Anda di halaman 1dari 3

Metabolisme Energi pada Lari Jarak Jauh

Agya Ghilman Faza/G0012009

Olahraga adalah suatu kebutuhan, bukan merupakan suatu pilihan untuk


dilakukan atau tidak dilakukan. Setiap orang ingin memiliki tubuh yang sehat,
sehingga untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal, berbagai upaya telah
dilakukan, salah satunya adalah dengan berolahraga. Berbagai penelitian sekarang ini
telah menunjukkan bahwa orang yang mempertahankan kebugaran tubuh dengan
menggunakan beragam latihan secara benar dapat memperpanjang kehidupan dan
mengurangi angka kejadian serangan jantung dan stroke (Guyton & Hall, 2007).
Ketidakaktifan dalam berolahraga meningkatkan risiko penyakit hipertensi dan
jantung koroner (Sherwood, 2007). American College of Sports Medicine
merekomendasikan setiap individu untuk berolahraga minimal tiga kali seminggu,
selama 2030 menit, untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan meningkatkan
kesehatan fisik (Sherwood, 2007).
Olahraga dapat dibagi menjadi dua, yaitu olahraga aerobik dan olahraga
anaerobik. Latihan aerobik adalah olahraga yang mengutamakan daya tahan dan
dilakukan terus-menerus, dalam waktu yang lama. Sumber energi olahraga ini
diperoleh melalui proses aerobik. Contoh dari olahraga aerobik adalah lari jarak jauh,
bersepeda jarak menengah dan jauh, renang jarak menengah dan jauh. Sedangkan
latihan anaerobik merupakan olahraga yang berlangsung dalam periode waktu yang
singkat, berulang-ulang, dan berintensitas tinggi. Contoh dari olahraga anaerobik
adalah tenis, sepak bola, basket, dan baseball (Nick N, 2013). Selain itu, olahraga ada
yang bersifat mahal, kurang praktis hingga bersifat murah, praktis sehingga semua
orang dapat melakukannya, salah satu contohnya dengan berlari. Lari berdasarkan
jaraknya dibedakan menjadi lari jarak pendek (100 m, 200 m, 400 m), lari jarak
menengah (800 m, 1.500 m), dan lari jarak jauh (3.000 m, 5.000 m, marathon 42,195
km). Dalam melakukan suatu aktivitas fisik yang terusmenerus dan dalam waktu
yang lama seperti lari jarak jauh, daya tahan otot atau endurance merupakan
komponen penting yang menentukan waktu terjadinya kelelahan otot (Guyton & Hall,
2007). Selain ketahanan fisik (endurance), mental merupakan keharusan bagi pelari
jarak jauh. Setiap jenis olahraga memiliki komposisi penggunaan sistem energi,
begitu pula dengan lari jarak pendek, menengah, dan jauh. Dalam hal ini, penulis
berfokus pada lari jarak jauh.
Berdasarkan metabolismenya, latihan anaerobik merupakan struktur reaksi
kimia yang tidak memerlukan oksigen. Sebaliknya, latihan aerobik merupakan
struktur reaksi kimia yang memerlukan oksigen. Dalam latihan anaerobik dan latihan
aerobik terdapat sistem yang disebut glikolisis. Glikolisis merupakan proses merubah
karbohidrat menjadi energi. Namun glikolisis dalam latihan anaerobik dan aerobik
berbeda. Dalam latihan anaerobik, proses glikolisis dilakukan tanpa membutuhkan
adanya oksigen dan penggunaan ATP yang terbatas. Hasil akhir dari metabolisme
anaerobik adalah asam laktat yang harus segera dimobilisasi dari otot untuk
menghindari kelelahan. Glikolisis anaerobik menjadi jalur utama sumber energi
setelah ATP dan sistem fosfagen tidak memenuhi kecukupan energi dalam
berolahraga. Sedangkan dalam latihan aerobik, proses glikolisis membutuhkan adanya
oksigen dan ATP yang tidak terbatas (Guyton & Hall, 2010).
Lari jarak jauh berkaitan dengan kebugaran aerobik. Kebugaran aerobik dapat
didefinisikan sebagai daya tahan atau stamina yang menggambarkan kemampuan
tubuh untuk mempertahankan suatu usaha yang keras dan lama. Kebugaran aerobik
dapat dipengaruhi oleh keturunan, latihan, usia, jenis kelamin, dan lemak tubuh.
Kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan daya tahan juga
dipengaruhi oleh kesehatan anda saat itu, makanan, hidrasi, tingkat istirahat, aklimasi
terhadap panas, dan ketinggian lingkungan (Sharkey, 2011). Setiap jenis olahraga
memiliki komposisi penggunaan sistem energi yang berbeda. Komposisi penggunaan
sistem energi terbesar pada lari jarak jauh adalah metabolisme aerob (siklus krebs).
Pada jenis-jenis olahraga yang bersifat ketahanan (endurance), produksi
energi di dalam tubuh akan bergantung pada sistem metabolisme energi secara
aerobik melalui pembakaran karbohidrat, lemak, dan juga sedikit dari pemecahan
protein. Oleh karena itu, maka atlet-atlet endurance harus mempunyai kemampuan
baik dalam memasok oksigen ke dalam tubuh agar proses metabolisme energi secara
aerobik dapat berjalan sempurna. Pada saat berolahraga, kedua simpanan energi tubuh
yaitu sempanan karbohidrat (glukosa darah, glikogen otot, dan hati) serta simpanan
lemak dalam bentuk trigliserida akan memberikan kontribusi terhadap laju produksi
energi secara aerobik di dalam tubuh. Diantara ketiga simpanan zat gizi tersebut yang
menjadi sumber utama saat berolahraga adalah karbohidrat dan lemak.
Gambar 1. Siklus Krebs (Biokimia Dasar, 2010)

Tabel 1. Komposisi Penggunaan Sistem Energi Sesuai Jenis Olahraga (Foss ML


& Keteyian S, 2005)