Anda di halaman 1dari 4

TUGAS KELOMPOK BAHASA INDONESIA

JAKARTA DAN KEMACETAN

Anggota Kelompok:

Grace M Sijabat 21030115120004


Talita Maharani 21030115140207
Chintya Chandra A 21030115120077
Cryspalina Dwiocta C 21030115140182
Dessy Istiqomah 21030115120069
Luli Nur Irmalasari 21030115120067
Aulia Rahmanita 21030115120073
Ummi Az Zuhra 21030115120071
Bagas Al 21030115130157
Herlambang Abriyanto 21030115120074
Permadi Wisnu A W 21030115130175

UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016
JAKARTA DAN KEMACETAN

Seperti di negara sedang berkembang lainnya, berbagai kota besar di


Indonesia berada dalam tahap pertumbuhan urbanisasi yang tinggi. Kota Jakarta
merupakan kota yang paling padat penduduknya, lebih dari 14,1 juta jiwa.
Kepadatan ini mengiringi padatnya aktivitas masyarakat kota Jakarta dalam
berbagai sektor, seperti ekonomi, social, politik, dan budaya. Aktivitas padat
masyarakat urban ini perlu didukung oleh sarana dan prasarana transportasi yang
cukup dan layak bagi seluruh masyarakat Jakarta. Dilihat dari penggunaanya,
transportasi dibagi menjadi dua macam, yaitu transportasi pribadi dan transportasi
umum. Jumlah masayarakat yang banyak, tentunya juga mempengaruhi tingkat
kemacetan di Jakarta. Terlebih lagi dengan banyaknya masyarakat Jakarta yang
lebih memilih transportasi pribadi dibandingkan menggunakan transportasi umum
yang tentunya berujung pada kemacetan.

Tantangan bagi pemerintah dan departemen terkait serta para perencana


transportasi perkotaan, adalah masalah kemacetan lalu lintas serta pelayanan
angkutan umum perkotaan. Masalah kemacetan ini diperkirakan tidak hanya
terjadi di Ibu Kota Jakarta saja, namun hampir di semua ibu kota provinsi di
Indonesia. Hal ini tentunya menjadi masalah utama nantinya dalam hal
transportasi perkotaan. Kepadatan lalu lintas pada suatu ruas jalan dipengarui oleh
beberapa faktor, seperti kondisi jalan dan lingkungan. Jalan yang buruk tentunya
juga mempengaruhi tingkat kemacetan karena kendaraan hanya bias berjalan
dengan lambat. Jenis kendaraan juga mempengaruhi pemilihan lintasan atau ruas
jalan yang akan dilalui kendaraan tersebut. Hal ini dapat menimbulkan
penumpukan lalu lintas pada suatu ruas jalan tertentu, dan berakibat kemacetan.
Selain kedua hal tersebut, pengemudi atau penumpang kendaraan juga
menentukan pemilihan lintasan yang akandigunakan. Pada umumnya ke banyak
orang akan memilih biaya dan waktu perjalanan yang lebih minimum, sehingga
akan terjadi penumpukan pada ruas jalan tertentu.

Pemerintah tentunya telah memberikan usaha untuk memecahkan


permasalahan kemacetan ini.Walau demikian tetap saja masalah kemacetan ini
tidak kunjung membaik. Hal ini ditimbulkan karena kebutuhan transportasi
berkembang dengan pesat sedangkan penyedia fasilitas dan prasarana transportasi
berkembang sangat lambat, sehingga tidak bias mengikutinya. Di Indonesia
sendiri, DKI Jakarta merupakan kota dengan tingkat kemacetan terparah. Dengan
jumlah masyarakat yang begitu banyak dan luas wilayah yang tidak mendukung,
tentunya Jakarta memiliki masalah besar dalam kemacetan. Semakin besar jumlah
penduduk, semakin tinggi pergerakan sehingga dibutuhkan sarana dan prasarana
yang memadai agar mobilitas kegiatan penduduk berlangsung secara efisien.
Perencanaan kota tanpa mempertimbangkan keadaan dan pola transportasi yang
akan terjadi sebagai akibat dari perencanaan itu sendiri akan menimbulkan
keruwetan lalu lintas di kemudian hari, yang dapat berakibat dengan
meningkatnya kemacetan lalu lintas. Kebanyakan masyarakat Jakarta memilih
menggunakan kendaraan umum terkait dengan efisiensi waktu dalam perjalanan.
Menggunakan kendaraan pribadi relative lebih cepat dibandingkan menggunakan
kendaraan umum yang sering kali tidak menentu.

Disamping efisiensi waktu, pengguna kendaraan pribadi mengaku bahwa


dengan menggunakan kendaraan pribadi relative lebih murah dari pada
menggunakan kendaraan umum. Sehingga ini menjadi alas an kuat untuk tetap
menggunakan kendaraan pribadi, walaupun ada juga kendaraan pribadi yang
memiliki biaya yang lebih mahal dari pada kendaraan umum. Faktor kenyamanan
juga mempengaruhi mengapa kebanyakan masyarakat Jakarta lebih memilih
menggunakan kendaraan pribadi. Saat ini Jakarta telah memiliki BRT dengan
panjang jalur mencapai 200 km dan menjadikannya sebagai BRT terpanjang di
dunia. Bus Trans Jakarta memiliki 12 koridor yang menghubungkan seluruh
penjuru Jakarta.

Dengan modal transportasi lain seperti MRT dan Monorail yang sedang
dalam tahap perancangan dan persiapan pembangunan, Jakarta telah berbenah
untuk menciptakan kehidupan urban yang lebih baik. Selain itu, keberadaan
transportasi umum lainnya seperti kereta Commuter Line, kopaja, metromini dan
juga mikrolet ikut mendukung sarana transportasi umum yang ada di Jakarta
secara lebih menyeluruh. Dengan adanya saran transportasi tersebut, Jakarta sudah
memiliki integrasi dan koneksi transportasi umum yang tersebar keseluruh
penjuru kota, dan seharusnya permasalahan seperti kemacetan bias segera
diminimalisasi. Namun prasarana yang tidak kalah penting untuk dibenahi
seringkali dilupakan. Tanpa prasarana, sarana tidak dapat ditunjang
keberlangsungannya. Oleh karena itu, selain membenahi sarana, kita juga harus
memberikan perhatian lebih pada prasarana transportasi umum di Jakarta.Salah
satu prasarana yang paling signifikan untuk dibenahi adalah tempat transit, seperti
halte, stasiun, dan terminal. Dengan prasarana yang aman, nyaman, dan
menyenangkan maka masyarakat Jakarta punya alasan yang kuat untuk
meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi umum karena
trasnportasi umum sebenarnya memiliki banyak keunggulan jika dibandingkan
dengan transportasi pribadi, seperti tidak membutuhkan konsentrasi dalam
mengendarai (dapat istirahat atau menikmati perjalanan), biaya yang dikeluarkan
lebih sedikit, membantu pemerintah dalam menurangi kemacetan, mengurangi
polusi udara dan menghemat penggunaan bahan bakar.

Dengan adanya pembenahan dalam prasarana dan sarana transportasi


umum di Jakarta diharapakan memiliki daya tarik sendiri bag iwarga Jakarta yang
memiliki jadwal dan aktivitas yang padat. Untuk meciptakan ruang publik baru
yang nyaman, kita dapat menyediakan tempat istirahat warga dengan sarana retail
makanan dan tempat berbelanja di area transit. Dengan strategi- strategi tersebut,
diharapkan warga Jakrarta dapat menjadikan transportasi umum sebagai pilihan
untuk mobilitasnya dalam kegiatan sehari-hari di kota Jakarta. Hal ini tentunya
akan memberikan dampak yang luas bagi perkembangan kota Jakarta, dan juga
Indonesia secara menyeluruh.

DAFTAR PUSTAKA

Sukarto, Haryono. (2005). Pemilihan Model Transportasi di DKI Jakarta


denganAnalisisKebijakan ProsesHirarkiAnalitik. Diakses pada 17
Maret 2016, dari http://sipil-uph.tripod.com/vol3.1.3.pdf

Prawata, Albertus. (2014). Fasilitas Transit Transportasi Umum Sebagai Media


Untuk Menciptakan Mobilitas dan Bagian Kota Jakarta yang Lebih
Sehat. Diakses pada 17 Maret 2016 dari http://research-dashboard.
binus.ac.id/uploads/paper/document/publication/Proceeding/ComTech/Vo
lume%205%20No%202%20Desember
%202014/34_Ars_ALBERTUS.pdf

Ofyar, Z. (2014). Konsep Manjemen Kebutuhan Transportasi sebagai Alternatif


Pemecahan Masalah Transportasi Perkotaan di DKI Jakarta. Diakses
pada 17 Maret 2016 dari http://www.sappk.itb.ac.id/jpwk/wp-
content/uploads/2014/02/VOL-10-NO-1-2.pdf