Anda di halaman 1dari 43

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

MARKAS BESAR

RENCANA STRATEGIS
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2015 - 2019

BAB I
PENDAHULUAN

1. Kondisi Umum

Pembangunan Nasional adalah rangkaian upaya pembangunan yang


berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan
negara untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional sebagaimana
dirumuskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945. Dalam melaksanakan Pembangunan Nasional, Indonesia sebagaimana
telah dicantumkan dalam UU Nomor 17 Tahun 2007 telah menetapkan Visi
Pembangunan Nasional tahun 2005-2025 yaitu Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil,
dan Makmur. Dalam implementasinya, RPJPN dibagi dalam tahapan pembangunan
nasional yang disebut dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN), yaitu RPJMN I Tahun 2005-2009; RPJMN II Tahun 2010-2014; RPJMN III
Tahun 2015-2019; dan RPJMN IV Tahun 2020-2025.

Dalam menjabarkan agenda Pembangunan Nasional sebagaimana tercantum


dalam RPJMN, Polri telah menetapkan 4 (empat) tahapan Renstra Polri yang meliputi:
Renstra Tahap I untuk tahun 2005-2009, Renstra Tahap II untuk tahun 2010-2014,
Renstra Tahap III untuk tahun 2015-2019, dan Renstra Tahap IV untuk tahun 2020-
2025. Sejak tahun 2010, Polri telah melaksanakan Renstra Polri tahun 2005-2009 dan
saat ini, Polri sedang melaksanakan Renstra Polri tahun 2010-2014. Pada
pelaksanaan Renstra Polri 2005-2009, Polri berusaha mewujudkan Postur Polri yang
profesional, bermoral dan modern sebagai pelindung, pengayom dan pelayan
masyarakat yang terpercaya dalam memelihara kamtibmas dan menegakkan hukum,
sedangkan saat ini Polri sudah memasuki tahap akhir pelaksanaan Renstra Polri
sedangkan........
2

2010-2014, Polri berusaha mewujudkan pelayanan kamtibmas prima, tegaknya hukum


dan kamdagri mantap, serta terjalinnya sinergi polisional yang proaktif.

Pelaksanaan Renstra Polri 2010-2014 sejak tahun 2010 sampai dengan tahun
2014 berjalan cukup baik. Hal ini ditandai dengan kondisi kamtibmas yang cenderung
stabil dan terkendali serta dapat memberikan suasana kondusif dalam kehidupan
masyarakat dan aktivitas pemerintahan. Meskipun dalam kurun waktu tersebut masih
terjadi berbagai gangguan kamtibmas, khususnya konflik sosial yang terjadi di
beberapa wilayah tertentu, yang memerlukan penanganan secara khusus dan
penyelesaian secara komprehensif dengan instansi terkait, Polri secara umum telah
dapat mencapai sasaran-sasaran stretegis yang telah direncanakan dalam Renstra
Polri 2010-2014.

Beberapa keberhasilan yang telah digelar dalam mendukung pelaksanaan tugas


Polri diantaranya di bidang Organisasi sebagai bagian dari reformasi birokrasi dengan
ditetapkannya Perkap Nomor 21, 22, dan 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi
dan Tata Kerja Satuan Organisasi di lingkungan Polri. Selain itu, Polri telah berusaha
untuk mendorong sebaran pelayanan kamtibmas dan meningkatkan pelaksanaan
tupoksinya melalui pengembangan organisasi dengan penambahan Satker baru
hingga seluruhnya menjadi 1.218 Satker serta pembentukan Satpolair, Satlantas Tipe
Metropolitan di lingkungan Polda Metro Jaya, dan Pembentukan Unit lantas Polsek
Tipe Rural dan Prarural.

Pada sistem penganggaran, Polri telah menjabarkan pelaksanaan Renstra


2010-2014 dalam 13 (tiga belas) program dan 89 (delapan puluh sembilan) kegiatan
sesuai dengan Keputusan Kapolri Nomor: Kep/179/III/2011 tanggal 31 Maret 2011
tentang Restrukturisasi program dan kegiatan. Sementara itu terkait dengan anggaran,
dukungan anggaran Polri selama ini telah menunjukan kenaikan yang cukup
signifikan. Pada tahun 2010, dukungan anggaran Polri hanya sebesar Rp 27,794 triliun
dan sampai pada tahun 2013, dukungan anggaran Polri tersebut telah meningkat
hingga mencapai Rp 47,232 triliun. Walaupun telah mengalami kenaikan, dukungan
anggaran Polri selama ini ternyata masih didominasi oleh Belanja Pegawai dan
Belanja Modal, sedangkan untuk Belanja Barang guna mendorong operasionalisasi
pelaksanaan tupoksi, dukungan anggaran bagi Polri justru dirasakan masih sangat
terbatas.

Dalam rangka pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), Polri telah


Dalam........
3

berusaha melakukan upaya-upaya peningkatan kualitas dan kuantitas SDM Polri guna
menghadapi segala tuntutan tugas Polri dan untuk mencapai rasio polisi ideal 1:575
pada akhir tahun 2014. Saat ini, jumlah personel Polri telah mencapai 391.613 orang
dengan rasio 1:607. Strategi yang dilaksanakan ialah penambahan anggota Polri
dengan mengutamakan putra daerah (Prinsip local boy for local job) yang
dilaksanakan setiap hari sepanjang tahun dengan memanfaatkan sekolah unggulan
melalui penyelarasan waktu kelulusan sekolah dengan pelaksanaan pendidikan
pembentukan di lingkungan Polri. Rekrutmen anggota Polri dijaring dari calon-calon
yang berkualitas, baik secara kesamaptaan jasmani, moral kepribadian, maupun
intelektual, melalui proses werving yang dilakukan secara proporsional, bersih,
transparan dan objektif serta akuntabel dengan melibatkan pihak luar sebagai
pengawas. Selain itu, Polri telah memperoleh kesempatan untuk merekrut sebanyak
50.000 orang sebagai Brigadir dan Tamtama Polri sampai dengan tahun 2014.

Pada bidang pembangunan sarana dan prasarana, sejalan dengan arah bijak
Polri dalam meningkatkan keamanan dan ketertiban masyarakat melalui
penanggulangan kriminalitas secara profesional, bermoral dan modern, serta
menjunjung tinggi HAM, Polri telah berupaya melakukan pemenuhan sarana dan
prasarana Polri, antara lain dengan: membangun sarana kepolisian yang soft power
dan tidak melanggar HAM; membangun Layanan Contact Centre 110; menambah
ranmor operasional maupun ranmor khusus; melakukan pengadaan peralatan Dalmas,
PHH Brimob diantaranya security barrier dan kendaraan taktis berupa APC dan AWC;
membangun fasilitas kepolisian dalam upaya mendekatkan Polisi dengan masyarakat
termasuk pembangunan Polsek dan Polsubsektor di wilayah perbatasan dan pulau-
pulau terluar yang berpenghuni dan berpenduduk.

Di bidang operasional, khususnya dalam pengungkapan jaringan terorisme, Polri


telah mencapai beberapa keberhasilan, diantaranya ialah: pengungkapan pelatihan
militer dengan menggunakan senjata api di Janto Banda Aceh, kasus terorisme bom
Klaten, bom bunuh diri di Mesjid Polresta Cirebon, kasus bom buku di Jakarta, kasus
perampokan di Bali, kasus pelatihan militer di Poso. Sedangkan untuk pengungkapan
kasus kejahatan narkoba, Polri telah berhasil mengungkap beberapa kasus besar
diantaranya ialah: penangkapan bandar narkoba dan shabu senilai Rp. 15,5 miliar
di terminal Lampung; penangkapan bandar narkoba dan shabu senilai Rp 15 miliar
di kompleks pertokoan Marinatama Pademangan Jakarta Utara; menggagalkan
penyelundupan........
penyelundupan 6,8 kg shabu senilai Rp 10,8 miliar dari Malaysia di Sanggau,
4

Kalimantan Barat.

Sementara itu, di bidang pelayanan publik sebagai pelaksanaan Quick Wins


seperti pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan road safety, Quick Respon, olah TKP,
inspektur tangkas, SP2HP, SKCK, Polmas Perairan, Barikade (Barisan Keamanan
Desa), BLKK( Balai layanan Kamtibmas Keliling), Sambang Nusa, Brimob Nusantara,
Akses transparansi online, hukum kepolisian online, IPTEK POL online, serta
mengembangkan pelayanan pengadaan barang dan jasa melalui Layanan Pengadaan
Secara Elektronik (LPSE) telah terbangun dan tersedia di seluruh Polda. Terkait
dengan upaya-upaya tersebut, banyak Unit Pelayanan Polri yang telah memperoleh
penghargaan yang antara lain berupa Sertifikat ISO dari lembaga yang kompeten
(SUCOFINDO) dan penghargaan Pelayanan Prima dari pemerintah Republik
Indonesia.

Selain keberhasilan-keberhasilan tersebut, selama tahun 2010 sampai dengan


tahun 2014, Polri ternyata masih menemui beberapa tantangan. Di bidang
operasional, permasalahan konflik sosial masih marak terjadi di beberapa tempat di
Indonesia, diantaranya: Lampung, Kaltim, Papua, Sulawesi Tengah, dan Aceh, yang
memerlukan penanganan secara serius, komprehensif, dan berkesinambungan.
Sementara itu, dalam upaya menangani potensi-potensi konflik sebagai faktor pemicu
berkembangnya konflik sosial, seperti: masalah agraria, sengketa sumber daya alam,
dan lain sebagainya, Polri ternyata belum optimal dalam mewujudkan sinergi polisional
dengan berbagai lembaga dan instansi yang ada.

Di bidang SDM, Polri menemui tantangan-tantangan antara lain berupa:


penambahan dan penyusutan personel yang masih tidak seimbang; kualitas SDM Polri
yang belum sepenuhnya sesuai standar kompetensi yang diharapkan; dan
kesejahteraan personel Polri yang masih belum memadai. Sedangkan di bidang
sarana dan prasarana, Polri masih menemui tantangan-tantangan antara lain berupa:
masih banyak fasilitas Polri yang belum dibangun, bahkan sebagian masih menyewa,
mengontrak atau meminjam; masih banyak bangunan Polri yang merupakan
bangunan lama atau tidak layak dalam memberikan pelayanan bagi masyarakat; serta
banyak peralatan Polri yang sudah tidak layak pakai.

Di bidang anggaran, dukungan anggaran bagi Polri yang berupa belanja barang
Di bidang........
untuk mendukung tupoksi Polri ternyata masih minim sehingga mengakibatkan
5

pelaksanaan tupoksi selama ini tidak dapat terlaksana secara optimal. Tunjangan
kinerja bagi personil Polri dengan beban dan tantangan tugas di lapangan yang
semakin berat dan komplek ternyata relatif masih lebih kecil dibandingkan dengan K/L
lainnya. Selain itu, belanja pemeliharaan yang tersedia dirasakan tidak memadai
dikarenakan penambahan peralatan materiil dan pembangunan fasilitas Polri selama
ini ternyata tidak diimbangi dengan penambahan anggaran belanja pemeliharaan
tersebut.
Polri ke depan akan menghadapi berbagai perkembangan gangguan Kamtibmas
yang semakin komplek dan mengarah pada transnational crime (kartel, bioterorism,
narcoterorism, cyber crime). Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
khususnya teknologi informasi dan komunikasi, sangat berpengaruh terhadap kondisi
kamtibmas yang tentunya berdampak pada operasionalisasi tupoksi Polri di lapangan,
sedangkan untuk menghadapi hal tersebut, kondisi peralatan Polri yang ada saat ini
dirasakan belum mampu mengimbangi perkembangan tersebut. Masih adanya
permasalahan-permasalahan sosial ditengah-tengah kehidupan masyarakat yang
berimbas kepada beberapa sektor kebijakan yang menimbulkan berpotensi konflik,
yang pada akhirnya berdampak pada meningkatnya gangguan kamtibmas di
masyarakat. Selain itu, seiring perkembangan jaman, pergeseran nilai-nilai sosial di
masyarakat yang begitu cepat ternyata juga berdampak terhadap berkembangnya
gangguan kamtibmas.

2. Potensi dan Permasalahan


a. Potensi Gangguan Keamanan
1) Pekembangan Aspek Kehidupan
a) Global
(1) Negara-negara diseluruh dunia masih menganggap demokrasi
liberal sebagai sistem pemerintahan yang paling ideal. Negara-
negara barat (Amerika Serikat dan Uni Eropa) masih terus
berupaya mengarahkan sistem demokrasi liberal dan
neoliberalisme sebagai sistem politik dan ekonomi bagi negara-
negara berkembang. Hegemoni, infiltrasi dan pemaksaan terus
dilakukan melalui berbagai lembaga internasional seperti WTO,
PBB, WB, IMF serta berbagai skema bantuan internasional.
(2) seiring........
(2) Seiring dengan perjalanan waktu, kekuatan demokrasi AS telah
mendapat tantangan dari kelompok Sosialisme Baru yang kian
6

berkembang di Amerika Latin, dan meraih puncak kekuasaan di


beberapa negara seperti Venezuela, Paraguay, Chile dan
Argentina. Selanjutnya terjadi penguatan politik ekonomi dalam
skala regional di Amerika Latin melalui bentuk kerjasama dengan
Republik Rakyat Cina dan Rusia.
(3) Tantangan demokrasi liberal juga muncul dari kelompok
fundamentalisme Agama untuk melawan pengaruh dengan
mengembalikannya pada nilai-nilai awal/orisinalnya. Kelompok ini
berkembang dalam berbagai negara dan agama. Di Amerika
Serikat, fundamentalisme agama Kristen berkembang dalam
bentuk sekte-sekte bahkan yang mempersenjatai diri seperti
Jemaat David Korresh. Di kawasan Asia dan Afrika,
fundamentalisme agama Islam tumbuh sebagai dampak
globalisasi ekonomi dan reaksi terhadap dominasi AS.
Fundamentalisme agama Islam berpusat di negara-negara yang
mayoritas penduduknya beragama Islam seperti Maroko, Saudi
Arabia, Afghanistan, Pakistan dan Indonesia. Dalam pandangan
AS, fundamentalisme agama kerap dikaitkan dengan isu-isu
terorisme internasional.
(4) Dalam menghadapi ketatnya persaingan global telah terjadi
perubahan besar pada pola-pola hubungan antar negara di level
internasional. Perubahan paling mencolok dapat dilihat dari
bermunculannya organisasi-organisasi kerjasama antar negara,
terutama di tingkat regional, yakni Uni Eropa (UE), ASEAN, PIF,
NAFTA dan The Mercosur-European Union Business Forum
(MEBF). Terlepas dari motif pendiriannya, kehadiran organisasi-
organisasi ini memberi warna baru bagi hubungan Internasional
dimana dunia cenderung bergerak menuju pada suatu tatanan
dunia baru yang dikuasai organisasi-organisasi regional dan
Internasional.

(5) Fluktuasi harga minyak dunia terus mempengaruhi aktivitas


(5) Fluktualisasi........
perekonomian global. Hal ini diakibatkan oleh : Situasi politik
negara penghasil minyak yang tidak kondusif karena konflik
7

eksternal/internal; Meningkatnya konsumsi BBM; Penurunan


cadangan minyak bumi; Aksi spekulasi di pasar bursa komoditi
internasional.
(6) Terjadinya krisis keuangan global telah menimbulkan
kebangkrutan sejumlah perusahaan besar dunia yang
berdampak terhadap penurunan atau perlambatan pertumbuhan
ekonomi negara-negara berkembang. Kondisi ini juga berdampak
terhadap terjadinya PHK besar-besaran serta meningkatnya
angka pengangguran dan kemiskinan.
(7) Pertambahan penduduk dunia yang telah mencapai 7,2 milyar
jiwa lebih akan mengakibatkan kelangkaan dan kenaikan harga
bahan pangan. Di samping itu, perubahan iklim karena
pemanasan global menimbulkan gangguan terhadap hasil panen
dan jalur distribusi pangan internasional. Lahan pertanian akan
semkin menyempit karena alih fungsi lahan untuk kepentingan
bisnis dan industri seperti terjadi di RRC, India, Brasil, Vietnam
dan Thailand yang saat ini menjadi produsen pangan dunia.
Kondisi ini akan berpengaruh terhadap terbatasnya ketersediaan
pangan di berbagai belahan dunia seperti Asia dan Afrika yang
berpotensi menimbulkan kerawanan pangan dan bencana
kelaparan.
(8) Terjadinya perubahan iklim (climate change) sebagai akibat
penggunaan bahan bakar fosil, industrialisasi dan alih fungsi
lahan, telah menghasilkan efek pemanasan global (global
warming) yang telah meningkatkan suhu permukaan bumi serta
munculnya berbagai ragam penyakit dan gangguan kesehatan
manusia di seluruh dunia.
(9) Munculnya terorisme sebagai musuh bersama dalam pola
penanganannya cenderung telah berubah dari pola pre-emptive
strike menjadi pola penanganan yang lebih mengedepankan
cara-cara diplomatis dan persuasif.
(10) Munculnya........
(10) Konflik yang sering terjadi di kawasan Afrika merupakan
pertarungan kepentingan dalam memperebutkan SDA. Afrika
yang kaya akan hasil tambang dan minyak bumi, seperti Sudan,
8

Afrika Selatan dan Nigeria menjadi rebutan dari kekuatan Uni


Eropa dan Amerika Serikat dengan kekuatan Rusia dan RRC.
Perebutan SDA tersebut membuat Afrika menjadi kawasan yang
tidak pernah lepas dari konflik dan kekerasan yang berujung
kepada pertempuran bersenjata ataupun rivalitas antar etnis.
(11) Konflik bersenjata di Suriah antara pasukan militer Presiden
Bashar Al- Asrad dan kelompok oposisi rentan terhadap politisan
sebagai konflik agama, sehingga dapat memicu mobilisasi WNI
dari kelompok islam garis keras pergi untuk dan ikut berperan di
Suriah.
b) Regional
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi dinamika
keamanan regional adalah perkembangan situasi global, disamping
peran dan kepentingan negara-negara besar, ditambah dengan
permasalahan hubungan antar negara dalam satu kawasan. Berbagai
persoalan atau konflik yang terjadi di kawasan akan memiliki pengaruh
terhadap kondisi keamanan internasional dan nasional negara yang
ada dalam kawasan tersebut. Negara-negara di kawasan regional
yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan Lingkungan
Strategis di Indonesia adalah sebagai berikut:

(1) hubungan bilateral antara Indonesia-Australia telah beberapa kali


mengalami pasang surut, termasuk masalah adanya penyadapan
pihak Australia terhadap jaringan seluler milik Presiden RI dan
beberapa Pejabat Tinggi Negara RI, yang mengakibatkan
terjadinya pemanggilan Duta Besar Indonesia di Australia untuk
pulang ke Indonesia. Kondisi ini tidak lepas dari orientasi politik
dan kepentingan pemerintahan yang berkuasa disana. Sebagai
anggota FPDA, Australia dapat menggunakan berbagai fasilitas
militer di negara-negara persemakmuran antara lain Malaysia
dan Singapura. Posisi geopolitik dan geostrategis membuat
Australia selalu memperhatikan dan mempengaruhi
Australia........
perkembangan di Indonesia.

(2) isu Melanesian Brotherhood (persaudaraan Melanesia)


digunakan sebagai strategi penyusunan kekuatan negara-negara
9

Melanesia yang berpengaruh terhadap gerakan separatis Papua


Merdeka. Vanuatu dan Nauru adalah negara yang mendukung
perjuangan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Tokoh-tokoh
OPM di Vanuatu tergabung dalam organisasi West Papuan
Peoples Representative (WPPRO) dan aktif melakukan kegiatan
propaganda.

(3) pesatnya perkembangan perekonomian Republik Rakyat Cina


(RRC) telah menempatkan Cina sebagai salah satu negara besar
dan penting baik secara regional maupun global. Dalam rangka
memenuhi kepentingan nasionalnya, Cina berupaya menjangkau
berbagai belahan dunia menggunakan instrumen hubungan
internasionalnya. Negara-negara besar maupun negara-negara
di kawasan Asia Pasifik tidak dapat mengabaikan peran Cina
bagi keamanan kawasan. Cina memiliki kepentingan dan
mempunyai kekuatan yang harus diperhitungkan dalam
menentukan stabilitas keamanan kawasan.

(4) dalam lingkungan regional Asia Tenggara, terjadi perubahan


besar dalam kehidupan ASEAN, yakni kesepakatan untuk
mengintegrasikan negara-negara ASEAN dalam sebuah
Komunitas ASEAN (ASEAN Community) berdasarkan Piagam
ASEAN (ASEAN Charter) yang secara resmi berlaku pada awal
tahun 2009. Keberhasilan integrasi ASEAN dapat memainkan
peran sentral (in the driving seat) dalam proses integrasi
kawasan yang tengah berlangsung dengan sangat dinamis.

(5) Kamboja merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang


termasuk dalam Segitiga Emas (The Golden Triangle) menjadi
sorotan dunia terutama negara-negara di kawasan Asia Tenggara
mengecam peredaran narkoba sebagai ancaman bangsa.
Persoalan Kamboja dengan negara tetangga seperti Thailand
adalah masalah tanda tapal batas sementara denganadalah........
Vietnam
adalah seputar kedaulatan di sekitar lepas pantai.

(6) Konflik warga negara di Myanmar dan Thailand yang melibatkan


mayoritas agama Budha dengan minoritas Muslim, sehingga
10

banyak etnis Rohingnya yang mengungsi ke Indonesia. Etnis


Myanmar yang mencari suaka membawa dampak konflik atau
perselisihan dari negara asal menunggu berbulan-bulan untuk
proses aplikasi suaka mereka.

(7) perkembangan politik dalam negeri Thailand ditandai dengan


pertarungan antar politik yang menimbulkan gangguan politik dan
perdagangan di kawasan ASEAN. Instabilitas politik di Thailand
dijadikan sebagai tempat memasok bagi penyelundup senjata
ringan (small arms) ke wilayah-wilayah konflik di Indonesia.

(8) hingga saat ini Pemerintah Philipina masih menghadapi berbagai


masalah keamanan dalam negeri, khususnya masalah
pemberontakan di Philipina Selatan yang dilakukan oleh Moro
Islamic Liberation Front (MILF), Misuuri Break Awcro Group
(MBG), dan Kelompok Abu Sayyaf Group (ASG) yang walaupun
sudah semakin terdesak namun masih melakukan tindakan
kekerasan berupa terror dan penculikan warga Philipina maupun
orang asing dengan sasaran untuk mendapatkan uang tebusan.
Kelompok tersebut disinyalir masih ada kaitan dengan kelompok
radikal di Indonesia.

(9) masalah perbatasan wilayah laut dengan kepulauan Riau,


Singapura belum bersedia melakukan pembicaraan, meskipun
secara lisan telah menyatakan bahwa dengan adanya proyek
reklamasi wilayah timur Changi dikatakan tidak merubah
kedudukan dan batas landasan kontinen yang sudah ada.

(10) kebijakan Pemerintah Malaysia terhadap masalah TKI cenderung


merugikan kepentingan Indonesia. Di satu sisi Malaysia
membutuhkan TKI, namun cenderung memperlakukan TKI
kurang manusiawi.

(11) dalam........
(11) dalam masalah Kepulauan Ambalat, Malaysia berulangkali
melakukan pelanggaran batas wilayah RI di Kalimantan Timur
baik wilayah udara maupun laut bahkan ada kecenderungan
11

meningkatkan aktivitasnya dalam rangka memperluas wilayah


negaranya.

c) Nasional

(1) Kondisi geografis, Demografi dan Sumber Daya Alam.

Kondisi geografis, Demografi dan Sumber Daya Alam,


merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dinamika
kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan
nasional.

Keberhasilan mengelola faktor-faktor tersebut akan


menjadikan peluang dan kekuatan dalam menunjang
kepentingan nasional. Kegagalan dalam pengelolaan faktor-
faktor tersebut akan menjadi kendala dan ancaman.

(2) Ideologi

(a) Penganut faham demokrasi liberal sering memanfaatkan


momentum reformasi, demokratisasi dan perlindungan HAM
untuk mempengaruhi para politisi, LSM, cendekiawan dan
kelompok masyarakat agar menuntut dan memperjuangkan
kebebasan tanpa batas tanpa memperhatikan nilai-nilai
Pancasila.

(b) Kelompok penganut komunisme memanfaatkan organisasi


massa dan LSM tertentu yang sepaham dengan ajaran
komunisme berupaya mengangkat isu pelanggaran HAM
untuk mencabut Ketetapan MPRS Nomor. XXV/MPRS/
1966, sehingga ajaran komunisme dapat hidup kembali di
Indonesia, lebih dikenal dengan gerakan neo-komunisme
(komunisme gaya baru).

(3) Politik........
(3) Politik
(a) Pembangunan politik nasional yang diarahkan pada upaya
melanjutkan reformasi pada setiap aspek kehidupan
12

berbangsa dan bernegara, dinilai cukup berhasil, namun


pelaksanaannya masih diliputi suasana eforia demokrasi,
sehingga sering bertentangan dengan peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku.
(b) Perkembangan sistem politik nasional sangat dipengaruhi
oleh perkembangan sistem politik global yang menekankan
pada prinsip-prinsip demokrasi dan penghormatan hak
asasi manusia (HAM). Reformasi politik nasional saat ini
telah memasuki fase konsolidasi demokrasi, serta
melahirkan sistem politik dan ketatanegaraan baru.
(c) Penerapan kebijakan otonomi daerah berdampak terhadap
melemahnya pengawasan dan koordinasi Pemerintahan
Propinsi terhadap penyelenggaraan kewenangan
di Kabupaten/Kota yang seharusnya memiliki kewenangan
kuat dan mengikat terhadap pembinaan, pengawasan,
perizinan, standar dan sertifikasi di Kabupaten/Kota dalam
satu provinsi, menjadi tidak memiliki daya untuk menjadi
koordinator pengembangan wilayah di semua bidang.
Rencana Strategis dan Program Pembangunan Daerah
(Propeda) Pemerintah Kabupaten/Kota kadang tidak sejalan
atau bertentangan dengan Renstra Pemerintah Propinsi.

(d) Berkaitan dengan hubungan politik pusat dan daerah,


pemilihan kepala daerah secara langsung melalui
mekanisme partai melahirkan dua permasalahan. Ada
perbedaan pandangan bahwa kepala daerah merupakan
wakil pemerintah pusat di dearah atau kepala daerah
sebagai wakil masyarakat yang dipilih melalui mekanisme
partai. Jika terjadi konflik kepentingan antara partai
pendukung presiden dengan partai pendukung kepala
daerah, belum jelas garis kebijakan manakah yang akan
diikuti oleh kepala daerah tersebut.
(e) Pemekaran........
(e) Pemekaran wilayah di berbagai daerah menimbulkan
permasalahan karena proses pembentukannya terkesan
dipaksakan oleh sekelompok orang/tokoh masyarakat di
13

daerah tersebut dengan mencari dukungan dari berbagai


pihak baik di daerah maupun di pusat. Dalam banyak
kasus, pemekaran daerah tidak dilakukan melalui rencana
yang matang dan mengabaikan persyaratan prinsip-prinsip
pembentukan daerah otonomi seperti batas wilayah,
partisipasi rakyat, dan sumber daya.
(4) Ekonomi.

(a) Perkembangan ekonomi Indonesia selama periode 2010-


2014 masih dihadapkan pada dampak krisis keuangan
global dan fluktuasi harga minyak dunia yang berpengaruh
terhadap aspek-aspek berikut : lambatnya pertumbuhan
ekonomi akibat menurunnya transaksi perdagangan
(ekspor) dan kegiatan investasi; turunnya nilai tukar rupiah
terhadap mata uang asing, terutama dollar AS;
meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan akibat
semakin terbatasnya peluang kerja dan sumber-sumber
ekonomi masyarakat; meningkatnya harga kebutuhan
pokok dan melemahnya daya beli masyarakat.

(b) Pembangunan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan


juga akan dihadapkan pada ancaman krisis pangan akibat
berbagai faktor, antara lain : semakin meningkatnya harga
kebutuhan pangan dunia; menurunya produksi pangan
nasional akibat konversi atau alih fungsi lahan pertanian
untuk perkebunan, pemukiman atau pembangunan infra
struktur; kelangkaan atau mahalnya harga pupuk di tingkat
petani, sehingga banyak petani yang beralih profesi atau
urbanisasi ke kota-kota besar mencari pekerjaan baru Dan
meningkatnya pemanasan global (global warming) dan
perubahan iklim (climate change) telah mempengaruhi
rotasi atau jangka waktu panen serta ancaman kegagalan
panen akibat kemarau panjang dan bencana alam.
(c) Secara........
(c) Secara umum, situasi ekonomi Indonesia pada tahun
2015 - 2019 diperkirakan masih dalam kondisi yang sulit,
terutama jika dikaitkan dengan stabilitas politik pasca
14

Pemilu 2014 dan dampak krisis finansial global. Stabilitas


politik dan kepemimpinan nasional pasca Pemilu 2014
sangat menentukan kesinambungan pembangunan
ekonomi yang sedang berjalan. Stabilitas politik dapat
mempengaruhi sentimen pasar modal, nilai tukar rupiah dan
investasi nasional. Sedangkan krisis keuangan global dapat
mempengaruhi rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi,
minimnya investasi dan terbatasnya ketenagakerjaan.
Kondisi ini pada akhirnya akan berdampak terhadap
meningkatnya jumlah pengangguran dan angka kemiskinan,
menurunnya daya beli masyarakat, tingginya inflasi dan
rendahnya pendapatan perkapita nasional.

(5) Sosial Budaya


(a) Keanekaragaman budaya, suku, adat istiadat, ras dan agama
yang dimiliki bangsa Indonesia sejak dahulu kala telah
tumbuh dan berkembang, turut mempengaruhi tatanan
kehidupan sosial masyarakatnya dalam berbangsa dan
bernegara. Pada satu sisi, keanekaragaman komponen
bangsa dapat dipandang sebagai potensi nasional untuk
membangun bangsa. Namun demikian pada sisi lain,
keanekaragaman tersebut dapat dipandang sebagai potensi
konflik yang dapat menjadi pemicu desintegrasi bangsa.
(b) Kemajemukan adat istiadat dan budaya daerah selain
merupakan potensi pembangunan nasional, juga
merupakan potensi konflik. Kuatnya pengaruh budaya dan
gaya hidup barat yang masuk melalui tayangan media
elektronik serta lemahnya regulasi media berdampak
terhadap perubahan sistem nilai, pola pikir, sikap dan
perilaku masyarakat. Kecenderungan sikap permisif,
konsumtif dan individualis telah membawa sebagian
masyarakat untuk melakukan tindakan melanggar hukum
dan norma-norma agama yang dapat dan........
menimbulkan
gangguan Kamtibmas.
15

(c) Berkembangnya berbagai aliran/kepercayaan dalam suatu


agama dapat menimbulkan pertentangan antar pemeluk
agama itu sendiri, sehingga berpotensi menimbulkan sikap
pro-kontra masyarakat yang menjurus terjadinya konflik
sosial. Pemahaman dan implementasi ajaran agama belum
berkembang secara baik, bahkan pada sisi tertentu
mengalami penurunan dan munculnya gejala fanatisme
sempit. Sebagian pemuka agama cenderung menggunakan
agama untuk kepentingan tertentu (politisasi agama untuk
kepentingan politik dan kekuasaan) sehingga menurunkan
penghormatan dan kepercayaan masyarakat terhadap para
tokoh agama.
(6) Keamanan

(a) Berbagai penanggulangan gangguan Kamtibmas terkait


dengan kejahatan konvensional maupun transnasional telah
dilakukan dan menunjukkan hasil cukup dibanggakan.
Namun demikian masih terdapat potensi ancaman yang
harus tetap diwaspasi karena dapat mengganggu suasana
Kamtibmas antara lain terorisme, perompakan, pembalakan
liar, pencurian ikan, penambangan liar, kejahatan ekonomi
lintas negara.
(b) Lemahnya penjagaan di wilayah perbatasan dan pintu-pintu
masuk Indonesia seperti pelabuhan laut dan udara, serta
terbatasnya kerja sama internasional menjadikan Indonesia
sebagai lahan subur tumbuhnya kejahatan transnasional.
Disamping itu, perkembangan organisasi kejahatan
internasional yang didukung kemajuan Iptek terutama
dalam bidang komunikasi dan informasi serta teknologi
persenjataan menyebabkan kejahatan yang bersifat
transnasional seperti peredaran narkona dan terorisme sulit
untuk ditangani.
(c) Sebagian jaringan teroris yang berkembang di Indonesia
(c) sebagian..
masih terus melakukan perekrutan dan pelatihan anggota-
anggota baru. Kerjasama mereka dengan kelompok ekstrim
16

di Philipina, seperti Abu Sayyaf dan Moro Islamic Liberation


Front (MILF). Sementara itu, kelompok JI khususnya dari
elemen eks Afganistan sedang mengalami perpecahan
bersamaan dengan menurunnya kredibilitas Abu Bakar
Baasyir di kalangan JI karena dinilai tidak mampu
memberikan perlindungan terhadap anggotanya.

b. Analisis SWOT

Dari faktor-faktor baik dari lingkungan intern maupun ekstern melalui analisa
SWOT, yaitu:

1) kekuatan

a) Postur kekuatan Polri dengan Mabes Polri penanggung jawab Politik


Strategi Keamanan, Polda sebagai Kesatuan Induk Penuh, Polres
sebagai Kesatuan Operasional Dasar dan Polsek sebagai simpul
terdepan pelayanan kamtibmas prima kepada masyarakat diharapkan
dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan
penggelaran kekuatan dan lapis kemampuan Polri tergelar mulai
tingkat pusat sampai tingkat kecamatan dengan struktur 1 (satu)
Mabes Polri, 31 Polda, , 450 Polres / Polresta dan 4.773 Polsek dan
500 Polsub sektor;

b) pegawai negeri pada Polri sebanyak: 430.300 orang terdiri dari;


anggota Polri 408.333 orang dan PNS Polri 21.967 orang, dengan
pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2014 sejumlah
252.164.800 jiwa (data dari Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035-
Bappenas-BPS-United Nations Population Fund, 2013) sehingga rasio
antara Polri dengan penduduk saat ini adalah 1 : 617;
c) dukungan sarana dan prasarana Polri semakin meningkat dari tahun
ke tahun khususnya peralatan operasional seperti; alat transportasi
udara (pesawat udara dan helikopter), transportasi laut (kapal dengan
berbagai tipe) dan transportasi darat (kendaraan bermotor patroli dan
kendaraan..
kendaraan bermotor taktis), persenjataan, alat penginderaan, teknologi
informasi dan komunikasi dan materiil atau suku cadang tergelar mulai
dari Mabes Polri sampai dengan tingkat Polsek dan mendukung
17

sebagian besar kegiatan operasional Polri, guna kelancaran


pelayanan Polri kepada masyarakat;
d) meningkatnya dukungan anggaran termasuk anggaran operasional
Kepolisian telah terdistribusi sampai tingkat Polres (Satker) dan
diterima pada awal tahun anggaran berjalan, sehingga para pimpinan
satuan (Kasatker) mampu mengelola kegiatan dan anggaran untuk
program yang lebih prioritas dan berkualitas dalam pencapaian kinerja
satker;

e) kemampuan fungsi operasional dalam penanganan kejahatan tertentu


semakin meningkat dan mendapat apresiasi dari berbagai pihak
khususnya penanganan transnational crime (terorisme,narkoba),
kejahatan terhadap kekayaan negara (illegal logging, illegal mining)
dan kejahatan berimplikasi kontinjensi (kerusuhan massa) sehingga
dapat menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri;

f) terisinya jabatan dan unit-unit baru dari mulai tingkat Mabes Polri
sampai dengan tingkat Polsek sesuai dengan Perpres Nomor 52
Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Polri, yang
dijabarkan ke dalam Perkap 21, 22 dan 23 tahun 2010 semakin
meningkatkan pelayanan Polri kepada masyarakat;

g) adanya tunjangan kinerja / remunerasi kepada personel Polri telah


memberikan dorongan, semangat untuk terus melakukan
pembenahan, perbaikan dan peningkatan kinerja.

2) kelemahan

a) rasio perbandingan antara Polri dan penduduk (1 : 617) belum ideal,


bila dilihat secara riil dari sejumlah 408.333 anggota Polri tidak
seluruhnya melaksanakan tugas operasional kepolisian (sebagian
melaksanakan tugas staf atau fungsi pendukung) dibandingkan
dengan jumlah penduduk saat ini 252.164.800 jiwa (data proyeksi
Penduduk Indonesia 2010-2035, Bappenas-BPS-United Nation
Population Fund, 2013);
b) kualitas..
b) kualitas dan kuantitas tenaga pendidik masih belum memadai
sehingga belum menghasilkan hasil didik yang sesuai standar
18

kompetensi yang diharapkan bila dihadapkan dengan situasi


Kamtibmas yang semakin kompleks;
c) masih rendahnya keterampilan dan kemampuan personel Polri di
lapangan terutama dalam segi penguasaan peraturan perundang-
undangan, penguasaan teknologi komunikasi berbasis informasi
teknologi dan biokimia di bidang kriminalitas modern dalam
menghadapi kualitas dan kuantitas kejahatan yang semakin canggih;
d) reformasi di bidang kultural belum menunjukan kemajuan yang optimal
terlihat dari masih ada anggota Polri yang menerapkan paradigma
lama dalam melaksanakan tugasnya, sehingga menimbulkan keluhan
dan ketidakpuasan terhadap pelayanan Polri yang masih diskriminatif,
arogan dan masih dipungut biaya di luar ketentuan bila berurusan
dengan Polri;
e) anggaran Polri belum dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan
anggaran prioritas Polri apalagi untuk pemenuhan anggaran ideal Polri
sehingga alokasi anggaran lebih diprioritaskan untuk belanja pegawai
serta mendukung belanja barang guna kegiatan operasional
kepolisian, sedangkan untuk pemenuhan belanja modal masih kurang
sehingga belum dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan pengadaan
fasilitas dan materil yang dibutuhkan dalam pelayanan prima;
f) masih terbatasnya penyidik Polri yang berlatar belakang pendidikan
S-I atau yang setara, berdampak kepada kurangnya kualitas dan
kemampuan dalam menghadapi kejahatan seperti cyber crime, money
laundering, terorisme, perdagangan gelap dan penyalahgunaan
Narkoba.
3) peluang
a) program Reformasi Birokrasi dalam rangka upaya percepatan
pemberantasan korupsi melalui program pembangunan Zona
Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah
Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBK), memberikan peluang bagi
Polri untuk melanjutkan Reformasi Birokrasi Polri mencakup aspek
Struktural, Instrumental dan khususnya aspek Kultural;
b) sistem..
19

b) sistem desentralisasi / otonomi daerah sebagai upaya mendekatkan


pelayanan kepada masyarakat, sejalan dan saling menunjang dengan
organisasi Polri yang ada pada semua tingkatan Pemerintahan;
c) dukungan dari Legislatif (Komisi III DPR-RI), Eksekutif (Menkeu) dan
Bappenas dalam upaya meningkatkan anggaran Polri dari tahun ke
tahun;
d) tugas operasional Polri dalam menciptakan keamanan dalam negeri
melalui strategi perpolisian masyarakat semakin meningkat, hal ini
menjadi peluang bagi Polri dalam membangun kepercayaan
masyarakat (Trust Building) terhadap Polri;
e) semakin terjalinya hubungan lintas sektoral dengan instansi/lembaga
terkait (Partnership) baik dalam negeri maupun luar negeri dalam
mendukung kebijakan Sinergi Polisional Proaktif;

4) ancaman

a) kecenderungan meningkatnya empat jenis kejahatan (konvensional,


transnasional, terhadap kekayaan negara dan berimplikasi kontinjensi)
baik secara kualitas maupun kuantitas membawa konsekuensi bagi
pelaksanaan tugas Polri;
b) perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi
disamping berdampak positif sebagai hasil pembangunan, juga
dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan dalam melakukan kejahatan;
c) turbulensi gangguan keamanan dapat terjadi di setiap tempat dan
setiap waktu, baik secara konvensional maupun peningkatan
kejahatan yang menggunakan teknologi canggih, serta terjadinya
gangguan keamanan berimplikasi kontinjensi di beberapa daerah
tertentu yang disebabkan berbagai tuntutan sesuai dengan dinamika
kehidupan sosial masyarakat;
d) kewenangan dan komitmen internal instansi terkait sebagai bagian
dari upaya mewujudkan pemerintah yang bersih apabila tidak sepakat
dalam penanggulangan kejahatan di perairan, pertambangan dan
kehutanan dapat menimbulkan kerugian negara yang semakin besar;

e) meningkatnya kasus-kasus yang merugikan Negara,


masyarakat/individu diantaranya kasus korupsi, kasus narkoba dan
money loundring..
20

money loundring, dikarenakan ringannya putusan hukuman terhadap


terdakwa serta masih adanya putusan bebas murni;
f) tingkat kepatuhan dan disiplin masyarakat terhadap hukum yang
masih rendah sehingga pelanggaran hukum dianggap hal biasa dan
cenderung dalam menangani masalah keamanan bertindak main
hakim sendiri;
g) sistem hukum dan peradilan yang tumpang tindih, sebagai upaya
dalam pembaharuan hukum dan perundang-undangan mengakibatkan
kerancuan dalam operasionalisasi penegakan hukum di lapangan,
terutama menyangkut masalah kewenangan institusi yang
berkompeten untuk menangani suatu permasalahan;

c. Permasalahan

1)Masalah konflik sosial tetap menjadi aspek yang memerlukan perhatian karena
masih adanya permasalahan baik di bidang pertanahan, kehutanan dan
pertambangan yang dapat memicu munculnya konflik tersebut serta masih
adanya kelompok masyarakat yang belum menerima Negara Kesatuan
Republik Indonesia sebagai bentuk final negara;
2)Peningkatan keamanan dalam negeri melalui pengelolaan ketertiban
masyarakat dan penanggulangan 4 (empat) jenis kejahatan masih perlu
ditingkatkan. Berbagai kejahatan transnasional, seperti: penyelundupan,
narkotika, pencucian uang dan sebagainya masih menjadi gangguan nyata
terhadap keamanan dalam negeri;
3) Upaya pemberantasan terorisme, walaupun telah mencapai banyak
kemajuan tetapi penanganannya tetap memerlukan perhatian yang serius
karena paham-paham radikalisme masih dijumpai dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Diperkirakan bahwa kelompok teroris dengan
jaringan internasional menjadikan iklim kemiskinan dan ketidakadilan
sebagai tempat mengeksploitasi guna kepentingan kelompoknya;
4)Masalah kerjasama di bidang keamanan juga perlu memperoleh perhatian
yang lebih meningkat karena perilaku pelaku kriminal tertentu masih
menggunakan wilayah negara tertentu sebagai destinasi perlindungan;

5) Kinerja Organisasi Polri dalam memberikan pelayanan kamtibmas prima di


era demokratisasi dan keterbukaan informasi publik perlu ditingkatkan
dengan..
21

dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap Polri. Oleh


karena itu peraturan perundangan yang mendukung pelaksananan tupoksi
Polri harus terus dilakukan penyempurnaan. Disisi lain dalam rangka
peningkatan kinerja organisasi, perubahan mind set dan cultur set di
lingkungan Polri terus dilakukan serta konsep kesejahteraan personil Polri
menuju kinerja organisasi Polri lebih baik harus terus diperbaharui;

6) Untuk memenuhi program satu desa satu polisi (bhabinkamtibmas) belum


dapat terealisasi disebabkan jumlah anggota polri yang susut tidak
sebanding dengan rekruitmen polri setiap tahunnya;

7)Jumlah Polwan belum sebanding dengan jumlah Polsek dalam rangka


merealisasikan kebijakan 2 (dua) polwan satu polsek, sehingga
penanganan kasus-kasus perempuan dan anak belum maksimal;

8) Pengelolaan Wilayah Perbatasan dan Pulau-Pulau Kecil Terluar (terdepan),


Kejahatan terhadap kekayaan negara di wilayah perbatasan, dan
banyaknya pintu masuk melalui wilayah perbatasan sehingga perlu
pengelolaan;

9)Pelayanan Kamtibmas prima yang didukung peralatan Polri berbasis teknologi


sampai komunitas terkecil di kewilayahan belum maksimal tergelar dan
belum dapat diberdayakan secara efektif;

10) Kerjasama antara Polri dengan Kementerian/Lembaga baik dalam maupun


luar negeri dalam bentuk Sinergi Polisional (Spindep) masih belum optimal
disebabkan kerjasama selama ini berjalan secara parsial (fungsi masing-
masing) dan belum ada penanggung jawab ;

11) Susunan Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) masih ada yang belum efektif
apabila disandingkan dengan Analisa Beban Kerja (ABK), HTCK, serta
struktur program dan anggaran yang ada sekarang ini belum sesuai dengan
ketentuan-ketentuan yang berlaku;

12) Eskalasi keamanan dalam negeri menjelang pemilu tahun 2019 yang
diakibatkan dinamika politik memerlukan perhatian khusus Polri dalam
menjaga Kamdagri guna terselenggararanya Pemilu yang aman dan
kondusif.

BAB II..
22

BAB II
VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN STRATEGIS

Guna menjawab berbagai tatangan dengan memperhatikan lingkungan


stratgeis dan analisis SWOT sebagaimana disebutkan diatas, Polri menetapkan dan
menjalankan Visi, Misi dan Tujuan sebagai suatu institusi dan kelembagaan yang
mandiri, berwawasan global, berorientasi Nasional dan bertindak lokal, penuh
dengan koordinasi dan meningkatkan sinergitas dalam memberikan dan
melaksanakan pencegahan kejahatan dan penegakkan hukum kepada masyarakat.

Dengan Visi, Misi dan Tujuan yang diarahkan untuk bersinergi maka akan
membangkitkan dan mendorong seluruh insan Kepolisian Indonesia menjadi
semakin cerdas, berbudaya dan diimbangi dengan akhlak dan moral yang tinggi
serta mampu meningkatkan daya kreatifitas dan penuh inovatif dalam menghadapi
tantangan tugas dan kehidupan masyarakat.

3. Visi.

a. Visi Polri:
terwujudnya pelayanan Kamtibmas yang unggul guna menangkal dan
mencegah potensi gangguan, penegakan hukum yang tegas serta terjalinnya
sinergi polisional yang proaktif dalam rangka memantapkan Kamdagri .

b. Makna Visi Polri:

1)Pelayanan Kamtibmas yang unggul adalah :


a)secara etimologi, kamus besar bahasa Indonesia menyatakan pelayanan
ialah usaha melayani kebutuhan orang lain. Pelayanan pada dasarnya
adalah kegiatan yang ditawarkan kepada komsumen atau pelanggan
yang dilayani, yang bersifat tidak berwujud dan tidak dapat dimiliki.
b)Pelayanan publik sesuai dengan UU No. 25 tahun 2009. Pelayanan Publik
adalah Kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan
kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau
pelayanan administrasi yang disediakan oleh penyelenggara
pelayanan publik.
c)Kamtibmas menurut pasal 1 UU No. 2 Tahun 2002 adalahc)Suatu
Kamtibmas..
kondisi
dinamis masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselenggaranya
23

proses pembangunan nasional dalam rangka tercapainya tujuan


nasional yang ditandai oleh terjaminnya keamanan, ketertiban, dan
tegaknya hukum, serta terbinanya ketentraman yang mengandung
kemampuan membina serta mengembangkan potensi dan kekuatan
masyarakat dalam menangkal, mencegah, dan menanggulangi segala
bentuk pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang
dapat meresahkan masyarakat.
d)Unggul adalah lebih tinggi, utama, melebihi yang lain.
e)Pelayanan Kamtibmas yang unggul adalah kegiatan atau rangkaian
kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan peyanan di bidang
keamanan dan ketertiban masyarakat guna menciptakan kondisi
dinamis masyarakat dalam rangka terjaminnya keamanan, ketertiban
dan tegaknya hukum yang lebih utama.

2) Menangkal dan mencegah potensi gangguan

a) Menangkal adalah menolak, mencegah bencana dsb.


(www.kamusbesar.com/39543/menangkal)
b) Mencegah adalah menahan agar sesuatu tidak terjadi; merintangi;
melarang; mengikhtiarkan supaya jangan terjadi
(www.kamusbesar.com/6598/mencegah)
c) Potensi gangguan adalah situasi atau kondisi yang merupakan akar
masalah dan/atau faktor stimulan/pencetus yang berkorelasi erat
terhadap timbulnya gangguan Kamtibmas (menurut Peraturan Kapolri
Nomor 9 Tahun 2011 tentang manajemen operasi Kepolisian)
d) Menangkal dan mencegah potensi gangguan adalah menolak dan
menahan agar tidak terjadi terhadap situasi atau kondisi yang
merupakan akar masalah terhadap timbulnya gangguan Kamtibmas

2)Penegakan hukum yang efektif adalah:


a)Penegakkan Hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya
atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai
pedoman perilaku dalam lalu lintas atau hubungan-hubungan hukum
dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
b) efektif..
b)Efektif adalah ada efeknya, manjur/mujarab, dapat membawa hasil,
berhasil guna, mangkus.
24

c)Penegakan hukum yang efektif adalah upaya untuk tegaknya atau


berfungsinya norma-norma hukum secara nyata yang mampu
mewujudkan/memberikan rasa keadilan, kepastian hukum dan
kemanfaatan bagi masyarakat serta tidak melanggar HAM dan tidak
menimbulkan hal-hal yang dapat merugikan institusi Polri.

3)Sinergi Polisional yang proaktif : adalah kebersamaan antar unsur komponen


negara dan masyarakat dalam mengambil langkah mendahului
berprosesnya potensi gangguan keamanan dengan menyusun pemecahan
masalah sebagai eliminasi terhadap potensi gangguan yang mengendap
diberbagai permasalahan pada bidang pemerintahan dan kehidupan sosial
maupun ekonomi;

4)Kamdagri : adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjaminnya


keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, serta
terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada
masyarakat.

4. Misi:

a. mewujudkan pelayanan kamtibmas prima melalui kegiatan preemtif, preventif dan


represif (penegakan hukum) dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi
guna mewujudkan Kamdagri yang kondusif;
b. melaksanakan deteksi dini dan deteksi aksi secara cepat dan akurat melalui
kegiatan penyelidikan, pengamanan dan penggalangan;
c. melakukan penegakan hukum dengan tidak diskriminatif, menjunjung tinggi HAM,
anti KKN dan anti kekerasan;
d. memberikan perlindungan, pengayoman, pelayanan dan bimbingan masyarakat
dengan meningkatkan peran Bhabinkamtibmas dalam mengimplementasikan
strategi Polmas yang berada di desa/kelurahan;
e. mewujudkan kemitraan dengan masyarakat dan meningkatkan Sinergi Polisional
Inter Kementerian/Lembaga dan Lembaga Nasional;
f. menjaga keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas untuk
menjamin keselamatan dan kelancaran arus orang dan barang.
5. Tujuan..
5. Tujuan.

a. mewujudkan organisasi Polri yang Good Governance dan Clean Government;


25

b. mewujudkan Reformasi Birokrasi Polri terhadap perubahan mind set dan culture
set;
c. mengutamakan tindakan Polri yang proaktif dari pada reaktif dalam pelaksanaan
Tupoksi Polri untuk mewujudkan pelayanan Kamtibmas yang unggul;
d. mewujudkan Polri yang profesional, bermoral, modern dan unggul;
e. mewujudkan penegakan hukum yang transparan, akuntabel dan anti KKN yang
mampu memberikan perlindungan dan pengayoman masyarakat serta memenuhi
rasa keadilan masyarakat.

6. Sasaran Strategis.

mengacu kepada sasaran pembangunan nasional bidang keamanan 2015-2019 yaitu


meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada Polri . Maka sasaran strategis Polri
2015-2019 dalam rangka mencapai pelayanan publik yang unggul (strive for
excellence) adalah:

a. terbangunnya standar pelayanan publik yang unggul dalam rangka


menyelenggarakan fungsi Kepolisian yang Good Governance dan Clean
Government;
b. meningkatkan pelayanan prima dalam memelihara keamanan dan ketertiban
masyarakat dengan mengedepankan upaya preemtif dan preventif yang
didukung oleh penegakan hukum yang tegas;
c. meningkatkan peran intelijen dalam mendukung upaya mengelola keamanan dan
ketertiban masyarakat;
d. terbangunnya budaya kerja yang efektip dan efisien dengan pengawasan internal
yang transparan dan akuntabel;
e. tergelarnya kekuatan Polri di wilayah perbatasan dan pulau pulau terluar
berpenghuni secara berkelanjutan/ kesinambungan;
f.terbangunnya kemitraan dengan masyarakat dan bersinergi polisional inter
departemen dan lembaga negara dalam menciptakan keamanan dalam negeri
secara berkelanjutan;
g. Terwujudnya personel Polri yang profesional, bermoral dan modern;
h. tergelarnya strategi Polmas secara tersebar di desa/kelurahan dalam rangka
menciptakan deteksi dini, responsif terhadap potensi gangguan h.
keamanan dan
tergelarnya..
gejala sosial masyarakat;
26

i. meningkatnya keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas dalam


menjamin keselamatan dan kelancaran arus barang dan orang dengan
menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi;
j. terbangunnya Almatsus Polri berbasis teknologi yang menjunjung tinggi HAM dalam
menghadapi berbagai trend kejahatan modern dan konflik sosial;
k. meningkatnya penyelesaian dan pengungkapan, serta terciptanya rasa aman
terhadap 4 (empat) jenis kejahatan (kejahatan konvensional, kejahatan terhadap
kekayaan negara, kejahatan transnasional dan kejahatan berimplikasi
kontinjensi);

TABEL SASARAN STRATEGIS, INDIKATOR KINERJA UTAMA DAN TARGET

TARGET
SASARAN INDIKATOR KINERJA
NO
STRATEGIS UTAMA
2015 2016 2017 2018 2019
1 2 3 4 5 6 7 8
1. Terbangunnya
a. Prosentase kepuasan
standar pelayanan
publik terhadap pelayanan
publik yang unggul 10% 15% 20% 25% 30%
Polri berdasarkan hasil
dalam rangka
Litbang;
menyelenggarakan
fungsi Kepolisian
yang Good b. Prosentase Standar
Governance dan Operasional Prosedur
20% 20% 20% 20% 20%
Clean Government. (SOP) untuk setiap bidang
pelayanan Kepolisian

c. Prosentase meningkatnya
pelayanan internal bagi
anggota Polri dan HTCK di
lingkungan Polri

2. Meningkatkan
a. Prosentase layanan /
pelayanan prima
kegiatan fungsi Kepolisian
dalam memelihara
dalam rangka menciptakan
keamanan dan
rasa aman;
ketertiban
1) fungsi harkamtibmas; 89,5%
masyarakat dengan 87,5% 88% 88,5% 89%
2) fungsi reserse;
mengedepankan
3) fungsi intelkam; 56% 57% 58% 58% 60%
upaya preemtif dan
4) fungsi lantas;
preventif yang
5) fungsi brimob;
didukung oleh
penegakan hukum
yang tegas.

65% 70% 75% 80% 85%

e. Persentase menurunnya 50% 50% 50% 50% 50%


komplain masyarakat
terhadap pelayanan Polri;
1) Dumas pada Itwasum 50% 55% 60% 70% 80%
27

Polri;
1% 1% 1% 1% 1%
2) Dumas pada
Divpropam Polri;
3) Dumas pada Bareskrim 90% 90% 92% 94% 93%
Polri;
3. Meningkatkan peran a. Prosentase produk intelijen
intelijen dalam yang dapat digunakan oleh
mendukung upaya fungsi Kepolisian lainnya
mengelola dalam rangka
keamanan dan Harkamtibmas;
ketertiban
masyarakat. b. Prosentase kegiatan dalam
rangka penyelidikan,
pengamanan dan
penggalangan intelijen.

a. Prosentase penyelesaian
4. Terbangunnya
tindak lanjut hasil temuan 80% 85% 90% 95% 100%
budaya kerja yang
wasrik rutin;
efektif dan efisien
b. Prosentase penyelesaian
dengan pengawasan
tindak lanjut temuan
internal yang
pemeriksaan BPK RI; 20% 30% 40% 50% 70%
transparan dan
akuntabel.
c. Prosentase menurunnya
pelanggaran anggota Polri
baik pelanggaran disiplin 15% 15% 15% 15% 15%
maupun profesi;

d. Prosentase pemberian
penghargaan kepada
anggota Polri.

5. Tergelarnya a. Prosentase personel yang


kekuatan Polri di ditugaskan di wilayah
wilayah perbatasan perbatasan dan pulau-
dan pulau pulau pulau terluar berpenghuni;
terluar berpenghuni
secara
berkelanjutan/ b. Prosentase ketersediaan
kesinambungan. fasilitas Polsek/Subsektor
yang tergelar di wilayah 20,5% 38,6% 57,8% 78,3% 100%
perbatasan dan pulau-
pulau terluar berpenghuni.

6. Terbangunnya a. Prosentase penyertaan


kemitraan dengan personel Polri dalam
masyarakat dan kegiatan Misi perdamaian
bersinergi polisional dunia;
inter departemen dan
lembaga negara b. Jumlah kerjasama bilateral 5
7 7 7 7
dalam menciptakan / multilateral dalam
keamanan dalam menciptakan keamanan;
negeri secara
28

berkelanjutan. c. Prosentase MoU dengan


Instansi / kelompok 17% 17% 17% 17% 17%
masyarakat terorganisir.

7. Terwujudnya a. Jumlah personel Polri yang


personel Polri yang memiliki standar 350 400 400 450 450
profesional, bermoral kompetensi sesuai dengan
dan modern. bidang tugasnya;
b. Jumlah lembaga
Pendidikan dan Pelatihan 8 8 8 8 8
Polri yang terakreditasi;

c. Jumlah personel Polri yang


telah mengikuti pelatihan
pembekalan mind set dan 40 40 40 40 40
culture set.

8. Tergelarnya strategi a. Prosentase terpenuhinya


Polmas secara Bhabinkamtibmas pada
tersebar di satu desa/kelurahan; 69% 74% 79% 84% 89%
desa/kelurahan
dalam rangka
menciptakan deteksi
dini, responsif b. Prosentase jumlah
terhadap potensi komunitas masyarakat
gangguan keamanan dalam menciptakan iklim 29% 29% 29% 29% 29%
dan gejala sosial keamanan.
masyarakat.
9. Meningkatnya a. Prosentase penurunan
keamanan, pelanggaran lalu lintas yang
keselamatan, dapat menimbulkan
ketertiban dan kecelakaan lalu lintas;
kelancaran lalu lintas
dalam menjamin
keselamatan dan b. Prosentase penurunan
kelancaran arus fatalitas korban dalam
barang dan orang kecelakaan lalu lintas;
dengan menerapkan c. Prosentase kegiatan
ilmu pengetahuan rekayasa lantas untuk
dan teknologi. menurunkan titik rawan
kemacetan lalu lintas.

10. Terbangunnya a. Prosentase pemenuhan


Almatsus Polri kebutuhan almatsus Polri
10% 15% 20% 25% 30%
berbasis teknologi sesuai standar spesifikasi
yang menjunjung tipologi;
tinggi HAM dalam
20,5 38,6 57,8 78,3
menghadapi b. Prosentase kebutuhan
berbagai trend almatsus Polri berbasis % % % % 100%
kejahatan modern teknologi untuk
dan konflik sosial. mendukung tugas-tugas
Kepolisian;
29

11. Meningkatnya a. Prosentase meningkatnya


penyelesaian dan pengungkapan dan
pengungkapan, penyelesaian kasus tindak
serta terciptanya pidana; 10% 10% 11% 11% 12%
rasa aman terhadap
4 (empat) jenis
kejahatan (kejahatan
konvensional,
kejahatan terhadap
kekayaan negara,
kejahatan
b. Prosentase penurunan 70% 93,8% 88,9% 95,2% 95%
transnasional dan
jumlah tindak pidana;
kejahatan
berimplikasi
kontinjensi).

BAB III BAB III..

ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI POLRI

7. Arah kebijakan dan Strategi pembangunan nasional bidang keamanan


tahun 2015-2019.
30

a. Arah kebijakan pembangunan Nasional.

1)meningkatnya pelayanan publik;


2)penguatan Sumber Daya Manusia (SDM);
3)pemantapan manajemen internal.

b. Strategi pembangunan Nasional .

1)Peningkatan pelaksanaan Quick Response dan Quick Wins;


2)Pemantapan pelaksanaan community policing (pemolisian masyarakat-
Polmas);
3)Penanganan gejolak sosial dan penguatan pengamanan pemilu 2019;
4)Peningkatan kemampuan penanganan flash point;
5)Pengembangan teknologi Kepolisian melalui pemberdayaan fungsi litbang;
6)Mempertahankan postur rasio jumlah Polri terhadap pertumbuhan penduduk,
yaitu 1 : 575;
7)Pengembangan Diklat Polri;
8)Peningkatan fasilitas kesehatan Polri;

9)Meningkatkan sistem komunikasi Polri berbasis teknologi (engage citizens);

10) Memantapkan hubungan Mabes Polri-Polda-Polres-Polsek;

8. Arah Kebijakan dan Strategi Polri.

a. Arah Kebijakan Polri dalam mencapai kebijakan pembangunan nasional


di Bidang Keamanan;

1)Bidang Pembinaan.

a) percepatan peningkatan kapasitas dan kapabilitas SDM serta


modernisasi teknologi kepolisian sebagai bagian penerapan reformasi
a) Percepatan ...... ...
Polri;
.....
b) membangun dan mengembangkan sarana prasana yang berbasis
teknologi dan informasi dalam rangka mendukung sebaran pelayanan
Kamtibmas di tengah-tengah masyarakat;

c) pemenuhan anggaran dalam rangka dukung operasional Tupoksi


Polri dan pemeliharaan sarana dan prasarana Polri;
31

d) penguatan lembaga penelitian dan pengembangan dalam rangka


pemenuhan Almatsus Polri berbasis teknologi Kepolisian serta
pengembangan industri teknologi Kepolisian menuju Standar Minimal
Pelayanan Polri;

e) penguatan bidang kehumasan melalui implementasi keterbukaan


informasi publik guna mewujudkan kepercayaan masyarakat;

2)Bidang Operasional.

a) memantapkan deteksi dini dan deteksi aksi dalam antisipasi setiap


potensi gangguan dan gejolak sosial masyarakat;

b) memantapkan strategi Polmas dalam meningkatkan peran serta


masyarakat guna menciptakan keamanan dan ketertiban;

c) memantapkan perlindungan, pengayoman dan pelayanan masyarakat


dalam mencegah gangguan Kamtibmas, Kamseltibcarlantas dan
penanganan keamanan wilayah pasca konflik, serta kesiapan
pengamanan Pemilu 2019;

d) pemantapan tata kelola pencegahan dan penindakan terhadap


4 (empat) jenis kejahatan yang meliputi: kejahatan konvensional,
kejahatan transnasional, kejahatan terhadap kekayaan negara,
dan kejahatan yang berimplikasi kontinjensi;

e) pemantapan tata kelola kerja sama Polisionil dengan K/L dan


kelompok masyarakat guna pemecahan masalah sebelum menjadi
potensi gangguan.

b. Strategi........
b. Strategi Polri dalam mencapai kebijakan pembangunan nasional di bidang
Keamanan;

1)Bidang Pembinaan.

a) peningkatan kapasitas dan kapabilitas SDM dilakukan melalui


rekrutmen personel Polri yang bebas dari KKN, Transparan dan
akuntabel dengan melibatkan pengawasan internal dan eksternal serta
penanaman nilai-nilai profesionalisme dan budaya anti korupsi
32

di lembaga pendidikan dalam rangka meningkatkan internal trust dan


public trust;

b) modernisasi teknologi Kepolisian dilakukan melalui penelitian dan


pengembangan seperti laboratorium Forensik, Cyber Lab, Inafis,
Psikologi forensik, kedokteran forensik, sistem informasi kriminal
nasional guna pengungkapan kejahatan melalui pembuktian ilmiah
(Scientific Crime Investigation) serta pemenuhan Alut/Alsus
perorangan dan kesatuan yang memenuhi Standar Minimal Pelayanan
Polri dalam rangka mendukung Tupoksi;

c) menyusun perencanaan dan penganggaran secara profesional dan


proporsional dengan mendasari tantangan tugas yang dihadapi sesuai
karakteristik kerawanan wilayah serta penerapan anggaran berbasis
kinerja secara konsisten, transparansi dan akuntabilitas dengan
berpegang pada prinsip efisiensi, prioritas dan kehati-hatian dalam
pengelolaan anggaran;

d) peningkatan kesejahteraan personel melalui penerimaan tunjangan


kinerja (remunerasi) yang proporsional, tunjangan kesehatan dan
penyediaan perumahan bagi Personel dan PNS Polri serta
mempersiapkan personel yang akan pensiun dengan memberikan
keterampilan khusus;

2)Bidang Operasional.

a) memperkuat Polsek sebagai basis deteksi dan unit pelayanan Polri


terdepan dengan meningkatkan peran fungsi intelijen dalam Early
Detection (deteksi dini) dan Early Warning (peringatan dini) untuk
menjangkau seluruh sendi kehidupan masyarakat;
b) menguatkan
b) menguatkan program satu Polisi (Bhabinkamtibmas) satu desa untuk
memperoleh informasi masyarakat serta menyampaikan kebijakan
pemerintah dan program Polri kepada masyarakat;

c) meningkatkan pelayanan masyarakat dengan mengembangkan


Polmas untuk menjangkau seluruh komunitas guna mendukung upaya
memelihara dan memantapkan kamtibmas hingga menyentuh daerah-
daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar berpenghuni dengan
33

menghadirkan anggota Polri di tengah-tengah masyarakat saat


dibutuhkan dan di setiap kegiatan masyarakat;

d) menjamin Kamseltibcarlantas arus barang dan orang dalam sendi


kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat melalui optimalisasi
kampanye keselamatan lalu lintas serta koordinasi lintas sektoral
dalam pemecahan permasalahan kemacetan dan kecelakaan;

e) meningkatkan upaya penanganan konflik sosial secara terpadu


dengan mengedepankan upaya pencegahan di samping
mempersiapkan upaya penghentian konflik dan penanganan pasca
konflik;

f) meningkatkan pengungkapan kasus-kasus menonjol yang


meresahkan masyarakat, meliputi kejahatan konvensional (kejahatan
jalanan/premanisme, perjudian, kejahatan dengan kekerasan),
kejahatan lintas negara/transnational crime (cyber crime, Narkoba
human trafficking, arm smuggling, terorisme), kejahatan yang
merugikan kekayaan negara (korupsi, illegal logging, illegal fishing,
illegal mining) & kejahatan yg berimplikasi kontinjensi (konflik sosial,
demo anarkis);

c. Pentahapan kebijakan.

1)Pada Tahun 2015

Melanjutkan pelayanan masyarakat yang prima dan kebulatan sinergi


polisional yang produktif dengan didukung almatsus Polri berbasis teknologi
Kepolisian guna menghadapai kondisi daya saing bangsa dan keunggulan
nasional.

a)Membangun dan mengembangkan teknologi kepolisian serta dukungan


teknis kepolisian, antara lain peralatan kesehatan, a)laboratorium
membangun

forensik, identifikasi cyber lab dan dvi;


b)Pengembangan sarana dan prasarana lembaga pendidikan;
c)Melanjutkan pembangunan sistem informasi lalu lintas yang didukung IT
untuk mempercepat akurasi data dan pengelolaan data lalu lintas;
d)Pemenuhan Almatsus Polri secara bertahap dalam rangka meningkatkan
pelayanan kamtibmas prima;
34

e)Rekruitmen Polwan guna melaksanakan kebijakan penempatan 2


(dua) Polwan pada setiap Polsek;
f) Pembangunan tempat-tempat pelayanan Kepolisian sampai dengan titik
terdekat masyarakat;

2)Tahun 2016

Meningkatkan pelayanan masyarakat yang prima sampai jajaran


kewilayahan terjauh dan sinergi polisonal yang produktif dengan didukung
sumber daya manusia berkualitas guna menghadapi kondisi daya saing
bangsa dan keunggulan nasional.

a) Peningkatan SDM Pendidik Polri;


b) Melanjutkan penggelaran pelayanan sampai komunitas terkecil;
c) Melanjutkan program penempatan satu anggota Bhabinkamtibmas
pada satu desa/kelurahan;
d) Rekruitmen Polwan guna melaksanakan kebijakan penempatan 2 (dua)
Polwan pada setiap Polsek;
e) Penataan SDM Polri sesuai Kompetensinya;
f)Peningkatan pelatihan fungsi operasional dan pembinaan Polri;

g) Melengkapi fasilitas dan peralatan pelaksanaan Quick Response dan


Quick Wins;

3)Tahun 2017

Meningkatkan pelayanan masyarakat yang prima sampai jajaran


kewilayahan terjauh dan sinergi polisional yang produktif dengan didukung
sumber daya manusia berkualitas serta berkemampuan ilmu dan teknologi
guna menghadapi kondisi daya saing bangsa dan keunggulan nasional .

a) Pemberdayaan..
a) Pemberdayaan accesment center;

b) Terselenggaranya seluruh program quick wins;

c)Kerjasama pendidikan pengembangan baik dalam negeri maupun luar


negeri;

d) Pembangunan tempat-tempat pelayanan Kepolisian sampai dengan


titik terdekat masyarakat;

e) Pengadaan sarana transportasi bagi petugas bhabinkamtibmas;

4)Tahun 2018
35

Mendinamisir dan meningkatkan pelayanan masyarakat yang prima dan


sinergi polisonal yang produktif dengan didukung kecukupan kesejahteraan
personel polri guna menghadapi kondisi daya saing bangsa dan keunggulan
nasional.

a) Tercukupinya kesejahteraan personel polri dalam peningkatan


remunerasi, kesehatan personel, perumahan dan pemberian keahlian
khusus personel polri guna menghadapi masa pensiun.

b) Melengkapi fasilitas dan dukungan operasional dalam penggelaran


pelayanan kamtibmas prima;

5)Tahun 2019

Terwujudnya pelayanan masyarakat yang prima sampai jajaran kewilayahan


terjauh dan sinergi polosional yang produktif dengan didukung almatsus
polri berbasis teknologi kepolisian, sumber daya manusia berkualitas, dan
kecukupan kesejahteraan personel polri guna menghadapi kondisi daya
saing bangsa dan keunggulan nasional.
a)Terjaminnya keamanan dalam negeri sebagai prasyarat pelaksanaan
agenda pemilu 2019 dalam peralihan kepemimpinan nasional dan
pemilihan wakil-wakil rakyat di legislatif yang dilaksanakan secara
serentak guna meningkatkan wibawa indonesia sebagai kelompok
negara demokratis terbesar di dunia;
b)Menjadikan indonesia sebagai kawasan aman baik regional maupun
global;
c)Terwujudnya pelayanan kamtibmas prima di seluruh titik pelayanan wilayah
hukum indonesia;
d)Peningkatan pengembangan teknologi kepolisian;
c) Terwujudnya..
9. Program dan Kegiatan Polri.

a. Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Polri.

1)tujuan:

menyelenggarakan fungsi manajemen kinerja Polri secara optimal


dengan melaksanakan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian,
pelaporan, pelayanan internal dan pembayaran gaji yang dilaksanakan
secara tepat waktu, Akuntabel dan terintegrasi antara Mabes Polri dan
Kewilayahan;
36

2)kegiatan:

a) pelayanan administrasi keuangan Polri;


b) penerangan masyarakat;
c) penyelenggaraan teknologi informasi;
d) pelayanan kesehatan Polri;
e) dukungan pelayanan internal perkantoran Polri;
f) penyusunan kebijakan strategi Polri;
g) penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan Polri;
h) reformasi birokrasi Polri;
i) manajemen anggaran;
j) teknologi komunikasi;
k) pengelolaan informasi dan dokumentasi;
l) penyelenggaraan kesejarahan, museum dan perpustakaan Polri;
m) perencanaan dan penganggaran kewilayahan;

b. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Polri.

1) tujuan:

mendukung tugas pembinaan dan operasional Polri melalui


ketersediaan sarana dan prasarana materiil, fasilitas dan jasa baik kualitas
maupun kuantitas;

2) kegiatan..
2)kegiatan:

a) pengembangan peralatan Polri;


b) dukungan manajemen dan teknis Sarpras;
c) pengkajian dan strategi Sarpras;
d) pengembangan perbekalan umum;
e) pengembangan fasilitas dan konstruksi Polri;
f) pengembangan sarana dan prasarana kewilayahan;

c. Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur Polri.

1)tujuan:
37

mewujudkan aparat Polri yang Profesional, Proporsional dan


Akuntabel sebagai implementasi reformasi Polri khususnya perubahan
kultur;

2)kegiatan:

a) dukungan manajemen dan teknis pengawasan umum dan pemuliaan


profesi dan pengamanan;
b) pertanggungjawaban profesi;
c) penyelenggaraan pengamanan internal Polri;
d) penegakan tata tertib dan disiplin Polri;
e) penyelenggaraan pemeriksaan dan pengawasan;
f) penyelenggaraan pengawasan dan akuntabilitas aparatur
kewilayahan;
g) penyelenggaraan propam kewilayahan;

d. Program Penelitian dan Pengembangan Polri

1) tujuan:

menyelenggarakan pengkajian, penelitian dan pengembangan


yang berhubungan dengan teknologi Kepolisian untuk mendukung
tugas Kepolisian agar memenuhi standar peralatan utama dan
peralatan teknis Polri yang terjangkau oleh produksi dalam negeri;

2) kegiatan:

a) dukungan manajemen dan teknis Litbang;


b) penyelenggaraan penelitian dan pengembangan Polri;
b) penyelenggaraan..

e. Program Pendidikan dan Latihan Aparatur Polri.

1) tujuan:

mewujudkan aparatur Polri yang profesional baik dari segi


kualitas maupun kuantitas dan memiliki kompetensi sesuai dengan
bidang tugasnya melalui penyelenggaraan pendidikan Polri sehingga
mampu mengemban tugas Polri secara profesional dan proporsional;

2) kegiatan:

a) dukungan manajemen dan teknis pengembangan Diklat Polri;


38

b) sekolah staf dan pimpinan pertama Polri;


c) pendidikan tinggi ilmu Kepolisian/STIK;
d) sekolah staf dan pimpinan menengah Polri;
e) penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan Polri;
f) pengkajian pengembangan pendidikan dan latihan Polri;
g) pembinaan pendidikan dan latihan Polri;
h) penyelenggaraan kurikulum pendidikan dan latihan Polri;
i) sekolah staf dan pimpinan tinggi Polri;
j) pendidikan Akpol;

f. Program Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Polri.


1) tujuan:
memberdayakan Sumber Daya Manusia Polri di bidang
pengembangan karier, pembinaan rohani hingga pengakhiran dinas
secara proporsional sesuai standar kompetensi;

2) kegiatan:

a) dukungan manajemen dan teknis pengembangan SDM Polri;


b) pengkajian dan strategi SDM Polri;
c) penyelenggaraan administrasi perawatan pegawai Polri;
d) pengendalian pegawai Polri;
e) pembinaan karier personel Polri;
f) pelayanan psikologi anggota Polri;

g. Program..
g. Program Pengembangan Strategi Keamanan dan Ketertiban.

1) tujuan:

mengembangkan langkah langkah strategi, mulai dari


mencegah suatu potensi gangguan keamanan baik kualitas
maupun kuantitas, sampai kepada penanggulangan sumber penyebab
kejahatan, ketertiban dan konflik di masyarakat dan sektor sosial,
politik dan ekonomi sehingga gangguan kamtibmas menurun;
2) kegiatan:

a) dukungan manajemen dan teknis strategi keamanan dan


ketertiban;
39

b) analisis keamanan;
c) penyelanggaraan strategi keamanan dan ketertiban bidang politik;
d) penyelanggaraan strategi keamanan dan ketertiban bidang
ekonomi;
e) penyelanggaraan strategi keamanan dan ketertiban bidang sosial
budaya;
f) penyelanggaraan strategi keamanan dan ketertiban bidang
keamanan negara;
g) strategi keamanan dan ketertiban kewilayahan;

h. Program Kerja sama Keamanan dan Ketertiban


1) tujuan:
memperluas kerja sama bidang keamanan, pendidikan dan
pelatihan dengan kementerian / lembaga baik dalam maupun luar
negeri;
2) kegiatan:

a) kerja sama keamanan dan ketertiban K/L;


b) kerja sama keamanan dan ketertiban luar negeri;
c) dukungan manajemen dan teknis kerja sama dan ketertiban;
d) misi internasional;

i. Program..
i. Program Pemberdayaan Potensi keamanan.
1) tujuan:
mendekatkan Polisi dengan berbagai komunitas masyarakat agar
terdorong bekerja sama dengan Kepolisian secara proaktif dan saling
mengandalkan untuk membantu tugas Kepolisian dalam menciptakan
keamanan dan ketertiban bersama (Community Policing);

2) kegiatan:
a) dukungan manajemen dan teknis potensi keamanan;
b) pembinaan potensi keamanan;

j. Program Pemeliharaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat.


40

1) tujuan:

memelihara dan meningkatkan kondisi keamanan dan ketertiban


masyarakat agar mampu melindungi seluruh warga masyarakat
Indonesia dalam beraktivitas untuk meningkatkan kualitas hidup yang
bebas dari bahaya, ancaman dan gangguan yang dapat menimbulkan
cidera, kerugian serta korban akibat gangguan keamanan dimaksud;

2) kegiatan:

a) pembinaan pemeliharaan keamanan dan ketertiban kewilayahan;


b) dukungan manajemen dan teknis pemeliharaan keamanan dan
ketertiban masyarakat;
c) pembinaan pelayanan fungsi Sabhara;
d) penyelenggaraan pengamanan objek vital;
e) peningkatan pelayanan keamanan dan keselamatan masyarakat
di bidang Lantas;
f) penyelenggaraan kepolisian perairan;
g) penyelenggaraan kepolisian udara;
h) pembinaan operasional pemeliharaan keamanan;
i) pengkajian dan strategi operasi kepolisian;
j) pembinaan operasi kepolisian;
k) pengendalian operasi kepolisian;
l) pelacakan dan penangkalan keamanan dan ketertiban;

k. Program Penyelidikan dan Penyidikan Tindak Pidana. k. Program.


.
1) tujuan:
menanggulangi dan meningkatkan penyelesaian perkara
4 (empat) jenis kejahatan (kejahatan konvensional, kejahatan
transnasional, kejahatan yang berimplikasi kontinjensi dan kejahatan
terhadap kekayaan negara) tanpa melanggar HAM.
2) kegiatan:

a) penyelidikan dan penyidikan tindak pidana kewilayahan;


b) dukungan manajemen dan teknis penyelidikan dan penyidikan
tindak pidana;
41

c) penyelenggaraan identifikasi penyelidikan dan penyidikan tindak


pidana;
d) penyelenggaraan laboratorium forensik;
e) penindakan tindak pidana umum;
f) penindakan tindak pidana terorisme;
g) penindakan tindak pidana narkoba;
h) penindakan tindak pidana ekonomi khusus;
i) penindakan tindak pidana korupsi;
j) pembinaan operasional penyelidikan dan penyidikan tindak
pidana;
k) penindakan tindak pidana tertentu;
l) penyelenggaraan informasi kriminal nasional;
m) koordinasi dan pengawasan PPNS;
n) pengawasan penyidikan;

l. Program Penanggulangan Gangguan Keamanan Dalam Negeri Berkadar


Tinggi.
1) tujuan:
menanggulangi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat
berkadar tinggi, kerusuhan massa, kejahatan terorganisir bersenjata
api dan bahan peledak;

2) kegiatan:

a) penanggulangan keamanan dalam Negeri kewilayahan;


a) penanggulangan..
b) dukungan teknis manajemen penanggulangan keamanan dalam
Negeri;
c) penanggulangan keamanan dalam Negeri;

m. Program Pengembangan Hukum Kepolisian.

1) tujuan:

menyelenggarakan pembinaan dan advokasi hukum serta


membangun landasan hukum dalam rangka pelaksanaan tugas pokok
Polri selaku pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat,
42

memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat serta menegakkan


hukum;

2) kegiatan:

a) pemberian bantuan dan nasihat Hukum;


b) penyusunan dan Penyuluhan Hukum;
c) dukungan manajemen dan teknis hukum Kepolisian.

BAB IV........
BAB IV
PENUTUP

10. Kaidah Pelaksana


a. pelayanan prima, memberikan pelayanan secara cepat, tepat, murah dan tidak
diskrimininasi, dengan standar etika yang tinggi.
b. melembagakan kekuatan protagonis dan komitmen Polri pada era
demokratisasi khususnya pada aspek kultur terus berupaya menampilkan
postur Polri yang berwatak protagonis dengan meninggalkan kekuasaan
antagonis;
43

c. strategi proaktif policing, perkembangan ke depan perlu dilakukan suatu upaya


pola penanganan tindakan reaktif menjadi proaktif sehingga tercipta yang
kondusif dengan sasaran meminimalkan jatuhnya korban dan efisiensi
anggaran;
d. membangun kemitraan melalui sistem sinergi polisional dengan Kementerian
dan Lembaga terus dilakukan serta implementasi strategi Polmas dalam
pemberdayaan masyarakat guna menciptakan masyarakat tertib hukum;

11. Autentifikasi dan distribusi.


a. Autentifikasi, Renstra Polri merupakan jabaran dari RPJMN dan disahkan oleh
Kapolri sebagai pimpinan lembaga sekaligus sebagai pejabat pengguna
anggaran;
b. Distribusi, didistribusikan kepada seluruh Satker untuk dijabarkan ke dalam
rencana tahunan dan dipedomani oleh penanggung jawab program guna
pencapaian outcome.

Ditetapkan di: Jakarta


Pada tanggal: 2014
KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Drs. SUTARMAN.
JENDERAL POLISI