Anda di halaman 1dari 10

Laporan

Herbarium Bunga

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Struktur Perkembangan Tumbuhan II


Yang dibimbing oleh Dra. Eko Sri Sulasmi, M. S.

Disusun oleh :
Della Azizatul Faraoidah (140342600578)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
BIOLOGI
DESEMBER 2015
A. Latar Belakang
Herbarium berupa spesimen yang diawetkan. Herbarium dapat dimanfaatkan sebagai
bahan rujukan untuk mentakrifkan takson tumbuhan, ia mempunyai holotype untuk
tumbuhan tersebut. Herbarium juga dapat digunakan sebagai bahan penelitian untuk para ahli
bunga atau ahli taksonomi, untuk mendukung studi ilmiah lainnya seperti survey ekologi,
studi fitokimia, penghitungan kromosom, melakukan analisa perbandingan biologi dan
berperan dalam mengungkap kajian evolusi. Kebermanfaatan herbarium yang sangat besar
ini menuntut perawatan dan pengelolaan spesimen harus dilakukan dengan baik dan benar
(Setyawan dkk, 2005).
Koleksi objek perlu diperhatikan kelengkapan organ tubuhnya, pengawetan dan
penyimpanannya. Koleksi objek harus memperhatikan pula kelestarian objek tersebut. Perlu
ada pembatasan pengambilan objek. Salah satunya dengan cara pembuatan awetan.
Pengawetan dapat dilakukan terhadap objek tumbuhan. Pengawetan dapat dengan cara basah
ataupun kering. Cara dan bahan pengawetnya bervariasi, tergantung sifat objeknya. Organ
tumbuhan yang berdaging seperti buah, biasanya dilakukan dengan awetan basah. Sedang
untuk daun, batang dan akarnya, umumnya dengan awetan kering berupa herbarium
(Suyitno, 2004).
Studi morfologi dan taksonomi didasarkan pada bahan yang riil harus ada lazimnya
disebut spesimen. Suatu spesimen dapat berupa tubuh tumbuhan yang lengkap yang terdiri
atas bagian vegetative (akar, batang, dan cabang daun) dan bagian generative (bunga, buah
dan biji) utuk tumbuhan golongan Spermatophyta. Untuk Crytogamae adalah organ
vegetative dan organ reproduksi (selain dari biji misalnya spora). Spesimen yang digunakan
untuk studi mofologi dan taksonomi dapat berupa tumbuhan segar dan dapat juga berupa
spesimen yang diawetkan atau disebut herbarium (Syamswisna, tanpa tahun)
Spesimen herbarium merupakan tumbuhan atau bagian tumbuhan yang dikeringkan.
Herbarium juga berarti lembaga atau laboratorium yang merupakan tempat ahli-ahli
taksonomi melakukan studi taksonomi tumbuhan yang sekaligus juga merupakan tempat
untuk menyimpan koleksi bahan studi yang telah diawetkan. Pada pembuatan spesimen
herbarium tumbuhan diperlukan beberapa tahap kerja yaitu di lapangan dan di laboratorium.
Kerja di lapangan bertujuan untuk mengoleksi tumbuhan yang akan dijadikan spesimen
herbarium. Koleksi harus mempunyai kelengkapan organ vegetative dan generative serta
karakter biologinya. Spesimen herbarium yang baik ditentukan oleh cara mengkoleksinya
dan proses pembuatan spesimen herbarium (Lawrence, 1968).
Catharanthus roseus (L.) G. Don merupakan salah satu tumbuhan yang sangat
dikenal oleh masyarakat Indonesia dengan sebutan bunga tapak dara. Tumbuhan ini bisa
ditemukan di berbagai tempat dengan iklim yang berbeda-beda. Bunga tapak dara
(Catharanthus roseus (L.) G. Don) yang juga kerap disebut dengan kembang sari Cina,
kembang serdadu, atau tapak dara ini ternyata memiliki banyak khasiat sebagai obat. Ada
pun yang banyak dipakai sebagai obat adalah tapak dara yang tajuknya putih. Tanaman ini
sifatnya parennial, artinya hidup selama kurang lebih dua tahunan (Pandiangan, 2012).

B. Tujuan
Mengetahui teknik pembuatan herbarium bunga beserta labelnya, serta mengetahui
karakteristik dan taksonomi dari bunga Catharanthus roseus (L.) G. Don.

C. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Sasak
b. Penggaris
c. Solasi
d. Gunting
2. Bahan
a. Catharanthus roseus (L.) G. Don.
b. Kertas ivori
c. Kertas casing
d. Kertas merang

D. Metode
1. Alat dan bahan disiapkan.
2. Bahan herbarium dibersihkan dari kotoran yang masih melekat agar hasil herbarium
maksimal.
3. Mencatat sifat dan karakter dari Catharanthus roseus (L.) G. Don
4. Bagian dari bunga dan tanaman Catharanthus roseus (L.) G. Don. yang akan
dikeringkan dipilih.
5. Bahan yang telah dipilih diletakkan di kertas merang agar kandungan air cepat kering,
kemudian tutup dengan kertas merang dan tepi kertas merang dilipat.
6. Diletakkan diantara dua sasak lalu diikat.
7. Diletakkan didalam oven kira-kira 3 hari hingga bagian bunga dan tanaman tersebut
benar-benar kering agar tidak memungkinkan tumbuhnya jamur.
8. Mounting
9. Atur posisi herbarium tersebut agar menarik.
10. Beri sedikit solasi pada herbarium tersebut sebagai perekat.
11. Identifikasi dan pemberian label, ditempelkan pada kertas ivori dibagian pojok kanan
bawah.
12. Herbarium ditutup dengan kertas casing.

E. Hasil Pengamatan
Data yang terkumpul saat pencandraan Catharanthus roseus (L.) G. Don.

Ciri-ciri umum Ciri-ciri khusus


Bunga lengkap Petal berwarna ungu
Bunga sempurna Tabung mahkota berwarna hijau dan
Bunga majemuk terbatas sempit, panjangnya 2,5-3 cm
Flos axillary Kepala sari melekat pada tabung
Bunga siklis Gamopetalus
Hermaprodit Daun oval berhadapan bersilang,
Planta multiflora
Zygomorphus panjangnya 2-9 cm
Estivasinya sinistrosum contortus Buah berpasangan, berbentuk gilik,
Calyx kecil 6 mm berwarna hijau
Panjang pedicel 1-2 mm Bijinya banyak dan berwarna hitam
Terdiri dari 5 sepal Permukaan daun, batang, bunga, dan buah
Terdiri dari 5 petal memiliki rambut halus.
Memiliki 5 stamen Getah berwarna putih susu
Memiliki 1 pistillum
Filament sangat pendek
Ovaries 2
Stigma silinder

F. Pembahasan
Pada saat pencandraan, data yang diperoleh berupa ciri umum dan ciri khusus dari
Catharanthus roseus (L.) G. Don. Namun yang dimasukan dalam pembuatan label adalah
ciri-ciri khususnya saja. Berikut ini adalah klasifikasi dan morfologi dari Catharanthus
roseus (L.) G. Don.
(Gambar 1: Catharanthus roseus (L.) G. Don.)
1. Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Gentianales
Family : Apocynaceae
Genus : Catharanthus
Spesies : Catharanthus roseus (L.) G. Don.
2. Morfologi tumbuhan
Tumbuhan terna atau semak, menahun, tumbuh tegak, tinggi mencapai 120 cm,
banyak bercabang. Batang bulat, bagian pangkal berkayu, berambut halus, warnanya
merah tengguli. Daun tunggal, agak tebal, bertangkai pendek, berhadapan bersilang.
Helai daun elips, ujung runcing, pangkal meruncing, tepi rata, pertulangan menyirip,
kedua permukaan daun mengkilap, dan berambut halus. Perbungaan majemuk, keluar
dari ujung tangkai dan ketiak daun dengan lima helai mahkota bunga berbentuk terompet,
ungu dengan bercak merah di tengahnya. Buahnya buah bumbu berbulu, menggantung,
berisi banyak biji berwarna hitam. Perbanyakan dengan biji, setek batang atau akar
(Pandiangan, 2012).
Berdasarkan hasil pencandraan, didapatkan bahwa Catharanthus roseus (L.) G.
Don. memiliki 5 sepal, 5 petal, 5 stamen, dan 1 putik (Sharma, 2009). Sepal berbentuk
seperti duri, ukurannya kecil, merupakan daun-daun hiasan bunga yang merupakan
lingkaran luar, berwarna hijau, berguna sebagai pelindung bunga, terutama waktu masih
kuncup. Corolla berwarna ungu dengan bercak merah ditengahnya, merupakan hiasan
bunga yang terdapat di sebelah dalam kelopak, umunya lebih besar, menarik, tabung
corolla berwarna hijau, panjangnya 2,5-3 cm. Permukaan corollanya berambut. Petal
berlekatan bertipe tabung. Stamen melekat pada tabung corolla. Benang sari bagi
tumbuhan merupakan alat kelamin jantan. Benang sari merupakan suatu metamorphosis
daun, yang bentuk dan fungsinya telah disesuaikan sebagai alat kelamin jantan. Benang
sari tampak duduk diatas tajuk bunga, tumbuhan yang demikian disebut Corolliflorae.
Kedudukan kepala sari merupakan tipe adnatus (Tjitrosoepomo, 2009). Putik merupakan
bagian bunga yang paling dalam letaknya, dan kala benang sari merupakan alat kelamin
jantan bagi bunga, maka putik merupakan alat kelamin betianya. Putik pada bunga
Catharanthus roseus (L.) G. Don. merupakan putik tunggal yaitu putik hanya tersusun
atas sehelai daun buah saja (Tjitrosoepomo, 2009). Jadi bunga Catharanthus roseus (L.)
G. Don. merupakan bunga hermaprodit karena pada bunga terdapat benang sari dan
putik.

(Gambar 2: bagian bunga Catharanthus roseus (L.) G. Don. Sumber: Sharma, 2009)

Merupakan bunga lengkap atau bunga sempurna (flos completes). Yang dapat
terdiri atas: 1 lingkaran daun kelopak, 1 lingkaran daun-daun mahkota, 1 lingkaran
benang sari dan satu lingkaran daun-daun buah. Merupakan bunga majemuk terbatas,
yaitu bunga majemuk yang ujung ibu tangkainya selalu ditutup dengan suatu bunga, jadi
ibu tangkai mempunyai pertumbuhan yang terbatas. Pada bunga majemuk terbatas bunga
yang mekar dulu ialah bunga yang terdapat di sumbu pokok atau ibu tangkainya.termasuk
bunga lengkap atau bunga sempurna. Dasar bunga sering memperlihatkan bagian-bagian
yang khusus mendukung satu bagian bunga atau lebih, dan bergantung pada bagian bunga
yang didukungnya, bagian dasar bunga pada bunga tapak dara ini pendukung tajuk bunga
atau antofor yaitu bagian dasar bunga tempat duduknya daun-daun tajuk bunga. Letak
daun-daun dalam kuncup ialah menyirap, susunannya seperti genting (imbricata) yang
terpuntir kearah kiri disebut dengan sinistrosum contortus (Tjitrosoepomo, 2009).
Buah berpasangan, berbentuk gilik, ujungnya lancip, berwarna hijau. Didalam
buah tersebut terdapat banyak biji yang berwarna hitam. Menurut Tjitrosoepomo (2009),
termasuk buah sejati tunggal kering yang mengandung banyak biji, dan jika masak pecah
menjadi beberapa bagian buah (mericarpia) atau pecah sedemikian rupa sehingga biji
terlepas. Termasuk buah kotak yang dibedakan lagi menjadi buah bumbung yakni buah
yang tersusun atas sehelai daun buah, mempunyai satu ruangan dengan banyak biji
didalamnya, jarang sekali hanya mempunyai satu biji. Jika sudah masak, buah pecah
menurut salah satu kampuhnya, biasanya pecah menurut kampuh perutnya.

Herbarium Bunga
(Gambar 3: Herbarium Bunga Catharanthus roseus (L.) G. Don.. Sumber: Dokumen pribadi)

G. Kesimpulan
1. Dengan adanya spesimen herbarium, dapat menunjang dan meningkatkan kualitas
pembelajaran.
2. Keberhasilan pembuatan spesimen herbarium ditentukan oleh tahap-tahap kerja yang
benar dalam proses pembuatan.
3. Catharanthus roseus (L.) G. Don. memiliki 5 petal, 5 sepal, 5 stamen, 1 putik, mahkota
berwarna ungu dan tabung mahkota sempet berwarna hijau, daun berhadapan bersilang,
buah berpasangan, berbentuk gilig, berwarna hijau, biji hitam dan banyak, permukaan
daun, batang, bunga, dan buah berambut.
Daftar Pustaka

Pandiangan, D. 2012. The morphological and anatomical changes on tryptophan-treated callus


of Catharanthus roseus. Manado: Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Sam
Ratulangi.

Setyawan, A. D, Indrowuryatno, Wiryanto, Winanrno, K dan Susilowati, A. 2005.Tumbuhan


Mangrove di Pesisir Jawa Tengah. Surakarta: Jurusan Biologi FMIPA Universitas
Sebelas Maret.
Sharma. 2009. Plant Taxonomy. New Delhi: Tata McGraw-Hill Education Private Limited.

Suyitno, A.L.2004. Penyiapan Specimen Awetan Objek Biologi. Yogyakarta: Jurusan Biologi
FMIPA UNY.

Syamswisna. Penggunaan Spesimen Herbarium Tumbuhan Tigkat Tinggi (Spermatophyta)


Sebagai Media Praktikum Morfologi Tumbuhan. Pontianak: FKIP Universitas
Tanjungpura.

Lawrence, G. H. M. 1968. Taksonomi of Vascular Plants. New York: The Mac Millan Company.

Tjitrosoepomo, G. 2009. Morfologi Tumbuhan. . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press