Anda di halaman 1dari 88

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada tahun 2014 pesawat udara sipil milik Malaysia Airlines berjenis

Boeing 777 jatuh di Ukraina bagian timur, dekat perbatasan rusia. 1 Pesawat yang

terbang dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur itu menjadi sasaran tembak

gerakan separatis Ukraina yang pro-Russia.2 Menurut laporan otoritas Ukraina,

korban yang ditemukan berjumlah 298 orang (penumpang dan kru) 3 di

Shaktarsky.

Lokasi jatuhnya pesawat diketahui berada di Desa Grabovo, Donetsk,

Ukraina. Salah satu situs berita terkemuka dunia, Reuters, menyatakan bahwa

1 Bambang Widarto, 2014, Pertanggungjawaban Hukum dalam Peristiwa Penembakan


Pesawat Udara Sipil Ditinjau dari Aspek Hukum Internasional, (selanjutmya disebut
Bambang Widarto I), h.146 Ibid, h.142.

2 Bambang Widarto , 2015, Tinjaua n Hukum Udara Sebagai Pengantar ( Dalam


Perspektif Hukum Internasional dan Nasional, Pusat Studi Hukum Militer, Jakarta,
(selanjutnya disebut Bambang Widarto II) , h. 34.

3 Ibid, h. 34.

1
pemerintah Ukraina menduga pesawat ini ditembak oleh rudal jenis buk 4 pada

ketinggian 10.000 meter atau sekitar 33.000 kaki.5

Dari hasil investigasi tim penyidik Belanda bahwa pesawat MH 17 milik

Malaysia Airlines tersebut mengalami kerusakan pada bagian depan pesawat.

Kerusakan tersebut diakibatkan oleh peluru kendali darat tipe Buk. Kerusakan

yang terjadi pada pesawat MH 17 bukan merupakan kerusakan teknis atau

kesalahan pilot.6 Sehingga pesawat tersebut hancur di udara.

Analisa mayoritas pakar keamanan penerbangan internasional menyebutkan,

di hari kecelakan diduga keras pesawat ditembak peluru kendali darat ke udara

Buk buatan bekas Uni Sovyet. Indikasinya: lubang-lubang pada kokpit dan

moncong pesawat. Juga citra satelit mata-mata Amerika Serikat menunjukan

adanya peluncuran rudal di kawasan kecelakaan. Bukti foto dan video yang

ditemukan kemudian, juga menunjukkan indikasi, MH17 ditembak sebuah rudal

darat ke udara buatan Rusia.7

4 Buk atau sistem rudal adalah keluarga sistem rudal self-propolled jarak menengah yang
diperkenalkan pertama kali pada tahun 1966. Dikembangkan oleh Uni Soviet dan
Federasi Rusia.Buk dirancang untuk melibatkan rudal jelajah, bom pintar, pesawat tetap
dan rotarysayap serta kendaraan udara tak berawak.

5 Kesten Knipp, 2015, Inilah Fakta Inseden Penembakan MH 17, URL :


http://m.dw.com/id/inilah-fakta-insiden-penembakan-mh-17/a-18591278, diakses pada tanggal 6
Pebruari 2016.

6 Kesten Knipp, 2015, Inilah Fakta Inseden Penembakan MH 17, URL :


http://m.dw.com/id/inilah-fakta-insiden-penembakan-mh-17/a-18591278, diakses pada
tanggal 6 Pebruari 2016.

7 Ibid.

2
Dari kejadian tersebut telah terjadi peristiwa hukum. 8 Berdasarkan Pasal 1

ayat (1) Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against Safety of Civil

Aviation atau disingkat Konvensi Montreal 1971 ini, menegaskan bahwa setiap

orang melakukan pelanggaran jika ia melawan hukum dan berniat :9

(a) Performs an act of violence against a person on board an aircraft in flight if that act
is likely to endanger the safety of that aircraft ; or

(b) Destroy an aircraft in service or causes damage to such an aircraft which renders it
incapable of flight or which is likely to endanger its safety in flight ; or

(c) Places or causes to be placedon an aircraft in service, by any means whatsoever, a


device or substance which is likely to destroy that aircraft, or to cause damages to it

which renders it incapable of flight, or to cause damage to it which is likely to

endanger its safety in flight ; or

(d) Destroy or damages air navigation facilities or interferes with their operation, if any
such act is likely to endanger the safety of aircraft in flight ; or

(e) Communicates information which he knows to be fales, thereby endangering the safety
of an aircraft in flight.

Tindakan merusak pesawat udara sipil dan membahayakan penumpang

merupakan sebuah pelanggaran dalam konvensi ini.

Dalam kasus tersebut, bukti kuat menunjukkan bahwa penembakan tersebut

dilakukan oleh Gerakan separatis pro-Russia. Berdasarkan pernyataan dari Igor

Strelkov, pimpinan milter separatis Rusia di sosial media VKontakte, menyatakan

bahwa pemberontak telah menembak jatuh pesawat Antonov An-26 (pesawat

8 Bambang Widarto II, op.cit, h.146.

9 Pasal 1 Konvensi Montreal 1971.

3
dengan dua baling-baling di bagian sayap), yang biasa digunakan angkatan udara

Ukraina, di wilayah dekat Torez.10

Selain itu indikasi penggunaan misil dengan sistem BUK. Hulu ledak yang

menghantam pesawat MH17, memiliki jenis misil yang dibuat oleh Russia dengan

sistem BUK (Pelontar misil dari darat menuju udara).Senjata tersebut masih

dibawa oleh sejumlah anggota bekas militer Russia untuk membantu kaum

separatis.11

Secara umum bahwa lokasi tersebut sudah diketahui sedang terjadi

sengketa.12 Dan pihak pemerintah Ukraina telah menyatakan bahwa wilayahnya

sedang mengalami konflik.

Perbuatan penembakan pesawat udara sipil oleh gerakan separatis

khususnya Gerakan pro-russia, sangat dilema karena penembakan tersebut terjadi

diwalayah yang sedang mengalami sengketa yang seharusnya pesawat sipil tidak

diizinkan untuk melintasi wilayah Ukraina.13 Dalam hal ini perbuatan tersebut

apakah mutlak dapat disalahkan oleh hukum udara internasional.

Selain itu terdapat keganjalan bahwa perbuatan tersebut dilakukan oleh

gerakan separatis atau National Liberation Movements (NLM) merupakan subyek


10 Meidella Syahni , 2014, Ingin tahu kronologi insiden MH 17?, URL :
http://nationalgeogIraphic.co.id/berita/2014/07/ingin-tahu-kronologi-insiden-mh17,
diakses pada tanggal 12 Juli 2016

11 Entiis, 2015, Lima Fakta Menarik Soal Mh 17, URL : http://jakartagreater.com/lima-


fakta-menarik-soal-mh17/, diakses pada tanggal 23 Maret 2016.

12 Ibid.

13 Pasal 9, Konvensi Chicago 1944.

4
hukum internasional terbatas. Dapatkah mereka dibebankan pertanggungjawaban

atau harus diwakili oleh negara yang mengakui keberadaan mereka. Terhadap hal

itu bagaimanakah sebenarnya hukum internasional mengatur pertanggungjawaban

penembakan pesawat udara sipil oleh gerakan separatis tersebut. Berdasarkan

uraian di atas, penulis tertarik untuk mengangkat kasus tersebut dalam bentuk

skripsi dengan judul PERTANGGUNGJAWABAN KASUS

PENEMBAKAN PESAWAT UDARA SIPIL MALAYSIA DALAM

PERSPEKTIF HUKUM INTERNASIONAL

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis

mengangkat 2 (dua) permasalahan yang akan dibahas lebih lanjut. Adapun

permasalahan tersebut adalah sebagai berikut:

1.Bagaimana pengaturan gerakan separatis sebagai subyek hukum, menurut

hukum internasional ?

2. Bagaimanakah tanggung jawab Separatis Pro-Russia terhadap penembakan

Pesawat Udara Sipil yang terjadi di Kawasan Terlarang?

1.3 Ruang Lingkup Masalah

Penulisan karya tulis yang bersifat ilmiah perlu ditegaskan mengenai materi

yang diatur di dalamnya. Hal ini sangat diperlukan untuk menghindari agar isi

atau materi yang terkandung di dalamnya tidak menyimpang dari pokok

permasalahan yang telah dirumuskan sehingga dengan demikian dapat diuraikan

secara sistematis. Untuk memberi batasan agar penulisan karya tulis ilmiah

5
berbentuk skripsi ini tidak menyimpang terlalu jauh dari pokok masalah yang

telah dirumuskan. Maka cakupan atau ruang lingkup dari pembahasan dalam

karya tulis ilmiah dalam bentuk skripsi ini, yakni pada pembahasan pertama

mengenai pengaturan hukum internasional terhadap gerakan separatis sebagai

subjek dalam hukum internsaional serta hak dan kewajiban gerakan separatis atau

National Liberation Movements sebagai subjek hukum internasional yang

terbatas.

Dalam pembahasan kedua, akan dibahas mengenai dapat atau tidaknya

perbuatan gerakan separatis tersebut dipersalahkan dan dibebankan

pertanggungjawaban karena telah melakukan penembakan pesawat udara sipil di

kawasan prohibited area.

1.4. Orisinalitas Penelitian

Orisinalitas suatu penelitian sangatlah diperlukan untuk menghindari

terjadinya suatu plagiarism. Adapun dalam penulisan skripsi ini, penulis

melakukan suatu perbandingan terhadap penulisan skripsi ini dengan penulisan

yang telah ada. Perbedaan penulisan hukum ini dengan karya penulisan ilmiah

lain adalah:

a. I Gusti Agung Bagus Cahya Kartika Nugraha, NIM. 1116051152, Fakultas

Hukum Universitas Udayana Denpasar, tahun 2016, judul Tanggung Jawab

Negara dan Pengangkut Atas Tertembaknya Pesawat Terbang MH-17 Milik

Malaysia Airlines, Rumusan masalah yang dibahas antara lain:

6
1. Sebagai Negara bendera (flag state), apakah Malaysia dapat

dimintakan pertanggungjawaban dalam peristiwa tertembaknya

pesawat MH17?
2. Berdasarkan Konvensi Warsawa 1929, apakah pihak Malaysia Airlines

sebagai perusahaan pengangkut dapat dibebaskan dari kewajiban

membayar konpensasi atas kerugian yang diderita para penumpang

pesawat MH17 yang tertembak di atas wilayah udara Ukraina?

b. I Wayan Alit Sudarsana, NIM. 1003005083, Fakultas Hukum Universitas

Udayana Denpasar, tahun 2015, judul The Downing of MH17 in Ukraine:

Analysis from the International Law Perspective . Rumusan masalah yang

dibahas antara lain:

1. Could Russia be held responsible for the incident?

2. Rightful Jurisdiction over the downing of MH17

Berdasarkan rincian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa penulisan

skripsi ini tidak memiliki kemiripan yang signifikan terhadap penulisan karya

ilmiah yang telah ada sebelumnya, terlebih mengenai substansi pembahasan.

Namun penulisan karya ilmiah yang sebelumnya ini hanya memiliki topik

pembahasan yang sama mengenai pertanggungjawaban penembakan pesawat

udara sipil milik Malaysia Airlines.

1.5. Tujuan Penelitian

Penulisan suatu karya tulis ilmiah haruslah memiliki tujuan yang nantinya

dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan penelitian meliputi tujuan umum dan

7
tujuan khusus. Penjelasan lebih lanjut mengenai tujuan umum dan khusus dari

pembuatan skripsi ini adalah sebagai berikut :

a. Tujuan Umum

Adapun tujuan umum dari penulisan skripsi ini adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana klasifikasi dan pengaturan suatu

kelompok dapat dikategorikan sebagai NLM.


2. Untuk mengetahui apakah suatu gerakan separatis atau NLM dapat

dipersalahkan dan dibenbankan pertanggungjawaban.


b. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus yang diharapkan dapat tercapai dari penulisan

skripsi ini adalah :


1. Untuk mengetahui, pengaturan mengenai klasifikasi sebuah gerakan separatis

pro-Russia dapat dikategorikan sebagai gerakan separatis dalam subjek hukum

internasional.
2. Untuk mengetahui perbuatan penembakan pesawat udara malaysia MH 17 di

kawasan terlarang yang dilakukan oleh gerakan separatis pro-Russia tersebut

dapat disalahkan dan dibebankan pertanggungjawaban.


1.6. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai

gerakan separatis (national liberation movement) sebagai subjek hukum

internasional serta apa yang membedakan dengan kelompok-kelompok

bersenjata lainnya, dan pembebanan pertanggungjawaban akibat penembakan

pesawat udara sipil oleh gerakan separatis sesuai dengan konvensi internasional

yang berkaitan dengan hukum udara internasional. Selain itu, diharapkan dapat

dijadikan referensi tambahan untuk pengembangan ilmu hukum secara umum,

khususnya di bidang hukum udara internasional mengenai analisis yuridis

8
terhadap penyelesaian sengketa mengenai penembakan pesawat udara sipil oleh

gerakan separatis.
b. Manfaat Praktis

Dari segi praktis, berguna sebagai upaya yang dapat diperoleh langsung

manfaatnya, seperti peningkatan keahlian meneliti dan keterampilan menulis,

sumbangan pemikiran dalam pemecahan suatu masalah hukum, acuan

pengambilan keputusan yuridis, dan bacaan baru bagi penelitian ilmu

hukum.14

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat internasional

sebagai sarana pengembangan pemikiran tentang pengaturan

pertanggungjawaban penembakan pesawat udara sipil oleh gerakan separatis

sesuai dengan hukum udara internasional. Sehingga diharapkan lebih kritis,

berani dan lebih aktif ikut serta dalam mengembangkan pengetahuan

mengenai hukum udara internasional.

1.7. Landasan Teoritis

a. Konsep Kepribadian Hukum


Kepribadian dalam hukum internasional memperhitungkan

keterkaitan antara hak dan kewajiban yang dimungkinkan menurut sistem

internasional dan kapasitas untuk menegakkan klaim.15 Mereka mampu

melakukan hal ini karena hukum mengakui mereka sebagai pribadi hukum

14 Abdul Kadir Muhamad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, h. 66.

15 Malcolm N. Show, 2013, Hukum Internasional, terjemahan Derta Sri dkk, Nusa
Media, Bandung, h. 193.

9
(legal person) yang memiliki kapasitas untuk memiliki dan mempertahankan

hal tertentu, dan menjadi subjek untuk menjalankan tugas atau kewajiban

tertentu.16
b. Konsep Prohibited Area
Merupakan kawasan udara dengan pembatasan yang bersifat

permanen dan menyeluruh bagi semua pesawat udara.17 Selain itu merupakan

ruang udara tertentu di atas daratan dan/atau perairan, dimana pesawat udara

dilarang terbang melalui ruang udara tersebut karena pertimbangan

pertahanan dan keamanan negara, serta keselamatan penerbangan.18


c. Teori Pertanggungjawaban Negara
Pertanggungjawaban negara menetapkan bahwa setiap kali suatu

negara melakukan tindakan melawan yang hukum internasional terhadap

negara lain, maka pertanggungjawaban internasional wajib ditegakkan

diantara keduanya.19 Ciri-ciri esensial pertanggungjawaban berhubungan

dengan beberapa faktor dasar :20 pertama, adanya kewajiban hukum

internasional yang masih berlaku di antara kedua negara yang bersangkutan;

kedua, bahwa telah terjadi suatu perbuatan atau kelalaian yang melanggar

kewajiban itu dan mewajibkan negara tersebut bertanggungjawab, dan bahwa

16 Ibid.

17 Bambang Widarto II, op.cit, h. 85.

18 Rosyidi Hamzah, 2009, Hukum Udara n Ruang Angkasa, URL :


http://rosyidiheaven.blogspot.co.id/2009/04/hukum-udara-n-ruang-angkasa.html?m=1,
diakses pada tanggal 6 Maret 2016.

19 Malcol N. Show, 2013, op.cit , h. 772.

20 Ibid, h. 774.

10
perbuatan melanggar hukum atau kelalaian tersebut menimbulkan kehilangan

atau kerugian.
d. Prinsip Yurisdiksi Universal
Berdasarkan prinsip ini, masing-masing dan setiap negara memiliki

yurisdiksi untuk menghukum kejahatan / pelanggaran tertentu. Dasar untuk

ini adalah bahwa kejahatan yang dilakukan dianggap sebagai terutama

menyerang masyarakat internasional secara keseluruhan. Ada dua kategori

yang jelas termasuk dalam lingkup yurisdiksi universal, yang didefinisikan

sebagai kewenangan negara untuk menghukum tersangka dan untuk

menghukum mereka jika terbukti bersalah, terlepas dari tempat kejadian

perkara dan terlepas dari setiap hubungan kewarganegaraan aktif atau pasif

atau alasan yurisdiksi lain yang diakui oleh hukum internasional.21


Yang termasuk dalam kategori ini adalah pembajakan dan kejahatan

perang.22 Namun, ada semakin banyak pelanggaran/kejahatan lain yang oleh

perjanjian internasional dapat tunduk pada yurisdiksi negara tempat kejadian

dan yang membentuk kategori berbeda yang berhubungan erat dengan konsep

yurisdiksi universal.23

1.8 Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan suatu proses penalaran yang sistematis untuk

meningkatkan sejumlah pengetahuan untuk menyelidiki masalah yang

memerlukan jawaban. Dan pengertian penelitian hukum ialah suatu proses untuk

21 Malcolm N. Show, op.cit, h. 652.

22 Ibid.

23 Ibid.

11
menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin

hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi, 24 serta menemukan kasus-kasus

yang terkait untuk memperkuat hasil penelitian. Sebagai suatu penelitian ilmiah,

penulis menggunakan pendekatan-pendekatan tertentu, dari sejumlah pendekatan

yang dikenal dalam penelitian hukum normatif dengan memperhatian kaidah-

kaidah penelitian yaitu sebagai berikut:

a. Jenis Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang diteliti oleh penulis, maka jenis

penelitian yang digunakan dalam penulisan karya tulis skripsi ini adalah

penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif berarti penelitian

hukum yang meletakkan hukum sebagai sebuah sistem norma. Metode

penelitian hukum normatif merupakan metode atau cara yang

dipergunakan di dalam penelitian hukum yang dilakukan dengan cara

meneliti bahan pustaka yang ada.25


Menurut Soerjono Soekanto, penelitian dapat dibagi dalam :26
1. Penelitian Hukum Normatif, yang terdiri dari :
a. Penelitian terhadap asas-asas hukum;
b. Penelitian terhadap sistematika hukum;
c. Penelitian terhadap taraf sinkronisasi

hukum;
d. Penelitian sejarah hukum; dan
e. Penelitian perbandingan hukum.

24 Peter Mahmud Marzuki, 2011, Penelitian Hukum, Cetakan ke-7, Kencana, Jakarta,
(selanjutnya disebut Peter Mahmud Marzuki I), h.35.

25 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2009, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan
Singkat, cetakan ke-11 PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, h. 1314.

26 Bambang Sunggono, 2013, Metodologi Penelitian Hukum, Rajawali Press, Jakarta, h.


41.

12
Selain itu Peter Mahmud Marzuki menyatakan pendapatnya

mengenai penelitian hukum normatif, adalah suatu proses untuk

menemukan suatu aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-

doktrin hukum untuk menjawab permasalahan hukum yang dihadapi, selain

itu hukum normatif dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau

konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang

dihadapi.27

b. Jenis Pendekatan

Sebuah karya tulis ilmiah agar dapat mengungkapkan kebenaran

jawaban atas permasalahan secara sistematis, metodologis, dan konsisten

serta dipertanggungjawabkan keilmiahannya, hendaknya disusun dengan

menggunakan pendekatan-pendekatan yang tepat. Dalam penelitian

hukum terdapat beberapa pendekatan, antara lain pendekatan peraturan

perundang- undangan (statute approach), pendekatan kasus (case

approach), pendekatan historis, pendekatan komparatif, dan pendekatan

konseptual.28 Dalam buku pedoman fakultas hukum universitas udayana,

penelitian normatif umumnya megenal 7 jenis pendekatan yaitu:

1. Pendekatan kasus (the case approach)


2. Pendekatan perundang-undangan (the statute approach)
3. Pendekatan Fakta (the fact approach)

27 Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, 2013, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan
Empiris, h. 34.

28 Peter Mahmud Marzuki, 2008, Penelitian Hukum, cetakan ke-4, Prenada Media Group,
Jakarta, (selanjutnya disebut dengan Peter Mahmud Marzuki II), h. 93.

13
4. Pendekatan Analisis Konsep Hukum (analytical and conceptual

approach)
5. Pendekatan Frasa (word and phrase approach)
6. Pendekatan Sejarah (historical approach)
7. Pendekatan Perbandingan (comparative approach)

Adapun pendekatan yang digunakan penulis dalam karya ilmiah skripsi ini

adalah pendekatan pendekatan kasus (the case approach), pendekatan perundang-

undangan (the statute approach) dan pendekatan fakta (the fact approachi).

Pendekatan kasus (the case approach) adalah pendekatan yang dilakukan

dengan melakukan penelitian lebih dalam pada kasus terkait dengan isu hukum

yang dihadapi. Dalam penggunaan pendekatan kasus, yang perlu dipahami oleh

peneliti adalah ratio decidendi, yaitu alasan-alasan hukum yang digunakan oleh

hakim untuk sampai kepada keputusan.29

Untuk memperkuat argumentasi serta penilaian terhadap kasus penembakan

pesawat udara sipil yang dilakukan oleh gerakan separatis maka memerlukan

putusan-putusan pengadilan terhadap kasus-kasus yang serupa. Khususnya kasus

yang menyangkut pengakuan terhadap gerakan separatis, kriteria sebagai gerakan

separatis serta pertanggungjawaban gerakan separatis atas kejahatan dan

pelanggaran yang telah dilakukannya.

Pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach) adalah

penelitian lebih dalam dengan melakukan pengamatan terhadap undang-undang,

memahami hierarki dan asas-asas yang terdapat dalam peraturan perundang-

undangan. Pendekatan perundang-undangan berupa legislasi dan regulasi yang

29 Peter Mahmud Marzuki I, op.cit, h. 119.

14
dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara

umum.30

Dalam penulisan karya ilmiah skripsi ini, penulis menganalisis instrumen-

instrumen hukum internasional seperti Konvensi Chicago 1944 dan Konvensi

Montreal 1971 dan kaitannya dengan kasus sehingga dapat ditemukan substansi

dari permasalahan yang akan dikaji.

Pendekatan Fakta (the fact approach) adalah penelitian lebih dalam yang

penulis lakukan yang mengaitkan suatu peristiwa hukum dengan kasus yang

diangkat.

Fakta yang diangkat dalam skripsi ini, adalah bukti-bukti yang mampu

mengantarkan gerakan separatis pro-Russia tersebut dapat dikategorikan sebagai

NLM subjek hukum internasional. Sekumpulan fakta mengenai kasus

penembakan pesawat MH 17 yang mampu membuktikan bahwa memang benar

penembakan dilakukan oleh gerakan separatis pro-Russia serta bukti yang

menguatkan bahwa kawasan Ukraina pada saat itu dapat dikategorikan sebagai

kawasan terlarang.

c. Sumber Bahan Hukum


1. Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan

mengikat umum, terdiri atas asas peraturan perundang-undangan,

yurisprudensi atau putusan pengadilan, peraturan dasar dan perjanjian

internasional. Menurut Peter Mahmud Marzuki bahan hukum primer

30 Peter Mahmud Marzuki, 2009, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group,
Jakarta, (selanjutnya disebut Peter Mahmud Marzuki III), h. 97.

15
ini bersifat otoritatif, artinya mempunyai otoritas, yaitu merupakan

hasil tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh lembaga yang

berwenang untuk itu.31 Adapun sejumlah bahan hukum primer, yang

berasal dari peraturan perundang-undangan serta ketentuan-ketentuan

yang lebih khusus yang berkaitan dan digunakan dalam penulisan

skripsi ini antara lain :


- Konvensi Chicago 1944 (Convention on International Civil

Aviation)
- Konvensi Montreal 1971 (Convention for the Suppression of

Unlawful Acts Against Safety of Civil Aviation)


- Statuta Roma 1998

2. Bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang dapat memberikan

penjelasan terhadap bahan hukum primer, seperti rancangan peraturan

perundang-undangan, hasil penelitian, buku-buku teks, jurnal ilmiah,

surat kabar, pamflet, brosur, karya tulis hukum atau pandangan ahli

hukum yang termuat di media massa dan berita di internet. 32 Terkait

skripsi ini maka digunakan sumber dari kepustakaan seperti buku-

buku, karya tulis hukum atau pandangan ahli hukum yang termuat

dalam media massa maupun berita di internet yang berkaitan dengan

masalah yang dibahas, yaitu mengenai tinjauan hukum internasional

mengenai pertanggungjawaban kasus penembakan pesawat udara oleh

pesawat militer suatu negara.

31 Peter Mahmud Marzuki III, h. 144-154.

32 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, op.cit, h. 47.

16
3. Bahan hukum tersier menurut Peter Mahmud Marzuki merupakan

bahan non hukum yang digunakan untuk menjelaskan, baik bahan

hukum primer maupun bahan hukum sekunder, seperti kamus,

ensiklopedi, dan lain-lain.33

d. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Teknik pengumpulan bahan-bahan hukum yang dipergunakan adalah teknik

studi dokumen, yaitu dalam pengumpulan bahan hukum terhadap sumber

kepustakaan yang relevan dengan permasalahan yang dibahas dengan cara

membaca dan mencatat kembali bahan hukum tersebut yang kemudian

dikelompokkan secara sistematis yang berhubungan dengan masalah dalam

penulisan skripsi ini. Untuk menunjang penulisan skripsi ini pengumpulan bahan-

bahan hukum diperoleh melalui :

1. Pengumpulan bahan hukum primer dilakukan dengan cara

mengumpulan instrument internasional yang berkaitan dengan

masalah yang dibahas.


2. Pengumpulan bahan hukum sekunder dilakukan dengan

carapenelitian kepustakaan yang bertujuan untuk mendapatkan

bahan hukum yang bersumber dari buku-buku, karya tulis

hukum atau pandangan ahli hukum yang termuat dalam media

massa maupun berita di internet yang terkait dengan

permasalahan yang hendak dibahas dalam skripsi ini.


33 Ibid, h. 47.

17
3. Pengumpulan bahan hukum tersier dilakukan dengan

menggunakan kamus hukum.

e. Teknik Analisa Bahan Hukum

Adapun teknik pengolahan bahan hukum yaitu setelah bahan hukum

terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik deskripsi yaitu dengan

memaparkan bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.34 Bahan hukum

primer dan sekunder yang terkumpul selanjutnya diberikan penilaian (evaluasi),

kemudian dilakukan interpretasi dan selanjutnya diajukan argumentasi.

Argumentasi disini dilakukan oleh peneliti untuk memberikan preskripsi atau

penilaian mengenai benar atau salah atau apa yang seyogyanya menurut hukum

terhadap peristiwa yang terjadi. Dari hal tersebut nantinya akan ditarik kesimpulan

secara sistematis agar tidak menimbulkan kontradiksi antara bahan hukum yang

satu dengan bahan hukum yang lain.

Teknik lainnya yang penulis gunakan adalah teknik Analisis, yaitu

pemaparan secara mendetail dari keterangan-keterangan yang didapat pada tahap

sebelumnya yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian ini sehingga

keseluruhannya membentuk satu kesatuan yang saling berhubungan secara logis.

34 Ronny Hanitijo, 1991, Metode Penelitian Hukum, Cet. ke II Ghalia Indo, Jakarta, h.
93.

18
BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG SUBJEK HUKUM INTERNASIONAL

DAN PERTANGGUNGJAWABAN ATAS SERANGAN TERHADAP

PENERBANGAN UDARA SIPIL

2.1 Subjek Hukum Internsional

Dalam setiap sistem hukum, badan tertentu, baik individu maupun lembaga,

dianggap memiliki hak dan kewajiban yang bisa diberlakukan sesuai

hukum.35Dengan demikian seorang individu dapat menuntut atau dituntut atas

penyerangan sedangkan sebuah lembaga dapat mengajukan tuntutan atas

pelanggaran kontrak. Mereka mampu melakukan hal ini karena hukum mengakui

mereka sebagai pribadi hukum (legal person) yang memiliki kapasitas untuk

memiliki dan mempertahankan hak tertentu, dan menjadi subjek untuk

menjalankan tugas dan kewajiban terntentu.36

Kepribadian hukum sangat penting, tanpa itu lembaga dan kelompok tidak dapat

beroprasi, karena mereka harus mampu mempertahankan dan menegakkan klaim.

Setiap kepribadian hukum tersendiri berbeda-beda tergantung dari ketentuan yang

dibatasi oleh undang-undang yang relevan. Hukum yang akan menentukan

lingkup dan sifat kepribadian tersebut. Kepribadian mencakup pembahasan

35 Malcolm N.Show, loc.cit.

36Ibid.

19
sejumlah konsep dalam hukum seperti status, kapasitas, kompetensi, serta sifat

dan kadar hak dan kewajiban tertantu.37

Kepribadian dalam hukum internasional memperhitungkan keterkaitan antara hak

dan kewajiban yang dimungkinkan menurut sistem internasional dan kapasitas

untuk menegakkan klaim.38 Kepribadian internasional adalah partisipasi ditambah

dengan semacam penerimaan tertentu oleh komunitas. Untuk penerimaan tertentu

oleh komunitas akan bergantung pada berbagai faktor, termasuk tipe kepribadian

yang bersangkutan.39

Salah satu karakteristik yang membedakan hukum internasional kontemporer

adalah keragaman para peserta. Menurut Malcolm N. Show , subjek hukum

internasional terdiri dari :40

1. Negara
2. Organisasi internasional
3. Organisasi regional
4. Organisasi non-pemerintah
5. Perusahaan publik
6. Perusahaan swasta
7. Individu
8. Tahta Suci dan Kota Vatikan
9. Pemberontak dan kelompok perlawanan
10. Gerakan pembebasan nasional (NLM).

37Ibid.

38Ibid, h. 193-194.

39Ibid.

40Ibid, h. 194-238.

20
Mahkamah internasional jelas mengakui keragaman model kepribadian

dalam penekanannya bahwa para subjek hukum dalam sistem hukum manapun

tidak selalu identik dalam hal sifat atau kadar hak mereka.41 Betapapun, ada dua

kategori dasar kepribadian objektif dan bersyarat.

Dalam kasus yang pertama, entitas tunduk kepada berbagai hak dan akan

berhak untuk diterima sebagai pribadi internasional oleh pribadi internasional

lainnya yang dengannya ia sedang menjalin hubungan, dengan kata lain, ia akan

berlaku erga omnes.42

Pembentukan kepribadian internasional yang objektif dengan sendirinya

lebih sulit untuk dicapai dan masyarakat pada dasarnya tindakan masyarakat

internasional secara keseluruhan atau sebagaian besar substansialnya.

2.1.1 Negara

Hukum internasional pada dasarnya mengatur tentang hak-hak dan kewajiban

negara.43 Terlepas dari banyaknya subjek dalam hukum internasional, negara tetap

menjadi badan hukum yang paling penting dan menjadi fokus utama bagi kegiatan

sosial umat manusia.44 Maka dari itu Negaralah yang menjadi subjek utama dalam

hukum internsional.
41 ICJ Report, 1949, h. 178; 16 AD, h. 321.

42 Malcolm N. Show, op.cit, h. 235.

43 Boer Mauna, 2005, Edisi ke 2, Hukum Internasional Pengertian Peranan dan Fungsi
Dalam Era Dinamika Global, P.T Alumni Bandung, Bandung, h. 17.

44 Malcolm N. Show, op.cit, h. 194.

21
Suatu negara yang merupakan subjek penuh hukum internasional diperlukan

unsur-unsur konstitutif diantaranya:45

(1) Penduduk yang tetap, Dalam unsur kependudukan ini harus ada unsur

kediaman secara tetap. Bagi penduduk yang tidak mendiami suatu wilayah secara

tetap dan selalu berkelana (nomad) tidak dapat dinamakan penduduk sebagai

unsur konstitutif pembentukan suatu negara.46

(2) Wilayah tertentu, Adanya suatu wilayah tertentu sangatlah mutlak bagi

pembentukan suatu negara, karena tidak mungkin ada suatu negara tanpa wilayah

tempat bermukimnya penduduk tersebut.47 Wilayah suatu negara terdiri dari

daratan, lautan dan udara di atasnya. Hukum internasional tidak menetukan syarat

luas suatu wilayah yang dapat dikategorikan sebagai unsur konstitutif suatu

negara. Dan wilayah suatu negara tidak selalu harus satu kesatuan dan dapat

terdiri dari bagian-bagian yang berbeda di kawasan yang berbeda.48

(3) Pemerintah, Sebagai suatu person yuridik, negara memerlukan sejumlah organ

untuk mewakili dan menyalurkan kehendaknya. Karena negara hanya dapat

melaksanakan kekuasaan tersebut melalui organ-organ yang terdiri dari individu-

45 Ibid.

46 Ibid.

47 Ibid, h. 20.

48 Ibid, h. 21.

22
individu.49 Yang dimaksud pemerintah, biasanya adalah badan eksekutif dalam

suatu negara yang dibentuk melalui prosedur konstitusional untuk

menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang ditugaskan rakyat kepadanya.50

(4) Kedaulatan. Kedaulatan ialah kekuasaan tertinggi yang dimiliki oleh suatu

negara untuk secara bebas melakukan berbagai kegiatan sesuai kepentingannya

asal saja kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan hukum internasional. 51

Sesuai dengan konsep hukum internasional, kedaulatan memiliki tiga aspek utama

yaitu:52 A. Aspek Ekstern Kedaulatan, adalah hak bagi setiap negara untuk secara

bebas menentukan hubungannya dengan berbagai negara atau kelompok-

kelompok lain tanpa kekangan, tekanan, atau pengawasan dari negara lain. B.

Aspek Intern Kedaulatan adalah hak atau wewenang ekslusif suatu negara untuk

menentukan bentuk lembaga-lembaganya, cara kerja lembaga-lembaga tersebut

dan hak untuk membuat undang-undang yang diinginkannya serta tindakan-

tindakan untuk mematuhi. C. Aspek Teritorial Kedaulatan berarti kekuasaan

penuh dan ekslusif yang dimiliki oleh negara atas individu-individu dan benda-

benda yang terdapat di wilayah tersebut.

2.1.2 Organisasi Internasional dan Organisasi Regional

49 Ibid.

50 Ibid, h.22.

51 Ibid, h. 24.

52 Nkambo Mugerwa, 1968, Subjects of International Law, Mac Millan, New York, h.
253.

23
Organisasi Internasional telah memainkan peran penting dalam lingkungan

kepribadian internasional. Sejak abad ke-19 semakin banyak organisasi semacam

itu telah muncul dengan demikian menimbulkan personal kepribadian hukum

Internasional.53 Pada prinsipnya bahwa organisasi internasional memiliki

kepribadian hukum internasional.54

Organisasi internasional hanya memiliki keprinadian dalam hukum internasional

yang bergantung kepada status konstitusional, kekuasaan dan praktiknya.

Kapasitas dalam menjalin hubungan dengan negara dan organisasi lain dan

mengikat perjanjian dengan mereka, serta status yang telah diberikan kepadanya

dalam hukum manusipal55 merupakan unsur dari adanya pentunjuk mengenai

adanya kepribadian dalam hukum internasional.56

2.1.3 Perusahaan Publik Internasional

Jenis entitas ini memiliki berbagai nama, seperti perusahaan publik multinasional

atau badan perusahaan internasional, yang ditandai dengan perjanjian

53 Malcolm N. Show, op.cit, h. 234.

54 Lihat kasus Reparation for Injuries, ICJ Reports, 1949, h,174; 16 AD, h. 318. Lihat
juga kasus Interpretation of the Agreements of 25 March 1951 between the WHO and
Egypt, ICJ Reports, 1980, h. 73, 89-90; 62 ILR, h. 450, 473-4.

55 Ian Brwonlie, 1998, Fifth Edition, Principle of Public International Law, Clarendon
Press, Oxford, h. 62.

56 Malcolm N. Show, op.cit, h. 235.

24
internasional yang mengatur kerjasama antara pemerintah dan perusahaan

swasta.57

Entitas ini dapat didefinisikan sebagai perusahaan yang tidak dibentuk melalui

pemberlakuan ekslusif sebuah hukum nasional; yang anggota direksinya mewakili

beberapa kedaulatan nasional; yang kepribadian hukumnya tidak didasarkan, atau

sama sekali tidak didasarkan, atas keputusan otoritas nasional atau penerapan

hukum naisonal; yang kegiatan usahanya, pada akhirnya, diatur, setidaknya untuk

sebagian, oleh aturan yang tidak berasal dari satu atau beberapa hukum nasional. 58

Sebagai contoh perusahaan INTELSAT, yang didirikan pada tahun 1973 sebagai

sebuah struktur antarpemerintah untuk sistem telekomunikasi satelit global

komersial.

2.1.4 Perusahaan Transnasional

Perusahaan Transnasional pada dasarnya merupakan organisasi bisnis swasta yang

terdiri atas beberapa badan hukum yang terhubung oleh perusahaan-perusahaan

induk dan dibedakan berdasarkan ukuran dan penyebaran multinasionalnya.59

2.1.5 Tahta Suci dan Kota Vatikan

Pada 1929 ditandatangani perjanjian lateran dengan Italia yang mengakui

keberadaan Kota Vatikan dan kedaulatan Tahta Suci di bidang hubungan

57 Ibid, h. 228.

58 Ibid.

59 Ibid.

25
internasional sebagai sebuah atribut yang berkaitan dengan karakteristik Tahta

Suci, sesuai dengan tradisi dan tuntutan misi di dunia.60

Tahta Suci, otoritas pusat organisasi Gereja Katolik, pada tahun 1870 terus

melibatkan diri dalam hubungan diplomatik dan membuat perjanjian dan

kesepakatan internasional. Dengan demikian statusnnya sebagai pribadi

internasional diterima oleh para mitranya. 61 Kemudian Tahta Suci meningkatkan

Komite akan karakteristik khas masyarakat bangsa-bangsa sebagai sebuah subjek

berdaulat dalam hukum internasional. Tahta suci memiliki misi yang bersifat

religius dan moral, universal dalam lingkungannya, yang didasakan pada teritorial

yang menjamin basis otonomi bagi pelayanan pastoral pihak Paus yang

berdaulat.62 Crawford menyimpulkan bahwa Tahta Suci adalah Pribadi Hukum

Internasional dan sekaligus pemerintah sebuah negara (Kota Vatikan).63

2.1.6 Individu

Status Individu dalam hukum internasional terkait erat dengan berkembangnya

perlindungan hak asasi manusia internasional. Secara historis penghubung antara

negara dan individu untuk tujuan hukum internasional adalah konsep kebangsaan.

60 Ibid, h. 225.

61 Ibid.

62 Ibid.

63 Crawford, Creation of States, h. 230, lihat juga Cassese, International Law, h. 133.

26
Hal ini sudah dan tetap menjadi hal penting dalam lingkup yurisdiksi dan

perlindungan internasional individu oleh negara.64

Dalam hukum internsioanal bahwa individu tidak memiliki kedudukan untuk bisa

mengadukan pelanggaran perjanjian internasional bila tidak ada protes dari oleh

negara tempat ia menjadi warga negara.65 Negara dapat setuju untuk memberikan

hak tertentu kepada individu yang akan diberlakukan menurut hukum

internasional, terlepas dari hukum munisipal.

Sebagai contoh dalam kasus Danzig Railway Officials66 oleh Mahkamah Tetap

Internasional, yang menekankan bahwa sesuai hukum internasional, perjanjian

internasional tidak menciptakan hak dan kewajiban langsung bagi individu

pribadi, walaupun perjanjian tertentu dapat mengatur digunakannya hak-hak

individu dan pemberlakukannya oleh pengadilan nasional bila mana ini

dikehendaki oleh para pihak yang mengikat perjanjian.67 Berdasarkan ketentuan

mengenai perlindungan kaum minoritas dalam Perjanjian Perdamian 1919,

dimungkinkan bagi individu untuk mengajukan perkara langsung ke pengadilan

internasional dalam kasus tertentu. Dan dalam Konvensi Upper Silesia 1922

64 Malcolm N. Show, op.cit, h. 233.

65 Lihat mis. US vs. Noriega 746 F.Suh. 1506, 1533 (1990);99 ILR, h. 143, 175.

66 PCIJ, Series B, No. 15 (1928); 4 AD, h. 287.

67 Malcolm N. Show, loc.cit.

27
memutuskan bahwa ia berkompeten untuk mengadili kasus-kasus yang

melibatkan para warga sebuah negara melawan negara tersebut.68

Praktik modern menunjukkan bahwa individu telah diberikan

perlindungan sebagai peserta dan subjek hukum internasional.69 Hal ini dapat

dilihat bahwa dalam tindak kekejaman tertentu individu dapat dibebankan

tanggung jawab pidana individu secara langsung.70

2.1.7 Pemberontak (Belligerent) dan National Liberation Movements (NLM)

Kaum Pemberontak (Belligerent) adalah kaum pemberontak yang sudah

mencapai tingkatan yang kuat dan mapan, baik secara politik, organisasi, militer,

dan telah tampak sebagai suatu kesatuan politik yang mandiri. Kemandirian

kemlompok sejenis ini tidak hanya berlaku ke dalam, tetapi juga keluar, dengan

pengertian bahwa dalam batas-batas tertentu dia sudah mampu menampakkan diri

pada tingkat internasional atas eksistensinya.71

Pengakuan atau penerimaan atas eksistensi kaum pemberontak dalam

suatu negara sering kali didasarkan atas pertimbangan politik subjektif dari

negara-negara yang memberikan pengakuan.

68 Lihat mis. Stainer and Gross v.Polish State 4 AD, h. 291.

69 Ibid.

70 Ian Brownlie, op.cit, h. 565.

71 Jawahir Thontowi dan Pranoto Iskandar, 2006, Hukum Internasinal Komtenporer,


Rafika Aditama, Bandung, h. 104.

28
Namun demikian kaum pemberontak memiliki ketetapan dan beberapa

kriteria objektif yang harus dipenuhi oleh kaum pemberontak agar dapat

dikategorikan sebagai kaum belligerency. Kriteria ini muncul karena kaum

pemberontakan bersenjata yang terjadi dalam suatu Negara memiliki tingkat

kekuatan yang berbeda-beda. Tidak ada Hukum internasional atau kebiasaan

hukum internasional yang secara baku menetapkan pengaturan mengenai

Belligerency.

Hal ini berbeda dengan Gerakan Pembebasan Nasional (National

Liberation Movements), dimana kemunculan gerakan ini berkaitan dengan

kebangkitan rakyat di wilayah jajahan untuk memperjuangkan hak-hak mereka

agar dapat mendirikan Negara yang merdeka, sejajar, dan sederajat dengan

Negara-negara yang telah merdeka.72

Praktiknya Belligerent dan insurgent dalam sebuah negara diperbolehkan

masuk sebagai hubungan internasional dan termasuk perjanjian-perjanjian yang

sah dalam internasional baik dengan negara maupun dengan Pemberontak dan

insurgent lainnya.73

2.2 Pengaturan perlindungan terhadap penerbangan udara sipil

72 I Wayan Parthiana, 1990, Pengantar Hukum Internasional, Mandar Maju, Bandung,


h. 82.

73 Ian Brownlie, op.cit, h. 63.

29
Pada umumnya pengaturan mengenai perlidungan pesawat udara terdapat

dalam Pasal 3 Pada Convention on the International Civil Aviation, Chicago 7

Desember 1944.74

Yang diatur dalam Pasal 3 dan pasal ini mengalami perubahan yang

sekarang menjadi Pasal 3 bis.75 Dalam Pasal itu dinyatakan :76

(a) The contracting States recognized that every State must refrain from

resorting to the use of weapons against civi aircraft in flight and that, in case of

interception, the lives of persons on board and the safety to aircraft must not be

endangdered. This provision shall not be interpreted as modifying in any way the

rights and obligations of States set forth in the Charter of the United Nations.

(b) The contacting States recognize that the every States, in the exercise of

its sovereignty, is entitled to require the landing at some designated airport of a

civil aircraft fliying above its territory without authority or if there are reasonable

grounds to conclude that it is being used for any purpose inconsistent with the

aims of this convention ; it may also give such aircraft any other instructions to

put an end to such violations. For this purpose, the contracting States may resort

to any appropriate means consistent with relevant rules of international law,

including the relevant provisions of this Conventions, specially paragraph (a) of

74 Bambang Widarto II, op.cit, h. 16.

75 Saefullah Wiradipta dan Mieke Komar, 1998, Hukum Angkasa dan Perkmbangannya,
Remadja Karya CV, Bandung, h. 30.

76 Pasal 3 bis, Protokol Tambahan Konvensi Chicago 1984.

30
this Article. Each contracting States agrees to publish its regulations in force

regarding the interception of civil aircraft.

(c) Every civil aircraft shall comply with an order given in conformity with

paragraph (b) of this Article. To this end each contracting States shall esthablish

all necessary provisions in its national laws or regulations to make such

complaince mondatory for any civil aircraft registered in that State or operated

by an operator who has his principal place of business or permanent residence in

that State. Each contracting State shall make any violation of such applicable

laws or regulations punisble by severe penalties and shall submit the case to its

competent authorithies in accordance with its laws or regulations.

(d) Each contracting States take appropriate measures to prohibit the

deliberate use of any civil aircraft registered in that State or operated by an

operator who has his principal place of business or permanent residence in that

State for any purpose in consistent with the aims of this conventions. This

provision shall not effect paragraph (a) or derogate from paragraph (b) and (c) of

this Article.

Pada intinya, jika dilihat dari ketentuan tersebut bahwa negara mempunyai

kewajiban hukum untuk tidak menggunakan senjata terhadap pesawat udara sipil

dalam penerbangannya dan negara berkewajiban untuk tidak membahayakan jiwa

manusia yang berada di dalam pesawat. 77 Selian itu negara berhak memerintahkan

77 Pasal 3 bis (a), Protokol Tambahan Konvensi Chicago 1984.

31
pesawat udara sipil yang melakukan pelanggaran wilayah udara mendarat di

pelabuhan udara negara itu yang ditentukan.78

Pada tahun 1971 ICAO menghasilkan konvensi yang mengatur

pemberantasan tindakan melawan hukum yang mengancam keselamantan

penerbangan sipil. Kovensi tersebut bernama Convention for the Suppression of

Unlawful Acts Against Safety of Civil Aviation atau disingkat Konvensi Montreal

1971.79 Konvensi ini mengatur tentang ruang lingkup tindak pidana, jurisdiksi,

dan wewenang kapten pilot. Dalam Pasal 1 ayat (1) konvensi ini, menegaskan

bahwa setiap orang melakukan pelanggaran jika ia melawan hukum dan berniat :

(a) Performs an act of violence against a person on board an aircraft in flight if that act
is likely to endanger the safety of that aircraft ; or

(b) Destroy an aircraft in service or causes damage to such an aircraft which renders it
incapable of flight or which is likely to endanger its safety in flight ; or

(c) Places or causes to be placedon an aircraft in service, by any means whatsoever, a


device or substance which is likely to destroy that aircraft, or to cause damages to it

which renders it incapable of flight, or to cause damage to it which is likely to

endanger its safety in flight ; or

(d) Destroy or damages air navigation facilities or interferes with their operation, if any
such act is likely to endanger the safety of aircraft in flight ; or

(e) Communicates information which he knows to be fales, thereby endangering the safety
of an aircraft in flight.

Untuk penyelesaian sengketa baik berupa pelanggaran dalam interpretasi

atau penerapan kovensi atau lampiran-lampiran mengenai hukum udara, dapat


78 Pasal 3 bis (b), Protokol Tambahan Konvensi Chicago 1984.

79 Bambang Widarto II, op.cit, h.146.

32
diselesaikan dengan ICAO Council (Dewan ICAO), Ad Hoc Abrital Tribunal dan

Permananent Court of International Justice.80

2.3 Pertanggungjawabandalam Hukum Internasional

Tanggung jawab negara (state responsibility) merupakan prinsip fundamental

dalam hukum internasional yang bersumber dari doktrin para ahli hukum

internasional. Tanggung jawab negara timbul bila terdapat pelanggaran atas suatu

kewajiban internasional untuk berbuat sesuatu, baik kewajiban tersebut

berdasarkan perjanjian internasional maupun berdasarkan pada kebiasaan

internasional.81

Di samping itu tanggung jawab negara (state responsibility) muncul sebagai

akibat dari adanya prinsip persamaan dan kedaulatan negara (equality and

sovereignty of state) yang terdapat dalam hukum internasional. 82 Prinsip ini

kemudian memberikan kewenangan bagi suatu negara yang terlanggar haknya

untuk menuntut suatu hak yaitu berupa perbaikan (reparation).83 Meskipun suatu

negara mempunyai kedaulatan atas dirinya, tidak lantas negara tersebut dapat

menggunakan kedaulatannya tanpa menghormati kedaulatan negara-negara lain.

Didalam hukum internasional telah diatur bahwa kedaulatan tersebut berkaitan

80 Pasal 84 Konvensi Chicago 1944.

81Andrey Sujatmoko, Tanggung Jawab Negara Atas Pelanggaran Berat HAM:


Indonesia, Timor Leste dan Lainnya, Grasindo Gramedia WidiasaranaIndonesia, h. 28.

82 Hingorani, 1984, Modern International Law, Second Edition, Oceana Publications, h.


241.

83Ibid.

33
dengan kewajiban untuk tidak menyalahgunakan kedaulatan itu sendiri, karena

apabila suatu negara menyalahgunakan kedaulatannya, maka negara tersebut

dapat dimintai suatu pertanggungjawaban atas tindakan dan kelalaiannya.84

Istilah tanggung jawab negara hingga saat ini masih belum tegas dinyatakan dan

masih terus berkembang untuk menentukan dan menemukan konsep yang mapan

dan solid. Oleh karena itu masih dalam tahap perkembangan, maka sebagai

konsekuensinya, pembahasan tanggung jawab negara pun saat ini masih sangat

membingungkan.85

Hingga saat ini belum terdapat ketentuan hukum internasional yang mapan

tentang tanggung jawab negara. Umumnya yang dapat dikemukakan oleh para

ahli hukum internasional dalam menganalisa tanggung jawab negara hanya baru

pada tahap mengemukakan syarat-syarat atau karakteristik dari

pertanggungjawaban suatu negara. Meskipun demikian para ahli hukum

internasional telah banyak mengakui bahwa tanggung jawab negara ini merupakan

suatu prinsip yang fundamental dari hukum internasional.86

Filsuf Hukum H.L.A Hart mengatakan hukum internasional dikenal 2 (dua)

macam aturan yakni:87

84 Huala Adolf, 1991, Aspek-aspek Negara dalam Hukum Internasional, CV


Rajawali, Jakarta, (selanjutnya disingkat Huala Adolf I), h. 174.

85 Ibid.

86 Ibid.

87 Sefriani,2010, Hukum Internasional: Suatu Pengantar, PT. Raja Grafindo


Persada, Jakarta, h. 266.

34
- Primary rules adalah seperangkat aturan yang mendefinisikan hak dan

kewajiban negara yang tertuang dalam bentuk traktat, hukum kebiasaan

atau instrumen lainnya; dan


- Secondary rules adalah seperangkat aturan yang mendefinisikan

bagaimana dan apa akibat hukum apabila primary rules tersebut

dilanggar oleh suatu negara.

Secondary rules inilah yang disebut sebagai hukum tanggung jawab negara (the

law of state responsibility).88

Pasal 1 Draft Articles International Law Comission 2001 menegaskan bahwa

setiap tindakan suatu negara yang tidak sah secara internasional melahirkan suatu

tanggung jawab.89 Prinsip dalam rancangan pasal inilah yang dianut dengan teguh

oleh praktek negara dan keputusan-keputusan pengadilan serta telah menjadi

doktrin dalam hukum internasional.90

2.3.1 Pertanggungjawaban Negara

Pengertian tanggung jawab negara jika merujuk pada Dictionary of Law adalah:

Obligation of a state to make reparation arising from a failure to comply

with a legal obligation under international law.91


88 Ibid.

89 Martin Dixon, 2007, Textbook on International Law Sixth Edition, Oxford


University Press, New York, h. 244.

90 Huala Adolf I, op.cit, h. 176.

91 Elizabeth A.Martin ed., 2002, A Dictionary of Law, Oxford University Press, New York,
h. 477.

35
Pertanggungjawaban berarti kewajiban memberikan jawaban yang merupakan

perhitungan atas suatu hal yang terjadi, dan kewajiban untuk memberikan

pemulihan atas kerugian yang mungkin ditimbulkannya. Menurut hukum

internasional, pertanggungjawaban Negara timbul dalam hal Negara itu

merugikan negara lain.

Pertanggung jawaban Negara dibatasi pada pertanggungjawaban atas

perbuatan yang melanggar hukum internasional. Perbuatan suatu negara yang

merugikan Negara lain, tetapi tidak melanggar hukum internasional, tidak

menimbulkan pertanggungjawaban negara. Misalnya perbuatan negara yang

menolak masuknya seorang warga Negara asing kedalam wilayahnya tidak

menimbulkan pertanggungjawaban Negara itu. Hal itu disebabkan karena Negara

itu menurut hukum internasional berhak menolak atau menerima warga Negara

asing masuk kedalam wilayahnya.92

Pertanggungjawaban Negara memiliki dua pengertian. Pengertian yang pertama

memiliki arti pertanggungjawaban atas tindakan negara yang melanggar

kewajiban internasional yang telah dibebankannya. Sedangkan pengertian kedua

adalah pertanggungjawaban yang dimiliki oleh negara atas pelanggaran terhadap

orang asing.

Tanggung jawab negara muncul sebagai akibat dari prinsip persamaan dan

kedaulatan negara yang terdapat dalam hukum internasional. Prinsip ini kemudian

memberikan kewenangan bagi suatu negara yang terlanggar haknya untuk

92 Sugeng Istanto, 1998, Hukum Internasional, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, h. 77.

36
menuntut reparasi.93 Dalam hukum nasional dibedakan antara

pertanggungjawaban perdata dan pidana, begitu pula dalam hukum internasional

terdapat beberapa ketentuan yang serupa dengan hukum nasional tapi hal ini tidak

menonjol. Di samping itu, hukum internasional mengenai pertanggungjawaban

belum berkembang begitu pesat.94

Pertanggungjawaban muncul, biasanya diakibatkan oleh pelanggaran atas hukum

internasional. Suatu negara dikatakan bertanggung jawab dalam hal negara

tersebut melakukan pelanggaran atas perjanjian internasional 95 melanggar

kedaulatan wilayah lain,96 menyerang negara lain,97 mencederai perwakilan

diplomatik negara,98 bahkan memperlakukan warga asing dengan seenaknya.99

Oleh karena itu, pertanggungjawaban negara berbeda-beda kadarnya, tergantung

93 Molcolm N. Shaw, op.cit, h. 541.

94 David J. Harris, Case and Materials on International Law, Sweet and Maxwell,
London, h. 374.

95 Lihat kasus Factory at Chorzow, dalam kaitannya dengan pelanggaran terhdap traktat
menyatakan the court observe that it is a principle of international, and even a general
conception of law, that any breach of an engagment involves an obligation to make
reparation ... is the indispensable complement of a failure to apply a convention, and
there is no necessityfor this to be stated in convention is self. Dikutip dalam Martin
Dixon and Robert McCorquodale, Cases, h. 404.

96 Lihat Resolusi Dewan Keamanan 647 dan 687.

97Ibid.

98 Lihat Reparation of Injuries, Advisory Opinion, ICJ Report 1949.

99 Lihat Chattin Claim 4 RIAA (1927) 282.

37
pada kewajiban yang diembannya atau besar dari kerugian yang telah

ditimbulkan.

Pembedaan derajat dalam pertanggungjawaban internasional sebagaimana

dinyatakan dalam The Rainbow Warrior Case antara Prancis dan Selandia Baru

pada tahun 1990 timbul persoalan mengenai hubungan antara aturan-aturan yang

berhubungan dengan hukum traktat.100

Arbitrase dilakukan berkenaan dengan insiden yang terjadi pada tahun 1985

ketika agen-agen negara Perancis menghancurkan kapal Rainbow Warroir di

pelabuhan selandia baru. Sekretaris Jendral PBB diminta menjadi madiator dan

pada tahun 1986101 menetapkan inter alia yang mengharuskan Perancis

membayar kompensasi pada Selandia Baru dan memindahkan kadua agen

Perancis ke markas militer Perancis di Pasifik, tempat keduanya diwajibkan

tinggal selama tiga tahun dan tidak boleh meninggalkan tempat itu tanpa

persetujuan bersama dari kedua negara.102

Namun kedua agen tersebut sama-sama dipulangkan ke Perancis sebelum masa

tiga tahun berakhir dengan berbagai alasan, tanpa persetujuan Selandia Baru. 103

Selandia baru mengajukan klausul arbitrase yang termuat dalam perjanjian 1986.

100 Lihat 82 ILR, h. 499.

101 Lihat 81 AJIL, 1987, h. 325 dan 74 ILR, h. 256.

102 Lihat juga Kesepakatan antara Perancis dan Selandia Baru tanggal 9 Juli 1986, 74
ILR, h. 274.

103 Malcolm N. Shaw, op.cit. h. 772.

38
Argumen yang diajukan nagara tersebut berpusat pada pelanggaran kewajiban

traktat yang dilakukan oleh Prancis, tetapi Prancis beragumen bahwa yang relevan

hanyalah hukum pertanggungjawaban negara serta bahwa menurut konsep force

majeure dan konsep kecelakaan (distress) Perancis terbebas dari tanggung jawab

hukum (liability), tidak terdapat sebagaimana umumnya ditunjukkan oleh hukum

nasional.

Pelanggaran tersebut terkait dengan hukum perjanjian yang terdapat dalam

Konvensi Wina mengenai hukum traktat (VCLT). Sehingga, dapat dipandang

bahwa hukum pertanggungjawaban memiliki keterkaitan erat dengan hukum

perjanjian. Perbedaannya, hukum perjanjian menentukan berlakunya kewajiban

dari traktat, sedangkan hukum mengenai pertanggungjawaban menentukan apa

konsekwensi hukum bagi pelanggarannya. Termasuk kadar sanksi yang

dijatuhkan.

Sebuah sengketa mengenai persoalan-persoalan yang diakibatkan oleh

pelanggaran-pelanggaran terhadap kewajiban international (yang terdapat dalam

hukum kebiasaan atau kewajiban dari perjanjian internasional) dapat berlangsung

di tingkat nasional maupun internasional. Walaupun secara tradisional permintaan

tanggungjawab hanya terjadi dalam hubungan antara negara, tapi pada saat ini

terdapat tren baru yakni permintaan tanggungjawab oleh individu kepada negara,

misal dalam kaitannya dengan pelanggaran atas konvensi HAM Eropa.104

104 Lihat Donna Gomien. Short Guide to the European Convention on Human Rights,
Strasbourg: Coincil of Europe, 2000.

39
Dalam hukum internasional tidak terdapat perbedaan antara pertanggungjawaban

perdata dan pidana sebagaimana dikenal oleh hukum nasional, sebagaimana

ditunjukan dalam praktek. Dan belum pernah ada negara yang dituntut dalam

kaitannya dengan penjatuhan hukum pidana. Dalam hal kejahatan oleh negara

(state crime) semua negara dianggap terugikan dan dapat meminta

pertanggungjawaban. Dan kesemuanya tidak ada yang bisa dikatakan sebagai

pertanggungjawaban pidana.

Walau tidak membedakan antara pertanggungjawaban perdata dan pidana,

hukum internasional dalam mempersoalkan segala bentuk pelanggaran, kita

perhatikan dua model. Pertama, wakil negara sebagai individu tidak memiliki

kekebalan apabila dalam hal terkait dengan tindakan yang termasuk kategori

kejahatan terhadap kemanusiaan, bahkan apabila individu tersebut bertindak atas

nama negara bukan motivasi pribadi.105 Tapi dalam kasus Arrest Warrant

pemahaman ini oleh ICJ ditolak.106 Kedua, telah dimasukan oleh ILC mengenai

konsekuensi atas pelanggaran terhadap norma Ius Cogen.107

2.3.2 Pertanggung Jawaban Gerakan Separatis.

105 Lihat Statuta Peradilan Internasional.

106 Dalam kasus ini ICJ menguatkan Kongo dengan dalil tindakan Belgia yang
mengeluarkan surat penangkapan internasional terhadap menteri luar negerinya dengan
tuduhan telah melakukan kejahatan internasional, diantaranya kejahatan terhadap
kemanusiaan, melanggar kedaulatan Kongo, Arrest Warrant Case ICJ Rep. 14 Pebruari
2002.

107 Lihat Pasal 40 41 rancangan pasal-pasalbagi pertanggungjawaban negara oleh ILC


yang dikutip dalam Martin Dixon dan Robert McCorquodale. Case, h. 405.

40
Gerakan separatis pada dasarnya bukanlah Subjek Hukum Internasional yang

sempurna. Gerakan separatis masuk kedalam subjek hukum internasional

diakibatkan karena adanya pengakuan dari negara-negara dan Resolusi PBB 3247

(XXIX).108

Namun kehadiran gerakan separatis merupakan ancaman terhadap sistem

pertahanan negara, yang bersifat nirmiliter dan bersekala nasional. Penyelesaian

ancaman ini merupakan tanggung jawab Negara. Peran Negara sebagai aktor

penyelesaian ini merujuk pada otoritas politik yang sah dan secara oprasional

memobilisasi kekuatan militer, termasuk di dalamnya Civil Society.

Sehingga secara tidak langsung semua perbuatan yang dilakukan oleh

Gerakan Separatis tersebut merupakan tanggung jawab Negara sebelum kaum

tersebut diakui secara politik telah terlepas dari Negara sebelum mereka merdeka.

Hal ini berlaku terhadap pertanggungjawaban perdata atau ganti rugi.

Dalam hukum pidana internasional terdapat pertanggungjawaban individu,

yang dimana dapat diartikan pertanggungjawaban individu sebagai natural

person.109 Dengan kata lain seseorang dapat dibebankan dan wajib memikul

tanggungj awab pidana atas tindak pidana yang dilakukan, tidak peduli apakah ia

sebagai pejabat atau bukan, hal ini telah diatur dalam Statuta Roma 1998

khususnya pasal 1 juncto 25.

108 Malcolm N.Show, op.cit, h. 226.

109 I Made Pasek Diantha, Hukum Pidana Internasional Dalam Dinamika Pengadilan
Pidana Internasional, Prenada Media Group, Jakarta. h. 151.

41
2.3.3 Munculnya Tanggung Jawab Negara

Terdapat banak teori yang bertentangan mengenai pertanggungjawaban

negara atas perbuatan melawan hukum atau kelalaian itu mutlak atau perlukah

pembuktian adanya suatu kesalahan atau niat di pihak pejabat-pejabat terkait.

Dalam hal ini terdapat dua prinsip, yakni Prinsip pertanggungjawaban objektif

dan prinsip pertanggungjawaban subjektif.

2.3.2.1 Prinsip Pertanggungjawaban Subjektif

Prinsip pertanggungjawaban subjektif (teori kesalahan) menegaskan bahwa harus

ada unsur kesengajaan (dolus) atau kelalaian (culpa) di pihak persona terkait

sebelum negaranya dapat diputuskan bertanggung jawab secara hukum atas

kerugian yang ditimbulkan.110

Kasus besar yang menggunakan pendekatan subjektif ialah klaim Home

Missionary Society111 pada tahun 1920 antara inggris dan Amerika Serikat. Dalam

kasus ini, pemungutan hut tax di Protektorat Sierra Leone menyulut

pemberontakan lokal. Dalam peristiwa itu properti Home Missionary Society

dihancurkan dan para missionaris dibunuh. Pengadilan menolak klaim Society

(diajukan oleh AS) dan menyatakan hukum internasional menetapkan bahwa

pemerintah tidak bertanggungjawab atas perbuatan kaum pemberontak jika

pemerintah sendiri tidak bersalah atas pelanggaran itikad baik atau kelalaian

110 Malcolm N. Show, op.cit, h. 775.

111 6 RIAA, h. 42 (1920); 1 AD, h. 173.

42
dalam menumpas pemberontakan tersebut.112 Karenanya, harus dicamkan bahwa

pandangan yang dikemukakan dalam kasus ini berhubungan dengan bidang kasus

hukum tersebut, yaitu persoalan pertanggungjawaban negara atas perbuatan kaum

pemberontak.

2.3.2.2 Prinsip Pertanggungjawaban Objektif

Prinsip pertanggungjawaban objektif (teori risiko) menyatakan bahwa

pertanggungjawaban hukum (liability) negara itu mutlak.113 Begitu suatu

perbuatan melawan hukum terjadi, menimbulkan kerugian dan dilakukan oleh alat

negara, menurut hukum internasional negara itu harus bertanggungjawab kepada

negara yang dirugikan, tanpa mengindahkan itikad baik atau buruk.

Dalam klaim klaim Caire,114 Komisi Klaim Perancis-Meksiko harus memeriksa

kasus seseorang warganegara Perancis yang ditembak oleh prajurit-prajurit

Meksiko karena tidak memberi 5.000 dolar Meksiko kepada mereka. Verzijl,

ketua Komisi, menyatakan bahwa Meksiko bertanggungjawab atas luka yang

disebabkan sesuai dengan doktrin pertanggungjawaban objektif yaitu

pertanggungjawaban atas perbuatan pejabat atau organ negara, yang menjadi

tanggung jawab negara meski tidak ada kesalahan dari negara itu sendiri.115

112 Malcolm N. Show, op.cit, h.776.

113 Ibid, h. 775.

114 5 RIAA, h. 516 (1929); 5 AD, h. 146.

115 5 RIAA, h. 529-31. Lihat juga The Jessie, 6 RIAA, h. 57 (1921); AD, h. 175.

43
Dalam kasus Corfu Channel, Mahkamah Internasional lebih condong

kepada teori kesalahan dengan mengatakan bahwa dari fakta, suatu negara

menjalankan kontrol atas teritori dan perairannya saja, tidak dapat disimpulkan

bahwa negara itu niscaya mengetahui, atau harus mengetahui setiap perbuatan

melanggar hukum yang dilakukan di dalamnya, juga tidak dapat disimpulkan

bahwa negara niscaya mengetahui atau seharusnya sudah mengetahui sumber-

sumber pelanggaran. Fakta itu sendiri, dan di luar keadaan-keadaan lain, tidak

melibatkan pertanggungjawaban prima faice juga mengalihkan beban

pembuktian.116

Mahkamah Internasional juga menegaskan bahwa fakta kontrol teritorial

ekslusif memang berpengaruh terhadap metode-metode pembuktian yang dapat

digunakan untuk membuktikan pengetahuan negara itu akan peristiwa-peristiwa

yang dipersoalkan. Dikarenakan kesulitan-kesulitan dalam menyajikan

pembuktian langsung fakta-fakta yang menimbulkan pertanggungjawaban, maka

negara yang menjadi korban diperbolehkan memilih jalan yang lebih liberal,

yaitu, inferensi fakta dan bukti keadaan.117

Mahkamah Internasional dalam membicarakan pengetahuan Albania

tentang pemasangan ranjau, dan persoalan pertanggungjawaban Prima facie untuk

setiap perbuatan melawan hukum yang dilakukan didalam teritori negara terkait

dengan tanpa mengindahkan atribusi, memunculkan isu-isu lain. Hal itu tidak

116 ICJ Reports, 1949, h. 4, 18 ; 16 AD, h. 157.

117 Ibid.

44
dapat dianggap sebagai bukti penerimaan teori kesalahan. Dapat disimpulkan

bahwa doktrin dan praktek mendukung teori objektif, bahwa teori inilah yang

benar, terutama dalam hal perbanyakan badan dan organ negara.118 Ulasan pasal-

pasal ILC mnegaskan bahwa pasal-pasal tersebut tidak mengambil sikap definitif

terhadarp teori pertanggung jawaban objktif maupun subjektif, tetapi mencatat

bahwa standar-standar tentang pendekatan objektif atau pendekatan subjektif,

kesalahan atau kurangnya perhatian yang semestinya akan berbeda-beda dari satu

konteks ke konteks lainnya, tergantung syarat dan ketentuan kewajiban primer

yang dipersoalkan.

2.3.4 Jenis-jenis Tanggung Jawab Negara dalam Hukum Internasional

Secara garis besar tanggung jawab negara dapat dibagi menjadi 2 (dua),

yaitu:119
a. Tanggung jawab karena perbuatan melawan hukum (delictual liability)
Tanggung jawab seperti ini dapat lahir dari setiap kesalahan atau

kelalaian suatu negara terhadap orang asing di dalam wilayahnya atau

wilayah negara lain. Beberapa hal yang dapat menimbulkan tanggung

jawab negara dalam hal ini salah satunya dalah Eksplorasi nuklir
Negara bertanggung jawab terhadap setiap kerusakan yang

disebabkan karena kegiatan-kegiatan dalam bidang eksplorasi nuklir.

Prinsip tanggung jawab dalam kegiatan ini juga menggunakan prinsip

tanggung jawab absolut. Dalam hal ini, tidaklah penting apakah suatu

negara sebelumnya telah melakukan tindakan-tindakan pencegahan.

118 Malcolm N. Show, op.cit, h. 776.

119 Huala Adolf I, op.cit, h. 180-181.

45
Sama halnya dengan kegiatan eksploitasi ruang angkasa, yang menjadi

latar belakang digunakannya prinsip tanggung jawab absolut yaitu

karena kegiatan-kegiatan ini mengandung risiko berbahaya yang

sangat tinggi (a highly hazardous activity).


b. Tanggung jawab atas pelanggaran perjanjian (contractual liability)
Suatu negara juga dapat bertanggung jawab atas pelanggaran

perjanjian menurut hukum internasional. Tanggu g njawab seperti ini

dapat terjadi terhadap suatu negara manakala negara tersebut melanggar

suatu perjanjian atau kontrak.

Negara yang memiliki tanggung jawab karena melakukan kesalahan

menurut hukum internasional berkewajiban untuk melakukan perbaikan

(reparation) secara penuh atas kerugian material maupun moral yang diakibatkan

oleh perbuatannya. Menurut Pasal 34 Draft Articles ILC, bentuk atau jenis

perbaikan (reparation) itu mencakup restitusi (restitution), kompensasi

(compensation), dan pemenuhan (satisfication).

Artikel telah memberikan pengertian pada masing-masing jenis perbaikan

oleh negara di atas. Pasal 35 Draft Articles ILC menyatakan bahwa restitusi

adalah tindakan untuk mengembalikan keadaan seperti sebelum terjadinya

pelanggaran sepanjang hal itu secara material tidak mustahil dilakukan atau

sepanjang tidak merupakan suatu beban yang tidak proporsional. Selanjutnya

kompensasi merupakan tanggung jawab negara untuk memberikan kompensasi

atas kerugian yang disebabkan oleh perbuatannya, yang dipersalahkan menurut

hukum internasional sepanjang hal itu tidak menyangkut hal-hal yang telah

46
dilakukan secara baik melalui restitusi.120 Sementara itu, menyangkut soal

pemenuhan (satisfaction), Artikel menentukan bahwa hal itu dilakukan sepanjang

restitusi atau kompensasi tidak berlangsung baik atau tidak memuaskan.

Pemenuhan dapat berupa pengakuan telah melakukan pelanggaran, pernyataan

menyesal, atau permohonan maaf secara formal atau sarana-sarana lain yang

dipandang tepat.121

120 Lihat Pasal 36 Draft Articles ILC.

121 Pasal 37 Draft Articles ILC.

47
BAB III

PENGATURAN GERAKAN SEPARATIS SEBAGAI SUBJEK HUKUM

INTERNASIONAL MENURUT HUKUM INTERNASIONAL

3.1 Gerakan Separatis Sebagai Subjek Hukum Internasional

Telah dipaparkan sebelumnya bahwa menurut Malcolm N. Show Gerakan

Separatis atau National Liberation Movement bagian dari subjek hukum

internasional122 yang memiliki kepribadian terbatas. Kepribadian hukum sangat

penting, tanpa itu lembaga dan kelompok tidak dapat beroprasi, karena mereka

harus mampu mempertahankan dan menegakkan klaim. Kepribadian mencakup

pembahasan sejumlah konsep dalam hukum seperti status, kapasitas, kompetensi,

serta sifat dan kadar hak dan kewajiban tertantu.123

Kepribadian dalam hukum internasional memperhitungkan keterkaitan antara hak

dan kewajiban yang dimungkinkan menurut sistem internasional dan kapasitas

untuk menegakkan klaim.124 Kepribadian internasional adalah partisipasi ditambah

dengan semacam penerimaan tertentu oleh komunitas. Untuk penerimaan tertentu

122 Malcolm N. Show, op.cit, h. 193-294.

123Ibid, h. 190.

124Ibid, h. 193-194.

48
oleh komunitas akan bergantung pada berbagai faktor, termasuk tipe kepribadian

yang bersangkutan.125

3.1.1 Gerakan pembebasan nasional ( NLM )

Pengertian tentang Organisasi Pembebasan maupun bangsa masih menjadi

hal yang kontroversial. Hal ini disebabkan penilaian atau pandangan masyarakat

internasional tentang definisi dari Organisasi Pembebasan maupun bangsa lebih

banyak ditentukan oleh faktor-faktor atau pertimbangan politik. Akibatnya adalah

penilaian ini akan menjadi sangat subyektif.126

Marry Farrel, bersama Bjirn Hettne dan Luuk Van Hengenhove, dalam

Global Politics of Regionalism (2005, h. 94) mendefinisikan gerakan separatis

atau gerakan pembebasan sebagai sebuah gerakan yang terjadi di dalam sebuah

unit regional, negara, dan merupakan bentuk ekstrim dari nasionalisme. Selain itu

gerakan Separatisme adalah gerakan untuk mendapatkan kedaulatan dan

memisahkan suatu wilayah atau kelompok manusia. Gerakan ini dapat ditempuh

secara politis dan damai maupun secara kasar dan brutal (Doktrin Pertahanan

Negara, 2008: 30).

125Ibid.

126 Ibid.

49
Ian Brownlie menyebut dengan istilah Non Self Governing Peoples.127

Dengan istilah politiknya adalah National Libertaion Movement atau mereka juga

disebut juga dengan Non self governing people atau unit dalam menentukan nasib

sendiri atau secara konstitusi sebagai Belligerent atau Insurgent community.128

Gerakan Pembebasan Nasional maupun bangsa, sangat terikat erat

kemunculannya dengan kebangkitan rakyat di wilayah jajahan untuk

memperjuangkan hak-hak mereka agar dapat mendirikan negara yang merdeka,

sejajar, dan sederajat dengan negara-negara yang telah menjajah mereka. Hal ini

merupakan pengaruh dari perubahan peta politik Eropa pada abad ke-17, 18, dan

19, terutama terkait dengan revolusi Perancis. Rakyat di wilayah jajahan

mengorganisasikan dirinya untuk dapat membebaskan diri dari negara penjajah

dengan segala daya dan upaya untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan yang

mereka inginkan.129

Cara yang lazim ditempuh oleh suatu organisasi pembebasan adalah dengan

berusaha memperoleh dukungan dan pengakuan dari negara lain dengan cara

mendekati dan mengadakan hubungan-hubungan. Dalam sistem perwalian PBB

sempat mengizinkan mendengar pendapat bagi para pemohon petisi individu dan

ini menjangkau semua wilayah kolonial.

127 Ian Brownlie, op.cit, h.62 -63.

128 Ibid.

129 I Wayan Parthiana, op.cit, h. 82.

50
Pada tahun 1977, Komite Keempat Majelis Umum memutuskan untuk

mengizinkan perwakilan NLM tertentu dari wilayah Afrika Portugal untuk

berpartisipasi dalam kegiatannya mengenai wilayah tersebut.130 Majelis Umum

mendukung konsep status pengamat bagi sejumlah gerakan pembebasan yang

diakui oleh Organisasi Persatuan Afrika dalam Resolusi 2918 (XVII). Dalam

resolusi 3247 (XXIX), Majelis menerima bahwa NLM yang diakui oleh OAU

atau Liga Arab bisa berpartisipasi dalam berbagai sesi Majelis, dalam konferensi

yang diselenggarakan di bawah naungan Majelis dan dalam pertemuan badan

khusus PBB dan berbagai organ majelis.131 Namun hal ini hanya menunjukkan

bahwa NLM tersebut diakui secara politik saja.

3.1.2 Ciri-ciri Gerakan Separatis

Mengenai ciri-ciri dari Gerakan Separatis tersendiri tidak dapat ditentukan secara

pasti, karena pandangan masyarakat mengenai hal ini berbeda-beda. Selain itu

disebabkan karena pengaruh pandangan politik yang subjektif akan adanya

Gerakan separatis tersebut.

Namun beberapa doktrin memberikan batasanbatasan yang

membedakannya dengan Belligerency. Karena kedua Subjek ini memiliki

130 Malcolm N. Show, op.cit, h. 226.

131 Lihat resolusi PBB 3237 (XXIX).

51
persamaan.132 Kriteria-kriteria yang mampu diklasifikasikan sebagai Belligerency

diantaranya:133

1. Kaum Separatis telah terorganisasi secara rapi dan teratur di bawah

kepemimpinan yang jelas.


2. Kaum Separatis harus menggunakan tanda pengenal yang jelas untuk

menunjukkan identitasnya.
3. Kaum Separatis harus sudah menguasai sebagian wilayah secara efektif

sehingga jelas bahwa wilayah tersebut berada di bawah kekuasaanya.


4. Kaum Separatis harus mendapat dukungan dari rakyat wilayah yang telah

didudukinya tersebut.
5. Mimiliki hubungan erat kaitannya dengan kebangkitan rakyat suatu

wilayah jajahan untuk memperjuangkan hak-hak mereka agar dapat

mendirikan negara yang merdeka, sejajar, dan sederajat dengan negara

negara yang telah merdeka.134

Namun dalam kenyataannya tidak semudah itu memberikan ciri-ciri untuk

mampu mengatakan apakah suatu gerakan tersebut gerakan separatis atua

National Liberation Movements. Karena pada dasarnya hanya melihat tujuan dari

gerakan ini yakni ingin menjadi negara merdeka atau melapas diri dari kolonial.

Seperti halnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dan dalam dunia Internasional

terdapat Palestine Liberation Organization (PLO) dan South West Africa Peoples

Organization (SWAPO) yang mendapat pengakuan dari PBB untuk dapat

132 Mikail Hamidun Majid, Masalah Status Belligerent dalam Hukum Internasional,
FH UI, 2013, h. 13.

133 I Wayan Parthiana, op.cit, h. 85.

134 Mikail Hamidun Majid, op.cit, h. 9.

52
dikatakan sebagai Gerakan Pembebasan. Sehingga setiap negara memiliki

pandangan yang berbeda terkait ciri-ciri dari Gerakan Separatis ini.

3.1.3 Hak dan Kewajiban Gerakan Separtis

Dengan mendapatkan pengakuan, organisasi ini telah memasuki dimensi

internasional dan dalam batas tertentu menjadi pelaku hubungan internasional.

Organisasi ini telah menunjukkan kemandirian sebagai subjek hukum

internasional. Mereka mempunyai hak-hak dan memikul kewajiban internasional,

setidaknya dari negara-negara yang telah mengakuinya. Seperti halnya melakukan

kerjasama, yang telah dinyatakan sebelumnya dalam Resolusi PBB Resolusi 2918

(XVII) dan dalam resolusi 3247 (XXIX).

Jika cita-cita mereka untuk merdeka telah tercapai, maka eksistensi sebagai

Organisasi Pembebasan tidak lagi ada karena telah menjelma menjadi negara baru

dan sebagai subjek hukum internasional secara penuh.135

Namun di dalam hukum internasional tidak ada ketentuan pasti yang memberikan

apa-apa saja hak yang didapat oleh gerakan separatis. Serta kewajiban yang

dimilikinya pun tidak menjadi jelas. Padahal gerakan separatis ini menurut para

ahli dan PBB telah mengakui keberadaan mereka sebagai subjek hukum

internasional.

Sehingga hal ini menjadi norma kosong dalam hukum internasional.

Padahal banyak peristiwa hukum yang melibatkan gerakan separatis. Hal ini akan

135 I Wayan Parthiana, op.cit, h. 125.

53
menjadi sulit untuk memintakan pertanggungjawaban. Karena hak dan kewajiban

mereka sebagai subjek hukum interasional yang belum jelas.

3.2 Pengakuan Kaum Separatis

Pengakuan terbatas yang diberikan kepada gerakan-gerakan pembebasan

nasional, merupakan salah satu perkembangan baru dalam hukum internasinal.

Dengan pengakuan ini, maka gerakan-gerakan pembebasan nasional

dimungkinkan untuk ikut dalam PBB atau organisasi-organisasi internasional

tertentu.

Namun demikian, pengakuan semacam itu sifatnya belum universal dan

masih mendapat penolakan tertentu oleh negara-negara barat, seperti Amerika

Serikat dan Inggris. Mereka berpendapat bahwa Piagam PBB tidak berisi

ketentuan mengenai peninjauan dan karena gerakan-gerakan pembebasan

hanyalah suatu kelompok yang bukan negara.136

Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) diberikan hal untuk berpatisipasi

dalam berbagai debat oleh majelis umum,137 kemungkinan status pengamat dalam

PBB dan organ terkait bagi NLM tampaknya telah kuat menetap dalam pratik

internasional.

Persoalan kepribadian internasional lebih kompleks dan acuan harus

dibuat kepada praktik negara, apakah pengakuan yang merata atas gerakan

136 Boer Mauna, op.cit, h.81.

137Lihat Yearbook of the UN, 1972, h. 70 dan 1978, h. 297.

54
pembebasan itu sendiri cukup untuk memberikan status demikian masih menjadi

isu kontroversial.138

Dengan perkembangan hukum internasional yang berhubungan dengan

prinsip penentuan nasib sendiri, gerakan pembebasan nasional telah memperoleh

status sebagai subjek hukum internasional. Sebagian besar dari masyarakat yang

diwakili oleh gerakan pembebasan nasional atau National Liberation Movement

(NLM) kini telah memperoleh kenegaraan untuk wilayah mereka.Proses

perolehan kemerdekaan ini pada awalnya dibantu dengan adanya penegakan status

sebagai pengamat tetap (permenent observer) di PBB.139

Sejak tahun 1972, perwakilan dari beberapa gerakan pembebasan telah

berpartisipasi sebagai pengamat dalam perdebatan Fourth Committee (the

Committee for colonial question) dari Majelis Umum PBB. Pada tahun 1974,

Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) diundang untuk memberikan pidatonya

di Majelis Umum PBB. Sejak itu, perwakilan dari gerakan pembebasan nasional

telah menjadi kelompok yang diterima sebagai pengamat.140

Majelis Umum PBB pada tanggal 22 November 1974 telah mengeluarkan

Resolusi nomor 3237 yang isinya memberikan status kepada Palestine Liberation

138Malcolm N. Show, loc.cit.

139 Anthony Aust, 2010, Handbook of International Law, Cambridge University Press,
New York, h. 13.

140 Henry G. Schermers dan Niels M. Blockker, 2011, International Insitutional Law :
Unity Within Diversit, Koninklijke Brill NV, h. 137.

55
Organization (PLO) sebagai peninjau tetap pada PBB.141 Selain kepada PLO, pada

tahun 1873 Majelis Umum PBB juga telah memberikan status yang sama kepada

South West Africa Peoples Organization (SWAPO) melalui Resolusi nomor 311

dan menyebutnya sebagai the sole and autenthic representative of the Namibian

People yang artinya satu-satunya pihak yang secara otentik mewakili rakyat

Namibia.142

Salah satu contoh PLO mengeluarkan Deklarasi Isreal-PLO tentang

pengaturan prinsip pemerintahan-sendiri interim yang ditandatangani di

washington pada 13 september 1993. Berdasarkan deklarasi ini , PLO dalam

delegasi Yordania-Palestina untuk konfrensi perdamaian timur tengah diterima

sebagai mewakili rakyat palestina. Disepakati untuk membentuk otoritas

pemerintahan-sendiri interim Palestina sebagai dewan terpilih untuk rakyat

Palestina di tepi barat dan gaza. Setelah deklarasi ini , transfer kewenangan akan

dimulai dari pemerintah militer Israel dan administrasi sipilnya. Dan berikutnya

beberapa perjanjian yang melibatkan PLO dikeluarkan seperti Perjanjian Kairo

1994, dimana PLO dikehendaki untuk memegang beberapa kekuasaan trias

politika. Kemudian kesepakatan Hebron 1997 dan perjanjian Wey River 1998.

Sementara itu otoritas Palestina belum diakui oleh masyarakat internasional dan

dianggap kepribadian tersebut kepribadian internasional terbatas.143

141 Boer Mauna, op.cit,h.81.

142 Henry G. Schermers dan Neils M. Blokker, op.cit, h.138.

143Ibid, h. 227.

56
Namun kepribadian tersebut berasal dari perjanjian-perjanjian antara Israel

dan PLO dan berada terpisah dari kepribadian PLO sebagai NLM, yang

bergantung kepada pengakuan para pihak ketiga.144

Selain itu pula terdapat NLM di Namibia yang telah diakui memiliki status

internasional.145 Namun secara teoritis NLM tersebut dikelola oleh PBB untuk

Namibia dan mempersiapkan kemerdekaannya. Dewan berusaha mewakili

kepentingan Namibia dalam berbagai organisasi internasional dan konferensi

internasional, dan mengeluarkan dokumen perjalanan dan identitas untuk warga

Namibia yang diakui oleh kebanyakan negara. 146 NLM tersebut jelas memiliki

peran dalam konteks PBB dan dengan demikian bisa jadi telah memiliki semacam

kepribadian yang memenuhi syarat.147 Dari kasus-kasus yang pernah ada bahwa

keberadaan NLM tersebut diakui apabila suatu negara mengakui keberadaan

mereka dan organisasi tersebut memang berpartisipasi aktif dengan negara yang

bersangkutan, sehingga pengakuan lah yang memiiliki arti penting dalam

keberadaan NLM tersebut.

3.3 Tinjauan Yuridis Gerakan Separatis Pro-Russia sebagai National

Liberation Movement.

144Ibid.

145 Lihat kasus Namibia, ICJ Reports, 1971, h. 16.

146Ibid.

147 Ibid.

57
Keberadaan Gerakan Separatis Pro-Russia diawali dengan adanya

pembatalan perjanjian kerjasama Ukraina dengan Uni Eropa yang dilakukan oleh

Presiden terpilih saat itu, Viktor Yanukovych, yang lebih memilih untuk

menandatangani perjanjian ekonomi dengan Russia (RBTH Indonesia, 2014).

Seperti yang dimuat oleh RBTH Indonesia (2014), penolakan atas bantuan

dana yang akan diberikan oleh Uni Eropa terjadi karena adanya syarat yang tidak

bisa dipenuhi, yaitu untuk segera memutuskan hubungan ekonomi dengan Russia.

Keadaan tersebut tentu saja memicu amarah warga, karena dana tersebut sangatlah

dibutuhkan oleh warga.

Kemarahan warga ini semakin memuncak dengan mengilangnya Presiden

Viktor yang diduga meminta perlindungan kepada pihak Russia. Pada akhirnya

warga melakukan aksi protes, yang dilakukan di ibukota Ukraina, Kiev.148

Menanggapi kejadian tersebut, pada 16 Januari 2014 Parlemen Ukraina

Verkhovnaya Rada yang menangani bidang hukum mengeluarkan sanksi bagi para

pelaku kerusuhan di Kiev (RBTH Indonesia, 2014). Keputusan ini tentu saja tidak

diterima oleh masyarakat, yang menganggap aksi mereka tersebut merupakan hak

mereka sebagai warga masyarakat dalam menyampaikan pendapatnya.

Keputusan tersebut juga pada akhirnya semakin memperkuat aksi

antipemerintah yang berujung pada keinginan untuk menggulingkan

148 Safitri Kusumangnityas, 2014, Studi Kasus Konflik Kontemporer : Ukarina, URL :
http://safitrikusumaningtyas23-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-113007-ResKon tudi
%20Kasus%20Konflik%20Kontemporer:%20Ukraina.html. Diakses pada tanggal 4
maret 2016.

58
pemerintahan, yang mengakibatkan 80 orang meninggal dan 700 orang luka-luka.

Banyaknya korban dalam peristiwa tersebut tidak begitu saja menghilangkan

semangat masyarakat. Hal ini terbukti dengan terjadinya revolusi di ibukota Kiev

pada Februari 2014 yang berhasil menggulingkan pemerintahan Presiden Viktor

Yanukovych yang pro-Russia (VivaNews, 2014).

Kejadian tersebut rupanya menimbulkan kemarahan dipihak Russia.

Pasukan pro-Russia mulai bergerak disemenanjung Krimea, dan mengeluarkan

referendum warga yang memutuskan bahwa wilayah otonomi Krimea dan

Sevastopol pisah dari Ukraina dan segera bergabung dengan Russia.149

Keadaan ini sebenarnya telah terjadi sejak dahulu, dimana berawal pada

tahun 1991 Ukraina melepaskan diri dari Uni Soviet setelah terjadi kudeta di

Moskow yang pada akhirnya menghasilkan referendum yg menyatakan 90% suara

memilih untuk melepaskan diri dari Uni Soviet. Sengketa wilayah yang dipicu

oleh isu-isu politik domestik kemudian meluas kepada pemberontakan dan

gerakan separatisme yang berujung kepada pemberian sanksi berupa embargo

kepada negara yang dianggap memiliki andil dalam meningkatkan tensi konflik

seperti Russia.

Ukraina sendiri, sebelum menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1991,

merupakan bagian dari wilayah kedaulatan Russia atau Uni Soviet. Bertahun-

tahun pasca pemisahan wilayah, Russia masih meyakini bahwa Ukraina

149 Anon, 2014, Prahara Ukraina, URL : http://sorot.news.viva.co.id/news/read/499699-


prahara-ukraina , diakses pada tanggal 4 Juli 2015

59
merupakan bagian dari Russia, dimana mereka memiliki persamaan baik dari

etnis, bahasa, dan juga sejarah. The country has been under partial or total

Russian rule for most of those intervening centuries, which is a big part of why

one in six Ukrainians is actually an ethnic Russian, one in three speaks Russian

as their native language (the other two-thirds speak Ukrainian natively), and

much of the country's media is in Russian (Fisher, 2014

dalam http://www.vox.com).

Konflik Ukraina sebenarnya mencuat sejak tahun 2004 saat Revolusi

Orange, setelah kandidat presiden Viktor Yanukovich terpilih. Kandidat oposisi

Viktor Yuschenko memimpin protes massal yang pada akhirnya mahkamah agung

memutuskan untuk melakukan pemilihan umum ulang, Dalam pemilihan ulang itu

Yushchenko menang. Kemudian pada bulan Februari 2010 Viktor Yanukovych

kembali dinyatakan menang dalam pemilihan umum yang dinilai bersih dan adil

oleh para observer. Langkah pertama yang diambil Yanukovych sebagai presiden

adalah mempenjarakan Lawannya, perdana menteri Yulia Tymoschenko atas

tuduhan abuse of power. Pada bulan November 2013 konflik memanas saat

kabinet presiden Yanukovych menolak persetujuan perdagangan dengan Uni

Eropa dan malah memperkuat kerjasama dengan Russia. mengakibatkan dua per

tiga masyarakat Ukraina yang anti-Russia turun ke jalan untuk melakukan

demonstrasi. This all began as an internal Ukrainian crisis in November 2013,

when President Viktor Yanukovych rejected a deal for greater integration with the

European Union (here's why this was such a big deal), sparking mass protests,

which Yanukovych attempted to put down violently (Fisher

60
2014, http://www.vox.com). Parlemen Ukraina juga menolak resolusi agar

Tymochenko diperbolehkan untuk meninggalkan Ukraina. Protes mulai terjadi

dan banyak orang menyamakan protes ini dengan Revolusi Orange. 100 ribu

orang ikut berpartisipasi dalam protes tersebut, pada bulan Desember jumlah

meningkat menjadi 800 ribu orang yang bertempat di balai kota dan independence

square. Pada tanggal 17 desember 2013 Vladimir Putin menyetujui perjanjian

sebesar 15 billion dolar untuk mengurangi hutang Ukraina dan menurunkan harga

suplai gas Russia di Ukraina (anon, 2014 dalam www.bbc.com).

Pada bulan Januari 2014 parlemen Ukraina menyetujui hukum anti

protes yang artinya semua orang yang berpartisipasi dalam demonstrasi melawan

pemerintah adalah melanggar hukum. Hukum ini menyebabkan tertembaknya

high-profile activist Yuriy Verbytsky yang membuat konflik semakin memanas

dan massa mulai mengepung kantor-kantor pemerintahan. Pada akhirnya perdana

menteri Mykola Azarov mengundurkan diri dan parlemen menghapuskan hukum

anti protes. Parlemen berjanji untuk menghapus tuntutan terhadap orang-orang

yang ditahan dengan syarat protester meninggalkan gedung-gedung pemerintahan

dan oposisi pun menolak.

Pada bulan April 2014 aktivis-aktivis pro-Russia mengepung gedung

pemerintahan di Donetsk dan Luhansk. Politisi-politisi dan media Russia

menganggap pemimpin-pemimpin di Kiev sebagai nasionalis Ukraina yang

melanggar hak-hak para masyarakat asli yang tinggal di Ukraina. Pada bulan

Maret akhirnya Russia menganeksasi Krimea yang memberikan harapan para

61
oposisi untuk melepaskan diri dari Kiev. Hal ini dikarenakan oposisi pro-Russia

menolak adanya pemerintah pro-Barat setelah Presiden Yanukovytch diturunkan

pada bulan Februari disebabkan oleh tuduhan korupsi, ekonomi yang stagnan dan

penolakan kerjasama dengan Uni Eropa.

Pada tanggal 16 maret 2014 referendum untuk Krimea melepaskan diri

dari Ukraina diadakan. Krimea merupakan salah satu daerah di Russia yg

penduduknya terdiri dari 58,5% orang Russia. Pada tanggal 17 Juli 2014 para

oposisi menembak Malaysian Airlines flight MH17 dengan korban 298 orang.

Hal ini merupakan titik terendah hubungan Russia dengan Barat sejak perang

dingin. Sanksi pun mulai diterapkan yang menyebabkan ekonomi Russia

melemah.

Gerakan separatis berbau Russia ini tidak hanya terjadi di Krimea, tetapi

terus mengalami perkembangan dan menyebar ke wilayah timur Ukraina pada

pekan kedua April. Hal tersebut menggambarkan keadaan Ukraina saat ini terbagi

menjadi dua kubu berbeda, yaitu kubu yang pro terhadap Uni Eropa dan juga

wilayah timur Ukraina yang sebagian besar pro terhadap Russia.

Gerakan separatis itu menuntut untuk memisahkan diri dari Ukraina dan

meminta untuk bergabung dengan federasi Russia. Hal ini terbukti dengan

diproklamirkannya kemerdekaan Donetsk, salah satu wilayah di timur Ukraina,

oleh massa pro-Russia. Seperti dilansir oleh VivaNews (2014), seorang pemimpin

separatis dari Donetsk menyatakan bahwa berdasarkan hasil referendum dan

deklarasi kedaulatan Republik Rakyat Donestk, kami menyatakan bahwa

62
Republik Rakyat Donetsk adalah negara berdaulat. Gerakan Separatis Pro-Russia

meminta Federasi Russia untuk mempertimbangkan permintaannya untuk menjadi

bagian dari Federasi Russia.

Jika merujuk dari ciri-ciri Gerakan Separatis tersebut, ada beberapa point

yang terpenuhi dan sesuai. Untuk point pertama Gerakan Separatis Pro-Russia

tersendiri telah terorganisasi. Hal ini dibuktikan dengan adanya pemimpin dalam

gerakan ini. Dimana gerakan ini dipimpin oleh Igor Plotnitsky. Pada tahun 2014

khususnya kerusuhan Pro-Rusia di Ukraina (kawasan Donbass), dia telah

membentuk sebuah gerakan yang disebut Luhanks Peoples Republic (LPR).150

Terkait dengan point yang kedua mengenai Gerakan Separatis harus

menggunakan tanda pengenal yang jelas untuk menunjukkan identitasnya. Untuk

kasus ini Gerakan Separatis Pro-Russia memiliki identitas dengan menggunakan

seragam selayaknya seorang pasukan keamanan dan pertahanan. Dengan ciri-ciri

pada bagian kepala kerapkali pasukan ini menggenakan penutup berwarna hitam,

dan menggunakan pakaian tentara lengkap dan terdapat tanda khusus pada bagian

baju dimana tanda tersebut berbetuk garis berwarna orange dan hitam. Gerakan

Sparatis ini menggunakan senjata secara terbuka.

Kaum Gerakan Separatis harus sudah menguasai sebagian wilayah secara

efektif sehingga jelas bahwa wilayah tersebut berada di bawah kekuasaanya

sebagai point ke-3. Pasukan pro-Russia telah menguasai dan mempengaruhi

150 VOA, 2016, Pimpinan Separatis di Ukraina Timur Lolos dari Upaya Pembunuhan,
URL:http://www.voaindonesia.com/a/pimpinan-separatis-ukraina-timur-lolos-dari-
pembunuhan-/3454249.html, diakses pada tanggal 18 Agustus 2016.

63
semenanjung Krimea, dan mengeluarkan referendum sehingga warga

memutuskan bahwa wilayah otonomi Krimea dan Sevastopol pisah dari Ukraina

dan segera bergabung dengan Russia.151

Berdasarkan informasi yang ada jumlah Separatis Pro-Rusia di timur

Ukraina dilaporkan sekitar 20.000 orang. Dimana kawasan Krimea dengan

populasi 2juta yakni sekitar 60 persennya merupakan pro-Rusia.152

Pada point ke-4, kaum separatis harus mendapat dukungan dari rakyat

wilayah yang telah didudukinya tersebut. Jika merujuk dari kasus ini, beberapa

rakyat memberikan dukungan pada gerakan ini. Hal ini dapat dibuktikan bahwa

pada tanggal 16 maret 2014 masyarakat wilayah Krimea bersama Gerakan

Separatis Pro-Rusia melakukan referendum untuk Krimea melepaskan diri dari

Ukraina diadakan.

Tidak hanya itu beberapa kawasan Ukraina bagian timur seperti seorang

pemimpin separatis dari Donetsk menyatakan bahwa berdasarkan hasil

referendum dan deklarasi kedaulatan Republik Rakyat Donestk, kami menyatakan

bahwa Republik Rakyat Donetsk adalah negara berdaulat. Gerakan Separatis Pro-

Russia meminta Federasi Russia untuk mempertimbangkan permintaannya untuk

menjadi bagian dari Federasi Russia.

151 Anon, 2014, Prahara Ukraina, URL : http://sorot.news.viva.co.id/news/read/499699-


prahara-ukraina , diakses pada tanggal 4 Juli 2015

152 As/vlz, 2015, Fakta Mengapa Separatis Pro-Rusia Kuat, URL :


http://m.dw.com/id/fakta-mengapa-separatis-pro-rusia-kuat/g-18249732, diakses pada
tanggal 18 Agustus 2016.

64
Sesuai dengan apa yang telah dipaparkan diatas bahwa Gerakan Separatis Pro

Rusia ini berdiri atas dasar kekecewaan. Pemerintah Ukraina telah memutus

hubungan Ekonomi dengan Rusia dan memilih untuk melakukan kerja sama

dengan Uni Eropa. Disisi lain juga para demonstran yang terdapat di Crimea ini

ingin melepaskan diri dari Ukraina, dan menjadi negara merdeka dan Rusia

menginginkan Crimea bergabung dengan Rusia.

Gerakan Separatis Pro Rusia telah menunjukkan dukungannya untuk

bergabung dengan Federasi Rusia dan telah melakukan Referendum sepihak untuk

memisahkan diri dari Ukarina. Hal ini telah terjadi di beberapa kawasan seperti

Crimea, Donetsk, Luhansk dan Kharkiv.

Jika merujuk kepada point ke-5 dari ciri-ciri Gerakan separatis atau

gerakan pembebasan, diamana harus memiliki hubungan erat kaitannya dengan

kebangkitan rakyat suatu wilayah jajahan untuk memperjuangkan hak-hak mereka

agar dapat mendirikan negara yang merdeka, sejajar, dan sederajat dengan negara

negara yang telah merdeka. Hal ini terpenuhi dimana Gerakan Separatis Pro-Rusia

ini ingin membebaskan diri dan bergabung dengan Federasi Rusia.

Jadi berdasarkan fakta fakta yang ada dan di kolerasikan dengan teori

mengenai gerakan separatis tersebut bahwa Gerakan Separatis Pro-Rusia dapat

dikatakan sebagai subjek Hukum Internasional yakni National Liberation

Movements (NLM).

Namun seperti dinyatakan oleh Malcolm N. Show bahwa selama dia

masih belum mendapatkan pengakuan secara resmi untuk memisahkan diri

65
(Referendum) dari negara induknya maka tetap saja dia menjadi warga negara

Ukraina, dan menjadi tanggung jawab Ukraina untuk menyelesaikan persoalan

ini.

66
BAB IV

TANGGUNG JAWAB GERAKAN SEPARATIS TERHADAP

PENEMBAKAN PESAWAT UDARA SIPIL YANG TERJADI DIKAWASAN

TERLARANG

4.1 Penembakan Pesawat Udara Sipil oleh Gerakan Separatis Pro-Rusia

Pada tanggal 17 juli 2014, pukul 18.00 Pesawat dengan nomor

penerbangan MH 17, jenis boeing 777 berangkat menuju ke Kuala Lumpur dari

bandara Schiphol Amsterda, Belanda.153 Dangan membawa 283 penumpang dan

15 awak pesawat.154 Pesawat udara sipil milik Malaysia Airlines berjenis Boeing

777 tersebut jatuh di Ukraina bagian timur, dekat perbatasan rusia, yakni di Desa

Grabovo, di wilayah Donetsk.155

Pesawat yang terbang dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur itu menjadi

sasaran tembak gerakan separatis pro-Rusia.156 Hal ini dibuktikan bahwa pimpinan

milter separatis Rusia, telah mengirimkan pesan di sosial media VKontakte

153 Nationalgeographic, 2014, Ingin Tahu Kronologi Inseden MH17?, URL :


http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/07/ingin-tahu-kronologi-insiden-mh17,
diakses pada tanggal 23 Maret 2016.

154 Ibid.

155 Ibid.

156 Bambang Widarto I, op.ci, h. 34.

67
sebelum MH17 jatuh bahwa pemberontak telah menembak jatuh pesawat

Antonov An-26 (pesawat dengan dua baling-baling di bagian sayap), yang biasa

digunakan angkatan udara Ukraina, di wilayah dekat Torez.157

Dari kejadian tersebut menurut laporan otoritas Ukraina, korban yang

ditemukan berjumlah 298 orang (penumpang dan kru)158 di Shaktarsky. Hasil

investigasi tim penyidik belanda menyatakan bahwa kerusakan pada bagian depan

pesawat, disimpulkan pesawat MH 17 terkena sesuatu dari luar, akibatnya pesawat

Boeing itu pecah di udara.159

Pesawat MH 17 milik Malaysia Airlines tersebut jatuh diakibatkan terkena

peluru kendali darat ke udara tipe BUK. Dibuktikan dengan banyaknya lubang

pada moncong pesawat.

Rudal ini merupakan senjata pengembangan militer Uni Soviet pada tahun

1980an yang dimana senjata tersebut banyak digunakan pasukan militer Rusia dan

kelompok gerakan separtis pro- Rusia.

Selain itu pula berdasarkan satelit mata-mata Amerika Serikat

menunjuukan adanya peluncuran rudal di kawasan kecelakaan. Besarta bukti foto

157 Nationalgeographic, loc.cit.

158 Bambang Widarto I, loc.cit.

159 Kesten Knipp, 2015, Inilah Fakta Inseden Penembakan MH 17, URL :
http://m.dw.com/id/inilah-fakta-insiden-penembakan-mh-17/a-18591278, diakses pada
tanggal 6 Pebruari 2016.

68
dan video yang menunjukkan indikasi bahwa pesawat MH 17 ditembak sebuah

rudal darat ke udara buatan Rusia.160

Pada rekaman percakapan suara, bahwa kelompok separatis salah mengira

pesawat sipil itu sebagai pesawat militer ukraina, sehingga banyak indikasi dan

bukti menunjukkan bahwa tembakan rudal tersebut berasal dari gerakan separatis

pro-Rusia.161

Namun sesungguhnya Pemerintah Ukraina pada tanggal 1 Juli 2014 sudah

melakukan pemblokiran sebagian wilayah udaranya,162 disebabkan karena

kawasan udara ukraina timur sedang terjadi sengketa baku tambak dan

pertempuran Gerakan sparatis pro-Rusia melawan militer pro-Kiev. Sehingga

kawasan ini tergolong kawasan larangan atau Prohibited Area dan penembakan

terjadi di kawasan terlarang.

4.2Penembakan Pesawat Udara Sipil Menurut Konvensi Chicago 1944 dan

Konvensi Montreal 1971

Dalam hukum udara internsional terdapat dua pengaturan mengenai

perlindungan tindak kekerasan terhadap pesawat udara sipil. Dalam hal ICAO

telah menghasilkan konvensi yang mengatur tentang pemberantasan tindakan

melawan hukum yang mengancam keselamantan penerbangan sipil. Yang diatur


160 Ibid.

161 Ibid.

162Anon, 2014, World Crisis, URL : http://en.itar-tass.com/world/747989 , diakses


pada tanggal 4 Maret 2016.

69
dalam Pasal 3 dan pasal ini mengalami perubahan yang sekarang menjadi Pasal 3

bis.163 Dalam Pasal itu dinyatakan :164

(a) The contracting States recognized that every State must refrain from

resorting to the use of weapons against civi aircraft in flight and that, in case of

interception, the lives of persons on board and the safety to aircraft must not be

endangdered. This provision shall not be interpreted as modifying in any way the

rights and obligations of States set forth in the Charter of the United Nations.

(b) The contacting States recognize that the every States, in the exercise of

its sovereignty, is entitled to require the landing at some designated airport of a

civil aircraft fliying above its territory without authority or if there are reasonable

grounds to conclude that it is being used for any purpose inconsistent with the

aims of this convention ; it may also give such aircraft any other instructions to

put an end to such violations. For this purpose, the contracting States may resort

to any appropriate means consistent with relevant rules of international law,

including the relevant provisions of this Conventions, specially paragraph (a) of

this Article. Each contracting States agrees to publish its regulations in force

regarding the interception of civil aircraft.

(c) Every civil aircraft shall comply with an order given in conformity with

paragraph (b) of this Article. To this end each contracting States shall esthablish

all necessary provisions in its national laws or regulations to make such

163 Saefullah Wiradipta dan Mieke Komar, loc.cit.

164 Pasal 3 bis, Protokol Tambahan Konvensi Chicago 1984.

70
complaince mondatory for any civil aircraft registered in that State or operated

by an operator who has his principal place of business or permanent residence in

that State. Each contracting State shall make any violation of such applicable

laws or regulations punisble by severe penalties and shall submit the case to its

competent authorithies in accordance with its laws or regulations.

(d) Each contracting States take appropriate measures to prohibit the

deliberate use of any civil aircraft registered in that State or operated by an

operator who has his principal place of business or permanent residence in that

State for any purpose in consistent with the aims of this conventions. This

provision shall not effect paragraph (a) or derogate from paragraph (b) and (c) of

this Article.

Pada intinya, jika dilihat dari ketentuan tersebut bahwa negara mempunyai

kewajiban hukum untuk tidak menggunakan senjata terhadap pesawat udara sipil

dalam penerbangannya dan negara berkewajiban untuk tidak membahayakan jiwa

manusia yang berada di dalam pesawat.165 Selian itu negara berhak

memerintahkan pesawat udara sipil yang melakukan pelanggaran wilayah udara

mendarat di pelabuhan udara negara itu yang ditentukan.166

Tindakan pendaratan terserbut tentunya tetap harus memperhatikan

keselamatan penumpang. Dan Negara berhak melakukan pemaksaan pendaratan

kedapa pesawat udara sipil yang telah melintasi teritorial negara lain tanpa izin.

165 Pasal 3 bis (a), Protokol Tambahan Konvensi Chicago 1984.

166 Pasal 3 bis (b), Protokol Tambahan Konvensi Chicago 1984.

71
Dan pada tahun 1971 ICAO menghasilkan konvensi yang mengatur

pemberantasan tindakan melawan hukum yang mengancam keselamantan

penerbangan sipil. Kovensi tersebut bernama Convention for the Suppression of

Unlawful Acts Against Safety of Civil Aviation atau disingkat Konvensi Montreal

1971.167

Konvensi ini mengatur tentang ruang lingkup tindak pidana, jurisdiksi, dan

wewenang kapten pilot. Dalam Pasal 1 ayat (1) konvensi ini, menegaskan bahwa

setiap orang melakukan pelanggaran jika ia melawan hukum dan berniat :

(a) Performs an act of violence against a person on board an aircraft in

flight if that act is likely to endanger the safety of that aircraft ; or

(b) Destroy an aircraft in service or causes damage to such an aircraft

which renders it incapable of flight or which is likely to endanger its

safety in flight ; or

(c) Places or causes to be placedon an aircraft in service, by any means

whatsoever, a device or substance which is likely to destroy that aircraft,

or to cause damages to it which renders it incapable of flight, or to

cause damage to it which is likely to endanger its safety in flight ; or

(d) Destroy or damages air navigation facilities or interferes with their

operation, if any such act is likely to endanger the safety of aircraft in

flight ; or

(e) Communicates information which he knows to be fales, thereby

endangering the safety of an aircraft in flight.

167 Bambang Widarto II, op.cit, h.146.

72
4.3 Pengaturan terhadap Kawasan Terlarang Menurut Konvensi Chicago

1944

Pada bagian wilayah udara tertentu tersebutlah yang dinamakan Zona

udara terlarang atau Zona larangan terbang, dimana dinyatakan secara tegas

bahwa kawasan tersebut terlarang bagi penerbangan asing.

Kesadaran untuk menetapkan bahwa sesuatu negara kolong mempunyai

kedaulatan yang penuh terhadap ruang udara di atasnya, adalah sebagai akibat

pesatnya kemajuan perkembangan teknologi transportasi udara. Kesadaran

negara-negara telah mendahului suatu kaidah hukum internasional yang baru

belakangan muncul yakni pada Konvensi Paris 1919.

Zona larangan terbang yang diciptakan oleh negara-negara maju untuk

melindungi kawasan ruang udara dari penerbangan asing, mempunyai batas-batas

yang ditetapkan secara sepihak oleh negara pencipta tersebut. Menurut prinsip

Hukum Udara Internasional, luas dan lokasi zona harus didasarkan pada prinsip

yang wajar, sehingga tidak menimbulkan konflik yang sesungguhnya pada

navigasi udara.

Zona larangan terbang diatur dalam Konvensi Paris 1919 yang kemudian

diperbaiki dengan Protokol Paris 1929. Pada pasal 3 Protokol Paris 1929 diatur

mengenai bentuk zona larangan terbang, yaitu terdiri dari dua bentuk :

73
1) Zona larangan terbang yang ditetapkan atas dasar alasan pertahanan dan

keamanan atau militer. Zona dengan bentuk semacam ini bersifat permanen,

kecuali jika ada perubahan mengenai kepentingan militer atau pertahanan dan

keamanan dari negara yang bersangkutan.

2) Zona larangan terbang yang dinyatakan untuk seluruh atau sebagian udara

nasional negara kolong tertutup sama sekali bagi pesawat asing, karena keadaan

darurat. Zona dengan bentuk penutupan wilayah udara hanya akan dilakukan

sampai situasi dan kondisi pulih kembali.

Dari kedua bentuk zona larangan terbang yang diatur di dalam Pasal 3

Konvensi Paris 1919 tersebut, pembentukan zona larangan terbang harus

memenuhi persyaratan secara internasional. Persyaratan untuk zona larangan

terbang bentuk 1) adalah bahwa larangan terhadap pesawat sipil asing juga

berlaku bagi pesawat negara awak. Pada syarat ini, prinsip atau asas tanpa

perbedaan harus dipegang teguh karena zona yang ditetakan bersifat permanen

dan bertujuan untuk melindungi pertahanan dan keamanan negara yang

bersangkutan. Persyaratan lain dari zona bentuk pertama ini adalah bahwa

pengumuman mengenai penetapan zona harus dilakukan lebih dahulu untuk

diketahui oleh negara-negara yang berkepentingan. Hal ini juga termasuk

ketetapan mengenai luas dan letak zona larangan tersebut.

Persyaratan untuk zona larangan terbang bentuk 2) yang menetapkan

penutupan seluruh atau sebagian wilayah negara kolong, disyaratkan bahwa

penutupan harus berlaku dengan setara dan benar-benar bersifat sementara dan

74
berlaku untuk semua pesawat asing dengan prinsip tidak ada perbedaan.

Penetapan syarat pada zona bentuk kedua ini juga diwajibkan untuk

memberitahukan kepada semua negara peserta atau anggota Konvensi atau

Komisi Internasional untuk Navigasi Udara.

Ketentuan mengenai kedua persyaratan itu yang mewajibkan seluruh

pesawat sipil asing maupun pesawat sipil nasional negara awak dilarang melintasi

zona larangan terbang yang telah ditetapkan, dirubah menjadi ketentuan bahwa

pesawat sipil nasional negara kolong diizinkan terbang di zona larangan tersebut.

Hal ini diatur dalam Protokol Paris 1929 sebagai perbaikan dari Konvensi Paris

1919. Pada pasal 4 Konvensi Paris 1919 ini mewajibkan agar setiap pesawat yang

menyadari telah melanggar zona larangan terbang yang telah ditetapkan, harus

segera memberitahukan kepada pangkalan udara negara kolong bahwa ia berada

dalam kesulitan dan terpaksa harus mendarat di lapangan terdekat di luar zona

larangan tersebut.

Seiring dengan kemajuan teknologi penerbangan dan semakin banyaknya

negara-negara maju yang menyatakan kawasan ruang udaranya sebagai zona

udara terlarang, maka peraturan yang ditetapkan melalui Konvensi Paris 1919 dan

Protokol Paris 1929 tidaklah dapat menampung semua kondisi di atas. Maka

Konvensi Paris 1919 dan Protokol Paris 1929 yang mempunyai kekuatan hukum

sebagai kaidah Hukum Internasional digantikan oleh Konvensi Chicago 1944,

yaitu Konvensi mengenai Penerbangan sipil internasional. Kenyataan ini ditandai

sebagai akibat dari perubahan dan perkembangan teknologi penerbangan

internasional sekitar Perang Dunia Kedua baik penerbangan sipil maupun

75
penerbangan militer. Meskipun beberapa prinsip telah tetap berlaku tetapi banyak

terdapat perubahan dan penciptaan kaidah hukum udara, yang baru sesuai dengan

tuntutan dunia penerbangan internasional di akhir Perang Dunia Kedua.

Pasal 9 Konvensi Chicago 1944 yang mnegatur tentang area terlarang,

merupakan modifikasi dari Protokol Paris 1929. Prinsip tidak ada perbedaan pada

Konvensi Chicago 1944 diteguhkan kembali dan ada keistimewaan bagi pesawat

terbang sipil negara awak yang diterima pada Protokol Paris 1929 kini ditegakkan

kembali. Jadi, Konvensi Chicago kembali mutlak menetapkan bahwa tidak ada

perbedaan lagi pesawat mana yang boleh memasuki kawasan zona larangan

terbang.

Pada perkembangan selanjutnya mengenai penetapan zona larangan

terbang yang diatur dalam Konvensi Chicago adalah bahwa justru negara awaklah

yang memerintahkan kepada pesawat yang melanggar zona untuk mendarat dan

diperiksa. Hal ini berbeda dari ketentuan yang diatur dalam Konvensi Paris 1919

di mana ditentukan bahwa pesawat yang melanggar zona larangan diwajibkan

untuk segera mendarat di lapangan udara terdekat di luar zona, setelah pelaku

pelanggaran zona melapor kepada pejabat penerbangan negara kolong. Ketentuan

yang menetapkan bahwa negara awak yang memerintahkan pelaku pelanggaran

zona larangan untuk mendarat dan diperiksa, sangat memungkinkan mengingat

kondisi semacam ini sebagai akibat dari perkembangan teknologi penerbangan,

termasuk peralatan pendeteksi yang dimiliki negara yang menetapkan zona

laragan terbang tersebut.

76
Namun pada penerapannya tidak semudah dengan apa yang tercantum

dalam konvensi chicago ini. Hal ini dibuktikan, bahwa kerap kali suatu negara

telah menyatakan kawasannya dalam kondisi terlarang namun tetap saja ada

pesawat udara sipil yang melintasinya. (cari beberapa kasus )

4.4 Tinjauan Yuridis Terhadap Kesalahan Gerakan Separatis Mengenai

Penembakan Pesawat Udara Sipil Malaysia di KawasanTerlarang

Telah dijelaskan sebelumnya Pada tanggal 17 juli 2014, pukul 18.00

Pesawat dengan nomor penerbangan MH 17 telah ditembak oleh Gerakan

Separatis Pro-Rusia.168 Insiden ini menewaskan 283 penumpang dan 15 awak

pesawat.169

Bukti kuat menunjukkan bahwa penembakan ini dilakukan oleh gerakan

separatis pro-Rusia. Dengan bukti bahwa pimpinan milter separatis Rusia, telah

mengirimkan pesan di sosial media VKontakte sebelum MH17 jatuh bahwa

pemberontak telah menembak jatuh pesawat Antonov An-26 (pesawat dengan

dua baling-baling di bagian sayap), yang biasa digunakan angkatan udara

Ukraina, di wilayah dekat Torez.170

Jika merujuk pada konvensi Internasional khusunya Konvensi Chicago,

dikatakan bahwa negara mempunyai kewajiban hukum untuk menahan diri tidak

168 Bambang Widarto I, op.ci, h. 34.

169 Ibid.

170 Nationalgeographic, loc.cit.

77
menggunakan senjata terhadap pesawat udara sipil dalam penerbangannya. 171

Maka dari ketentuan ini negara memiliki kewajiban untuk melindungi pesawat

udara sipil dalam keadaan apapun, baik pesawat tersebut melakukan pelanggaran

penerbangan sekaligus.

Namun dalam kasus ini bukan Negara yang melakukan penembakan

pesawat udara milik Malaysia Airlines tersebut. Penembakan tersebut dilakukan

oleh subjek hukum internasional, yakni Gerakan Separatis Pro-Rusia. Sehingga

ketentuan tersebut tidak berlaku bagi gerakan separatis ini.

Ketentuan mengenai larangan terhadap tindak kekerasan pesawat udara

sipil juga diatur dalam Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against

Safety of Civil Aviation (Konvensi Montreal 1971).172 Sesuai dengan apa yang

telah dijabarkan diatas, bila dikaikan dengan kasus ini bahwa Gerakan Pro-Rusia

telah melakukan pelanggaran berupa melakukan tindakan kekerasan terhadap

seseorang di dalam pesawat udara yang sedang berada dalam penerbangan dan

tindakan tersebut membahayakan keselamatan pesawat udara sipil. 173 Selain itu

juga Gerakan Pro-Rusia telah melakukan memusnahkan atau merusak fasilitas

penerbangan secara melawan hukum dalam pengoperasiannya, sehinggan dapat

membahayakan keselamatan pesawat udara dalam penerbangan.174


171 Pasal 3 bis (a) Kovensi Chicago 1944

172 Bambang Widarto II, op.cit, h.146.

173 Pasal 1 ayat (1) Konvensi Montreal 1971.

174 Pasal 1 ayat (5) Konvensi Montreal 1971.

78
Maka dari itu tindakan yang telah dilakukan oleh Gerakan Sparatis Pro-Rusia ini

telah melanggar ketentuan dari Konvensi Montreal 1977. Hal ini tidaklah mudah

karena walaupun gerakan sparatis ini bagian dari subjek hukum internasional

tetapi tidak ada kententuan yang jelas untuk membebani pertanggungjawaban

terhadap gerakan ini. Disisi lain ketentuan baik Konvensi Chicago 1944 dan

Konvensi Montreal 1971 menganut pertanggungjawaban Obyektive dimana

pembebanan diberikan kepada Negara.

Berdasarkan ketentuan ini maka gerakan separatis tidak dapat dibebankan

pertanggungjawaban, baik secara kelompok amaupun individu. Karena

Berdasarkan Pasal 87 dan Pasal 88 Konvensi Chicago hanya mengakui pihak

Airlines dan State yang mampu dibebankan pertanggungjawaban.

Kasus penembakan pesawat udara sipil ini tentunya dapat pula dimintakan

pertanggungjawaban secara individu. Perbuatan tersebut selaras dengan kejahatan

kemanusiaan, dimana gerakan separatis Pro-Rusia tersebut telah membunuh 293

penumpang dari pesawat udara sipil.

Berdasarkan Pasal 7 (1) Statuta Roma 1998 disebutkan bahwa ...crime

againts humanity means any of the following acts when committed as part of

widespread or systematic attack dirrected against any civillion population, with

knowledge of the attack. Sehingga dapat diartikan bahwa serangan yang

dilakukan secara meluas atau sistematis yang ditujukan kepada penduduk sipil,

dengan kesadaran pengetahuan pelaku serangan.175 Hal-hal yang dapat

175 I Made Pasek Diantha, 2014, op.cit, h. 167.

79
dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan dan relevan dengan kasus ini adalah

pembunuhan.176

Maka terpenuhilah unsur-unsur dari ketentuan pasal 7 Statuta Roma 1998

dimana perbuatan penembakan pesawat udara sipil yang dilakukan oleh gerakan

separatis tersebut dilakukan secara sistematis yang diarahkan kepada pesawat

udara. Pesawat udara tersebut berisikan penumpang yang merupakan warga sipil

dari berbagai negara. Penembakan tersebut dilakukan oleh kaum separatis

meluncurkan rudal BUK kearah pesawat udara sipil milik Malaysia Airlines

dengan maksud untuk menghancurkan pesawat tersebut.177

Sehingga berdasakan Konvensi Chicago 1944, Konvensi Montreal 1971 serta

Statuta Roma 1998, perbuatan yang dilakukan oleh kaum separatis tersebut

merupakan sebuah pelanggaran dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Disisi lain, Agensi Keamanan Penerbangan Eropa sempat mengeluarkan

buletin keamanan dengan rekomendasi dari Organisasi Penerbangan Sipil (ICAO)

dan Eurocontrol pada 3 April 2014 menyatakan bahwa wilayah udara Crimea

harus dihindari.178 Hal ini dikeluarkan setelah mereka mempertimbangkan

peringatan dari badan keselamatan penerbangan Rusia yang mengeluarkan catatan

untuk para penerbang atau Notice to Airmen (NOTAMs).


176 Pasal 7 ayat (1) paragraf (a), Statuta Roma 1998.

177 Nationalgeographic, loc.cit

178 Yudo Dahono, 2014, Beberapa Penerbangan Hindari Ukraina Sejak Beberapa
Bulan Lalu, URL : http://m.bersatu.com/dunia/197715-beberapa-penerbangan-hindari-
ukraina-sejak-beberapa-bulan-lalu.html, diakses pada tanggal 16 Agustus 2016.

80
Operator penerbangan di Inggris juga sudah mendapatkan pesang larangan

tersebut. Dalam NOTAMs tersebut dinyatakan bahwa berdasarkan potensi resiko

yang mungkin terjadi dari adanya konflik antara Rusia dan Ukraina, maka Air

Traffic Control (ATC) mengeluarkan instruksi larangan terbang diatas wilayah

udara Ukraina, meliputi wilayah Crimea, Laut Hitam dan perairan Azov.179

Beberapa maskapai penerbangan ternyata sudah menghindari wilayah udara

Ukraina, Seperti Qantas, Air Berlin, Asiana, Korea Airlines.

Sesuai dengan Pasal 9 (2) Konvensi Chicago 1944, bahawa terdapat Zona

larangan terbang untuk seluruh atau sebagian udara nasional negara untuk

tertutup bagi pesawat udara asing, dengan kata lain tidak diperbolehkan suatu

pesawat asing melitasi wilayah udara yang terlah dinyatakan Zona terlarang.

Dengan pertimbangan keadaan atau kondisi wilayah tersebut dalam keadaan

darurat dan berkaitan dengan keselamatan publik.

Dengan ketentuan ini larangan terbang yang terjadi dikawasan udara

Ukraina telah sesuai. Hal ini dibuktikan bahwa kawasan larangan terbang tersebut

beralasn untuk keselamatan penerbangan sipil, karena di wilayah Ukraina sedang

terjadi konflik senjata antara Militer Ukraina dengan Geraakan Separatis Pro

Rusia. Dan hal ini telah disampaikan oleh beberapa organisasi penerbangan

internasional.

179 Mon, 2014, Pilot #MH17 Dianggap Melarang Larangan Terbang di Wilayah Udara
Ukarina, URL : http://jogja.tribunnews.com/2014/07/19/pilot-mh17-dianggap-melarang-
larangan-terbang-di-wilayah-udara-ukraina.html, diakses pada tanggal 16 Agustus 2016.

81
Sehingg secara tidak langsung, terjadinya kasus penembakan pesawat

udara sipil MH17 tidak mutlak kesalahan dari Gerakan Separatis Pro-Rusia,

dikarenakan bahwa Malaysia Airlines telah melakukan pengabaian dengan

melintasi kawasan larangan terbang di Ukraina.

4.5 Tinjauan Yuridis Terhadap Pertanggungjawaban Gerakan Separatis

Mengenai Penembakan Pesawat Udara Sipil Malaysia di Kawasan

Terlarang

Telah dibahas di atas bahwa bila berdasarkan ketentuan Konvensi Chicago

1944 dan Konvensi Montreal 1971 Gerakan separatis tidak dapat dibebankan

pertanggungjawaban. Namun jika merujuk kepada Statuta Roma 1998 hal ini

dimungkinan terjadi.

Dalam International Criminal Court atau Pengadilan Pidana Internasional

mengenal Yurisdiksi Personal yang dimana dapat diartikan pertanggungjawaban

individu sebagai natural person.180 Sehingga seseorang dapat dibebankan dan

wajib memikul tanggungjawab pidana atas tindak pidana yang dilakukan, tidak

peduli apakah ia sebagai pejabat atau bukan.181

Dengan yurisdiksi tersebut maka secara tidak langsung baik pimpinan

maupun seseorang yang telah menembak pesawat udara sipil milik Malaysia

Airlines dapat dibebani pertanggungjawaban.

180 I Made Pasek Diantha,op.cit. h. 151.

181 Pasal 1 juncto 25 Statuta Roma 1998.

82
Namun jika dilihat dari lokasi penembakan kasus ini, pada tanggal 1 Maret 2014

Gerakan Separatis Pro-Rusia telah menyelenggarakan referendum di kawasan

Crimea. Gerakan tersebut juga menunjukkan dukungan untuk bergabung dengan

Federasi Rusia. Dan hal ini mendapat pengakuan dan dukungan dari Rusia dengan

menandatangani aneksasi Crimea.

Namun referendum tersebut harus mendapatkan pengakuan dari negara

induknya seperti pada 30 Januari 1999 yang menyatakan bahwa Presiden

Indonesia Habibie menyetujui adanya referendum di Timor Timur. Dan

persetujuan ini diajukan kepada PBB.182

Hal ini akan mempengarusi yurisdiksi dari Pengadilan Pidana

Internasional (PPI). Dimana PPI memiliki Yurisdiksi Teritorial dimana Pengadilan

Pidana Internasional (PPI) mempunyai kewenangan mengadili terhadap pelaku

yang tindak kejahatannya dilakukan diwilayah negara peserta, atau di atas kapal

dan pesawat udara.183 Terkait dengan status kewarganegaraan pelaku kejahatan

tidaklah menjadi hal yang penting, asalkan kejahatan dilakukan di wilayah negara

peserta (regardless of the nationality of the offender).

Dengan hal ini membuat kewenangan PPI untuk mengadili suatu kasus

yang terjadi harus di negera peserta. Dalam kasus ini referendum yang dilakukan

diwilayah Crimea tidak resmi karena Parlemen Ukraina menyatakan referendum

tersebut inskonstitusional, pendapat ini didukung oleh Amerika Serikat dan Uni

182 I Made Pasek Diantha, op.cit, h. 121.

183 Pasal 12 (2), (a) Statuta Roma 1998.

83
Eropa. Selain itu Tanggal 27 Maret 2014 Majelis Umum PBB mengeluarkan

resolusi 68/262 tidak mengikat yang menyatakan refrenfum Crimea yang

didukung Moskow (Rusia) tidak valid. Sehingga Crime masih menjadi wilayah

atau bagian dari Ukraina.

Dengan penolakan ini tentunya Crimea masih merupakan wilayah atau teritorial

Ukraina. Dimana Ukraina merupakan peserta dari Statuta Roma 1998. Secara

tidak langsung kasus penembakan pesawat MH 17 tersebut menjadi yurisdiksi

dari PPI.

Selain itu pada Pasal 13 (b) Statuta Roma menyatakan bahwa PPI juga

melakukan yurisdiksinya atas kejahatan-kejahatan yang disebutkan dalam Pasal 5

setalah adanya penyerahan perkara oleh Dewan Keamanan. Prinsip penyerahan

perkara oleh Dewan Keamanan telah pernah digunakan oleh Dewan Keamanan

ketika Dewan menyerahkan kasus Darfur, Sudan ke PPI dengan Resolusi Dewan

Keamanan 1593/2005.184 Penyerahan serupa juga dilakukan Dewan Keamanan

terhadap kasus Libya dengan Resolusi Dewan Keamanan 1970/2011.185

Dalam kasus ini Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan Resolusi 2166(2014)

pada tanggal 21 Juli 2014. Dinyatakan bahwa:

1. Condemns in the strongest terms the downing of Malaysia Airlines Flight MH

17 on 17 July in Donestk Oblast, Ukraine resulting in the tragic loss of 298 lives;

184 I Made Pasek Diantha, op.cit, h. 190.

185 Ibid.

84
.... 14. Decides to remain seized of the matter. Hal ini menunjukkan bahwa PBB

akan menghukum dan menangkap orang yang telah merenggut 298 nyawa dalam

kasus Penembakan Pesawat Udara Sipil milik Malaysia Airlines tersbut.

Secara tidak langsung PBB telah melakukan sebuah tindakan akan

mengadili kasus ini dalam persidangan. Hal tersebut dapat dibuktikan. Selain apa

yang telah dipaparkan diatas, bahwa PBB juga telah menunjuk Team penyidik

yang berkerjasama dengan ICAO, ahli internasional, organisasi internasional,

termasuk badan perwakilan suatu negara serta negara yang kehilangan

warganegaranya.186

186 Paragraf 4 Resolusi PBB 1266(2014).

85
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Pengaturan hukum Gerakan Separatis sebagai subjek hukum internasional

masih menjadi norma kosong. Didalam Konvensi internasional tidak ada

yang memuat mengenai Gerakan Separatis ini. Namun berdasarkan dari

pendapat para ahli, seperti Ian Brownlie dan Malcolm N. Show

keberadaan dari gerakan separatis ini perlu mendapatkan perhatian khusus

karena mereka hadir sebagai gerakan yang menginginkan kebebasan dan

mereka hanya mampu meberikan penjelasan mengenai definisi, ciri-ciri

serta hak dari Gerakan ini. Terkait dengan tanggung jawab tentunya

Gerakan Separatis tersebut masih menjadi tanggung jawab negara

induknya selama Referendum belum sah diakui.


2. Gerakan Separatis Pro Rusia telah melanggar ketentuan Konvensi Chicago

1944 Pasal 3 bis, yakni gerakan tersebut telah menembak pesawat udara

sipil milik Malaysia Airlines. Namun dalam Konvensi Chicago 1944 dan

Konvensi Montreal 1977 menganut sistem pertanggungjawaban Objektive

yang dimana negaralah yang memiliki tanggungjawab penuh, sehingga

gerakan separatis tidak dapat diberikan beban pertanggungjawaban.

Namun dalam hukum pidana internasional penembakan pesawat milik

Malaysia Airlines dengan membunuh 298 jiwa tentunya merupakan

kejahatan terhadap kemanusiaan (Pasal 7 Statuta Roma 1998). Sehingga

86
mereka dapat dibebani pertanggungjawaban secara individu sesuai dengan

Pasal 1 juncto 25 Statuta Roma 1998. Serta dengan adanya Resolusi PBB

1266 (2014) yang akan menangkap dan menghukum pelaku dari kasus

penembakan pesawat udara sipil milik Malaysia Airlines tersebut.

5.2 Saran

1. Pengaturan mengenai hak serta kewajiban Gerakan Separatis dalam

konvensi internasional tidak ada. Sehingga status, hak serta

kewajibannya belum jelas atau masih kabur. Banyak kasus yang

menyangkut gerakan separatis sebagai subjek menjadi tidak jelas.

Seperti kasus tanggal 20 Oktober 1998 para pemberontak di wilayah

timur Kongo menembak jatuh pesawat penumpang Congo Airlines

yang mengangkut 40 orang juga pada tanggal 22 September 1993

Pemberontak Abkhazian di Georgia menembak sebuah pesawat

penumpang dan menewaskan 80 orang. Maka dirasa sangat perlu

untuk membuat konvensi internasional mengenai Gerakan Separatis ini

baik secara spesifik atau diakui dalam pengadilan internasional.

Karena keberadaannya tidak bisa dipungkiri, hampir selalu ada. Untuk

memperjelas tanggung jawab dan hak mereka.


2. Pertanggungjawaban mengenai gerakan separatis ini alangkah baiknya

diakui seperti Organisasi Internasional. Hal ini dibebabkan jika dilihat

tidaklah mudah untuk memberikan pertanggungjawaban secara

Individu. Karena mereka bisa dikatakan seperti sebuah negara kecil

yang menjaga erat persatuan antar anggota dan tidak mudah

87
memberikan sipelaku. Sehingga tidaklah mudah untuk menangkap

perseorangan. Maka langkah baiknya pimpinan dari gerakan inilah

yang bertanggung jawab penuh terhadap segala perbuatan dari

anggotanya. Gerakan Separatis tentunya memiliki struktur organisasi

layaknya sebuah negara. Maka akan lebih mudah untuk memberikan

pertanggungjawaban terhadap gerakan ini.

88