Anda di halaman 1dari 15

METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN INSTALASI HYDRANT

SKEMA PEKERJAAN FIRE HYDRANT

MULAI

Penentuan Material Hydrant sesuai dengan


Spesifikasi teknis

Persiapan dan ploting rencana Pillar


Hydrant, Box Hydrant, Sprinkler serta utilitas pendukung

Pada proses setting panel pompa,


penyambungan pipa dilakukan kontrol kualitas dari masing-masing indikator serta diperhatikan faktor keselamatan ker

Finishing instalasi dan utilitas hydrant


dengan dibersihkan serta diberi pelapis cat dengan warna yang sudah ditentukan

Setelah semua proses penyambungan


selesai dan melewati kontrol kualitas dilakukan Test Comissioning dari segi input dan out put
KONTROL KUALITAS PEKERJAAN FIRE HYDRANT

MULAI

Penentuan Material Hydrant sesuai dengan Spesifikasi teknis

INSPEKSI

Persiapan dan ploting rencana Pillar Hydrant, Box Hydrant, Sprinkler serta utilitas
pendukung

Pada proses setting panel pompa, penyambungan pipa dilakukan kontrol kualitas dari
masing-masing indikator serta diperhatikan faktor keselamatan kerja

Finishing instalasi dan utilitas hydrant dengan dibersihkan serta diberi pelapis cat dengan warna
yang sudah ditentukan

Setelah semua proses penyambungan selesai dan melewati kontrol kualitas dilakukan
Test Comissioning dari segi input dan out put

INSPEKSI

SELESAI
PEKERJAAN HYDRANT

INSTALASI PEMADAM KEBAKARAN

1. Lingkup Pekerjaan

Pemasangan jalur instalasi pipa hydrant


Hydrant Boks
Pemasangan penyambungan

2. Pelaksanaan

Sambungan pipa digunakan sambungan las (welded Joint) dengan menggunakan elektroda. las yang berkualitas
baik

Pada penyambungan Pipa dengan menggunakan flens perlu dilengkapi dengan ring type gasket untuk menjamin
sambungan terhadap kebocoran
Pelaksanaan water proofing terhadap kebocoran sebelum, pemasangan dan pada pelaksanaan pekerjaan
penyambungan
Instalasi pipa dilengkapi dengan penggantung pipa, penyangga dengan jarak tertentu dan memenuhi syarat
Commissioning dan testing dari peralatan yang terpasang wajib dilaksanakan untuk mengetahui bahwa pekerjaan
pemasangan peralatan sudah baik dan benar

3. Pengujian Pada Sistim Pemadarn Kebakaran

Prosedur pengujian

Pipa instalasi sistim hidran siap terpasang seluruhnya

Siapkan alat penekan tekanan, pompa sistim mekanik atau pompa motor dan alat ukur tekanan (pressure Gauge).

Hubungan pipa outlet dari instalasi pompa penekan ke pipa input instalasi bangunan. Pengujian dilaksanakan
dengan cara bagian demi baglan darl panjang pipa maksimal 50 meter

Setelah selesal hubungan antara pipa instalasi bangunan dan alat pompa penekan, Kran yang berhubungan ke
instalasi seluruh posisi ditutup dengan plug sesual dimensi kran

2
Pipa instalasi siap ditest, pompa penekan dijalankan sampai pressure gauge menunjukkan angka 10 kg/cm ,

2
Angka 10 kg/cm ini harus tetap berlangsung selama 8 jam terus menerus dan tidak ada penurunan, kecuali karena
perubahan cuaca

Untuk pemeriksaan tekanan dibuatkan daftar, dalam daftar itu tercantum tekanan per-jam maupun keadaan
temperatur

pada saat test pipa dilakukan


PENGECEKAN INSTALASI

PEMASANGAN INSTALASI
PEMILAHAN WARNA JENIS INSTALASI

BOX
HYDRANT
CARA KERJA FIRE ALARM

Fire Alarm dikenal memiliki 2 (dua) sistem, yaitu:

1.Sistem Konvensional.
2. Sistem Addressable.
1. Sistem Konvensional.

Sistem Konvensional: yaitu yang menggunakan kabel isi dua untuk hubungan antar detector ke detector dan ke Panel. Kabel yang
dipakai umumnya kabel listrik NYM 2x1.5mm atau NYMHY 2x1.5mm yang ditarik di dalam pipa conduit semisal EGA atau Clipsal. Pada
instalasi yang cukup kritis kerap dipakai kabel tahan api (FRC=Fire Resistance Cable) dengan ukuran 2x1.5mm, terutama untuk kabel-
kabel yang menuju ke Panel dan sumber listrik 220V. Oleh karena memakai kabel isi dua, maka instalasi ini disebut dengan 2-Wire
Type. Selain itu dikenal pula tipe 3-Wire dan 4-Wire.
Pada 2-Wire Type nama terminal pada detectornya adalah L(+) dan Lc(-). Kabel ini dihubungkan dengan Panel Fire Alarm pada
terminal yang berlabel L dan C juga.Hubungan antar detector satu dengan lainnya dilakukan secara parallel dengan syarat tidak
boleh bercabang yang berarti harus ada titik AWAL dan ada titik AKHIR.
Titik akhir tarikan kabel disebut dengan istilah End-of-Line (EOL). Di titik inilah detector fire terakhir dipasang dan di sini pulalah satu
loop dinyatakan berakhir (stop). Pada detector terakhir ini dipasang satu buah EOL Resistor atau EOL Capacitor. Jadi yang benar
adalah EOL Resistor ini dipasang di ujung loop, bukan di dalam Control Panel dan jumlahnyapun hanya satu EOL Resistor pada setiap
loop. Oleh sebab itu bisa dikatakan 1 Loop = 1 Zone yang ditutup dengan Resistor End of Line (EOL Resistor).
Adapun tentang istilah konvensional, maka istilah ini untuk membedakannya dengan system Addressable. Pada sistem
konvensional, setiap detector hanya berupa kontak listrik biasa, tidak mengirimkan ID Alamat yang khusus.

3- Wire Type digunakan apabila dikehendaki agar setiap detector memiliki output masing- masing yang berupa lampu. Contoh
aplikasinya, misalkan untuk kamar-kamar hotel dan rumah sakit. Sebuah lampu indicator -yang disebut Remote Indicating Lamp-
dipasang di atas pintu bagian luar setiap kamar dan akan menyala pada saat detector mendeteksi. Dengan begitu, maka lokasi
kebakaran dapat diketahui orang luar melalui nyala lampu.

4- Wire Type umumnya digunakan pada kebanyakan Smoke Detector 12V agar bisa dihubungkan dengan Panel Alarm Rumah. Seperti
diketahui Panel Alarm Rumah menggunakan sumber 12VDC untuk menyuplai tegangan ke sensor yang salah satunya bisa berupa
Smoke Detector tipe 4-Wire ini. Di sini, ada 2 kabel yang dipakai sebagai supply +12V dan -12V, sedangkan dua sisanya adalah relay
NO - C yang dihubungkan dengan terminal bertanda ZONE dan COM pada panel alarm. Selain itu tipe 4-wire ini bisa juga dipakai
apabila ada satu atau beberapa Detector "ditugaskan" untuk men-trigger peralatan lain saat terjadi kebakaran, seperti: mematikan
saklar mesin pabrik, menghidupkan mesin pompa air, mengaktifkan sistem penyemprot air ( sprinkler system atau releasing
agent) dan sebagainya. Biasanya detector 4- wire memiliki rentang tegangan antara 12VDC sampai dengan 24VDC.
1. Sistem Addressable.

Sistem Addressable kebanyakan digunakan untuk instalasi Fire Alarm di gedung bertingkat, semisal hotel, perkantoran, mall dan
sejenisnya. Perbedaan paling mendasar dengan sistem konvensional adalah dalam hal Address (Alamat). Pada sistem ini setiap
detector memiliki alamat sendiri-sendiri untuk menyatakan identitas ID dirinya. Jadi titik kebakaran sudah diketahui dengan pasti,
karena panel bisa menginformasikan deteksi berasal dari detector yang mana. Sedangkan sistem konvensional hanya
menginformasikan deteksi berasal dari Zone atau Loop, tanpa bisa memastikan detector mana yang mendeteksi, sebab 1 Loop
atau Zone bisa terdiri dari 5 bahkan 10 detector, bahkan terkadang lebih.

Agar bisa menginformasikan alamat ID, maka di sini diperlukan sebuah module yang disebut dengan Monitor Module. Ketentuannya
adalah satu module untuk satu,sehingga diperoleh sistem yang benar-benar addressable (istilahnya fully addressable).
Sedangkan addressable detector adalah detector konvensional yang memiliki module yang built-in. Apabila detector konvensional
akan dijadikanaddressable, maka dia harus dihubungkan dulu ke monitor module yang terpisah.
Dengan teknik rotary switch ataupun DIP switch, alamat module detector dapat ditentukan secara berurutan, misalnya dari 001
sampai dengan 127.

Satu hal yang menyebabkan sistem addressable ini kalah pemasangannya dibandingkan dengan sistem konvensional adalah
masalah harga. Lebih-lebih jika menerapkan fully addressable dimana jumlah module adalah sama dengan jumlah keseluruhan
detector, maka cost-nya lumayan mahal. Sebagai "jalan tengah" ditempuh cara semi-addressable, yaitu panel dan jaringannya
menggunakan Addressable, hanya saja satu module melayani beberapa detector konvensional. Dalam panel
addressable tidak terdapat terminal Zone L-C, melainkan yang ada adalah terminal Loop. Dalam satu tarikan loop bisa dipasang
sampai dengan 125 - 127 module. Apa artinya? Artinya jumlah detector-nya bisa sampai 127 titik alias 127 zone fully addressable
hanya dalam satu tarikan saja. Jadi untuk model panel addressable berkapasitas 1-Loop sudah bisa menampung 127 titik detector
(127 zone). Jenis panel addressable 2-Loop artinya bisa menampung 2 x 127 module atau sama dengan 254 zone dan seterusnya.

Detector F

1.ROR (Rate of Rise) Heat Detector


Heat detector adalah pendeteksi kenaikan panas. Jenis ROR adalah yang paling banyak digunakan saat ini, karena selain ekonomis
juga aplikasinya luas. Area deteksi sensor bisa mencapai 50m2 untuk ketinggian plafon 4m. Sedangkan untukplafon lebih tinggi,
area deteksinya berkurang menjadi 30m2. Ketinggian pemasangan max. hendaknya tidak melebihi 8m. ROR banyak digunakan
karena detector ini bekerja berdasarkan kenaikan temperatur secara cepat di satu ruangan kendati masih berupa hembusan panas.
Umumnya pada titik 55oC
- 63oC sensor ini sudah aktif dan membunyikan alarm bell kebakaran. Dengan begitu bahaya kebakaran (diharapkan) tidak sempat
meluas ke area lain. ROR sangat ideal untuk ruangan kantor, kamar hotel, rumah sakit, ruang server, ruang arsip, gudang pabrik
dan lainnya.
Prinsip kerja ROR sebenarnya hanya saklar bi-metal biasa. Saklar akan kontak saat mendeteksi panas. Karena tidak memerlukan
tegangan (supply), maka bisa dipasang langsung pada panel
alarm rumah. Dua kabelnya dimasukkan ke terminalZone-Com pada panel alarm. Jika dipasang pada panel Fire Alarm, maka
terminalnya adalah L dan LC. Kedua kabelnya boleh terpasang terbalik, sebab tidak memiliki plus-minus. Sedangkan sifat
kontaknya adalah NO (Normally Open).

2.Fix Temperature
Fix Temperature termasuk juga ke dalam Heat Detector. Berbeda dengan ROR, maka Fix Temperature baru mendeteksi pada derajat
panas yang langsung tinggi. Oleh karena itu cocok ditempatkan pada area yang lingkungannya memang sudah agak- agak panas,
seperti pada ruang genset, basement, dapur-dapur foodcourt, gudang beratap asbes, bengkel las dan sejenisnya. Alasannya, jika
pada area itu dipasang ROR, maka akan rentan terhadap False Alarm (Alarm Palsu), sebab hembusan panasnya saja sudah bisa
menyebabkan ROR mendeteksi. Area efektif detektor jenis ini adalah 30m2 (pada ketinggian plafon 4m) atau 15m2 (untuk
ketinggian plafon antara 4 - 8m). Seperti halnya ROR, kabel yang diperlukan untuk detector ini cuma 2, yaitu L dan LC, boleh
terbalik dan bisa dipasang langsung pada panel alarm rumah merk apa saja. Sifat kontaknya adalah NO (Normally Open).

3.Smoke Detector
Smoke Detector mendeteksi asap yang masuk ke dalamnya. Asap memiliki partikel-partikel yang kian lama semakin memenuhi
ruangan smoke (smoke chamber) seiring dengan meningkatnya intensitas kebakaran. Jika kepadatan asap ini (smoke density) telah
melewati ambang batas (threshold), maka rangkaian elektronik di dalamnya akan aktif. Oleh karena berisi rangkaian elektronik,
maka Smoke memerlukan tegangan. Pada tipe 2-Wire tegangan ini disupply dari panel Fire bersamaan dengan sinyal, sehingga
hanya menggunakan 2 kabel saja. Sedangkan pada tipe 4-Wire (12VDC), maka tegangan plus minus 12VDC-nya disupply dari panel
alarm biasa sementara sinyalnya disalurkan pada dua kabel sisanya. Area proteksinya mencapai 150m2 untuk ketinggian plafon
4m.

Pertanyaan yang sering diajukan adalah di area mana kita menempatkan Smokedan di area
mana kita menempatkan Heat. Apabila titik-titiknya sudah ditetapkan secara detail oleh Konsultan Proyek, maka kita harus
mengikuti gambar titik yang diberikan. Namun apabila belum,maka secara umum patokannya adalah:

Jika diperkirakan di area tersebut saat awal terjadi kebakaran lebih didominasi hembusan panas ketimbang kepulan asap, maka
tempatkanlah Heat Detector. Contoh: ruang filing cabinet, gudang spare parts dari logam (tanpa kardus), bengkel kerja mekanik dan
sejenisnya.
Sebaliknya jika didominasi asap, sebaiknya memasang Smoke. Contoh: ruangan no smoking area yang beralas karpet (kecuali
kamar hotel), gudang kertas, gudang kapas, gudang ban, gudang makanan-minuman (mamin) dan sejenisnya.

Jenis Smoke Detector :

Ionisation Smoke Detector yang bekerjanya berdasarkan tumbukan partikel asap dengan unsur radioaktif Am di dalam ruang
detector (smoke chamber).
Photoelectric Type Smoke Detector (Optical) yang bekerjanya berdasarkan pembiasan cahaya lampu LED di dalam ruang detector
oleh adanya asap yang masuk dengan kepadatan tertentu. Smoke Ionisasi cocok untuk mendeteksi asap dari kobaran api yang cepat
(fast flaming fires), tetapi jenis ini lebih mudah terkena false alarm, karena sensitivitasnya yang tinggi. Oleh karenanya lebih cocok
untuk ruang keluarga dan ruangan tidur.
Smoke Optical (Photoelectric) lebih baik untuk mendeteksi asap dari kobaran api kecil, sehingga cocok untuk di hallway (lorong)
dan tempat-tempat rata. Jenis ini lebih tahan terhadap false alarm dan karenanya boleh diletakkan di dekat dapur.

4.Flame Detector
Flame Detector adalah alat yang sensitif terhadap radiasi sinar ultraviolet yang ditimbulkan oleh nyala api. Tetapi detector ini tidak
bereaksi pada lampu ruangan, infra merah atau sumber cahaya lain yang tidak ada hubungannya dengan nyala api (flame).
Penempatan detector harus bebas dari objek yang menghalangi, tidak dekat dengan lampu mercury, lampu halogen dan lampu
untuk sterilisasi. Juga hindari tempat-tempat yang sering terjadi percikan api (spark), seperti di bengkel-bengkel las atau bengkel
kerja yang mengoperasikan gerinda. Dalam percobaan singkat, detector ini menunjukkan performa yang sangat bagus. Respon
detector terbilang cepat saat korek api dinyalakan dalam jarak 3 - 4m. Oleh sebab itu, pemasangan di pusat keramaian dan area
publik harus sedikit dicermati. Jangan sampai orang yang hanya menyalakan pemantik api (lighter) di bawah detector dianggap
sebagai kebakaran. Bisa juga dipasang di ruang bebas merokok (No Smoking Area) asalkan bunyi alarm-nya hanya terjadi di
ruangan itu saja sebagai peringatan bagi orang yang membandel

Anda mungkin juga menyukai