Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebudayaan merupakan seluruh cara hidup manusia. Manusia mempunyai
salah satu sifat yang paling mendasar yaitu berubah atau melakukan perubahan.
Perubahan tersebut tentu mempengaruhi cara cara hidup manusia beserta
masyarakat sekitarnya sehingga terjadilah perubahan kebudayaan atau yang
disebut dengan dinamika kebudayaan. Dinamika kebudayaan merupakan suatu
hal yang unik dan menjadi perhatian para ahli antropologi. Para ahlipun banyak
meneliti hingga terlahirlah konsep konsep dinamika kebudayaan yang akan
kami bahas disini.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah Definisi Dinamika Kebudayaan ?
2. Apakah Faktor faktor yang Mempengaruhi Dinamika Kebudayaan ?
3. Apakah Konsep Konsep Khusus Mengenai Pergeseran Masyarakat dan
Kebudayaan ?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan Umum
Penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Keperawatan Transkultural.
Tujuan Khusus
1. Menetahui Definisi Dinamika Kebudayaan
2. Menetahui Faktor faktor yang Mempengaruhi Dinamika Kebudayaan
3. Menetahui Konsep Konsep Khusus Mengenai Pergeseran Masyarakat dan
Kebudayaan
1.4 Manfaat
1. Bagi Penulis
Mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai
dinamika kebudayaan.
2. Bagi Pembaca
Dapat mengetahui tentang dinamika kebudayaan sehingga dapat mengetahui
apa saja yang dilakukan saat adanya perbedaan kebudayaan.

3. Bagi Institusi Pendidikan

1
Menambah informasi tentang dinamika kebudayaan serta dapat meningkatkan
pemahaman mahasiswa dan pendidik.

BAB 2

2
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Dinamika Kebudayaan


Ralph Linton, seorang ahli antropologi mendefinisikan kebudayaan (dalam
Ihromi, 1994;18) adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang manapun
dan tidak mengenai sebagian dari cara hidup itu yaitu bagian yang oleh
masyarakat dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan. Sementara pengertian
dari dinamika ialah sesuatu yang mengandung arti tenaga kekuatan, selalu
bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap
keadaan. Dinamika juga berarti adanya interaksi antara anggota kelompok
dengan kelompoknya secara keseluruhan. Keadaan ini dapat terjadi selama ada
kelompok, semangat kelompok, yang terus menerus ada dalam kelompok itu
yang mana kelompok itu bersifat dinamis, artinya dapat selalu berubah dalam
setiap keadaan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa dinamika kebudayaan adalah cara
kehidupan masyarakat yang selalu bergerak, berkembang dan menyesuaikan diri
dengan setiap keadaan.

2.2 Faktor faktor yang Mempengaruhi Dinamika Kebudayaan


Menurut Poerwanto (2000 : 143) sebab umum terjadinya perubahan
kebudayaan lebih banyak dari adanya ketidakpuasan masyarakat, sehingga
masyarakat berusaha mengadakan penyesuaian. Penyebab perubahan bisa saja
bersumber dari dalam masyarakat, dari luar masyarakat atau karena faktor
lingkungan alam sekitarnya. Faktor perubahan yang bersumber dari dalam
masyarakat antara lain adalah :
2.2.1 Faktor demografi: yaitu bertambah atau berkurangnya jumlah
penduduk. Sebagai gambaran pertambahan penduduk yang saangat
cepat di pulau Jawa menyebabkan perubahan struktur kemasyarakatan,
terutama yang berkaitan dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan
seperti pemahaman terhadap hak atas tanah, sistem gadai tanah, dan
sewa tanah yang sebelumnya tidak dikenal secara luas.
2.2.2 Penemuan baru: proses perubahan yang besar pengaruhnya tetapi
terjadi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama disebut sebagai
inovasi.
2.2.3 Pertentangan atau konflik dalam masyarakat: dapat menjadi sebab
timbulnya perubahan kebudayaan. Pertentangan yang terjadi bisa
antara orang perorangan, perorangan dengan kelompok, atau

3
kelompok dengan kelompok. Sebagai contoh pertentangan antar
kelompok yaitu pertentangan antara generasi tua dengan generasi
muda. Pertentangan antar generasi kerapkali terjadi pada masyarakat-
masyarakat yang sedang berkembang dari tahap tradisional ke tahap
modern.
2.2.4 Pemberontakan atau revolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri:
perubahan yang terjadi sebagai akibat revolusi merupakan perubahan
besar yang mempengaruhi seluruh sistem lembaga kemasyarakatan.

2.3 Konsep Konsep Khusus Mengenai Pergeseran Masyarakat dan


Kebudayaan
Telah banyak perubahan gejala dan kejadian sosial-budaya disekeliling
kita. Untuk menganalisanya terdapat beberapa konsep mengenai dinamika
kebudayaan yang akan kita bahas satu persatu. Konsep konsep ini
dikemukakan oleh ahli antropologi terkenal Koentjaraningrat. Beliau mengatakan
bahwa ada lima konsep terkait dinamika kebudayaan. Berikut ini 5 konsep
tersebut.
2.3.1 Proses Belajar Kebudayaan Sendiri
Proses belajar kebudayaan sendiri terdiri dari beberapa bagian. Ada tiga
bagian disini yaitu internalisasi (internalization), sosialisasi
(socialitation) dan enkulturasi (enculturation).
1. Internalisasi
Proses internalisasi adalah proses panjang sejak seorang individu
dilahirkan sampai ia hampir meninggal. Individu belajar menanamkan
dalam kepribadiannya segala perasaan, hasrat, nafsu dan emosi yang
diperlukan sepanjang hidupnya.
Sebagai contoh seorang bayi yang baru dilahirkan akan merasa
tidak nyaman terhadap lingkungan baru yang ia temui, karena suasana
yang berbeda ketika masih dalam kandungan sang ibu. Ketika
dibungkus dengan selimut, lalu diberi kesempatan menyusu, baru si
bayi akan merasakan kehangatan dan kenyamanan dibandingkan
dengan awal saat ia baru saja dilahirkan. Begitu pula dengan hal hal
baru yang akan ia temui, secara alami si bayi akan belajar bagaimana
caranya untuk menyesuaikan diri dengan hasrat dan perasaan baru
yang akan membentuk kepribadiannya hingga ia tumbuh dewasa nanti.

2. Sosialisasi

4
Proses sosialisasi ialah sebuah proses ketika seorang individu
mempelajari tindakan tindakan yang dilakukan untuk melakukan
interaksi sosial ketika berhadapan dengan macam macam individu
disekelilingnya yang mempunyai kepribadian serta kedudukan sosial
yang berbeda. Hal ini dilakukan dari seseorang saat masih dalam masa
kanak kanak hingga masa tuanya.
Seorang bayi lahir ke dunia sebagai suatu organisme kecil yang
egois dan diktator yang penuh dengan kebutuhan fisik dan mengatur
segenap aktifitas orang tuanya. Ia lahir ke dunia dalam keadaan tidak
mengetahui apa apa. Oleh karena itu, seseorang bayi dalam sebuah
keluarga perlu banyak belajar tentang segala sesuatu agar
kehidupannya menjadi lebih maju. Bagaimana cara keluarga itu
mencintai si bayi, memberikan perhatian kepadanya, hingga sampai
pada kebiasaan kebiasaan yang sering dilakukan keluarga itu yang
pada akhirnya akan membentuk kepribadiannya. Maka peranan
keluarga bukan saja berupa peranan peranan yang bersifat intern
antara orang tua dan anak, serta antara yang anak satu dengan anak
yang lain. Keluarga juga merupakan media untuk menghubungkan
kehidupan anak dengan kehidupan di masyarakat, dengan kelompok
kelompok sepermainan, lembaga lembaga sosial seperti lembaga
agama, sekolah dan masyarakat yang lebih luas.
Keluarga berfungsi sebagaimana masyarakat yang mensosialisasikan
nilai nilai atau peran peran hidup dalam masyarakat yang harus
dilaksanakan oleh para anggotanya. Dalam keluarga, orang tua
mencurahkan perhatian untuk mendidik anaknya agar anak tersebut
memperoleh dasar dasar pola pergaulan hidup yang benar melalui
penanaman disiplin sehingga membentuk kepribadian yang baik bagi
si anak. Yang pada akhirnya sang anak yang akan tumbuh dewasa akan
mempelajari sikap, nilai, dan norma yang berlaku di masyarakat yang
telah ia dapatkan dari lingkungan sosial dalam keluarganya.
3. Enkulturasi
Proses enkulturasi adalah proses seorang individu mempelajari
dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat, sistem
norma, dan peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Seperti proses
proses lainnya, proses ini dimulai sejak kecil. Hanya saja, dalam
proses enkulturasi proses ini dimulai didalam alam pikiran warga suatu
masyarakat; mula mula dari orang orang didalam lingkungan

5
keluarganya, lalu, dari teman temannya bermain dengan cara
meniru berbagai macam tindakan karena perasaan dan nilai budaya
pemberi motivasi akan tindakan meniru itu sudah di internalisasikan
dalam kepribadiannya. Karena telah berkali kali meniru tindakan
maka segala tindakan itu telah menjadi budaya bagi dirinya.
Misalnya anak kecil menyesuaikan diri dengan waktu makan dan
waktu minum secara teratur, mengenal ibu, ayah, dan anggota-anggota
keluarganya, adat, dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam
keluarganya
Dalam masyarakat ia belajar membuat alat-alat permainan, belajar
membuat alat-alat kebudayaan, belajar memahami unsur-unsur budaya
dalam masyarakatnya. Pada mulanya, yang dipelajari tentu hal-hal
yang menarik perhatiannya dan yang konkret. Kemudian sesuai
dengan perkembangan jiwanya, ia mempelajari unsur-unsur budaya
lainnya yang lebih kompleks dan bersifat abstrak.
2.3.2 Proses Evolusi Sosial
Perubahan evolusi sosial adalah perubahan perubahan sosial
yang terjadi dalam proses lambat, dalam waktu yang cukup lama dan
tanpa ada kehendak tertentu dari masyarakat yang bersangkutan.
Perubahan perubahan ini berlangsung mengikuti kondisi
perkembangan masyarakat, yaitu sejalan dengan usaha-usaha
masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari hari.
Dengan kata lain, perubahan sosial terjadi karena dorongan dari
usaha usaha masyarakat guna menyesuaikan diri terhadap
kebutuhan kebutuhan hidupnya dengan perkembangan masyarakat
pada waktu tertentu. Contohnya, pada awalnya orang
Indonesia memiliki kepercayaan Animisme dan Dinamisme,
kemudian mulai percaya dengan agama Hindhu-Budha, hingga pada
akhirnya mengenal agama Kristen dan Islam. Hal ini membuktikan
bahwa Indonesia juga mengalami garis besar evolusi universal.
Difusi kebudayaan adalah salah satu bentuk penyebaran unsur
unsur kebudayaan dari tempat satu ke tempat lainnya. Penyebaran
unsur unsur kebudayaan dilakukan dengan cara memberi dan
menerima unsur unsur budaya antara dua masyarakat yang
berdampingan atau biasa kita sebut dengan simbiosis. Ada tiga
macam simbiosis, yaitu:

6
1. Simbiosisi Mutualisme, yaitu kerja sama yang saling
menguntungkan.
2. Simbiosis Komensalisme, yaitu simbiosis yang satu untung dan
yang lain tidak untung ataupun dirugikan.
3. Simbiosis Parasitisme, yaitu satu untung dan yang lain rugi.

Penyebaran kebudayaan dapat dilakukan dengan berbagai macam


cara, diantaranya:
1. Penyebaran kebudayaan ke masyarakat lain secara damai.
Contoh, masuknya kebudayaan Hindu, buddha, dan islam ke
Indonesia.
2. Penyebaran kebudayaan melalui cara kekerasan dan paksaan.
Contoh, penjajahan dan pemaksaan kehendak.
Bentuk penyebaran kebudayaan juga dapat terjadi dengan
berbagai cara, antara lain dengan adanya unsur individu individu
tertentu yang membawa unsur unsur kebudayaannya ke tempat
yang jauh. Misalnya, para pelaut dan pendeta, mereka mendifusikan
budaya budaya mereka.
Penyebaran unsur unsur kebudayaan yang dilakukan oleh
individu-individu dalam suatu kelompok dengan adanya pertemuan
antara individu individu kelompok lain. Disinilah terjadi proses
difusi budaya, dimana mereka saling mempelajari dan saling
memahami budaya mereka masing masing. Cara lain adalah
dengan adanya bentuk hubungan perdagangan, dimana para
pedagang masuk ke suatu wilayah dan unsur-unsur budaya
pedagang tersebut masuk ke dalam kebudayaan penerima tanpa
disengaja.
2.3.3 Akulturasi dan Asimilasi
1. Akulturasi
Koentjaraningrat mengemukakan bahwa akulturasi adalah proses
yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu
kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu
kebudayaan asing yang berbeda sedemikian rupa, sehingga unsur
kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam
kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian
kebudayaan sendiri. Bentuk-bentuk kontak kebudayaan yang
dapat menimbulkan proses akulturasi:

7
1) Kontak dapat terjadi antara seluruh masyarakat, atau antar
bagian-bagian saja dalam masyarakat, atau dapat pula terjadi
antar individu individu dari dua kelompok.
2) Antar golongan yang bersahabat dan golongan yang
bermusuhan.
3) Antar masyarakat yang menguasai dan masyarakat yang
dikuasai.
4) Antar masyarakat yang sama besarnya atau antar masyarakat
yang berbeda besarnya.

Hal penting yang harus diperhatikan dalam proses akulturasi adalah:


1) Keadaan masyarakat penerima sebelum proses akulturasi mulai
berjalan.
2) Individu-individu dari kebudayaan asing yang membawa unsur-
unsur kebudayaan asing.
3) Saluran saluran yang dilalui oleh unsur-unsur kebudayaan asing
untuk masuk ke dalam kebudayaan penerima.
4) Bagian bagian dari masyarkat penerima yang terkena pengaruh
unsur unsur kebudayaan asing.
5) Reaksi para individu yang terkena unsur-unsur kebudayaan asing.

Contoh Akulturasi ialah bangunan arsitektur dan interior


Keraton Kasepuhan menggambarkan berbagai macam pengaruh,
mulai dari gaya Eropa, Cina, Arab, maupun budaya lokal yang sudah
ada sebelumnya, yaitu Hindu dan Jawa. Semua elemen atau unsur
budaya di atas melebur pada bangunan Keraton Kasepuhan tersebut.
Pengaruh Eropa tampak pada tiang-tiang bergaya Yunani. Arsitektur
gaya Eropa lainnya berupa lengkungan ambang pintu berbentuk
setengah lingkaran yang terdapat pada bangunan Lawang Sanga
(pintu sembilan). Pengaruh gaya Eropa lainnya adalah pilaster pada
dinding-dinding bangunan, yang membuat dindingnya lebih menarik
tidak datar. Gaya bangunan Eropa juga terlihat jelas pada bentuk
pintu dan jendela pada bangunan bangsal Pringgondani, berukuran
lebar dan tinggi serta penggunaan jalusi sebagai ventilasi udara.
Dinding luar keraton kasepuhan Cirebon bercorak majapahitan
yang sangat artistik berhiaskan keramik Cina dan Eropa

8
Bangsal Prabayasa berfungsi sebagai tempat menerima tamu-
tamu agung. Bangunan tersebut ditopang oleh tiang saka dari kayu.
Tiang saka tersebut diberi hiasan motif tumpal yang berasal dari
Jawa. Pengaruh arsitektur Hindu-Jawa yang jelas menonjol adalah
bangunan Siti Hinggil yang terletak di bagian paling depan kompleks
keraton. Seluruh bangunannya terbuat dari konstruksi batu bata
seperti lazimnya bangunan candi Hindu. Kesan bangunan gaya Hindu
terlihat kuat terutama pada pintu masuk menuju kompleks tersebut,
yaitu berupa gapura berukuran sama atau simetris antara bagian sisi
kiri dan kanan seolah dibelah. Pada dinding kiri dan kanan bangsal
Agung diberi hiasan tempelan porselen dari Belanda berukuran kecil
110 x 10 cm berwarna biru (blauwe delft) dan berwarna merah
kecoklatan. Pada bagian tengahnya diberi tempelan piring porselen
Cina berwarna biru. Lukisan pada piring tersebut melukiskan seni
lukis Cina dengan teknik perspektif yang bertingkat.
Secara keseluruhan, warna keraton tersebut didominasi warna
hijau yang identik dengan simbol Islami. Warna emas yang
digunakan pada beberapa ornamen melambangkan kemewahan dan
keagungan dan warna merah melambangkan kehidupan ataupun
surgawi.
Bangunan Keraton Kasepuhan menyiratkan perpaduan antara
aspek fungsional dan simbolis maupun budaya lokal dan luar.
Mencerminkan kemajemukan gaya maupun kekayaan budaya bangsa
Indonesia.
2.3.4 Asimilasi
Asimilasi adalah satu proses sosial yang telah lanjut dan yang
ditandai oleh makin kurangnya perbedaan atara individu individu
dan antar kelompok kelompok, dan makin eratnya persatuan aksi,
sikap dan proses mental yang berhubungan dengan dengan
kepentingan dan tujuan yang sama. Ada beberapa faktor yang
memudahkan asimilasi, yaitu:
1. Faktor toleransi.
2. Faktor adanya kemungkinan yang sama dalam bidang ekonomi.
3. Faktor adanya simpati terhadap kebudayaan yang lain.
4. Faktor perkawinan campuran .

9
Contohnya, perubahan perubahan perilaku yang juga terjadi
kerika seorang imigran menyimpang dari pola pola budaya lama
yang dianutnya dan mengganti pola pola lama tersebut dengan pola
pola budaya baru. Amerikanisasi juga merupakan contoh khusus
dari asimilasi. Salah satu contoh proses asimilasi adalah program
transmigrasi yang dilaksanakan di Riau pada masa pemerintahan
Orde Baru. Program transmigrasi ini tidak hanya berhasil meratakan
jumlah penduduk di berbagai pulau di Indonesia, tetapi program
transmigrasi ini juga mengakibatkan terjadinya asimilasi, terutama di
wilayah Riau. Hal ini terlihat dari banyaknya transmigran yang
menghasilkan budaya baru, misalnya Jawa Melayu, Mandailing
Melayu, dan lain sebagainya.
2.3.5 Inovasi
Inovasi adalah suatu proses pembaruan dari penggunaan
sumber sumber alam, energi dan modal, pengaturan baru dari tenaga
kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua akan menyebabkan
adanya sistem produksi, dan dibuatnya produk produk baru. Proses
inovasi sangat erat kaitannya dengan teknologi dan ekonomi. Dalam
suatu penemuan baru biasanya membutuhkan proses sosial yang
panjang dan melalui dua tahap khusus yaitu penemuan
baru (discovery) dan invention (pengembangan penemuan yang telah
ada).
Inovasi sangatlah penting bagi terjadinya suatu perubahan
budaya. Sebab perubahan dalam aspek budaya apapun tidak muncul
begitu saja, melainkan melalui proses penemuan yang kemudian
menghasilkan perubahan besar. Perubahan melalui penemuan baru itu,
berlangsung dengan proses belajar yang mungkin cukup lama, setahap
demi setahap baru kemudian dihasilkan. Hasil inovasi tersebut ketika
diterapkan dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan
menghasilkan suatu perubahan.
Contoh Inovasi, Misalnya dalam penemuan pesawat terbang
yang ditemukan oleh bangsa Eropa pada abad ke-19, hasil inovasi
tersebut telah menyebar ke berbagai negara, bahkan ke Indonesia.
Namun para ahli antropologi memperhatikan bagaimana proses
ditemukannya nilai inovasi tersebut. Proses penemuan berlangsung
seiring dengan kebutuhan masyarakat.

10
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Ralph Linton, seorang ahli antropologi mendefinisikan kebudayan(dalam
Ihromi, 1994;18) adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang manapun
dan tidak mengenai sebagian dari cara hidup itu yaitu bagian yang oleh
masyarakat dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan. Sementara pengertian
dari dinamika ialah sesuatu yang mengandung arti tenaga kekuatan, selalu
bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap
keadaan. Dinamika juga berarti adanya interaksi antara anggota kelompok
dengan kelompoknya secara keseluruhan. Keadaan ini dapat terjadi selama ada
kelompok, semangat kelompok, yang terus menerus ada dalam kelompok itu
yang mana kelompok itu bersifat dinamis, artinya dapat selalu berubah dalam
setiap keadaan.Faktor-faktor kebudayaan Faktor demografi,Penemuan baru:
proses perubahan yang besar pengaruhnya tetapi terjadi dalam jangka waktu
yang tidak terlalu lama disebut sebagai inovasi.Pertentangan atau konflik dalam
masyarakat: dapat menjadi sebab timbulnya perubahan kebudayaan.
Pertentangan yang terjadi bisa antara orang perorangan, perorangan dengan
kelompok, atau kelompok dengan kelompok. Sebagai contoh pertentangan antar
kelompok yaitu pertentangan antara generasi tua dengan generasi muda.
Pertentangan antar generasi kerapkali terjadi pada masyarakat-masyarakat yang
sedang berkembang dari tahap tradisional ke tahap modern.Pemberontakan atau
revolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri: perubahan yang terjadi sebagai
akibat revolusi merupakan perubahan besar yang mempengaruhi seluruh sistem
lembaga kemasyarakatan. Konsep konsep khusus mengenai pergeseran
masyarakat dan kebudayaan: Proses belajar kebudayaan sendiri, proses evolusi
sosial, akulturasi,asimilasi dan inovasi

3.2 Saran
Dengan terselesainya Makalah ini diharapkan mahasiswa mampu mengerti
tentang Culture Is Dinamic, sehingga mahasiswa mampu menjelaskan kepada
sesama mahasiswa ataupun masyarakat.

11
DAFTAR PUSTAKA

Poerwanto (2000 : 143). Culture Is Dinamic Jakarta, Egc.


Ihromi, (1994;18) Faktor-Faktor Kebudayaan, Jakarta,Egc.

12