Anda di halaman 1dari 30

CASE REPORT

TUMOR CAVUM NASI

Perceptor:
dr. Hadjiman YT, Sp. THT

Oleh:
Andini Winda 1518012174
Dyah Kartika Utami 1518012149
Sarah Windia Baresti 1518012166

RUMAH SAKIT UMUM AHMAD YANI METRO


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tumor hidung dan sinus paranasal umumnya jarang ditemukan, baik yang jinak
maupun yang ganas. Di Indonesia dan di luar negeri, kejadian yang ganas hanya
sekitar 1% dari keganasan tumor yang terjadi pada bagian tubuh lainnya dan 3%
dari jumlah keganasan pada daerah kepala dan leher.Insiden tertinggi keganasan
sinus paranasal ditemukan di Jepang, yaitu 2 3.6 per 100.000 penduduk
pertahun. Di departemen THT FKUI RS Cipto Mangunkusumo, keganasan ini
ditemukan 10 15% dari seluruh tumor ganas THT. Laki laki ditemukan lebih
banyak dibanding wanita dengan rasio 2:1. Di Inggris, setiap tahunnya didapatkan
440 kasus. Dari semua kasus tersebut, 30 - 40% didiagnosis dengan tumor pada
sinus maksilaris, 40 50% pada kavum nasi, dan 10 15% pada sinus ethmoid.
Biasanya sangat sulit untuk dideteksi dari mana asal tumor berasal karena rongga
hidung dan rongga sinus paranasal sangat dekat berhubungan.

Di Amerika Serikat, terdapat 2.000 kasus setiap tahunnya dan sangat berhubungan
dengan faktor usia di mana 4 dari 5 kasus terjadi pada usia 55 tahun ke atas.Tumor
ganas tersering adalah karsinoma sel skuamosa (70%), disusul oleh karsinoma
tanpa diferensiasi dan tumor asal kelenjar. Sinus maksila adalah yang tersering
terkena (65-80%), disusul sinus etmoid (15-25%), hidung (24%), sedangkan sinus
sfenoid dan frontal jarang terkena. Metastasis ke kelenkar leher jarang terjadi,
(kurang dari 5%), karena rongga sinus sangat miskin dengan sistem limfa, kecuali
apabila sel tumor sudah menginvasi jaringan lunak pada hidung dan pipi yang
kaya akan sistem limfatik. Metastasis jauh juga jarang ditemukan (kurang dari
10%), dan organ yang paling sering terkena pada metastasis jauh adalah hati dan
paru. Secara statistik dari semua pasien yang didiagnosis dengan tumor kavum
nasi dan sinus paranasal, 35 60% akan bertahan sampai 5 tahun lebih, tetapi
angka tersebut dapat berubah berdasarkan jenis tumor, sejauh mana metastasisnya,
dan seberapa cepat pertumbuhan dari tumor tersebut.

1
B. Tujuan
Tujuan penulisan adalah untuk mempelajari dan menambah
pengetahuan bagi penulis dan pembaca, khususnya bagi dokter-dokter muda
yang sedang menjalani kepaniteraan klinik stase THT. Tujuan lainnya adalah
untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik penulis di stase THT RSUD
Ahmad Yani Metro.

BAB II

2
STATUS PASIEN

A. Identitas pasien
Nama : Ny. R
JenisKelamin : Perempuan
Umur : 77 tahun
Alamat : Batanghari
Tanggal Berobat : 17 April 2017

B. Anamnesis
1. Keluhan utama :
Keluar darah dari hidung kiri sejak10 hari yang lalu
2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang dengan keluhan keluar darah dari hidung kiri sejak 10 hari
yang lalu. Perdarahan merembes kadang - kadang, dan memberat sejak 1
hari yang lalu. Perdarahan berbau dan diserai adanya gumpalan darah
kehitaman. Pasien juga mengeluhakan hidung kiri tersumbat terus terus
menerus sejak 2 bulan yang lalu disertai adanya benjolandi rongga hidung
kiri.
3. Riwayat penyakit dahulu :
- Operasi polipektomi nasi sebelah kiri (+) 1 tahun yang lalu, dilakukan
pemeriksaaan patologi anatomi dengan hasil Polip nasi dengan
hemangioma tahun 2016
- Hipertensi (+)
4. Riwayat penyakit keluarga :
- Tidak ada yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien.
5. Riwayat alergi :
- Alergi obat dan makanan disangkal oleh pasien
6. Riwayat pengobatan :
Pasien belum berobat selama keluhan berlangsung.
C. Pemeriksaan fisik
- Keadaan umum: Tampak lemas
- Kesadaran :Compos mentis
- Tanda vital :
- Tekanan darah: 160/100 mmHg
- Pernafasan : 20 x/menit
- Nadi : 88 x/menit
- Suhu : 36,7oC
Status generalis
1. Kepala : Normocephal
2. Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)

3
3. Telinga : Lihat Status lokalis
4. Hidung : Lihat status lokalis
5. Mulut : Mukosa bibir lembab, tidak sianosis
6. Tenggorok : Lihat status lokalis
7. Leher : Lihat status lokalis
8. Thorax : Dalambatas normal
9. Abdomen : Dalambatas normal
10. Ekstremitas : Dalambatas normal

D. Status lokalis THT


1. Telinga
Tabel 1.PemeriksaanTelinga
AD AS
Aurikula
Normotia, Helix sign (-), Tragus Normotia, Helix sign (-), Tragus
sign (-) sign (-)

Preaurikula
Nyeri tekan (-), benjolan (-), Nyeri tekan (-), benjolan (-),
edema (-) edema (-)

Retroaurikula
Nyeri tekan (-), benjolan (-),
Nyeri tekan (-), benjolan (-),
edema (-)
edema (-)

Mukosa tenang, serumen (-), MAE Mukosa tenang, serumen (-),

4
sekret (-) sekret (-)
Membran timpani

Tidak diperiksa Tidak diperiksa

Tidak dilakukan UjiRinne Tidak dilakukan

Tidak dilakukan Uji Weber Tidak dilakukan

Tidak dilakukan UjiSchwabach Tidak dilakukan

2. Hidung
a. Rinoskopi anterior
Tabel 2.PemeriksaanHidung

Dekstra Rinoskopi Anterior Sinistra

Hiperemis (-) Mukosa Hiperemis (-)


(-) cair Sekret (-) cair, darah (+)
Hipertropi (-) Konka inferior Hipertofi (-)
Tidak deviasi Septum Tidak deviasi
(+) terfiksir, permukaan tidak
(-) Massa rata, mudah berdarah, berwarna
kecoklatan
(+) Passase udara (+)

b. Sinus paranasal
- Inspeksi: edema (-), hiperemis (-) pada sinus maksilaris dan sinus
frontalis

- Palpasi: nyeri tekan pada sinus maksilla (-/-), dan sinus frontalis (-)

3. Tenggorokan
a. Nasofaring

5
Tabel 3.Pemeriksaan Nasofaring

Nasofaring (Rinoskopi posterior)


Konka superior Tidak dilakukan
Torus tubarius Tidak dilakukan
Fossa Rossenmuller Tidak dilakukan
Plika salfingofaringeal Tidak dilakukan

b. Orofaring
Tabel 4.Pemeriksaan Orofaring

Dekstra Pemeriksaan Orofaring Sinistra


Mulut
Lembab, sianosis (-) Mukosa mulut Lembab, sianosis (-)
Tremor (-) Lidah Tremor (-)
Tenang, deformitas (-) Palatum molle Tenang, deformitas (-)
Caries(-) Gigi geligi Caries (-)
Tidak deviasi Uvula Deviasi
Tonsil
Hiperemi Mukosa Hiperemi

T1 T1

Tidak Melebar Kripta Tidak melebar


(-) Detritus (-)
(-) Perlengketan (-)
Faring
Tidak dapat dinilai Mukosa Tidak dapat dinilai
(-) Granula (-)
(-) Post nasal drip (-)

6
4. Leher
Tabel 8. Pemeriksaan Leher

Dekstra Pemeriksaan Sinistra


Tidak ada pembesaran Tiroid Tidak ada pembesaran
Tidak ada pembesaran Kelenjar submental Tidak ada pembesaran
Tidak ada pembesaran Kelenjar submandibula Tidak ada pembesaran
Tidak ada pembesaran Kelenjar jugularis superior Tidak ada pembesaran
Tidak ada pembesaran Kelenjar jugularis medial Tidak ada pembesaran
Tidak ada pembesaran Kelenjar jugularis inferior Tidak ada pembesaran
Tidak ada pembesaran Kelenjar suprasternal Tidak ada pembesaran
Tidak ada pembesaran Kelenjar supraklavikularis Tidak ada pembesaran

E. Pemeriksaan Laboratorium

Darah Lengkap (17 April 2017)


Parameter Hasil Parameter Hasil

Leukosit 9,1 x 103/L Trombosit 232 x 103/L

Eritrosit 4,08 x 106/L MCV 88,2 fL

Hemoglobin 12,5 g/dL MCH 30,6 pg

Hematokrit 36 % MCHC 34,7 g/dL

F. Resume
Seorang perempuan 77 tahun datang dengan keluhan epistaksis pada
hidung kiri sejak10 hari yang lalu. Keluhan semakin memburuk sejak 1
hari yang lalu. Terdapat benjolan yang semakin membesar pada hidung

7
kiri pasien sejak 2 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
masa menutupi seluruh cavum nasi kiri, perdarahan (+), serta gumpalan
darah kehitaman (+), dan bau (+)

G. Diagnosis banding
1. Tumor cavum nasi
2. Polip nasi

H. Diagnosa kerja
Epistaksis Anterior remisi
Tumor pada cavum nasi
Hipertensi Grade II

I. Terapi
1. Konservatif
Non-Farmakologis :
a. Bedrest
b. Pola makan teratur dengan gizi seimbang
Farmakologi :
Amlodipin 1 x 10mg

2. Operatif
Rencana ekstirpasi biopsi

J. Prognosis
Ad vitam : Ad bonam
Ad functionam : Dubia ad bonam
Ad sanactionam : Dubia ad bonam

J. Follow up
17/4/2017 18/4/2017 19/4/2017
S : Keluar darah dari S : Keluar darah dari lubang S : Darah sudah tidak keluar
hidung sejak 10 hari yang hidung kiri , berbau, darah dari lubang hidung kiri,
lalu, hidung terasa menggumpal kehitaman (+), hidung tersumbat (+)
tersumbat hidung tersumbat O : KU : baik

8
O : KU : baik O : KU : baik KS : composmentis
KS : composmentis KS : composmentis TD : 150/100 mmhg
TD : 160/100 mmhg TD : 150/100 mmhg HR : 88x/menit
HR : 80x/menit HR : 88x/menit RR : 20x/menit
RR : 20x/menit RR : 20x/menit T : 36 C
T : 36,7 C T : 36 C Status lokalis cavum nasi :
Status lokalis cavum nasi : Status lokalis cavum nasi : Inspeksi : hidung asimetris,
Inspeksi : hidung Inspeksi : hidung asimetris, massa cavum nasi sinistra
asimetris, massa cavum massa cavum nasi sinistra (+), (+), perdarahan (+)
nasi sinistra (+), perdarahan (+) Palpasi : nyeri (-)
perdarahan (+) Palpasi : nyeri (-) A:Tumor cavum nasi kiri
Palpasi : nyeri (-) A:Tumor cavum nasi kiri Nasal Hemorraghia
A:Tumor cavum nasi kiri Nasal Hemorraghia Hipertensi Grade II
Nasal Hemorraghia Hipertensi Grade II P : Bed rest
Hipertensi Grade II P: Bed rest Captropil 1x 25 mg
P: Bed rest Captropil 1x 25 mg
Kalnex 500mg/500cc RL
Captropil 1x 25 mg

BAB III
LANDASAN TEORI

A. Anatomi Hidung

Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang
dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengahnya sehingga menjadi kavum nasi

9
kanan dan kiri. Setiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding yaitu dinding
medial, lateral, inferior dan superior (Corbrigde,1998). Bagian dari kavum nasi
yang letaknya sesuai ala nasi, tepat dibelakang nares anterior, disebut sebagai
vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang memiliki banyak kelenjar
sebasea dan rambut - rambut yang disebut dengan vibrise (Ballenger 1997;Hilger
1989).

Septum Nasi
Dinding medial rongga hidung adalah septum nasi. Septum dibentuk oleh tulang
rawan, dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan periostium pada
bagian tulang sedangkan diluarnya dilapisi juga oleh mukosa hidung
(Hollinshead 1996; Corbridge 1998).

Bagian tulang terdiri dari :


1.Lamina perpendikularis os etmoid
Lamina perpendikularis os etmoid terletak pada bagian supero-posterior dari
septum nasi dan berlanjut ke atas membentuk lamina kribriformis dan Krista gali.
2.Os Vomer
Os vormer terletak pada bagian postero-inferior. Tepi belakang os vomer
merupakan ujung bebas dari septum nasi.
3.Krista nasiis os maksila
Tepi bawah os vomer melekat pada krista nasiis os maksila dan os palatina.

4.Krista nasiis os palatine (Lund 1997; Corbridge 1998)

10
Gambar 1. Anatomi Hidung (Netter F)

Bagian tulang rawan terdiri dari :


1.Kartilago septum (kartilago kuadrangularis)
Kartilago septum melekat dengan erat pada os nasi, lamina perpendikularis os
etmoid, os vomer dan krista nasiis os maksila oleh serat kolagen.
2.Kolumela
Kedua lubang berbentuk elips disebut nares, dipisahkan satu sama lain oleh sekat
tulang rawan dan kulit yang disebut kolumela (Lund 1997; Corbridge 1998).
Dinding lateral rongga hidung dibentuk oleh permukaan dalam prosesus frontsalis
os maksila, os lakrimalis, konka inferior dan konka media yang merupakan bagian
dari os etmoid, konka inferior, lamina perpendikularius os palatum, dan lamina
pterigoides medial. Pada dinding lateral terdapat empat buah konka. Yang terbesar
dan letaknya paling bawah ialah konka inferior, kemudian yang lebih kecil adalah
konka media, yang lebih kecil lagi konka superior, sedangkan yang terkecil ialah
konka suprema dan konka suprema biasanya rudimenter. Konka inferior
merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid,

11
sedangkan konka media, superior, dan suprema merupakan bagian dari labirin
etmoid. Diantara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit
yang dinamakan dengan meatus. Tergantung dari letak meatus, ada tiga meatus
yaitu meatus inferior, medius dan superior. Dinding inferior merupakan dasar
hidung yang dibentuk oleh prosesus palatina os maksila dan prosesus horizontal
os palatum (Ballenger 1997; Hilger 1989).

Dinding superior atau atap hidung terdiri dari kartilago lateralis superior dan
inferior, os nasi, prosesus frontalis os maksila, korpus os etmoid dan korpus os
sphenoid. Sebagian besar atap hidung dibentuk oleh lamina kribrosa yang dilalui
filament - filamen n.olfaktorius yang berasal dari permukaan bawah bulbus
olfaktorius berjalan menuju bagian teratas septum nasi dan permukaan kranial
konka superior (Ballenger 1997; Hilger 1989).

Gambar 2. Anatomi Hidung (Netter F)

Perdarahan

12
Bagian postero- inferior septum nasi diperdarahi oleh arteri sfenopalatina yang
merupakan cabang dari arteri maksilaris (dari arteri karotis eksterna). Septum
bagian antero-inferior diperdarahi oleh arteri palatina mayor (juga cabang dari
arteri maksilaris) yang masuk melalui kanalis insisivus. Arteri labialis superior
(cabang dari arteri fasialis) memperdarahi septum bagian anterior
mengadakan anastomose membentuk pleksus Kiesselbach yang terletak lebih
superfisial pada bagian anterior septum. Daerah ini disebut juga Littles area yang
merupakan sumber perdarahan pada epistaksis (Lund 1997).

Arteri karotis interna memperdarahi septum nasi bagian superior melalui bagian
bawah rongga hidung mendapat perdarahan dari cabang arteri maksilaris interna,
diantaranya ialah ujung arteri palatina mayor dan arteri
sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama nervus
sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka
media. Bagian depan hidung mendapat perdarahan dari cabang-cabang arteri
fasialis (Ballenger 1997).

Vena sfenopalatina mengalirkan darah balik dari bagian posterior septum


ke pleksus pterigoideus dan dari bagian anterior septum ke vena fasialis. Pada
bagian superior vena etmoidalis mengalirkan darah melalui vena oftalmika yang
berhubungan dengan sinus sagitalis superior (Lund 1997).

Persarafan
Bagian antero-superior septum nasi mendapat persarafan sensori dari
nervus etmoidalis anterior yang merupakan cabang dari nervus nasosiliaris yang
berasal dari nervus oftalmikus (n.V1). Sebagian kecil septum nasi pada antero -
inferior mendapatkan persarafan sensori dari nervus alveolaris cabang antero-
superior. Sebagian besar septum nasi lainnya mendapatkan persarafan sensori dari
cabang maksilaris nervus trigeminus (n.V2). Nervus nasopalatina mempersarafi
septum bagian tulang, memasuki rongga hidung melalui foramen sfenopalatina
berjalan berjalan ke septum bagian superior, selanjutnya kebagian antero-inferior

13
dan mencapai palatum durum melalui kanalis insisivus (Hollinshead 1966).

Sistem limfatik
Aliran limfatik hidung berjalan secara paralel dengan aliran vena. Aliran limfatik
yang berjalan di sepanjang vena fasialis anterior berakhir pada limfe
submaksilaris (Lund 1997).

B. Tumor Cavum Nasi

Tumor rongga hidung atau tumor cavum nasi adalah tumor yang terdapat pada
rongga hidung. Cavum nasi atau rongga hidung dimulai dari vestibulum nasi,
melewati rongga sepanjang atap mulut ( palatum durum dan palatum mole ) dan
kemudian berakhir di nasofaring.Tumor sinus paranasal adalah tumor yang
tumbuh pada sinus - sinus paranasal, terdapat 4 sinus yang terhubung dengan
rongga hidung melewatibeberapa meatus dalam rongga hidung, yaitu sinus
maksilaris, sinus frontalis, sinus ethmoidalis, dan sinus sfenoidalis (Carrau RL,
2013).

14
B. Etiologi

Penyebab dari beberapa jenis kelainan tumor belum diketahui, tetapi diduga
beberapa zat kimia atau bahan industri merupakan penyebab, antara lain nikel,
debu kayu, kulit, formaldehid, kromium, minyak isopropil, dan lain lain. Pekerja
dibidang ini mendapat kemungkinan terjadinya tumor lebih besar. Alkohol, asap
rokok, makanan yang diasinkan atau yang diasap diduga meningkatkan
kemungkinan terjadinya keganasan (Siregar BH, 2005).

C. Epidemiologi

15
Tumor hidung dan sinus paranasal (sinonasal) jarang ditemukan, baik yang jinak
maupun yang ganas. Umumnya ditemukan di Asia dan Afrika daripada di
Amerika Serikat. Di bagian Asia, keganasan sinonasal adalah peringkat kedua
yang paling umum setelah karsinoma nasofaring. Pria yang terkena 1,5 kali lebih
sering dibandingkan wanita,dan 80% dari tumor ini terjadi pada orang berusia 45-
85 tahun. Sekitar 60-70% dari keganasan sinonasal terjadi pada sinus maksilaris
dan 20-30% terjadi pada rongga hidung sendiri.Diperkirakan 10-15% terjadi pada
Sel-sel udara ethmoid (sinus), dengan minoritas sisa neoplasmaditemukan di sinus
frontal dan sphenoid (Carrau RL, 2013).

D. Patofisiologi

Perubahan dari sel normal menjadi sel kanker dipengaruhi oleh multifaktor seperti
yang sudah dipaparkan diatas dan bersifat individual. Faktor resiko terjadinya
tumor sinonasal semisal bahan karsinogen seperti bahan kimia inhalan, debu
industri, sinar ionisasi dan lainnya dapat menimbulkan kerusakan ataupun mutasi
pada gen yang mengatur pertumbuhan tubuh yaitu gen proliferasi dan diferensiasi.
Dalam proses diferensiasi ada dua kelompok gen yang memegang peranan
penting, yaitu gen yang memacu diferensiasi (proto-onkogen) dan yang
menghambat diferensiasi (anti-onkogen). Untuk terjadinya transformasi dari satu
sel normal menjadi sel kanker oleh karsinogen harus melalui beberapa fase yaitu
fase inisiasi dan fase promosi serta progresi. Pada fase inisiasi terjadi perubahan
dalam bahan genetik sel yang memancing sel menjadi ganas akibat suatu
onkogen, sedangkan pada fase promosi sel yang telah mengalami inisiasi akan
berubah menjadi ganas akibat terjadinya kerusakan gen. Sel yang tidak melewati
tahap inisiasi tidak akan terpengaruh promosi sehingga tidak berubah menjadi sel
kanker. Inisiasi dan promosi dapat dilakukan oleh karsinogen yang sama atau
diperlukan karsinogen yang berbeda (Siregar BH, 2005).

16
Sejak terjadinya kontak dengan karsinogen hingga timbulnya sel kanker
memerlukan waktu induksi yang cukup lama yaitu sekitar 15-30 tahun. Pada fase
induksi ini belum timbul kanker namun telah terdapat perubahan pada sel seperti
displasia. Fase selanjutnya adalah fase in situ dimana pada fase ini kanker mulai
timbul namun pertumbuhannya masih terbatas jaringan tempat asalnya tumbuh
dan belum menembus membran basalis. Fase in situ ini berlangsung sekitar 5-10
tahun. Sel kanker yang bertumbuh ini nantinya akan menembus membrane basalis
dan masuk ke jaringan atau organ sekitarnya yang berdekatan atau disebut juga
dengan fase invasif yang berlangsung sekitar 1-5 tahun. Pada fase diseminasi
(penyebaran) sel-sel kanker menyebar ke organ lain seperti kelenjar limfe regional
dan atau ke organ-organ jauh dalam kurun waktu 1-5 tahun. Sel-sel kanker ini
akan tumbuh terus tanpa batas sehingga menimbulkan kelainan dan gangguan. Sel
kanker ini akan mendesak (ekspansi) ke sel-sel normal sekitarnya, mengadakan
infiltrasi, invasi, serta metastasis bila tidak didiagnosis sejak dini dan di berikan
terapi (Siregar BH, 2005).

E. Klasifikasi Tumor

1. Tumor Jinak
a. Papiloma Skuamosa
Tumor jinak tersering adalah papiloma skuamosa. Secara makroskopis mirip
dengan polip, tetapi lebih vaskuler, padat dan tidak mengkilap. Etiologinya
mungkin disebabkan oleh virus, namun perubahan epitel pada papiloma skuamosa
dapat bervariasi dalam berbagai derajat diskeratosis. Lesi seringkali diamati pada
sambungan mukoutaneus hidung anterior, terutama pada bataskaudal anterior dan
septum. Untuk kepentingan diagnosis ataupun pengobatan, eksisi lesi dilakukan
dengan anestesi lokal dan di periksakan untuk biopsi (Roezin AA, 2007).

17
b. Papiloma Inversi
Papiloma inversi ini membalik ke dalam epitel permukaan. Jarang ditemukan pada
hidung dan sinus paranasalis, seringkali berasal dari dinding lateral hidung dan
secara makroskopis terlihat hanya seperti gambaran polip. Tumor ini bersifat
sangat invasif, dapat merusak jaringan sekitarnya. Tumor ini sangat cenderung
untuk residif dan dapat berubah menjadi ganas (pada 10% kasus). Lebih sering
dijumpai pada laki-laki usia tua. Terapi pada tumor ini adalah bedah radikal
misalnya rinotomi lateral atau maksilektomi media (Hilger PA &n Adam GL,
2005).

c. Displasia Fibrosa
Displasa fibrosa sering mengacu pada tumor fibro-oseus tak berkapsul yang
melibatkan tulang-tulang wajah dan sering mengenai sinus paranasalis.
Etiologinya tidak diketahui, tumor ini merupakan tumor yang tumbuh lambat,
jarang disertai nyeri dan cenderung timbul sekitar waktu pubertas dimana pasien
datang dengan alasan kosmetik akibat asimetri wajah. Karena pertumbuhan tumor
kembali melambat dengan bertambahnya usia, maka kebutuhan akan pengobatan
bergantung pada derajat deformitas atau ada tidaknya nyeri. Meskipun reseksi
total diperlukan pada terapi tumor ini tapi pada mayoritas kasus hanya dilakukan
pengangkatan sebagian tumor saja untuk memulihkan kontur dan fungsi wajah
(Hilger PA &n Adam GL, 2005).

d. Angiofibroma Nasofaring Juvenil

Tumor jinak angiofibroma nasofaring sering bermanifestasi sebagai massa yang


mengisirongga hidung bahkan juga mengisi seluruh rongga sinus paranasal dan
mendorong bola mata keanterior (Hilger PA &n Adam GL, 2005).

18
2. Tumor Ganas
a. Karsinoma Sel Skuamosa
Karsinoma sel skuamosa adalahjenis yang paling umum yang sering ditemukan
pada karsinoma sinonasal, sekitar 60% dari semua kasus. Kebanyakan karsinoma
sel skuamosa sinonasal yang timbul dalam hidung atau sinus maksila, tapi ketika
pertama kali dilihat tumor biasanya sudah melibatkan hidung, sel ethmoidal dan
antrum/maksila. Karsinoma sel skuamosa merupakan neoplasma epitelial maligna
yang berasal dari epitelium mukosa kavum nasi atau sinus paranasal termasuk tipe
keratinizing dan nonkeratinizing. Karsinoma sel skuamosa sinonasal terutama
ditemukan di dalam sinus maksilaris (sekitar 60-70%), diikuti oleh kavum nasi
(sekitar 10-15%) dan sinus sfenoidalis dan frontalis (sekitar 1%).Gejala berupa
rasa penuh atau hidung tersumbat, epistaksis, rinorea, nyeri, parastesia,
pembengkakan pada hidung, pipi atau palatum, luka yang tidak kunjung sembuh
atau ulkus, adanya massa pada kavum nasi, pada kasus lanjut dapat terjadi
proptosis, diplopia atau lakrimasi.1,8,11,12Pemeriksaan radiologis, CT scan atau
MRI didapatkan perluasan lesi, invasi tulang dan perluasan pada struktur-struktur
yang bersebelahan seperti pada mata, pterygopalatine atau ruang infratemporal.
Secara makroskopik, karsinoma sel skuamosa kemungkinan berupa exophytic,
fungatingatau papiler. Biasanya rapuh, berdarah, terutama berupa nekrotik, atau
indurated, demarcated atau infiltratif (Hilger PA &n Adam GL, 2005).

Secara umum, lesi dini (T1-T2) dapat dilakukan terapi bedah maupun radioterapi,
sedangkan pada tahap lanjut (T3-T4) dilakukan multimodal terapi seperti terapi
bedah diikuti dengan radioterapi atau kemoterapi post operatif (Carrau RL, 2013).

Mikroskopik Keratinizing
Squamous Cell Carcinoma
Secara histologi, tumor ini identik dengan karsinoma sel skuamosa dari lokasi
mukosa lain pada daerah kepala dan leher. Ditemukan diferensiasi skuamosa, di
dalam bentuk keratin ekstraseluler atau keratin intraseluler (sitoplasma merah
muda, sel-sel diskeratotik) dan/atau intercellular bridges. Tumor tersusun di dalam

19
sarang-sarang,massa atau sebagai kelompokkecil sel-sel atau sel-sel individual.
Invasi ditemukan tidak beraturan. Sering terlihat reaksi stromal desmoplastik.
Karsinoma ini dinilai dengan diferensiansi baik, sedang atau buruk (Hilger PA &n
Adam GL, 2005).

Mikroskopik Non-Keratinizing Karsinoma (Cylindrical Cell,transitional)

Tumor ini merupakan tumor yang berbeda dari traktus sinonasal yang
dikarakteristikkan dengan pola plexiform atau ribbon-like growth pattern. Dapat
menginvasi ke dalam jaringan dibawahnya dengan batas yang jelas. Tumor ini
dinilai dengandiferensiasi sedang ataupun buruk. Diferensiasi buruk sulit dikenal
sebagai skuamosa, dan harus dibedakan dari olfactory neuroblastoma atau
karsinoma neuroendokrin (American Society of Clinical Oncology, 2011).

b. Undifferentiated Carcinoma
Merupakan karsinoma yang jarang ditemukan, sangat agresif dan histogenesisnya
tidak pasti. Undifferentiated carcinomaberupa massa yang cepat memperbesar
sering melibatkan beberapa tempat (saluran \sinonasal) dan melampaui batas-
batas anatomi dari saluran sinonasal. Gambaran mikroskopik berupa proliferasi
hiperselular dengan pola pertumbuhan yang bervariasi, termasuk trabekular, pola
seperti lembaran, pita, lobular, dan organoid. Sel-sel tumor berukuran sedang
hingga besar dan bentuk bulat hingga oval dan memiliki inti sel pleomorfik dan
hiperkromatik,anak inti menonjol, sitoplasma eosinofilik, rasio inti dan sitoplasma
tinggi, aktivitas mitosis meningkat dengan gambaran mitosis atipikal (Hilger PA
&n Adam GL, 2005).

c. Rhabdomyosarkoma
Kejadian Rhabdomyosarcoma pada daerah kepala dan leher berkisar
antara 35-45% kasus, 10% terjadi pada traktus sinonasal. Secara histologi, tumor
Rhabdomyosarcoma ini terbagi atas lima kategori besar yaitu, embrional (paling

20
sering), alveolar, botryoid embrional, spindel sel embrional dan anaplastik. Jenis
embrional dan alveolar merupakan tumor yang sering terjadi pada anak-anak dan
dewasa muda meskipun begitu kejadian anaplastik pun juga sering terjadi pada
usia dewasa. Angka keberhasilan terapi dan bertahan hidup dalam jangka lima
tahun 35% lebih rendah pada orang dewasa (Hilger PA &n Adam GL, 2005).

Rhabdomyosarcomayang terjadi pada traktus sinonasal atau tumor diluar


parameningeal orbita akan berkembang lebih agresif dibanding tumor yang berada
dilokasi yang lain. Metastasesistemik maupun regional sering terjadi.
Penatalaksanaan yang diperlukan melibatkan banyak modalitas terapi seperti
kemoterapi, radioterapi, dan pembedahan (Hilger PA &n Adam GL, 2005).

d. Chondrosarkoma
Chondrosarcoma merupakan tumor dengan pertumbuhan tumor lambat yang
berasal dari struktur kartilago. Angka kejadiannya berkisar antara 5-10% pada
kepala dan leher, terbanyak pada maxilla dan mandibula. Tumor ini berkembang
dari tingkat I ke tingkat III berdasarkan pada kecepatan mitosis, seluler,dan
ukuran sel. Ukuran tumor memiliki korelasi dengan kemajuan agresivitas,
kecepatan metastasis dan kemampuan bertahan hidup pasien. Pilihan terapi untuk
Chondrosarcoma adalah pembedahan. Radiasi pasca pembedahan dianjurkan
utamanya jika ditemukan hasil grade tumor yang tinggi setelah pemeriksaan
histologi (American Society of Clinical Oncology, 2011).

e. Limfoma Maligna Sinonasal


Limfoma pada sinonasal ditemukan sekitar 5.8-8% dari limfoma ekstranodal pada
kepala dan leher. Meskipun jarang, tumor ini merupakan tumor ganas non
epithelial yang sering ditemukan pada keganasan hidung. Kebanyakan limfoma
yang timbul di dalam kavum nasi berasal dari sel natural killer (NK). Meskipun
demikian, beberapa laporan kasus mengindikasikan bahwa limfoma primer dapat
juga berasal dari sel B dan T. Limfoma pada sinonasal jarang ditemukan di negara

21
barat, umumnya dijumpai di negara-negara Asia. Limfoma sinonasal dengan
origin sel T maupun sel NK sering ditemukan pada usia muda dan berkaitan
dengan infeksi virus Epstein-Barr. Nekrosis koagulatif luas dan apoptotic
bodiesselalu ditemukan. Terkadang hiperlasia pseudoepiteliomatosa pada pelapis
epitel skuamosa dapat ditemukan, menyerupai karsinoma sel skuamosa
berdiferensiasi baik. Terapi pada tumor ini adalah radioterapi untuk lesi lokal dan
kemoterapi untuk keterlibatan sistemik dan rekurensi sistemik. Angka ketahanan
hidup 5 tahun pada segala jenis tipe limfoma ini adalah 52% (American Society of
Clinical Oncology, 2011).

f. Adenokarsinoma Sinonasal
Adenokarsinoma dikenal sebagai tumor glandular maligna dan tidak menunjukkan
gambaran spesifik. Adenokarsinoma dijumpai 10 hingga 14% dari keseluruhan
tumor ganas nasal dan sinus paranasal. Secara klinis merupakan neoplasma agresif
lokal, sering ditemukan pada laki-laki dengan usia antara 40 hingga 70
tahun.Tumor ini timbuldi dalam kelenjar salivari minor dari traktus aerodigestivus
bagian atas. Sering ditemukan pada sinus maksilaris dan etmoid. Gejala utama
berupa hidung tersumbat, nyeri, massa pada wajah dengan deformasi dan atau
proptosis dan epistaksis, bergantung pada lokasinya. Gambaran histologi yang
dapat ditemukan adalah tipe cribriform, tubular, dan solid. Tipe cribriform paling
sering ditemukan dengan gambaran khas penampakan swiss cheese.
Adenokarsinoma menyebar dengan menginvasi dan merusak jaringan lunak dan
tulang di sekitarnya dan jarang bermetastasis. Terapi pembedahan dan adjuvant
radioterapi adalah pengobatan pilihan yang umum digunakan untuk terapi pada
adenokarsinoma. Prognosisnya jelek dan biasanya penderita meninggal dunia
disebabkan penyebaran lokal tanpa adanya metastasis (American Society of
Clinical Oncology, 2011).

22
g. Olfactory Neuroblastoma
Esthesioneuroblastoma (ENB) atau dikenal dengan nama neuroblastoma
olfaktorius adalah tumor ganas yang muncul dari epitel olfaktorius pada dinding
superior nasi. Merupakan 7-10% keganasan yang ditemukan di sinonasal pada
kisaran usia 10-20 dan 50-60 tahun baik pada wanita maupun laki-laki. Secara
mikroskopis, tumor terdiri dari gambaran sel bulat berbentuk rosette,
pseudorosette, ataupun berbentuk lembaran dan cluster. Tumor ini
mengekspresikan penanda neuroendokrin seperti neuron-specific enolase (NSE),
chromogranin, dan synaptophysin yang sangat berguna dalam membedakannya
dengan small cell carcinoma lainnya. Terapi bedah eksisi tumor dengan batas
bebas tumor merupakan pilihan terapi pada tumor ini. Penambahan terapi dengan
radioterapi postoperatif meningkatkan angka kesembuhan pada penyakit ini (Sargi
RB & Casiano RR, 2007)

h. Mukosal Melanoma Maligna


Sekitar 1% kasus melanoma maligna ditemukan pada 20% kasus melanoma
maligna dengan origin kepala dan leher. Umumnya didapatkan pada daerah
kavum nasi kemudian pada sinus maxillaris dan kavum oral. Biasanya ditemukan
pada usia 50 tahun. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara pria dan wanita,
dapat ditemukan pada kedua jenis kelamin. Secara makroskopik, didapatkan
massa polipoid berwarna keabu-abuan atau hitam kebiru-biruan pada 45% kasus.
Tumor ini menyebar melaluialiran darah atau secara limfatik. Metastasis nodul
servikal dapat ditemukan pada pemeriksaan awal. Melanoma bisa terjadi sebagai
sindromautosomaldominanfamilial sekitar 8% dari 12%semua kasus. Terapi bedah
yaitu reseksi tumor dengan batas yang jelas adalah pilihan utama pengobatan
dilanjutkan dengan pemberian radioterapi lokoregional (Carrau RL, 2013).

F. Gejala Klinis

23
Gejala yang dikeluhkan oleh pasien tergantung dari asal primer tumor serta arah
dan perluasannya. Gejala yang dikeluhkan dapat dikategorikan sebagai berikut
(Roezin AA, 2007) :

1.Gejala nasal
Gejala nasal berupa obstruksi hidung unilateral dan rinorea. Jika ada
Sekret,seringsekret yang timbulbercampur darah atau terjadi epistaksis. Tumor
yang besar dapat mendesak tulang hidung sehingga terjadi deformitas hidung.
Khas pada tumor ganas ingusnya berbau karena mengandung jaringan nekrotik.

2.Gejala orbital
Perluasan tumor kearah orbita menimbulkan gejala diplopia, proptosisatau
penonjolan bola mata, oftalmoplegia, gangguan visus dan epifora.

3.Gejala oral
Perluasan tumor ke rongga mulut menyebabkan penonjolan atau ulkus di palatum
atau di prosesus alveolaris. Pasien mengeluh gigi palsunya tidak pas lagi atau gigi
geligi goyah. Seringkali pasien datang ke dokter gigi karena nyeri di gigi, tetapi
tidak sembuh meskipun gigi yang sakit telah dicabut.

4.Gejala fasial
Perluasan tumor akan menyebabkan penonjolan pipi,disertainyeri, anesthesia atau
parestesia muka jikasudahmengenai nervus trigeminus.

5.Gejala intrakranial
Perluasan tumor ke intrakranialdapatmenyebabkan sakit kepala hebat,
oftalmoplegia dan gangguan visus. Dapat disertai likuorea, yaitu cairan otak yang
keluar melalui hidungini terjadi apabila tumor sudah menginvasi atau menembus
basis cranii. Jika perluasan sampai ke fossa kranii media maka saraf otak lainnya
bisa terkena. Jika tumor meluas ke belakang, terjadi trismus akibat terkenanya

24
muskulus pterigoideus disertai anestesia dan parestesia daerah yang dipersarafi
nervus maksilaris dan mandibularis.

G. Pemeriksaan penunjang

Sama halnya pada sinusitis kronis, diagnosis ditentukan dengan rinoskopi atau
endoskopi dengan seksama pada cavum nasi dengan memperhatikan dinding nasal
lateral. Sedangkan pilihan modalitas yang disarankan adalah CT scan sinus
paranasal untuk menyingkirkan erosi tulang dan ekspansi lesi sugestif neoplasia.
Nasal polip sederhana kadang dihubungkan dengan keganasan, terutama pada
pasien usia >40 tahun dan perlu dibedakan dengan pemeriksaan histopatologi.

1. Naso-endoskopi
Adanya fasilitas endoskop akan membantu diagnosis kasus polip baru. Polip
stadium 1 dan 2 kadang tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior
tetapi tampak dengan pemeriksaan nasoendoskopi. Pada kasus polip koanal
juga sering dapat dilihat tangkai polip yang berasal dari ostiul asesorius sinus
maksila.

2. Radiologi
Foto polos sinus paranasal (posisi Waters, AP, Caldwell dan lateral) dapat
memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara-cairan di dalam
sinus, tetapi kurang bermanfaat pad akasus polip. Pemeriksaan tomografi
computer (CT scan) sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan
hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi,
polip, atau sumbatan pada kompleks ostiomeatal. CT terutama diindikasikan
pada kasus polip yang gagal diobati dengan medikamentosa, jika ada
komplikasi dari sinusitis, dan pada perencanaan tindakan bedah terutama
bedah endoskopi.

3. Histopatologi

25
Nasal polip sederhana kadang dihubungkan dengan keganasan, terutama pada
pasien usia >40 tahun, oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan
histopatologi.

Diagnosis Banding
1. Gumpalan mukus kadang dapat terlihat seperti polip, tapi hilang jika
menghembuskan udara dari hidung
2. Hipertrofi konka media, dibedakan dnegan penampakannya yang merah muda
dan keras pada probe testing
3. Angiofibroma, didapatkan riwayat epistaksis profus yang rekuren.
Konsistensinya tegas dan mudah berdarah
4. Neoplasma lain yang tampak seperti daging berwarna merah jambu,
berdungkul dan mudah berdarah

X-ray sinus paranasal tampak opaque pada antrum yang terkena. X-ray (lateral)
jaringan lunak nasofaring tampak pembengkakan globular pada area postnasal.
Temuan ini dibedakan dengan angiofibroma dengan adanya udara di belakang
polip.

H. Tatalaksana

Tujuan utama pengobatan polip nasi adlah menghilangkan keluhan, mencegah


komplikasi dan mencegah rekurensi polip. Terapi diawali secara konservatif
dengan penggunaan nasal spray kortikosteroid dan antihistamin sistemik. Steroid
sistemik dapat juga digunakan. Remisi sebagian bahkan total kadang tercapai
dengan terapi konservatif. Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip
nasi disebut polipektomi medikamentosa. Dapat diberikan topical atau sistemik.
Polip tipe eosinofilik memberikan respons yang lebih baik terhadap pengobatan
kortikosteroid intranasal dibandingkan polip tipe neutrofilik.
Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang
sangat masif dipertimbangkan untuk trerapi bedah. Dapat digunakan ekstraksi
polip (polipektomi) menggunakan senar polip atau cunam dengan analgesi local,
etmoidektomi intranasal atau etmoidektomi ekstranasal untuk polip etmoid,

26
operasi Caldwell-Luc untuk sinus maksila. Yang terbaik ialah bila tersedia faislitas
endoskopi sehingga dapat dilakukan BSEF (Bedah Sinus Endoskopi Fungsional).

Terapi bedah

Polip mucoid jinak pada hidung sering dihubungkan dengan alergi hidung. Daoat
terjadi pada anak-anak namun lebih sering ditemukan pada orang dewasa. Karena
menyumbat jalan napas, polip sering dirasakan sangat mengganggu. Setelah lesi
penyumbat diidentifikasi sebagai polip jinak, maka lesi dapat diangkat. Pasien
harus diingatkan bahwa polip dapat kembali kambuh bila ada alergi, sehingga
polip perlu berkali-kali diangkat selama hidup. Namun, dnegan memberi
perhatian pada gangguan alergi yang mendasarinya, maka laju rekurensi
cenderung lebih lambat. Polip umumnya berasal dari penonjolan keluar dari
mukosa yang menutup sinus maksilaris atau etmoidelis. Pembesaran mukosa yang
semakin bertambah membentuk massa bundar, lunak, basah, seringkali gelatinosa
dan kadang seperti berdaging atau terkadang berbentuk kantung yang terisi serum
yang melekat pada suatu permukaan sempit yang semakin lama semakin panjang,
menjulur mulai dari sinus melalui ostium sampai rongga hidung. Polip umumnya
berwarna kekuningan atau biru keabuan namun kadang menjadi merah akibat
iritasi local atau infeksi sekunder.

Bila polip ditemukan hanya pada satu sisi, maka perlu dipertimbangkan suatu
infeksi unilateral setempat pada hidung atau sinus atau bahkan benda asing dalam
hidung. Pada anak balita dan usia seklah, mukovisidosis dengan perubahan dalam
hidung harus diikutkan dalam diagnosis banding. Polip hidung, yaitu suatu
pseudotumor, harus dibedakan dengan neoplasma jinak ataupun ganas; meskipun
jarang. Ahli bedagh yang menggunakan pengait hidung untuk mengangkat
angiofibroma juvenile dari nasofaring tampaknya seperti polip, dan dapat
mencetuskan perdarahan hebat. Lesi yang paling sulit dibedakan dengan polip
hidung jinak sejati adalah daerah daerah degenerasi pollipoid pada mukosa, paling
sering ditemukan pada bagian anterior konka inferior dan media yang
membengkak. Diferensiasi dan identifikasi dipermudah dengan menggunakan
semprot hidung dekongestan, seperti larutan efedrin 1% atau Neo-Synephrine

27
0,25%. Yang lebih baik adalah larutan kokain 4% karena selain sebagai
dekongestran, juga berfungsi anestesia. Selanjutnya gunakan penyedot hidung,
tidak hanya untuk menyedot secret guna mempermudah inspeksi, namun untuk
palpasi lesi jaringan lunak. Meskipun dapat sedikit bergerak, mukosa polipod
mempunyai perlekatan sesil pada konka dengan tulang yang relative keras pada
pusatnya, sedangkan polip sejati dapat bergerak bebas pada pedikelnya.

I. Prognosis

Walaupun etiopatogenesis polip kompleks dan belum sepenuhnya dipahami,


prognosis polip nasi bahkan dengan adanya teknik pembedahan modern belum
dapat mencegah rekurensi. Oleh karena itu, profilaksis jangka panjang
menggunakan steroid spray topical belum ada alternative lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Carrau RL,MD. Malignant Tumor of the Nasal Cavityand Sinuses.[cited on


April 4th 2013]. Available from :http://emedicine.medscape.com/article /846995-
overview#showall

Siregar, BH. Head and Neck, Breast, Soft Tissue, Skin Tumor. 2005. Makassar.
Oncology Surgery Dept. of Hasanuddin University. hal : 4-19.

28
Roezin A, Armiyanto. Tumor Hidung dan Sinonasal. dalam : Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala & Leher: edisi 6. Soepardi EA,
Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, editor. 2007. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. hal : 178-81

Hilger PA, Adam GL. Penyakit Hidung dan Tumor-Tumor Ganas Kepala
Leher. dalam : BOEIS Buku Ajar Penyakit THT :edisi 6. Effendi H, Santoso
RAK, editor. Jakarta :Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005.hal : 235-7, 429-44.

American Society of Clinical Oncology. Nasal Cavity and Paranasal Sinus


Cancers.2011.USA.Available from: http://www.cancer.net/cancer-types/nasal-
cavity-and-paranasal-sinus-cancer

Sargi RB, Casiano RR. Surgical Anatomy of the Paranasal Sinuses. in :


Rhinologic and Sleep Apnea Surgical Techniques. KountakisSE, OnerciM,eds.
2007.Springer-Verlag Berlin Heidelberg.p 17-26.

29