Anda di halaman 1dari 3

KELEMAHAN DALAM BISNIS KELUARGA

Tidak ada sesuatu yang sempurna, ungkapan tersebut juga berlaku untuk bisnis keluarga, tetapi
bukan berarti bahwa perusahaan keluarga itu jelek, siapa yang tidak ingin mempunyai bisnis
sendiri, adalah impian semua orang untuk memiliki sebuah perusahaan besar yang bisa di kelola
sendiri dan dapat di wariskan kepada anak cucu generasi selanjutnya. Dan banyak juga dari
beberapa keluarga yang sukses dalam mengelola bisnis dan bisa sampai menjadi besar.
Namun sebaiknya diketahui juga bahwa bisnis keluarga juga memiliki beberapa
kekurangan sebagai berikut, dan ini merupakan beberapa tindakan yang kurang pas
apabila di lakukan oleh perusahaan keluarga :

1. Penempatan Personel Bukan Berdasarkan Pada Right Man Right Place


Namun berdasarkan asal tunjuk atau bahkan bedasarkan ke inginan yang bersangkutan..Kamu
mau posisi mana, suka-suka kamulah, saya kan yang punya perusahaan ini,
Penunjukkan semacam ini mempunyai beberapa kelemahan yang cukup fatal diantaranya :

a. Tidak sesuai dengan tingkat kecakapan


Mungkin bisa dibawah atau mungkin malah di atas standar kecakapan yang diminta,
yang repot adalah kalau pas dibawah standar kecakapan yang diminta, coba
seandainya kalau bukan perusahaan keluarga, Anda langsung meminta ditempatkan
sebagai manager keuangan.. apa ya bisa? lalu semestinya bagaimana..? meskipun itu
saudara atau bukan sebaiknya lakukanlah test terlebih dahulu sebelum
penempatan. Tes ini sangat diperlukan untuk mengetahui dan menganalisa sejauh mana
kemampuan dan kecocokan untuk posisi yang akan di limpahkan
pertanggungjawabannya kepada keluarga yang akan di tes tersebut.

b. Penunjukan yang langsung menempati posisi atas


Tidak etis rasanya bila langsung menempatkan seorang anggota keluarga tanpa
diketahui terlebih dahulu kualifikasi dan kemampuan dibidangnya tanpa proses
pembelajaran dan pembinaan karir mulai dari bawah, hal ini dapat menyebabkan
kurangnya pemahaman atau kepekaan terhadap tugas, pekerjaan, seluk beluknya,
tantangan dan suka duka bawahannya, sehingga ketika memberikan kebijakan
sering kali tidak pas dengan kondisi keseharian bawahan.
c. Kesulitan pembinaan
Permasalahan yang lain adalah dalam melakukan pembinaan terutama pembinaan
teknis di lapangan seringkali tidak sesuai dengan keadaan, meskipun pada akhirnya bisa
juga menyesuaikan setelah melalui berbagai proses adaptasi, namun sudah memakan
korban sebelumnya.
2. Sulit Mendelegasikan Kejadian
Seperti halnya waktu dahulu membangun suatu usaha tanpa ada karyawan bekerja secara
mandiri, merancang sistem bisnis sendirian, memasarkan sendirian, negosiasi sendirian,
semuanya dilakukan sendirian, Setelah perusahaan menjadi besar memang terjadi
rekrutment karyawan secara besar-besaran di sana-sini. Namun karena sudah terbiasa
bekerja sendirian maka kejadiannya adalah :

Tidak Segera Di Delegasikan


Tidak segera menyadari bahwa sekarang saatnya bekerja di dalam tim, sehingga semua
keputusan bergantung kepada sang pimpinan perintis usaha sehingga terjadi bottle
neck (Leher botol), seperti galon air mineral, dibawah menggelembung namun
penyalurannya sempit mengerucut hanya pada satu figur. akibatnya semua karyawan
menganggur. Hanya demi menunggu keputusan sang Bos yang tidak kunjung turun.
Sementara sang Bos sendiri yang ditunggu keputusannya malah masih sibuk dengan
pekerjaannya sendiri.

Segala Cara Kerja Dan Pola Di Samakan Dengan Dirinya


Jadi kalau seandainya Anda terbiasa bekerja sampai jam 21 malam, maka karyawan
dituntut untuk bekerja sampai jam 21 malam juga, (Hmmm apakah gajinya juga ikut di
naikkan 3x lipat?? hehe)

- Mula-mulanya Pimpinan Akan Memberikan Contoh Yang Baik


Namun lama kelamaaan lupa kalau semestinya bisa melakukan brain storming dst,
lebih parah lagi kalau si Bos (yang mana anggota keluarga) malah bersaing balik
dengan karyawannya.

3. Terjadinya Konflig Kepentingan


Seperti kejadian salah satu anggota keluarga menempati posisi Administrasi
gudang
Sementara posisi penjualan dipegang oleh orang lain, maka saat ada konflig. ya pasti
mau tidak mau yang di posisi penjualan haruslah mengalah demi menjaga posisinya tetap
aman agar tidak digantikan oleh pegawai baru. Sang Owner mengatakan Keluarga saya
ini benar dan saya tidak ada konflig kepentingan. Sementara orang lain, teman
lamanya, mitra supliernya, mitra usahanya, karyawannya dan pelanggannya
mengatakan Lah ya itu loh pak..!! itu namanya konflig kepentingan..!!

Yang menempati posisi Administrasi gudang dan penjualan sama-sama anggota


keluarga maka ketika ada konflig, maka konflig ini tidak akan bisa diselesaikan.
Dengan adanya kejadian seperti di atas maka akan membuat semakin sulit untuk
bisa menegakkan peraturan perusahaan.
Dan masih banyak lagi permasalahan bisnis keluarga lainnya seperti semua pekerjaan
dan jabatan dikuasai oleh seorang saja dan sebagainya, namun biasanya berhubungan
dengan masalah ke HRD an, nah para HRD perusahaan keluarga semacam ini biasanya
sering mengalami tingkat stressing yang cukup tinggi.

Sumber :
http://softwareaccountingsurabaya.com/blog/tips-mengelola-dan-beberapa-kelemahan-
bisnis-keluarga.html