Anda di halaman 1dari 6

Tugas Farmakologi Veteriner I

PRINSIP DASAR FARMAKOLOGI

OLEH
WADI OPSIMA
(O111 13 310)

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015
Apakah pemberian obat melalui intravena, intramuskular, dan
intraperitoneal mengalami fase farmakokinetik?

CARA PEMBERIAN OBAT


1. Intravena
Pemberian obat secara intravena termasuk dalam pemberian
obat intravaskuler, dimana pemberian obat ini tidak mengalami absorpsi.
Hal ini karena karena absorpsi adalah proses masuknya obat dari tempat
pemberian ke dalam darah, sedangkan pemberian obat melalui intravena
langsung masuk ke saluran sistemik dan memberikan efek. Selanjutnya
obat akan didistribusikan ke organ target, kemudian akan dimetabolisme
agar dapat dikeluarkan dalam bentuk yang paling mudah. Kemudian
proses terakhir adalah eksrkesi yaitu proses membuang metabolit obat dari
dalam tubuh.

2. Intramuskular
Pemberian obat intramuskular adalah pemberian obat melalui
suntikan dalam jaringan otot, umumnya pada otot pantat dan otot paha
(gluteus maximus) dimana tidak terdapat banyak pembuluh darah dan
saraf sehingga relative aman untuk digunakan. Obat dengan cara
pemberian ini dapat berupa larutan, dan suspensi.
Pemberian obat intramuskular termasuk dalam pemberian obat
ekstravaskular, dimana obat mengalami absorpsi. Kelarutan obat dalam air
menentukan kecepatan dan kelengkapan absorpsi. Obat yang sukar larut
dalam air akan mengendap di tempat suntikan sehingga absorpsinya
lambat atau terjadi tagositosis dari partikel obat. Absorpsi biasanya
berlangsung dalam waktu 10-30 menit. Namun, kecepatan absorpsi juga
bergantung pada vaskularitas tempat suntikan dengan kecepatan peredaran
darah antara 0,027-0,07 ml/menit. Molekul yang kecil langsung diabsorpsi
ke dalam kapiler sedangkan molekul yang besar masuk ke sirkulasi
melalui saluran getah bening.

3. Intraperitoneal
Pemberian obat intraperitoneal adalah pemberian obat yang
diinjeksikan pada rongga perut tanpa terkena usus atau terkena hati, karena
dapat menyebabkan kematian. Hal ini jarang dilakukan pada manusia
karena sangan beresiko. Di dalam rongga perut ini, obat diabsorpsi secara
cepat karena pada mesentrium banyak mengandung pembuluh darah.
Dengan demikian absorpsinya lebih cepat dibandingkan intramuscular.
Obat yang diberikan secara intraperitoneal akan diabsorpsi pada sirkulasi
portal sehingga akan dimetabolisme di dalam hati sebelum mencapai
sirkulasi sistemik.

Sebutkan jenis-jenis reseptor (agonist-gated channel, g-protein couple


receptor) !

RESEPTOR
Reseptor merupakan komponen makromolekul sel (umumnya berupa
protein) yang berinteraksi dengan senyawa kimia endogen pembawa pesan
(hormon, neurotransmiter, mediator kimia dalam sistem imun, dan lain-lain) untuk
menghasilkan respon seluler. Tipe reseptor, antara lain reseptor yang terhubung
kanal ion, reseptor yang terhubung enzim, reseptor yang terhubung protein G, dan
reseptor nuclear.

1. Reseptor Terhubung Kanal Ion


Reseptor terhubung kanal ion terletak di membran sel, disebut juga
reseptor ionotropik. Respon terjadi dalam hitungan milidetik. Reseptor kanal ion
merupakan suatu glikoprotein yang melintasi membran sel dan merupakan suatu
kompleks multi subunit yang tersusun membentuk porus/kanal. Sifat penting dari
reseptor kanal ion ini adalah teraktivasi sebagai respon terhadap ligan spesifik
(neurotransmitter, maksudnya neurotransmitter tersebut dilepaskan oleh ujung
syaraf sebagai respon dari depolarisasi), memungkinkan ion melalui membran yg
semula impermeable (di mana neurotransmitter seperti asetilkolin akan berikatan
pada reseptor yang ada pada kanal ion membuat kanal ion terbuka), serta selektif
pada ion-ion tertentu.
2. Reseptor terhubung Enzim

Reseptor terhubung enzim merupakan protein transmembran dengan


bagian besar ekstraseluler mengandung binding site untuk ligan (contoh : faktor
pertumbuhan, sitokin) dan bagian intraseluler mempunyai aktivitas enzim
(biasanya aktivitas tirosin kinase). Aktivasi menginisiasi jalur intraseluler yang
melibatkan tranduser sitosolik dan nuklear, bahkan transkripsi gen.

Reseptor Faktor Pertumbuhan


Reseptor growth factor merupakan reseptor yang menimbulkan
fosforilasi protein efektor yang merupakan bagian reseptor tersebut pada
membran sel bagian dalam, berupa tirosin kinase, tirosin fosfatase, serin
kinase, atau guanilil kinase. Ligan endogen untuk reseptor ini antara lain
insulin, epidemal growth hormon (EGF), platelet-derived growth factor,
atrial natriuretic factor (ANF), transforming growth factor-beta (TGF), dan
lain-lain.

Reseptor Sitokin
Reseptor sitokini mempunyai ligand growth hormon, eritropoietin,
interferon, dan ligand yang mengatur pertumbuhan dan dferensiasi. Pada jenis
reseptor ini, aktifitas fosforilasi dilangsungkan lewat protein kinase lain
(Janus-kinase, JAK) yang terikat secara nonkovalen pada reseptor tersebut.
Protein JAK ini akan menimbulkan fosforilasi protein STAT (signal
transducer and activation of transcription) dan selanjutnya protein STAT
akan masuk ke nukleus untuk mengatur transkripsi gen tertentu.

3. Reseptor Terikat Protein G

Sejumlah besar reseptor di membran plasma bekerja


mengatur protein efektor tertentu dengan perantara sekelompok
GTP binding protein yang dikenal sebagai protein G. Yang
termasuk dalam kelompok ini adalah reseptor untuk amin
biogenik, eikosanoid, dan hormon peptida lainnya. Reseptor ini
bekerja dengan memacu terikatnya GTp pada protein G spesifik
misalnya adenilat siklase, fosfolipase A2 dan C, kanal Ca2+, K+,
atau Na+, dan beberapa protein yang berfungsi dalam
transportasi. Protein G merupakan kompleks heterotrimerik yang
terdiri atas tiga submit (, , dan ). Jika agonis menempati
reseptor ini, maka terjadi disosiasi antara subunit dengan
subunit dan . Suatu sel dapat mempunyai 5 atau lebih protein
G yang masing-masing dapat memberikan respon terhadap
beberapa reseptor yang berbeda dan mengatur beberapa efektor
yang berbeda pula.

G-protein coupled receptor terdiri atas 7 polipeptida


(transmembran domain) sehingga disebut sebagai reseptor
serpentine. Pada ujung terminal ekstrasel terdapat gugus NH 2
(amina), sedangkan ujung terminal intrasel berupa gugus-COOH
(karboksil). Apabila reseptor ditempati oleh ligandnya, maka
terjadi perubahan konformasi reseptor yang akan menyebabkan
terkaitnya GTP pada protein G menjadi teraktifasi (berdisosiasi
menkadi G dan G). Subunit G akan berinteraksi dengan
protein efektor (E) (misalnya adelinat siklase atau fosfolipase C),
sehingga terjadi produksi second messenger seperti cAMP, atau
inositol trifosfat dan diasilgliserol.

4. Reseptor Nuklear

Reseptor terhubung transkripsi gen disebut juga reseptor nuklear (walaupun


beberapa ada di sitosol, merupakan reseptor sitosolik yang kemudian bermigrasi
ke nukleus setelah berikatan dengan ligand, seperti reseptor glukokortikoid).
DAFTAR PUSTAKA

Pratiwi, Sheila. Fase Farmakokinetika.


http://www.scribd.com/doc/246785566/Fase-Farmakokinetika#scribd.
(diunduh pada Rabu, 18 Februari 2015)

Syarif, Amir, et al. 2007. Farmakologi dan Terapi. Balai Penerbitan FK UI: Jakarta