Anda di halaman 1dari 3

1. Adit Tama Batara S.

F0314003
2. Farhan Andhika P. F0314033
3. Rhein Nur Darnadia F0314084
4. Tri Fitrianto Suratno F0314104

PERUBAHAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945


DAN IMPLIKASINYA[1] TERHADAP SISTEM
KETATANEGARAAN INDONESIA

Mencermati seluruh hasil perubahan yang telah dilakukan oleh MPR, ada beberapa catatan
penting yang dapat dikemukakan. Pertama, kesemua pasal telah dilakukan perubahan kecuali
Pasal 4, 10 dan Pasal 12. Kedua, terjadi (1) penambahan 4 bab baru (dari 16 bab menjadi 20
bab), (2) penambahan 25 pasal baru (dari 37 pasal menjadi 72 pasal), dan (3) penambahan 120
ayat baru (dari 49 ayat menjadi 169 ayat). Ketiga, dihapusnya penjelasan sebagai bagian dari
UUD 1945. Perubahan yang begitu besar menimbulkan implikasi terhadap struktur
ketetanegaraan, yaitu terjadinya perubahan kelembagaan secara mendasar. Implikasi perubahan
tidak hanya terjadi terhadap struktur lembaga-lembaga negara tetapi juga perubahan terhadap
sistem ketatanegaraan secara keseluruhan.
Pertama, MPR tidak lagi berkedudukan sebagai lembaga tertinggi negara dan pemegang
kedaulatan rakyat tertinggi. Penghapusan sistem lembaga tertinggi negara adalah upaya logis
untuk keluar dari perangkap design ketatanegaraan yang rancu dalam menciptakan
mekanisme check and balances[2] di antara lembaga-lembaga negara.
Kedua, hapusnya sistem unikameral[3] dengan supremasi MPR dan munculnya sistem
bikameral[4]. Dalam sistem bikameral, masing-masing kamar mencerminkan jenis keterwakilan
yang berbeda yaitu DPR merupakan representasi penduduk sedangkan DPD merupakan
representasi wilayah (daerah). Perubahan ini terjadi menjadi sebuah keniscayaan karena selama
ini Utusan Daerah dalam MPR tidak ikut membuat keputusan politik nasional dalam peringkat
undang-undang. Selain alasan itu, kehadiran DPD sekaligus memberikan alternatif solusi atas
pola penataan sistem politik sentralistik sepanjang lima dasawarsa terakhir. Banyak kalangan
berharap sistem bikameral dapat menciptakan keseimbangan antara lembaga-lembaga negara
sehingga mekanisme checks and balances berjalan tanpa adanya sebuah lembaga yang
mempunyai kekuasaan lebih tinggi dari yang lainnya.
Ketiga, perubahan proses pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dari sistem perwakilan menjadi
sistem pemilihan langsung. Perubahan ini tidak terlepas pengalaman pahit yang terjadi pada
proses pengisian jabatan Presiden dan Wakil Presiden selama Orde Baru dan pemilihan Presiden
tahun 1999. Paling tidak ada empat alasan mendasar (raison detre)[5] pergantian ini.
Keempat, mekanisme impechment[6] yang semakin jelas. Sebelum dilakukan perubahan, dalam
pasal-pasal UUD 1945 tidak secara eksplisit memuat ketentuan mengenai impeachment.
Instrumen untuk melakukan kontrol ini dapat dilihat dalam Penjelasan Umum UUD 1945 yang
menyatakan, Oleh karena itu DPR dapat senantiasa mengawasi tindakan-tindakan presiden
dan jika Dewan menganggap bahwa presiden sungguh melanggar haluan negara yang telah
ditetapkan oleh UUD atau oleh MPR, maka Majelis itu dapat diundang untuk persidangan
istimewa agar supaya bisa minta pertanggungjawab kepada presiden.
Kelima, hapusnya DPA sebagai salah satu lembaga tinggi negara. Sebelum dilakukan
Amandemen Keempat, kedudukan konstitusional DPA sebagai lembaga tinggi negara dapat
ditemui dalam Pasal 16 UUD 1945 yang menyatakan bahwa DPA berkewajiban memberi jawab
atas pertanyaan Presiden dan berhak mengajukan usul kepada pemerintah. Dalam penjelasan
Pasal 16 dinyatakan Dewan ini ialah sebuah Council of State yang berwajib memberi
pertimbangan-pertimbangan kepada pemerintah. Ia hanya sebuah badan penasehat belaka.
Menelaah rumusan yang ada dalam Pasal 16 beserta penjelasannya akan terlihat bahwa DPA
tidaklah merupakan lembaga negara yang penting dalam struktur ketatanegaraan Indonesia.
Apalagi, adanya anak kalimat dalam penjelasan yang sengaja hendak melemahkan posisi DPA
yaitu sebagai badan penasihat belaka. Oleh karena itu, menjadi sangat masuk akal menghapus
DPA sebagai lembaga negara. Sebagai gantinya, menurut ketentuan Pasal 16 UUD 1945 Presiden
membentuk suatu dewan pertimbangan yang bertugas memberikan pertimbangan kepada
Presiden yang selanjutnya diatur dengan undang-undang. Perubahan ini memberikan kesempatan
kepada Presiden untuk dewan pertimbangan, misalnya dalam bentuk Penasihat Presiden.
Keenam, kekuasaan kehakiman tidak hanya dijalankan oleh Mahkamah Agung tetapi juga oleh
Mahkamah Konstitusi. Perubahan ini secara eksplisit dinyatakan dalam Pasal 24 ayat (2) UUD
1945 bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan oleh sebuah
Mahkamah Konstitusi. Berdasarkan ketentuan Pasal 24 ayat (1) Mahkamah Agung berwenang
mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang
terhadap undang-undang dan kewenangan lainnya yang diberikan oleh undang-undang.
Sedangkan Mahkmah Konstitusi, menurut ketentuan Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 berwenang
mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji
undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga
negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai
politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

1. Dalam KBBI implikasi/implikasi/ n 1 keterlibatan atau keadaan terlibat: -- manusia sbg objek
percobaan atau penelitian semakin terasa manfaat dan kepentingannya; 2 yg termasuk atau tersimpul; yg
disugestikan, tetapi tidak dinyatakan: apakah ada -- dl pertanyaan itu?;
2. Checks and balances adalah aturan dan proses yang memungkinkan sistem dan lingkungan yang
tepat untuk tata kelola yang seimbang dan terkontrol atas badan hukum dan organisasi lainnya.
3. Dalam sistem unikameral, MPR terdiri atas Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), ditambah utusan-utusan
daerah dan golongan
4. Dalam KBBI bikameral/bikameral/ n sistem lembaga perwakilan rakyat yg terdiri atas dua kamar atau
dua badan legislatif (spt di Inggris ada House of Lords danHouse of Common)
5. raison de etre hukum adalah konflik kepentingan, kata raison d etresendiri diambil dari bahasa perancis
yang makna sederhananya adalah "reason for being"
6. Impechment (sering disebut pemakzulan) seperti dinyatakan dalam KBBI adalah proses, cara, perbuatan
memakzulkan (menurunkan dr takhta; memberhentikan dr jabatan)
Saldi Isra, 2010, Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 dan Implikasinya Terhadap Sistem
Ketatanegaraan Indonesia, Penerbit Universitas Andalas, Padang.

Agus Haryadi, 2002, Bikameral Setengah Hati, dalam Bambang Widjojanto, Saldi Isra dan
Marwan Mas (Edit.), Konstitusi Baru Melalui Komisi Konstitusi Independen, Pustaka Sinar
Harapan dan Koalisi untuk Konstitusi Baru, Jakarta