Anda di halaman 1dari 89

PENJUALAN CICILAN

Penjualan harta benda tak gerak seringkali dilakukan berdasarkan


rencana pembayaran yang ditangguhkan, dimana pihak penjualan menerima
uang muka, (down payment) dan sisanya dalam bentuk pembayaran cicilan
selama beberap tahun.

Dalam upaya untuk mengurangi atau menghindari kerugian pemilikan


kembali, pihak penjual harus mempertimbangkan tindakan pencegahan sebagai
berikut:

(1) Uang muka yang ditetapkan harus cukup besar untuk menutup
penurunan nilai barang karena perubahannya dari barang baru menjadi
barang bekas.
(2) Periode pembayaran cicilan harus tidak terlalu lama atau panjang,
sebaiknya tiap bulan.
(3) Pembayaran cicilan berkala tidak harus melebihi penurunan nilai barang
yang terjadi di antara pembayaran berkal. Apabila nilai barang ini
melebihi saldo kontrak yang belum dibayar, maka pihak pembeli segan
untuk tidak memenuhi kontrak.

1. METODE PENETAPAN LABA KOTOR PADA PENJUALAN CICILAN

Penetapan laba kotor atas penjualan cicilan:

(1) laba kotor dapat dilkaitkan dengan periode penjualan yang terjadi atau

(2) laba kotor dapat dikaitkan dengan periode penagihan per kas atau kontrak
cicilan.

1.a. Laba Kotor dalam Periode Penjualan

Hal ini dilakukan dengan jalan mendebet perkiraan beban yang


bersangkutan dan dengan mengkredit penyisihan untuk beban yang
diantisipasi.

1.b. Penetapan Laba Kotor dalam Periode Penagihan Per Kas

Prosedur penetapan laba kotor dalam periode penagihan per kas adalah:

(1) Penagihan dipandang sebagai perolehan kembali harga pokok.


(2) Penagihan dipandang sebagai realisasi laba
(3) Penagihan dipandang sebagai perolehan kembali harga pokok dan
realisasi laba
Metode yang tersebut pada bagian (3) di atas, yang mengharuskan
penetapan laba kotor sebanding dengan penagihan, disebut sebagai akuntansi
dengan metode atau dasar cicilan.

2. METODE CICILAN

Pada penggunaan metode cicilan dalam perkiraan, maka selisih antara


harga jual kontrak dan harga pokok penjualan dicatat sebagai laba kotor yang
ditangguhkan. Dengan kata lain persentase laba kotor awal atas penjualan
diperhitungkan pada penagihan berkala untuk menentukan jumlah yang harus
ditetapkan sebagai pendapatan. Pada tiap akhir periode saldo laba kotor yang
ditangguhkan, yang masih terdapat dalam buku- buku sama dengan persentase
laba kotor yang diperhitungkan atas saldo piutang cicilan pada tanggal itu.

ILUSTRASI

A. Penjualan Harta Benda Tak-Gerak dengan Dasar Cicilan

Asumsikan bahwa pada tanggal 1 oktober 2006, Westwood Realty Co.


menjual harta benda miliknya, yang nilai bukunya sebesar $30.000, kepada S.F.
West dengan harga $50.000. Perusahaan ini menerima per kas $10.000 pda
tanggal itu untuk penjualan ini dan wesel hipotik sebesar $40.000 yang dapat
dibayar dalam 20 kali cicilan semesteran @$2.000 ditambah bunga 12% atas
pokok yang belum dibayar. Komisi dan biaya lainnya atas penjualan ini yang
berjumlah $1.500 dibayar.
Transaksi Ayat Jurnal

Penetapan Laba Dalam Periode Penjualan Penetapan Laba Berkala Dalam Proporsi
Penagihan

1 Oktober 2006 Piutang dari SF West $50.000 Piutang dari SF West $50.000

Dijual harta benda tak gerak Hrt bnd tak gerak (P A)............$30.000 Hrt bnd tak Gerak(PA). $30.000
(persil A) nilai buku $30.000
dgn harga $50.000 Laba atas Penjualan (PA). $20.000 Laba kotor yg
ditangguhkan(PA)...................20.000

Diterima uang muka $10.000 Kas ...$10.000 Kas ..$10.000


dan wesel hipotik untuk
sisanya sebesar $40.000 Wesel Hipotik...$40.000 Wesel Hipotik40.000

Piutang dari SF West$50.000 Piutang dari SF West....$50.000

Dibayar biaya penjualan Biaya penjualan .....$ 1.500 Biaya penjualan.$ 1.500
sebesar $1.500
Kas.. Kas $ 1.500
$1.500

31 Desember2006 Bunga Akrual atas Wesel Hipotik..$ 1.200 Bunga Akrual Atas Wesel Hipotik $ 1.200

Menyesuaikan Perkiraan Untuk Pendapatan Pendapatan


bunga.........................$ 1.200 Bunga.. $ 1.200
(1) Bunga Yang Masih
Harus Diterima Atas Laba Kotor Yg Ditangguhkan (Persil A) $
Wesel Hipotik $40.000 4.000
Sebesar 12% Untuk 3
Bulan, $1.200 Laba kotor yang Direalisasi (Pensil
A) $ 4.000
(2) (Pelaporan dgn
metode cicilan). Laba
kotor 40% ($20.000
laba kotor / $50.000
harga jual): uang kas
yang ditagih $10.000
laba kotor yang
direalisasi 40% dari
$10.000 atau $4.000

Untuk menutup perkiraan Keuntungan atas Penjualan (persil A).$20.000 Laba Kotor Yg Direalisasi (Pensil A)
nominal $4.000
Pendapatan Bunga..
1.200 Pendapatan bunga.. 1.200

Biaya penjualan Biaya penjualan .


$ 1.500 . $ 1.500

Ikhtisar Rugi-Laba... Ikhtisar Rugi-Laba


19.700 $ 3.700

1 Januari 2007 Kas .....$ 1.200 Kas$ 1.200

Untuk mengimbangi (reverse) Akrual atas Wesel hipotik Akrual atas Wesel hipotik
bunga yang masih harus .. $ 1.200 $ 1.200
diterima, yang ditetapkan
pada akhir periode

1 April 2007 Kas $ 4.400 Kas..$ 4.400

Diterima cicilan semester atas Wesel Hipotik . Wesel Hipotik


wesel hipotik $2.000 dan $2.000 $ 2.000
bunga atas pokok $40.000
@12% untuk 6 bulan , $2.400 Pendapatan bunga Pendapatan bunga
$2.400 $ 2.400

1 Oktober 2007 Kas $ 4.280 Kas $ 4.280

Diterima cicilan semester atas Wesel Hipotik.. Wesel Hipotik


wesel hipotik $2.000 dan $2.000 $ 2.000
bunga atas pokok $38.000
@12% untuk 6 bulan , $2.280 Pendapatan Pendapatan bunga
bunga $2.280 .$2.280

31 Desember 2007 Bunga Akrual atas Wesel Hipotik . Bunga Akrual atas Wesel Hipotik $
$ 1.080 1.080
Menyesuaikan perkiraan untuk
Pendapatan bunga Pendapatan Bunga
(1) bunga yang masih harus . 1.080 $1.080
diterima atas wesel hipotik
$36.000 @12% untuk 3 bulan, Laba kotor yang Ditangguhkan (PA).$
$1.080 1.600

(2) (pelaporan dengan metode Laba kotor yang Direalisasi (PA)


cicilan ). Laba kotor yang $ 1.600
direalisasi tingkat laba kotor
40%, uang kas yang ditagih
$4.000 : laba kotor yang
direalisasi 40% dari $4.000
atau $1.600

Untuk menutup perkiraan Pendapatan Bunga $ Laba kotor yang Direalisasi (PA)
nominal 4.560 ..$1.600

Ikhtisar Rugi-Laba Pendapatan Bunga .. $


.. $ 4.560 4.560
Ikhtisar Rugi-Laba
$ 6.160

Asumsikan bahwa dalam contoh di atas pihak pembeli gagal memenuhi cicilan
yang harus dibayar pada tanggal 1 April 2008. Pihak penjual menyerahkan
wesel hipotik dengan saldo yang belum dibayar sebesar $36.000 dan memiliki
kembali harta benda itu. Penilaian harta benda pada tanggal ini menunjukkan
nilai pasar wajar sebesar $28.500. Ayat-ayat jurnalnya di bawah masing-masing
metode berbunyi sebagai berikut.

Ayat Jurnal

Transaksi Penetapan Laba Dalam Penetapan Laba


Periode Penjualan Berkala Dalam
Proporsi Penagihan
Harta benda tak-gerak yang HB tak gerak (PA)$28.500 HB Tak-Gerak (PA)... $28.500
di peroleh kembali (Persil A)
yang dinilai sebesar $28.500; Kerugian Atas Pem Kbl (P A) $ L K yg Ditangguhkan (PA).
7.500 $14.400*
wesel hipotik yang diserahkan
dengan saldo yang belum Wesel Hipotik.. .. Wesel Hipotik ...$36.000
dibayar $36.000 $36.000
LB Atas Pem Kbl (PA)
.$6.900

Ket:
14.400 = 40% x $ 36.000
Kerugian dan keuntungan pada masing-masing metode di atas dapat kita
buktikan dengan penghitungan sebagai berikut:

Ayat jurnal
Penetapan laba berkala
Penetapan laba
dalam proporsi penagihan
dlm periode
penjualan

Total yang ditagih dan diterima.


$14.000*
$14.000
Kerugian dalam nilai harta benda yang dimiliki kembali:

Dasar semula.. .
$30.000
1.500
Nilai pasar yang wajar atas perolehan kembali
1.500
..28.500

$12.500
$12.500
Keuntungan bersih.....................
5.600*
20.000
Keuntungan yang ditetapkan sebelum pemilikan
kembali
$ 6.900
($ 7.500)
Keuntungan (kerugian) atas pemilikan kembali..

Total angsuran yang telah dibayar:


$10.000 + $4.000= $ 14.000
Total Laba Kotor yang ditangguhkan
Tahun 2006 $4.000 + Tahun 2007 $1.600 = $ 5.600

2) Penjualan Barang Dagangan Berdasarkan Cicilan

Ilustrasi akuntansi untuk penjualan barang dagangan yang berdasarkan


cicilan, asumsikan bahwa neraca untuk Kelton Sales Co tanggal 1 Januari 2007
adalah sebagai berikut:

Kas $ Hutang usaha $


25.000 40.000
Persediaan barang Laba kotor yang di
dagangan. 100.00 tangguhkan atas
0 penjualan cicilan, tahun
Piutang usaha (biasa) 2006 22.80
15.00 0
Piutang usaha cicilan, 0 Laba kotor yang
tahun 2006 ditangguhkan atas
penjualan cicilan, tahun
Piutang usaha 7.00
2005
cicilan,tahun 2005 60.00 0
0 Modal saham.
100.00
20.00 Laba yang 0
Total aktiva.. 0 ditangguhkan
50.20
Total kewajiban dan 0
modal

$220.0 $220.0
00 00

Penjualan cicilan tahun 2006 dan tahun 2005 dilakukan dengan tingkat laba
kotor masing-masing sebesar 38% dan 35%. Pada tanggal 1 Januari 2007,
dengan piutang usaha cicilan tahun 2006 sebesar $60.000 yang masih ada,
melaporkan laba kotor yang ditangguhkan sebesar 38% dari jumlah ini, yakni
sebesar $22.800, dengan piutang usaha cicilan tahun 2005 yang berjumlah
sebesar $20.000, melaporkan laba kotor yang ditangguhkan sebesar 35%dari
jumlah ini, atau sebesar $7.000.

Transaksi dan ayat jurnal untuk Kelton Sales Co. yang berkaitan dengan
penjualan biasa dan penjualan cicilan tahun 2007 adalah sebagai berikut:

Transaksi Ayat jurnal

1 Januari-31 Desember Kas$250.000

(1) Penjualan biasa, yang terdiri dari penjualan Piutang usaha (biasa).. 200.000
per kas (tunai) $250.000, dan penjualan dengan
kredit $200.000; penjualan cicilan sebesar Penjualan (biasa) $450.000
$150.000
Piutang usaha cicilan 2007$150.000

Penjualan cicilan. ..
$150.000

(2) Pembelian barang dagangan dengan kredit Pembelian.. $425.000


sebesar $425.000.
Hutang usaha $425.000

(3) penerimaan tambahan dari penjualan per Kas. $325.000


kas dan dari sumber sabagai berikut:
Piutang usaha cicilan (biasa) ..
Piutang usaha biasa...$190.000 $190.000

Piutang usaha cicilan 2007 80.000 Piutang usaha cicilan, 2007 $


80.000
Piutang usaha cicilan 2006 40.000
Piutang usaha cicilan, 2006 $
Piutang usaha cicilan 2005 15.000 40.000

Piutang usaha cicilan, 2005 $


15.000

(4) Pembayaran untuk: Hutang usaha .. $435.000

Hutang usaha $435.000 Biaya operasi$120.000

Dikurangi potongan yg diambil 5.000 Potongan pembelian. $ 5.000


$430.000
Kas
Biaya operasi..120.000 550.000

Penyesuaian dan Penutupan Per 31 Desember Harga pokok penjualan cicilan $90.000

(5) Untuk mencatat harga pokok barang yang Pengiriman atas penjualan
berkaitan dengan penjualan cicilan, $90.000. Cicilan.$90.000

(6)Untuk menutup perkiraan penjualan cicilan Penjualan cicilan..$150.000


dan harga pokok penjualan dan untuk mencatat
laba kotor atas penjualan cicilan untuk tahun Harga pokok penjualan Cicilan..
ini, $60.000 (40% dari penjualan cicilan) $ 90.000

Laba kotor yang ditangguhkan atas

Penjualan cicilan, tahun 2007


$60.000

(7)Untuk mencatat laba kotor yang direalisasi Perhitungan persentase laba kotor:
sebagai akibat dari penagihan atas piutang
usaha cicilan tahun 2007, 2006, dan 2005 Th 2005: 7.000/ 20.000 x 100%
sebagai berikut: = 35%

Persentase laba kotor: Th2006: 22.800/ 60.000 x 100 %


= 38%
Laba ditangguhkan x 100%
Th 2007: (150.000 90.000)/ 150.000 x 100%
Penjualan cicilan = 40%
Piutang usaha cicilan tahun 2007

40% dari $ 80.000 Laba kotor yang ditangguhkan atas


$ 32.000
penjualan cicilan th 2007. $ 32.000
Piutang usaha cicilan tahun 2006
Laba kotor yang ditangguhkan atas
38% dari $ 40.000..
$ 15.200 penjualan cicilan, th 2006 $ 15.200

Piutang usaha cicilan tahun 2005 Laba kotor yang ditangguhkan atas

35% dari $ 15.000 .. penjualan cicilan th 2005.. $ 5.250


$5.250
Laba kotor yang direalisasi atas
penjualan cicilan,

tahun 2005-2007. ..
$ 52.450

(8) Untuk menutup perkiraan persediaan awal, Ikhtisar Rugi-Laba.. ..$430.000


pembelian, potongan pembelian, dan
pengiriman penjualan cicilan ke dalam Ikhtisar Pengiriman Penjualan Cicilan 90.000
Rugi-Laba, yang dengan demikian,
mengikhtisarkan barang-barang yang tersedia Potongan Pembelian. 5.000
unutk penjualan biasa ($430.000)
Persediaan Brg Dgn,1 Januari 2007.
$100.000

Pembelian....
425.000

(9)Untuk mencatat persediaan akhir yang Persediaan Brg Dgn 31 Des 2007...$120.000
dengan demikian mengikhtisarkan harga pokok
barang yang berkaitan dengan penjualan biasa Ikhtisar Rugi-Laba.
($310.000)maka persediaan akhir sebesar $120.000
430.000 310.000 = 120.000

(10)Untuk menutup penjualan biasa ke dalam Penjualan (biasa). $450.000


Ikhtisar Rugi-Laba ($450.000)
Ikhtisar Rugi-Laba. $450.000

(11)Untuk menutup laba kotor yang direalisasi Laba kotor yang direalisasi Atas penj cicilan
atas penjualan cicilan tahun berjalan dan tahun
sebelumnya ke dalam Ikhtisar R/L Tahun 2005-2007...$ 52.450

Ikhtisar Rugi-Laba. $
52.450

(12)Untuk menutup biaya operasi ke dalam Ikhtisar Rugi-Laba $120.000


Ikhtisar Rugi-Laba
Biaya Operasi
$120.000

(13)Untuk Mencatat Hutang Pajak Penghasilan Pajak Penghasilan. $28.980


Yang Diperkirakan Sebesar 40% Dari Laba
Bersih Sebelum Pajak sebesar : Hutang Pajak penghasilan $28.980

Ayat jurnal penutup Maka besarnya PPn adalah:

1. Menutup perkiraan beban persediaan 40% x $ 72.450 = $ 28.980


awal

Ikhtisar R/L ..$ 645.000

Persed awal100.000

Pembelian425.000

Beban operasi120.000

2. Menutup perkiraan pendapatan &


persed akhir
Persed akhir..120.000

Penjualan450.000

Pot. Pembelian. 5.000

HPP cicilan. 90.000

Laba yg direalisasi.. 52.450

Ikhtisar R/L
717.450

Maka laba sebelum pajak sebesar

$717.450 - $ 645.000 = $ 72.450

(14)Untuk menutup pajak penghasilan ke dalam Ikhtisar Rugi-Laba. $28.980


Ikhtisar Rugi-Laba
Pajak Penghasilan...
$28.980

(15)Untuk memindahkan laba bersih ke laba Ikhtisar Rugi-Laba $43.470


yang ditahan ($43.470) dengan perhitungan:
Laba Yang Ditahan $43.470
$72.450 - $ 28.980 = $ 43.470

Dalam ilustrasi, harga pokok penjualan cicilan ditetapkan sebesar $90.000; dan,
dengan demikian, laba kotor atas penjualan ini dalah sebesar $60.000, atau
40% dari penjualan cicilan sebesar $150.000. Dalam menghitung harga pokok
barang yang berkaitan dengan penjualan biasa atau regular, jumlah barang-
barang yang tersedia untuk penjualan biasa harus ditetapkan lebih dahulu.
Jumlah ini adalah sebesar $430.000- yakni total persediaan awal sebesar
$100.000 dan pembelian sebesar $425.000, dikurangi potongan pembelian
sebesar $5.000, dan pengiriman atas penjualan cicilan sebesar $90.000. Harga
pokok barang yang berkaitan dengan penjualan biasa dalah sebesar $310.000-
yakni barang-barang yang tersedia untuk penjualan biasa sebesar $430.000
dikurangi persediaan sebesar $120.000.

3) Penyusunan Laporan Keuangan Pada Penggunaan Metode


Cicilan

Neraca, perhitungan rugi-laba, dan skedul yang memberikan analisis laba


penjualan cicilan untuk perusahaan contoh kita, Kelton Sales Co, yang disusun
tahun 2007 diperlihatkan sebagai berikut:

Kelton Seles Co
Neraca
31 Desember 2007
Aktiva Kewajiban Dan Modal Pemegang Saham

Aktiva lancar: Kewajiban


Kas... Kewajiban Lancar:
$ 50.000 Hutang Usaha $ 30.000
Piutang usaha (biasa) Hutang Pajak penghasilan 28.980
25.000 $ 58.980

Pendapatan Yang Ditangguhkan:


Piutang usaha cicilan Laba Kotor Yang Ditangguhkan Atas
2007 . $ 70.000 penjualan cicilan:
2006 . 20.000 2007 . $ 28.000
2005 . 5.000 2006 . 7.600
95.000 2005 . 1.750
Persediaan Barang Dagangan $ 37.350
120,000
Total kewajiban.
$ 96.330
Modal Pemegang Saham
Modal saham. .
$100.000
Laba yang ditahan:
Saldo, 1 Januari $50.200
Laba bersih utk th 2007$ 43.470
Total aktiva . 93.670
$290.000 Total modal pemegang saham.
193.670
Total kewajiban & modal pemegang shm
$290.000

Kelton Sales Co
Perhitungan Rugi-Laba
Untuk Tahun yang Berakhir per 31 Desember 2007
Penjuala Penjuala Total
n n biasa
cicilan
Penjualan $150.00 $450.00 600.00
.. 0 0 0
Harga Pokok Penjualan:
Persediaan Barang Dagangan,
1 Januari
2007. $100.000
Pembelian$425.000
Dikurangi Pot Pembelian 5.000
420.000

Brg dgn yang tersedia utk dijual... 90.000 310.000 400.00


$520.000 0
Dikurangi persediaan barang dagangan 60.000 $140.000
31 Desember 2007 200.00
120.000 28.000 0

Laba 28.00
kotor 0
Dikurangi laba kotor yang ditangguhkan $32.000 $140.000
atas pen
jualan cicilan tahun 2007 (lihat nrc penj
ciciln 07) $172.00
0

Laba kotor yang direalisasi atas penjualan


tahun
Berjalan...
Ditambah laba kotor yang direalisasi atas penjualan cicilan tahun
sebelumnya ( th 2005 + th 2006 yaitu $5.250 + $ 15.200= $ 20.4
20.450).... 50
Total laba kotor yang direalisasi.
Biaya operasi.. $192.45
Laba sebelum pajak penghasilan. 0
Pajak penghasilan 120.00
0
Laba bersih. 72.4
50
28.9
80

$
43.470

4) Penjualan Cicilan dengan Tukar-Tambah (Trade-In)

Untuk ilustrasi penerapannya, asumsikan bahwa barang tertentu dengan harga


pokok sebesar $675 dijual seharga $1.000. Sebuah barang bekas-pakai diterima
sebagai uang muka, dengan nilai tukar-tambah sebesar $300. Perusahaan
memperkirakan biaya perbaikan barang bekas-pakai ini sebesar $20 dan harga
jual setelah diperbaiki sebesar $275. Perusahaan biasanya mengharapkan laba
kotor sebesar 20% atas penjualan barang bekas-pakai.

Nilai barang tukar-tambah dan jumlah nilai tukar-lebih dihitung sebagai


berikut:

Jumlah yang ditetapkan atas tukar


tambah.. $ 300
Nilai barang tukar tambah:
Nilai penjualannya ..
$275
Dikurangi : Biaya perbaikan .....$ 20
Laba kotor yang direalisasi atas penjualan
nya kembali, 20% dari $275 55
75 200
Nilai tukar-
lebih...
$100

Jurnal sebagai berikut


Barang Dagangan Tukar Tambah.. $200
Nilai tukar lebih atas penjualan cicilan dengan tukar tambah. 100
Piutang usaha cicilan, tahun 2007
700
Penjualan cicilan
$1.000

Jurnal sebagai berikut:


Harga pokok penjualan cicilan.. $675
Barang Dagangan Baru. $
675

Persentase harga pokok atas penjualan cicilan ini dihitung sebagai berikut;
penjualan bersih .. $1.000
dikurangi nilai tukar-lebih $100,
$900
persentase harga pokok: 675/900 x 100% = 75%.
Laba kotor atas penjualan cicilan adalah sebesar 25%,
dan 25% dari $200 (uang muka atas penjualan), dapat dipertimbangkan sebagai
telah direalisasi atau dicairkan sampai dengan tanggal itu. Barang tukar-tambah
dicatat dengan nilai sebesar $200. Harga pokok sebesar $200 ini, jika
meningkat oleh biaya perbaikannya, mengukur kegunaan barang bekas-pakai
ini bagi perusahaan dan memungkinkan perusahaan memperoleh laba kotor
normal atas penjualannya kembali.

5) Ketidakmampuan Membayar dan Pemilikan Kembali

Untuk mengilustrasikan prosedur yang harus kita tempuh dalam hal


ketidakmampuan membayar dan pemilikan kembali, kita asumsikan data-data
sebagai berikut:
Total penjualan cicilan tahun 2007...
$100.000
Tingkat laba kotor atas penjualan cicilan tahun 2007...
36%

Dalam tahun 2008 seorang pelanggan tidak mampu membayar kontrak


penjualan cicilan sebesar $600 yang berasal dari transaksi tahun 2007. Total
yang telah ditagih pada tahun 2007 sebelum pelanggan itu tidak mampu
membayar adalah sebesar $250. barang yang telah dijual kepadanya diambil
dan dimiliki kembali; nilainya bagi perusahaan adalah sebesar $180, yaitu
jumlah yang ditetapkan sebagai biaya perbaikan dan laba kotor normal atas
penjualannya kembali. Maka ayat jurnal untuk mencatat ketidakmampuan
membayar dan pemilikan kembali ini adalah sebagai berikut:

Barang Dagangan pemilikan Kembali.$180


Laba kotor yang ditangguhkan, tahun 2007... 126
( 36% x $350)
Kerugian atas pemilikan kemabali... 44
Piutang Usaha cicilan, tahun 2007.....
$350

6) BUNGA ATAS KONTRAK PENJUALAN

Persetujuan untuk pembayaran bunga berkala pada umumnya mengambil salah


satu dari bentuk sebagai berikut:
1) Bunga ihitung atas saldo pokok yang terhutang antara periode cicilan.
Bunga yang dihitung dengan cara ini kadang-kadang disebut bunga
jangka panjang (long-end interest).
2) Bunga dihitung atas masing-masing cicilan yang harus dibayar, dari
tanggal kkontrak penjualan cicilan ditandatangani sampai tanggal
pembayaran cicilan. Bunga yang dihitung dengan cara ini disebut bunga
jangka pendek (short-end interest).
3) Pembayaran berkala dalam jumlah yang sama dan menyatakan bunga
atas saldo pokok yang terhutang antara periode cicilan, sisanya
merupakan pengurangan dalam saldo pokok.
4) Bunga sepanjang periode pembayaran dihitung atas pokok semula.

Untuk mengilustrasikan rencana pembayaran di atas ini, asumsikan bahwa pada


tanggal 30 Juni, sebuah perlengkapan (equipment) dijual dengan cicilan sebesar
$400. Syarat penjualan mengharuskan pembayaran uang muka sebesar $100,
dan sisanya harus dibayar dalam 6 kali cicilan bunga dengan bunga sebesar
12%. Pembayaran menurut masing-masing pola itu diuraikan di bawah ini:

6.1 Bunga Berkala atas Saldo Pokok yang Terhutang Antara


Periode Cicilan

Jika pembayaran pokok bulanan 6 kali @$50 harus dilakukan bersama-sama


dengan bunga yang dibayar atas saldo pokok yang terhutang antara tanggal-
tanggal cicilan maka pembayaran akan dilakukan seperti terlihat dalam table di
bawah ini:

Bunga Atas
Saldo yang Pembayaran
terutang 1% cicilan yang Total Saldo pokok
tanggal per Bulan) jatuh tempo pembayaran
30 Juni... $400,00
30 Juni... $100,00 $100,00 300.00
31 Juli * $ 3,00 50,00 53,00 250,00
31 2,50 50.00 52,50 200,00
Agustus 2,00 50,00 52,00 150,00
30 1,50 50,00 51,50 100,00
September. 1,00 50,00 51,00 50
31 0,50 50,00 50,50 Nol
Oktober. $10,50 $400,00 $410,50
30
November.
31
Desember.

*Cat: 1% x $300,00 = $3,00 dst

Penjualan dan dua pembayaran cicilan pertama akan dicatat seperti berikut:

Transaksi Dalam buku pihak Dalam buku pihak penjual


pembeli
30 Juni Untuk Perlengkapan...$400 Piutang usaha cicilan ..$400
mencatat penjualan Htg Usaha Cicilan.. Penjualan cicilan
cicilan $400 dan $400 $400
pembayaran uang Htg usaha Cicilan Kas$100,00
muka $100 $100 Piut usaha Cicilan
Kas $100
.$100

31 Juli
Untuk mencatat Hut usaha Cicilan Kas $53
pembayaran cicilan $50 Piutang usaha
pertama $50 dan Beban Bunga. $ Cicilan
bunga 12% untuk 1 3,00 $50
bulan atas saldo Kas .. Pendapatan bunga
yang terutang .. $53 $ 3,00
sebesar $300

31 Agustus
Untuk mencatat Hutang usaha Kas .$52,50
pemabayaran Cicilan .. $50 Piutang usaha
kedua $50 dan Beban bunga $ 2,50 Cicilan
bunga 12% untuk 1 Kas $50,00
bulan atas saldo $52,50 Pendapatan bunga
yang terutang $ 2,50
sebesar $250
Dan seterusnya utk
tgl berikutnya

6.2 Bunga Berkala atas Masing-masing Cicilan yang Jatuh Tempo

Kita misalkan fakta-fakta yang sama kecuali jika bunga harus dibayar
berkala atas cicilan yang jatuh tempo, dari tanggal kontrak penjualan cicilan
sampai dengan tanggal pembayaran cicilan. Pembayaran akan terjadi seperti
terlihat dalam tabel di bawah ini:

Bunga akrual pada pembayaran cicilan tiap akhir bulan Juli dan Agustus
dicatat sebagai berikut:

Tanggal Bunga dari tanggal Pembayara Total Saldo pokok


penjualan sampai n cicilan pembayar
dengan tanggal yang jatuh an
pembayaran 1% tempo
per bulan)
30 $400,00
Juni... $100,00 $100,00 300.00
30 *$ 0,50 50,00 50,50 250,00
Juni... 1,00 50.00 51,00 200,00
31 Juli 1,50 50,00 51,50 150,00
31 2,00 50,00 52,00 100,00
Agustus 2,50 50,00 52,50 50,00
30 3,00 50,00 53,00 Nol
September. $10,50 $400,00 $410,50
31
Oktober.
30
November.
31
Desember.
*Cat : 1% x $ 50,00 = $0,50 dst
Bunga akrual pada pembayaran cicilan tiap akhir bulan Juli dan Agustus dicatat
sebagai berikut:
pemabayaran Beban yang Harus dibayar
kedua $50 dan Masih harus Atas piutang
bunga 12% untuk 1 Dibayar atas Usaha cicilan.. $ 2,50
bulan atas saldo Hutang usaha Pendapatan
yang terutang Cicilan.. Bunga
sebesar $250 $ 2,50 ...$ 2,50

Untuk mencatat Hutang usaha Kas $51,00


pembayaran cicilan Cicilan .$50,00 Piutang usaha
kedua $50 dan Bunga yang Cicilan
bunga 12% untuk 2 Masih harus .$50,00
bulan atas Dibayar atas Bunga yang
pembayaran cicilan Hutang usaha Masih harus
kedua $50 Cicilan ..$ 1,00 Dibayar atas
Kas Piutang usaha
$51,00 Cicilan
.. 1,00

Perubahan saldo bunga akrual diikhtisarkan sebagai berikut

Kenaikan Untuk Penurunan Saldo Bunga


Akrual
Bunga Akrual pembayaran Atas Hutang
Usaha
Tanggal (Kredit) (Debet) Cicilan ( Kredit)
31 Juli $3,00 $0,50 $2,50
31 Agustus 2,50 1,00 4,00
30 September. 2,00 1,50 4,50
31 Oktober. 1,50 2,00 4,00
30 November. 1,00 2,50 2,50
31 Desember. 0,50 3,00 Nol

6.3 Pembayaran berkala dalam jumlah yang sama,yang


menyatakan bunga dan saldo pokok

Apabila pembayaran berkala harus sama jumlahnya dan menyatakan


bunga atas pokok yang belum dibayar serta jumlah yang harus ditetapkan
sebagai pokok, maka pembayaran dalam jumlah yang sama diperoleh dengan
menghitung akrual.

Asumsi bahwa kewajiban sebesar $ 300 dengan bunga akrual sebesar


12% dipenuhi dengan 6 kali pembayaran cicilan bulanan @$ 51,76 berikut
merupakan tabel yang menunjukkan pembayaran ini yaitu antara bunga dan
pokok :

Tanggal Pembayaran Bagian dari Saldo Saldo pokok


cicilan yang pembayaran pembayara
jatuh tempo yang n
menyangkut yangmenya
bunga akrual takan
atas pokok (1% penguranga
per bulan) n dalam
pokok
30 $400,00
Juni... $100,00 $100,00 300.00
30 51,76 3,00 48,76 251,24
Juni... 51,76 2,51 49,25 201,99
31 Juli 51,76 2,02 49,74 152,25
31 51,76 1,52 50.24 102,01
Agustus 51,76 1,02 50,74 51,27
30 51,78 0,51 51,27 Nol
September. *$410,58 $10,58 $400,00
31
Oktober.
30
November.
31
Desember.
*Cat : pembayaran akhir $ 51,78 dilakukanuntuk menghapus bunga
bulan terakhir

Bunga akrual pada pembayaran cicilan tiap akhir bulan Juli dan Agustus dicatat
sebagai berikut:

Transaksi Dalam buku pihak pembeli Dalam buku pihak penjual


31 Juli
Beban Bunga.$3,00 Kas..... . $ 51,76
Untuk mencatat Hutang usaha cicilan...... Pendapatan
pembayaran cicilan $48,76 bunga.............$ 3,00
biasa pertama Kas........................... piutang usaha cicilan...
$51,76 dan bunga ......$51,76 $ 48,76
akrual s/d tanggal
ini adalah $3,00(1%
x $300) dan pokok
$48,76

31 Juli
Beban Bunga.$2,51 Kas..... . $ 51,76
Untuk mencatat Hutang usaha cicilan...... Pendapatan
pembayaran cicilan $49,25 bunga.............$ 2,51
biasa kedua $51,76 Kas........................... piutang usaha cicilan...
dan bunga akrual ......$51,76 $ 49,25
s/d tanggal ini
adalah $2,51 (1% x
$251,24) dan pokok
$49,25

6.4 Bunga berkala yang dihitung atas pokok awal

Dengan asumsi yang sama namun pembayaran bunga berkala


dilanjutkan dengan 12% dari pokok awal selama kontrak penjualan cicilan
berlaku maka pembayaran akan terlihat pada tabel berikut:

Tanggal Bunga yang Pembayaran Total Saldo pokok


didasarkan atas cicilan yang pembayara
Pokok awal (1% jatuh tempo n
per bulan)
30 $400,00
Juni... $100,00 $100,00 300.00
30 4,00 50,00 54,00 250,00
Juni... 4,00 50,00 54,00 200,00
31 Juli 4,00 50,00 54,00 150,00
31 4,00 50,00 54,00 100,00
Agustus 4,00 50,00 54,00 50,00
30 4,00 50,00 54,00 Nol
September. $24,00 $400,00 $424,00
31
Oktober.
30
November.
31
Desember.
KO N S I N YA S I
PENGERTIAN

Dilihat dari sudut hukum, penyerahan barang ini disebut sebagai


penitipan. Dimana pihak konsinyi memegang barang ini untuk dijual seperti
yang dirinci dalam persetujuan yang dibuat antara konsinyor dan konsinyi.
Konsinyor menetapkan konsinyi sebagai yang bertanggung jawab atas barang-
barang yang diserahkan kepadanya sampai barang-barang ini terjual kepada
pihak ketiga.

Konsinyor lebih menyukai bentuk konsinyasi penyerahan barang-barangnya


kepada agen penjual karena alasan-alasan sebagai berikut:

1. Konsinyasi mungkin merupakan satu-satunya cara memungkinkan


produsen atau distributor memperoleh daerah pemasaran yang lebih
luas.
2. Konsinyor dapat memperoleh spesialis penjualan
3. Kebutuhan modal kerja berkurang, karena penetapan harga pokok
persediaan barang konsinyasi dilakukan oleh pihak konsinyor.

Operasi Konsinyasi

Hak pihak konsinyi :


1. Pihak konsinyi memperoleh penggantian dan pengeluaran yang
dibutuhkan berkaitan dengan barang konsinyasi dan juga berhak
memperoleh imbalan atas penjualan barang konsinyasi.
2. Pihak konsinyi berhak menawarkan garansi biasa atas barang konsinyasi
yang dijual dan sementara itu pihak konsinyor terkait pada syarat
pemberian garansi seperti ini.

Kewajiban pihak konsinyi:

1. Pihak konsinyi harus melindungi barang-barang pihak pemilik dengan


cara yang baikdan sesuai dengan sifat barang dan kondisi konsinyi.
2. Pihak konsinyi harus menjual barang konsinyi dengan harga yang telah
ditentukan atau jika tidak ada ketentuan mengenai harga, ia harus
menjualnya dengan harga yang memuaskan kepentingan pihak pemilik.
3. Pihak konsinyi harus memisahkan barang konsinyi dari barang dagangan
lainnya.
4. Pihak konsinyi harus mengirimkan laporan berkala mengenai kemajuan
barang konsinyi.

AKUNTANSI UNTUK KONSINYASI

Akuntansi untuk konsinyasi yang telah selesai

Pada tanggal 6 Juni, westem co mengirimkan 10 buah pesawat radio kepada


saudara R. Green atas dasar konsinyasi . Pesawat pesawat ini dijual dengan
harga iklan @ 85. Pihak konsinyi harus diberi komisi sebesar 20% dan setiap
biaya transportasi yang dikeluarkan pihak konsinyi harus diganti oleh pihak
konsinyor.

Perkiraan Penjualan Konsinyasi

No. 2671

30 Juni 2007

Penjualan untuk perkiraan Westem Sales Co

Alamat Riveralde, California

Dibawah ini dilaporkan penjualan 6 bh Pesawat radio, model ax 154

Yang dilakukan Oleh


R. Green
Seattle, Washington

Tanggal Penjelasan Jumlah

6 Juni 30 Juni Penjelasan : 6 Buah Pesawat Radio @ $ 510


85
Belum Terjual : 4 Buah Pesawat Radio $ 25
Beban : Beban angkut masuk
102 127
Komisi (20% dari penjualan) 383
Saldo
383
Pengiriman uang terlampir
-
Saldo yang terutang

Catatan pihak konsinyi jika laba konsinyi ditetapkan sendiri:

1. Penyerahan barang kepada pihak konsinyi mencatat penerimaan barang


atas konsinyasi dengan suatu memorandum dalam buku harian atau buku
tersendiri yang diselenggarakan untuk tujuan ini.
2. Beban pihak konsinyor ditetapkan pada konsinyasi. Pihak konsinyi tidak
dipengaruhi oleh transaksi pihak konsinyor.
3. Beban pihak konsinyasi ditetapkan pada konsinyasi. Pihak konsinyi
mencatat beban yang harus ditutup oleh pihak konsinyor dengan
mendebet pemikiran konsinyasi masuk dan kredit perkiraan aktiva yang
bersangkutan.
4. Penjualan oleh pihak konsinyi. Pihak konsinyi mencatat penjualan konsinyi
dengan mendebet pemikiran aktiva bersangkutan dan mengkredit
pemikiran konsinyasi masuk.
5. Komisi atau laba yang masih harus diterima bagi konsinyi mencatat
komisi atau laba atas penjualan konsinyi masuk dan mengkredit
perkiraan pendapatan yang bersangkutan.
6. Pengiriman uang kas dan perkiraan penjualan konsinyasi oleh pihak
konsinyi. Pihak konsinyi mencatat pengiriman uang kas kepada pihak
konsinyor dan mendebet perkiraan konsinyasi masuk dan mengkredit
perkiraan kas.

Catatan pihak konsinyi. Jika laba tidak ditetapkan tersendiri:

1. Mengeluarkan barang kepada pihak konsinyi. Pihak konsinyi mencatat


barang konsinyasi dengan ayat jurnal memorandum.
2. Beban pihak konsinyor ditetapkan pada konsinyasi. Pihak konsinyi tidak
dipengaruhi oleh transaksi pihak konsinyor.
3. Beban pihak konsinyi ditetapkan pada konsinyasi
4. Penjualan oleh pihak konsinyi
5. Komisi atau laba yang masih harus diterima bagi pihak konsinyi

Buku Pihak Konsinyi


Transaksi Jika Laba Konsinyi Ditetapkan Jika laba konsinyi tidak
Tersendiri ditetapkan tersendiri
6 Juni (Memorandum) (Memorandum)

1. Pengiriman 10 buah Diterima 10 Buah Pesawat


pesawat radio atas Radio Dari Westem Co Atas
konsinyasi, HP bagi Konsinyasi, yang Harus Dijual
konsinyor $ 50/bh Dengan Harga @$ 85 Komisi
20% Penggantian untuk biaya
pengangkutan
6 Juni

2. Beban pihak konsinyor


yang ditetapkan pada
konsinyasi
Pengangkutan ke
Konsinyi..60
6 Juni 20 Juli

3. Beban pihak konsinyi Konsinyasi msk West Co25 Western Co25


yang harus dibebankan Kas...25 Kas.25
pada perkiraan
konsinyor. Beban
angkut
masuk...25

6 Juni 20 Juli

4. Penjualan perekaman Kas.850 Kas..850


10 Pesawat Radio @$
Konsinyasi msk Western
85 Atau $850 Co....850 Penjualan..
(Pembebanan atas 850
harga jual oleh pihak
konsinyor sebesar Pembelian .850
$850, dikurangi komisi
20% yaitu $170 sama Wester
dengan $680 Co.850
20 Juli

5. Pembebasan oleh pihak Konsinyasi masuk


konsinyi untuk komisi Western Co..170
atas penjualan 20% dari Komisi atas
$850 atau 170 penjualan
Konsinyasi..
170
20 Juli

6. Pengiriman uang dalam Konsinyasi masuk


penyelesaian
perhitungan bersama Western Co.655 Western Co.655
dengan pemikiran
penjualan konsinyasi Kas655 Kas
yang diserahkan oleh 655
pihak konsinyi

Total pengiriman $680


Beban pd Konsinyor $
25 maka total yang
dikirim ke konsinyor
adalah $680 - $25 sama
dengan $ 655

Buku pihak konsinyor

Jika Laba Konsinyor ditetapkan tersendiri Jika Laba konsinyi tidak ditetapkan
tersendiri

Konsinyasi keluar R. Green$ 500 (Memorandum)


Pengiriman barang atas Dikirim 10 buah pesawat radio kepada
Konsinyasi ....$ tuan R. Green atas konsinyasi yang harus
500 di jual dengan harga @$ 85/bulan. Pihak
konsinyi harus diberi komisi 20% dan diberi
penggantian untuk biaya pengangkutan
Merupakan HPP
Konsinyasi dikeluarkan R. Green ..$ 60
Beban angkut keluar$
60
Kas... 655 Kas...655
Konsinyasi keluar R. Green ..195 Pengangkutan .25
Konsinyasi keluar R. Komisi....170
Green..850 Penjualan
.850
Konsinyasi keluar R. Green ..95
Laba
konsinyasi.95
Perhitungan:
Penjualan 850
HPP 500
By angkut Konsinyor 60
By angkut Konsinyi 25
Komisi 170
Total 95

Akuntansi untuk Konsinyasi yang tidak diselesaikan


dengan tuntas
Perkiraan Penjualan Konsinyasi

No. 2843
24 Juni 2007

Penjualan Untuk Perkiraan Western Sales co.

Alamat Riversade, California

Dibawah ini laporan Penjualan 10 bh Pesawat Radio, model Ax 154

Yang dilakukan oleh :

R. Green
Seattle, Washington
Tanggal Penjelasan Jumlah
6 Juni 20 Juli Penjualan : 10 pesawat Radio - $850
@ 85
Beban : Beban Angkut 25
Masuk 170 195
Komisi ( 20% Dari Penjualan ) 655
Saldo 655
Pengiriman Uang Terlampir -
Saldo yang terutang

Total Beban Yang Beban yang


Beba Ditetapkan Pada ditetapkan pada
n Penjualan persediaan
Konsinyasi(6 bh konsinyasi
Pesawat Radio) (4 bh pesawat radio)

Beban pihak
konsinyor: 500 300 200
HP barang
konsinyasi
Pengangkutan ke 60 36 24
pihak
Konsinyi
Beban pihak
konsinyi: 25 15 10
Beban angkut 102 102 -
masuk Karena sudah
Komisi berakhir 30 Juni

Total 687 453 234

Transaksi Buku Pihak Konsinyi


Jika laba
Jika laba ditetapkan tersendiri konsinyasi tidak
ditetapkan
tersendiri
6 Juni (Memorandum) (Memorandum)

Pengiriman 10 bh
pesawat radio atas
konsinyasi harga
bagi pihak konsinyor
@ $ 50/ bh
6 Juni

Beban pihak
konsinyor yang
ditetapkan pada
konsinyasi
Pengangkutan pada
pihak konsinyi60

6 Juni 30 juni Konsinyi masuk Western ..25 Western co..25


Kas Kas
Beban pihak ..25 25
konsinyi yang harus
dibebankan pada
perkiraan pihak
konsinyor
Beban angkut.25

6 Juni 30 Juni Kas 50 Kas 510


Konsinyasi Penjualan .
Penjualan per kas masuk ..510
6bh pesawat radio Western
@$85 atau sebesar co..510 Pembelian...408
510 (pembebanan Western
oleh pihak konsinyor co..408
atas harga jual
sebesar $510,
dikurangi komisi
20% yaitu $102
sama dengan $408

30 Juni Konsinyasi Masuk


Western Co102
Pembebanan oleh Komisi Atas Penjualan
pihak konsinyi untuk Konsinyasi..
komisi atas ...102
penjualan 20% dari
$510 sama dengan
$102

30 Juni Konsinyasi masuk Western co383


Western co.383 Kas
Pengiriman uang Kas ..383
kas sebesar saldo .383
yang terhutang
beserta perkiraan Perhitungan:
penjualan Penjualan $510
konsinyasi oleh By angkut 25
pihak konsinyi Komisi 102
383

Konsinyasi keluar R. Green

6 Juni : dikirim 10 buah pesawat radio, harga 30 juni : Penjualan 10 buah pesawat
pokok radio.510
@ 50 perbuah .
$500 30 juni
: Saldo harga pokok yang
ditetapkan atas persediaan 4
6 Juni : Pengangkutan pesawat radio : harga pokok 4
...60 pesawat
@$50.200
30 Juni :Penbebanan oleh pihak konsinyi
Beban tambahan :
Beban angkut...25 Dikeluarkan oleh pihak konsinyor
Komisi....102 Pengangkutan 4/10 dari $ 60 24
127
Dikeluarkan untuk pihak konsinyi:
30 Juni : Laba atas penjualan 6 buah Beban angkut masuk (4/10 dari $25) 10
Pesawat ke perkiraan laba dan 234
Rugi konsinyasi .
....57
744
744

1 Juli : Saldo harga pokok yang


Ditetapkan atas 4 buah pesawat
Radio
234
Buku Pihak Konsinyor

Jika Laba Konsinyasi ditetapkan tersendiri Jika laba konsinyi tidak ditetapkan tersendiri

6 juni (Memorandum)

Konsinyasi keluar R. Green 500


Pengiriman barang konsinyasi
500

Konsinyasi keluar R. Green 60


Beban angkut keluar
60

30 Juni Kas 383


Pengangkutan 15
Kas 383 Komisi .. 102
Konsinyasi keluar R. Green .. 127 Barang konsinyasi .. 10
Konsinyasi keluar Penjualan .. 510
R. Green
. 510 Barang konsinyasi .. 224
Ikhtisar Rugi laba
Konsinyasi keluar R. Green. 57 200
Laba dan rugi konsinyasi Beban angkut keluar
57 24

Catatan Laba rugi Konsinyasi diperoleh dari:


Penjualan 6 pesawat $510
HPP 300
By angkut Konsinyor15
By angkut Konsinyor
6/10 x $60 36
Komisi 102
Laba rugi konsinyasi $57
H U B U N G A N A N TA RA KA N T O R
P U S AT DA N C A B A N G P R O S E D U R
UMUM
PERBEDAAN AGEN DAN CABANG
Pembentukan unit penjualan yang menyalurkan dapat mengambil bentuk
sebagai agen penjual ataupun sebagai cabang. Organisasi penjualan hanya
mengambil pesanan untuk barang serta jasa, dan yang beroperasi di bawah
pengawasan langsung pejabat dari kantor pusat disebut agen, penjual.
Sedangkan organisasi penjualan, yang menjual barang-barang dari persediaan
yang diselenggarakan sendiri dan yang bekerja sebagai kesatuan usaha yang
bebas (independent) disebut cabang.

OPERASI AGEN PENJUAL


Agen penjual yang beroperasi semata-mata hanya sebagai organisasi
penjualan local dibawah pengawsan lansung kantor pusat, pada umumnya tidak
menyelenggarakan persediaan kecuali contoh dari jenis produk yang di
tawarkan untuk dijual.

Pesanan untuk barang dagangan yang diperoleh agen penjual dikirimkan


ke kantor pusat untuk disetujui. Jika harga dan syarat kredit dapat diterima,
maka kantor pusat mengisi pesanan ini dan mengirimkan barangnya kepada
pelanggan bersangkutan.

AKUNTANSI UNTUK AGEN PENJUAL


Dalam penggunaan system imprest untuk dana kerja agen penjual,
kantor pusat menulis selembar cek kepada agen penjual sebesar dana kerja.
Pembentukan dana ini dicatat dalam buku kantor pusat dengan mendebet
perkiraan dana kerja agen penjual dan mengkredit perkiraan kas. Apabila kantor
pusat menyerahkan aktiva lain daripada uang kas kepada agen penjual, maka
kantor pusat mendebet perkiraan aktiva yang ditetapkan pada agen penjual.

Ayat-ayat jurnal yang dibutuhkan untuk mendapatkan pembentukan agen


penjualan dan ayat-ayat jurnal untuk mencatat kegiatan unit penjualan ini,
aumsikan bahwa tanggal 1 Maret, General Traders Inc., membentuk sebuah
agen penjual di Toledo. Pendapatan dan beban agen penjual ini di catat dalam
perkiraan tersendiri untuk agen penjual ini, dan hasil operasi agen penjual serta
kantor pusat ditetapkan pada tiap akhir bulan transaksi agen penjual.

Transaksi Agen Buku Kantor Pusat


Penjualan

1. Maret
Dana Kerja Agen Penjual Toledo $ 10.000
Penerimaan dana
kerja dari kantor pusat

1 31 Maret
Piutang Usaha .$ 5.000
Pesanan dikirim agen Penjualan A.P Toledo $ 5.000
penjual disetujui
kantor pusat dan diisi
kantor pos

Penagihan kas oleh Kas$ 3.000


kantor untuk Piutang Usaha ..$ 3.000
kepentingan agen
penjual

Pengeluaran kas oleh Gaji dan Komisi A.P Toledo 250


kantor pusat untuk Sewa A.P Toledo 200
kepentingan agen Bahan bahan iklan A.P Toledo 450
penjual

31 Maret Gaji dan Komisi A.P Toledo $3.50


Macam macam biaya A.P Toledo 200
Pengisian kembali
dana kerja Kas.$550
berdasarkan
pembayaran voucher
beban yang dikirimkan
oleh agen penjual oleh
kantor pusat

Ayat ayat jurnal HPP A.P Toledo$ 350


transaksi yang Pengiriman barang dagang
A.P Toledo.$ 350
Mengikhtisarkan Pemakaian bahan iklan A.P
transaksi agen penjual Toledo$ 150
Bahan iklan A.P Toledo $ 150 1/3 x
450
Dana untuk Penjualan A.P Toledo $5000
penyesuaian agen L/R A.P Toledo $5000
penjual harga pokok Laba dan rugi A.P Toledo $4.650
barang yang HPP A.P Toledo $3.500
ditetapkan pada Gaji & Komisi A.P Toledo 600 ( 350 +
penjualan agen 250)
penjual $ 3.500. Sewa A.P Toledo 200
bahan iklan yang ada Pakai bahan iklan A.P Toledo 150
mendekati 2/3 yang di Macam2 biaya A.P Toledo 200
terima Laba dan rugi A.P Toledo $ 350
Ikhtisar Rugi laba 350
(5000
4650)

Setelah ayat-ayat jurnal penyesuaian disusun, kemudian perkiraan


pendapatan dan beban agen penjual ditutup pada perkiraan ikhtisar rugi-laba
agen penjual. Perkiraan ikhtisar rugi laba masing-masing agen penjual
kemudian, dipindahkan ke perkiraan ikhtisar rugi-laba umum, dimana laba atau
rugi kegiatan kantor pusat juga akan diikhtisarkan.

OPERASI CABANG

Meskipun suatu cabang teroperasi sebagai unit usaha tersendiri, namun


masih berada dibawah pengendalian kantor pusat.

Kantor pusat memperlengkapi cabang dengan uang kas, barang


dagangan, dan aktiva lainnya yang mungkin dibutuhkan. Kantor cabang dapat
memebeli barang dagangan dari pihak luar dalam memenuhi kebutuhan local
tertentu, untuk barang-barang yang tidak tersedia dari unit afiliasi. Cabang
mengirimkan barang dagangan, memfaktur pelanggannya, dan melakukan
penagihan atas piutang usaha, dan jumlah ang di depositokan ke rekening
banknya sendiri.

Dalam beberapa hal, kantor pusat dapat mengemban tanggung jawab


untuk menagih piutang usaha cabang, atau cabang dapat diharuskan untuk
menyetorkan penerimaan kasnya ke kredit kantor pusat dan melakukan
pembayaran per kas dari suatu dana kerja yang diselenggarakan berdasarkan
system imprest.

AKUNTANSI UNTUK CABANG

Sistem akuntansi cabang dapat menetapkan

(1) Penyelenggaraan catatan cabang dikantor pusat

(2) Penyelenggaraan catatan cabang baik di cabang maupun di kantor pusat

(3) Penyelenggaraan catatan cabang dicabang sendiri

Untuk mengilustrasikan akuntansi bagi operasi cabang, bahwa pada


tanggal 1 Oktober Southern Supply Company Of Los Angeles membuka cabang.
Pertamanya di San Diego. Cabang-cabang lainnya direncanakan untuk dibuka di
masa mendatang. Cabang harus menyelenggarakan buku tersendiri dan harus
mengirimkan laporan keuangan ke kantor pusat pada tiap akhir bulan. Barang
dagangan harus difaktur dengan harga pokok. Inventaris cabang harus
dimasukkan dalam buku kantor pusat. Cabang harus dibebani 6% atas
investasi kantor pusat di cabang ini pada tiap awal bulan. Transaksi cabang no.
1 dan ayat-ayat jurnal untuk mencatat transaksi dalam buku cabang dan kantor
pusat diperlihatkan di bawah ini. Penjelasannya diberikan kemudian.

Transaksi kantor Buku kantor pusat Buku kantor pusat


cabang
1 Oktober
(1) Penerimaan Uang kas Cabang No.1..$6.000 Kas ..$6.000
dari kantor pusat Kas ...$6.000 Kantor pusat..$6.000
(2) Penerimaaan Barang Cabang No 1..$12.000 Pengiriman
Dagangan Dari Kantor Pengiriman Brg Dagangan
Pusat, Yang Difakturkan Brg Dagangan Dari ktr pusat..$12.000
Dengan Harga Pokok $ Kec Cbg No.1..$12.000 Kantor pusat..$12.000
12.000
(3) pembeliaan inventaris Inventaris Kantor usaha.$6.500
kantor oleh cabang per kas Cabang No.1 $3.000 Penjualan ..$6.500
yang harus dicatat dalam Cabang No.1........$3.000
buku kantor pusat
2 31 Oktober Piutang usaha$6.500
(4) (a) Penjualan dengan Penjualan $6.500
kredit Kas $3.500
(b) Penagihan atas piutang Piutang usaha $3.500
usaha
(5) Pembayaran beban Gaji & Komisi tenaga
Penjualan ..$400
Sewa ...$200
Macam-macam
Beban .$150
Kas$750
(6) Pengiriman uang Kas $2.000 Ktr Pusat.$ 2.000
kekantor pusat Cabang N0.1$2.000 Kas ...$2.000
(7) Beban cabang yang Cabang No.1..$ 500 Asuransi ...$35
dikirimkan oleh kantor Asuransi dibayar dimuka $ Beban Peny
pusat 35 Inventaris $50
(a) Asuransi Aktiva cabang Ak penyusutan inventaris Pajak $25
$35 Cabang No.1 $ 50 Iklan $300
(b) Penyusutan investaris Hutang Pajak $ 25 Beban bunga
$50 Iklan $ 300 Kantor pusat $90
(c) Pajak atas Aktiva Pendapatan Kantor pusat $500
cabang $25 Bunga cbg no.1 $ 90
(d) Iklan $300
(e) bunga 6% untuk satu
beban pada inventaris
cabang sebesar $ 18.000
pada tanggal 1 oktober
$90
(8) ayat-ayat jurnal Persediaan brg
penyesuaian & penutup Dagangan $ 8.400
data-data untuk Ikhtisar R/L $ 8.400
penyesuaian cabang : Penjualan $ 6.500
Persediaan barang Ikhtisar R/L $ 6.500
dagangan 31/10/$8.400
Ikhtisar R/L $ 13.250
Laba pengiriman Barang
dagangan dari kantor pusat $
12.000
Gaji & komisi tenaga
penjualan .$ 400
Sewa ..$ 200
Macam-macam
Beban $ 150
Asuransi dibayar
Dimuka$ 35
Ak penyusutan
Inventaris
Cabang No.1 $ 50
Hutang pajak $ 25
Iklan $ 300
Cabang No.1 $ 1.650 Bunga cbg no 1 $ 90
Laba dan Rugi Ikhtisar R/L $1.650
Kantor Pusat $ 1.650

Cabang No.1 $ 1.650


Laba dan rugi
Cabang No. 1 $ 1.650
Ikhtisar L/R
Laba dan rugi $1.650

1. Penyerahan aktiva lain daripada barang Dagangan Oleh Kantor


Pusat ke Cabang.

Buku Kantor Pusat. Apabila kantor pusat menyerahkan aktiva yang lain daripada
barang dagangan dan aktiva ini harus ditatat dalam buku cabang, maka kantor
pusat mendebet perkiraan cabang dan mengkredit perkiraan aktiva
bersangkutan. Apabila aktiva yang harus dicatat dalam kantor pusat, maka
dibuka sebuah perkiraan aktiva untuk cabang.

Buku cabang. Pada penerimaan lain dari pada barang dagangan yang harus
dicantumkan dalam buku cabang, cabang mendebet perkiraan aktiva dan
mengkredit perkiraan kantor pusat. Apabila aktiva yang dikirimkan ini harus
dicatat dalam buku kantor pusat, maka cabang tidak membuat jurnal apa pun,
tetapi harus menyelenggarakan catatan memorandum untuk aktiva ini.

2.Penyerahan Barang Dagangan Oleh Kantor Pusat Ke Kantor Cabang

Buku Besar Pusat. Apabila barang dagangan dikirimkan ke cabang, maka kantor
pusat mendebet perkiraan cabang dan mengkredit Perkiraan Pengeriman
Barang Dagangan ke Cabang.

Buku Cabang. Atas penerimaan barang dagangan dari kantor pusat, cabang
mendebet perkiraan pengiriman barang dagangan dari kantor pusat dengan
harga faktur dan mengkredit perkiraan kantor pusat.

3.pembelian aktiva oleh cabang yang harus dicantumkan dalam buku


kantor pusat

Buku Kantor Pusat. Apabila kantor pusat diberitahu oleh cabang mengenai
pembeliaan aktiva yang harus digunakan dicabang tetapi harus dicatat dalam
buku kantor pusat, maka kantor pusat mendebet perkiraan aktiva yang
dimaksud dan mengkredit perkiraan cabang.

Buku Cabang. Atas pembelian aktiva yang harus dicatat dalam buku kantor
pusat, cabang mendebet perkiraan kantor pusat dan mengkredit perkiraan kas
atau perkiraan kewajiban yang bersangkutan.
4. dan (5) Transaksi Sekarang yang hanya Menyangkut Cabang dan
Pihak Luar

Buku Kantor Pusat. Transaksi yang menyangkut cabang dan pihak luar selama
periode yang berjalan tidak membutuhkan ayat-ayat jurnal dalam buku kantor
pusat.

Buku Cabang. Transaksi cabang dan pihak luar selama periode yang berjalan
dicatat dalam buku cabang dengan cara biasa.

6. Pengiriman uang oleh Kantor Cabang ke Kantor Pusat

Buku Kantor Pusat. Atas penerimaan uang kas dari cabang, kantor pusat
mendebet perkiraan kas dan mengkredit perkiraan cabang. Penerimaan aktiva
lain daripada uang kas dicatat dengan mendebet perkiraan aktiva yang
bersangkutan dan mengkredit perkiraan cabang.

Buku Cabang . pada pengiriman uang ke kantor pusat, cabang mendebet


perkiraan kantor pusat dan mengkredit perkiraan Kas. Pengiriman aktiva lainnya
oleh cabang ke kantor pusat dan mengkredit perkiraan aktiva yang
bersangkutan.

7. Beban Cabang yang Diberitahu Oleh Kantor Pusat

Buku Kantor Pusat

(a) Pembebanan pada cabang untuk asuransi yang telah dibayar dalam
panjar oleh kantor pusat yang harus disertai dengan pengkreditan
perkiraan asuransi yang dibayar dimuka.

(b) Pembebanan pada cabang untuk penyusutan atas inventaris cabang yang
dicantumkan dalam buku kantor pusat, yang harus disertai dengan
pengkreditan perkiraan Akumulasi Penyusutan Inventaris cabang.

(c) Pembebanan pada cabang untuk pajak atas aktiva cabang yang harus
dibayar oleh kantor pusat pada tanggal dimasa mendatang yang harus
disertai dengan pengkreditan perkiraan Pajak yang terutang;

(d) Pembebanan iklan yang telah dibayar oleh kantor cabang dan
dimasukkan dalam perkiraan beban iklan, yang harus disertai dengan
pengkreditan perkiraan beban iklan
(e) Pembebanan pada cabang untuk bunga atas investasi di cabang, yang
harus disertai dengan pengkreditan perkiraan pendapatan bunga,
cabang.
Buku Cabang. Pada pemberitahuan beban yang harus ditetapkan dalam
buku cabang, cabang mendebet perkiraan beban yang bersangkutan dan
mengkredit perkiraan kantor pusat.

8. Penetapan Laba Bersih atau Rugi Bersih Cabang.

Buku kantor pusat. Apabila cabang melaporkan laba bersih untuk suatu periode,
maka kantor pusat mendebet perkiraan cabang dan mengkredit perkiraan laba
dan rugi cabang. Rugi bersih dicatat dengan mendebet perkiraan laba dan rugi
cabang dan mengkredit perkiraan cabang. Perkiraan laba-rugi untuk masing-
masing cabang selanjutnya ditutup pada perkiraan ikhtisar rugi-laba kantor
pusat.

Buku Cabang. Pada akhir periode, dilakukan penyesuaian yang diperlukan serta
perkiraan pendapatan dan beban ditutup pada perkiraan ikhtisar rugi-laba
dengan cara biasa. Saldo dalam perkiraan ikhtisar rugi-laba kemudian
dipindahkan ke perkiraan kantor pusat.

Penyusunan Rugi Laba atau Rugi Bersih Cabang dan Kantor Pusat

Kantor pusat dan cabang biasanya menyusun neraca dan perhitungan


rugi-laba pada akhir periode. Perkiraan investasi cabang tercantum sebagai
aktiva dalam neraca kantor pusat. Laba masing-masing cabang dapat
dicantumkan dalam perhitungan rugi-laba segera setelah hasil operasi kantor
pusat dilaporkan sebagai berikut:

Laba bersih dari operasi sendiri $ 5.140

Ditambah : Laba cabang

Laba bersih-cabang No. 1. $ 1.650

Total Laba ..... $ 7.790

Perhitungan rugi-laba dapat dilampirkan pada perhitungan rugi-laba


kantor pusat sebagai skedul yang memberikan rincian untuk mendukung jumlah
bersih yang dilaporkan dalam perhitungan rugi-laba kantor pusat.
Perhitungan Rugi Laba Penyusunan Gabungan untuk Kantor Pusat dan
Cabang

Perhitungan rugi-laba pada kantor pusat dan cabang harus disatukan


agar dapat menunjukkan secara lengkap dan menyeluruh posisi keuangan
perusahaan dan hasil operasinya. Posisi keuangan dapat disajikan sepenuhnya
hanya apabila masing-masing pos aktiva dan kewajiban dari bermacam-macam
cabang dinyatakan sebagai saldo investasi cabang dan digabungkan dengan
pos-pos kantor pusat.

Dalam menyatukan data-data cabang dengan kantor pusat, pos-pos


berlawanan antar kantor tertentu perlu dieliminasi karena perkiraan ini tidak
berarti apa-apa apabila unit-unit yang bersangkutan ditetapkan sebagai
kesatuan tunggal.

Pada penyusunan perhitungan rugi-laba gabungan, Pengiriman Barang


Dagangan dari kantor pusat dan perkiraan pengiriman barang dagangan ke
cabang dieliminasi, karena saldo perkiraan ini mengihtisarkan transaksi antar
kantor yang tidak ada gunanya apabila kesatuan yang bersangkutan dilaporkan
sebagai kesatuan tunggal. Penyediaan Neraca Lajur akan memudahkan
eliminasi pos-pos antar kantor dan penggabungan pos-pos yang sama.

Contoh Neraca Lajur Gabungan untuk Southern Supply Company:

Southern Supply Co

Neraca Lajur untuk Neraca Gabungan

31 Oktober 2007

Eliminasi Neraca
Kantor Cabang Debet Kredit Gabunga
n
Debet

Kas . $ 6.250 $ 3.750 $ 10.000

Piutang 18.000 3.000 21.000

Persediaan barang
dagangan. 30.000 8.400 34.400

Asuransi yang 150 150


dibayarkan dimuka
cabang No.1...
15.500 $ 15.150
Cabang No.1
14.000 14.000
Inventaris, Kantor
Pusat. 3.000 3.000

Inventaris, Cabang
No.1.

$ 86.550 $ 15.150 $ 86.550


Kredit

Akumulasi Penyusutan
Inventaris
Kantor Pusat $9.100

Akumulasi Penyusutan
Inventaris
Cabang No.1 50

Hutang Usaha 23.300

Pajak yang 200


terutang
$ 15.150 $ 15.150
Kantor Pusat...
25.000
Modal Saham..
28.000
Laba yang Ditahan.

$ 86.550 $ 15.150 $ 15.150 $ 15.150 $ 86.550

Southern Supply Co

Neraca Gabungan untuk Kantor Pusat dan Cabang

31 Oktober 2007

Aktiva Kewajiban Dan Modal Pemegang


Saham
Kas ....$ 10.000 Kewajiban
Piutang 21.000
Persediaan barang dgg.38.400 Hutang Usaha ....
Asuransi dibayar dimuka..150 $23.000
Inventaris $17.000 Pajak Yang
Dikurangi akumulasi Terutang......................200
Penyusutan .9.150 7.850 Total Kewajiban $23.200

Modal Pemegang Saham


Modal Saham .$25.000
Total aktiva $77.400 Laba Yang Ditahan ..$28.000
53.900

Total Kewajiban Dan Modal


$77.400
Pemegang Saham

Southern Supply Co

Neraca Lajur untuk Perhitungan Rugi-Laba Gabungan

Untuk bulan yang Berakhir Per 31 Oktober 2007

Kantor Cabang Eliminasi Perhitungan


Cabang No.1 rugi laba
Debit Kredit gabungan
Penjualan
$24.000 $6.000 $30.000
Harga Pokok Penjualan
Penjualan barang dagangan
1 Oktober $38.000 $38.000
Pembelian
16.000 $16.000
Pengiriman barang dagangan
dari kantor pusat $12.000 $12.000
$54.000 54.000
Dikurangi pengiriman barang
dagangan ke cabang
No.1. (12.000) 12.000
Barang dagangan yang tersedia
untuk dijual . $42.000 $12.000 $54.000
Dikurangi persediaan barang 38.000
dagangan ,31 oktober
(30.000) (8.400)

Harga Pokok Penjualan


. $12.000 3.600 $15.600
Laba
Kotor.. $12.000 2.900 $14.900

Beban
Gaji dan Komisi tenaga
penjual $1.900 $400 $2.300
Sewa. 1.000 200 1.200
Iklan.. 800 300 1.100
Penyusutan
Inventaris 400 50 450

Asuransi 250 35 285


Pajak. 150 25 175
Macam-macam 1.450 150 1.600
biaya.

Total
Beban.. $5.950 $1.160 $7.110

Laba
Oprasi $6.050 $1.740 $7.790
Ditambah pendapatan Bunga,
Cabang
No.1. 90 90
Dikurangi biaya bunga, kantor

Pusat. 90 90

Laba Bersih $6.140 $1.650 $12.090 $12.090 $7.790

Southern Supply Co

Perhitungan Rugi-Laba Gabungan untuk kantor dan cabang

Untuk bulan yang Berakhir Per 31 Oktober 2007

Penjualan ...$ 30.500

Harga Pokok Penjualan:

Penjualan barang dagangan, 1 oktober.....$38.000

Pembeliaan ..............$16.000

$54.000

Barang Dagangan tersedia untuk dijual, 31 oktober...38.000 15.000

$14.000
Beban
Gaji dan komisi tenaga penjual..................................$2.300
Sewa ..............................................................................$1.200
Iklan ................................................................................$1.100
Penyusutan investaris....................................................$ 450
Asuransi ..........................................................................$ 285
Pajak............................................................................... $ 175
Macam macam biaya .............................................. 1.600 $ 7.110

Laba bersih................................................................................ $ 7.790


Penyesuaian dari perkiraan silang
(adjustment of Reciprocal Accounts)

Saldo perkiraan cabang dalam buku kantor pusat dan saldo perkiraan
kantor pusat dalam buku cabang mungkin tidak menunjukkan saldo yang
bersilang pada suatu saat, karena data-data tertentu antar kantor yang telah
dicatat oleh kantor yang satu belum dicatat oleh kantor yang lain.
Data data yang harus dipertimbangkan dalam merekonsiliasi
(mencocokkan) dua perkiraan silang tersebut dapat dikelompokkan sebagai
berikut:

1. Debet pada perkiraan cabang tidak disertai dengan kredit yang


sama pada perkiraan
2. Kredit pada perkiraan cabang tidak disertai dengan debet yang sama
pada perkiraan kantor pusat
3. Debet pada perkiraan kantor pusat tidak disertai dengan kredit yang
sama pada perkiraan cabang
4. Kredit pada perkiraan kantor pusat tidak di ikuti dengan debet yang
sama pada perkiraan.
Untuk ilustrasi, prosedur yang harus diikuti dalam rekonsiliasi perkiraan
cabang dan kantor pusat, asumsikan tanggal 31 Desember, yaitu akhir fiskal,
tetapi sebelum penutupan perkiraan, perkiraan cabang dan kantor pusat terlihat
sebagai berikut.

Dalam buku kantor pusat


Cabang

30 Nop . Saldo..............................$ 1.500 17 Des Diterima uang kas


(1) 28 Des. Dikirim barang dari cabang..................$ 1.500
Dagangan ke cabang 3.000 (2) 22 Des. Penagihan piutang
Usaha
cabang.......................750

Dalam Buku Cabang


Kantor Pusat
15 Des. Dikirim uang kas 30 Nop Saldo...............$10.500
Ke kantor pusat....................$ 1.500 (4) 26 Des.Koreksi laba bersih
yang di
(3)30 Des.Dikirim uang kas kantor tetapkan terlalu rendah untuk
tahun
Pusat 500 yang lalu
200

Analisis perkiraan silang ini mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:


a. debet pada perkiraan cabang tidak diseratai dengan kredit yang sama
pada perkiraan kantor pusat. Ayat jurnal yang dibutuhkan dalam buku
cabang tanggal 31 desember :
Pengiriman barang Dagangan dari Kantor
Pusat dalam perjalanan ....................$3.000
Kantor Pusat......................................$3.000

b. Kredit pada perkiraan cabang tidak disertai dengan debet yang sama
dalam perkiraan kantor pusat. Kantor pusat telah mendebet perkiraan
kas dan mengkredit cabang sebesar $750 atas penagihan piutang usaha
yang dicatat dalam buku cabang. Tanggal 31 Desember diperlukan jurnal:
Kantor Pusat.....................................................$750
Piutang Usaha............................................$750

c. debet pada perkiraan cabang tidak diikuti dengan kredit yang sama
dalam perkiraan cabang. Cabang telah mendebet perkiraan kantor pusat
dan mengkredit perkiraan kas sebesar $500 atas penerimaan uang kas ke
kantor pusat. Tanggal 31 Des diperlukan jurnal:
Kas dalam perjalanan ....................................$500
Cabang......................................................$500

d. kredit pada perkiraan kantor pusat tidak dengan kredit yang sama dalam
perkiraan cabang. Cabang telah mendebet perkiraan sebesar laba bersih
yang ditetapkan terlalu rendah untuk untuk periode yang lalu,
diperlakukan jurnal:
Cabang ...........................................................$200
Laba yang ditahan.................................$200
Setelah ayat-ayat jurnal dibuat, maka perkiraan silang menjadi cocok seperti
terbaca berikut ini:

Buku Kantor Pusat Buku Cabang


Perkiraan Perkiraan
Cabang Kantor Pusat

Saldo sebelum penyesuaian..................................$11.250


$8.700
Penyesuaian :
Penambahan
Barang dagang yang dikirim ke cabang 3.000
Laba bersih yang ditetapkan terlalu rendah
Cabang tahun lalu. ...................................................200
$11.450
$11.700
Pengurangan
Pengiriman uang kas ke kantor pusat (500)
Penagihan piutang cabang oleh (750)
Kantor pusat...............................................
Saldo Koreksi $10.950 $10.950
HUBUNGAN ANTARA KANTOR PUSAT DAN CABANG MASALAH KHUSUS

PENGIRIMAN UANG KAS ANTAR CABANG

Dalam kejadian tertentu, kantor pusat dapat memberikan perintah


pengiriman aktiva tertentu dari cabang yang satu ke cabang yang lain.
Biasanya, cabang menetapkan pengiriman seperti ini melalui perkiraan kantor
pusat.

Contoh:

Atas perintah kantor pusat, Cabang No. 1 mengirimkan uang kas sebesar
$ 1. 000 ke Cabang No.2. ayat jurnal yang dibutuhkan adalah:

Kantor Pusat Cabang No. 1 Cabang No.2

Cabang No. 2 $1.000 Kantor Pusat $1.000 Kas $1.000

Cabang No. 1 $1.000 Kas $1.000 Kantor Pusat $1.000

Apabila prosedur ini diikuti, maka penyelesaian anatara masing-masing


cabang itu tidak dibutuhkan, luas pertanggung jawaban bersih cabang, sejauh
menyangkut unit-unit afilikasi, diikhitisarkan dalam perkirakan tunggal,
perkirakan tunggal, perkiraan kantor pusat.

PENGIRIMAN BARANG DAGANGAN ANTAR CABANG


Dalam keadaan tertentu, kantor pusat juga dapat memerintahkan kantor
cabang satu ke kantor cabang lainnya. Sama seperti pengiriman uang kas antar
cabang, perkiraan yang digunakan adalah perkiraan kantor pusat. Untuk biaya
pengiriman biasanya dibebankan kepada kantor cabang yang menerima barang
yang kemudian dimasukkan ke dalam harga pokok penjualan barang tersebut
kecuali jika biaya pengangkutan berlebihan, maka kantor cabang yang
menerima barang hanya dibebankan sejumlah biaya angkut normal.

Contoh :

Diket : Kantor pusat mengirimkan barang ke Cabang No.5, dengan


memfaktur cabang cabang ini untuk barang sebesar $ 4.500 ditambah
biaya angkut $ 600 yang kemudian dikirimkan lagi ke Cabang No. 8 dengan
biaya $ 450 yang dibayar oleh Cabang No. 8, biaya angkutnya hanya $ 650.
Ayat jurnal yang dibutuhkan adalah:

Buku Kantor Pusat

Transaksi Ayat Jurnal

Pengiriman barang dan Cabang No.5 $ 5.100


pembebanan biaya angkut Pengiriman Barang Dagangan
ke Cabang No.5 Ke Cabang No.5 $ 4.500
Kas $ 600

Pengiriman Barang Dari Pengiriman barang dagangan ke


Cabang No. 5 Ke Cabang No. Cabang No.5 $ 4.500
8. Cabang No.8 dibebani Pengiriman barang dagangan
dengan harga pokok barang Ke cabang no.8 $ 4.500
biaya pengangkutan normal, Cabang No.8 $5.150 (4500 + 650)
Cabang No. 5 dikredit untuk Kelebihan biaya pengakutan
beban semula ditambah Atas pengiriman barang- dagangan
biaya pengangkutan atas antar cabang 400 (600 +450)
pengiriman ke Cabang No.8 650=

400
Cabang No.5 $5.550

Buku Cabang No.5

Transaksi Ayat Jurnal

Penerimaan barang dari kantor Pengiriman Barang Dagangan


pusat dan pembebanan biaya Dari Kantor Pusat $4.500
angkut Biaya Angkut Masuk 600
Kantor Pusat
$5.100
Pengiriman barang dari cabang no Kantor Pusat $5.550
5 ke cabang No.8 yang dibebankan Penerimaan barang dagangan
kepada kantor pusat ditambah Dari kantor pusat
biaya angkut. $4.500
Biaya angkut masuk
600
Kas
400
Buku Cabang No.8

Transaksi Ayat Jurnal

Penerimaan barang dari cabang Pengiriman Barang Dagangan


No.5 , biaya pengangkutan yang Dari Kantor Pusat $4.500
dibebankan adalah biaya normal Biaya Angkut Masuk 600
Kantor Pusat
$5.150

Jika kelebihan biaya pengangkutan terjadi karena kesalahan cabang,


maka biaya itu ditanggung oleh cabang yang bersangkutan.

Pembuatan faktur kepada cabang dengan jumlah yang lain dari pada
harga pokok

a. Pembuatan faktur dengan angka di atas harga pokok

Dilakukan dengan tujuan para pemimpin cabang tidak memperoleh informasi


lengkap mengenai laba actual dari operasi cabang. Ini diikuti sebagai cara
pembebanan untuk memperoleh dan penanganan barang serta untuk biaya
khusus yang berkaitan dengan hubungan antar kantor pusat cabang

Contoh :

Barang dengan harga pokok $ 10.000 dikirimkan oleh kantor pusat, dan
cabang yang n angka $ 12.000. pencatatannya

Buku Kantor Pusat Buku Kantor Cabang

Cabang No.1 $12.000 Pengiriman B.D dari kantor

Pengiriman B.D ke Cabang Pusat 12.000

No.1 10.000

Laba persediaan antar perusahaan yang Kantor Pusat $ 12.000

Tidak terealisasi 2.000

Pada akhir periode Cabang melaporkan persediaan akhir sebesar $8.400.


harga pokok persediaan ini sebenarnya adalah $8.400 : 1,20 = $7.000. Saldo
laba yang tidak direalisasi dikurangi menjadi $1.400. Harga pokok yang
ditetapkan Cabang adalah $3.600 sebenarnya adalah $3.000. maka
pencatatannya:

Transaksi Buku Kantor Pusat buku kantor


cabang

(a) Untuk menutup laba (b) Cabang No.1 $5.000 (a)Ikhtisar Rugi Laba $5.000
cabang pada perkiraan Laba & Rugi kanto Pusat 5.000
kantor pusat dalam buku Cabang No.1 $5.000
cabang
(b)Untuk menetapkan
laba Cabang dalam
buku Kantor Pusat

Untuk mrngurangi perkiraan Laba ikhtisar antar


Laba yang tidak direalisasi Cabang yang tidak di -
pada saldo yang dibutuhk realisasi $600
an dan untuk mengoreksi Laba & rugi cabang
laba cabang pada ikhtisar No.1 600
rugi laba Laba &rugi Cabang
No.1 $5.600
Ikhtisar Rugi Laba 5.600

b. Pembuatan Faktur dengan Harga Jual Eceran


Selain bertujuan merahasiakan pendapatan aktual kantor cabang, hal ini
juga bertujuan untuk melaksanakan pengendalian yang lebih efektif atas barang
dagangan yang ditangani oleh kantor cabang. Prosedur pelaksanaannya sama
dengan Pembuatan Faktur dengan Angka di atas Harga Pokok.

Neraca percobaan disesuaikan dan diperbaharui kecuali untuk perkiraan


akhir barang dagangan. Persediaan awal dilaporkan sebagai debet yang
dibutuhkan untuk menetapkan harga pokok.
Perkiraan kantor pusat dan cabang harus dinilai kembali sehingga apabila
digabungkan, kedua perkiraan ini akan menunjukkan saldo yang timbul jika
transaksi dicatat dalam buku tunggal. Beberapa transaksi yang perlu dieliminasi
antara lain :
a. Perkiraan silang antar kantor pusat dan cabang
Kantor Pusat xxxx
Cabang xxxx

b. Saldo perkiraan yang timbul dari pengiriman barang dagangan antar


kantor
Pengiriman Barang Dagangan ke cabang xxxx
Laba Persediaan antar Perusahaan yang tidak terealisasi xxxx
Pengiriman Barang Dagangan dari kantor pusat xxxx

c. Saldo awal dalam perkiraan laba yang tidak direalisasi ditetapkan pada
saldo persediaan awal untuk menurunkannya menjadi harga pokok.
Laba Persediaan antar perusahaan yang tidak direalisasi xxxx
Persediaan awal xxxx

d. Persediaan akhir, baik sebagai nilai neraca maupun sebagai nilai


perhitungan rugi laba, dikurangi menjadi harga pokok sebenarnya
Persediaan Akhir (Perhitungan Rugi Laba xxxx
Persediaan Akhir xxxx

Saldo perkiraan gabungan dipindahkan ke kolom perhitungan rugi laba,


laba ditahan , neraca yang bersangkutan dalam neraca lajur. Kemudian kolom
perhitungan rugi laba di ikhtisarkan dan laba bersih dipindahkan ke kolom laba
ditahan sehingga saldo laba ditahan dapat ditentukan dan dipindahkan ke
kolom neraca.

Hal tersebut diatas hanya dilakukan pada neraca lajur dan tidak
berpengaruh pada buku kantor pusat maupun buku kantor cabang. Kedua
perkiraan ini ditutup dengan cara biasa.

P E R S E KU T U A N F I R M A: F O R M A S I
DA N O P E RA S I
Persekutuan Firma adalah asosiasi antara dua atau lebih individu sebagai
pemilik untuk menjalankan perusahaan dengan tujuan untuk mendapatkan
laba.

I. Sifat Persekutuan Firma


Keagenan atau perwakilan bersama
Masing-masing sekutu menjadi agen atau wakil dari persekutuan Firma untuk
tujuan usahanya.
Umur terbatas
Persekutuan Firma merupakan kaitan atau hubungan yang timbul dari
perjanjian beberapa pihak maka setiap perubahan dalam hubungan ini akan
mengakhiri perjanjian itu dan membubarkan persekutuan Firma tersebut.
Tanggungjawab tak terbatas
Tanggungjawab sekutu tak terbatas pada jumlah investasinya. Sekutu dapat
bertanggungjawab secara pribadi dan aktiva-aktiva mereka yang terpisah
dapat ditahan untuk memenuhi kewajiban persekutuan Firma.
Pemilikan kepentingan dalam persekutuan Firma
Harta benda yang diinvestasikan dalam persekutuan Firma tidak lagi dimiliki
secara terpisah oleh masing-masing sekutu melainkan menjadi milik asosiasi
perorangan yang berbentuk persekutuan.
Partisipasi (keikutsertaan) dalam laba persekutuan Firma
Masing-masing sekutu ikut serta dan memperoleh pembagian laba
persekutuan Firma.

II. Persekutuan Firma Sebagai Asosiasi Perorangan Dan Sebagai


Kesatuan Usaha Yang Terpisah

Persekutuan Firma didefenisikan sebagai asosiasi antara individu-individu


karena melibatkan penyatuan aktiva dan penetapan kepentingan masing-
masing sekutu dalam aktiva yang disatukan. Misalnya persekutuan Firma
memperoleh, memegang dan menandatangani harta benda atas nama
persekutuan Firma itu sendiri, menutup perjanjian dengan pihak-pihak lain,
dapat menuntut dan dapat dituntut sebagai suatu kesatuan usaha tersendiri
atau terpisah.

Pemilihan Antara Bentuk Persekutuan Firma dan Perseroan Terbatas


Bila beberapa individu menyatukan sumber daya mereka dalam suatu
usaha tunggal maka mereka harus memilih antara bentuk persekutuan Firma
atau perseroan terbatas. Keputusan ini harus mempertimbangkan kerugian dan
keuntungan relativ dari kedua bentuk ini pada keadaan tertentu misalnya dalam
hal pendirian dan pembubaran, ciri perorangan atau pribadi organisasi
perusahaan bentuk ini dalam kaitannya dengan pihak-pihak lain, kebebasan
relativ dalam kegiatannya, tanggungjawab pribadi sekutu akan hutang
perusahaan, kelemahan dan kelangsungan hidup perusahaan dan kesulitan
dalam memindahtangankan kepentingan pemilik.

III. Jenis Persekutuan Firma


Terbagi atas:
1. Persekutuan Firma dagang dan non dagang
Persekutuan Firma dagang yaitu persekutuan Firma yang kegiatan usahanya
adalah memproduksi atau membeli dan menjual barang-barang.
Persekutuan Firma non dagang adalah persekutuan Firma yang didirikan
untuk tujuan memberikan jasa-jasa.
2. Persekutuan Firma umum dan terbatas
Persekutuan Firma umum adalah persekutuan Firma dimana semua sekutu
boleh bertindak secara umum atas nama perusahaan.
Persekutuan Firma terbatas adalah persekutuan dimana sekutu-sekutu
tertentu dibatasi dengan tanggungjawab pribadi.
3. Perusahaan saham patungan
Perusahaan saham patungan adalah persekutuan Firma yang didirikan
dengan struktur modal dalam bentuk saham pindah tangan.

IV. Akte Persekutuan Firma


Persekutuan Firma dapat didirikan dengan persetujuan lisan namun selalu
dikehendaki bahwa persetujuan ini harus dibuat secara tertulis sehingga
kesalahpahaman dan perselisihan dapat dihindari atau dapat diperkecil.
Persetujuan ini disebut dengan akte persekutuan Firma.

V. Kepentingan Dalam Modal Dan Pembagian Laba


Kepentingan dalam persekutuan Firma harus dipisahkan dari hak baginya
dalam laba perusahaan. Kepentingan sekutu diikutsertakan dalam perkiraan
modal dan terdiri dari investasinya semula, investasi berikutnya serta
pengambilan prive dan bagiannya dalam laba dan rugi perusahaan.
Sebagai ilustrasi A dan B mendirikan Firma. Masing-masing sekutu
menanamkan aktiva dan menerima kredit sebesar $30.000 dan $10.000 untuk
setoran modal dan penyertaan mereka. Kedua sekutu setuju untuk membagi
rata rugi laba. Jika laba bersih diperoleh sebesar $25.000

Aktiva bersih Modal A Modal B


Investasi $ 40.000 $ 30.000 $ 10.000
Laba bersih 25.000 12.500 12.500
Total $ 65.000 $ 42.500 $ 22.500
Demikian juga jika mengalami rugi maka akan mengurangi investasi

VI. Pencatatan Investasi Sekutu


Investasi para sekutu dapat dilakukan dalam bentuk uang kas atau aktiva
lainnya seperti yang ditetapkan dalam perjanjian persekutuan Firma

VII. Mengubah Perusahaan Perorangan Menjadi Persekutuan


Firma
Perorangan yang menjalankan perusahaan seringkali bekerjasama
dengan orang-orang lain untuk mendirikan persekutuan Firma. Disini aktiva dan
pasiva perusahaan perorangan dapat dipindahkan ke persekutuan Firma yang
baru didirikan.
Sebagai contoh asumsikan bahwa E dan F mendirikan persekutuan Firma.
E menjalankan perusahaan perorangan dan perusahaan ini kemudian
dilanjutkan oleh persekutuan Firma yang baru dibentuk. F menanamkan uang
kas sebesar $25.000. Neraca perusahaan perorangan E yaitu:
Perusahaan E
Neraca
Per 30 Juni 1989

Aktiva Kewajiban dan Modal


Kas $16.200 Kewajiban
Piutang usaha $20.000 Hutang usaha $24.000
Dikurang
Penyisihan untuk
Piutang ragu-ragu1.200 Modal
18.800 Modal E 40.400
Persediaan barang dagangan
21.400
Persediaan Kebutuhan toko 1.600
Inventaris $12.000
Dikurang akumulasi Total Kewajiban $64.440
Penyusutan 5.600
$6.400
Total Aktiva $64.400
Jika buku persekutuan E terus digunakan untuk persekutuan firma yang baru
dibentuk maka dapat disusun ayat-ayat jurnal sebagai berikut dengan data
penyesuaian sbb:
*) Piutang usaha : piutang tak tertagih sebesar $1000 harus dihapuskan, atas
sisa piutang usaha ditetapkanpenyisihan untuk piutang ragu-ragu sebesar 4%.
*) Persediaan barang dagangan :barang-barang yang sebelumnya dinilai dengan
harga pokok menurut metode Lifo, harus ditetapkan dengan nilai pasar yang
berlaku sekarang sebesar $ 26.600.
*) Inventaris : Nilai gantinya adalah $15.000,tetapi aktiva ini diperkirakan telah
disusutkan sebesar 50% dan nilai wajarnya adalah $7.500

*) Goodwill: E harus dikredit untuk goodwill sebesar $10.000 jika


dipertimbangkan berkaitan dengan perusahaannya.

Maka transaksi dan jurnalnya sebagai berikut:

Transaksi Ayat Jurnal


Untuk mencatat penetapan Penyisihan piutang ragu-ragu $ 440
kembali investasi yang disetujui: Persediaan barang dagangan5.200
Penurunan piutang Akumulasi penyusutan 5.600
usaha......... Goodwil 10.000
Penurunan piutang penyisihan Piutang usaha
untuk piutang ragu-ragu $ 1.000
(melaporkan penyisihan 4% Inventaris
dari 19.000 atau 760) 440 4.500
(1200- 760 = 440) Modal E
Kenaikan dalam persediaan 15.740
Barang dagangan 5.200
(26.600- 21.400)
Kenaikan dalam inventaris:
Penurunan dalam saldo
Harga pokok 4.500
(12.000 7500)
Penghapusan akumulasi
Penyusutan 5.600 1.100
Penetapan goodwill 10.000
Untuk mencatat pengeluaran Modal E $ 16.200
uang kas oleh E Kas $ 16.200
Untuk mencatat investasi kas Kas $ 25.000
oleh F Modal F $ 25.000
Neraca untuk persekutuan Firma yang baru didirikan yaitu:
Perusahaan E
Neraca
Per 30 Juni 1989

Aktiva Kewajiban dan Modal


Kas $25.000 Kewajiban
Piutang usaha $19.000 Hutang usaha $24.000
Dikurang
Penyisihan untuk
Piutang ragu-ragu 760 Modal
18.240 Modal E 39.940
Persediaan barang dagangan ((40.400 +
26.600 15.740)- 16.200)
Persediaan Kebutuhan toko 1.600 Modal F 25.000 64.940
Inventaris 7.500
Goodwill 10.000 Total Kewajiban $88.940
Total Aktiva $88.940

Konsolidasi Perusahaan
Prosedur akuntansi di atas diterapkan apabila dua perusahaan atau lebih
dikonsolidasi dalam mendirikan persekutuan Firma.

Perkiraan Persekutuan
Ada tiga perkiraan yang dicatat dalam kegiatan sekutu yaitu:
1. Perkiraan modal
2. Perkiraan prive
3. Perkiraan hutang dan piutang usaha

Pembagian Laba dan Rugi


Cara pembagian laba dan rugi yaitu:
1.Merata
Ayat jurnal untuk mencatat pembagian laba secara merata sebesar
$36.000
Ikhtisar R/L 36.000
Prive A 18.000
Prive B 18.000

Bagian laba A : x $ 36.000 =18.000


B : x $ 36.000 =18.000
Total 36.000
2.Dalam rasio arbitrary
Asumsi A dan B setuju untuk membagi laba dalam rasio 3:2. Laba yang
dibagikan sebesar $ 36.000, maka
Ikthtisar R/L 36.000
Prive A 21.600
Prive B 14.400
Bagian laba A : 3/5 x $ 36.000 = 21.600
B : 2/5 x $ 36.000 = 14.400
Total 36.000

3.Dalam rasio modal para sekutu


a.Modal awal
Jika A dan B memutuskan pembagian laba dengan metode ini maka
rasionya adalah jumlah investasi awal yang ditanam para sekutu.

b.Modal tiap awal periode fiskal


Ikhtisar R/L 36.000
Prive A 15.000
Prive B 21.000
Modal A per 1 Jan 50.000
Modal B per 1 Jan 70.000
Total modal per Januari120.0000
Bagian laba A : 50.000/120.000x$36.000 = 15.000
B : 70.000/120.000x$36.000 = 21.000
Total 36.000
c.Modal pada akhir periode fiskal
Modal A per 31 Des 60.000
Modal B per 31 Des 75.000
Total modal per 31 Des135.000
Bagian laba A: 60.0000/135.000x$36.000=16.000
B: 75.0000/135.000x$36.000=20.000
Total 36.000
d.Modal rata-rata untuk tiap periode fiskal
Tanggal Saldo Jmlh bln Jumlah menurut bulan
Investasi tak berubah
A: 1 Jan 50.000 x3 150.000
1 Apr 60.000 x9 540.000 690.000
12
B: 1 Jan 70.000 x2 140.000
1 Mar 65.000 x8 520.000
1 Nov 75.000 x2 150.000 810.000
12 1.500.000
Bagian laba A : 690.000/1.500.000x$36.000 = 16.560
B: 810.000/1.500.000x$36.0000 = 19.440
Total 36.000

4.Dengan memberikan bunga atas modal sekutu.


a. Bunga atas saldo modal
Asumsikan A dan B menyetujui pemberian bunga atas investasi sebesar
6%. Dan setiap saldo laba rugi harus dibagi rata. Dengan mengasumsikan
tidak ada ayat-ayat jurnal untuk pemberian bunga selama periode itu
maka ayat-ayat jurnal untuk mencatat pemberian bunga dan pembagian
sisa laba adalah sebagai berikut:
Ikhtisar R/L 7.500
Prive A 3.450
Prive B 4.050
Modal A per 1 Jan 50.000
Modal B per 1 Jan 70.000
Total modal per Januari 120.000
A : Bunga atas modal50.000 @ 6% untuk 3 bln 750
60.000 @ 6% untuk 9 bln 2700 3.450
B: Bunga atas modal70.000 @ 6% untuk 2 bln 700
65.000 @ 6% untuk 8 bln 2600
75.000 @ 6% untuk 2 bln 750 4.050
Total biaya bunga 7.500
Ikhtisar R/L 28.500
Prive A 14.250
Prive B 14.250
Saldo awal pada perkiraan ikhtisar R/L 36.000
Penyisihan untuk bunga 7.500
Saldo yang harus dibagi rata 28.500

Ayat jurnal pembagian laba


Ikhtisar R/L 36.000
Prive A 17.700 ( 14.250 + 3450)
Prive B 18.300 (14.250 +4050)
b. Bunga atas kelebihan investasi
Jika persetujuan ini berlaku antara A dan B, maka perkiraan dimana
dengan asumsi bahwa kegiatan usaha firma A dan B sebelum
penetapan bunga telah menimbulkan kerugian sebesar $10.000 maka
ikhtisar R/L di debet sebesar $600 (6% x kerugian sebesar $10.000)
dan perkiraan prive B dikredit dengan jurnal sbb:
Ikhtisar R/L 600
Prive B 600

Dan setiap saldo ikhtisarR/L kemudian dipindahkan ke perkiraan prive


sekutu dengan rasio dengan rasio yang disetujui.
c. Bunga atas panjar atau pinjaman sementara

5.Laba dan rugi dibagi dengan memberikan gaji atau bonus kepada
sekutu
Gaji
Untuk menerapkan pemberian gaji, asumsikan bahwa A dan B setuju
untuk memberikan gaji tiap bulan masing-masing sebesar $ 1.500 dan
$1.250. Saldo laba atau rugi harus dibagi sama. Laba sebesar $36.000
sebelum penetapan pemberian gaji dibagikan para sekutu dengan ayat-
ayat jurnal sebagai berikut:
Ikhtisar R/L 33.000
Prive A 18.000
Prive B 15.000

A : Gaji untuk 12 bulan @ $1.500 $18.000


B : Gaji untuk 12 bulan @ $1.250 $15.000
Total gaji yang harus diberikan $33.000
Ikhtisar R/L 3.000
Prive A 1.500
Prive B 1.500
Saldo awal pada perkiraan ikhtisar R/L
36.0000
Penyisihan untuk bunga 33.000
Saldo yang dibagi rata 3.000
Ayat jurnalnya dapat diikhtisarkan:
Ikhtisar R/L 36.000
Prive A 19.500
Prive B 16.500

Bonus
Bonus pada umumnya dinyatakan sebagai persentase dari laba, tetapi
persetujuan harus menunjukkan apakah persentase yang digunakan ini
adalah dari laba yang ditetapkan sebelum ataukah setelah dikurangi
bonus.
Asumsikan bahwa A adalah sekutu pengelola diberi bonus sebesar 20%
dari laba sebelum dikurangi bonus. Bonus ini akan berjumlah 20% dari
laba setelah dikurangi bonus, maka bonus dihitung:
Mis. X = laba bersih setelah dikurangi bonus
Maka 1,20x = 36.000
X = 30.000
0,20X = 6.000; bonus kepada A

6. Laba dan rugi dibagi dengan memberikan bunga gaji


Ayat jurnal untuk gaji, bunga dan pemindahan saldo adalah sama dengan
ayat jurnal di atas.

7. Pembagian laba dalam perhitungan Rugi Laba


Asumsikan bahwa A dan B menyetujui bahwa gaji tiap bulan masing-
masing sebesar $1.500 dan $1.250, bunga sebesar 6% atas modal rata-
rata. Saldo laba atau rugi harus dibagi rata. Maka hal ini dilaporka dalam
perhitungan sebagai berikut:

Laba bersih untuk tahun itu $36.000

Laba bersih dibagi sebagai berikut: A B Total


Jumlah gaji 18.000 15.000 33.000
Jumlah bunga 3.400 4.050 7.500
21.450 19.050 40.500
Kelebihan gaji dan bunga atas laba bersih2.250 2.250 4.500
Pembagian laba bersih 19.200 16.800 36.000
Ikhtisar R/L 36.000
Prive A 19.200
Prive B 16.800

Koreksi Laba Pada Periode Sebelumnya


Apabila ditemukan kesalahan dalam menghitung laba pada periode
sebelumnya maka persetujuan bagian laba dan rugi untuk periode fiscal dimana
laba salah dihitung harus diperhitungkan dalam mengoreksi perkiraan modal.
PERSETUAN FIRMA :PEMBUBARAN OLEH
PERUBAHAN DALAM KEPEMILIKAN

KONDISI YANG MENIMBULKAN PEMBUBARAN


1. PEMBUBARAN OLEH TINDAKAN SEKUTU
Pembubaran oleh tindakan sekutu terjadi:
a. Apabila pencapaian waktu/penyelesaian tujuan telah memenuhi kontrak
persekutuan
b. Apabila persetujuan yang saling menguntungkan telah terpenuhi
c. Pengunduran diri seorang sekutu

2. PEMBUBARAN KARENA KETENTUAN UNDANG-UNDANG


a. Kematian seorang anggota persekutuan Firma
b. Kepailitan seorang sekutu atau persekutuan Firma itu sendiri
c. Setiap kejadian yang menyebabkan perusahaan tidak syah lagi untuk
bergerak atau bagi masing-masing anggota untuk menjalankan
perusahaan sebagai persekutuan Firma
d. Perang terhadap negeri seorang anggota yang menjadi penduduk negeri
itu
3. PEMBUBARAN OLEH KEPUTUSAN PENGADILAN
a. Seorang sekutu tidak waras/tidak mampu menyelesaikan setiap masalah
atau untuk memenuhi baginya dalam perjanjian persekutuan Firma
b. Sikap seorang sekutu yang merugikan perusahaan
c. Perselisihan intern diantara para sekutu
d. Kelanjutan perusahaan tidak lagi mungkin menguntungkan
e. Alasan-alasan lain yang menyebabkan pembubaran dianggap adil,
misalnya kecurangan atau salah tafsir dalam pembentukan persekutuan
Firma
AKUNTANSI UNTUK PEMBUBARAN

Akuntansi untuk pembubaran Firma sebagai akibat dari:


1. Penerimaan seorang sekutu baru
2. Pengunduran diri dari seorang sekutu
3. Kematian seorang sekutu
4. Menjadikan Firma sebagai Perseroan Terbatas

1. PENERIMAAN SEORANG SEKUTU BARU


Seorang sekutu dapat diterima sebagai sekutu baru hanya dengan
kesepakatan semua sekutu. Dengan masuknya seorang sekutu baru, maka
suatu persetujuan harus dirancang untuk menetapkan kepentingan sekutu pada
pembentukan Firma, pembagian laba rugi dimasa mendatang dan semua hal
lain yang menyangkut asosiasi baru ini.
Seorang sekutu dapat memperoleh kepentingan dalam persekutuan Firma
lewat (1) Pembelian kepentingan ini dari seorang/lebih sekutu awal, atau (2)
Investasi aktiva yang menimbulkan kenaikan.
a. Perolehan kepentingan lewat pembelian
Apabila seorang memperoleh sebagian atau seluruh kepentingan seorang
sekutu dalam perusahaan, maka kepentingan yang diperoleh ini dicatat
sebagai modal sekutu yang menjual kepentingannya dikurangi dengan
jumlah yang sama. Asumsikan A dan B adalah dua orang sekutu, masing-
masing dengan modal sebesar $30.000 dan laba dibagi rata. C membeli
dari kepentingan B dengan harga $15.000. Maka ayat jurnalnya:
Modal B $15.000
Modal C $15.000
Ayat jurnal ini dibuat terlepas dari jumlah yang dibayarkan oleh C kepada
B. Total modal persekutuan Firma tetap sebesar $60.000. A mempunyai
kepentingan sebesar 50% dalam perusahaan yang baru, B sebesar 25%
dan C sebesar 25%.
b. Perolehan kepentingan lewat investasi
Apabila seseorang memperoleh kepentingan dengan melakukan
investasi, maka aktiva dan modal persekutuan Firma akan bertambah.
Asumsikan bahwa D dan E mempunyai modal masing-masing $20.000
dan $10.000 dan membagi rata laba. Kemudian F sebagai sekutu baru
dengan investasi sebesar $12.000. Laba rugi Firma yang baru dibagi rata.
Buku persekutuan Firma yang baru tetap digunakan untuk perusahaan
yang baru. Investasi F dicatat sebagai berikut:
Kas $12.000
Modal F $12.000
Disini F menerima kredit sebesar jumlah investasi yang sebenarnya.
Kepentingan D, E dan F dalam persekutuan Firma yang baru masing-
masing sebesar $20.000, $10.000 dan $12.000. Kepentingan F adalah
sebesar 12/42, atau mendekati 29%.

b.1 Investasi Dengan Pemberian Bonus Dan Goodwill Kepada Sekutu


Lama
Bonus
Asumsikan bahwa persekutuan Firma D dan E sukses dalam operasinya,
sehingga F bersedia menanamkan investasi sebesar $12.000 untuk kepentingan
sebesar . Oleh karena aktiva bersih perusahaan sebelum F menanamkan
investasi berjumlah $30.000, maka tambahan investasi F sebesar $12.000 akan
meningkatkan aktiva bersih sebesar $42.000. Karena aktiva bersih setelah F
diterima masuk berjumlah $42.000, maka kredit sebesar $10.500 (1/4 x 42.000)
untuk F dan akan memberikan kepadanya kepentingan sebesar bagian.
Jumlah kelebihan investasi atas kepentingan yang diberikan kepada F dapat
dipertimbangkan sebagai bonus kepada sekutu lama. Bonus ini diberikan
kepada sekutu lama dalam rasio laba rugi awal. Karena D dan E membagi rata
laba, maka bonus sebesar $1.500 akan menimbulkan kenaikan sebesar $750
dalam masing-masing modal sekutu lama ini. Ayat jurnalnya:
Kas $12.000
Modal D $750
Modal E $750
Modal F $10.500

Goodwill
Asumsikan F menyatakan bahwa perkiraan modalnya melaporkan seluruh
investasi sebesar $12.000 kendati ia ingin menerima kepentingan sebesar
bagian. Penilaian F atas kepentingan sebesar bagian dengan investasi
sebesar $12.000, dapat digunakan sebagai dasar untuk mencatat Goodwill yang
ditetapkan pada penyertaan atau setoran aktiva bersih sekutu D dan E dalam
organisasi perusahaan yang baru. Jika modal F sebesar $12.000 dinyatakan
sebagai bagian dari total modal, maka total modal ini harus berjumlah
$48.000 (12.000 x 4)dan gabungan modal D dan E harus sebesar $36.000.
Karena modal D dan E sekarang berjumlah $30.000, maka saldo ini harus
dinaikkan dengan $6.000. Rasio laba dan rugi digunakan dalam membagi
kenaikan modal sebesar $6.000. ayat jurnal untuk mencatat investasi F adalah.
Goodwill $6.000
Modal D $3.000
Modal E 3.000

Kas $12.000
Modal F $12.000

Perbandingan Metode Bonus dan Goodwill


Asumsikan jika bagian laba F dalam contoh di atas terbatas sebesar 25%
serta D dan E berbagi sisa laba masing-masing sebesar 37,5%, maka baik
metode bonus maupun Goodwill akan memberikan hasil akhir yang sama.
Sebagai contoh asumsikan saldo dalam contoh-contoh di atas adalah
sebagai berikut:

Goodwill Aktiva Modal D Modal E Modal F


Metode bonus $42.000 $20.750 $10.750
$10.500
Metode Goodwill $6.000 $42.000 $23.000 $13.000 $12.000

Misalnya pada akhirnya aktiva itu direalisasi tidak lebih dari sebesar
$42.000, sehingga gagal untuk membuktikan eksistensi Goodwill. Jika Goodwill
digunakan untuk mencatat investasi F, maka kegagalan untuk merealisasikan
goodwill akan menimbulkan kerugian yang dapat dibebankan kepada para
sekutu dalam rasio laba dan rugi. Dengan mengesampingkan perubahan dalam
aktiva bersih, maka saldo modal untuk D, E dan F dengan metode bonus dan
goodwill akan menunjukkan angka sebagai berikut:

Goodwill aktiva Modal D Modal E Modal F


Lainnya
Metode bonus $42.000 $20.750 $10.750
$10.500
Metode goodwill $6.000 $42.000 $23.000 $13.000 $12.000
(-) penghapusan
Goodwill(Rugi yang
dibagikan dlm rasio
L/R Sebesar 37,5%;
37,5%;25%) 6.000 _______ 2.250 2.250) 1.500
-0- $42.000 $20.750 $10.750 $10.500
Metode goodwill pada akhirnya menghasilkan saldo perkiraan yang sama
dengan saldo perkiraan yang dicapai dengan menggunakan metode bonus.
Sebaliknya, asumsinya bahwa aktiva pada akhirnya direalisasi sebesar
$48.000, sehingga hal ini mngesahkan eksistensi goodwill sebesar $6.000 maka
saldo modal untuk D,E dan F akan nampak sebagai berikut:

Goodwillaktiva Modal D Modal E Modal F


Lainnya
Metode goodwill $6.000 $42.000$23.000$13.000 $12.000
Metode bonus $42.000 $20.750 $10.750
$10.500
(+) ditambah
Goodwill(Rugi yang
dibagikan dlm rasio
L/R Sebesar 37,5%;
37,5%;25%) 6.000 _______ 2.250 2.250 1.500
6.000 $42.000 $23.000 $13.000 $12.000

b.2 Investasi dengan Memberikan Bonus atau Goodwill kepada Sekutu


Baru
Bonus
Asumsikan bahwa Firma D dan E dalam contoh di atas membutuhkan
modal tambahan dan juga jasa-jasa dari F. D dan E setuju memberikan 2/5
kepentingan kepada F atas investasinya sebesar $12.000. Jika perkiraan modal
F dikredit sebesar $12.000 dan tidak terjadi perubahan dalam perkiraan modal
D dan E, maka kepentingan F menjadi sebesar 12/42, yang lebih kecil daripada
2/5 kepentingannya. Karena aktiva bersih persekutuan Firma setelah F diterima
sebagai sekutu berjumlah $42.000 maka kredit sebesar $16.800 (2/5 x 42.000)
untuk F akan memberikan kepadanya 2/5, kepentingan jumlah kelebihan
kepentingan yang diberikan kepada F atas investasinya sebesar $12.000 dapat
dipertimbangkan sebagai bonus yang disumbangkan oleh sekutu lama. Maka
ayat jurnal untuk mencatat investasi F adalah:
Kas $12.000
Modal D 2.400
Modal E 2.400
Modal F $16.800
Goodwill
Asumsikan D dan E tidak menghendaki modal mereka berkurang, namun
mereka bersedia memberikan 2/5 kepentingan dalam perusahaan kepada F atas
investasi sebesar $12.000. Saldo modal sekarang para sekutu dapat digunakan
sebagai dasar untuk penetapan kepentingan yang harus diberikan kepada F dan
goodwill yang ia pertimbangkan. Jika jumlah modal D dan E $30.000
menyatakan 3/5 dari total modal, maka todal modal ini harus $50.000 dan
kepentingan F harus sebesar $20.000(2/5 x 50.000). Ayat jurnal untuk mencatat
penerimaan F sebagai sekutu adalah:
Kas $12.000
Goodwill 8.000
Modal F $20.000

Penetapan Bonus Dan Goodwill Jika Tidak Ada Penetapan Khusus


Jika tidak ada penetapan khusus, maka kondisi untuk menerima seorang
sekutu baru harus dianalisa secara cermat dalam mencatat kepentingan sekutu
pada persekutuan Firma.
Asumsikan X dan Y membagi rata laba. Perkiraan modal sebelum Z diterima
masuk adalah
Modal X $25.000
Modal Y $35.000

Contoh Analisis Ayat jurnal


(1) Z Oleh karena Kas $20.000
menanamkan penetapan investasi Modal Z $20.000
untuk sebesar $20.000
kepentingan akan membe-rikan
bagian kepentingan
(20.000/80.000),
maka tidak ada
bonus mau-pun
goodwill diperhi-
tungkan dalam
persetu-juan.
(2). Z Oleh karena Kas $30.000
menanamkan penetapan investasi Modal X $3.750
$30.000 untuk ke- Z sebesar $30.000 Modal Y 3.750
pentingan akan memberi kan Modal Z 22.500
bagian kepadanya
kepentingan lebih Atau
dari pada bagian
(30.000/90.000), Kas $30.000
maka kepentingan Goodwill 30.000
dicapai baik dengan Modal X $15.000
jalan Modal Y 15.000
(1) mengkredit Z Modal Z 30.000
dengan 22.500 (1/4
x90.000) dan
mencatat
kelebihannya
sebagai bonus,
(2) mengkreditkan Z
$30.000 dengan
men catat goodwill
dan menaikkan
modal sekutu lama
sebesar $30.000
(3). Z Oleh karena total Kas $30.000
menanamkan modal terbatas pada Modal X $2.500
$30.000 untuk $90.000, yakni Modal Y 2.500
jumlah modal awal
kepentingan dan investasi Z Modal Z 25.000
sebesar $25.000, adalah $30.000
total modal untuk kepentingan
sebesar $90.000 sebesar $25.000
dengan $5.000
untuk bonus sekutu
lama.
(4). Z Oleh karena Z akan Kas $30.000
menanamkan menerima Goodwill 10.000
$30.000 untuk kepentingan sebesar Modal X $7.500
kepentingan $25.000 yang lebih Modal Y 7.500
dalam total modal kecil $5.000 Modal Z 25.000
$100.000 daripada jumlah
inves tasinya dan
karena total modal
harus lebih besar
dengan $10.000
daripada total
investasi modal,
maka berarti timbul
bonus $5.000 untuk
sekutu lama beserta
goodwill $10.000
untuk mereka ini
(5) Z Oleh karena Kas $30.000
menanamkan penetapan investasi Modal X 7.500
$30.000 untuk Z sebesar $30.000 Modal Y 7.500
1/2 kepentingan akan memberi kan Modal Z $45.000
kepadanya kepenti
ngan kurang dari Atau
bagian Kas $30.000
(30.000/90.000), Goodwill 30.000
maka kepentingan Modal Z $60.000
dicapai dengan
jalan:
(1) mengkredit Z
sebesar $45.000
(1/2 x 90.000),yang
menyata-kan jumlah
investasinya sebesar
$30.000, bonus
$15.000.
(2) mengkredit Z
sebesar $60.000
yang menyatakan
jumlah investasinya
$30.000 dan
goodwill $30.000
(modal sekutu baru
harus dari modal
baru, atau $60.000,
karena modal
sekarang sebesar
$60.000)
(6) Z Oleh karena total Kas $30.000
menanamkan modal terbatas Modal X 5.000
$30.000 untuk ke- $90.000 yakni Modal Y 5.000
pentingan jumlah modal awal Modal Z $40.000
seharga $40.000 dan jumlah investasi
dalam total modal Z, maka investasi
sebesar $ 90.000 adalah $30.000
untuk kepentingan
seharga $40.000 ter-
masuk bonus
sebesar $10.000
yang diberikan
kepada sekutu yang
baru masuk

(7) Z Oleh karena Z Kas $30.000


menanamkan menerima Goodwill 10.000
$30.000 untuk kepentingan sebesar Modal X 5.000
kepentingan $50.000 Modal Y 5.000
dalam total modal (1/2x100.000), yang Modal Z $50.000
$100.000 lebih besar $ 20.
000 daripada jumlah
investasinya, dan
karena total modal
harus lebih besar
$10.000 dari pada
total investasi
modal, maka kondisi
untuk penerimaan
masuk me-liputi
goodwill sebesar
$10.000 dan bonus
sebesar $10.000
untuk sekutu baru

2. PENYELESAIAN DENGAN PENGUNDURAN DIRI SEORANG SEKUTU


Pengunduran diri seorang sekutu dapat menyebabkan pembubaran
sepenuhnya perusahaan. Sebaliknya perusahaan dapat dilanjutkan tanpa
hambatan, sementara penyelesaian dengan sekutu yang mengundurkan diri
dilakukan dengan:
1. Pembelian kepentingannya oleh salah seorang sekutu lainnya
2. Pembayaran kepadanya uang kas perusahaan/aktiva lainnya untuk
memenuhi kepentingannya

I. Pembayaran Kepada Sekutu yang Mengundurkan Diri Suatu


Jumlah yang Melebihi Saldo Modalnya
Seorang sekutu yang mengundurkan diri dari persekutuan Firma, yang
telah mengalami kemajuan pesat dapat menuntut jumlah yang melebihi saldo
modalnya. Para sekutu yang ada bersedia memenuhi tuntutan ini demi
kelanjutan perusahaan ini adalah prosedur yang dapat dipaksakan oleh sekutu
yang mengundurkan diri kepada sekutu lainnya yang ada.
Dalam hal itu para sekutu mungkin setuju, bahwa (1) kelebihan jumlah
yang dibayarkan akan dianggap sebagai bonus yang harus dipikul oleh para
sekutu yang meneruskan perusahaan, atau (2) kelebihan jumlah yang
dibayarkan akan digunakan sebagai dasar mencatat goodwill persekutuan
Firma.

Bonus
Diasumsikan bahwa perkiraan modal J, K dan L masing-masing sebesar
$10.000, aktiva dinilai dengan tepat dan masing-masing sekutu berbagi laba
dalam rasio 50%, 25%, dan 25%. Para sekutu setuju untuk membayar L sebesar
$11.500 dalam penyelesaian kepentingannya. Jika kelebihan sebesar $1.500
harus dianggap sebagai bonus yang dapat dibebankan pada J dan K, maka ayat
jurnalnya:

Modal L $10.000
Modal J 1000 sesuai rasio 50 :25
Modal K 500
Hutang yang harus dibayar kepada L$11.500

Goodwill
Akan tetapi, asumsikan bahwa J dan K tidak bersedia perkiraan modal
mereka berkurang, kendati mereka bersedia membayar L dengan $11.500
dalam penyelesaian kepentingannya. Pemberian kelebihan sebesar $1.500
kepada L atas kepentingannya ini dapat dipandang sebagai pembayaran untuk
goodwill yang menyangkut Firma, tetapi tidak dicatat dalam buku. Oleh karena L
memperoleh bagian dalam kenaikan aktiva bersih sampai sebesar 25%, maka
jumlah $1.500 dapat dianggap sebagai 25% dari goodwill yang ada sekarang.
Dengan demikian total goodwill adalah $6.000. Untuk menetapkan goodwill
persekutuan Firma seperti yang telah ditentukan dan untuk melaporkan
kewajiban dari sekutu yang mengundurkan diri, maka ayat jurnalnya.
Goodwill $6.000

Modal J $3.000
Modal K 1.500
Modal L 1.500
Modal L $11.500
Hutang yang harus dibayar kepada L $11.500
Mencatat persetujuan untuk membayar L dengan $11.500

II. Pembayaran Kepada Sekutu yang Mengundurkan Diri dengan


Jumlah yang lebih kecil daripada Saldo modalnya
Apabila sekutu yang mengundurkan diri setuju menerima jumlah yang
lebih kecil daripada jumlah yang dilaporkan dalam perkiraan modalnya, maka
selisihnya dapat dipandang (1) sebagai bonus yang harus diberikan kepada
sekutu lainnya yang melanjutkan, (2) dimana goodwill telah dicatat sebelumnya
sebagai imbangan terhadap saldo goodwill.

Bonus
Asumsikan dalam contoh di atas, bahwa L setuju untuk menerima $8.500
dalam penyelesaian secara penuh kepentingannya sebesar $10.000. Jika selisih
sebesar $1.500 harus ditangani sebagai bonus kepada sekutu lainnya yang
melanjutkan perusahaan, maka aya jurnalnya.

Modal $10.000
Hutang yang harus dibayar kepada L$8.500
Modal J 1.000
Modal K 500
Untuk mencatat persetujuan pembayaran kepada L sebesar $8.500 dalam
penyelesaian secara penuh kepentingannya, dengan bonus sebesar
$1.500 diberikan kepada J dan K dalam rasio yangberlaku antara mereka

Goodwill
Akan tetapi, asumsikan bahwa buku-buku persekutuan Firma
menunjukkan saldo goodwill. Saldo perkiraan modal L menggambarkan aktiva
tak berwujud sebagian. Dalam hal seperti itu, para sekutu dapat menganggap
bahwa pembayaran kepada L dalam jumlah yang lebih kecil daripada saldo
modalnya ini, sebagai penurunan dalam goodwill dan bukan sebagai kenaikan
dalam modal para sekutu yang melanjutkan persekutuan Firma. Asumsikan
bahwa L dibayar $8.500 untuk kepentingannya yang dilaporkan sebesar
$10.000, dengan kelebihan kredit yang ditangani sebagai pengurangan
terhadap goodwill, maka ayat jurnalnya:
Modal L $10.000
Goodwill $1.500
Hutang yang harus dibayar kepada L8.500
Untuk mencatat persetujuan pembayaran kepada L sebesar $8.500
dalam penyelesaian secara penuh kepentingan dengan kredit sebesar
$1.500 yang timbul dari penyelesaian yang dibebankan kepada goodwill.

Adalah mungkin untuk menetapkan seluruh penurunan dalam goodwill


persekutuan Firma kedalam penyelesaian dengan L. Karena penurunan sebesar
$1.500 menyangkut 25% kepentingan, maka seluruh penurunan goodwill dapat
dipertimbangkan sebesar $6.000 dan ayat jurnalnya adalah:
Modal J $3.000
Modal K 1.500
Modal L 10.000
Goodwill $6.000
Hutang yang harus dibayar kepada L8.500

3. PENYELESAIAN DENGAN AHLI WARIS


Dengan meninggalnya seorang sekutu maka akan membubarkan
persekutuan. Dalam hal ini, tidak ada ketentuan khusus yang menunjukkan hal
sebaliknya, laba dan rugi harus diikhtisarkan, aktiva persekutuan Firma harus
dinilai dan kepentingan sekutu yang meninggal dunia harus ditetapkan pada
tanggal meninggalnya. Laba atau rugi dari sejak tanggal penutupan buku yang
terakhir ditetapkan dan dipindahkan ke perkiraan modal dalam rasio laba-rugi
yang disetujui. Perubahan nilai aktiva yang timbul dari penilaian kembali juga
dicatat dalam perkiraan modal dengan resiko laba rugi yang sama. Kemudian itu
menjadi kewajiban sekutu yang tinggal untuk melikuidasi perusahaan. Aktiva
kemudian dijual, kewajiban dibayar dan penyelesaian dengan ahli waris
almarhum dan dengan sekutu yang tinggal dilakukan.
Para sekutu dapat menetapkan dengan persetujuan bahwa apabila
seorang sekutu meninggal dunia, perusahaan akan dilanjutkan oleh sekutu
lainnya yang masih ada. Mereka dapat menyetujui untuk menyelesaikan
kepentingan sekutu yang meninggal.
1. Dengan pembayaran dari aktiva persekutuan Firma
2. Dengan pembayaran oleh masing-masing sekutu yang memperoleh
kepentingan ini
3. Dengan pembayaran dari hasil asuransi persekutuan Firma oleh sekutu
yang ada yang memperoleh kepentingan almarhum.
Persetujuan persekutuan Firma adakalanya menetapkan bahwa
kepentingan sekutu yang meninggal dunia tidak akan dihitung sampai akhir
periode fiscal biasa pada waktu buku persekutuan ditutup. Dalam hal itu, dapat
ditetapkan bahwa kepentingan sekutu yang meninggal akan ditentukan dengan
memberikan bagian pradata atas laba periode itu sampai dengan tanggal
penyelesaian dengan ahli warisnya.
Dalam beberapa hal ditetapkan, bahwa ahli waris almarhum akan
melanjutkan kedudukannya sebagai sekutu.

4. MENGUBAH PERSEKUTUAN FIRMA MENJADI PERSEKUTUAN TERBATAS


Apabila akte yang menetapkan PT diberikan, maka PT ini akan bertindak
untuk memperoleh aktiva bersih persekutuan Firma untuk ditukarkan dengan
sahamnya. Saham yang diterima oleh Firma dibagikan kepada para sekutu
dalam menyelesaikan kekayaan mereka. Dengan demikian PT mengambil alih
aktiva Firma dan menanggung kewajibannya, Firma dibubarkan dan para
sekutunya sekarang memegang saham PT yang baru dibentuk. Dalam mencatat
kegiatan perseroan terbatas yang baru dibentuk itu, buku persekutuan Firma
dapat terus digunakan atau sebuah buku baru yang dibuka.
Buku Persekutuan Firma Terus Digunakan
Jika buku yang digunakan Firma terus digunakan maka ayat-ayat jurnal
yang dibutuhkan untuk dilaporkan:
1. Perubahan dalam nilai aktiva dan kewajiban serta dalam kepentingan
para sekutu sebelum diubah menjadi perseroan.
2. Perubahan dalam bentuk pemilikan
Perkiraan penilaian kembali dapat dibebani dengan kerugian dan dikredit
dengan keuntungan dari penilaian kembali dan saldo dalam perkiraan ini
selanjutnya dapat ditutup pada perkiraan modal dalam rasio laba rugi. Akan
tetapi, dengan beberapa penyesuaian, perkiraan modal dapat dibebani atau
dikredit langsung dengan kerugian dan keuntungan dari penilaian kembali.
Penerbitan saham untuk ditukarkan dengan kepentingan para sekutu dicatat
sebagai beban perkiraan modal para sekutu dan dikredit pada perkiraan modal
perseroan yang bersangkutan.

Penggunaan Buku Baru Untuk Perseroan Terbatas


Jika untuk perseroan terbatas dibuka buku baru, maka semua perkiraan
persekutuan Firma ditutup. Dalam menutup perkiraan persekutuan Firma, ayat-
ayat jurnal dibuat untuk mencatat pemindahan aktiva dan kewajiban perseroan
terbatas, penerimaan saham dalam pembayaran aktiva bersih yang
dipindahkan dan pembagian saham kepada para sekutu.
PERSEKUTUAN FIRMA-USAHA LIKUIDASI
CICILAN:
PATUNGAN (JOINT VENTURE)

Apabila likuidasi persekutuan Firma terjadi dalam periode yang panjang,


maka sering dikehendaki untuk membagikan uang kas kepada para sekutu
begitu sebagian uang yang diperlukan tersedia. Pada pemakaian prosedur
pembayaran cicilan, harus diusahakan untuk menghindari pembayaran yang
terlalu tinggi kepada masing-masing sekutu. Hal ini membutuhkan prosedur
khusus untuk dapat menentukan urutan sekutu mana yang boleh ikut serta
dalam pembagian kas.

Prosedur Penetapan Pembagian Cicilan.


Dalam pembagian ini, hal-hal yang perlu dipertimbangkan hanyalah
kemungkinan kerugian yang dapat timbul dari kegagalan sekutu yang
kekurangan modal untuk memenuhi kewajiban mereka terhadap perusahaan.
Pembagian uang kas kepada para sekutu dilakukan dengan cara yang
memungkinkan perkiraan modal mereka menyisakan saldo yang cukup untuk
menutup kerugian yang memungkinkan.
Jika pembagian uang kas dilakukan selama likuidasi berlangsung, maka
jumlah yang akan direalisasi atas aktiva yang masih harus dijual untuk diketahui
dan dengan demikian, jumlah kerugian yang akan ditutup belum dapat
ditetapkan. Dalam hal seperti ini, setiap pembagian kepada para sekutu harus
dilakukan seakan-akan telah terjadi dimasa lalu. Asumsi ini membutuhkan
penetapan: (1) Kemungkinan total kerugian realisasi atas semua aktiva yang
tersisa, dan (2) Kemungkinan para sekutu kekurangan modal atau yang
mungkin kekurangan modal sehingga tidak mampu memenuhi kewajiban
mereka terhadap perusahaan. Akibat praktis dari prosedur ini adalah melakukan
pembagian, yang memungkinkan penetapan sesegera mungkin kepentingan
para sekutu dalam rasio laba rugi.

Rasio Laba Rugi yang Dicapai pada Cicilan Pertama


Asumsikan bahwa A dan B adalah dua orang sekutu, yang membagi laba
dalam rasio 60:40, neraca per 1 Oktober 2007 adalah sebagai berikut:
Firma A dan B
Neraca
Per 1 Oktober 2007

Aktiva Kewajiban dan Modal


Kas.............................. $15.000 Kewajiban........................ $20.000
Aktiva lainnya ............ 105.000 Modal A............................ 75.000
_______ Modal B............................ 25.000
Total Aktiva.................. $120.000 Total kewajiban dan Modal
........................................
$120.000

Kedua sekutu memutuskan untuk melikuidasi persekutuan Firma. Selama


bulan oktober, aktiva dengan nilai buku $70.000 direalisasikan sebesar $55.000.
Kewajiban sebesar $20.000 dibayar. Saldo perkiraan dalam buku persekutuan
Firma pada akhir bulan Oktober adalah sebagai berikut:

Aktiva Kewajib Modal Modal


Kas
Lainnya an A B
Saldo sebelum likuidasi. . 15.000 105.000 20.000 75.000 25.000
Penjualan aktiva dan
pemba gian kerugian...... 65.000 (70.000) (9.000) (6.000)
70.000 35.000 20.000 66.000 19.000
(20.000) (20.000)
Pembayaran pada para
50.000 35.000 66.000 19.000
kreditor
saldo

Pada saat ini tersedia uang kas $50.000 untuk dibagikan dan sementara
itu total kepentingan mereka adalah sebesar $85.000. Karena uang kas yang
tersedia bagi para sekutu dimasa mendatang tidak diketahui, maka sekarang
dianggap terjadi di masa lalu. Skedul yang disusun untuk menetapkan
pembagian uang kas terlihat sebagai berikut:

A B
Saldo modal sebelum pembagian uang $86.000 $19.000
Kas ......................................................................................
Kepentingan yang dibatasi kerugian yang mungkin sebesar (21.000) (14.000)
$35.000 jika sisa aktiva tidak direalisasi, yang dapat
dibebankan
kepada para sekutu rasio 60:40............................
Kepentingan bebas jumlah yang harus dibayar kepada sekutu $45.000 $5.000
Pembagian uang kas dengan cara ini memberikan kepada A modal
sebesar $21.000 dan kepada B sebesar $14.000. Sekarang modal masing-
masing sekutu ini yang ada dalam rasio 60:40. Tanpa mempersoalkan kerugian
yang mungkin nanti, dan juga apakah sekutu dibayar lebih atau tidak, maka
dengan demikian, sekutu yang bersangkutan wajib mengembalikan
kelebihannya kepada perusahaan.
Dengan saldo modal dalam rasio laba rugi, maka pembagian uang kas
dimasa mendatang dapat dilakukan dalam rasio laba rugi ini. Diasumsikan
bahwa dalam bulan November aktiva dengan nilai buku $25.000 dijual seharga
$10.000 dan dalam bulan Desember sisa aktiva dengan nilai buku $10.000
dijual seharga $12.500. Maka laporan likuidasi yang mengikhtisar proses
likuidasi lengkap terbaca sebagai berikut:
Firma A dan B
Laporan Likuidasi
1 Oktober 31 Desember 2007

Rasio Modal dan


Bagi Laba Rugi
Aktiva Kewajib
Kas Modal Modal
Lainnya an
A B
60% 40%
Saldo sebelum likuidasi........ $15.000 $105.00 $20.000 $75.000 $25.000
Oktober-penjualan 0
aktiva dan pembagian 55.000 (9.000) (6.000)
kerugian ...................... (70.000)
$70.000 $35.000 $20.000 $66.000 $19.000
(20.000) (20.000)
Pembayaran kepada
$50.000 $35.000 $66.000 $19.000
kreditor...............................
(50.000) (45.000) (5.000)
Oktober cicilan kepada $35.000 $21.000 $14.000
sekutu bagian kerugian ...... $10.000 (25.000) (9.000) (6.000)
November penjualan aktiva $10.000 10.000 $12.000 $8.000

dan pembagian kerugian .... (10.000) (6.000) (4.000)


$10.000 $6.000 $4.000
November-cicilan kepada
$12.500 (10.000) 1.500 1.000
para sekutu dalam rasio $12.500 $7.500 $5.000
laba rugi.............................. (12.500) (7.500) (5.000)
Desember-penjualan aktiva
dan pembagian keuntungan
Desember-cicilan kepada
para sekutu dalam rasio
laba rugi..............................

Ayat-ayat jurnal untuk mencatat jumlah likuidasi diperlihatkan seperti


pada halaman berikut ini.
Dalam contoh berikut, jika penyelesaian dengan para sekutu
ditangguhkan sampai semua aktiva terjual, maka pembagian uang kas akan
sama jumlahnya dengan total uang kas yang tersedia lewat prosedur cicilan.
Penjualan aktiva persekutuan Firma dengan nilai buku $105.000, seharga
$77.500 menghasilkan kerugian sebesar $27.500. A akan dibebani dengan 60%
dari jumlah ini, dan B akan dibebani dengan 40%, atau sebesar $11.000.
Kemudian, A dan B masing-masing berhak atas $58.000 dan $14.000, yang
tepat sama dengan jumlah yang mereka terima pada akhirnya lewat pembagian
cicilan.
Pembagian uang kas yang dipandang telah terjadi diwaktu lalu tidak akan
berbeda apabila kepentingan para sekutu terdiri dari saldo pinjaman dan modal,
daripada apabila saldo peminjaman dan modal menjadi tidak berarti untuk
tujuan ini. Jika kepentingan A dan B terdiri dari saldo peminjaman dan modal,
maka kepentingan ini dapat disatukan dan jumlah yang harus diambil sama
dengan total saldo ini dalam penetapan pembagian uang kas yang layak. Akan
tetapi, saldo pinjaman dan modal tidak harus disatukan dalam perkiraan
mengingat perbedaan yang harus dibuat antara saldo pinjaman dan saldo
modal oleh ketentuan hukum dan oleh kenyataan, bahwa bunga mungkin masih
harus dibayarkan atas saldo pinjaman. Apabila ditentukan bahwa uang kas
harus disediakan bagi sekutu tertentu, maka uang kas ini harus digunakan lebih
dulu untuk mengurangi saldo pinjamannya.

Rasio Laba Rugi yang Dicapai Kemudian Setelah Cicilan Pertama


Dalam contoh yang diuraikan sebelumnya, kepentingan para sekutu
ditetapkan dalam rasio laba rugi pada pembagian pertama. Pembagian uang
kas berikutnya dilakukan dalam rasio ini, bahwa kepentingan sekutu tertentu
tidak cukup untuk memenuhi kontingensi, kemudian harus ditentukan
kemungkinan, bahwa sekutu yang kekurangan modal tidak dapat memenuhi
kewajiban mereka kepada perusahaan. Dalam hal ini, pembagian pertama tidak
akan berhasil untuk menetapkan kepentingan para sekutu dalam rasio laba rugi.
Selanjutnya, penentuan pembahagian uang kas berikutnya akan membutuhkan
pertimbangan kerugian yang mungkin atas realisasi sisa aktiva. Setiap
pembahagian harus diusahakan untuk membawa kepentingan para sekutu
mendekati rasio laba rugi, setelah rasio laba rugi tercapai, kemudian
pembahagian uang kas berikutnya dilakukan dalam rasio ini.
Prosedur yang digunakan dalam contoh ini adalah sebagai berikut.
Asumsikan bahwa X, Y dan Z berbagi laba rugi dalam rasio 50:30:20. Neraca
disusun tepat sebelum likuidasi terbaca sebagai berikut:
Firma X, Y dan Z
Neraca
Per 1 Juli 2007

Aktiva Kewajiban dan Modal


Kas.............................. $10.000 Kewajiban........................ $52.500
Aktiva lainnya ............ 230.000 Pinjaman X....................... 12.500
Pinjaman Y....................... 10.000
Modal X............................ 65.000
Modal Y............................ 50.000
_______ Modal Z............................ 50.000
Total Aktiva.................. $120.000 Total kewajiban dan Modal
........................................
$240.000

Aktiva secara berturut-turut dijual dan uang kas dari realisasi aktiva
dibagikan kepada para sekutu pada setiap akhir bulan. Realisasi aktiva
dilakukan berturut-turut sebagai berikut:
Juli : aktiva dengan nilai buku $70.000, dijual seharga $50.000
Agustus : aktiva dengan nilai buku $30.000, dijual seharga $20.000
September : Aktiva dengan nilai buku $25.000, dijual seharga $12.500
Oktober : Aktiva dengan nilai buku $105.000, dijual seharga $50.000
Proses likuidasi diikhtisarkan dalam laporan likuidasi dan skedul pendukung
yang tersebut dapat kita lihat pada halaman 95, skedul A yang menyertai
laporan likuidasi jumlah yang harus dibayarkan kepada para sekutu dapat kita
lihat pada halaman 96, skedul B yang menyertai laporan likuidasi jumlah yang
harus dibayarkan kepada para sekutu dapat kita lihat pada halaman 96, dan
skedul C yang menyertai laporan likuidasi jumlah yang harus dibayarkan kepada
para sekutu pada halaman 97.
Dalam menetapkan jumlah yang harus dibayarkan kepada masing-
masing sekutu, hal-hal yang harus dipertimbangkan ialah kemungkinan (1)
bahwa kerugian akan timbul dari sisa aktiva yang tidak terjual dan (2) bahwa
kegagalan akan timbul bagi perusahaan untuk kembali sesuatu dari para sekutu
yang mungkin kekurangan modal dalam keadaan ini.

Program Pembagian Uang Kas


Prosedur ini membutuhkan penghitungan dan penyusunan skedul untuk
setiap pengambilan uang kas yang diusulkan sampai kepentingan para sekutu
dapat ditetapkan dalam rasio laba dan rugi. Dalam beberapa hal mungkin
dikehendaki untuk menyusun likuidasi berlangsung. Apabila uang kas diperoleh
dari penjualan aktiva, maka uang kas ini dibagikan kepada para sekutu sesuai
dengan program ini.
Untuk menggambarkan sifat pendekatan alternative ini, asumsikan
bahwa perkiraan modal F dan G menjelang persekutuan Firma dilikuidasi adalah
sebagai berikut:

Modal F Modal G
$30.000 $25.000

Asumsikan bahwa F dan G berbagi laba dalam rasio yang sama. Karena F
tidak harus menutup dalam jumlah yang lebih besar untuk setiap kerugian
realisasi aktiva daripada jumlah kerugian realisasi yang harus ditutup oleh G,
maka jelas, bahwa uang kas pertama yang tersedia untuk dibagikan kepada
para sekutu harus dibayarkan kepada F. F dapat dibayar dengan total $5.000
sebelum saldo modalnya dikurangi sampai jumlahnya sama dengan saldo modal
G. Karena perkiraan modal ditetapkan dalam rasio laba rugi, maka pembagian
uang kas berikutnya dapat dilakukan dalam rasio ini. Dalam hal ini dengan rasio
yang sama.
Akan tetapi, asumsikan bahwa F dan G berbagi laba masing-masing 75%
dan 25%. Dalam hal ini, G harus menerima lebih dahulu pembagian uang kas.
Kerugian yang dapat dibebankan kepada G hanya sebesar 25/75 atau 1/3 dari
jumlah yang dapat dibebankan kepada F. Dalam hal seperti ini, mungkin tidak
menimbulkan keberatan untuk membagikan uang kas kepada G yang
mengurangi modalnya sampai 1/3 dari saldonya perkiraan modal F, sebelum F
memperoleh bagian dalam pembagian uang kas G, kemudian, harus menerima
jumlah $15.000 uang kas pertama yang tersedia. Dengan modal dalam rasio
laba rugi, maka pembagian uang kas selanjutnya layak dilakukan kepada F dan
G masing-masing dalam rasio laba rugi 75% dan 25%.
Kenyataannya, bahwa klaim G mengandung prioritas terhadap uang kas
sebesar $15.000 yang dapat kita tetapkan dalam contoh dimuka. Akan tetapi,
sering terjadi bahwa saldo modal dan rasio laba rugi tidak segera dapat kita
analisis. Untuk ini kita perlu membuat penghitungan tersendiri untuk
menentukan program prioritas. Penghitungan yang diterapkan dalam kaitannya
dengan contoh di atas, diperlihatkan sebagai berikut:
Prosedur Penjelasan
1. Mengandung kemampuan sekutu Kepentingan masing-masing sekutu
menutup kerugian: dibagi dengan bagiannya dalam
Modal Rasio L/R Kerugian yg memperoleh laba dan rugi untuk
akan memperoleh kerugian maksimum,
ditutup dgn yang dapat ia tutup. Kalkulasi ini
_______ _______ kepentingan menunjukkan, bahwa kerugian
sekutu sebesar $40.000 akan mengkonsumsi
F $30.000 0,75 = $40.000 semua modal F, tetapi kalkulasi ini
G $25.000 0,25 = $100.000 akan menetapkan kerugian sebesar
$100.000 untuk mengkonsumsi modal
G.
2. Menghitung prioritas menurut Kapasitas G Dalam Menutup Kerugian
kelebihan kapasitas penutup Lebih Besar Daripada Kapasitas F
kerugian. Dengan Sebesar $60.000.
Pembayaran kepada G dapat
Kelebihan kapasitas G bagian G dilakukan pada saat kapasitasnya
dalam L/R Klaim prioritas G menutup untuk menutup kerugian tidak lebih
kerugian besar daripada kapasitas F. Untuk
$60.000 x0,25 =$15.000 memperoleh kapasitas menutup
kerugian ini dibagi dengan bagiannya
dalam laba rugi. Untuk memperoleh
kelebihan kapasitas menutup
kerugian, kelebihan ini dikalikan
dengan bagian sekutu bersangkutan
dalam laba/rugi. Kelebihan kapasitas
G dalam menutup kerugian, sebesar
$60.000, dikalikan dengan bagiannya
dalam laba/rugi 0.25, sama dengan
kepentingan yang dinyatakan dengan
kelebihan ini.
Setelah prioritas ditetapkan, Setelah uang kas sebesar $15.000
kemudian pembagian uang dapat dibayarkan kepada G, maka
dilakukan dalam rasio laba rugi kepentingan para sekutu berada
dalam rasio laba rugi. Pembagian
uang kas berikutnya dapat dilakukan
dalam rasio ini.
Contoh Pengembangan Program Prioritas Pembayaran
Pengembangan dan penggunaan program prioritas, yang menyangkut
dua orang sekutu atau lebih, dapat dijelaskan melalui contoh berikut yang
didasarkan pada data-data yang diberikan dalam contoh Firma X, Y dan Z.
Dengan membagi kepentingan masing-masing sebesar $77.500, $60.000,
$50.000 dengan rasio 0,5, 0,3, 0,2 kita peroleh saldo penutup kerugian bagi X, Y
dan Z masing-masing sebesar $155.000, $200.000, dan $250.000. hal ini
menunjukkan, bahwa Z harus mendapat urutan pertama dalam pembagian
uang kas. Kepentingan Z dapat dikurangi dengan pembayaran sampai saat
dimana kapasitasnya untuk menutup kerugian tidak lebih besar daripada
kapasitas Y. Pada saat ini, uang kas harus dibagikan kepada Z dan Y.
Kepentingan Y dan Z dapat dikurangi dengan pembayaran bersama sampai saat
dimana kapasitas kedua sekutu ini, dalam menutup kerugian, tidak lebih besar
daripada kapasitas X. Pada saat ini, kepentingan X, Y, Z akan berada dalam
rasio laba dan rugi, dan pembagian uang kas berikutnya layak dilakukan dalam
rasio ini.
Dalam pengembangan program prioritas pembayaran untuk Firma X, Y
dan Z pada awal likuiditas, kerugian maksimum yang dapat ditutup oleh
masing-masing kepentingan sekutu kita hitung lebih dulu. Saldo pinjaman
disatukan dengan saldo modal untuk menetapkan kepentingan para sekutu, dan
kepentingan ini dibagi kepada masing-masing sekutu menurut rasio L/R yang
dinyatakan dalam persentase. Kemudian uang kas dibagikan dengan cara, yang
memungkinkan kepentingan para sekutu lebih mendekati saat dimana mereka
dapat menutup kerugian persekutuan Firma yang sama.
Informasi yang diberikan dalam program prioritas pembayaran di atas
diikhtisarkan sebagai berikut:
1. Uang kas pertama $10.000 yang tersedia bagi para sekutu dibayarkan
lebih dahulu kepada Z
2. Uang kas berikutnya sebesar $22.500 harus dibayarkan kepada Y dan Z
dalam rasio 30:20
3. Jumlah yang melebihi $32.500 harus dibayarkan kepada X, Y dan Z dalam
rasio laba rugi 50:30:20

Firma X,Y dan Z


Program prioritas pembagian uang kas dalam likuidasi persekutuan Firma
1 juli 2007

Pembayaran kepada
X Y Z
X Y Z
Saldo modal $65.00 $50.000 $50.000
0
Saldo pinjaman $12.50 $10.000
0
$77.50 $60.000 $50.000
0
50% 30% 20%
Rasio laba dan rugi
Saldo penutup
kerugian kepentingan
dibagi dengan
persentase laba rugi $155.0 $200.00 $250.00
sekutu 00 0 0
Pembagian I
Uang kas kepada Z
untuk mengurangi
saldo penutup
kerugiannya sampai
jumlah yang
dilaporkan oleh Y.
Pengurangan sebesar
$50.000 $(50.00
membutuhkan 0)
pembayaran sebesar $155.0 $200.00 $250.00 $10.000
0,2 x $50.000 00 0 0
Pembagian II $155.0 $(45.00 $(45.00 $13.50 $9.000
Uang kas kepada Y
dan Z untuk
mengurangi saldo
penutup kerugian
mereka dilaporkan
untuk X. Pengurangan
sejumlah $45.000
membutuhkan
pembayaran sbb:
Kepada Y
0.3*45.000 atau
13.500 0) 0) 0
Kepada Z $155.00 $155.00 $13.50
0.2*45.000 atau 9000 00 0 0 0 $19.000
Pembagian III
Pembagian uang kas
berikut dapat
dilaksanakan dalam
rasio L/R

Usaha Patungan (Joint Venture)


Joint venture adalah suatu usaha perdagangan yang dilakukan oleh dua
orang atau lebih atau oleh kesatuan usaha, yang dihentikan apabila tujuan yang
ditetapkan tercapai.
Asosiasi pihak-pihak yang bersangkutan dalam usaha patungan
merupakan persekutuan Firma dan undang-undang persekutuan Firma
mengaturnya. Akan tetapi, karena usahanya hanya untuk tertentu, maka
wewenang dan tugas para anggota terbatas pada tujuan ini.
Masing-masing sekutu pada usaha patungan dapat menyetorkan uang
kas, barang dagangan, atau jasa-jasa dan selanjutnya membagi laba rugi.
Pembagian laba rugi dilakukan dalam rasio yang sama (dibagi rata), jika tidak
ada persetujuan khusus mengenai hal ini.
Pada umumnya, seorang anggota dari usaha patungan ditugaskan
sebagai sekutu pengelola dan kepadanya diberikan imbalan khusus atas
tugasnya itu. Sebagai sekutu pengelola ia menyerahkan laporan keuangan yang
mengikhtisarkan transaksi, kepada sekutu lainnya.
Ada 2 metode untuk usaha patungan:
1. Buku-buku tersendiri atau terpisah diselenggarakan untuk usaha
patungan
2. Buku-buku tersendiri tidak diselenggarakan tetapi perkiraan transaksi
usaha patungan

Contoh Akuntansi Untuk Usaha Patungan


Prosedur akuntansi alternativ yang dapat kita gunakan untuk usaha
patungan diikhtisarkan dalam contoh berikut. Asumsikan bahwa A, B dan C
menandatangani pendirian sebuah usaha patungan untuk kegiatan pembelian,
pengembangan, dan penjualan sebidang tanah A ditetapkan sebagai pengelola:
pada pembubaran usaha patungan ini imbalan khusus sebesar $5.000 harus
diberikan kepadanya dan saldo laba harus dibagi dalam rasio investasi sekutu.
PENGGABUNGAN USAHA
Penggabungan usaha terjadi apabila dua perusahaan atau lebih
membentuk satu organisasi tunggal untuk menjalankan usaha. Penggabungan
usaha dapat dilakukan dalam banyak bentuk yang berbeda. Penggabungan
kesatuan-kesatuan usaha ini sering kali dicapai melalu penyatuan bermacam-
macam perusahaan menjadi unit-unit tunggal yang lebih besar. Penyatuan
seperti ini diselesaikan dengan jalan peleburan (merger) atau lewat konsolidasi.
Penggabungan usaha dapat dicapai dengan perolehan pengendalian oleh
perusahaan yang satu terhadap operasi perusahaan lain.
Tujuan dari penggabungan adalah perolehan daerah pemasaran yang
lebih luas dan volume penjualan yang lebih besar, perolehan dan
pengembangan organisasi perusahaan yang lebih kuat dan produksi yang lebih
baik serta bakat manajemen (bakat pengelolaan perusahaan). Penurunan biaya
melalui penghematan dan efisiensi pada skala operasi yang lebih besar,
peningkatan yang menitik beratkan pada modal untuk pertumbuhan sebagai
biaya yang rendah atas pinjaman.

I. PELEBURAN (MERGER)
Peleburan terjadi dengan perolehan langsung harta benda satu atau
beberapa perusahaan lain. Perusahaan yang mengambil alih harta perusahaan
lain tetap mempertahankan identitasnya dan meneruskan operasinya sebagai
kesatuan usaha yang lebih besar. Perusahaan yang harta bendanya diambil alih
dibubarkan dan harus melepaskan identitasnya.

II. KONSOLIDASI
Konsolidasi terjadi apabila sebuah perusahaan diorganisasi (didirikan)
secara khusus untuk memperoleh aktiva dan menanggung kewajiban dua
perusahaan atau lebih yang telah ada sebelumnya dibubarkan.
III. MASALAH YANG TIMBUL DALAM PENGGABUNGAN USAHA
Masalah yang timbul dalam rangka penggabungan usaha adakalanya
mudah dan adakalanya rumit. Misalnya, usul pembelian lepas (outright
purchase) perusahaan yang satu oleh perusahaan yang lain mungkin hanya
menyangkut persetujuan mengenai harga yang harus dibayar atas perusahaan
yang hendak dibeli dan persyaratan pembayaran ini.
1. Setoran Oleh Perusahaan Yang Terlibat Dalam Penggabungan
Apabila kekayaan dalam kesatuan usaha yang diperbesar harus diberikan
kepada kelompok pemilik semula, maka dasar untuk pembagian yang adil
terhadap kekayaan ini biasanya ditetapkan dengan (1) setoran aktiva bersih
relativ dan (2) setoran laba relativ. Meskipun kedua faktor ini dipertimbangkan
secara mendalam dalam perundingan yang berlangsung, namun penyelesaian
akhirnya juga dipengaruhi oleh kekuatan relativ pihak-pihak yang bersangkutan
dalam perundingan tawar menawar antar mereka.
Apabila diperoleh akuntansi yang sebanding, maka tahap berikutnya
mungkin adalah penyelidikan mengenai kecukupan data-data ini sebagai dasar
untuk mengukur setoran aktiva bersih relatif. Nilai buku aktiva mengikhtisar
harga pokok diwaktu lalu, akan tetapi aktiva ini harus ditetapkan bukan menurut
harga pokoknya diwaktu lalu, melainkan menurut nilai wajarnya pada saat
sekarang.
Perhitungan rugi laba untuk perusahaan yang terlibat dalam
penggabungan harus dianalisis untuk menentukan setoran laba relativ kepada
perusahaan yang baru seperti, neraca, laba rugi, harus disusun kembali untuk
memperoleh akuntansi lengkap dan sebanding.

2. Penerbitan satu jenis saham dalam penggabungan usaha


Apabila tingkat laba ini berbeda dan harus diterbitkan satu jenis saham,
maka pihak-pihak yang bersangkutan mungkin sepakat, bahwa laba yang
dianggap di atas normal harus digunakan sebagai dasar untuk
mengkalkulasikan goodwill dan goodwil ini harus ditambahkan pada aktiva
bersih lainnya dalam mengukur setoran penuh perusahaan.
Ilustrasi diasumsikan: Para pemegang saham perusahaan A, B, C setuju
untuk melakukan konsolidasi dan mendirikan perusahaan D. Aktiva bersih
dengan nilai yang ditaksir dan laba rata-rata yang disesuaikan untuk waktu lima
tahun lalu, yang diyakini oleh masing-masing perusahaan sebagai dasar
taksiran yang paling dapat dipercaya mengenai laba dimasa mendatang adalah
sebagai berikut:
Keterangan Perusahaan A Perusahaan B Perusahaan C Total
Setoran aktiva $ 200.000 $ 300.000 $500.000 $1.000.000
bersih
Persentase 20% 30% 50%
setoran aktiva
terhadap total
aktiva
Setoran Laba $30.000 $ 30.000 $ 40.000 $ 100.000
Persentase 30% 30% 40%
setoran laba
terhadap total
laba

Jika perusahaan D menerbitkan satu jenis saham dalam rasio aktiva


bersih, maka para pemegang saham perusahaan A, B danC akan menerima
saham dalam rasio masing-masing 20:30:50. Meskipun dicapai pembagian yang
adil terhadap kepentingan mereka dalam aktiva sebesar 1.000.000, namun laba
sebesar 100.000 dimasa mendatang akan bertambah bagi para pemegang
saham dalam rasio aktiva, yang akan menimbulkan kerugian bagi para
pemegang saham awal perusahaan A dan keuntungan bagi para pemegang
saham awal perusahaan C.
Dilain pihak, jika satu jenis saham diterbitkan dalam rasio laba, maka
pemegang saham perusahaan A, B dan C akan menerima saham dengan rasio
30:30:40, Meskipun pembagian yang adil atas laba dimasa mendatang tercapai,
namun para pemegang saham akan gagal memelihara kepentingan mereka
dalam aktiva. Para pemegang saham perusahaan A akan memperoleh
kepentingan yang melebihi investasi mereka, sedangkan para pemegang saham
perusahaan C akan memperoleh kepentingan yang lebih kecil daripada investasi
mereka.
Untuk menghindari ketidakadilan yang timbul dari pembagian satu jenis
saham, baik menurut rasio aktiva bersih maupun menurut rasio laba, pihak-
pihak yang bersangkutan memutuskan bahwa masing-masing setoran akan
diukur dengan nilai yang ditetapkan pada aktiva bersih, yang dinaikkan dengan
goodwill. Bahwa setoran ini harus ditentukan sebagai berikut: (1) laba 6% harus
dipandang sebagai laba yang layak atas aktiva bersih yang ditetapkan. (2)
kelebihan laba harus dikapitalisasikan sebesar 20% untuk memperoleh nilai
goodwill. Kemudian setoran yang memperhitungkan faktor-faktor aktiva bersih
dan laba dikalkulasikan sebagai berikut:
Keterangan Perusahaan A Perusahaan B Perusahaan C Total
Aktiva yang
lain 200.00 300.00 500.000 1.000.000
daripada 0 0
Goodwill
Goodwill:
*Laba
tahunan
rata-rata 30.00 30.000 40.000
*Laba 0
tahunan
nominal
atas aktiva *18.000 *30.000
6% *12.00 12.000 10.000
*Kelebihan 0
laba 18.00
tahunan 0
yang 90.000 60.000 50.000 200.000
dikapitalisa
si 20%
(goodwill)
Total 290.00 360.000 550.000 1200.000
Setoran 0
Keterangan: * 6% x 200.000 = 12.000
* 6% x 300.000 = 18.000
* 6% x 500.000 = 30.000

Diasumsikan bahwa sejumlah 25.000 lembar saham harus diterbitkan


oleh perusahaan. Bagian yang harus dibagikan adalah sebagai berikut:
Perusahaan A: 290.000/1.200.000 x 25.000 6.042 lembar
Perusahaan B: 360.000/1.200.000 x 25.000 7.500 lembar
Perusahaan C: 550.000/1.200.000 x 25.000 11.458 lembar
Total 25.000 lembar
Perbandingan setoran aktiva bersih dan laba relativ oleh perusahaan A, B
dan C serta klaim relativ atas aktiva bersih dan laba diperusahaan yang baru,
dalam masing-masing hal adalah sebagai berikut:
Perusahaan A Perusahaan B
Perusahaan C
Setoran aktiva bersih 20% 30% 50%
Setoran laba 30% 30% 40%
Klaim atas aktiva bersih
dan laba perusahaan baru 24%(6042/25000) 30%
46%

3. Penerbitan beberapa jenis saham dalam penggabungan usaha


Prosedur berikut ini ditempuh dalam pembagian bermacam jenis saham
perusahaan yang baru kepada kelompok yang terlibat:
1. Setoran laba masing-masing perusahaan yang tersangkut harus
dikapitalisasi dengan tarif tertentu, tetapi tarif ini tidak harus melebihi
tingkat laba masing-masing perusahaan. Prosedur ini menentukan total
saham yang harus diterbitkan untuk masing-masing perusahaan
2. Saham preferen harus dibagikan kepada masing-masing perusahaan
sebanding dengan aktiva bersih yang disetorkan. Saham ini harus
preferen terhadap aktiva pada pembubaran perusahaan, dengan
preferensi yang sama terhadap nilai dari harta benda yang disetorkan.
Tingkat dividen tidak harus melebihi tarif yang digunakan dalam
kapitalisasi laba. Pihak-pihak yang bersangkutan harus memperoleh
bagian penuh atas partisipasinya.
3. Saham biasa harus diterbitkan untuk masing-masing perusahaan sebesar
selisih antara total saham seperti dihitung dalam bagian (1) dan jumlah
saham preferen yang diterima masing-masing perusahaan seperti
dihitung dalam bagian (2) di atas ini.

Diasumsikan bahwa setoran kepada perusahaan D oleh perusahaan A, B


dan C seperti telah dikemukakan di atas adalah sebagai berikut:

Perusahaan A Perusahaan B Perusahaan C Total


Setoran aktiva 200.000 300.000 500.000 1000.000
bersih
Setoran laba 30.000 30.000 40.000 100.000
Tingkat laba 15% 10% 8% 10%
atas aktiva
bersih

Bahwa laba harus dikapitalisasikan dengan tarif sebesar 8% untuk


menetapkan total saham yang harus diterbitkan. Saham preferen partisipasi 6%
penuh dengan nilai nominal @ $100 dan preferensi terhadap aktiva sebesar nilai
nominal ini harus diterbitkan dalam penukarannya dengan aktiva bersih yang
diserahkan. Saham biasa, dengan nilai nominal @ $100, harus diterbitkan untuk
masing-masing perusahaan sebesar selisih antara total saham yang menjadi
hak masing-masing perusahaan dengan saham preferen yang diterima masing-
masing perusahaan. Saham biasa dipandang sebagai pembayaran untuk
goodwill. Pembagian saham dilakukan sebagai berikut:
Perusahaan A Perusahaan B Perusahaan C Total
Total saham 1250.000
yg harus
diterbitkan 375.000 375.000 500.000
(laba : 0,08)
Jumlah saham
preferen yg
harus
diterbitkan 200.000 300.000 500.000 1000.000
(sebesar
aktiva yg
disetorkan)
Jumlah saham
biasa yg harus
diterbitkan
(saldo yg 175.000 75.000 0 250.000
menyatakan
pembayaran
utk good will)

Laba tahunan sebesar $100.000 yang diperoleh perusahaan baru akan


memungkinkan pembagian dividen sebesar 8% baik atas saham preferen
partisipasi maupun atas saham biasa. Laba ini akan dibagikan sebagai berikut:
Perusahaan A Perusahaan B Perusahaan C Total
Atas saham
preferen *16.000 24.000 40.000 80.000
partisipasi 6%
(8%)
Atas saham **14.000 6000 0 20.000
biasa (8%)
Total 30.000 30.000 40.000 100.000
Pembagian
Pembagian 30% 30% 40% 100%
laba semula
Perhitungan *16.000 = 0,08 x 200.000 dan **14.000 = 0,08x 175.000

Beberapa observasi perlu diketengahkan:


1. Pembagian laba tidak boleh lebih kecil daripada tingkat preferen atas total
modal saham jika pembagian harus dilakukan dalam rasio laba semula.
Misalnya, jika perusahaan yang baru hanya memperoleh dan membagikan
laba sebesar $60.000, maka pembagian akan terbatas pada saham preferen
dengan laba yang masih harus diterima dalam rasio pemilikan preferensi
atau masing-masing sebesar 20%, 30%, dan 50%. Pembagian laba sebesar
$70.000 lebih mendekati rasio laba semula tetapi masih belum memenuhi
seluruhnya:
Perusahaan A Perusahaan B Perusahaan C Total
Atas saham
preferen *12.000 18.000 30.000 60.000
partisipasi 6%
Atas saham **7.000 3000 0 10.000
biasa (4%)
Total 19.000 21.000 30.000 70.000
Pembagian
Persentase ***27% 30% 43% 100%
Pembagian
laba
Perhitungan *12.000 = 0,06 x 200.000
**7000 = 0,04x 175.000
***27% = 19.000/70.000
2. Saham preferen harus partisipasi jika pembagian laba yang melebihi tingkat
preferensi atas modal saham dilakukan dalam rasio laba semula. Jika, dalam
contoh di atas saham preferen 6% adalah non-partisipasi dan laba yang
harus dibagikan berjumlah $100.000, maka pembagian ini tidak akan
mencapai tingkat setoran laba sebesar 30%, 30% dan 40%. Dalam hal-hal
seperti ini, pembagian akan dilakukan sebagai berikut:
Perusahaan A Perusahaan B Perusahaan C Total
Atas saham
preferen 12.000 18.000 30.000 60.000
partisipasi 6%
Atas saham *28.000 12.000 0 40.000
biasa (16%)
Total 40.000 30.000 30.000 70.000
Pembagian
Persentase 40% 30% 30% 100%
Pembagian
laba
Perhitungan * 28.000 = 0,16 x 175.000

3. Dengan mengapitalisasikan laba dengan tarif yang lebih kecil daripada 8%


dimungkinkan untuk mengikutsertakan para pemegang saham perusahaan C
dalam pembagian saham biasa. Sebagai contoh, jika laba dikapitalisasikan
dengan tarif sebesar 5% saham preferen partisipasi 5% penuh akan
diterbitkan untuk ditukarkan dengan aktiva bersih yang diserahkan, dan
saham biasa diterbitkan untuk saldo dari total saham yang harus diterbitkan.
Nilai nominal kedua jenis saham ini @ $100. Pembagian saham dilakukan
sebagai berikut
Perusahaan A Perusahaan B Perusahaan C Total
Total saham
yang harus 600.000 600.000 800.000 2000.000
diterbitkan(la
ba rata-rata
0,05)
Jumlah saham 200.000 300.000 500.000 1000.000
preferen
Jumlah saham 400.000 300.000 300.000 1000.000
biasa
Laba sebesar $100.000 akan memenuhi ketentuan saham preferen dan
memungkinkan pembagian laba 5% atas saham biasa. Laba ini dibagikan dalam
rasio semula sebagai berikut:
Perusahaan A Perusahaan B Perusahaan C Total
Atas saham *10.000 15.000 25.000 50.000
preferen (5%)
Atas saham **20.000 30.000 15.000 50.000
biasa (5%)
30.000 30.000 40.000 100.000

Perhitungan: * 10.000 = 0,05 x 200.000


** 20.000 = 0,05 x400.000

IV. Penggabungan Usaha yang Dipandang Sebagai Penyatuan


Kepentingan atau Pembelian
Penggabungan usaha yang berarti aktiva dari dua perusahaan atau lebih
di bawah kepemilikan dan pengendalian tunggal. Akuntansi untuk
penggabungan usaha tergantung apakah penggabungan usaha tersebut
memenuhi kriteria yang ketat untuk dikelompokkan sebagai penyatuan
kepentingan (pooling of interest).
Persyaratan yang digodok oleh accounting principels board (APB) dapat
dikategorikan sebagai berikut:
1. Atribut perusahaan yang bergabung
2. Cara menggabungkan kepentingan-kepentingan
3. Tidak ada transaksi yang direncanakan

1. Akuntansi untuk Penyatuan Kepentingan (Pooling of interest)


Pada penggabungan usaha yang dianggap sebagai penyatuan
kepentingan, aktiva akan dibukukan sebesar nilai yang tercatat pada buku
perusahaan yang bergabung. Karena penggabungan usaha ditandai dengan
kesinambungan kepemilikan semula, maka tepat juga mempertahankan saldo
modal, termasuk laba yang ditahan atau defisit laba, sebesar nilai yang dicatat
oleh perusahaan yang bergabung.

2. Akuntansi untuk Pembelian (Accounting by Puchase)


Apabila penggabungan usaha dianggap sebagai pembelian,maka harus
ada dasar baru untuk membukukan dan mempertanggungjawabkan aktiva
yang diperoleh. Dalam hal ini aktiva harus dicatat sebesar harga pokoknya bagi
pembeli sehingga jumlahnya tidak perlu sama dengan nilai yang dilaporkan
pada buku penjual.
3. Akuntansi Pembelian dan Penyatuan Kepentingan: Sebuah
Ilustrasi

Pada tanggal 1 Juli 2007 neraca untuk ketiga perusahaan yang terlibat berbunyi
sebagai berikut:

Perusahaan D Perusahaan E Perusahaan F


Aktiva $2.000.000 $1.250.000 $1.000.000
Kewajiban 750.000 400.000 350.000
Modal saham (tnn)1.000.000(nn$100)500.000(nn$50)500.000
Tambaham modal disetor 350.000 150.000 100.000
Laba yang ditahan (defisit) (100.000) 200.000 50.000
Total kewajiban dan modal $2.000.000 $1.250.000 $1.000.000

Saham perusahaan D sekarang dijual di pasar dengan harga $50 per lembar
maka:
Perusahaan E Perusahaan F Total
Aktiva perbuku 1250.000 1000.000 2250.000
Kenaikan aktiva 150.000 100.000 250.000
per penilaian
Kewajiban per 1400.000 1100.000 2500.000
buku
Aktiva bersih utk (400.000) (350.000) (750.000)
tujuan pertukaran
1000.000/50 750.000/50 1750.000/50
Jumlah lembar
saham yg harus 20.000 Lbr 15.000 Lbr 35.000Lbr
diterbitkan (aktiva
bersih : $50)
Ayat-ayat jurnal dalam kepentingan perusahaan D
Jika penggabungan dianggap Jika penggabungan dianggap
sebagai pembelian sebagai penyatuan kepentingan

Aktiva (nilai yang ditaksir) Aktiva (nilai semula) $2.250.000


$2.500.000 Kewajiban 750.000
Kewajiban 750.000 Modal saham tanpa
Modal saham tanpa nilai Nilai nominal
Nominal (35.000 lbr) 1.000.000
1.750.000 Tambahan modal disetor
250.000
Laba ditahan 250.000

Neraca perusahaan D 1 Juli 2007 Neraca perusahaan D 1 Juli 2007


Aktiva. 4.500.000 Aktiva $4.250.000
Kewajiban 1.500.000 Kewajiban 750.000
Modal saham 2.750.000 Modal saham tanpa
Tambahan modal disetor Nilai nominal 1.000.000
350.000 Tambahan modal disetor
Defisit (100.000) 250.000
Laba ditahan 250.000
Total kewajiban & modal Total kewajiban & modal
4.500.000 4250.000

Asumsikan bahwa aktiva perusahaan F ditetapkan dengan nilai wajarnya


dalam buku, tetapi perusahaan D masih tetap memberikan 15.000 lembar
saham dalam penukaran dengan aktiva bersih, nilai yang ditaksir sebesar
100.000 lebih rendah dari yang diasumsikan. Jika gabungan dianggap sebagai
pembelian, maka perusahaan D harus menyusun ayat jurnal sebagai berikut:

Aktiva (nilai yang ditaksir) 2.400.000 lebih rendah 100.000 dr nilai yg diasumsi
2.500.000
Goodwill 100.000
Kewajiban 750.000
Modal saham (tnn , 35.0000 lbr) 1.750.000( 35.000 x 50)

Dicatat dalam buku perusahaan dianggap sebagai pembelian E dan F dengan


ayat jurnal sebagai berikut:
Buku perusahaan E Buku F

Saham perusahaan D1.000.000 Saham perusahaan D750.000


Kewajiban 400.000 Kewajiban 350.000
Aktiva Aktiva
1.250.000 1.000.000
Laba ditahan 150.000 Laba ditahan 100.000

diterima 20.000 lembar saham diterima 15.000 lembar saham


perusahaan D yang dinilai sebesar perusahaan D yang dinilai sebesar
$50 perlembar dalam penjualan $50 per saham dalam penukarannya
dengan aktiva bersih dengan aktiva bersih

Modal saham 500.000 Modal saham 500.000


Tambahan modal disetor150.000 Tambahan modal disetor100.000
Laba yang ditahan 350.000 Laba yang ditahan 150.000
Saham perusahaan D Saham perusahaan D 750.000
1.000.000
dibagikan 15.000 lembar saham
dibagikan 20.000 lembar saham perusahaan D dalam penukarannya
perusahaan D dalam penukarannya dengan 10.000 lembar saham
dengan 5.000 lembar saham perusahaan F yang beredar (1,5
perusahaan E yang beredar(4 lembar lembar untuk 1 lembar)
untuk 1 lembar)
Aktiva perusahaan D diterbitkan/ditetapkan dengan nilai wajar untuk
tujuan konsolidasi saham perusahaan G harus diterbitkan atas dasar 1 lembar
saham untuk setiap $50 dari aktiva bersih yang diserahkan, dengan demikian
saham ini harus diterbitkan sebagai berikut:

Untuk perusahaan D, 25.000 lembar (1.250.000:$50)


Untuk perusahaan E, 20.000 lembar (1.000.000:$50)
Untuk perusahaan F, 15.000 lembar (750.000:$50)

Ayat-ayat jurnal pembelian dan penyatuan kepentingan di bawah ini akan


disusun dengan tiga macam asumsi nilai nominal saham perusahaan G (1) 45,
(2) $35, dan $25
Ayat jurnal dalam buku perusahaan G
Jika penggabunga dianggap Jika penggabungan dianggap
pembelian penyatuan kepentingan
Aktiva (nilai yang ditaksir)$4.500.000 Aktiva (nilai buku semula)4.250.000
Kewajiban Kewajiban
1.500.000 1.500.000
Modal saham nominal Modal saham nominal
2.700.000 2.700.000
$45 (60.000 lembar) $45 (60.000 lembar)
tambahan modal disetor 300.000 Laba yang ditahan 50.000

Aktiva (nilai yang ditaksir)4.500.000 Aktiva (nilai buku semula)4.250.000


Kewajiban Kewajiban
1.500.000 1.500.000
Modal saham nominal Modal saham nominal
2.100.000 2.100.000
$35 (60.000 lembar) $35 (60.000 lembar)
Tambahan modal disetor 900.000 modal disetor 500.000
Aktiva (nilai yang ditaksir) Laba ditahan 150.000

Aktiva (nilai yang ditaksir)4.500.000 Aktiva (nilai buku semula)4.250.000


Kewajiban Kewajiban
1.500.000 1.500.000
Modal saham nominal Modal saham nominal
1.500.000 1.500.000
$25 (60.000 lembar) $25 (60.000 lembar)
1.500.000 modal disetor
Tambahan modal disetor 1.100.000
laba ditahan 150.000

Kasus (1) : Kenaikan nilai yang ditetapkan atas modal saham dari total
sebesar $2.000.000 yang dilaporkan oleh perusahaan yang
tersangkut menjadi saldo sebesar $2.700.000 membutuhkan
eliminasi seluruh jumlah tambahan modal disetor sebesar $600.000
dan pengurangan lebih lanjut dalam total laba yang ditahan sebesar
$100.000
Kasus (2) : Kenaikan nilai yang ditetapkan pada modal saham dari $2.000.000
menjadi $1.500.000 membutuhkan penurunan sebesar $100.000
dalam total tambahan modal disetor
Kasus (3) : pengurangan nilai yang ditetapkan pada modal saham dari
$2.000.000 menjadi $1.500.000 harus disertai dengan kenaikan
sebesar $500.000 dalam total tambahan modal di atas, seluruh laba
yang ditahan harus dibukukan

4. Pengaruh dan prosedur penggabungan alternatif


Pengaruh dari prosedur penggabungan setiap alternatif perlu diobservasi.
Pada mulanya timbul selisih-selisih di neraca. Pada akuntansi penggabungan
sebagai pembelian, pertukaran saham dengan aktiva perusahaan yang berjalan
dalam periode dimana harga-harga mengalami kenaikan (metode inflasi) sering
kali menimbulkan penetapan aktiva dengan jumlah yang jauh lebih tinggi dari
yang dilaporkan dalam buku perusahaan yang menyerahkan.

5. Evaluasi praktek, penyatuan kepentingan


Kriteria untuk membedakan antara kedua pendekatan ini (by purchase
dan pooling of interest) tidak terlalu harus jelas dan tegas. Pilihan antara
alternatif pembelian dan penyatuan kepentingan seringkali ditentukan oleh
frekuensi akuntansi yang berkaitan dengan masing-masing pendekatan.

V. Reorganisasi pecahan perusahaan


Reorganisasi perusahaan pada umumnya dikelompokkan sebagai:
1. Split up adalah penyerahan oleh sebuah perusahaan yang semua
aktivanya kepada dua perusahaan/lebih dalam penukarannya dengan
semua perusahaan baru ini.
2. Split off adalah penyerahan oleh sebuah perusahaan yang sebagian dari
aktivanya kepada sebuah perusahaan baru.
3. Spin off sama dengan split off kecuali bahwa pembagian saham dilakukan
oleh perusahaan semula kepada pemegang sahamnya tanpa disertai
dengan adanya penyebaran lembaran saham oleh masing-masing
pemegang saham ini.

VI. Penggabungan usaha dan masalah pajak


Internal revenue code menetapkan, bahwa status bebas pajak untuk
semua pihak yang bersangkutan dengan penggabungan usaha atau pemecahan
usaha diberikan hanya pada keadaan sebagai berikut:
1. Peleburan atau konsolidasi menurut undang-undang penataan yang
dibuat sesuai dengan undang-undang negara bagian di Amerika Serikat.
2. Perolehan saham perusahaan yang satu oleh perusahaan lain, dengan
penentuan bahwa saham berhak suara ditukarkan dengan controlling
interest yang terdiri sekurang-kurangnya 80% dari saham dan hak
perusahaan diperoleh.
3. Perolehan harta benda perusahaan yang satu dengan perusahaan yang
lain, dengan ketentuan, bahwa saham untuk suara ditukarkan dengan
semua harta benda perusahaan yang diperoleh.
4. Penyerahan aktiva kepada perusahaan lain dalam penukarannya dengan
controlling interest yang terdiri sekurang-kurangnya 80%, dari saham dan
hak suara perusahaan yang diperoleh (baik yang ditetapkan sebagai split
up, split off, maupun sebagai spin off)

Anda mungkin juga menyukai