Anda di halaman 1dari 10

BAB I

KONSEP MEDIS
A. Pengertian
Epistaksis (mimisan) adalah pendarahan dari rongga hidung, yang
keluar melalui lubang hidung ataupun kebelakang (koana). Perdarahan dari
hidung tersebut dapat terjadi sebagai akibat dari kelainan lokal ataupun
kelainan sistemik.
B. Etiologi
Penyebab lokal :
1) Trauma misalnya karna mengorek hidung,taerjatuh,terpukul,benda
asing di hidung,trauma pembedahan,atau iritasi gas yang merangsang.
2) Infeksi hidung atau sinus paranasal,seperti rinitis,sinusitis,serta
granuloma spesifik seperti lepra dan sifilis.
3) Tumor,baik jinak maupun ganas pada hidung,sinus paranasal dan
nasoparing.
4) Pengaruh lingkungan, misalnya perubahan tekanan atmosfir mendadak,
seperti pada penerbang maupun penyelam(penyakit Caisson), atau
lingkungan yang udaranya sangat dingin.
5) Benda asing dan rinolit, dapat menyebabkan epistaksisringan disertai
ingus berbau busuk.
6) Idiopatik, biasanya merupakan epistaksis yang ringan dan berulangpada
anak dan remaja.
Penyebab sistemik :
1) Penyakit Kardiovaskular, seperti hipertensi dan kelainan pembuluh
darah
2) Kelainan darah, seperti trombositopenia, hemofilia, dan leukimia.
3) Infeksi sistemik, Seperti demam berdarah dengue, Influenza,
Morbiliatau demam tifoid.
4) Gangguan endokrin, Seperti pada kehamilan, menars, dan menopous.
5) Kelainan kongenital, seperti penyakit Osler (hereditary hemorrhagic
telangiectasia)
C. Patofisiologi
Rongga hidung kita kaya dengan pembuluh darah. Pada rongga bagian
depan, tepatnya pada sekat yang membagi rongga hidung kita menjadi dua,
1 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
terdapat anyaman pembuluh darah yang disebut pleksus Kiesselbach. Pada
rongga bagian belakang juga terdapat banyak cabang-cabang dari pembuluh
darah yang cukup besar antara lain dari arteri sphenopalatina.
Rongga hidung mendapat aliran darah dari cabang arteri maksilaris
(rahang atas) interna yaitu arteri palatina (langit-langit) mayor dan arteri
sfenopalatina. Bagian depan hidung mendapat perdarahan dari arteri fasialis
(muka). Bagian depan septum terdapat anastomosis (gabungan) dari cabang-
cabang arteri sfenopalatina, arteri etmoid anterior, arteri labialis superior dan
arteri palatina mayor yang disebut sebagai pleksus kiesselbach (littles area).
Jika pembuluh darah tersebut luka atau rusak, darah akan mengalir
keluar melalui dua jalan, yaitu lewat depan melalui lubang hidung, dan lewat
belakang masuk ke tenggorokan.
Epistaksis dibagi menjadi 2 yaitu anterior (depan) dan posterior
(belakang). Kasus epistaksis anterior terutama berasal dari bagian depan
hidung dengan asal perdarahan berasal dari pleksus kiesselbach. Epistaksis
posterior umumnya berasal dari rongga hidung posterior melalui cabang
a.sfenopalatina.
D. Manifestasi Klinis
Perdarahan dari hidung, gejala yang lain sesuai dengan etiologi yang
bersangkutan.
Epitaksis berat, walaupun jarang merupakan kegawatdaruratan yang
dapat mengancam keselamatan jiwa pasien, bahkan dapat berakibat fatal jika
tidak cepat ditolong. Sumber perdarahan dapat berasal dari depan hidung
maupun belakang hidung. Epitaksis anterior (depan) dapat berasal dari
pleksus kiesselbach atau dari a. etmoid anterior. Pleksus kieselbach ini sering
menjadi sumber epitaksis terutama pada anak-anak dan biasanya dapat
sembuh sendiri.
Epistaksis anterior menunjukkan gejala klinik yang jelas berupa
perdarahan dari lubang hidung. Epistaksis posterior seringkali menunjukkan
gejala yang tidak terlalu jelas seperti mual, muntah darah, batuk darah,
2 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
anemia dan biasanya epistaksis posterior melibatkan pembuluh darah besar
sehingga perdarahan lebih hebat jarang berhenti spontan.
Epitaksis posterior (belakang) dapat berasal dari a. sfenopalatina dan a.
etmoid posterior. Perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti sendiri.
Sering ditemukan pada pasien dengan hipertensi, arteriosklerosis atau pasien
dengan penyakit jantung. Pemeriksaan yang diperlukan adalah darah Lengkap
dan fungsi hemostasis.
E. Pemeriksaan penunjang
Jika perdarahan sedikit dan tidak berulang, tidak perlu dilakukan pemeriksaan
penunjang. Jika perdarahan berulang atau hebat lakukan pemeriksaan lainnya
untuk memperkuat diagnosis epistaksis.
a. Pemeriksaan darah tepi lengkap.
b. Fungsi hemostatis
c. EKG
d. Tes fungsi hati dan ginjal
e. Pemeriksaan foto hidung, sinus paranasal, dan nasofaring.
f. CT scan dan MRI dapat diindikasikan untuk menentukan adanya
rinosinusitis, benda asing dan neoplasma.
F. Penatalaksanaan
Prinsip dari penatalaksanaan epistaksis yang pertama adalah menjaga ABC
a. airway : pastikan jalan napas tidak tersumbat/bebas, posisikan duduk
menunduk
b. breathing: pastikan proses bernapas dapat berlangsung, batukkan atau
keluarkan darah yang mengalir ke belakang tenggorokan
c. circulation : pastikan proses perdarahan tidak mengganggu sirkulasi
darah tubuh, pastikan pasang jalur infus intravena (infus) apabila
terdapat gangguan sirkulasi
kemudian perawatan berlanjut :
a. hentikan perdarahan
1) tekan pada bagian depan hidung selama 10 menit
2) tekan hidung antara ibu jari dan jari telunjuk
3) jika perdarahan berhenti tetap tenang dan coba cari tahu apa faktor
pencetus epistaksis dan hindari
b. jika perdarahan berlanjut :
3 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
1) dapat akibat penekanan yang kurang kuat
2) bawa ke fasilitas yang lengkap dimana dapat diidentifikasi lokasi
perdarahan
3) dapat diberikan vasokonstriktor (adrenalin 1:10.000, oxymetazolin-
semprot hidung) ke daerah perdarahan
4) apabila masih belum teratasi dapat dilakukan kauterisasi
elektrik/kimia (perak nitrat) atau pemasangan tampon hidung,
5) Pemasangan tampon hidung anterior dilakukan dapat
menggunakan kapas yang ditetesi oleh obat-obatan vasokonstriktor
(adrenalin), anastesia (lidocain atau pantocain 2%) dan salap
antibiotik/vaselin atau menggunakan kassa yang ditetesi dengan
obat vasokonstriktor dan anastesia dan salap antibiotik/vaselin.
6) Apabila terdapat keadaan dimana terjadi tampat perdarahan yang
multipel, perembesan darah yang luas/difus maka diperlukan
pemeriksaan profil darah tepi lengkap, protrombin time (PT),
activated partial thromboplastin time (aPTT), golongan darah dan
crossmatching.
G. Komplikasi
Kematian akibat pendarahan hidung adalah sesuatu yang jarang.
Namun, jika disebabkan kerusakan pada arteri maksillaris dapat
mengakibatkan pendarahan hebat melalui hidung dan sulit untuk
disembuhkan. Tindakan pemberian tekanan, vasokonstriktor kurang efektif.
Dimungkinkan penyembuhan struktur arteri maksillaris (yang dapat merusak
saraf wajah) adalah solusi satu-satunya.

4 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
Komplikasi yang dapat timbul:
1) Sinusitis
2) Septal hematom (bekuan darah pada sekat hidung)
3) Deformitas (kelainan bentuk) hidung
4) Aspirasi (masuknya cairan ke saluran napas bawah)
5) Kerusakan jaringan hidung infeksi

BAB II
KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
a. Biodata
Nama ,umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan.
b. Riwayat penyakit sekarangRiwayat kesehatan masa lalu
1) Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau
trauma
2) Pernah mempunyai riwayat penyakit THT
3) Pernah menedrita sakit gigi geraham
5 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
c. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang
mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang.
d. Riwayat psikososial
1) Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih)
2) Interpersonal : hubungan dengan orang lain.
e. Pola aktivitas sehari-hari
1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Untuk mengurangi flu biasanya klien mengkonsumsi obat tanpa
memperhatikan efek samping
2) Pola nutrisi dan metabolisme
Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan pada
hidung
3) Pola istirahat dan tidur
Selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering
pilek
4) Pola Persepsi dan konsep diri
Klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsep diri
menurun
5) Pola sensorik
Daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek
terus menerus (baik purulen , serous, mukopurulen).
f. Pemeriksaan fisik
1) status kesehatan umum : keadaan umum , tanda vital, kesadaran.
2) Pemeriksaan fisik data focus hidung : rinuskopi (mukosa merah
dan bengkak).
B. Diagnosa Keperawatan
1) Perdarahan spontan berhubungan dengan trauma minor maupun mukosa
hidung yang rapuh..
2) Obstruksi jalan nafas berhubungan dengan bersihan jalan nafas tidak
efektif.
3) Cemas berhubungan dengan perdarahan yang diderita.
4) Nyeri akut berhubungan dengan infeksi saluran nafas atas dan pengeringan
mukosa hidung.
C. Intervensi Keperawatan
Diagnosa 1
1) Tujuan : meminimalkan perdarahan
2) Kriteria : Tidak terjadi perdarahan, tanda vital normal, tidak anemis
3) Intervensi:
a) Monitor keadaan umum pasien
6 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
b) Monitor tanda vital
c) Monitor jumlah perdarahan psien
d) Awasi jika terjadi anemia
e) Kolaborasi dengan dokter mengenai masalah yang terjadi dengan
perdarahan : pemberian transfusi, medikasi
Diagnosa 2
1) Tujuan: Bersihan jalan nafas menjadi efektif
2) Kriteria: Frekuensi nafas normal, tidak ada suara nafas tambahan, tidak
menggunakan otot pernafasan tambahan, tidak terjadi dispnoe dan
sianosis.
3) Intervensi:

No. Intervensi Rasional

1 Mandiri
1) Kaji bunyi atau kedalaman 1) Penurunan bunyi nafas dapat
pernapasan dan gerakan dada. menyebabkan atelektasis, ronchi dan
wheezing menunjukkan akumulasi
sekret
2) Catat kemampuan 2) Sputum berdarah kental atau cerah
mengeluarkan mukosa/batuk dapat diakibatkan oleh kerusakan
efektif paru atau luka bronchial
3) Berikan posisi fowler atau semi 3) Posisi membantu memaksimalkan
fowler tinggi ekspansi paru dan menurunkan
4) Bersihkan sekret dari mulut dan upaya pernafasan
trakea 4) Mencegah obstruksi/aspirasi
5) Pertahankan masuknya cairan 5) Membantu pengenceran secret
sedikitnya sebanyak 250
ml/hari kecuali kontraindikasi
2 Kolaborasi 1) Mukolitik untuk menurunkan batuk,
1) Berikan obat sesuai dengan ekspektoran untuk membantu
indikasi mukolitik, ekspektoran, memobilisasi sekret, bronkodilator
bronkodilator menurunkan spasme bronkus dan
analgetik diberikan untuk
menurunkan ketidaknyamanan

7 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
Diagnosa 3
1) Tujuan: Cemas klien berkurang/hilang
2) Kriteria: Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola
kopingnya dan Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang
dideritanya serta pengobatannya.
3) Intervensi:

No. Intervensi Rasional


1 1) Kaji tingkat kecemasan klien 1) Menentukan tindakan selanjutnya
2) Berikan kenyamanan dan 2) Memudahkan penerimaan klien
ketentaraman pada klien : terhadap informasi yang diberikan
- Temani klien 3) Meningkatkan pemahaman klien
- Perlihatkan rasa empati tentang penyakit dan terapi untuk
3) Berikan penjelasan pada klien penyakit tersebut sehingga klien
tentang penyakit yang lebih kooperatif
dideritanya perlahan, tenang 4) Dengan menghilangkan stimulus
seta gunakan kalimat yang yang mencemaskan akan
jelas, singkat mudah meningkatkan ketenangan klien.
dimengerti 5) Mengetahui perkembangan klien
4) Singkirkan stimulasi yang secara dini.
berlebihan misalnya : 6) Obat dapat menurunkan tingkat
- Tempatkan klien diruangan kecemasan klien
yang lebih tenang
- Batasi kontak dengan orang
lain /klien lain yang
kemungkinan mengalami
kecemasan
5) Observasi tanda-tanda vital.
6) Bila perlu , kolaborasi dengan
tim medis

Diagnosa 4
8 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
1. Tujuan: nyeri berkurang atau hilang
2. Kriteria: Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau
hilang dan Klien tidak menyeringai kesakitan
3. Intervensi

No. Intervensi Rasional

1 1) Kaji tingkat nyeri klien 1) Mengetahui tingkat nyeri


2) Jelaskan sebab dan akibat klien dalam menentukan
nyeri pada klien serta tindakan selanjutnya
keluarganya 2) Dengan sebab dan akibat
3) Ajarkan tehnik relaksasi nyeri diharapkan klien
dan distraksi berpartisipasi dalam
4) Observasi tanda tanda perawatan untuk
vital dan
Trauma, infeksi hidung, lingkungan, keluhan klien Hipertensi,
benda mengurangi nyeri
penyakit kardiovaskuler,
asing, idiopatik
5) Kolaborasi dngan leukemia, hemophilia,
tim 3) Klien demam tehnik
mengetahui berdarah
medis distraksi dan relaksasi
- Terapi konservatif : sehinggga dapat
mempraktekkannya bila
a. obat Acetaminopen;
mengalami nyeri
Pembuluh darah fleksus Aspirin, dekongestan Pembuluh darah arteri
4) Mengetahui keadaan umum
kiesselbach luka/rusak hidung sfenoplatina luka/rusak
dan perkembangan kondisi
klien.
5) Menghilangkan /mengurangi
keluhan nyeri klien

Perdarahan

PENYIMPANGAN KDM Cemas


Mual, muntah,
batuk berdarah,
anemia
Nyeri UIN ALAUDDIN MAKASSAR
9 PROFESI NERS
Kartika Sari, S.Kep | 70900116044

Tidak efektif
bersihan jalan nafas
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arif, 2000, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Ed. III, media
Aeuscualpius, Jakarta

Juall, Lynda, Rencana Asuhan Keperawatan Dan Dokumentasi Keperawatan


Edisi II, EGC. Jakarta, 1995

Doengoes, Marilyn, et al, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta

10 PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044