Anda di halaman 1dari 14

SPEKTROMETER PRISMA

A. Tujuan Praktikum
1. Melukiskan jalannya sinar untuk spektrometer prisma
2. Menyelidiki hubungan antara sudut pembias dan sudut deviasi prisma
3. Menyelidiki hubungan antara sudut deviasi dan sudut deviasi minimum
pada prisma
4. Menentukan sudut pembias prisma
5. Menentukan deviasi minimum prisma
6. Menentukan indeks bias prisma berdasarkan deviasi minimum

B. Alat dan Bahan


Susunan spectrometer prisma dan komponen-komponen utama penyusunnya.
a. Celah colimeter
b. Pengatur focus lensa
c. Lensa kolimeter
d. Lensa okuler teleskop
e. Pengatur lensa okuler teleskop
f. Lensa objektif teleskop
g. Clamp pengatur posisi
h. Meja prisma
i. Skala nonius (NST = 19,5)
j. Pengatur ketinggian posisi prisma
k. Skala utama (NST = 20)
l. Prisma
Gambar : Spektrometer Prisma

Fungsi Spektrometer Prisma untuk menganalisa dan mengukur besarnya


panjang gelombang dari tiap-tiap spektrum warna yang terdiri dari :
a. Kolimator
Fungsi : sebagai penyearah sinar atau memfokuskan sinar dari cahaya yang
masuk ke lensa sehingga dapat dipancarkan tepat pada prisma.
b. Meja prisma
Fungsi : sebagai tempat meletakkan prisma.
c. Skala
Fungsi : untuk menunjukkan besar nilai dari sudut dispersi dan spektrum
warnayang dihasilkan dan standart.
d. Meja Skala
Fungsi : sebagai tempat membaca sudut yang dihasilkan oleh spektrum.
e. Teropong
Fungsi : sebagai penerima sinar yang didispersikan sehingga dapat diamati
spektrum warna yang dihasilkan.

C. Teori Dasar

Spektrometer atau spektroskop adalah alat untuk mengukur panjang


gelombang dengan akurat dengan menggunakan kisi difraksi atau prisma untuk
memisahkan panjang gelombang cahaya yang berbeda. Cahaya dari sumber melewati
celah sempit pada kollimator. Celah berada pada fokus lensa, sehingga cahaya paralel
jatuh kisi. Teleskop yang dapat digerakkan dapat menfokuskan berkas berkas cahaya.
Tidak akan ada yang terlihat pada teleskop kecuali di posisikan pada sudut yang
sesuai dengan puncak difraksi dari panjang gelombang yang dipancarkan.

Cahaya putih bisa merupakan superposisi dari gelombang-gelombang yang


membentang melalui seluruh spektrum tampak. Laju cahaya dalam ruang hampa
adalah sama untuk semua panjang gelombang, tetapi laju cahaya tersebut dalam zat
material berbeda untuk panjang gelombang yang berbeda. Maka indeks refraksi
sebuah material bergantung pada panjang gelombang. Kebergantungan laju
gelombang dan indeks refraksi pada panjang gelombang dinamakan dispersi (Young,
2001:506).
Prisma adalah bahan optic yang dibatasi oleh dua bidang pembias yang
membentuk sudut tertentu yang disebut sudut puncak (sudut pembias prisma () ).

Jika seberkas sinar monokromatik dalam arah AB didatangkan pada salah satu
bidang pembias dengan sudut datang pertama i1 terhadap N1. Didalam prisma, sinar
akan dibiaskan dengan sudut bias pertama r1, dalam arah BC, sampai C pada bidang
pembias kedua dengan sudut datang kedua i2, dan keluar prisma dengan sudut bias
kedua r2. Menurut aturan trigonometri diperoleh:
.. (1)
Bila D = sudut deviasi prisma, yaitu sudut yang dibentuk oleh perpanjangan
oleh sinar keluar prisma, besarnya D memenuhi persamaan:
.. (2)
Dari hasil percobaan ternyata besarnya deviasi prisma tidak selalu berbanding
lurus dengan besarnya sudut datang pada prisma tersebut. Jika sinar dating terhadap
prisma di ubah-ubah, pada saat i1 = i2 besarnya harga deviasi D mencapai minimum =
deviasi minimum (Dm), sehingga di peroleh:
.. (3)
= besarnya sudut datang saat tejadi deviasi minimum.
Sedangkan besarnya = 2 r1. Menurut hukum snellius, indeks bias prisma dapat
dihitung dengan:

.. (4)
Dengan menggunakan persamaan yang ada maka besaran-besaran yang ingin
di tentukan dapat dicari.
Pada prisma jika didatangkan seberkas sinar polikromatik maka sinar yang
keluar dari prisma akan terurai pada masing-masing spectrum seperti pada gambar
berikut:
Gambar 1.
Penguraian warna dari sinar polikromatik tersebut mengahasilkan panjang
gelombang yang berbeda yang terlihat berada antara spektrum ultraviolet dan infra
merah .

Diagram sdpektrumeter dan komponen-komponen penyusunnya adalah


seperti gambar berikut:
Gambar 2. Diagram Spektrometer ( Tim gelombang dan optik, 2016: 1-4 ).

Indeks bias material sedikit bergantung pada panjang gelombang. Indeks bias
material sedikit berkurang seiring bertambahnya panjang gelombang.
Kebergantungan indeks bias pada panjang glombang yang berarti juga pada frekuensi
disebut dispersi. Saat seberkas cahaya putih masuk mengenai permukaan sebuah
prisma kaca pada beberapa sudut, sudut bias, untuk panjang gelombang yang lebih
pendek yang mendekati ujung ungu dari spektrum cahaya tampak sedikit lebih besar
dari sudut bias untuk panjang gelombang yang menuju ujung merah pada spektrum
cahaya tampak tersebut. Cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek dibelokkan
lebih besar dari cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang. Berkas cahaya
putih disebar atau didispersikan ke dalam menjadi warna-warna komponen atau
panjang gelombang-panjang gelombang (Tipler, 2001:453).
Spectrometer adalah alat untuk mengukur panjang gelombang dengan akurat
menggunakan kisi difraksi atau prisma, untuk memisahkan panjang gelombang yang
berbeda. Cahaya dari sumber melewati celah sempit pada titik focus L. Sehingga
cahaya parallel jatuh pada kisi teleskop yang dapat digerakkan sehingga
memfokuskan berkas-berkas cahaya prismea berkerja. Disperse pembelokkan cahaya
dengan panjang gelombang yang berbeda dan sudut yang berbeda pula.

Dua property cahaya yang paling jelas dapat langsung dideskripsikan dengan
teori gelombang untuk cahaya adalah intensitas dan warna cahaya. Warna cahaya
berhubungan erat dengan panjang gelombang atau frekuensi cahaya. Cahaya tampak
yaitu cahaya yang sensitive pada masa yang jatuh pada kisaran 400 nm hinggan 750
nm. Kisaran ini dikenal dengan spectrum tampak. Cahaya putih adalah gabungan dari
semua cahaya tampak dan ketika jatuh pada prisma, panjang gelombang yang akan
dibelokkan dengan sudut deviasi yang berbeda pula (Giancolli,Douglas. 2001).

Prisma dapat digunakan untuk menguraikan cahaya ke dalam berbagai warna.


Karena indeks bias sebuah medium bervariasi tergantung pada panjang gelombang,
warna-warna cahaya yang berbeda membias dengan cara yang berbeda. Dalam
hampir semua medium, merah dibiaskan paling dekat dan biru dibiaskan paling
jauh(Bueche, 2006:246).
Beberapa fenomena alam yang sering kali terjadi ternyata dapat dijelaskan
oleh ilmu fisika. Seperti halnya pelangi yang sering muncul dilangit, Tetsan air hujan.
Telah mendispersikan cahaya yang dipancarkan oleh matahari menajadi warna-warna
yang terurai tersebut memliki panjang dari sudut deviasi yang berbeda-beda. Dan
sudut dalam percibaan ini akan dipelajari tentang alat yang bernama spectrometer.
Prisma yang ada didalam alat ini dapat menguraikan cahay polikromatis menjadi
beberapa cahaya monokratis seperti pada fenomena pelangi (Tipler.2001).

Prinsip kerja dari spectrometer adalah cahaya didatangkan lewat celah sempit
yang disebut kolimator. Kolimator ini merupakan focus lensa sehingga cahaya yang
diteruskan akan bersifat sejajar. Cahaya sejajar kemudian diteruskan kekisi untuk
kemudian ditangkap oleh teleskop yang posisinya dapat digerakkan . perbedaan
indeks bias dari tiap-tiap zat atau bahan menjelaskan perbandingan kecepatan cahaya.
Saat dari medium pertama dengan medium kedua, indeks bias ini sangat dibutuhkan
untuk eksperimen-eksperimen berikutnya yang membutuhkan pengetahuan dari
bahan apa yang dapat digunakan untuk melewatkan suatu cahaya menjadi cahaya-
cahaya yang lain pada akhirnya dapat menetukan panjang gelombang hasil disperse
(Bueche,T Frederick. 2006).

Prinsip kerja dari spektrometer adalah cahaya didatangkan lewat celah sempit
yang disebut collimator. Kolimator ini merupakan focus lensa. Prisma yang berada
ditengah spectrometer berfungsi untuk menyebarkan cahaya. Cahaya putih tersebar
pada masing-masing panjang gelombang dan menghasilkan spektrum pelangi.

Alam ruang hampa (vakum) kecepatan cahaya c adalah sama untuk setiap
panjang gelombang atau warna cahaya , artinya kecepatan cahaya biru sama dengan
kecepatan cahaya inframerah (Halliday, 1993 : 40-41).

Spektrometer adalah alat optik yang digunakan untuk mengamati dan


mengukur sudut deviasi cahaya datang karena pembiasan dan disperse. Dengan
menggunakan hukum snellius, indeks bias dari kaca prisma untuk panjang gelombang
tertentu atau warna tertentu dapat ditentukan.

Hubungan panjang gelombang cahaya memenuhi persamaan :

= m.d sin .. (8)

dimana :

m : bilangan bulat yang mempresentasikan orde

d : jarak antara garis-garis pada kisi. (Sutrisno, 1990: 58-59).

D. Prosedur Percobaan
a. Kalibrasi alat
1. Mengkalibrasi teleskop terlebih dahulu dengan cara melihat benda
yang agak jauh, kemudian dengan memutar pengatur fokus lensa
okuler teleskop. Lihat benda sampai jelas.
2. Meletakkan collimeter dalam satu garis lurus dengan teleskop, lalu
nyalakan lampu NA. Melihat melalui teleskop dan simetris dengan
garis mendatar yang ada pada teleskop. Kalau belum, mengaturnya
kembali dengan memutar sekrup pengatur posisi teleskop (pengatur
turun naik).

b. Menentukan sudut Pembias Prisma


1. Meletakkan prisma di atas meja prismadengan sudut pembiasnya
menghadap collimator dan mengatur posisinya hingga garis bagi sudut
pembias berhimpit dengan sumbu utama collimator.
2. Mengamati bayangan tajam dari sinar pantul pada sisi pembias
pertama prisma dengan mengatur posisi teleskop dan meja prisma
sehingga bayangan tadi berimpit dengan garis silang tegak pada
teleskop dan bayangan tetap dalam keadaan simetri dengan garis
mendatar.
3. Jika sudah didapat bayangan tajam, kunci kedudukan teleskop lalu
mencatat posisinya dengan skala utama dari skala nonius misalkan 1
4. Memindahkan teleskop kearah sisi pembias ke dua, melihat bayangan
tajam seperti sebelumnyadan membaca posisinya misalkan 2
Catatan : Bila pembacaan 1 dan 2 dengan skala nonius yang sama
maka selisih kedua pembacaan akan sama dengan skala nonius yang
berbeda, maka selisihnya =
5. Mengulangi langkah 1 sampai dengan 4 sebanyak 10 kali pengamatan
dan mencatat datanya.

c. Menentukan Deviasi Minimum dan Indeks Bias Prisma


1. Mengatur posisi prisma terhadap collimator sehingga sinar yang keluar
membentuk sudut datang tertentu pada bidang sisi prisma.
2. Mengamati bayangan tajam berupa garis kuning dengan mengatur
posisi teleskop sehingga sinar bias yang keluar tepat masuk ke
teleskop.
3. Mencatat saat terjadinya deviasi minimum dengan cara merubah posisi
prisma ke kiri atau ke kanan dan di saat bayangan tajam tadi membalik
arah, berarti disana terjadi deviasi minnimum. Mencatat posisi
teleskop pada posisi misalnya 1
4. Memutar posisi prisma 1800 dari semula
5. Mengamati bayangan tajam dengan mengatur posisi teleskop sehingga
sinar bias keluar dari bidang sisi prisma yang lain tepat masuk ke
dalam teleskop.
6. Melakukan langkah 3, mencatat hasilnya misalkan 2
Catatan: untuk 1 dan 2 dengan skala nonius yang sama maka selisih
2 Dm dan jika berbeda selisihnya Dm
7. Mengulangi langkah 1 sampai 6 sebanyak 10 kali dengan merubah-
ubah besar sudut datang pada prisma dan mencatat datanya dalam
kolom data.

E. Tabel Data

F. PENGOLAHAN DATA

Tabel 1.

G. Pembahasan
Berdasarkan kegiatan praktikum mengenai Spektrometer Prisma yang telah
dilakukan pada hari Kamis, 3 November 2016, maka dapat dibahas sebagai berikut :
Sebelum memulai kegiatan praktikum, terlebih dahulu alat harus di kalibrasi
dengan cara melihat pada teleskop sesuai langkah-langkah pada prosedur percobaan.
Setelah itu, maka kegiatan praktikum dapat dilakukan.
Percobaan pertama yaitu menghitung sudut pembias prisma (). Untuk dapat
menghitung sudut pembias prisma, dengan melakukan langkah-langkah yaiu
menghadap collimator dan mengatur posisi prisma. Kemudian mengamati bayangan
tajam dari sinar pantul pada sisi pembias pertama prisma dengan mengatur posisi
teleskop dan meja prisma sehingga bayangan tadi berhimpit dengan garis silang tegak
pada teleskop dan bayangan tetap dalam keadaan simetris dengan garis mendatar.
Kemudian mengunci dudukan teleskop dan mencatat skala utama dan nonius serta
garis himpitnya untuk dapat membaca nilai 1 dan 2 Untuk mengetahui 1dengan
memutar teleskop kearah kanan dan ke kiri untuk mengetahui 2 . Untuk membaca
data 1 dan 2 yang diperoleh dengan menggunakan rumus :

Setelah didapatkan hasil bacaan dari 1 dan 2 dan memasukkan data pada
tabel 1. Maka untuk mendapatkan hasil data dapat diolah data dengan menggunakan
rumus :

Berdasarkan ketetapan, besar sudut pembias adalah mendekati sudut 60 0 akan


tetapi, karena terjadi kesalahan pada saat pembacaan alat ukur. Untuk mengetahui
besar nilai kesalahan pada saat pembacaan alat ukur dengan menggunakan rumus :

Percobaan kedua yaitu menghitung indeks bias dan sudut deviasi minimum
pada prisma. Untuk dapat menghitung sudut pembias prisma, maka terlebih dahulu
mencari sinar simetris yang paling focus pada teleskop dengan memutar teleskop ke
kiri untuk mengetahui hasil 1 dan ke kanan untuk mengetahui hasil 2 . Untuk
membaca data 1 dan 2 yang diperoleh dengan menggunakan rumus :

Setelah didapatkan hasil bacaan dari 1 dan 2 dan memasukkan data pada
tabel 2. Maka untuk mendapatkan hasil atau deviasi minimum data dapat diolah
data dengan menggunakan rumus :
berdasarkan ketetapan, besar sudut pembias atau hasil deviasi minimum
adalah mendekati sudut 500. Akan tetapi, karena terjadi kesalahan pada saat
pembacaan alat ukur. Untuk mengetahui besar nilai kesalahan pada saat pembacaan
alat ukur dengan menggunakan rumus :

kesalahan yang terjadi pada saat mengambil data adalah kesalahan pembacaan
skala. Dimana kesulitan dalam melihat garis antara skala utama dan skala nonius
yang terlalu kecil.

H. Tugas Akhir
Gambar alat spectrometer prisma yang digunakan.

Gambar pada saat kalibrasi alat

Gambar
I. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat di simpulkan sebagai berikut:
1.
Jalannya sinar Sinar datang melalui sumbu utama lalu dibelokkan menuju
garis normal
2.
semakin besar sudut biasnya maka sudut deviasinya juga akan semakin besar.
3.
Besarnya Sudut deviasi minimum hamper mendekati sudut deviasi
4.
Sudut bias prisma pada praktikum kali ini yaitu sebesar .
5.
Sudut deviasi minimum prisma sebesar .
6.
Indeks bias prisma berdasarkan sudut deviasi minimum yaitu sebesar 0
DAFTAR PUSTAKA

Bueche, J Frederick. 2006. Fisika Universitas Edisi kesepuluh. Erlangga :


Jakarta.
Giancolli,Douglas C. 2001. Fisika Edisi Kelima Jilid 2. Erlangga : Jakarta.
Haliday dan Resnick . 1993 . Fisika Jilid II . Terjemahan Erlangga : Jakarta.

Sutrisno.1990.Fisika.Bandung:ITB.

Tim Gelombang dan Optik.2016.Modul Praktikum Gelombang dan


Optik.Padang:UNP.

Tipler, Paul A. 2001. Fisika Untuk Sains dan Teknik 2. Elangga : Jakarta.
Young, Hugh D dan Roger A. Freedman. 2001. Fisika Universitas Edisi Ke
Sepuluh Jilid 2. Jakarta: Erlangga