kotak (b) dapat diisi dengan 4 calon karena 1 calon sudah diisikan di kotak (a).
Kotak (c) dapat diisi dengan 3 calon karena 2 calon sudah diisikan di kotak sebelumnya.
Sehingga banyaknya susunan pengurus kelas adalah 5 4 3 = 60.
Susunan semacam ini disebut permutasi karena urutannya diperhatikan, sebab ketua, sekretaris,
bendahara tidak sama dengan sekretaris, ketua, bendahara.

a. Permutasi r unsur dari n unsur berbeda


Permutasi pada contoh ini disebut permutasi 3 dari 5 unsur dan
dinotasikan dengan P(5.3) atau 5P3, sehingga:
5P3 = 5 4 3
= 5 (5 1) (5 2)
= 5 (5 1) .. (5 3 + 1),
Secara umum dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
Banyaknya permutasi dari n unsur diambil r unsur dinotasikan:
nPr = n (n 1) (n 2) (n 3) (n r + 1)
Atau dapat juga ditulis:
(n r) (n r 1) 3.2.1
nPr =n (n 1) (n 2) (n 3) (n r + 1) x
(n r) (n r 1) 3.2.1

n (n 1) (n 2) (n 3) (n r + 1)(n r) (n r 1) 3.2.1
nPr =
(n r) (n r 1) 3.2.1
n!
nPr =
(n r)!
Contoh:
Akan disusun berjajar bendera negara-negara: Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, Spanyol dan
Yunani. Tentukan banyaknya cara memasang bendera tersebut jika bendera Inggris dan Prancis
harus selalu berdampingan !
Penyelesaian:
Banyaknya negara ada 6 tetapi Inggris dan Prancis harus berdampingan sehingga Inggris dan
Prancis dihitung 1. Jadi banyaknya negara ada 5,
untuk menyusun benderanya 5P5 = 5!
Inggris dan Prancis dapat bertukar posisi sebanyak 2!
Banyaknya cara = 5! x 2!
=5x4x3x2x1x2x1
= 240

b. Permutasi Jika Ada Unsur yang Sama


Untuk menghitung banyaknya permutasi jika ada unsur yang sama, marilah kita lihat contoh
berikut.
Berapakah banyaknya kata yang dapat disusun dari huruf-huruf pembentuk kata: A, D, A, M ?
Penyelesaian:
Banyaknya kata = {(ADAM), (ADMA), (AMAD), (AMDA), (AAMD), (AADM), (DAAM),
(DAMA), (DMAA), (MAAD), (MADA), (MDAA)}
ternyata banyaknya kata hanya ada 12, hal ini berbeda kalau tidak ada huruf yang sama
banyaknya cara ada 4! = 24
Dari contoh dapat dijabarkan 12 = 4 3 atau permutasi 4 unsur dengan 2
4!
unsur sama ditulis:
2!
14
Secara umum banyaknya permutasi n unsur yang memuat k, l, dan m unsur yang sama dapat
ditentukan dengan rumus:
n!
P =
k! l! m!
Perhatikan simulasi berikut!
Contoh :
Berapakah banyaknya kata yang dapat dibentuk dari huruf-huruf pembentuk kata
MATEMATIKA?
Penyelesaian:
MATEMATIKA
Banyak huruf =10
banyak M = 2
banyak A =3
banyak T = 2
10! 10 x 9 x 8 x 7 x 6 x 5 x 4 x 3 x 2 x 1
P = =
2! 3! 2! 2x1x3x2x1x2x1
3628800
P = = 151200
24
Banyaknya kata yang dapat dibentuk ada 151200 kata

c. Permutasi Siklis
Andi, Budi dan Candra hendak duduk mengelilingi sebuah meja. Berapakah banyak cara mereka
dapat duduk mengelilingi meja tersebut?
Kalau mereka duduk berjajar banyaknya cara ada 3! = 6 yaitu
{ABC, ACB, BAC, BCA, CAB, CBA}
Bagaimana kalau mereka mengelilingi sebuah meja ?
Kemungkinan 1 diperoleh bahwa ABC = CAB = BCA
Kemungkinan 2 diperoleh bahwa ACB = CBA = BAC
Sehingga banyak cara mereka duduk hanya ada 2 cara
ternyata banyaknya cara 3 orang duduk mengelilingi sebuah meja = (3 - 1)!
Secara umum banyaknya permutasi siklis dapat ditentukan dengan rumus:
P= (n - 1)!
Contoh :
Berapakah banyaknya cara 8 orang dapat duduk mengelilingi api unggun jika 2 orang tertentu
harus selalu berdampingan?
Penyelesaian:
Banyaknya orang ada 8 tetapi dua orang tertentu harus berdampingan (dihitung satu) sehingga
banyaknya orang ada 7,
Permutasi siklis 7 orang = (7 - 1)!
Dua orang yang berdampingan dapat bertukar posisi sebanyak 2!
Banyaknya cara = 6! x 2!
=6x5x4x3x2x1x2x1
= 1440
4. Kombinasi
Ada tiga sahabat yang baru bertemu setelah sekian lama, mereka adalah
Adi, Budi, dan Candra. Saat bertemu mereka saling berjabat tangan, tahukah kamu berapa banyak
jabat tangan yang terjadi?
Adi berjabat tangan dengan Budi ditulis {Adi, Budi}.
Budi berjabat tangan dengan Adi ditulis {Budi, Adi}.
Antara {Adi, Budi} dan {Budi, Adi} menyatakan himpunan yang sama, hal ini disebut kombinasi.
Di lain pihak {Adi, Budi}, {Budi, Adi} menunjukkan urutan yang berbeda yang berarti
15
merupakan permutasi yang berbeda.
Dari contoh dapat diambil kesimpulan:
Permutasi = Adi Budi, Adi Candra, Budi Adi,
Budi Candra, Candra Adi, Candra Budi
= 6 karena urutan diperhatikan
Kombinasi = Adi Budi, Adi Candra, Budi Candra
= 3 karena urutan tidak diperhatikan
6 permutasi
Kombinasi = 3 = =
2 2
Jadi kombinasi dari 3 unsur diambil 2 unsur ditulis:
3P2 3!
3C2 = =
2 2! (3 2)!

Secara umum dapat disimpulkan bahwa:


Banyaknya kombinasi dari n unsur yang berbeda diambil r unsur
n
ditulis dengan C atau C(n. r) atau nCr, sehingga:
r
P n!
nCr = =
r! (n - r)! r!
Perhatikan contoh soal berikut untuk lebih memahami tentang kombinasi.
Contoh :
1. Hitunglah nilai dari:
a. 8C4
b. 6C2 4C3
Penyelesaian:
8! 8! 8x7x6x 5x4x3x2x1
a. 8C4 = = = = 70
(8 - 4)! 4! 4! 4! 4 x 3 x 2 x 1 x 4 x 3 x 2 x 1

6! 4! 6x 5x4x3x2x1 4x3x2x1
b. 6C2 4C3 = x = x = 70
(6 - 2)! 2! (4 - 3)! 3! 4 x 3 x 2 x 1 x 2 x 1 1 x 3 x 2 x 1

Penyelesaian:
10!
10C3 =
(10 - 3)! 3!

10!
=
7! 3!

10 x 9 x 8 x 7!
=
7! 3 x 2 x 1

720
=
6
= 120
16
Contoh :
Dalam pelatihan bulutangkis terdapat 8 orang pemain putra dan 6 orang pemain
putri. Berapakah pasangan ganda yang dapat diperoleh untuk:
a. ganda putra
b. ganda putri
c. ganda campuran
Penyelesaian:
a. Karena banyaknya pemain putra ada 8 dan dipilih 2, maka banyak cara ada:

8! 8 . 7 . 6 ! 56
8C2 = = = = 28
(8 - 2)! 2! 6! . 2. 1 2
b. Karena banyaknya pemain putri ada 6 dan dipilih 2, maka banyak cara ada:

6! 6 . 5 . 4 ! 30
6C2 = = = = 15
(6 - 2)! 2! 4! . 2. 1 2
c. Ganda campuran berarti 8 putra diambil satu dan 6 putri diambil 1, maka:
8! 6! 8! 6!
8C1 x 6C1 = x = x = 8 x 6 = 48
(8 - 1)! 1! (6 - 1)! 1! 7! 5!

Contoh :
Dari 7 siswa putra dan 3 siswa putri akan dibentuk tim yang beranggotakan 5 orang. Jika
disyaratkan anggota tim tersebut paling banyak 2 orang putri, berapakah banyaknya cara
mambentuk tim tersebut?
Penyelesaian:
Karena anggota tim ada 5 dan paling banyak 2 putri maka kemungkinannya adalah: 5 putra atau 4
putra 1 putri atau 3 putra 2 putri
Banyak cara memilih 5 putra =7C5
Banyak cara memilih 4 putra 1 putri =7C4 . 3C1
Banyak cara memilih 3 putra 2 putri =7C3 . 3C2

Banyak cara = 7C5 + 7C4 . 3C1 + 7C3 . 3C2


7! 7! 3! 7! 3!
= + x + x
(7 - 5)! 5! (7 - 4)! 4! (3 - 1)! 1! (7 - 3)! 3! (3 - 2)! 2!
7 . 6 . 5! 7 . 6 . 5 . 4! 3 . 2 . 1 7 . 6 . 5 . 4! 3 . 2 . 1
= + x + x
2 . 1 . 5! 3 . 2 . 1 . 4! 2.1 4! . 3 . 2 . 1 2.1

= 105 + 105 + 21 = 231


Jadi banyaknya cara membentuk tim ada 231 cara

B. RUANG SAMPEL DAN KEJADIAN


1. Ruang Sampel
Tahukah kamu, apa saja yang mungkin muncul ketika sebuah dadu dilempar sekali ?
Kemungkinan yang muncul adalah mata dadu 1, 2, 3, 4, 5 atau 6.
Jadi banyaknya himpunan semua kejadian yang mungkin pada pelemparan sebuah dadu sekali ada
6.
Himpunan semua kejadian yang mungkin dari suatu percobaan disebut Ruang Sampel atau Ruang
Contoh biasa diberi lambang huruf S
Bagaimana kalau sebuah koin uang logam dilemparkan sekali, apa saja yang mungkin muncul?
17
S = {Angka, gambar}
n(S) = 2

2. Kejadian
Kejadian merupakan himpunan bagian dari ruang sampel.
Contoh 14:
Dua buah dadu dilemparkan bersamaan sekali, tentukan kejadian munculnya
a. jumlah kedua dadu 10
b. selisih kedua dadu 3
c. jumlah kedua dadu 5 dan selisihnya 1
d. jumlah kedua dadu 4 atau selisihnya 5
Penyelesaian:
Untuk mengerjakan soal ini kita lihat jawaban contoh 13.
a. Jumlah kedua dadu 10 ={(4, 6), (5, 5), (6, 4)}
Jadi banyaknya kejadian ada 3
b. Selisih kedua dadu 3 ={(1, 4), (2, 5), (3, 6), (4, 1), (5, 2), (6, 3)}
Jadi banyaknya kejadian ada 6
c. Jumlah kedua dadu 5 dan selisihnya 1 ={(2, 3), (3, 2)}
Jadi banyaknya kejadian ada 2
d. Jumlah kedua dadu 4 atau selisihnya 5 ={(1, 3), (2, 2), (3, 1), (1, 6), (6, 1}
Jadi banyaknya kejadian ada 5

C. PELUANG SUATU KEJADIAN


1. Peluang Suatu Kejadian
Sebelum mempelajari peluang suatu kejadian, marilah kita ingat kembali mengenai ruang sampel
yang biasanya dilambangkan dengan S. Kejadian adalah himpunan bagian dari ruang sampel,
sedangkan titik sampel adalah setiap hasil yang mungkin terjadi pada suatu percobaan. Jika A
adalah suatu kejadian yang terjadi pada suatu percobaan dengan ruang sampel S, di mana setiap
titik sampelnya mempunyai kemungkinan sama untuk muncul, maka peluang dari suatu kejadian
A ditulis sebagai berikut.
n(A)
P(A) =
n(S )
Keterangan:
P(A) = peluang kejadian A
n(A) = banyaknya anggota A
n(S) = banyaknya anggota ruang sampel S

Contoh :
Pada pelemparan 3 buah uang sekaligus, tentukan peluang muncul:
a. ketiganya sisi gambar;
b. satu gambar dan dua angka.
Penyelesaian:
a. S = {AAA, AAG, AGA, GAA, AGG, GAG, GGA, GGG}
Maka n(S) = 8
Misal kejadian ketiganya sisi gambar adalah A.
A = {GGG}, maka n(A) = 1
n(A) 1
P(A) = =
n(S ) 8
b. Misal kejadian satu gambar dan dua angka adalah B.
B = {AAG, AGA, GAA}, maka n(B) = 3
n(B) 3
18
P(B) = =
n(S ) 8

Contoh:
Andi mengikuti acara Jalan Santai dengan doorprize 5 buah sepeda motor. Jika jalan santai
tersebut diikuti oleh 1000 orang, berapakah peluang Andi mendapatkan doorprize sepeda motor?
Penyelesaian:
S = semua peserta jalan santai
maka n(S) = 1000
Misal kejadian Andi mendapatkan motor adalah A.
A = {Motor1, Motor2, Motor3, Motor4, Motor5}
maka n(A) = 5
n(A) 5 1
P(A) = = =
n(S ) 1000 200
1
Jadi peluang Andi mendapatkan doorprize sepeda motor
200
2. Kisaran Nilai Peluang
Untuk mengetahui kisaran nilai peluang, perhatikan soal berikut:
Contoh :
Sebuah dadu dilemparkan sekali, tentukan peluang munculnya
a. Mata dadu 8 b. Mata dadu kurang dari 7
Penyelesaian:
a. S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}, n(S) = 6
misal kejadian muncul mata dadu 8 adalah A
A = { }, n(A) = 0
n(A) 0
P(A) = = = 0
n(S ) 6
Kejadian muncul mata dadu 8 adalah kejadian mustahil, P(A) = 0
b. S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}, n(S) = 6
misal kejadian muncul mata dadu kurang dari 7 adalah B
B = {1, 2, 3, 4, 5, 6}, n(B) = 6
n(B) 6
P(B) = = = 1
n(S ) 6
Kejadian muncul mata dadu kurang dari 7 adalah kejadian pasti, P(A) = 1
Jadi kisaran nilai peluang: 0 P(A) 1

3. Frekuensi Harapan Suatu Kejadian


Frekuensi harapan dari sejumlah kejadian merupakan banyaknya kejadian dikalikan dengan
peluang kejadian itu. Misalnya pada percobaan A dilakukan n kali, maka frekuensi harapannya
ditulis sebagai berikut.
Fh = n P(A)
Contoh :
Pada percobaan pelemparan 3 mata uang logam sekaligus sebanyak 240 kali, tentukan frekuensi
harapan munculnya dua gambar dan satu angka.
Penyelesaian:
S = {AAA, AAG, AGA, GAA, AGG, GAG, GGA, GGG} n(S) = 8
A = {AGG, GAG, GGA} n(A) = 3
n(A) 3
Fh(A) = n P(A) = 240 = 240 = 90 kali
n(S) 8
19
4. Peluang Komplemen Suatu Kejadian
Untuk mempelajari peluang komplemen, perhatikan contoh berikut.
Contoh:
Pada pelemparan sebuah dadu sekali, berapakah peluang munculnya:
a. nomor dadu ganjil,
b. nomor dadu tidak ganjil?
Penyelesaian:
a. S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}, maka n(S) = 6.
A adalah kejadian keluar nomor dadu ganjil
A = {1, 3, 5}, maka n(A) = 3 sehingga
n(A) 3 1
P(A) = = =
n(S ) 6 2
b. B adalah kejadian keluar nomor dadu tidak ganjil
B = {2, 4, 6}, maka n(B) = 3 sehingga
n(B) 3 1
P(B) = = = , Peluang B adalah Peluang komplemen dari A
n(S ) 6 2
Dari contoh tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa:
P(A) + P(AC) = 1 atau P(AC) = 1 P(A)

Contoh:
Pada pelemparan 3 buah uang sekaligus, tentukan peluang munculnya paling
sedikit satu angka !
Penyelesaian:
Cara biasa
S = {AAA, AAG, AGA, GAA, AGG, GAG, GGA, GGG}, maka n(S) = 8
Misal kejadian paling sedikit satu angka adalah A.
A = {AAA, AAG, AGA, GAA, AGG, GAG, GGA}, maka n(A) = 7
n(A) 7
P(A) = =
n(S ) 8

Cara komplemen
S = {AAA, AAG, AGA, GAA, AGG, GAG, GGA, GGG}, maka n(S) = 8
Misal kejadian paling sedikit satu angka adalah A.
Ac = {GGG}, maka n(Ac) =1

n(Ac) 1
P(Ac) = =
n(S ) 8

1 7
P(A) = 1 P(Ac) = 1 =
8 8
5. Peluang Kejadian Majemuk
a. Peluang Gabungan 2 kejadian
Misal A dan B adalah dua kejadian yang berbeda, maka peluang kejadian
A B ditentukan dengan aturan:
P(A B) = P(A) + P(B) P(AB)
Contoh:
Sebuah dadu dilambungkan sekali, jika A adalah kejadian munculnya bilangan ganjil dan B adalah
20
kejadian munculnya bilangan prima. Tentukan peluang kejadian munculnya bilangan ganjil atau
prima!
Penyelesaian:
S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}
A = bilangan ganjil : {1, 3, 5} P(A) = 3/6
B = bilangan prima : {2, 3, 5} P(B) =3/6
AB = {3, 5} P{AB} = 2/6
P(A B) = P(A) + P(B) P(AB)
= 3/6 + 3/6 2/6 = 4/6 = 2/3
Jadi peluang kejadian munculnya bilangan ganjil atau prima adalah 2/3
Contoh:
Diambil sebuah kartu dari 1 set kartu bridge, tentukan peluang terambilnya kartu As atau kartu
Hati!
Penyelesaian:
n(S) = 52 (karena banyaknya kartu dalam 1 set kartu bridge 52)
A = kartu As, n(A) = 4 (Banyaknya kartu As dalam1 set kartu bridge 4)
4
P(A) =
52
B = kartu Hati, n(B) = 13 (Banyaknya kartu Hati dalam1 set kartu bridge 13)
13
P(B) =
52
n(AB) = 1 (Banyaknya Kartu As dan Hati dalam1 set kartu bridge 1)
1
P(AB) =
52
4 13 1 16
P(A B) = P(A) + P(B) P(AB) = + =
52 52 52 52
16
Jadi peluang kejadian terambilnya kartu As atau Hati adalah
52

b. Peluang Kejadian Saling Lepas (Saling Asing)


Kejadian A dan B saling asing jika kedua kejadian tersebut tidak mungkin terjadi bersama-sama.
Ini berarti AB = 0 atau P(AB) = 0
Sehingga: P (A B) = P(A) + P(B) P(AB) = P(A) + P(B) 0
P (A B) = P(A) + P(B)
Contoh:
Sebuah dadu dilambungkan sekali, jika A adalah kejadian munculnya bilangan ganjil dan B adalah
kejadian munculnya bilangan genap. Tentukan peluang kejadian munculnya bilangan ganjil atau
genap!
Penyelesaian:
S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}
A = bilangan ganjil : {1, 3, 5} P(A) = 3/6
B = bilangan genap : {2, 4, 6} P(B) =3/6
AB = {} P(AB) = 0 (A dan B kejadian saling lepas)
P(A B) = P(A) + P(B)
= 3/6 + 3/6 = 1
Jadi peluang kejadian munculnya bilangan ganjil atau genap adalah 1
Contoh:
Sebuah kotak berisi 5 bola merah, 2 bola kuning dan 1 bola biru. Akan diambil sebuah bola secara
acak. Tentukan peluang terambilnya bola merah atau bola kuning!
21
Penyelesaian:
8! 8! 8 . 7!
n(S) = 8C1 = = = = 8
1!(8- 1)! 1 . 7! 7!
Misal kejadian terambilnya kelereng merah adalah A, maka:
5! 5! n(A) 5
n(A) = 5C1 = = = 5, P(A) = =
1!(5 - 1)! 4! n(S) 8
Misal kejadian terambilnya kelereng kuning adalah B, maka:
2! 2! n(B) 2
n(B) = 2C1 = = = 2, P(B) = =
1!(2 - 1)! 1! n(S) 8
AB = {} (Kejadian saling lepas)
5 2 7
P(A B) = P(A) + P(B) = + =
8 8 8 7
Jadi peluang terambilnya bola merah atau bola kuning
8
c. Peluang Kejadian Saling Bebas
Jika kejadian A tidak memengaruhi terjadinya kejadian B dan sebaliknya, atau terjadi atau
tidaknya kejadian A tidak tergantung pada terjadi atau tidaknya kejadian B maka dua kejadian ini
disebut kejadian saling bebas. Hal ini seperti digambarkan pada pelemparan dua buah dadu
sekaligus.
A adalah kejadian munculnya dadu pertama angka 3 dan
B adalah kejadian munculnya dadu kedua angka 5
maka kejadian A dan kejadian B merupakan dua kejadian yang saling bebas, dan peluang kejadian
ini dapat dirumuskan:
P(AB) = P(A) P(B)

Contoh:
Dua buah dadu dilemparkan bersama-sama, tentukan peluang munculnya mata dadu 3 pada dadu
pertama dan mata dadu 5 pada dadu kedua!
Penyelesaian:
Kejadian munculnya mata dadu 3 pada dadu pertama tidak terpengaruh kejadian munculnya mata
dadu 5 pada dadu kedua jadi ini adalah dua kejadian yang saling bebas
S = {(1, 1), (1, 2), (1, 3), .., (6, 6)} n(S) = 36
Misal kejadian munculnya mata dadu 3 pada dadu pertama adalah A, maka:
6 1
A = {(3, 1), (3, 2), (3, 3), (3, 4), (3, 5), (3, 6)} n(A) = 6 P(A) = =
36 6
Misal kejadian munculnya mata dadu 5 pada dadu kedua adalah B, maka:
6 1
B = {(1, 5), (2, 5), (3, 5), (4, 5), (5, 5), (6, 5)} n(B) = 6 P(B) = =
36 6
1 1 1
P(AB) = P(A) P(B) = =
6 6 36
Jadi peluang munculnya mata dadu 3 pada dadu pertama dan mata dadu 5
1
pada dadu kedua =
36
Contoh:
Kotak A berisi 5 bola merah dan 3 bola kuning sedangkan Kotak B berisi 5 bola merah dan 2 bola
kuning. Akan diambil sebuah bola secara acak dari masing-masing kotak. Tentukan peluang
22
terambilnya bola merah dari kotak A dan terambilnya bola kuning dari kotak B!
Penyelesaian:
Kotak A
8! 8! 8 . 7!
n(S) = 8C1 = = = = 8
1!(8- 1)! 1 . 7! 7!
Misal kejadian terambilnya bola merah dari kotak A adalah A, maka:
5! 5! n(A) 5
n(A) = 5C1 = = = 5, P(A) = =
1!(5 - 1)! 4! n(S) 8
Kotak B
7! 7! 7 . 6!
n(S) = 7C1 = = = = 7
1!(7- 1)! 1 . 6! 6!
Misal kejadian terambilnya bola kuning dari kotak B adalah B, maka:
2! 2! n(B) 2
n(B) = 2C1 = = = 2, P(B) = =
1!(2 - 1)! 1! n(S) 7
5 2 5
P(AB) = P(A) P(B) = =
8 7 28

6. Peluang Kejadian Bersyarat


Dua kejadian disebut kejadian bersyarat atau kejadian yang saling bergantung apabila terjadi atau
tidak terjadinya kejadian A akan mempengaruhi terjadi atau tidak terjadinya kejadian B. Peluang
terjadinya kejadian A dengan syarat kejadian B telah terjadi adalah:
P(AB)
P(A/B) = P(B) 0
P(B)
Atau Peluang terjadinya kejadian B dengan syarat kejadian A telah terjadi adalah:
P(AB)
P(B/A) = P(A) 0
P(A)

Contoh:
Sebuah kotak berisi 5 bola merah dan 3 bola kuning. Akan diambil sebuah bola secara acak
berturut-turut sebanyak dua kali tanpa pengembalian . Tentukan peluang terambilnya keduanya
bola merah!
Penyelesaian:
Misal kejadian terambilnya bola merah pada pengambilan pertama adalah A, maka:
n(A) 5
P(A) = =
n(S) 8

Misal kejadian terambilnya bola merah pada pengambilan kedua adalah B, maka:
n(B/A) 4
P(B/A) = =
n(S) 7
5 4 5
P(AB) = P(A) P(B/A) = =
8 7 14

23
BAB IV

TRANSFORMASI
1. Pengertian Transformasi
Transformasi T dibidang adalah suatu pemetaan titik pada suatu bidang ke himpunan titik pada
bidang yang sama.
Jenis-jenis transformasi yang dapat dilakukan antara lain :
a. Translasi (Pergeseran)
b. Refleksi (Pencerminan)
c. Rotasi (Perputaran)
d. Dilatasi (Perkalian)
Berikut ini ilustrasinya :

24
TRANSLASI / PERGESERAN

Berdasarkan gambar di atas, segitiga ABC yang mempunyai koordinat A(3, 9), B(3, 3), C(6, 3)
ditranslasikan:

Berdasarkan penjelasan diatas, maka untuk mencari nilai translasi dapat digunakan rumus sebagai
berikut :

dimana :
a menyatakan pergeseran horizontal (kekanan+, kekiri-)
b menyatakan pergeseran vertikal (keatas+,kebawah-)
2. Translasi dan Operasinya
Translasi (pergeseran) adalah pemindahan suatu objek sepanjang garis lurus dengan arah dan jarak
tertentu.

Jika translasi memetakan titik P (x, y) ke titik P(x, y) maka x = x + a dan y = y + b


atay P (x + a, y + b ) ditulis dalam bentuk :

Contoh : Tentukan koordinat bayangan titik A (-3, 4) oleh translasi


Jawab :
Jawab :
A = ( -3 + 3, 4 + 6)
A = (0, 10)

3. Refleksi (Pencerminan)

25
Segitiga ABC dengan koordinat A(3, 9), B(3, 3), C(6, 3) dicerminkan:
terhadap sumbu Y menjadi segitiga A2B2C2 dengan koordinat A2(-3, 9), B2(-3, 3), C2(-6,
3)
terhadap sumbu X menjadi segitiga A3B3C3 dengan koordinat A3(3, -9), B3(3, -3), C3(6,
-3)
terhadap titik (0, 0) menjadi segitiga A4B4C4 dengan koordinat A4(-3, -9), B4(-3, -3),
C4(-6, -3)

Segitiga ABC dengan koordinat A(3, 9), B(3, 3), C(6, 3) dicerminkan:
terhadap garis x = -2 menjadi segitiga A5B5C5 dengan koordinat A5(-7, 9), B5(-7, 3),
C5(-10, 3)
terhadap sumbu y = 1 menjadi segitiga A6B6C6 dengan koordinat A6(3, -7), B6(3, -1),
C6(6, -1)

Segitiga PQR dengan koordinat P(6, 4), Q(6, 1), R(10, 1) dicerminkan:
terhadap garis y = x menjadi segitiga P2Q2R2 dengan koordinat P2(4, 6), Q2(1, 6), R2(1,
10)
terhadap garis y = -x menjadi segitiga P3Q3R3 dengan koordinat P3(-4, -6), Q3(-1, -6),
R3(-1, -10)
Berdasarkan penjelasan diatas dapat dirumuskan :
Pencerminan terhadap garis x = a atau y = b

26
Pencerminan terhadap sumbu x atau sumbu y

Pencerminan terhadap titik (0, 0)

Pencerminan terhadap garis y = x atau y = x

Pencerminan terhadap garis y = mx + c


Jika m = tan maka:

a. Pencerminan terhadap sumbu x

Matriks percerminan :

b. Pencerminan Terhadap sumbu y

Matriks Pencerminan:

c. Pencerminan terhadap garis y = x

Matriks Pencerminan

d. Pencerminan terhadap garis y = -x

27
Matriks Pencerminan:

e. Pencerminan terhadap garis x = h

Matriks Pencerminan:
Sehingga:

f. Pencerminan terhadap garis y=k

Matriks Pencerminan :
Sehingga:

g. Pencerminan terhadap titik asal O (0, 0)

Matriks Pencerminan :
Sehingga:

h. Pencerminan terhadap garis y = mx dimana m = tan q

Contoh :

Tentukan bayangan persamaan garis y = 2x 5 oleh translasi


Jawab :

28
Ambil sembarang titik pada garis y = 2x 5, misalnya (x, y) dan titik bayangan oleh translasi

adalah (x, y) sehingga ditulis


Atau
x = x + 3 x = x- 3 ..... (1)
y = y 2 y = y + 2 ......(2)
Persamaan (1) dan (2) disubtitusikan pada persamaan garis semula, sehingga :
y = 2x 5
y + 2 = 2 (x- 3) 5
y = 2x 6 5 2
y = 2x 13

Jadi persamaan garis bayangan y = 2x 5 oleh translasi adalah y = 2x 13 .

Contoh Soal :

1. a)Tentukan bayangan dari titik A (2, 3) oleh translasi T = (7, 8)

b) Tentukan bayangan dari titik A (5, 10) oleh translasi

c) Tentukan bayangan dari titik A (1, 2) oleh translasi T = (1, 2) dilanjutkan oleh translasi U =
(3, 4)
Pembahasan
Bayangan dari titik A oleh suatu transformasi namakan A Dua model yang biasa dipakai sebagai
berikut:

Hasilnya akan sama saja, hanya sedikit beda cara penulisan, sehingga:
a) Bayangan dari titik A (2, 3) oleh translasi T = (7, 8)

b) Bayangan dari titik A (5, 10) oleh translasi

c) Bayangan dari titik A (1, 2) oleh translasi T = (1, 2) dilanjutkan oleh translasi U = (3, 4)

29
2. Disediakan suatu persamaan garis lurus
Y = 3x + 5
Tentukan persamaan garis lurus yang dihasilkan oleh translasi T = (2, 1)

Pembahasan
Ada beberapa cara diantaranya:
Cara pertama:
Posisi titik (x, y) oleh translasi T = (2, 1) adalah:
x = x + 2 x = x 2
y = y + 1 y = y 1
Masukkan nilai x dan y yang baru ke persamaan asal
y = 3x + 5
(y 1 ) = 3(x 2) + 5

Tinggal selesaikan, ubah lambang y dan x ke y dan x lagi:


y 1 = 3x 6 + 5
y = 3x 6 + 5 + 1
y = 3x
Cara kedua:
Ambil dua buah titik dari persamaan y = 3x + 5
Misal:
Titik A, untuk x = 0 y = 5 dapat titik A (0, 5)
Titik B, untuk Y = 0 x = 5 /3 dapat titik B ( 5/3 , 0)
Translasikan Titik A dan B dengan T = (2,1)
A (0 + 2, 5 +1) = A (2, 6)
B (-5/3 + 2, 0 + 1) = A (1/3, 1)
Buat persamaan garis yang melalui kedua titik itu:

Cara ketiga
Dengan rumus yang sudah jadi atau rumus cepat:

ax + by = c
Translasi T (p, q)

30
Hasil : ax + by = c + ap + bq

Rumus ini untuk bentuk seperti soal di atas, jangan terapkan pada bentuk-bentuk yang lain, nanti
salah.
y = 3x + 5
atau
3x y = 5
oleh T = (2,1)
Hasil translasinya adalah:
3x y = 5 + (3)(2) + ( 1)(1)
3x y = 5 + 6 1
3x y = 0
atau
y = 3x

3. Titik A memiliki koordinat (3, 5). Tentukan koordinat hasil pencerminan titik A:
a) Terhadap garis x = 10
b) Terhadap garis y = 8

Pembahasan
Pencerminan sebuah titik terhadap garis x = h atau y = k
a) Terhadap garis x = 10
x=h
(a, b) ----------> (2h a, b)
x=h
(3, 5) ----------> ( 2(10) 3, 5) = (17, 5)
b) Terhadap garis y = 8
y=k
(a, b) ----------> (a, 2k b)
y=k
(3, 5) ----------> ( 3, 2(8) 5) = (3, 11)

4. Titik A memiliki koordinat (3, 5). Tentukan koordinat hasil pencerminan titik A:
a) Terhadap garis y = x
b) Terhadap garis y = x

Pembahasan
a) Terhadap garis y = x
y=x
(a, b) ----------> ( b, a)
y=x
(3, 5) ----------> (5, 3)
b) Terhadap garis y = x
y=x
(a, b) ----------> ( b, a)
31
y=x
(3, 5) ----------> ( 5, 3)

5. Titik P (62, 102) diputar dengan arah berlawanan jarum jam sejauh 45 menghasilkan titik
P'. Tentukan koordinat dari titik P'.

Pembahasan
Rotasi sebuah titik dengan sudut sebesar

Sehingga:

Catatan:
sudut positif berlawanan arah jarum jam
sudut negatif searah jarum jam

6.

Bayangan kurva y = x + 1 jika ditransformasikan oleh matriks

kemudian dilanjutkan oleh pencerminan terhadap sumbu X adalah....


Pembahasan

Transformasi oleh matriks

dilanjutkan pencerminan terhadap sumbu x dengan matriksnya

32
Gabungan dua transformasi:

Terlihat bahwa
y' = y
y = y'

x' = x + 2y
x' = x + 2( y')
x' = x 2y'
x = x' + 2y'
Jadi:
x = x' + 2y'
y = y'
Masukkan ke persamaan awal
y=x+1
( y') = (x' + 2y' ) + 1
x' + 3y' + 1 = 0
Sehingga bayangan kurva yang diminta adalah x + 3y + 1 = 0

7. Koordinat bayangan titik P(6, 5) jika ditransformasikan oleh matriks

dan dilanjutkan pencerminan terhadap sumbu X adalah....


Pembahasan
Titik A, dengan transformasi matriks

akan menghasilkan titik A', yang koordinatnya:

Dilanjutkan lagi dengan pencerminan terhadap sumbu X akan menghasilkan titik A'', dimana titik
A'' koordinatnya akan menjadi (11, 6), beda tanda minus saja pada ordinat atau y nya. Bisa juga
dengan mengalikan memakai matriks pencerminan terhadap sumbu X.

33
Jadi A" koordinatnya adalah (11, 6)

8. Lingkaran (x 2)2 + (y + 3)2 = 25 ditransformasikan oleh matriks

dilanjutkan oleh matriks

maka bayangan lingkaran itu adalah....

Pembahasan
(x 2)2 + (y + 3)2 = 25 adalah sebuah lingkaran yang berpusat di titik P (2, 3) dan berjari-jari r =
25 = 5. Ingat kembali topik persamaaan lingkaran.
Setelah diitransformasi, jari-jarinya tidak berubah, tetap r = 5, jadi cukup dengan transformasi titik
pusatnya, kemudian dipasang lagi di persamaan umum lingkaran akan diperoleh hasilnya.
Titik P (2, 3) oleh transformasi

akan menjadi P':

Titik P' ini oleh transformasi kedua

akan menjadi P" dengan koordinatnya tetap (3, 2). Kok tidak berubah, karena matriks yang kedua
ini adalah matriks identitas, jika untuk mengali hasilnya tetap. Atau dihitung sajalah seperti ini:

Pusat lingkaran yang baru diperoleh adalah (3, 2) dengan jari-jari r = 5, hingga persamaan
lingkarannya menjadi:

34
BAB V

PERSAMAAN LINGKARAN

Persamaan Lingkaran

Lingkaran dengan jari-jari r=1, berpusat di (a,b)=(1,2 , 0,5)


Lingkaran adalah tempat kedudukan titik-titik pada bidang yang berjarak sama terhadap suatu
titik tertentu. Titik tertentu itu disebut pusat lingkaran, sedangkan jarak titik terhadap pusat
lingkaran disebut jari-jari lingkaran.
Gambar dibawah ini menunjukkan lingkaran dengan pusat P dan jari-jari r.

35
A. Persamaan Lingkaran
1. Persamaan lingkaran yang berpusat O (0, 0) dan jari-jari r
Pada lingkaran disamping jari-jari atau r = OP, OQ = x dan PQ = y.
Jarak dari O (0, 0) ke P (x, y) adalah.

Berdasarkan rumus Pythagoras

Jadi persamaan lingkaran dengan pusat O (0, 0) dan jari-jari r adalah x2 + y2 = r2


Contoh :
Tentukan persamaan lingkaran yang berpusat O (0, 0) dan jari-jari 5
Jawab :

2. Persamaan lingkaran yang berpusat P (a, b) dan berjari-jari r

Persamaan lingkaran yang berpusat P(a, b) dan berjari-jari r dapat diperoleh dari
persamaan lingkaran yang berpusat di (0, 0) dan berjari-jari r dengan menggunakan teori
pergeseran. Jika pusat (0, 0) bergeser (a, b) maka titik (x, y) bergeser ke (x + a, y + b).
Kita peroleh persamaan.

Persamaan lingkaran menjadi (x a)2 + (y b)2 = r2


Jadi persamaan lingkaran yang berpusat P(a, b) dan berjari-jari r adalah (x- a)2 + (y b)2 = r2
Contoh 1 :
36
Tentukan persamaan lingkaran yang berpusat di (3, 2) dan berjari-jari 4
Jawab :
Pusat (3, 2) maka a = 3 dan b = 2
Persamaan lingkaran (x- a)2 + (y b)2 = r2
(x- 3)2 + (y 2)2 = 42
(x- 3)2 + (y 2)2 = 16
Contoh 2 :
Tentukan persamaan lingkaran berpusat di titik P(2, 3) yang melalui Q(5, -1)
Jawab :

Pusat (2, 3) maka a = 2 dan b = 3


Persamaan lingkaran (x- a)2 + (y b)2 = r2
(x- 2)2 + (y 3)2 = 252
B. Bentuk umum persamaan lingkaran
Persamaan lingkaran yang berpusat P(a, b) dan berjari-jari r adalah
(x- a)2 + (y b)2 = r2
x2 2ax + a2 + y2 2by + b2 = r2
x2+ y2 2ax 2by + a2+ b2 r2 = 0 atau x2+ y2 + Ax + By + a2+ b2+ C= 0

Jadi bentuk umum persamaan lingkaran x2+ y2 + Ax + By + a2+ b2+ C= 0

Contoh :
Tentukan pusat dan jari-jari lingkaran x2+ y2 4x +2y 20= 0
Jawab :
A = -4, B = 2, dan C = -20

B. Kedudukan Titik dan Garis Pada Lingkaran


Kedudukan Titik Pada Lingkaran
Letak K (m,n) terhadap X2+Y2 +Ax + By +C= 0 , ditentukan oleh nilai kuasa titik tersebut
terhadap lingkaran

nilai kuasa K = m2+n2 +Am + Bn +C,


K < 0 di dalam lingkaran
K= 0 pada lingkaran
K > 0 di luar lingkaran
Contoh 1:
Tentukan kedudukan titik-titik berikut terhadap lingkaran X2+y2 -8x -10y +16 =0 dan gambarlah

a. H(-3,9) b L(7,9), c M(10,5), d N(1,7)


Jawaban:

37
a. H(-3,9) K = (-3)2+92 -8.(-3) -10.9 +16 = 40, K > 0, diluar lingkaran

b. L(7,9) K = (7)2+92 -8.(7) -10.9 +16 = 0, K = 0, pada lingkaran

c. M(10,5) K = (10)2+52 -8.(10) -10.5 +16 = 11, K > 0, diluar lingkaran

d. N(1,7) K = 12+72 -8.(1) -10.7 +16 = -12, K < 0, didalam lingkaran


Contoh 2:
Diketahui sebuah lingkaran X2+y2 -2x +6y -15 =0 dan sebuah titik S(m,1), tentukan batas nilai
m agar
a. titik S didalam lingkaran
b. titik S diluar lingkaran
Jawaban:
S(m,1) K = kuasa
= m2 +12 - 2m +6.1 - 15
= m2 - 2m - 8

a. Syarat di dalam lingkaran, K< 0 m2 -2m -8 <0 (m-4)(m+2)=0


m=-2 atau m=4
didalam lingkaran jika -2 < m <4 ( daerah - - - )
diluar lingkran, K >0, jika m<-2 atau m >4 (daerah ++ )
Kedudukan Garis Pada Lingkaran
Untuk mengetahui kedudukan/ posisi sebuah garis terhadap lingkaran, substitusikan garis
terhadap lingkaran sehingga didapatkan bentuk ax2+bx+c=0.
Lihat diskriminannya:
Jika
D<0, berarti garis berada di luar lingkaran (tidak memotong lingkaran)
D=0, berarti garis menyinggung lingkaran
D>0, berarti garis memotong lingkaran di 2 titik berbeda.
Contoh 1:
Tentukan posisi garis:
terhadap lingkaran
Jawab:

Karena , maka garis berada di luar lingkaran.


Contoh 2:
Tentukan p agar garis terletak di luar lingkaran !
Jawab:

38
syarat:

atau
Gambar dengan garis bilangan untuk pertidaksamaan diatas, maka akan didapatkan nilai
p: atau
C. Persamaan Garis Singgung Lingkaran

Jika persamaan lingkaran , maka persamaan garis


singgungnya:Persamaan garis singgung untuk suatu titik (x1,y1) yang terletak
pada lingkaran

Jika persamaan lingkaran , maka persamaan garis singgungnya:

Jika persamaan lingkaran berbentuk , maka persamaan garis


singgungnya:

Persamaan lingkaran dapat juga diubah


menjadi dengan kuadrat sempurna, sehingga rumus yang harus
dihafalkan jadi lebih sedikit.

Rumus:
atau

Jika diketahui titik


Jika diketahui gradien

Contoh soal :
Soal No. 1
Diberikan persamaan lingkaran:
L x2 + y2 = 25.
Tentukan persamaan garis singgung lingkaran yang memiliki titik singgung di (4, 3).
Pembahasan
Menentukan garis singgung pada suatu lingkaran yang pusatnya di (0, 0) dan diketahui titik
singgungnya.
Lingkaran L x2 + y2 = r2
Titik singgung (x1, y1)
Persamaan garis singgungnya adalah:

39
Dengan x1 = 4 dan y1 = 3, persamaan garisnya:
4x + 3y = 25
3y 4x 25 = 0

Soal No. 2
Persamaan garis singgung pada lingkaran x2 + y2 = 13 yang melalui titik (3, 2) adalah....
A. 2x 3y = 13
B. 2x 3y = 13
C. 3x 2y = 14
D. 3x 2y = 13
E. 3x + 2y = 13
Pembahasan
Titik yang diberikan adalah (3, 2), dan belum diketahui posisinya pada lingkaran, apakah di
dalam, di luar atau pada lingkaran. Cek terlebih dahulu,
(3, 2) x2 + y2
= 32 + (2)2 = 9 + 4
= 13
Hasilnya ternyata sama dengan 13 juga, jadi titik (3, 2) merupakan titik singgung. Seperti nomor
1:

Soal No. 3
Diberikan persamaan lingkaran L x2 + y2 = 25. Tentukan persamaan garis singgung pada
lingkaran tersebut yang memiliki gradien sebesar 3.

Pembahasan
Menentukan persamaan garis singgung pada lingkaran yang pusatnya di (0, 0) dengan diketahui
gradien garis singgungnya.

Soal No. 4
Salah satu persamaan garis singgung lingkaran x2 + y2 = 25 yang tegak lurus garis 2y x + 3 = 0
adalah....
A. y = 1/2 x + 5/25
B. y = 1/2 x 5/25
C. y = 2x 5
D. y = 2x + 55
E. y = 2x + 5
(Garis singgung Lingkaran - un 2005)
Pembahasan
Garis 2y x + 3 = 0 memiliki gradien sebesar 1/2. Garis lain yang tegak lurus dengan garis ini
harus memiliki gradien 2. Ingat pelajaran SMP 8, jika dua garis saling tegak lurus maka berlaku
m1 m2 = 1
Sehingga persamaan garis singgung di lingkaran x2 + y2 = 25 yang memiliki gradien 2 adalah:

40
Jadi persamaan garis singgungnya bisa y = 2x + 55 bisa juga y = 2x 55, pilih yang ada.
Soal No. 5
Diberikan persamaan lingkaran:

L (x 2)2 + (y + 3)2 = 25

Tentukan persamaan garis singgung lingkaran dengan titik singgung pada (5, 1).
Pembahasan
Persamaan garis singgung pada lingkaran:
L (x a)2 + (y b)2 = r2
pada titik singgung (x1, y1)

dengan
a = 2 dan b = 3 dan r2 = 25
maka persamaan garisnya

Soal No. 6
Diberikan persamaan lingkaran:

L (x 2)2 + (y + 3)2 = 25

Tentukan persamaan garis singgung pada lingkaran tersebut yang sejajar dengan garis y = 2x + 3.
Pembahasan
Garis singgung pada lingkaran dengan pusat (a, b) diketahui gradien m

Garis singgung yang diminta sejajar dengan garis y = 2x + 3 sehingga gradiennya sama yaitu 2.

Soal No. 7
Persamaan garis singgung pada lingkaran x2 + y2 2x + 4y 220 = 0 yang sejajar dengan garis 5
y + 12x + 8 = 0 adalah...
A. 12 x + 5y 197 = 0 dan 12x + 5y + 195 = 0
B. 12 x + 5y + 197 = 0 dan 12x + 5y 195 = 0
C. 5 x + 12y + 197 = 0 dan 5x + 12y + 195 = 0
D. 5x + 12y 197 = 0 dan 5x + 12y 195 = 0
E. 12 x 5y 197 = 0 dan 12x 5y + 195 = 0
41
Pembahasan
Lingkaran x2 + y2 2x + 4y 220 = 0 memiliki pusat:

dan jari-jari

Gradien garis singgungnya sejajar dengan 5 y + 12x + 8 = 0, jadi gradiennya adalah 12/5.
Persamaannya:

Sehingga dua buah garis singgungnya masing-masing adalah

Soal No. 8
Persamaan garis singgung lingkaran x2 + y2 4x + 2y 20 = 0 di titik (5, 3) adalah....
A. 3x 4y + 27 = 0
B. 3x + 4y 27 = 0
C. 3x + 4y 27 = 0
D. 7x+ 4y 17 = 0
E. 7x + 4y 17 = 0

Pembahasan
Titik singgung : (x1, y1)
pada lingkaran : L x2 + y2 + Ax + By + C = 0

Rumus garis singgungnya:

Data:
x2 + y2 4x + 2y 20 = 0
Titik (5, 3)
A = 4
B=2
C = 20
42
x1 = 5
y1 = 3
Garis singgungnya:

Soal No. 9
Persamaan garis singgung lingkaran x2 + y2 6x + 4y 12 = 0 di titik (7, 1) adalah.
A. 3x 4y 41 = 0
B. 4x + 3y 55 = 0
C. 4x 5y 53 = 0
D. 4x + 3y 31 = 0
E. 4x 3y 40 = 0
(un 2011)
Pembahasan
Data soal:
L x2 + y2 6x + 4y 12 = 0
A = 6
B=4
C = 12
(7, 1)
x1 = 7
y1 = 1
Rumus sebelumnya, diperoleh garis singgung lingkaran:

Soal No. 10
Lingkaran L (x + 1)2 + (y 3)2 = 9 memotong garis y = 3. Garis singgung lingkaran yang
melalui titik potong antara lingkaran dan garis tersebut adalah...
A. x = 2 dan x = 4
B. x = 2 dan x = 2
C. x = 2 dan x = 4
D. x = 2 dan x = 4
E. x = 8 dan x = 10
Pembahasan
Data soal:
Polanya:
L (x a)2 + (y b)2 = r2
Pusatnya (a, b)

L (x + 1)2 + (y 3)2 = 9
a = 1
b=3

y = 3 memotong lingkaran ini, masukkan nilai y ke persamaan, ketemu nilai x, dengan demikian
titik-titik singgungnya akan diketahui.

43
(x + 1)2 + (y 3)2 = 9
(x + 1)2 + (3 3)2 = 9
(x + 1)2 + 0 = 9
(x + 1)2 = 9
(x + 1) = 3
x+1=3 x + 1 = 3
x=2 x = 4

Titik singgungnya: ( 4, 3) dan (2, 3)

Untuk titik singgung (x1, y1) = ( 4, 3) dengan pusatnya tadi (a, b) = (1, 3)

Untuk titik singgung (x1, y1) = ( 2, 3) dengan pusatnya tadi (a, b) = (1, 3)

1. Tentukan persamaan lingkaran yang berpusat (3,4) dan berjari-jari 6 !


Jawab :
(x - 3)2 + ( y - 4)2 = 62 x2 + y2 - 6x - 8y - 11 = 0 2.
2. Tentukan persamaan lingkaran yang berpusat (2,3) dan melalui titik (5,-1) !
Jawab :
Persamaan lingkaran yang berpusat (2,3 ) adalah (x - 2)2 + ( y - 3)2 = r2 Melalui titik (5,-1)
maka : (5 - 2)2 + (- 1- 3)2 = r2 r2 = 25
Jadi persamaan lingkarannya : (x - 2)2 + ( y - 3)2 = 25 atau x2 + y2 - 4x + 6y - 12 = 0 3.
3. Diketahui titik A(5,-1) dan B(2,4). Tentukan persamaan lingkaran yang diameternya melalui
titik A dan B !
Jawab :

4. Tentukan persamaan lingkaran yang berpusat di titik (2,-3) dan menyinggung garis 3x - 4y + 7
=0!
Jawab :

44
5. Tentukan pusat lingkaran x2 + y2 + 4x - 6y + 13 = 0 !
Jawab :

6. Tentukan jari-jari lingkaran x2 + y2 - 4x + 2y + c = 0 yang melalui titik A(5,-1) !


Jawab :

7. Tentukan jari-jari dan pusat lingkaran 4x2 + 4y2 + 4x - 12y + 1 = 0 !

8. Tentukan m supaya lingkaran x2 + y2 - 4x + 6y + m = 0 mempunyai jari-jari 5 !


Jawab :

9. Agar garis y = x + c menyinggung lingkaran x2 + y2 = 25 maka tentukan c !


Jawab :

10. Tentukan a agar garis y = x + a menyinggung lingkaran x2 + y2 - 6x - 2y + 2 = 0 !


Jawab :

45
BAB VI

TURUNAN

Turunan Matematika adalah


Misalkan y adalah fungsi dari x atau y = f(x). Turunan (atau diferensial) dari y terhadap x

dinotasikan dengan :

Rumus Turunan dan contoh

Jika dengan C dan n konstanta real, maka :

Jika y = C dengan

Jika y = f(x) + g(x) maka

46
Jika y = f(x).g(x) maka

Turunan Trigonometri

47
Rumus Turunan Trigonometri adalah :

Contoh Soal :
1. Diketahui f(x) = x6 + 12x4 +2x2 6x + 8.Dan f(x) adalah turunan pertama dari f(x). Nilai
f(1) adalah....
Penyelesaian:
f(x) = x6 + 12x4 +2x2 6x + 8
f(x)= 6x5 + 48x3 6 + 8
f(1)= 6.1 + 48.1 6 + 8

48
= 6 + 48 6 + 8
= 56

2. Turunan pertama dari f(x) = 2x3 + 3x2 x + 2 adalah f(x).Nilai f(1) adalah....
Penyelesaian:
f(x) = 2x3 + 3x2 x + 2
f(x) = 6x2 + 6x 1 + 2
f(1)= 6.1 + 6.1 1 + 2
= 6 + 6 1 +2
= 13

3. Diketahui f(x) = 6x4 2x3 + 3x2 x 3 dan f(x) adalah turunan pertama dari f(x).Nilai f(1)
adalah
Penyelesaian:
f(x) = 6x4 2x3 + 3x2 x 3
f(x) = 24x3 6x2 + 6x 1 3
f(1)= 24.1 6.1 + 6.1 1 -3
= 24 6 + 6 -1 -3
= 20
4. Diketahui y = 3x4 -2x5 1/2x6 -51-3.Tentukan turunannya
Penyelesaian :
y=12x4-1 2. 5x5 -1 1/2 .6x6-1 5.1x 1-1 - 0
= 12x3 -10x4 -3x5 -5

5. Diketahui f(x) = (x 2)2.Tentukan turunanya


Penyelesaian :
f(x) = (x 2)2 = x2 4x + 4
f(x) = x2 4x + 4
f(x) = 2x2-1 4x1-1 + 0
f(x) = 2x 4

6. Jika f(x) = sin2 (2x + /6), maka nilai f(0) = f(x) = sin2 (2x + /6)
Pembahasan:
f(x) = 2 sin (2x + /6)(2)
= 4 sin (2x + /6)
f(0) = 4 sin (2(0) + /6)
= 4 sin (/6)
= 4(1/2)
=2

7. Turunan pertama dari f(x) = sin3(3x2 2) adalah f(x) =


Penyelesaian:
f(x) = sin3(3x2 2)
f(x) = sin(3-1)(3x2 2).3.6x.cos (3x2 2)
= 18x sin2(3x2 2) cos (3x2 2)

8. Turunan dari f(x) = adalah f(x) =

PEMBAHASAN :
f(x) =

= (cos2(3x2 + 5x))1/3
49
= cos2/3(3x2 + 5x)
f(x) = 2/3 cos-1/3(3x2 + 5x).(-sin(3x2 + 5x)).(6x + 5)
= -2/3 (6x + 5) cos-1/3(3x2 + 5x) sin(3x2 + 5x)

9. Turunan pertama f(x) = cos3 x adalah


PEMBAHASAN :
f(x) = cos3 x
f(x) = 3 cos2 x (-sin x)
= -3 cos2 x sin x
= -3/2 cos x (2 cos x sin x)
= -3/2 cos x sin 2x
10. Persamaan garis singgung kurva y = di titik dengan absis 3 adalah

PEMBAHASAN :
y= = (5 + x)1/3

m = y = 1/3 (5 + x)-2/3 (1)


y(3) = 1/3 (5 + 3)-2/3 (1)
= 1/3 ((8)2/3)-1
= 1/3 (4)-1
= 1/12

11. Suatu pekerjaan dapat diselesaikan dalam x hari dengan biaya (4x 160 + 2000/x)ribu
rupiah per hari. Biaya minimum per hari penyelesaian pekerjaan tersebut adalah
PEMBAHASAN :
Biaya proyek dalam 1 hari : 4x 160 + 2000/x
Biaya proyek dalam x hari : (4x 160 + 2000/x)x
f(x) = 4x2 160x + 2000
Agar biaya minimum :
f(x) = 0
f(x) = 8x 160
0 = 8x 160
8x = 160
x = 20 hari
Jadi biaya minimum per hari adalah
= (4x 160 + 2000/x) ribu rupiah
= (4(20) 160 + 2000/20) ribu rupiah
= (80 160 + 100) ribu rupiah
= 20 ribu rupiah
= 20.000

12. Suatu perusahaan menghasilkan produk yang dapat diselesaikan dalam x jam, dengan biaya
per jam (4x 800 + 120/x) ratus ribu rupiah. Agar biaya minimum, maka produk tersebut
dapat diselesaikan dalam waktu jam.
PEMBAHASAN :
Biaya proyek dalam 1 hari : 4x 800 + 120/x
Biaya proyek dalam x hari : (4x 800 + 120/x)x
f(x) = 4x2 800x + 120
Agar biaya minimum :
f(x) = 0
f(x) = 8x 800
0 = 8x 800
8x = 800

50
x = 100 jam

13. Persamaan gerak suatu partikel dinyatakan dengan rumus s = f(t) = (s dalam

meter dan t dalam detik). Kecepatan partikel tersebut pada saat t = 8 adalah m/det.
PEMBAHASAN :
s = f(t) = = (3t + 1)1/2

v= = f(t) = 1/2 (3t + 1)-1/2 (3)

f(8) = 3/2 (3(8) + 1)-1/2


= 3/2 (24 + 1)-1/2
= 3/2 (251/2)-1
= 3/2 (5)-1
= 3/10

14. Suatu perusahaan memproduksi x buah barang. Setiap barang yang diproduksi memberikan
keuntungan (225x x2) rupiah. Supaya total keuntungan mencapai maksimum, banyak barang
yang harus diproduksi adalah
PEMBAHASAN :
Keuntungan setiap barang : 225x x2
Keuntungan x barang : (225x x2)x
f(x) = 225x2 x3
f(x) = 450x 3x2
0 = 450x 3x2
0 = x(450 3x)

x = 0 atau x = 150
jadi jumlah barang yang diproduksi agar untung maksimum adalah 150 barang.

15. y =(akar)2x^5
JAWAB:
y =(2x^5 ) = 2x^(5/2) y= 5/2 2 x^(3/2)
y = -2/x^4 = -2x^-4 y = 8 x^-5 = 8/x^5
y = -8/x^10 = -8 x^-10 y = 80 x^-11 = 80/x^11
y = 2/3x^6 y = 4x^5
y = 3/x^3 - 1/x^4 = 3x^-3 x^-4 y = -9x^-4 + 4x^-5 = -9/x^4 + 4/x^5
y = 2/(3x) - 2/3 = (2/3) x^-1 2/3 y = (-2/3) x^-2 = -2/(3x^2)

16. 1) 2x^2 y - 4y^3 = 4


JAWAB:
4xy.dx + 2x^2.dy -12y^2.dy=0
4xy.dx +(2x^2 -12y^2)dy=0
dy/dx=4xy/(12y^2 -2x^2)
d^2(y)/dx^2 = {(4y + 4x.dy/dx)(12y^2 - 2x^2)-(24y.dy/dx -4x)(4xy)}/(12y^2 -2x^2)^2

Turunan Kedua

Turunan kedua y = f(x) terhadap x dinotasikan dengan . Turunan kedua diperoleh


dengan menurunkan turunan pertama.
Contoh :

51
Sifat Sifat Turunan

Dalam mencari turunan, seringkali kita menjumpai dua fungsi atau lebih yang dijumlahkan,
dikurangkan, dikalikan dan dibagikan. Untuk memudahkan perhitungan ini, dibuatlah sifat-sifat
turunan.

Jika u dan v adalah fungsi dalam x, dan c adalah konstanta, maka berlaku
1. f(x) = u + v maka f '(x) = u' + v'
2. f(x) = u - v maka f '(x) = u'-v'
3. f(x) = c.u maka f '(x)=c.u'
4. f(x) = u.v maka f'(x) = u'v + uv'

5. maka

Bukti :
Sifat 1
f(x) = u(x) + v(x)

f '(x) = u'(x) + v'(x)

Sifat 2 :

f(x) = u(x) - v(x)

52
f '(x) = u'(x) - v'(x)

Sifat 3 :
f(x) = c.u(x) maka f '(x)=c.u'(x)

f '(x)=c.u'(x)

Sifat 4 :
f(x) = u(x).v(x) maka f'(x) = u'(x)v(x) + u(x)v'(x)

53
Sifat 5

Karena

maka

sehingga

Jika pembilang dan penyebut dikalikan dengan v(x) maka diperoleh

Contoh Soal :

1. Jika f(x) = (2x 1)2 (x + 2), maka f(x) =


A. 4(2x 1)(x + 3)
B. 2(2x 1)(5x + 6)
C. (2x 1)(6x + 5)
D. (2x 1)(6x + 11)
E. (2x 1)(6x + 7)
PEMBAHASAN :
INGAT : f(x) = u.v
f'(x) = uv + uv
misal : u(x) = (2x 1)2 u'(x) = 2(2x 1)(2)
54
v(x) = x + 2 v'(x) = 1
f'(x) = (4(2x 1))(x + 2) + ((2x 1)2)(1)
= (8x 4)(x + 2) + (2x 1)2
= 8x2 + 12x 8 + 4x2 4x + 1
= 12x2 + 8x 7
= (2x 1)(6x + 7)
JAWABAN : E
2. Turunan pertama dari fungsi f yang dinyatakan dengan f(x) = adalah f (x),
maka f(x) =

A.

B.

C.

D.

E.
PEMBAHASAN :

=
JAWABAN : A
3. Diketahui f(x) = , Jika f(x) adalah turunan pertama dari f(x), maka nilai f(2) =

A. 0,1
B. 1,6
C. 2,5
D. 5,0
E. 7,0
PEMBAHASAN :
f(x) =
= (4x2+9)1/2
f'(x) = 1/2 (4x2+9)-1/2 (8x)
= 4x (4x2+9)-1/2

f'(2) =

=
= 1.6
JAWABAN : B

55
1 Diketahui f(x) = . Nilai f(4) =
A. 1/3
B. 3/7
C. 3/5
D. 1
E. 4
PEMBAHASAN :
f(x) =

f'(x) =
misal : u(x) = 2x + 4 u'(x) = 2
v(x) = 1 + v'(x) = 1/2 x-1/2

f'(x) =

f'(4) =

= =

Persamaan Garis Singgung Kurva


Sebelum kita belajar ke materi inti yaitu cara mencari persamaan garis singgung kurva, kita harus
tahu dulu mengenai gradien garis yang disimbolkan dengan m, dimana :
gradian garis untuk persamaan y=mx+c adalah m
gradien garis untuk persamaan ax+by=c, maka m=-a/b
gradien garis jika diketahui dua titik, misal (x1,y1) dan (x2,y2) maka untuk mencari
gradien garisnya m=(y2-y1)/(x2-x1)
Gradien dua garis lurus, berlaku ketentuan :
jika saling sejajar maka m1=m2
jika saling tegak lurus maka m1.m2=-1 atau m1=-1/(m2)
Persamaan Garis Singgung Kurva
Jika terdapat kurva y = f(x) disinggung oleh sebuah garis di titik (x1, y1) maka gradien garis
singgung tersebut bisa dinyatakan dengan m = f'(x1). Sementara itu x1 dan y1 memiliki
hubungan y1 = f(x1). Sehingga persamaan garis singgungnya bisa dinyatakan dengan y y1 =
m(x x1).
Jadi intinya jika kita akan mencari persamaan garis singgung suatu kurva jika diketahui
gradiennya m dan menyinggung di titik (x1,y1) maka kita gunakan persamaan
y-y1=m(x-x1)

56
Sedangkan jika diketahui 2 titik, misalnya (x1,y1) dan (x2,y2) maka untuk mencari persamaan
garis singgung dari dua titik tersebut kita dapat gunakan persamaan

Contoh soal :

1. Luas sebuah kotak tanpa tutup yang alasnya persegi adalah 432 cm2. Agar volume kotak
tersebut mencapai maksimum, maka panjang rusuk persegi adalah cm.
A. 6
B. 8
C. 10
D. 12
E. 16
PEMBAHASAN :
misal kita anggap tinggi kotak adalah t dan panjang sisi alas adalah s.
Luas kotak tanpa tutup = Luas alas (persegi) + (4 x luas sisi)
432 = s2 + (4.s.t)
432 = s2 + 4ts
Karena yang diminta dalam soal adalah panjang sisi persegi, maka kita buat persamaan dalam
variable s.
432 s2 = 4ts
108/s s/4 = t
Volume = v(x) = s2t
= s2(108/s s/4)
= 108s s3/4
Agar volume kotak maksimum maka :
v'(x) = 0
57
108 3s2/4 = 0
108 = 3s2/4
144 = s2
12 = s JAWABAN : D
2. Tentukan persamaan garis singgung pada kurva y = x 3x di titik (2, 3) ?
Jawab :
f(x) = x 3x
f (x) = 3x 3
m = f (2) = 12 3 = 9
Jadi, persamaan garis singgungnya adalah
y y1 = m(x x1)
y 3 = 9 (x 2)
y 3 = 9x 18
y = 9x 15
3. Tentukan persamaan garis singgung pada kurva y = x4 7x2 + 20 di titik yang berabsis 2 ?
Jawab :
x=2
y = x4 7x2 + 20 = y = 24 7.22 + 20 = 16 28 + 20 = 8
m =y = 4x3 14 x = 4.23 14.2 = 32 28 = 4
Jadi, persamaan garis singgungnya adalah
y y1 = m(x x1)
y 8 = 4(x 2)
y 8 = 4x 8
y = 4x
4. Tentukan persamaan garis singgung pada kurva y = x3 + 10 di titik yang berordinat 18 ?
Jawab :
Ordinat adalah nilai y, maka
y = 18
x3 + 10 = 18
x3 = 8
x=2
m = y = 3x2 = 3.22 = 12
Sehingga persamaan garis singgungnya
y y1 = m(x x1)
y 18 = 12(x 2)
y 8 = 12x 24
y = 12x 16
5. Persamaan garis singgung pada kurva y = x4 5x2 + 10 di titik yang berordinat 6 adalah
Jawab :
ordinat = 6
x4 5x2 + 10 = 6
x4 5x2 + 4 = 0
(x2 1)(x2 4) = 0
(x + 1)(x 1)(x + 2)(x 2) = 0
x = -1 atau x = 1 atau x = -2 atu x = 2
untuk x = -1
m = 4x3 10x = -4 + 10 = 6
y y1 = m(x x1)
y 6 = 6(x + 1)
y 6 = 6x + 6
y = 6x + 12
Untuk x = 1
m = 4x3 10x = 4 10 = -6
y y1 = m(x x1)
58
y 6 = -6(x 1)
y 6 = -6x + 6
y = -6x + 12
Untuk x = -2
m = 4x3 10x = 4(-2)3 10(-2) = 4(-8) + 20 = -32 + 20 = -12
y y1 = m(x x1)
y 6 = -12(x + 2)
y 6 = -12x 24
y = -12x 18
Untuk x = 2
m = 4x3 10x = 4.23 10.2 = 4.8 20 = 32 20 = 12
y y1 = m(x x1)
y 6 = 12(x 2)
y 6 = 12x 24
y = 12x 18
Jadi, ada 4 persamaan garis singung, yaitu y = 6x + 12, y = -6x = 12, y = -12x 18 dan y = 12x
18
6. Persamaan garis singgung pada kurva y = 3x4 20 yang sejajar dengan garis y = 12x + 8 adalah
Jawab :
y = 3x4 20
y = 12x3
Persamaan garis yang sejajar dengan garis singgung adalah
y = 12x + 8
maka gradien garis ini adalah m1 = 12
Karena sejajar maka gradiennya sama sehingga gradien garis singgung (m2) adalah
m2 = m1 = 12
gradien garis singgung ini sama dengan turunan kurva sehingga
y = 12
12x3 = 12
x3 = 1
x=1
maka y = 3x4 20 = 3 20 = 17
Persamaan garis singgungnya adalah
y y1 = m(x x1)
y + 17 = 12(x 1)
y + 17 = 12x 12
y = 12x 29
7. Garis yang menyinggung kurva y = 12 x4 dan tegak lurus dengan x 32y = 48 mempunyai
persamaan .
Jawab :
y = 12 x4
y = 4x3
Sedangkan
x 32y = 48
32y = x 48

Garis ini memiliki gradien m1=1/32


Karena garis singgungnya tegak lurus dengan garis ini maka
m1.m2 = -1
(1/32)m2=-1
m2= -32
m2 ini adalah gradien garis singgung, sehingga sama dengan turunan
59
y = -32
4x3 = -32
x3 = 8
x=2
y = 12 x4 = 12-24 = -4
maka persamaan garis singgungnya
y y1 = m(x x1)
y + 4 = -32(x 2)
y + 4 = -32x + 64
y = -32x + 60
Fungsi Naik dan Fungsi Turun

Tentunya kalian masih ingat dengan topik sebelumnya tentang menentukan titik maksimum, titik
minimum, dan titik belok. Pada topik ini, kalian akan belajar tentang penggunaan turunan dalam
menentukan nilai maksimum dan nilai minimum.

Definisi 1 :
Jika diberikan fungsi f dengan daerah asal Df dan x = c merupakan anggota Df, maka berlaku
hubungan sebagai berkut :
1. f(c) adalah nilai maksimum fungsi f pada Df jika f(c) f(x) untuk semua x di Df
2. f(c) adalah nilai minimum fungsi f pada Df jika f(c) f(x) untuk semua x di Df
3. f(c) adalah nilai ekstrim fungsi f pada Df jika f(c) adalah nilai maksimum atau minimum
fungsi f di Df

Definisi 2 :
Jika diberikan fungsi f dengan daerah asal Df dan interval (a,b) merupakan himpunan bagian
dari Df, maka berlaku hubungan sebagai berkut :
1. f(c) adalah nilai maksimum lokal fungsi f pada interval (a,b) yang
memuat c jika f(c)adalah nilai maksimum fungsi f pada (a,b)
2. f(c) adalah nilai minimum lokal fungsi f pada interval (a,b) yang memuat c jika f(c)adalah
nilai minimum fungsi f pada (a,b)
3. f(c) adalah nilai ekstrim lokal fungsi f jika f(c) adalah nilai maksimum lokal atau nilai
minimum lokal fungsi f[/important

Lalu, kapan terjadi nilai ekstrim lokal?

Kalian dapat menggunakan uji turunan pertama untuk menentukan nilai ekstrim lokal.
Jika fungsi f kontinu pada selang terbuka (a,b) yang memuat x = c, maka berlaku hubungan
sebagai berikut :
1. Jika f'(x) > 0 untuk semua nilai x dalam selang (a,c) dan f'(x) < 0 untuk semua nilai x
dalam selang (c,b), maka f(c) merupakan nilai maksimum lokal f
2. Jika f'(x) < 0 untuk semua nilai x dalam selang (a,c) dan f'(x) > 0 untuk semua nilai x
dalam selang (c,b), maka f(c) merupakan nilai minimum lokal f
3. Jika f'(x) pada selang (a,c) dan (c,b), maka f(c) bukan merupakan nilai ekstrim lokal f

Agar lebih jelas, mari perhatikan gambar di bawah ini.

60
Apakah kalian sudah paham? Mari kita cermati beberapa contoh berikut ini.

Contoh 1:
Tentukan nilai maksimum dan minimum dari f(x) = 2x2 - x jika Df = { x | -1 x 2} !
Penyelesaian :

Jika kita perhatikan, ternyata x = merupakan anggota Df = { x | -1 x 2 }. Dengan demikian,


untuk menentukan nilai maksimum dan nilai minimum fungsi f pada Df, kita perlu mengetahui
nilai f untuk x = -1 , x = , dan x = 2.

61
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai maksimum dan minimum dari
f(x) = 2x2 x dengan Df = { x | -1 x 2 } berturut-turut adalah f(2) = 6 dan f( ) = - 1/8.

Contoh 2 :
Tentukan nilai maksimum dan minimum dari f(x) = 3x2 - 2x + 1 jika Df = { x | 1 x 4 } !
Penyelesaian :

Oleh karena x = 1/3 bukan merupakan anggota Df = { x | 1 x 4 }, maka untuk menentukan


nilai minimum dan nilai maksimum untuk fungsi f, kita cukup mengetahui nilai f untuk x = 1 dan
x = 4.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai maksimum dan minimum dari
f(x) = 3x2 2x + 1 dengan Df = { x | 1 x 4 } berturut-turut adalah f(4) = 41 dan f(1) = 2.

Contoh 3 :
Tentukan nilai maksimum dan minimum dari f(x) = (x + 4)2 jika Df = { x | -4 x 0 } !
Penyelesaian :

62
Oleh karena x = -4 merupakan batas kiri dari Df = { x | -4 x 0 }, maka untuk menentukan nilai
minimum dan nilai maksimum untuk fungsi f, kita cukup mengetahui nilai f untuk x = -4 dan x =
0.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai maksimum dan minimum dari
f(x) = (x + 4)2 dengan Df = { x | -4 x 0 } berturut-turut adalah f(0) = 16 dan f(-4) = 0.

BAB VII

INTEGRAL
Pengertian
Integral merupakan sebuah konsep penting dalam matematika yang seringkali menjadi kelemahan
tidak sedikit orang. Agar dapat paham dengan integral sampai integral berkelanjutan, anda
pertama harus paham integral dasarnya dulu. Pondasi dari semua integral lanjutan, misalnya saja
agar dapat paham integral parsial, integral tentu, integral tak tentu, dll yang akan saya berikan
penjelasannya di artikel berikutnya.

Jika diberikan suatu fungsi f dari variabel x dengan interval [a,b] maka integral tertentunya dapat
ditulis seperti gambar diatas. Sedangkan kurva untuk integral tersebut dapat digambarkan sebagai
berikut.

63
Kurva diatas dapat didefinisikan sebagai daerah yang dibatasi
oleh kurva f, sumbu x, sumbu y, garis x=a dan garis x=b, dimana daerah diatas sumbu x bernilai
positif dan daerah dibawah sumbu x bernilai negatif.
Integral juga biasa digunakan untuk merujuk anti turunan. Jika terdapat sebuah fungsi F yang
mempunyai turunan f maka kasus seperti ini disebut integral tak tentu yang dapat dinotasikan
sebagai berikut.

Jika f adalah fungsi kontinu yang terdefinisi pada sebuah interval tertutup
[a,b] dan jika anti turunan F dari f diketahui maka integral tertentu dari f pada interval yang telah
diketahui dapat didefinisikan sebagai.

Berikut ini beberapa rumus dasar integral


Trigonometri

Dalam mencari nilai integral kita dapat menggunakan beberapa cara, diantaranya :
1. Substitusi

Cari nilai dari:

64
2. Substitusi Trigonometri
Bentuk Gunakan

Contoh soal:

Cari nilai dari:

Cari nilai dari: dengan menggunakan substitusi

65
Masukkan nilai tersebut:

Nilai sin A adalah

3. Integral Parsial
Integral parsial menggunakan rumus sebagai berikut:

Contoh soal:

Cari nilai dari:

Gunakan rumus di atas

Jika kita menemukan bentuk penjumlahan atau bentuk pengurangan integral dapat dirubah
seperti berikut ini.

Integral Parsial
Prinsip dasar integral parsial :
a. Salah satunya dimisalkan U
b. Sisinya yang lain (termasuk dx) dianggap sebagai dv

Sehingga bentuk integral parsial adalah sebagai berikut :

66
Integral tak tentu
Manakala integral tertentu adalah sebuah bilangan yang besarnya ditentukan dengan mengambil
limit penjumlahan Riemann, yang diasosiasikan dengan partisi interval tertutup yang norma
partisinya mendekati nol, teorema dasar kalkulus menyatakan bahwa integral tertentu sebuah
fungsi kontinu dapat dihitung dengan mudah apabila kita dapat mencari antiturunan/antiderivatif
fungsi tersebut.

Apabila

Keseluruhan himpunan antiturunan/antiderivatif sebuah fungsi adalah integral tak


tentu ataupun primitif dari terhadap x dan dituliskan secara matematis sebagai:

Ekspresi F(x) + C adalah antiderivatif umum dan C adalah konstanta sembarang.


Misalkan terdapat sebuah fungsi , maka integral tak tentu ataupun antiturunan
dari fungsi tersebut adalah:

67
Perhatikan bahwa integral tertentu berbeda dengan integral tak tentu. Integral tertentu

dalam bentuk adalah sebuah bilangan, manakala integral tak tentu :

adalah sebuah fungsi yang memiliki tambahan konstanta sembarang C.


Integral Tertentu

Diberikan suatu fungsi bervariabel real x dan interval antara [a, b] pada garis
real, integral tertentu:

secara informal didefinisikan sebagai luas wilayah pada bidang xy yang dibatasi oleh kurva
grafik , sumbu-x, dan garis vertikal x = a dan x = b.
Pada notasi integral di atas: a adalah batas bawah dan b adalah batas atas yang menentukan
domain pengintegralan, adalah integran yang akan dievaluasi terhadap x pada interval [a,b],
dan dx adalah variabel pengintegralan.

Seiring dengan semakin banyaknya subinterval dan semakin sempitnya lebar subinterval yang
diambil, luas keseluruhan batangan akan semakin mendekati luas daerah di bawah kurva.
Terdapat berbagai jenis pendefinisian formal integral tertentu, namun yang paling umumnya
digunakan adalah definisi integral Riemann. Integral Rieman didefinisikan sebagai limit
dari penjumlahan Riemann. Misalkanlah kita hendak mencari luas daerah yang dibatasi oleh
fungsi pada interval tertutup [a,b]. Dalam mencari luas daerah tersebut, interval [a,b] dapat kita
bagi menjadi banyak subinterval yang lebarnya tidak perlu sama, dan kita memilih sejumlah n-1
titik {x1, x2, x3,..., xn - 1} antara a dengan b sehingga memenuhi hubungan:

Himpunan tersebut kita sebut sebagai partisi [a,b], yang


membagi [a,b] menjadi sejumlah nsubinterval . Lebar
subinterval pertama [x0,x1] kita nyatakan sebagai x1, demikian pula lebar subinterval ke-i kita
nyatakan sebagai xi = xi - xi - 1. Pada tiap-tiap subinterval inilah kita pilih suatu titik sembarang
dan pada subinterval ke-i tersebut kita memilih titik sembarang ti. Maka pada tiap-tiap subinterval
akan terdapat batangan persegi panjang yang lebarnya sebesar x dan tingginya berawal dari
sumbu x sampai menyentuh titik (ti, (ti)) pada kurva. Apabila kita menghitung luas tiap-tiap
batangan tersebut dengan mengalikan(ti) xi dan menjumlahkan keseluruhan luas daerah
batangan tersebut, kita akan dapatkan:

Penjumlahan Sp disebut sebagai penjumlahan Riemann untuk pada interval [a,b]. Perhatikan
bahwa semakin kecil subinterval partisi yang kita ambil, hasil penjumlahan Riemann ini akan
semakin mendekati nilai luas daerah yang kita inginkan. Apabila kita mengambil limit dari norma
partisi mendekati nol, maka kita akan mendapatkan luas daerah tersebut.

Secara cermat, definisi integral tertentu sebagai limit dari penjumlahan Riemann adalah:

68
Diberikan (x) sebagai fungsi yang terdefinisikan pada interval tertutup [a,b]. Kita katakan bahwa
bilangan I adalah integral tertentu di sepanjang [a,b] dan bahwa I adalah limit dari
penjumlahan Riemann apabila kondisi berikut dipenuhi: Untuk setiap bilangan > 0 apapun
terdapat sebuah bilangan > 0 yang berkorespondensi dengannya sedemikian rupanya untuk
setiap partisi di sepanjang [a,b] dengan dan
pilihan ti apapun pada [xk - 1, ti], kita dapatkan

Secara matematis dapat kita tuliskan:

Apabila tiap-tiap partisi mempunyai sejumlah n subinterval yang sama, maka lebar x = (b-a)/n,
sehingga persamaan di atas dapat pula kita tulis sebagai:

Limit ini selalu diambil ketika norma partisi mendekati nol dan jumlah subinterval yang ada
mendekati tak terhingga banyaknya.

Contoh

Sebagai contohnya, apabila kita hendak menghitung integral tertentu , yakni mencari
luas daerah A dibawah kurva y=x pada interval [0,b], b>0, maka perhitungan integral

tertentu sebagai limit dari penjumlahan Riemannnya adalah


Pemilihan partisi ataupun titik ti secara sembarang akan menghasilkan nilai yang sama sepanjang
norma partisi tersebut mendekati nol. Apabila kita memilih partisi P membagi-bagi interval [0,b]
menjadi n subinterval yang berlebar sama x = (b - 0)/n = b/n dan titik t'i yang dipilih adalah titik
akhir kiri setiap subinterval, partisi yang kita dapatkan adalah:

dan , sehingga:

69
Seiring dengan n mendekati tak terhingga dan norma partisi mendekati 0, maka didapatkan:

Dalam prakteknya, penerapan definisi integral tertentu dalam mencari nilai integral tertentu
tersebut jarang sekali digunakan karena tidak praktis. Teorema dasar kalkulus memberikan cara
yang lebih praktis dalam mencari nilai integral tertentu.
Contoh Soal :
1. Jika DiketahuiMaka integralnya adalah . . .
Jawab,

2. Jika Diketahui :
Maka Tentukanlah Integralnya . . .
Jawab,

3. Jika Diketahui :

Maka Tentukan Integralnya . . .


Jawab,

70
4. Jika Diketahui :

Maka tentukan Integralnya . . .


Jawab,

5. Jika Diketahui,

(Akar Tiga Itu Ya!!!) Maka Tentukanlah Integralnya . . .


Jawab,

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

71
A. Kesimpulan

Dalam penyampaian Materi Pelajaran Matematika kepada siswa sebaiknya dalam


pembelajarannya, anak dilibatkan secara langsung agar anak cepat memahami dan percaya pada
konsep yang mereka ketahui dan mereka juga akan memiliki pengalaman karena dengan
pengalaman secara langsung maka siswa akan selalu ingat pada materi yang telah disampaikan

B. Saran

Semoga makalah yang telah kami buat dapat bermanfaat bagi pembaca dan khususnya kami
sebagai penyusun. Dan diharapkan pembaca dapat menganalisis lebih jelas lagi mengenai
pemecahan masalah rutin dan non rutin dengan cara mencari leteratur-literatur lain yang dapat
menambah wawasan pembaca dalam menganalisis materi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

72
http://tomyherawansman48jkt.blogspot.co.id/2015/06/bab-i-statistika_38.html

http://www.matematrick.com/2014/05/materi-matematika-sma-kelas-xi-

peluang.htmlsman48jkt.blogspot.co.id/2015/06/persamaan-lingkaran-lingkaran-dengan.html

http://tomyherawansman48jkt.blogspot.co.id/2015/06/bab-iv-turunan.html

https://krizi.wordpress.com/tag/makalah-matematika/

http://westbatavia.blogspot.com/2015/04/3-contoh-kata-pengantar-makalah-yang-baik.html

73