Anda di halaman 1dari 2

Hendra Kusuma S (13502030111071)

INSENTIF PAJAK
Salah satu instrumen kebijakan yang sering digunakan sebagai comparative advantages
adalah kebijakan tax incentives (insentif perpajakan).
Definisi Insentif pajak menurut Suandy (2003) adalah suatu pemberian fasilitas perpajakan
yang diberikan kepada investor luar negeri untuk aktifitas tertentu atau untuk suatu wilayah
tertentu.
Insentif pajak merupakan suatu instrumen dari sistem perpajakan yang dapat dipergunakan
untuk mempengaruhi kegiatan ekonomi dan dapat menarik investasi asing masuk. Dalam
beberapa kasus, insentif pajak diterapkan sebagai kompensasi dari buruknya iklim investasi
dari suatu negara yang antara lain dicerminkan dari kurangnya infrastruktur, ketidakpastian
hukum dan rumitnya birokrasi (Thuronyi, 1998).
Dalam insentif pajak memiliki keuntungan dan kekurangan
Keuntungan
Segi positif adanya insentif pajak adalah kemampuan insentif pajak sebagai perangsang
terhadap investor untuk menanamkan modal sehingga dengan banyaknya investasi yang
masuk akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang sangat diperlukan dalam
meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kekurangan
- Insentif pajak berpotensi dalam menciptakan adanya korupsi
- Insentif pajak dinilai tidak efektif dan efisien.
- Insentif pajak menyebabkan ketidakadilan.
- Insentif pajak menyebabkan distorsi.
Menurut Thuronyi (1998), jenis insentif pajak secara umum adalah ;
1. Tax holiday, yaitu insentif pajak yang diberikan melalui pembebasan dari pajak
penghasilan badan atau corporate income tax (CIT) dan/atau pengurangan tarif pajak
atas CIT.

2. Tax sparing credit, yaitu suatu kredit pajak semu yang disepakati oleh negara asal
investor dimana negara asal investor memperbolehkan investor mengakui adanya
kredit pajak di luar negeri dalam penghitungan pajak global di negara asal investor
(the country of resident) walaupun dalam kenyataannya tidak ada pajak yang dibayar
di negara sumber karena negara sumber memberikan insentif pajak (tax holiday).

3. Investment allowance and tax credit, yaitu bentuk insentif pajak yang didasarkan pada
besarnya investasi.

4. Accelerated depreciation (timing difference), yaitu Perbedaan waktu dapat terjadi


dalam hal pembebanan biaya yang dipercepat atau penangguhan pengakuan
penghasilan (penyusutan). Insentif ini secara keseluruhan tidak mempengaruhi jumlah
pajak yang seharusnya dibayar ke negara, tetapi hanya menggeser beban pajak ke
belakang.

5. Tax rate reductions, pengurangan tarif pajak secara umum diterapkan atas penghasilan
dari sumber tertentu atau kepada perusahaan yang memenuhi kriteria tertentu.
Misalnya, kepada perusahaan kecil di bidang manufaktur atau pertanian.

Berikut peraturan yang mengatur tentang insentif pajak


- Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2015, tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk
Penanaman Modal di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di daerah-daerah tertentu.
- PP Nomor 46 Tahun 2013 adalah pengenaan PPh dengan tarif sebesar 1% dari peredaran
bruto setiap bulan atas penghasilan dari usaha Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto
tidak melebihi Rp4,8 Miliar dalam satu tahun.
- Peraturan Menteri Keuangan nomor 200/PMK.03/2015 tentang Perlakuan Perpajakan Bagi
Wajib Pajak Dan Pengusaha Kena Pajak Yang Menggunakan Skema Kontrak Investasi
Kolektif Tertentu Dalam Rangka Pendalaman Sektor Keuangan. Insentif yang diberikan
berupa pembebasan dividen dan pengenaan PPh atas penjualan harta real estat kepada KIK.
- Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191/PMK.10/2015 tentang penilaian kembali aktiva
tetap untuk tujuan perpajakan bagi permohonan yang diajukan pada tahun 2015 dan tahun
2016. Yang dapat melakukan revaluasi aktiva tetap adalah WP Badan DN, BUT, dan WP OP
yang melakukan pembukuan.Tarif PPh Final adalah 3%,4% dan 6% dan sedangkan tariff PPh
atas selisih penilaian adalah 3%, 4%, 6%, dan 10%.
- RUU tax amnesty, sebagai salah satu solusi mengatasi kurangnya penerimaan negara Rp
200-250 triliun dari target APBN 2016.

Anda mungkin juga menyukai