Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. JUDUL
OPTIMASI PENCAMPURAN BATUBARA BEDA KUALITAS UNTUK
MEMENUHI PERMINTAAN KONSUMEN DI PT. MAHAKAM SUMBER
JAYA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR.

1.2. LATAR BELAKANG


Batubara merupakan bahan galian fosil padat yang pembentukan dan
penyebarannya dapat terjadi secara horizontal maupun vertikal serta merupakan
suatu lapisan yang heterogen. Material organik pembentuk batubara mengalami
dekomposisi oleh adanya proses biokimia dan geokimia sehingga berubah baik
sifat fisik maupun sifat kimianya. Oleh karena sifatnya yang heterogen ini maka
batubara mempunyai kualitas yang berbeda-beda yaitu dari batubara kualitas
rendah sampai kualitas tinggi, tergantung pada tempat tumbuhan pembentuknya
serta proses geologi yang terjadi. Dengan adanya beda kualitas inilah, maka
diperlukan kegiatan blending atau pencampuran antara batubara kualitas tinggi
dengan batubara kualitas rendah agar batubara yang mempunyai kualitas rendah
dapat dimanfaatkan.

Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang mempengaruhi
potensi kegunaannya. Kualitas batubara yang berbeda berasal dari tambang yang
berbeda. Hal ini disebabkan oleh pasokan batubara dari pit satu dengan pit yang
lainnya tidak sama, maka proses pencampur batubara mutlak diperlukan untuk
memenuhi kriteria permintaan konsumen sekaligus sebagai pemanfaatan batubara
yang memiliki nilai kalor rendah.

Oleh karena sifat batubara yang heterogen ini, maka penulis tertarik untuk
meneliti pencampuran yang tepat antara batubara kualitas tinggi dengan batubara

1
kualitas rendah untuk memenuhi kebutuhan batubara sesuai dengan kriteria yang
diinginkan konsumen.

1.3. TUJUAN PENELITIAN


Tujuan dari penelitian ini adalah :
a. Mendapatkan data kualitas batubara sebelum dan sesudah dilakukan blending
sesuai dengan rencana blending batubara yang telah ditentukan.
b. Menentukan perbandingan yang tepat antara batubara kualitas rendah dengan
batubara kualitas tinggi untuk di-blending sehingga didapatkan kualitas
batubara sesuai yang diinginkan oleh konsumen.

1.4. RUMUSAN MASALAH


Kualitas batubara yang berbeda menyebabkan batubara yang memiliki kualitas
rendah belum dapat memenuhi kualitas yang diinginkan konsumen. Untuk itu,
perlu adanya rencana blending atau pencampuran batubara agar dapat memenuhi
kriteria yang diinginkan oleh konsumen.

Selain itu, rencana produksi batubara di perusahaan belum dapat diketahui apakah
sudah dapat memenuhi rencana blending batubara atau belum. Rencana blending
batubara tersebut digunakan untuk memenuhi rencana permintaan konsumen,
sehingga diperluka adanya suatu perhitungan rencana produksi batubara tersebut
agar dapat memenuhi rencana permintaan konsumen.

1.5. BATASAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang masalah, maka batasan yang akan dikemukakan
adalah :
a. Setiap blending hanya dilakukan terhadap dua kualitas batubara.
b. Penelitian ini tidak mempertimbangkan aspek ekonomis dan cadangan
batubara.
c. Parameter batubara yang digunakan untuk dasar blending adalah total
moisture, inherent moisture, ash, volatile matter, fixed carbon, sulfur dan
calorivic value.
d. Batubara yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari rencana produksi
PT. Mahakam Sumber Jaya.

2
1.6. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat dilakukannya penelitian ini adalah :
a. Menambah wawasan yang lebih luas tentang ilmu pengetahuan yang telah
dipelajari di perkuliahan dengan praktik yang ada di lapangan.
b. Memberikan masukan kepada perusahaan dalam menentukan kebijakan
mengenai rencana produksi batubara, yang nantinya akan digunakan sebagai
dasar untuk menentukan rencana blending atau pencampuran batubara guna
memenuhi permintaan konsumen sesuai dengan kualitas dan kuantitas batubara
yang telah ditentukan.

3
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Genesa Batubara


Batubara adalah bahan galian fosil padat yang terbentuk dari sisa-sisa macam
tumbuhan yang merupakan material organik dan telah mengalami dekomposisi
atau penguraian oleh bakteri anaerob ditambah adanya proses biokimia dan
geokimia sehingga berubah baik sifat fisik maupun sifat kimianya.

Genesa betubara berdasarkan tempat terjadinya dibagi menjadi 2, yaitu: (Rance,


1975)
1. Teori Insitu
Bahan-bahan pembentuk lapisan batubara terjadinya di tempat dimana tumbuh-
tumbuhan itu berada (terjadi di tempat itu juga) yang mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut: penyebarannya luas dan kualitasnya baik (karena kadar abunya
rendah).
2. Teori Drift
Bahan-bahan pembentuk lapisan batubara, terjadinya di tempat lain dari
tumbuh-tumbuhan asal itu berada karena sudah tertransportasi, yang
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: penyebarannya tidak luas tetapi banyak
dan kualitasnya kurang baik karena banyak mengandung pengotor.

2.2.Parameter Kualitas Batubara


Untuk mengetahui kualitas dari batubara maka dapat diketahui dengan
menggunakan parameter-parameter dari batubara. Parameter-parameter dari
batubara adalah sebagai berikut: (Rance, 1975)
1. Kandungan Air
Kandungan air dalam batubara secara umum ada dua yaitu air permukaan
(free moisture) dan kandungan air bawaan (inherent moisture). Kandungan air
permukaan secara mekanis terdapat dalam permukaan dan retakan-retakan
serta kapiler-kapiler besar (makro kapiler) batubara dan mempunyai tekanan
gas normal. Jumlah kandungan air bebas secara prinsip tergantung dari

4
kondisi yaitu dari lembab sampai kering. Hal tersebut juga tergantung dari
penambangan, benefisiasi, transportasi, penanganan dan penyimpanan juga
distribusi ukuran butirnya.

Kandungan air bawaan berada pada mikro pori, yang mempunyai tekanan
lebih rendah dari tekanan uap normal. Kandungan air bawaan ini penting
diketahui,karena dapat digunakan untuk mengindikasi peringkat batubara.
Batubara makin tinggi kandungan air bawannnya, peringkatnya makin
rendah.

2. Kandungan Abu
Seperti telah diketahui bahwa kandungan batubara terdiri dari 3 komponen
yaitu: air, material batubara (coal matter) dan material bukan batubara
(mineral matter).

Mineral matter terdiri atas 2 macam yaitu mineral matter bawaan (inherent
mineral matter) serta material mineral dari luar batubara (extraneous mineral
matter). Inherent mineral matter berhubungan dengan tumbuh-tumbuhan
yang hidup di rawa-rawa dan sulit dipisahkan dari batubara, biasanya
berjumlah 0,5 1,0 %. Extraneous Mineral Matter terbentuk saat proses
penambangan berlangsung, yang terbawa waktu terjadi banjir ke lapisan
batubara pada waktu pembentukannya. Extraneous Mineral Matter dapat
dipesahkan dari batubara dengan proses pencucian. Jika Batubara dipanaskan
maka mineral matter tersebut akan mengalami perubahan secara kimia
menjadi abu.

Perubahan secara kimia tersebut antara lain sebagai berikut :


Kehilangan air dari senyawa-senyawa yang mengandung hidrogen
Kehilangan CO2 dari karbonat.
Oksidasi FeS2 menjadi besi sulfida dan magnesium oksida.
Penguapan dan penguraian dari alkali chloride.

5
Secara umum untuk memperkirakan jumlah mineral matter dapat dicari
dengan menggunakan rumus sbb :
MM = 1,1 x Kandungan Abu
Atau
MM = 1,08 + 0,55 S
Keterangan :
MM = Mineral Matter
A = Kandungan abu
S = Kandungan sulfur

3. Zat Terbang
Zat terbang terdiri dari combustible gasses (gas-gas yang mudah terbakar)
seperti gas hidrogen, CO, dan CH 4 serta gas-gas yang dapat dikondensasikan
seperti tar dengan sejumlah kecil gas-gas yang tidak terbakar seperti CO 2 dan
air yang terbentuk karena hasil dehidrasi dan kalsinasi.

Zat terbang juga dapat digunakan sebagai ukuran untuk menentukan


peringkat batubara. Pengaruhnya dalam preparasi batubara adalah jika
kandungan zat terbang tinggi (>24 %) maka batubara akan mudah terbakar.
Untuk mengatasi hal tersebut sebaiknya batubara tidak dilakukan
penggerusan terlalu halus, karena sangat berpotensi untuk mudah meledak.

4. Karbon Tetap (Fixed Carbon)


Sebagai komponen dari analisa proksimat, Fixed Carbon dihitung dari
FC = 100 ( A + VM + IM ).
Rasio Fixed carbon dengan Volatile matter (zat terbang) disebut dengan FR
(Fuel Ratio). FR juga dapat digunakan sebagai pegangan untuk menentukan
peringkat batubara.

5. Nilai Kalor
Nilai kalor dari batubara merupakan jumlah panas dari komponen yang
terbakar seperti karbon, hidrogen, dan sulfur dikurangi dengan panas reaksi

6
eksotermis atau endotermis yang terjadi dari pembakaran komponen
pengotor.

6. Kandungan Sulfur
Sulfur merupakan zat pencemar,maka adanya sulfur yang tinggi sangat tidak
dikehendaki.

Ada 3 macam bentuk sulfur yaitu :


Pyritic Sulfur (FeS2) biasanya berjumlah 20 80 % dari total sulfur dan
berasosiasi dengan abu batubara.
Organic Sulfur biasanya berjumlah relatif dan bervariasi antara 20 80
% dari total sulfur. Sulfur Organik terikat secara kimia dengan substansi
atau zat-zat lain.
Sulphate sebagaian besar terdiri dari kalsium sulfat dan besi sulfat.

2.3. Pencampuran Batubara


Pencampuran batubara atau blending adalah penggabungan atau penimbunan
secara bersamaan dan terus menerus dalam waktu tertentu dari dua atau lebih
material (batubara beda kualitas), yang dianggap mempunyai komposisi yang
konstan (parameter kualitas konstan) dan terkontrol proporsinya.

Dalam hal ini pencampuran dilakukan terhadap batubara yang berbeda


kualitasnya, sehingga kualitas batubara hasil campuran merupakan perpaduan dari
semua parameter kualitas batubara yang dicampur atau dengan kata lain batubara
dengan kualitas rendah akan menjadi lebih baik dan dapat memenuhi batasan-
batasan persyaratan untuk memenuhi permintaan konsumen.

Pencampuran batubara dilakukan terhadap batubara yang terdiri dari dua jenis
kualitas batubara pada area penimbunan tersebut dengan perbandingan tertentu
sehingga didapatkan hasil blending atau pencampuran yang sesuai dengan
permintaan konsumen.

7
Pencampuran batubara supaya didapatkan hasil yang sesuai dengan yang
diinginkan dengan komposisi yang seragam dan homogen, secara teoritis
parameter kualitasnya campurannya dapat dideteksi dapat didekati dengan
persamaan sbb: (Subagyo,1983)
K1. X 1 K 2 . X 2 ... K n . X n
Xc
Kc =
Xc = X1 + X2 + ... + Xn
Keterangan :
Kc = Kualitas batubara campuran.
Xc = Berat total batubara campuran.
K1,K2,...,Kn = Kualitas masing-masing batubara yang akan dicampur.
X1,X2,...,Xn = Berat dari masing-masing batubara yang akan dicampur.

2.4. Blending Plan


Sebelum pelaksanaan blending dilakukan, makahal utama yang harus dilakukan
adalah membuat blending plan atau simulasi blending. Dimana dalam blending
plan harus terdapat kualitas yang ingin dicapai, kualitas masing-masing batubara
yang akan di-blending, atau kebutuhan kualitas batubara yang harus ditambang
dan harus dicampurkan untuk memenuhi kualitas target yang sudah ditentukan.
Hal ini sangat penting dilakukan dalam rangka efisiensi dari blending tersebut.

Dalam penyusunan suatu blending plan, hal-hal yang perlu diperhatikan dan
ditentukan yaitu: (Schofield, 1978)
a. Parameter yang bersifat kualitatif
b. Sensitifitas blending
c. Strategi pencampuran
d. Blending cost atau biaya blending

2.4.1. Parameter yang Bersifat Kualitatif


Dalam mensimulasikan kualitas blending, yang harus diperhatikan adalah bahwa
tidak semua parameter kuaitas batubara dapat disimulasikan dengan perhitungan
kumulatif. Parameter yang tidak bisa dihitung secara kumulatif adalah parameter
yang bersifat kualitatif.

8
Untuk menentukan dari hasil blending untuk jenis parameter tersebut maka harus
dibuat simulasi composite, yaitu dengan mencampurkan batubara yang akan di-
blending dengn proporsi blending yang sudah ditentukan, kemudian dianalisa.
Hasil analisa tersebut merupakan prediksi kualitas hasil blending.

2.4.2. Sensitifitas Blending


Sensitifitas blending adalah tingkat pengaruh dari suatu batubara blending
terhadap hasil blending. Sensitifitas blending ini menjadi hal yang sangat penting
dan perlu diperhatikan terutama pada blending batubara dengan rasio kuantitas
blending yang cukup tinggi. Sensitifitas blending ini sangat erat kaitannya dengan
efisiensi blending tersebut. Suatu blending yang dilakukan dengan rasio kuantitas
yang cukup besar akan menjadi tidak berarti karena pengaruhnya tidak cukup
signifikan dalam merubah kualitas asal.

Jadi sebagai patokan dalam menentukan sensitifitas blending adalah nilai toleransi
laboratorium atau yang disebut repeatibility dari parameter yang dijadikan sebagai
target. Untuk blending yang dilakukan dengan fasilitas blending yang memadai,
sampling hanya dilakukan satu kali yaitu pada batubara campuran. Sedangkan
untuk blending yang menggunakan fasilitas kurang memadai sampling dilakukan
terhadap masing-masing batubara yang dicampurkan.

2.4.3. Strategi Pencampuran


Pencampuran suatu blending yang baik adalah dengan mencampurkan dua atau
lebih batubara menggunakan unit loading rate terkecil. Sistem pencampuran atau
blending yang mungkin terjadi dengan tingkat homogen yang mengecil secara
beruntun.

Tabel 1
Sistem Pencampuran Batubara
Unit Pencampur Unit Rasio Pencampuran

9
1. Belt Conveyor Fee Rate (tph)
2. Bucket Loader Jumlah Bucket
3. Dump Truck Jumlah Dump Truck
4. Barge Jumlah Barge

Dari unit pencampur yang pertama merupakan blending yang paling homogen
karena memiliki unit loading terkecil perhitungan waktu. Sedangkan unit
pencampur kedua sampai keempat memiliki unit loading besar sesuai dengan alat
yang digunakan untuk melakukan blending batubaranya. Selain itu, blending
dengan menggunakan unit seperti pada unit pencampur kedua dan ketiga harus
memperhitungkan jarak masing-masing batubara yang di-blending. Karena
pencampuran harus dilakukan pada waktu yang sama atau paling tidak berurutan
pada tiap satuan ratio.

10
BAB III
TAHAPAN PENELITIAN

3.1. Studi Literatur


Dalam hal ini dilakukan dengan menggabungkan antara teori dengan data-data di
lapangan, adapun bahan-bahan diperoleh dari Instansi yang terkait dengan
penelitian ini serta perpustakaan kampus dan daerah yang mana dapat berupa
literatur yang berhubungan dengan topik penelitian dan penelitian terdahulu.

3.2. Penelitian Langsung di Lapangan


Hal ini dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu :
a. Observasi lapangan
Yaitu dengan melihat langsung kondisi lapangan daerah penelitian, luas
serta kesampaian daerah serta mencocokkan dengan data-data yang diperoleh.
b. Pengambilan conto di lapangan
Yaitu dengan mengambil conto dilapangan untuk nantinya dianalisa di
laboratorium.
c. Cek kembali perumusan masalah
Yaitu dengan menyesuaikan data-data yang diperoleh agar apa yang telah
didapat sesuai dengan yang dibutuhkan untuk masalah yang akan dipecahkan.

3.3. Pengambilan Data


Pengambilan data dilakukan dengan mengumpulkan data kualitas batubara dan
juga produksi batubara untuk kemudian dianalisis guna menentukan rencana
blending. Selain itu, data-data lain seperti curah hujan dan kondisi geologi dapat
diperoleh dari instansi terkait.

3.4. Akuisisi Data


Hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam pengolahan data, diantaranya:

11
Pengumpulan dan pengelompokan data
Menghitung jumlah data dengan metode statistik

3.5. Mengolah Data


Data-data yang telah diperoleh akan diolah, sehingga masalah yang ada dalam hal
ini komposisi blending yang tepat dapat terselesaikan.

Gambar 1
Diagram Alir Proposal Skripsi

12
BAB IV
PENYELESAIAN MASALAH

4.1. Pengumpulan Data


Data-data yang berhubungan dengan penelitian, yang meliputi antara lain:
Data curah hujan.
Data cadangan batubara.
Data kualitas umum batubara.
Data kualitas batubara yang diinginkan konsumen.
Data jumlah produksi batubara berdasarkan kualitasnya.
Data kualitas batubara di lapangan.

4.2. Analisa
Analisa dilakukan di laboratorium untuk mengetahui kualitas dari batubara
tersebut dan mencari komposisi blending yang tepat dari data-data yang ada.

4.3. Rencana Jadwal Penelitian


Rencana waktu pelaksanaan penelitian dalam penyusunan skripsi ini adalah
selama 2 bulan dengan perincian sebagai berikut:

2016
NO KEGIATAN FEBRUARI MARET
I II III IV I II III IV
1. Studi Literatur
2. Orientasi Lapangan
3. Pengambilan Data
4. Pengolahan Data
5. Analisa Data
6. Pembuatan Draft

13
14
4.4. Rencana Daftar Isi

KATA PENGANTAR
RINGKASAN
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Batasan Masalah
1.5 Metodologi Penelitian
1.6 Manfaat Penelitian
II. TINJAUAN UMUM
2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah
2.2 Keadaan Geologi Daerah Penambangan
2.3 Iklim dan Curah Hujan
2.4 Kegiatan Penambangan
2.5 Kualitas Batubara di Tambang dan Permintaan Konsumen
pada PT. Mahakam Sumber Jaya
III. DASAR TEORI
3.1 Parameter Kualitas Batubara
3.2 Basis Pelaporan Hasil Analisis
3.3 Teori Blending (Pencampuran)
3.4 Metode Blending
IV. HASIL PENELITIAN
4.1 Parameter Kualitas Batubara di Stockpile
4.2 Kriteria Batubara dari Permintaan Konsumen PT. Mahakam
Sumber Jaya
4.3 Rencana Produksi Batubara
4.4 Kondisi Blending Batubara Saat Ini
V. PEMBAHASAN
5.1 Rencana Penempatan Batubara Hasil Panambangan pada
Masing-masing Stockpile yang terdapat di PT. Mahakam
Sumber Jaya

15
5.2 Rencana Blending Batubara untuk Memenuhi Permintaan
Konsumen
5.3 Blending Batubara Menggunakan Linier Programing pada
Software POM-QM for Windows 3
5.4 Komposisi Tonase Masing-masing Kualitas Batubara Hasil
Blending dalam Rencana Pemenuhan Permintaan
Konsumen
5.5 Rencana Hasil Blending Berdasarkan Rencana Produksi
Batubara untuk Memenuhi Permintaan Konsumen
5.6 Rencana Harian dan Teknis Blending Batubara di Stockpile
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
6.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

16
RENCANA DAFTAR PUSTAKA

1. Berkowitz, N. 1979. An Introduction to Coal Technology. Academic Press,


San Diego.

2. Dryden, I. G. C. 1963. In Chemistry of Coal Utilization. Wiley, Hoboken.

3. Given, P. H. 1984. In Coal Science. Academic Press, San Diego.

4. Rance, H. C. 1975. Coal Quality Parameters and Their Influence in Coal


Utilization. Shell International Petroleum Co. Ltd.

5. Rumidi, Sukandar. 1995. Batubara dan Gambut. Gadjah Mada University.

6. Samuel, M. C. 1973. Element of Practical Coal Mining. SME, AIME Inc,


New York.

7. Schofield, Charles G. 1978. Homogenization/ Blending System Design and


Control for Mineral Processing. 1st Edition, Trans Tech Publication,
Clausthere Zellerfeld Federal Republic of Company.

8. Speight, James G. 2005. Handbook of Coal Analysis. John Wiley & Sons,
Hoboken, New Jersey.

9. Subagyo, Pangestu. 1983. Dasar-Dasar Operation Research. BPFE,


Yogyakarta.

10. Wise, W. S. 1971. Solvent Treatment of Coal. Mills and Boon, London.

17