Anda di halaman 1dari 17

BAB I

KONSEP DASAR MEDIS

A. Defenisi
Vulnus (luka) adalah satu keadaan dimana terputusnya kontinutas jaringan
tubuh.Vulnus laceratum adalah terjadinya gangguan kontinuitas suatu jaringan
sehingga terjadi pemisahan jaringan yang semula normal, luka robek terjadi
akibat kekerasan yang hebat sehingga memutuskan jaringan (Chada, 1995).
Mansjoer (2000) menyatakan vulnus laseratum merupakan luka terbuka
yang terdiri dari akibat kekerasan tumpul yang kuat sehingga melampaui
elastisitas kulit atau otot
B. Etiologi
1. Alat yang tumpul.
2. Jatuh ke benda tajam dan keras.
3. Kecelakaan lalu lintas dan kereta api.
4. Kecelakaan akibat kuku dan gigitan (Chada, 1995).
C. Anatomi dan Fisiologi
1. Kulit.
Price 2005 menyatakan Secara mikroskopis kulit terdiri dari 3
lapisan epidermis, dermis, lemak subkutan.Kulit melindungi tubuh dari
trauma dan merupakan benang pertahanan terhadap bakteri virus dan
jamur.Kulit juga merupakan tempat sensasi raba, tekan, suhu, nyeri dan
nikmat berkat jahitan ujung syaraf yang saling bertautan.(p.1260).
a. Epidermis bagian terluas kulit di bagi menjadi 2 bagian lapisan yaitu :
1) Lapisan tanduk (stratum konsum) terdiri dari lapisan sel-sel tidak
ber inti dan bertanduk.
2) Lapisan dalam (stratum malfigi) merupakan asal sel permukaan
bertanduk setelah mengalami proses di ferensiasi .
b. Dermis
Dermis terletak di bawah epidermis dan terdiri dari seabut-serabut
kolagen elastin, dan retikulum yang tertanam dalam substansi
dasar.Matrik kulit mengandung pembuluh pembuluh darah dan syaraf
yang menyokong nutrisi pada epidermis.Disekitar pembuluh darah
yang kecil terdapat limfosit.Limfosit sel masuk dan leukosit yang
melindungi tubuh dari infeksi dan infeksi dan instansi benda-benda

1| PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
asing.Serabut-serabut kolagen, elastin khusus menambahkan sel-sel
basal epidermis pada dermis.
c. Lemak Subkutan
Price (2005) menyatakan Lemak subkutan merupakan lapisan
kulit ketiga yang terletak di bawah dermis. Lapisan ini merupakan
bantalan untuk kulit isolasi untuk mempertahankan daya tarik seksual
pada kedua jenis kelamin.
2. Jaringan Otot
Otot adalah jaringan yang mempunyai kemampuan khusus yaitu
berkontraksi dengan sedemikian maka pergerakan terlaksana. Otot terdiri
dari serabut silindris yang mempunyai sifat sama dengan sel dari jaringan
lain.semua sel di ikat menjadi berkas-berkas serabut kecil oleh sejenis
jaringan ikat yang mengandung unsur kontaktil.
3. Jaringan Saraf
Menurut Jungviera, LC (1998:p.157)Jaringan saraf terdiri dari 3
unsur:
a. Unsur berwarna abu-abu yang membentuk sel syaraf.
b. Unsur putih serabut saraf.
c. Neuroclea, sejenis sel pendukung yang di jumpai hanya dalam saraf
dan yang menghimpun serta menopang sel saraf dan serabut saraf.
Setiap sel saraf dan prosesnya di sebut neuron. Sel saraf terdiri atas
protoplasma yang berbutir khusus dengan nukleus besar dan berdinding
sel lainnya.berbagai juluran timbul (prosesus) timbul dari sel saraf,
juluran ini mengantarkan rangsangan rangsangan saraf kepada dan dari
sel saraf.

D. Tipe Penyembuhan luka


Menurut Mansjoer (2000:p.397), terdapat 3 macam tipe penyembuhan
luka, dimana pembagian ini dikarakteristikkan dengan jumlah jaringan yang
hilang.
1. Primary Intention Healing (penyembuhan luka primer) yaitu
penyembuhan yang terjadi segera setelah diusahakan bertautnya tepi luka
biasanya dengan jahitan.
2. Secondary Intention Healing (penyembuhan luka sekunder) yaitu luka
yang tidak mengalami penyembuhan primer. Tipe ini dikarakteristikkan

2| PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
oleh adanya luka yang luas dan hilangnya jaringan dalam jumlah besar.
Proses penyembuhan terjadi lebih kompleks dan lebih lama. Luka jenis
ini biasanya tetap terbuka.
3. Tertiary Intention Healing (penyembuhan luka tertier) yaitu luka yang
dibiarkan terbuka selama beberapa hari setelah tindakan debridement.
Setelah diyakini bersih, tepi luka dipertautkan (4-7 hari).Luka ini
merupakan tipe penyembuhan luka yang terakhir.
E. Patofisiologi
Menurut Price (2006:p.36), Vulnus laserrratum terjadi akibat kekerasan
benda tumpul, goresan, jatuh, kecelakaan sehingga kontuinitas jaringan
terputus. Pada umumnya respon tubuh terhadap trauma akan terjadi proses
peradangan atau inflamasi.reaksi peradangan akan terjadi apabila jaringan
terputus.dalam keadaan ini ada peluang besar timbulnya infeksi yang sangat
hebat. Penyebabnya cepat yang di sebabkan oleh mikroorganisme yang
biasanya tidak berbahaya.Reaksi peradangan itu sebenarnya adalah peristiwa
yang di koordinasikan dengan baik yang dinamis dan kontinyu untuk
menimbulkan reaksi peradangan maka jaringan harus hidup dan harus di
mikrosekulasi fungsional.Jika jaringan yang nekrosis luas maka reaksi
peradangan tak di temukan di tengah jaringan yang hidup dengan sirkulasi
yang utuh terjadi pada tepinya antara jaringan mati dan hidup.
Menurut Buyton & hal (1997:p.762), Nyeri timbul karena kulit mengalami
luka infeksi sehingga terjadi kerusakan jaringan.sek-sel yang rusak akan
membentuk zat kimia sehingga akan menurunkan ambang stimulus terhadap
reseptormekano sensitif dan hernosenssitif. Apabila nyeri di atas hal ini dapat
mengakibatkan gangguan rasa nyaman nyeri yang berlanjut istirahat atau tidur
terganggu dan terjadi ketertiban gerak.
F. Manifestasi Klinis
1. Luka tidak teratur
2. Jaringan rusak
3. Bengkak
4. Pendarahan
5. Akar rambut tampak hancur atau tercabut bila kekerasanya di daerah
rambut
6. Tampak lecet atau memer di setiap luka. (Mansjoer, 2000).
G. Pemeriksaan Penunjang

3| PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
a. Pemeriksaan diagnostik yang perlu di lakukan terutama jenis darah
lengkap.tujuanya untuk mengetahui tentang infeksi yang
terjadi.pemeriksaannya melalui laboratorium.
b. Sel-sel darah putih.leukosit dapat terjadi kecenderungan dengan
kehilangan sel pada lesi luka dan respon terhadap proses infeksi.
c. Hitung darah lengkap.hematokrit mungkin tinggi atau lengkap.
d. Laju endap darah (LED) menunjukkan karakteristik infeksi.
e. Gula darah random memberikan petunjuk terhadap penyakit deabetus
melitus
H. Penatalaksaanaan
1. Keperawatan
a. Bersihkan luka dengan menggunakan NaCl.
b. Anastesi luka dengan menggunakan lidocaine.
c. Apabila lidocaine sudah bereaksi,sebelum melakukan tindakan
hectingmaka terlebihdahulu bersihkan luka dengan membuang jaringan
yang sudah rusak
d. Lihat kondisi luka,perhatikan panjang,lebar,dan dalamnya luka.
Apabila luka tersebut dalam,maka membutuhkan hecting dalam
dengan menggunakan catgut dan hecting luar dengan menggunakan
silk.
e. Beri larutan betadine untuk mempercepat pengeringan luka dan
mencegah infeksi.
f. Tutup luka dengan menggunakan kain kasa steril.
g. Rekatkan dengan plester.
h. Anjurkan agar pasien control setelah 2 hari.
2. Farmakologi
a. Berikan suntikan TT 0,5 cc.
b. Berikan obat antibiotic,analgetic,dan antiimflasi
- Amoxicillin
- Paracetamol 3x1/ hari
- Dexamethazon 2x1/ hari
- Vitamin C 1x1/hari
I. Komplikasi
1. Kerusakan Arteri: Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan
tidak adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang
lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan
emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi,
dan pembedahan.

4| PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
2. Kompartement Syndrom: Kompartement Syndrom merupakan komplikasi
serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh
darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan
yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah.
3. Infeksi: System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan.
4. Shock: Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi
(Mansjoer, 2000).

5| PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, no. registrasi,
status perkawinan, agama, pekerjaan, TB, BB, dan tanggal masuk RS.
2. Riwayat Keperawatan
a. Keluhan utama
Demam lebih dari 1 minggu, gangguan kesadaran : apati sampai
somnolen, dan gangguan saluran cerna seperti perut kembung atau
tegang dan nyeri pada perabaan, mulut bau, konstipasi atau diare,
tinja berdarah dengan atau tanpa lendir, anoreksia dan muntah.
b. Riwayat penyakit sekarang.
Ingesti makanan yang tidak dimasak misalnya daging, telur, atau
terkontaminasi dengan minuman.
3. Doenges (2000, p.217) menyatakan bahwa untuk mengkaji pasien dengan
vulnus laseratum di perlukan data-data sebagai berikut:
a. Aktifitas atau istirahat
Gejala : merasa lemah, lelah.
Tanda : perubahan kesadaran, penurunan kekuatan tahanan keterbatasaan
rentang gerak, perubahan aktifitas.
b. Sirkulasi
Gejala : perubahan tekanan darah atau normal.
Tanda : perubahan frekwensi jantung takikardi atau bradikardi.
c. Integritas Ego
Gejala : perubahan tingkah laku dan kepribadian.
Tanda : ketakutan, cemas, gelisah.
d. Eliminasi
Gejala : konstipasi, retensi urin.
Tanda : belum buang air besar selama 2 hari.
e. Neurosensori
Gejala : vertigo, tinitus, baal pada ekstremitas, kesemutan, nyeri.
Tanda : sangat sensitif terhadap sentuhan dan gerakan, pusing, nyeri pada
daerah cidera , kemerah-merahan.
f. Nyeri / kenyamanan
Gejala : nyeri pada daerah luka bila di sentuh atau di tekan.
Tanda : wajah meringis, respon menarik pada rangsang nyeri yang hebat,
gelisah, tidak bisa tidur.
g. Kulit
Gejala : nyeri, panas.
Tanda : pada luka warna kemerahan , bau, edema.
4. Pemeriksaan Fisik

6| PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
a. Keadaan umum.
Biasanya pada pasien perdarahan mengalami badan lemah, pucat.
b. Kepala dan leher
konjungtiva anemia, mata cowong, muka tidak odema, pucat/bibir
kering,
c. Dada dan abdomen
Pada pemeriksaan daerah dada biasanya terdapat jejas atau trauma
pada dada.
d. Sistem respirasi
Apa ada pernafasan normal, tidak ada suara tambahan, dan tidak
terdapat cuping hidung.
e. Sistem kardiovaskuler
Biasanya pada pasien yang ditemukan tekanan darah yang menurun
f. Sistem integumen
Kulit bersih, turgor kulit menurun, pucat, berkeringat banyak, akral
dingin.
g. Sistem eliminasi
Apakah juga terdapat gangguan pada eliminasi klien akibat terbatasnya
aktifitas
h. Sistem muskuloskolesal
Apakah ada gangguan pada extrimitas atas dan bawah atau tidak ada
gangguan.
i. Sistem endokrin
j. Sistem persyarafan
Apakah kesadaran itu penuh atau apatis, somnolen dan koma setelah
terjadi perdarahan hebat
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik : trauma jaringan
2. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan faktor mekanis
(gesekan, benturan)
3. Resiko deficit volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume
cairan aktif.
4. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit berhubungan dengan
kurang informasi

7| PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
C. Intervensi

N o Tuj u a n d a n K r i t e r i a
DiagnosaKeperawatan I n t e r v e n s i
Hasil
1 N y e r i a k u t N O C : N I C :
Definisi : Pain level Pain Management
Sensori yang tidak menyenangkan Pain control Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk
Comfort level
dan pengalaman emosional yang lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
Setelah dilakukan tindakan
muncul secara aktual atau potensial presipitasi
keperawatan x24 jam Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
kerusakan jaringan atau
diharapkan nyeri berkurang Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui
menggambarkan adanya kerusakan
atau hilang pengalaman nyeri pasien
(Asosiasi Studi Nyeri
Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
Kriteria Hasil :
Internasional): serangan mendadak Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
Mampu mengontrol nyeri Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang
atau pelan intensitasnya dari ringan
sampai berat yang dapat diantisipasi (tahu penyebab nyeri, ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
mampu menggunakan Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan
dengan akhir yang dapat diprediksi
tehnik nonfarmakologi dukungan
dan dengan durasi kurang dari 6
Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti
bulan. untuk mengurangi nyeri,
suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
mencari bantuan)
Kurangi faktor presipitasi nyeri

8| PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
Batasan karakteristik : Melaporkan bahwa nyeri Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non
Laporan secara verbal atau berkurang dengan farmakologi dan inter personal)
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
non verbal menggunakan manajemen
Fakta dari observasi Ajarkan tentang teknik non farmakologi
nyeri Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
Posisi antalgic untuk Mampu mengenali nyeri Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
menghindari nyeri (skala, intensitas, Tingkatkan istirahat
Gerakan melindungi Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan
Tingkah laku berhati-hati frekuensi dan tanda nyeri)
Muka topeng Menyatakan rasa nyaman nyeri tidak berhasil
Gangguan tidur (mata sayu, setelah nyeri berkurang Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri
Tanda vital dalam rentang Analgesic Administration
tampak capek, sulit atau
gerakan kacau, menyeringai) normal Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri
Terfokus pada diri sendiri sebelum pemberian obat
Fokus menyempit (penurunan Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
persepsi waktu, kerusakan Cek riwayat alergi
Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari
proses berpikir, penurunan
analgesik ketika pemberian lebih dari satu
interaksi dengan orang dan
Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya
lingkungan)
nyeri
Tingkah laku distraksi,
Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis
contoh : jalan-jalan,
optimal
menemui orang lain dan/atau Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri

9| PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
aktivitas, aktivitas berulang- secara teratur
ulang) Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian
Respon autonom (seperti analgesik pertama kali
Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
diaphoresis, perubahan
Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek
tekanan darah, perubahan
samping)
nafas, nadi dan dilatasi pupil)
Perubahan autonomic dalam
tonus otot (mungkin dalam
rentang dari lemah ke kaku)
Tingkah laku ekspresif
(contoh : gelisah, merintih,
menangis, waspada, iritabel,
nafas panjang/berkeluh
kesah)
Perubahan dalam nafsu
makan dan minum
2 . Kerusakan integritas jaringan N O C : N I C :
Tissue integrity : skin Pressure ulcer prevention
andmucous membranes Wound care
Wound healing : Anjurkanpasien untuk menggunakan pakaian

10 | PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
primary andsecondary yanglonggar
intention Jagakulit agar tetap bersih dan kering
Mobilisasipasien (ubah posisi pasien) setiap dua
Setelah dilakukan
jamsekali
tindakankeperawatan selama Monitorkulit akan adanya kemerahan
. Kerusakanintegritas Oleskanlotion atau minyak/baby oil pada daerah
jaringanpasien teratasi dengan yangtertekan
kriteria hasil: Monitoraktivitas dan mobilisasi pasien
Monitorstatus nutrisi pasien
Perfusi jaringan normal Memandikanpasien dengan sabun dan air hangat
Tidak ada tanda-tanda Kajilingkungan dan peralatan yang menyebabkan
infeksi tekanan
Ketebalan dan tekstur Observasiluka : lokasi, dimensi, kedalaman
jaringannormal luka,karakteristik,warna cairan, granulasi, jaringan
Menunjukkan
nekrotik,tanda-tanda infeksi lokal, formasi traktus
pemahamandalam proses Ajarkanpada keluarga tentang luka dan perawatan luka
perbaikan kulit dan Kolaborasiahli gizi pemberian diet TKTP, vitamin
Cegahkontaminasi feses dan urin
mencegah terjadinya
Lakukantehnik perawatan luka dengan steril
cidera berulang Berikanposisi yang mengurangi tekanan pada luka
Menunjukkan terjadinya Hindarikerutan pada tempat tidur
prosespenyembuhan
luka

11 | PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
3. R es ik o d ef ic i t vo lu me ca i r a n N O C : N I C :
Definisi : Penurunan cairan Fluid balance Fluid management
intravaskuler, interstisial, dan/atau Hydration Timbang popok/pembalut jika diperlukan
intrasellular. Ini mengarah ke Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
Nutritional Status : Food
dehidrasi, kehilangan cairan dengan
and Fluid Intake Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa,
pengeluaran sodium
Setelah dilakukan tindakan nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan
keperawatan selama . Monitor vital sign
Batasan Karakteristik :
Kekurangan volume cairan Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake
Kelemahan
tidak terjadi, dengan criteria kalori harian
Haus hasil : Lakukan terapi IV
Mempertahankan urine
Penurunan turgor kulit/lidah Monitor status nutrisi
output sesuai dengan
Berikan cairan
usia dan BB, BJ urine
Membran mukosa/kulit Berikan cairan IV pada suhu ruangan
normal, HT normal
kering
Dorong masukan oral
Tekanan darah, nadi,
Peningkatan denyut nadi, suhu tubuh dalam batas Berikan penggantian nesogatrik sesuai output

penurunan tekanan darah, normal Dorong keluarga untuk membantu pasien makan

penurunan volume/tekanan Tidak ada tanda tanda Tawarkan snack ( jus buah, buah segar )

12 | PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
dehidrasi, Elastisitas Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul
nadi
turgor kulit baik, meburuk
membran mukosa Atur kemungkinan tranfusi
Pengisian vena menurun
lembab, tidak ada rasa Persiapan untuk tranfusi
Perubahan status mental haus yang berlebihan

Konsentrasi urine
meningkat

Temperatur tubuh
meningkat

Hematokrit meninggi

Kehilangan berat badan


seketika (kecuali pada third
spacing)

Faktor-faktor yang berhubungan:

13 | PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
Kehilangan volume cairan
secara aktif

Kegagalan mekanisme
pengaturan

4. Kurang Pengetahuan N O C : N I C :
Berhubungan dengan : keterbatasan Kowlwdge : disease Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga
kognitif, interpretasi terhadap Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana halini
process
informasiyang salah, kurangnya Knowledge : health berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengancara
keinginan untukmencari informasi, Behavior yang tepat.
Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul
tidak mengetahuisumber-sumber
Setelah dilakukan tindakan padapenyakit, dengan cara yang tepat
informasi.
keperawatan selama . Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yangtepat
Pasienmenunjukkan
Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi,
pengetahuan tentangproses
dengancara yang tepat
penyakit dengan kriteria hasil: Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuanpasien
Pasien dan keluarga dengan cara yang tepat
menyatakanpemahaman Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
Dukung pasien untuk mengeksplorasi ataumendapatkan
tentang penyakit,kondisi,

14 | PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
prognosis dan second opinion dengan cara yang tepatatau diindikasikan
programpengobatan Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan,dengan
Pasien dan keluarga cara yang tepat
mampumelaksanakan
prosedur yangdijelaskan
secara benar
Pasien dan keluarga
mampumenjelaskan
kembali apa
yangdijelaskan
perawat/tim
kesehatanlainnya

15 | PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
D. Penyimpangan KDM
Kuman
Salmonella
Trauma
thypii

Terputusnya kontinuitas jaringan


Luka robek

Kerusakan integritas jaringan Perdarahan aktif


Kerusakan saraf

Peradangan Cairan intravaskular

Persiapan hecting atau bedah


Sel-sel radang CIS CES

Kurang terpajan informasi


Aktivasi nosiseptor
Resiko kekurangan Volume Cairan

Korteks cerebri
Kurang Pengetahuan

Dipersepsikan

Nyeri Akut

16 | PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito L.J. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Pediatrik Klinis. (terjemahan)
Edisi 6. EGC: Jakarta.
Chada, P.V. 1993. Catatan Kuliah Ilmu Forensik & Teknologi (Terjemahan). Widya Medika:
Jakarta.
Doenges, M.E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien (Terjemahan). Edisi EGC: Jakarta.
Guyton & Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran (Terjemahan). Edisi 9. EGC: Jakarta.
Mansjoer,A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3.Jilid 2. Medika Auskulapius FKUI:
Jakarta.
Nurarif AH, Hardhi K. 2013.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosis Medis
dan Nanda Nic Noc.Jilid 1. Yogyakarta: Mediaction.

Willson.J.M. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 7. EGC: Jakarta.


.

17 | PROFESI NERS UIN ALAUDDIN MAKASSAR


Kartika Sari, S.Kep | 70900116044