Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PRAKTIKUM PEMBUATAN PREPARAT

SUPRAVITAL EPITELIUM MUKOSA MULUT


LAPORAN PRAKTIKUM
PEMBUATAN PREPARAT SUPRAVITAL EPITELIUM MUKOSA MULUT

Disusun Guna memenuhi ugas Terstruktur Mata Kuliah Praktikum Mikroteknik


Tahun Ajaran 2011/2012

Oleh :
Wasil Hidayah
4401409008

Kelompok 2 (staining)
Rombel 2
Pendidikan Biologi

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS METEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2012

PREPARAT SUPRAVITAL
EPITELIUM MUKOSA MULUT
Tanggal 2 Mei 2012

A. Tujuan
1. Membuat preparat supravital epitel mukosa mulut dengan zat warna Methylene blue.
2. Menganalisis hasil pembuatan preparat supravital epitel mukosa mulut..

B. Landasan Teori
Jaringan tubuh manusia terdiri dari jaringan epitelium, jaringan pengikat, jaringan pengangkut
dan jaringan syaraf. Epitel adalah jaringan yang terdiri atas sel-sel yang sangat rapat tanpa adanya
zat antar sel. Epitel tidak memiliki pembuluh darah, namun semua epitel tumbuh pada jarinan ikat
yang mempunyai pembuluh darah. Epitel dipisahkan dengan jarinagn ikat melalui membrana basalis.
Jaringan epitel mempunyai ciri-ciri umum terdiri atas sel-sel yang saling berdekatan, yang
berbentuk pipih. Hanya ada sedikit material antarsel. Jaringan bersifat avaskular atau tanpa
pembuluh darah. Permukaan atas epithelium bebas, atau terbuka bagi bagian luar tubuh atau rongga
tubuh bagian dalam. Permukaan basal berada pada jaringan ikat. Pembelahan sel pada epithelium
terjadi secara terus menerus untuk menggantikan sel-sel yang rusak. Ada 2 macam jaringan
epithelium, yaitu epithelium permukaan merupakan epitel pelapis berbaris yang menutupi permukaan
tubuh dan organ tubuh bagian dalam, epitelium kelenjar menyekresi hormon atau produk lain.
Untuk membuat preparat jaringan segar menggunakan metode supravital. Metode
supravital merupakan suatu metode untuk mendapatkan sediaan dari sel atau jaringan yang
hidup. Zat warna yang biasa dipakai untuk pewarnaan supravital adalah janus green, neutral
red, methylene blue, dengan kosentrasi tertentu. Preparat supravital merupakan preparat yang
bersifat sementara sehingga harus segera diamati dengan mikroskop setelah pembuatan
preparat tersebut selesai.

C. PROSEDUR KERJA
Proses pertama adalah penetesan zat warna pada gelas benda, dengan menyiapkan gelas benda
yang bersih dan bebas lemak yang telah disemprot dengan alkohol 70% pada gelas benda kemudiam
dilap menggunakan tissue kering (2 menit). Gelas benda ditetesi satu tetes zat warna supravital
methylen blue 0,25% dalam larutan NaCl 0,9% menggunakan pipet (1 menit). Proses selanjutnya
pengambilan epitelium mukosa mulut, dengan menggunakan tangkai skapel kering kemudian ratakan
di atas zat warna pada gelas benda yang telah ditetesi zat warna tersebut (3 menit), dilanjutkan
dengan proses mounting menggunakan gelas penutup dan bantuan jarum pentul (2 menit).
Melakukan pengamatan preparat menggunakan mikroskop dengan perbesaran kuat, memfoto dan
menganalisis hasilnya (30 menit).

D. HASIL DAN ANALISIS


Preparat Epitelium Mukosa Mulut
Tanggal 2 Mei 2012

Sel epitelium

Sitoplasma

nukleus
Perbesaran 10 x 10

Perbesaran 10 x 10

Sel epitelium terwarna dengan baik, warna inti lebih terwarna kuat dibandingkan sitoplasma
sehingga terlihat kontras. Sel epitelium tipis, meski ada satu atau dua sel epitelium yang terlihat
bertumpuk namun masih teramati dengan jelas.Masih ada kotoran yang ikut teramati pada preparat
epitelium.
Pada prepatar terdapat satu gelembung yang sangat kecil, namun tidak mengganggu saat diamati
karena posisinya berada di tepi gelas penutup sehingga dapat dikatakan preparat ini cukup baik.

E. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan menggunakan mikroskop, epitelium mukosa mulut merupakan
epitelium pipih dengan bentuk bulat agak bulat seperti telur goreng. Dalam pengamatan preparat
mukosa mulut dengan metode supravital dan menggunakan pewarnaan methelyn blue0,25% dalam
larutan NaCl fisiologis dapat diketahui bahwa preparat epitel mukosa epitel dapat diamati dengan
baik pada perbesaran 10x10, meskipun pada beberapa tempat ada penumpukan sel epitel.
Pengamatan dibawah mikroskop sel-sel epitel terwarna biru agak keunguan. Nukleus sel epitel
terwarna lebih kuat menjadi lebih biru karena nukleus bersifat asam akan terwarna oleh pewarna
basa yaitu methylene blue. Saat pengamatan sel masih dalam bentuk asalnya, tidak terjadi
plasmolisis atau krenasi karena menggunakan zat warna netral yaitu pada kosentrasi setara dengan
kosentrasi cairan tubuh 0,9% larutan. Didalam preparat masih terdapat kotoran hal ini diduga berasal
dari kotoran yang ada di dalam mulut yang ikut terambil saat pengambilan epitelium mukosa
menggunakan tangkai skapel.

F. SIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Preparat sementara epitelium mukosa mulut dapat dibuat dengan metode supravital, pewarna
methylene blue 0,25% dalam larutan NaCl 0,9%.
2. Pewarnaan supravital dengan zat pewarna methylene blue dapat mewarnai sel epitel mukosa mulut
dengan kontras sehingga dapat membedakan bagian nukleus dengan bagian sel lain seperti
sitoplasma.

G. SARAN
Sebaiknya sebelum melakukan praktikum mulut harus dalam keadaan bersih, dapat dilakukan
dengan berkumur terlebih dahulu, sehingga tidak ada kotoran yang terambil saat pengambilan
epitelium mukosa mulut.

H. DAFTAR PUSTAKA

Rudyatmi E 2012. Bahan Ajar Mikroteknik. Semarang: Jurusan Biologi FMIPA UNNES.

Subowo. 2006. Histologi Umum. Jakarta : PT Bumi Aksara.


..........................................

Pembuatan Preparat Supravital Mukosa Mulut


Diposkan oleh Fajar AdinugrahaMikroteknikSupravital mukosa mulut

Jan 16
PEMBUATAN PREPARAT SUPRAVITAL EPITELIUM
MUKOSA MULUT
LAPORAN
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Mikroteknik
Prodi Pendidikan Biologi

Dosen Pengampu
Ibu Ely Rudyatmi

Oleh
Fajar Adinugraha
4401407029
Rombel 02

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2010

A. TUJUAN
1. Membuat preparat supravital Epitelium mukosa mulut
2. Mengamati struktur Epitelium mukosa mulut.

B. DASAR TEORI
Epitel adalah jaringan yang terdiri atas sel-sel yang sangat rapat tanpa
adanya zat antar sel. Epitel tidak mempunyai pembuluh darah, namun semua epitel
tumbuh pada jaringan ikat yang mempunyai pembuluh darah. Epitel dipisahkan
dengan jaringan ikat melalui membrana basalis.
Epitel membungkus dan membatasi semua permukaan tubuh, termasuk luar
dan dalam. Epitel mempunyai fungsi bermacam-macam yaitu, pada permukaan luar
tubuh, epitel memberi perlindungan terhadap kerusakan mekanis, perlindungan
terhadap masuknya mikroorganisme dan mencegah penguapan air. Lebih lanjut,
epitel penting sebagai reseptor sensoris, karena pada sel-sel epitel terdapat ujung-
ujung saraf penghantar rasa sakit. Pada permukaan dalam, fungsi epitel yaitu
sebagai absorpsi atau sekresi. Epitel mempunyai struktur yang berbeda-beda
tergantung pada fungsinya. Jaringan epithelium dapat dibedakan berdasarkan
bentuk sel yaitu epitel pipih, epitel kubus, dan epitel silindris. Untuk sebaran sel
epithelium dalam tubuh manusia antara lain sel epitel di mulut.
Jaringan epithelium mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut :
1. Epithelium hanya terdiri atas sel-sel yang saling berdekatan, yang berbentuk pipih.
Hanya ada sedikit material antarsel.
2. Jaringan bersifat avaskular atau tanpa pembuluh darah.
3. Permukaan atas epithelium bebas, atau terbuka bagi bagian luar tubuh atau rongga
tubuh bagian dalam. Permukaan basal berada pada jaringan ikat.
4. Pembelahan sel pada epithelium terjadi secara terus menerus untuk menggantikan
sel-sel yang rusak.
Metode supravital adalah suatu metode untuk mendapatkan sediaan dari sel
atau jaringan yang hidup. Sel-sel yang hidup juga dapat menyerap warna. Zat warna
yang biasa dipakai untuk pewarnaan supravital adalah janus green, neutral red, atau
methylene blue dengan kosentrasi tertentu. Preparat supravital merupakan preparat
yang bersifat sementara sehingga harus segera diamati setelah pembuatan.
Pengamatan terhadap epithelium ini akan nampak inti dari sel-sel yang teramati.
C. CARA KERJA
Mulut harus dibersihkan dengan cara berkumur dengan air. Epithelium
mukosa mulut diambil menggunakan tangkai scalpel steril pada bibir bawah bagian
dalam.
Epithelium mukosa mulut dilekatkan pada gelas benda yang bebas lemak.
Pewarnaan dengan meneteskan 1 tetes zat warna supravital methylene blue 0,25%
dalam larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%) pada epithelium mukosa mulut. Obyek
ditutup menggunakan gelas penutup secara hati-hati. Selanjutnya adalah
pengamatan dengan menggunakan mikoskop dan pengambilan foto obyek.
D. HASIL

E. PEMBAHASAN
Prosedur pembuatan preparat supravital epithelium mukosa mulut ini sangat
sederhana. Secara singkat, langkah-langkah dalam pembuatan preparat supravital
epithelium mukosa mulut yaitu: afiksing, pewarnaan, dan penutupan. Setelah proses
afiksing, epithelium mukosa mulut langsung diwarnai menggunakan zat warna
supravital methylene blue 0,25% dalam larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%). Proses
pewarnaan tidak diawali dengan proses fiksasi terlebih dahulu. Pewarnaan ini
merupakan pewarnaan tunggal, yaitu pewarnaan yang hanya menggunakan satu
macam zat warna saja. Setelah proses pewarnaan dan penutupan dengan gelas
penutup, preparat langsung diamati dengan menggunakan mikroskop. Setelah
pengamatan, gelas benda langsung dibersihkan.
Berdasarkan foto dan hasil pengamatan preparat sementara sel mukosa
dengan metode supravital dan pewarnaan methelyn blue dapat diketahui bahwa
ketika diamati dibawah mikroskop sel-sel epitel terwarna biru dengan kontras.
Nukleus sel epitel terwarna lebih kuat menjadi lebih biru karena nukleus lebih mudah
untuk menyerap warna. Sel jika di bawah mikroskop ada yang memisah sendiri dan
berkelompok serta ada yang bertumpuk. Hal ini terjadi karena saat mengoleskan
sediaan dari tusuk gigi tidak merata dan kemungkinan pemberian zat warna yang
terlalu berlebih juga mempengaruhi letak sel dalam preparat sediaan ini. Sel epitel
yang terlihat berbentuk pipih. Inti sel tidek terlihat jelas karena ketika mengamati
perbesaran yang digunakan 4x10. Sebenarnya sel epitel mukosa mulut berbentuk
pipih berlapis, tetapi pada preparat tidak terlihat. Pada preparat hanya terlihat sel
pipih saja.

F. KESIMPULAN
Kesimpulan
1. Preparat supravital epithelium mukosa mulut merupakan preparat sementara.
Secara singkat, langkah-langkah dalam pembuatan preparat supravital epithelium
mukosa mulut yaitu: afiksing, pewarnaan, dan penutupan.
2. Epithelium mukosa mulut merupakan epithelium pipih berlapis.

Saran
-
Pada saat meratakan epithelium mukosa mulut pada gelas benda, hendaknya
benar-benar diperhatikan proses perataannya agar tidak dihasilkan preparat yang
bertumpuk-tumpuk.
G. DAFTAR PUSTAKA
Rudyatmi E & NR. Utami. 2004. Diktat Mikriteknik. Semarang: Jurusan Biologi FMIPA
UNNES.

Suntoro HS. 1983. Metode Pewarnaan. Jakarta


.............................

SITOLOGI SEL EPITEL RONGGA MULUT

Posted by belindch in dentistry and tagged with oral biology7 Desember 2009

INTISARI

Pengamatan kondisi patologis yang terjadi di dalam rongga mulut dapat dilakukan
dengan membuat preparat apusan yang diperoleh dengan membuat irisan tipis dari
sepotong kecil jaringan yang telah difiksasi, kemudian dipulas, dilekatkan dalam
medium dengan indeks refraksi yang sesuai di atas sebuah kaca objek kemudian
ditutup dengan suatu kaca tutup. Praktikum ini dilakukan dengan cara membuat
preparat apus dari mukosa mulut yang didapat dari gingiva, palatum durum,
palatum molle, mukosa bukal, mukosa labial, lidah, dan dorsum lidah kemudian
diwarnai dengan bahan pewarna Papanicolau dan selanjutnya diamati dengan
menggunakan mikroskop cahaya perbesaran 400x. Hasil pengamatan menunjukkan
bahwa sel-sel yang terdapat pada masing-masing mukosa tersebut didominasi oleh
sel intermediet. Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa mampu memahami
dan melakukan prosedur pembuatan preparat apusan sel epitel lidah, mukosa bukal
atau gingiva untuk mengamati keadaan sel epitel subyek dalam keadaan normal
ataupun kondisi patologis.

Kata Kunci : Papanicolau, epitelium, mukosa mulut

PENDAHULUAN

Pengamatan kondisi patologis yang terjadi di dalam rongga mulut dapat dilakukan
dengan membuat preparat apusan yang diperoleh dengan membuat irisan tipis dari
sepotong kecil jaringan yang telah difiksasi, kemudian dipulas, dilekatkan dalam
medium dengan indeks refraksi yang sesuai di atas sebuah kaca objek kemudian
ditutup dengan suatu kaca tutup. Setelah hasil usapan ditempel pada gelas objek
secara merata kemudian direndam dalam larutan alkohol 96% untuk fiksasi. Jaringan
yang telah difiksasi kemudian direhidrasi dengan cara merendam gelas objek dalam
sederetan alkohol yang konsentrasinya makin menurun. Setelah itu, baru dilakukan
pemulasan atau pewarnaan yang bertujuan meningkatkan kontras alami dan untuk
memperjelas berbagai unsur sel dan jaringan. Setelah dipulas, kelebihan warna
dihilangkan melalui proses dehidrasi (penarikan molekul air dari dalam jaringan)
yang dilakukan dengan cara merendam gelas objek dalam deretan alkohol dengan
konsentrasi yang makin meningkat. Jaringan tersebut kemudian dijernihkan dengan
agen penjernih seperti xilol, kloroform, benzene, dan minyak kayu sedar. Setelah
dikeluarkan dari larutan penjernih, diatas irisan jaringan tersebut diberi setetes
medium saji yang mempunyai indeks refraksi hampir sama dengan indeks refraksi
kaca, misalnya balsam Canada. Sajian itu ditutup dengan kaca tutup dan dibiarkan
mengering (Leeson,1990).

Jaringan epitelium (epithelial tissue) terdapat dalam wujud lapisan-lapisan sel yang
terkemas dengan rapat. Pada banyak epitelium, sel-sel tersebut dipatri menjadi satu
oleh tight junction (persambungan ketat). Permukaan bebas pada epitelium itu
terpapar ke udara atau cairan, sementara sel-sel yang berada di bagian dasar
rintangan itu melekat ke suatu membran basal (Campbell, 2004).

Sel-sel epitel mukosa mulut terdiri dari empat lapisan berturut-turut dari yang paling
dalam ke permukaan yaitu lapisan germinativum/basalis, lapisan spinosum, lapisan
granulosum dan lapisan corneum. Stratum basalis terdiri dari selapis sel berbentuk
kubus yang berbatasan dengan lamina propia dan mengandung sel-sel induk yang
secara kontinyu bermitosis dan anak selnya dikirimkan ke lapisan yang lebih
superfisial. Stratum spinosum terdiri dari beberapa lapis sel berbentuk bulat atau
oval dan mempunyai karakteristik sel yang mulai matang. Stratum granulosum
terdiri dari beberapa lapis sel yang lebih gepeng dan lebih matang dari stratum
spinosum dan mengandung banyak granula keratohyalin yang merupakan bakal sel
keratin. Stratum corneum terdiri dari selapis atau berlapis-lapis sel (tergantung
regio) berbentuk pipih yang tidak berstruktur dan tidak mempunyai inti sel. Mukosa
mulut dapat dikelompokkan menjadi tiga tipe yaitu mukosa pengunyahan, mukosa
penutup dan mukosa khusus. Mukosa pengunyahan terdapat di regio rongga mulut
yang menerima tekanan kunyah seperti gusi dan palatum durum. Jaringan epitelnya
parakeratinised (mempunyai lapisan keratin tipis yang beberapa selnya da yang
masih memiliki inti sel yang tidak sempurna). Mukosa penutup terdapat pada dasar
mulut, permukaan inferior lidah, permukaan dalam bibir dan pipi, palatum molle dan
mukosa alveolaris kecuali gusi. Tipe epitelnya nonkeratinised (tidak memiliki lapisan
keratin). Mukosa khusus terdapat pada dorsum lidah, tipe epitelnya ortokeratinised
(memiliki lapisan keratin yang tebal yang terdiri dari sel-sel yang sudah tidak berinti)
(Puspitawati, 2003). Perbandingan antara sel basal-parabasal, sel intermediet, dan
sel superfisial disebut indeks maturasi. Pada kondisi normal, jumlah sel pada lapisan
superfisial sesuai dengan jumlah sel pada lapisan sel basal (Naib, 1970).

Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa mampu memahami dan melakukan
prosedur pembuatan preparat apusan sel epitel lidah, mukosa bukal atau gingiva
untuk mengamati keadaan sel epitel subyek dalam keadaan normal ataupun kondisi
patologis.

BAHAN DAN CARA


Praktikum ini membutuhkan alat dan bahan seperti cytobrush, gelas obyek dan glass
cover slip, staining jar, mikroskop cahaya, aquades 0,9%, alkohol 96% dan bahan
pengecatan Papanicolau.

Pertama kali yang harus dilakukan adalah membuat preparat apus dari sel epitel
lidah, mukosa bukal, dan gingiva. Cytobrush dibasahi dengan aquades kemudian
diusap memutar pada daerah yang ditentukan. Hasil usapan tadi diusapkan pada
gelas obyek yang telah diberi label secara merata kemudian direndam dalam alkohol
96% untuk fiksasi.

Setelah preparat apusan jadi, langkah selanjutnya adalah pengecatan. Preparat


direhidrasi dengan cara merendam gelas obyek dalam alkohol 90%, 80%, 70%, 50%,
30%, dan terakhir dalam aquades, dilakukan selama 1 menit dalam tiap-tiap larutan.
Selanjutnya preparat direndam dalam larutan Harris haematoxylin selama 5 menit
kemudian dicuci di bawah air mengalir selama 10 menit. Preparat kemudian
didehidrasi dengan cara merendam gela sobyek dalam alkohol 30%, 50%, 70%, 80%,
90%, dan 96%, masing-masing selama 1 menit. Preparat diletakkan di atas alas
datar, ditetesi zat warna Orange G-6, dibiarkan selama 3 menit, dan dibilas alkohol
95% sebanyak 3 kali. Preparat kemudian dipulas dengan zat warna E. A 50 dan
dibiarkan 6 menit kemudian dibilas alkohol 96% sebanyak 3 kali. Preparat
dimasukkan ke dalam alkohol absolut tiga kali berturut-turut, masing-masing selama
3 menit kemudian dikeringkan dengan kertas saring. Kemudian preparat dimasukkan
ke dalam larutan xylol I, II, III masing-masing selama 5 menit. Terakhir preparat
dimounting dengan balsam canada dan diamati dengan mikroskop cahaya
menggunakan perbesaran 400x. Sel dihitung sesuai jenisnya yaitu sel basal-
parabasal, sel intermediate dan sel superfisial menggunakan 100 buah sel yang
tidak saling tumpang tindih dengan kriteria masing-masing sebagai berikut :

Tabel 1. Kriteria Penilaian Jenis-Jenis Sel

Sel basal-parabasal Sel Intermediate Sel Superfisial

Berwarna orange;
Berwarna biru hingga Berwarna biru atau bentuk poligonal
biru tua; bentuk bulat merah muda; bentuk kadang bulat atau oval;
atau oval; inti sel bulat poligonal, bulat atau inti bulat atau piknotik,
atau oval. oval; inti bulat atau oval. kadang tanpa inti.

HASIL PENGAMATAN

Tabel 2. Hasil Penghitungan Jenis-Jenis Sel

Jenis Sel

Lokasi Apusan Superfisial Intermediate Basalis


GingivaPalatum
Durum 14%9% 85%89% 1%2%

Palatum Molle 37% 44% 19%

Mukosa Bukal 11% 83% 6%

Mukosa Labial 23% 75% 2%

Lidah 20% 77% 3%

Dorsum Lidah 23% 68% 9%

PEMBAHASAN

Seperti yang dapat dilihat pada tabel 2, mayoritas sel yang terdapat pada masing-
masing mukosa adalah sel intermediate, kemudian sel superfisial, dan yang paling
sedikit adalah sel basal. Hasil ini sesuai dengan teori Balaciart (2004) yang
menyatakan bahwa sel terbanyak yang biasa ditemukan pada mukosa oral yang
normal adalah intermediate sel dan bukannya basal-parabasal sel. Hal ini terjadi
karena aktivitas proliferasi pada epitel mulut yang normal tampak lebih banyak
terjadi pada lapisan intermediet daripada sel basal-parabasal maupun sel superfisial
(Maidhof, 1979).

Dari data di atas juga dapat dilihat bahwa persentasi jumlah sel-sel superfisial lebih
besar daripada sel-sel basal. Hal ini tidak sesuai dengan teori Naib (1970) yang
menyatakan bahwa pada kondisi normal, jumlah sel pada lapisan superfisial sesuai
dengan jumlah sel pada lapisan sel basal. Selain itu, konsep homeostasis sel epitel
mengindikasikan bahwa produksi sel di lapisan yang lebih dalam seimbang dengan
derajat kehilangan sel di lapisan permukaan (Puspitawati, 2003). Ketidaksesuaian ini
tidak selalu menunjukkan keabnormalan karena hal ini dapat terjadi karena
beberapa faktor misalnya kurangnya ketelitian praktikan dalam menghitung jumlah
sel, kesalahan dalam menentukan lapang pandang, atau kesalahan dalam
pembuatan preparat misalnya apusan terlalu tipis sehingga hanya mengandung
sedikit sel (Lusa, 2009).

KESIMPULAN

1. Epitel mukosa oral dibentuk oleh sel-sel yang memiliki karakteristik berbeda
di tiap lapisannya
2. Cara pembuatan preparat apus dapat mempengaruhi hasil penghitungan
jumlah sel
3. Penghitungan jumlah sel dapat digunakan untuk mengetahui keabnormalan
serta menunjukkan indeks maturasi suatu jaringan.
4. Praktikum ini dapat membuktikan teori proliferasi pada epitel mulut yang
normal tampak lebih banyak terjadi pada lapisan intermediet daripada sel basal-
parabasal maupun sel superfisial.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell Neil, et al. 2004. Biologi. Edisi Kelima. Jilid III. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Puspitawati Ria. 2003. Struktur Makroskopik dan Mikroskopik Jaringan Lunak


Mulut. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia; 10 (Edisi Khusus) : 462-467.

Lesson C, et al. 1990. Mempersiapkan Jaringan dalam Buku Ajar Histologi. Edisi V.
Jakarta. EGC. Hal 7-8.

Naib Z M. 1970. Exfoliative Cytophatology. 2nd Edition. Boston. Little Brown and
Company

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengamatan kondisi patologis yang terjadi di dalam rongga mulut dapat dilakukan dengan
membuat preparat apusan yang diperoleh dengan membuat irisan tipis dari sepotong kecil
jaringan yang telah difiksasi, kemudian dipulas, dilekatkan dalam medium dengan indeks refraksi
yang sesuai di atas sebuah kaca objek kemudian ditutup dengan suatu kaca tutup. Setelah hasil
usapan ditempel pada gelas objek secara merata kemudian direndam dalam larutan alkohol
96% untuk fiksasi.

Jaringan yang telah difiksasi kemudian direhidrasi dengan cara merendam gelas objek
dalam sederetan alkohol yang konsentrasinya makin menurun. Setelah itu, baru dilakukan
pemulasan atau pewarnaan yang bertujuan meningkatkan kontras alami dan untuk memperjelas
berbagai unsur sel dan jaringan. Setelah dipulas, kelebihan warna dihilangkan melalui proses
dehidrasi (penarikan molekul air dari dalam jaringan) yang dilakukan dengan cara merendam
gelas objek dalam deretan alkohol dengan konsentrasi yang makin meningkat. Jaringan tersebut
kemudian dijernihkan dengan agen penjernih seperti xilol, kloroform, benzene, dan minyak kayu
sedar. Setelah dikeluarkan dari larutan penjernih, diatas irisan jaringan tersebut diberi setetes
medium saji yang mempunyai indeks refraksi hampir sama dengan indeks refraksi kaca,
misalnya balsam Canada. Sajian itu ditutup dengan kaca tutup dan dibiarkan mengering
(Leeson,1990).

Jaringan epitelium (epithelial tissue) terdapat dalam wujud lapisan-lapisan sel yang
terkemas dengan rapat. Pada banyak epitelium, sel-sel tersebut dipatri menjadi satu oleh tight
junction (persambungan ketat). Permukaan bebas pada epitelium itu terpapar ke udara atau
cairan, sementara sel-sel yang berada di bagian dasar rintangan itu melekat ke suatu membran
basal (Campbell, 2004).

1.2 Rumusan masalah

Rumusan masalah yang didapatkan berdasarkan latar belakang diatas


adalah:

-Bagamana membuat sediaan sel dengan menggunakan pewarna yang tidak


membunuh sel?

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah membuat sediaan sel dengan


menggunakan pewarna yang tidak membunuh sel.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 pengertian sel

Pada tahun 1850 seorang ahli patologi dari Austria bernama Rudolf Virchow
melaporkan bahwa seliap hewan tampaknya tersusun dari sejumlah unit vital, dan masing-masing
unit tersebut memiliki tanda-tanda kehidupan yang lengkap, unit ini kemudian disebut cell (sel).
Selanjutnya Virchow menduga bahwa semua sel berasal dari sel juga. Teori sel modern
berkembang dari pernyataan-pernyataan Virchow berikut ini:

1. Setiap mahluk hidup tersusun dari satu sel atau lebih.

2. Organisme hidup terkecil adalah sel tunggal, sel tunggal dan sel-sel tersebut merupakan unit
fungsional dari organisme.

3. Semua sel berasal dari sel yang ada sebelumnya.

Kebanyakan sel berukuran sangat kecil diameternya berkisar antara


1 - 100 mikrometer (micron). Ukuran yang kecil berhubungan erat dengan proseskehidupannya.
Sebagai mahluk hidup maka sel memerlukan nutrisi dan air dari lingkungannya, dan
harus membuang sisa-sisa metabolisme ke luar sel. Keluar masuknya kedua bahan tersebut
melalui berbagai macam mekanisme antara lain difusi (Acara III). Apabila sel berukuran besar
maka proses perpindahan bahan-bahan tersebut dari luar ke bagian paling dalam dari sel
atau sebaliknya menjadi sangat lama sehingga akan mengganggu atau bahkan
mengancam proses kehidupannya. Sebagai contoh pada suatu sel berukuran sekitar 20 cm,
maka oksigen dari luar untuk menyebar sampai ke bagian tengah sel memerlukan waktu 200 hari
(Audesrisk, dkk. 2001). Jelas hal ini akan menghambat semua proses yang ada di dalam sel,
dengan kata lain mengancam kelangsungan hidupnya.

2.2 Pengertian Sel Epitel

Jaringan epitel terdiri dari kumpulan sel-sel yang sangat rapat susunannya sehingga
membentuk suatu lembaran, maka disebut sebagai membran epitel atau disingkat sebagai epitel
saja untuk membedakan dengan epitel kelenjar. Adhesi diantara sel-sel ini sangat kuat,
membentuk lembaran sel yang menutupi permukaan tubuh dan membatasi atau melapisi
rongga-rongga tubuh. Jaringan epitel tidak memiliki substansi interseluler dan cairannya sangat
sedikit.

Istilah epithelium berasal dari kata epi yang berarti upon atau di atas dan thele yang
berarti nipple atau punting. Penggunaan istilah epitel meluas untuk semua bentuk lapisan yang
terdiri atas lembaran sel-sel (cellular membrane) baik yang bersifat tembus cahaya ataupun
yang tidak. Dengan berkembangnya pemakaian mikroskop, maka istilah epitel tidak terbatas
pada kumpulan sel yang membentuk membran yang menutupi, tetapi juga digunakan untuk
kelenjar. Hal tersebut didukung dengan hasil penelitian embriologis yang menyimpulkan bahwa
sel-sel epitel pada permukaan tumbuh ke dalam jaringan pengikat di bawahnya dan berkembang
menjadi kelenjar.

2.3 Pengertian Sel Epitel mukosa mulut

Sel-sel epitel mukosa mulut terdiri dari empat lapisan berturut-turut dari yang paling
dalam ke permukaan yaitu lapisan germinativum/basalis, lapisan spinosum, lapisan granulosum
dan lapisan corneum. Stratum basalis terdiri dari selapis sel berbentuk kubus yang berbatasan
dengan lamina propia dan mengandung sel-sel induk yang secara kontinyu bermitosis dan anak
selnya dikirimkan ke lapisan yang lebih superfisial. Stratum spinosum terdiri dari beberapa lapis
sel berbentuk bulat atau oval dan mempunyai karakteristik sel yang mulai matang. Stratum
granulosum terdiri dari beberapa lapis sel yang lebih gepeng dan lebih matang dari stratum
spinosum dan mengandung banyak granula keratohyalin yang merupakan bakal sel keratin.
Stratum corneum terdiri dari selapis atau berlapis-lapis sel (tergantung regio) berbentuk pipih
yang tidak berstruktur dan tidak mempunyai inti sel. Mukosa mulut dapat dikelompokkan menjadi
tiga tipe yaitu mukosa pengunyahan, mukosa penutup dan mukosa khusus. Mukosa
pengunyahan terdapat di regio rongga mulut yang menerima tekanan kunyah seperti gusi dan
palatum durum. Jaringan epitelnya parakeratinised (mempunyai lapisan keratin tipis yang
beberapa selnya da yang masih memiliki inti sel yang tidak sempurna). Mukosa penutup
terdapat pada dasar mulut, permukaan inferior lidah, permukaan dalam bibir dan pipi, palatum
molle dan mukosa alveolaris kecuali gusi. Tipe epitelnya nonkeratinised (tidak memiliki lapisan
keratin). Mukosa khusus terdapat pada dorsum lidah, tipe epitelnya ortokeratinised (memiliki
lapisan keratin yang tebal yang terdiri dari sel-sel yang sudah tidak berinti) (Puspitawati, 2003).
Perbandingan antara sel basal-parabasal, sel intermediet, dan sel superfisial disebut indeks
maturasi. Pada kondisi normal, jumlah sel pada lapisan superfisial sesuai dengan jumlah sel
pada lapisan sel basal (Naib, 1970).

Rongga mulut dibatasi oleh membrane mukosa yang berhubungan dengan kulit. Rongga
mulut terdiri dari bibir yang disekitarnya mulut yang terbuka, pipi berada disepanjang rongga,
lidah dan ototnya, hard dan soft palate. Mukosa mulut normalnya berwarna merah jambu terang
(light pink) dan lembab. Pada dasar mulut dan area bawah lidah kaya akan pembuluh darah.tipe
dari ulcer atau trauma dapat mengakibatkan perdarahan. Ada 3 kelenjar saliva yang
mensekresikan 1 liter saliva per hari. Kelenjar buccal ditemukan pada mukosa yang membatasi
pipi dan mulut yang mencegah hygiene dan kenyamanan pada jaringan oral. Gigi adalah organ
mengunyah, atau mastication. Mereka didesain untuk memotong, menyobek, dan mematahkan
makanan sehingga dapat dicampur dengan saliva dan ditelan. Gigi yang normal terdiri dari
kepala, leher, dan akar. Gigi yang sehat terlihat putih, bersinar, dan berdiri sendiri. Kesulitan
mengunyah dapat berkembang sewaktu sekeliling gusi menjadi inflamasi atau infeksi atau ketika
gigi tanggal. Oral hygiene yang teratur dibutuhkan untuk menjaga integritas area gigi dan untuk
mencegah gingivitis, atau inflamasi gusi.

BAB III

METODELOGI
3.1 Alat dan bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah

3.2 Cara Kerja

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.2 Pembahasan

Sel-sel epitel mukosa mulut terdiri dari empat lapisan berturut-turut dari yang paling dalam ke
permukaan yaitu lapisan germinativum/basalis, lapisan spinosum, lapisan granulosum dan
lapisan corneum. Stratum basalis terdiri dari selapis sel berbentuk kubus yang berbatasan
dengan lamina propia dan mengandung sel-sel induk yang secara kontinyu bermitosis dan anak
selnya dikirimkan ke lapisan yang lebih superfisial. Stratum spinosum terdiri dari beberapa lapis
sel berbentuk bulat atau oval dan mempunyai karakteristik sel yang mulai matang. Stratum
granulosum terdiri dari beberapa lapis sel yang lebih gepeng dan lebih matang dari stratum
spinosum dan mengandung banyak granula keratohyalin yang merupakan bakal sel keratin.
Stratum corneum terdiri dari selapis atau berlapis-lapis sel (tergantung regio) berbentuk pipih
yang tidak berstruktur dan tidak mempunyai inti sel. Mukosa mulut dapat dikelompokkan menjadi
tiga tipe yaitu mukosa pengunyahan, mukosa penutup dan mukosa khusus. Mukosa
pengunyahan terdapat di regio rongga mulut yang menerima tekanan kunyah seperti gusi dan
palatum durum. Jaringan epitelnya parakeratinised (mempunyai lapisan keratin tipis yang
beberapa selnya da yang masih memiliki inti sel yang tidak sempurna). Mukosa penutup
terdapat pada dasar mulut, permukaan inferior lidah, permukaan dalam bibir dan pipi, palatum
molle dan mukosa alveolaris kecuali gusi. Tipe epitelnya nonkeratinised (tidak memiliki lapisan
keratin). Mukosa khusus terdapat pada dorsum lidah, tipe epitelnya ortokeratinised (memiliki
lapisan keratin yang tebal yang terdiri dari sel-sel yang sudah tidak berinti) (Puspitawati, 2003).
Perbandingan antara sel basal-parabasal, sel intermediet, dan sel superfisial disebut indeks
maturasi. Pada kondisi normal, jumlah sel pada lapisan superfisial sesuai dengan jumlah sel
pada lapisan sel basal (Naib, 1970).

Seperti yang dapat dilihat pada tabel 2, mayoritas sel yang terdapat pada masing-masing
mukosa adalah sel intermediate, kemudian sel superfisial, dan yang paling sedikit adalah sel
basal. Hasil ini sesuai dengan teori Balaciart (2004) yang menyatakan bahwa sel terbanyak yang
biasa ditemukan pada mukosa oral yang normal adalah intermediate sel dan bukannya basal-
parabasal sel. Hal ini terjadi karena aktivitas proliferasi pada epitel mulut yang normal tampak
lebih banyak terjadi pada lapisan intermediet daripada sel basal-parabasal maupun sel
superfisial (Maidhof, 1979).
Dari data di atas juga dapat dilihat bahwa persentasi jumlah sel-sel superfisial lebih besar
daripada sel-sel basal. Hal ini tidak sesuai dengan teori Naib (1970) yang menyatakan bahwa
pada kondisi normal, jumlah sel pada lapisan superfisial sesuai dengan jumlah sel pada lapisan
sel basal. Selain itu, konsep homeostasis sel epitel mengindikasikan bahwa produksi sel di
lapisan yang lebih dalam seimbang dengan derajat kehilangan sel di lapisan permukaan
(Puspitawati, 2003). Ketidaksesuaian ini tidak selalu menunjukkan keabnormalan karena hal ini
dapat terjadi karena beberapa faktor misalnya kurangnya ketelitian praktikan dalam menghitung
jumlah sel, kesalahan dalam menentukan lapang pandang, atau kesalahan dalam pembuatan
preparat misalnya apusan terlalu tipis sehingga hanya mengandung sedikit sel (Lusa, 2009).

Sel-sel epitel mukosa mulut terdiri dari empat lapisan berturut-turut dari yang paling dalam ke
permukaan yaitu lapisan germinativum/basalis, lapisan spinosum, lapisan granulosum dan
lapisan corneum. Stratum basalis terdiri dari selapis sel berbentuk kubus yang berbatasan
dengan lamina propia dan mengandung sel-sel induk yang secara kontinyu bermitosis dan anak
selnya dikirimkan ke lapisan yang lebih superfisial. Stratum spinosum terdiri dari beberapa lapis
sel berbentuk bulat atau oval dan mempunyai karakteristik sel yang mulai matang. Stratum
granulosum terdiri dari beberapa lapis sel yang lebih gepeng dan lebih matang dari stratum
spinosum dan mengandung banyak granula keratohyalin yang merupakan bakal sel keratin.
Stratum corneum terdiri dari selapis atau berlapis-lapis sel (tergantung regio) berbentuk pipih
yang tidak berstruktur dan tidak mempunyai inti sel. Mukosa mulut dapat dikelompokkan menjadi
tiga tipe yaitu mukosa pengunyahan, mukosa penutup dan mukosa khusus. Mukosa
pengunyahan terdapat di regio rongga mulut yang menerima tekanan kunyah seperti gusi dan
palatum durum. Jaringan epitelnya parakeratinised (mempunyai lapisan keratin tipis yang
beberapa selnya da yang masih memiliki inti sel yang tidak sempurna). Mukosa penutup
terdapat pada dasar mulut, permukaan inferior lidah, permukaan dalam bibir dan pipi, palatum
molle dan mukosa alveolaris kecuali gusi. Tipe epitelnya nonkeratinised (tidak memiliki lapisan
keratin). Mukosa khusus terdapat pada dorsum lidah, tipe epitelnya ortokeratinised (memiliki
lapisan keratin yang tebal yang terdiri dari sel-sel yang sudah tidak berinti) (Puspitawati, 2003).
Perbandingan antara sel basal-parabasal, sel intermediet, dan sel superfisial disebut indeks
maturasi. Pada kondisi normal, jumlah sel pada lapisan superfisial sesuai dengan jumlah sel
pada lapisan sel basal.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Epitel mukosa oral dibentuk oleh sel-sel yang memiliki karakteristik


berbeda di tiap lapisannya

2. Cara pembuatan preparat apus dapat mempengaruhi hasil penghitungan


jumlah sel

3. Penghitungan jumlah sel dapat digunakan untuk mengetahui


keabnormalan serta menunjukkan indeks maturasi suatu jaringan.

4. Praktikum ini dapat membuktikan teori proliferasi pada epitel mulut yang
normal tampak lebih banyak terjadi pada lapisan intermediet daripada sel
basal-parabasal maupun sel superfisial.

5.2 Saran

Berdasarkan struktur histologisnya, epitel/mukosa rongga mulut terbagi menjadi 2,


yaitu Epitel Rongga Mulut dan Lamina Propia. Fungsinya adalah: Sekresi, Pertukaran gas dan
absorpsi nutrisi dengan lingkungan, Proteksi terhadap sinar UV, perlindungan fisik terhadap
infeksi, dan pigmentasi, Ekskresi (mengeluarkan nitrogen) dan Reseptor stimulus (sensasi
kemotatik: penciuman & pengecapan).
Struktur epitel rongga mulut adalah Stratified Squamous Epithelium, Terletak diatas
membrana basalis, Biasanya terdiri dari sel-sel squamous, seringkali terdiri dari sel-sel
polimorfik. Sel-sel epitel rongga mulut ada yang Keratinocyte: Sel epitel mukosa rongga mulut
(stratified epithelial cells) yang mengalami diferensiasi dan Non-keratinocyte berupa Sel pigmen
dendritik atau sel tipe lain dalam epitel secara kolektif.Non-Keratinized Keratinized terdiri
atas Lapisan superfisial Lapisan superficial dan Sel berinti Sel-sel mati (dead cell). Fungsinya
sebagai proteksi Sitoplasma diganti keratin dan Bersifat selalu basah Bersifat impermeable.

Stratifikasi epitel rongga mulut (dari arah luar ke dalam):


1. Stratum Korneum = Keratinized Layer
- sel terletak di permukaan
- sel pipih, heksagonal & tak berinti
2. Stratum Lusidum
- tidak ada
- kalau ada, tidak berkembang dengan baik
3. Stratum Granulosum = Granular Layer
- sel paling besar & pipih
- sel berinti
- sitoplasma granula keratohialin basofilik
4. Stratum Spinosum = Prickle Cells Layer
- di atas sel basal
- bentuk sel Polihidral
- berduri (Spiny) perlekatan antar sel
- sel berinti
- masih terjadi mitosis
- bersama-sama dengan stratum basale disebut Stratum Malpighi
5. Stratum Basalis = Basal Cells Layer
- melekat pada membrana basalis
- bentuk sel silindris Stratum Silindrikum
- sel berinti
- pembelahan (mitosis) & penggantian sel rusak atau mati Stratum Germinativum
Catatan: makin ke permukaan sitoplasma lebih eosinofil.
Pembagian mukosa berdasarkan struktur histologi epitel mukosa rongga mulut dibagi
menjadi 3, yaitu: Masticatory Mucosa, Lining Mucosa, dan Specialized Mucosa.
Mastikatori mukosa: Sering untuk mengunyah, Pada epitel yang sering mengalami
keratinisasi, Lamina propia padat dan terikat erat pada tulang. Lining mukosa memiliki Lapisan
epitel tebal, Umumnya tidak berkeratin, Lamina propia tipis dan elastic, Ikatan lamina propia
dengan submukosa bervariasi (elastisitas tinggi dan terikat erat). Lining mukosa terdapat
pada Bibir,Pallatum Molle, Pipi, Permukaan lidah dan Dasar mulut.
Ciri-ciri mukosa pada:

a. BIBIR
- kulit/pembungkus bagian luar
- mucocutaneous junction
- permukaan mukosa bagian dalam biasanya berkeratin
- skeletal muscle
- permukaan dalam terdapat:
b. PALLATUM MOLLE
- banyak vaskularisasi pada lamina propia
- lebih berwarna merah muda dibandingkan pallatum durum
- submukosa terdiri dari otot-otot pallatum molle dan kelenjar mukous
c. PIPI
- seperti mukosa pallatum molle dan bibir
- stratified squamose epithelium non keratinized
- terdapat sel-sel lemak dan glandula seromukous di dalam dan diantara sabut-sabut otot
- lemak dan glandula memberikan gambaran histologis yang unik
d. PERMUKAAN LIDAH (ventral lidah)
- lining mukous juga terdiri dari lamina propia dan submukous
- pada submukous terdapat sabut-sabut otot di bawah permukaan lidah
e. DASAR MULUT
- dilapisi membrana mukosa non keratinisasi
- di dasar mulut terdapat:
- glandulla salivary minor
- glandulla sub lingualis
- Specialized mukosa
DAFTAR PUSTAKA

Balaciart Daniel. 2004. Evaluation of Keratinization and Agnors Count in Exfoliative


Cytology of Normal Oral Mucosa from Smokers and Non-Smokers. MED ORAL
2004;9:197-203.

Budiono, J.D. 1992. Pembuatan Preparat Mikroskopis. University Press. IKIP. Surabaya.

Campbell, Reece, Mitchell. 2004. Biologi. Edisi Kelima. Jilid 3. Jakarta. Erlangga.

Eli. 2011. Bahan Ajar Mikroteknik. Jurusan Biologi FMIPA UNNES. Semarang.

Gunarso, Wisnu. 1989. Bahan Pengajaran Mikroteknik. Bogor : DEPDIKBUD Institiut


Pertanian Bogor.

Juwono dr, dan Achmad dr. 2000. Biologi Sel. Buku kedokteran GGC. Semarang

Maidhof dan Hornstein 0 P. 1979. Autoradiographic Study and Some Prolerative


Properties Of Human Buccal Mucosa. Arch. Dermatol. Res. 265: 165-172.

Poedjiadi, Anna.1994. Dasar dasar biokimia. Indonesia University Press. Jakarta.

Sundoro, S.H. 1983. Metode Pewarnaan (Histologis dan Histokimia). Penerbit Bhrataro
Karya Aksara. Jakarta.

Guyton. 1986. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Prees.
Yogyakarta.
.......................

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jaringan tubuh manusia terdiri dari jaringan epitel, jaringan pengikat,
jaringan pengangkut dan jaringan syaraf. Jaringan epitel adalah jaringan
yang terdiri atas sel-sel yang sangat rapat tanpa adanya zat antarsel.
Untuk membuat preparat jaringan segar digunakan metode supravital,
yaitu metode untuk mendapatkan sediaan dari sel atau jaringan yang
hidup. Zat warna yang biasa digunakan adalah janus green, neutral red
dan methylene blue dengan konsentrasi tertentu. Preparat ini bersifat
sementara sehingga harus segera diamati dengan mikroskop setelah
pembuatan preparat selesai.
Untuk mengetahui bakteri yang terkandung dalam hapusan mukosa
mulut sehingga diadakan Praktikum pada tanggal 20 Desember 2013 di
Laboratorium Biologi Fakultas MIPA UNHI.
1.2 Tujuan
1. Dapat membuat preparat hapusan epitel mukosa mulut dengan zat
pewarna methylene blue.
2. Dapat menganalisis hasil dari pengamatan hapusan mukosa mulut.

BAB II
METODE PRAKTIKUM

2.1 Waktu dan Tempat


Praktikum mengenai pengamatan preparat hapusan mukosa mulut ini
dilakukan pada hari Jumat tanggal 20 Desember 2013. Bertempat di
Laboratorium Biologi Fakultas MIPA UNHI.
2.2 Alat dan Bahan
1. Alat
Lidi Kapas Steril
Object Glass
Cover Glass
Mikroskop
Handscone (b/p)
Masker (b/p)
Pipet tetes
Tissue
2. Bahan
Alkohol 70%
Kerokan atau hapusan mukosa mulut
Air mineral
Zat pewarna methylene blue
2.3 Prosedur Kerja
1. Siapkan alat dan bahan.
2. Gunakan alat proteksi diri (b/p).
3. Kerok bagian samping/bagian tepi pipi dengan lidi kapas steril.
4. Setelah didapat kerokan, hapuskan pada object glass yang bersih lalu
kering anginkan.
5. Rendam pada alkohol 70% selama 5 menit.
6. Setelah itu teteskan pewarna methylene blue. Diamkan selama 2 menit
kemudian cuci dengan air mengalir (jangan sampai langsung terkena air
pada hapusan, cukup bahasi dari tepi preparat yang tidak berisi hapusan
dengan posisi miring).
7. Amati dengan mikroskop pembesaran 100x.
8. Catat hasil pengamatan, di gambar atau difoto.
9. Rapikan kembali alat dan bahan yang digunakan.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan


Keterangan
1) Sel Epitel Gepeng
2) Staphylococcus
3) Streptococcus
4) Lactobacillus
3.2 Pembahasan
1) Sel Epitel Gepeng
Bentuknya seperti sisik ikan sehingga disebut squamous cell. Pada
perpotongan tegak lurus tampak bentuk sel yang memanjang dengan
bagian tengahnya berisi inti lebih menebal. Apabila dilihat dari permukaan
epitel, selnya tampak berbentuk poligonal.
2) Staphylococcus
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom : Bacteria
Phylum : Firmicutes
Classis : Cocci
Ordo : Bacillales
Familia : Staphylococcaceae
Genus : Staphylococcus
Species : Staphylococcus ___
Morfologi
Populasi bakteri ini akan tumbuh sangat cepat ketika ditambahkan dan
disesuaikan dengan gizi dan kondisi lingkungan yang memungkinkan
mereka untuk berkembang. Melalui pertumbuhan ini, maka akan
memberikan penampilan yang khas.
Ciri-ciri Umum
Genus dari bakteri gram +
Bentuk bulat
Bergerombol seperti buah anggur
Genus ini mencangkup 31 species
3) Streptococcus
Klasifikasi Ilmiah
Divisio : Procaryotae
Class : Schyzomycetes
Ordo : Eubacteriales
Family : Streptococcaceae
Genus : Streptococcus
Species : Streptococcus ___
Ciri-ciri Umum
Gram + (bisa juga gram tua)
Bulat atau bulat telur dengan diameter 2 m
Pembelahan sel satu arah, sehingga ditemukan koloni berpasangan atau
berderet panjang
Homofermentan (menghasilkan asam laktat)
pH : 7,4 7,6
Suhu pertumbuhan : 370C
Biasanya ada dalam lendir mulut
4) Lactobacillus
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom : Bacteria
Divisio : Firmicutes
Classis : Bacilli
Ordo : Lactobacillales
Familia : Lactobacillaceae
Genus : Lactobacillus
Species : Lactobacillus ___
Habitat
Merupakan kelompok mikroba dengan habitat dan lingkungan hidup
sangat luas, baik di perairan (air tawar, air laut), tanah, lumpur dan
bebatuan. Bakteri ini juga hidup pada jasad lain, seperti tanaman, hewan
dan manusia. Pada manusia terdapat di usus, mulut, paru-paru dan aliran
darah.

BAB IV
KESIMPULAN

Preparat supravital epithelium mukosa mulut merupakan preparat


sementara. Secara singkat, langkah-langkah dalam pembuatan preparat
supravital epithelium mukosa mulut yaitu: afiksing, pewarnaan, dan
penutupan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.fajarbeve07.blogspot.com-Berbagi-Ilmu-Berbagi-Kasih.html
http://devacurii.wordpress.com/2012/11/01/struktur-dan-morfologi-bakteri/
http://teguhheriyanto.blogspot.com/2012/11/v-
behaviorurldefaultvmlo.html

http://www.wikipedia.org/Staphylococcus/

Diposkan oleh Cool Download Rox | Admin di 1/31/2014 03:50:00 A


...............................

LAPORAN PRAKTIKUM SEL MUKOSA PIPI

BAB I
A. Pendahuluan
Jaringan lunak mulut terdiri dari mukosa pipi, bibir, ginggiva, lidah, palatum, dan
dasar mulut. Struktur jaringan lunak mulut terdiri dari lapisan tipis jaringan mukosa yang
licin, halus, fleksibel, dan berkeratin atau tidak berkeratin. Jaringan lunak mulut berfungsi
melindungi jaringan keras di bawahnya; tempat organ, pembuluh darah, saraf, alat pengecap,
dan alat pengunyah.
Secara histologis mukosa mulut terdiri dari 3 lapisan, yaitu: 1) Lapisan epitelium,
yang melapisi di bagian permukaan luar, terdiri dari berlapis-lapis sel mati yang berbentuk
pipih (datar) dimana lapisan sel-sel yang mati ini selalu diganti terus-menerus dari bawah,
dan sel-sel ini disebut dengan stratified squamous epithelium. 2) Membran basalis, yang
merupakan lapisan pemisah antara lapisan ephitelium dengan lamina propria, berupa serabut
kolagen dan elastis. 3) Lamina propria, Pada lamina propria ini terdapat ujung-ujung saraf
rasa sakit, raba, suhu dan cita rasa. Selain ujung-ujung saraf tersebut terdapat juga pleksus
kapiler, jaringan limf dan elemen-elemen penghasil sekret dari kelenjar-kelenjar ludah yang
kecil-kecil. Kelenjar ludah yang halus terdapat di seluruh jaringan mukosa mulut, tetapi tidak
terdapat di jaringan mukosa gusi kecuali di mukosa gusi daerah retromolar. Disamping itu
lamina propria ini sebagian besar terdiri dari serabut kolagen, serabut elastin dan sel-sel
fibroblast serta sel-sel daerah yang penting untuk pertahanan melawan infeksi. Jadi mukosa
ini menghasilkan sekret, bersifat protektif dan sensitif.
Pengamatan kondisi patologis yang terjadi di dalam rongga mulut dapat dilakukan
dengan membuat preparat apusan yang diperoleh dengan membuat irisan tipis dari sepotong
kecil jaringan yang telah difiksasi, kemudian dipulas, dilekatkan dalam medium dengan
indeks refraksi yang sesuai di atas sebuah kaca objek kemudian ditutup dengan suatu kaca
tutup.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa mampu memahami dan melakukan
prosedur pembuatan preparat apusan sel epitel lidah, mukosa bukal atau gingiva untuk
mengamati keadaan sel epitel subyek dalam keadaan normal ataupun kondisi patologis.
BAB II
Landasan Teori
Sel adalah unit struktural dan fungsional dari setiap organisme. Teori tentang sel yang
pertama kali dikemukakan pada abad ke-19 menyatakan bahwa semua organisme tersusun
atas satu atau lebih sel. Setiap sel berasal dari sebuah sel lainnya. Seluruh fungsi vital bagi
organisme terjadi di dalam sel dan sel-sel tersebut mengandung informasi genetik yang
dibutuhkan untuk mengatur fungsi sel dan memindahkan informasi kepada sel-sel generasi
berikutnya.
Salah satu cara untuk mengklasifikasikan sel adalah dengan mengamati apakah
mereka hidup menyendiri atau berkelompok. Organisme-organisme beragam dari yang
hanya memiliki satu sel (disebut sebagai organisme uniseluler) yang berfungsi dan
mempertahankan diri kurang lebih secara independen, atau membentuk koloni-koloni dan
hidup bersama, sampai pada sel-sel multiseluler di mana sel-sel tersebut memiliki spesialisasi
masing-masing dan biasanya tidak mampu bertahan hidup jika saling dipisahkan. 220 jenis
sel dan jaringan membentuk tubuh manusia.
Sel juga dapat diklasifikasikan menurut struktur dalamnya :
1. Sel-sel prokariotik memiliki struktur sederhana. Mereka dapat ditemukan hanya pada
organisme uniseluler dan sel-sel koloni. Dalam sistem tiga domain dari klasifikasi ilmiah,
sel-sel prokariotik diletakkan pada domain Archaea dan Eubacteria.
2. Sel-sel eukariotik memiliki organel-organel sendiri pada membrannya. Organisme-
organisme eukarotik bersel tunggal sangat bervariasi, namun banyak pula bentuk-bentuk
koloni dan multiselular (kingdom multiseluler, misalnya Animalia, Plantae dan Fungi,
semuanya adalah eukarotik). (Hikmatul Iman-ITB,2005).

Karakteristik dari sel adalah sebgai berikut :


1. Sel sangat kompleks namun teratur
2. Sel memiliki program genetik dan memiliki cara untuk menggunakannya
3. Sel mampu memperbanyak diri
4. Sel membutuhkan, memperoleh dan menggunakan energi
5. Sel melaksanakan berbagai reaksi kimiawi
6. Sel terlibat dalam berbagai aktivitas mekanis
7. Sel mampu mengatur diri
8. Sel mampu merespon terhadap rangsang. (Diah,2011)
Jaringan epitelium (epithelial tissue) terdapat dalam wujud lapisan-lapisan sel yang
terkemas dengan rapat. Pada banyak epitelium, sel-sel tersebut dipatri menjadi satu oleh tight
junction (persambungan ketat). Permukaan bebas pada epitelium itu terpapar ke udara atau
cairan, sementara sel-sel yang berada di bagian dasar rintangan itu melekat ke suatu membran
basal (Campbell, 2004).
Sel-sel epitel mukosa mulut terdiri dari empat lapisan berturut-turut dari yang paling
dalam ke permukaan yaitu lapisan germinativum/basalis, lapisan spinosum, lapisan
granulosum dan lapisan corneum. Stratum basalis terdiri dari selapis sel berbentuk kubus
yang berbatasan dengan lamina propia dan mengandung sel-sel induk yang secara kontinyu
bermitosis dan anak selnya dikirimkan ke lapisan yang lebih superfisial. Stratum spinosum
terdiri dari beberapa lapis sel berbentuk bulat atau oval dan mempunyai karakteristik sel yang
mulai matang. Stratum granulosum terdiri dari beberapa lapis sel yang lebih gepeng dan lebih
matang dari stratum spinosum dan mengandung banyak granula keratohyalin yang
merupakan bakal sel keratin. Stratum corneum terdiri dari selapis atau berlapis-lapis sel
(tergantung regio) berbentuk pipih yang tidak berstruktur dan tidak mempunyai inti sel.
Mukosa mulut dapat dikelompokkan menjadi tiga tipe yaitu mukosa pengunyahan, mukosa
penutup dan mukosa khusus. Mukosa pengunyahan terdapat di regio rongga mulut yang
menerima tekanan kunyah seperti gusi dan palatum durum. Jaringan epitelnya parakeratinised
(mempunyai lapisan keratin tipis yang beberapa selnya da yang masih memiliki inti sel yang
tidak sempurna). Mukosa penutup terdapat pada dasar mulut, permukaan inferior lidah,
permukaan dalam bibir dan pipi, palatum molle dan mukosa alveolaris kecuali gusi. Tipe
epitelnya nonkeratinised (tidak memiliki lapisan keratin). Mukosa khusus terdapat pada
dorsum lidah, tipe epitelnya ortokeratinised (memiliki lapisan keratin yang tebal yang terdiri
dari sel-sel yang sudah tidak berinti) (Puspitawati, 2003). Perbandingan antara sel basal-
parabasal, sel intermediet, dan sel superfisial disebut indeks maturasi. Pada kondisi normal,
jumlah sel pada lapisan superfisial sesuai dengan jumlah sel pada lapisan sel basal (Naib,
1970).

BAB III
Material dan Metode
1. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop cahaya,
kaca preparat, kaca penutup, cover glass,dan tusukgigi atau cotton bud, mukosa pipimanusia ,
alcohol 70 % ,tisu ,dan metilen blue.
2. Prosedur Kerja
Disediakan kaca objek yang bersih, dibersihkan dengan larutan alkohol dan tisu.
Dikorek perlahan lahan menggunakan tusuk gigi yang bersih ke bagian dalam pipi.
Disentuhkan material tersebut ke atas kaca objek. Kemudian ditambahkan
setetes metilyn blue diatasnya. Lalu ditutup dengan cover glass.Diamati preparat tersebut
dengan mikroskop cahaya , dengan perbesaran yang teratur.

BAB IV
Hasil Praktikum

No.
Nama
Foto
Perbesaran
Keterangan Gambar
1.
Preparat A

1
3 2

Dokumentasi Pribadi
Perbesaran 40 x
1. Nucleus
2. Sitoplasma
3. Membran plasma
2.
Preparat B

3. 1.
2.
Dokumentasi Pribadi
Perbesaran 40 x
1. Nukleus
2. Sitoplasma
3. Membran sel
3.
Preparat C

1.
2.
3.
Dokumentasi Pribadi
Perbesaran 40 x
1. Membran sel
2. Nukleus
3. sitoplasma

BAB V
Pembahasan
Sel ini biasanya berdiameter sekitar 10 - 50 (micrometer). Nucleus biasanya
terdapat ditengah sel dan berbebtuk bulat dan oval. Setiap sel mempunyai 1 inti.
Pada percobaan ini praktikan mengamati sel mukosa mulut sebagai sel hewan. pada sel
mukosa mulut prktikan dapat melihat adanya membran sel, inti sel dan sitoplasma. Fungsi
inti sel dan sitoplasma pada sel hewan sama seperti pada sel tumbuhan, bedanya sel hewan
tidak memiliki dinding sel. Sel hewan hanya mempunyai membran sel yang berfungsi untuk
melindungi organel-organel yang berada di dalamnya. Sel didalam tubuh manusia, terdiri dari
membran plasma , sitoplasma , organel , dan nukleus.
Berdasarkan hasil pengamatan bagian yang sangat terlihat jelas adalah inti sel. Karena
penyerapan warnanya lebih pekat. Kendala yang dialami pada percobaan kali ini adalah
sulitnya mendapat sayatan yang tipis dan adanya gelembung udara sehingga mempersulit
pengamatan. Gelembung udara dapat terjadi karena kurangnya ketelitian saat menutup kaca
preparat. Terdapat juga preparat sel yang tidak terlihat jelas, ini dikarenakan mungkin karena
adanya jamur pada lensa mikroskop atau tingkat pengaturan kefokusannya kurang.

BAB VI
Kesimpulan
1. Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti biologis.
2. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel.
3. Yang dapat dilihat jelas dari struktur sel adalah inti sel (nuleus), sitoplasma, dan dinding sel.
4. Sel hewan mempunyai membran sel, tidak memiliki butir-butir plastida dan mempnyai
vakuola yang berukuran kecil, serta mempunyai bentuk yang tidak tetap.
5. Tusuk gigi sangat diperlukan dalam mengamati objek yaitu untuk menghindari gelembung
udara pada proses pengamatan

BAB VII
Daftar Pustaka
belindch.wordpress.com/2009/12/07/sitologi-sel-epitel-rongga-mulut/(di unduh
tanggal 8 mei 2012)
Campbell Neil, et al. 2004. Biologi. Edisi Kelima. Jilid III. Jakarta: Penerbit Erlangga.
http://hikmatulimanitb.multiply.com/journal (di unduh tanggal 8 mei 2012)
Lesson C, et al. 1990. Mempersiapkan Jaringan dalam Buku Ajar Histologi. Edisi V. Jakarta.
EGC. Hal 7-8.
Pratiwi,Srimaryati,Rikini,Suharno & S Bambang.2007.Biologi SMA Jilid 2 untuk kelas XI
.Jakarta:Erlangga
Puspitawati Ria. 2003. Struktur Makroskopik dan Mikroskopik Jaringan Lunak Mulut. Jurnal
Kedokteran Gigi Universitas Indonesia; 10 (Edisi Khusus) : 462-467.
Rossa Yunilda.2010.Penuntun Pratikum Biologi.Palembang: STIKes Siti khadijah Palembang
diaharrazy.files.wordpress.com/2011/04/bahan-kuliah-biologi-2.pd (diunduh tanggal 8 mei
2012)

Diposkan oleh duuaaarra di 05.56


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
.................................