Anda di halaman 1dari 11

A.

DEFINISI

Selulitis adalah suatu infeksi yang menyerang kulit dan jaringan subkutan.
Tempat yang paling sering terkena adalah ekstremitas, tetapi juga dapat terjadi di
kulit kepala, kepala, dan leher (Cecily, Lynn Betz., 2009).

Selulitis adalah infeksi bakteri yang menyebar kedalam bidang jaringan


( Brunner dan Suddarth, 2010 : 496).

Selulitis merupakan inflamasi jaringan subkutan dimana proses inflamasi,


yang umumnya dianggap sebagai penyebab adalah bakteri Streptococcus (Arif
Muttaqin, hal 68, 2011).

Selulitis adalah inflamasi supuratif yang juga melibatkan sebagian jaringan


subkutan ( Mansjoer, 2015). Jadi selulitis adalah infeksi pada kulit yang disebabkan
oleh bakteri stapilokokus aureus, streptokokus grup A dan streptokokus piogenes

B. ETIOLOGI

Organisme penyebab selulitis adalah Staphylococcus aureus, streptokokus


grup A, dan Streptococcus pneumoniae (Cecily, Lynn Betz., 2009). Organisme
penyebab bisa masuk ke dalam kulit
Penyakit Selulitis disebabkan oleh :
1. Infeksi Bakteri dan Jamur
a. Disebabkan oleh Streptococcus grup A dan Staphylococcus Aureus
b. ada bayi yang terkena penyakit ini disebabkan oleh Streptococcus grup B
c. Infeksi dari jamur, tapi infeksi yang diakibatkan jamur termasuk jarang
d. Aeromonas Hydrophila
e. S. Pneumoniae
2. Penyebab Lain :
a. Gigitan binatang, serangga atau bahkan gigitan manusia
b. Kulit kering
c. Eksim
d. Kulit yang terbakar atau melepuh
e. Diabetes
f. Obesitas
g. Pembekakan yang kronis pada kaki
h. Penyalahgunaan obat-obat terlarang
i. Menurunnya daya tahan tubuh
j. Cacar air
k. Malnutrisi
l. Gagal Ginjal

C. MANIFESTASI KLINIS

Menurut Fitzpatrick (2007). Selulitis menyebabkan kemerahan atau


peradangan, Kulit tampak merah, bengkak, licin, disertai nyeri tekan dan teraba
hangat. Ruam kulit muncul secara tiba-tiba dan memiliki batas yang tegas. gejala lain
yaitu :
a. Demam peningkatan suhu tubuh yang menyolok
b. Nyeri kepala
c. Penurunan kesadaran
d. Mendadak shock
e. Hipertensi
f. Takikardi
g. Peningkatan rangsang meningen
h. terkadang koma

D. KOMPLIKASI

Menurut (Corwin, Elizabeth J., 2009)


a. Bakteremia
b. Nanah atau local Abscess
c. Superinfeksi oleh bakteri gram negative
d. Lymphangitis
e. Trombophlebitis
f. Sellulitis pada muka atau Facial cellulites pada anak menyebabkan meningitis
sebesar 8%

E. FAKTOR RESIKO TERJADI SELULITIS


Menurut Rosfanty, (2009). Menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang
memperparah resiko dari perkembangan selulitis, antara lain :
a) Usia
Semakin tua usia, kefektifan sistem sirkulasi dalam menghantarkan darah
berkurang pada bagian tubuh tertentu. Sehingga abrasi kulit potensi mengalami
infeksi seperti selulitis pada bagian yang sirkulasi darahnya memprihatinka.
b) Melemahnya sistem immun (Immunodeficiency)
Dengan sistem immune yang melemah maka semakin mempermudah terjadinya
infeksi. Contoh pada penderita leukemia lymphotik kronis dan infeksi HIV.
Penggunaan obat pelemah immun (bagi orang yang baru transplantasi organ) juga
mempermudah infeksi.
c) Diabetes mellitus
Tidak hanya gula darah meningkat dalam darah namun juga mengurangi sistem
immun tubuh dan menambah resiko terinfeksi. Diabetes mengurangi sirkulasi
darah pada ekstremitas bawah dan potensial membuat luka pada kaki dan menjadi
jalan masuk bagi bakteri penginfeksi.
d) Cacar dan ruam saraf
Karena penyakit ini menimbulkan luka terbuka yang dapat menjadi jalan masuk
bakteri penginfeksi.
e) Pembangkakan kronis pada lengan dan tungkai (lymphedema)
Pembengkakan jaringan membuat kulit terbuka dan menjadi jalan masuk bagi
bakteri penginfeksi.
f) Infeksi jamur kronis pada telapak atau jari kaki
Infeksi jamur kaki juga dapat membuka celah kulit sehingga menambah resiko
bakteri penginfeksi masuk
g) Penggunaan steroid kronik
h) Gigitan dan sengatan serangga, gigitan hewan, gigitan manusia.
i) Penyalahgunaan obat dan alkohol
Mengurangi sistem immun sehingga mempermudah bakteri penginfeksi
berkembang.
j) Malnutrisi
Sedangkan lingkungan tropis, panas, banyak debu dan kotoran, mempermudah
timbulnya penyakit ini

F. PENCEGAHAN
Jika memiliki luka :
1) Bersihkan luka setiap hari dengan sabun dan air
2) Oleskan antibiotic
3) Tutupi luka dengan perban
4) Sering-sering mengganti perban tersebut
5) Perhatikan jika ada tanda-tanda infeksi
Jika kulit masih normal :
1) Lembabkan kulit secara teratur
2) Potong kuku jari tangan dan kaki secara hati-hati
3) Lindungi tangan dan kaki
4) Rawat secara tepat infeksi kulit pada bagian superficial

G. PATOFISIOLOGI
menurut Isselbacher (1999; 634). Selulitis terjadi jika bakteri masuk ke dalam
kulit melalui kulit yang terbuka. Dua bakteri yang paling sering menyebabkan infeksi
ini adalah streptococcus dan staphylococcus. Lokasi paling sering terjadi adalah di
kaki, khususnya di kulit daerah tulang kering dan punggung kaki. Karena cenderung
menyebar melalui aliran limfatik dan aliran darah, jika tidak segera diobati, selulitis
dapat menjadi gawat. Bakteri patogen yang menembus lapisan luar menimbulkan
infeksi pada permukaan kulit atau menimbulkan peradangan, penyakit infeksi sering
berjangkit pada orang gemuk, rendah gizi, kejemuan atau orang tua pikun dan pada
orang kencing manis yang pengobatannya tidak adekuat. Gambaran klinis eritema
lokal pada kulit dan system vena dan limfatik pada kedua ektrimitas atas dan
bawah.Pada pemeriksaan ditemukan kemerahan yang karakteristik hangat, nyeri
tekan, demam dan bakterimia. Selulitis yang tidak berkomplikasi paling sering
disebabkan oleh streptokokus grup A, sterptokokus lain atau staphilokokus aureus,
kecuali jika luka yang terkait berkembang bakterimia, etiologi microbial yang pasti
sulit ditentukan, untuk absses lokalisata yang mempunyai gejala sebagai lesi kultur
pus atau bahan yang diaspirasi diperlukan. Meskipun etiologi abses ini biasanya
adalah stapilokokus, abses ini kadang disebabkan oleh campuran bakteri aerob dan
anaerob yang lebih kompleks.Bau busuk dan pewarnaan gram pus menunjukkan
adanya organisme campuran.Ulkus kulit yang tidak nyeri sering terjadi.Lesi ini
dangkal dan berindurasi dan dapat mengalami super infeksi. Etiologinya tidak jelas,
tetapi mungkin merupakan hasil perubahan peradangan benda asing, nekrosis, dan
infeksi derajat rendah.
H. PENATALAKSANAAN

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium
CBC (Complete Blood Count), menunjukkan kenaikan jumlah leukosit
dan rata-rata sedimentasi eritrosit. Sehingga mengindikasikan adanya
infeksi bakteri.
BUN level
Creatinin level
Kultur darah, dilaksanakan bila infeksi tergeneralisasi telah diduga
Mengkultur dan membuat apusan Gram, dilakukan secara terbatas pada
daerah penampakan luka namun sangat membantu pada area abses atau
terdapat bula. Pemeriksaan laboratorium tidak dilaksanakan apabila
penderita belum memenuhi beberapa kriteria; seperti area kulit yang
terkena kecil, tidak tersasa sakit, tidak ada tanda sistemik (demam,
dingin, dehidrasi, takipnea, takikardia, hipotensi), dan tidak ada faktor
resiko.
Pemeriksaan Imaging
Plain-film Radiography, tidak diperlukan pada kasus yang tidak lengkap
(seperti kriteria yang telah disebutkan)
CT (Computed Tomography) Baik Plain-film Radiography maupun CT
keduanya dapat digunakan saat tata kilinis menyarankan subjucent
osteomyelitis. Jika sulit membedakan selulitis dengan necrotizing
fasciitis.
MRI (Magnetic Resonance Imaging), Sangat membantu pada diagnosis
infeksi selulitis akut yang parah, mengidentifikasi pyomyositis,
necrotizing fascitiis, dan infeksi selulitis dengan atau tanpa
pembentukan abses pada subkutaneus
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian

Identitas

Nama, jenis kelamin, umur, status perkawinan, agama, suku bangsa,


pendidikan, bahasa yang digunakan, pekerjaan, alamat.

Keluhan utama

Pasien biasanya mengeluh nyeri pada luka, terkadang disertai demam,


menggigil dan malaise.

Riwayat penyakit dahulu

Ditanyakan penyebab luka pada pasien dan pernahkah sebelumnya mengidap


penyakit seperti ini, adakah alergi yang dimiliki dan riwat pemakaian obat.

Riwayat penyakit sekarang

Terdapat luka pada bagian tubuh tertentu dengan karakteristik berwarn merah,
terasa lembut, bengkak, hangat, terasa nyeri, kulit menegang dan mengilap.

Riwayat penyakit keluarga


Biasanya dikeluarga pasien terdapat riwayat mengidap penyakit DM, Mal
nutrisi, selulitis atau penyekit kulit lainnya.

Keadaan emosi psikologi

Pasien tampak tenang,dan emosional stabil.

B. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Cukup baik
Kesadaran : composmetis, lemah, pucat
TTV : biasanya meningkat karena adanya proses infeksi
Kepala : rambut bersih tidak ada luka
Mata : Konjungtiva anemis,skela tidak ikterik
Hidung : tidak ada polip,hidung bersih
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
Dada :
I : datar,simetris umumnya tidak ada kelainan
Pa : ictus cordis tidak tampak
Pe : sonor tidak ada kelainan
A : tidak ada whezing ronchi
Abdomen :
I : supel datar tidak ada distensi abdomen
Pa : tidak ada nyeri tekan
Pe : tidak ada kelainan atau tympani
A : bising usus normal atau tidak ada kelainan

C. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri
2. Kerusakan integritas kulit
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

D. Rencana Keperawatan
Dx 1 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inflamasi jaringan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keparawatan selama 2x24 jam diharapkan nyeri
berkurang atau hilang.
Kriteria hasil :
1. pasien menampakkan ketenangan
2. ekspresi muka rileks
3. ketidaknyamanan dalam batas yang dapat ditoleransi.
Intervensi :
1. Kaji intensitas nyeri menggunakan skala / peringkat nyeri
R/ mengetahui berat nyeri yang dialami pasien.
2. Jelaskan pada pasien tentang sebab sebab timbulnya nyeri
R/ pemahaman pesien tentang penyebab nyeri yg terjadi akan mengurangi
ketegangan pasien.
3. Berikan anal gesik jika diperlukan, kaji keefektifan
R/ obat obatan analgesik dapat membantu mengurangi nyeri pasien.
4 Ubah posisi sesering mungkin, pertahankan garis tubuh untuk menccegah
penekanan dan kelelahan
R/ posisi yang nyaman akan membantu memberikan kesempatan pada otot untuk
relaksasi seoptimal mungkin.
5 Bantuan dan ajarkan penanganan terhadap nyeri, penggunaan imajinasi, relaksasi
dan distraksi
R/ teknik relaksasi dsan distraksi bisa mengurangi rasanyeri yang dirasakan
pasien.

2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan turgor sirkulasi dan


edema.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keparawatan selama 2x24 jam diharapkan
menunjukkan regenerasi jaringan.
Kriteria hasil :
1. Lesi mulai pulih dan area bebas dari infeksi lanjut,
2. kulit bersih,
3. kering dan area sekitar bebas dari edema,

Intervensi :
1. Kaji kerusakan, ukuran, kedalaman warna cairan
R/ pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan akan membantu
dalam menentukan tindakan selanjutnya.
2. Pertahankan istirahat di tempat tidur dengan peningkatan ekstremitas dan
mobilitasasi
R/ sirkulasi yang lancar bisa mempercepat proses penyembuhan luka..
3. Pertahankan teknik aseptic
R/ dapat mempercepat proses penyembuhan luka.
Gunakan kompres dan balutan
R/ kompres dan balutan bisa mengurangi kontaminasi dari luar.
4. Pantau suhu laporan, laoran dokter jika ada peningkatan
R/ indikasi dini terhadap komlikasi infeksi.

Dx 3 Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi menyebabkan


penatalaksanaan perawatan dirumah.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keparawatan selama 2x24 jam diharapkan
pasien mengerti tentang perawatan dirumah
Kriteria hasil :
1. Melaksanakan perawatan luka dengan benar menggunakan: tindakan
kewaspadaan aseptic yang tepat.
2. Mengekspresikan pemahaman perkembangan yang diharapkan tanpa infeksi dan
jadwal obat.
Intervensi :
1. Demonstasikan perawatan luka dan balutan, ubah prosedur, tekankan pentingnya
teknik aseptic
R/ agar keluarga dapat melkukan perawatan secara aseptik di rumah sehingga
luka bisa sembuh.
2. Dorong melakukan aktivitas untuk mentoleransi penggunaan alat penyokong
R/ peningkatan perilaku yang adiktif pada pasien.
3. jelaskan tanda-tanda dan gejala untuk dilaporkan ke dokter
R/ deteksi dini terhadap kegawatan dan penanganan yang sesuai.
4. Tekankan pentingnya diet nutrisi
R/ nutrisi yang adekuat mempercepat proses penyembuhan luka.

Dx 4 Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan glukoneogenesis.


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keparawatan selama 2x24 jam nutrisi dapat
terpenuhi secara adekuat.
Kriteria hasil :
1. Mencerna jumlah kalori / nutrient yang tepat
2. Menunjukkan tingkat energi biasanya
3. Mendemonstrasikan BB stabil atau penambahan kearah rentang biasanya / yang
diinginkan dengan nilai laboratorium normal.
Intervensi :
1. Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan
yang dapat dihabiskan pasien
R/ Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan terapeutik
2. Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen / perut kembung, mual,
muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan puasa sesuai
indikasi
R/ Hiperglikemia dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat
menurunkan motilitas / fungsi lambung (distensi / ileus paralitik) yang akan
mempengaruhi pilihan intervensi
3. Identifikasi makanan yang disukai / dikehendaki termasuk kebutuhan etnik /
cultural
R/ Jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan dalam perencanaan
makan, kerja sama ini dapat diupayakan setelah pulang
4. Observasi tanda-tanda hipoglikemia
R/ Karena metabolisme karbohidrat mulaai terjadi (gula darah akan berkurang,
dan sementara tetap diberikan insulin, maka hipoglikemia dapat terjadi)
5. Lakukan pemeriksaan gula darah dengan menggunakan (finger stick)
R/ Analisa di tempat tidur terhadap gula darah lebih akurat
6. Pantau pemeriksaan laboratorium, seperti glukosa darah, aseton, Ph dan HCO3
R/ Gula darah akan menurun perlahan dengan penggantian cairan dan terap
insulin terkontrol
7. Berikan pengobatan insulin secara teratur dengan metode IV secara intermiten
R/ Insulin regular memiliki awitan cepat dangan karenanya dengan cepat pula
dapat membantu memindahkan glukosa ke dalam sel
8. Lakukan konsultasi dengan ahli diet
R/ Sangat bermanfaat dalam perhitungan dan penyesuaian diet untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi pasien
DAFTAR PUSTAKA

Berini, et al, 1997, Medica Oral: Buccal and Cervicofacial Cellulitis. Volume 4,
(p337-50).

Brunner dan Suddarth. (2000). Kapita selekta kedokteran. Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia;Jakarta

Isselbacher, (1997), A Synopsis of Minor Oral Surgery, Wright, Oxford

Long, (1995), Emergency Dental Care. A Lea & Febiger Book. Baltimore

Mansjoer. (2000).Asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan system


pencernaan. SelembaMedika;Jakarta.

Tucker. (1988). Rencana asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan.


Penerbit Buku Kedokteran EGC ; Jakarta