Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Psikolgi kepribadian adalah ilmu yang mencakup upaya sistematis untuk


mengungkapkan dan menjelaskan pola teratur dalam pkiran, perasaan, dan
perilaku nyata seorang yang mempengaruhi kehidupannya sehari-hari. Dalam
Psikologi kepribadian mempelajari berbagai teori, salah satunya adalah teori
belajar kognitif sosial.

Teori belajar kognitif sosial dari Julian Rotter dan Walter Mischel, masing-
masing berlandaskan asumsi bahwa faktor kognitif membantu membentuk
bagaimana manusia akan bereaksi trhadap dorongan dan lingkungannya. Kedua
pakar teori tersebut menolak penjelasan Skinner yangmenyatakan bahwa perilaku
terbentuk oleh penguatan langsung, malah mereka menyebutkan bahwa ekspektasi
seseorang atas kejadian yang akan datang adalah determinan utama dari suatu
perilaku.

1.2 Rumusan Masalah


1. Siapakah tokoh Teori Belajar Kognitif Sosial?
2. Teori apa yang dibahas dalam Teori Belajar Kognitif Sosial?
3. Apa saja kekurangan yang terdapat dalam teori Belajar Kognitif Sosial?

1.3 Tujuan

Untuk mengetahui berbagai Teori Belajar Kognitif Sosial yang dapat


diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II

1
PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Teori Belajar Kognitif Sosial

Teori belajar kognitif sosial dari Julian Rotter dan Walter Mischel, masing-
masing berlandaskan asumsi bahwa faktor kognitif membantu membentuk
bagaimana manusia akan bereaksi terhadap dorongan dari lingkungannnya. Kedua
pakar teori tersebut menolak penjelasan Skinner yang menyatakan bahwa perilkau
terbentuk oleh penguatan langsung, malah mereka menyebbutkan bahwa ekspetasi
seseorang atas kejadian yang akan datang adalah determinan untama dari suatu
perilaku

Rotter beragumen bahwa perilaku manusia paling dapat diprediksikan


melalui pemahaman dari interaksi antara manusia dengan lingkungan yang berarti
untuk mereka sebagai interaksionis. Rotter yakin bahwa tidak ada satu pun
individu ataupun lingkungan itu sendiri yang sepenuhnya bertanggung jawab atas
perilaku. Malah, ia beragumen bahwa kognisi manusia, sejarah masa lalu dan
ekspetasi terhadap masa depan adalah kunci utama untuk memprediksi perilaku.
Dalam hal ini, ia berbeda dari Skinner (Bab 15) yang meyakinin bahwa penguatan
pada dasarnya berasal dari lingkungan.

Teori kognitif sosial Mischel mempunyai banyak kesamaan dengan teori


kognitif sosial Bandura dan teori belajat sosial Rotter. Seperti Bandura dan Rotter,
Mischel yakin bahwa faktor kognitif, seperti ekspetasi, persepdi subjektif, nilai,
tujuan, dan standart peronal mempunyai peranan yang penting dalam
pembentukan Kepribadian. Kontribusi fantor kognitif terhadap teori kepribadian
telah berkembang dari penelitian mengenai penundaan kepuasan, pada
pemenelitian mengenai konstitensi dan ketidakkonsistenan kepribadian, dan baru-
baru ini bekerja sama dengan Yuichi Shoda dalam pengembangan sistem
kepribadian kognitif-afektif.

B. Biografi Julian Rotter

2
Julian B. Rotter, pencipta dari skala Locus of control, dilahirkan di
Brooklyn pada 2 oktober 1916, sebagai anak ketiga dan anak laki-laki pertama
dari pasangan orang tua imigran Yahudi. Rotter (1993) mengingat bahwa ia sangat
sesuai dengan deskripsi dari Adler mengenai anak paling kecil yang sangat
kompetitif dan selalu berjuang. Walaupun orang tuanya menjalankan agama dan
budaya Yahudi, mereka tidak terlalu religius. Rotter (1993) mendeskripsikan
kondisi kondisi sosial ekonomi keluarganya sebagai, kelas menengah dan cukup
nyaman sampai pada Desripsi Besar, saat ayah ku kehilangan bisnis alat Tulis
grosisranannya dan kami menjadi bagian dari massa pengangguran selama 2
tahun. Depresi ekonomi ini mencetuskan minat semur Rotter atas ketidakadilan
sosial dan mengajarkannya tentang seberapaenting kondisi situasional
memperngaruhi perilaku manusia.

Rotter adalah seorang yang sangat antusias untuk membaca, buku-buku


favoritnya adalah Understanding Human Nature olhe Adler (1927),
Psychopathology of Everyday life oleh Frreud (1901/1960), dan The Human Mind
oleh Karl Menninger (1920). Ia sangat kagum terutama kepada Adelr dan Freud
(Rotter, 1982,1993).

Ia mengambil jurusan Kimia di Brooklyn College. Dan setelah lulus pada


tahun 1937 ia mempunyai lebih banyak kredit nilai dibidang kimia. Ia kemudian
memasuki program pasca sarjanan psikologi di Univesity of lowa, dan memerima

3
gelar master pada tahun 1938rotter menyelesaikan ikatan kerjanya dalam bidang
psikologi klinis di Worcester State Hospital di Massachusetts, tempat ia bertemu
dengan calon istrinya, Clara Barnes. Pada tahun 1941, Rotter menerima gelar
Ph.D dibidang psikologi Klinis dari Indiana University. Dan pada tahun yang
sama Rotter menerima ppsisi sebagai psikolog klinis di Norwich sate Hospital di
Connecticut, Di awal perang dunia II, Ia ditarik masuk ke militer dan
menghabiskan lebih dari 3 tahun sebagai psikolog militer.

Setelah perang, Rotter kembali sebentar ke Norwich, namun ia kemudian


mengambil pekerjaan di Ohio State Universitas, tempat ia menarik sejumlah
mahasiswa pascasarjana yang luar biasa, termasuk Walter Mischel. Selama lebih
dari 12 tahun, Rotter dan George Kelly berjaya sebagai dua anggota paling kuat di
departemen Psikologi di Ohio State. Akan tetapi, Rotter tidak begitu senang
dengan dampak politik dari McCarthvism di Ohio, dan pada tahun 1963 ia
mengambil posisi di University of Connecticut sebagai direktur dalam Clinical
Tranining Program. Ia terus berada dalam posisi tersebut sampai tahun 1987, saat
ia pensiun dan menjadi professor emeritus. Rotter dan istrinya, Clara (yang
meninggal pada tahun 1986) mempunyai dua orang anak seorang perempuan
Jean dan seorang laki-laki Richard, yang meninggal pada tahun 1995.

Diantara publikasi Rptter yang paling penting adalah Social Learning and
Cinical Psychology (1954); Clinical Psychologgy (1964); Application of Social
Learning Theory of Personality, dengan J. E. Chance dan E. J. Phares (1972);
Personality; dengan D. J. Hochreich (1975); The Development and Application pf
Social Learning Theory: Selected Papers (1982); Rooter Incomplete Sentences
Blank (Rotter, 1966); dan InterpersonalTrust Scale (Rotter, 1967)

Rotter bertugas sebagai ketua Eastern Psychologycal Association dan pada


divisi social and Personality Psychology dan Clinical Psyuchology dari American
Psychologycal Association (APA). Ia juga bertugas selama dua periode di APA
Education and Training Board. Pada tahun 1988, ia menerima penghargaan
bergengsi APA Distingguished Contribution Award. Pada tahun berikutnya, ia

4
menerima Distinguished Contribution to Clinical Training Award dari Council of
University Directors of Clinical Psychology.

C. Pengantar Teori Belajar Sosial Rotter

Teori belajar sosial berlandaskan lima hipotesis dasar. Pertama, teori


belajar sosial meliputi bahwa manusia berinteraksi dengan lingkungan yang
berarti untuknya (Rotter 1982) Reaksi manusia terhadap stimulus lingkungan
bergantung pada arti atau kepetntingan yang mereka kaitakan dengan suatu
kejadian. Penguatan tidak hanya bergantung pada hanya stimulus eksternal, tetapi
pada arti yang deberikan oleh kapastitas kognitif dari manusia. Demikian pula,
karakteristik personal seperti kebutuhan atau sofat, apabila hanya berdiri sendiri,
tidak dapat menyababkan suatu perilaku. Malah Rotter yakin bahwa perilaku
manusia berasal dari interaksi antara lingkungan dengan faktor personal.

Asumsi kedua dari teori Rotter adalah bahwa kepribadian manusia bersifat
dipelajari. Dengan demikian, kepribadian tidak diatur atau ditentukan berdasarkan
suatu usia perkembangan tertentu; melainakan dapat diubah atau do=imodifikasi
selama manusia mampu untuk belajar. Walaupun akumulasi dar pengalaman
terdahulu memberikan kepribadian kita suatu stabilitas, kita akan selalu responsif
terhadap perubahan melalui pengalaman baru. Kita belajar dari pengalama masa
lalu, tetapi pengalaman tersebut tidak sepenuhnya konstan-diwarnai oleh
perubahan yang masuk sehingga memperngaruhi persepsi saat ini.

Asumsi ketiga dari teori belajar sosial adalah bahwa kepribadian


mempunyai kesatuan mendasar, yang berarti kepribadian manusia mempunyai
stabilitas yang relatif. Manusia belajar unutk mengevaluasi pengalaman baru atas
dasar penguatan terdahulu. Evaluasi yang relatif konsisen ini akan membawa pada
stabilitas yang lebih besar dan kesatuan dari kepribadian.

Hipotesis keempat dari Rotter adalah bahwa motivasi terarah bedasarkan


tujuan. Rotter menolak pandangan bahwa manusia pada dasarnya termotivasi
untuk menurunkan ketegangan atau mencari kesenganan, ia bersikeras bahwa
penjelasan terbaik dari perilau manusia beradapada ekspetasi manusia bahwa

5
perilaku mereka akan mengembangkan mereka ke arah suatu tujuan. Sebagai
contoh, kebanyakan manusia mempunyai tujuan unutk lulus serta sanggup untuk
bertahan melewati stres, ketegangan, prospek atas adanya beberaa tahun yang sulit
menjalani kuliah menjalan knan bahwa ketegangan akan meningkat.

Dalam kondisi ketika hal-hal lainnya sama, manusia paling merasa


diberikan penguatan oleh perilaku yang menggerrakan menreka kearah suatu
ujuan yang telah mereka antisipasi. Penyataan ini merujuk pada hukum
efekempiris, yang mendefinisikan penguatan sebagai tindakan, kondisi, atau
kejadian apa pun yang mempengaruhi pergerakan manusia menuju suatu tujuan
(Rotter & Hochreich, 1975, hlm. 95 ).

Asumsi yang kelima Rotter adalah bahwa manusia mampu untuk


mengantisipasi kejadian. Disamping itu, mereka menggunakan persepsi atas
pergerakan ke arah kejadian yang diantisipasi sebagai kriteria untuk mengevaluasi
penguatan. Memulai degan lima asumsi unutk ini, Rooter kemudian membangun
teori kepribadian yang berusaha memprediksikan perilaku manusia.

1. Memprediksi Perilaku Spesifik

Oleh karena perhatian utama Rotter adalah perdiksi perilaku manusia, ia


mengajukan empat variabel yang harus dianalisis untuk membuat prediksi yang
kaurat dalam suatu situasi yang spesifik. Variabel-variabel ini adalah potensi
perilaku,ekspetasi, nilai penguatan, dan situasi psikologis. Potensi perilaku
merujuk pada kemungkinan bahwa suatu perilaku akan terjadu dalam suatu situasi
tertentu; ekspetasi adalah ekspetasi seseorang untuk diberikan penguatan;nilai
daripenguatan adalah pilihan seseorang untuk suatu penguatan tertentu; dan situasi
psikologis merujuk pada pola kompleks dari tanda-tanda yang dipersiapkam oleh
eseorang selama suatu periode waktu yang spesifik.

a) Potensi Perilaku

Potensi Perilaku adalah kemungkinan bahwa suatu respons tertentu akan


terjadi pada suatu waktu dan tempat. Beberapa potensi perilaku ddegan berbagai

6
kekuatan berada dalam situasi psikologis apapun. Sebagai contoh, saat megan
berjalan menuju sebuah restoran, ia mempunyai beberapa potensi perilaku. Ia
mungkin akan melewatinya tanpa memperhatikan restoran tersebut untuk makan;
berpikir unutk berhenti direstoran tersebut untuk makan, tetapi kemudian terus
berjalan; memperhatikan bangunan dan isinya dengan asuatu perhitungan unutk
membelinya; atau berhenti, masuk ke dalam, dan merampok kasirnya. Bagi
Megan, dalam situasi ini, potensi dari beberapa perilaku ini mungkin mendekati
no;, beberapa menjadi sangat memungkinkan, dan yang lainnya akan berada
diantaea kedua titik ekstrem. Bagaiman seorang manusia dapat memprdiksikan
perilaku apa yang paling mungkin atau paling tidak mungkin untuk terjadi ?

Potensi perilaku dalam situasi apa pun adalah suatu fungsi dari ekspektasi
dan nilai penguatan. Sebagai contoh, apabila seseorang berharap untuk
mengetahui kemungkinan bahwa megan akan merampok kasir daripada membeli
restoran atau berhenti untuk makan, kita dapat mengasumsikan bahwa ekspetasi
bersifat konstan dan nilai penguatan bervariasi. Apabila salah satu dari potensi
perilaku ini membawa 70% ekspetasi unutk diberikan penguatan, maka seseorang
dapat membuat prediksi mengenai kemungkinan relatif dari kejadian yang
didasari hanya dari nilai penguatan masing-masing perilaku. Apabila menodong
kasir membawa penguatan positif lebih besar daripada memesan makanan atau
membeli restoran ersebut, maka perilaku terseut memiliki [tensi unutk terjadi
paling besar.

Pendekatan kedua atas prediksi adalah untuk mengasumsikan bahwa nilai


penguatan bersifat konstan dan ekspektasi bervariasi. Apabila total penguatan dari
setiap perilaku yang mungkin dilakukan bernilai sama, maka satu perilaku yang
memiliki ekspetasi untuk diberi penguatan paling tinggi akan menjadi yang
paling mungkin untuk terjadi. Lebih spesifiknya lagi, apabila penguatan dari
merampok kasir, membeli bisnis restoran, dan memesan makan malam dinilai
sama, mamka respons yang paling mungkin untuk menghasilkan penguatan
mempunyai potensi perilaku yang paling tinggi.

7
Rotters menggunakan definisi yangluas untuk perilkau, yang merujuk pada
respons apa pun, implisit atau eksplisit, yang dapat diobservasi atau diukur secara
langsung atau tidak langsung. Konsep konprehensif ini memberikan jalan pada
Rotter unutk menganggap konstruk hipotesis, seperti menggeneralisasikan,
memecahakn masalah, berpikir, menganalisis dan lain-lain sebagai perilaku.

b) Ekspektasi

Ekspetasi (E) merujuk pada ekspektasi seseorang bahwa suatu penguatan


spesifik atau seperangkat penguatan akan terjadi dalam suatu situasi. Probabilitas
tdak itentukanoleh sejarah individu dengan penguatan, seperti yang diajukanoleh
Skinner, tetapi ditentukan secara subjektif oleh masing-masing orang. Sejarah,
tentu saja, adalah suatu faktor yang berkontribusi, tetapi begitu pula dengan
pikiran tidak realistis, ekspektasi yang berdasarkan kurangnya informasi, dan
fantasi selama orang tersebut benar-benar meyakini bahwa penguatan atau
seperangkat penguatan yang diberikan akan mengikuti suatu respons tertentu.

Ekspetasi dapat bersifat umum ataupun spesifik. Ekspetasi umum


(generalized expectancies-GE) Dipelajari melalui pengalam terdahuu dari suatu
respons tertentu atau respons yang mirip, dan didasari oleh keyakinan bahwa
suatu perilaku tertentu akan diikuti oleh penguatan positif. Sebagai conto,
mahasiswa yang sebelumya bekerja keras telah mendapatkan penguatan dari nilai
yang tinggi, dan akan mempunyai ekspetasi umum mengenai penghargaan dimasa
depan dan bekerja keras dalam berbagaisituasi akademis.

Ekspetasi spesifik ditentukan sebagai E (E prime). Dalam situasi apapun,


ekspetasi unutk menguatan tertentu ditentukan oleh kombinasi dari ekspertasi
spesifit (E) dan ekspetasi Umum (GE). Sebagai contoh , seorang siswa mungkin
mempunyai ekspetasi umum bahwa suatu tingkatan tugas akademis akan
memberikan penghargaan berupa nilai yang baik, tetapi ia dapat meyakini bahwa
jumlah kerja keras yang sama dalam kelas bahwasa Prancis tidak akan
mendapatkan penghargaan sama sekali.

8
Ekspetasi total atas kesuksesan adalah sebuah fungsi dari ekspetasi umum
seorang dengan ekspetasi spesifiknya. Ekspetasi total menentukan sebagian dari
besaran usaha yang dikeluarkan oleh seorang dalam mencapai tujuannya.
Seseorang dengan ekspetasi totoal yang rendah atas kesuksean dalam
mendapatkan pekerjaan yang bergengsi, mungkin tidak akan elamar untuk
pekerjaan tersebtu; sementara seseorang dengan ekspetasi total untuk kesuksesan
yang tinggi akan mengerahkan usaha yang keras, dan bertahan menghadapi
kemunduran untuk dapat mencapai tujuan yang dianggapnya mungkin untuk
diraih.

c) Nilai Penguatan

Yaitu kecenderungan pilihan yang dijatuhkan seseorang pada suatu


penguatan tertentu saat probabilitas terjadinya penguatan yang berbeda-beda
setara.

Nilai penguatan dapat diilustrasikan melalui interaksi seorang wanita


dengan sebuah mesin penjuak makanan yang memberikan beberapa makanan
yang dapat dipilih, dengan harga yang sama untuk masing-masing makanan.
Wanita tersebut mendekati mesin dengan kemampuan dan keinginan untuk
membayar 75 sen untuk dapat memperoleh sebungkus makana ringan. Mesin
penjual makan berada dalam konsidi kerja yang baik, sehingga probabilitas bahwa
respons tersenut akan diikuti oleh sutau bentuk pengutaan berjumlah 100%. Oleh
karena itu, ekspektasinya atas penguatan, dalam bentuk persen, keripik jagung,
keripik kentang, berondong, keripik tortilla dan roti Danish, semuanya setara.
Respons dari wantia tersebut yaitu tombiol apa yang akan ia tekan ditetntukan
oleh nilai penguatan dari masing-masing makanan ringan.

Saat variabel ekspektasi dan situasional diasumsikan sebagai konstan,


eprilaku dibentuk oleh prefeensi seorang terhadap penguatan yang mungkin unutk
didapatkan, yaitu nilai pengutana. Dalam kebanyakan situasi, tentu saja,
ekspektasi jaran gsekali setara dan prediksi menjadi sulit karena ekspektasi setara
serta nilai penguatan sama-sama daoat bervariasi.

9
Apa yang menentukan nilai penguatan dari suatu kejadian, kondisi atau
tindakan ? pertama, persepsi seseorang berkontribusi kepada nilai positif atau
negatif dari suatu kejadian. Rotter menyebut persepsi ini sebagai pengutatn
internal dan membedakannya dari penguatan eksternal, yang merujuk pada
kejadian, kondisi atau tindakan yang diberikan nilai oleh masyarakat atau budaya
seseorang. Ppeguatan internal dan eksternal dapat bersifat harmonis dan selaras,
atau saling bertentangan satu sama lain.

Kontributor lainnya atas penguatan adalah kebutuhan seseorang. Secara


umum, penguatan cenderung akan meningkat nilainya apabila ketuhan yang akan
dipuaskannya menjadi lebih kuat.

Penguatan juga dinilai berdasarkan ekspetasi konsekuensi dari penguatan


di masa depan. Rotter yakin bahwa manusia mampu menggunakan kognisinya
untuk mengantisipasi suatu rangkaina peristiwa yang akan mengarah pada suatu
tujuan dimasa depan, dan pada tujuan utama yang berkontribusi pada nilai
penguatan dari masing-masing peristiwa dalam rangkainan tersebut. Penguatan
jaran gterjadi secara mandri dari penguatan terkait di masa depan, namun
mungkin akan muncul dalam rangkaina penguatan penguatan, yang dirujuk
Rotter (1982) sebagai kumpulan dari penguatan.

Manusia berorientasi pada tujuan; mereka mengantisipasu untuk dapat


meraih suatu tujuan apabila bertindak dalam suatu bentuk. Dengan asumsi bahwa
semua hal lain setara, tujuan dengan nilai penguatan yang paling itnggi akan
menjadi yang paling diinginkan, akan tetapi, keinginan sendiri tidak cukup untuk
memprediksikan perilaku. Potensi dari perilakuu tertentu adalah sebuah funsi dari
ekspektasi dan nilai penguatan dan juga sutaut psikologis.

d) Situasi Psikologis

Sebagai bagian dari dunia internal dan eksternal yang direspons oleh
manusia. Situasi psikologis tidak sama dengan stimulus eksternal walaupun
peristiwa fisik biasanya penting bagi situasi psikologis.

10
Perilaku bukanlah hasil dari kejadian didalam lingkungan ataupun sifat
pribadi, melainkan berasal dari interaksi antara manusia daengan lingkungan
yang berarti untuknya . apabila stimulus fisik sendiri menentukan perilaku, maka
dua individu akan beraksi dalam cara yang sama terhadap stumulus yang identik
apabila sifat pribadi adalh satu-satunya yang dapat bertanggung jawab tas perilaku
, maka seseorang akan selalu bereaksi dalam bentuk yang konsisten dan
berkarakteristk walaupun dalam peristiwa yang berbeda. Oleh karena tidak
satupun dari kondisi ini yang valid, sesuatu selain lingkungan dan sifat
pribadiharus menjadi yang membentuk perilaku. Teori belajat sosial Rotter
memberikan hipotesis bahwa interkasi antar manusia dan lingkungan adalah
faktor penting dalam membentuk perilaku.

Situasi psikologi adalah kumpulan yang kompleks dari tanda-tanda yang


saling berinteraksi, yang beroperasi pada seseorang dalam periode waktu spesifik
(Rotter, 1982, hlm 318). Manuisa tidak berprilaku didalam suatu ruang vakum,
tetapi bereaksi terhadap tanda-tanda dari lingkungan yang mereka persepsikan.
Tanda-tanda ini berfungsi untuk menetukan suatu ekspetasi tertentu mengenai
rangkaian perilaku-penguatan dan juga untuk rangkaian penguatan-penguatan.
Periode waktu utnuk tanda-tanda tersebut dapat bervariasi dari sebentar hingga
cukup lama; sehingga situasi psikologi tidak dibatasi oleh waktu. Situasi
pernikahan seseorang. Sebagai contoh dapat menjadi relatif konstan untuk jangka
waktu yang lama, sementara situasi psikologis saat berhadapandengan seorang
pengendara yang kehilangan kendali atas kendaraaannya diatas jalanan yang beku
dapat menjadi sangat pendek. Situasipsikologis harus diperhitungksn, bersama-
sama dengan ekspektasi dan nilai penguatab, dalam menentukan probabilitas dari
suau respons.

e) Rumusan Prediksi Dasar

Sebagai cara hipotesis untuk memprediksi perilaku spesifik, Rotter


mengajukan suatu rumusan dasar yang memasukan kekempat variabel
prediksi.rumusan ini merepresentasikan cara memprediksi yang cenderung idealus

11
daripada realistis, dan tidak ada nilai pasti yang dapat diambil dari rumusan ini.
Bayangkan kasus dari la juan, seorang mahasiswa berbakat secara akademis ,
yang sedang mendengarkan suatu kuliah membosankan dan dalam jangka waktu
yang lama dari salah satu professornya. Terhadap tanda internal, yaitu kebosanan,
dan tanda eksternal, yaitu melihat teman sekelasnya tertidur, apa kemungkinan
bahwa la juanakan bereaksi dengan merebahkan kepalanya diatas meja sebagai
suatu usaha untuk tidur?

Situasi psikologis sendiri tidak bertanggung jawab untuk perilakuknya,


tetapi berinteraksi dengan espektasinya untuuk endapatkan penguaan, ditambah
niali penguatan dari kegiatan tidur dalam situasi tersebut. Potensi perilaku La Jaua
dapat diestimasikan dengan rumusan dasar unutk memprediksi perilaku yang
diarahkan oleh tujuan yang digagas Rotter (2982, hlm. 302).

BP xl,sl,ra = f(E xl,ra,sl. + RV a, sl)

Rumusan tersebut dapat dibaca sebagi berikut : potensi dari perilaku X


utuk terjadi dalam situasi I, dalam hubungannya dengan penguatan a adalah fungsi
dari ekspetassi bahwa perilaku x akan diiki=uti oleh penguatan a dalam situasi I
dan niali penguatan a dalam situasi I.

Saat diaplikasikan dengan contoh yang kita miliki, rumusan tersebut


mengajukan kemungkinan (potensi perilaku atau BP) bahwa La Jaun akan
merebahkan kepalanya diatas meja (perilaku x), di dalam kelas yang
membosankandan tidak menarik, serta banyal mahasiswa lainnya yang tertidur
(situasi psikologis atau SI) dengan tujuan utuk tidur (penguatan atau Ra) adalah
fungsi dari ekspetasinya bawha perilaku tersebut (Ex) akan diikui olehkegitan
tidur (ra) dalam situasi kelas tertentu (sI), ditambah dengan pengukuran setinggi
apakeiinginannya untuk tidur (nilai penguatan atauRVa) dalamsituasi spesifk (s).
Oleh karena pengukuran yang akurat dari masing-masing variabel mungkin
berada diluar dari kajian ilmiah mengenai perilaku manusia, Rotter mengajukan
uatu strategi dalam memprediksi perilaku umum.

12
2. Memprsediksi Perilaku Umum

Untuk mempredisikan perilaku umum, kita akan melihat David, yang telah
bekerja di Hoffmans Hardware Store selama 18 tahun. David telah
diinformasikan bahwa karena bisnis sedang lesu, Mr. Hoffman harus mengurangi
jumlah pekerjanya dan David mungkin akan kehilangan pekerjaannya. Bagaiman
kita dapat memprediksikan perilaku David selanjutnya?

a) Ekspektasi Umum

Oleh karena kebanyakan dari kemungkinan perilaku David adalah sesuatu


yang baru untuknya, bagaiman kita dapat memprediksikan apa yang di
lakukannya? Pada kondisi tersebut, konsep dari generalisasi dan ekspektasi umum
masuk ke dalm teori Rotter. Apabila dimasa lalu, David terbiasa mendapatkan
penghargaan atas perilakunya yang telah meningkatkan status sosialnya, maka
kecil probabilitasnya bahwa ia akan memohon pada Mr. Hoffman untuk suatu
pekerjaan, karena bertentangan dengan status sosialnya. Di sisi lain, apabila
usahanya terdahulu dalam perilaku bertanggung jawab dan mandiri telah terbiasa
mendapatkan penguatan, dan apabila ia mempunyai kebebasan dalam bergerak
yaitu kesempatan untuk melamar pekerjaan lai, kemudian mengasumsikan bahwa
ia membutuhkan pekerjaan, nmaka tinggi probabilitasnya bahwa ia akan melamar
untuk pekerjaan lain atau apabila tidak, ia akan tetap berprilaku secara mandiri.
Memprediksikan reaksi dari David atas kemungkinan kehilangan pekerjaan,
berarti mengetahui bagaiamana ia melihat pilihan-pilihan yang tersedia untuknya
dan juga status dari kebutuhannya saat ini.

b) Kebutuhan

Rotter (1982) mendefinisikan kebutuhan sebagai perilaku atau seperangkat


perilaku yang dilihat orang dapat menggerakan mereka ke arah suatu
tujuankebutuhan bukan suatu kondisi kekurangan atau ransangan, tetapi indikator
dari tujuan perilaku. Perbedaan antara kebutuhan dan tujuan hanya bersifat
semantik. Saat focus berada pada lingkungan, Rotter akan berbicara mengenai

13
tujuan; saat focus berada pada manusianya, ia akan berbicara mengenai
kebutuhan.

Kategori Kebutuhan

Rotter dan Hochreich (1975) membuat daftar enam kategori umum dari
kebutuhan, dengan setiap kategori mempresentasikan sekelompok perilaku yang
berkaitan secara fungsional; yaitu perilaku yang mengarah kepada penguatan yang
sama atau serupa.

Pengakuan-Status. Kebutuhan untuk diakui orang lain dan untuk


mendapatkan status dimata orang lain adalah kebutuhan yang kuat
untuk kebanyakan orang. Pengakuan-status meliputi kebutuhan untuk
dapat dengan baik hal-hal yang dianggap penting oleh orang tersebut,
misalnya sekolah, olahraga, pekerjaan, hobi, dan penampilan fisik.
Dominasi. Kebutuhan untuk mengendalikan perilaku orang lain
disebut dengan dominasi. Kebutuhan ini meliputi seperangkat perilaku
yang terarah untuk mendapatkan kekuasaan atas hidup teman-teman,
keluarga, kolega, atasan, dan bawahan. Memersuasi kolega untuk
menerima ide kita adalah contoh spesifik dari dominasi.
Kemandirian. Kemandirian adalah kebutuhan untuk bebas dari
dominasi orang lain. Kebutuhan ini meliputi perilaku-perilaku yang
ditujukan untuk meraih kebebasan membuat pilihan, bergantung pada
diri sendiri, dan mencapai tujuan tanpa bantuan dari orang lain.
Menolak bantuan dalam memperbaiki sebuah sepeda
mendemonstrasikan kebutuhan atas kemandirian.
Perlindungan-Ketergantungan. Seperangkat kebutuhan yang hampir
sangat berkebalikan dengan kemandirian adalah kebutuhan untuk
perlindungan dan ketergantungan. Kategori ini meliputi kebutuhan
untuk diperhatikan orang lain, untuk dilindungi dari rasa frustasi dan
sesuatu yang menyakitkan, serta untuk memuaskan kategori
kebutuhan lainnya.

14
Cinta dan Afeksi. Kebanyakan orang mempunyai kebutuhan yang
kuat untuk cinta dan afeksi, yaitu kebutuhan untuk diterima oleh orang
lain yang lebih dari sekedar pengetahuan dan status, untuk dapat
memasukan beberapa indikasi bahwa orang lain mempunyai perasaan
positif yang penuh kasih saying untuk mereka. Kebutuhan untuk cinta
dan afeksi meliputi perilaku-perilaku yang ditujukan untuk
mendapatkan perhatian yang bershabat, minat dan kesetiaan dari
orang lain.
Kenyamanan Fisik. Kenyamanan fisik mungkin adalah kebutuhan
yang paling mendasar karena kebutuhan lain dipelajari atas kaitannya
dengan kebutuhan ini. Kebutuhan ini meliputi perilaku-perilaku yang
diarahkan untuk mendapatkan makanan, kesehatan yang baik dan
keamanan fisik.

Komponen Kebutuhan

Kebutuhan kompleks mempunyai tiga komponen penting, yaitu Potensi


Kebutuhan, Kebebasan Bergerak, dan Nilai Kebutuhan.

Potensi Kebutuhan (Need Potensial-NP). Merujuk pada


kemungkinan terjadinya seperangkat perilaku yang berhubungan
secara fungsional, yang terarah untuk memenuhi tujuan yang sama
atau serupa. Potensi kebutuhan hampir serupa dengan konsep yang
lebih spesifik dari potensi perilaku. Perbedaan dari keduanya terdapat
pada potensi kebutuhan yang merujuk pada sekelompok perilaku yang
berhubungan secara fungsional, sementara potensi perilaku adalah
kemungkinan suatu perilaku tertentu untuk terjadi dalam situasi,
dalam hubungannya dengan suatu penguatan yang spesifik. Potensi
kebutuhan seseorang terpenuhi atau tidak, bergantung tidak hanya
pada nilai atau prefensi yang dimiliki orang tersebut mengenai
penguatan, tetapi juga pada kebebasan untuk bergerak dalam membuat
repons-respons yang akan mendahului penguatan tersebut.

15
Kebebasan Bergerak (Freedom of Movement-FM). Kebebasan
bergerak adalah ekspektasi keseluruhan untuk diberikan penguatan
yang dimiliki seseorang untuk dapat melakukan perilaku yang
diarahkan untuk memuaskan beberapa kebutuhan umum. Sebagai
ilustrasi, seseorang yang mempunyai kebutuhan yang sangat kuat atas
dominasi, dapat berprilaku dalam berbagai cara untuk memenuhi
kebutuhan tersebut. ia mungkin dapat memilihkan pakaian suaminya,
atau menentukan kurikulum kuliah yang akan diambil oleh anaknya.
Kebebasan bergerak dapat ditentukan dengan mengansumsikan bahwa
nilai kebutuhan konstan dan mengobservasi potensi kebutuhan
seseorang.
Nilai Kebutuhan (Need Values-NV). Nilai kebutuhan seseorang
adalah sejauh mana ia memilih seperangkat penguatan daripada yang
lainnya. Rotter, Chance, dan Phares (1972) mendefinisikan nilai
kebutuhan sebagai rata-rata nilai prefensi dari seperangkat penguatan
yang berhubungan secara fungsional. Dalam rumusan prediksi umum,
nilai kebutuhan hampir serupa dengan nilai penguatan. Apabila
seseorang mempunyai ekspektasi yang sama dalam mendapatkan
penguatan yang positif untuk perilaku yang diarahkan pada pemuasan
dari salah satu kebutuhan, maka nilai yang mereka letakan pada area
kebutuhan tersebut akan menjadi penentu utama dari perilaku mereka.

c) Rumusan Prediksi Umum

Kasus mengenai La Juan, siswa berbakat yang mengalami kesulitan untuk


tetap bangun di dalam kelas yang membosankan. Rumusan prediksi dasar
mengajukan beberapa indikasi akan kemungkinan bahwa, dalam situasi spesifik
kuliah yang membosankan, La Juan akan merebahkan kepalanya diatas meja.
Akan tetapi rumusan prediksi yang lebih umum dibutuhkan untuk
memprediksikan potensi kebutuhannya agar mendapatkan pengakuan-status yang
datang melalui kelulusan dengan nilai tertinggi. Untuk membuat prediksi umum

16
mengenai seperangkat perilaku yang dirancang untuk memuaskan kebutuhan ini,
Rotters memperkenalkan rumusan prediksi umum ini:

NP = f (FM + NV)
Persamaan ini berarti bahwa Potensi Kebutuhan (NP) adalah fungsi dari
kebebasan bergerak (FM) dan Nilai Kebutuhan (NV). Rumusan prediksi umum
Rotter memberikan jalan bagi sejarah seseorang dalam menggunakan pengalaman
yang serupa untuk mengantisipasi penguatan di masa sekarang, yaitu bahwa
mereka mempunyai ekspektasi yang digeneralisasikan atas kesuksesan.

d) Kontrol Internal dan Eksternal dari Penguatan

Dua skala Rotter yang paling populer untuk mengukur mengenai


ekspektasi umum adalah Internal-External Control Scale dan Interpersonal Trust
Scale.

Skala I-E ini meliputi 29 item yang bersifat jawaban yang dipaksakan,
yaitu 23 pasang dari item-item tersebut akan di nilai dan 6 dari item-item tersebut
merupakan pertanyaan pengisi untuk menyamarkan tujuan dari skala ini. Skala ini
dinilai dengan mengarah pada konrol eksternal, sehingga 23 adalah nilai eksternal
yang paling tinggi dan 0 adalah nilai internal yang paling tinggi.

Skala I-E berusaha mengukur sejauh mana seseorang mempresepsikan


hubungan kualitas antara usahanya sendiri dengan konsekuensi dari lingkungan.
Orang-orang yang mempunyai skor yang tinggi dalam kontrol internal, pada
umumnya yakin bahwa sumber kontrol berada dalam diri mereka sendiri dan
mereka melakukan kontrol personal yang cukup tinggi dalam kebanyakan situasi.
Orang-orang yang mempunyai skor yang tinggi dalam kontrol eksternal, pada
umunya yakin bahwa hidup mereka banyak dikendalikan oleh dorongan-dorongan
diluar diri mereka, seperti keberuntungan, takdir, atau perilaku dari orang lain.

17
Walaupun populer, konsep dari kontrok internal dan eksternal tidak selalu
dipahami dengan jelas. Walaupun Rotter (1975) menunjukan beberapa kesalahan
dalam pemahaman yang umum mengenai kontrol internal dan eksternal dari
penguatan, orang menggunakan dan mengiterpretasikan instrument ini dengan
salah. Salah satu kesalahan dalam pemahaman tersebut adalah bahwa skor skala
ini adalah determinan dari perilaku. Kedua adalah bahwa locus of control bersifat
spesifik dan dapat memprediksikan pencapaian dalam situasi spesifik. Yang ketiga
adalah bahwa skala ini membagi manusia ke dalam dua tipe yang sangat berbeda,
internal dan eksternal. Dan keempat, kebanyakan orang terlihat yakin bahwa skor
internal yang tinggi mengindikasikan adanya sifat yang diterima secara sosial, dan
bahwa skor eksternal yang tinggi mengindikasikan karakteristik yang tidak
diterima.

e) Interpersonal Trust Scale

Rotter melihat kepercayaan antarpribadi sebagai keyakinan dalam


berkomunikasi dengan orang lain ketika tidak ada bukti untuk tidak meyakini hal
tersebut, sementara sifat mudah percaya berarti meyakini kata-kata orang lain
secara naf atau bodoh. Untuk mengukur perbedaan dalam kepercayaan
antarpribadi, Rotter (1967) mengembangkan Interpersonal Trust Scale (Skala
Kepercayaan antarpribadi) yang menanyakan responden untuk setuju atau tidak
setuju dengan 25 item yang mengkaji kepercayaan antarpribadi dan 15 item
pengisi yang dirancang untuk menutupi tujuan dari instrument. Skala ini dinilai
berdasarkan gradasi 5 poin dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju
sehingga respons sangat setuju dan setuju akan mengindikasikan kepercayaan 12
item, dan respons sangat tidak setuju dan tidak setuju akan mengindikasikan
kepercayaan dalam 13 item lainnya. skor dari masing-masing 25 item tersebut
akan dijumlah, sehingga skor yang tinggi akan mengindikasikan adanya
kepercayaan antarpribadi dan skir yang rendah mengindikasikan ekspektasi umum
atas ketidakpercayaan.

18
Rotter (1980) menyimpulkan hasil penelitian-penelitian yang
mengindikasikan bahwa orang-orang yang mempunyai skor yang tinggi dalam
kepercayaan antarpribadi, berkebalikan dengan skor yang rendah.

1. Tidak mungkin untuk berbohong


2. Mungkin lebih tidak akan berlaku curang atau mencuri
3. Lebih mungkin untuk memberikan kesempatan kedua untuk orang lain
4. Lebih mungkin untuk menghrgai hak orang lain
5. Lebih tidak mungkin untuk tidak menjadi bahagia, banyak berkonflik,
ataupun tidak dapat menyesuaikan diri dengan orang lain.
6. Lebih disukai dan populer
7. Lebih dapat dipercaya
8. Tidak lebih ataupun kurang mudah dipercaya
9. Tidak lebih atau kurang cerdas.

Dengan perkataan lain, orang dengan kepercayaan yang tinggi tidak


mudah percaya ataupun naf, dan daripada disakiti dengan sikap dapat dipercaya
mereka, mereka terlihat memiliki banyak karakteristik yang dianggap orang lain
sebagai positif atau diinginkan.

3. Perilaku Maladaptif

Dalam teori belajar sosial Rotter, perilaku maladaptif adalah perilaku


bertahan apapun yang gagal menggerakkan seseorang untuk menjadi lebih dekat
dengan tujuan yang diinginkan. Perilaku ini sering kali, walaupun kadang dapat
dihindari muncul dari kombinasi antara nilai kebutuhan yang tinggi dan
kebebasan bergerak yang rendah; atau bersal dari tujuan yang ditetapkan dengan
terlalu tinggi atau tidak realistis apabila tidak dikaitkan dengan kemampuan orang
tersebut dalam mencapainya (Rotter, 1964). Sebagai contoh, kebutuhan akan cinta
dan afeksi adalah realistis, tetapi beberapa orang mempunyai tujuan yang tidak
realistis untuk dapat dicintai oleh semua orang. Oleh karena itu, nilai kebutuhan
mereka tentu saja akan melebihi kebebasan bergerak mereka sehingga
menghasilkan perilaku yang kemungkinan akan bersifat defensif atupun
maladaptive.

19
Menetapkan tujuan terlalu tinggi adalah salah satu dari beberapa
kontributor yang dapat menyebabkan perilaku maladaptif. Penyebab yang sering
terjadi lainnya adalah kebebasan bergerak yang rendah. orang mungkin
mempunyai ekspektasi yang rendah untuk berhasil karena tidak mempunyai
cukup informasi atau kemampuan untuk melakukan prilaku yang akan diikuti oleh
penguatan positif. Kesimpulannya, seseorang yang tidak dapat menyesuaikan diri
dengan baik biasanya dicirikan oleh tujuan-tujuan yang tidak realistis, perilaku
yang tidak tepat, kemampuan yang tidak mencukupi, atau ekspektasi yang
terlampau rendah untuk dapat melakukan perilaku yang dibutuhkan untuk dapat
penguatan positif.

4. Psikoterapi

Bagi Rotter (1964), permasalahan psikoterapi adalah permasalahan


bagaimana membuat perubahan pada perilaku melalui interaksi antara satu orang
dengan orang lain. Dengan perkataan lain, permasalahan tersebut adalah
peperkataan lain, permasalahan tersebut adalah permasalahan pembelajaran
manusia dalam situasi sosial. Secara umum, tujuan dari terapi Rotter adalah untuk
membawa kebebasan bergerak dan nilai kebutuhan agar selaras, sehingga akan
mengurangi perilaku yang defensive atau menghindar. Terapis mengambil peranan
aktif sebagai guru, dan berusaha untuk memenuhi tujuan terapi dengan dua cara
dasar: (1) mengubah kepentingan dari tujuan, dan (2) mengeleminasi ekspektasi
yang terlalu rendah atas kesuksesan.

a) Mengubah Tujuan

Kebanyakan pasien tidak mampu untuk memecahkan permasalahan hidup


mereka karena berusaha meraih tujuan yang terdistorsi atau tdak tepat. Peranan
terpis adalah untuk membantu pasien-pasien tersebut mengerti ketidaktepatan
tujuan mereka dan mengajari mereka cara-cara yang konstruktif untuk berusaha
meraih tujuan yang realistis. Rotter dan Hochreich (1975) menjabarkan tiga
sumber masalah yang mengikuti tujuan yang tidak tepat.

20
Pertama, akan terjadi konflik antara dua atau lebih dari tujuan yang
penting. Sebagai contoh, remaja sering kali menaruh nilai pada kemandirian dan
juga perlindungan-ketergantungan. Pada satu sisi, mereka ingin bebas dari
dominasi dan kontrol orang tua merek, tetapi pada sisi lain, mereka
mempertahankan kebutuhan mereka atas orang yang mengasuh mereka untuk
memberikan oerhatian dan melindungi mereka dari pengalaman yang
menyakitkan. Dalam situasi tersebut, terapis dapat berusaha untuk membantu
remaja melihat bagaimana perilaku spesifik mereka berkaitan dengan masing-
masing kebutuhan, dan dilanjutkan untuk bekerja sama dengan mereka dengan
mengubah nilai dari salah satu atau kedua kebutuhan. Dengan mengubah nilai
kebutuhan, pasien akan secara bertahap mulai bertindak lebih konsisten dan
merasakan kebebasan bergerak yang lebih besar untuk mencapai tujuan-tujuan
mereka.

Kedua, tujuan yang bersifat destruktif. Beberapa pasien akan bertahan


untuk berusaha meraih tujuan yang merusak diri sendiri, yang merupakan akibat
yang tidak dapat dihindari dari kegagalan dan hukuman. Tugas terapis adalah
untuk menunjukan sifat merusak dari usaha ini dan kemungkinan bahwa hal
tersebut akan diikuti oleh suatu hukuman. Salah satu teknik yang dapat digunakan
oleh terapis dalam kasus ini adalah untuk memberikan penguatan positif terhadap
pergerakan menjauhi tujuan yang destruktif.

Ketiga, kebanyakan orang merasa dirinya dalam masalah karena


menempatkan tujuan mereka terlalu tinggi, dan terus-menerus merasa frustasi
karena tidak dapatraih atau melampaui tujuan-tujuan tersebut. dalam kasus ini
terapi mengarahkan pasien untuk secara realistis melakukan evaluasi ulang dan
menurunkan tujuan yang terlalu dibesar-besarkan dengan cara menurunkan nilai
penguatan dari tujuan tersebut. oleh karena nilai penguatan yang tinggi biasanya
dipelajari melalui generalisasi, terapis harus berusaha mengajarkan pasien
bagaimana mendiskriminasikan antara nilai yang berlaku di masa lalu dengan
nilai yang mungkin saja salah di masa sekarang.

21
b) Mengeliminasi Ekspektasi Rendah

Sebagai tambahan dari mengubah tujuan, terapis berusaha mengeliminasi


ekspektasi pasien yang rendah terhadap kesuksesan dan yang hampir serupa
dengannya, kebebasan bergerak yang rendah. Orang memiliki kebebasan bergerak
yang rendah dapat disebabkan oleh setidaknya tiga alasan.

Pertama, mereka tidak mempunyai cukup keterampilan atau informasi


yang dibutuhkan untuk dengan sukses berjuang menuju tujuan mereka
(Rotter,1970). Dengan pasien seperti itu, seorang terapis berperan sebagai guru,
dengan hangat dan empati menginstruksikan mereka teknik-teknik yang lebih
efektif untuk memecahkan masalah dan memuaskan kebutuhan.

Sumber kedua dari kebebasan bergerak yang rendah adalah evaluasi yang
salah dari situasi di masa sekarang. Tugas terapis adalah untuk membantu pasien
tersebut mebuat perbedaan-perbedaan dan mengajarkannya terknik asertif untuk
berbagai situasi yang tepat.

Terakhir, kebebasan bergerak yang rendah dapat muncul dari generalisasi


yang tidak tepat. Pasien sering kali menggunakan kegagalan dalam suatu situasi
sebagi bukti bahwa mereka tidak akan dapat berhasil dalam bidang lain.
permasalahannya datang dari generalisasi yang salah, dan terapis harus
memberikan penguatan untuk setiap keberhasilan sekecil apapun dalam hubungan
sosial, pencapaian akademis dan situasi lainnya.

Disini, Rotter mengajukan beberapa teknik menarik yang ia rasa efektif.


Pertama, mengajari pasien untuk mencari alternating bentuk tindakan. Rotter jua
mengajukan suatu teknik untuk membantu pasien mengerti motif dari orang lain.
teknik inovatif lainnya yang diajukan Rotter adalah untuk membuat pasien
memasuki suatu situasi sosial yang sebelumnya sangat menyakitkan. Mereka
diminta untuk diam dan mengobervasi.

Pada kesimpulannya, Rotter yakin bahwa seorang terapis harus menjadi


partisipan yang aktif dalam interaksi sosial dengan pasien. Seorang terapis yang

22
efektif mempunyai karakteristik yang hangat dan penerimaan, tidak hanya karena
sikap ini mendukung pasien untuk dapat mengutarakan permasalahannya, tetapi
juga karena penguatan yang didapatkan dari terapis yang hangat dan penuh
penerimaan akan lebih efektif daripada penguatan dari terapis yang dingin dan
penuh penolakan(Rotter, Chance, & Phares, 1972). Walaupun terapis adalah
pemecah masalah yang aktif, (Rotter, 1978) yakin bahwa pada akhirnya pasien
harus belajar untuk memecahkan masalahnya sendiri.

D. Biografi Walter Mischel

Walter Mischel, anak kedua dari keluarga kelas mengengah atas, dilahirkan
pada 22 Februari 1930, di Vienna. Ia dan saudara laki-lakinya, Theodore, yang
dikemudian hari menjadi pakar filsafat ilmiah, tumbuh di lingkungan yang
nyaman dan tidak jauh dari tempat tinggal Freud. Akan tetapi, ketenangan masa
kecilnya hancur saat Nazi melakukan invansi ke Austria, pada tahun 1938. Pada
tahun yang sama, keluarga Mischel pergi dari Austria dan pindah ke Ameika
Serikat. Setelah tinggal di berbagai negara bagian, mereka akhirnya menetap di
Brooklyn Walter pun mengikuti sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di
sana. Selanjutnya ia pun berkuliah di New York University dan menjadi sangat
tertarik dengan bidang seni (melukis dan memahat) serta membagi waktunya
antara seni, psikologi, dan kehidupannya di Greenwich Village.

Kecenderungannya terhadap humanistik semakin diperkuat setelah


membaca Freud, pemikir-pemikir eksistensial, dan penyair-penyair hebat. Setelah

23
kelulusannya, ia kemudian memasuki program master dalam psikologi klinis di
City College of New York. Perkembangan Mischel sebagai psikolog kognitif
sosial semakin meningkat karena studi doktornya di Ohio State University dari
tahun 1953-1956. Selanjutnya, Mischel mengajar selama 2 tahun di University of
Colorado. Ia kemudian bergabung dengan Departement of Social Relations di
Harvard, dan minatnya terhadap teori kepribadian dan asesmen semakin
distimulasi oleh diskusi-diskusinya dengan Gordon Allport, Henry Murray, David
McClelland, dan yang lainnya. Pada tahun 1962, Mischel pindah ke Stanford dan
menjadi kolega Albert Bandura. Setelah menghabiskan lebih dari 20 tahun di
Stanford, Mischel kembali ke New York, serta bergabung dengan fakultas
psikologi di Colombia University dan menetap di sana sebagai peneliti aktif dan
terus mengembangkan teori belajar kognitif sosialnya.

Selama di Harvard, Mischel bertemu dan menikahi Herriet Nerlove, yang


juga seorang mahasiswa pascasarjana psikologi kognitif. Sebelum mereka
bercerai, pasangan ini berkolaborasi dalam menghasilkan tiga orang anak
perempuan dan beberapa proyek ilmiah (H. N. Mischel & W. Mischel, 1973; W.
Mischel & H. N. Mischel 1976, 1983). Salah satu karya awal Mischel yang paling
penting adalah Personality and Assesment (1968), suatu perkembangan dari
usahanya dalam mengidentifikasi sukarelawan Peace Corps yang berhasil. Dalam
Personality and Assesment, Mischel berargumen bahwa sifat merupakan prediktor
yang lemah atas peforma dalam berbagai situasi, dan bahwa situasi lebih penting
daripada sifat dalam memengaruhi perilaku.

Kebanyakan penelitian yang dilakukan oleh Mischel merupakan usaha


kooperatif dengan sejumlah mahasiswa pascasarjana. Akhir-akhir ini, banyak dari
publikasinya yang merupakan kolaborasi dengan Yuichi Shoda, yang menerima
gelar Ph.D., dari Columbia pada tahun 1990 dan sekarang berada di University of
Washington. Buku Mischel yang paling populer, Introduction to Personality,
awalnya diterbitkan pada tahun 1971 dan menjalani revisi yang ke 7 pada tahun
2004, dengan Yuichi Shoda dan Ronald D. Smith sebagai rekanan penulis.
Mischel telah memenangkan beberapa penghargaan, termasuk penghargaan

24
Distinguished Scientist dari divisi klinis American Psychological Association
(APA) pada tahun 1078 dan penghargaan APA Distinguished Scientific
Contribution pada tahun 1982.

E. Teori Cognitive-Affective Personality System


1. Pendahuluan terhadap Teori Kepribadian Mischel

Secara umum, teori kepribadian memiliki dua tipe mereka yang melihat
kepribadian sebagai entinitas yang dinamis yang termotivasi oleh dorongan,
persepsi, kebutuhan, tujuan, dan ekspektasi, serta mereka yang melihat
kepribadian sebagai fungsi dari sifat atau disposisi personal yang relatif stabil.
Teori kepribadian yang termasuk kategori pertama adalah teori dari Adler,
Maslow, dan Bandura. Pendekatan ini menekankan pada dinamika kognitif dan
afektif yang berinteraksi dengan lingkungan untuk menghasilkan perilaku.

Kategori kedua menekankan pada pentingnya disposisi personal dan sifat


yang relatif stabil. Teori dari Allport, Eysenck, serta McCrae dan Costa berada
dalam kategori ini. Pendekatan ini melihat manusia termotivasi oleh sejumlah
dorongan dan sifat pribadi yang terbatas, yang cenderung membuat perilaku
seseorang menjadi konsisten. Walter Mischel (1973) pada awalnya menolak
penjelasan teori sifat atas perilaku. Malah ia mendukung gagasan bahwa aktivitas
kognitif dan situasi spesifik mempunyai peranan yang penting dalam menentukan
perilaku. Akan tetapi, baru-baru ini, Mischel dan koleganya (Mischel & Shoda,
1998, 1999; Mischel, Shoda, & Mendoza-Denton, 2002) telah mengajukan suatu
rekonsiliasi antara pendekatan proses dinamis dengan pendekatan disposisi
personal. Teori kepribadian kognitif-afektif ini berpandangan bahwa perilaku
berasal dari disposisi personal yang relatif stabil dan proses kognitif-afektif yang
beriteraksi dengan situasi tertentu.

2. Latar Belakang Sistem Kepribadian Cognitive-Affecctive

Beberapa pakar teori, seperti Hans Eysenck dan Gordon Allport yakin
bahwa kebanyakan perilaku adalah produk dari sifat kepribadian yang relatif
stabil. Akan tetapi, Walter Mischel menolak asumsi ini. Penelitian awalnya

25
(Mischel, 1958, 1961a, 1961b) membuatnya percaya bahwa kebanyakan perilaku
merupakan fungsi dari situasi.

a) Paradoks Konsistensi

Mischel melihat bahwa orang awam maupun psikolog profesional


tampaknya secara intuitif meyakini bahwa perilaku manusia relatif konsisten,
tetapi bukti empiris menunjukkan banyak variasi dalam perilaku suatu situasi
yang disebut Mischel sebagai paradoks konsistensi. Bagi kebanyakan orang,
disposisi pesonal yang global, seperti agresivitas, kejujuran, sifat kikir, sifat tepat
waktu, dan sifat yang lain, tampaknya dapat membuktikan diri sebagai hal yang
dapat menjelaskan kebanyakan dari perilaku kita. Oleh karena itu, banyak orang
mengasumsikan bahwa sifat kepribadian yang global akan timbul setelah suatu
periode waktu dan juga dari satu situasi ke situasi lainnya. Mischel berargumen
bahwa, sebaik-baiknya, orang-orang tersebut hanya separuhnya benar. Ia
berpendapat bahwa beberapa sifat dasar memang bertahan seiring berjalannya
waktu, tetapi hanya ada sedikit bukti yang menujukkan bahwa sifat-sifat tersebut
dapat digeneralisasikan dari satu situasi ke situasi lainnya. Mischel sangat
menentang usaha untuk mengatribusikan perilaku pada sifat global ini. Usaha apa
pun untuk mengklasifikasikan seseorang sebagai ramah, ekstrover, pekerja keras,
dan yang lainnnya, dapat menjadi salah satu cara untuk mendefinisikan
kepribadian, tetapi hal tersebut merupakan suatu taksonomi yang steril, yang tidak
mampu menjelaskan perilaku (Mischel, 1990, 1999, 2004; Mischel dkk., 2002;
Shoda & Mischel, 1998).

b) Interaksi Manusia-Situasi

Pada akhirnya, Mischel (1973, 2004) kemudian dapat melihat bahwa


manusia bukanlah suatu wadah kosong tanpa ada sifat kepribadian yang bertahan
didalamnya. Ia mengakui bahwa kebanyakan orang memiliki suatu konsistensi
dalam perilaku mereka, tetapi ia terus menekankan bahwa situasi mempunyai
dampak yang kuat pada perilaku. Penolakan Mischel untuk menggunakan sifat
sebagai prediktor perilaku tidak disadari oleh ketidakstabilan sementara dari sifat,

26
namun oleh kurangnya konsistensi dari satu situasi ke situasi lainnya. Ia melihat
bahwa banyak disposisi dasar dapat bersifat stabil untuk jangka waktu yang lama.
Sebagai contoh, seorang siswa mungkin mempunyai sejarah sebagai orang yang
rajin dalam hal akademis, tetapi gagal untuk menjadi rajin dalam membersihkan
apartemen atau menjaga mobilnya dalam kondisi prima. Kurangnya kerajinan
dalam membersihkan mobilnya mungkin akibat dari informasi yang tidak
memadai. Oleh karena itu, situasi spesifik berinteraksi dengan kompetensi, minat,
tujuan, nilai, ekspektasi dan hal lainnya dari orang tersebut untuk memprediksikan
perilaku. Bagi Mischel, pandangan mengenai sifat atau disposisi personal ini,
walaupun penting dalam memprediksikan perilaku manusia, melewatkan
signifikansi dari situasi spesifik ketika manusia berfungsi.

Disposisi personal hanya memengaruhi perilaku di bawah kondisi dan


situasi tertentu. Pandangan ini mengindikasikan bahwa perilaku tidak disebabkan
oleh sifat personal yang global, namun oleh persepsi manusia atau dirinya sendiri
dalam situasi tertentu. Sebagai contoh, seorang pemuda yang biasanya pemalu
diantara wanita muda, dapat berperilaku dalam bentuk yang terbuka dan ekstrover
saat bersama dengan pria atau wanita yang lebih tua. Mischel akan mengatakan
bahwa ia adalah keduanya bergantung pada kondisi yang memengarui pemuda
tersebut dalam situasi tersebut.

Pandangan kondisional menyatakan bahwa perilaku dibentuk oleh


disposisi personal ditambah proses kognitif dan afektif yang spesifik dari orang
tersebut. Mischel berargumen bahwa keyakinan, nilai, tujuan, kognisi dan
perasaan dari seseorang berinteraksi dengan disposisi-disposisi tersebut untuk
membentuk perilaku. Sebagai contoh, teori sifat tradisional berpandangan bahwa
manusia dengan sifat rajin biasanya akan berperilaku rajin. Akan tetapi, Mischel
menunjukkan bahwa dalam beragam situasi, seseorang yang rajin dapat
menggunakan sifatnya ini bersama dengan proses kognitif-afektif lainnya untuk
mendapatkan suatu hasil yang spesifik.

3. Sistem Kepribadian Cognitive-Affective

27
Untuk memecahkan paradoks konsistensi yang klasik, Mischel dan Shoda
(Mischel, 2004; Mischel & Shoda, 1995, 1998, 1999; Shoda & Mischel, 1996,
1998) menawarkan sistem kepribadian kognitif-afektif (cognitive-affective
personality system atau disebut juga cognitive-affective processing system
CAPS) yang menjelaskan keberagaman dalam berbagai situasi dan juga stabilitas
dari perilaku dalam diri seseorang. Kurangnya konsistensi yang terlihat dari
perilaku seseorang tidak disebabkan oleh eror yang bersifat acak ataupun situasi.
Akan tetapi, perilaku yang berpotensi untuk dapat diprediksi, yang merefleksikan
pola variasi stabil di dalam diri seseorang. Sistem kepribadian kognitif-afektif
memprediksikan bahwa perilaku seseorang akan berubah dari satu situasi ke
situasi lainnya.

Mischel dan Shoda (Mischel, 1999, 2004; Mischel & Ayduk, 2002; Shoda,
LeeTiernan & Mischel, 2002) percaya bahwa variasi dalam perilaku dapat
dikonseptualisasikan dalam kerangka berpikir berikut: apabila A, maka X; tetapi
apabila B, maka Y. Sebagai contoh, apabila Mark diprovokasi oleh istrinya, maka
ia akan bereaksi agresif. Akan tetapi, saat apabila berubah, begitu juga dengan
maka. Apabila Mark diprovokasi oleh atasannya, maka ia akan bereaksi dengan
kepatuhan. Perilaku Mark terlihat tidak konsisten karena ia bereaksi berbeda pada
stimulus yang sama. Akan tetapi, Mischel dan Shoda berargumen bahwa
diprovokasi oleh dua orang yang berbeda tidak menyusun stimulus yang sama.

Teori ini mengindikasikan bahwa perilaku adalah percabangan dari sifat


kepribadian global yang stabil. Apabila perilaku adalah hasil dari sifat global,
maka hanya ada sedikit variasi individual dalam perilaku. Dengan perkataan lain,
Mark akan bereaksi dalam bentuk yang sama terhadap provokasi, tanpa
memperhatikan situasi spesifik. Akan tetapi, pola variasi yang bertahan lama pada
Mark menunjukkan kurang memadainya teori situasi dari teori sifat. Pola
variasinya adalah ciri khas kepribadian dalam bentuk perilaku, yaitu bentuk yang
konsisten dari variasi perilakunya dalam situasi tertentu (Shoda, LeeTiernan &
Mischel, 2002). Kepribadiannya mempunyai ciri khas yang bersifat stabil dalam
berbagai situasi walaupun saat perilakunya berubah. Mischel (1999) percaya

28
bahwa teori kepribadian yang memadai harus berusaha memprediksi dan
menjelaskan ciri khas kepribadian tersebut daripada mengeliminasi atau tidak
menghiraukannya.

a) Prediksi Perilaku

Kita telah mengedepankan bahwa teori yang efektif harus dapat disebutkan
dalam kerangka kerja apabila-maka, tetapi Mischel (1999, 2004) adalah satu dari
sedikit pakar teori kepribadian yang melakukannya. Posisi teoritis dasarnya dalam
memprediksi dan menjelaskan dipaparkan sebagai berikut, Apabila kepribadian
adalah sistem yang stabil yang memproses informasi mengenai situasi internal
ataupun eksternal, maka mengikuti hal tersebut, saat individu menghadapi situasi
yang berbeda, perilakunya akan bervariasi dari satu situasi ke situasi lainnya.
Mischel mengasumsikan bahwa kepribadian mempunyai stabilitas yang bersifat
sementara dan perilaku dapat bervariasi dari satu situasi ke situasi lainnya. Ia juga
mengasumsikan bahwa prediksi dari perilaku berada pada pengetahuan mengenai
bagaimana dan kapan berbagai unit kognitif-afektif diaktivasi. Unit ini meliputi
pengodean, ekspektasi, keyakinan, kompetensi, rancangan dan strategi regulasi
diri, serta afek dan tujuan.

b) Variabel Situasi

Mischel yakin bahwa pengaruh relatif dari variabel situasi dan kualitas
pribadi dapat ditentukan dengan mengobservasi keseragaman atau perbedaan dari
reaksi manusia dalam suatu situasi tertentu. Saat orang-orang yang berbeda
berperilaku dalam cara yang serupa misalnya, saat menonton adegan emosional
dalam film yang menarik variabel situasi lebih kuat daripada karakterisktik
pribadi. Pada sisi lain, kejadian yang terlihat sama, dapat menghasilkan reaksi
yang sangat berbeda-beda karena kualitas pribadi mengalahkan variabel
situasional. Sebagai contoh, beberapa pekerja dapat sama-sama dipecat dari
pekerjaannya, tetapi perbedaan individu akan mengakibatkan perilaku yang
berbeda-beda, bergantung pada kebutuhan untuk bekerja yang dipersepsikan oleh

29
pekerja-pekerja tersebut, keyakinan mereka atas tingkat keterampilan mereka, dan
persepsi atas kemampuan untuk mencari pekerjaan baru.

Di awal kariernya, Mischel mengadakan suatu studi yang menunjukkan


bahwa interaksi antara situasi dan berbagai kualitas pribadi adalah determinan
yang penting untuk perilaku. Sebagai contoh, dalam salah satu studi, Mischel dan
Ervin Staub (1965) melihat kondisi yang memengaruhi pilihan seseorang atas
suatu hadiah, dan menemukan bahwa situasi dan ekspektasi seseorang atas
kesuksesan sama-sama penting. Peneliti pada awalnya meminta anak laki-laki
kelas 8 untuk menilai ekspektasi mereka atas kesuksesan dalam tugas penalaran
verbal dan informasi umum. Kemudian, setelah para murid mengerjakan beberapa
permasalahan, beberapa murid diberitahukan bahwa mereka telah berhasil
mengerjakan permasalahan tersebut; beberapa diberitahukan bahwa mereka telah
gagal; dan kelompok ketiga tidak mendapatkan informasi apa pun. Aak-anak ini
kemudian diminta untuk memilih antara hadiah yang langsung diberikan, tidak
terlalu bernilai, dan tidak berkaitan; dengan hadiah yang ditunda pemberiannya,
lebih bernilai, dan berkaitan. Konsisten dengan teori interaksi Mischel, murid-
murid yang telah diberitahukan bahwa mereka berhasil dalam tugas serupa yang
diberikan sebelumnya, akan lebih memilih untuk menunggu hadiah yang lebih
bernilai dan berkaitan dengan peforma mereka; mereka yang diinformasikan telah
gagal pada tugas sebelumnya cenderung memilih hadiah langsung yang tidak
terlalu bernilai; dan mereka yang tidak menerima umpan-balik dari tugas
sebelumnya akan membuat keputusan berdasarkan ekspektasi awal mereka
mengenai kesuksesan; yaitu murid-murid dalam kelompok tanpa informasi yang
pada awalnya mempunyai ekspektasi yang tinggi atas kesuksesan, akan membuat
keputusan yang serupa dengan mereka yang percaya bahwa mereka telah berhasil;
sementara mereka yang pada awalnya mempunyai ekspektasi yang rendah atas
kesuksesan membuat keputusan yang serupa dengan mereka yang percaya bahwa
mereka telah gagal. Hal ini menunjukkan bagaimana umpan-balik situasional
berinteraksi dengan ekspektasi atas kesuksesan untuk mempengaruhi pilihan
hadiah.

30
Mischel dan koleganya juga telah menunjukkan bahwa anak-anak dapat
menggunakan proses kognitif mereka untuk mengubah situasi yang sulit menjadi
lebih mudah. Sebagai contoh, Mischel dan Ebbe B. Ebbesen (1970) menemukan
bahwa beberapa anak mampu menggunakan kemampuan kognitif mereka untuk
mengubah kegiatan menunggu yang tidak menyenangkan untuk suatu hadiah
menjadi situasi yang lebih menyenangkan. Dalam penelitian penundaan-kepuasan
ini, anak-anak taman kanak-kanak diberitahukan bahwa mereka akan menerima
suatu hadiah kecil setelah periode waktu yang singkat, tetapi hadiah yang lebih
besar akan diberikan apabila mereka dapat menunggu lebih lama. Anak-anak yang
memikirkan hadiahnya, memiliki kesulitan untuk menunggu; sementara anak-
anak yang mampu menunggu paling lama, menggunakan bergbagai bentuk
distraksi diri untuk menghindari memikirkan hadiahnya. Mereka tidak mau
melihat ke arah hadiah, menutup mata, atau menyanyi, untuk mengubah situasi
menunggu yang tidak menyenagkan menjadi situasi yang lebih menyaenangkan.
Hasil penelitian ini dan yang lainnya, mengarahkan Mischel untuk
menyuimpulakn bahwa, baik situsi ataupun komponen kognitif-afektif yang
beragam dari perilaku mempunyai peranan dalam menentukan perilaku.

c) Unit Kognitif-Afektif

Pada tahun 1973, Mischel menawarkan rangkaian dari lima variabel


manusia yang saling bertumpukan dan relatif stabil, yang berinteraksi dengan
situasi untuk menentukan perilaku. Penelitian selama hampir lebih dari 30 tahun
tersebut membuat Mischel dan rekan-rekannya memperluas konsepsi mereka atas
variabel-variabel ini, yang mereka sebut dengan unit-unit kognitif-afektif (Mischel
1999, 2004; Mischel & Ayduk, 2002; Mischel & Shoda, 1995, 1998, 1999).
Variabel manusia ini bergeser dari penekanan atas apa yang dimiliki oleh
seseorang (misalnya, sifat global) menjadi apa yang dilakukan seseorang dalam
situasi tertentu. Apa yang dilakukan seseorang meliputi kualitas kognitif dan
afektif, seperti berpikir, membuat rencana, merasa, dan mengevaluasi; tidak hanya
sekedar tindakan.

31
Unit-unit kognitif-afektif meliputi semua aspek psikologis, sosial, dan
fisiologis dari manusia yang menyebabkan mereka berinteraksi dengan
lingkungan mereka dengan pola variasi yang relatif stabil. Unit-unit ini meliputi
(1) strategi encoding, (2) kompetensi dan strategi regulasi diri, (3) ekspektasi dan
keyakinan, (4) tujuan dan nilai, serta (5) respons afektif.

a. Strategi Encoding

Satu unit kognitif-afektif penting yang paling memengaruhi perilaku


adalah konstruk personal dari seseorang dan strategi encoding, yaitu cara manusia
mengatagorisasikan informasi yang diterima dari stimulus eksternal. Manusia
menggunakan proses kognitif untuk mengubah stimulus ini menjadi konstruk
personal, termasuk konsep diri, pandangan mereka termasuk orang lain, dan cara
mereka melihat dunia. Orang yang berbeda melakukan encoding yang berbeda
terhadap peristiwa yang sama, yang menjelaskan adanya perbedaan individual
dalam konstruk personal. Selain itu, orang yang sama dapat melakukan encoding
yang berbeda atas peristiwa yang sama dalam situasi yang berbeda. Stimulus input
akan berubah secara substansial oleh apa yang secara selektif diperhatikan orang-
orang, bagaimana mereka menginterpretasikan pengalaman mereka, dan cara
mereka mengatagorisasikan input-input tersebut.

b. Kompetensi dan Strategi Regulasi Diri

Keyakinan kita atas apa yang dapat kita lakukan berkaitan dengan
kompetensi kita. Mischel (1990) menggunakan istilah kompetensi untuk merujuk
pada beragam informasi yang kita dapatkan mengenai dunia dan hubungan kita
dengannya. Dengan mengobservasi perilaku kita sendiri dan perilaku orang lain,
kita belajar apa yang dapat dan tidak dapat kita lakukan dalam situasi tertentu.
Mischel setuju dengan Bandura bahwa kita tidak memperhatikan semua stimulus
yang ada dalam lingkungan kita, melainkan secara selektif mengonstruksi atau
membangun dunia nyata versi kita sendiri. Oleh karena itu, kita mendapatkan
seperangkat keyakinan mengenai kemampuan dan performa kita, sering kali tanpa
melakukan performa tersebut secara aktual.

32
Serupa dengan hal tersebut, Mischel yakin bahwa manusia menggunakan
strategi regulasi diri untuk mengontrol perilaku mereka melalui tujuan yang
diberikan pada diri sendiri dan konsekuensi yang dibuat diri sendiri. Manusia
tidak membutuhkan penghargaan dan hukuman yang bersifat eksternal untuk
membentuk perilaku; mereka dapat menentukan tujuan untuk diri mereka sendiri
dan kemudiam memberikan penghargaan atau kritik pada dirinya sendiri berkaitan
dengan apakah perilaku tersebut menggerakan mereka kearah tujuan-tujuan
tersebut. Sistem regulasi diri manusia membuat mereka mampu untuk
merencanakan, memulai, dan mempertahankan perilaku, bahkan ketika dukungan
lemah atau tidak ada sama sekali. Walaupun begitu, tujuan yang tidak tepat dan
strategi yang tidak efektif dapat meningkatkan kecemasan dan berakibat pada
kegagalan.

c. Ekspektasi dan Keyakinan

Situasi apa pun akan menghasilkan banyak potesni perilaku, tetapi


bagaimana manusia berperilaku bergantung pada ekspektasi dan keyakinan
spesifik mereka mengenai konsekuensi dari masing-masing kemungkinan perilaku
yang berbeda-beda. Pengetahuan atas hipotesis atau keyakian seseorang mengenai
hasil dari situasi apa pun adalah prediktor yang lebih baik atas perilaku daripada
pengetahuan mengenai kemampuan mereka untuk melakukan perilaku (Mischel
dkk., 2002).

Dari pengalaman sebelumnya dan dengan mengobservasi orang lain,


manusia belajar untuk melakukan perilaku-perilaku yang mereka harapkan akan
menghasilkan pencapaian yang paling bernilai secara subjektif. Saat seseorang
tidak mempunyai informasi mengenai apa yang dapat diharapkan dari suatu
perilaku, orang tersebut akan melakukan perilaku yang mendapat penguatan yang
paling besar pada situasi yang mirip di masa lalu. Sebagai contoh, seorang
mahasiswa yang belum pernah mengikuti GER, sebagian dipengaruhi oleh
bagaimana perilaku dalam persiapan ujian yang sebelumnya menghasilan
pencapaian yang paling bernilai. Seorang mahasiswa yang sebelumnya

33
mendapatkan penguatan setelah menggunakan teknik relaksasi diri dalam
mempersiapkan diri untuk ujian, akan memiliki ekspektasi bahwa teknik yang
sama akan membantunya berhasil dalam GRE. Mischel (1999. 2004) merujuk tipe
ekspektasi ini sebagai ekspektasi perilaku-hasil.

Mischel juga mengidentifikasi tipe kedua dari ekspektasi ekspektasi


stimulus-hasil, yang merujuk pada banyak kondisi stimulus yang memengaruhi
kemungkinan konsekuensi atau pola perilaku apa pun. Ekspektasi stimulus-hasil
membantu kita memprediksi apa kejadian yang mungkin terjadi, yang mengikuti
suatu stimulus tertentu. Mungkin contoh yang paling jelas adalah ekspektasi atas
petir yang keras dan tidak menyenangkan mengikuti penampakan dari kilat
(stimulus).

Mischel (1990) yakin bahwa satu alasan untuk ketidakkonsistenan perilaku


adalah pada ketidakmampuan kita untuk memprediksi perilaku orang lain. Kita
hanya mempunyai sedikit keraguan salam mengatribusikan sifat kepribadian pada
orang lain, namun saat kita melihat bahwa perilaku mereka tidak konsisten dengan
sifat-sifat ini, kita menjadi kurang yakin mengenai bagaimana harus bereaksi pada
mereka. Perilaku kita akan konsisten dari situasi satu ke situasi lainnya, sampai
pada tahap ketika ekspektasi kita tidak berubah. Permasalahannya, ekspektasi kita
tidak bersifat konstan; yaitu berubah karena kita dapat mendiskriminasikan dan
mengevaluasi berbagai potensi penguatan dalam situasi tertentu (Mischel &
Ayduk, 2002).

d. Tujuan dan Nilai

Manusia tidak bereaksi secara pasif pada situasi, tetapi secara aktif dan
terarah pada tujuan-tujuan. Mereka merumuskan tujuan, merancang rencana untuk
mencapai tujuan, dan kemudian menciptakan situasi mereka sendiri. Tujuan, nilai,
dan preferensi subjektif dari orang-orang merepresentasikan unit kognitif-afektif
yang keempat. Nilai, tujuan, dan minat, bersama dengan kompetensi, adalah
beberapa dari unit kognitif-afektif yang bersifat stabil. Satu alsan atas konsistensi
ini adalah aspek menimbulkan emosi yang dimiliki unit-unit ini.

34
e. Respons Afektif

Respons afektif meliputi emosi, perasaan, dan reaksi fisiologis. Mischel


melihat respons afektif tidak dapat dipisahkan dari kognisi dan menilai unit-unit
kognitif-afektif yang saling terkait lebih dasar daripada unit kognitif-afektif
lainnya. Oleh karena itu, respons efektif tidak hadir sendirian. Tidak hanya dapat
dipisahkan dari proses kognitif, respons afektif juga memengaruhi masing-masing
dari unit kognitif-afektif lainnya.

Kesimpulannya, unit-unit kognitif-afektif yang saling berkaitan,


berkontribusi pada perilaku saat berinteraksi dengan sifat kepribadian yang stabil
dan lingkungan yang reseptif. Aspek-aspek yang terpenting dari variabel ini
meliputi (1) strategi encoding, atau bagaimana orang memandang atau
mengatagorisasikan suatu kejadian; (2) kompetensi dan strategi regulasi diri, atau
apa yang dapat orang lakukan serta strategi dan rencana mereka untuk
menghasilkan perilaku yang diinginkan; (3) keyakian mengenai suatu situasi serta
ekspektasi perilaku-hasil dan stimulus-hasil; (4) tujuan, nilai, dan preferensi yang
subjektif, yang menentukan sebagian dari perhatian selektif terhadap suatu
kejadian ; serta (5) respons afektif, termasuk perasaan dan emosi, dan juga afek
yang menyertai reaksi fisiologis.

F. Kritik terhadap Teori Belajar Kognitif Sosial

Teori belajar kognitif sosial sangat menarik untuk mereka yang


menghargai kedalaman teori belajr, dan asumsi spekulatif bahwa manusia adalah
makhluk yang memiliki kognisi dan pandangan masa depan. Rotter dan Mischel
telah sama-sama mengembangkan teori pembelajaran untuk manusia yang
berpikir, memberikan nilai, dan terarah pada tujuan dibandingkan dibandingkan
untuk hewan laboratorium. Seperti pakar teori lainnya, nilai dari teori belajar
kognitif sosial berada pada bagaimana teori tersebut memenuhi enam kriteria dari
teori yang bermanfaat.

1. Teori belajar kognitif sosial telah menghasilkan banyak penelitian baik


dari segi kualitas maupun kuantitas. Sebagai contoh konsep Rotter

35
mengenai locus of control, akan tetapi, locus of contol bukan merupakan
inti dari teori kepribadian Rotter, dan teorinya sendiri belum menghasilkan
jumlah penelitian yang sama. Berkebalikan dengan konsep locus of
control Rotter, teori Mischel menghasilkan jumlah penelitian yang lebih
sedikit namun lebih relevan terhadap inti teori.
2. Sifat empiris dari kedua hasil kerja Rotter dan Mischel memaparkan teori
untuk dapat dikaji ulang dan diverifikasi. Akan tetapi, rumusan prediksi
dasar dan rumusan prediksi umum sepenuhnya bersifat hipotesis dan tidak
dapat dikaji secara akurat. Sebagai perbandingan, teori Mischel lebih dapat
dikaji ulang. Pada kenyataannya, penelitian mengenai penundaan kepuasan
adalah faktor yang mendorong Mischel untuk lebih menekankan variabel
situasi dan mengurangi ketidakkonsistenan dari perilaku.
3. Secara teoretis, rumusan prediksi umum Rotter dan komponen-
komponennya dapat memberikan kerangka berpikir untuk memhami
perilaku manusia. Saat ini, teori Mischel dinilai sedikit diatas rata-rata
pada kriteria mengorganisasikan pengetahuan, karena terus memperluas
jangkauan teorinya untuk memasukkan disposisipersonal dan unit-unit
kognitif-afektif yang dapat memprediksi dan menjelaskan perilaku.
4. Gagasan teori Rotter atas psikoterapi cukup eksplisit dan merupakan
panduan yang cukup membantu bagi terapis, tetapi teori kepribadiannya
tidak sepraktis itu. Rumus matematika berfungsi sebagai kerangka berpikir
yang berguna untuk mengorganisasikan pengetahuan, tetapi tidak dapat
memberikan bentuk tindakan yang spesifik untuk kalangan praktisi. Seupa
dengan teori tersebut, teori Mischel hanya cukup untuk terapis, guru, dan
orang tua.
5. Teori Rotter dan Mischel secara internal konsisten, karena mereka sangat
berhati-hati dalam mendefinisikan istilah, sehingga istilah yang sama tidak
akan mempunyai dua arti atau lebih.
6. Secara umum, teori ini relatif sederhana dan tidak berusaha untuk
memberika penjelasan mengenai semua kepribadian manusia.

36
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan:

Teori Belajar Kognitif Sosial dari Rotter dan Mischel berusaha untuk membuat
teori kekuatan penguatan dengan memakai teori kognitif. Menurut Rotter, perilaku
manusia dalam situasi yang spesifik adalah fungsi dari ekspektasi mereka atas
penguatan dan kekuatan dari kebutuhan yang terpuaskan oleh penguatan tersebut.
Unit Kognitif-Afektif meliputi strategi econding, atau cara mereka
menginterpretasi dan menggolongkan informasi; kompetensi dan rencana regulasi
diri, atau apa yang dapat mereka lakukan dan strategi mereka untuk
melakukannya; ekspektasi dan keyakinan mereka mengenai persepsi konsekuensi
dari tindakan mereka; tujuan dan nilai; serta respons afektif mereka.

37
DAFTAR PUSTAKA

Feist, J & dkk. (2009). Teori Kepribadian Theories of Personality edisi 7.


Jakarta: Salemba Humanika

http://tiffany191193.blogspot.com/2012/11/pengertian-psikologi-kepribadian-
dari.html. Di akses pada tanggal 13 Maret 2014

38