Anda di halaman 1dari 77

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM UPAYA PENURUNAN ANGKA

KESAKITAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KELURAHAN CENGKEH


TURI KECAMATAN BINJAI UTARA

KOTA BINJAI TAHUN 2013


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius pada banyak negara
tropis dan subtropis, oleh karena peningkatan jumlah penderita, menyebarluasnya daerah
yang terkena wabah dan manifestasi klinis berat yang merupakan keadaan darurat yaitu
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS). Antara tahun 1975
dan 1995, DD/DBD terdeteksi keberadaannya di 102 negara di dari lima wilayah WHO
yaitu : 20 negara di Afrika, 42 negara di Amerika, 7 negara di Asia Tenggara, 4 negara di
Mediterania Timur dan 29 negara di Pasifik Barat (WHO,2005).

Seluruh wilayah tropis di dunia saat ini telah menjadi hiperendemis dengan ke-empat
serotipe virus secara bersama-sama diwilayah Amerika, Asia Pasifik dan Afrika. Indonesia,
Myanmar, Thailand masuk kategori A yaitu : KLB/wabah siklis terulang pada jangka waktu
antara 3 sampai 5 tahun. Menyebar sampai daerah pedesaan, sirkulasi serotipe virus beragam
(WHO, 2000).

Pertama terjadi pada tahun 1780-an secara bersamaan di Asia, Afrika, dan Amerika
Utara. Penyakit ini kemudian dikenali dan dinamai pada 1779. Wabah besar global dimulai di
Asia Tenggara pada 1950-an dan hingga 1975 demam berdarah ini telah menjadi penyebab
kematian utama di antaranya yang terjadi pada anak-anak di daerah tersebut.(WHO 2005)
Di Indonesia, jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) dari 1 Januari-10
Agustus 2005 di seluruh Indonesia mencapai 38.635 orang, sebanyak 539 penderita
diantaranya meninggal dunia. Menurut catatan Dinas Kesehatan Binjai, jumlah kasus DBD di
Binjai sebanyak 286 kasus pada Januari, dan 159 kasus pada awal sampai pertengahan
Februari 2005. Jumlah penderita sejak Januari 2005 mencapai 445 kasus. Binjai merupakan
kota dengan jumlah penderita DBD terbanyak, yaitu 192 orang pada Januari, dan 57 orang
pada Februari dan 28 orang pada Maret 2005.Di Puskesmas Jati Makmur didapatkan angka
kejadian DBD pada tahun 2004 sebanyak 47 kasus, tahun 2005 sebanyak 57 kasus dan tahun
2006 sebanyak 57 kasus.Menurut Data Depkes SUMUT Tahun 2005-2006 Sebanyak 482
kasus.Oleh karena itu, perlu tindak lanjut untuk menangani permasalahan ini sehingga angka
penderita DBD dapat dikurangi.(Sunarso,2002)

Penyakit demam berdarah ini sangat penting untuk di bahas, karena banyak warga di
Indonesia yang masih menganggap penyakit ini, penyakit yang biasa. Apa lagi dilihat dari
kondisi masyarakat saat ini masih banyak yang terkena demam berdarah dengue.

Berdasarkan uraian di atas kami tertarik dengan penelitian DBD, karena DBD
merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia pada umumnya dan
khususnya di Propinsi Sumatra Utara. Terutama di daerah penelitian kami di Kelurahan
Cengkeh Turi, Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai.

Kami menyadari bahwa upaya penurunan Angka Kesakitan DBD bukan hanya dari
peran serta masyarakat saja tetapi masih banyak faktor lain yang mempengaruhi angka
kesakitan DBD.Mengingat keterbatasan waktu, kami hanya menjabarkan mengenai Peran
Serta masyarakat dalam upaya penurunan angka kesakitan DBD.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Dari latar belakang di atas maka peneliti ingin mengetahui bagaimana peran serta
masyarakat dalam upaya penurunan angka kesakitan DBD di kelurahan Cengkeh Turi,
kecamatan Binjai Utara Kota Binjai.

1.3 TUJUAN PENELITIAN


1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui bagaimana peran serta masyarakat dalam upaya penurunan angka
kesakitan DBD di kelurahan Cengkeh Turi, kecamatan Binjai Utara Kota Binjai.

1.3.2 Tujuan Khusus

1 Untuk mengetahui gambaran karakteristik (umur dan tingkat pendidikan) masyarakat


Kelurahan Cengkeh Turi, Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai.
2 Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat tentang pencegahan dan penanggulangan
penyakit deman berdarah dengue

3 Untuk mengetahui sikap masyarakat dalam upaya penurunan angka kesakitan DBD

4 Untuk mengetahui tindakan masyarakat dalam upaya penurunan angka kesakitan


DBD

5 Untuk mengetahui keterkaitan antara umur dan tingkat pendidikan terhadap


pengetahuan masyarakat tentang pencegahan dan penanggulangan penyakit deman
berdarah dengue

6 Untuk mengetahui keterkaitan antara umur dan tingkat pendidikan terhadap sikap
masyarakat dalam upaya penurunan angka kesakitan DBD.

7 Untuk mengetahui keterkaitan antara umur dan tingkat pendidikan terhadap tindakan
masyarakat dalam upaya penurunan angka kesakitan DBD.

1.4 MANFAAT PENELITIAN

a Bagi Peneliti
Sebagai tambahan pengetahuan, wawasan bagi peserta Kepaniteraan Klinik Senior
serta pengalaman langsung dalam pelaksanaan penelitian dan sekaligus
mengaktualisasikan ilmu yang telah diterima di bangku kuliah dengan penelitian di
lapangan dalam bentuk karya tulis ilmiah.

b Bagi Institusi (Puskesmas Pembantu Cengkeh Turi)


Sebagai masukan bagi pihak Puskesmas Pembantu Cengkeh Turi, khususnya dalam
memberikan solusi dan alternatif tindakan dalam upaya Penurunan angka kesakitan
DBD.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Demam Berdarah Dengue

Demam berdarah (DB) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam
akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan
malaria. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus
Flavivirus, famili Flaviviridae. Setiap serotipe cukup berbeda sehingga tidak ada proteksi-
silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi.
Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) bahasa medisnya disebut Dengue


Hemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana
menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah,
sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan.

Penyakit ini banyak ditemukan didaerah tropis seperti Asia Tenggara, India, Brazil,
Amerika termasuk di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih
dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Dokter dan tenaga kesehatan lainnya seperti
Bidan dan Pak Mantri seringkali salah dalam penegakkan diagnosa, karena kecenderungan
gejala awal yang menyerupai penyakit lain seperti Flu dan Tipes (Typhoid).

Penyakit demam berdarah dengue atau yang disingkat sebagai DBD adalah suatu
penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti betina
lewat air liur gigitan saat menghisap darah manusia.
Selama nyamuk aides aigypti tidak terkontaminasi virus dengue maka gigitan nyamuk
tersebut tidak berbahaya. Jika nyamuk tersebut menghisap darah penderita DBD maka
nyamuk menjadi berbahaya karena bisa menularkan virus dengue yang mematikan. Untuk itu
perlu pengendalian nyamuk jenis aedes aegypti agar virus dengue tidak menular dari orang
yang satu ke orang yang lain.

2.2 Epidemiologi

Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit menular yang
berbahaya dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat dan sering menimbulkan
wabah. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Filipina pada tahun 1953 dan selanjutnya
menyebar ke berbagai negara. Di Indonesia penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun
1968 di Surabaya dengan jumlah penderita 58 orang dengan kematian 24 orang (41,3%).
Selanjutnya sejak saat itu penyakit Demam Berdarah Dengue cenderung menyebar ke seluruh
tanah air Indonesia dan mencapai puncaknya pada tahun 1988 dengan insidens rate mencapai
13,45 % per 100.000 penduduk. Keadaan ini erat kaitannya dengan meningkatnya mobilitas
penduduk dan sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi. ( Sherped,2007)

Seluruh wilayah Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit Demam


Berdarah Dengue karena virus penyebab dan nyamuk penularnya tersebar luas baik di rumah
maupun tempat-tempat umum, kecuali yang ketinggiannya lebih dari 1000 meter diatas
permukaan laut.

Pada saat ini seluruh provinsi di Indonesia sudah terjangkit penyakit ini baik di kota
maupun desa terutama yang padat penduduknya dan arus transportasinya lancar. Menurut
laporan Ditjen PPM dan PLP penyakit ini telah tersebar di 27 provinsi di Indonesia. Dari 300
kabupaten di 27 provinsi pada tahun 1989 (awal Pelita V) tercatat angka kejadian sebesar 6,9
% dan pada akhir Pelita V meningkat menjadi 9,2 %. Pada kurun waktu yang sama angka
kematian tercatat sebesar 4,5 %. ( Halsted SB,2007)

KLB DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate (IR) = 35,19 per
100.000 penduduk dan CFR = 2%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%,
namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun 2000); 21,66
(tahun 2001); 19,24 (tahun 2002); dan 23,87 (tahun 2003). ( Hadinegoro,2001)
2.3 Etiologi

Penyakit DBD disebabkan oleh Virus Dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan
DEN 4. Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arboviruses).
Keempat type virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain
Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue
dengan tipe satu dan tiga. ( Mansyoer A,1999)

2.4 Vektor Demam Berdarah Dengue

Nyamuk Aedes aegypti dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata
nyamuk lain. Nyamuk ini mempunyai dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian
badan, kaki, dan sayapnya. Nyamuk Aedes aegypti jantan mengisap cairan tumbuhan atau
sari bunga untuk keperluan hidupnya.( Halsted,2007)

Sedangkan yang betina mengisap darah. Nyamuk betina ini lebih menyukai darah
manusia dari pada binatang. Biasanya nyamuk betina mencari mangsanya pada siang hari.
Aktivitas menggigit biasanya pagi (pukul 9.00-10.00) sampai petang hari (16.00-17.00).
Aedes aegypti mempunyai kebiasan mengisap darah berulang kali untuk memenuhi
lambungnya dengan darah. Dengan demikian nyamuk ini sangat infektif sebagai penular
penyakit. Setelah mengisap darah, nyamuk ini hinggap (beristirahat) di dalam atau diluar
rumah. Tempat hinggap yang disenangi adalah benda-benda yang tergantung dan biasanya
ditempat yang agak gelap dan lembab. ( Updates pediatric,2002)

Disini nyamuk menunggu proses pematangan telurnya. Selanjutnya nyamuk betina akan
meletakkan telurnya didinding tempat perkembangbiakan, sedikit diatas permukaan air. Pada
umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu 2 hari setelah terendam air. Jentik
kemudian menjadi kepompong dan akhirnya menjadi nyamuk dewasa. (Hendarwanto,1996)

2.5 Patofisiologi dan Patogenesis

Patogenesis DBD tidak sepenuhnya dipahami, namun terdapat dua perubahan


patofisiologis yang menyolok, yaitu meningkatnya permeabilitas kapiler yang mengakibatkan
bocornya plasma, hipovolemia dan terjadinya syok. Pada DBD terdapat kejadian unik yaitu
terjadinya kebocoran plasma ke dalam rongga pleura dan rongga peritoneal. Kebocoran
plasma terjadi singkat (24-48 jam). ( Hasan R, 1997)
Hemostasis abnormal yang disebabkan oleh vaskulopati, trombositopeni dan koagulopati,
mendahului terjadinya manifestasi perdarahan. Aktivasi sistem komplemen selalu dijumpai
pada pasien DBD. Kadar C3 dan C5 rendah, sedangkan C3a serta C5a meningkat.
Mekanisme aktivasi komplemen tersebut belum diketahui. Adanya kompleks imun telah
dilaporkan pada DBD, namun demikian peran kompleks antigen-antibodi sebagai penyebab
aktivasi komplemen pada DBD belum terbukti. Selama ini diduga bahwa derajat keparahan
penyakit DBD dibandingkan dengan DD dijelaskan dengan adanaya pemacuan dari
multiplikasi virus di dalam makrofag oleh antibodi heterotipik sebagai akibat infeksi Dengue
sebelumnya. Namun demikian, terdapat bukti bahwa faktor virus serta respons imun cell-
mediated terlibat juga dalam patogenesis DBD. ( Halstead,2007)

2.6 Mekanisme Penularan Demam Berdarah Dengue

Penyakit Demam Berdarah Dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk
ini mendapat virus Dengue sewaktu mengigit, mengisap darah orang yang sakit Demam
Berdarah Dengue atau tidak sakit tetapi didalam darahnya terdapat virus dengue. Seseorang
yang didalam darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber penularan penyakit
Demam Berdarah Dengue. Virus dengue berada dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari
sebelum demam. ( Amin P, 2007)

Bila penderita tersebut digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut
terisap masuk kedalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan
tersebar diberbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk didalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1
minggu setelah mengisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada
orang lain ( masa inkubasi ekstrinsik ). ( Sunarso,2002)

Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu
nyamuk Aedes aegypti yang telah mengisap virus dengue itu menjadi penular (infektif)
sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menusuk/mengigit,
sebelum mengisap darah akan mengeluarkan air liur melalui alat tusuknya (proboscis) agar
darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan dari
nyamuk ke orang lain. ( M. Husin, 1999)

2.7 Ciri-ciri nyamuk Aedes Agypti


2.7.1 CIRI-CIRI NYAMUK AEDES AEGYPTI

Nyamuk Aedes Aegypti bertubuh belang hitam-putih, suka berkembang biak di


tempat yang bisa digenangi air terutama air bersih.

Nyamuk betina biasanya yang menghisap darah

Nyamuk ini biasanya menghisap darah seiap 2-3 hari sekali, biasanya pada pagi hari
antara pukul 08.00 12.00 dan sore hari antara pukul 16.00 17.00 mereka perlu
menghisap banyak darah untuk menyuburkan telurnya.

Setelah kenyang nyamuk betina perlu istirahat, mereka suka santai-santai si tempat
lembab, diruangan remang-remang, digerumbul tanaman hias, ditirai rumah, bahkan
di baju-baju yang di gelantung.

2.7.2 PERKEMBANGBIAKAN NYAMUK

Nyamuk Aedes Aegypti biasa bertelur di dinding tempat air yang tidak mengalir

Setelah 7-10 hari, telur-telur ini akan tumbuh menjadi nyamuk

Rata-rata umur nyamuk betina 2-3 bulan, sedangkan yang jantan hanya 14 hari.

2.8 Gejala Klinik

2.8.1 Gejala Demam Berdarah Dengue

A. Tanda dan gejala Virus Dengue

Penyakit ini ditunjukkan melalui munculnya demam tinggi terus menerus, disertai
adanya tanda perdarahan, contohnya ruam. Ruam demam berdarah mempunyai ciri-ciri
merah terang. Selain itu tanda dan gejala lainnya adalah sakit perut, rasa mual,
trombositopenia, hemokonsentrasi, sakit kepala berat, sakit pada sendi (artralgia), sakit pada
otot (mialgia). Sejumlah kecil kasus bisa menyebabkan sindrom shock dengue yang
mempunyai tingkat kematian tinggi. Kondisi waspada ini perlu disikapi dengan pengetahuan
yang luas oleh penderita maupun keluarga yang harus segera konsultasi ke dokter apabila
pasien/penderita mengalami demam tinggi 3 hari berturut-turut. Banyak penderita atau
keluarga penderita mengalami kondisi fatal karena menganggap ringan gejala-gejala
tersebut. Sesudah masa tunas / inkubasi selama 3 15 hari orang yang tertular dapat
mengalami / menderita penyakit ini dalam salah satu dari 4 bentuk berikut ini :

Bentuk abortif, penderita tidak merasakan suatu gejala apapun.

Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi selama 4 7 hari, nyeri-nyeri pada
tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan di
bawah kulit.

Dengue Haemorrhagic Fever (Demam berdarah dengue/DBD) gejalanya sama dengan


dengue klasik ditambah dengan perdarahan dari hidung (epistaksis/mimisan), mulut,
dubur, dsb.

Dengue Syok Sindrom, gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan syok /
presyok. Bentuk ini sering berujung pada kematian.

Karena seringnya terjadi perdarahan dan syok maka pada penyakit ini angka
kematiannya cukup tinggi, oleh karena itu setiap Penderita yang diduga menderita Demam
Berdarah dalam tingkat yang manapun harus segera dibawa ke dokter atau Rumah Sakit,
mengingat sewaktu-waktu dapat mengalami syok / kematian.

Demam berdarah umumnya lamanya sekitar enam atau tujuh hari dengan puncak demam
yang lebih kecil terjadi pada akhir masa demam. Secara klinis, jumlah platelet akan jatuh
hingga pasien dianggap afebril.

B. Gejala Orang Yang Terserang Penyakit Demam Berdarah Dengue / DBD

1. Badan demam panas tinggi lebih dari 2 hari

2. Nyeri pada ulu hati

3. Terdapat bercak bintik merah di kulit yang tidak hilang walau ditekan, ditarik,
diregangkan dan lain sebagainya.

4. Bisa mengeluarkan darah dari hidung (mimisan), muntah darah, dan melalui buang air
besar.
5. Penderita bisa pucat, gelisah, ujung kaki dan ujung tangan dingin.

Orang yang terindikasi terserang demam berdarah harus secepatnya diberi


pertolongan medis dengan dibawa ke puskesmas, dokter atau rumah sakit untuk diobati.
Terlambat memberi pertolongan pada penderita DBD dapat menyebabkan penderita
meninggal dunia.

Tanda-tanda dan gejala penyakit DBD adalah :

1 Demam.

Penyakit DBD didahului oleh demam tinggi yang mendadak terus-menerus berlangsung
2-7 hari, kemudian turun secara cepat. Demam secara mendadak disertai gejala klinis yang
tidak spesifik seperti: anorexia, lemas, nyeri pada tulang, sendi, punggung dan kepala.

Kenali Gejala Demam pada Demam Berdarah Dengue (DBD)

Jelas demam ini bukan seperti demam yang ada pada artikel ku sebelumnya yang
disebabkan oleh infeksi-radang, tetapi oleh virus DBD yang ada pada nyamuk. Jadi kenali
dengan baik demam pada DBD ini agar tepat penanganannya.Demam pada DBD mempunyai
siklus demam yang khas disebut Siklus Pelana Kuda.

Ciri-ciri Demam DBD atau Demam Pelana Kuda :

1. Hari 1 3 Fase Demam Tinggi

Demam mendadak tinggi, dan disertai sakit kepala hebat, sakit di belakang mata, badan ngilu
dan nyeri, serta mual/muntah, kadang disertai bercak merah di kulit.

2. Hari 4 5 Fase KRITIS

Fase demam turun drastic dan sering mengecoh seolah terjadi kesembuhan.
Namun inilah fase kritis kemungkinan terjadinya Dengue Shock Syndrome

3.Hari 6 7 Fase Masa Penyembuhan

Fase demam kembali tinggi sebagai bagian dari reaksi tahap penyembuhan.
TANGANI DENGAN TEPAT

1. Beri minum yang cukup, sebaiknya yang mengandung elektrolit

2. Hati-hati memilih obat demam, pastikan mengandung PARASETAMOL (baca


kemasan)

3. BAWA SEGERA KE RUMAH SAKIT

PENANGANAN YANG BAIK DAN TEPAT DAPAT MENYELAMATKAN BANYAK


JIWA!

2 Manifestasi Pendarahan.
Perdarahan terjadi pada semua organ umumnya timbul pada hari 2-3 setelah demam.
Sebab perdarahan adalah trombositopenia.

Bentuk perdarahan dapat berupa :

Ptechiae
Purpura
Echymosis
Perdarahan cunjunctiva
Perdarahan dari hidung ( mimisan atau epistaxis )
Perdarahan gusi
Muntah darah ( Hematemesis )
Buang air besar berdarah ( melena )
Kencing berdarah ( Hematuri )
Gejala ini tidak semua harus muncul pada setiap penderita, untuk itu
diperlukan torniquet test dan biasanya positif pada sebagian besar penderita Demam
Berdarah Dengue.

3 Pembesaran hati ( Hepatomegali )


Pembesaran hati dapat diraba pada penularan demam. Derajat pembesaran hati tidak
sejajar dengan berapa penyakit, pembesaran hati mungkin berkaitan dengan strain
serotype virus dengue.

4 Renjatan (Syok).
Renjatan dapat terjadi pada saat demam tinggi yaitu antara hari 3-7 mulai sakit.
Renjatan terjadi karena perdarahan atau kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler
melalui kapilar yang rusak. Adapun tanda-tanda perdarahan:

a Kulit teraba dingin pada ujung hidung, jari dan kaki.


b Penderita menjadi gelisah.
c Nadi cepat, lemah, kecil sampai tak teraba.
d Tekanan nadi menurun (menjadi 20 mmhg atau kurang)
e Tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80 mmhg atau kurang).
Renjatan yang terjadi pada saat demam, biasanya mempunyai kemungkinan yang
lebih buruk.
5 Gejala Klinis Lain.
Gejala lainnya yang dapat menyertai ialah : anorexsia, mual, muntah, lemah, sakit
perut, diare atau konstipasi dan kejang. ( Amin P, 2007)

2.9 Diagnosa

Diagnosa penyakit DBD ditegakkan jika ditemukan:

Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus selama
2-7 hari.
Manifestasi perdarahan.
Trombositopenia yaitu jumlah trombosit dibawah 150.000/mm3, biasanya ditemukan
antara hari ke 3-7 sakit.
Monokonsentrasi yaitu meningkatnya hematokrit, merupakan indikator yang peka
terhadap terjadinya renjatan sehingga perlu dilaksanakan penekanan berulang secara
periodik. Kenaikan Ht 20% menunjang diagnosa klinis Demam Berdarah Dengue.
( Hendarwanto, 1996)
Mengingat derajat berat ringan penyakit berbeda-beda, maka diagnosa secara klinis dapat
dibagi atas:

1 Derajat I (ringan).
Demam mendadak 27 hari disertai gejala klinis lain, dengan manifestasi
perdarahan dengan uji torniquet positif.

2 Derajat II (sedang).
Penderita dengan gejala sama, sedikit lebih berat karena ditemukan perdarahan
spontan kulit dan perdarahan lain.
3 Derajat III (berat).
Penderita dengan gejala syok / kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lemah,
tekanan nadi menyempit (< 20 mmhg) atau hipotensi disertai kulit dingin, lembab
dan penderita menjadi gelisah.

4 Derajat IV (berat).
Penderita syok berat dengan tensi yang tak dapat diukur dan nadi yang tak dapat
diraba. ( Berhman RE, 1989)

2.10 Pengobatan

2.10.1 Pengobatan Demam Berdarah Dengue

Bagian terpenting dari pengobatannya adalah terapi suportif. Sang pasien disarankan
untuk menjaga penyerapan makanan, terutama dalam bentuk cairan. Jika hal itu tidak dapat
dilakukan, penambahan dengan cairan intravena mungkin diperlukan untuk mencegah
dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan. Transfusi platelet dilakukan jika jumlah
platelet menurun drastis. Pengobatan alternatif yang umum dikenal adalah dengan meminum
ekstrak daun jambu biji. Merujuk hasil kerja sama penelitian Fakultas Kedokteran Unair dan
BPOM, ekstrak daun jambu biji bisa menghambat pertumbuhan virus dengue. Bahan itu juga
meningkatkan trombosit tanpa efek samping. Masyarakat mesti memperhatikan informasi
penting ini. Berdasarkan hasil kerja sama dalam uji pre klinis Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur dan Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM) yang dilansir di Jakarta, Rabu (10/3) siang, ekstrak daun jambu biji dipastikan bisa
menghambat pertumbuhan virus dengue penyebab demam berdarah dengue (DBD). Bahan
itu juga mampu meningkatkan jumlah trombosit hingga 100 ribu milimeter per kubik tanpa
efek samping. Peningkatan tersebut diperkirakan dapat tercapai dalam tempo delapan hingga
48 jam setelah ekstrak daun jambu biji dikonsumsi.

2.10.2 Pengobatan Penyakit Demam Berdarah

Fokus pengobatan pada penderita penyakit DBD adalah mengatasi perdarahan,


mencegah atau mengatasi keadaan syok/presyok, yaitu dengan mengusahakan agar penderita
banyak minum sekitar 1,5 sampai 2 liter air dalam 24 jam (air teh dan gula sirup atau
susu).Penambahan cairan tubuh melalui infus (intravena) mungkin diperlukan untuk
mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan. Transfusi platelet dilakukan jika
jumlah platelet menurun drastis.

Selanjutnya adalah pemberian obat-obatan terhadap keluhanyang timbul, misalnya:


Paracetamol membantu menurunkan demam
Garam elektrolit (oralit) jika disertai diare
Antibiotik berguna untuk mencegah infeksi sekunder

Lakukan kompress dingin, tidak perlu dengan es karena bisa berdampak syok. Bahkan
beberapa tim medis menyarankan kompres dapat dilakukan dengan alkohol. Pengobatan
alternatif yang umum dikenal adalah dengan meminum jus jambu biji bangkok, namun
khasiatnya belum pernah dibuktikan secara medik, akan tetapi jambu biji kenyataannya dapat
mengembalikan cairan intravena dan peningkatan nilai trombosit darah.

Ada cara yang bisa ditempuh tanpa harus diopname di rumah sakit, tapi butuh kemauan yang
kuat untuk melakukannya. Cara itu adalah sebagai berikut :

1. Minumlah air putih minimal 20 gelas berukuran sedang setiap hari (lebih banyak lebih
baik)

2. Cobalah menurunkan panas dengan minum obat penurun panas

3. Beberapa teman dan dokter menyarankan untuk minum minuman ion tambahan (tapi
banyak juga yang tidak menganjurkannya)

4. Minuman lain yang disarankan: Jus jambu merah untuk meningkatkan trombosit (ada
juga yang menyarankan: daun angkak, daun jambu, dsb)

5. Makanlah makanan yang bergizi dan usahakan makan dalam kuantitas yang banyak
(meskipun biasanya minat makan akan menurun drastis).

Sebenarnya, semua usaha di atas bertujuan untuk menambah daya tahan tubuh terhadap
serangan demam berdarah, karena pada dasarnya demam berdarah tidak perlu obat tertentu
(dan memang tidak ada obat untuk itu). Ketahanan tubuh dapat dilihat dari jumlah leukosit
dalam darah. Ketika leukosit mulai meningkat (membaik), maka biasanya trombosit yang
kemudian akan bertambah.

2.11 PENCEGAHAN

2.11.1 Pencegahan Demam Berdarah Dengue

Tidak ada vaksin yang tersedia secara komersial untuk penyakit demam
berdarah.Pencegahan utama demam berdarah terletak pada menghapuskan atau mengurangi
vektor nyamuk demam berdarah. Insiatif untuk menghapus kolam-kolam air yang tidak
berguna (misalnya di pot bunga) telah terbukti berguna untuk mengontrol penyakit yang
disebabkan nyamuk, menguras bak mandi setiap seminggu sekali, dan membuang hal hal
yang dapat mengakibatkan sarang nyamuk demam berdarah Aedes Aegypti.

Hal-hal yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan agar terhindar dari penyakit demam
berdarah, sebagai berikut:

1. Melakukan kebiasaan baik, seperti makan makanan bergizi, rutin olahraga, dan
istirahat yang cukup;

2. Memasuki masa pancaroba, perhatikan kebersihan lingkungan tempat tinggal dan


melakukan 3M, yaitu menguras bak mandi, menutup wadah yang dapat menampung
air, dan mengubur barang-barang bekas yang dapat menjadi sarang perkembangan
jentik-jentik nyamuk, meski pun dalam hal mengubur barang-barang bekas tidak baik,
karena dapat menyebabkan polusi tanah. Akan lebih baik bila barang-barang bekas
tersebut didaur-ulang;

3. Fogging atau pengasapan hanya akan mematikan nyamuk dewasa, sedangkan bubuk
abate akan mematikan jentik pada air. Keduanya harus dilakukan untuk memutuskan
rantai perkembangbiakan nyamuk;

4. Segera berikan obat penurun panas untuk demam apabila penderita mengalami
demam atau panas tinggi
5. Pencegahan dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk diwaktu pagi sampai sore,
karena nyamuk aedes aktif di siang hari (bukan malam hari). Misalnya hindarkan
berada di lokasi yang banyak nyamuknya di siang hari, terutama di daerah yang ada
penderita DBD nya.

Beberapa cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD melalui metode
pengontrolan atau pengendalian vektornya adalah :

1. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat.


perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain
rumah.

2. Pemeliharaan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang) pada tempat air kolam, dan
bakteri (Bt.H-14).

3. Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion).

4. Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti,


gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.

2.12 TINJAUAN TENTANG PERILAKU KESEHATAN

2.12.1 Perilaku Kesehatan

Seperti yang kita ketahui bahwa pendidikan kesehatan bertujuan mengubah


perilaku yang belum sehat menjadi perilaku yang sehat, artinya perilaku yang
mendasarkan pada prinsip-prinsip sehat atau kesehatan.

Perilaku adalah aksi dari individu terhadap reaksi dari hubungan dengan
lingkungannya. Dengan perkataan lain perilaku baru terjadi bila ada sesuatu yang
diperlukan untuk menimbulkan reaksi, sesuatu tersebut disebut dengan rangsangan.

Skinner (1938) seorang ahli psikologi merumuskan bahwa perilaku merupakan


respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena itu
perilaku terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian
organisme tersebut merespon, disebut teori S-O-R atau Stimulus-Organism-Respons.
Skinner membedakan adanya dua respon:

1 Respondent respons atau reflexive.


2 Operant respons atau instrumental respons.
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini maka perilaku dapat dibedakan menjadi
dua :

1 Perilaku tertutup (covert behavior)


Respon seorang terhadap stimulus masih terbatas pada perhatian, pengetahuan,
persepsi dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut dan
belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.

2 Perilaku terbuka (overt behavior)


Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka dan
dengan mudah diamati oleh orang lain.

Berdasarkan batasan perilaku tersebut maka perilaku kesehatan adalah suatu respon
seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem
pelayanan kesehatan, makanan, minuman serta lingkungan.

Perilaku kesehatan diklasifikasikan menjadi 3 kelompok:

1 Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance)


Adalah perilaku seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak
sakit dan usaha untuk penyembuhan bila sakit.

2 Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan atau
disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior)
Perilaku ini adalah upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit atau
kecelakaan, dimulai dari mengobati sendiri (self treatment) sampai mencari
pengobatan.

3 Perilaku kesehatan lingkungan


Adalah bagaimana seseorang merespon lingkungan baik lingkungan fisik maupun
sosial budaya, sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya.

Seorang ahli lain (Becker 1979) membuat klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan.

a Perilaku hidup sehat


b Perilaku sakit (illness behavior)
c Perilaku peran sakit (the sick role behavior). ( M. Husin, 1999)

Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera
manusia, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam


membentuk tindakan seseorang (overt behavior).

a Proses adopsi perilaku


Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari pengetahuan
akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.

Roger tahun 1974 mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku


baru didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan yakni:

1 Awareness (kesadaran)
Orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus terlebih dahulu.

2 Interest (tertarik)
Orang mulai tertarik pada stimulus.

3 Evaluation (menimbang-nimbang baik atau tidaknya stimulus tersebut bagi


dirinya)
Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.

4 Trial (orang sudah mulai mencoba perilaku baru).


5 Adoption (subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran
dan sikapnya terhadap stimulus).
b Tingkat pengetahuan didalam domain kognitif
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan:

1 Tahu (know).
2 Memahami (comprehension).
3 Aplikasi (application).
4 Analisis (analysis).
5 Sintesis (sintesys).
6 Evaluasi (evaluation). ( Hadinegoro SR, 2001)

Sikap (Attitude)

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap
suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian
reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi
yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Necomb, salah seorang ahli psikologi
sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak
dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan
atau aktivitas akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih
merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang
terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu
sebagai suatu penghayatan terhadap objek.

a Komponen pokok sikap


Dalam bagian lain Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3
komponen pokok:

1 Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek.


2 Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
3. Kecendrungan untuk bertindak (tend to behave).

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude).
Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan dan emosi
memegang peranan penting

b Berbagai tingkatan sikap


Terdiri dari berbagai tingkatan:

1 Menerima (receiving)
Orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

2 Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas
yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
3 Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah
adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.

4 Bertanggung jawab (responsible)


Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dipilihnya dengan segala resiko
merupakan sikap yang paling tinggi. ( M. Husin, 1999)

c. Praktek atau tindakan

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk
mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau
suatu kondisi yang memungkinkan antara lain adanya fasilitas. Selain itu diperlukan
juga faktor dukungan (support) dari pihak lain.

Praktek ini mempunyai beberapa tingkatan:

o Persepsi (perception).
o Respon terpimpin (guided respons).
o Mekanisme (mechanism).
o Adopsi (adoption). ( Hendarwanto, 1996)

Tindakan (Practice)
Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan kemudian
mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya
diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang diketahui atau
disikapinya (dinilai baik). Inilah yang disebut praktek (practice) kesehatan, atau dapat
juga dikatakan perilaku kesehatan (overt behavior). Oleh sebab itu indikator praktek
kesehatan ini juga mencakup hal-hal :

a Tindakan (praktek) sehubungan dengan penyakit mencakup :


Pencegahan penyakit, imunisasi anak, pengurasan bak mandi, dll.
Penyembuhan penyakit, minum obat sesuai petunjuk dokter, mengikuti anjuran
dokter.
b. Tindakan (praktek) pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
Tindakan ini mencakup; mengkonsumsi makan dengan gizi berimbang, melakukan
olahraga secara teratur, tidak merokok, tidak minum-minuman keras dan narkoba.

c. Tindakan (praktek) kesehatan lingkungan

Tindakan ini mencakup membuang air besar di jamban, membuang sampah di


tempat sampah, menggunakan air bersih untuk mandi.

Secara teori memang perubahan perilaku atau mengadopsi perilaku yang mengikuti
tahap-tahap tersebut, yakni melalui proses perubahan pengetahuan (knowledge),
sikap (attitude), praktek (practice) atau KAP.

Cara mengukur indikator perilaku atau memperoleh data informasi tentang indikator-
indikator perilaku tersebut, untuk pengetahuan, sikap dan praktek agak berbeda.
Untuk memperoleh data tentang pengetahuan dan sikap cukup dengan wawancara
dan Fokus Grup Diskusi (FGD) khusus untuk penelitian kualitatif. Sedangkan untuk
memperoleh data tentang praktek atau perilaku akurat melalui pengamatan
(observasi) namun bisa juga dengan pendekatan recall atau mengingat kembali
perilaku yang telah dilakukan responden beberapa waktu yang lalu.( M. Husin,1999)
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini di lakukan dengan metode yang bersifat survey deskriptif. Pelaksanaan
pengumpulan data dilakukan dengan metode quesioner dan observasi dengan mengumpulkan
pada saat dilakukan penyuluhan tentang Gambaran Karakteristik Pengetahuan,Perilaku, Sikap
dan Tindakan Masyarakat terhadap Peran serta masyarakat dalam upaya penurunan angka
kesakitan DBD.

3.1.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai.

3.1.2 Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan pada bulan Maret April 2013

3.1.3 Sasaran Penelitian

Masyarakat dan Lingkungan di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota
Binjai.

3.2 Populasi Dan Sampel

3.2.1 Populasi

Populasi adalah seluruh kepala keluarga yang berdomisili di Kelurahan Cengkeh Turi
Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai, yaitu kepala keluarga atau yang mewakili (istri atau
anak usia di atas 17 tahun) yang bertempat tinggal di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan
Binjai Utara Kota Binjai yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini.

3.2.2 Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang di miliki oleh populasi
tersebut. Dari populasi tersebut akan diambil sampel sebanyak 20 orang dan dengan
metode pengambilan sampel yaitu quota sampling. Sampel diambil dari kepala keluarga
atau yang mewakili (istri atau anak usia di atas 17 tahun) dari seluruh jumlah kepala
keluarga di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai yang hadir pada
waktu penelitian dilakukan.

3.3 Kerangka Konsep

KARAKTERISTIK

1 Umur Peran serta


2 masyarakat
3 Tingkat dalam
pendidikan
upaya
Perilaku penurunan
angka
pengetahuan kesakitan
sikap dan DBD
tindakan
Keterangan kerangka konsep

Bahwa umur dan tingkat pendidikan berkaitan dengan Pengetahuan, Sikap dan Tidakan
Masyarakat terhadap peran serta masyarakat dalam upaya penurunan angka kesakitan DBD.

3.4 Definisi Operasional Variabel

3.4.1. Variabel Tergantung (Dependent variabel)

1. Pengetahuan responden sebanyak 50 orang di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan


Binjai Utara tentang penyakit demam berdarah dengue : penyebab, akibat, pencegahan
dan penanggulanganya.

2. Sikap responden sebanyak 50 orang yang mengikuti quisioner untuk yakin dan
bertindak dalam upaya penurunan angka kesakitan DBD.

3. Tindakan responden sebanyak 50 orang yang mengikuti quisioner untuk


mengaplikasikan, menerapkan, melaksanakan, atau mempraktekkan dalam kehidupan
sehari-hari agar dapat berperan serta dalam upaya penurunan angka kesakitan DBD.

3.4.2. Variabel bebas (independen variable)

1 Umur adalah hitungan tahun terhadap tingkat usia responden.


2 Tingkat pendidikan formal tertinggi yang berhasil ditamatkan oleh responden.
3 Pengetahuan tentang penyakit demam berdarah dengue merupakan pengetahuan
responden.
4 Sikap dapat di rumuskan sebagai kecenderungan untuk merespon secara positif
atau negative terhadap penyakit Demam berdarah dengue.
5 Tindakan merupakan kegiatan yang di lakukan sebagai wujud dari pengetahuan
dan sikap terhadap penyakit Demam derdarah dengue.
3.5 Pengumpulan Data

3.5.1 Data Primer

Data primer diperoleh menggunakan quisioner yang dibagikan kepada 50 responden di


Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai.

3.5.2 Data Sekunder

Data di peroleh dari Puskesmas Pembantu Cengkeh Turi dan Kelurahan Cengkeh Turi
Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai.

3.5.3 Instrumen Penelitian

Setiap responden diberikan quisioner yang berisi pertanyaan mengenai pengetahuan,


sikap dan tindakan tentang penyakit Demam Berdarah Dengue yang terdiri dari 30
petanyaan yang berdasarkan tinjauan pustaka sebagai berikut:

1. 10 Pertanyaan untuk menilai pengetahuan.

2. 10 Pertanyaan untuk menilai sikap.

3. 10 Pertanyaan untuk menilai tindakan.

3.6 Teknik Penilaian

Pengukuran pengetahuan, sikap dan tindakan berdasarkan jawaban pertanyaan yang diberikan
pada responden, menggunakan skala pengukuran Hadi Pratomo dan Sudarti (1986) dengan
definisi sebagai berikut :
1 Sangat Baik, apabila jawaban responden benar antara 90-100%.
2 Baik, apabila jawaban respondenbenar antara 70-80%.
3 Sedang, apabila jawaban responden benar antara 50-60%
4 Kurang Baik, apabila jawaban responden benar 30-40%
5 Sangat Kurang Baik, apabila jawaban responden 10-20%

Pengetahuan

Sangat Baik, jika jawaban benar 9-10 (90-100% dari nilai yang tertinggi).
Baik, jika jawaban benar 7-8 (70-80% dari nilai yang tertinggi)
Sedang, jika jawaban benar antara 5-6 (50-60% dari nilai yang tertinggi).
Kurang Baik, jika jawaban benar 3-4 (30-40% dari nilai yang tertinggi).
Sangat Kurang Baik, jika jawaban benar 1-2 (10-20% dari nilai yang tertinggi)
Sikap
Sangat Baik, jika jawaban benar 9-10 (90-100% dari nilai yang tertinggi).
Baik, jika jawaban benar 7-8 (70-80% dari nilai yang tertinggi)
Sedang, jika jawaban benar antara 5-6 (50-60% dari nilai yang tertinggi).
Kurang Baik, jika jawaban benar 3-4 (30-40% dari nilai yang tertinggi).
Sangat Kurang Baik, jika jawaban benar 1-2 (10-20% dari nilai yang tertinggi)

Tindakan

Sangat Baik, jika jawaban benar 9-10 (90-100% dari nilai yang tertinggi).
Baik, jika jawaban benar 7-8 (70-80% dari nilai yang tertinggi)
Sedang, jika jawaban benar antara 5-6 (50-60% dari nilai yang tertinggi).
Kurang Baik, jika jawaban benar 3-4 (30-40% dari nilai yang tertinggi).
Sangat Kurang Baik, jika jawaban benar 1-2 (10-20% dari nilai yang tertinggi)

3.7 Kunci Jawaban

Pengetahuan

Apabila responden menjawab benar diberi nilai 1 dan apabila responden menjawab
salah diberi nilai 0.

Skor pengetahuan :

1 A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)


2 A.(1) B.(0) C.(0) D.(0)
3 A.(1) B.(0) C.(0) D.(0)
4 A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)
5 A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)
6. A.(0) B.(1) C.(0) D.(1)
7. A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)
8. A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)
9. A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)
10. A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)
Total skor pengetahuan adalah 10

Sikap

Apabila responden menjawab setuju diberi nilai 1 dan apabila responden menjawab
tidak setuju diberi nilai 0.
Skor sikap:

1 A.(1) B.(0) C.(0) D.(0)


2 A.(1) B.(0) C.(0) D.(0)
3 A.(1) B.(0) C.(0) D.(0)
4 A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)
5 A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)
6 A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)
7 A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)
8 A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)
9 A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)
10 A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)
Total skor sikap adalah 10

Tindakan

Apabila responden menjawab sudah diberi nilai 1 dan apabila responden menjawab
belum diberi nilai 0.

Skor tindakan:

1 A.(0) B.(0) C.(1) D.(0)


2 A.(0) B.(0) C.(1) D.(0)
3 A.(1) B.(0) C.(0) D.(0)
4 A.(0) B.(1) C.(0) D.(0)
5 A.(0) B.(1) C.(0) D.(0)
6 A.(0) B.(1) C.(0) D.(0)
7 A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)
8 A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)
9 A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)
10 A.(0) B.(0) C.(0) D.(1)

Total skor tindakan adalah 10

3.8 Pengolahan Dan Analisa Data


Data yang terkumpul diolah secara manual, di edit, dan di entri ke komputer dengan
menggunakan program Microsoft Word 2007 dan Microsoft Excel 2007 Windows XP
yang disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.

3.9 Langkah-Langkah Penelitian

Langkah-langkah penelitian untuk mengetahui perilaku masyarakat di Kelurahan Cengkeh


Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai adalah sebagai berikut :

1 Melapor ke Dinas Kesehatan Kota Binjai.Pengarahan dan Bimbingan dari


masing-masing Kepala Bagian.
2 Survei Lapangan, meliputi pemerintahan setempat dan lokasi penelitian pada
minggu kedua antara lain :
Melapor ke Kepala Puskesmas Kebun Lada Kecamatan Binjai Utara
Melapor ke Camat Kecamatan Binjai Utara.
Melapor ke Lurah Cengkeh Turi.
3 Pengisian kuisioner dilakukan dengan mengumpulkan Masyarakat Kelurahan
Cengkeh Turi Kecamatan Binjai utara Kota Binjai Provinsi Sumatera Utara
pada tanggal 28 Maret 2013 setelah itu dilanjutkan dengan penyuluhan.
Menyusun laporan penelitian berdasarkan data yang diperoleh.
4 Menyusun laporan penilitian berdasarkan data yang diperoleh.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN


DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN DAN PROGRAM PUSKESMAS

4.1 Deskripsi Wilayah Kelurahan Cengkeh Turi

4.1.1 Data Geografis Kelurahan Cengkeh Turi

Puskesmas Pembantu Cengkeh Turi, Kecamatan Binjai Utara terletak di jl.


Kol. YOS SUDARSO No.82 Kelurahan Cengkeh Turi, Kecamatan Binjai Utara
yang berdiri pada tahun 1990 dan merupakan Puskesmas Pembantu
hingga sekarang. Jumlah lingkungan 11 lingkungan dengan Luas wilayah
+ 1.548 km2.

Wilayah penelitian terletak di Kelurahan Cengkeh Turi dengan batas


wilayah :

Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Jati Makmur,


Kecamatan Binjai Utara
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Binjai Kota
Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Binjai Timur
Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Binjai Barat
Keadaan wilayah Kelurahan Cengkeh Turi, Kecamatan Binjai Utara Kota
Binjai sebagian besar terdiri dari daratan, dengan ketinggian 28 m
di atas permukaan laut, sedangkan curah hujan rata-rata 207,3
mm/tahun.
Gambar 4.1

Peta Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu Kelurahan Cengkeh


Turi

Kecamatan Binjai Utara

Sumber : Kantor Kecamatan Cengkeh Turi tahun 2013


4.1.2 Data Demografis Kelurahan Cengkeh Turi

Berdasarkan data dari Kantor Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan


Binjai Utara tahun 2011, luas wilayah di Kelurahan Cengkeh Turi + 1.548
km2, dengan jumlah penduduk + 44.314 jiwa. Jumlah laki-laki + 22.359
jiwa dan perempuan sebanyak + 21.955 jiwa.

Tabel 4.2 Distribusi Jumlah Penduduk Kelurahan Cengkeh Turi


Kecamatan Binjai Utara

Kota Binjai Tahun 2013

Luas Wilayah (Ha) Jumlah Penduduk


No Lingkungan
F % F %
1 Lingkungan I - - 944 10.00
2 Lingkungan II - - 904 9.58
3 Lingkungan III - - 584 6.65
4 Lingkungan IV - - 489 5.18
5 Lingkungan V - - 844 8.95
6 Lingkungan VI - - 698 7.40
7 Lingkungan VII - - 668 7.08
8 Lingkungan VIII - - 898 9.52
9 Lingkungan IX - - 1.106 11.72
10 Lingkungan X - - 1.206 12.78
11 Lingkungan XI - - 1.092 11.12
Jumlah 9.433 100
Sumber : Kantor Kelurahan Cengkeh Turi 2011

Keterangan Tabel

Dari tabel di atas, dapat di ketahui bahwa :

1. Jumlah penduduk terbanyak terdapat pada Lingkungan X, yaitu sebanyak 1.206 (15 %)
jiwa.

2.Jumlah penduduk terkecil terdapat pada Lingkungan IV, yaitu sebanyak 489 (5 %) jiwa.
Tabel 4.3 Distribusi Sarana Pendidikan di Wilayah Kerja
Puskesmas Pembantu Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai
Utara Tahun 2011

No Pendidikan Jumlah
1 TK/PG 10
2 SD 4
3 PESANTREN 2
Jumlah 16
Sumber : Kantor Kelurahan Cengkeh Turi 2013

Keterangan Tabel :
Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa sarana pendidikan yang paling banyak adalah TK/PG
sebanyak 10 sekolah, SD sebanyak 4 sekolah dan paling sedikit adalah PESANTREN
sebanyak 2.

Tabel 4.4 Data 10 Kasus Penyakit Terbanyak pada Pasien Umum


Puskesmas Pembantu Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota
Binjai Tahun 2013

PUSKESMAS JATI
No. JENIS PENYAKIT
MAKMUR

1. Gastritis 12.3 %

2. Hipertensi 12.1 %

3. ISPA 11.9 %

4. Diare 11.8 %

5. Penyakit Gigi 10.1 %

6. Alergi Kulit 10.0 %

7. Reumatik 8.2 %

8. Tonsilitis 7.9 %

9. Disentri 6.8 %

Hyperemesis
10. 5.1 %
Grauidarum
Lain-lain 3.5 %

Sumber : Puskesmas Pembantu Cengkeh Turi 2013

Keterangan Tabel 4.4

Dari tabel di atas penyakit terbanyak pada pasien umum yang mengenai
penduduk di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Cengkeh Turi adalah
penyakit Gastritis.

Tabel 4.5 Data Tahunan Penderita DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu
Cengkeh Turi Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara
Kota Binjai

Jumlah Kasus DBD


No Kelurahan Cengkeh Turi (Orang)
2011 2012 2013
1 Lingkungan I 3 2
2 Lingkungan II - -
3 Lingkungan III - 1
4 Lingkungan IV 1 -
5 Lingkungan V - -
6 Lingkungan VI - -
7 Lingkungan VII - -
8 Lingkungan VIII 1 -
9 Lingkungan IX 5 6
10 Lingkungan X - 1
11 Lingkungan XI 1 1
Jumlah
Sumber : Puskesmas Pembantu Cengkeh Turi

Keterangan Tabel :
4.2 HASIL PENELITIAN

4.2.1 Analisa Data

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan
Binjai Utara Kota Binjai dengan 50 responden, data dikumpul dan disajikan dalam bentuk
tabel dan grafik sebagai berikut :

4.2.1.1 TABEL DAN GRAFIK DISTRIBUSI KARAKTERISTIK


RESPONDEN.

Tabel dan Grafik 5.1 Distribusi Responden Berdasarkan Umur

Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai

Tahun 2013

No Umur Frekuensi Persentase ( % )


(Tahun)
1 20-23 5 25

2 24-27 6 30

3 28-31 3 15

4 32-35 6 30

Jumlah 20 100

umur 20-23 umur 24-27 umur 28-31 umur 32-35

30% 25%

15% 30%

Keterangan 5.1 : Dari Tabel dan Grafik di atas didapatkan bahwa


Responden yang banyak (30%) berasal dari umur 24-27 tahun dan 32-
35 tahun.

Tabel dan Grafik 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat


Pendidikan

di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai

Tahun 2012

No Tingkat Frekuensi Persentase ( % )


Pendidikan

1 SD 6 30

2 SMP 2 10
3 SMU 11 55

Jumlah 20 100

SD SMP SMU

32%

58%
11%

Keterangan: Dari Tabel dan Grafik di atas didapatkan bahwa Responden


terbanyak (55%) mempunyai tingkat pendidikan SMU.

4.2.1.2 TABEL DAN GRAFIK DISTRIBUSI PENGETAHUAN


RESPONDEN

Tabel dan Grafik A. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang


kepanjangan dari 3M Plus Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara
Kota Binjai
Tahun 2013

No Jawaban Frekuensi Persentase keterangan


(%)
1 Menguras tempat penampungan 2 10% Sangat
air, mengubur barang bekas, kurang baik
menutup tempat air.
2 Menutup, menguras, dan 10 50% sedang
mengubur
3 Mengubur barang bekas,menguras 6 30% Kurang baik
bak mandi, menutup tempat
penampungan air.
4 Membakar barang bekas, 2 10% Sangat
menguras, menutup jendela. kurang baik

Jumlah 20 100

Sales

Menguras tempat
penampungan air,
mengubur barang bekas,
menutup tempat air.
10% 10% Menutup, menguras, dan
mengubur
30% Mengubur barang
bekas,menguras bak
50% mandi, menutup tempat
penampungan air.
Membakar barang bekas,
menguras, menutup
jendela.

Keterangan: Dari tabel dan grafik di atas di dapat kan bahwa 50%
responden menjawab menutup, menguras, dan mengubur

Tabel dan Grafik B. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang


Penyakit Demam Berdarah Dengue
Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai

Tahun 2013

N Jawaban Frekue Persenta Keteran


o nsi se (%) gan

1 Penyakit yang 1 5% Sangat


ditularkan melalui kurang
gigitan nyamuk baik
yang hanya
mengenai anak-
anak

2 Penyakit yang 0 0% -
ditularkan melalui
gigitan nyamuk
dengan gejala yang
muncul seperti flu

3 Penyakit yang 5 25% Kurang


ditularkan melalui baik
gigitan nyamuk
yang menyebabkan
nyeri sendi
sehingga penderita
menjadi lumpuh

4 Penyakit yang 14 70% baik


ditularkan melalui
gigitan nyamuk
yang menyebabkan
gangguan pada
pembuluh darah
yang dapat
mengakibatkan
pendarahan
Jumlah 20 100

Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk yang


dengan
hanya
menyebabkan
gejala
mengenai
yang gangguan
nyeri
muncul
anak-
anak pembuluh
seperti
sendi
pada sehingga
flu penderita
darah yangmenjadi lumpuh

5%

25%

70%

Keterangan: Dari tabel dan grafik di atas didapatkan bahwa sebagian


besar (52%) Responden menjawab Demam Berdarah Dengue.

Tabel dan Grafik C. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang


Penyebab Penyakit Demam Berdarah Dengue
Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai

Tahun 2013

No Jawaban Frekuensi Persentase(%) Keterangan


1 Nyamuk Aedes Aegepty 6 30% Kurang baik
2 Nyamuk Anopheles 14 70% baik
3 Nyamuk Culex 0 0% -
4 Semua jenis nyamuk 0 0% -
Jumlah 20 100

30%
Nyamuk Aedes Aegepty
Nyamuk Anopheles
70% Nyamuk Culex
Semua jenis nyamuk

Ketrangan: Dari tabel dan grafik di atas didapatkan bahwa sebagian


besar (70%) Responden yang tidak mengetahui bahwa penyebab DBD
adalah Nyamuk Aedes Agepty.

Tabel dan Grafik D. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang


Cara Penularan
Penyakit Demam Berdarah Dengue

Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai

Tahun 2013

No Jawaban frekuensi Persentase (%) Keterangan


1 Melalui gigitan nyamuk 5 25% Kurang baik
2 Melalui peralatan makan 13 65% baik
bersama
3 Melalui air liur 1 5% Sangat kurang
baik
4 Melalui sentuhan langsung 1 5% Sangat kurang
baik
Jumlah 20 100

5% 5% 25% Melalui gigitan nyamuk


Melalui peralatan
makan bersama
Melalui air liur
65%
Melalui sentuhan
langsung

Keterangan: Dari tabel dan grafik di atas Didapatkan bahwa sebagian

besar (65%) Responden yang mengetahui bahwa penyakit DBD dapat


ditularkan oleh gigitan nyamuk.

Tabel dan Grafik E. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang


ciri-ciri Nyamuk Penyebab Demam Berdarah Dengue ditularkan
Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai

Tahun 2013

No Jawaban Frekuensi Persentase (%) Keterangan


1 Nyamuk hidup di daerah hutan 0 0% -
2 Nyamuk menggigit pada malam hari 2 10% Sangat kurang
baik

3 Nyamuk suka hidup pada genangan air 8 40% Kurang baik


4 Nyamuk berukuran sedang dengan tubuh 10 50% sedang
berwarna hitam kecoklatan yang ditutupi
sisik
dengan garis-garis putih
Jumlah 20 100

nyamuk hidup nyamuk menggigit


didaerah hutan pada malam hari
10%
nyamuk suka hidup nyamuk berukuran
50% 40% pada genangan air sedang dengan tubuh
parit berwarna hitam
kecoklatan yang
ditutupi sisik dengan
garis-garis putih

Keterangan: Dari tabel dan grafik di atas didapatkan bahwa sebagian


besar (50%) Responden yang mengetahui bahwa ciri-ciri nyamuk
penyebab DBD adalah nyamuk berukuran sedang dengan tubuh berwarna
hitam kecoklatan yang ditutupi sisik dengan garis-garis putih

Tabel dan Grafik F. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang


ciri-ciri Penyakit Demam Berdarah Dengue Di Kelurahan Cengkeh Turi
Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai
Tahun 2013
N Jawaban Frekuensi Persentase (%) Keterangan
O
1 Demam yang mendadak tinggi 5 25% Kurang baik
2 Demam yang suhunya tinggi terus 3 15% Sangat kurang
menerus baik
3 Demam yang suhunya naik turun 10 50% sedang

4 Demam yang suhunya naik pada sore hari 2 10% Sangat kurang
dan baik
disertai keringat malam
Jumlah 20 100

demam yang
mendadak tinggi
10% 25% demam yang suhunya
naik terus menerus
15%
50% demam yang suhunya
naik turun
demam yang suhunya
naik pada sore hari dan
disertai keringat malam

Keterangan: Dari tabel dan grafik di atas didapatkan bahwa hanya


(10%) Responden yang mengetahui ciri-ciri demam pada DBD adalah
demam yang suhunya naik pada sore hari dan disertai keringat malam.

Tabel dan Grafik G. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang


Gejala
Penyakit Demam Berdarah Dengue
Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai

Tahun 2013

No Jawaban Frekuensi Persentase (%) Keterangan


1 Demam dan sakit kepala 2 10% Sangat kurang
baik
2 Nyeri otot dan bintik merah 4 20% Sangat kurang
baik
3 Demam sore hari dan disertai 2 10% Sangat kurang
keringat baik
pada malam hari
4 Semua benar 12 60% sedang
Jumlah 20 100

Demam dan sakit


10% kepala
20% Nyeri otot dan bintik
60% merah
10% Demam sore hari dan
disertai keringat pada
malam hari
Semua benar

Keterangan: Dari tabel dan grafik di atas didapatkan bahwa hanya (60%)
Responden yang mengetahui bahwa ciri-ciri penyakit DBD adalah semua
dari poin yang disebutkan.

4.2.1.3 TABEL DAN GRAFIK DISTRIBUSI SIKAP RESPONDEN


Tabel dan Grafik A. Distribusi Responden Berdasarkan Sikap
Jika dirumah terdapat anggota keluarga yang menderita

Penyakit Demam Berdarah Dengue

Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai

Tahun 2013

N Jawaban Frekuensi Persentase (%) Keterangan


o
1 Pemberian makanan dan minuman 3 15% Sangat kurang
yang baik
cukup serta pemberian obat-obatan
2 Memberi antibiotik dan jamu 2 10% Sangat kurang
baik
3 Memberi jus jambu biji merah 10 50% Sedang
4 Memberi minuman sari kurma 5 25% Kurang baik
Jumlah 20 100

Pemberian makanan dan minuman yang cukup serta pemberian obat-


obatan
Memberi antibiotik dan jamu
Memberi jus jambu biji merah
Memberi minuman sari kurma

15%
25%
10%

50%
Keterangan: Dari tabel dan grafik di atas didapatkan bahwa hanya
(15%) Responden yang melakukan pemberian makanan dan minuman
yang cukup serta pemberian obat-obatan.

Tabel dan Grafik B. Distribusi Responden Berdasarkan


Sikap Terhadap Penyakit Demam Berdarah Dengue

tentang kapan penderita dibawa ke rumah sakit

Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai

Tahun 2013

N Jawaban Frekuensi Persentase (%) Keterangan


o
1 Jika penderita mengalami demam 8 40% Kurang baik
tinggi
2 Jika penderita sudah tidak nafsu 0 0% -
makan dan minum
3 Jika sudah banyak tetangga yang 3 15% Sangat kurang
menderita DBD baik
4 Jika sudah dikasih obat penderita 9 45% Sedang
tidak
juga sembuh
Jumlah 20 100
jika penderita mengalami demam tinggi
jika penderita sudah tidak nafsu makan dan minum
Jika sudah banyak tetangga yang menderita dbd
Jika sudah dikasi obat penderita tidak juga sembuh

40%
45%

15%

Keterangan: Dari tabel dan grafik di atas didapatkan bahwa hanya


(40%) Responden yang setuju bahwa penderita dibawa kerumah sakit jika
sudah tidak ada nafsu makan dan minum.

Tabel dan Grafik C. Distribusi Responden Berdasarkan Sikap kenapa responden


membawa penderita DBD ke rumah sakit

No Jawaban Frekuensi Persentase (%) Keterangan


1 Karena DBD dapat 3 15% Sangat kurang
menyebabkan perdarahan baik
sehingga dapat menyebabkan
kematian
Karena dengan dibawa ke 2 10% Sangat kurang
rumah sakit penyakit DBD baik
2 dapat sembuh
dalam 3 hari
Karena dengan dibawa 3 15% Sangat kurang
3 kerumah sakit waktu untuk baik
mengurus
penderita tidak terlalu banyak
Karena disuruh oleh dokter 12 60% sedang
4 yang memeriksa
Jumlah 20 100

Karena DBD dapat Karena dengan dibawa


menyebabkan ke rumah sakit
15% perdarahan sehingga penyakit DBD dapat
dapat menyebabkan sembuh dalam 3 hari
10% kematian
60%
15% Karena dengan dibawa Karena disuruh oleh
kerumah sakit waktu dokter yang
untuk mengurus memeriksa
penderita tidak terlalu
banyak

Keterangan: Dari tabel dan grafik di atas didapatkan bahwa hanya


(15%) Responden setuju bahwa penderita DBD dibawa kerumah sakit
karena DBD dapat menyebabkan perdarahan sehingga dapat
menyebabkan kematian.

4.2.1.4. TABEL DAN GRAFIK DISTRIBUSI TINDAKAN RESPONDEN


Tabel dan Grafik A. Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Masyarakat
Tentang Cara Pencegahan Penyakit DBD

Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai

Tahun 2013

No Jawaban Frekuensi Persentase Keteranga


(%) n

1 Pemberian vaksin DBD 5 25% Kurang baik

2 Mandi dengan air 2 10% Sangat


bersih kurang baik

3 Melakukan 8 40% Kurang baik


pencegahan dengan
membunuh nyamuk
penular DBD

4 Makan yang teratur 5 25% Kurang baik

Jumlah 20 100

Pemberian vaksin DBD


25% 25%
Mandi dengan air
bersih
10%
Melakukan pencegahan
40% dengan membunuh
nyamuk penular DBD
Makan yang teratur
Keterangan: Dari tabel dan grafik di atas dapat di lihat bahwa bahwa
sebagian besar (40%) Responden yang melakukanpencegahan dengan
membunuh nyamuk penular DBD.

Tabel dan Grafik B. Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Masyarakat


yang bukan merupakan kegiatan 3M

No Jawaban Frekuensi Persentase Keteranga


(%) n

1 Menguras bak mandi 2 10% Sangat


kurang baik

2 Menutup tempat 3 15% Sangat


penampungan air kurang baik

3 Memakai obat nyamuk 10 50% sedang


bakar

4 Mengubur barang 5 25% Kurang baik


bekas

Jumlah 20 100

Menguras bak mandi Menutup tempat penampungan air


Menaburkan bubuk abate Mengubur barang bekas

10%
25%
15%

50%
Keterangan: Dari tabel dan grafik di atas dapat di lihat bahwa (50%)
Responden melakukan tindakan yang bukan termasuk kegiatan 3M
memakai obat nyamuk bakar.

Tabel dan Grafik C. Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Masyarakat


Tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk Di Kelurahan Cengkeh Turi
Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai
Tahun 2013

No Jawaban Frekuensi Persentas Keteran


e (%) gan

1 Melaksanakan 14 70% Baik


kegiatan 3M

2 Menggunakan obat 2 10% Sangat


nyamuk bakar kurang
baik

3 Menggunakan 0 0% -
kelambu ketika
tidur

4 Membersihkan 4 20% Sangat


lingkungan sekitar kurang
baik

Jumlah 20 100
Melaksanakan kegiatan
20% 3M
Menggunakan obat
10%
nyamuk bakar
70% Menggunakan kelambu
ketika tidur
membersihkan
lingkungan sekitar

Keterangan: Dari tabel dan grafik di atas dapat di lihat bahwa sebagian
besar (70%) Responden yang sudah melaksanakan kegiatan 3 M.

Tabel dan Grafik D. Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Masyarakat


Jika Ada Warga Yang Menderita DBD Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan
Binjai Utara Kota Binjai
Tahun 2013

No Jawaban Frekuensi Persentas Keteran


e (%) gan

1 Mengindar dari 5 25% Kurang


korban yang baik
menderita DBD

2 Mencegah 10 50% sedang


terjadinya DBD
dengan melakukan
3M,menabur
bubuk abate dan
foging

3 Pindah rumah 0 0% -
untuk sementara
waktu

4 Makan makanan 5 25% Kurang


yang bergizi agar baik
tidak mudah sakit

Jumlah 20 100

Mengindar dari korban Mencegah terjadinya


yang menderita DBD DBD dengan
25% 25% melakukan
3M,menabur bubuk
abate dan foging
50%
Pindah rumah untuk Makan makanan yang
sementara waktu bergizi agar tidak
mudah sakit

Keterangan: Dari tabel dan grafik di atas dapat di lihat bahwa sebagian
besar (50%) Responden yang sudah melakukan pencegahan terjadinya
DBD dengan melakukan 3M, menabur bubuk abate dan melakukan foging.

Tabel dan Grafik E. Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Masyarakat


Tentang Penaburan bubuk Abate Dapat Membunuh Jenis Nyamuk
No Jawaban Frekuensi Persentase Keterangan
(%)

1 Telur nyamuk 5 25% Kurang baik

2 Jentik nyamuk 12 60% sedang

3 Nyamuk dewasa 0 0% -
jantan

4 Nyamuk dewasa 3 15% Sangat


betina kurang baik

Jumlah 20 100

15% 25%
Telur nyamuk
Jentik nyamuk
Nyamuk dewasa jantan
60%
Nyamuk dewasa betina

Keterangan: Dari tabel dan grafik di atas dapat di lihat bahwa sebagian
besar (60%) Responden yang sudahmenaburkan bubuk abate untuk
membunuh jentik nyamuk.

Tabel dan Grafik F. Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Yang Efektif


Untuk Menguras Bak Mandi
No Jawaban Frekuensi Persentase Keterangan
(%)

1 3x seminggu 15 75% Baik

2 1x dalam seminggu 3 15% Sangat


kurang baik

3 1x dalam sebulan 0 0% -

4 Setiap hari 2 10% Sangat


kurang baik

Jumlah 20 100

10%
15%
3x seminggu
1x dalam seminggu
75% 1x dalam sebulan
Setiap hari

Keterangan Dari tabel dan grafik di atas dapat di lihat bahwa sebagian
besar (15%) Responden yang sudah melakukan pengurasan bak mandi 3x
dalam seminggu.
Tabel dan Grafik G. Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Masyarakat
Dalam memberikan pertolongan pertama pada saat anggota
keluarga yang demam tinggi

Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai

Tahun 2013

No Jawaban Frekuensi Persentase keterangan


(%)

1 Di Kompres 4 20% Sangat


kurang baik

2 Memberi obat 8 40% Kurang baik


penurun panas

3 Di bawa berobat ke 6 30% Kurang baik


puskesmas

4 Di beri jamu 2 10% Sangat


kurang baik

Jumlah 20 100

Sales
Di Kompres
10% 20% Memberi obat
penurun panas
30% Di bawa berobat ke
puskesmas
40% Di beri jamu
Keterangan: dari tabel dan grafik di atas di dapatkan bahwa 40%
responden memberi obat penurun panas jika ada anggota
keluarga mereka yang demam.

Tabel dan Grafik H. Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan responden


dalam memberikan cairan pada anggota keluarga yang kena DBD
Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai

Tahun 2013

No Jawaban Frekuensi Persentas keteran


e (%) gan

1 Memberi air putih 5 25% Kurang


baik

2 Memberikan susu 10 50% sedang

3 Memberi jamu 3 15% Sangat


kurang
baik

4 Memberi oralit 2 10% Sangat


kurang
baik

Jumlah 20 100
Sales

10%
25% Memberi air putih
15%
Memberikan susu
Memberi jamu
Memberi oralit

50%

Keterangan: dari tabel dan grafik di atas di dapatkan bahwa 50%


responden menjawab memberikan susu.

Tabel dan Grafik I. Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Masyarakat


Untuk melapor ke petugas kesehatan terdekat jika ada anggota
keluarga yang terkena DBD

Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai


Tahun 2013

No Jawaban Frekuensi Persentase keteran


(%) gan

1 Melapor ke mantri 5 25% Kurang


baik

2 Melapor ke lurah 2 10% Sangat


kurang
baik

3 Melapor ke dokter 8 40% Kurang


baik

4 Melapor ke camat 5 25% Kurang


baik

Jumlah 20 100

Sales

25% 25% Melapor ke mantri


Melapor ke lurah
Melapor ke dokter
10%
Melapor ke camat
40%
Keterangan: dari tabel dan grafik di atas di dapatkan bahwa 40%
responden akan melapor ke dokter jika ada anggota keluarga
mereka yang kena DBD.

Tabel dan Grafik J. Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan responden


untuk melaksanakan 3M
Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai

Tahun 2013

No Jawaban Frekuensi Persentas keteran


e (%) gan

1 Menguras tempat 3 15% Sangat


penampungan air, kurang
mengubur barang baik
bekas, menutup
tempat air.

2 Menutup, 10 50% sedang


menguras, dan
mengubur

3 Mengubur barang 5 25% Kurang


bekas,menguras baik
bak mandi,
menutup tempat
penampungan air

4 Membakar barang 2 10% Sangat


bekas, menguras, kurang
menutup jendela. baik

Jumlah 20 100

Sales

Menguras tempat Menutup, menguras, dan


penampungan air, mengubur
mengubur barang bekas,
10% 15% menutup tempat air.
25% Mengubur barang Membakar barang bekas,
bekas,menguras bak menguras, menutup
50%
mandi, menutup tempat jendela.
penampungan air

Keterangan: tabel dan grafik di atas di dapatkan bahwa 50%


responden menjawab menutup,menguras,dan mengubur
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang Penyakit
Demam Berdarah Dengue Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan
Binjai Utara Kota Binjai
Tahun 2013

No Pengetahuan Persentase

1. Baik 41%

2. Kurang Baik 59%

Jumlah 100%

Distribusi Responden Berdasarkan Sikap Tentang Penyakit


Demam Berdarah Dengue Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan
Binjai Utara Kota Binjai
Tahun 2013
n
sikap persentase
o

1. Baik 23%

2. Kurang Baik 77%

Jumlah 100 %

Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Tentang Penyakit


Demam Berdarah Dengue
Di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan BinjaiUtara Kota Binjai
Tahun 2013

n
tindakan persentase
o

1. Baik 47%

2. Kurang Baik 53%

Jumlah 100 %

4.3 PERMASALAHAN DAN PEMECAHAN MASALAH

Penelitian Gambaran Karakteristik, Pengetahuan, Sikap dan Tindakan


Terhadap upaya penurunan angka kesakitan DBD di Kelurahan Cengkeh
Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai Tahun 2013.

4.3.1 Permasalahan

Masalah Pengetahuan
Dari hasil penelitian melalui kuisioner dengan responden 50 orang yang
diberikan kepada warga Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara
Kota Binjai dijumpai adanya masalah:

1 Masih terdapat 70% responden yang tidak mengetahui bahwa penyakit DBD
ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegpty.
2 Terdapat 75% responden yang tidak mengetahui bahwa penyakit DBD ditularkan
melalui gigitan nyamuk.
3 Masih terdapat 90% responden yang tidak mengetahui ciri-ciri demam pada DBD
adalah demam yang suhunya naik pada sore dan berkeringat pada malam hari.

Masalah Sikap

Dari hasil penelitian melalui kuisioner dengan responden 50 orang yang


diberikan kepada warga Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara
Kota Binjai dijumpai adanya masalah:

1 Ditemukan 85% responden tidak memberikan makanan dan minuman yang cukup
serta pemberian obat-obatan pada penderita DBD yang dirawat dirumah.
2 Ditemukan hanya 15% responden yang sadar kenapa penderita dibawa kerumah
sakit karena DBD dapat menyebabkan perdarahan sehingga dapat menyebabkan
kematian.

Masalah Tindakan

Dari hasil penelitian melalui kuisioner dengan responden 50 orang yang


diberikan kepada warga di Kelurahan Jati Makmur Kecamatan Binjai Utara
Kota Binjai dijumpai adanya masalah:

Ditemukan 75% responden yang belum menguras bak mandi minimal 1x


dalam seminggu untuk mencegah penyakit DBD.

4.3.2 Pemecahan Masalah


1 Memberikan penyuluhan kepada masyarakat secara rutin 2 minggu sekali tentang
nyamuk penyebab DBD dan menyebarkan lembaran informasi tentang penyakit
DBD kepada masyarakat.
2 Memberikan penjelasan kepada masyarakat bahwa penyakit DBD merupakan
penyakit berbahaya yang bisa menyebabkan kematian dan menjelaskan bahwa cara
yang paling efektif untuk mengurangi perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD
adalah dengan membunuh jentik nyamuk penyebab DBD.
3 Mengadakan perlombaan lingkungan sehat setiap sebulan sekali agar terciptanya
lingkungan bersih dan sehat sehingga secara tidak langsung hal ini dapat mencegah
perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.
4 Mengadakan kerja bakti membersihkan selokan setiap hari jumat (jumat bersih)

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan :

1 Diketahui bahwa gambaran karakteristik masyarakat di Kelurahan Cengkeh Turi


Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai Responden terbanyak berumur 26-28 tahun
hanya sebanyak 28% dan Responden terbanyak dengan tingkat pendidikan
SLTP / Sederajat hanya sebanyak 40%.
2 Diketahui bahwa pengetahuan masyarakat tentang pencegahan dan
penanggulangan penyakit demam berdarah dengue sebagian besar sebanyak
59% masih kurang baik.
3 Diketahui bahwa sikap masyarakat tentang pencegahan dan penanggulangan
penyakit demam berdarah dengue sebagian besar sebanyak 77% masih
kurang baik.
4 Diketahui bahwa tindakan masyarakat tentang pencegahan dan
penanggulangan penyakit demam berdarah dengue sebagian besar sebanyak
53% masih kurang baik.
5.2 Saran

Menghadiri dan mendengarkan penyuluhan tentang penyakit Demam Berdarah


Dengue yang disampaikan oleh petugas kesehatan sehingga menambah pengetahuan
masyarakat di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai.

Masyarakat Kelurahan Cengkeh Turi


Kepada seluruh warga pada umumnya agar lebih memperhatikan
dalam hal pencegahan dan penanggulangan penyakit demam
berdarah dengue dalam upaya penurunan angka kesakitan DBD di
Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai.

Puskesmas Pembantu Cengkeh Turi


Perlu ditingkatkannya program promosi kesehatan dalam bentuk
penyuluhan dan penyebaran lembaran informasi oleh tenaga
kesehatan Puskesmas tentang pentingnya pencegahan dan
penanggulangan penyakit demam berdarah dengue di Kelurahan
Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai.

Pemerintah Kecamatan Binjai Utara


Hasil penelitian ini diharapkan bisa mempermudah program kerja
kecamatan dalam bidang pencegahan dan pemberantasan penyakit
demam berdarah dengue demi terciptanya masyarakat yang sehat
dengan adanya penyuluhan yang diberikan peneliti kepada
masyarakat di Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota
Binjai.

Bagi UPT PTC Binjai Utara


Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada UPTC PTC Binjai
Utara dalam rangka mencegah dan memberantas penyakit demam berdarah dengue di
Kelurahan Cengkeh Turi Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai.
Bagi Peneliti
Diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu dan pengalaman yang
didapat di lapangan terhadap nantinya kelak di kehidupan yg
sesungguhnya.

DAFTAR PUSTAKA

1 WHO. Dengue, Dengue Haemorrhagic Fever and Dengue Shock Syndrome


in the Context of the Integrated Management of Childhood Illness. 2005.
Available at : http//www.who.int

2 Shepherd SM, Hinfey PB and Shoff. Dengue Haemorrhagic Fever. 2007.


Available at : http//emedicine.com

3 Amin P, Bhandare and Srivastava A. Dengue, DHF, DSS. 2007. Available at


: http//www.bjh.org

4 Soedarmo SSP, Garna H, Hadinegoro SRS, dkk. Buku Ajar Infeksi & Pediatri
Tropis, Edisi II. 2008. Ikatan Dokter Anak Indonesia
5 Halstead SB. Dengue Fever and Dengue Haemorrhagic Fever. In : Behrman
RE, Kliegman RM, Jenson HB, editors Nelson textbook of Pediatrics. 18 th
ed.Philadelphia : Sanders. 2007. p.1412-1414

6 Hadinegoro SR, Soegijanto S, Wuryadi S, Thomas Suroso (Editor) : Tata


Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia, Depkes RI, Dirjen
P2MPL, Jakarta, 2001

7 Nimmannitya S : Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever: Pearl and


Pitfalls in Diagnosis and Management, DTM&H Course 2002, Faculty of
Tropical Medicine, Mahidol University, Bangkok.

8 Hendarwanto, Dengue Dalam : Ilmu Penyakit Dalam jilid 1 Edisi kedua


Balai Penerbit FKUI 1996 : 417 426.
9 Demam Berdarah Dengue Dalam standar Profesi Ilmu Kesehatan Anak,
RSUP Mohammad Hoesin Palembang FK UNSRI. Tahun 1999 : 77 81.
10 Berhman R.E, Vaughan V.C. Nelson, Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 12 Bagian
2. Ahli Bahasa Moelia S. Maulany R.F. EGC Jakarta, 1989 : 296 298.
11 Hasan R. Alatas H. Ilmu Kesehatan Anak, Buku @ Cetakan ke-7, Penerbit
bagian Ilmu Kesehatan Anak FK-UI Jakarta 1997 : 607 619.
12 Mansyoer A. kapita Selekta Kedokteran. Edisi kedua, Penerbit Media
Aesculapius FK UI Jakarta 1999 : 428 430.
13 Sunarno S. Poorwo Soedarmo, Herry Garna, Sri Rezeki S. Hadinegoro,
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi dan Penyakit Tropis, Edisi
Pertama, Ikatan Dokter Anak Indonesia Jakarta 2002 : 186 2003
14 Tatalaksana Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue. Dalam
Updates In Pediatrics FKUI Jakarta 2002 : 95 114.
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kegiatan ini telah diseminarkan pada :

Hari/Tanggal :

Pukul :

Tempat: Puskesmas Bandar Sinemba


Diketahui oleh kepala Bidang Pengembangan SDM kes.

Dinas Kesehatan Kota Binjai

(Arapenta Bangun, SKM.M.Kes)

NIP. 197705 19200003 1 002

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadiratan Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya
laporan kegiatan ini dapat diselesaikan dalam rangka melaksanakan Kepaniteraan Klinik
Senior (KKS) pada bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati dan
Universitas Abulyatama yang dilaksanakan pada tanggal 16 Juli 08 September 2012.

Laporan ini berdasarkan informasi dan data yang diperoleh selama berada`di Dinas
Kesehatan Kota Binjai, Puskesmas Jati Makmur Kelurahan Jati Makmur Kecamatan Binjai
Utara Kota Binjai.
Pada Kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah
membimbing kami selama KKS (Ilmu Kesehatan Masyarakat) dan membantu dalam
penyusunan laporan ini, yaitu :

1. Dr. Melyani Bangun Kepala Dinas Kesehatan Kota Binjai.


2. Dr. Harlina Harahap Kepala Puskesmas Jati Makmur
3. Arapenta Bangun,SKM.M.Kes, Jojor Simamora,SKM.M.Kes, Zulfan Buchari
pembimbing di Dinas Kesehatan.
4. Kecamatan Binjai Utara
5. Kelurahan Jati Makmur
6. Seluruh staf Puskesmas Jati Makmur yang telah membantu memberikan data-data
puskesmas.
7. Seluruh Masyarakat Kelurahan Jati Makmur Binjai Utara yang telah banyak
membantu dan berpartisipasi sebagai responden.

Demikianlah Laporan Kegiatan ini kami laksanakan selama menjalani KKs pada
bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati dan Universitas Abulyatama.
Walaupun kami menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dari segi bahasa, isi
maupun sistematika penulisanpada Laporan Kegiatan ini, namun itu semua semata-mata
karena keterbatasan pengetahuan yang ada pada kami.

Oleh karenanya kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari
pembaca. Semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.

Binjai Utara, Agustus 2012

Hormat Kami,

Penyusun

Diketahui Oleh :

Kepala Puskesmas Jati Makmur Kepala Dinas Kesehatan

Kota Binjai
(Dr.Harlina Harahap) (Dr.Melyani Bangun)

NIP.196812302006042004 NIP.107206102006042013

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................ii

DAFTAR ISI ...................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ...................................................................................35


1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................36
1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................36
1.3.1 Tujuan Umum ...................................................................................36
1.3.2 Tujuan Khusus ...................................................................................37
1.4 Manfaat Penelitian ...................................................................................37

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Demam Berdarah Dengue...................................................................................38

2.1.1 Definisi ...................................................................................38

2.1.2 Epidemiologi ...................................................................................38


2.1.3 Etiologi ...................................................................................39

2.1.4 Vektor Demam Berdarah Dengue ...........................................................39

2.1.5 Patofisiologi dan Patogenesis .......................................................................40

2.1.6 Mekanisme Penularan DBD .......................................................................40

2.1.7 Tempat Potensial bagi Penularan DBD ...........................................................41

2.1.8 Gejala Klinik ...................................................................................41

2.1.9 Diagnosa ...................................................................................43

2.1.10 Pengobatan ...................................................................................44

2.1.11 Pencegahan ...................................................................................44

2.2 Tinjauan Tentang Perilaku Kesehatan ...........................................................45

2.2.1 Perilaku Kesehatan ...................................................................................45

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian ...................................................................................50

3.2 Populasi dan Sampel ...................................................................................50

3.3 Kerangka Konsep ...................................................................................51

3.4 Definisi Operasional Variabel .......................................................................51

3.5 Pengumpulan Data ...................................................................................52

3.6 Teknik Penilaian ...................................................................................52

3.7 Kunci Jawaban ...................................................................................53

3.8 Pengolahan dan Analisa Data .......................................................................54

3.9 Langkah Langkah Penelitian .......................................................................54

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................................56


BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ...................................................................................81

5.2 Saran ...................................................................................81

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................83

LAMPIRAN

MAKALAH OBSTETRI

SOLUSIO PLASENTA
Disusun Sebagai Tugas Mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior (KKS)
Obstetri Ginekologi Pada Rumah Sakit Haji Medan
Provinsi Sumatera Utara Medan

Pembimbing

dr. H.M HAIDIR , Sp.OG, MHA

Disusun oleh :

Ajeman Pansuri 11310478.P


Ade Nur Anwar 03310004
Nanik Selectaria 03310199
Reni Anita Rachman 05310110
Candra Mizwar 06310030
Dhandy Agung R 06310041
Hana Apridasari 07310107

RUMAH SAKIT HAJI MEDAN PROVINSI SUMATERA UTARA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MALAHAYATI BANDAR LAMPUNG
2012