Anda di halaman 1dari 23

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian
Bedah jantung adalah usaha atau operasi yang dikerjakan untuk melakukan
koreksi kelainan anatomi atau fungsi jantung. Bedah jantung juga merupakan semua
tindak pengobatan yang menggunakan cara infasif dengan cara membuka atau
menampilakan bagian tubuh yang akan ditangani. Misalnya jantung. Umumnya
pembukaan bagian tubuh ini dengan membuat sayatan. Setelah bagian yang akan
ditangani ditampilkan, dilakukan tindak perbaikan yang diakhiri dengan penutupan
dan penjahitan luka.

2.2 Klasifikasi
1. Operasi jantung terbuka, yaitu operasi yang dijalankan dengan membuka rongga
jantung dengan memakai bantuan mesin jantung paru (mesin extra corporal).
2. Operasi jantung tertutup, yaitu setiap operasi yang dijalankan tanpa membuka rongga
jantung misalnya ligasi PDA, Shunting aortopulmonal.

2.3 Tujuan Operasi Bedah Jantung


Operasi jantung dikerjakan dengan tujuan bermacam-macam antara lain :
1. Koreksi total dari kelainan anatomi yang ada, misalnya penutupan ASD, Pateh VSD,
Koreksi Tetralogi Fallot.
2. Transposition Of Great Arteri (TGA). Umumnya tindakan ini dikerjakan terutama
pada anak-anak (pediatrik) yang mempunyai kelainan bawaan.
3. Operasi paliatif, yaitu melakukan operasi sementara untuk tujuan mempersiapkan
operasi yang definitive atau total koreksi karena operasi total belum dapat dikerjakan
saat itu, misalnya shunt aortopulmonal pada TOF, Pulmonal atresia.
4. Repair yaitu operasi yang dikerjakan pada katub jantung yang mengalami insufisiensi.
5. Replacement katup yaitu operasi penggantian katup yang mengalami kerusakan.
6. Bypass koroner yaitu operasi yang dikerjakan untuk mengatasi stenosis/sumbatan
arteri koroner.
7. Pemasangan inplant seperti kawat pace maker permanen pada anak-anak dengan
blok total atrioventrikel.
8. Transplantasi jantung yaitu mengganti jantung seseorang yang tidak mungkin
diperbaiki lagi dengan jantung donor dari penderita yang meninggal karena sebab lain.
9. Transmyocardial laser revascularization (TLR). Operasi jantung laser biasanya
dilakukan saat penanganan-penanganan sebelumnya telah gagal. Pada operasi jantung
jenis ini, dokter akan menggunakan teknologi laser untuk membuat saluran di otot
jantung. Tujuannya agar saluran tersebut mampu membuat darah mengalir lebih
lancar.
10. Percutaneous Transluminal Coronary Angiplasly (PTCA), atau Angioplasti Koroner,
adalah prosedur non-bedah dengan sayatan minimal yang digunakan untuk membuka
pembuluh darah yang menyempit. Prosedur ini menggunakan kateter yang lentur
dengan balon di ujungnya, yang dikembungkan pada lekanan tinggi di dalam dinding
arteri yang menyempit. Tindakan ini akan merontokkan plak dalam pembuluh darah
dan memperbaiki aliran darah ke otot jantung.

2.4 Macam-macam Pembedahan Jantung


Bedah Jantung dilakukan untuk menangani berbagai masalah jantung. Prosedur
yang tersering mencakup angioplasti coroner perkutan, revaskularisasi arteri coroner,
dan perbaikan penggantian katup jantung yang rusak. Prosedur ini telah didiskusikan
pada kelainan yang berhubungan angina dan masalah katup.
Prosedur pembedahan yang didiskusikan tersebut meliputi transplatasi, eksisi
tumor jantung, dan perbaikan trauma.
1. Transplatasi
Transplatasi pertama kali dilakukan pada tahun 1967. Indikasi transplantasi yang
paling sering yaitu cardio miopati, penyakit jantung iskemik, penyakit jantung
kongenital, penyakit katup, dan penolakana transplantasi jantung sebelumnya.
2. Eksisi Tumor
Tumor jantung sangat jarang. Tumor primer terjadi kurang dari 1% pada
populasi; tumor metastatik dilaporkan terjadi 1,5% sampai 35% pada pasien onkologi
Eksisi bedah hanya dilakukan untuk mencegah obstruksi ruang jantung atau
katup, kecuali pada tumor epicardial yang dapat dieksisi tanpa memasuki jantung dan
tanpa menghentikan denyutan jantung.
3. Perbaikan pada trauma
Pasien yang memerlukan pembedahan trauma jantung bisa di akibatkan terkena
pukulan benda tumpul, luka tembak, atau luka tusuk. Perbaikannya tentu saja pada
katup dan septum bila penyebabnya trauma tumpul, dan pada dinding atrium atau
ventrikel bila penyebabnya luka tembus.

2.5 Indikasi Bedah Jantung


a. Ductus arteriosus batolli (Pattren ductus arteriosus) PDA.
b. Obstruksi (Stenosis katup paru & aorta)
c. Atrium septal defek.
d. Ventrikel septal defek
e. Tetralogi fallot.
f. Tranpormasi pembuluh darah besar.

2.6 Etiologi
Bedah Jantung dilakukan untuk menangani berbagai masalah jantung. Masalah
jantung dibagi menjadi :
1. Kelainan bawaan yang biasanya diakibatkan oleh faktor lingkungan intreuterin
2. Kelainan dapatan misal perikarditis
3. Trauma jantung

2.8 Toleransi dan Perkiraan Resiko Operasi


Toleransi terhadap operasi diperkirakan berdasarkan keadaan umum penderita
yang biasanya ditentukan dengan klasifikasi fungsional dari New York Heart
Association.
Klas I : Keluhan dirasakan bila bekerja sangat berat misalnya berlari
Klas II : Keluhan dirasakan bila aktifitas cukup berat misalnya berjalan cepat.
Klas III : Keluhan dirasakan bila aktifitas lebih berat dari pekerjaan sehari-hari.
Klas IV : Keluhan sudah dirasakan pada aktifitas primer seperti untuk makan dan lain-
lain sehingga penderita harus tetap berbaring ditempat tidur.
Waktu terbaik (Timing) untuk melakukan operasi hal ini ditentukan berdasarkan
resiko yang paling kecil.Misalnya umur yang tepat untuk melakukan total koreksi
Tetralogi Fallot adalah pada umur 3 4 tahun.
Hal ini yaitu berdasarkan klasifikasi fungsional di mana operasi katub aorta
karena suatu insufisiensi pada klas IV adalah lebih tinggi dibandingkan pada klas
III.Hal ini adalah saat operasi dilakukan.Operasi pintas koroner misalnya bila dilakukan
secara darurat resikonya 2x lebih tinggi bila dilakukan elektif.

2.9 Diagnosis Penderita Penyakit Jantung


Untuk menetapkan suatu penyakit jantung sampai kepada suatu diagnosis maka
diperlukan tindakan investigasi yang cukup. Mulai dari anamnesa, pemeriksaan
fisik/jasmani, laboratorium, maka untuk jantung diperlukan pemeriksaan tambahan
sebagai berikut :
a. Elektrokardiografi (EKG) yaitu penyadapan hantaran listrik dari jantung memakai alat
elektrokardiografi.
b. Foto polos thorak PA dan kadang-kadang perlu foto oesophagogram untuk melihat
pembesaran atrium kiri (foto lateral).
c. Fonokardiografi
d. Ekhocardiografi yaitu pemeriksaan jantung dengan memakai gelombang pendek dan
pantulan dari bermacam-macam lapisan di tangkap kembali. Sehingga terlihat
gambaran rongga jantung dan pergerakan katup jantung. Selain itu sekarang ada lagi
Dopler Echocardiografi dengan warna, dimana dari gambaran warna yang terlihat bisa
dilihat shunt, kebocoran katup atau kolateral.
e. Nuklir kardiologi yaitu pemeriksaan jantung dengan memakai isotop intra vena
kemudian dengan scanner ditangkap pengumpulan isotop pada jantung.
f. Kateterisasi jantung yaitu pemeriksaan jantung dengan memakai kateter yang
dimasukan ke pembuluh darah dan didorong ke rongga jantung. Kateterisasi jantung
kanan melalui vena femoralis, kateterisasi jantung kiri melalui arteri femoralis.
Pemeriksaan kateterisasi bertujuan :
- Pemeriksaan tekanan dan saturasi oksigen rongga jantung, sehingga diketahui adanya
peningkatan saturasi pada rongga jantung kanan akibat suatu shunt dan adanya
hypoxamia pada jantung bagian kiri.
- Angiografi untuk melihat rongga jantung atau pembuluh darah tertentu misalnya LV
grafi, aortografi, angiografi koroner dll.
- Pemeriksaan curah jantung pada keadaan tertentu.
- Pemeriksaan enzym khusus, yaitu pemeriksaan enzym creati kinase dan fraksi CKMB
untuk penentuan adanya infark pada keadaan unstable angin pectoris.

2.10 Perawatan Perioperatif Dikamar Operasi


Setelah pesien diputuskan operasi, maka persiapan harus dilakukan, yaitu
persiapan fisik maupun persiapan mental. Untuk persiapan fisik, hal-hal yang harus
diperhatikan ialah persiapan kulit, gastrointestinal, persiapan untuk anastesi,
kenyamanan dan istirahat pasien, serta obat-obatan yang digunakan. Sedangkan
persiapan mental, sangat tergantung pada dukungan dari keluarga. Tugas perawat
bedah disini adalah dapat memberikan informasi yang jelas pada pasien. Meliputi
anatomi dasar dan kondisi penyakit pasien. Prosedur operasi sebatas kopetensi yang
diberikan, pemeriksaan diagnostic penunjang, peraturan-peraturan dari tim bedah,
keadaan di ruang operasi, jenis syarat operasi dan ruang tunggu bagi keluarga pasien.
Hal ini dilakukan pada saat perawat bedah melakukan kunjungan sebelum pasien
dioperasi.

Pengkajian pasien pada saat di kamar operasi, yaitu :


- Observasi tingkat kesadaran pasien
- Observasi emosi pasien
- Observasi aktivitas
- Cek obat yang digunakan
- Observasi pernafasan pasien
- Riwayat penyakit, keluarga, kebiasaan hidup
- Cek obat yang digunakan
- Observasi tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu
- Observasi kulit: warna, turgor, suhu, keutuhan

Pemeriksaan Diagnose diantaranya :


- EKG : Untuk mengetahui disaritmia
- Chest x-ray
- Hasil laboratarium : Darah lengkap, koagulasi, elektrolit, urium, kreatinin, BUN,
Hb.
- Kateterisasi
- Ekhocardiografi

Tindakan perawatan saat menerima pasien di ruang persiapan, yaitu :


- Melakukan serah terima dengan perawat ruangan
- Memperkenalkan diri dan anggota tim kepada pasien
- Mengecek identitas pasien dengan memanggil namanya
- Memberikan surport kepada pasien
- Informasikan kepada pasien tentang tindakan yang akan dilakukan seperti ganti baju,
pemasangan infuse, kanulasi arteri dan pemasangan lead EKG
- Mendampingi pasien saat memberikan premedikasi
- Menciptakan situasi yang tenang
- Yakinkan pasien tidak menggunakan gigi palsu, perhiasan, kontak lensa dan alat bantu
dengar
- Membawa pasien ke ruang operasi
Perawatan Intra Operasi
1. Airway (jalan nafas) Persiapkan alat untuk mempertahankan Airway antara lain:
guedel, laringoskop, ETT berbagai ukuran, system hisab lendir
2. Breathing (pernafasan) persiapan alat untuk terapi O2 antara lain: kanula, sungkup,
bagging dan ventilator
3. Circulation (sirkulasi):
a. Pemasangan EKG, sering digunakan lead II untuk memantau dinding miokard bagian
inferior dan V5 untuk antero lateral
b. Kanulasi arteri dipasang untuk memantau tekanan arteri dan analisa gas darah
c. Pemasangan CVP untuk pemberian darah autologus dan infuse kontinu serta obat-
obatan yang perlu diberikan
d. Temperature: sering digunakan nasofaringeal atau rektal untuk mengevaluasi status
pasien dari cooling dan rewarning, tingkat proteksi miokard, adekuatnya perfusi perifer
dan hipertermi maligna
e. Pada beberapa sentra sering dipasang elektro encephalogram untuk memantau
kejadian akut seperti iskemia atau injuri otak
f. Pemberian obat-obatan: untuk anastesi dengan tujuan tidak sadar, amnesia, analgesia,
relaksasi otak dan menurunkan respons stress, sedang obat lain seperti inotropik,
kronotropik, antiaritmia, diuretic, anti hipertensi, anti kuagulan dan kuagulan juga
perlu
4. Defibrillator : Alat ini disiapkan untuk mengantisipasi aritmia yang mengancam jiwa
5. Deathermi : Melakukan pemasangan ground pad harus disesuaikan dengan ukuran
untuk mencegah panas yang terlalu tinggi pada tempat pemasangan
6. Posisi pasien dimeja operasi
Mengatur pasien tergantung dari prosedur operasi yang akan dilakukan. Hal
yang perlu diperhatikan: posisi harus fisiologis, system muskuloskeletal harus
terlindung, lokasi operasi mudah terjangkau, mudah dikaji oleh anastesi,beri
perlindungan pada bagian yang tertekan (kepala, sacrum, scapula, siku, dan tumit)
7. Menjaga tindakan asepsis
Kondisi asepsis dicapai dengan: cuci tangan, melakukan proparasi kulit dan
drapping. Menggunakan gaun dan sarung tangan yang steril.

2.11 Perawatan Pasca-bedah


Perawatan pasca bedah dimulai sejak penderita masuk ke ICU. Untuk
mengetahui problem pasca bedah dianjurkan untuk mengetahui problem penderita pra
bedah sehingga dapat diantisipasi dengan baik. Misalnya problem pernapasan, diabetes
dan lain-lain.
Perawatan Pasca Bedah Dibagi Atas
1. Perawatan di ICU.
a. Monitoring Hemodinamik.
Setelah penderita pindah di ICU maka serah terima antara perawat yang
mengantar ke ICU dan petugas/perawat ICU yang bertanggung jawab terhadap
penderita tersebut : Dianjurkan setiap penderita satu perawat yang bertanggung jawab
menanganinya selama 24 jam.
Pemantauan yang dikerjakan harus secara sistematis dan mudah :
- CVP, RAP, LAP.
- Denyut jantung.
- Wedge presure dan PAP.
- Tekanan darah.
- Curah jantung.
- Obat-obat inotropik yang digunakan untuk support fungsi jantung dosisnya, rutenya
dan lain-lain.
- Alat lain yang dipakai untuk membantu seperti IABP, pacuh jantung dll.
b. EKG
Pemantaujan EKG setiap saat harus dikerjakan dan dilihat irama dasar jantung
dan adanya kelainan irama jantung seperti AF, VES, blok atrioventrikel dll.
Rekording/pencatatan EKG lengkap minimal 1 kali dalam sehari dan tergantung dari
problem yang dihadapi terutama bila ada perubahan irama dasar jantung yang
membahayakan.
c. Sistem pernapasan
Biasanya penderita dari kamar operasi masih belum sadar dan bahkan diberikan
sedasi sebelum ditransfer ke ICU. Sampai di ICU segera respirator dipasang dan
dilihat :
- Tube dan ukuran yang diapakai, melalui mulut / hidung.
- Tidalvolume dan minut volume, RR, FiO2, PEEP.
- Dilihat aspirat yang keluar dari bronkhus / tube, apakah lendirnya normal, kehijauan,
kental atau berbusa kemerahan sebagai tanda edema paru ; bila perlu dibuat kultur.
d. Sistem neurologis
Kesadaran dilihat dari/waktu penderita mulai bangun atau masih diberikan obat-
obatan sedatif pelumpuh otot. Bila penderita mulai bangun maka disuruh
menggerakkan ke 4 ektremitasnya.
e. Fungsi ginjal
Dilihat produksi urine tiap jam dan perubahan warna yang terjadi akibat
hemolisis dan lain-lain. Pemerikasaan ureum / kreatinin bila fasilitas memungkinkan
harus dikerjakan.
Gula darah
Bila penderita adalah diabet maka kadar gula darah harus dikerjakan tiap 6 jam
dan bila tinggi mungkin memerlukan infus insulin.
Laboratorium
Setelah sampai di ICU perlu diperiksa :
- HB,HT,trombosit.
- ACT.
- Analisa gas darah.
- LFT / Albumin.
- Ureum, kreatinin, gula darah.
- Enzim CK dan CKMB untuk penderita bintas koroner.
f. Drain
Drain yang dipasang harus diketahui sehingga perdarahan dari mana mungkin
bisa diketahui. Jumlah drain tiap satuan waktu biasanya tiap jam tetapi bila ada
perdarahan maka observasi di kerjakan tiap jam. Atau tiap jam. Perdarahan yang
terjadi lebih dari 200 cc untuk penderita dewasa tiap jam dianggap sebagai
perdarahan pasca bedah dan mungkin memerlukan retorakotomi untuk menghentikan
perdarahan.
g. Foto thoraks
Pemerikasaan foto thoraks di ICU segera setelah sampai di ICU untuk melihat ke
CVP, Kateter Swan Ganz.Perawatan pasca bedah di ICU harus disesuaikan dengan
problem yang dihadapi seperti komplikasi yang dijumpai.Umumnya bila fungsi jantung
normal, penyapihan terhadap respirator segera dimulai dan begitu juga ekstratubasi
beberapa jam setelah pasca bedah.
h. Fisioterapi.
Fisioterapi harus segera mungkin dikerjakan termasuk penderita dengan
ventilator.Bila sudah ekstubasi fisioterapi penting untuk mencegah retensi sputum
(napas dalam, vibrilasi, postural drinase).

2. Perawatan setelah di ICU / di Ruangan.


Setelah klien keluar dari ICU maka pemantauan terhadap fungsi semua
organ terus dilanjutkan. Biasanya pindah dari ICU adalah pada hari ke dua pasca
bedah.Umumnya pemeriksaan hematologi rutin dan thoraks foto telah dikerjakan
termasuk laboratorium LFT, Enzim CK dan CKMB. Hari ke 3 lihat keadaan dan
diperiksa antara lain :
- Elektrolit thrombosis.
- Ureum
- Gula darah.
- Thoraks foto
- EKG 12 lead.
Hari ke 4 : Lihat keadaan, pemeriksaan atas indikasi.
Hari ke 5 : Hematologi, LFT, Ureum dan bila perlu elektrolit, foto thoraks tegak.
Hari ke 6-10 : pemerikasaan atas indikasi, misalnya thrombosis.

Obat obatan biasanya diberikan analgetik karena rasa sakit daerah dada waktu
batuk akan mengganggu pernapasan klien. Obat-obat lain seperti anti hipertensi, anti
diabet, dan vitamin harus sudah dimulai, expectoransia, bronchodilator, juga
diperlukan untuk mengeluarkan sputum yang banyak sampai hari ke 7 atau sampai
klien pulang.
Perawatan luka, dapat tertutup atau terbuka. Bila ada tanda-tanda infeksi seperti
kemerahan dan bengkak pada luka apalagi dengan tanda-tanda panas, lekositosis, maka
luka harus dibuka jahitannya sehingga nanah yang ada bisa bebas keluar. Kadang-
kadang perlu di kompres dengan antiseptik supaya nanah cepat kering. Bila luka
sembuh dengan baik jahitan sudah dapat di buka pada hari ke delapan atau sembilan
pasca bedah. Untuk klien yang gemuk, diabet kadang-kadang jahitan dipertahankan
lebih lama untuk mencegah luka terbuka.
Fisioterapi, setelah klien exstubasi maka fisioterapi harus segera dikerjakan
untuk mencegah retensi sputum yang akan menyebabkan problem pernapasan.
Mobilisasi di ruangan mulai dengan duduk di tempat tidur, turun dari tempat tidur,
berjalan disekitar tempat tidur, berjalan ke kamar mandi, dan keluar dari ruangan
dengan dibimbing oleh fisioterapis atau oleh perawat.

2.12 Komplikasi
Komplikasi jantung setelah pembedahan jantung dapat didiagnosa dan ditangani
menuut keempat komponen cuah jantung: preload, afteload, frekuensi denyut jantung,
dan kontraktilitis.
1. Gangguan Preload
a. Hipovolemia
b. Pedarahan menetap
c. Tamponade jantung
d. Kelebihan cairan
2. Gangguan Afterload
a. Hipertensi
b. Gangguan Kecepatan Denyut Jantung
c. Bradikardia
d. Disritmia
3. Gangguan Kontraktilitis
a. Gagal jantung
b. Infark miokardium
c. Hipoksia dan ketidak seimbangan elektrolit

2.13 Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Keperawatan Praoperatif
Fase praoperatif pembedahan jantung biasanya dimulai sebelum pemondokan.
Keadaan penyakit lain (diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit paru obstruktif kronis
dan kelainan pernapasan, endokrin, gastrointestinal, genitouriner, kulit dan
hematologis harus ditangani dan distabilisasi. Fungsi jantung dioptimalkan; gagal
jantung, disritmia, dan ketidakeimbangan cairan dan elektrolit diminimalkan. Sumber-
sumber infeksi (gigi, periodontal, kulit dan gastrointestinal) diselidiki dan ditangani.
Pasien diinstruksikan untuk mengganti regimen pengobatan sebelum
pembedahan, seperti menurunkan bertahap steroid dan digoksin, begitu juga
menurunkan atau menghentikan antikoagulan. Obat untuk mengontrol tekanan darah,
angina, diabetes, dan disritmia sering dipertahankan sampai saat pembedahan.
Mempertahankan pola aktivitas, diet seimbang, kebiasaan tidur yang baik dan tidak
merokok sangat penting untuk meminimalkan risiko pembedahan. Obat untuk
menurunkan kecemasan mungkin perlu diberikan sebelum pembedahan untuk
mencegah respons simpatis peningkatan frekuensi jantung dan tekanan darah, yang
dapat meningkatkan gejala jantung pasien.

b. Penatalaksanaan Keperawatan Pascaoperatif


Periode pascaoperasi segera bagi pasien yang telah menjalani pembedahan
jantung menimbulkan banyak tantangan bagi tim asuhan kesehatan. Segala usaha
dilakukan untuk mempermudah pemindahan dari kamar operasi ke unit perawatan
intensif atau ruang pasca anestesia dengan risiko minimal. Informasi khusus mengenai
operasi dan faktor penting penatalaksanaan pascaoperatif harus dikomunikasikan oleh
tim bedah dan personal anestesia kepada perawat asuhan kritis, yang kemudian
melanjutkan tanggung jawab perawatan pasien.
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
1. Identitas Pasien
:
: Biasanya dapat terjadi disemua umur tetapi lebih sering pada anak-anak (kelainan
jantung bawaan) pada orang dewasa dengan indikasi gagal jantung
min : Kebanyakan terjadi pada laki-laki daripada perempuan
- Jenis pekerjaan :
- Alamat :
- Suku/bangsa :
- Agama :
- Tingkat pendidikan :
- Tanggal MRS :
2. Identitas Penanggung jawab
- Nama :
- Umur :
- Jenis Kelamin :
- Pendidikan :
- Pekerjaan :
- Hub. dgn pasien :
- Alamat :
3. Riwayat sakit dan kesehatan
a. Keluhan utama :
Biasanya pasien-pasien yang akan dilaksanakan operasi bedah jantung
kebanyakan datang dengan keluhannya sesak nafas, nyeri dada, syanosis, kelemahan,
palpitasi dan nafas cepat
b. Riwayat penyakit saat ini :
Sesak nafas, nyeri dada, syanosis, kelemahan, nafas cepat, palpitasi
c. Riwayat penyakit dahulu :
Pasien sebelumnya pernah merasa sesak dan nyeri pada dada tapi hilang dengan
obat warung
d. Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami kelainan jantung
4. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Biasanya lemas
Kesadaran : Composmentis
TTV
- Nadi : 90-110 x/menit (Normal 60-100x/menit)
- TD : 110/70-140/90 mmHg (Normal 120/80 mmHg)
- RR : 24-27 x/menit (Normal 16-24x/menit)
- Suhu : 37,5-38.5 C (Normal 36,5-37,5oC)
Head to toe
a. Rambut : Keriting, ada lesi, distribusi merata.
b. Wajah : Normal, konjungtiva pucat
c. Hidung : Pernapasan cuping hidung,Tidak ada polip
d. Mulut : Bersih
e. Leher : Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid
f. Thorax
- Jantung
Inspeksi : tampak ictus cordis
Palpasi : ictus cordis kuat angkat
Perkusi : batas jantung melebar
Auskultasi : BJ 1 dan 2 melemah, BJ S3 dan S4, disritmia, gallop
- Paru
Inspeksi : pengembangan paru kanan-kiri simetris
Palpasi : ada otot bantu pernafasan
Perkusi : sonor
Auskultasi : weezing
- Abdomen
Inspeksi : Bulat datar
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi :-
Auskultasi : Bising usus (+)
g. Ekstremitas
Eks. Atas : Ada clubbing fingers, terdapat oedema
Eks. Bawah : Ada clubbing fingers, terdapat oedema
h. Sistem Integumen : kulit kering dan turgor kulit juga jelek
i. Genetalia : bersih, normal, tidak ada penyakit kelamin, tidak ada hemoroid
Pola Kebiasaan
a. Persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Pasien mengatakan kesehatan merupakan hal yang penting, jika ada keluarga
yang sakit maka akan segera dibawa ke pelayanan kesehatan terdekat.
b. Pola nutrisi dan metabolik
Tidak nafsu makan disebabkan dipsnea dan minum air putih tidak banyak sekitar
400-500cc
c. Pola eliminasi
Adanya retensi urin / inkonteninsia urine dan adanya konstipasi
d. Pola aktivitas dan latihan
Pasien tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya karena adanya sesak dan nafas
pendek.
e. Pola istirahat tidur
Pasien tidak bisa istirahat total seperti biasanya karena ada nyeri di dada
f. Pola persepsi sensori dan kognitif
Pasien sudah mengerti tentang keadaanya dan merasa harus segera berobat
g. Pola hubungan dengan orang lain
Pasien dapat berhubungan dengan orang lain secara baik tetapi akibat
kondisinya pasien malas untuk keluar dan memilih untuk istirahat.
h. Pola reproduksi / seksual
Pasien berjenis kelamin laki laki dan akibat penyakitnya pasien tidak bisa
berhubungan seksual .
i. Pola persepsi diri dan konsep diri
Pasien ingin cepat sembuh dan tidak ingin mengalami penyakit seperti ini lagi
j. Pola mekanisme koping
Pasien apabila merasakan tidak nyaman sekali dan memegangi dadanya.
k. Pola nilai kepercayaan / keyakinan
Pasien beragama islam dan yakin akan cepat sembuh menganggap ini merupakan
cobaan dari Allah SWT.

A. Pra Operatif
1. Persiapan
Persiapan yang harus dilakukan pada klien pra operatif bedah jantung antara
lain:
a. Persiapan Mental
Menyiapkan klien secara mental siap menjalani operasi, menghilangkan
kegelisahan menghadapi operasi. Hal ini ditempuh dengan wawancara dengan dokter
bedah dan kardiolog tentang indikasi operasi, keuntungan operasi, komplikasi operasi
dan resiko operasi. Diterangkan juga hal-hal yang akin dialami atau dikerjakan di kamar
operasi dan ICU dan alat yang akin dipasang, juga termasuk puasa, rasa sakit pada
daerah operasi dan kapan drain dicabut.

b. Persiapan Medikal
Obat -obatan :
- Semua obat-obatan anti koagulan harus dihentikan satu minggu sebelum operasi
(minimal 3 hari sebelum operasi)
- Aspirin dan obat sejenis dihentikan 1 minggu sebelum operasi
- Digitalis dan diuretik harus dihentikan 1 hari sebelum operasi
- Antidiabetik deerskin dan bila perlu dikonversi dengan insulin injeksi selama operasi
- Obat-obat jantung diteruskan sampai hari operasi
- Antibiotika hanya diberikan untuk profilaksis dan diberi waktu untuk induksi anestesi
di kamar operasi, hanya diperlukan test kulit sebelum alergi, untuk mengetahui adanya
alergi atau tidak.
Laboratorium 1 hari sebelum operasi antara lain :
- Hematologi lengkap + hemostasis
- LFT
- Ureum , Creatinin
- Gula darah
- Urine lengkap
- Enzim CK dan CKMB Untuk CABG
- Hbs Ag
- Gas darah
Persiapan darah untuk operasi
Permintaan darah ke PMI terdiri dari :
- Packad cell : 750cc
- Frash frozen plasma : 1000cc
- Trombosit : 3 unit
Mencari infeksi fokal
Biasanya dicari gigi berlubang atau tonsillitis kronis dan ini dikonsultasikan ke
bagian THT dan gigi. Kelainan kulit seperti dermatitis dan furonkolisis atau bisul harus
diobati dan juga tidak dalam masa inklubasi atau infeksi penyakit menular.
Fisioterapi dada
Untuk melatih dan meningkatkan fungsi paru selama di ICU dan untuk
mengajarkan bagaimana caranya mengeluarkan sputum setelah operasi untuk encage
retensi sputum. Bila penderita diketahui menderita asma dan penyakit paru obstruksi
menahun (PPOM) maka fisioterapi harus lebih intensif dikerjakan dan kadang-kadang
spirometri juga membantu untuk melihat kelainan yang dihadapi. Bila perlu konsultasi
ke dokter ahli paru untuk prolem yang dihadapi.
Perawatan sebelum operasi
Saat ini perawatan sebelum operasi dengan Persia pan yang matang dari
poliklinik maka perawatan sebelum operasi dapat diperpendek 1-2 hari sebelum
operasi. Hal ini untuk mempersiapkan mental klien dan supaya tidak bosan di rumah
sakit.
Informed Consent :
- Alasan pembedahan
- Pilhan dan resikonya
- Resiko pembedahan
- Resiko anestesi
Anggota tim pembedahan
o Tim pembedahan terdiri dari :
1. Ahli bedah
2. Tim pembedahan dipimpin oleh ahli bedah senior atau ahli bedah yang sudah
melakukan operasi.
3. Asisten pembedahan (1orang atau lebih) asisten bius dokter, risiden, atau perawat, di
bawah petunjuk ahli bedah. Asisten memegang retractor dan suction untuk melihat
letak operasi.
4. Anaesthesologist atau perawat anaesthesi.
o Tugas tim pembedahan:
1. Set up ruangan operasi
2. Menjaga kebutuhan alat
3. Check up keamanan dan fungsi semua peralatan sebelum pembedahan
4. Posisi klien dan kebersihan daerah operasi sebelum drapping
5. Memenuhi kebutuhan klien, memberi dukungan mental, orientasi klien
6. Mengkoordinasikan aktivitas
7. Mengimplementasikan NCP
8. Membenatu anesthetic
9. Mendokumentasikan secara lengkap drain, kateter, dll.
Persiapan kamar dan team pembedahan
Keamanan klien diatur dengan adanya ikat klien dan pengunci meja operasi. Dua
factor penting yang berhubungan dengan keamanan kamar pembedahan : lay out kamar
operasi dan pencegahan infeksi.Ruang harus terletak diluar gedung RS dan
bersebelahan dengan RR dan pelayanan pendukung (bank darah, bagian pathologi dan
radiology, dan bagian logistik).Alur lalu lintas yang menyebabkan kontaminasi dan ada
pemisahan antara hal yang bersih dan terkontaminasi design (protektif, bersih, steril
dan kotor).Besar ruangan tergantung pada ukuran dan kemampuan rumah sakit.
Kebersihan dan Kesehatan Team Pembedahan.
Sumber utama kontaminasi bakteri team pembedahan yang hygiene dan
kesehatan ( kulit, rambut, saluran pernafasan).
Pencegahan kontaminasi :
1. Cuci tangan.
2. Handscoen.
3. Mandi.
4. Perhiasan (-).
Pakaian bedah.
Terdiri : Kap, Masker, gaun, Tutup sepatu, baju OK.
Tujuan: Menurunkan kontaminasi.
Cuci tangan pembedahan dilakukan oleh :
1. Ahli Bedah
2. Semua asisten
3. Scrub nurse.
Alat-alat:
1. Sikat cuci tangan reuable / disposible.
2. Anti microbial : betadine.
3. Pembersih kuku.
4. Waktu : 5 10 menit dikeringkan dengan handuk steril.

B. Intra Operatif
Hal-hal yang dikaji selama dilaksanakannya operasi bagi pasien yang diberi
anaesthesi total adalah yang bersifat fisik saja, sedangkan pada pasien yang diberi
anaesthesi lokal ditambah dengan pengkajian psikososial. Secara garis besar hal-hal
yang perlu dikaji adalah :
a. Pengkajian mental
Bila pasien diberi anaesthesi lokal dan pasien masih sadar / terjaga maka
sebaiknya perawat menjelaskan prosedur yang sedang dilakukan terhadapnya dan
memberi dukungan agar pasien tidak cemas/takut menghadapi prosedur tersebut
b. Pengkajian fisik
1. Tanda-tanda vital
(Bila terjadi ketidaknormalan tanda-tanda vital dari pasien maka perawat harus
memberitahukan ketidaknormalan tersebut kepada ahli bedah).
2. Transfusi
(Monitor flabot transfusi sudah habis apa belum. Bila hampir habis segera
diganti dan juga dilakukan observasi jalannya aliran transfusi).
3. Infus
(Monitor flabot infuse sudah habis apa belum. Bila hampir habis harus segera
diganti dan juga dilakukan observasi jalannya aliran infuse).
4. Pengeluaran urin
Normalnya pasien akan mengeluarkan urin sebanyak 1 cc/kg BB/jam. Selain
membantu prosedur pembedahan, perawat bedah juga bertanggung jawab terhadap
kenyamanan dan keamanan pasien. Ruang lingkup intervensinya meliputi mengatur
posisi, perawatan kulit serta dukungan emotional terhadap pasien dan keluarganya.

C. Post Operatif
1. Pengkajian
a. Status Respirasi, meliputi:
- Kebersihan jalan nafas
- Kedalaman pernafasaan.
- Kecepatan dan sifat pernafasan.
- Bunyi nafas
b. Status sirkulatori, meliputi:
- Nadi
- Tekanan darah
- Suhu
- Warna kulit
c. Status neurologis, meliputi :
- Tingkat kesadaran
- Balutan
- Keadaan drain
- Terdapat pipa yang harus disambung dengan sistem drainage.
d. Kenyamanan, meliputi
- Terdapat nyeri
- Mual
- Muntah
e. Keselamatan, meliputi :
- Diperlukan penghalang samping tempat tidur.
- Kabel panggil yang mudah dijangkau.
- Alat pemantau dipasang dan dapat berfungsi.
f. Perawatan, meliputi :
- Cairan infus, kecepatan, jumlah cairan, kelancaran cairan.
- Sistem drainage : bentuk kelancaran pipa, hubungan dengan alat penampung, sifat dan
jumlah drainage.
g. Nyeri, meliputi :
- Waktu
- Tempat.
- Frekuensi
- Kualitas
- Faktor yang memperberat / memperingan

3.2 Diagnosa
3.2.1 Pra Operatif
1. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan (luka tusuk)
2. Anxietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan prosedur pembedahan
3.2.2 Pre Operatif
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan fungsi miokardium.
2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan adanya insisi bedah
3. Resiko infeksi berhubungan dengan dikontuinitas jaringan sekunder pembedahan
1.3 Perencanaan
a. Pra Operatif
N
o.
Tujuan dan KH Intervensi Rasional
D
x
1 Setelah dilakukan O : Observasi - Membantu membedakan
tindakan dan catat penyebab nyeri dan
keperawatan keluhan lokasi, memberikan informasi
selama 1x24 jam beratnya (skala tentang kemajuan atau
diharapkan nyeri 0-10) dan efek perbaikan penyakit,
dapat berkurang yang terjadinyaa komplikasi dan
ditimbulkan oleh
nyeri
atau hilang
- Pantau tanda-
tanda vital
Kriteria Hasil : keefektifan intervensi.
N : Berikan
K : Pasien dapat - Memberikan rasa nyaman
posisi yang
mengetahui apa dan dapat mengurangi
nyaman
yang dapat rasa nyeri
E : Ajarkan
menyebabkan rasa - Peningkatan nyeri akan
untuk
nyeri meningkatkan tanda-tanda
menggunakan
A : Pasien dapat vital
teknik relaksasi
mengetahui cara - Membantu atau
dan nafas dalam
menangani rasa mengontrol mengalihkan
atau teknik
nyeri rasa nyeri, memusatkan
distraksi seperti
P : Pasien dapat kembali perhatian dan
mendengarkan
melakukan apa dapat meningkatkan
musik atau
yang diajarkan koping
membaca buku
oleh perawat - Menurunkan rasa nyeri.
C : Kolaborasi
P : TTV normal
pemberian obat
dan nyeri hilang
analgetik sesuai
indikasi
2 Setelah dilakukan O : Identifikasi - Rasa takut yang terus
tindakan tingkat rasa menerus dapat
keperawatan takut mengakibatkan stres
selama 1x24 jam Validasi sumber - Rasa takut pasien dapat
diharapkan rasa rasa takut dan dipecahkan atau
cemas pasien sediakan berkurang
dapat berkurang informasi yang - Memahami petunjuk
bahkan hilang adekuat petunjuk sederhana dan
N : Berikan meningkatkan rasa
Kriteria Hasil : petunjuk dan percaya pasien
K : Pasien dapat penjelasan yang - Menurunkan rasa cemas
mengetahui apa sederhana dan kembangkan rasa
yang tentang tindakan percaya
menyebabkankece operasi - Dapat mengurangi rasa cemas
masan E : Informasikan
A : Pasien dapat pasien tentang
mengetahui cara perawatan yang
mengatasi dilakukan selama
kecemasan operasi
P : Pasien C : kolaborasi
mengikuti dan dengan keluarga
memahami apa untuk
yang telah menciptakan
dijelaskan suasana yang
P : Pasien dapat nyaman
tersenyum, tidak
menunjukkan
kecemasan dan
kecemasan hilang

b. Perencanaan Post Operatif


N
o.
Tujuan dan KH Intervensi Rasional
D
x
1 Setelah dilakukan O : Observasi - Warna yang kehitaman
tindakan TTV,mukosa dan sianosis menunjukan
keperawatan pipi, dasar kuku, penurunan curah jantung
selama 1x24 jam bibir, cuping dan perdarahan dapat
diharapkan curah telinga dan terjadi akibat insisi
jantung dapat ekstremitas dan jantung, kerapuhan
normal kembali observasi adanya jaringan, trauma jaringan,
untuk perdarahan gangguan pembekuan
menjaga/mencapa persisten, - Auskultasi memberikan
i gaya hidup yang drainase darah bukti adanya tamponade
diinginkan yang terus jantung (suara jantung
menerus dan yang menjauh),
Kriteria Hasil : menetap, pericarditis (gesek
K : Pasien dan hipotensi, CVP prekordial), disritmia dan
keluarga pasien rendah; ada atau tidaknya dan
mengetahui apa takikardi, kualitas denyut
yang dapat persiapan memberikan data
menyebabkanpenu pemberian mengenai curah jantung
runan curah produk darah, selain adanya lesi
jantung larutan intravena obstruktif
A : Pasien dan N : Lakukan - Menurunnya perfusi otak
keluarga pasien auskultasi suara dapat mengakibatkan
dapat mengetahui dan irama perubahan observasi/
cara menjaga jantung danpeng pengenalan dalam
cardiac output kajian denyut sensori dan agar pasien
tetap stabil nadi perifer mengetahui guna dari
P : Pasien dan (pedis, tibialis, setiap tindakan yang
keluarga pasien popliteal, dilakukan
bisa femoralis, - Meringankan beban
mempertahankan radialis, jantung
cardiac output brakhialis,
tetap stabil carotis)
P : Bunyi jantung, E : Ajarkan pada
denyut nadi pasien cara
perifer, mukosa menghindari
hidung dalam stress dan
berikan
pengertian
kepada pasien
dalam setiap
melakukan
batas normal
tindakan
C : Kolaborasi
pemberian obat
anti nyeri
dan anti aritmia
- Untuk mengetahui berapa
berat nyeri yang dialami
pasien
O : Kaji tingkat,
- Pemahaman pasien
frekuensi, dan
tentang penyebab nyeri
Setelah dilakukan reaksi nyeri yang
yang terjadi akan
tindakan dialami pasien.
mengurangi ketegangan
keperawatan N : Jelaskan
pasien dan memudahkan
selama 1x24 jam pada pasien
pasien untuk diajak
diharapkan nyeri tentang sebab-
bekerjasama dalam
dapat berkurang sebab timbulnya
melakukan tindakan.
atau bahkan nyeri nyeri
- Rangasanga yang
hilang - Ciptakan
berlebihan dari lingkungan
lingkungan yang
akan memperberat rasa
Kriteria Hasil : tenang
nyeri
K : Pasien dapat E : Ajarkan
- Teknik distraksi dan
mengetahui apa teknik distraksi
relaksasi dapat
2 yang dapat dan relaksasi.
mengurangi rasa nyeri
menyebabkan rasa - Atur posisi
yang dirasakan pasien
nyeri pasien senyaman
- Posisi yang nyaman akan
A : Pasien dapat mungkin sesuai
membantu memberikan
mengetahui cara keinginan
kesempatan pada otot
menangani rasa pasien.
untuk relaksasi seoptimal
nyeri - Lakukan
mungkin.
P : Pasien dapat massage dan
- Massage dapat
melakukan apa kompres luka
meningkatkan
yang diajarkan dengan BWC
vaskulerisasi dan
oleh perawat saat rawat luka.
pengeluaran pus
P : TTV normal C : Kolaborasi
sedangkan bwc sebagai
dan nyeri hilang dengan dokter
desinfektan yang dapat
untuk pemberian
memberikan rasa nyaman
analgesik.
- Obat obat analgesik
dapat membantu
mengurangi nyeri pasien
3 Setelah dilakukan O : Pantau - Jika ada peningkatan
tindakan tanda- tanda tanda-tanda vital besar
keperawatan vital kemungkinan adanya
selama 2x24 jam
pasien tidak N : Lakukan
menunujukan perawatan luka
adanya infeksi dengan teknik
aseptik. gejala infeksi karena
Kriteria Hasil : - Lakukan tubuhberusaha intuk
K : Pasien perawatan melawan mikroorganisme
mengetahui apa terhadap asing yang masuk maka
yang dapat prosedur inpasif terjadi peningkatan tanda
menyebabkaninfek seperti infus, vital.
si kateter, drainase - perawatan luka dengan
A : Pasien dapat luka, dll teknik aseptic mencegah
mengetahui cara E : Berikan risiko infeksi.
menjaga luka agar pengetahuan - untuk mengurangi risiko
tidak tejadi infeksi untuk infeksi
P : Pasien bisa menghindari - Penurunan Hb dan
mempertahankan agar tidak terjadi peningkatan jumlah
cardiac output infeksi leukosit dari normal
tetap stabil - Jika ditemukan membuktikan
P : TTV dalam tanda infeksi adanya tanda-tanda
batas normal, kolaborasi infeksi.
tidak ada tanda- untuk pemeriksa- Antibiotic mencegah perke
tanda infeksi, an darah, seperti mbangan mikroorganisme
leukosit dalam Hb dan leukosit. patogen.
batas normal C : Kolaborasi
(4.000- 11.000), untuk pemberian
luka bersih dan antibiotik.
tidak lembab
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. Definisi
Bedah jantung adalah usaha atau operasi yang dikerjakan untuk melakukan
koreksi kelainan anatomi atau fungsi jantung.Bedah jantung juga merupakan semua
tindak pengobatan yang menggunakan cara infasifdengan cara membuka atau
menampilakan bagian tubuh yang akan ditangani.Misalnya jantung. Umumnya
pembukaan bagian tubuh ini dengan membuat sayatan. Setelah bagian yang akan
ditangani ditampilkan, dilakukan tindak perbaikan yang diakhiri dengan penutupan
dan penjahitan luka.

2. Klasifikasi
a. Operasi jantung terbuka
b. Operasi jantung tertutup

3. Tujuan Operasi Bedah Jantung


a.Koreksi total dari kelainan anatomi yang ada
b. Transposition Of Great Arteri (TGA).
c.Operasi paliatif,
d.Repair
e.Replacement katup
f.Bypass koroner
g.Pemasangan inplant seperti kawat pace maker permanen pada anak-anak dengan blok
total atriove
h. Transplantasi jantung

4. Macam-macam Pembedahan Jantung


a. Transplatasi
b. Eksisi Tumor
c. Perbaikan pada trauma

5. Etiologi
a. Kelainan bawaan yang biasanya diakibatkan oleh faktor lingkungan intreuterin
b. Kelainan dapatan misal perikarditis
c. Trauma jantung

6. Diagnosis Penderita Penyakit Jantung


a. Elektrokardiografi (EKG)
b. Foto polos thorak PA
c. Fonokardiografi
d. Ekhocardiografi
e. Nuklir kardiologi
f. Kateterisasi jantung

7. Perawatan Pasca-bedah
a. Perawatan di ICU.
- Monitoring Hemodinamik.
- EKG
- Sistem pernapasan
- Sistem neurologis
- Fungsi ginjal
- Drain
- Foto thoraks
- Fisioterapi.
b. Perawatan setelah di ICU / di Ruangan.
- Obat obatan
- Perawatan luka
- Fisioterapi
8. Komplikasi
a. Gangguan Preload
b. Gangguan Afterload
c. Gangguan Kontraktilitis

9. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Keperawatan Praoperatif
b. Penatalaksanaan Keperawatan Pascaoperatif

4.2 Saran
Dengan dibuatnya makalah ini, diharapkan nantinya akan memberikan
manfaat bagi para pembaca terutama pemahaman yang berhubungan dengan
bagaimana melakukan sebuah proses asuhan keperawatan terutama pada pasien yang
mengalami bedah jantung.
Namun penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu saran maupun kritik yang bersifat membangun sangat kami
harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah ini, dengan demikian penulisan
makalah ini bisa bermanfaat bagi penulis atau pihak lain yang membutuhkannya.
DAFTAR PUSTAKA

Boedihartono. 1994. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta.


Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. EGC : Jakarta.
Effendy, Christantie dan Ag. Sri Oktri Hastuti. 2005. Kiat Sukses menghadapi Operasi.
Sahabat Setia : Yogyakarta.
Effendy, Christantie. 2002. Handout Kuliah Keperawatan Medikal Bedah : Preoperatif
Nursing, Tidak dipublikasikan : Yogyakarta.
Marilynn E. Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian pasien, ed.3. EGC, Jakarta.
Nasrul Effendi. 1995. Pengantar Proses Keperawatan.EGC : Jakarta.
Shodiq, Abror. 2004. Operating Room, Instalasi Bedah Sentral RS dr. Sardjito
Yogyakarta, Tidak dipublikasikan : Yogyakarta.
Sjamsulhidayat, R. dan Wim de Jong. 1998. Buku Ajar Imu Bedah, Edisi revisi. EGC :
Jakarta.
Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah : Brunner Suddarth, Vol. 1. EGC : Jakarta.
Wibowo, Soetamto, dkk. 2001. Pedoman Teknik Operasi OPTEK, Airlangga University
Press : Surabaya.
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC : Jakarta.
http://fandik-prasetiyawan.blogspot.com/2012/11/makalah-asuhan-keperawatan-pra-
dan-post.html