Anda di halaman 1dari 6

Nama : Dede Pratama Rhominsyah

NIM : 15520068
DOSEN : DRS. SUHARIANTO, MM
MAKUL : Tata Kelola Desa

JAWABAN

1. Visi :

a. MELAYANI MASYARAKAT DESA SECARA MENYELURUH DEMI


TERWUJUDNYA DESA PURWOSARI YANG MAJU, MANDIRI, SEHAT DAN
SEJAHTERA.

Misi :

a.Mengoptimalkan kinerja Perangkat Desa secara maksimal sesuai tugas


pokok dan fungsi Perangkat Desa demi tercapainya pelayanan yang baik bagi
masyarakat.
b.Melaksanakan koordinasi antar mitra kerja.
c.Meningkatkan Sumber Daya Manusaia dan memanfaatkan Sumber Daya
Alam untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.
d. Meningkatkan kapasitas kelembagaan yang ada di desa.
e. Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

2. A. MUSDES
Musyawarah Desa (Musdes) sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 6 Tahun
2014 tentang Desa, merupakan forum permusyawaratan yang diikuti oleh BPD,
Pemerintah Desa, dan unsur masyarakat Desa untuk menyepakati hal yang bersifat
strategis dalam penyelenggaraan Pemerintahan desa. Pengertian strategis adalah
meliputi penataan Desa, perencanaan Desa, kerjasama Desa, rencana investasi
yang masuk ke Desa, pembentukan BUM Desa, penambahan dan pelepasan aset
Desa, dan kejadian luar biasa yang terjadi di Desa tersebut.

B. BPD
Badan Permusyawaratan Desa BPD merupakan lembaga perwujudan
demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa, BPD dapat dianggap
sebagai parlemen-nya desa, BPD merupakan lembaga baru di desa pada era
otonomi daerah di Indonesia. Sesuai dengan fungsinya, maka BPD ini dapat
dikatakan sebagai lembaga kemasyarakatan. Karena berkisar pada pemikiran
pokok yang dalam kesadaran masyarakat. hal ini sejalan dengan ungkapan
Soekanto 2004:219.

LANJUTAN ->>>
Anggota BPD ialah wakil dari penduduk desa bersangkutan berdasarkan
keterwakilan wilayah yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan mufakat. Aanggota
BPD terdiri dari ketua Rukun Warga, pemangku adat, golongan profesi, pemuka agama
dan tokoh atau pemuka masyarakat lainnya. Masa jabatan anggota BPD ialah 6 tahun
dan dapat diangkut/diusulkan kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya.
Pimpinan dan Anggota BPD tidak diperbolehkan merangkap jabatan sebagai Kapala
Desa dan Perangkat Desa.

C. PEMERINTAH DESA
Pemerintah Desa atau disebut juga Pemdes adalah lembaga pemerintah
yang bertugas mengelola wilayah tingkat desa. Lembaga ini diatur melalui
Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005 tentang pemerintahan desa yang
diterbitkan untuk melaksanakan ketentuan pasal 216 ayat (1) Undang Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. Pemimpin pemerintah
desa, seperti tertuang dalam paragraf 2 pasal 14 ayat (1), adalah kepala desa
yang bertugas menyelenggarakan urusan pemerintahan, pembangunan, dan
kemasyarakatan.

D. PERANGKAT DESA
Perangkat desa bertugas membantu kepala desa dalam melaksanakan
tugas dan wewenangnya yang dibantu beberapa staf seperti kepala urusan
(kaur), pelaksana teknis lapangan, dan unsur kewilayahan. Perangkat desa
tersebut terdiri atas sekretaris desa dan perangkat desa lainnya. Sekretaris desa
diangkat oleh sekretaris daerah kabupaten/kota atas nama bupati/walikota.
Sekretaris desa bertugas membantu kepala desa di bidang pembinaan
administrasi dan memberikan pelayanan teknis administrasi kepala seluruh
perangkat desa.
Perangkat desa lainnya yaitu sekretariat desa, pelaksana teknis lapangan,
dan unsur kewilayahan diangkat oleh kepala desa dari penduduk desa, yang
ditetapkan dengan keputusan kepala desa. Dalam melaksanakan tugasnya,
perangkat desa bertanggung jawab kepada kepala desa. Kepala desa dan
perangkat desa diberikan penghasilan tetap setiap bulan dan/atau tunjangan
lainnya sesuai dengan kemampuan keuangan desa.

E. RPJMDESA
RPJMDesa adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa, atau yang
sering disingkat dengan RPJMDes adalah dokumen perencanaan desa untuk periode 6
(enam) tahun.
Prinsip adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum maupun
individual yang dijadikan oleh seseorang/ kelompok sebagai sebuah pedoman untuk
berpikir atau bertindak. Sebuah prinsip merupakan roh dari sebuah perkembangan
ataupun perubahan, dan merupakan akumulasi dari pengalaman ataupun pemaknaan
oleh sebuah obyek atau subyek tertentu.
Dalam kontek penyusunan RPJMDesa pentingkah prinsip dan tujuan? Sangat
penting bagi pemerintah desa. Supaya pemerintah desa memiliki kerangka berpikir
sistematis, terarah dan terukur dalam rangka mewujudkan masyarakat desa yang
mandiri, sejahtera dan berkeadilan sosial.
F. RKPDESA
RKPDesa merupakan penjabaran dari RPJMDesa untuk jangka waktu 1 (satu)
tahun. Maksud Penyusunan RKPDesa adalah untuk menyajikan dokumen perencanaan
pembangunan tahunan desa yang sesuai dengan kebutuhan desa.
"Pemerintah Desa dapat menolak program/kegiatan dari Supra Desa jika tidak
sesuai dengan perencanaan, prioritas pembangunan berskala desa dan kebutuhan
masyarakat Desa."
Sesuai UU Desa setiap Desa wajib menyusun RKPDesa. Berdasarkan Permendagri
Nomor 114 tahun 2014 tentang Pedoman Pembangunan Desa, dalam Pasal 29.

G. PERDES
Peraturan Desa (Perdes) adalah produk pemerintah desa dan Badan
Permusyawaratan Desa yang digunakan untuk menjadi acuan pelaksanaan
pemerintahan desa. Peraturan desa dalam konteks ini adalah dalam pengertian luas
karena meliputi juga peraturan Kepala Desa dan peraturan bersama Kepala Desa.
Peraturan Desa diatur dalam dua pasal, yakni Pasal 69 dan 70.

H. APBDES
Anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) adalah peraturan desa yang
memuat sumber-sumber penerimaan dan alokasi pengeluaran desa dalam kurun waktu
satu tahun. APB Desa terdiri atas bagian pendapatan Desa, belanja Desa dan
pembiayaan. Rancangan APB Desa dibahas dalam musyawarah perencanaan
pembangunan desa. Kepala Desa bersama BPD menetapkan APB Desa setiap tahun
dengan Peraturan Desa.
Menurut UU 32/2004 dan PP 72/2005 disebutkan sumber-sumber pendapatan desa
meliputi:
a. pendapatan asli desa, terdiri dari hasil usaha desa, hasil kekayaan desa, hasil
swadaya dan partisipasi, hasil gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli desa yang
sah
b. bagi hasil pajak daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 1.0% (sepuluh per seratus)
untuk desa dan dari retribusi Kabupaten/Kota sebagian diperuntukkan bagi desa |
c. bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh
Kabupaten/Kota untuk Desa paling sedikit 10% (sepuluh per seratus), yang
pembagiannya untuk setiap Desa secara proporsional yang merupakan alokasi dana
desa
d. bantuan keuangan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah
Kabupaten/Kota dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan
e. hibah dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat.

LANJUTAN -->>>

Sedangkan kekayaan desa meliputi tanah kas desa, pasar desa, pasar hewan,
tambatan perahu, bangunan desa, pelelangan ikan yang dikelola oleh desa, dll. Sumber
pendapatan daerah yang berada di desa baik pajak maupun retribusi yang sudah
dipungut oleh Provinsi atau Kabupaten/Kota tidak dibenarkan adanya pungutan
tambahan oleh Pemerintah Desa. Pungutan retribusi dan pajak lainnya yang telah
dipungut oleh Desa tidak dibenarkan dipungut atau diambil alih oleh Pemerintah Provinsi
atau Pemerintah Kabupaten/Kota. Pemberian hibah dan sumbangan tidak mengurangi
kewajiban -kewajiban pihak penyumbang kepada desa. Sumbangan yang berbentuk
barang, baik barang bergerak maupun barang tidak bergerak dicatat sebagai barang
inventaris kekayaan milik desa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan. sumbangan yang berbentuk uang dicantumkan di dalam APBDesa.

I. LPPD
LPPD adalah laporan atas penyelenggaraan pemerintah daerah selama 1 (satu)
tahun anggaran berdasarkan Rencana Kerja Pembangunan Daerah yang disampaikan
oleh Kepala Daerah kepada Pemerintah Pusat. Laporan ini mengambarkan kinerja
urusan yang ditangani oleh Pemerintah Daerah, untuk itu Depdagri menetapkan
Indikator Kinerja Kunci ( IKK ) untuk masing-masing urusan. Pemerintah Daerah harus
mengisi realisasi capaian masing-masing indikator yang telah ditetapkan tersebut.
Kinerja yang terbaik bukan ditetapkan berdasarkan standard, melainkan melalui proses
perbandingan antara Pemerintah Daerah, jadi bisa saja terjadi yang terbaik diantara
yang terjelek dalam pengisian realisasi capaian masing-masing.

J. BUMDESA
Permendesa Nomor 4 tahun 2015 tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan,
dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa, yang menjadi pedoman bagi daerah dan
desa dalam pembentukan dan pengelolaan BUMDes.
BUMDes sebagai badan usaha, seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki
oleh Desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan
desa,"ujarnya.
Karena itu, kata dia, pengembangan BUMDes merupakan bentuk penguatan
terhadap lembaga-lembaga ekonomi desa serta merupakan alat pendayagunaan
ekonomi lokal dengan berbagai ragam jenis potensi yang ada di desa.
"BUMDes menjadi tulang punggung perekonomian pemerintahan desa guna
mencapai peningkatan kesejahteraan warganya, imbuhnya.
K. ASET DESA
Aset Desa adalah barang milik Desa yang berasal dari kekayaan asli milik Desa,
dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa)
atau perolehan Hak lainnya yang sah. Dalam Pasal 2 Permendagri No 1 tahun 2016
tentang Aset Desa ini dijelaskan tentang jenis dan kekayaan aset Desa.
3. 4 Kewenangan Desa :
penyelenggaraan pemerintahan Desa
pelaksanaan pembangunan Desa;
pembinaan kemasyarakatan Desa, dan
pemberdayaan masyarakat Desa

4. Asas Rekognisi dan Subsidiaritas. Asas rekognisi dan subsidiaritas ditetapkan


sebagai asas pengaturan Desa dalam Pasal 3 UU Desa. Naskah penjelasan UU Desa
mendefinisikan Asas Rekognisi sebagai pengakuan terhadap hak asal usul, sedangkan
Asas Subsidiaritas sebagai penetapan kewenangan berskala lokal dan pengambilan
keputusan secara lokal untuk kepentingan Desa.
Asas Rekognisi berkaitan erat dengan definisi Desa dalam Pasal 1 angka 1 UU
Desa terutama tentang hak asal usul. Inti gagasan Asas Rekognisi yang menghormati
dan mengakui kewenangan hak asal usul Desa selanjutnya ditegaskan dalam Pasal 19
huruf a UU Desa, Kewenangan Desa meliputi: (a) kewenangan berdasarkan hak asal
usul....
Asas Rekognisi terhadap Desa dalam UU Desa bersifat kontekstual, konstitusional
dan hasil dari negosiasi politik antara pemerintah, DPR, DPD dan juga Desa.
Pemaknaan terhadap Asas Rekognisi adalah sebagai berikut:
1. Desa atau yang disebut dengan nama lain, sebagai kesatuan masyarakat
hukum adat, merupakan entitas yang berbeda dengan kesatuan masyarakat hukum
yang disebut daerah.
2. Desa atau yang disebut dengan nama lain merupakan entitas yang sudah
eksis sebelum NKRI diproklamasikan pada tahun 1945 dan sudah memiliki susunan
asli maupun hak asal usul.
3. Desa atau yang disebut dengan nama lain merupakan bagian dari
keragaman Indonesia sehingga tidak dapat diseragamkan.
4. Desa atau yang disebut dengan nama lain, dalam lintasan sejarah, Desa
secara struktural menjadi arena eksploitasi terhadap tanah dan penduduk serta
diperlakukan tidak adil mulai masa feodalisme, kolonial hingga otoritarianisme.
5. Konstitusi telah memberikan amanat kepada negara untuk mengakui dan
menghormati Desa atau yang disebut dengan nama lain sebagai kesatuan
masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya.
6. Sesuai amanat konsitusi [Pasal 18B ayat (2) UUD NRI 1945], negara, swasta
(pelaku ekonomi) dan pihak ketiga (LSM, perguruan tinggi, lembaga donor
internasional dan sebagainya) harus melakukan pengakuan dan penghormatan
terhadap eksistensi Desa sebagai kesatuan masyarakat hukum.
7. Eksistensi Desa mencakup hak asal usul (bawaan maupun prakarsa lokal
yang berkembang) wilayah, pemerintahan, peraturan maupun pranata lokal,
lembaga-lembaga lokal, identitas budaya, kesatuan masyarakat, prakarsa Desa
maupun kekayaan Desa.
8. Konsep mengakui dan menghormati Desa berarti tindakan untuk
memanfaatkan, mendukung dan memperkuat institusi Desa yang sudah ada, dan
bukannya menonjolkan tindakan intervensi (campur tangan) dan tindakan memaksa
dan mematikan institusi Desa. Contoh tindakan yang bertentangan dengan Asas
Rekognisi (pengakuan dan penghormatan) adalah:
9. Pemerintah maupun swasta menjalankan proyek pembangunan di Desa
tanpa berdialog atau tanpa memperoleh persetujuan Desa;
10. Pihak luar membentuk kelompok masyarakat Desa tanpa persetujuan Desa;
dan lain sebagainya.
11. Rekognisi Desa dimaksudkan untuk mengakui dan menghormati
identitas, adat istiadat, pranata dan kearifan lokal sebagai bentuk tindakan untuk
keadilan kultural (cultural justice), yang disertai dengan Redistribusi Ekonomi
dalam bentuk alokasi dana untuk Desa dari APBN dan APBD.

5. Desa mendapatkan uang dari :


1. APBN --> DD
2. APBD --> ADD
3. APBD PROV --> BANTUAN
4. HIBAH
5. BHP (Bagu Hasil Pajak)
6. Karena Pemerintah Desa saat ini jauh lebih baik dan lebih berkembang dari
sebelumnya, sehingga sangat banyak sekali yang ingin mengikuti seleksi untuk
menjadi Kepala Desa maupun Perangkat Desa, selain itu juga karena sudah
adanya UU no.6/2014.

7. Persyaratan untuk :
1. Kepala Desa :a. Minimal tamatan/lulusan SMP.
b. Berusia paling rendah 25 tahun.

2. Perangkat Desa :a. Minimal tamatan/lulusan SMU/SMA.


b. Berusia paling rendah 20 tahun

3. BPD :a. Minimal tamatan/lulusan SMP.


b. Berusia paling rendah 25 tahun.

8. Perbedaan , sebelum adanya UU no.6/2014 desa tidak terlalu tertata rapi,


setelah adanya UU no.6/2014 Desa lebih tertata lagi sehingga kinerja dan
pemerintahan di dalamnya dapat menjadi maju dan lebih baik lagi dari
sebelumnya, dan lebihnya lagi pemerintahan di desa dapat lebih ter awasi
dengan adanya UU no.6/2014 ini dmana UU ini lebih menata lagi seluruh
kualitas desa yang ada di Indonesia.

9. Aktor Tata Kelola Desa :


1. Pemerintah Desa ( KaDes, SekDes, Kepala Seksi, Kepala Urusan, dan
Para KaDus)
2. Lembaga Desa (BPD (Badan Pemusyawaratan Desa), BKAD (Badan
Kerjasama Antar Desa)
3. Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD, PKK, LPMD, Karang Taruna, RW,
RT)
4. Kelompok Masyarakat (kelompok tani, kelompok nelayan, kelompok
ternak, kelompok UKM).

10. 5 Lembaga Kemasyarakatan :


1. LKD.
2. LPMD.
3. Karang Taruna.
4. PKK.
5. RTdan RW.