Anda di halaman 1dari 14

PENATALAKSANAAN RJP

( Resusitasi Jantung Paru )


No.Dokumen No.Revisi Halaman

Prosedur Tanggal Terbit Ditetapkan Direktur


Tetap

.
dr.BAMBANG HARYATNO M.Kes
Pembina Tk.I / IV b
NIP 19600501 198712 1 002
Pengertian Rangkaian tindakan untuk mengembalikan fungsi jantung dan paru.
Tujuan Merangsang terjadinya nafas spontan
Merangsang fungsi / denyut jantung

Kebijakan Dilakukan pada pasien tidak sadar


Dilakukan pada pasien henti jantung dan henti nafas
1. Petugas menjelaskan kepada keluarga pasien tentang prosedur yang akan dilakukan
2. Menyiapkan alat alat yang diperlukan :
Tensi meter
stetoskop
ambubag
mayo
suction
seperangkat infus
tabung oksigen dan canul aksigen
hand scoon
3. Petugas megambil posisi disamping pasien sebatas pundak pasien
4. yakinkan pasien telah bebas jalan nafas ( head tilt, jow trus, chin lift )- look listen and
feel
5. berikan nafas 2 kali dengan ambubag dengan volume normal
Prosedur 6. yakinkan denyutan nadi pada leher pasien tidak teraba artinya pasien mengalami
henti jantung
7. tentukan titik tumpu tekan jantung dengan cara menarik garis vertical dari puing
mamae kanan ke kiri atau sebaliknya, ambil titik tengan pertemuan dengan sternum
(titik tumpu)
8. letakkan telapak tangan kanan tertumpu pada telapak tangan kori dengan ujung
ujung jari saling merangkul (usahakan ujung ujung jari tidakmenyentuh atau menekan
dinding dada )
9. kedua lengan petugas tegak lurus bertumpu pada tumit telapak tangan diatas titik
tumpu tekan jantung
10. selanjutnya dengan menjatuhkan berat badan melalui kedua lengan maka tekanan
akan diteruskan pada titik tumpu tekan jantung
11. usahakan tekanan tersebut dapat mengakibatkan tulang dada tertekan 4 5 cm
kedalam, dengan harapan jantung dibawah tulang dada akan terjepit antara tulang
dada dan tulang belakang. Hal ini mengakibatkan darah dalam jantung terjepit dan
mengalir melalui pembuluh darah dan akan mengalir keseluruh tubuh.
12. Sesaat setelah menekan kendorkan kedua lengan petugas, saat itu maka jantung
tidak terjepit dan akan mengembang dan darah dari bagian tubuh mengalir masuk
jantung lagi
13. Selanjutnya tekan ulang, kendorkan lagi, tekan ulang dan seterusnya. Usahakan
waktu tekan sama dengan waktu kendor
14. Perbandingan pijat jantung dengan nafas ambubag 30;2
15. RJP harus dilakukan selama 2 menit atau 5 (lima ) siklus dengan 30 kompresi dan 2
ventilasi
16. setelah tindakan no. 15 petugas harus memeriksa adanya denyut nadi korotis, pada
waktu yang sama lihat dengan dan rasakan pernafasan ( tindakan ini tidak boleh
dilakukan lebih dari 10 detik ). Jika tidak ada denyut nadi lakukan RJP lagi, jika ada
denyut nadi namun tidak ada pernafasan lakukan bantuan pernafasan.
17. jika pasien sudan bernafas dan nadinya ada, pindahkan pasien ke posisi recovery
dan monitor denyut nadi setiap 2 menit.
CATATAN ; kedalaman kompresi untuk anak anak umur 1 8 thn : diperkirakan 1/3
kedalaman dari dinding sedangkan untuk bayi kurang dari 1 tahun kedalaman kompresi
hingga setengah dada.
Unit Terkait Instalasi Gawat Darurat. ICU/ICCU, NICU, Ruang Rawat Inap.

MENJAHIT LUKA
No.Dokumen No.Revisi Halaman

Prosedur Tanggal Terbit Ditetapkan Direktur


Tetap

. dr.BAMBANG HARYATNO M.Kes


Pembina Tk.I / IV b
NIP 19600501 198712 1 002
Pengertian Rangkaian tindakan untuk mengembalikan atau menyatukan jaringan yang robek atau
rupture dengan cara dijahit.

Tujuan Untuk mengembalikan atau menyatukan jaringan yang ruptur.

Kebijakan Dilakukan pada pasien rupture atau sobek pada jaringan.

1. Petugas menjelaskan kepada keluarga pasien tentang perasat yang akan dilakukan
2. Petugas cuci tangan
3. Petugas menggunakan sarung tangan steril dan menyiapkan hehting set, dug
lobang, anti septic ( betadin ) plester dan hand skoon.
4. Pasien diberitahu dengan cara menyebut nama pasien
5. Jaringan yang sobek dilakukan anestesi local dengan menggunakan lidokain atau
pehakain sesuai dosis.
6. Membersihkan atau sterilisasi bagian tubuh yang akan dilakukan penjahitan dengan
larutan antiseptic dengan gerakan dari dalam luka keluar
7. Jaringan yang rupture ditutup dengan dug lobang steril.
8. Menggunakan pinset bergerigi untuk mengangkat tepi luka
Prosedur 9. Memasang jarum lengkung sesuai ukuran pada nail puder dan memasang benang
jahit yang diperlukan
10. Masukkan jarum pada kulit dengan posisi tegak lurus dengan posisi tangan pronasi
penuh dan siku membentuk 90 derajat, bahu adduksi
11. Penusukan dilakukan 1 cm dari tepi luka didekat tempat yang dijepit pinset dengan
cara mengangkat kulit dan kulit ditegangkan
12. Mendorong jarum maju dengan gerakan spinasi pergelangan tangan dan adduksi
bahu yang serentak, dalam arah melengkung sesuai dengan lengkungan jarum
13. Setelah jarum muncul dari balik kulit, ujung jarum ditarik dengan klem pemegang
jarum dan benang ditarik sampai ujungnya tersisa 2 3 cm dari kulit. Lalu benang
dipotong
14. Menusukkan jarum ketepi luka yang lain dengan cara yang sama sampai jaringan
yang sobek telah terjahit semua.
15. Melakukan evaluasi hasil jahitan agar hasil jahitan tidan terlalu ketat dan tepi luka
saling bertemu
16. Simpul diletakkan ditepi luka
17. Luka ditutup dengan menggunakan sufratule dan kassa steril lalu difiksasi dengan
plester hingga rapi.
Unit Terkait Instalasi Gawat Darurat, Kamar bedah
PEMERIKSAAN EKG
( Elektro Kardio Grafi )
No.Dokumen No.Revisi Halaman

Tanggal Terbit Ditetapkan Direktur

Prosedur Tetap
. dr.BAMBANG HARYATNO M.Kes
Pembina Tk.I / IV b
NIP 19600501 198712 1 002
Pengertian Pemeriksaan EKG adalah pemeriksaan untuk mengetahui gambaran irama jantung dengan
menggunakan alat Elektro Kardiografi.

Tujuan Sarana pendukung untuk menegakkan diagnosa.

Kebijakan Pemeriksaan EKG dilaksanakan pada semua pasien dengan kecurigaan adanya gangguan
pada fungsi jantung.

Prosedur 1. Petugas cuci tangan,


2. Menyiapkan alat alat,
3. Petugas memberikan salam dengan cara memanggil pasien menyebut nama pasien
serta menjelaskan tindakan yang akan dilakukan.
4. Menganjurkan pasien untuk berbaring di tempat tidur dengan posisi supinasi atau
pasisi fowler untuk pasien dengan gangguan respirasi
5. Berikan privasi dan minta pasien untuk melepas pakaian terutama dibagian dada,
pergelangan tangan dan mata kaki
6. Menganjurkan pasien untuk tetap berbaring, tidak bergerak, tidak batuk atau
berbicara saat dilakukan EKG untuk mencegah terjadinya artifact.
7. Memasang electrode pada tubuh pasien dengan lebih dahulu memberikan jelly pada
permukaan electrode
a. Kabel RA (right arm) dihubungkan dengan electrode dipergelangan tangan
kanan
b. Kabel LA (left arm) dihubungkan pada pergelangan tangan kiri
c. Kabel LL (left Leg) dihubungkan dengan pergelangan kaki kiri
d. Kabel RL (right Leg) dihubungkan dengan pergelangan kaki kanan
e. V 1 : diruang intercosta 4 kanan ditepi kanan sternum
f. V 2 : diruang intercostals 4 kiri ditepi kiri sternum
g. V 3 : dipertengahan V2 dan V4
h. V 4 : diperpotongan antara linea mediovlacikularis kiri dengan ruang
intercostals 5 kiri.
i. V 5 : diperpotongan antara linea axilaris anterior kiri dengan intercostals 5
kiri
j. V 6 : diperpotongan antara linea axillaries media kiri dengan intercosta 5
kiri.
8. Menghidupkan mesin EKG dengan cara menekan tombol power on / of.
9. menunggu beberapa detik sampai muncul tulisan STND
10. Pastikan tidak ada lead yang lepas
11. Pilih mode yang diinginkan AUTO. MANUAL atau ARRH.
12. Menekan tombol YES untuk ,memulai pencetakan hasil
13. Mengisi data pasien secara manual pada kertas hasil
14. Melepas electrode yang telah terpasang dan membersihkan bekas jelly yang ada
ditubuh pasien.
Unit Terkait Instalasi Gawat Darurat, Rawat Inap, ICU/ICCU
PEMASANGAN NECK COLLAR

No dokumen No revisi Halaman


1/1

.
Tanggal terbit Ditetapkan Direktur

Prosedur Tetap

.. dr.BAMBANG HARYATNO M.Kes


Pembina Tk.I / IV b
NIP 19600501 198712 1 002
Pengertian Memasang neck collar untuk immobilisasi leher (mempertahankan stabilitas tulang
cervikal )

Tujuan 1. Mencegah pergerakan tulang leher yang fraktur


2. Mencegah bertambahnya kerusakan tulang leher dan spinal cord
3. Mengurangi rasa sakit

Kebijakan Pemasangan Neck Collar harus dilakukan pada :


1. Pasien cedera kepala yang disertai penurunan kesadaran
2. Adanya jejas daerah klavikula kearah kepala
3. Pasien multi trauma
4. Biomekanika trauma yang mendukung
5. Patah tulang leher

Persiapan
- Alat :
1. Neck kollar sesuai ukuran
2. bantal pasir
3. hand skoon
- Pasien.
1. Informed consent
2. memberikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan
Prosedur 3. Posisi pasien : terlentang dengan posisi leher segaris
4. dilakukan 2 petugas

Pelaksanaan.
1. Petugas cuci tangan, menggunakan masker dan memakai sarung tangan
2. Pegang kepala dengan cara satu tangan memegang bagian kanan kepala mulai
dari mandibula kearah temporal, demikian juga bagian sebelah kiri dengan tangan
yang lain dengan cara yang sama
3. Petugas lainnya memasukkan neck kollar secara perlahgan kebagian belakang
leher dengan sedikit melewati leher
4. Letakkan bagian neck kollar yang bertekuk tepat pada dagu
5. Rekatkan 2 sisi neck kollar satu sama lain
6. Pemasangan jangan terlalu ketat atau terlalu longgar.
7. Pasang bantal pasir dikedua sisi kepala pasien
8. Beri tahu ke pasien bahwa pemasangan telah selesai dan tanya respon pasien.
9. Petugas melepas sarung tangan dan cuci tangan
10. Catat seluruh tindakan yang dilakukan dan catat respon pasien

Unit terkait IGD, Poliklinik Saraf, Bangsal Saraf.


PEMASANGAN TAMPON PADA
EPISTAKSIS
No.Dokumen No.Revisi Halaman
1/1
..

Tanggal terbit Ditetapkan Direktur

Prosedur Tetap

.. dr.BAMBANG HARYATNO M.Kes


Pembina Tk.I / IV b
NIP 19600501 198712 1 002
Pengertian Pemasangan tampon melalui rongga hidung untuk mengatasi perdarahan dari hidung yang
dapat terjadi akibat sebab local maupun umum/sistemik.

Tujuan Mengatasi perdarahan dari hidung.

Kebijakan Perdarahan hidung anterior/posterior harus ditampon.

Prosedur
- Personalia Satu orang dokter, satu orang asisten

Alat : *tampon hidung, larutan adrenalin 1 : 10.000, sprei Xilokain, albotil atau triklor asam
- Perlengkapan asetat10%, salep antibiotic, betadine, tampon bellog, kapas , plester, kain kasa.
Bahan :* tampon hidung, larutan adrenalin 1;10.000, sprei xilokain, albotil atau triklor asam
asetat 10%, saleb antibiotic, betadin, tampon belloq, kapas, plester, kain kasa.

1. Penderita duduk di depan pemeriksa dokter : Dilakukan tampon kapas adrenalin ke


dalam hidung di tunggu 5 menit, kemudian tampon dianggkat diperhatikan rongga
hidung, dicari sumber pendarahan bila dari anterior rongga hidung dilakukan tampon
- Cara kerja anterior, dengan cara memasukkan tampon padat betadin yang telah diolesi saleb
antibiotik.
2. Bila perdarahan dari posterior rongga hidung dilakukan pemasangan bellog tampon
(lihat SOP bellog tampon).

Unit terkait Poliklinik THT, IGD, Instalasi Rawat Inap


PEMASANGAN NASO GASTRIK TUBE (NGT)
No dokumen No revisi Halaman

. ............................... ..................................

Tanggal terbit Ditetapkan Direktur

Prosedur Tetap
.. dr.BAMBANG HARYATNO M.Kes
Pembina Tk.I / IV b
NIP 19600501 198712 1 002
Pengertian Pemasangan selang Nasogastric adalah pemasangan selang melalui saluran nasopharing
sampai dengan gaster.
Tujuan Terapi
Kebijakan
- Pemasangan selang nasogastric dilakukan pada penderita dengan kondisi-kondisi
sebagai berikut ( indikasi ) :

Pasien tidak dapat menelan oleh karena berbagai sebab (NGT atau flocare)

Perdarahan saluran cerna bagian atas (NGT) untuk bilas lambung (mengeluarkan
cairan lambung / hematin)

Pasien ileus obstruktif / ileus paralitik dan pankreatitis akut untuk dekompresi /
menyalurkan cairan lambung keluar.

- Kontraindikasi pemasangan pipa nasogastric :

Pasien tidak kooperatif


Prosedur
-Personalia Satu orang dokter, satu orang perawat

-Perlengkapan Sonde lambung yang telah diukur dan diberi sundip lidah (spatel tounge ), penyumbat
atau tutup sonde, air , plester dan gunting , bengkok, stetoskop ,jelly

-Cara kerja Cara melaksanakan pekerjaan ini adalah sebagai berikut :


- Memberi tahu dan menjelaskan kepada pasien keluarganya
- Mengatur posisi pasien bila perlu
- Mencuci tangan sebelum melaksanakan tindakan
- memasang perlak dan alasnya di bawah dagu pasien.
- letakkan bengkok disisi pasien
- Jika sonde tidak ada batas tanda panjang sonde yang akan dimasukkan , ukur panjang
sonde dengan cara :
* Ukur panjang sonde mulai dari ujung hidung ke lubang telinga kemudian dari telinga
ke prcessus siphoidens .
* Pada bayi ( infant), ukur panjang sonde dari ujung hidung ke lobang telinga
kemudian dari telinga ke titik tengah antara processus siphoidens dan umbilicus.
*Tandai panjang sonde tadi dengan plester.
- Kenakan sarung tangan dan lumasi sonde yang akan dipasang dengan jelly ( water-
solube lubricant)
- Posisikan kepala pasien dalam keadaan flexi dengan pandangan kearah depan. Pegang
sonde dengan tangan kanan kurang lebih 3 inchi dari ujung sonde, perlahan lahan
masukkan sonde yang telah diklem ke dalam lobang hidung menyusuri dasar cavum nasi.
- Pasien dianjurkan untuk menelan dan menarik nafas sekali-sekali sambil operator
mendorong sonde perlahan-lahan sampai batas ukuran yang telah ditandai.
- Jika pasien tiba tiba batuk-batuk atau dyspnea, maka sonde harus segera ditarik karena
kemungkinan sonde masuk ke dalam trakea.
- Memastikan apakah sonde benar-benar telah masuk lambung dengan cara memasukan
pangkal sonde ke dalam air kemudian klem dibuka. Jika ternyata sonde masuk lambung,
tandanya tidak ada gelembung udara yang keluar.Sebaliknya, jika gelembung udara yang
keluar banyak dan berentetan, hal ini menandakan sonde masuk ke dalam paru-paru, maka
sonde harus segera dicabut.
- Untuk memastikan apakah sonde telah masuk ke dalam lambung selain cara di atas
dapat juga diketahui dengan cara :
* Aspirasi cairan gastrointestinal : biasanya dapat dikenali dari warnanya yang hijau
kecoklatan.
* Auskultasi : masukkan 10-15 ml udara lewat sonde dan auskultasi daerah
epigastrium maka akan terdengar suara gelembung-gelembung udara (gurgling,
bubbling noise)
* Foto rontgen abdomen untuk memastikan apakah sonde telah terpasang dengan
baik dan benar.
- Sumbat pangkal sonde dengan penyumbat sonde, kemudian dibungkus dengan kasa
steril dan........

Unit Terkait
EXTERPASI (PENGAMBILAN)
BENDA ASING DALAM HIDUNG
No.Dokumen No.Revisi Halaman

.. ........................................ ...............................

Tanggal Terbit Ditetapkan Direktur

Prosedur Tetap
dr.BAMBANG HARYATNO M.Kes
Pembina Tk.I / IV b
NIP 19600501 198712 1 002
Pengertian Pengambilan benda asing yang berada di dalam rongga hidung.

Tujuan Bertujuan untuk menjaga kelancaran jalan nafas.

Kebijakan Benda asing di dalam rongga hidung harus dikeluarkan secepatnya.

Prosedur
- Personalia Satu orang dokter, satu orang perawat

Alat : tang tampon, bengkok, lampu kepala, pompa hisap, hak/alat pengait berbagai
- Perlengkapan ukuran, tang buaya, speculum hidung.
Bahan : Spray Xilokain, larutan adrenalin yang sudah diencerkan, kapas.

Penderita duduk di depan pemeriksa : dokter . Dilakukan pemeriksaan hidung,


diidentifikasi benda asing yang ada, diambil dengan alat pengait yang sesuai atau
-Cara kerja dengan tang buaya.
Bila ada perdarahan segera di atasi dengan kapas tampon yang dibasahi
adrenalin encer.
Pada anak-anak posisi dipangku oleh ibunya dengan kepala difiksasi oleh
seorang asisten, setelah tenang baru dilakukan tindakan. Bila tidak berhasil
dilanjutkan dengan menggunakan anastesi umum di kamar operasi.

Unit terkait Poliklinik THT, IGD, OK, Ruang Rawat Inap.


PENGAMBILAN BENDA ASING DI KANALIS
AUDITORIUS EKSTERNA (Liang Telinga Luar)

No.Dokumen No.Revisi Halaman


.. ......................... ..........................

Tanggal terbit Ditetapkan Direktur

Prosedur Tetap
dr.BAMBANG HARYATNO M.Kes
Pembina Tk.I / IV b
NIP 19600501 198712 1 002
Pengertian Pengambilan benda asing yang terdapat/ masuk di liang telinga luar.

Tujuan Untuk menjaga agar tidak terjadi gangguan fungsi telinga.

Kebijakan Benda asing di telinga luar yang harus dilakukan pengambilan segera.
Kontra indikasi:
- Adanya infeksi pada kanalis auditorius.
- Adanya inflamasi/oedem pada kanalis auditorius.

Prosedur
-Personalia Satu orang dokter, satu orang perawat

Alat : speculum hidung, tang tampon, forsep buaya, kuret telinga, bengok,
-Perlengkapan aplikator, lampu kepala, alat irigasi, pompa hisap.
Bahan : larutan adrenalin 1:1000,sprei xilokain, larutan salin/akuades dengan suhu
37 C,tampon kapas.

Penderita duduk di depan pemeriksa : dokter . Dilakukan pemeriksaan otoskopi. Bila


dijumpai binatang masih hidup, dimatikan lebih dahulu dengan larutan antiseptic atau
disemprotkan Xilokain spray, dilakukan pengambilan dengan forsep buaya. Bila ukuran
-Cara kerja
kecil(semut) dilakukan dengan irigasi, dengan syarat membrane timpani tidak perforasi.
Bila tidak berhasil dilakukan pengambilan dengan anestesi umum.

Unit terkait Poliklinik THT, IGD, OK, Ruang Rawat Inap.


SERUMEN EKSPLORASI

No dokumen No revisi Halaman


. ......................... ...................

Tanggal terbit Ditetapkan Direktur

..
Prosedur Tetap
dr.BAMBANG HARYATNO M.Kes
Pembina Tk.I / IV b
NIP 19600501 198712 1 002
Pengertian Serumen Eksplorasi adalah pengambilan serumen yang merupakan hasil sekresi dan
diskuamasi kelenjar sebacea dan kelenjar seruminosa dalam kanalis auditorius externa
pars cartilaginea.

Tujuan Terapi.

Kebijakan Dilakukan pada penderita yang serumennya berlebihan sehingga menggangu fungsi
pendengaran.

Prosedur
-Personalia Satu orang dokter, satu assistant.
-Perlengkapan Alat : lampu kepala, cerumen hak, suction.
Bahan : kasa, kapas, NACL, perhidrol 3%.

-Cara kerja
- Pasien duduk di kursi poli atau anak-anak dipangku
- Telinga yang akan diperiksa disorot lampu kepala
- Serumen yang keras bisa dilunakkan dengan cairan NACL,carbogliserin,
kemudian dengan serumen hak kita kait dikeluarkan.
- Serumen yang sudah lunak atau lembek disuction sampai bersih.
- Serumen yang sangat keras dilunakkan dengan carbogliserin kurang lebih tiga
hari, pasien suruh control lagi.

Unit Terkait Poliklinik THT, IGD

MEMASANG GIPS
No dokumen No revisi Halaman
. .

Tanggal terbit Ditetapkan Direktur

Prosedur Tetap
..

dr.BAMBANG HARYATNO M.Kes


Pembina Tk.I / IV b
NIP 19600501 198712 1 002
Pengertian
Memasang gips adalah memasang alat untuk imobilisasi ( mempertahankan kedudukan
tulang ) dengan menggunakan bahan gibs.

Kebijakan
- Dilakukan pada pasien yang mengalami patah tulang tertutup.
- Untuk mempertahankan stabilitas posisi tulang, sehingga mempercepat proses
penyambungan tulang.

Persiapan 1. Alat
a. Hand skoon, masker, soft band, roll verban, air dalam Waskom, perlak
b. Gipsona sesuai ukuran den kebutuhan
c. Kassa steril dan cairan alcohol.
2. Pasien
a. Pasien diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan
b. Posisi pasien bisa sambil tiduran atau sesuai kebutuhan
3. Lingkungan bersih dan nyaman
4. Petugas : minimal 3 orang.

a. Petugas menggunakan masker dan hand skoon


Prosedur
b. Petugas 1 mengangkat daerah yang akan dipasang gips
c. Petugas 2 memasang soft band pada daerah yang akan dipasang gips diusahakan
melewati dua persendian anggota gerak
d. Petugas 2 membalut dengan gips basah pada daerah yang telah dilapisi soft band
dilakukan Lapis demi lapis jumlah gips yang dibutuhkan disesuaikan dengan lokasi
patah tulang
e. Petugas 1 tetap mempertahankan posisi menunggu sampai gips yang telah dipasang
kering
f. Setelah gips kering posisi dapat diatur sesuai dengan kenyamanan pasien
g. Petugas menukar hand skoen dan cuci tangan
h. Mencatat respon dan tindakan yang telah dilakukan dalam rekam medik pasien

Unit terkait
IGD, OK, Poliklinik Bedah

MERAWAT LUKA JAHITAN


No dokumen No revisi Halaman
. ......................... .........................

Tanggal terbit Ditetapkan Direktur

Prosedur Tetap
..

dr.BAMBANG HARYATNO M.Kes


Pembina Tk.I / IV b
NIP 19600501 198712 1 002
Suatu rangkaian kegitan yang meliputi membersihkan, mengobati, menutup dan membalut
Pengertian
luka
Tujuan Mencegah terjadinya infeksi
Memberi rasa nyaman pada pasien
Membantu penyembuhan primer
Kebijakan Semua pasien dengan luka
Semua pasien dengan luka bakar
Prosedur Persiapan
1. Alat
a) Alat steril
Masker, hand skoen
Ganti verban set
Duk lubang
Semprit 5 cc
Kain kassa
b)Alat tidak steril
Verban
Plester
Gunting verban
Bengkok
Tempat sampah
c) Obat dan cairan
Na Cl 0,9 %
Bethadin
Aquades
Sufratule
2. Pasien.
a) Pasien diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan
b) Posisi pasien berbaring di meja tindakan diruang bedah minor
c) Lingkungan bersih dan nyaman dilengkapi AC
d) Tindakan dilakukan 2 orang petugas

3. Pelaksanaan
a) Petugas melakukan cuci tangan dan menggunakan masker, handskoen
b) Mengatur posisi pasien sesuai dengan keadaan luka
c) Membersihkan daerah disekitar luka dari kotoran dan darah kering dengan cairan
Na Cl diulagi beberapa kali sampai luka nampak bersih
d) Permukan luka jahitan diolesi dengancairan bethadin kemudian ditutup dengan
sufratule
e) Terakhir luka jahitan ditutup dengan kain kassa steril kemudian dilakukan fiksasi
dengan plerster
f) Sisa kassa yang kotor dimasukkan ke bengkok yang bila sudah berakhir
masukkan ke kotak sampah.
g) Pasien diberi tahu bahwa tindakan telah selesai
h) Petugas melepas sarung tangan dan cuci tangan
i) Mencatat semua tindakan yang dilkukan, keadaan luka dan respon pasien di buku
rekam medis pasien.

Unit Terkait Instalasi Gawat Darurat, Rawat Inap, Poliklinik Bedah

PENANGANAN PASIEN CEDERA KEPALA


No dokumen No revisi Halaman

Tanggal terbit Ditetapkan Direktur

Prosedur Tetap ..
dr.BAMBANG HARYATNO M.Kes
Pembina Tk.I / IV b
NIP 19600501 198712 1 002
Pengertian Suatu keadaan dimana kepala mengalami cedera akibat dari trauma.
Tujuan 1. Mencegah kerusakan otak sekunder
2. Mempertahankan pasien tetap hidup
Kebijakan 1. Cedera kepala ringan
2. Cedera kepala sedang
3. Cedera kepala berat
Prosedur Persiapan alat
1. Masker, hand skoon
2. Tensi meter
3. Neck kollar
4. Suction
5. Oksigen lengkap
6. Intubasi set
7. Lampu batery
8. seperangkat infus dengan cairan Ringer Lactat
9. EKG
10. Gastrik tube
11. Foley cateter set
Cara kerja Pelaksanaan tindakan
1. Petugas menggunakan Alat Pelindung Diri ( Kaca Mata Safety, Masker,
Handscoen, Scort ).
2. Bersihkan jalan nafas dari kotoran ( darah, secret, muntah ) dengan suction.
3. Mobilisasi C spine dengan neck collar.
4. Jika tiba tiba muntah miringkan dengan teknik Log Roll .
5. Letakkan pasien diatas long spine board.
6. Bila pasien mengorok, pasang oropharingeal airway dengan ukuran yang sesuai,
oropharingeal jangan difiksasi.
7. Membantu dokter pasang intubasi jika ada indikasi.
8. Pertahankan Breathing dan Ventilation dengan memakai masker oksigen dan
berikan oksigen 100% diberikan dengan kecepatan 10 12 lt / menit.
9. Monitor Circulasi dan stop perdarahan, berikan infuse RL 1 2 lt bila ada tanda
tanda syok dan gangguan perfusi, hentikan perdarahan luar dengan cara balut
tekan.
10. Periksa tanda lateralisasi dan nilai Glasgow Coma Scale nya.
11. Pasang foley kateter dan pipa nasogastrik bila tak ada kontraindikasi.
12. Selimuti tubuh penderita setelah diperiksa seluruh tubuhnya, jaga jangan sampai
kedinginan.
13. Persiapan pasien untuk pemeriksaan diagnostic / foto kepala.

Unit terkait Instalasi Gawat Darurat

MEMASANG KATETER
No dokumen No revisi Halaman

. .............................

Tanggal terbit Ditetapkan Direktur

Prosedur Tetap ..
dr.BAMBANG HARYATNO M.Kes
Pembina Tk.I / IV b
NIP 19600501 198712 1 002

Pengertian

Tujuan

Kebijakan

A. Persiapan Alat
1. Kateter sesuai ukuran
2. Urine bag
3. Selimut
4. Duk steril
5. Sarung tangan steril
6. Kapas pembersih
7. Cairan disinfektan
8. Spuit yang telah diisi air steril,digunakan untuk mengisi balon
9. Jelly untuk melancarkan kateter
10. Label
11. Plester / fiksasi
B. Pelaksanaan
1. Memberikan salam, memanggil klien dengan namanya.
Prosedur 2. Menjelaskan tujuan, prosedur, dan lamanya tindakan pada klien / keluarga.
3. Memberikan kesempatan pada klien untuk bertanya.
4. Berikan privasi pada klien dengan menutup kamar / memasang tirai.
5. Mengatur posisi klien.
6. Memasang alas bokong.
7. Mendekatkan alat alat.
8. Memakai sarung tangan steril.
9. Menggunakan tangan non dominan untuk mengekspos meatus.
10. Melakukan desinfeksi menggunakan disinfektan dengan pinset secara aseptis.
11. Untuk laki laki menggunakan gerakan sirkuler, untuk wanita lakukan vulva
higiene.
12. Kasa kotor diletakkan dalam bengkok jauh dari area steril.
13. Menutup genitalia laki laki dengan duk lubang.
14. Tangan non dominan memegang penis atau membuka vulva.
15. Memasukkan jelly ke dalam uretra bila laki laki dan mengoles jelly pada
kateter bila wanita.
16. Memegang penis 45 dan memasukkan kateter 6 9 inchi samp[ai urine
keluar,dan memasukkan lagi kateter 2,5 cm.
17. Mengisi balon dengan air steril sejumlah yang tertera pada kateter.
18. Menarik kateter sampai ada tahanan.
19. Gunting plastik yang membungkus kateter.
20. Membuka sarung tangan.
21. Fiksasi kateter ke bawah abdomen pada pasien pria, fiksasi kateter pada paha
depan bila wanita.
22. Menempatkan urine bag dan saluran dengan benar.
23. Memberika posisi yang nyaman.
24. Membereskan alat alat.
25. Cuci tangan.
26. Catat proses pemasangan kateter, apakah lancar atau ada hambatan.
27. Catat respon pasien terhadap prosedur.
28. Catat urine yang keluar.
Unit terkait Instalasi Gawat Darurat, Rawat Inap.

Anda mungkin juga menyukai