Anda di halaman 1dari 11

sifat kemagnetan pada batuan

June 12, 2011

SIFAT KEMAGNETAN BATUAN

Batuan yang merupakan material pembentuk kerak bumi memiliki sifat- sifat yang dapat
diperikan dan digunakan untuk membedakan antara satu dengan yang lainnya.Salah satu sifat
batuan yang biasanya diperikan adalah sifat kemagnetan batuan.

Sifat magnet pada batuan dipengaruhi oleh kandungan mineral pada batuan tersebut.Sifat
magnetik pada mineral ini dikaji secara mendalam dalam bidang paleomagnetisme atau
kemagnetan purba. Stabil tidaknya magnetisasi pada suatu batuan sangat tergantung pada
jenis mineral dan ukurannya. Sifat magnetik pada batuan ini juga berperan dalam metode
geomagnetik untuk eksplorasi.

Namun istilah mineral magnetik biasanya digunakan bagi mineral yang tergolong
feromagnetik dalam batuan dan tanah (soils), keluarga besi-titanium oksida, sulfida-besi, dan
hidroksida besi (Bijaksana, 2002).

Contoh mineral-mineral magnetik tersebut di antaranya adalah :

1. Darri keluarga besi-titanium oksida antara lain magnetite (Fe3O4 ) atau karat (aFe2O3)
dan maghemite (gFe2O3).

2. Dari keluarga sulfida-besi antara lain pyrite (FeS2) dan pyrrhotite (Fe7S8),

3. Golongan hidroksida besi antara lain goethite (aFeOOH).

Setiap jenis batuan memiliki sifat dan karakteristik tertentu dalam medan magnet yang
dimanifestasikan dalam parameter susceptibilitas magnetik batuan atau mineralnya (k).
Susceptibilitas magnet batuan merupakan tingkat kemagnetan suatu benda untuk
termagnetisasi, yang pada umumnya erat kaitannya dengan kandungan mineral dan oksida
besi. Semakin besar kandungan mineral magnetit di dalam batuan, akan semakin besar harga
susceptibilitasnya. Metoda ini sangat cocok untuk pendugaan struktur geologi bawah
permukaan dengan tidak mengabaikan faktor kontrol adanya kenampakan geologi di
permukaan dan kegiatan gunungapi. Dengan adanya perbedaan dan sifat khusus dari tiap
batuan dan mineral inilah yang melandasi digunakannya metode magnetik untuk kegiatan
eksplorasi maupun kepentingan geodinamika.

Susceptibilitas suatu magnet batuan berpengaruh terhadap besarnya Intensitas magnetik


batuan tersebut.Pengaruh tersebut dapat digaaambarkan dengan persamaan

I = k. H

I = intensitas magnetik

H = kuat medan magnet


Nilai k pada batuan semakin besar jika dalam batuan tersebut semakin banyak dijumpai
mineral-mineral bersifat magnetik. Berdasarkan nilai k dibagi tiga kelompok jenis material
dan batuan peyusun litologi bumi, yaitu:
1. Diamagnetik

Memiliki nilai susceptibilitas (k) negatif dan kecil artinya Orientasi elektron orbital substansi
ini selalu berlawanan arah dengan magnet luar, sehinggga medan totalnya selalu berkurang.
Sebagai contoh adalah grafit, marbele, kuarsa, marmer, garam dan anhidrit atau gypsum.

2. Paramagnetik

Memiliki arah sama dengan medan luarnya sehingga harga susceptibilitas magnetiknya (k)
bernilai positif namun kecil.Sifat-sifat paramagnet akan timbul bila atom atau molekul suatu
bahan memiliki momen magnet pada waktu tidak terdapat medan luar dan interaksi antara
atom adalah lemah. Pada umumnya momen magnet menyebar acak, tetapi bila diberi medan
magnet luar momen tersebut akan mengarah sesuai dengan arah medan luar tersebut. Sebab-
sebab sifat paramagnet ialah karena tidak seimbangnya putaran momen magnet
elektron.Contoh mineral yang termasuk pada jenis ini adalah olivine dan biotit.

3. Ferromagnetik

Memiliki harga susceptibilitas magnetik (k) positif dan besar, yaitu sekitar kali dari
diamagnetik/paramagnetik. Sifat kemagnetan substansi ini dipengaruhi oleh keadaan suhu,
yaitu pada suhu diatas suhu curie sifat kemagnetannya hilang.Atom-atom dalam bahan-bahan
ferromagnet memiliki momen magnet dan interaksi antara atom-atom tetangganya begitu
kuat sehingga momen semua atom dalam suatu daerah mengarah sesuai dengan medan
magnet luar yang diimbaskan, bahkan dengan tidak adanya magnet dari luar.

sifat kemagnetan batuan Sifat Kemagnetan Batuan Bumi yang kita diami ini terbentuk atau
tersusun dari macam-macam jenis batuan, karena adanya batuan-batuan tersebutlah maka
terbentuknya bumi ini serta morfologi-morfologinya, diantara sekian banyak batuan yang
menyusun bumi ini, terdapat batuan yang memiliki sifat kemagnetan, dan inilah yang
menyebabkan adanya istilah kutub utara dan kutub selatan, studi mengenai kemagnetan ini
pertama kali dipelajari oleh Sir William Gilbert(1540 1603).
Gilbert adalah orang yang pertama kali melihat bahwa medan magnet bumi ekivalen dengan
arah utara selatan sumbu rotasi bumi. Penemuan Gilbert kemudian diperdalam oleh Van
Wrede (1843) untuk melokalisir endapan bijih besi dengan mengukur variasi magnet di
permukaan bumi. Hasil penelitiannya kemudian dibukukan oleh Thalen (1879) dengan
judul : The Examination Of Iron Ore Deposite By Magnetic Measurement yang kemudian
menjadi pionir bagi pengukuran magnetisasi bumi (Geomagnet). Metode magnet adalah salah
satu metode geofisika yang digunakan untuk menyelidiki kondisi permukaan bumi dengan
memanfaatkan sifat kemagnetan batuan yang diidentifikasikan oleh kerentanan magnet
batuan.

Kemagnetan itu sendiri didefinisikan sebagai sifat mineral terhadap gaya tarik magnet, sifat
mineral terhadap gaya tarik magnet inilah yang nantinya akan mengakibatkan adanya sifat
kemagnetan pada batuan, karena batuan sendiri disusun oleh berbagai macam mineral sebagai
penyusunnya, misalnya apabila suatu batuan memiliki banyak kandungan mineral magnetit,
maka batuan tersebut kemungkinan besar memiliki sifat kemagnetan, karena mineral
magnetit (Fe3O4) merupakan mineral yang bersifat magnetit, dan biasanya mineral ini
sebagai penyusun dari batuan beku. Kemagnetitan itu sendiri terbagi menjadi beberapa
klasifikasi, antara lain :
1. Ferromagnetik Apabila mineral yang di kandung batuan sangat mudah tertarik oleh gaya
magnetik, atau dengan kata lain Memiliki harga susceptibilitas magnetik (k) yang positif dan
besar, sifat kemagnetan substansi itu sendiri dipengaruhi oleh keadaan suhu. Atom-atom
dalam bahan-bahan ferromagnet memiliki momen magnet dan interaksi antara atom-atom
tetangganya yang begitu kuat sehingga momen semua atom dalam suatu daerah mengarah
sesuai dengan medan magnet luar yang diimbaskan, bahkan dengan tidak adanya magnet dari
luar. Contohnya adalah besi dan nikel.
2. Diamagnetik Memiliki nilai susceptibilitas (k) negatif dan kecil artinya orientasi elektron
orbital substansi ini selalu berlawanan arah dengan magnet luar, sehinggga medan totalnya
selalu berkurang. Sebagai contoh adalah grafit, marbele, kuarsa, marmer, halite dan anhidrit
serta gypsum.
3. Paramagnetik Memiliki arah sama dengan medan luarnya sehingga harga susceptibilitas
magnetiknya (k) bernilai positif namun kecil.Sifat-sifat paramagnet akan timbul bila atom
atau molekul suatu bahan memiliki momen magnet pada waktu tidak terdapat medan luar dan
interaksi antara atom adalah lemah. Pada umumnya momen magnet menyebar acak, tetapi
bila diberi medan magnet luar momen tersebut akan mengarah sesuai dengan arah medan luar
tersebut. Sebab-sebab sifat paramagnet ialah karena tidak seimbangnya putaran momen
magnet elektron.
Contoh mineral yang termasuk pada jenis ini adalah olivine dan biotit. Berdasarkan
klasifikasi tersebut dapat diketahui seberapa besar sifat-sifat kemagnetan sehingga
diklasifikasikan kemana suatu batuan dalam kemagnetitan.

Dalam hal ini, mineral mempunyai andil penting dalam hal menentukan sifat kemagnetan
batuan. Berdasarkan klasifikasi di atas, dapat diketahui bahwa mineral-mineral yang memiliki
kemagnetitan tinggi (feromagnetik) adalah mineral yang mengandung unsur Fe tinggi, dalam
hal ini mengindikasikan bahwa mineral tersebut biasanya akan berwarna gelap dan bersifat
basa, sehingga kenampakan pada batuan adalah batuan yang berwarna relatif gelap akan
cenderung lebih bersifat magnetit, karena banyak mengandung unsur Fe di dalam mineral-
mineralnya, dalam hal ini adalah batuan basa, karena batuan basa relatif berwarna lebih gelap
dan tersusun atas mineral-mineral basa yang memiliki kemungkinan mengandung unsur Fe
lebih banyak daripada mineral-mineral yang bersifat asam.
Untuk batuan yang bersifat paramagnetik, biasanya tersusun atas mineral-mineral yang
menyusun batuan sedimen, seperti halnya anhidrit, halit, dan gypsum, dimana mineral-
mineral tersebut terbentuk dari hasil penguapan suatu larutan yang memiliki komposisi
pembentuk mineral tersebut, sehingga sangat kecil kemungkinan di dalam kandungan mineral
tersebut mengandung unsur-unsur seperti Fe dan juga Nikel. Jadi untuk sifat kemagnetitan
yang diamagnetit contohnya adalah batuan sedimen, misalnya batugamping dan lainnya, yang
tersusun atas mineral-mineral sedimen.

GEOMAGNET

Metode magnetik merupakan salahsatu metode geofisika tertua yang


mempelajari karakteristik medan magnet bumi. Sejak lebih dari tiga abad yang
lalu telah diketahui bahwa bumi merupakan magnet yang besar. Bentuk bumi
sendiri tidak benar-benar bulat dan material penyusunnyapun tidak homogen,
hal ini mengakibatkan perubahan-perubahan pada lintasan garis gaya magnet.
Penyimpangan inilah yang disebut anomali geomagnet. Metode magnetik
mendasari survei geofisika dalam pencarian jebakan mineral dan struktur bawah
permukaan bumi secara signifikan.

TEORI DASAR

Bumi sebagai benda magnet telah di kenal sejak lama. Prinsip dasar dari metode
magnetik ini ialah Hukum tarikan Coulomb. Satuan kuat kutub ditentukan oleh
syarat bahwa gaya magnetik (F) = 1 dyne cgs. Bila mana dua kutub terpisah 1
cm tanpa media seperti udara (nilai permeabilitas udara = 1). Kutub medan
magnet (H) tersebut dinyatakan dengan 1 Oested atau Gaus.

Gaya Magnet (F)

Menurut hukum Coulomb untuk kutub magnetik, jika dua buah kutub magnet m 1
dan m2 yang terpisah sejauh r, maka akan timbul gaya di antara keduanya
sebesar:

F= (m1 m2/r2)r1

Dimana: F = Gaya dalam dyne terhadap m1 dan m2

= Permeabilitas magnet

r = Jarak antara dua kutub m1 ke m2

Konstanta = permeabilitas tergantung sifat magnet dari medium di mana


kutub tadi berada. Satuan kutub magnet m 1 dan m2 disebut magnet yang
memiliki daya. Satuan daya atau kekuatan kutub ditentukan F=1 dyne, bila dua
satuan kutub dipisahkan oleh jarak 1 cm, dan berada dalam suatu medium yang
non magnetic misalkan udara, maka = 1

Jika muatan yang berinteraksi lebih dari dua buah, maka gaya magnet totalnya
adalah:
Jika kedua benda memiliki arah garis gaya magnet yang berlawanan arah, maka
kedua benda akan saling tarik menarik.

Kuat Medan Magnet (H)

Kuat medan magnet yang dinyatakan dengan (H) di suatu titik di definisiksn
sebagai gaya persatuan kutub yang bekerja pada suatu kutub dengan kuat
medan magnet pada titik yang berjarak r dari kutub m adalah:

Medan magnet tersebut umumnya dinyatakan sebagai garis-garis gaya yang


menunjukan medan magnet. Besaran H dinyatakan dalam oersted yaitu dyne
persatuan kutub dan yang dinyatakan dengan jumlah garis gaya magnet. Jadi
makin besar gaya magnet maka makin banyak garis gaya magnet tersebut
(dalam CGS).

Momen Magnet (M)

Satuan kutub terdiri dari kutub +m dan m saling berlawanan arah yang
dipisahkan oleh jarak l, maka moment magnetiknya dapat didefinisikan sebagai
berikut:

M = F.l

M = ml r1 = M r1

Intensitas Magnet (I)


Suatu benda magnetik ditempatkan dalam suatu medan magnet luar, maka benda tersebut
akan termagnetisasi oleh medan magnet luar tersebut (terimbas). Benda yang terimbas oleh
medan magnet luar tersebut akan memiliki intensitas dan arah kutub yang sama dengan
medan yang mengimbas. Secara matematik di definisikan dalam momen magnet persatuan
volume, yaitu:

Intensitas magnet selalu mengarah kepada medan magnet yang mengimbasnya, kekuatannya
sama dengan medan yang mengimbasnya.
Kerentanan / Magnetik Suseptibility (k)
Suatau benda / material diletakkan pada medan magnet luar (H), maka intensitas magnetik (I)
akan berbanding lurus dengan kuat medan luar yang menginduksinya. Jadi suseptibilitas
dapat diasumsikan sebagai kemampuat suatu benda / material untuk terinduksi oleh magnet
luar, yang didefinisikan sebagai berikut:

Dimana k=0 untuk ruang hampa.

Dari persamaan di atas, suseptibilitas merupakan besaran yang menyatakan kemampuan


suatu batuan/mineral dalam memberikan respon terhadap medan magnet luar. Kemampuan
suatu benda untuk terinduksi, tergantung pada batuan atau mineral yang menyusunnya.
Dimana k dinyatakan dalam satuan cgs sebagai 10-6 emu/ cc atau cgsu.

1 cgsu = 4(10-3) SI 1SI=1/4 cgs

Induksi Magnet (B)


Kutub magnet pada suatu benda / material yang terimbas oleh medan magnet luar (H) akan
menghasilkan medan magnet itu sendiri H, kemudian di hubungkan dengan intensitas
magnet I ditunjukan oleh rumus:

H=4 I

Induksi magnet (B), didefinisikan sebagai medan magnet total dalam suatu bidag magnetik.
Merupakan penjumlahan dari kuat medan magnet luar dan medan magnet dalam, dengan
rumus:

B=H+H atau B=H+4I

Dengan menggabungkan persamaan di atas dengan persamaan sebelumnya, maka diperoleh:

B=H+4kH = (1+4k)H maka B=H

Dimana = Permeabilitas medium

Permeabilitas medium merupakan suatu ukuran modifikasi oleh induksi pada gaya tarik atau
gaya tolak antara kutub magnetik.

Dimana: = Permeabilitas medium


B = Induksi magnet
H = Medan magnet
K = Kerentanan magnet (Magnetic Suceptibility)
Hysteresis Loop (Lengkung hysteresis)
Hysteresis loop ini menunjukan tentang hubungan B dengan H kedua besaran ini dapat
menjadi rumit pada bahan-bahan magnet yang banyak mengandung mineral-mineral
ferromagnetic, seperti di tunjukkan pada gambar berikut ini:

Bila suatau benda magnetik dimagnetisasi, B akan meningkat sesuai dengan bertambahnya H,
sehingga cenderung mendatar karena kejenuhannya. Bila secara perlahan-lahan medan
magnet di tiadakan, penurunan kurva tidak melintasi kurva yang sebelumnya dan menuju
nilai B positif saat H=0. ini di kenal sebagai magnetisasi sisa (residual magnetism) dari benda
tersebut. Ketika H di kembalikan, maka B menjadi 0 pada H yang negatif, dikenal sebagai
gaya paksaan (coercive force).

Sebagian dari kurva histeresis diperoleh pada posisi H yang lebih negatif, sehingga kejenuhan
magnetisasi tercapai kembali dan kemudian mengembalikan H pada posisi saat kejenuhan
positif semula. Sepanjang sumbu tegak dengan lintasannya pada kurva, dapat ditentukan
pengkutuban magnet induksi pada saat medan magnet dihilangkan. Sedangkan pada sumbu
datar, yang di tentukan adalah berapa besar medan magnet yang berlawanan diperlukan untuk
meniadakan induksi magnetik.

Sifat-sifat Kemagnetan Batuan dan Mineral


Kekuatan batuan / mineral untuk terimbas oelh medan magnet luar dapat dibedakan menjadi
beberapa bagian, tergantung dari atom-atom penyusunnya, seperti Diamagnetik,
Paramagnetik, Ferromagnetik, ferrimagnetik, dan Antiferromagnetik. Di bawah ini
merupakan penjelasan dari masing-masing bagian.

1. Diamagnetik
Batuan yang berkategori diamagnetik mempunyai harga suseptibilitas (k) negatif, sehingga
intensitas imbasan dalam batuan / mineral tersebut memberikan efek magnet lemah dan
mengarah berlawanan dengan gaya medan magnet tersebut. Hal ini terjadi karena dalam
batuan yang mempunyai kulit electron yang telah jenuh atau tiap electron telah memiliki
pasangan, sehingga electron tersebut akan berpresisi jika mendapat medan magnet luar (H).
Contoh batuan diamagnetik antara lain: Marmer, Grafit, Bismut, Garam, Kuarsa, dan Gipsum
atau Anhidrit.

2. Paramagnetik
Batuan / mineral paramagnetik mempunyai susceptibilitas batuan (k) positif dan sedikit lebih
besar dari satu. Interaksi antar atomnya lemah, karena kulit electron terluar belum jenuh
(tidak berpasangan). Electron-electron tersebut akan mengisi tempat yang kosong terlebih
dahulu sebelum berpasangan.
Adapun momen magnetik batuan paramagnetik ini menyebar secara acak seiring perubahan
suhu. Tetapi bila diberi medan magnet luar, momen magnetnya akan searah dengan medan
magnet luar, sehingga memperkuat medan magnet luar. Contoh batuan jenis ini antara lain:
Piroksen, Olivin, Granit, Biotit dll.

3. Ferromagnetik
Besi, Cobalt, Nikel merupakan bahan / mineral yang bersifat ferromagnetik. Atom-atom
penyusunnya mempunyai momen magnet dan interaksi antar atom-atom tetangganya begitu
kuat, sehingga momen semua atom dalam suatu daerah mengarah sesuai dengan medan
magnet luar yang diimbaskan.
Bahan magnetik yang bersifat ferromagnetic lebih banyak memiliki kulit electron yang hanya
diisi oleh satu electron dibandingkan batuan yang bersifat paramagnetik, sehingga material
ferromagnetik akan lebih mudah terinduksi oleh medan magnet luar.

4. ferrimagnetik
Pada umumnya mineral dengan sifat kemagnetan tinggi di alam bersifat ferrimagnetik.
Bahan-bahan dikatakan ferrimagnetik bila momen magnet pada dua daerah magnet saling
berlawanan arah satu sama lain, tetapi garis gaya magnet tidak nol saat H=0. Ini menunjukan
adanya gaya magnet yang lebih kuat yang mendominasi daripada yang lainnya.

5. Antiferromagnetik
Suatu bahan mineral akan bersifat antiferromagnetik pada saat kemagnetan benda
ferromagnetic naik sesuai dengan kenaikan temperatur yang kemudian hilang setelah
temperatur mencapai titik Curie (4000C-7000C). Harga momen magnetik sangat kecil hingga
nol, karena momen magnet saling tolak-menolak dan berlawanan arah. Nilai suseptibilitasnya
(k) sangat kecil seperti batuan / mineral yang bersifat paramagnetik, misalnya hematite.

Susceptibilitas Magnet pada Batuan dan Mineral


Mineral ferrimagnetik merupakan sumber utama dari anomali magnetik lokal, telah dilakukan
percobaan untuk membuat persamaan hubungan antara susceptibilitas batuan dengan
konsentrasi Fe3O4. Kemagnetan pada batuan sebagian di sebabkan oleh imbasan dari suatu
gaya magnet yang berasosiasi dengan medan magnet bumi dan sebagian dari kemagnetan
sisa. Kemagnetan imbas suatu formasi batuan merupakan suatu fungsi darikerentanan magnet
volume k( volume mgnetic susceptibility), serta besar dan arah dari magnet yang mengimbas.
Suatu benda yang mudah terimbas oleh medan magnet luar memiliki kerentanan magnet yang
tinggi. Unsur-unsur yang mengontrol kerentanan magnet batuan diantaranya adalah jumlah
serta ukuran butir dan penyebaran mineral ferrimagnetik yang terkandung.
Harga kerentanan magnet (k) untuk tiap sampel batuan berbeda-beda. Batuan beku dan
batuan metamorf pada umumnya mempunyai harga k yang relatif besar dibandingkan
dengan sedimen. Batuan basa dan ultrabasa mempunyai harga k paling tinggi, batuan
gunung api asam dan batuan metamorf mempunyai kerentanan magnet sedang hingga rendah,
dan batuan sedimen pada umumnya mempunyai kerentanan magnet yang sangat rendah.

Kemagnetan Sisa (Remanent Magnetism)


Kemagnetan batuan bergantung pada medan magnet yang dimiliki bumi dan kemagnetan
batuan / mineral itu sendiri. Kemagnetan sisa yang terjadi saat pembentukan batuan disebut
kemagnetan sisa alami (Natural Remanent Magnetism / NRM) dan di bagi menjadi dua
bagian yaitu:

1. Kemagnetan sisa alami primer. Terdiri dari tiga komponen utama, yaitu:
a) Kemagnetan Sisa Kimia (Chemical Remanent Magnetism / CRM)
Kemagnetan sisa kimia terbentuknya ketika ukuran butiran batuan magnetik mengalami
perubahan (rekristalisai), sebagai akibat proses kimia pada temperatur jauh dibawah titik
Curie (4000C-7000C) dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
b) Kemagnetan Sisa Panas (Thermoremanent Magnetism / TMR)
Kemagnetan sisa panas terbentuknya ketika batuan beku mengalami pendinginan dari proses
pemanasan. Dalam beberapa hal TRM dapat berlawanan arah dengan medan magnet bumi.
c) Kemagnetan Sisa Detrial (Detrial Remanent Magnetism / DRM)
Kemagnetan sisa detrial terjadi pada saat pembentukan batuan sedimen yang mengandung
mineral ferromagnetik.

2. Kemagnetan sisa alami sekunder .Terjadi karena proses kimia, terdiri dari:
a) Kemagnetan Sisa Viskos (Viscous Remanent Magnetism / VRM)
Terbentuk oleh imbasan medan magnet luar secara terus menerus dengan temperatur yang
berubah-ubah.
b) Kemagnetan Sisa Panas Tetap (Isotheral Remanent Magnetism / IRM)
Berasal dari suhu tetap yang mendapat imbasan medan magnet dari luar secara sesaat.
c) Kemagnetan Sisa Deposisional (Depositional Remanent Magnetism)
Merupakan kemagnetan sisa yang terjadi selama pengandapan butiran batuan dalam suatu
lembah atau cekungan yang mendapat imbasan medan magnet bumi.

Medan Magnet di Alam


Jarum magnet selalu berorientasi pada setiap titik di sepanjang permukaan bumi. Anomali
magnet memiliki arah dan besarannya sendiri yaitu Inklinasi (I), Deklinasi (D), Medan
magnet tegak (Vertikal Magnetic Field / Z), Medan magnet datar (Horizontal Magnetic
Vield / H), dan Medan Magnet Total (Total Magnetic Vield / F).
Pada gambar di bawah ini dapat dilihat hubungan geometris antara Inklinasi, Deklinasi,
magnet datar dan medan magnet total.
Dimana : Y = Utara Geografi
H = Magnet Horizontal / Utara / Meridian magnet setempat (Local Magnetic Meridian)
X = Timur Geografi
Z = Magnet Tegak
T = Magnet Total

Hubungan geometriknya adalah sebagai berikut:


H = T Cos I
Y = H Cos D
Z = T Sin I
X = H Sin D
X2 + Y2 + Z2 + = H2 + Z2 = T2

Dimana : I = Sudut inklinasi (Sudut yang dibentuk oleh utara magnet dan magnet total)
D= Sudut deklinasi (Sudut yang dibentuk antara utara geografi dan utara
magnet)
T = Magnet total = Magnet bumi

Dalam satuan S.I (Sistem Internasional) H adalah dalam Ampermeter (Am -1), dalam sistem
cgs, H dinyatakan dalam Oersted. Kuat medan magnet (H) suatu bahan tergantung dari sistem
atom-atom penyusun bahan itu sendiri. Dan kuat medan magnet yang terukur di permukaan
bumi 90% berasal dari dalam bumi internal field), sedangkan sisanya 10% adalah medan
magnet dari kerak bumi (eksternal field).

MAGNETOMETER
GSM 19T adalah peralatan standar proton magnetometer / gradiometer yang dirancang
supaya bisa di bawa-bawa dengan mudah atau di gunakan sebagai base station sebagai alat
pengamatan metode geofisika yang berhubungan dengan medan magnet bumi, dan dapat
juga di aplikasikan untuk pengamatan geoteknik , eksplorasi arkeologi, pengamatan medan
magnet, penelitian gunungapi, dll.