Anda di halaman 1dari 20

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Candidiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi
dari jamur Candida, biasanya oleh spesies Candida albicans meskipun dapat
juga disebabkan oleh spesies Candida lainnya. Penyakit ini terdapat di seluruh
dunia dan menyerang semua golongan usia. Jamur ini hidup pada tubuh
manusia sebagai saprofit (Kuswadji, 2010).
Penyakit ini dibagi dalam 3 klasifikasi, yaitu candidiasis kutis, selaput
lendir, dan sistemik tergantung dari tempat infeksi pertama jamur. Terjadinya
infeksi ini disebabkan oleh angka kelembapan udara yang tinggi, cuaca panas,
status imunologis buruk, obesitas, dan penyakit seperti DM yang dijadikan
sebagai tempat perkembangbiakan jamur. Kebersihan diri, dan riwayat kontak
dengan penderita candidiasis juga berpengaruh pada terjadinya penyakit ini.
Itulah sebabnya angka kejadian candidiasis di Indonesia cukup tinggi
dikarenakan iklim tropis negara ini sehingga menjadi perhatian masalah
kesehatan (Kuswadji, 2010).
Beberapa pemeriksaan diperlukan untuk menegakkan diagnosis
candidiasis, diantaranya pemeriksaan fisik dengan adanya kumpulan jamur
Candida berwarna putih pada daerah yang terkena dimana wilayah vagina dan
mukosa mulut sering menjadi tempat pertumbuhan tersering jamur Candida.
Kultur juga dapat dilakukan untuk melihat koloni jamur Candida dengan
menggunakan medium SDA (Edwards, 2011).
Prognosis penyakit candidiasis ini cukup baik bila penderita dapat
melakukan pengobatan sedini mungkin. Golongan azole sering digunakan
sebagai obat utama pembasmi infeksi Candida ini. Kombinasi obat dapat
diberikan tergantung dari lokasi infeksi dan sejauh apa infeksi terjadi
(Edwards, 2011).

B. Tujuan
1. Mengetahui gambaran umum candidiasis
2. Mengetahui patofisiologi penyakit candidiasis
3. Mengetahui spesies Candida yang menyebabkan candidiasis
4. Mengetahui terapi yang diberikan pada candidiasis
5. Mengetahui prognosis penyakit candidiasis

1
C. Manfaat
1. Mahasiswa dapat mengerti mengenai penyakit candidiasis
2. Mahasiswa dapat mengerti mengenai pengobatan efektif pada candidiasis
3. Mahasiswa dapat mengedukasi masyarakat agar hidup bersih sehat

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

2
Candidiasis adalah infeksi primer atau sekunder dari genus Candida,
terutama Candida albicans (C. albicans). Manifestasi klinisnya sangat
bervariasi dari akut, subakut dan kronis ke episodik. Kelainan dapat lokal di
mulut, tenggorokan, kulit, kepala, vagina, jari-jari tangan, kuku, bronkhi, paru,
atau saluran pencernaan makanan, atau menjadi sistemik misalnya septikemia,
endokarditis dan meningitis. Proses patologis yang timbul juga bervariasi dari
iritasi dan inflamasi sampai supurasi akut, kronis atau reaksi granulomatosis
(James, 2006).

B. Etiologi
Penyebabnya yaitu jamur spesies Candida. Candida
albicansmerupakan salah satu contoh dari jamur tersebut yang dapat diisolasi
dari kulit, mulut, vagina, dan feses orang normal. Contoh lainnya yaitu
Candida parapsilosis yang merupakan penyebab terjadinya endocarditis
candidiasis dan Candida tropicalis yang merupakan penyebab dari candidiasis
septikemia (Goehring, 2008).
Candida albicans berada di vagina dari 19% wanita yang tampak sehat
dan mereka mengalami sedikit atau tidak ada gejala infeksi. Penggunaan
pembersih vagina (hormonal atau fisiologis) dapat mengganggu flora normal
vagina, yang terdiri dari bakteri asam laktat, seperti lactobacilli, dan
mengakibatkan pertumbuhan berlebih dari sel Candida, menyebabkan gejala
infeksi, seperti radang lokal. Kehamilan dan penggunaan kontrasepsi oral telah
dilaporkan sebagai faktor risiko. Diabetes mellitus dan penggunaan antibiotik
antibakteri juga terkait dengan peningkatan insiden infeksi Candida (Choo,
2010).
Sistem kekebalan tubuh yang melemah atau penyakit metabolik seperti
diabetes merupakan faktor predisposisi signifikan candidiasis. Penyakit atau
kondisi terkait dengan candidiasis yaitu HIV / AIDS, pengobatan kanker,
steroid, stres, dan kekurangan nutrisi. Hampir 15% dari orang dengan sistem
kekebalan yang lemah mengembangkan penyakit sistemik yang disebabkan
oleh spesies Candida. Dalam kasus ekstrim, infeksi superfisial pada selaput
kulit atau mukosa dapat masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan
infeksi Candida sistemik (Choo, 2010).

3
Spesies Candida merupakan bagian dari flora normal yang ada di
mulut dan usus tubuh manusia. Pengobatan dengan antibiotik dapat
menyebabkan menghilangkan flora normal untuk sumber daya, dan
meningkatkan keparahan kondisi. Di belahan bumi bagian Barat, sekitar 75%
dari perempuan akan terkena pada suatu saat dalam kehidupan mereka
(Bassetti, 2010).

C. Epidemiologi
Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, dan dapat menyerang manusia
di segala umur dan semua gender. Candidiasis oral merupakan bentuk yang
paling umum, selama ini merupakan infeksi jamur yang paling umum dari
mulut, dan juga merupakan infeksi oral oportunistik yang paling umum pada
manusia. Sedangkan pada Candida septicemia jarang terjadi (Lalla,2013).
Candidiasis esofagus adalah infeksi esofagus paling umum pada orang
dengan AIDS, dan menyumbang sekitar 50% dari semua infeksi
kerongkongan, sering hidup berdampingan dengan penyakit esofagus lain.
Sekitar dua pertiga dari penderita AIDS dan candidiasis esofagus juga
memiliki candidiasis oral (Yamada, 2009).

D. Klasifikasi
Klasifikasi candidiasis berdasarkan tempat yang terkena yaitu
(Djuanda, 2007):
1. Candidiasisselaputlendir:
a. Candidiasis oral (thrush)
b. Perleche
c. Vulvovaginitis
d. Balanitis atau balanopostitis
e. Candidiasis mukokutan kronik
f. Candidiasis bronkopulmonar dan paru
2. Candidiasis kutis:
a. Lokalisata:
1) daerah intertriginosa
2) daerah perianal
b. Generalisata
c. Paronikia dan onikomikosis
d. Candidiasis kutis granulomatosa
3. Candidiasis sistemik:
a. Endokarditis

4
b. Meningitis
c. Pielonefritis
d. Septikemia

E. Tanda dan Gejala


Gejala candidiasis bervariasi, tergantung pada bagian tubuh yang
terkena (B. Hawley, 2003):
1. Infeksi pada lipatan kulit (infeksi intertriginosa)
Infeksi pada lipatan kulit atau pusar biasanya menyebabkan ruam
kemerahan, yang seringkalidisertai adanya bercak-bercak yang
mengeluarkan sejumlah kecil cairan berwarna keputihan.Bisa timbul bisul-
bisul kecil, terutama di tepian ruam dan ruam ini menimbulkan gatal
ataurasa panas.Ruam Candida di sekitar anus tampak kasar, berwarna
merah atau putih dan terasa gatal(B. Hawley, 2003).
2. Candidiasis perianal
Lesi berupa maserasi seperti infeksi dermatofit tipe basah. Penyakit
ini menimbulkan pruritus ani (Kuswadji, 2011).
3. Candidiasis kutis generalisata
Lesi terdapat pada glabrous skin, biasanya juga pada lipat
payudara, intergluteal dan umbilikus. Sering disertai glositis, stomatitis
dan paronikia. Lesi berupa ekzematoid, dengan vesikel-vesikel dan pustul-
pustul. Penyakit ini sering terdapat pada bayi, mungkin karena ibunya
menderita candidiasis vagina atau mungkin karena gangguan imunologik
(Kuswadji, 2011).
4. Candidisiasis kutis granulomatosa
Kelainan ini merupakan bentuk yang jarang dijumpai. Manifestasi
kulit berupa pembentukan granuloma yang terjadi akibat penumpukan
krusta serta hipertrofi setempat. Kelainan ini banyak menyerang anak-
anak, lesi berupa papul kemerahan tertutup krusta tebal berwarna kuning
kecoklatan dan melekat erat pada dasarnya. Krusta ini dapat menimbulkan
tanduk sepanjang 2 cm, lokasinya sering terdapat di muka, kepala, kuku,
badan, tungkai, dan faring (Kuswadji, 2011).
5. Infeksi vagina (vulvovaginitis)
Sering ditemukan pada wanita hamil, penderita diabetes atau
pemakai antibiotik.Gejalanya berupa keluarnya cairan putih atau kuning
dari vagina disertai rasa panas, gatal dankemerahan disepanjang dinding
dan daerah luar vagina(B. Hawley, 2003).

5
6. Infeksi penis.
Sering terjadi pada penderita diabetes atau pria yang mitra
seksualnya menderita infeksivagina. Biasanya infeksi menyebabkan ruam
merah bersisik (kadang menimbulkan nyeri)pada bagian bawah penis(B.
Hawley, 2003).
7. Thrush
Thrush merupakan infeksi jamur di dalam mulut.Bercak berwarna
putih menempel pada lidah dan pinggiran mulut, sering menimbulkan
nyeri.Bercak ini bisa dilepas dengan mudah oleh jari tangan atau
sendok(B. Hawley, 2003).
8. Perleche
Perleche merupakan suatu infeksi Candida di sudut mulut yang
menyebabkan retakan dan sayatankecil(B. Hawley, 2003).
9. Paronikia
Candida tumbuh pada bantalan kuku, menyebabkan pembengkakan
dan pembentukan nanah.Kuku yang terinfeksi menjadi putih atau kuning
dan terlepas dari jari tangan atau jari kaki(B. Hawley, 2003).
F. Faktor Risiko
Beberapa faktor risiko candidiasis yaitu :
1. Faktor endogen
Perubahan fisiologis, perubahan PH karena hormon esterogen meningkat,
kegemukan, penyakit kronik, TBC, DM, SLE, AIDS.
2. Faktor eksogen
Perubahan iklim yang panas menyebabkan kelembaban meningkat,
kurangnya kebersihan kulit, pemakaian gigi palsu yang letaknya bergeser
dan menyebabkan kelembapan di sudut mulut sehingga tumbuh jamur,
pemakaian antibiotik yang membunuh bakteri saingan jamur akan
meningkatkan kemungkinan terjadinya thrush. Tidak menggunakan
kondom saat sedang berhubungan.

G. Patomekanisme
1. Candidiasis vulvovaginalis
C. albicans dapat berubah dari bakteri komensal menjadi bakteri
patogen oportunistik, hal ini menunjukan implikasi bahwa C. albicans
selalu muncul pada populasi mikroflora mukosa yang sehat dengan tetap
mempunyai kemampuan untuk menginfeksi host bergantung pada kondisi.
Beberapa kondisi yang dapat menginhibisi dan menstimulasi C. albicans

6
berubah menjadi bakteri patogen antara lain dapat dilihat pada tabel
berikut (Ericson, 2009 ; Pappas, et al., 2009):

Tabel 2.1. Kondisi yang dapat menginhibisi dan menstimulasi C. Albicans


Inhibisi Stimulasi
Low growth temperature High growth temperature
(37OC/98.6OC)
pH asam (4-6) pH netral (7)
Rasio CO2/O2 rendah Rasio CO2/O2 tinggi
Barier mukokutan intak Luka terbuka, luka bakar,
ulserasi akibat pemasangan
kateter.
Kondisi vagina yang dapat menstimulus C. Albicans menjadi
bakteri patogen pada dasarnya membuat bentuk filament C. Albicans
untuk mempunyai kemampuan adherensi dan invasi sehingga menambah
faktor virulensinya. Faktor virulensi yang diekspresikan oleh C. Albicans
bergantung pada tipe infeksi (mucosal atau sistemik), lokasi dan stage
infeksi dan responimun host (Ericson, 2009 ; Pappas, et al., 2009).

Gambar 2.1 Patogenesis candidiasis vulvovaginal

7
Kolonisasi dari sel epitel adalah awal patogenesis candidiasis
vulvovaginal. Adherensi pada sel epitel host
terjadisecaraenzimatikdisebabkanolehadhesindan protease.
Untukmenyebabkaninfeksi, C. Albicansharusmenginvasisel yang bersifat
non-
fagositiksepertiselepitelatauselendotel.Terdapatduametodeinvasiseluler
yang telahdiinvestigasiyakniinvasimelaluidegradasihidrolitik (enzimatik)
dindingseldaninduksidarisel yang secara normal
nonfagositikuntukmelingkupi patogen(Ericson, 2009 ; Pappas, et al.,
2009).
Setelahpatogenmenginvasibentukfilamennyadalamjaringanmukoku
tan vagina.Filamen-filamennyadapatmensensitisasiresiding
celljaringanepiteldanmembuatresponinflamasi local sertaresponimun
innate yang ditandaidengangejala-gejalasepertigatal, panas,
danbasah(Ericson, 2009 ; Pappas, et al., 2009 ; Shellack, 2012).
Candidiasis padadasarnyamerupakaninfeksi fungal superfisial,
namunpadakeadaanimmunodefisien filament
dapatadesihinggaselendotel.Diseminasidari filament
C.Albicansinidapatmengaktifkaninfeksisistemik yang
selanjutnyadapatmengakibatkanaktivasikoagulasi local
maupunsistemik(Ericson, 2009 ; Pappas, et al., 2009).
2. Candidiasis oral
Terjadinya candidiasis pada rongga mulut di awali dengan adanya
kemampuan Candida untuk melekat pada mukosa mulut. Hal ini yang
menyebabkan awal terjadinya infeksi.Sel ragi atau jamurCandida albicans
tidak melekat apabila mekanisme pembersihan oleh saliva, pengunyahan
dan penghancuran oleh asam lambung berjalan normal. Perlekatan jamur
pada mukosa mulut mengakibatkan proliferasi, kolonisasi tanpa atau
dengan gejala infeksi, bahkan sampai menyebar ke organ target (Richard,
2012).
Melekatnya Candida albicans pada mulut dapat disebabkan oleh
penggunaan kortikosteroid, adanya immunodefisiensi, serta penggunaan
antibiotik yang tidak terkontrol.Bahan-bahan polimerik ekstra seluler

8
(mannoprotein) yang menutupi permukaan Candida albicans merupakan
komponen penting untuk perlekatan pada mukosa mulut. Candida
albicans menghasilkan proteinase yang dapat mengdegradasi protein
saliva termasuk sekretori immunoglobulin A, laktoferin, musin dan keratin
juga sitotoksis terhadap sel host. Batas-batas hidrolisis dapat terjadi pada
pH 3,0/3,5-6,0. Dan mungkin melibatkan beberapa enzim lain seperti
fosfolipase, akan di hasilkan pada pH 3,5-6,0. Enzim ini menghancurkan
membrane sel selanjutnya akan terjadi invasi jamur tersebut pada jaringan
host. Hifa mampu tumbuh meluas pada permukaan sel host(Richard,
2012).
Adanya perlekatan Candida dengan mukosa mulut, akan
menyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan flora normal di dalam
mulut, sehingga terjadi kolonisasi jamur. Kolonisasi tersebut dapat
menyebabkan terjadinya proses infeksi yang akhirnya akan menimbulkan
bercak putih di mulut sehingga disebut sebagai candidiasis oral atau oral
trush. Terjadinya oral trush akan menyebabkan terjadinya penggumpalan
yang akan menutupi permukaan lidah, menghambat impuls syaraf
pengecapan sehingga pasien tidak dapat mengecap rasa. Selain itu, timbul
nyeri pada mulut yang akan menyebabkan penurunan nafsu makan
sehingga terjadi gangguan nutrisi(Richard, 2012).
Candida tampak berhubungan dengan gangguan relatif mekanisme
pertahanan hospes spesifik dan nonspesifik. Penyebaran hematogen dapat
mengakibatkan vaskulitis dan nodulus kecil-kecil pada banyak organ.
Paru-paru, ginjal, saluran cerna, jantung, dan meningen biasanya
terinfeksi(Richard, 2012).

9
Gambar 2.2 Patomekanisme candidiasis oral(Richard, 2012).

H. Penegakan Diagnosis
Untuk menegakan diagnosis yang tepat maka diperlukan langkah-
langkah sebagai berikut:
1. Melakukan anamnesis untuk menemukan gejala klinis yang khas
2. Melakukan pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dengan
pemeriksaan langsung dengan larutan KOH 10-20% atau dengan
pengecatan gram, apabila hasilnya positif diagnosa dapat ditegakan,
apabila hasilnya negatif dilakukan pemerikasaan laboratorium lanjutan
dengan teknik kultur untuk memastikan spesies penyebab
3. Melakukan histo PA apabila diagnosa dinyatakan meragukan.

1. Pemeriksaan Fisik
Gambaran klinis yang didapatkan pada pemeriksaan fisik
bervariasi tergantung dari bagian tubuh mana yang terkena, dapat dilihat
sebagai berikut:
a. Candidiasis intertriginosa

10
Kelainan ini sering terjadi pada orang-orang gemuk,
menyerang lipatan-lipatan kulit yang besar. Lesi di daerah lipatan kulit
ketiak, lipat paha, intergluteal, lipat payudara, antara jari tangan atau
kaki, glans penis dan umbilikalis, berupa bercak yang berbatas tegas,
bersisik, basah dan eritematosa. Lesi tersebut dikelilingi oleh satelit
berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul kecil atau bula yang bila
pecah meninggalkan daerah yang erosif dengan pinggir yang kasar dan
berkembang seperti lesi primer (Kuswadji, 2011).
b. Candidiasis perianal
Lesi berupa maserasi seperti infeksi dermatofit tipe basah.
Penyakit ini menimbulkan pruritus ani (Kuswadji, 2011).
c. Candidiasis kutis generalisata
Lesi terdapat pada glabrous skin, biasanya juga pada lipat
payudara, intergluteal dan umbilikus. Sering disertai glositis, stomatitis
dan paronikia. Lesi berupa ekzematoid, dengan vesikel-vesikel dan
pustul-pustul. Penyakit ini sering terdapat pada bayi, mungkin karena
ibunya menderita candidiasis vagina atau mungkin karena gangguan
imunologik (Kuswadji, 2011).
d. Paronikia dan onikomikosis
Infeksi jamur pada kuku dan jaringan sekitarnya ini
menyebabkan rasa nyeri dan peradangan sekitar kuku. Kadang-kadang
kuku rusak dan menebal. Hal ini sering diderita oleh orang-orang yang
pekerjaannya berhubungan dengan air (Kuswadji, 2011).
e. Diaper rush
Sering terdapat pada bayi yang popoknya selalu basah dan
jarang diganti yang dapat menimbulkan dermatitis iritan, juga sering
diderita neonatus sebagai gejala sisa dermatitis oral dan perianal
(Kuswadji, 2011).
f. Kandidisiasis kutis granulomatosa
Kelainan ini merupakan bentuk yang jarang dijumpai.
Manifestasi kulit berupa pembentukan granuloma yang terjadi akibat
penumpukan krusta serta hipertrofi setempat. Kelainan ini banyak
menyerang anak-anak, lesi berupa papul kemerahan tertutup krusta
tebal berwarna kuning kecoklatan dan melekat erat pada dasarnya.
Krusta ini dapat menimbulkan tanduk sepanjang 2 cm, lokasinya

11
sering terdapat di muka, kepala, kuku, badan, tungkai, dan faring
(Kuswadji, 2011).
g. Thrush
Thrush merupakan infeksi jamur di dalam mulut. Bercak
berwarna putih menempel pada lidah dan pinggiran mulut, sering
menimbulkan nyeri. Bercak ini bisa dilepas dengan mudah oleh jari
tangan atau sendok. Thrush pada dewasa bisa merupakan pertanda
adanya gangguan kekebalan, kemungkinan akibat diabetes atau AIDS.
Pemakaian antibiotik yang membunuh bakteri saingan jamur akan
meningkatkan kemungkinan terjadinya thrush (Kuswadji, 2011).
h. Perleche
Perleche merupakan suatu infeksi Candida di sudut mulut yang
menyebabkan retakan dan sayatan kecil. Bisa berasal dari gigi palsu
yang letaknya bergeser dan menyebabkan kelembaban di sudut mulut
sehingga tumbuh jamur (Kuswadji, 2011).
i. Infeksi vagina (vulvovaginitis)
Vulvovaginitis sering ditemukan pada wanita hamil, penderita
diabetes atau pemakai antibiotik.Gejalanya berupa keluarnya cairan
putih atau kuning dari vagina disertai rasa panas, gatal dan kemerahan
di sepanjang dinding dan daerah luar vagina (Kuswadji, 2011).
j. Infeksi penis
Infeksi penis sering terjadi pada penderita diabetes atau pria
yang mitra seksualnya menderita infeksi vagina. Biasanya infeksi
menyebabkan ruam merah bersisik (kadang menimbulkan nyeri) pada
bagian bawah penis (Kuswadji, 2011).
2. Pemeriksaan Penunjang
Dalam menegakan diagnosis candidiasis, maka dapat dibantu
dengan adanya pemeriksaan penunjang, antara lain :
a. Pemeriksaan langsung
Kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan larutan
KOH 10 % atau dengan pewarnaan gram, terlihat sel ragi, blastospora,
atau hifa semu (Kuswadji, 2011).
b. Pemeriksaan biakan
Bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dekstrosa
glukosa Sabouraud, dapat pula agar ini dibubuhi antibiotik
(kloramfenikol) untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Perbenihan
disimpan dalam suhu kamar atau lemari suhu 37 oC, koloni tumbuh

12
setelah 24-48 jam, berupa yeast like colony. Identifikasi Candida
albicans dilakukan dengan membiakkan tumbuhan tersebut pada corn
meal agar (Kuswadji, 2011).

I. Terapi
1. Candidiasis oral
a. Non Medikamentosa (Suyoso, 2012) :
Mengurangi dan mengobati atau lebih waspada jika sedang dalam
keadaan yang merupakan faktor predisposisi seperti:
1) Faktor mekanis
Bila karena gigi palsu, perlu melepas gigi palsu setiap malam dan
mencuci dengan antiseptik seperti khlorheksidin, atau larutan
hipokhlorit 0,1% untuk mengurangi jumlah Candida.
2) Faktor nutrisi: avitaminosis, defisiensi besi
(Candidiasismukokutaneus kronis)
3) Faktor kebiasaan: berganti-ganti pasangan seksual, perilaku
sexmenyimpang, tidak menggunakan kondom saat behubungan
sex.
b. Medikamentosa (Suyoso, 2012) :
1) Topikal
a) Nistatin suspensi oral
4-6 ml (400.000-600.000), 4 x / hari sesudah makan. Harus
ditahan di mulut beberapa menit sebelum ditelan. Dosis untuk
bayi 2 ml (200.000), 4 x / hari. Perlu 10-14 hari untuk kasus
akut atau beberapa bulan untuk kasus kronis.
b) Solusio gentian violet 1-2%
Masih sangat berguna, tetapi memberi warna biru yang tidak
menarik. Dapat dipertimbangkan untuk kasus sulit dan
kambuhan. Dioleskan 2x/hari selama 3 hari.
c) Mikonazol jel oral
Dewasa : 10 ml (2 sendok teh= 250 mg) 4x/hari
Anak-anak :
> 6 tahun 4 x 5 ml/hari
2-6 tahun 2 x 5 ml/hari
< 2 tahun 2 x 2,5 ml/hari
Dibiarkan di dalam mulut selama mungkin, dan pengobatan
harus diteruskan sampai 2 hari sesudah gejala tidak tampak.

13
d) Kheilosis Candida
Terapi topikal anti jamur kombinasi dengan steroid dan
mungkin dengan anti bakteri.
2) Obat sistemik
a) Ketokonazol 200 mg 400 mg/hari selama 2-4 minggu. Untuk
infeksi kronis perlu 3-5 minggu
b) Itrakonazol 100-200 mg/hari selama 2 minggu
c) Flukonazol 100 mg/hari selama 5-14 hari atau 200 mg dosis
sekali
d) Vorikonazole
Alternatif untuk kasus KO kronis dan tidak sembuh-sembu
dengan obat oral lainnya
Indikasi pengobatan sistemik:
a) Risiko tinggi terjadinya diseminasi (candidiasis sistemik) yaitu
pada pasien granulositopenia/imunokompromais, dan pasien
yang mendapat terapi imunosupresif.
b) Dengan terapi topikal tidak berhasil atau tidak sembuh.
c) Bila terjadi reinfeksi.
d) Pada pasien AIDS: terbaik dengan kapsul Flukonazol dari pada
kapsul Itrakonazol.
Sebaiknya tablet ketokonazol tidak digunakan oleh karena
pasien AIDS kurang-sampai aklorhidria sedangkan ketokonazol
perlu hiperkhlorhidria hingga minumnya harus bersama
makanan, sehingga absorbsinya meningkat.
2. Candidiasis vulvovaginalis
a. Non Medikamentosa (Suyoso, 2012) :
Mengurangi dan mengobati atau lebih waspada jika sedang dalam
keadaan yang merupakan faktor predisposisi seperti:
1) Faktor mekanis: trauma (luka bakar, abrasi), oklusi lokal, lembab
dan atau maserasi, bebat tertutup atau pakaian, kegemukan.
2) Faktor nutrisi: avitaminosis, defisiensi besi (Candidiasis
mukokutaneus kronis)
3) Perubahan fisiologis: kehamilan, candidiasis vulvovaginal terjadi
pada 50% wanita hamil terutama pada trimester 1, menstruasi
4) Bila memerlukan terapi antibiotika maka diberikan antibiotika
yang tidak berspektrum luas yaitu golongan Eritromisin/
Azitromisin, Linkomisin/ Klindamisin atau Kotrimoksasol (sulfa).
b. Medikamentosa (Suyoso, 2012) :
1) Topikal

14
Untuk vulvovaginitis :
a) Nistatin supositoria vagina
1 tablet (100.000) / malam selama 14 hari, kurang efektif
dibanding derivat imidasol.
b) Amfoterisin B supositoria vagina 1 tablet (50 mg) / malam
selama 7-12 hari. Sediaannya dikombinasi dengan Tetrasiklin
100 mg untuk meningkatkan aktifitas anti jamur amphoterisin
B nya. Pada wanita hamil, amphoterisin B tidak ada efek
samping/ aman pada ibu maupun bayinya.
c) Klotrimazol tablet vagina
1 tablet (100 mg) / malam selama 7 hari
2 tablet (@ 100 mg) / malam selama 3 hari
1 tablet (500 mg) dosis tunggal (1 kali) pada malam hari.
d) Mikonazol 2% krim vagina sekali/malam selama 7 hari
e) Butokonazol nitrat 2% krim vagina, dosis tungga. Dapat
diulang pada hari ke 4-5 bila diperlukan.
Untuk vulvitis :
a) Nistatin krim dioleskan 2 minggu
b) Derivat imidazol, naftifin, siklopiroksolamin dan haloprogen
krim dioleskan selama 2 minggu. Pada vulvitis Candida yang
berat, dapat diberi tambahan obat topikal kortikosteroid ringan
(hidrokortison 1% - 2,5%) untuk 3-4 hari pertama, kemudian
selanjutnya diberikan obat antijamur topikal.

2) Obat sistemik
a) Ketokonazol tablet 2 x 200 mg / hari selama 5 hari atau juga
dapat 7 hari
b) Itrakonazol kapsul 200 mg/hari 2 hari atau 200 mg/ hari 3 hari
atau 2 x 100 mg/ hari 2 hari25 atau 2 x 200 mg/ hari sehari
selang 8 jam sesudah makan atau 600 mg hanya satu hari
(dapat 3x200 mg satu hari, yang terbaik).
c) Flukonazol kapsul 1 x 50 mg/hari selama 7 hari, atau 1 x 150
mg dosis tunggal Obat oral merupakan pilihan lain yang lebih
disukai wanita dengan candidiasis vulvovaginalis,namun
sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil.

15
J. Peresepan
(Syamsuni, 2006)
dr. X
SIP.
Alamat:

Purwokerto, 3 September 2014

R/ Nistatin. 4-6 ml. No.I


S 4 dd 1 garg
R/ Nistatin. cream
S 4 dd 1 ad.u.e
R/ Solusio gentian violet 1-2%. No.I
S 2 dd 1 ad.u.e
R/ Mikonazol. 10 ml. No.I
S 4 dd 1 C.th
R/ Ketokonazole. 200 mg. No.XXVIII
S 2 dd 1 p.c

Pro: Y

K. Pencegahan
Upaya pencegahan terkena candidiasis yaitu (Siregar, 2008) :
1. Memberikan penyuluhan tentang kebersihan organ reproduksi genitalia
2. Menganjurkan masyarakat untuk mengkonsumsi yogurt atau suplemen
mengandung laktobasilus yang akan meningkatkan pertumbuhan bakteri
baik dalam usus sehingga menekan pertumbuhan candidiasis.
3. Menyarankan masyarakat untuk menghindari makanan dan minuman yang
banyak mengandung gula atau alkohol karena dapat merangsang
pertumbuhan candidiasis.
4. Mengenakan pakaian katun agar udara dapat bersirkulasi dengan baik
5. Sebelum dan sesudah buang air kecil selalu cuci tangan dengan bersih
6. Sebelum dan sesudah berhubungan seksual selalu bersihkan genitalia
7. Penggunaan kondom selama hubungan seksual
8. Cara mencegah pertumbuhan jamur di organ genitalia
9. Sewaktu haid ganti pembalut secara teratur
10. Makan makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh

L. Komplikasi
1. Jika Candida masuk ke esofagus seperti pada kasus yang berat, maka akan
menjadiCandida esophagitis. Jika hal ini sudah terjadi, pasien akan
mengalami kesulitanmenelan (Djuanda,2009).

16
2. Jika dibiarkan dan tidak di obati akan tertelan dan masuk keusus,maka
akanmenimbulkan difteri dan lebih parahnya akan menginfeksi usus
(Djuanda,2009).
3. Candidasis vagina akan berkembang menjadi rekuren akibat infeksi baru
pada 10-20% wanita. Dianggap rekuren jika empat atau lebih episode
infeksi Candida selama 12 bulan (Central Disease Control, 2002).
2. Pasien candidiasis oral dengan AIDS, candidiasis mukokutan kronis
ataudengan neutropenia dapat menjadi candidiasis esofagus (Venkatesan P.
Perfect JR, 2005).
3. Candidiasis oral dengan neutropenia dapat menjadi candidiasis sistemik
(Venkatesan P. Perfect JR, 2005).
4. KVVR atau kronis dapat menyebabkan dispareunia kronis hingga
menggangguhubungan suami istri (Venkatesan P. Perfect JR, 2005).

M. Prognosis
Prognosisnya baik untuk candidiasis oral dengan perawatan yang tepat
dan efektif. Kambuh dapat terjadi lebih sering jika kurangnya kepatuhan
terhadap terapi, kurangnya menjaga dan membersihkan gigi dengan tepat, atau
ketidakmampuan untuk mengatasi faktor-faktor yang mendasari untuk terjadi
infeksi (A. Akpan, 2002). Prognosis juga akan baik bila faktor predisposisi
dapat diminimalkan.Kekambuhanpada pasien dengan HIV positif, perlu
pemberian terapi berulang / terapiprofilaksis (Richardson, MD., 2003).

17
III. KESIMPULAN

1. Candidiasis adalah infeksi primer atau sekunder dari genus Candida, terutama
Candida albicans(C. albicans). Manifestasi klinisnya sangat bervariasi dari akut,
subakut dan kronis ke episodik.
2. Pemeriksaan dilakukan dengan anamnesis dan gejala klinis yang khas.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dan apabila hasilnya positif
diagnosa dapat ditegakkan, apabila hasilnya negatif dilakukan pemerikasaan
laboratorium lanjutan dengan teknik kultur untuk memastikan spesies penyebab
dengan melakukan histopatologi apabila diagnosa dinyatakan meragukan.
3. Prognosis baik untuk candidiasis oral dengan perawatan yang tepat dan efektif.
Kambuh dapat terjadi lebih sering jika kurangnya kepatuhan terhadap terapi,
kurangnya menjaga dan membersihkan gigi dengan tepat, atau ketidakmampuan
untuk mengatasi faktor-faktor yang mendasari untuk terjadi infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

Akpan, R. M. (2002). Oral Candidiasis. United Kingdom: Postgrad Med J.

18
Barakbah, Jusuf, dkk. 2008. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin 5th Ed. Surabaya:
Airlangga University Press.

Bassetti M, Mikulska M, Viscoli C. 2010. "Bench-to-bedside review: therapeutic


management of invasive candidiasis in the intensive care unit.". Critical
Care.

Central Disease Control. Sexually Transmitted Diseases Treatment


Guidelines2002. Morb and Mort Weekly Report 2002;51:RR-6.

Choo ZW, Chakravarthi S, Wong SF, Nagaraja HS, Thanikachalam PM, Mak JW,
Radhakrishnan A, Tay A. 2010. "A comparative histopathological study of
systemic candidiasis in association with experimentally induced breast
cancer". Oncology Letters.

Djuanda Adhi., 2007., Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi kelima.Balai
Penerbit FKUI. Jakarta.

Djuanda, Adhi., Mochtar Hamzah, Siti Aisah. 2009. Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. FKUI:Jakarta.

Edwards, John E. 2011. Harrisons Principles of Internal Medicine Volume I. 18 th


Edition. USA: McGraw Hill.

Ericson, Brett. 2009. Extraction and Partial Characterization of a Lipophilic


Fungicidal Molecule Associated with Serum. Thesis.University of
Worcester.Worcester : United States of America.

Goehring, Richard V. 2008. Mims' medical microbiology. (4th ed. ed.).


Philadelphia, PA: Mosby Elsevier.

James, William D.; Berger, Timothy G.; et al. 2006. Andrews' Diseases of the
Skin: clinical Dermatology. Saunders Elsevier.

Kuswadji. 2010. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI.

Kuswadji. 2011. Kandidosisdalam Ilmu Penyakit Kulit dan KelaminEdisi IV.


Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Lalla RV, Patton LL, Dongari-Bagtzoglou A. 2013. "Oral candidiasis: patogenesis,


clinical presentation, diagnosis and treatment strategies.". Journal of the
California Dental Association.

Pappas, G., C Kauffman, D Andess., et al. 2009. Clinical Practice Guidelines for
the Management of Candidiasis: 2009 Update by the Infectious Diseases
Society of America. Clinical Infectious Diseases; 48:50335.
Richard, E. Behrman, Robert, M. Kliegman, Ann M. Arvin. 2012. Ilmu Kesehatan
Anak Nelson.Vol. 1. Jakarta: EGC.

19
Richardson MD, Warnock DW. 2003. Fungal infection. Edisi ke 3, Oxford :
Blackwell Publication.

Shellack, N. 2012.Recurrent vulvovaginal candidiasis.S Afr Pharm J;79(6):14-17.

Siregar. 2008. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: EGC.

Suyoso, Sunars. 2012. Candidiasis Mukosa. Surabaya: SMF Ilmu Kesehatan Kulit
dan Kelamin FK Airlangga.

Syamsuni.2006. Farmasetika dasar dan hitungan farmasi. Jakarta: EGC.

Venkatesan P. Perfect JR, & Myers SA. Evaluation and management offungal
infection in Immunocompromised patients, Dermatol Ther; 2005.18 : p.
44-57.

Williams, david., M. Lewis. Patogenesis and Treatment of Oral


Candidosis.Journal of Oral Microbiology. 2011, 3:5771-DOI.

Yamada T, Alpers DH, et al. 2009. Textbook of gastroenterology (5th ed.).


Chichester, West Sussex: Blackwell Publishing.

20