Anda di halaman 1dari 8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pengertian Pelapisan Logam (Electroplating)


Pelapisan secara listrik electroplating adalah elektro deposisi pelapisan (coating)
logam melekat ke elektroda untuk menjaga substrat dengan memberikan permukaan
dengan sifat dan dimensi berbeda dari pada logam basisnya tersebut sedangkan
pengertian electroplating yang lain adalah suatu proses pengerjaan permukaan material
baik logam maupun bukan logam dan upaya meningkatkan sifat-sifat material tersebut
(Saleh , 1995).
Sifat-sifat yang akan ditingkatkan adalah penggabungan sifat-sifat seperti
berikut:
a. Daya tahan korosi (corrosion resistence)
b. Tampak rupa (appearance)
c. Daya tahan gores atau aus (abrasion resistence)
d. Harga atau nilai (value)
e. Mampu solder (solderability)
f. Karet pengikat (bonding of rubber)
g. Daya kontak listrik (electrcal contact resistence)
h. Mampu pantul atau bias cahaya (reflectivity)
i. Penyebaran rintangan (diffusion barrier)
j. Mampu sikat kawat (wive bondability)
k. Daya tahan temperatur tinggi (high temperature resistence)
Dalam teknologi pengerjaan logam, proses electroplating dikategorikan sebagai
proses pengerjaan akhir (metal finishing). Secara sederhana, electroplating dapat
diartikan sebagai proses pelapisan logam, dengan menggunakan bantuan arus listrik dan
senyawa kimia tertentu guna memindahkan partikel logam pelapis ke material yang
hendak dilapisi. Pelapisan logam dapat berupa lapis seng (zink), galvanis, perak, emas,
brass, tembaga, nikel dan krom. Penggunaan lapisan tersebut disesuaikan dengan
kebutuhan dan kegunaan masing-masing material. Perbedaan utama dari pelapisan
tersebut selain anoda yang digunakan, adalah larutan elektrolisisnya. Proses
electroplating mengubah sifat fisik, mekanik, dan sifat teknologi suatu material. Salah
satu contoh perubahan fisik ketika material dilapis dengan nikel adalah bertambahnya
daya tahan material tersebut terhadap korosi, serta bertambahnya kapasitas

II-1
Bab II Tinjauan Pustaka

konduktifitasnya. Adapun dalam sifat mekanik, terjadi perubahan kekuatan tarik


maupun tekan dari suatu material sesudah mengalami pelapisan dibandingkan
sebelumnya (Gautama, 2009).
Karena itu, tujuan pelapisan logam tidak luput dari tiga hal, yaitu untuk
meningkatkan sifat teknis/mekanis dari suatu logam, melindungi logam dari korosi, dan
memperindah tampilan (decorative) (Gautama, 2009).

II.2 Macam-Macam Pelapisan Logam


Menurut Fontana (1987) macam-macam pelapisan logam ada dua yaitu :
1. Pelapisan Anorganik dan Logam.
Pada umumnya pelapisan tipis dari logam dan materi anorganik dapat
menyediakan sebuah kendala yang sering terjadi antara logam dengan lingkungannya.
Hal utama dari pelapisan adalah (terlepas dari pengorbanan logam pelapis seperti zink)
untuk menyelesaikan sebuah kendala secara efektif. Pelapisan logam diaplikasikan
dalam pengendapan logam menggunakan arus listrik (electro deposition), penyalutan
(cladding), penceluban panas (hot dipping), dan pengendapan logam dengan uap (vapor
deposition). Material anorganik diaplikasikan atau dibentuk oleh pembakaran, difusi
atau pengkonversi reaksi kimia. Penyemprotan (spraying) biasanya dibentuk dari
pembakaran pada suhu yang tinggi. Pelapisan logam biasanya menunjukkan beberapa
kemampuan pembentukan, padahal material anorganik mempunyai sifat yang rapuh.
Dari dua kasus di atas harus diatasi. Pengeroposan atau pengerusakan lainnya pada
logam bisa disebabkan dari pengerusakan pada bagian dasar logam yang dipercepat
karena dampak dari dua atau lebih logam lainnya. beberapa contoh dari pelapisan logam
yaitu pelapisan logam pada bumper mobil dan hiasan, alat-alat rumah tangga, pelapisan
kaleng dengan timah.
2. Pelapisan Organik
Pelapisan jenis ini melibatkan beberapa subtrat alami dan lingkungan.
pengecatan (paints), pernis (varnishes), pemberian pernis (lacquers) dan pelapisan yang
sejenis untuk melindungi logam dan pencegahan terhadap korosi. Permukaan pada
bagian luar yang dilapisi sering kita jumpai, tapi pelapisan pada bagian dalam sering
juga kita gunakan. Salah satu jenis pelapisan organik yang sering digunakan yaitu
pengecatan. Proses pengecatan dapat mencegah prose korosi (Fontana, 1987).

Laboratorium Kimia Fisika II-2


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi - ITS
Bab II Tinjauan Pustaka

II.3 Prinsip Dasar Pelapisan Logam


Kita mengenal istilah anoda, katoda, larutan elektrolit. Ketiga istilah tersebut
digunakan seluruh literatur yang berhubungan dengan pelapisan material khususnya
logam, yaitu :
1. Anoda adalah terminal positif, dihubungkan dengan kutub positif dari sumber
arus listrik. Anoda dalam larutan elektrolit ada yang larut dan ada yang tidak.
Anoda yang tidak larut berfungsi sebagai penghantar arus listrik saja, sedangkan
anoda yang larut berfungsi selain penghantar arus listrik, juga sebagai bahan
baku pelapis.
2. Katoda dapat diartikan sebagai benda kerja yang akan dilapisi, dihubungkan
dengan kutub negatif dari sumber arus listrik.
3. Elektrolit berupa larutan yang molekulnya dapat larut dalam air dan terurai
menjadi partikel-partikel yang bermuatan positf atau negatif.

Gambar II.1 Anoda, katoda dan elektrolit


Karena electroplating adalah suatu proses yang menghasilkan lapisan tipis
logam di atas permukaan logam lainnya dengan cara elektrolisis, maka perlu kita
ketahui skema proses electroplating tersebut (Gautama, 2009).

II.4 Proses Electroplating


Perpindahan ion logam dengan bantuan arus listrik melalui larutan elektrolit
sehinnga ion logam mengendap pada benda padat yang akan dilapisi. Ion logam
diperoleh dari elektrolit maupun berasal dari pelarutan anoda logam di dalam elektrolit.
Pengendapan terjadi pada benda kerja yang berlaku sebagai katoda.

Laboratorium Kimia Fisika II-3


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi - ITS
Bab II Tinjauan Pustaka

Gambar II.2 proses elektroplating


Mekanisme terjadinya pelapisan logam adalah dimulai dari dikelilinginya ionion
logam oleh molekul-molekul pelarut yang mengalami polarisai. Di dekat permukaan
katoda, terbentuk daerah Electrical Double Layer (EDL) yang bertindak seperti lapisan
dielektrik. Adanya lapisan EDL memberi beban tambahan bagi ion-ion untuk
menembusnya. Dengan gaya dorong beda potensial listrik dan dibantu oleh reaski-
reaksi kimia, ion-ion logam akan menuju permukaan katoda dan menangkap electron
dari katoda, sambil mendeposisikan diri di permukaan katoda. Dalam kondisi
equilibrium, setelah ion-ion mengalami discharge menjadi atom-atom kemudian akan
menempatkan diri pada permukaan katoda dengan mula-mula menyesuaikan mengikuti
susunan atom dari material katoda (Gautama, 2009).

II.5 Reaksi Oksidasi Reduksi


Terdapat sejumlah reaksi dalam mana keadaan oksidasi berubah yang disertai
dengan pertukaran elektron antara pereaksi. Ini disebut reaksi oksidasi-reduksi atau
dengan kata pendek yaitu reaksi redoks. Dari sejarahnya istilah oksidasi diterapkan
untuk proses-proses dimana oksigen diambil oleh suatu zat. Maka reduksi dianggap
sebagai proses dimana oksigen diambil dari dalam suatu zat. Kemudian penangkapan
hidrogen juga disebut reduksi, sehingga kehilangan hidrogen harus disebut oksidasi.
Sekali lagi reaksi-reaksi lain dimana baik oksigen maupun hidrogen tidak ambil bagian
belum dapat dikelompokkan sebagai oksidasi atau reduksi sebelum definisi oksidasi dan
reduksi yang paling umum, yang didasarkan pada pelepasan dan pengambilan elektron,
disusun orang. Sebelum mencoba mendefinisikan dengan lebih cermat apa arti istilah-
istilah itu.
1. Reaksi antara ion besi(III) dan timah(II) menuju terbentuknya besi(II) dan
timah(IV)
2Fe3+ + Sn2+ 2Fe2+ + Sn4+

Laboratorium Kimia Fisika II-4


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi - ITS
Bab II Tinjauan Pustaka

Jika reaksi ini dijalankan dengan hadirnya asam klorida, hilangnya warna kuning
(ciri khas Fe3+) dapat diamati dengan mudah. Dalam reaksi ini Fe 3+ direduksi menjadi
Fe2+ dan Sn2+ dioksidasi menjadi Sn4+. Sebenarnya apa yang terjadi adalah bahwa Sn2+
memberikan elektron-elektron kepada Fe3+ jadi terjadilah serah terima (transfer)
elektron.
2. Sepotong besi (paku misalnya) dibenamkan dalam larutan tembaga sulfat
(CuSO4), paku ini akan tersulut logam tembaga yang merah, sementara itu
dapatlah dibuktikan adanya besi(II) dalam larutan. Reaksi yang berlangsung
adalah
Fe + Cu2+ Fe2+ + Cu
Dalam hal ini menyumbangkan elektron-elektron kepada ion tembaga(II). Fe
teroksidasi menjadi Fe2+ dan Cu2+ tereduksi menjadi Cu. Melihat contoh-contoh ini dapat
ditarik beberapa kesimpulan umum dan dapatlah didefinisikan oksidasi dan reduksi
dengan cara berikut :
a. Oksidasi adalah suatu proses yang mengakibatkan hilangnya satu elektron atau
lebih dari dalam zat (atom, ion atau molekul). Bila suatu unsur dioksidasi,
keadaan oksidasinya berubah ke harga yang lebih positif. Suatu zat pengoksidasi
adalah zat yang memperoleh elektron, dan dalam proses itu zat itu direduksi.
Definisi ini sangat umum, karena itu berlaku juga untuk proses dalam zat padat,
lelehan maupun gas.
b. (ii) Reduksi sebaliknya adalah suatu proses yang mengakibatkan diperolehnya
satu elektron atau lebih oleh zat (atom, ion, atau molekul). Bila suatu unsur
direduksi, keadaan oksidasi berubah menjadi lebih negatif (kurang positif). Jadi
suatu zat pereduksi adalah zat yang kehilangan elektron, dalam proses itu zat ini
dioksidasi. Definisi reduksi ini juga sangat umum dan berlaku juga untuk proses
dalam zat padat, lelehan maupun gas. (Vogel, 1985).

II.6 Pengertian Elektrokimia


Elektrokimia adalah ilmu yang mempelajari aspek elektronik dari reaksi kimia.
Elemen yang digunakan dalam reaksi elektrokimia dikarakterisasikan dengan
banyaknya elektron yang dimiliki. Elektrokimia secara umum terbagi dalam dua
kelompok, yaitu sel galvani dan sel elektrolisis.
Sel elektrolisis adalah sel elektrokimia yang menimbulkan terjadinya reaksi
Laboratorium Kimia Fisika II-5
Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi - ITS
Bab II Tinjauan Pustaka

redoks yang tidak spontan dengan adanya energi listrik dari luar. Contohnya adalah
elektrolisis lelehan NaCl dengan electrode platina. Contoh lainnya adalah pada sel
Daniell jika diterapkan beda potensial listrik dari luar yang besarnya melebihi notasi sel
memberikan informasi yang lengkap dari sel galvani. Informasi tersebut potensial sel
Daniell (Dailami, 2010).

II.7 Notasi Sel dan Reaksi Sel


Meliputi jenis elektroda, jenis elektrolit yang kontak dengan elektroda tersebut
termasuk konsentrasi ion-ionnya, anoda dan katodanya serta pereaksi dan hasil reaksi
setiap setengah-sel. Setengah sel anoda dituliskan terlebih dahulu, diikuti dengan
setengah sel katoda. Satu garis vertikal menggambarkan batas fasa. Garis vertikal putus-
putus sering digunakan untuk menyatakan batas antara dua cairan yang misibel. Dua
spesi yang ada dalam fasa yang sama dipisahkan dengan tanda koma. Garis vertikal
rangkap dua digunakan untuk menyatakan adanya jembatan garam. Untuk larutan,
konsentrasinya dinyatakan di dalam tanda kurung setelah penulisan rumus kimianya.
Sebagai contoh:
Zn(s) | Zn2+ (1,00 m) || Cu2+ (1,00 m) | Cu(s)
Zn(s) | Zn2+ (1,00 m) || Cu2+ (1,00 m) | Cu(s)
Pt | Fe2+, Fe3+ || H+ | H2 | Pt
Karena yang dituliskan terlebih dulu (elektroda sebelah kiri) dalam notasi
tersebut adalah anoda, maka reaksi yang terjadi pada elektroda sebelah kiri adalah
oksidasi dan elektroda yang ditulis berikutnya (elektroda kanan) adalah katoda maka
reaksi yang terjadi pada elektroda kanan adalah reaksi reduksi. Untuk sel dengan
notasi :
Zn(s) | Zn2+ (1,00 m) || Cu2+(1,00 m) | Cu(s) reaksinya adalah:
Zn(s) | Zn2+(aq) + 2e- (reaksi oksidasi)
Cu2+(aq) + 2e- | Cu(s) (reaksi reduksi)
Zn(s) + Cu2+(aq) | Zn2+(aq) + Cu(s) (reaksi keseluruhan)
(Dailami, 2010).

II.8 Elektroda

Laboratorium Kimia Fisika II-6


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi - ITS
Bab II Tinjauan Pustaka

Elektroda merupakan kutub atau lempeng pada suatu sel elektrolitik ketika arus
listrik memasuki atau meninggalkan sel. Elektroda dimana proses reduksi berlangsung
disebut sebagai katoda yang merupakan kutub negatif (penarik elektron), sedangkan
elektron dimana proses oksidasi berlandsung disebut anoda yang merupakan kutub
positif (pelepas elektron). Anoda biasanya terkorosi dengan melepaskan elektron-
elektron dari atom-atom logam netral untuk membentuk ion-ion bersangkutan. Berbagai
anoda dipergunakan pada electroplating. Ada anoda inert, ada anoda aktif (terkorosi).
Anoda dapat merupakan logam murni, dapat pula sebagai alloy. Katoda biasanya tidak
mengalami korosi, walaupun mungkin menderita kerusakan dalam kondisi-kondisi
tertentu. Dalam larutan, ion-ion positif bergerak ke katoda dan ion-ion negatif bergerak
ke anoda. Adapun logam yang biasa digunakan sebagai elektroda adalah logam yang
tidak larut dalam larutan elektrolit yang digunakan sebagai pelapis (Dailami, 2010).
Kereversibelan pada elektroda dapat diperoleh jika pada elektroda terdapat
semua pereaksi dan hasil reaksi dari setengah-reaksi elektroda. Contoh elektroda
reversibel adalah logam Zn yang dicelupkan ke dalam larutan yang mengandung Zn2+
(misalnya dari larutan ZnSO4). Ketika elektron keluar dari elektroda ini, setengah reaksi
yang terjadi adalah :
Zn(s) | Zn2+(aq) + 2e-
dan sebaliknya jika elektron masuk ke dalam elektroda ini terjadi reaksi yang
sebaliknya:
Zn2+(aq) + 2e- | Zn(s)
Tetapi jika elektroda Zn tersebut dicelupkan ke dalam larutan KCl, tidak dapat terbentuk
elektroda yang reversibel karena saat ada elektron keluar dari elektroda ini terjadi
setengah-reaksi :
Zn(s) | Zn2+ (aq) + 2e-
akan tetapi saat ada elektron yang masuk ke dalam elektroda ini, yang terjadi adalah
setengah-reaksi :
2H2O + 2e- | H2 + 2OH-
dan bukan reaksi :
Zn2+(aq) + 2e- | Zn(s)

Laboratorium Kimia Fisika II-7


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi - ITS
Bab II Tinjauan Pustaka

karena larutan yang digunakan tidak mengandung Zn2+. Jadi dalam hal ini
kereversibelan memerlukan adanya Zn2+ yang cukup dalam larutan di sekitar elektroda
Zn (Vogel, 1985).

Laboratorium Kimia Fisika II-8


Departemen Teknik Kimia Industri
Fakultas Vokasi - ITS